Badik Buntung Bab 11

 
Bab 11

Thian-hi manggut-manggut, diapun tak tahu bagaimana latar belakang peristiwa yang dialami itu. Menurut apa yang diketahui hanya menyangkut persoalan Ni-hay-ki-tin melulu. Tapi apakah rahasia Ni-hay-ki-tin betul berada di dalam Badik buntung, dia sendiripun tak tahu.

“Kedatanganmu hari ini sungguh tepat, kau bisa bertemu dengan seorang aneh, ada beliau disini, Bu-bing Loni tak berani datang kemari.”

Thian-hi berpikir, kecuali Ka-yap Cuncia yang pernah didengar dari mulut Ang-hwat-lo-cu tiada seorang tokoh kosen lainnya yang pernah didengarnya apalagi meski kepandaian Ka-yap mungkin lebih tinggi dari Bu-bing Loni, namun mati hidupnya merupakan tanda tanya besar.

Kira-kira setengah tahun sudah berselang, Sam-kong membekal Sin-giok-ling milik Bu-bing Loni, kenyataan dia masih sehat segar, tidak bisa tidak dia harus percaya akan adanya orang aneh itu, jangan aku menyia-nyiakan kesempatan ini untuk berkenalan dengan “Wi-thian-chit-ciat-sek” .

Thian-hi mematung seperti orang linglung Sam-kong menjadi geli. tahu dia apa yang tengah dipikir oleh Thian-hi, katanya tersenyum “Beliau sudah pernah dengar tentang kau, ingin sekali bertemu dengan kau. Kalau memang berjodoh mungkin kau bakal ketiban rejeki.”

Thian-hi tertawa, pikirnya, “Aku tidak ingin rejeki apa segala, kalau benar-benar Bu-bing Loni tak berani datang, ini sudah cukup menggirangkan hatiku.”

“Mari ikut aku menghadap beliau. Tapi jangan sekali2 kau merasa takut, tahun terakhir ini wataknya suka aseran, apalagi dulu siapa saja yang sampai membuatnya gusar, celakalah dia.”

Thian-hi manggut, Sam-kong lalu membawa Thian-hi menyusuri lorong2 panjang dan serambi yang belak-belok, akhirnya mereka tiba di depan sebuah rumah. Sam-kong memberi tanda supaya Thian-hi menunggu di luar, dia terus masuk ke dalam.

Setelah Sam-kong masuk terdengar suaranya berkata di dalam, “Tecu Sam-kong menghadap!”

Sebuah suara menyahut, “Sam-kong! Kau datang pula, di luar kau masih bawa orang, siapakah dia?”

Suara ini adalah perkataan seorang nenek, Thian-hi menjadi heran, belum pernah ia dengar ada seorang nenek yang ditakuti oleh Bu-bing Loni.

“Orang yang Tecu bawa kemari adalah Hun Thian-hi, apakah Ciangpwe sudi mengundangnya masuk?”

Rada lama nenek itu berdiam diri, akhirnya berkata, “Baiklah! Silakan dia masuk!”

Dari ambang pintu Sam-kong melambai tangan suruh Thian-hi masuk. Begitu tiba di dalam pintu, di mana matanya melihat seorang nenek tua, hampir saja dia berteriak kejut. Mana ada manusia seburuk itu, hampir menyerupai setan atau dedemit, seluruh mukanya belang bonteng malang melintang bekas luka-luka yang menonjol, kedua matanya buta, seluruh mukanya tiada secuilpun yang kelihatan halus, sungguh mengerikan.

Cepat-cepat ia tenangkan hati terus menyembah sapanya, “Wanpwe Hun Thian-hi menghadap Cianpwe!”

“Bangun!” ujar si nenek, “apa kau takut kepadaku?”

“Takut sih tidak, aku hanya heran kenapa Cianpwe bisa berubah begitu rupa.”

“Sungguh tepat jawabanmu,” sahut si nenek tertawa kering, “tak heran Hwesio jenaka sangat tertariK kepadamu, berapa usiamu tahun ini?”

“Tepat dua puluh!”

Hilang seri tawa si nenek, wajahnya menjadi kaku, gumamnya, “Dua puluh, sudah dua puluh, ja, seharusnya memang dua puluh!” air mukanya semakin sayu dan dirundung kepedihan.

Melihat mimik wajah si nenek, Thian-hi mengira orang tentu punya kenangan yang menyedihkan, dari bekas2 luka di mukanya itu, tentu dicelakai oleh musuh besarnya, entah siapakah orang yang begitu keji dan telengas.

Sam-kong Lama batuk2 lalu bicara, “Bantuan yang diminta oleh Hwesio jenaka kepada Cianpwe tidak terlupakan bukan!”

Thian-hi melengak, pikirnya, “Bantuan apa yang di minta oleh Hwesio jenaka kepada nenek ini?”

Si nenek tertawa, ujarnya, “Kau tak perlu kuatir, urusan itu pun tak perlu tergesa-gesa, sulit untuk menemukan seseorang yang tidak takut melihat rupaku ini, ada banyak omongan yang perlu kami bicarakan.”

Sam-kong lama mengiakan, si nenek lantas berkata pada Thian-hi, “Kau pernah bertemu dengan Bu-bing Loni?”

“Pernah, apa yang perlu Cianpwe ketahui, Wanpwe sedia menjelaskan.”

Si nenek termenung, lalu bertanya, “Apakah kau hanya bertemu dia seorang? Adakah dia membawa orang lain?”

“Masih ada muridnya Ham Gwat, Ham Gwat punya dayang bernama Siau Hong. Belakangan ini dia terima murid baru lagi bernama Su Giok-lan.”

Si nenek tenggelam dalam pikirannya, sekian lama tak bersuara. Thian-hi tak tahu untuk keperluan apakah si nenek menanyakan itu.

“Ada sebuah kisah perlu kuceritakan kepada kalian,” demikian si nenek memecah kesunyian, “kisah ini mengenai aku, Bu-bing Loni dan seorang lain.” — lalu dia berkata kepada Sam-kong- “Kau layani aku selama dua puluh tahun, sudah tiba saatnya kau tahu asal usulku.”

Berhenti sebentar, lalu meneruskan, “Aku berada disini, Bu-bing Loni tentu tak berani bertingkah. Bukan karena ilmu silatnya tidak unggul dari aku. Ilmu Jiam-hun-ciang sudah sempurna kulatih. tapi masih tak bisa menang melawan dia.” Sangat heran dan kejut pula hati Thian-hi. tak tahu dia ada permusuhan apa diantara si nenek dengan Bu-bing Loni, Bu-bing takkan mungkin kemari, dengan kekejaman Bu-bing, dia takkan gentar dan takut menghadapi siapapun juga.

Terdengar si nenek melanjutkan, “Kalian mungkin heran bekas luka-luka di mukaku ini bukan?

Biar kuberi tahu, inilah karya besar tangan Bu-bing Loni!” sampai disini ia berhenti.

Diam-diam bercekat hati Thian-hi, buah karya Bu-bing Loni, tanpa merasa ia bergidik dan merinding.

Setelah berdiam diri nenek tua berkata lagi, “Dua puluh tahun! Tepat dua puluh tahun sudah! Dia masih mempermainkan aku, aku masih belum berdaya menuntut balas, kupikir saatnya sudah bakal tiba!”

Dari tengah angkasa terdengarlah pekik burung dewata yang panjang mengalun tinggi. Nenek tua itu tersenyum getir, katanya pula, “Dia masih menekan aku untuk tutup mulut lagi. Dulu memang aku pernah melulusi dia untuk tak membeber rahasia ini, tapi sekarang aku harus bicara! Apa kalian tahu apa hubunganku dengan Bu-bing Loni? Dia adalah Toaciku!”

“O, jadi kalian adalah kakak beradik, hati Bu-bing Loni sungguh sangat kejam, ada permusuhan apa diantara mereka? Begitu tega Bu-bing Loni sampai membuat adik kandung sendiri begitu rupa.” Demikian batin Thian-hi.

Ditengah angkasa terdengar pula bunyi burung dewata yang rada keras. Nenek tua itu meneruskan, “Kami semua lima saudara, aku paling muda, dia paling tua, tatkala itu dikalangan Kangouw dijuluki Ngo-hong, nama asliku bernama Ong Ging-sia. — sampai disini berubah air mukanya, katanya lagi, “Bu-bing Loni sudah tiba!”

Terkejut Hun Thian-hi. Terdengar desir lambaian kain dari luar, segera tampak Bu-bing Loni melayang masuk dari jendela.

Dengan dingin ia pandang mereka bertiga, lalu berkata kepada sinenek, “Ging-sia! Kau tahu selamanya aku membalas setiap dendam dan sakit hati. Kalau kau bicara apa-apa terhadap mereka kau maklum tindakan apa yang harus kulakukan terhadap dirimu!”

Ong Ging-sia tertawa menyeringai, ujarnya, “Sikapmu sangat keterlaluan terhadap aku. Dia akan tahu, dan kau sendiri kelak juga pasti akan menyesal!”

Berubah air muka Bu-bing Loni, jengeknya, “Dia tahu aku pun tak takut, apa kau berani menemui dia? Kupikir diapun ingin sekali melihat keadaanmu sekarang!”

Pelan-pelan Thian-hi angkat kepala memandang Bu-bing Loni. Dulu katanya Bu-bing pernah patah hati dan menjadi kortan asmara, rupa2nya begitulah persoalannya? Saingan cintanya kiranya bukan lain adalah adik kandung sendiri, tapi ternyata dia begitu culas, begitu keji dan hina dina, dengan merusak wajahnya dia menyiksa dan melukai sanubari adik kandung sendiri!

Ong Ging-sia terpekur diam. Bu-bing berkata lagi, “Kalau kau masih menepati sumpah dulu, aku pun tak perlu menjilat ludahku sendiri, silakan kau pikir dan pertimbangkan pula!” — habis berkata ia menyapu pandang Hun Thian-hi lalu berkelebat menghilang diluar pintu.

Ong Ging-sia duduk terlongong-longong. Terpaksa Sam-kong mandah membiarkan Bu-bing Loni pergi datang seenak udelnya sendiri tanpa berusaha merintangi. Hun Thian-hi tidak tahu janji apa yang terikat diantara mereka, begitu besar penderitaan Ong Ging-sia, namun tak berani mengatakan. Dengan teliti ia menyelusuri lagi setiap perkataan Ong Ging-sia tadi, tanpa kuasa iapun mengeluh pendek, “Dua puluh tahun sudah!”

Nuraninya merasa bahwa Ong Ging-sia masih punya ganjelan hati atau sesuatu yang menjadi tanggungan pikirannya, seolah-olah dia sangat prihatin terhadap seseorang yang berada dekat bersama Bu-bing Loni, apakah Siau Hong punya hubungan erat dengan beliau?

Ong Ging-sia angkat kepala, tangannya terulur panjang, kelima jarinya terpentang lalu dirangkapkan, sebuah pentung besi sebesar lengan bocah disampingnya kontan patah menjadi dua teremas oleh jari-jarinya. Keuua biji matanya yang picak mengalirkan air mata, desisnya perlahan, “Jiam-in-ciangku sudah sempurna, tapi apakah gunanya?”

Pelan-pelan Ong Ging-sia menarik napas, lalu berkata kepada Hun Thian-hi, “Peristiwa yang lampau sudah berlalu, aku pun tak perlu ungkat2 lagi. Perihal kau menelan buah ajaib, Hwesio jenaka ada membicarakan kepada aku. Setelah kau menelan buah itu kau tidak mengerahkan Lwekang untuk melancarkan khasiatnya sehingga sekarang terkumpul di Pek-hwe-hiatmu Kecuali menggunakan Sian-thian-ciang guna menembus dan menjebol seluruh urat nadi dan jalan darah di seluruh tubuhmu, sukarlah dapat dikembangkan manfaatnya. Sebetulnya Go-cu Taysu beranggapan, lebih baik kau sendiri yang membujarkan, tapi keadaanmu sekarang tidak mungkin terlaksana. Hwesio jenaka minta kepada aku, tapi sayang sekali tenaga Jian-thian-ciang yang kulatih itu walaupun hampir mirip dengan Sian-thian-cin-gi, tapi aku hanya berlatih selama dua puluh tahun, baru rampung dan sempurna, aku kuatir kalau aku bantu kau bukan saja tidak membawa manfaat malah bakal mencelakai jiwamu!”

Hun Thian-hi tercengang, pikirnya, “Rupanya begitu ajaib adalah buah pusaka laksana makanan dewa yang mengeram kekuatan luar biasa, kenapa begitu saja manfaatnya atas diriku?”

Tiba-tiba Ong Ging-sia bertanya kepada Hun Thian-hi, “Bukankah gurumu itu Kongsun Hong adanya?”

“Benar-benar! Tapi guruku sekarang telah mengusir aku dari perguruan.”

“Dulu Hwe-siang-ki malang melintang di dunia persilatan, selamanya tak ketemu tandingan, tapi Lam-siau dan Pak-kiam sesampai pada generasi tingkat gurumu menjadi melempem, terpaut jauh sekali. Bakat gurumu sangat terbatas, dengan kepandaian Thian-liong-chit-sek dan Siau~im- pit-hiat, dulu kakek gurumu benar-benar merupakan tokoh kosen yang sangat disegani seKali.

Tapi sekarang Lwekang gurumu terlalu cetek, satu sepersepuluh dari kemampuan kakek gurumu dulu saja tidak memadai. Demikian juga keadaanmu, Lwekangmu kurang kuat.”

Hun Thian-hi tunduk tanpa bicara, gurunya memang pernah membicarakan hal ini, soalnya karena dulu kakek guru meninggal terlalu pagi, dan gurunya sendiri adalah belajar tanpa guru menurut Pit-kip peninggalan keluarganya, sudah tentu hasilnya jauh dari harapan.

Kata Ong Ging-sia pula, “Kau sudah kemari tiada sesuatu yang dapat kuberikan kepadamu, serulingmu sudah patah, sekarang tak punya senjata yang cocok, aku punya sebatang seruling gading, inilah senjata kepercayaanku dulu, dengan membekal seruling ini, berangkatlah ke Thian- san dan cari Hwi-king Lo-jin, dia adalah adik iparku. Dia akan membantu kau dengan Sian-thian- cin-gi menembus urat nadi dan jalan darah di tubuhmu.” — lalu diangsurkan kepada Thian-hi sebatang seruling warna putih mulus.

Hun Thian-hi nyatakan terima kasih, lalu menerima pemberian seruling itu, tampak olehnya seruling ini begitu mulus warna putih bersemu ke-merah2an, seluruh batangnya diukir lima ekor burung Hong yang sangat indah seperti hidup. Kata Ong Ging-sia dengan tertawa getir, “Dulu sebelum ayahku ajal beliau memberikan seruling ini kepadaku, ayah sangat cinta kasih terhadap kami lima bersaudara. Bagi kami masing-masing didirikan bangunan berloteng yang diberi nama Ngo-hong-lau, seruling ini dinamakan Hwi-hong- siau (seruling burung hong terbang), merupakan pertanda kewibawaan dari majikan Ngo-hong-lau itu, diantara kami berlima, ayah paling sayang pada aku, maka peninggalan ini diberikan kepada aku!”

Dengan rasa penuh eman Thian-hi mengelus seruling semu merah itu, hatinya merasa iba, terpikir olehnya bahwa Ong Ging-sia ini dulu waktu masih mudanya pasti seorang gadis remaja yang cantik

jelita, namun sekarang….kejadian di dunia ini sungguh sukar diduga dan diraba, siapa bakal mengira wajahnya sekarang begitu jelek menakutkan.

Terdengar Ong Ging-sia melanjutkan perlahan, “Bukan saja Bu-bing Loni berhasil memperoleh rahasia pelajaran Hui-sim-kiam-hoat, di suatu pulau di lautan timur iapun telah menemukan kemujijatan, dalam kolong langit ini mungkin tiada seorang pun yang dapat melawan dia. Kau sudah menelan buah ajaib, bila khasiatnya bisa menghasilkan manfaat yang fatal, Lwekangmu bakal tidak di bawah Bu-bing Loni. Kalian harus tahu sekarang Bu-bing Loni sudah bisa melebur Si- bu-sin-kang ke dalam permainan pedangnya untuk melukai lawan. Kalau Hui-sim-kiam-hoat dilandasi dengan Si-bu-sin-kang yang begitu kokoh dan kuat dasarnya, jurus terakhir yang berantai sebanyak tiga lintasan kilat pedang itu tiada seorang pun yang dapat menandingi.”

Hun Thian-hi merenung sebentar lalu bertanya, “Tiga jurus berantai yang hebat itu bagaimana kalau dibanding Wi-thian-chit-ciat-sek? orang kosen itu.” Demikian pikirnya.

“Dari penuturan Ang-hwat-lo-koay Wanpwe mendengar katanya Wi-thian-chit-ciat-sek telah muncul kembali. Sekarang berada ditangan Ka-yap Cuncia!” ~lalu ia ceritakan tipu daya yang direncanakan Ang-hwat-lo-koay secara jelas.

Ong Ging-sia terpekur sesaat lamanya, katanya, “Aku sendiri belum pernah menyaksikan Wi- thian-chit-ciat-sek itu. Tapi konon adalah Kiam-sut tingkat tertinggi dari Lwekeh. Tapi Hui-sim- kiam-hoat dari Bu-bing Loni itu aku pernah melihat. Dua puluh tahun sudah, tentu ilmu kepandaiannya itu lebih maju, lebih matang!”

Hun Thian-hi menjadi kecewa, pikirnya, “Kalau begitu benar-benar tiada sesuatu ilmu yang dapat menandingi Hui-sim-kiam-hoat Bu-bing Loni itu?”

Sesaat Ong Ging-sia termenung lagi baru bicara, “Tapi menurut hematku Wi-thian-chit-ciat-sek merupakan ilmu kepandaian yang tiada taranya di dunia ini, mungkin bisa menandinginya. Tapi menurut Ang-hwat-lo-koay katanya berada ditangan Ka-yap Cuncia. Selama ratusan tahun masa kini Ka-yap Cuncia merupakan tokoh wahid nomor satu dalam Bulim, andaikata beliau masih hidup dalam dunia fana ini, tanpa Wi-thian-chit-ciat-sek juga tak perlu gentar menghadapi Bu-bing Loni lagi. Tapi meski beliau masih hidup, usianya pasti sudah melebihi seabad, entahlah apakah ucapan Ang-hwat-lo-koay itu dapat dipercaya?”

“Kecuali Ka-yap Cuncia, apakah benar-benar di dunia ini tiada seorangpun yang mampu melawan Bu-bing Loni? Masa Go-cu Taysu juga tidak ungkulan?”

Ong Ging-sia berpikir sebentar, katanya, “Sudah tentu Go-cu Taysu tak menang melawan Bu- bing. Namun secara kenyataan Bu-bing pun tak berani berhadapan dengan Go-cu. Seumpama seluruh tokoh-tokoh kosen persilatan berkumpul dan bergabung juga belum tentu mampu menyelamatkan diri dari serangan tiga jurus berantai ilmu pedang yang terakhir. Tapi Bu-bing Loni sendiri juga belum pernah mainkan ilmu hebatnya itu di hadapan orang, karena ketiga jurus itu sangat menguras tenaganya!”

Dingin perasaan Thian-hi mendengar uraian Ong Ging-sia ini. Apakah benar-benar Hui-sim- kiam-hoat begitu hebat?

Ong Ging-sia berkata lagi, “Sejak Ang-hwat-lo-koay menghilang, khalayak ramai menyangka dia sudah meninggal, para iblis yang lain juga menjadi mengkeret dan sama mengasingkan diri.

Sekarang Ang-hwat-lo-koay telah muncul kembali, gelombang pertikaian dan huru hara di Bulim bakal lebih hebat dan situasi bakal semakin genting. Apalagi selama berapa tahun memencilkan diri tentu Ang-hwat-lo-koay sudah punya bekal kepandaian yang lebih hebat, sehingga sekarang dia berani bersimaharaja kembali!”

“Jurus pencacat langit pelenyap bumi ciptaannya itu sudah bukan olah-olah lihaynya, kalau masih punya jurus jahat lainnya lagi, wah, dunia bakal tidak aman lagi!” demikian Thian-hi mengeluh dalam hati.

Sementara Sam-kong Lama yang sejak tadi diam saja pun ikut bercekat, beberapa lama berselang dunia persilatan aman sentosa aan sejahtera. Gelagatnya dalam waktu mendatang yang tak lama ini bakal geger dan kemelut.

Kata Ong Ging-sia sambil menghela napas, “Seumpama membekal Sin-kang tiada taranya, apa pula paedahnya bagi aku?”

“Memang tidak mengherankan keluh kesahnya ini,” demikian batin Thian-hi, “Siau Hong berada di samping Bu-bing Loni yang kejam ini, sembarang waktu dia bisa turunkan tangan jahatnya.”

Kata Ong Ging-sia kepada Thian-hi, “Sekarang berbagai golongan dan aliran di Tionggoan tengah menyelusuri jejakmu, berita adanya kau di Bu-la-si ini juga bakal cepat tersiar ke-mana- mana, meskipun kau disini tidak akan berhalangan dan berbahaya, Sam-kong Lama akan selalu melindungi kau. Namun. kaum Bulim dari Tionggoan itu pasti akan berdaya upaya dengan berbagai cara menuntut pada Sam-kong atas dirimu. Mungkin Ang-hwat-lo-koay yang penasaran itupun akan kemari membekuk kau. Maka sebelum berita ini tersebar luas lekas-lekas kau tinggalkan Bu-la-si saja. Mereka takkan menduga, bukan tidak sembunyi di tempat aman kau malah menempuh perjalanan jauh menuju ke Thian-san. Segera kau harus berangkat, sebelum jejakmu konangan oleh mereka kau harus sudah berada di Thian-san, begitu sampai disana carilah Hwi-king-ouw (danau kaca terbang), jiwamu pasti selamat dan aman!”

Hun Thian-hi mengiakan sambil membungkuk tubuh, jejaknya sudah konangan, bagaimana juga jangan sampai merembet pada Sam-kong Lama, apalagi sekarang sudah punya tujuan tertentu yaitu ke Thian-san, Kekaligus disana bisa tilik pada Sutouw Ci-ko.

Setelah menghaturkan sembah sujud dan terima kasih, Thian-hi mengundurkan diri bersama Sam-kong Lama, dengan rasa berat Sam-kong menahannya satu hari lagi, baru hari kedua ia berangkat menunggang kudanya.

Terpaksa ia balik memasuki daerah Tionggoan lalu belok ke arah barat terus menuju keutara.

Begitulah tahu-tahu sudah tiga hari selama perjalanan tanpa menemui rintangan. Di atas kuda ia menerawang sepak terjang selanjutnya. Manakala dirinya belum lagi tiba di Thian-san ditengah jalan sudah kepergok oleh musuh bagaimana. Tengah Thian-hi berpikir2, tiba-tiba jauh di depan Sana terlihat sebuah bayangan punggung orang yang seperti sangat dikenalnya…. Girang hatinya lekas-lekas ia keprak kudanya membedal ke depan. Mendengar derap langkah kuda dibelakangnya orang itu memoleh, jelas sekali dia bukan lain, adalah Sutouw Ci-ko. Dia menunggang seekor kuda warna coklat, tengah berlari-lari kecil ke arah depan.

Sekejap saja Thian-hi sudah menyusul tiba, tanpa merasa mereka tertawa saling berpandangan, sesaat kemudian baru Sutouw Ci-ko buka suara, “Bagaimana kau ini? Bukankah kau menuju ke Bu-la-si? Disana tiada seorang pun yang berani mengganggu usik padamu, kenapa kau gelandangan disini?”

“Tak nyana bisa jumpa dengan kau ditengah jalan,” kata Hun Thian-hi tertawa, “Aku mendapat sebuah tugas dari seseorang untuk ke Thian-san mencari Hwi-king Lojin!”

Sutouw Ci-ko kejut2 girang, serunya, “Kau mencari Hwi-king Lojin, sungguh kebetulan, Hwi- king Lojin bersemajam bersama guruku, sama berdiam dipuncak utara Thian-san, mereka berdua yang satu tinggal ditimur danau yang lain disebelah barat. Untuk keperluan apa kau mencari beliau?”

Thian-hi tertawa-tawa, setelah rada sangsi ia menjawab, “Ada sedikit keperluan akan minta bantuannya!”

Lalu ia ceritakan pengalamannya di Bu-la-si kepada Sutouw Ci-ko.

Sutouw Ci-ko menghirup hawa, ujarnya tersenyum, “Sungguh aku turut senang bagi kau!”

Thian-hi merasakan hatinya menjadi hangat, pedang dikembalikan kepada Sutouw Ci-ko serta katanya, “Pedang ini milikmu, sekarang aku sudah punya gaman, pedang ini lebih baik kukembalikan saja.”

Sutouw Ci-ko menatap tajam, akhirnya menjawab, “Untuk pedang ini kuterima kembali. Tapi kuda putih jangan kau kembalikan juga kepada aku!”

Begitulah untuk selanjutnya mereka berkawan melanjutkan ke arah tujuan yang sama, sepanjang jalan ini riang gembira, hubungan mereka menjadi semakin kental. Sambil mendongak Sutouw Ci-ko berkata, “Sungguh aku kepingin punya adik semacam kau.” Lalu ia berpaling memandang Thian-hi, tanyanya: Apakah kau suka punya cici macamku ini?”

“Sudah tentu aku sangat senang,” Thian-hi tersipu-sipu. “Kalau begitu selanjutnya kau jadi adikku saja ya?” - Thain-hi manggut….

“Adik Thian-hi!” teriak Sutouw Ci-ko dengan riangnya. Thian-hi mengiakan.

Kata Sutouw Ci-ko dengan berseri, “Setelah sampai dipadang rumput, akan kukenalkan kau kepada sahabatku disana, inilah adikku Hun Thian-hi, tentu mereka akan kagum dan ketarik pada kau!” Begitulah sambil bersendau gurau mereka maju terus.

Sutouw Ci-ko dibesarkan di daerah padang rumput, tehnik menunggang kudanya jauh lebih pandai. Meski kuda yang ditunggangi Thian-hi kuda jempolan, dia harus kerahkan tenaga dan segala daya upayanya baru berhasil menyandak. Akhirnya mereka larikan kudanya berendeng dan pelan-pelan! Entah berapa lama sudah mereka tempuh perjalanan, sekonyong-konyong pandangan Sutouw Ci-ko terlongong melihat seseorang dikejauhan sana. Thian-hi berpaling ikut memandang kesana, jauh disebelah sana tampak seorang pemuda yang mengenakan pakaian perlente, menunggang kuda menghampiri ke arah mereka, kudanya berlari pelan-pelan.

Berubah ai rmuka Sutouw Ci-ko, hilang seri tawanya, katanya kepada Hun Thian-hi. “Dia itulah Kim-i-kiam-khek adanya!’

Sementara itu, tunggangan Kim-i-kiam-khek sudah mendekat, dengan berseri tawa ia berkata kepada Sutouw Ci-ko, “Sudah lama aku tak jumpa kau. Apakah kau baik-baik selama ini?” Lalu dengan lirikan ujung matanya ia pandang kepada Hun Thian-hi.

Dengan seksama Thian-hi amat-amati Kim-i-kiam-khek ini, usianya kira-kira tujuh delapan likuran. Tapi dari apa yang pernah didengar dari penuturan SutoUw Ci-ko oran ini berhati culas, banyak tipu daya serta licik, sunguh sukar diraba.

Dengan muka masam Sutouw Ci-to berpaling kepada Thian-hi, “Dik, mari kita jalan!” “Bocah ini adikmu?” tanya Kim-i-kiam-khek dengan nada heran, “Kenapa aku belum pernah

dengar sebelum ini?”’

Hun Thian-hi menjadi muak melihat tampang orang, dengan menyeringai dingin ia keprak kudanya, bersama Sutouw Ci-ko menerobos lewat ke depan.

Kim-i-kiam-khek menjadi penasaran, cepat ia membalikkan kuda dan mengejar dengan kencang, begitu kejar mengejar, sekejap saja lima li sudah dilampaui.

Mendadak Sutouw Ci-ko menarik tali kekang menghentikan kudanya, katanya berpaling kepada Kim-i-kiam-khek, “Kenapa kau mengejar aku terus?”

Sudah lama kita tak berjumpa bukan.” ujar Kim-i-kiam-khek dengan cengar-cengir. “Ada beberapa patah kata hendak kukatakan kepada kau! Apa boleh?”

Semprot Sutouw Ci-ko gusar, “Kau punya mulut sendiri, siapa larang kau bicara!”

Sorot mata Kim-i-kiam-khek beralih kepada Thian-hi katanya, “Apakah dia benar-benar adikmu?”

Hun Thian-hi menggeram gusar, katanya kepada Kim-i-kiam-khek, “Apa-apaan maksud katamu ini?”

Kim-i-kiam-khek tertawa sinis, katanya, “Kuduga hubungan kalian tidak terpaut sebagai kakak beradik saja bukan?”

Membesi muka Sutouw Ci-ko, “sreng!” ia melolos keluar pedangnya.

Kim-i-kiam-khek berkata dingin kepada Hun Thian-hi, “Kau bisa mengakui bukan?”

Sutouw Ci-ko “menggerakkan pedang menyerang kepada Kim-i-kiam-khek. Lekas-lekas Kim-i- kiam-khek menarik tali kekang berkelit kesamping. tanpa balas menyerang. Thian-hi berseru kepada Sutouw Ci-ko, “Ci-ko cici, kenapa kau ladeni orang gila ini?” — dia maklum Kim-i-kiam-khek memang sengaja memancing kemarahan dirinya, mungkin dia berniat turun tangan keji kepada dirinya.

Berkilat sinar mata Kim-i~kiam-khek, mulutnya terpentang tertawa lebar tanpa bersuara. seakan-akan menantang, “Apakah kau berani?”

“Apa kau tidak ingin tahu siapa aku sebenar-benarnya?” tanya Thian-hi dengan seringai sinis. Kim.i-kiam-khek tetap bungkam. Thian-hi berkata dingin, “Aku inilah Leng-bin.mo-sim Hun

Thian-hi!”

Terkejut Kim-i-kiam-khek, katanya bergelak tawa, “Apakah Hun Thian-hi itu menakutkan? Kau menyamar atau meminjam namanya?”

Thian-hi menjadi geli hatinya, “aku menyamar Hun Thian-hi? Berita tentang nama, julukannya itu memang rada keteelaluan. jikalau dirinya benar-benar bermuka dingin berhati iblis, tanggung Kim-i-kiam-khek ini tidak bakal dapat hidup lebih lanjut.

Thian-hi mandah mendengus saja. Kim-i-kiam-khek semakin men-jadi2, katanya kepada Sutouw Ci-ko, “Jutru karena urusan Leng-bin-mo-sim itulah maka aku turun dari Thian-san. Siapa nyana adikmu ini berani mencatut nama Leng-bin-mo-sim!”

“Anggapmu dia palsu?” jengek Sutouw Ci-ko, sampai disini tiba-tiba ia terhenyak, terpikir olehnya bila orang benar-benar tahu kata-kata Thian-hi adalah benar-benar, bukankah bakal menimbulkan kesukaran malah.

Maka segera ia keprak kudanya serta berseru pada Thian-hi, “Mari lanjutkan!”

Sekilas itu Thian-hi melihat perubahan airmuka Sutouw Ci-ko, dasar cerdik iapun dapat meraba kemana juntrungannya. Tercekat hatinya, kenapa aku begitu ceroboh dan tak kuasa menahan sabar, kalau sampai jejak dirinya tersiar luas bukankah bakal berabe. Bergegas ia congklang kudanya cepat-cepat.

Sekian saat Kim-i-kiam-khek terlongomg ditempatnya, tiba-tiba ia tersentak dari lamunannya, pikirnya, “Kenapa aku begitu lena. jelas sekali dia adalah Hun Thian-hi, sungguh menggelikan aku menyangka dia mencatut nama orang!” Ingin dia mengejar, tapi bila kecandak, mungkin Thian-hi bisa bunuh aku supaya tutup mulut, lantas terkilas pikiran lain dalam benaknya, “Kenapa mereka harus lari? Apakah di belakang ada orang mengejar?”

Sementara itu, Thian-hi dan Sutouw Ci-ko sudah lari jauh, melihat Kim-i-kiam-khek tidak mengejar. mereka perlambat lari kudanya, kata Thian-hi kepada Sutouw Ci-ko, “Tadi hampir saja aku membunuhnya!”

“Kau? Apakah kau benar-benar Leng-bin-mo-sim? Ilmu silatnya sangat tinggi, aku saja bukan tandingannya!”

Thian-hi maklum orang tidak percaya, iapun mandah tertawa-tawar, ujarnya, “Dia mengatakan turun gunung karena aku, entah dia punya urusan apa dengan aku?”

“Sekarang tentu dia tahu bahwa aku tidak menipu dia. Mari kita lekas jalan, sekarang tidak perlu kau urus kenapa dia mencari kau. yang penting kita harus segera tiba di Thian-san.” Thian-hi juga maklum, seluruh kaum persilatan dikolong langit tengah mengubek2 jejaknya, apa pula urusannya selain mencari perkara pada dirinya.

Beberapa hari kemudian, dengan jalan cepat tibalah mereka di daerah Ho-say dimana mereka sudah dekat disikitar Tun-hong. Sepanjang jalan ini mereka melihat banyak orang berlalu lalang dengan mengenakan pakaian ketat. Diam-diam timbul kewaspadaan mereka, mereka berjalan tergesa-gesa tanpa melirik pun juga, Thian-hi tak tahu kemana dan apa tujuan mereka.

Mereka maju terus, tanpa terasa satu hari telah mereka lewatkan lagi, namun mereka insaf bahwa musuh2 tangguh sudah mengintip disekitar mereka, sulit dapat dipercaya begitu cepat mereka telah meluruk tiba.

Di tempat duduknya Hun Thian-hi berkata kepada Sutouw Ci-ko, “Ci-ko cici, lebih baik kau lekas pergi saja, aku pikir….”

“Thian-hi!” seru Sut0uw Ci-ko tertawa merengut, “Kau panggil aku cici, sudah seharusnya aku melindungi kau, mana mungkin aku tinggal pergi, apa kau sangka aku begitu penakut?”

Thian-hi tertawa dibuat-buat. katanya, “Jumlah mereka terlalu banyak. kau disisiku menjadi serba sulit untuk bergerak.”

“Jadi kau anggap aku mengganggu kau malah?” “Ya, begitulah maksudku.”

“Kenapa kau gunakan alasan ini untuk mengelakkan diriku, bukankah lebih baik kita bersama?

Kedatangan musuh tidak sedikit jumlahnya, tapi belum kelihatan ada seorang pun yang benar- benar seorang tokoh Kosen, takut apa?”

“Memang tokoh kosen belum muncul, bila muncul sulit kami untuk melarikan diri.” lalu secara mendadak ia bertanya, “Ci-ko cici, bagaimana kalau kau naik kuda putih ini memburu ke Thian-san minta bantuan?”

Sutouw Ci-ko beragu sekian lama, akhirnya berkata tersenyum, “Untuk sampai di Thian-san pulang pergi memerlukan sepuluh hari, lebih baik kita terjang keluar saja, begitu memasuki gurun pasir disana adalah tanah tandus yang merupakan duniaku sendiri, padang rumput juga banyak terdapat sahabat karibku, setelah tiba disana tak perlu kuatir lagi. Kecuali mereka menggunakan kekerasan, mungkin air minum saja sulit didapat!”

Hun Thian-hi menjadi melongo, pengetahuan Sutouw Ci-ko ternyata begitu luas. Terdengar Sutouw Ci-ko berkata lagi, “Mungkin kau kurang percaya, bila kami bisa menerjang keluar dari kepungan mereka, secepatnya kami bakal tiba di padang rumput, tatkala itu setelah menyaksikan sendiri terserah bila kau mau percaya.”

Mendengar penjelasan ini Thian-hi rada terhibur, pikirnya, para pengejar dari Tionggoan itu pasti belum sampai, untuk menjebol kepungan yang merintang di depan sekarang, agaknya tak begitu sukar, namun entah siapakah pimpinan mereka. Begitulah mereka terus melanjutkan ke depan, tak lama kemudian terlihatlah jejak musuh, setelah menuruni segugusan pasir, tampak di depan sana berjajar sebaris kuda-kuda kekar menghadang di tengah jalan, dipimpin oleh Kim-i- kiam-khek sendiri.

Setelah rada dekat Hun Thian-hi berdua menghentikan kudanya. Dari samping segera menerjang keluar dua penunggang kuda, mereka bukan lain adalah Yan-bun-siang-eng, dengan tunggangan dikeprak kencang menerjang datang. Di empat penjuru serempak muncul sebarisan berkuda mengepung mereka berdua.

Thian-hi memicingkan mata menerawang situasi sekelilingnya, sebelah belakang adalah In- tiong-it-ho Ling-ce-cu dan Ling-it Loto. Sebelah samping sana adalah Im-hong-jiu Lim Bing dan seorang tua lagi.

Musuh sudah memblokir jalan mundurnya pula, terdengar Kim-i-kiam-khek bergelak tawa, serunya, “Para sahabat yang hadir ini kukira banyak yang telah kau kenal. Hanya Jiang-si-cu dan Ngo-tok-jiu Lim Han, dialah saudara tua dari Im-hong-jiu! Sekarang mari kuperkenalkan!”

Thian-hi menyapu pandang para pengepungnya, mereka tak lain adalah undangan Kim-i-kiam- khek, dengan tawa tawar ia menyahut, “Sungguh tak nyana, orang macam aku ini juga menggegerkan sedemikian banyak dedongkot2 silat besar.” .

Kim-i-kiam-khek bergelak tawa, serunya, “Memang tidak kunyana Ling-bin-mo-sim yang menggetarkan jagad ini kiranya orang macam tampangmu ini. Aku kuatir kabar itu terlalu digedekan melampaui kenyataan.”

“Tak nyana Kim-i-kiam-khek macammu ini juga melebihi kenyataan begitu pengecut mengundang begini banyak orang untuk mengeroyok orang. Hm, mengotorkan mulut dan memerahkan kuping saja kalau dipersoalkan .” demikian sindir Sutouw Ci-ko.

Dasar licik Kim-i-kiam-khek tetap tertawa tawa tanpa tersinggung kelihatannya, katanya, “Aku mendapat pesan orang lain, sudah tentu harus kulaksanakan sesuai dengan rencana, betapapun aku harus punya persiapan yang lengkap bukan!”

Hun Thian-hi tersenyum ewa, meski banyak para pengepungnya, situasi yang lebih genting dan lebih besarpun sudah pernah dihadapi, walau ilmu silat mereka tidak rendah, namun bila dibanding dengan Bu-bing Loni, boleh dikata punya perbedaan antara langit dan bumi.

Sebetulnya dalam hati ia sudah ambil putusan untuk menggunakan jurus pencacat langit pelenyap bumi, bagaimana juga aku tidak rela mati secara konyol, dan yang terpenting jangan sampai Sutouw Ci-ko kena terlukakan atau cidera.

Terdengar Yan-bun-siang-ing mendehem keras, lalu berkata kepada Hun Thian-hi, “Selamanya kami berdua anggap kau adalah murid Lam-siau Kongsun Hong, tak nyana ternyata kaupun punya sangkut paut erat dengan Ang-hwat-lo-koay.”

“Apakah kalian punya parmusuhan dengan Ang-hwat-lo-hoay?” tanya Thian-hi.

Ciok Sing tertawa panjang dengan nada dingin. katanya, “Bukan hanya permusuhan saja!”

Sementara itu Sutouw Ci-ko menjadi heran dan kebat-kebit melihat sikap Thian-hi yang adem ajam, apakah Thian-hi punya andalan yang dibanggakan untuk mengatasi mereka? Kenapa begitu wajar dan kelihatan tidak takut atau gentar sedikitpun. Jelas kusaksikan sendiri ilmu silatnya tidak lebih unggul dari Bun Cu-giok, kenapa sikapnya begitu takabur.

Terdengar Hun Thian-hi berkata kepada Yan-bun-siang-ing, “Begitulah baik, jikalau kalian sudi percaya, belum lama ini baru saja aku berhasil lolos dari kejarannya….”

Yan-bun-siang-ing saling pandang lalu mendengus menyatakan kurang percaya. Tanpa hiraukan mereka lagi Thian-hi berpaling menghadapi Lim Bing, katanya, “Tempo hari kita pernah jumpa sekali, kau mengejar dan ingin meringkus aku, akupun tak perlu banyak kata lagi.

Tapi sekarang perlu kutandaskan dan kuberi nasehat kepada kalian berdua, kalau tiada permusuhkan dendam kesumat, silakan kalian menyingkir cepat-cepat.”

Ucapannya memang bermaksud baik, namun Lim Bing menjengek dingin, makinya, “Hun Thian- hi kematian sudah di depan mata, masih berani kau bicara besar menghina orang.”

Sekarang giliran In-tiong-it-ho Ling-ce-cu, berkata Thian-hi kepadanya, “Kau dan aku sudah lama berkenalan. Hari ini sudah tentu kau takkan sudi mundur, akupun tidak akan melepasmu lagi.”

“Hun Thian-hi,” sela Kim-i-kiam-khek tertawa, “Para hadirin disini kebanyakan pernah menyaksikan ilmu silatmu, sekarang giliranku untuk belajar kenal sampai dimana tingkat kepandaianmu!”

“Satu lawan satu, atau kalian maju bersama?” tantang Thian-hi tersenyum. “Satu lawan satu dulu, kalau aku kalah terpaksa kau dikeroyok.” “Begitupun baik, siapa diantara kalian yang maju lebih dulu.”

“Kami berdua yang menempur kau lebih dulu” Yan-bun-siang-ing tampil ke depan.

Hun Thian-hi insaf bahwa Yan-bun-siang-ing sukar dilayani, tempo hari gurunya bersama Pedang utara berdua melawan mereka juga cuma lebih unggul sedikit, walau dirinya sudah menelan buah ajaib, sayang satu sepersepuluh dari khasiatnya saja tak dapat memperlihatkan perbawanya, untuk menghadapi keroyokan mereka berdua, betul-betul merupakan lawan tangguh.

Dia termenung sebentar, sementara Yan-bun-siang-ing sudah mengeluarkan Yan-hap-to, katanya, “Bagaimana? Kau takut?”

Thian-hi tersenyum hambar, sahutnya, “Apa hanya kalian berdua saja? Kupikir lebih banyak orang lebih menyenangkan, terutama paling kusambut gembira tuan Kim-i-kiam-khek dan In- tiong-it-ho berdua untuk tampil sekalian!”

Melihat Thian-hi begitu rendah menilai mereka Ciok Sing menjadi naik pitam, dengan menggerung ia berseru, “Kami berdua saudara jauh lebih cukup, buat apa tambah orang!”

Sembari kata gesit sekali mereka turun dari tunggangan, begitu menggerakkan senjata terus menyerbu kepada Thian-hi.

Thian-hi lompat berkelit turun dari kuda pula, sebelum kakinya menyentuh tanah tahu-tahu tangannya sudah menggenggam seruling putih bersemu merah itu. Dalam hati ia membatin, “Betapapun aku harus nekad dan bertindak secepat mungkin. para pengejar dari Tionggoan mungkin saat ini sudah bikin geger di Bu-la-si, tak lama lagi bakal menyusul tiba, kalau dapat lolos dari kejaran mereka ini, begitu memasuki gurun pasir, selamatlah kami berdua!”

Sementara ia berpikir Yan-bun-siang-ing sudah merangsak datang dari kiri kanan. Thian-hi mengegos menyingkir, dia insaf para musuh yang dihadapi merupakan tokoh kejam yang ingin mengambil jiwanya, kalau terpaksa akupun harus bertindak tegas bunuh mereka. Terlihat Seruling di tangannya berkelebat menangkis, bersama itu Yan-bun-siang-ing sudah lancarkan serangan gabungan gelombang ketiga. Dalam situasi yang mendesak begini terpaksa jurus pencacat langit pelenyap bumi untuk ketiga kalinya dikembangkan pula. Jurus pencacat langit pelenyap bumi ini sudah diakui sebagai ciptaan tunggal yang ganas dari Ang-hwat-lo-mo yang sudah diakui sebagai iblis nomor satu di kalangan persilatan masa kini.

Begitu jurus ganas ini berkembang, tampak selarik sinar putih kemerahan melebar laksana bianglala dalam gelanggang, Thian-hi sendiri setiap melancarkan serangan ganas ini pasti tidak mampu menguasai diri sendiri. Di saat melompat berkelit tadi sekaligus ia sudah menyingkir jauh dari kadudukan Sutouw Ci-ko. Maka begitu melihat cahaya merah berkelebat, Yang bun-sian-ing berseru kejut, serempak mereka lompat mundur berusaha lari menyingkir, namun sudah terlambat tanpa mengeluarkan suara bersama mereka menggeletak di tanah, ditengah leher mereka jelas bertapak sebaris garis merah.

Pelan-pelan Thian-hi membasut keringat di dahinya, dengan pandangan tajam ia sapu para pengepungnya, termasuk Sutouw Ci-ko semua mematung di tempatnya.

Bergegas Thian-hi memburu maju menepuk Sutouw Ci-ko serta berseru, “Cici, mari lekas pergi!”

Sutouw Ci-ko tersentak seperti sadar dari lamunan, begitu mengempit perut kuda bersama mereka congklangkan ke depan.

Kim-i-kiam-khek sendiri juga terlongong di tempatnya, betapa tenar dan tinggi kepandaian Yan- bun-siang-ing, masa dalam segebrak saja mati ditangan Hun Thian-hi, walaupun mereka sadar, tapi siapa pula yang berani mengantar nyawa sendiri secara konyol.

Sementara itu, dengan larikan kudanya berendeng Thian-hi menjadi semakin gelisah.

Yan-bun-siang-ing pendekar angkatan muda yang menjulang namanya, tiada punya permusuhan yang mengikat, namun kenyataan sudah mati di bawah serulingnya.

Malah Sutouw Ci-ko yang membuka kesunyian, katanya tertawa, “Kenapa kau? Begitu gelisah dan murung kelihatannya. Sebetulnya kalau kau tidak turun tangan ganas, mereka bakal bunuh kau.”

Thian-hi tertawa dibuat-buat, sahutnya, “Tapi mereka tak punya dendam permusuhan dengan aku. Seharusnya aku hanya memberi hajaran setimpal saja kepada mereka, tapi aku tak kuasa.”

“Soal itu tak perlu diperbincangkan lagi, yang terang sekarang kita sudah berhasil menjebol rintangan pertama. Depan sana tanpa rintangan lagi, setelah lewat Giok-bun-koan tanah nan luas itu adalah duniaku sendiri.”

Thian-hi berdaya untuk melegakan hati, katanya, “Sungguh aku kagum dan ketarik sekali, sejak kecil sudah hidup bebas dan berderap di padang pasir nan luas segar.”

“Apa benar-benar? Kalau begitu lekaslah jalan lebih cepat lebih baik.”

Bersama mereka pecut kuda lalu membedal bagai terbang ke depan. Hari kedua hampir magrib mereka sudah tiba di luar perbatasan Giok-bun-koan, dari jauh pintu gerbang sudah kelihatan.

Thian-hi menjadi girang, tempat yang dituju sekarang sudah tiba, masa depan bakal langgeng tanpa mengalami berbagai kesukaran. Tengah ia berpikir2, Sutouw Ci-ko berkata, “Lekas! Dik! Mari berlomba, siapa lebih dulu sampai disana!” tanpa menanti jawaban ia keprak kudanya lebih dulu.

Sudah tentu Thian-hi tak mau ketinggalan, cepat iapun congklang kudanya memburu dengan kencang. Waktu hampir sampai di pintu gerbang ia berhasil mengejar Sutouw Ci-ko, mereka lari jajar, baru saja hampir menerobos lewat pintu gerbang, sekonyong-konyong sesosok bayangan abu-abu meluncur turun dari tengah udara, segelombang angin pukulan telapak tangan seketika menyurut mundurkan Thian-hi dan tunggangannya.

Menegak alis Hun Thian-hi, amarahnya berkobar gesit sekali ia mengendalikan tunggangannya lalu memandang ke depan, kiranya adalah Jan-teng Lo-jin.

Dalam pada itu Sutouw Ci-ko sudah membedal lewat pintu gerbang Giok-bun-koan, tiba-tiba ia tidak dengar Thian-hi mengejar datang, dengan kaget ia berpaling dan menarik tali kekangnya, tunggangannya berdiri dengan kedua kaki belakang dan bebenger panjang, sedikit gunakan tenaga ia putar haluan kudanya membalik. Tampak Bun Thian-hi tengah dirintangi seseorang disana, cepat ia memburu balik.

Setelah dekat terlihat Thian-hi tetap duduk di atas kuda sedang berhadapan dengan seorang tua ubanan, orang tua itu pejamkan mata dan duduk bersila di tanah. Hun Thian-hi terlongong ditempatnya, cepat ia mendekat dan bertanya, “Dik! Siapakah orang ini? Dia menghalangi kau!”

“Beliau adalah Jan-teng Lojin! Dia….”

Pelan-pelan situa Pelita membuka mata, katanya, “Hun Thian-hi, janjimu terhadapku tempo hari kau buang kemana lagi?’

Tersipu-sipu Thian-hi melompat turun terus menyembah, sahutnya, “Cianpwe, Wanpwe terdesak oleh keadaan, terpaksa harus kulakukan!”

“Tempo hari siapa yang bantu kau meloloskan diri dari kepungan?” jengek situa Pelita, Ang- hwat-lo-koay bukan?”

Hun Thian-hi manggut-manggut dengan hambar, ia insaf bawa hari ini dirinya bakal menemui kesukaran lagi. Mengandal tenaga pukulan situa Pelita tadi, jelas dirinya bukan tandingan.

Dengan murka situa Pelita mendengus, serunya, “Sebetulnya aku masih menaruh setitik harapan kepadamu, tapi sekarang aku jadi menyesal kenapa tempo hari aku tidak beri hukuman mati saja. sehingga dalam Bulim terjadi gelombang huru hara yang berkepanjangan!”

Hun Thian-hi terbungkam. Dari samping Sutouw Ci-ko menyela bicara, “Lo-cianpwe, kabar angin di Kangouw tidak boleh dipercaya!”

Tanpa melirik terhadap Sutouw Ci-ko, situa Pelita berkata kepada Hun Thian-hi, “Dulu melihat kau mengalami bencana, bermusuhan lagi dengan Bu-bing Loni, aku menaruh kasihan dan sayang akan bakat dan kepintaranmu, baru kuberi petunjuk sebuah jalan penerangan, sekarang….” ia berhenti sejenak lalu meianjutkan, “Dulu aku kebacut melepas budi kepada kau, maka hari ini akupun tidak sudi memukulmu mampus, cepat kau kembali! Tidak kuijinkan kau keluar dari Giok- bun-koan!”

Bagai mendengar guntur dipinggir telinga Hun Thian-hi tersentak kaget dan menjublek ditempatnya. Sutouw Ci-to juga tertegun. sejak mula ia tidak senang melihat sikap situa Pelita yang begitu sombong, ia berteriak dengan keras, “Itu tidak mungkin!” Hun Thian-hi menghirup hawa, dia pandang Sutouw Ci-ko memberi tanda supaya ia tidak banyak bicara, ia menyembah lagi serta berkata kepada situa Pelita: Cianpwe, Hun Thian-hi memikul dosa yang pantas dihukum mati. Tapi Cianpwe harus beri kesempatan kepadaku untuk mencuci bersih nama baikku. Aku percaya dosa Hun Thian-hi belum setimpal sampai harus dihukuan mati, Bila Cianpwe bijaksana. harap memberi jalan kepada Wanpwe.”

Situa Pelita mendelikkan matanya, makinya, “Dosa2mu pantas aku melenyapkan jiwamu, Keputusan sudah kuambil tidak mungkin digugat lagi!”

Hun Thian-hi tertawa tawar, pelan-pelan ia bangkit serta katanya, “Selama hidup ini baru sekarang Hun Thian-hi minta2 kepada orang, soalnya sakit hati keluarga belum terbalas, tuduhan2 penasaran belum kuhimpas….” sampai disini ia merandek, ia tahu bila dia tak boleh keluar dari Giok-bun-koan, jelas Sutouw Ci-to juga pasti tak mau tinggal pergi begitu saja.

Tiba-tiba ia tertawa melolong, serunya, “Cianpwe, jiwa Hun Thian-hi tidak perlu dibuat sayang. Aku tahu bila aku kembali kaum Bulim di Tionggoan pasti tidak mau melepas aku. Tapi Sutouw-cici tidak seharusnya ikut kerembet dalam persoalan ini, Cianpwe harus memberi ijin supaya aku dapat mengantarnya keluar Giok-bun-koan, sampai di Thian-san!”

Situa Pelita merenung sesaat lamanya. sahutnya dingin, “Kalau mau pergi dia bisa jalan sendiri, aku tidak sudi banyak usil!”

Sutouw Ci-ko tertawa kepada Hun Thian-hi. katanya, “Dik, kita senasib sepenanggungan. meski bukan saudara sekandung. namun hubungan kami lebih erat lebih kental, kalau kau tidak bisa keluar, aku pun takkan tinggalkan kau, kenapa kau minta2 kepada orang!”

Sekonyong-konyong berkobar hawa amarah dirongga dada Hun Thian-hi, kalau dirinya tidak bisa keluar pasti Sutouw Ci-ko bakal ikut berkorban karena dirinya, dengan murka ia berkata pada Situa Pelita, “Masa kau tidak punya perikemanusiaan?”

“Perikemanusiaan?” teriak Situa Pelita, matanya berkilat-kilat, “Ang-hwat-lo-koay bunuh tujuh puluh lebih anggota keluargaku. dimana perikemanusiaannya?”

Hun Thian-hi menggerung gusar, seutas sinar merah melayang ditengah udara, seruling ditangannya mendadak meluncur menutuk ditengah alis Situa Pelita.

Situa Pelita terloroh-loroh dingin, tubuhnya melejit terbang berputar diudara. sebat sekali ia ulur tangan kanan, cukup dengan gerak ulur odot tangannya itu, ia sudah mendesak mundur Hun Thian-hi.

Hun Thian-hi maju menyerang lagi dengan sengit, seluruh tenaga dikerahkan untuk melancarkan Thian-liong-cit-sek. laksana seekor naga terbang menari tubuhnya juga melejit mumbul ke atas, seruling ditangannya laksana ular hidup merangsak dengan gencar. Tapi dengan unjuk tawa dingin, kedua tangan situa Pelita ditarikkan rapat, tenaga pukulannya cukup menggetar mundur Hun Thian-hi lagi.

Urusan sudah sedemikian lanjut, tanpa banyak pertimbangan lagi segera Sutouw Ci-ko melolos pedang iknut menyerang kepada situa Pelita.

Situa Pelita menggertak keras, kedua tangannya melintang terus didorong ke depan, segelombang angin topan bagai hujan badai menerpa ke arah mereka berdua, kontan mereka terdesak mundur sempoyongan tiga tombak jauhnya. Hun Thian-hi berteriak, “Cianpwe, apa kau harus membiarkan Wanpwe tenggelam dalam tuduhan penasaran ini?”

Situa Pelita tidak menjawab.

“Dik,” ujar Sutouw Ci-ko, buat apa kau banyak bacot terhadapnya, kalau tidak bisa terjang keluar, pasrah nasib saja.”

Hun Thian-hi terpekur di tempatnya, rada lama kemudian baru mengutik kepala berkata pada Sutouw Ci-ko, “Ci-ko cici, kau keluar seorang diri dari Giok-bun-koan, aku pasti berusaha untuk menyusul kau!”

Sutouw Ci-ko tertawa-ewa, sahutnya menggeleng, “Apa-apaan katamu ini, tidak bisa!”

“Cici,” ujar Thian-hi rawan sambil menunduk, “Inilah sebuah permintaanku pada akhir hidup ini, masa kau tak sudi melulusi permohonanku ini?”

“Tidak,” sahut Sutouw Ci-ko tersenyum hambar, “urusan lain boleh dipertimbangkan, soal ini tidak tawar menawar lagi.”

Thian-hi menghela napas, ujarnya, “Beliau pernah tanam budi kepada aku.” “Tapi, mari kita coba sekali lagi!” ajak Sutuow Ci-ko sambil tersenyum.

Tegang hati Thian-hi, katanya, “Baiklah akan kucoba sekuat tenaga, harap Cici mundur rada jauh!”

Setelah Sutouw Ci-ko mundur, Thian-ki mulai mengerahkan tenaga mengempos semangat, seluruh kekuatannya dipusatkan pada seruling ditangan kanan, dimana ia bergerak untuk kesekian kalinya ia lancarkan jurus Pencacat langit pelenyap bumi. Cahaya merah dadu berkembang melebur udara terus menerjang ke arah situa Pelita. Situa Pelita bergelak tawa dengan murkanya, seenteng asap tubuhnya melejit tinggi mengembangkan Ginkangnya yang tinggi tanpa kurang suatu apapun diantara gubatan cahaya merah dadu itu.

Ditengah gelak tawanya, tiba-tiba ia menukik menerkam dengan rangsekan hebat. Thian-ki terkejut, serulingnya menggetar hebat melancarkan salah satu jurus dari Gin-ho-sam-sek yang terakhir, Tam-lian-hun-in-hap yang ampuh dan rapat, sembari membela diri ia balas menyerang akan rangsekan Situa Pelita yang lihay ini.

Tapi dasar kepandaian terpaut terlalu jauh, betapa pun Thian-hi sudah kembangkan kemampuannya, tahu-tahu ia merasa pergelangan tangan kesemutan, seruling ditangannya sudah terampas oleh situa Pelita, bukan sampai disitu saja sepak terjang situa Pelita, dengan seruling rampasannya ia menutuk ke jalan darah Hou-ciat-hiat Thian-hi. Thian-hi tahu dirinya takkan luput dari kematian, dalam detik-detik menentukan itu ia sudah pejamkan mata saja menanti ajal. Tapi serambut sebelum seruling ditangannya mengenai sasarannya mendadak situa Pelita membatalkan niatnya.

Dengan jumpalitan ia melesat mundur, dengan seksama ia amati seruling di tangannya, lalu katanya sambil membuang seruling ke arah Hun Thian-hi, “Sebetulnya siapapun yang berani menggunakan jurus Pencacat langit pelenyap bumi atas diriku harus kubunuh. Kali ini kau menggembol Hwi-hong-siau, mungkin kau punya hubungan erat dengan majikan Ngo-hong-lau, memandang muka beliau kuampuni jiwamu. Selanjutnya awas kalau kau berani menggunakan jurus ganas ini, takkan kuberi ampun lagi!” Hun Thian-hi menjemput kembali serulingnya lalu berdiri menjublek. “Thian-hi, apa kau takut mati?” tanya Sutouw Ci-ko sesaat kemudian. Dengan tertawa sombong Thian-hi menjawab, “Mana aku takut mati!”

“Lalu kenapa sikapmu begitu bimbang. Kalau tidak bisa keluar Giok-bun-koan, mari kita terjang balik ke Tionggoan, seumpama mati harus secara gemilang!”

Sungguh haru perasaan Thian-hi, dengan tertawa rawan ia berkata kepada Situa Pelita, “Dulu kau tanam budi kepadaku, kebaikanmu itu takkan kulupakan. Tapi peristiwa hari ini bilamana Hun Thian-hi masih tetap hidup, akan datang suatu ketika bakal menuntut balas.” ~setelah berkata bersama Sutouw Ci-ko ia putar balik menunggang kuda.

Dengan murung Situa Pelita angkat kepala memandang punggung mereka semakin jauh.

Hatinya mulai menyesal, namun pikiran lain lantas menghibur sanubarinya, dengan putar balik ini cepat atau lambat mereka bakal menempuh jalan kematian. Tetapi gadis yang bernama Ci-ko itu, membuat hatinya kurang tentram.

Sepanjang jalan ini Thian-hi berdua tidak banyak bercakap lagi, entah berapa jauh sudah mereka tempuh, akhirnya Sutouw Ci-ko membuka kesunyian, “Thian-hi! Kau memikul dendam kesumat keluarga, betapapun harus tetap hidup, kalau kau dapat hidup terus, seumpama aku harus berkorban juga rela.”

Tergugah perasaan Thian-hi, katanya tertawa: Cici, kenapa kau berkata begitu, bila kau mati, aku pun tak ingin hidup sebatangkara.”

Sutouw Ci-ko tertawa hambar tanpa bicara, tiba-tiba mukanya berubah tegang memandang ke depan. Tampak di depan sana mendatangi serombongan penunggang kuda, itulah rombongan Kim-i-kian-khek.

Begitu melihat mereka berdua Kim-i-kiam-khek dan lain-lain, menjadi melongo di tempat duduknya.

Thian-hi hanya mendengus saja, bersama Sutouw Ci-ko mereka maju lebih lanjut. Setelah dekat, berubah air muka Kim-i-kiam-khek, seringainya sinis, “Sungguh besar nyali kalian…. Seluruh tokoh kosen dari Tionggoan sudah memburu tiba, kalian berani putar balik.”

“Siapa diantar kalian yang berani maju!” demikian tantang Hun Thian-hi.

Tiada seorang pun yang berani tampil ke depan. Sudah tentu siapa yang berani mengantar jiwa secara konyol di bawah serangan ganas Thian-hi.