Badik Buntung Bab 13

 
Bab 13

Pek-kut-sin-mo menggembor panjang seperti geledek mengguntur, sebagai bangkotan silat dengan latihan masa lima puluh tahun di dalam gua masa setanding melawan bocah ingusan, bukankah sia-sia hidup lima puluh tahun dalam gua ini. Bagai elang menukik ke angkasa tubuhnya mumbul ke atas, serangan kedua sudah dilancarkan. Mendadak di belakangnya kedengaran sabda Buddha yang nyaring menggema. Lekas-lekas Pek-kut-sin-mo melorot turun serta berpaling ke belakang, dengan kejut kegirangan ia menubruk maju serta menyembah hormat, “Ka-yap Cuncia, kapan kau orang tua datang kemari!”

Thian-hi sendiri kala itu tengah dimabuk kegirangan bahwa Lwekangnya ternyata maju berlipat ganda dalam sekejap waktu, ini terbukti bahwa khasiat buah ajaib sudah bujar dan mendarah daging di dalam tubuhnya karena pukulan Pek-kut-sin-mo tadi.

Melihat Pek-kun-sin-mo begitu murka dan menyerang dengan kalap, ia lebih waspada dan siaga untuk menghadapi segala kemungkinan, sekonyong-konyong didengarnya sabda Buddha yang menggetarkan sanubarinya, di lain saat dilihatnya Pek-kun-sin-mo menubruk maju kehadapan seorang Hwesio tua dan menyembah hormat. Dengan tersenyum Hwesio tua itu mengelus kepala Pek-kun-sin-mo.

Ka-yap Cuncia sudah tersohor dikolong langit, sekarang secara beruntung dirinya bisa jumpa di tempat ini, tersipu-sipu ia maju berlutut serta sapanya, “Tecu Hun Thian-hi, menghadap Sin- ceng!”

“Kalian bangunlah!” ujar Ka-yap Cuncia tertawa. Berbareng mereka bangkit berdiri, dengan mendelik Pek-kut-sin-mo pandang Hun Thian-hi. Sebaliknya Thian-hi tengah pikirkan urusan lain, ia tak hiraukan sikap galak orang.

Dengan tersenyum Ka-yap Cuncia berkata kepada Pek-kut-sin-mo, “Lima puluh tahun lamanya watak berangasan Pek-sicu masih belum luntur!”

Terperanjat Pek-kut-sin-mo, cepat katanya, “Entah darimana bocah ini, kukira dia hendak mencari pusaka itu, maka tidak akan kuberi ampun!”

“Dia kemari tentu punya tujuan,” demikian ujar Ka-yap Cuncia, “bukankah kau sudah melulusi aku untuk tidak sembarangan membunuh orang. Kenapa tadi begitu gegabah. Untung khasiat kekuatan buah ajaib mengeram di Pek-hwe-hiat, kalau tidak masa jiwanya bisa hidup karena pukulanmu tadi.” Ka-yap Cuncia pejamkan mata, sesaat kemudian ia berkata pula, “Lima puluh tahun yang lalu, karena kesalahan pikiran, demi kebajikan, sekarang berbuah meninggalkan bibit bencana.

Kedatanganku ini justru untuk menyelesaikan urusan terakhirku selama hidup ini.” “Apakah Taysu punya janggalan hati?” tanya Pek-kut-sin-mo.

Ka-yap Cuncia tersenyum, pandangannya beralih kepada Hun Thian-hi, katanya, “Soal ini punya sangkut paut dengan Hun-sicu ini.”

Tersentak sanubari Thian-hi, percakapan Ka-yap dan Pek-kun-sin-mo sudah cukup membuatnya bingung dan keheranan, sekarang masih ada persoalan dari lima puluh tahun yang tertangguhkan itu punya hubungan erat dengan dirinya, betapa hatinya takkan kejut.

“Dengan bocah ini?” tanya Pek-kut-sin-mo melengak.

“Ya,” sahut Ka-yap tersenyum. “Untuk urusan Hun-siculah aku menyusul kemari dari Thian- lam.”

Demi aku? Demikian Thian-hi dirundung pertanyaan, begitu jauh Ka-yap menyusul kemari, entah untuk urusan penting apakah?

Dengan tersenyum lebar Ka-yap mengawasinya, ujarnya, “Pengalamanmu aku tahu semuanya. Setelah mendengar berita itu, aku lantas tahu siapakah Mo-bin Suseng itu. Tak nyana, disaat aku tak berada dia kembali menimbulkan huru hara pula di Tionggoan.”

Tergetar hati Thian-hi, cepat ia bertanya, “Siapakah Mo-bin Suseng?” — pertanyaan ini menjadi teka-teki selama puluhan tahun, tiada seorang pun yang tahu nama dan muka asli dan Mo-bin Suseng. Tapi terhadap setiap tindak tanduknya yang serba pintar dan rapi itu, semua orang menjadi gentar dan segan mendengar nama julukannya. Sekarang hanya Ka-yap Cuncia yang diagungkan sebagai tokoh nomor satu sejagad ini tahu seluk beluk perkara itu.

“Ih-lwe-tok-kun, apakah kau masih ingat dia?” demikian tanya Ka-yap Cuncia terhadap Pek-kut- sin-mo.

Pek-kut-sin-mo manggut-manggut dengan hambar dan mendelong, entah untuk apa Ka-yap menyinggung tokoh jahat itu.

Thian-hi juga melengak heran. Ih-lwe-tok-kun, itulah iblis besar setingkat lebih tua dari angkatan Ang-hwat-lo-mo, dulu pernah dengar nama ini, namun sudah lama dilupakan.

Kata Ka-yap, “Mo-bin Suseng adalah duplikat Ih-lwe-tok-kun dulu itu.” — pelan-pelan ia menghela napas.

Thian-hi menjublek, menurut kabarnya ilmu silat Mo-bin Suseng tidak terlalu tinggi, tapi sekarang diketahui bahwa tokoh jahat itu adalah seorang iblis besar yang telah lama menghilang itu, sungguh sukar dipercaya.

Ganti berganti Ka-yap pandang mereka berdua. melihat mereka menaruh curiga dan keheranan ia tertawa geli, ujarnya, “Dulu sebelum aku bersua dengan kalian bertiga, pernah dipuncak Thay- san aku menempurnya selama tiga hari tiga malam, meski dia kalah, aku juga sedikit terluka.

Kamu tahu selamanya belum ada seorang pun yang mati ditanganku, secara suka rela ia bersumpah tidak muncul lagi di Kangouw, maka ilmu silatnya lantas kupunahkan dan melepasnya pergi. Tapi sungguh tidak kuduga sedemikian jauh ia masih mencari Ni-hay-ki-tin, sehingga menimbulkan gelombang pertikaian di dunia persilatan.” Lalu dengan tertawa ia berkata kepada Hun Thian-hi, “Urusanmu aku tahu dengan jelas, pandangan Soat-san-su-gou memang tepat, mereka benar-benar. Mereka tahu kau berani berkorban demi tidak melancarkan jurus Pencacat langit pelenyap bumi itu, jelas bahwa kau punya hati yang bijaksana, seseorang yang bajik tidak akan menyeleweng ke jalan yang sesat!”

Sungguh girang dan menyesal pula hati Thian-hi mendengar pujian Ka-yap Cuncia terhadap dirinya, bergegas ia menyembah, “Terima kasih akan petuah Sinceng.”

“Sayang aku tidak akan lama lagi tinggal di dunia yang fana ini, banyak urusan yang harus kuserahkan padamu untuk kau kerjakan.” demikian kata Ka-yap sambil tertawa.

Thian-hi dan Pek-kut-sin-kun sama terkejut, “Apa kata Taysu?” teriak Pek-kut-sin-mo. “Tiada kenangan abadi di dalam dunia fana ini, Pek-sicu, maukah kau kelak membantu Hun-

sicu melakukan tugasnya?”

“Petunjuk Taysu, aku Pek Si-kiat masa tidak tunduk, apakah Taysu terluka karena pertempuran dulu itu, kalau benar-benar, sungguh aku sangat menyesal.”

Teringat oleh Thian-hi akan ucapan Tok-sim-sin-mo, memang benar-benar bahwa Ka-yap Cuncia menderita luka dalam yang sangat parah, menurut perhitungan Tok-sim-sin-mo tentu Ka- yap sudah mati, tapi kenyataan sekarang Ka-yap masih belum wafat, namun dalam waktu dekat ini bakal wafat. tanpa merasa ia menunduk dengan rasa duka dan pedih.

“Hidup atau mati sudah menjadi takdir Thian. Lolap sudah melampaui seabad, usia yang terlalu tua, kenapa Pek-sicu harus kuatir bagi aku.” — lalu ia melanjutkan, “Sekarang Kiu-yu-mo-lo sudah bebas, lak lama lagi Tok-sim-sin-mo juga bakal lolos, dalam dunia ini takkan ada seorang pun yang mampu menundukkan mereka. Lwekang Lolap sendiri sebagian besar juga sudah bujar!”

Mendengar Lwekang Ka-yap Cuncia sudah bujar, terkejut Hun Thian-hi, serta merta ia bertanya, “Sin-ceng tahukah kau akan Bu-bing Loni?”

“Ya, Bu-bing sudah memperoleh intisari Hui-sim-kiam, namun mana dia kuasa merintangi Tok- sim-sin-mo dan Kiu-yu-mo-lo meloloskan diri!”

Hun Thian-hi menjadi bungkam, dari nada perkataan Ka-yap Cuncia, jelas memang diakui bahwa Hui-sim-kiam-hoat Bu-bing Loni tiada taranya dan tiada tandingan dikolong langit, meski dirinya pernah menelan buah ajaib, apa pula yang dapat dilakukan.

Terdengar Ka-yap Cuncia berkata pula: Tadi kulihat Kiu-yu-mo-lo sudah pergi, dia menggondol seorang gadis, apakah temanmu?”

Bercekat hati Thian-hi, cepat ia bertanya, “Sin-ceng, bagaimana keadaannya sekarang?”

Ka-yap pejamkan mata dan berpikir sesaat lamanya, pelan-pelan jia buka mata serta berkata, “Kau tak usahlah gugup, aku bisa membereskan soal ini.”

Berhenti sebentar, lalu, melanjutkan, “Mengandal Lwekang yang kau bekal sekarang masih jauh dari pada cukup, kelak kau harus menjadi pemimpin kaum pendekar di dunia ini, kau harus punya Lwekang yang hebat melebihi kaum persilatan umumnya, dari perjalananku keselatan kali ini terhitung tidak sia-sialah hasil yang kucapai. Wi-thian-cit-ciat-sek telah terjatuh ketanganku, untuk menandingi Hui-sim-kiam-hoat hanya Wi-thian-cit-ciat-seklah!” “Taysu.” sela Pek-kut-sin-mo Pek Si-kiat “Apakah Hui-sim-kiam-hoat itu adalah ilmu warisan dari Hui-sim?”

Ka-yap Cuncia manggut-manggut, ujarnya, “Hui-sim Sinni adalah Ciangbunjjn Ngo-bi-pay pada ratusan tahun yang lalu, Ngo-bi-pay merupakan pentolan teragung dikalangan Bulim pada jaman itu dengan sebatang pedang Hui-sim berhasil menindas para gembong-gembong iblis yang merajalela, akhirhja setelah beliau wafat Hui-sim-kiam-hoat juga ikut lenyap, tapi sekarang telah muncul ditangan Bu-bing Loni!”

Merandek sebentar lalu meneruskan, “Sekarang kau belum boleh unjuk muka di depan umum, perjalanan jauh keselatan kali ini, aku menemukan sebuah negara kecil di Thianyam, tiada seorang dari Tionggoan yang bisa menjejakkan kakinya di tempat itu, kau harus mempelajari dan menyelami pelajaran Wi-thian-cit-ciat-sek dan Pan-yok-hian-kang disana, Wi-thian-cit-ciat-sek merupakan pelajaran pedang tingkat wahid, melulu beberapa hari saja takkan mungkin dapat dicangkok pelajarannya, kalau bukan seorang cerdik pandai takkan dapat menyelami intisari pelajarannya yang paling tinggi, apalagi harus senyawa dan membekal Lwekang yang dalam dan kokoh kuat baru dapat mengembangkan kehebatannya…. Kau harus segera menuju kesana, kalau tidak kau takkan berhasil mencapai hasil yang diharapkan di Tionggoan ini”

Kejut dan girang pula perasaan Thian-hi, dalam hati ia membatin; apakah benar-benar begitu sukar pelajaran Wi-thian-ciat-sek itu?

Kata Ka-yap Cuncia pula, “Tapi kau harus mematuhi sebuah pesanku, sebelum kau berhasil dalam pelajaran Wi-thian-cit-ciat-sek, jangan sekali2 kau mainkan ilmu silat, jangan sampai masyarakat umumnya tahu bahwa kau adalah seorang kosen dalam bidangmu. Kalau kau membangkang, bencana bakal menimpa dirimu bila para gembong-gembong iblis meluruk datang, sebeJum pelajaranmu berhasil kau bakal konyol ditangan mereka.”

Mendengar orang berpesan begitu serius, Thiian-hi semakin prihatin keringat dingin membasahi tengkuknya, cepat ia menyahut, “Sekali2 Wanpwe tak….” kemudian baru bersuara, “Wi-thian-cit- ciat-sek ku kan berani menggunakan ilmu silat.”

Dengan seksama Ka-yap pandang Thian-hi, sesaat kemudian baru bersuara, “Wi-thian-cit-ciat- sek kuserahkan kepada kau, dimana ada pelajaran Pan-yok-hian-kang juga, mari kau ambillah.” ia angsurkan sejilid buku tipis terbungkus sutera kepada Hun Thian-hi.

Dengan kedua tangannya Thian-hi menerima serta menyatakan terima kasih,”

Ka-yap berpesan lagi, “Sebelum kau berhasil dan sukses, kularang kau meninggalkan tempat itu, aku akan selalu jsampingmu.” — Sebentar ia pejamkan mata, sesaat lalu berkata kepada Pek- kut-sin-mo Pek Si-kiat, “Apa yang telah kukatakan kepadanya kau pun sudah dengar, nanti sebentar aku punya pesan lain untuk kau!”

“Setelah pelajaranmu sukses.” demikian kata Ka-yap terhadap Thian-hi, “Kau harus minta bantuan Pek-sicu. Walaupun dulu dia disebut salah seorang dari Si-gwa-sam-mo, soalnya karena dulu ia ketiban bencana, dimana seluruh keluarganya musnah, karena tekanan batin yang terlalu berat sehingga pikirannya tersesat. Sekarang ia telah menyesal dan kembali kejalan yang lurus soal di Tionggoan kau tak usah kuatir, aku bisa mengurusnya bersama dia, kau boleh belajar dan memperdalam ilmu dengan tekun dan rajin saja.”

Hun Thian-hi mengiakan, hatinya menjadi lega dan terhibur. Asal Ka-yap sudi bicara sekecep saja. tanggung kaum persilatan di Tionggoan akan patuh dan tunduk pada kata-katanya, dosa2 tanpa alasan yang dituduhkan pada dirinya akan himpas seluruhnya. Demikian juga soal Sutouw Ci-ko Ka-yap sendiri juga sudah melulusi untuk mengurusnya. “Gembong-gembong silat dari berbagai aliran dan golongan diluar gua seribu Buddha masih belum bubar, tentu berabe kau keluar dari sana, aku punya jalan rahasia lain dapat membawamu keluar dengan selamat. Harta benda tak bernilai di dalam gua ini terlalu banyak, jalan-jalan rahasia yang menyesatkan tak terhitung banyaknya, aku kuatir kelak….s ampai disini ia berhenti, matanya menjadi redup dan ragu-ragu, Thian-hi celingukan kekanan kiri. lapat-lapat ia pun merasakan firasat apa-apa. Terdengar Pek Si-kiat bergelak tawa, serunya, “Sekarang masih ada aku disini, takut apa?”

“Besok pagi kau boleh ikut aku menuju ke Thian-bi-kok!” Demikian kata Ka-yap. Ooo)*(ooO

Dalam pada itu dengan menggondol lari Sutouw Ci-ko yang tertutuk jalan darahnya Kiu-yu-mo- lo terus berlari-lari tanpa tujuan, setelah napas ngos2an baru berhenti dar membebaskan jalan darahnya. Pelan-pelan Sutouw Ci-ko bangun duduk lalu celingukan kesekitarnya tanpa bicara….

“Budak aju,” kata Kiu-mu-mo-lo kepada Sutouw Ci-ko, “Dimanakah pohon buah ajaib itu? Lekas katakan, kalau tidak jangan kau salahkan aku berlaku keji kepadamu.”

Sutouw Ci-ko menunduk tanpa bicara. ia tahu bahwa Kiu-yu-mo-lo menjadi percaya obrolannya setelah ia menyebut nama Go-cu Taysu, sekarang ia bicara jujurpun tidak akan dipercaya olehnya.

Kiu-yu-mo-lo menggeram gusar, katanya, “Jikalau kau mau terangkan mungkin aku suka ambil kau sebagai murid, kuajarkan pelajaran silat tingkat tinggi, malah kepandaian baru yang baru saja dapat kuperoleh yaitu Hian-thian-mo-kip juga akan kuajarkan kepadamu. Tapi bila kau tetap tutup mulut? Hm ….”

Sutouw Ci-ko tetap bungkam, mendadak ia berpikir, masa aku harus mati secara konyol begini, bukanlah luka-luka Kiu-yu-mo-lo belum sembuh, kalau saat ini tidak dapat menumpasnya, kelak tentu menjadi bibit bencana.

Lekas-lekas ia angkat kepala serta katanya, “Aku tak perlu belajar kepandaianmu, yang penting setelah memperoleh buah ajaib kau harus kembali lagi ke Jian-hud-tong, bila adikku masih hidup kuharap kau sudi menolongnya keluar, begitu saja harapanku.”

Jang dipikir oleh Kiu-yu-mo-lo hanyalah buah ajaib. dengan tertawa melengking ia berkata, “Boleh, boleh, itu soal gampang, bila adikmu mati aku pun rela membalaskan dendamnya, membunuh bangkotan tua itu.”

Mendengar lengking suara orang saja cukup membuat Sutouw Ci-ko bergidik merinding, pelan- pelan ia menghela napas, katanya, “Buah itu berada di Hwi-king-ouw dipuncak Thian-san.”

Kiu-yu-mo-lo terloroh-loroh girang, menurut pendapatnya setelah mendapat buah ajaib, tentu dia dapat menjagoi dan bersimaharaja di Bulim, dia memiliki Hian-thian-mo-kip, bila kepandaian ini dapat dipelajari dengan sempurna mendapat bantuan buah ajaib tentu ia dapat malang melintang semau gue.

Dengan mengempit Sutouw Ci-ki di bawah ketiaknya, tubuhnya mencelat terbang secepat anak panah terus menuju ke Thian-san. Entah berapa jauh sudah ia menempuh perjalanan, sekonyong- konyong sebuah bayangan laksana angin lesus telah mengejar datang, begitu cepat gerak tubuh itu tahu-tahu sudah melesat ke depan menghadang di depan Kiu-yu-mo-lo. Keruan Kiu-yu-mo-lo terkejut, walaupun ia masih terluka, malah mengepit seseorang lagi, namun tak terpikirkan olehnya ada tokoh mana yang mampu mengejar dirinya. Segera ia menghentikan langkahnya, dengan cermat ia awasi orang di depannya, lalu bertanya dengan nada ingin, “Siapa kau?”

Pendatang ini bukan lain adalah Situa Pelita, mulutnya menyungging senyum sinis serta dengus dingin, nenek tua renta di depannya ini ternyata begitu sombong dan takabur, jengeknya dingin, “Aku bernama Situa Pelita. Siapa kau? Kenapa berada di dalam Gua seribu Buddha?”

Kiu-yu-mo-lo melengking terloroh-loroh lagi dengan suaranya seperti bunyi kokok beluk, katanya, “Ternyata ada orang berani menghadang jalan Kiu-yu-mo-lo, berani pula menyebut nama mengagulkan diri dihadapanku.”

Situa Pelita tersentak kaget seperti disengat kala, air mukanya berubah, nenek tua renta ini kiranya adalah salah satu dari Si-gwa-sam-mo yang bernama Kiu-yu-mo-lo. Lima puluh tahun sudah tak pernah ketemu, ternyata sekarang muncul lagi dikalangan Kangouw….

Sejenak ia tenangkan pikiran, lalu berpikir, “Terhadap Ang-hwat-lo-mo yang diagulkan sebagai Iblis besar nomor satu di seluruh Bulim masa kini saja aku tidak gentar, masa aku harus takut menghadapi nenek rejot tinggal kulit membungkus tulang ini!” — sambil menyeringai sinis segera ia berkata, “Si-gwa-sam-mo melulu gabungan badut2 kecil belaka, berani begitu sombong mengundal mulut besar!”

Kiu-yu-mo-lo terloroh-loroh kering dua kali, serunya, “Kami bertiga sudah lima puluh tahun tidak muncul di Kangouw, kiranya sudah banyak dilupakan oleh kaum persilatan. Ingin aku melihat betapa tinggi kemampuan para angkatan muda dari kalangan lurus.”

Kiu-yu-mo-lo pelan-pelan meletakan Sutouw Ci-ko di atas tanah, dilain kejap tiba-tiba kedua telapak tangannya sudah terangkat memukul ke arah Situa Pelita dengan dahsyat.

Kelihatannya cara pukulannya biasa saja, namun hakikatnya sudah mengerahkan kekuatan Kiu- yu-ciang-lat yang sangat berbahaya dan ampuh, Segulung angin dahsyat yang dikerahkan dari pukulan tenaga dalam segera menerpa ke arah musuh.

Melihat datangnya serangan dahsyat ini. Situa Pelita tidak berani menyambut dengan cara kekerasan, sebab sekali mengandal kegesitan tubuhnya ia mengegos mundur. Kiu-yu-mo-lo terkial-kial laksana bayangan mengikuti bentuk tubuhnya terbang mengejar tampak kedua telapak tangannya terkembang menggetar, gelombang demi gelombang angin pukulan yang menderu hebat terus bergulung menerjang ke arah Situa Pelita dari berbagai penjuru.

Kontan Situa Pelita merasa tenaga pukulan Kiu-yu-mo-lo adalah sedemikian dingin membekukan darah, kuatir tenaga sendiri tak mampu bertahan dan tak kuat melawan, akhirnya bakal celaka sendiri terpaksa ia main kelit mengandal Ginkangnya yang tiada taranya itu. Namun serta dirinya dirabu sedemikian gencar dengan serangan ganas, timbul juga amarahnya, dalam suatu kesempatan ia berhasil lolos mencelat mundur, serempak ia tarikan juga kedua kepalan tangannya memukul dengan kekuatan tenaganya memukul miring dari samping kiri, berbareng tubuhnya mencelat terbang mumbul terus mendesak maju, tahu-tahu telapak tangannya sudah terjulur menampar pipi Kiu-yu-mo-lo dari sebelah pinggir.

Melihat orang berkelahi main sergap dan tidak berani melawan secara berhadapan, Kiu-yu-mo- lo menjenget dingin, enteng sekali telapak tangannya kiri terangkat terus memapak ke arah tamparan Situa Pelita. Dalam melancarkan serangannya ini Situa Pelita sudah matang dalam perhitungan, melihat aksi lawannya ini, selicin belut tahu-tahu ia menyergap ke belakang orang, sembari lancarkan pukulan dahsyat juga, sasarannya adalah punggung Kiu-yu-mo-lo.

Lima puluh tahun yang lalu nama Kiu-yu-mo-lo sudah cukup menggetarkan berbagai kalangan persilatan, sudah tentu ia punya bekal kepandaian yang lihay, masa mandah saja diserang oleh Situa Pelita, tidak kalah gesitnya tubuhnya berputar, lagi-lagi telapak tangannya kanan sudah memapak menangkis pula.

Situa Pelita menjadi gusar, batinnya, “Masa kekuatan pukulan dua telapak tanganku tidak kuasa melawan sebuah pukulan tanganmu?” seiring dengan pikirannya, serempak kedua telapak tangannya menghantam dengan kekerasan tujuannya hendak memukul mundur Kiu-yu-mo-lo.

Namun Kiu-yu-mo-lo sendiri juga tahu bahwa lawannya ini tidak boleh dipandang ringan, masa begitu goblok ia mau menempuh bahaya, jurus permainannya ini tidak lain hanyalah pancingan belaka, gerak geriknya serba guna bisa kosong dapat diisi juga. Begitu Situa Pelita mendesak maju, cepat sekali ia menarik tangannya kanan, berbareng tubuhnya berputar terbang, beruntung kedua kepalan tangannya menggenjot bergantian kepada Situa Pelita.

Melihat lawan bermain begitu lincah dan berbuat licik, mendadak mencebak dengan pukulan berisi menjadi kosong, keruan bukan kepalang kejut Situa Pelita, tak kalah sebatnya ia berloncatan, sambil mainkan pukulannya secara gencar, namun usahanya sia-sia untuk membendung arus tenaga pukulan lawan, akhirnya terpaksa ia harus menyembut dengan kekerasan.

Dengan menyeringai dingin Kiu-yu-mo-lo kerahkan tenaganya, Situa Pelita menyambut dengan tergesa-gesa, begitu kedua pukulan saling beradu, seketika ia rasakan segulung hawa dingin meresap ke dalam telapak tangannya terus merembas masuk ke dalam badan melalui sendi2 tulang dan urat nadinya.

Sudah tentu tersirap kaget Situa Pelita, cepat ia empos semangat dan kerahkan hawa murni untuk menutup semua jalan darahnya, namun demikian tak urung mukanya sudah pucat pasi tak enak dipandang.

Kiu-yu-mo-lo terkekeh-kekeh mengumbar rasa puas yang tak terhingga, tubuhnya mencelat naik dan menerjang kembali dengan pukulan hebat yang mendampar laksana hujan topan diprahara mengincar kepala Situa Pelita.

Situa Pelita insyaf bahwa dirinya sudah terluka dalam yang cukup parah, mana berani ia melawan dan mengulur waktu lagi, dasar Ginkangnya memang hebat luar biasa, seenteng asap badannya melambung tinggi terus terbang laksana burung camar melarikan diri sipat kuping.

Karena menguatirkan keadaan Sutouw Ci-ko, maka Kiu-yu-mo-lo segan mengejar, cepat ia putar balik, dilihatnya Sutouw Ci-ko masih berdiri menjublek disana tanpa bersuara, begitu tenang dan agaknya sangat asjik menonton pertempuran yang hebat tadi sehingga tidak ingin tinggal pergi.

Diam-diam Kiu-yu-mo-lo mengucapkan syukur dalam hati, bila Sutouw Ci-ko mau lari, waktu Situa Pelita baru datang tadi mestinya ia punya cukup waktu untuk melarikan diri, bagaimana juga ia tidak akan mampu mengejar, apalagi tentu Situa Pelita akan melibatkan dirinya dan merintangi dirinya mengejar. Walaupun ia tidak takut menghadapi Situa Pelita, namun tak perlu disangsikan lagi pasti Sutouw Ci-ko sudah berkesempatan menghilang. Sekarang kenyataan dia tetap berdiri disitu, jelas sudah rela mengikuti dirinya. Sebetulnya Sutouw Ci-ko punya perhitungannya sendiri, bila mau lari sejak tadi memang ia sudah lolos, tapi apakah ia boleh lari? Bukankah dia harus menuntut balas, betapapun tak bisa membiarkan Kiu-yu-mo-lo bebas keluntang-keluntung kemana dia suka. Menurut hematnya dengan kekuatan gabungan gurunya dan Hwi-king Lojin pasti dapat mengalahkan Kiu-yu-mo-lo, namun setelah menyaksikan pertempuran yang seru tadi, diam-diam bercekat hatinya, dengan membekal luka dalam yang cukup parah ternyata Kiu-yu-mo-lo masih kuasa mengalahkan Situa Pelita.

Tengah ia tenggelam dalam renungarunya, terdengar Kiu-yu-mo-lo berseru, “Mari berangkat!”

Waktu Sutouw Ci-ko angkat kepala, tahu-tahu Kiu-yu-mo-lo sudah mengepitnya terus dibawa lari, perjalanan kali ini ditempuh dengan cepat, selama tiga jam Sutouw Ci-ko hanya pejamkan mata, terasa angin menderu keras dipinggir telinganya. yang terpikir dalam benaknya hanyalah Hun Thian-hi, entah bagaimana keadaannya, masih hidup atau sudah mati.

Entah sudah berapa lama lagi, akhirnya Kiu-yu-mo-lo berhenti dan menurunkan Sutouw Ci-ko katanya, “Istirahat dulu sebentar!”

Sutouw Ci-ko membuka mata, ia pandang keadaan sekelilingnya, ternyata mereka berada di atas sebuah bukit, rumput hijau nan subur seperti permadani terbentang luas tak berujung pangkal, di sebelah sana hanya terdapat beberapa buah pohon yang jarang tersebar diberbagai tempat.

Tanpa bersuara Sutouw Ci-ko duduk menggelendot di atas sebuah pohon kecil, otaknya berpikir membayangkan Gurunya, Hwi-king-ouw dan Hun Thian-hi.

Dengan cermat Kiu-yu-mo-lo pandang Sutouw Ci-ko, lama kelamaan hatinya menjadi ketarik pada gadis ini, Sutouw Ci-ko sudah meninggalkan kesan mendalam bagi sanubarinya. Menurut ketenaran namanya, andaikata Sutouw Ci-ko berhasil menunjukkan Buah ajaib, jiwanya juga tidak akan selamat dari tangannya yang sudah lama berlepotan darah. Ia heran dan bertanya-tanya, kenapa Sutouw Ci-ko tidak melarikan diri. Ia heran apa yang tengah dipikirkan Sutouw Ci-ko?

Apakah dia selalu terkenang akan adiknya? Maka bertanyalah ia, “Tok-sim-sin-mo jauh lebih telengas dari aku, adikmu itu mungkin tidak terlepas dari kekejamannya.

“Berkat buah ajaib pasti aku dapat menyembuhkan luka-luka dalamku, tatkala itu pasti aku bantu kau menuntut balas, ingin aku angkat kau sebagai muridku ….”

Sutouw Ci-ko tetap bungkam dan tidak bergerak, Kiu-yu-mo-lo menjadi rada gemas, katanya, “Bagaimana,” selamanya aku belum ketarik pada seseorang apa kau tidak senang dan sudi menjadi muridku?”

Melihat Sutouw Ci-ko tidak memberi reaksi, Kiu-yu-mo-lo menjadi dongkol, desisnya, “Bagaimana? selamanya aku belum pernah penujui orang, sekarang kuangkat kau menjadi muridku apa kau tidak kegirangan?”

Sutouw Ci-ko mengerling, katanya sesaat kemudian, “Kalau bukan karena adikku itu, aku tiada minat untuk hidup lagi, bila benar-benar dia telah meninggal, apa pula artinya aku hidup merana?”

“Jadi kau tidak ingin hidup?” jengek Kiu-yu-mo-lo tertawa kering, “Lima puluh tahun lamanya aku dikurung di dalam Jian-hud-tong oleh Ka-yap Cuncia, tapi aku ingin hidup, sebaliknya di alam bebas begini kau ingin mati.” Sutouw Ci-ko menunduk tak bicara lagi. Kata Kiu-yu-mo-lo lebih lanjut, “Apa betul orang itu adalah adikmu? Dari nada dan rasa prihatinmu kulihat bukan melulu antara kakak beradik saja hubungan kalian.”

Tergetar sanubari Sutouw Ci-ko, pelan-pelan ia mendongak memandang langit nan cerah membiru, ia membatin, “Apa betul? Mati hidup Hun Thian-hi kau jadikan pegangan mati hidupmu, hubungan ini memang melampaui hubungan antar kakak beradik.”

“Apa betul dia adalah adik kandungmu?” desak Kiu-yu-mo-lo dengan sinis.

“Kau tidak perlu urus soal ini, itu adalah urusanku sendiri.” senggak Sutouw Ci-ko gemas.

Kiu-yu-mo-lo terkekeh-kekeh dingin, ejeknya, “Sekarang kau pikirkan dia. juga tak berguna, dia tentu sudah mampus, jenazahnya saja kau tak mampu melihat dan menemukan lagi. Maka turutlah nasehatku, kelak aku akan bantu kau menuntut balas, kalau tidak, huh, aku kuatir jiwamu sendiripun kau tak mampu menjaganya.”

Sutouw Ci-ko tertawa tawar acuh tak acuh, diam-diam ia tengah terpekur apakah perlu ia harus menggantungkan mati hidup dirinya kepada keselamatan Hun Thian-hi.

Terdengar Kiu-yu-mo-lo mendengus dan berkata, “Mari melanjutkan perjalanan lagi!” tanpa menanti Sutouw Ci-ko membuka suara, sekali jinjing terus dikempitnya dibawa lari bagai terbang.

Tanpa terasa tiga hari telah berlalu, dengan menjinjing tubuh Sutouw Ci-ko, hari itu Kiu-yu-mo- lo sudah tiba di pesisir danau kaca terbang, keadaan Hui-king-ouw hening tentram, di pinggir danau tumbuh sebarisan pohon-pohon bunga Bwe yang rindang, di sebelah timur dan barat kedua tepi danau tampak dibangun sebuah gubuk dari anyaman daun-daun welingi.

Sampai disini baru Kiu-yu-mo-lo merasa lega dan menghela napas panjang, setelah menurunkan Sutouw Ci-ko ia berkata, “Sudah tiba di Hwi-king-ouw, dimana tempat buah ajaib, lekas bawa aku kesana!”

Dari kejauhan Sutouw Ci-ko mendelong mengawasi gubuk sebelah timur, hatinya kebat-kebit dan segan, meski sejak kecil ia dibesarkan oleh gurunya, namun betapapun ia sudah diusir dari perguruan, apakah ada muka ia menemui gurunya lagi.

“Ajo, lekas!” desak Kiu-yu-mo-lo gegetun.

Sesaat Sutouw Ci-ko menjadi sangsi, teringat olehnya kata-kata Hun Thian-hi terhadap dirinya tempo hari, tanpa merasa pelan-pelan ia menggerakkan langkahnya menuju ke arah gubuk itu.

Melihat Sutouw Ci-ko menuju ke arah gubuk itu, timbul rasa curiga Kiu-yu-mo-lo, tanyanya, “Kemana kau!”

“Gubuk itu adalah tempat tinggalku, sudah lama aku berdiam disana.” “Maksudmu kau tinggal dalam gubuk itu menjaga buah ajaib itu?” Dengan sangsi Sutouw Ci-ko manggut, kakinya melangkah terus.

Orang yang tinggal dalam gubuk sudah mendengar percakapan dan kedatangan mereka, tampak pintu terbuka keluarlah seorang perempuan pertengahan umur, begitu melihat Sutouw Ci- ko berubah air mukanya, putar tubuh terus masuk ke dalam gubuk lagi. Melihat gelagat yang ganjil ini Kiu-yu-mo-lo menyeringai dingin, tanyanya, “Siapa dia? Akal busuk apa yang tengah kau rancang?”

Sekilas tadi Sutouw Ci-ko sudah melihat gurunya Pek-bwe Siancu Tang Siau-hong, namun gurunya tak mau peduli lagi pada dirinya, saking duka air mata mengembeng di kelopak matanya, otak menjadi bebal sehingga ia tidak hiraukan pertanyaan Kiu-yu-mo-lo.

“Jangan kau main gila dengan aku,” demikian kata Kiu-yu-mo-lo, “aku tidak gampang bisa kau tipu!” — lalu sebelah tangannya mencengkeram jalan darah di pundak kiri Sutouw Ci-ko, katanya pula, “Selama ini aku tidak membuat kau menderita, ketahuilah belum pernah selama hidup aku memberi kelonggaran kepada tawananku.” — lalu ia terkekeh-kekeh begitu kelima jarinya mencengkeram semakin keras, seketika Sutouw Ci-ko rasakan seluruh badan lemas lunglai tak bertenaga lagi, tanpa kuasa ia meloso roboh di tanah.

Pintu gubuk terbuka lagi, tampak Pet-bwe Siancu dengan muka merengut membesi dingin membentak seraya menuding, “Hentikan! Siapa bernyali besar berani bertingkah di danau kaca terbang!”

Kiu-yu-mo-lo terkial-kial dingin, tangannya melepas Sutouw Ci-ko, tiba-tiba tubuhnya melejit terbang secepat kilat tahu-tahu sudah berada dihadapan Tang Siau-hong, sembari menyeringai dingin ia mendesis, “Lima puluh tahun aku tidak muncul di Kangouw, kiranya tiada seorangpun yang kenal lagi kepada aku.”

Sebenar-benarnya Tang Siau-hong tahu siapakah sebetulnya Kiu-yu-mo-lo itu, serta melihat keadaan Sutouw Ci-ko yang mengenaskan rebah di tanah, hatinya menjadi gusar, semprotnya, “Kenapa begitu kejam kau aniaja anak kecil.”

Kiu-yu-mo-lo tertawa aneh, dulu golongan hitam atau putih bila mendengar namanya saja mesti lari terbirit2 ketakutan, namun sekarang tiada seorang pun yang memberi muka kepadanya, semakin pikir semakin jengkel, pikirnya; Kalau aku tidak memberi tanda mata apa-apa, tentu kalian tidak akan ingat siapa aku ini.

Tiba-tiba secepat kilat kedua telapak tangannya berkiblat terus menghantam ke arah Tang Siau-hong.

Berdiri alis Tang Siau-hong, meski pun Sutouw Ci-ko sudah diusir dari perguruan, namun rasa kasih sayangnya terhadap gadis remaja yang diasuhnya sejak kecil masih tetap kental, sudah tentu ia tidak tinggal diam melihat orang menganiaja Sutouw Ci-ko begitu rupa, dengan murka ia pun menggerakkan kedua tangannya memukul ke arah Kiu-yu-mo-lo. Sedetik sebelum kedua pukulan lawan saling bentur, sekonyong-konyong ia merasakan firasat jelek, segesit tupai melompat enteng sekali ia jejakkan kakinya jumpalitan mundur ke belakang. Terdengar Kiu-yu- mo-lo terloroh-loroh menggila, kedua telapak tangannya ditarikan semakin cepat dan melancarkan serangan yang gencar. Untuk sesaat Tang Siau-hong yang belum sempat pernahkan diri menjadi kelabakan dan terdesak di bawah angin, sedikitpun ia tidak mampu balas menyerang.

Pada saat itulah pintu gubuk disebelah utara sana terbuka, melangkah keluar seorang kakek tua, yaitu Hwi-king Lojin adanya. melihat pertempuran yang gawat ini, segera tubuhnya mencelat terbang, ditengah udara ia bersuit panjang melengking tinggi, seenteng burung walet tubuhnya beirlari terbang melewati permukaan air danau terus menerjang ke arah Kiu-yu-mo-lo.

Melihat Hwi-king Lojin menyerang datang, bertambah murka hati Kiu-yu-mo-lo. Dia insaf bahwa dirinya terluka dalaim yang cukup parah, kalau satu lawan satu jelas ia lebih unggul dan pasti menang, namun melawan keroyokan dua orang ia menjadi mati kutu, terang tenaganya bakal terkuras habis untuk membela diri saja. Sebat sekali kakinya melangkah berputar, selicin belut selincah kera ia berloncatan mencari posisi penyerangan dari berbagai penjuru, bertempur main petak melawan kedua lawannya.

Semakin tempur diam-diam Hwi-king Lojin bertambah kejut, kecuali Bu-bing Loni belum pernah ia menemukan musuh sehebat dan setangguh seperti nenek rejot ini. Segera ia membuka suara bertanya kepada Tang Siau-hong, “Siau-moay! Siapa dia, ini?”

“Kiu-yu-mo-lo!” sahut Tang Siau-hong singkat.

Terperanjat Hwi-king Lojin serunya, “Bangkotan tua renta ini ternyata merajap keluar lagi dari liang kuburnya!”

Kiu-yu-mo-lo berteriak melengking saking gusar mendengar olok2 orang, kedua telapak tangannya bergerak seperti kupu2 lincah menari di atas kuntum bunga. Tapi kepandaian Hwi-king Lojin dan Tang Siau-hong tidaklah lemah, apalagi lwekang Hwi-king Lojin jauh lebih tinggi dari Tang Siau-hong, dengan gabungan kekuatan mereka, untuk waktu dekat mereka berhasil mendesak Kiu-yu-mo-lo di bawah angin.

Kiu-yu-mo-lo berkaok2 dengan beringas seperti kesetanan gerak-geriknya seperti serigala kelaparan yang ingin menelan bulat2 lawannya, namun sedemikian jauh ia terdesak dan tak mampu menempati posisi yang lebih menguntungkan. Sekejap saja ratusan jurus sudah berlalu, Kiu-yu-mo-lo insaf bahwa bertempur terus tidak akan menguntungkan dirinya, tiba-tiba tubuhnya mencelat mumbul, beruntun ia tepukan telapak tangannya berantai empat lima kali, waktu Hwi- king dan Tang Siau-hong menyambut pukulannya, sigap sekali tubuhnya melayang jauh terus meluncur turun disamping Sutouw Ci-ko, sekali raih ia cengkeram tengkuk Sutouw Ci-ko.

Tercekat hati Hwi-king Lojin dan Tang Siau-hong mereka menjadi keder dan kuatir atas keselamatan Sutouw Ci-ko, sesaat mereka berdiri melongo tak berani bertindak lebih lanjut.

Kiu-yu-mo-lo menyeringai iblis, desisnya, “Ketahuilah hari ini aku sedikit terluka, maka kuhentikan saja pertempuran sampai disini.”

Dengan mengalirkan air mata Sutouw Ci-ko berteriak kepada Hwi-king Lojin dan Tang Siau- hong:

“Suhu, Supek, jangan kalian hiraukan aku, bunuh saja iblis laknat ini!”

Kiu-yu-mo-lo menjadi geram, dengan jengkel tangan kanannya bergerak, beruntum ia tutuk beberapa tempat jalan darah penting ditubuh Sutouw Ci-ko. Kontan Sutouw Ci-ko mengeluh panjang terus jatuh pingsan.

Kejut dan perih perasaan Tang Siau-hong, baru saja ia hendak memburu maju, namun sorot panjangan Kiu-yu-mo-lo yang tajam bengis mengancam itu mengurungkan niatnya.

Sebetulnya ia sudah sangat benci dan tidak mau gubris lagi Sutouw Ci-ko, seumpama Sutouw Ci-ko mati ia pun takkan bersedih, dasar sifat manusia memang bijaksana dan luhur, melihat anak asuhannya sejak kecil kena siksa dan menderita ia menjadi terpukul perasaannya dan menjadi gugup akan keselamatannya.

Terdengar Kiu-yu-mo-lo mendengus ejek, “Kalau kalian ingin dia tetap hidup hanya ada satu cara untuk menolong jiwanya. Lekas serahkan Kiu-thian-cu-ko kepadaku!”

“Apa?” seru Hwi-king Lojin dan Tang Siau-hong berbareng. “Bagaimana! Tidak mau serahkan?” desak Kiu-yu-mo-lo mengancam.

Hwi-king Lojin dan Tang Siau-hong mengeluh dalam hati, namun apa daya, terpaksa mereka saling pandang saja tanpa buka suara, dalam hati masing-masing sedang berpikir cara bagaimana mencari akal untuk mengatasi situasi tegang ini.

“Jiwa bocah ini sebagai tumbal dari buah ajaib itu terserah cara bagaimana kalian hendak menyelesaikan jual-beli ini.”

Setelah merenung sesaat lamanya, Tang Siau-hong buka bicara, “Apakah yang kau maksudkan Kiu-thian-cu-ko?”

“Benar-benar!” dengus Kiu-yu-mo-lo, cahaya matanya memancar terang, “Muridmu ini membawa aku kemari, tentu kau juga tahu dimana jejak buah ajaib itu!”

Hati Tang Siau-hong menjadi rada marah dan sesalkan tindakan Sutouw Ci-ko yang ceroboh dan brutal itu, hidungnya mandah mendengus tanpa buka suara lagi.

Segera Hwi-king Lojin menalangi, setelah tertawa kering ia berkata, “Gurunya pun tidak tahu dimana buah ajaib itu berada, justru karena dia tidak mau beritahu kepada gurunya maka gurunya ini mengusirnya dari perguruan. kalau mau tanya, silakan tanya kepadanya saja!”

Mereka maklum bahwa maksud tujuan kedatangan Kiu-yu-mo-lo adalah buah ajaib itu, maka segala tanggung jawab urusan ini ditumplekkan kepada Sutouw Ci-ko, demi mencapai tujuan dan hasratnya tentu Kiu-yu-mo-lo takkan mencelakai jiwa Sutouw Ci-ko.

Dengan memicingkan mata Kiu-yu-mo-lo pandang air muka kedua musuh tua ini ganti-berganti dengan cermat, diam-diam hatinya mengumpat caci akan kelicikan akal Sutouw Ci-ko, serta merta terbayang olehnya waktu Tang Siau-hong pertama kali melihat Sutouw Ci-ko tadi sikapnya memang kurang senang dan tak mau gubris padanya. Sejenak ia berpikir, lalu berkata, “Baik!

Sementara ini aku percaya akan obrolan kalian, akan kuperas keterangannya.” — selesai berkata ia memutar tubuh hendak tinggal pergi.

“Nanti dulu!” teriak Tang Siau-hong, melihat orang hendak membawa Sutouw Ci-ko ia menjadi gugup.

“Kenapa?” tanya Kiu-yu-mo-lo sambil berpaling, “Apa kalian hendak menahan aku?” — wajahnya mengunjuk senyum sinis yang menyebalkan.

Hwi-king segera memberi aba-aba kepada Tang Siau-hong serempak mereka bergerak pencar kedua arah cepat sekali mereka mencari kedudukan menggencet Kiu-yu-mo-lo di tengah antara mereka.

Kiu-yu-mo-lo menyeringai dingin, ujarnya, “Kalian sangka aku takut, kalau kalian tidak mau lepas aku, terpaksa kita harus gugur bersama, atau kalian sudah tidak hiraukan lagi mati hidup bocah ini?”

Hwi-king rada sangsi, katanya, “Kalau kulepas kau, apakah jiwanya masih bisa hidup?” “Itu terserah kepada sikapnya selanjutnya!” jengek Kiu-yu-mo-lo dingin.

“Serbagai murid murtad aku tidak mengharapkan dia lagi,” demikian kata Tang Siau-hong tanpa emosi, “Tapi kami pun tidak bisa melepas kau membuat keonaran di kalangan Kangouw.” Berubah air muka Kiu-yu-mo-lo, kalau Tang Siau-hong berdua tidak mementingkan jiwa Sutouw Ci-ko dirinya betul-betul bisa konyol di tempat ini.

Dengan tertawa dingin segera ia berkata, “Kau sangka aku takut kepada kamu berdua?” di mulut ia bicara garang, hakikatnya hatinya sangat membenci Sutouw Ci-ko, diam-diam ia menerawang mencari akal cara bagaimana harus meloloskan diri, kalau Sutouw Ci-ko tidak tahu tempat dimana beradanya buah ajaib itu, sungguh ingin rasanya ia bunuh bocah kurang ajar ini.

Mulut Tang Siau-hong memang mengancam dengan angkernya, namun iapun ragu-ragu untuk bertindak Jikalau Sutouw Ci-ko tidak berteriak supaya mereka tidak hiraukan jiwanya lagi, mungkin sekarang ia sudah bertindak demi kepentingan kaum persilatan umumnya, namun situasi sekarang sudah membuatnya serba sulit.

Melihat kedua lawannya tidak bergerak, diam-diam timbul rasa curiganya, pikirnya, “Bukankah kalian juga tidak tega melihat kematian Sitouw Ci-ko? Sama saja mereka pun ingin mendapatkan buah ajaib itu!”

Sejak mula Kiu-yu-mo-lo hanya memikirkan kepentingan pribadinya untuk memperoleh buah ajaib itu, mimpipun ia tidak mengira bahwa sejak permulaan ia sudah masuk perangkap Sutouw Ci-ko.

Sekonyong-konyong timbul sebuah pikiran dalam benaknya; Sekarang aku sedang kepepet, kalau mereka ngotot menahan aku, aku pun tak mampu meloloskan diri, sepucuk buah ajaib itu berbuah enam butir, hanya perlu sebutir saja aku sudah cukup, lebih baik kuajak mereka kompromi saja. Sutouw Ci-ko berada di tanganku, masa mereka tidak mau terima saran baikku ini.

Tengah ia berpikir2, tiba-tiba tampak sesosok bayangan orang melambung tiba, begitu menginjak tanah baru terlihat tegas, itulah seorang laki-laki tua bermuka putih tanpa jenggot, begitu melihat kedatangan orang ini bermula Kiu-yu-mo-lo sangat kejut dan heran, namun dalam kilas lain hatinya menjadi kegirangan. Karena orang tua ini bukan lain adalah Pek-kut-sin-mo Pek Si-kiat yang juga telah menghilang selama lima puluh tahun itu, entah cara bagaimana pula ia berhasil lolos dari belenggu.

“Samte!” teriak Kiu-yu-mo-lo kegirangan, “Kau pun datang kesini! Lekas bantu aku.”

Bukan kepalang kejut Hwi-king Lojin dan Tang Siau-hong, Pek-kut-sin-mo juga meluruk datang.

Si-gwa-sam-mo malang melintang dan sudah menghilang sejak lima puluh tahun yang lalu dari dunia persilatan, sungguh tak duga hari ini bakal muncul dua diantara tiga, ini benar-benar sangat mengejutkan dan menakutkan.

Kedatangan Pek-kut-sin-mo seketika lebih menyempitkan kedudukan mereka berdua, mungkin untuk mati pun tidak akan bisa dengan jasad tetap utuh. Meski ajal betapa pun harus turun tangan lebih dulu, serempak mereka membentak bersama terus menyerang ke arah Kiu-yu-mo-lo.

Kiu-yu-mo-lo terkekeh-kekeh. Mendapat bantuan Pek-kut-sin-mo umpama musuh ditamboh dua lagi iapun tak perlu takut, pelan-pelan ia letakkan Sutouw Ci-ko di atas tanah, gesit sekali ia menggerakkan kedua kepelannya menyambut serbuan musuh….

Sedikit bergerak tubuh Pek-kut-sin-mo melesat masuk ke dalam kalangan pertempuran, dimana kedua kepelannya bergerak seketika segulung uap putih dari kekuatan angin pukulannya menyampok mundur Hwi-king dan Tang Siau-hong. Serasa arwah sudah keluar badan kejut Hwi-king Lojin dan Tang Siau-hong, insaf mereka bahwa diri sendiri bukan lawan musuh, sebat sekali mereka melompat mundur rada jauh, namun begitu mereka segan untuk melarikan diri.

Kiu-yu-mo-lo terloroh-loroh kering, katanya kepada Pek-kut-sin-mo, “Samte! Pek-kut-sin- kangmu jauh lebih maju dari lima puluh tahun yang lalu!”

Kedengaran oleh Pek-kut-sin-mo akan pujian orang yang mengandung rasa kekecutan hatinya maksud tujuannya kemari bukan melulu untuk itu, segera ia buka bicara, “Ji-ci! Apakah bocah ini bernama Sutouw Ci-ko?”

Berubah serius air muka Kiu-yu-mo-lo, sekilas ia menyapu ke arah Hwi-king berdua lalu menjawab, “Benar-benar! Dia tahu dimana buah ajaib berada, kalau ketemu boleh kami bagi dua sama rata dengan kau.”

“Ji-ci terluka di dalam bukan?” tanya Pek Si-kiat dingin Kiu-yu-mo-lo tersenyum ewa.

Melihat Kiu-yu-mo-lo dan Pek-kut-sin-mo main debat sendiri sudah tentu Hwi-king Lojin dan Tang Siau-hong menjadi senggang dan tidak mau tinggal pergi saja, betapa pun Sitouw Ci-ko harus ditolong.

Sebagai kawan lama sudah tentu Pek Si-kiat tahu tabiat dan karakter Kiu-yu-mo-lo, dengan mendengus ia berkata, “Kalau tidak aku tidak mau turut campur pertikaian kalian”

Dengan sendirinya Kiu-yu-mo-lo juga tahu bahwa Pek-kut-sin-mo selamanya berlaku kejam dan telengas terhadap orang luar, diantara mereka bertiga hanya dia yang berhati jujur dan lapang dada, entahlah kenapa hari ini sikapnya begitu, akhirnya ia membuka suara, “Samte! Apa hendak kau kangkangi sendiri?”

Pek-kut-sin-mo bergelak tawa, serunya, “Ketahuilah Sutouw Ci-ko tidak tahu menahu tentang buah ajaib itu. yang terang aku mendapat perintah dari Ka-yap Cuncia kemari, untuk menolong Sutouw Ci-ko juga untuk minta kembali Hian-thian-pit-kip.”

Laksana geledek mengguntur dipinggir telinganya Kiu-yu-mo-lo melonjak kaget, tiba-tiba ia melengking tinggi seraya melemparkan tubuh Sutouw Ci-ko ke tengah udara begitu keras lemparannya sampai badan Sutouw Ci-ko melambung tinggi dan jauh, berbareng ia sendiri lantas melenting jauh melarikan diri.

Kuatir diketahui oleh Pek-kut-sin-mo maka waktu melontarkan tubuh Sutouw Ci-ko ia tidak berani membuat cedera ditubuhnya.

Keruan bukan kepalang gusar Pek Si-kiat. Ia insaf bahwa Hwi-king dan Tang Siau-hong tidak akan mampu menolong Sutouw Ci-ko. terpaksa ia melejit tinggi menolong jiwa Sutouw Ci-ko.

Mendengar Pek-kut-sin-mo diutus oleh Ka-yap Cuncia, Hwi-king dan Tang Siau-hong menjadi girang, serempak mereka bergerak bersama Tang Siau-hong memburu ke arah Sutouw Ci-ko sedang Hwi-king Lojin mengejar dan merintangi jalan mundur Kiu-yu-mo-lo.

Dilain pihak Kiu-yu-mo-lo tahu bahwa dirinya bukan tandingan Pek-kut-sin-mo, maka begitu melejit jauh terus lari sipat kuping, waktu Hwi-king Lojin mengejar tiba di belakang dan menyerang dengan sebuah pukulan tangan. ia mandah saja kena hantaman sampai muntah darah, mulutnya berteriak kesakitan, suaranya serak dan panjang sampai bergema dialam pegunungan, namun kakinya bergerak lebih cepat lagi, sebentar saja ia sudah menghilang.

Waktu Pek-kut-sin-mo berhasil menolong Sutouw Ci-ko, sementara Kiu-yu-mo-lo pun sudah lari jauh, dengan gegetun ia membanting kaki, sungguh ia sangat menyesal terburu nafsu membuka mulut. Tapi nasi sudah menjadi bubur, menyesal pun sudah kasep.

Dengan mendelong Tang Siau-hong mengawasi Sutouw Ci-ko ditangan Pek-kut-sin-mo, ia tidak berani maju memapah. Setelah berkeluh kesah sendiri baru Pek Si-kiat teringat akan Sutouw Ci-ko yang dipondongnya itu, cepat-cepat ia membebaskan tutukan jalan darah Sutouw Ci-ko.

Pelan-pelan Sutouw Ci-ko membuka mata, setelah celingukan kekanan kiri, tiba-tiba merangkak bangun terus berlutut dihadapan Tang Siau-hong, serunya sesenggukan, “Suhu!”

“Siapa Suhumu?” jawab Tang Siau-hong ketus.

Tangis Sutouw Ci-ko semakin jadi, terdengar Pek Si-kiat bertanya, “Apa yang telah terjadi, coba tuturkan kepada aku!”

Kesannya sangat baik terhadap Hun Thian-hi, melihat keadaan Sutouw Ci-ko yang bersedih ini tak tertahan lagi lantas mengajukan pertanyaan. Sutouw Ci-ko angkat kepala, dia tahu bahwa orang tua irnilah yang tadi membebaskan tutukan jalan darahnya, melihat sikap kaku dan kukuh Tang Siau-hong terpaksa ia menjawab pertanyaan Pek Si-kiat, “Te-rima kasih pada Cianpwe telah menolong jiwaku.”

Pek Si-kiat menyengir dengan girang, seolah-olah baru pertama kali inilah selama hidup ia pernah berbuat kebaikan, sekarang baru pertama pula ada orang menyatakan terima kasih kepadanya. Setelah mengawasi Hwi-king Lojin dan Tang Siau-hong lalu ia berkata tertawa, “Bocah ini baik dan cantik rupawan lagi, untuk urusan apa kalian tidak mau kenal dia lagi?”

Tahu bahwa Pek-kut-sin-mo diutus oleh Ka-yap, Tang Siau-hong mengira bahwa Pek-kut-sin- mo tentu sudah kembali kejalan lurus, terpaksa ia membungkuk serta menyahut, “Cianpwe tidak tahu, sekarang ia sudah menyeleweng….”

Pek Si-kiat merengut dan rada gusar, katanya, “Mungkinkah Ka-yap Taysu menyusuh aku menolong seorang jahat? Jika kau tidak mau, biar dia ikut aku saja!”

Segera Sutouw Ci-ko menyembah lagi kepada Tang Siau-hong. selanya, “Suhu tidak sudi aku kembali, sebetulnya aku belum pernah melakukan kejahatan apa, di dunia ini aku sudah sebatangkara, aku tidak ingin hidup lebih lama lagi, mohon Subu suka mengakui aku sebagai murid sebelum ajal ini.” — Sampai kata-kata terakhir suaranya hampir lenyap oleh sengguk tangis dan air mata yang membanjir sedih.

“Apa,” teriak Pek Si-kiat keras, “Hun Thian-hi mohon Ka-yap Cuncia supaya aku menolong kau, kenapa kau ingin mati pula?”

“Apa?” Sutouw Ci-ko juga berjingkrak kegirangan, “Apa benar-benar dia?”

Hwi-king Lojin dan Tang Siau-hong beradu pandang, dalam hati mereka berpikir, “Bagaimana bisa terlibat pula dengan Hun Thian-hi!”

“Benar-benar,” jawab Pek Si-kiat, “Dia selamat dan ikut bersama Ka-yap Cuncia diangkat sebagai murid angkat, diberi pelajaran Pan-yok-hian-kang dan Wi-thian-cit-ciat-sek, mungkin dalam satu setengah tahun ini kau tidak bisa bertemu dengan dia.” Saking kegirangan suara, Sutouw Ci-ko sampai gemetar, katanya tersekat, “Aku….aku mengira dia

tentu sudah mati!” — Sekarang dia menangis karena kegirangan.

Mendengar semua kejadian ini melulu karena tujuan dan kemauan Ka-yap Cuncia. Apalagi Hun Thian-hi yang berjuluk Leng-bin-nio-sin itu juga telah diangkat menjadi muridnya. Ka-yap adalah tokoh teragung nomor satu pada ratusan tahun yang lalu, sungguh tak nyana beliau masih hidup, setiap ucapannya lebih mempertebal kepercayaan dirinya sendiri, hanya kejadian ini benar-benar diluar dugaan.

Sesaat melongo akhirnya Tang Siau-hong bertanya, “Cara bagaimana kau berkenalan dengan Hun Thian-hi?”

Dengan mengembeng air mata, Sutouw Ci-ko menjawab sambil tersenyum senang, “Dia terhitung adik angkatku!”

Dengan tajam Tang Siau-hong menatap Sutouw Ci-ko, dalam hati membatin, “Melihat gelagatnya

bukan melulu hubungan antar kakak beradik …. tapi masih ada Bun Cu-giok lagi, ai, memang sudah ditakdirkan kiranya!”

Terdengar Sutouw Ci-ko berkata lagi, “Bermula dia berangkat kemari bersama aku, dia mendapat tugas dari majikan Ngo-hong-lau untuk menemui Hwi-king Supek!”

“Kakak misanku?” seru Hwi-king Lojin terkejut, “Dimana beliau sekarang?”

Sutouw Ci-ko beragu sebentar, lalu menjawab, “Beliau tidak suka orang lain tahu alamatnya. Beliau memberi sebatang Hwi-hong-siau kepada Thian-hi, tapi waktu sampai di Giok-bun-koan kami bentrok dengan seorang tuan yang bernama Situa Pelita, dia melarang kami kemari!”

Hwi-king Lojin tidak tanya lebih lanjut, dengan rawan ia menghela napas.

Dengan tertawa berseri Pek Si-kiat pandang Sutouw Ci-ko sungguh girang dan berterima kasih pula Sutouw Ci-ko, katanya, “Dapatkah aku mengetahui nama Cianpwe yang mulia!”

“Akulah Pek-kut-sin-mo!” jawab Pek Si-kiat sambil tertawa lebar.

Sutouw Ci-ko melengak kaget, rada lama kemudian baru berkata, “jangan kau gertak orang, aku tidak takut.”

Pek Si-kiat terbahak-bahak, serunya, “Hampir saja Hun Thian-hi mampus ditanganku, sungguh kamu berdua bernasib mujur, terjeblos ke dalam Sip-kut-tam tidak mati, kalau orang lain, sudah mati konyol tanpa bekas lagi.”

Sutouw Ci-ko menenangkan hatinya lalu bertanya, “Sekarang dimanakah Hun Thian-hi?” “Aku juga tidak tahu, cuma hari ini kiu-yu-mo-lo berhasil lolos membawa serta Hian-thian-pit-

kip, kelak tentu menimbulkan banyak bencana, Ka-yap Taysu menugaskan banyak urusan yang perlu kulaksanakan. Aku betul-betul ketarik kepada kau, lain waktu aku pasti datang menjenguk kau kemari.” Sutouw Ci-ko berjingkrak kegirangan, tanyanya, “Kapan kau akan datang?”

“Tidak perlu kuatir untuk menemukan kau? Kau tak usah gelisah!” — demikian kata Pek Si-kiat seraya melambaikan tangan terus berlari pergi dengan cepat.

Pelan-pelan Sutouw Ci-ko membalik badan, dengan penuh rasa kasih sayang Tang Siau-hong mengelus rambutnya serta berkata, “Nak, mungkin aku terlalu terburu nafsu salahkan kau.”

Sutouw Ci-ko menubruk ke dalam pelukan Tang Siau-hong dan menangis gerung-gerung.

“E, eh, kenapa ni? Kukira kau bukan bocah lagi, lima tahun sudah, masa sikapmu masih aleman seperti kanak-kanak” demikian goda Tang Siau-hong.

Sutouw Ci-ko angkat kepala seraya membasut air matanya, pelan mereka menggeser menuju ke dalam gubug sambil berpelukan, saat itu sinar matahari sudah tergantung tinggi ditengah cakrawala.

Waktu mereka memandang sekelilingnya, ternyata Hwi-king Lojin sudah tinggal pergi diam- diam, Tang Siau-hong berdua menjadi geli dan saling pandang.

Ooo)*(ooO

Waktu sinar cahaya sang surja mulai menongol keluar dari peraduannya menyorot sebuah tebing tinggi ratusan tombak, cuaca masih terlalu pagi, tebing itu terlalu tinggi dan lurus lempang, seperti dipapas dengan kapak atau senjata tajam lainnya.

Dibawa tebing sebelah sana pelan-pelan mendatangi seorang pemuda cakap ganteng, pendatang ini bukan lain adalah Hun Thian-hi, setelah sampai di bawah tebing ia mendongak meneliti tebing tinggi ini. Jikalau dapat melampaui tebing tinggi maka di dalam sana adalah sebuah negara kuno yang terasing dari dunia luar di daerah selatan ini yaitu Thian-bi-kok seperti yang dikatakan oleh Ka-yap Cuncia itu.

Menurut pesan Ka-yap Cuncia ia harus memanjat tebing tinggi ini dan menyelundup masuk kenegeri kuno bernama Thian-bi-kok ini.

Setelah meneliti sekian lamanya diam-diam Thian-hi mengerut alis, tebing setinggi ratusan tombak begini cara bagaimana bisa masuk kesana, entah cara bagaimana orang yang menemukan negara kecil itu bisa masuk kesana.

Pelan ia berjalan menyusuri kaki tebing mencari jalan. Tiba-tiba dilihatnya disebuah lekukkan diujung tebing sana ada sebaris retakan batu, garis retak ini sudah penuh ditumbuhi lumut sangat licin susah untuk tempat berpegang atau berpijak, boleh dikata sulit sekali untuk dapat memanjat ke atas.

Sekian lama ia berpikir mencari akal, akhirnya dilolos keluar seruling dipinggangnya, diam-diam ia kerahkan tenaga murni sekali tusuk ternyata mudah sekali serulingnya amblas ke dalam batu tebing. keruan girangnya bukan kepalang, lekas ia keluarkan pula kutungan serulingnya sendiri, tusuk demi tusuk bergantian dengan gegamannya ia mulai merambat ke atas. Entah berapa lama kemudian dengan susah payah akhirnya ia berhasil mencapai puncak tebing juga, namun terasa kaki linu pinggang pegal, telapak tangan pun lecet. Dengan menghela napas lega ia berpaling memandang kebawah, tebing sedemikian tinggi, setapak demi setapak ia berhasil manjat ke atas, hampir ia tidak percaya akan kenyataan ini. Setelah beristirahat seperlunya pelan-pelan ia mulai beranjak masuk ke dalam sebuah lembah, di dalam lembah tumbuh hutan lebat, tiada kelihatan jejak manusia seorangpun.

Dengan hati-hati Thian-hi menyusuri hutan lebat ini terus maju ke depan. entah berapa lama kemudian, akhirnya pohon-pohon mulai jarang tibalah ia diujung hutan, lapat-lapat dikejauhan sana kelihatan perumahan orang, ladang sawah nan subur, lebih jauh di depan sana samar-samar kelihatan bentuk sebuah kota.