Badik Buntung Bab 12

 
Bab 12

Thian-hi dan Sutouw Ci-ko bersama mengeprak kuda menerjang maju. Kim-i-kiam-khek dan lain-lain lekas-lekas menyingkir kesamping memberi jalan. Dengan menyeringai dingin Hun Thian- hi berdua menerobos lewat dari rombongan mereka terus membedal ke arah timur.

Memandang punggung Thian-hi berdua, Kim-i-kiam-khek menjengek dingin, “Mereka menuju ke timur hanya mengantar kematian belaka. Tak perlu kita banyak capek lagi.” Kira-kira satu hari sudah lewat, Thian-hi terus menuju ketimur, kini mereka sudah memasuki daerah Tunyiong. Tiba-tiba tampak dua penunggang kuda mencoklang mendatangi dengan cepat. Dengan ketajaman mata Thian-hi. dari jauh ia sudah melihat jelas kedua orang ini mengenakan seragam putih. jelas adalah anak buah Partai Putih.

Setelah dekat begitu melihat Thian-hi berdua, kedua orarg itu lantas menghentikan kudanya setelah saling pandang lantas maju bertanya kepada Hun Thian-hi, “Tuan ini apakah Hun Thian-hi Hun-tayhiap adanya?”

“Benar-benar!” sahut Thian-hi lantang. Ia tahu bahwa rombongan kaum persilatan Tionggoan yang mengejar sudah tiba.

“Pangcu kami ingin bertemu dengan kau,” demikian salah seorang itu berkata, “Beliau memberi perintah bila bertemu dengan Hun-tayhiap, supaya mengatakan sebagai pendekar yang menggetarkan Bulim, bila tidak takut supaya tak usah lari lagi, sebentar beliau bakal sampai.’

Thian-hi mandah tersenyum simpul, ujarnya, “Bun-pangcu akan tiba? Memang kami hendak menuju ke Tionggoan kalian boleh pulang dulu, laporkan pada Bun-pangcu bahwa kami segera datang!”

Kedua orang merasa diluar dugaan, sekilas mereka pandang Hun Thian-hi dengan pandangan ragu dan bimbang, seolah-olah mereka curiga bahwa orang yang dihadapi ini bukan Hun Thian-hi. Melihat sikap mereka Hun Thiar-hi tersenyum geli. serunya, “Tidak akan salah, akulah Hun Thian- hi adanya!” Bersama kedua orang itu merangkap tangan menjura lalu lari balik.

Hun Thian-hi pandang Sutouw Ci-ko. mereka larikan kudanya pelan-pelan, ia insaf bahwa pertempuran mati hidup yang bakal menimbulkan banjir darah segera akan terjadi. mereka maklum lawan terlalu berat betapapun diri sendiri bukan tardingan mereka.

Kira-kira setengah jam kemudian, tampak dikejauhan sana debu mengepul tinggi terbawa angin, serombongan orag berkuda tengah mendatangi dengan cepat,

Berkilat biji mata Hun Thian-hi, betapapun ia tidak bisa menghilangkan rasa sesal dan terima kasihnya kepada Sutouw Ci-ko. Pelan-pelan ia menunduk. diam-diam ia berdoa kepada Thian yang maha kuasa supaya menolong jiwa Sutouw Ci-ko.

Tak lama kemudian derap kaki kuda semakin riuh mendatangi, debu membumbung memenuhi angkasa…. Waktu Hun Thian-hi angkat kepala, puluhan muka yang sangat dikenalnya sudah berjajar dihadapannya.

Terutama Bun Cu-giok yang paling dikenalnya, disampingnya bercokol seorang padri tua.

Mata padri tua ini meram melek memancarkan sorot berkilau, wajahnya halus welas asih namun mengandung wibawa. Kelihatan Ci-hay berada dibelakangnya. Selayang pandang lantas Hun Thian-hi tahu bahwa padri tua yang dihadapi ini pasti adalah Siau-lim Ciangbunjin Te-ciat Taysu.

Te-ciat Taysu meng-amat-amati Hun Thian-hi sebentar, lalu berkata, “Pihak Siau-lim-pay kita selamanya tidak ikut mengurus pertikaian Bulim, tapi kali ini terpaksa sebagai Siau-lim-pay Ciangbunjin aku harus turun gunung sendiri, mengundang dan mengumpulkan para kawan pendekar untuk menghalau kamu.”

“Cayhe juga insaf melulu perdebatan mulut tidak akan dapat membereskan pertikaian,” demikian ujar Hun Thian-hi tersenyum, “Sungguh aku sangat menyesal. hanya karena perkara yang tiada juntrungnya ini sampai membikin susah para pendekar. Apalagi tokoh agung sebagai Taysu ternyata pun ikut dipermainkan tanpa sadar, sungguh aku merasa penasaran dan malu.”

Sebagai pejabat tertua dari Siau-lim-pay yang diagungkan di kalangan Bulim, sebagai partai terbesar, Te-ciat Taysu mana sudi dicercah begitu hina, lambat-lambat ia berkata, “Sebetulnya aku sendiri tidak perlu datang. Tapi malam itu Sicu bertandang ke Siau-lim-si sayang Suheng melepasmu pergi, apalagi sepak terjangmu setelah turun gunung begitu buruk dan bikin keonaran di Kangouw. Sebagai Ciangbunjjn Siau-lim-pay, aku pantang membiarkan nama baik Siau-lim-pay hancur lebur karena perbuatanmu. Alasan pembelaanmu. Suheng sudah beritahu kepada aku.

Beliau pun merasa sayang, dengan bakat dan kepintaranmu ternyata nyeleweng kedialan sesat. Sekarang kau harus segera bunuh diri, atau harus menerima hukum keadilan Bulim.”

Thian-hi bergelak tawa, serunya lantang, “Hun Thian-hi masih punya banyak urusan yang belum selesai dikerjakan, mana boleh bunuh diri. Taysu membawa begini banyak tokoh-tokoh silat Bulim kemari, aku lebih suka menantang berkelahi dengan kalian.”

Ci-hay segera tampil ke depan Te-ciat Taysu, katanya merangkap tangan, “Tit-ji suka menempur Hun Thian-hi seorang diri, bila kewalahan harap diganti orang lain!”

Te-ciat Taysu sedikit mengangguk. Ci-hay segera maju ke depan Thian-hi, katanya, “Harap Sicu memberi petunjuk.”

“Ci-hay suhu, tempo hari kami pernah bersua, sebagai murid Lam-siau aku menggunakan seruling sebagai senjata, harap Ci-hay suhu suka memberi pelajaran.”

Ci-hay menunduk hidmat, sahutnya, “Siauceng menggunakan Cap-pwe-lo-han-ciang untuk menghadapi Thian-liong-chit-sek!”

Thian-hi tertawa lebar, pelan-pelan ia keluarkan serulingnya, tanpa banyak bicara lagi ia mulai menyerang kepada Ci-hay. Gesit sekali Ci-hay berkelit, berbareng sebelah tangannya bergerak miring seperti golok membacok ke arah Hun Thian-hi, tenaganya begitu besar membawa deru angin yang Keras, terang Lwekangnya tidak lemah.

Hun Thian-hi membekal seruling menempur lawannya yang bertangan kosong, sudah tentu ia tidak mau direndahkan. demi gengsi maka ia bergerak selincah mungkin untuk secepatnya dapat merobohkan lawan. Begitulah dengan gaya Sinyiong-wijiong tubuhnya melambung tinggi, Serulingnya menukik turun dengan jurus serangan Hun-liong-pian-yu mengetok kebatok kepala Ci- hay.

Ci-ay adalah salah seorang angkatan muda Siau-lim-pay yang paling dibanggakan kepandaiannya. Melihat serangan dahsyat Hun Thian-hi, hatinya rada bercekat, ia tidak berani menyambut secara kekerasan. tangkas sekali ia menjejakkan kaki melejit mundur menghindar.

Namun Hun Thian-hi sudah kebajut mengembangkan permainan Thian-liong-cit-sek untuk mengekang jalan mundur Ci-hay, dalam tiga puluh jurus musuh dibuatnya kelabakan seperti burung dalam sangkar, dalam suatu ketika dengan ringan sekali seruling Thian-hi dapat menutuk bolong lengan baju Ci-hay, kemenangan sejurus ini cukup membuat Thian-hi unggul segera ia lompat mundur.

Demikian juga Ci-hay segera merangkap tangan bersabda Budha lantas mengundurkan diri.

Dengan seksama Te-ciat Taysu pandangan Hun Thian-hi. hatinya dirundung rasa heran mengapa orang macam Hun Thian-hi bisa tersesat begitu dalam, benar-benar merupakan suatu kerugian bagi kaum persilatan khususnya. Melihat orang pandang dirinya begitu rupa, lambat-lambat Hun Thian-hi berkata, “Taysu!

Persoalan hari ini merupakan tanggung jawabku seorang. Betapa, pun jangan sampai merembet Ci-ko cici.”

Sambil memicingkan mata Te-ciat pandang Sutouw Ci-ko. Su Touw Ci-ko mendengus, ancamnya, “Bila kalian mau bunuh dia, terlebih dulu harus bunuh aku!”

Disebelah sana terdengar Bun Cu-giok terkekeh hina, maju beberapa langkah ia berkata kepada Te-ciat Taysu, “Taysu, urusan ini merupakan persoalan pihak Bu-tong kami, biar aku Bun Cu-giok yang bereskan Hun Thian-hi.”

Sutouw Ci-ko menggerung gusar tanpa buka suara. Terdengar Te-ciat Taysu tertawa, “Bun- pangcu adalah murid tunggal Ce-hun Totiang, sudah tentu aku berlega hati. Bukan saja Hun Thian-hi murid Lam-siau Kongsun Hong, diapun memperoleh pelajaran dari Ang-hwat-lo-mo, sekali2 Bun-pangcu jangan pandang ringan padanya. Jurus Pencacat langit pelenyap bumi itu harus hati-hati kau hadapi!”

Bun Cu-giok mengiakan sambil memutar badan, cambuk perak dan pedang mas dikeluarkan bersama, Sutouw Ci-ko segera tampil di depan Thian-hi, katanya, “Biar aku yang layani dia.” — Sembari bicara ia melolos pedangnya.

Berubah air muka Bun Cu-giok, desisnya dingin, “Bukan kau yang ingin kugasak!”

“Tapi akulah yang hendak menggasak kau!” kata, Sutouw Ci-ko dengan geram, “Lama tahun sudah kau sebagai pejabat Pangcu, ingin aku melihat sampai dimana kemajuan silatmu!”

“Tar!” Bun Cu-giok mengayun cambuknya, serunya, “Siapa sudi menyinggung masa lalu!” “Bun-pangcu sudah lama kenal dia?” tanya Te-ciat Taysu.

“Dia murid Thian-san Lolo yang telah dibuang, Giok-bin-hwi-hou Sutouw Ci-ko adanya. Dulu memang aku akrab dengan gurunya.”

“Ya, dan kau adalah murid kesayangan Ce-hun Totiang,” jengek Sutouw Ci-ko. “Belum lama berselang kau dan Thian-hi adalah kenalan kental, sekarang menjadi musuh besar malah, apakah yang menjadi sebabnya, kukira kau paham sekali!”

Bun Cu-giok berteriak gusar, pedang masnya terayun terus menyerang dengan sengit kepada Sutouw Ci-ko. Dalam gebrak permulaan masing-masing pihak memang sama keluarkan kepandaian simpanan yang hebat, tapi meski kepandaian Bun Cu-giok cukup tinggi, namun Sutouw Ci-ko menang dalam gerak kelincahan tubuhnya, ilmu pedangnya pun cukup tangkas dan gesit. untuk waktu dekat walaupun bersenjata dua gaman. Bun Cu-giok tidak kuasa mengurung musuhnya.

Lima puluh jurus kemudian Bun Cu-giok kembangkan Eng-hong-cap-pwe-ciang dikombinasikan dalam permainan pedangnya. Tubuhnya mendadak bergerak semakin cepat. Sudah tentu Sutouw Ci-ko mengenal permainan jurus Eng-hong-cap-pwe-ciang lawan, diam-diam iapun bercekat hatinya karena gugup ia menjadi terdesak di bawah angin.

Hun Thian-hi sendiri pernah juga menyaksikan permainan Eng-hong-cap-pwe-ciang, namun dalam kombinasi permainan pedang yang lihay ini sungguh membuatnya lebih takjub. Melihat Sutouw Ci-ko semakin terdesak, kelemahannya menjadi semakin kentara, tanpa banyak pikir lagi Thian-hi segera menerjang maju seraya membentak, cukup satu jurus serangan serulingnya lantas mendesak mundur Bun Cu-giok, katanya kepada Sutouw Ci-ko, “Serahkan padaku!”

Hitam legam muka Bun Cu-giok, dengan menggeram seperti harimau kelaparan, ia mengumbar panas hatinya, “Ingin hari ini mencoba betapa besar perbawa jurus Pencacat langit pelenyap bumi yang paling kau banggakan itu!”

Hun Thian-hi menyapu pandang seluruh hadirin, lalu berkata tawar, “Bun-pangcu sudi memberi petunjuk, Hun Thian-hi akan melayani dengan senang hati.” — ia tahu musuh kuat mengepung sekitar gelanggang, kalau keadaan berlarut begini terus, mungkin Sutouw Ci-ko menjadi sulit menyelamatkan diri. Kalau aku gunakan pencacat langit pelenyap bumi, pasti situa Pelita akan muncul pula disini, mungkin beliau dapat menyelamatkan jiwanya.

Tapi walaupun Bun Cu-giok dan Sutouw Ci-ko sudah putus percintaan, perjodohannya dengan Ciok Yan sudah terang jadi, betapapun Ciok Yan pernah jumpa beberapa kali dengan dirinya, dia seorang baik, apakah aku harus menurunkan tangan kejam kepada Bun Cu-giok? Tengah ia bimbang dan ragu inilah Bun Cu-giok sudah menggerakkan cambuk dan pedangnya menyerang kepada Hun Thian-hi.

Dengan bergaman Seruling yang memang mencocoki seleranya Hun Thian-hi kembangkan Thian-liong-chit-sek menghadapi rangsakan Bun Cu-giok yang gencar dengan Eng-hong-cap-pwe- ciang yang hebat. cambuk peraknya melontar2 seperti sapu jagat, demikian juga pedangnya laksana kilat menyamber, permainan kombinasi yang serasi ini sungguh membuat Hun Thian-hi terdesak kewalahan.

Terdengar Bun Cu-giok menggertak sekali, kedua senjatanya dibaling2kan semakin cepat, bergantian menyerang dengan berbagai serangan yang cukup ganas, dalam keadaan terdesak keripuhan ini Thian-hi tak mampu lagi melawan dengan Thian-liong-chit-sek, terpaksa ia kembangkan Tam-lian-hun-in-hap jurus terakhir dari Gin-ho-sam-sek yang punya daya tahan dan serang yang ampuh. Sekarang Thian-hi dapat bertahan lebih mantap.

Te-ciat Taysu mengenal itulah permainan jurus-jurus dalam ilmu Gin-ho-sam-sek, tanpa merasa ia mengerut kening dan berpikir; kepandaian silat yang diperoleh Thian-hi semua adalah jurus- jurus ilmu tangguh yang tiada taranya di dunia, sekarang Lwekangnya masih terlalu rendah, kalau berlatih dengan tekun dalam jangka waktu tertentu, kelak tiada seorangpun dalam Bulim ini yang mampu menundukkan dia.

Serangan Bun Cu-giok semakin membadai, namun perbawa Gin-ho-sam-sek memang bukan olah-olah hebatnya, cukup hanya menggunakan dua jurus saja Soat-san-su-gou dapat mengurung Bu Bing Loni yang tiada tandingannya itu selama satu hari satu malam, maka dapatlah dibayangkan kekuatannya.

Lama sekali Te-ciat Taysu tunduk menepekur, ia tahu bahwa Bun Cu-giok takkan mampu mengambil kemenangan, ia berpaling ke arah Ci-hay, niatnya menyuruh Ci-hay maju mengerubut, tapi dalam pertempuran tadi ia dapat melihat Ci-hay menaruh simpatik kepada Hun Thian-hi, sesaat ia menjadi sukar mendapat keputusan.

Untung saat itu Bu-tong Sam-lo-chit-cu tampil bersama kehadapan Te-ciat, katanya bersama, “Kami beramai ingin maju bantu meringkus Hun Thian-hi!”

Te-ciat manggut-manggut, menjadi sangat kebetulan malah, demikian ia berpikir, urusan ini memang menyangkut pihak Bu-tong-pay, adalah jamak kalian sendiri yang menyelesaikan. Pucat muka Sutouw Ci-ko, cepat ia melolos pedang maju menghadang, namun mengandal kepandaiannya, cukup beberapa jurus saja Sam-lo-chit-cu berhasil mendesaknya mundur. Segera Sam-lo-chit-cu berpencar mengurung, serempak sepuluh pedang mereka bergerak menggunakan Cap-ciat-tin mengurung Thian-hi berdua. Taburan sinar pedang berkembang melebar selulup timbul ditengah gelanggang.

Semakin tempur Bun Cu-giok menyerang semakin gencar. Hun Thian-hi berdua melawan keroyokan sebelas lawan, andaikata kepandaian setinggi langit juga bakal kewalahan. Thian-hi sudah kerahkan setaker tenaganya, namun terasa kilatan angin pedang begitu tajam menyamber2, setiap kilasan pedang musuh hanya terpaut setengah inci dari badannya, sementara pedang dan cambuk Bun Cu-giok juga terasa semakin menekan berat.

Sekonyong-konyong Sutouw Ci-ko berteriak kejut, tahu-tahu pedang di tangannya tergentak lepas dari tangannya, sejalur sinar pedang berkelebat kontan lengannya kanan tergores luka berdarah.

Thian-hi menggerung murka, serulingnya melengking tinggi melancarkan Pencacat langit pelenyap bumi, keruan Sam-lo-chit-cu dan Bun Cu-giok terkejut dan ketakutan, serempak mereka angkat pedang menangkis.

Te-ciat juga terkejut, cepat ia meraih sebilah pedang dari salah seorang muridnya terus melesat terbang mengembangkan It-ti-to-kang, Ginkang tertinggi dari kepandaian tunggal Siau-lim-pay, bersamaan dengan itu pedangnya pun menyapu maju dengan kekuatan dahsyat, sinar gemerdep berkembang menungkrup ke arah Hun Thian-hi.

Begitu senjata kedua belah pihak saling bentur, kontan Te-ciat merasa pedangnya tergetar hebat, seketika Hun Thian-hi kena tergetar mundur tiga langkah, terasa darah bergolak dalam rongga dadanya, sekuatnya ia menahan napas dan menelan mentah-mentah segumpal darah yang hampir menyembur keluar dari mulutnya.

Dalam pada itu Sam-lo-chit-cu dan Bun Cu-giok menjublek di tempatnya, sebelas batang pedang dari sebelas orang sama kutung semua.

Te-ciat juga terlongong, waktu ia menunduk dilihatnya pedang sendiri juga gumpil. Diam-diam bukan kepalang kejut hatinya. Ang-hwat-lo-mo si iblis itu sungguh menakutkan, siapapun dan betapapun tinggi kepandaian atau Lwekangnya bila menghadapi Pencacat langit pelenyap bumi, betapapun pasti kena cedera.

Hun Thian-hi insaf, lama bertempur semakin tidak menguntungkan pihaknya, Sutouw Ci-ko juga berdiri tertegun. Tanpa banyak pikir lagi segera ia kempit tubuh Sutouw Ci-ko terus mencepat naik ke atas kuda putih dan dilarikan sekencangnya ke arah samping sana.

Semua orang seperti tersentak dari mimpinya. Lekas-lekas Te-ciat Taysu melejit tinggi terus lari mengejar, tubuhnya melayang bagai seekor bangau terbang terus mengudak ke arah Thian-hi.

Tunggangan Thian-hi adalah kuda jempolan yang dapat lari ribuan li sehari, mana mereka dapat menyandak. Kuda putih dipecut lari laksana angin lesus, waktu Thian-hi berpaling, dilihatnya para pengejarnya berpencar, tampak Te-ciat Taisu mengejar paling dekat hanya terpaut lima tujuh tombak saja.

Begitulah kejar-mengejar terjadi dengan sengit, para pengejarnya semakin tertinggal jauh, namun Thian-hi tahu bahwa musuh tersebar di mana-mana, kira-kira dua puluhan li kemudian, Te- ciat Taysu sudah ketinggalan dua puluhan tombak. Mendadak dari samping depan sana melayang terbang sesosok bayangan orang, waktu Thian-hi menegasi kiranya adalah situa Pelita. Mengandal Ginkangnya yang tinggi serta aneh itu, naga-naganya dirinya berdua sulit dapat lolos.

Sementara itu Sutouw Ci-ko juga sudah melihat situa Pelita, segera ia berseru, “Mari menuju ke Jian-hud-tong saja!” — dengan tangkas kedua kakinya menjepit kuda serta dibelokkan ke arah kiri terus dicongklang semakin kencang.

Situa Pelita sudah mengejar semakin dekat, Jiat-hud-tong juga sudah dekat di depan mata. Melihat Thian-hi menuju ke Gua seribu Buddha, ia menyeringai dingin, tiada seorangpun dapat keluar lagi dengan hidup dari gua itu? Selama berpuluh tahun, tiada seorangpun yang bisa keluar dengan masih hidup ke dalam Gua seribu Buddha. peduli kau seorang gembong silat yang punya kepandalan maha tinggi juga tidak berani sembarangan masuk kesana.

Sebenar-benarnya Hun Thian-hi juga tahu akan hal ini, namun dalam keadaan yang kepepet begini, tiada jalan lain yang harus ditempuh, terpaksa harus mencari jalan hidup ke arah jalan kematian secara untung2an.

Begitu masuk ke dalam gua, keadaan di dalam gelap gulita. Terdengar situa Pelita terbahak- bahak diluar gua, serunya, “Kecuali kalian selamanya takkan keluar pula!”

Lekas Thian-hi dan Ci-ko melompat turun, meminjam cahaya yang menyorot masuk dari pintu gua mereka menerawang sekelilingnya, tampak tinggi gua ada dua tiga puluh tombak, dalam dinding gua terukir banyak sekali Buddha2 dengan berbagai bentuk dan gaya, sebuah jalan berliku memanjang ke arah dalam nan gelap sana.

Sekian lama mereka meng-amat-amati ditempatnya berdiri. Diluar gua terdengar derap langkah kuda yang guruh gemuruh, rombongan pengejar dari Tionggoan telah mengejar tiba.

“Thian-hi!” kata Sutouw Ci-ko, “Mereka pasti mengejar masuk, mari maju lebih lanjut, meski harus mati juga rela daripada terjatuh ditangan mereka.”

Tengah Hun Thian-hi beragu. tampak sebuah bayangan telah berada diambang pintu gua.

Tanpa banyak pikir lagi, segera Thian-hi tarik tangan Ci-ko terus berlari ke dalam. Pendatang itu bukan lain adalah Bun Cu-giok. Melihat mereka berlari masuk segera ia mundur dan keluar.

Dengan bergandeng tangan Thian-hi berdua berlari maju, baru membelok dua pengkolan, terdengar gema suara aneh dari sebelah dalam Sana…. Keadaan dalam gua gelap pekat lima jari sendiri tidak kelihatan.

Tanpa merasa mereka menjadi gemetar ketakutan.

Setelah hening sesaat lamanya. Sutouw Ci-ko berkata, “Mari maju lagi, coba lihat suara apakah itu!”

Thian-hi manggut-manggut, ia berjalan disebelah depan. setelah membelok lagi sekali, mendadak terasa kakinya menginjak tempat lunak terus ambles kebawah, keruan Thian-hi terperanjat, cepat ia menarik kakinya berusaha mundur, namun sudah terlambat, sebelah kakinya sudah ambles sampai kepahanya. terasa panas seperti direndam dalam tungku, sehingga kepalanya berkaringat. Cepat ia berseru, “Ci-ko cici, lekas mundur, tak bisa maju lagi!”

Sutouw Ci-ko tersentak kaget, cepat ia ulur lehernya pandang kedepar, lapat-lapat terlihat kabut putih bergulung di atas tanah dan berbuih, seolah-olah tengah berputar-putar. Lambat laun terasa Hun Thian-hi semakin tersedot ambles. Bergegas ia menarik sebelah tangan Thian-hi, mereka tidak tahu bahwa Thian-hi sudah terjeblos masuk ke dalam rawa penyedot tulang yang paling ditakuti dikalangan Bulim, begitu Sutouw Ci-ko menarik Hun Thian-hi, kabut berbuih itu kelihatan berputar semakin cepat, daya sedotnya juga semakin kuat, saking bernafsu sampai Sutouw Ci-ko terhujung ketarik maju dan kakinya juga ikut terjeblos masuk ke dalam lumpur.

Mereka meronta berusaha keluar, namun semakin bergerak, kaki ambles semakin dalam, apalagi seluruh badan juga terasa panas seperti dipanggang.

Tiba-tiba Thian-hi rasakan dadanya dingin nyaman, teringat olehnya akan daun buah ajaib, lekas ia merogohnya keluar, tinggal empat lembar, dua diantaranya ia angsurkan kepada Sutouw Ci-ko, katanya, “Cici, lekas telan!”

Begitu mereka menelan daon buah ajaib, suhu panas yang merangsang badan dari bawah rawa seketika hilang. seluruh badan kini terasa nyaman dan segar kembali. Tapi Sip-kut-tam atau rawa penghisap tulang sungsum ini berputar semakin kencang, badan mereka tersedot semakin dalam. Keruan Thian-hi menjadi gugup, menghirup napas panjang kedua tangannya terangkat keluar lumpur terus menepuk kuat2 dipermukaan rawa. ia berusaha untuk melompat keluar, tak kira begitu ia kerahkan tenaga, badannya malah menceplos semakin dalam beberapa inci.

Karena gerakan Thian-hi ini, seluruh. rawa menjadi bergelombang, daya putarnya semakin kencang, cepat sekali Thian-hi sudah terseret ke tengah rawa, namun setelah sampai ditengah keadaannya lebih mending malah, badannya tidak tersedot lagi.

Mendadak ia menemukan sebuah keajaiban. sepasang titik sinar berkilat warna hijau mulus tengah menatap mereka berdua dari pinggir rawa sebelah Sana.

Bukan kepalang kejut Thian-hi. Terdengar Sutouw Ci-ko berteriak, “Thian-hi, bagaimana keadaanmu?”

Kabut putih menguap semakin banyak dan tebal dipermukaan rawa. seperti air mendidih bergolak keras dan semakin banyak.

Thian-hi mendelong mengawasi depan, tampak olehnya sepasang mata hijau itu menatap tajam tanpa berkedip. tanpa bergerak ia menyahut, “Aku tak apa-apa, tak usah kuatir.” — Selesai berkata ia berpaling, bayangan Sutouw Ci-ko sudah tidak kelihatan terbungkus kabut tebal.

Karuan kaget ia dibuatnya, teriaknya keras, “Ci-ko cici, dimana kau?”

Beruntun ia memanggil dua kali, baru mendengar sahutan Sutouw Ci-ko, “Thian-hi, aku….” sampai disini mendadak ia melengking tinggi suaranya lantas lenyap.

Melonjak jantung Thian-hi teriaknya. cepat, “Ci-ko cici! Kenapa kau?” — Beruntun ia berkaok2 tanpa mendengar balasan. tanpa terasa matanya mengembeng air mata, ia tahu bahwa Sutouw Ci-ko pasti menemui bahaya, siapa nyana dirinya masih bertahan. sebaliknya orang sudah mendahului mangkat,

Thian-hi menjublek ditempatnya, kabut semakin tebal dipermuKaan rawa, hampir tangan sendiri tak terlihat lagi. Tapi sepasang mata berkilat hijau dikejauhan sana masih kemilau menatap ke arah Thian hi.

Dengan putus asa Thian-hi menggembor memanggil nama ‘Ci-ko’, namun tak mendengar reaksi! Dengan murung ia menunduk, Sutouw Ci-ko sudah lenyap, didengar dari lengking suaranya, pasti bukan ambles tersedot ke dalam rawa, mungkin mengalami bahaya lainnya. Thian-hi pejamkan mata, air mata mengalir deras, selamanya ia jarang menangis, sekarang entah mengapa ia tak kuasa menahan rasa pedih hatinya! Sutouw Ci-ko ikut berkorban demi dirinya, siapakah yang bersalah, dia tidak berdosa!

Biji mata berkilat itu bergerak-gerak, akhirnya sebuah suara. yang rendah dingin berkata kepada Thian-hi, “Kau mau tidak kutolong?”

Begitu mendengar suara manusia, Thian-hi tersentak kaget, dengan terbelalak ia pandang biji mata berkeliat itu, lama dan lama kemudian baru ia menghela napas ringan tanpa bicara.

Orang itu bicara lagi dengan suara rendah seram, “Sungguh besar nyalimu dengan genduk itu berani lari masuk ke dalam Jian-hud-tong. Lima puluh tahun mendatang ini, ada orang masuk tiada orang keluar!”

Thian-hi tidak hiraukan ocehan orang, dia berpikir, “Sutouw Ci-ko sudah mati, dia berkorban demi kepentinganku, jikalau dirinya bisa bertahan hidup, apa pula artinya?”

Orang itu mendengus dengan geram, setelah bungkam sesaat lamanya ia berkata lagi, “Lima puluh tahun lamanya, baru pertama kali ini kulihat kalian berdua kejeblos ke dalam rawa tanpa mati…. Kalau orang lain, tulang belulangnya pun sudah terbakar habis!”

Mendengat ucapan orang tergerak hati Thian-hi, cepat ia tanya, “Kau tahu kemana kawanku itu?”

Orang itu mandah terkekeh dingin tanpa bicara. “Katakan. Nanti kubiarkan kau menolongku keluar.”

Orang itu menyeringai seram, katanya, “Tapi kau kuat bertahan di dalam rawa tanpa terbakar.” “Tak mau ya sudah!” ujar Thian-hi.

Orang itu tunduk menepekur, akhirnya berkata, “Kalau kutolong kau, apa kau mau melakukan segala urusanku?”

“Kau harus beritahu dulu, kemana kawanku tadi.”

“Sudah tertolong orang, dia merupakan salah seorang dari kita bertiga yang dapat meloloskan diri selama lima puluh tahun di dalam gua ini.”

Thian-hi menjadi girang, tanyanya, “Siapakah dia?”

“Jangan cerewet!” bentak orang itu. “Aku tiada tempo untuk ngobrol dengan kau, syaratku mau kau terima tidak?”

Kiranya mereka bertiga terkurung di dalam gua ini, demikian Thian-hi menerka dalam hati.

Seluruhnya berjumlah tiga orang, lolos satu tinggal dua, entah macam apa pula seorang yang lain itu.

Setelah berpikir ia berkata, “Aku tidak tahu apakah syaratmu itu, masa begitu gampang harus setuju.? Coba terangkan dulu?” Orang itu menjengek, pelan-pelan tinggal pergi. Tahu bahwa Sutouw Ci-ko sudah tertolong orang, Thian-hi jadi kegirangan, Ilmu silat orang itu pasti luar biasa, kalau tidak masa begitu mudah dapat menolong orang keluar dari rawa ini. Jelas jiwa Sutouw Ci-ko pasti selamat.

Setelah rada jauh orang itu berpaling dan menegas, “Bagaimana setuju tidak?’ “Tolong tidak terserah kau, aku tidak ambil pusing!”

Melihat kekukuhan Thian-hi orang itu kewalahan, sesaat ia berkata lagi, “Meski sudah tertolong pergi. namun jiwa kawanmu itu juga bakal mampus belaka.”

Bercekat hati Thian-hi, tanyanya, “Apa maksud ucapanmu ini?”

Orang itu terkekeh kering dua kali tanpa bicara. Thian-hi segera menambahi, “Dia sudah tertolong masa bisa mati. Jangan kau berkelakar dan menakut2i, aku bukan bocah umur tiga tahun, begitu mudah kau tipu.”

“Kau tahu siapa yang menolong kawanmu itu?” tanya orang itu menjengek jngin. “Siapa?” tanya Thian-hi gelisah. Orang itu diam saja.

Thian-hi menghela napas, ujarnya, “Kalau dapat. menyelamatkan kawanku, aku rela melakukan segala perintahmu.”

Agaknya orang itu tengah berpikir tanpa bicara. Kini Thian-hi juga harus berpikir, ia tidak tahu siapakah orang ini, namun dari biji matanya yang berkilat hijau itu. terang bukan dari golongan lurus,

Sesaat kemudian terdengar orang itu berkata, “Kau harus hati-hati!”

Seiring dengan peringatannya kedua telapak tangannya terayun ke depan, dua gelombang tenaga lunak dingin menerjang kepermukaan rawa sehingga menimbulkan gelombang berderai, permukaan rawa menyeruak kesamping. segulung tenaga besar timbul dikaki Thian-hi terus menyodoknya naik. Sungguh kejut Thian-hi bukan kepalang, betapa tinggi kepandaian orang ini sungguh belum pernah dilihat sebelumnya, dalam hati berpikir, berbareng kakinya menjejak kuat2, kontan badannya lantas mencelat mumbul dan terbang miring kesamping dan meluncur turun hinggap di atas tanah.

Heran hatinya, bahwa ilmu silat orang begitu tinggi, namun terkurung di dalam gua ini.

Melihat Thian-hi sudah berhasil mendarat di tanah, orang itu juga lantas menghentikan aksinya.

Dengan seksama Thian-hi amat-amati orang itu, tampak olehnya seluruh tubuh orang itu terbungkus dengan rambut panjang, hanya terlihat sepasang biji matanya yang berkilat tajam, tanpa merasa ia bergidik dan merinding.

“Kalau orang lain siang-siang sudah mampus,” demikian kata orang itu sesaat kemudian. “Kulihat kau kejeblos masuk tapi tidak terbakar mati, kupikir mungkin kau berjodoh denganku, maka suka aku menolong kau.”

Thian-hi masih ragu-ragu, orang punya kepandaian begitu tinggi. kenapa tidak mau keluar, tanyanya, “Hairap tanya nama julukan Cianpwe yang mulia?”

“Kau tanya asal usulku?” tanya orang itu lalu mendengus, “Akulah Si-gwa-sam-mo!” Thian-hi berjingkrak seperti melihat momok yang menakutkan, badan gemetar dan terhujung dua langkah ke belakang dengan terbelalak.

“Akulah Tok-sim-sin-mo!” kata orang itu pula dengan nada dingin.

Pucat pasi wajah Thian,hi, Si-gwa-sam-mo (tiga iblis dari dunia luar) ternyata berada disini.

Ternyata siapapun orang yang memasuki Gua seribu Buddha ini tiada yang bisa keluar lagi dengan hidup karena adanya Si-gwa-sam-mo ini.

Lima puluh tahun yang lalu secara mendadak Si-gwa-sam-mo sama menghilang, Ternyata mereka terkurung disini selama lima puluh tahun. Jadi Sutouw Ci-ko kemungkinan adalah tertolong oleh Kiu-yu-mo-lo, keselamatannya sungguh harus dikuatirkan.

Dengan sikap dingin Tok-sim-sin-mo pandang Thian-hi, katanya, “Seluruh kolong langit tiada seorang pun yang tahu bahwa kami bertiga dikurung disini. Sekarang Kiu-yu-mo-lo sudah lolos. Tapi sudah terlambat, lima puluh tahun telah berlalu. tentu dia sudah mati.”

Thian-hi tidak tahu kemana juntrungan ucapan Tok-sim-sin-mo. Tiga pentolan ibiis terbesar di dunia berkumpul disini, benar-benar sesuatu hal yang luar biasa. mengandal kepandaian silat mereka bertiga yang begitu tinggi, entah siapakah yang begitu punya kemampuan untuk mengurung mereka di tempat ini.

Terdengar Tok-sim-sin-mo mendengus lalu berkata lagi, “Meski Mo-lo dapat bebas lebih cepat. namun dia belum mendapat keuntungan, sedikitnya ia harus menghadapi dinding setahun lamanya baru tenaga murni dan Lwekangnya dapat dipulihkan.”

Pelan-pelan Thian-hi bernapas. setelah menenangkan hatinya ia berpikir; Tok-sim-sin-mo punya urusan yang perlu minta bantuanku, tak perlu takut lagi.

Pelan-pelan Tok-sim-sin-mo meraih ke belakangnya mengambil seutas rantai besi yang halus dan berkata, “Kau lihat, inilah penyebab kenapa aku sampai terbelenggu disini.”

Rantai itu sebesar ibu jari, terurai memanjang ke belakang terporot dibatas sebuah batu hitam yang sangat besar. Diam-diam ia kaget, “Masa rantai sekecil itu dapat membelenggu Iblis yang kejam dan ganas ini?”

“Kau sangka ini rantai besi umumnya?” tanya Tok-sim-sin-mo tertawa ejek, tiba-tiba sebelah tangannya terangkat tinggi terus mecuat ditengah udara, dinding batu disebelah depan sana lantas rontoh berhamburan.

Sungguh kejut dan heran pula Thian-hi dibuatnya. Dari jarak dua tiga tombak Tok-sim-sin-mo mampu mencengkeram hancur batu keras menjadi hancur berkeping, kepandaian yang tinggi tiada tarannya ini, boleh dikata sangat menakutkan.

“Inilah rantai yang dibuat dari Ham-thian-cin-kim. Kalau tidak masa aku mandah dibelenggu disini selama puluhan tahun!” — Sebentar merandek, lalu melanjutkan, “Terkunci di atas Kiu-thian- ham-giok,

sampai sekarang sudah terbelenggu selama lima puluh tahun! Limapuluh tahun sudah. Kau tahu betapa lama dan panjang hari2 yang harus kulewatkan!”

Sungguh tidak pernah terpikir oleh Thian-hi, dalam terbelenggu sedemikian lamanya ini, santapan apa yang dapat mereka makan. “Untung selama itu aku tidak mampus.” demikian Tok-sim-sin-mo menutur, Lima puluh tahun aku makan kelelewar, minum air embun, akhirnya takkan lama lagi aku dapat bebas.”

“Siapakah orangnya yang mengurung kalian disini?” tanya Thian-hi.

“Siapa?” tiba-tiba Tok-sim-sin-mo bergelak tawa menggila, “Kecuali dia siapa yang mampu membuat kami pasrah nasib terima dibelenggu disini, hanya dia itulah Ka-yap Cuncia, apa kau pernah dengar perihal dia?”

Thian-hi menjadi paham, sahutnya, “Kiranya beliau! Ya, tidak perlu heran, Kecuali beliau. tiada seorang pun yang mampu mengalahkan Si-gwa-sam-mo.”

“Jangan kau anggap begitu gampang dia dapat mengalahkan kami bertiga, kecuali dia masih dibantu Hian-thian-kiam-khek dari Ui-san, Thian-toh-ih-su dari Kiu-hoa, akhirnya dua diantara mereka gugur tinggal Ka-yap seorang yang masih hidup.” Habis berkata ia bergelak tawa lagi.

“Lalu kalian?”

“Ka-yap sendiri juga kena terpukul Kiu-yu-ciang, secara kekerasan akhirnya kami bertiga kena dibekuk olehnya, tanggung dia pun takkan lama hidup lagi.”

Thian-hi berkecek mulut, katanya, “Tapi aku dengar beliau pernah muncul di Thian-lam.” Terbelalak bengis mata Tok-sim-sin-mo, dengusnya, “Apa benar-benar?”

“Hanya kabar saja!”

“Tidak mungkin lagi, kami bertiga sama terluka parah, dapat hidup sampai sekarang sudah merupakan suatu keajaiban, dia kena pukulan Kiu-yu-ciang. selain itu terluka besar kecil lainnya, mana bisa tetap hidup.”

“Masa bisa dipastikan, kalau kalian bisa hidup masa dia tidak bisa hidup?”

Tok-sim-sin-mo menggeram gusar, serunya, “Bila dia sudah mati, akan kutiari muridnya, bunuh habis seakar2nya.”

“Kalau beliau tidak punya murid?” tanya Thian-hi.

Tok-sim-sin-mo mendelik kepada Thian-hi, Thian-hi berkata lagi, “Hakikatnya tiada seorang murid Ka-yap yang pernah muncul di Bulim.”

“Terpaksa aku akan cabut nyawa setiap orang Bulim sebagai tumbal penderitaanku selama lima puluh tahun di dalam gua ini.”

Mendengar sumpah keji dari Tok-sim-sin-mo ini bergidik tengkuk Thian-hi. sesaat lamanya baru ia tenangkan pikiran, katanya, “Apa bisa mengandal tenagamu seorang? Betapa banyak tokoh kosen dari Bulim?”

“Tokoh kosen apa, tokoh yang dapat melawan aku dalam Bulim hanya Ka-yap seorang, lain orang, tidak perlu dipersoalkan lagi.”

“Hui-sim-kiam-hoat sekarang malang melintang di Kangouw, apa kau punya pegangan dapat mengalahkan Hui-sim-kiam-hoat?” “Memang aku ingin mencobanya.”

“Kau sendiri sekarang belum terlepas, jangan kau mimpi melakukan urusan lain.” “Menolong jiwamu justru untuk membebaskan belenggu ini.”

“Kau pikir aku sudi menolong kau? Sumpahmu tadi terlalu menakutkan.”

“Kau sudah kutolong, tidak bisa tidak harus dengar perintahku, seumpama ingin mati juga sukar dapat terlaksana.”

Jang menjadi kekuatiran Thian-hi hanya keselamatan Sutouw Ci-ko, segera ia berkata, “Jika kau mau menyerahkan kawanku itu, aku rela bantu mengerjakan urusanmu.”

“Kalian berdua kenapa tidak takut terhadap Rawa penghisap tulang sungsum.” “Dimana kawanku itu?”

Mendadak Tok-sim-sin-mo menyeringai dingin, lengannya terulur panjang, kelima jarinya mencengkeram dari jarak jauh ke arah Thian-hi. Kontan Thian-hi merasa segulungan angin dingin yang punya kekuatan daya sedot menerjang ke arah dirinya, lekas-lekas ia bergerak hendak berkelit, namun sudah terlambat. terasa lengan kanannya seperti terjepit tanggem, ternyata sudah tercengkeram erat oleh Tok-sim-sin-mo.

Dengan ringan Tok-sim-sin-mo menjingjihg Thian-hi ke tempatnya, katanya, “Kau harus bekerja menurut petunjukku, kalau tidak akan kusiksa kau menjadi setengah hidup separo mati.”

Cengkeraman Tok-sim-sin-mo membuat seluruh badan Thian-hi gatal2 dan kesemutan, rasanya tak enak dilukiskan, dengan merinding ia berkata ketus, “Apa pun yang akan kau perbuat atas diriku, kau harus menyerahkan temanku itu.”

“Kiu-yu-mo-lo sudah membawanya pergi, kecuali aku bebas dan minta padanya, kalau tidak, hm, punya sepuluh jiwa juga sudah tamat seluruhnya.”

Thian-hi tertegun di tempatnya. Sambung Tok-sim-sin-mo, “Cukup sebuah perkataanku saja pasti dia mau menyerahkan kawanmu kepadaku. Tenaga murninya sudah ludas, untuk beberapa waktu takkan mampu membunuh orang, asal kau bantu aku segera. membebaskan diri saja.”

Thian-hi terlongong sekian saat, Kiu-yu-mo-lo sudah pergi, Tok-sim-sin-mo sendiri terbelenggu tak mampu berkutik, seumpama mampu ia pun tidak boleh melepas iblis laknat ini, meski ia bertujuan menolong jiwa Sutouw Ci-ko. Demikian Thian-hi menerawang tindakan sendiri.

“Bagaimana, mau tidak, kau jawab satu patah kata saja.”

“Apakah kau mampu panggil Kiu-yu-mo-lo untuk melepas kawanku itu? Hari ini aku terjatuh ke dalam cengkeramanmu, kalau kulepas kau, aku lebih celaka di tanganmu.”

“Hanya untuk urusan kecil saja, masa aku harus menipu kau”

“Baiklah,” sesaat beragu akhirnya Thian-hi ambil putusan, “Tapi sumpahmu tadi terlalu kejam, kalau kau bisa lolos, akupun harus kau bebaskan.” “Tidak menjadi soal, bukan saja kau, seluruh snak kandungmu boleh tidak usah mencelakai mereka.”

“Itulah yang paling baik. Ilmu silatmu begitu tinggi toh tak mampu membebaskan diri, cara bagaimana aku harus membantu kau?”

“Gampang saja, kau buka gembok di belakang Kiu-thian-hom-giok ini….”

Thian-hi memeriksa batu hitam besar di belakangnya, tahu ia bahwa Tok-sim-sin-mo tak kuasa memutar dan menjangkau kesana. Tapi ia masih heran Kiu-yu-mo-lo sudah dapat membebaskan diri, kenapa dia tidak datang membantu kawannya ini, sekarang malah minta dirinya membantu?

Dalam hati ia merasa curiga, namun lahirnya tetap ia berkata, “Baik, biar aku ke belakang membuka, tapi kau tak boleh ingkar janji, bantu aku mencari kawanku itu.”

“Jangan kau main gila terhadapku, jiwa kawanmu berada di tanganku tahu.” demikian ancam Tok-sim-sin-mo sambil melepas Thian-hi

Thian-hi manggut-manggut, sebat sekali ia berlari ke belakang Kiu-thian-ham-giok, begitu tiba dibalik sebelah sana lantas ia melongok bertanya kepada Tok-sim-sin-mo, “Dimanakah Kiu-yu-mo- lo berada, apakah kau tahu?”

“Sudah tentu aku tahu, dia tidak akan pergi jauh berada dalam Jian-hud-tong ini.” “Kenapa kau tidak suruh dia bantu kau melepaskan diri, sebaliknya menekan aku?”

“Dia sudah lama pergi!” desis Tok-sim-sin-mo sambil memicingkan mata memandang Thian-hi. “Dia tahu kau berada disini, kenapa tidak mau bantu kau membebaskan diri?”

“Dia sudah datang!” mendadak Tok-sim-sin-mo berpaling.

Baru saja Thian-hi mau menoleh. sekonyong-konyong nalarnya merasa sesuatu yang kurang beres, secara reflek segera ia berkelebat menyingkir, segulung tenaga angin dingin menerpa ke belakang Kiu-thian-ham-giok, terlambat sedetik lagi, tentu jiwa Thian-hi sudah melayang. Hatinya menjadi kebat-kebit dan berdiri bulu kuduknya, untung tidak tertipu.

Melihat serangan pukulannya tidak mengenai sasarannya, Tok-sim-sin-mo menggeram murka, namun apa boleh buat, sebentar ia merenung lalu terkekeh-kekeh seram, serunya, “Kau cukup cerdik tidak tertipu olehku. Bicara terus terang, aku sudah bertengkar dengan Kiu-yu-mo-lo, sudah tentu dia tidak sudi membantu aku. Kalau kau mau bantu, aku suka ambil kau sebagai muridku, setelah bebas segera mencari temanmu.”

“Jiwamu sendiri tergantung di tanganku masa bisa membantu aku malah.” demikian jengek Thian-hi.

“Kiu-yu-mo-lo dapat lolos, sebaliknya kau tidak, jelas dia lebih unggul dari kau.”

Tok-sim-sin-mo mendengus, desisnya, “Jika hari ini kau tidak lepaskan aku, kelak tentu kau akan menyesal sesudah kasep.”

“Kenapa aku harus menyesal!” ejek Thian-hi dengan tertawa lebar. “Tanpa kau bantu paling lama setahun secepatnya setengah tahun aku bakal dapat lolos sendiri, saat mana jangan kau harap dapat hidup senang.”

“Aku juga tidak tahu apakah aku bisa hidup selama itu, tapi bila sekarang kau kulepas, jiwaku akan lebih cepat melayang. Dan ini pasti benar-benar tak perlu disangsikan.”

Tok-sim-sin-mo menepekur sambil menghela napas, katanya, “Terus terang saja, diantara kami bertiga, hanya aku dan Kiu-yu-mo-lo yang punya keserasian pendapat, meski dia terbelenggu.

Secara kebetulan ia menemukan sejilid Pit-kip, dengan bantuan Pit-kit itulah baru dia berhasil lolos. Tapi aku percaya kemampuannya masih belum kuasa menandingi aku. Pernah aku meminta pinjam padanya, dia berkukuh untuk mengangkangi sendiri akhirnya kami bertengkar. Lekas kau bantu aku, akan kubantu kau menuntut balas! Kalian berdua tentu terdesak lari kemari bukan?”

“Terima kasih akan kebaikanmu. Aku sangat rela bantu kesukaranmu, namun aku tidak mungkin melakukan. Meskipun aku menjadi musuh besar kaum persilatan, namun aku tidak bisa bantu kau membebaskan diri.”

“Ilmu silatmu masih terpaut jauh sekali. Kau tidak mau membantu, jangan harap kau bisa keluar dari sini.”

“Menurut katamu Kiu-yu-mo-lo masih berada di Gua seribu Budha ini, apalagi tenaga murninya sudah ludes, kan menjadi kebetulan bagi aku, biarlah aku mencari dia saja.”

Tok-sim-sin-mo menggeram keras seperti singa kelaparan.

Thian-hi menerawang sekelilingnya, tampak di atas sebelah sana terdapat sebuah lobang gua, dia tidak tahu kemana Kiu-yu-mo-lo telah lari, terpaksa harus dicari secara main gagap saja.

Pelan-pelan ia merambat naik ke atas lobang itu secara hati-hati ia melongok ke sana, meski gelap masih dapat dilihat jelas, dalam gua sana tiada seorangpun.

Si-gwa-sam-mo ada tiga iblis, Thian-hi sudah melihat satu dan yang muncul sudah dua, seorang lagi yang berjulukan Pek-kut-sin-mo entah terkurung disebelah mana, kalau tidak hati-hati dan kebentrok, pasti sukar dapat melarikan diri lagi.

Dengan waspada dan bersiap siaga Thian-hi menggeremet maju terus, lobang ini rada rendah, terpaksa ia harus menundukkan kepala, semakin ke dalam semakin gelap, boleh dikata tiada setitik sinar apapun.

Selangkah demi selangkah Thian-hi maju terus, terasa olehnya jalan gua ini semakin menanjak ke atas. tiba-tiba gua ini menjadi lebar dan luas, diam-diam ia menjadi girang, mungkin ia sudah tiba di ujung gua yang lain, hati-hati ia melongok keluar lagi, kiranya ia tiba di sebuah ruang gua besar, dalam ruang besar ini rada terang dan ada cahaya yang menyorot menerangi. Tinggi dua tiga tombak, dalamnya tak kelihatan ujung pangkalnya.

Hun Thian-ki celingukan ke kanan kiri, tiada seorang pun, baru pelan-pelan ia merangkak masuk, ingin ia berteriak memanggil nama Sutouw Ci-ko, kalau dia berada disini tentu akan menyahuti. Tapi iapun takut kalau Pek-kut-sin-mo berada disini, jiwanya bakal terancam.

Dengan tegak berdiri lambat-lambat ia maju beberapa langkah. Mendadak ia tersentak kaget dan menyurut mundur cepat-cepat memet dinding serta menahan napas. Dengan takut-takut, ia melongok ke arah samping kiri, di sana terdapat sebuah lobang, seseorang tua berambut panjang tengah duduk bersila membelakangi dirinya, di atas lehernya kelihatan mengenakan kalung hiasan tengkorak manusia…. Siapa lagi dia kalau bukan Pek-kut-sin-mo, iblis sakti tulang putih. Thian-hi tak nyana bakal kebentur dengan seorang iblis lagi, sungguh tidak beruntung.

“Kau tidak perlu main sembunyi,” terdengar Pek-kut-sin-mo berkata tanpa berpaling, “Sejak tadi sudah kuketahui kehadiranmu!”

Thian-hi maklum bahwa derap langkah kakinya yang berat tentu sudah didengar oleh Pek-kut- sih-mo yang berkepandaian tinggi itu, harapannya orang pun terbelenggu dengan rantai di atas Kiu-thian-ham-giok Terpikir sampai disini, segera ia menyurut tubuh hendak tinggal pergi.

Sekonyong-konyong Pek-kut-sin-mo melambung tinggi terus meluncur turun di hadapan Thian- hi, dengan pandangan dingin tidak bersahabat ia pandang Thian-hi.

Berjingkrak Hun Thian-hi, batinnya: kenapa Pek-kut-sin-mo tidak terbelenggu, apalagi ilmu silatnya begitu tinggi, terang dirinya bakal konyol di tangannya. Lama Pek-kut-sin-mo mengamatinya, dia pun tak berani bergerak. Mendadak Pek-kut-sin-mo mencengkeram dengan telak ke arahnya, gerakan orang begitu cepat, sebelum ia bergerak tahu-tahu sudah kena dijinjing.

“Ternyata kau bisa masuk kemari. Lima puluh tahun sudah aku tidak pernah melihat manusia hidup.”

Thian-hi pejamkan mata pasrah nasib saja tanpa hiraukan kata-kata orang. Entah cara bagaimana orang dapat lolos, konon kabarnya Pek-kut-sin-mo diantara Si-gwa-sam-mo adalah iblis yang paling kejam dan telengas, namun ilmu silatnya justru yang paling rendah, entah cara bagaimana sekarang ia telah lolos dari kurungan.

Sekian lama Pek-kut-sin-mo mengamati Thian-hi dengan seksama, akhirnya mendengus dan berkata, “Kau terjatuh di tanganku, hanya kematianlah yang harus kau tempuh, jangan harap dengan sikap galakmu ini kau akan bertahan hidup.”

Thian-hi mendelikkan matanya dengan beringas menatap muka Pek-kut-sin-mo. Pek-kut-sin-mo menjadi semakin murka, tangannya terangkat hendak mengepruk.

Sekarang baiklah kita mengikuti jejak Sutouw Ci-ko, waktu ia menyahuti seruan Thian-hi mendadak selarik tenaga besar tahu-tahu menjinjing tubuhnya ke atas, baru saja ia berteriak kejut jalan darahnya sudah tertutuk, seketika suaranya sirap. Waktu ia melirik, seseorang nenek tua mengempit tubuhnya dibawa lari terbang ke atas sebuah lobang gua lainnya, di kejap lain mereka sudah tiba di dalam sebuah ruang batu.

Sinenek meletakkannya oitanah, napasnya sengal2, wajahnya kuyu dan kecapekan, ia duduk bersila tanpa bergerak, sesaat kemudian baru ia membuka matanya, napasnya sudah teratur kembali. Segera ia membuka jalan darah Sutouw Ci-ko, dengan mendelong Sutouw Ci-ko awasi nenek tua keriputan ini, bergegas berdiri terus putar tubuh hendak lari.

Sinenek terkekeh dingin, tangannya meraut dari kejauhan, kontan Sutouw Ci-ko kena terseret mundur, terdengar sinenek bicara, “Jangan lari! Apa kau belum pernah dengar nama Kiu-yu-mo- lo?”

Pucat wajah Sutouw Ci-ko. sejak mula ia merasa bahwa sinenek bukan orang baik, namun ia tidak nyana sinenek ini adalah salah seorang’ dari Si-gwa-sam-mo, hatinya menjadi takut dan ngeri.

“Bangkotan tua itu tidak melihat.” demikian ujar Kiu-yu-mo-lo, “Tapi aku melihat tegas, bocah itu memberi kau dua lembar daun Kiu-thian-cu-ko bukan?” Sutouw Ci-ko terlongong, sahutnya, “Benar-benar! Menang itulah daun buah ajaib!”

“Darimana kalian mendapatkan daon itu?” tanya Kiu-yu-mo-lo dengan mata mendelik beringas.

Melihat wajah orang tidak enak dipandang, Sutouw Ci-ko tahu orang pun tengah mengincar daun buah ajaib itu, dengan tertawa ia berkata, “Gampang saja, pergilah kau tolong adikku itu, dia masih punya beberapa lembar.”

Jelilatan biji mata Kiu-yu-mo-lo, dengan geram ya membanting tangan di tanah, ia tahu bahwa hati punya minat namun tenaga sendiri tidak mampu, sekarang dia sudah kehabisan tenaga untuk memutuskan rantai yang membelenggunya. Apalagi ia masih gentar menghadapi Tok-sim-sin-mo, maka ia hanya menggondol lari Sutouw Ci-ko yang jaraknya rada jauh dari Tok-sim-sin-mo. Tapi sekarang baru ia tahu bahwa Hun Thian-hi masih memiliki daon buah ajaib itu, sungguh ia sangat menyesal, kenapa tidak menyerempet bahaya menolong Hun Thian-hi saja, kalau sekerang balik kesana, tentu sudah kasep.

“Apa benar-benar?’“ demikian ia menegas dengan uring-uringan, tiba-tiba sorot matanya berkilat buas membayangkan nafsu membunuh yang tebal.

Keruan Sutouw Ci-ko sangat terkejut, ia insaf bahwa Si-gwat-sam-mo rata2 bertangan gapah berhati kejam, sekali pukul mungkin Kiu-yu-mo-lo bisa membunuh dirinya. Otaknya yang cerdik segera mendapat akal, “Masih ada sepucuk buah ajaib yang lain disuatu tempat. Kira-kira dua bulan lagi buahnya bakal masak, jikalau kau sudi menolong adikku, kuajak kau ke tempat itu.”

Obrolannya ini melulu Jalan belaka. Dengan sinis Kiu-yu-mo-lo memandang Sutouw Ci-ko, ia kurang dapat mempercayai keterangan orang, tapi bila itu benar-benar ada, tentu sangat menguntungkan dirinya. Ia tahu bahwa Lwekang Tok-sim-sin-mo lebih tinggi dari kepandaiannya, jika bisa mendapatkan buah ajaib itu masa takut lagi menghadapi Tok-sim-sin-mo.

“Bisa memperoleh sepucuk buah ajaib saja sudah merupakan suatu kurnia yang sulit didapat, masa masih ada pucuk yang kedua? Kau sangka aku bocah kecil yang gampang ditipu?”

“Demi jiwa adikku, masa aku berani menipu kau? Seumpama aku benar-benar ngapusi kau mengandal kepandaian silatmu masa kuatir apa lagi. Ketahuilah kedua pucuk pohon buah ajaib itu tumbuh dalam suatu tempat yang sama!” — Dia pernah dengar penuturan Thian-hi tentang buah ajaib itu maka segera ia menambahi, “Bukan kami berdua yang menemukan pohon buah itu adalah seorang Hwesio tua bernama Go-cu Taysu yang telah menunggunya selama enam puluh tahun.”

Sebenar-benarnya Sutouw Ci-ko hanya meng-ada2 saja, namun serta ia menyinggung nama Go-cu, maka Kiu-yu-mo-lo lantas memancarkan sinar aneh yang cemerlang, tanyanya menegas, “Apa Go-cu?”

“Apa kau kenal dia?” tanya Sutouw Ci-ko.

Kiu-yu-mo-lo adalah iblis besar pada ratusan tahun yang lalu, masa tidak mengenal tokoh macam Go-cu, diam-diam girang hatinya setitik harapan telah menyenangkan hatinya. Pasti tidak salah lagi, mengandal dua bocah ingusan masa begitu gampang bisa mendapatkan Kiu-thian-cu- ko. kalau Go-cu itu dapat dipercaya dan masih diakal.

Setelah mendengus ia berkata kepada Sutouw Ci-ko, “Kau bawa aku ke tempat dimana pucuk pohon buah ajaib itu berada.”

“Kau minta aku mencari Kiu-thian-cu-ko, maka kau harus menolong adikku dulu.” “Sudah tentu! Tapi aku kalah menempur iblis tua itu! setelah mendapat Kiu-thian-cu-ko baru aku mampu menolong adikmu.”

“Apa?” berubah air muka Sutouw Ci-ko.

Kiu-yu-mo-lo menyeringai sinis, katanya, “Si-gwa-sam-mo terkurung bersama digua ini selama lima puluh tahun baru sekarang aku dapat lolos, orang tua yang kalian hadapi dalam rawa itu adalah Tok-sim-sin-mo, apa kau dapat mempahami keteranganku?”

Pucat pasi wajah Sutouw Ci-ko, tamatlah riwayat Hun Thian-hi, jika tidak mati ambles ke dalam rawa pasti menjadi korban Tok-sim-sin-mo, kepala terasa berat matapun berkunang-kunang, terhujung sempoyongan ia jatuh meloso, pingsan.

Kiu-yu-mo-lo terloroh-loroh, dengan tajam ia pandang Sutouw Ci-ko yang pingsan tak bergerak kalau bukan ingin mendapatkan buah ajaib, sejak tadi ia sudah cabut nyawa Sutouw Ci-ko.

Ia membangunkan Sutouw Ci-ko dengan meng-goyang2kan badannya, serunya, “Mari kau ajak aku mencari buah ajaib itu. kalau ketemu, kuberl jalan hidup padamu.”

Sutouw Ci-ko terlongong seperti orang linglung, matanya merah dan basah oleh air mata, sekian lama ia berdiam diri tak bergerak.

“Baru pertama kali ini aku menolong jiwa manusia selama hidup. Kalau bukan karena buah ajaib itu, sejak tadi sudah kubunuh kau.”

Sesaat kemudian baru Sutouw Ci-ko sempat membuka mulut, katanya, “Tadi sengaja kutipu kau, sebetulnya tiada pohon buah ajaib yang lain, aku pun tidak tahu dimana buah itu berada.”

Tiba-tiba terpikir oleh Kiu-yu-mo-lo, “Tindak-tanduk Gu-cu sebagai naga yang kelihatan kepalanya. tidak kelihatan ekornya, kau kenal namanya, mana mungkin tidak tahu, terang sengaja hendak mengelabui aku.” Karena pikirannya ia menjadi gusar, desisnya, “Kau anggap dapat menekan aku untuk menolong adikmu itu?”

“Kau takkan mampu menolong dia,” ujar Sutouw Ci-ko menggeleng,.Kau bunuh aku saja!”

Kiu-yu-mo-lo menggerung serak, sebat sekali ia tutuk jalan darah Sutouw Ci-ko terus dikempit diketiaknya, dibawa lari melesat ke arah pintu gua.

Diambang mulut Gua seribu Buddha kala itu penuh sesak berjejal para kaum persilatan, semua orang hanya berani longak-longok ke dalam, tiada seorang pun yang berani beranjak masuk. ‘

Kiu-yu-mo-lo menyangsikan keterangan Sutouw Ci-ko, tujuannya hendak menggondolnya keluar dari Jian-hud-tong, begitu cepat gerak tubuhnya laksana kilat berkelebat, waktu tiba diambang pintu ia rada merandek, terlihat ratusan orang tengah berjaga dan mengepung mulut gua. Dalam hati ia menjengek dingin, “orang-orang ini mencari mati kemari!” Sedikit merandek, laksana anak panah meluncur tubuhnya meluncur keluar gua.

Semua orang seperti melihat seekor burung melesat keluar secepat kilat. Sekilas Te-ciat sudah melihat jelas seorang nenek mengempit Sutouw Ci-ko, maka sambil membentak keras ia melompat naik ke atas seraya kerahkan delapan bagian tenaga murninya terus menepuk ke arah Kiu-yu-mo-lo. Melihat ada orang berani merintangi, Kiu-yu-mo-lo terloroh-loroh dingin, sebelah tangannya dijulurkan memapak, begitu pukulan kedua belah pihak saling bentrok. masing-masing terpental mundur terus menyurut tiga langkah.

Keruan bukan kepalang gusar Kiu-yu-mo-lo, latihan selama lima puluh tahun di dalam Jian-hud- tong terhitung sia-sia, baru saja keluar pintu lantas dirintangi orang, apa-apaan ini.

Dilain pihak Te-ciat Taysu sendiri juga bukan olah-olah kejutnya, Siau-lim-pay diagungkan karena ilmu pukulannya yang lihay, dengan mengerahkan delapan tenaga murninya, dirinya masih tak kuasa berdiri tegak, sebagai seorang pejabat Ciangbunjin, mana mandah terhina dihadapan begini banyak orang.

Kiu-yu-mo-lo melengking tinggi dengan murka, tubuhnya melompat naik ke atas terus menyerang dengan penuh kegusaran. Lekas-lekas Te-ciat Taysu juga mengaum seperti harimau berang, dengan kekuatan dua belas bagian tenaga murninya ia pukulkan telapak tangannya memapak ke arah serangan Kiu-yu-mo-lo.

Begitu melihat kedahsyatan pukulan lawan, Kiu-yu-mo-lo insaf bahwa hawa murni sendiri sudah ludes tenaga juga kurang kuat, sebelah tangan saja takkan kuat melawan, sigap sekali ia lemparkan tubuh Sutouw Ci-ko ke tengah udara, serempak kedua telapak tangannya terus menekan ke arah pukulan Te-ciat Taysu.

Melihat perbawa tekanan Kiu-yu-mo-lo, terkejut Te-ciat Taysu, tahu ia bahwa dirinya bukan tandingan lawan, namun untuk menghindar sudah terlambat, apalagi tekanan tenaga musuh bagai gugur gunung telah melanda tiba, terpaksa ia sambut dengan kekerasan. “Blum!” — Terlihat Te- ciat Taysu terpental jumpalitan terus rebah tak bergerak lagi.

Sementara itu, Kiu-yu-mo-lo terkekeh-kekeh seperti bunyi burung kokok beluk, setangkas burung walet tubuhnya jumpalitan ditengah udara, tepat sekali meraih tubuh Sutouw Ci-ko yang melayang turun, dalam kejap lain ia sudah terbang pergi laksana burung elang.

Seluruh orang-orang gagah diluar Gua seribu Budha menjadi kesima kaget, orang aneh yang mendadak muncul ini begitu enteng membawa Sutouw Ci-ko pergi. Te-ciat sendiri begitu beradu pukulan lantas terbanting jatuh dan pingsan, terang terluka dalam yang sangat parah.

Sekejap saja bayangan Kiu-yu-mo-lo sudah menghilang dikejauhan dengan mengempit Sutouw Ci-ko. Lalu kemanakah Hun Thian-hi? Tiada seorang pun yang berani masuk ke dalam Jian-hud tong.

Dilain pihak, Thian-hi sudah pejamkan mata pasrah nasib saja, pukulan dahsyat Pek-kut-sin-mo dengan telak mengenai kepalanya, tapi mendadak ia merasa tenaga pukulannya yang hebat itu seperti tenggelam didasar lautan, sirna tanpa bekas, keruan bukan kepalang kejut Pek-kut-sin-mo, sesaat ia terlongong ditempatnya.

Waktu pukulan Pek-kut-sin-mo mengenai kepalanya kontan Thian-hi merasa kepalanya tergetar seperti dipukul godam, namun sedikit pun ia tidak kurang suatu apa, seketika terasa segulung hawa hangat mengalir dan menerjang berputar keseluruh badannya. Mendadak teringat olehnya akan penuturan majikan Ngo-hong-lau, bahwa khasiat buah ajaib semua tersekam di dalam jalan darah Pek-hwe-hiatnya, sedang pukulan hebat Pek-kut-sin-mo tadi secara kebetulan tepat mengenai Pek-hwe-hiat, bukan saja kepalanya tidak pecah hancur dan mati, malah secara tidak sengaja orang telah bantu membujarkan khasiat buah ajaib ke dalam seluruh badannya.

Thian-hi insaf kesempatan untuk melangsungkan hidup selanjumja hanya kilasan waktu saja cepat-cepat ia kerahkan hawa murninya menuntun hawa panas itu menjalar kesegala urat nadi dan jalan darah di seluruh tubuhnya. Hawa hangat itu secepat kilat sudah bergulung-gulung tiga putaran mengelilingi seluruh tubuh Thian-hi. Tatkala itulah pukulan kedua Pek-kut-sin-mo sudah menepuk tiba kepunggung Thian-hi. secara gerak reflek Thian-hi bersuit panjang, tubuhnya mencelat bangun berbareng mengebaskan sebelah tangannya ke belakang menyambut pukulan Pek-kut-sin-mo.

Dengan murka Pek-kut-sin-mo menambah tenaga dengan membarengi tangan kanan ikut memukul. gelombang badai segera menerpa dengan dahsyat ke arah Thian-hi. Dilain kejap kekuatan kedua belah pihak beradu ditengah jalan. Meminjam tenaga benturan kedua tenaga raksasa ini tubuh Hun Thian-hi mencelat terbang ke depan semakin menjauh. Sementara Pek-kut- sin-mo tergetar mundur beberapa langkah. Gema benturan yang dahsyat mendengung di dalam gua nan sunyi itu, seperti gunung meletus…..