Badik Buntung Bab 15

 
Bab 15

Melihat sikap murung Thian-hi Ma Bong-hwi menjadi heran. Dari kamar sebelah berjalan keluar seorang gadis, waktu Thian-hi angkat kepala seketika ia berdiri kesima, gadis ini begitu canck rupawan lagi, seumpama dibanddng dengan Ham Gwat juga tidak kalah ayunya. Kalau mimik wajah Ham Gwat selalu kaku dingin tanpa expresi sebaliknya gadis di depannya ini bermuka merah jengah laksana buah Tho yang sedang masak. Melihat Thian-hi memandang kesima pada dirinya, tersipu-sipu ia menunduk malu.

Mendadak Thian-hi sadar akan sikapnya. yang kurang hormat, cepat-cepat ia menundukkan kepala.

Ma Bong-hwi bergelak tawa, ganti berganti ia pandang mereka berdua, katanya, “Inilah adikku Ma Gwat-sian!”

Gwat-sian berarti dewi bulan.

Dengan tertawa malu-malu Ma Gwat-sian bersuara, “Laguku tadi tentu mengotori pendengaran Sianseng belaka.”

“Petikan harpa Ma-siocia mungkin tiada bandingannya dikolong langit ini,” demikian puji Thian- hi. “Sebagai orang biasa, dapat mendengar irama dewa sungguh bahagia selama hidup ini.”

Ma Gwat-sian tersenyum lebar.

Thian-hi menghela napas, katanya, “Kita hanya bertiga disini, selanjutnya akupun tidak perlu menyembunyikan diri lagi. tapi aku sudah berjanji kepada orang supaya orang lain tidak tahu bahwa aku pandai main silat. Harap kalian suka merahasiakan.”

“Soal yang kuhadapi ini betapapun harus Sianseng bantu membereskan,” demikian mohon Ma Bong-hwi sekali lagi, “Mengandal iimu silat Sianseng, tanggung segampang membalikkan tangan saja. Sudah tentu kita tidak akan membuka rahasia Sianseng pandai main silat. Persoalan itu sendiri pun juga tetap dapat dirahasiakan.” Ma Gwat-sian pandang Thian-hi dengan rasa menyesal dan minta maaf, Thian-hi maklum dan manggut-manggut. Ma Bong-hwi menjadi kegirangan, segera ia menceritakan sebuah peristiwa besar yang sangat mengejutkan.

Kata Ma Bong-hwi, “Belakangan ini gudang istana sering kebobolan. setiap kehilangan benda pusaka, tentu terlebih dulu mendapat pemberitahuan, namun siapakah pencurinya selama ini sulit dapat meringkusnya. Tan-siangkok memberi lapor kepada sang Baginda bahwa aku dapat membongkar perkara pencurian ini. Tapi kemaren telah hilang pula sebuah pusaka, kali ini yang dicuri adalah cap kerajaan.”

“Oo,” Thian-hi mengiakan lalu bertanya, “Biasanya bagaimana hubungan Ma-ciangkun dengan Tan-siangkok? Entah bagaimana pula karakternya?”

“Bicara terus terang,” ujar Ma Bong-hui sembari menghela napas, “kesanku terlalu jelek kepadanya, dia terlalu mengumbar putra dan para centengnya. dia sangat benci kepadaku katanya aku terlalu suka banyak urusan, mencampuri sepak terjang keluarganya.”

Hun Thian-hi merenung sesaat kemudian lalu bertanya lagi, “Bagaimana karakter Tan- siangkok?”

Ma Bong-hui pandang Thian-hi dengan perasaan heran, mengapa dia tidak mengetahui, setelah beragu akhirnya ia berkata, “Umumnya masyarakat berkesan terlalu buruk terhadap dia. Dia memegang tampuk pimpinan dan kekuasaan negara, kecuali Ing-ciang-kun Thian-seng dan aku, seluruh kerabat diistana raja boleh dikata hampir seluruhnya menjadi penyanjungnya.”

“Toako,” tiba-tiba Ma Gwat-sian menyela, “Apa kau melupakan Toh-ciatsu?”

“Benar, benar,” ujar Ma Bong-hwi tersenyum, “Kenapa aku melupakan dia, Toh-ciat-su justru menjadi lawan Tan-siangkok yang sembabat, setiap kali Tan-siangkok menjalani kesalahan pasti dialah pertama kali yang tampil ke depan mencercahnya.”

Thian-hi manggut-manggut, samar-samar ia dapat meraba bahwa urusan ini tentu punya sangkut paut dengan Tan-siangkok, kenapa pula Tan-siangkok menunjuk kepada Ma Bong-hwi? Segera ia bertanya, “Siapakah sebetulnya yang berkuasa digudang istana?”

“Seluruh istana dalam kekuasaan komandan Gi-lim-kun. yang menjabat komandan Gi-lim-kun adalah adik kandung Ing-ciangkun, sekarang sudah dipecat dari jabatannya, sebagai gantinya akulah yang diangkat sebagai komandan Gi-lim-kun sementara.”

“Menurut maksud Toakoku hendak mohon kau suka menjabat sebagai wakil komandan Gi-lim- kun membantu dia menyelidiki peristiwa ini.” demikian Ma Gwat-sian menimbrung.

Berubah air muka Thian-hi, katanya, “Masa aku mampu. kukuatir….”

“Kau boleh gunakan nama palsu,” sela Ma Gwat-sian tersenyum penuh arti. “Apalagi dandananmu sekarang sebagai pelajar kutu buku, bila berganti mengenakan pakaian seragam, tanggung takkan ada seorang pun yang mengenal kau lagi.”

Hun Thian-hi hendak menolak, segera Ma Gwat-sian maju dua langkah, dengan suara lirih dan kalem ia berbisik di pinggir telinga Thian-hi, “Kau baru datang dari Tionggoan, ya bukan?”

Waktu Ma Gwat-sian maju mendekat, kontan Thian-hi mencium bau harum semerbak, namun serta mendengar bisikannya, suara yang lirih itu bagi pendengarannya bagai suara guntur menggelegar dipinggir telinganya, keruan kagetnya bukan kepalang. Kontan Thian-hi merasa kepalanya seperti dikemplang dengan godam, pandangannya gelap dan pusing, secara reflek mulutnya bertanya, “Apa?”

“Siaumoay!” seru Ma Bong-hwi sambil mengerut kening. “Apa yang kau katakan?” Ma Gwat-sian mundur selangkah seraya menjawab, “Tidak apa-apa.”

Otak Hun Thian-hi masih terasa butek, sungguh ia heran cara bagaimana Ma Gwat-sian dapat mengetahui rahasianya, kelihatannya dia tidak bisa main silat, soalnya dirinya pernah menelan buah ajaib serta melatih ilmu sakti macam Pan-yok-sin-kang sehingga tanpa disadari telah membongkar kepandaian sendiri sebagai ahli Lwekang yang tangguh, apakah ilmu silat Ma Gwat- sian jauh lebih tinggi dari kemampuan sendiri serta telah mencapai puncak kesempurnaannya sehingga dapat menyembunyikan kepandaiannya itu?

Karena terkaannya ini serta merta ia awasi Ma Gwat-sian, dengan seksama ia pandang dan amati muka dan badan orang dengan cermat. Melihat sikap Thian-hi ini. sudah tentu Ma Gwat-sian menjadi malu jengah dan lekas-lekas menunduk.

Dengan bergelak tawa keras Ma Bong-hwi menepuk pundak Hun Thian-hi. Keruan Thian-hi tersentak kaget, kontan ia sadar akan kelakuannya yang kurang pantas, cepat ia tenangkan hati serta jantungnya yang berdebur keras. Dalam sekilas itu, ia gagal dalam selidikannya.

“Lote,” ujar Ma Bong-hwi, “Betapa pun kau harus membantu aku mengatasi persoalan ini.” “Ma-ciangkun!” seru Thian-hi sambil menyengir.

“Selanjutnya harap kau tidak panggil aku Ma-ciangkun lagi,” demikian pinta Ma Bong-hwi, “Bila kau suka pandang mukaku, silakan kau panggil Ma-toako saja kepada aku.”

“Ah. rasanya kurang enak, bukankah kau adalah….”

“Kalau begitu kau pandang rendah pribadiku?” kaata Ma Bong-hwi mengerut kening.

Apa boleh buat terpaksa Thian-hi berkata, “Matoako, apaan ucapanmu ini, mana bisa jadi?”

Ma Bong-hwi tertawa girang. Sementara itu Ma Gwat-sian angkat kepala serta berkata, “Kalau begitu untuk selanjutnya aku pun harus panggil kau Hun-toako. Apa boleh?”

“Kenapa tidak boleh? Aku merasa beruntuhg malah.”

Ma Gwat-sian Tertawa lebar, katanya, “Kata-kataku tadi tiada seorang lainpun yang tahu, legakan saja hatimu!”

Hun Thian-hi tidak enak untuk menjawab. Seolah-olah Ma Gwat-sian tidak memberi kesempatan pada Thiani-hi untuk membual, namun entah bagaimana ia bisa tahu. Namun urusan sudah sedemikian lanjut, terpaksa mengikuti perkembangan selanjutnya.

Kata Ma Bong-hwi, “Untuk mengejar kembali cap kerajaan itu, terpaksa harus minta bantuan kau Lote!”

Apa boleh buat Thian-hi hanya menyengir saja, urusan sudah demikian lanjut, terpaksa harus terjun dalam persoalan rumit ini. Kalau hanya urusan pencurian ini melulu, kiranya aku dapat mengatasi. Demikian pikirnya. “Pencuri itu teiah meninggalkan sepucuk surat, katanya hari ini dia hendak mengambil Ce-kim- cu (mutiara merah mas), asal Lote mau tampilkan diri, tentu pencuri itu dapat dibekuk.” demikian Ma Bong-hwi memberi keterangan.

Hun Thian-hi tertawa pahit, katanya, “Kalau begitu, terpaksa aku membantu sekuat tenagaku.”

Setelah makan malam, Thian-hi mengenakan seperangkat pakaian dinas kemiliteran, dalam kamarnya ia menanti kedatangan Ma Bong-hwi, terasa olehnya gerak-geriknya menjadi kurang bebas dan badan sangat gerah, maklum pakaian perang jaman itu terbuat dari bahan tebal yang tidak mempan senjata, saking kepanasan Thian-hi melangkah keluar ke taman bunga.

Waktu sampai di rumpun bunga, tampak olehnya Ma Gwat-sian sedang berdiri disana, sesaat ia menjadi melengak. dalam hali ia membatin; ’selamanya Ma Gwat-sian jarang keluar kamar dan belum pernah selama ini melihat dia jalan-jalan di taman bunga, entah kenapa hari ini toh berada disini.’

Waktu Thian-hi mendekat Ma Gwat-sian berpaling sembari tertawa manis, katanya, “Aku tahu kau pasti akan kemari, sejak tadi sudah kutunggu kau disini!”

Diam-diam Thian-hi sangsi dan curiga, entah ada omongan apa yang hendak disampaikan Ma Gwat-sian kepadanya, tidak bicara di dalam rumah sebaliknya menunggu di kebon, setelah melengak ia baru bertanya, “Adakah urusan luar biasa yang perlu dirundingkan?”

“Banyak perkataan yang tidak bisa kuucapkan di hadapan engkohku, umpama kukatakan dia pun takkan mau percaya. Terus terang aku merasa curiga kepada Ing-ciangkun!”

Hun Thian-hi merasa diluar dugaan, mulutnya mengiakan, lalu katanya dengan pandangan kejut dan heran, “Menurut dugaanmu….”

Ma Gwat-sian geleng-geleng kepala sambil tertawa, katanya, “Pencurian ini bukan perbuatan Ing-ciangkun. Dia bertempat tinggal di Thian-seng, biasanya ia sangat benci dan mencercah Tan- siangkok lebih hebat dari engkohku, untuk urusan rumit ini secara logis seharusnya dialah yang diserahi tugas untuk membongkar perkara besar ini! Tapi diluar dugaan justru engkohkulah yang dia tunjuk.”

“Jadi menurut anggapanmu bahwa Ing-ciangkun hakikatnya adalah sekomplotan dengan Tan- siangkok?”

“Belum pasti, tapi ada kemungkinan. Menurut anggapanku Tan-siangkok sangat ambisius, sedemikian jauh dia sedang berusaha hendak menjodohkan tuan putri dengan putra kesayangannya, tujuannya supaya kelak dapat mewarisi kedudukan sang raja. Jikalau usahanya ini gagal, aku kuatir dia bakal mata gelap dan melakukan perbuatan terkutuk, jikalau hanya kehilangan satu dua barang berharga rasanya tidak perlu kau sendiri mesti ikut tampil ke depan.”

“Sebetulnya kepandaian silatku juga cuma cakar kucing melulu, tak perlu diagulkan.” “Mengenal ilmu silat, aku bukan bidangnya, tapi bagi seseorang yang mampu bertahan dari

Tay-seng-ci-lau, ilmu silatnya tentu sudah mencapai tingkatan yang cukup sempurna. Meskipun aku tidak mengerti ilmu silat, tapi semua ini aku mendapat tahu dari cerita guruku.”

Diam-diam heran hati Thian-hi, orang macam apakah guru Ma Gwat-sian itu, tak perlu disangsikan lagi pasti seorang tokoh kosen yang lihay. Tengah ia terpekur, terdengarlah derap langkah kaki berat tengah mendatangi. Cepat Ma Gwat- sian berkata, “Itulah engkohku datang, selamat jumpa nanti!” habis berkata ia terus menyelinap diantara rumpun bunga dan menghilang.

Dengan termenung Thian-hi terpekur, sementara itu Ma Bong-hwi sudah mendatangi, segera Thian-hi membalik tubuh, kelihatan Ma Bong-hwi tercengang, katanya tertawa, “Hampir saja aku tidak mengenalmu lagi, dandananmu ini sungguh cukup ganteng dan perwira, tampan sekali sebagai panglima muda!”

Hun Thian-hi mandah tertawa saja tanpa membuka suara.

“Mari sekarang juga kita masuk ke istana!” demikian ajak Ma Bong-hwi.

Thian-hi manggut-manggut, dengan langkah lebar mereka taerderap keluar dari gedung panglima besar. Diluar pintu sudah siap dua ekor kuda, cepat mereka naik kuda terus dicongklang pelan-pelan menuju ke pintu selatan, setelah berada di luar pintu selepas pandang ke depan nan jauh sana, kira-kira lima li jauhnya tampak sebentuk kota besar pula, bentuk kota di depan itu lebih besar, lebih megah, diantara kedua belah pintu gerbangnya yang menjulang tinggi adalah sejalur jalan batu mengkilap yang lebar dan bersih,

Thian-hi berpikir pasti itulah Thian-seng adanya.

Letak Thian-seng membelakangi pegunungan yang menghijau dan diselubungi mega nan mengembang, pemandangannya sungguh menakjupkan.

Kata Ma Bong-hwi kepada Thian-hi, “Adikku itu sangat mengagulkan kau, selamanya belum pernah ia merasa kagum dan memuji seseorang.”

Hun Thian-hi tersenyum simpul, katanya, “Sebetulnya tiada suatu keistimewaan atas diriku, kalau dia betul-betul memuji aku, sungguh lebih disesalkan.”

“Setiap ucapannya selamanya tidak pernah meleset, sejak kecil ia diangkat murid oleh seorang tokoh aneh yang menyembunyikan diri. Berturut-turut aku mengalami berbagai kesukaran semua adalah dia yang bantu aku mengatasi dan membereskannya! Siapakah gurunya tiada seorangpun yang tahu kecuali dia sendiri.”

Tengah mengobrol tanpa terasa mereka sudah tiba di Thian-seng, mereka langsung keprak kuda mencongklang ke dalam kota. Belum jauh mereka berjalan dari depan sana mendatangi seorang panglima pertengahan umur yang memimpin serombongan orang berkuda, masih rada jauh lantas Ma Bong-hwi memberitahu kepada Thian-hi, “Pendatang ini adalah Ing Si-kiat Ing- ciangkun….”

Setelah dekat dengan berseri tawa Ing Si-kiat maju menyapa, “Ma-ciangkun baru datang, dosa adikku itu, melulu mengandal tenaga Ma-ciangkun untuk menolongnya!”

“Ah, Ing-ciangkun terlalu sungkan,” ujar Ma Bong-hwi. Betapapun masih mohon bantuan Ing- ciangkun juga.!”

Ing Si-kiat tertawa-tawa, katanya, “Aku akan memberi perintah kepada mereka supaya menutup pintu empat gerbang rapat2. tiada seorang pun diperbolehkan keluar masuk!” — Lalu ia berpaling memandang Hun Thian-hi serta katanya, “Yang ini adalah….” “Benar-benar, aku masih belum memperkenalkan kalian. Inilah adik angkatku! Dia bernama….” sampai disini ia merandek sebentar lalu meneruskan “Tio Kun-Kah ini aku hanya bawa dia untuk berdinas, dia kuangkat sebagai wakilku.”

Bergegas Hun Thian-hi menjura serta menyapa, “Ing-ciangkun! Selamat bertemu!”

Sekilas Ing-ciangkun melirik ke arah Hun Thian-hi; seolah-olah ia tidak pandang orang sebelah matanya, katanya tertawa, “Selama ini aku masih belum tahu bahwa Ma-ciangkun ternyata punya seorang adik angkat, Saudara Tio Kun masih muda belia serta gagah lagi, kelak tentu punya harapan besar yang tak terukur!”

Dengan tertawa-tawa Hun Thian-hi menjura serta merendahkan diri dan main sungkan, diam- diam ia perhatikan wajah serta tingkah laku Ing Si-kiat. Terasa olehnya bahwa sikap Ing Si-kiat kelihatan merasa curiga terhadap dirinya.

“Tak heran Ing-ciangkun tidak mengetahui,” demikian jawab Ma Bong-hwi memberi keterangan, “baru hari ini aku angkat saudara dengan dia, adik angkatku ini jauh lebih kuat dan pintar dari aku, untuk mengatasi peristiwa ini aku sangat mengandalkan tenaganya.”

Sekali lagi Ing Si-kiat perhatian Hun Thian-hi. lalu berkata, “Kalau begitu urusan adikku itu juga mohon bantuan pada. Tio-huciangkun untuk membantu.”

Cepat Hun Thian-hi menyahut, “Ing-ciangkun menggoda saja. saudaraku ini memang suka omong, sebenar-benarnya kemampuanku mana dapat membantu, selanjutnya masih harap Ing- ciangkun suka memberi petunjuk….”

“Kalian masih punya urusan penting, aku Ing Si-kiat minta diri dulu, semoga kalian sukses dalam tugas.”

Berbareng Thian-hi berdua angkat tangan memberi hormat terus melanjutkan menuju ke istana raja. Tak lama kemudian mereka sudah tiba dibelakang. setelah turun dari atas kuda, waktu

Thian-hi angkat kepala, tampak istana raja ini sedemikian tinggi megah dan mewah sekali, hanya undakan batu pualamnya saja begitu lebar dan panjang tak kurang dari delapan puluh tingkat, sambil berjajar dan menyoreng pedang Thian-hi berdua beranjak ke atas.

Gerbang istana terjaga ketat oleh pasukan Gi-lim-kun, begitu melihat kedatangan Ma Bong-hwi berdua, bergegas mereka maju memberi hormat, menunjuk Thian-hi Ma Bong-hwi berkata pada mereka, “Inilah Tio-ciangkun, selanjutnya kalian juga harus dengar petunjuknya!”

Serempak para Gi-Lim-kun itu mengiakan sambil menjura, selanjutnya mereka maju lebih jauh ke dalam istana, setiap pelosok istana terjaga ketat, beberapa grup pasukan berlalu lalang meronda, bersama Thian-hi Ma Bong-hwi mengadakan pemeriksaan dan meronda keberbagai pelosok lalu kembali ke tempat semula.

Ce-kim-cu yang diincar pencuri itu terporotkan di atas belandar besar beberapa meter dari bawah, dibawahnya terjaga kuat oleh pasukan Gi-lim-kun. Begitulah Thian-hi berdua ikut berjaga dengan waspada sambil mengobrol sekadarnya menunggu waktu. hingga tanpa terasa tahu-tahu sudah tengah malam keadaan tetap sunyi hening tiada kejadian apa-apa.

Kira-kira dua jam kemudian, keadaan masih tenang dan aman tentram, Ce-kim-cu jelas masih terpancang, disana dengan memancarkan sinarnya yang cemerlang kelap kelip.

Tatkala itu cuaca sudah hampir terang tanah, Ma Bong-hwi mendengus hidung; segera ia melolos pedang dan bersiap waspada. Para pasukan Gi-lim-kun juga segera mempersiapkan diri masing-masing, sementara, pasukan panah pun sudah memancang anak panah di atas busur tinggal menunggu perintah.

Sementara Hun Thian-hi juga merasa was-was dan kebat kebit, dengan penjagaan begitu ketat bagaimanapun si pencuri itu takkan dapat membawa lari Ce-kim-cu. Sebentar lagi ufuk timur sudah mulai bersemu kuning, keadaan masih tetap tenang dan aman. Sekelilingnya hening senyap, mereka tinggal menugggu saat gelap berganti terang tanah saja.

Sekonyong-konyong seorang anggota Gi-lim-kun tergopoh2 lari keluar dari dalam istana terus maju kehadapan Ma Bong-hwi serta melapor, “Lapor Ma-ciangkun! Sang Baginda minta Ciangkun segera menghadap!”

Ma Bong-hwi pandang kanan kirinya, lalu bertanya pada anggota Gi-lim-kun itu, “Baginda ada bilang apa tidak?”

“Tidak!” sahut orang itu sambil membungkuk.

Timbul rasa curiga Ma Bong-hwi. namun disini masih ada Hun Thian-hi dan tak perlu kuatir segera ia masukkan pedang ke dalam kerangkanya serta berseru, “Baik, segera aku menghadap!”

— Lalu dengan langkah lebar ia beranjak masuk.

Namun baru dua tiga langkah Ma Bong-hwi berjalan orang itu berkata pula, “Baginda juga minta Tio-ciangkun menghadap bersama.”

Semakin tebal curiga Ma Bong-hwi segera ia membalik serta berseru, “Tio-ciangkun, junjungan belum tahu akan dia!” mendadak ia menggeram serta menghardik, “Siapa kau?”

Cepat orang itu menjura, serta berkata, “Tadi baru saja sang Baginda bangun, mendengar bahwa Ce-kim-cu tidak hilang lantas menanyakan Ciangkun, tahu bahwa Ciangkun bersama Tio- ciangkun menjaga bersama, beliau perintahkan hamba kemari mengundang Ciangkun berdua!”

Ma Bong-hwi menjengek, hatinya dirundung kecurigaan, saat ini hari belum lagi terang tanah, pencuri itu masih punya cukup waktu untuk bekerja, bagaimana mungkin dirinya tinggal pergi.

Tapi benar-benar atau palsu sulit diketahui, mana bisa memberi keputusah begitu cepat, dengan seksama ia awasi orang itu lalu bertanya, “Siapa namamu?”

Badan orang itu kelihatan bergetar namun segera menjawab lantang, “Hamba Li Gun!”

Ma Bong-hwi mendehem, lalu berkata kepada Thian-hi, “Lebih baik kau tetap tinggal disini, biar aku masuk dulu!” — Selesai berkata dengan langkak lebar ia menuju keistana.

Melihat keputusan Ma Bong-hwi yang tegas itu, Li Gun menjadi gugup, dengan mendelong ia awasi punggung Ma Bong-hwi yang hampir menghilang disebelah dalam…. segera ia berdiri dan membalik tubuh serta melolos pedang, tiba ia berteriak kejut, “Hai, dimana Ce-kim-cu?”

Semua hadirin menjadi berjingkrak kaget, serentak mereka angkat kepala memandang ke atas belandar, Hun Thian-hi sendiri juga angkat kepala, hatinya rada bercekat, batinnya, “Jika dalam sekejap ini Ce-kim-cu benar-benar hilang, memang harus diakui bahwa kepandaian pencuri itu entah betapa tingginya?”

Waktu ia angkat kepala benar-benar juga Ce-kim-cu sudah hilang tanpa juntrungan, keruan bukan kepalang kagetnya, dikolong langit ini mana mungkin ada tokoh kosen begitu lihay ilmu silatnya, ia percaya pada diri sendiri seumpama pencuri itu seorang tokoh lihay pun, kesiur angin lambaian bajunya tentu dapat ditangkap oleh ketajaman kupingnya, namun kenyataan Ce-kim-cu sudah lenyap dalam waktu sesingkat itu.

Para pasukan Gi-lim-kun menjadi gempar serempak mereka mengacungkan pedang dan mempersiapkan panah. Hun Thian-hi segera berseru dengan suara kereng, “Semua jangan ribut!”

Dengan tajam ia menyapu pandang kesekitarnya. hatinya dirundung curiga yang tebal, tanpa disadari timbullah perasaan congkak dan tinggi hati, sungguh ia merasa penasaran telah dipermaiankan begitu rupa, dengan keras ia membuka suara, “Dimana Li Gun?”

Orang-orang sekelilingnya saling pandang dan celingkukan, tiada seorang pun yang menjawab. Semakin memuncak rasa gusar Thian-hi, serunya, “Siapa diantara kalian yang kenal Li Gun?”

Dengan seksama ia sapu pandang setiap raut muka orang disekitarnya, tiada seorang pun yang memberi jawaban.

Keruan semakin gugup dan gelisah hati Thian-hi, baru sekarang dia betul-betul kebentur pada seorang tokoh kosen yang benar-benar lihay, baru saja ia bernat melompat naik untuk memeriksa, kelihatan Ma Bong-hwi sudah memburu keluar. Begitu melihat keadaan yang kalut ini kontan ia merasa firasat yang jelek.

Sungguh menyesal dan malu lagi, cepat Thian-hi maju menjura serta berkata, “Sungguh aku tidak becus, Ce-kim-cu telah hilang dalam sekejap ini. Li Gun pun melarikan diri disaat terjadi keributan.”

Sesaat Ma Bong-hwi menjublek ditempatnya, akhirnya, ia menggoyangkan tangan sambil berkata, “Tak dapat salahkan kau, seharusnya aku tahu bahwa Baginda tidak mungkin mengundang aku tapi aku terburu nafsu hendak membongkar permaian licik ini, sehingga tanpa sadar terjebak ke dalam tipu muslihatnya”

Sungguh pedih perasaan Thian-hi, katanya, “Aku ingin memeriksa ke atas sana, akan kulihat cara bagaimana Ce-kim-cu itu telah lenyap!”

Ma Bong-hwi manggut-manggut, ujarnya, “Kali ini Ce-kim-cu hilang secara misterius, bolehlah kau naik kesana memeriksanya!”

Thian-hi membungkuk tubuh sambil mundur dua langkah, ia berlaku hati-hati supaya tidak mempertunjukkan kepandaian aslinya, sedikit menekuk dengkul kakinya segera menjejak tanah terus merambat naik melalui tiang belandar yang besar itu. Begitu tiba di atas belandar dengan seksama. ia memeriksa kekanan kiri. tiba-tiba hidungnya mengendus bau amis yang aneh, selain itu tiada sesuatu yang dapat diketemukan sebagai sumber penyelidikan.

Dengan cermat ia periksa terus sekitar belandar besar yang dapat untuk bersembunyi manusia namun jejak atau telapak kaki orang pun tidak diketemukan. Kecuali orang itu bisa terbang dan lari pergi, kalau tidak tentu dapat kepergok.

Disebuah sudut belandar sebelah sana ia menemukan secarik kertas yang bertuliskan beberapa huruf yang menyolok, tulisan itu berbunyi, “Besok malam, kuambil Giok-hud!”

Dengan ringan Thian-hi melompat turun? langsung ia angsurkan secarik kertas itu kepada Ma Bong-hwi. lalu berdiri menunduk tanpa buka suara. Setelah membaca tulisan itu, dengan menghela napas Ma Bong-hwi berkata, “Ternyata ada orang berani menyelundup masuk ke dalam pasukan Gi-lim-kun, sungguh besar nyali orang itu.”

Selamanya Thian-hi belum pernah mendapat malu dihadapan umum, orang lain biasanya menyanjung puji dirinya, dengan berbagai daya upaya mohon dirinya membantu dan mengundang dirinya kemari ikut menanggulangi peristiwa pencurian misterius ini, tapi kenyataan barang yang dilindungi itu tetap hilang juga. malah sebuah sumber penyelidikan macam Li Gun juga sampai berhasil lolos, betapa malu dirinya. Seharusnya begitu Ce-kim-cu lenyap aku segera harus meringkus Li Gun, tapi orang itu toh berhasil merat juga.

Sekian lama mereka berdiri berhadapan tanpa bersuara, tak lama kemudian cuaca sudah terang benderang. Ma Bong-hwi berkata, “Thian-hi, kau bukan pembesar dinas secara resmi, boleh silakan kau menyingkir dulu ke kamar sebelah, bila Baginda mengundang kau baru kau menghadap.”

Tak lama kemudian terdengar derap langkah ribut, disusul lonceng istana berdentang keras suaranya menggema diangkasa, seketika seluruh istana menjadi hening lelap.

Setelah para pembesar menghadap dan melakukan upacara kehormatan terdengarlah Ma Bong-hwi tampil ke depan dan memberi laporan, “Hamba tidak becus bekerja. Ce-kim-cu telah hilang lagi, harap Baginda suka memberi hukuman setimpal!”

Kedengarannya sang raja sangat murka, dengan menggeram ia berseru, “Apa pula yang diincarnya nanti malam? sia-sia belaka aku memberi makan kalian para pembesar tinggi, entah mengapa seorang maling kecil saja tidak becus menangkapnya.”

Setelah berludah dengan sebal ia melanjutkan, “Istana raja buat lalu lalang maling sesuka hatinya, barang berharga satu persatu telah dicurinya, apakah tiada seorang pun diantara kalian yang mampu berbakti kepada kerajaan?”

Sebuah suara serak dan bernada rendah segera menyahut, “Harap junjungan tidak marah, urusan ini tidak bisa semua menyalahkan Ma-ciangkun, paling tidak Lojen (hamba) juga ikut bersalah.”

Dalam hati Thian-hi membatin pembicara ini tentu Tan-siangkok adanya, bila dia mau menghasut atau mencelakai jiwa Ma Bong-hwi adalah sekarang kesempatan yang paling baik, entah apa sebetulnya maksud hatinya, ternyata dia tampil ke depan melindungi Ma Bong-hwi.

Dengan gusar sang raja mendengus, lalu katanya, “Tan-siangkok, kaulah yang menjadi sandaran Ma Bong-hwi, sudah tentu kau pun bersalah.”

Terdengar Ing Si-kiat juga ikut menimbrung, “Harap Baginda suka mempertimbangkan kembali, Ma-ciangkun seorang cerdik pandai, hanya karena sedikit kecerobohannya sehingga Ce-kim-cu telah hilang, kalau malam ini orang itu berani datang lagi pasti dapat dibekuknya.”

Sebuah suara tua dan rendah yang lain ikut bicara, “Hamba juga berani menjadi sandaran Ma- ciangkun!”

“Toh-ciatsu, kau pun mau melindungi dia!” demikian tanya sang raja.

Akhirnya Tan-siangkok bicara lagi, “Lojen berani tanggung sekali lagi, Ma-ciangkun seorang pembesar yang mengetahui kepentingan tugasnya, aku percaya malam ini tidak bakal kehilangan barang lagi. Seumpama benar-benar hilang lagi, Lojen rela meletakkan jabatan, dan seluruh keluarga Ma-ciangkun boleh dipenggal kepalanya sebagai penebus dosa!” Bercekat hati Thian-hi, diam-diam ia kertak gigi, batinnya, “Tipu daya yang keji dan culas sekali. Kiranya kau mengatur tipu daya secara begitu licik, semula kusangka kau bertujuan baik ingin membantu meringankan bebas orang, kiranya bertujuan menumpas habis seluruh keluarga Ma-ciangkun.”

Kedengarannya sang raja juga merasa diluar dugaan, katanya lantang, “Apa? Begitu besar kepercayaan Tan-siangkok kepada Ma-ciangkun?”

“Menurut hemat Lojen, Ma-ciangkun pasti dapat menunaikan tugasnya dengan sempurna.” “Baiklah, kegagalan hari ini tidak perlu kutarik panjang lagi.”

Bersama para pembesar yang lain Ma Bong-hwi berlutut. serta nyatakan terima kasih akan pengampunan lalu mengundurkan diri. Dengan lesu dan putus semangat Ma Bong-hwi memasuki kamar dimana Hun Thian-hi tengah menunggu.

Thian-hi bangkit berdiri serta berkata penuh menyesal, “Ma-ciangkun, akulah yang salah sehingga kau yang ketimpa akibatnya.”

Ma Bong-hwi goyang2 tangan dengan lesu, sebelumnya ia sangat percaya akan kemampuan Hun Thian-hi, namun kenyataan Ce-kim-cu telah hilang, sumber penyelidikan yang utama pun sampai lolos, ini yang menjadikan kekecewaan hatinya.

Sungguh rawan dan pedih perasaan Thian-hi melihat sikap orang, betapa pun malam ini Giok- hud (patung Budha) tidak boleh hilang pula. Demikian Thian-hi bertekad.

Kata Ma Bong-hwi, “Hari ini kita tak usah pulang, nanti akan kuutus seorang memberi tahu rumah.

Sementara menunggu waktu kau holeh jalan-jalan sambil memeriksa keadaan sekitarnya supaya apal akan situasi nanti malam, tapi jangan sekali2 kau menuju ke istana dalam.”

Thian-hi manggut mengiakan, Ma Bong-hwi lantas tinggal pergi ke arah lain. Duduk di atas kursi Thianhi merasa kesepian akhirnya ia bangkit dan jalan-jalan, pikirannya masih diliputi keheranan, sungguh tidak masuk diakal, cara bagaimana pencuri itu dapat bekerja begitu rapi dan cepat membawa kabur Ce-kim-cu tanpa diketahui, begitulah sambil berjalan otaknya terus bekerja, tanpa merasa kakinya melangkah ke dalam sebuah taman bunga.

Pada jaman ini orang yang dapat mengambil Ce-kim-cu dan tanpa diketahui olehnya jumlahnya dapat dihitung dengan jari, apakah mungkin pencuri itu seorang tokoh kosen aneh yang berkepandaian tiada taranya? Kalau benar-benar, masakah dia sudi melakukan perbuatan tercela begini. Bagi seorang berkepandaian tinggi tak mungkin mau melakukan perbuatan bangsa kurcaci.

Begitulah pikirannya terus bergelombang tak tentram, mendadak kupingnya mendengar suara seruan kaget yang perlahan, Thian-hi berjingkrak kaget, waktu angkat kepala tampak Tuan putri tahu-tahu sudah berdiri tak jauh di depannya.

Keruan gugup dan gelisah hatinya, tahu dia tanpa disadari dirinya sudah melanggar larangan memasuki istana dalam, cepat ia membungkuk tubuh memberi hormat, serunya, “Tuan putri! Kau baik, karena pikiran kalut hamba sampai melanggar larangan masuk kemari, harap tuan putri tidak marah.”

Tuan putri mendengus katanya, “Apakah kau wakil komandan Gi-lim-kun?” Tersipu-sipu Thian-hi mengiakan sambil menjura.

“Kenapa kau berani memasuki daerah terlarang?” semprot tuan putri dengan merengut.

Thian-hi menjadi tergagap, “Baru kemaren hamba ikut Ma-ciangkun kemari, apalagi benakku sedang gundah memikirkan tugas yang berat ini, sehingga tanpa sadar masuk kemari!”

“Kemaren?” tanya tuan putri menegas sambil mengerut kening, “Baru kemaren kau masuk istana?”

Thian-hi manggut-manggut.

“Tapi kulihat mukamu seperti sudah kukenal, seperti pernah kulihat kau dimana, apa kau tidak bohongi aku?”

Saat itu dua petugas ronda dalam lewat, begitu melihat Hun Thian-hi, mereka saling pandang terus maju menyembah kepada tuan putri, “Harap tuan putri memberi ampun, karena kelalaian kami sehingga orang ini masuk kemari, biarlah kami yang mengusirnya keluar!-’

“Tidak perlu, akulah yang memanggilnya kemari waktu dia lewat disana, tiada urusan kamu disini, hayo pergi!”

Kedua peronda itu saling pandang, sahutnya, “Tapi….” “Tapi apa lagi! Ajo lekas enyah jangan cerewet!”

Kedua peronda itu menjadi gemetar dan apa boleh buat terpaksa mereka mengundurkan diri.

Tuan putri menepekur sekian saat, lalu berkata lagi, “Sungguh sebal kenapa tidak bisa kuingat, eh, kenapa kau tunduk saja, coba angkat kepalamu supaya kulihat lebih tegas.”

Thian-hi angkat kepala, tampak tuan putri mengenakan pakaian serba putih, yang dikenakan ini adalah pakaian kebesaran dalam istana, jauh berlainan dengan sikapnya tempo hari di atas kereta. Dibelakangnya mengintil dua dayang, dengan pakaian yang panjang melambai ini tuan putri terasa lebih agung dan cantik, sehingga Thian-hi tak berani metmandang ke depan.

Setelah mengamati sekian lamanya, mendadak tuan putri bertepuk dan berseru tertawa, “Benar-benar! Kini kuingat, bukankah kau tinggal digedung Ma-ciang-kun?”

Terperanjat hati Thian-hi, tak duga ingatan tuan putri ternyata begitu tajam, kejadian tempo hari sudah sekian lamanya, malah sekarang dirinya sudah ganti pakaian. kiranya masih tak berhasil mengelabui sepasang biji matanya yang bening dan jeli itu.

Apa boleh buat Thian-hi menjura, “Tempo hari hamba terlalu kurang hormat, sampai lupa nyatakan terima kasih akan pertolongan tuan putri.”

Kelihatannya tuan putri sangat senang, katanya tertawa lebar, “Sungguh hampir tak kukenal, tempo hari dandananmu sebagai pelajar kutu buku, sekarang sebagai wakil komandan Gi-lim-kun, ai, sungguh aneh!”

Thian-hi menjadi geli oleh banyolan tuan putri. Kata tuan putri lagi, “Tempo hari putra Tan-siangkok menghajar kau dengan pecut, kenapa kau tidak mau melawan? O. ja, dimana serulingmu itu? Apa kau bawa kemari?”

Thian-hi tertawa-tawa, keadaan dirinya lebih jelas lagi dibelejeti, sungguh tajam dan lihay benar-benar tuan putri ini, ia geleng kepala untuk jawaban.

“Ada omongan hendak kukatakan kepada kau, mari kau ikut aku! Kesana, ke gardu itu!” Lalu ia mendahului menuju kesebuah gardu yang terdekat.

Thian-hi mengekor di belakang tuan putri memasuki gardu itu, tuan putri ulapkan tangan suruh Thian-hi duduk, Thian-hi geleng kepala, tuan putri berkata dengan tersenyum, “Kusuruh kau duduk. takut apa kau? Duduklah!”

Terpaksa Thian-hi menduduki sebuah kursi, dengan seksama tuan putri meng-amat-amatinya, Thian-hi menjadi risi dan kikuk, tuan putri terkikih geli, katanya, “Kiranya kau begitu pemalu, orang lain takkan menduga kau sebagai wakii komandan Gi-lim-kun, apakah kau pandai main silat?”

Bergejolak hati Thian-hi, mendengar suara tawa tuan putri pikirannya lantas melayang mengenangkan keadaan di Tionggoan, seolah-olah ia merasa orang yang berada di depannya ini adalah Sutouw Ci-ko, wataknya memang periang seperti watak Sutouw Ci-ko, entah bagaimana dan dimanakah Sutouw Ci-ko sekarang.

Tuan putri mendesiskan mulut, ujarnya, “Sedang kutanya kau! Apa yang sedang kau pikirkan?”

Thian-hi tersentak kaget, sahutnya dengan rikuh, “Apa yang tuan putri tanyakan? Aku tidak jelas mendengar!”

Tuan putri menjadi kurang senang, katanya, “Bagaimana kau ini, aku bicara dengan kau kenapa menjadi linglug, kukatakan cabutlah pedangmu, aku ingin bertanding pedang dengan kau.”

Thian-hi tersentak kaget sampai bangkit dari tempat duduknya, serunya: .Tuan putri, mana boleh jadi!”

Tuan putri dan kedua dayang dibelakangnya menjadi terkekeh geli, Thian-hi sendiri semakin tersipu-sipu tak tahu apa lagi yang harus dilakukannya. Tuan putri segera berkata. “Jangan bersitegang leher, aku hanya menggertakmu saja, sebetulnya. umpama Ma-ciangkun sendiri kemari dia pun bukan menjadi tandinganku!”

Baru saja Thian-hi dapat menghela napas lega, serta merta ia lantas mengerut kening mendengar bualan tuan putri, dengan cermat diam-diam ia amat-amati tuan putri, kelihatan raut mukanya bundar telor, pipinya bersemu merah laksana buah tho, biji matanya bening sejernih air, dengan tajam orangpun senang menatap dirinya, cepat-cepat ia alihkan pandangan matanya. sekilas ini terasa olehnya bahwa tuan putri ternyata begitu elok dan rupawan, sampai ia tidak berani memandang lebih lama lagi.

“Belakangan ini aku pun suka meniup seruling, apakah kau sudi mengajarkan aku?” demikian ujar tuan putri.

“Mana aku berani mengajarkan kepada tuan putri!” tersipu-sipu Thian-hi mengiakan.

Tuan putri tak hiraukan ucapan Thian-hi dari dalam lengan bajunya ia mengeluarkan seruling terus diangsurkan kepada Thian-hi sembari berkata, “Coba kau periksa bagaimana seruling ini?” Terpaksa Thian-hi menerima seruling itu, tampak seruling ini begitu mulus dan bening laksana terbuat dari kaca, waktu dipegang terasa hangat, seluruh batangnya terukir sembilan naga bergulat seperti sedang bermain di tengah angkasa, kelihatannya jauh lebih bagus dari seruling miliknya itu.

Tuan putri tertawa bangga, ujarnya, “Bagaimana? Tidak kalah bukan dibanding serulingmu?” Thian-hi tersenyum, katanya, “Seruling tuan putri ini jauh lebih bagus dari serulingku!”

Tuan putri berkata, “Coba kau tiup sebuah lagu untuk kudengar!” Thian-hi melengak, tanyanya, “Sekarang juga?”’

Tuan putri manggut-manggut. “Ya, sekarang juga!”

Thian-hi menjadi bimbang, katanya, “Tiupan serulingku tidak begitu mahir, semoga tidak menjadi buah tertawaan tuan putri.”

Tuan putri manggut-manggut, dengan mendelong ia perhatikan Thian-hi serta menanti.

Pelan-pelan Thian-hi angkat seruling kedekat mulutnya, sejenak ia berpikir lalu mulai memup seruling melagukan sebuah irama yang halus mengalun pelan, itulah lagu ‘indahnya alam’, nada lagunya rendah dan datar mengembang laksana mega berlalu seumpama air mengalir terus mengalun tak putus2.

Sedemikian merdu dan mempesonakan irama seruling lagu Indahnya alam ini sehingga Tuan putri dan kedua dayangnya terlongong kesima, sekian lama setelah lagu selesai ditiup baru Tuan putri menghirup hawa segar, katanya, “Selamanya belum pernah kudengar irama seruling sedemikian bagus, sungguh enak dan menyegarkan badan, seharusnya kau menjadi guru musik saja.”

Thian-hi tertawa-tawa, ujarnya, “Tiupan serulingku masih kurang sempurna, tak perlu dibanggakan.

Sebetulnya Ma-ciangkun….” sebetulnya ia hendak menyinggung soal Ma Gwat-sian, tapi serta dipikir menjadi kurang enak rasanya, maka segera ia urungkan.

“Kau cukup pintar dalam ilmu silat dan sastra, aku menjadi kurang paham dari mana Ma- ciangkun dapat mencari orang sepandai kau ini.”

“Tuan putri terlalu memuji, sebenar-benarnya bisaku juga sangat terbatas!” “Apakah kau mau sering kemari menemani aku?”

“Apa?” tanya Thian-hi melongo.

“Maksudku, tiupan serulingmu begitu bagus, selanjutnya seringlah datang mengajarkan kepada aku!”

Hun Thian-hi tersenyum getir, sahutnya, “Aku kuatir tidak mungkin!” “Apa kau tidak sudi?” Thian-hi serba sulit tak tahu cara bagaimana harus menjawab, terpaksa ia meng-ada2 saja katanya, “Tuan putri juga tahu, tadi aku sudah gagal dalam tugas pertama, kehilangan Ce-kim-cu merupakan kelalaianku, sehingga Ma-ciangkunlah yang ketimpa akibatnya, hatiku….”

“Tak perlu kau takut menghadapi urusan itu, biar aku yang mintakan ampun kepada ayah baginda bagi kau dan Ma-ciangkun, ayah baginda tentu melulusi!”

“Sekali2 tuan putri tidak boleh berbuat demikian. Hatiku akan lebih menyesal lagi, kebaikan tuan putri sungguh Huh Thian-hi menyatakan banyak terima kasih.”

Dengan tajam tuan putri pandang Hun Thian-hi, katanya, “Kau ini sungguh sombong, kebaikan lain orang sedikit pun kau tidak mau terima, untung aku ini seorang tuan putri, kalau tidak betapa kau akan lebih sombong lagi.”

Thian-hi menjadi tergagap dan tak kuasa menjawab lagi, diam-diam ia membatin dalam hati, apakah begitu watakku, demikian ia bertanya pada dirinya sendiri, apakah sikapku ini betul?

Tuan putri tertawa, ujarnya, “Bila Giok-hud sampai hilang pula nanti malam, apakah kau hendak berpeluk tangan saja melihat seluruh keluarga Ma-ciangkun dipenggal kepalanya?”

Thian-hi terlongong diam, sesaat kemudian baru menjawab, “Terima kasih tuan putri!”

“Hari ini cukup sekian saja, mungkin ayah baginda mencari aku, aku harus segera pulang, kau sendiri juga lekas keluar dari tempat ini!” — habis berkata lalu balik masuk ke dalam sebentar saja bayangan punggungnya menghilang dibalik rumpun kembang.

Diam-diam bergejolak perasaan Thian-hi, sungguh ia merasa sangat terima kasih dan haru, tuan putri ternyata seorang budiman yang baik hati, tapi sayangnya ia dilahirkan dalam kalangan bangsawan, mungkin dia tidak menyadari betapa culas hati manusia yang sedang saling berebutan kekuasaan harta dan kedudukan.

Tanpa merasa ia menghela napas rawan, sekonyong-konyong ia merasa tangannya masih memegang sebuah benda apa, waktu menunduk kiranya seruling itu masih belum sempat ia kembalikan kepada tuan putri. Keruan ia menjadi bingung dan menjublek sekian lama, tak mungkin ia mengejar ke dalam terpaksa dalam kesempatan lain saja baru bisa dikembalikan.

Thian-hi tak berani tinggal terlalu lama di tempat terlarang ini, sambil menyimpan seruling ke dalam bajunya bergegas ia lari keluar dari taman bunga, Waktu sampai di bilangan istana luar tampak Ma Bong-hwi tengah ubek2an mencari dirinya, melihat kedatangannya cepat ia bertanya, “Thian-hi, kemana kau, sukar mencari kau!”

“Maaf toako, secara tidak sadar aku melanggar masuk kebun, tadi bicara sebentar dengan tuan putri!”

“Kau ketemu dengan tuan putri?” Ma Bong-hwi menegas dengan terbelalak.

Thian-hi manggut-manggut. Ma Bong-hwi menghela napas panjang, ujarnya, “Untung kau masih bisa keluar lagi. Selanjutnya jangan sembarang terobosan!”

Thian-hi mengiakan.

Selanjutnya mereka berdua pergi istirahat untuk menghimpun semangat supaya nanti malam lebih segar menjaga Giok-hud (patung Budha). Thian-hi duduk samadi di atas dipan dalam sebuah kamar khusus yang disediakan untuk dirinya, dalam kesunyian ini ia dapat melatih Pan-yok-hian- kang. Tanpa merasa waktu ia selesai dalam latihannya cuaca sudah gelap, pelita juga suaah dinyalakan, bergegas ia keluar menemui Ma Bong-hwi, tampak muka orang kejut dan semangatnya lojo, terang ia tidak bisa tidur.

Ma Bong-hwi masuk ke dalam istana mengeluarkan Giok-hud, tampak Patung Budha ini tinggi tiga inci seluruh patung ini mengkilap bening terbuat dari pualam pilihan, betul-betul merupakan barang antik yang tak ternilai harganya.

Ma Bong-hwi segera suruh anak buahnya memasang tangga dan perintahkan supaya patung Budha ini ditaruh di atas belandar…. Mendadak Thian-hi tersentak oleh sebuah pemikiran lain, cepat ia berkata, “Ma-ciangkun! Siapa yang mengusulkan supaya patung ini diletakkan di atas belandar?”

“Ing-ciangkun yang mengusulkan, menurut hematku memang tepat diletakkan disana, apakah kurang tepat tempat itu?”

Tergerak hati Thian-hi, teringat olehnya akan kecurigaan Ma Gwat-sian yang mengatakan kalau Ing-ciangkun ini kurang dapat dipercaya, segera ia buka suara, “Hari ini lebih baik kita tidak meletakkan patung ini di atas belandar, coba sekali ini diletakkan di lantai saja!”

Semula Ma Bong-hwi beragu, akhirnya setuju juga meletakkan patung Budha itu di atas lantai, ternyata malam itu berlalu dengan tenang dan aman tanpa terjadi suatu apa.

Hari kedua semua tercengang dan kejut2 heran. Ma Bong-hwi sendiri juga merasa heran dan takjup. Memang Ce-kim-cu itu hilangnya secara misterius. Apakah belandar besar itu yang kurang beres? Bagaimana mungkin pencuri itu datang pergi begitu cepat tanpa suara lagi seakan-akan bisa menyulap Ce-kim-cu itu masuk ke dalam kantongnya sendiri Sungguh aneh!

Thian-hi sendiri sudah curiga sejak mula bahwa di atas belandar itu tentu ada rahasianya.

Mengandal taraf kepandaian Lwekangnya, betapapun pencuri itu takkan dapat lolos dari pengawasan begitu saja, kecuali pencuri itu sebelumnya memang sudah sembunyi di atas belandar, bila sembunyi di atas memang orang di bawah tak dapat melihat, waktu perhatian semua orang di bawah sedang terpencar gampang saja ia mengambilnya, namun orangnya masih sembunyi di sana, tanpa dapat meninggalkan tempat sembunyinya itu, kalau tidak, tiada alasan tanpa perbuatannya itu bisa konangan oleh begitu banyak orang.

Tapi analisa ini pun tidak mungkin terjadi, bila orang itu tetap sembunyi di atas, siang hari lebih tak mungkin bisa lari, masa dalam sehari semalam dia bisa tahan lapar dan dahaga sembunyi terus di atas belandar? Hal ini terang tidak mungkin.

Hari kedua pagi2 benar-benar, serta mendengar patung Budha tidak hilang sungguh girang sang Baginda bukan main, tapi segera iapun keluarkan perintahnya, memberi jangka waktu sepuluh hari untuk mengejar kembali barang-barang mestika yang hilang itu.

Apa boleh buat Ma Bong-hwi terpaksa mengiakan saja. Betapapun karena patung Budha tidak sampai hilang perasaannya yang tertekan rada kendor dan berlega hati. Setelah mengundurkan diri cepat bersama Thian-hi ia pulang ke gedungnya di Bi-seng.

Belum lagi sampai di rumah, seluruh anggota keluarganya sudah mendengar berita gembira ini semua berbondong keluar menyambut. Mereka dielu2kan memasuki rumah, setelah basa basi sekadarnya, Ma Bong-hwi lantas masuk istirahat, Thian-hi tahu beruntun beberapa malam dia tidak tidur maka iapun cepat kembali ke kamar bukunya. Seorang- diri ia termenung dalam kamarnya memikirkan cara bagaimana sebenar-benarnya pencuri itu mengambil Ce-kim-cu, sekian lama ia tidak berhasil memecahkan persoalan ini. Kecuali belandar besar itu ada rahasianya yang tersembunyi.

Tengah ia terpekur, Ma Gwat-sian datang bertandang. cepat Thian-hi menyilahkan duduk, sekadarnya mereka bicara urusan biasa, akhirnya pembicaraan mereka beralih ke persoalan pencurian barang-barang mestika itu. Thian-hi menceritakan pengalamannya cara bagaimana Ce- kim-cu itu hilang dalam sekejap mata kepada Ma Gwat-sian.

Ma Gwat-sian berpikir sekian lamanya, akhirnya ia bertanya, “Menurut sangkamu di atas belandar itu dapat bersembunyi si pencuri itu bukan?”

“Itu hanya suatu kemungkinan saja!” “Apa pula kemungkinan yang lain?”

“Kemungkinan lain perbuatan ini bukan dilakukan oleh manusia!”

“Hun-toako, jika aku harus memilih satu diantara kedua kemungkinan itu, aku memilih kemungkinan kedua. Istana raja bukan kediaman pribadi seseorang, betapapun takkan ada kesempatan bagi seseorang membuat tempat-tempat rahasia di belandar istana, kemungkinan kedua hanyalah kesimpulan dalam perkataan saja,”

Setelah mendengar ucapan Ma Gwat-sian seketika ia berjingkrak bangun, teringat olehnya akan bau amis yang aneh itu, ja, benar-benar, itu bukan perbuatan manusia, tapi adalah….

Semula ia tidak perhatikan bau amis yang aneh itu, sekarang setelah diingat, terasa olehnya bau semacam itu dulu ia pernah menciumnya sekali, itulah pada saat ia mempelajari jurus pencacat langit pelenyap bumi di dalam gua ular yang dlajarkan oleh Ang-hwat-lo-mo itu. Ja, bau amis itu adalah bau yang keluar dari badan ular.

Sambil menepuk kepalanya Thian-hi berseru kegirangan, “Sekarang aku tahu sebab musabab menghilangnya barang mestika itu!”

Ma Gwat-sian tersenyum manis, ujarnya, “Perbuatan ular, ya bukan!”

Terkeaima Thian-hi memandangi muka Ma Gwat-sian, orang begitu yakin akan kesimpulannya, sudah tentu Thian-hi terkejut akan kecerdikan gadis rupawan yang lemah ini, atau sebetulnya memang dia membekal kepandaian silat yang tiada taranya?

Sedikitpun ia tidak berani menyangkal dugaan Ma Gwat-sian. Ma Gwat-sian sendiri pernah mengatakan bahwa dia tidak pandai main silat, namun kecerdikan yang luar biasa ini serta keyakinannya yang teguh ini benar-benar sangat mengagumkan.

“Jikalau bukan perbuatan orang, sudah pasti perbuatan binatang, binatang lain yang bisa merambat ke atas belandar dan tanpa diketahui oleh orang, apalagi punya gerak gerik yang gesit dan cekatan kecuali ular tiada binatang lainnya lagi. Orang itu dapat mengendalikan ular untuk mencuri mestika itu tanpa mengeluarkan suara sedikitpun, jelas bahwa orang ini pasti seorang kosen juga, jangan kau pandang remeh dia.”

Thian-hi manggut-manggut, sungguh ia takjup akan kecerdikan Ma Gwat-sian, setiap perkataannya seolah-olah dikatakan seperti dia sendiri yang menghadapi perkara itu, atau lebih jelas lagi seperti ia sendiri yang melakoni. Dihadapan Ma Gwat-sian ia merasa betapa bodoh dirinya ini. Ma Gwat-sian menunduk menghindari pandangan Thian-hi, sambungnya, “Untuk mengendalikan ular gampang, tapi mengendalikan secara diam-diam tanpa bersuara justru sangat sukar. Aku harus istirahat, kudoakan semoga kau sukses malam nanti.” -habis berkata terus dia keluar mengundurkan diri.

Thian-hi bangkit mengantar orang sampai diambang pintu. sekian lama ia termenung2 lagi, lalu mulai pula dengan latihan Pan-yok-hian-kangnya, tak lupa iapun menyelami pelajaran Wi-thian-cit- ciat-sek. Sang waktu berjalan sangat cepat, tahu-tahu hari sudah menjelang magrib setelah makan malam bersama Ma Bong-hwi mereka berangkat lagi menunaikan tugas diistana.

Malam ini Thian-hi mengusulkan lagi kepada Ma Bong-hwi supaya patung Budha pualam itu diletakan di atas belandar saja.

“Bukankah di bawah lebih gampang dijaga dan diawasi?”

“Tapi tujuan kita adalah hendak menancing pencuri itu datang baru bisa menangkapnya, kalau di bawah dia tak mau datang bagaimana kita bisa meringkusnya!”

Ma Bong-hwi rada kuatir patung Budha itu bisa menghilang secara misterius lagi, namun Baginda memerintahkan dirinya dalam jangka sepuluh hari harus mengejar pulang mestika yang tercuri, cara menunggu lobang untuk menangkap kelinci bukanlah cara yang baik untuk menyelesaikan perkara pencurian ini, adalah lebih baik memancing pencuri itu datang sendiri lebih tepat, karena pikiran ini segera ia manggut-manggut dan menyuruh anak bUahnya meletakkan patung Budha itu ke atas belandar.

Hakikatnya Thian-hi tidak memberi tahu jalan pikirannya kepada Ma Bong-hwi, namun dia sudah punya pegangan, hanya dia meraba-raba, entah ular macam apakah yang begitu lihay dapat bekerja secerdik manusia sampai sekarang dia belum mendapat akal cara bagaimana ia harus mengatasi ular lihay ini.

Akhirnya ia berkata pada Ma Bong-hwi, “Ma-ciangkun menjaga bagian bawah, biar aku mengawasi bagian atas!”

Ma Bong-hwi manggut-manggut. Malam ini Thian-hi menghimpun seluruh semangat dan mencurahkan seluruh perhatiannya dengan waspada menanti kedatangan simaling, diam-diam dalam hati ia sudah bertekad harus dapat meringkusnya, seperti kegagalan semula pihak lawan tentu menggunakan cara licik untuk memencar perhatian seluruh penjaga itu lalu melepas ularnya untuk bekerja dengan cepat, akan kulihat cara apa yang dia gunakan malam ini.

Tengah ia bepikir, suasana hening dan sunyi tiba-tiba terdengar seseorang berseru, “Baginda datang!”

Baginda benar-benar muncul dihadapan mereka keruan semua orang tersentak kaget dan tersipu-sipu menyembah memberi hormat, Baginda menyapu pandang kepada mereka lalu berkata, “Ma-ciangkun mengundang aku kemari ada urusan apa?”

Ma Bong-hwi melongo. Sementara Thian-hi mengeluh dalam hati, cepat ia mendongak, dalam waktu sekejap itu benar-benar juga patung Budha sudan lenyap, hanya tampak selarik cahaya bergerak lantas lenyap. Sebat luar biasa ia jejakkan kaki mencelat naik ke atas.

Perbuatan Thian-hi ini sungguh sangat mengejutkan sang Baginda, ia tersurut dua langkah, sementara itu Ma Bong-hwi sedang menjawab, “Hamba sekalian tiada pernah mengundang Baginda. Terang kita telah kena tipu lagi!” Begitu tiba di atas belandar Thian-hi melihat seekor ular hitam panjang empat kaki tengah melata cepat sekali ke depan sana sambil menggigit patung Buddha itu, gerak geriknya begitu gesit secepat angin, sekejap saja sudah tiba di ambang sebuah lobang dan hampir menghilang.

Tanpa ayal segera Thian-hi sambitkan pedang ditangannya, tepat sekali menancap di depan lobang itu sehingga jalan lari siular kebuntu, cepat sekali ia ulur tangan mencengkeram keleher ular terpaut tujuh senti dari bawah kepala ular, dimana terletak kelemahannya.

Melihat jalan lari sudah putus, ular itu agaknya tahu bahaya tengah mengancam cepat buntutnya melingkar terus melecut naik menyerang jalan darah pergelangan Thian-hi.

Disebelah bawah Ma Bong-hwi sudah perintahkan seluruh pintu ditutup rapat dan dijaga ketat mulai mengadakan penggeledahan.

Sudah tentu Thian-hi tidak gampang kena diserang oleh siular, tangannya membalik berbareng jarinya menyelentik tepat sekali menjentik ujung ekor siular, ular itu berteriak kesakitan, tapi mulutnya tetap menggondol patung Buddha itu tak mau meletakkan, gesit sekali mendadak hendak menerobos keluar. Ketiga jari tangan Thian-hi lantas mencengkeram ke tempat kelemahan siular di bawah kepalanya, cara kerjanya cepat dan telak, apalagi dia sudah bertekad hendak menangkap ular lihay ini.

Tapi disaat ia berhasil, mendadak dari belangkangnya terasa menyerang datang sejalur angin kencang menerjang ke arah jalan darah Ling-tai-hiat dipunggungnya, keruan kejut hati Thian-hi, tangkas sekali ia membalikkan telapak tangannya yang lain menyampok ke belakang, seekor ular putih telak sekali kena ditamparnya sampai jatuh di atas belandar tak bergerak lagi.

Ular hitam itu lari lagi ke depan, namun mana bisa lolos dari kesigapan tangan Thian-hi, sekali berkelebat ia mengejar maju dan tepat sekali berhasil menggencet kelemahannya di bawah kepalanya, ular itu dipaksa mengeluarkan patung Budha, lalu sambil menjinjing patung Buddha itu Thian-hi melompat turun ke-bawah.

Cepat Thian-hi maju menghadap kepada Baginda memberi lapor, “Pencurinya adalah seekor ular, sudah berhasil hamba ringkus, di atas belandar masih terdapat seekor ular putih yang lain juga berhasil kupukul mampus!”

Baginda berseri tawa, ujarnya, “Jasa Hun-ciangkun sungguh tidak kecil, ilmu silatnya juga hebat sekali, Yim (aku) berkeputusan untuk memberi anugerah dan pahala kepada kau.”

Tuan putri mengikik tawa dan melangkah maju, katanya, “Ilmu silatmu ternyata begitu lihay.

Sungguh aku tidak mengira kaulah orangnya yang naik ke atas belandar!” Hun Thian-hi merangkak bangun.

Dengan heran sang Baginda bertanya kepada tuan putri, “Jadi kalian sudah kenal?”

“Ya,” sahut tuan putri, “Belum lama berselang aku udah pernah melihat dia, kemarin pagi akupun baru teromong2 dengan dia!”

Sang Baginda melenggong. Thian-hi berkata, “Pemelihara ular ini pasti berada di dalam istana juga, ular ini belum mati, harap sang Baginda menyingkir, aku mau melepasnya untuk mencari pemiliknya.” Sang Baginda rada sangsi, akhirnya berkata, “Aku sudah berada disini tak perlu menyingkir lagi.

Aku ingin ikut menyaksikan!”

Apa boleh buat Thian-hi lantas melepas ular hitam tu. Ular itu merambat cepat sekali berputar- putar di dalam istana lalu melata keluar, begitu cepat dan gesit sekali gerak geriknya, namun selama itu Thian-li membuntuti di belakangnya dengan ketat.

Setelah melewati sebuah serambi panjang mereka memasuki sebuah taman, kesanalah ular hitam itu menuju terus menuju ke sebuah gunung2an palsu, untung Thian-hi bergerak sangat cepat sebelum si ular menyusup masuk ke dalam sebuah lubang di bawah gunung2an palsu itu ia berhasil menawannya pula. Sementara itu sang Baginda, tuan putri dan banyak orang lagi pun telah tiba. Segera sang Baginda memberi perintah, “Panggil orang untuk mengeduk gunung2an palsu ini, apakah barang-barang yang hilang tu berada di sana.”

Tak lama kemudian beberapa orang telah datang lalu mencangkul dan menggali lobang itu, setelah gunung2an itu roboh tampak di bawahnya situ memang terpendam barang-barang mestika yang hilang itu.

Baginda jadi berpikir, katanya tertawa, “Siapakah pemelihara ular ini sulit diketahui dalam waktu singkat ini, bunuh saja ular itu habis perkara!”

Apa boleh buat, terpaksa Thian-hi melaksanakan perintah raja. Tapi dia tahu bahwa belakangan hari kejadian ini pasti bakal menimbulkan bibit bencana yang lebih besar.