Badik Buntung Bab 09

 
Bab 09

Thian-hi menghela napas tanpa bicara. Sungguh ia sangat kejut akan kepandaian Ciang-ho-it- kaoy yang begitu lihay dan tinggi, hatinya dirundung pertanyaan mengapa Buah ajaib yang merupakan benda mujarab, sebanyak enam buah tertelan ke dalam perutnya tidak pernah menunjukkan keampuhannya? Jelas dirinya segera bakal dibunuh oleh Cukat Tam.

Terdengar Gwat Long dan Sing Poh menghasut lagi dari samping, “Cukat Cianpwe, lekas bunuh!”

Ciang-ho-it-koay masih ingin bertanya beberapa persoalan dengan Thian-hi, dengan sikap dingin ia berpaling serta dengusnya, “Kenapa kalian berdua begitu ingin membunuhnya. Apakah kalian tahu kenapa ia membunuh guru kalian?”

Gwat Long dan Sing Poh tergagap tak mampu buka suara, akhirnya Gwat Long menjawab tersendat, “Hun Thian-hi cukup licik dan licin, kita….”

“Kalian tak perlu banyak cerewet!” bentak Ciang-ho-it-koay. Lalu ia berpaling lagi ke arah Thian-hi, tanyanya, “Kenapa kau bunuh Giok-yap Cinjin, apa diantara kalian punya dendam permusuhan?”

Hun Thian-hi tertawa ewa. sahutnya, “Kau tak perlu banyak tanya lagi.”

Tiba-tiba Ciang-ho-it-koay bergerak begitu cepat sampai jak bisa diikuti pandangan mata tahu- tahu ia sudah menekan punggung Thian-hi, ancamnya, “Bagaimana! Kau mau bicara tidak?” Hun Thian-hi pejamkan mata tanpa bersuara, ia insaf bahwa jiwanya hanya tergantung dalam satu dua detik saja, gelombang pikiran kenangan lama terbayang dalam benaknya. Mendadak ia seperti mendengar petuah Thian-cwan Taysu, “Sekarang Siau-sicu tengah terfitnah dan penasaran, hanya bersabarlah baru kau dapat mencuci diri, hanya bersabar baru kau akan berhasil menuntut balas bagi sakit hati ayahmu, hanya kesabaranlah yang tidak akan menyia-nyiakan harapan besar Soat-sun-su-gou berempat terhadap dirimu!” — tersentak hatinya, samar-samar seperti terlihat sebuah wajah buram tengah tertawa kepada dirinya.

Sanubari Hun Thian-hi tengah bergolak, terpikir olehnya dengan cara kematiannya ini hanya meninggalkan buah tertawaan orang saja, terasa olehnya bahwa Mo-bin Suseng saat mana tengah tertawa lebar.

Melihat Thian-hi tegak tak bergeming, Ciang-ho-it-koay menjadi kewalahan, katanya, “Baik kau tak mau bicara aku pun tak perlu memaksa. Aku akan menyelenggarakan Bu-lim-tay-hwe, disaat itulah kujatuhkan hukuman mati kepada kau, akan kulihat apa kau tetap bandel.”

Timbul harapan hidup Thian-hi, katanya membuka mata, “Cianpwe, aku punya sebuah cerita apa kau sudi mendengar?”

“Mana aku punya tempo mendengar ceritamu!”

“Benar-benar! Cukat Cianpwe jangan sekali2 tertipu oleh dia.” Gwat Long Sing Poh tetap menghasut.

Cukat Tam melirik ke arah mereka, terlihat olehnya sikap dan mimik wajah mereka yang rada aneh, dengusnya berkata, “Kalian sangka aku bisa tertipu olehnya? Justru aku ingin mendengar.”

— lalu ia berkata kepada Thian-hi, “Coba kau mulai.”

Terpaksa Gwa Long dan Sing Poh mandah gugup dalam hati. Jika Hun Thian-hi benar-benar menceritakan duduk perkara sebenar-benarnya, mungkin siapapun paling tidak bakal percaya tiga bagian.

Sesaat Thian-hi termenung lalu berkata, “Itulah kisah tentang Badik buntung, apakah Cianpwe tahu tentang Badik buntung?”

“Katakan terus jangan bertanya kepada aku!” desak Ciang-ho-it-koay.

“Semua orang menyangka bahwa di dalam Badik buntung itu ada tersembunyi rahasia Ni-hay- ki-tin, setiap orang ingin memiliki….”

Sambil mendengar cerita Thian-hi Ciang-ho-it-koay melirik ke arah Gwat Long Sing Poh, dilihatnya rona wajah mereka yang tidak wajar, persoalan terbunuhnya Giok-yap Cinjin tentu punya latar belakang yang sulit dipecahkan, segera ia bertanya, “Sebetuhnya cara bagaimana kematian guru kalian?”

Berubah pucat wajah Gwat Long Sing Poh, kata mereka, “Cianpwe, Sam-lo-chit-cu bisa menjadi saksi bahwa Hun Thian-hilah pembunuhnya, dengan mata kepala sendiri mereka melihat Hun Thian-hi melolos Badik buntung dari dada guru kita.”

Ciang-ho-it-koay menjadi gelisah dan rada curiga, jelas kata-kata Gwat Long ini bukan obrolan belaka, katanya kepada Hun Thian-hi, “Ceritamu tak perlu diteruskan, sekarang juga kita menuju ke Bu-tong, kau punya maksud hendak membuktikan bahwa Giok-yap Cinjin bukan kau yang membunuh, itu pun baik, tapi ada orang melihat maka tiada halangan kau membela diri di hadapan mereka” Sebetulnya Thian-hi hendak menceritakan apa tujuan si pembunuh Giok-yap Cinjin, tapi niatnya ini menjadi batal karena Ciang-ho-it-koay tak ingin mendengar lebih lanjut. Tak terasa ia menghela napas rawan. Tapi ia masih punya harapan katanya kepada Cukat Tam, “Kau ingin tahu kenapa aku hendak mencari kau?”

Hati Ciang-ho-it-koay tengah gelisah, katanya tak senang, “Nanti bicara di Bu-tong, jangan cerewet lagi.”

Hun Thian-hi bungkam.

Mendadak ditengah angkasa terdengar pekik nyaring dari burung dewata. Thian-hi terperanjat dan mendongak, pikirnya, “Hari ini baru ratusan hari, kenapa Bu-bing Loni datang mencari kemari?”

Cukat Tam sendiri juga sangat terkejut.

Tak lama kemudian tampak dua burung dewata pelan-pelan hinggap di tanah, Bu-bing Loni, Ham Gwat, Siau Hong dan Su Giok-lan muncul bersama.

Dengan tajam Hun Thian-hi mengawasi mereka, tampak olehnya Su Giok-lan berapi-api menatap dirinya. Sebaliknya sikap Ham Gwat tetap angkuh dan dingin, dengan kilatan tajam dingin Bu-bing Loni menyapu pandang seluruh hadirin.

Diam-diam bercekat hati Cukat Tam, kenapa nikoh tua inipun datang, untuk apakah ia kemari, demikian ia membatin dalam hati.

Sebaliknya Bu-bing Loni sendiri juga merasa heran bahwa Ciang-ho-it-koay Cukat Tam juga berada disitu. Selamanya Ciang-ho-it-koay bersemajam di Tiang-pek-san, selamanya jarang mengembara di daerah Tionggoan. Soat-san-su-gou pernah berpesan kepada Hun Thian-hi supaya pergi ke Tiang-pek-san mencari It-ki dan It-koay, sekarang Ciang-ho-it-koay sudah muncul tapi dilihat gelagatnya sedang bertengkar dengan Hun Thian-hi.

Lubuk hati masing-masing sedang melayangkan pikiran sendiri, sesaat mereka jadi terlongong hingga tak bersuara.

Su Giok-lan berpaling memandang ke arah Bu-bing Loni, tampak Bu-bing Loni manggut- manggut. Su Giok-lan lantas tampil ke depan katanya kepada Hun Thian-hi, “Hun Thian-hi, tebuslah jiwa engkohku!” sembari kata ia melolos pedang panjang.

Tanpa bicara Hun Thian-hi mengawasi Su Giok-lan lekat-lekat, tak tahu dia bagaimana perasaan hatinya.

Keadaan Cukat Tam menjadi serba sulit, dia tak mau bermusuhan dengan Bu-bing Loni, tapi betapa pun Hun Thian-hi tidak boleh ayal saat ini, karena masih banyak persoalan yang perlu dia tanyakan kepada Hun Thian-hi.

Melihat Hun Thian-hi diam tak bergerak, Su Giok-lan menjadi dongkol, hardiknya, “Cabut senjatamu! Bukankah kau punya Badik buntung yang tajam luar biasa? Masa kau takut menghadapiku?”

Dengan mendelong Hun Thian-hi mengawasi Su Giok-lan, dalam hati ia tengah berpikir, tentu ilmu silat Su Giok-lan sudah mencapai banyak kemajuan, tapi meski ia merasa sangat kasihan dan berhutang budi karena kematian Su Cin, namun betapapun kejadian itu bukan kesalahannya. Su Giok-lan mendesak maju, ujung pedangnya menuding Hun Thian-hi, serunya, “Bagaimana?

Kau takut mati?”

Lekas-lekas Cukat Tam tampil ke depan berkata kepada Bu-bing Loni, “Bu-tong Ciangbun Giok- yap Cjnjin terbunuh oleh Hun Thian-hi, apakah kau tahu?”

Rada berubah muka Bu-bing Loni, sekian lama ia menatap Hun Thian-hi, lalu melerok ke arah Cukat Tam.

Melihat sikap Bu-bing Loni rada kurang percaya, dan pelerokan matanya itu pertanda pertanyaan terhadap dirinya, ini betul-betul rada menghina dan tidak menghargai dirinya, maka dengan menjengek ia berkata, “Oleh karena itu aku ada beberapa persoalan yang hendak kutanyakan kepadanya!”

Bu-bing Loni menyeringai dingin, pelan-pelan ia berpaling mengawasi Hun Thian-hi lagi. Terdengar Su Giok-lan mendengus, katanya kepada Hun Thian-hi, “Lekas keluarkan senjatamu.

Murid Bu-bing Loni selamanya tidak bunuh kaum keroco yang tak melawan.”

Hun Thian-hi mandah tertawa tawar, ujarnya, “Nona Su, sekarang aku betul-betul tidak tahu harus berbuat apa, berikan aku kesempatan berpikir!” habis berkata ia pejamkan mata merenung.

Melihat sikap Hun Thian-hi ini Su Giok-lan salah sangka, anggap orang tengah mempermainkan dirinya, keruan berkobar amarahnya, spontan ia melangkah maju terus menampar sekuatnya dimuka Hun Thian-hi.

Hun Thian-hi menggeliat berusaha hendak menyingkir, tapi Su Giok-lan yang dihadapi sekarang jauh berbeda dibanding dulu, “plak!” tahu-tahu pipinya sudah bengap dan panas,. dari ujung mulutnya merembes keluar darah segar.

Sungguh kejut Thian-hi bukan kepalang, matanya membelalak gusar, rasa gusar yang menggelora terpancar dari sinar matanya menatap Su Giok-lan.

Su Giok-lan menyeringai dingin, jengeknya: Cabut senjatamu. Terhina oleh kaum hawa apakah kau masih takut mati?”

Hun Thian-hi malah bergelak tawa, serunya, “Segala akibat yang menimpa diriku hari ini semua justru merupakan anugerah dari paman dan kalian bertiga. Engkohmu wafat di tangan Leng Bu, memang harus kuakui ada sebagian karena diriku, tapi hatimu lebih jelas kenapa dan sebab apa ia sampai bertengkar dengan Leng Bu, sebagian besar adalah karena dirimu. Aku telah bunuh Leng Bu menuntut balas bagi engkohmu, hal itu sudah merupakan keuntungan bagi kau, sekarang….”

“Omong kosong,” sentak Su Giok-lan dengan berang, “Cabut senjatamu!”

“Cabut senjata? Haha!” Thian-hi bergelak tawa lagi, “Badik buntung sudah terjatuh ke tangan Partai Merah, kalau kau berkukuh hendak bunuh aku, ilmu silatku sekarang tak ungkulan melawan kau, silakan kau bunuh aku saja. Kenapa pura-pura main gertak segala menyuruh aku cabut senjata, asal kau berani bertanggung jawab kepada nularimu sendiri silakan turun tangan!”

Su Giok-lan menjadi kememek, ia berdiri menjublek tak kuasa turun tangan.

Berkilat sinar mata Bu-bing Loni, ia tahu sehari ia tidak bunuh Hun Thian-hi kelak tentu meninggalkan bibit bencana bagi dirinya, sudah lama ia memperhitungkan, sampai Soat-san-su- gou pun tak dipandang sebelah matanya, namun justru ia menjadi keder dan gelisah menghadapi sinar mata Hun Thian-hi yang berkilat mengandung keteguhan dan kekuatan hatinya. Meski ilmu silat Hun Thian-hi sekarang masih rada rendah, tapi kelak pasti merupakan musuh tangguh yang sulit dihadapi.

Su Giok-lan menunduk diam, lubuk hatinya merasa kurang tentram, kalau dia mau dengan mudah ia dapat bunuh Hun Thian-hi, tapi ia merasa sekarang dia tak bisa berbuat begitu. Tapi kalau sekarang ia tidak turun tangan, bagaimana sikap Bu-bing Loni selanjutnya terhadap dirinya? Akibatnya sungguh ia tidak berani membayangkan.

Hati Su Giok-lan sedang gelisah dan sangsi. Adalah hati Bu-bing Loni gusar bukan main.

Ciang-ho-it-koay tidak tahu bahwa Bu-bing Loni pernah mengadakan janji dengan Soat-san-su- gou, hatinya pun bertanya-tanya kenapa sinar mata Bu-bing Loni dirundung nafsu membunuh yang begitu tebal, tapi kenapa tidak segera turun tangan sendiri? Selamanya Bu-bing Loni tidak suka pinjam tangan orang lain untuk menjatuhkan vonisnya.

Bu-bing Loni menggeram lirih, tahu dia bahwa Su Giok-lan sekarang takkan, mau turun tangan, maka dengan dingin ia mengancam, “Giok-lan! Dalam jangka tiga hari ini, kau harus serahkan batok kepala Hun Thian-hi kepadaku, kalau tidak hm, kau sendiri juga tahu!” — Selesai terkata bersama Ham Gwat dan Siau Hong terus tinggal pergi naik burung dewata.

Dengan mendelong dan perasaan hampa Su Gio-lan mendongak mengawasi bayangan Bu-bing bertiga menghilang dikejauhan, dia tahu apa yang menjadi perkataan Bu-bing tentu akan dilaksanakan sesuai dengan kehendaknya. Kalau tempo yang ditentukan sudah tiba, mohon ampun atau keringanan pun takkan berguna.

Melihat Bu-bing tinggal pergi Cukat Tam menjadi girang, tanpa Bu-bing hadir disini bukankah dirinya yang akan merajai gelanggang? Segera ia berseru pada Thian-hi, “Mari berangkat!”

“Siapa berani membawa dia!” sela Su Giok-lan lari kesamping.

Melihat Su Giok-lan berani merintangi dirinya Cukat Tam menjadi nekad, jengeknya, “Budak lemah, jangan kau tidak tahu diuntung, Suhumu sudah lama pergi!”

Su Giok-lan mencebir bibir, jengeknya, “Orang lain takut padamu, tapi aku tidak!”

Cukat Tam terloroh-loroh, serunya, “Sombong benar-benar budak busuk kau ini. Selama hidup ini Cukat Tam belum pernah ketemu budak kecil berbau pupuk berani kurang ajar terhadap aku.”

“Hari ini justru telah kau temukan.” semprot Su Giok-lan berani.

Ciang-ho-it-koay mengira dengan menyebut namanya saja cukup membuat Su Giok-lan gentar dan mundur teratur, siapa nyana Su Giok-lan ternyata lebih bandel dan nekad. Dalam hati ia jadi membatin; ’seumpama Bu-bing hadir disini juga belum tentu aku takut, terpaksa aku hari ini harus belajar kenal Hui-sim-kiam-hoat betapa hebat dan lihay, katanya, “Kepandaianmu Hui-sim-kiam- hoat dari Bu-bing Loni terkenal di seluruh dunia, hari ini biarlah aku membuka mataku.”

Membeku dingin wajah Su Giok-lan, kelihatan rasa dongkol dan gemes yang tak terlampias darahnya semakin bergelora, dengan pekik panjang segera ya bergerak sebat sekali, ujung pedangnya meluncur dari samping menusuk jalan darah Ki kay-hiat didada. Cukat Tam. Cukat Tam tertawa besar, laksana angin lesus badannya berputar, tahu-tahu ia melejit kesamping kiri, kedua jari tengahnya langsung menutuk ke Nau-hu-hiat di belakang batok kepala Su Giok-lan.

Gesit sekali Su Giok-lan membalikkan pedang menangkis, gerak pedangnya berubah menjadi jurus Siu-li-kan-kun, sinar pedang berkembang melebar terus mendesak dan merabu kepada Cukat Tam.

Cukat Tam terdesak mundur jumpalitan ke tempat asal.

Gebrak pertama ini berlangsung dalam kilatan waktu saja, namun kecepatan gerak serang menyerang sungguh sangat cepat sekali. Diam-diam kedua belah pihak maklum bahwa hari ini masing-masing ketemu lawan tangguh.

Sejak dibawa pergi Bu-bing Loni, Su Giok-lan telah menelan Ho-siu-oh yang berusia ribuan tahun, digembleng selama seratus hari, Hui-sim-kiam-hoat boleh dikata sudah tercangkok dalam sanubarinya. Apalagi Bu-bing Loni selalu was-was, entah malam atau siang selalu dibayangi oleh rasa ketakutan yang luar biasa. Maka cepat-cepat ia bawa Su Giok-lan untuk mencari Hun Thian- hi, tak nyana disini ia kebentur dengan Cukat Tam.

Hui-sim-kiam-hoat merupakan ilmu pedang tunggal yang paling digdaya tiada keduanya dikolong langit, dengan gabungan Soat-san-su-gou pun tak kuasa menghadapinya, maka dapatlah dibayangkan betapa hebat dan lihay perbawanya.

Diam-diam Cukat Tam sendiri gelisah, seorang gadis kecil saja sudah begitu lihay permainan pedangnya, apalagi kalau Bu-bing sendiri yang turun tangan, terang dirinya bukan tandingannya, terpikir sampai disini kontan ia jatuh semangat.

Su Giok-lan sendiripun baru pertama kali ini memainkan Hui-sim-kiam-hoat, namun dalam gebrak serang menyerang kilasan waktu itu ia sudah dapat merasakan Lwekang Cukat Tam yang tinggi dan kokoh kuat. Kedua jari tutukan Cukat Tam yang mengancam jalan darahnya tadi membawa kesiur angin yang tajam laksana ujung golok, kalau dirinya tidak mengandal gerak kecepatan pedangnya, mungkin sejak tadi dirinya sudah roboh.

Begitulah hati masing-masing sudah waspada dan meningkatkan perhatian, siapapun tiada yang berani sembarangan bergerak menyerang lebih dulu.

Cukat Tam mendengus, diam-diam ia berpikir; mengandal kedudukan dan ketenaran namaku kenapa hari ini aku gentar menghadapi budak kecil ini, kelak masa aku masih bisa berdiri tegak dikalangan dunia parsilatan? Karena pikirannya ini segera ia bergerak, sedikit menekuk dengkul serempak ia gerakkan kedua telapak tangannya memukul kepada Su Giok-lan.

Ciang-ho-it-koay sudah puluhan tahun malang melintang di Kangouw, jelas sekali kepandaian. silatnya jauh lebih tinggi dari Su Giok-lan, kalau gebrak tadi mereka kelihatan berimbang itu bukan lain sebab Cukat Tam rada sangsi dan gentar menghadapi Bu-bing Loni, apalagi Su Giok-lan bergerak lebih dulu mengambil inisiatif menyerang. Sekarang setelah hatinya mantap, meski Su Giok-lan kembangkan Hui-sim-kiam-hoat, namun selalu terdesak dan mundur.

Begitulah dengan menghardik keras, kedua pukulan Cukat Tam berubah seperti angin lesus laksana sebuah tonggak besar menerpa ke arah Su Giok-lan. Namun penjagaan permainan pedang Su Giok-lan memang cukup ketat dan rapat sekali, kontan ia terpental terbang setombak lebih ke belakang. Tapi begitu kaki menyentuh tanah, gesit sekali laksana burung walet kakinya menjejak terus melejit tinggi, pedang ditangannya melancarkan Tian-kong-jong-pit, inilah salah satu jurus terhebat dari Hui-sim-kiam-hoat, tahu-tahu ujung pedang telah memancah kemuka dan dada Cukat Tam.

Terdengar Cukat Tam mendehem seperti lenguh sapi. tubuhnya berputar lagi seperti gangsingan. Ditengah jalan pedang Su Giok-lan rada merandek terus dituntun balik dengan sejurus Go-gui-toan-gwat, beruntun menutuk kedua biji mata Cukat Tam.

Dasar kepandaian Cukat Tam memang jauh lebih tinggi, ringan sekali ia angkat tangan kiri melintang menepuk ke arah batang pedang Su Giok-lan yang menyerang tiba, berbareng tangan kanan menutuk jalan darah Sim-king-hiat di bawah dagu Su Giok-lan.

Su Giok-lan terdesak mundur, sekarang Cukat Tam mulai lancarkan serangan balasan yang membadai.

sedikit pun ia tidak beri kesempatan pada Su Giok-lan untuk bernapas, keruan ia terdesak di bawah angin dan mundur.

Hun Thian-hi berpeluk tangan menonton, tahu dia bahwa Su Giok-lan bakal kalah, namun dia tak kuasa maju membantu. Gwat Long dan Sing Poh selalu mengawasi gerak geriknya dari samping.

Serangan Cukat Tam semakin gencar dan cepat, terdengar ia menjengek dingin, “Dengan kepandaian bekalmu ini berani kau mengudal mulut. Betapa pun hari ini aku harus hajar kau. Supaya matamu melek betapa besar dunia ini, bukan gurumu melulu yang tinggi kepandaiannya.”

Karena bicara gerak serangan Cukat Tam sedikit lamban, kesempatan ini tak disia-siakan oleh Su Giok-lan, sambil mengertak gigi, pedangnya berputar setengah lingkaran terus menusuk kelambung Cukat Tam. Tapi gerakan Cukat Tam cukup cepat, kecepatannya sungguh diluar perhitungannya, belum lagi ia berhasil menyelesaikan serangan pedangnya, tahu-tahu ulu hatinya sudah terancam oleh kepelan lawan, terpaksa ia selamatkan diri lebih dulu.

Hun Thian-hi insaf kalau Su Giok-lan kalah pasti dirinya ikut terhina, otaknya jadi berpikir dan menerawang, mendadak sebat sekali ia melejit jauh terus lari sekencangnya ke depan.

Mendadak melihat Thian-hi melarikan diri sungguh Gwat Long dan Sing Poh terkejut, “Lari kemana!” sambil membentak berbareng mereka mengejar.

Tanpa hiraukan teriakan orang Hun Thian-hi berlari semakin kencang.

Melihat Hun Thian-hi melarikan diri, Cukat Tam menjadi gugup. Tanpa hiraukan Su Giok-lan lagi dia pun menghardik keras, suaranya melengking tinggi seiring dengan tubuhnya yang medenting jauh mengejar ke arah Hun Thian-hi.

Bagi Su Giok-lan larinya Hun Thian-hi dianggap sebagai perbuatan pengecut yang membalas air susu dengan air tuba, Dia melarikan diri tanpa hiraukan dirinya lagi, saking murka air mata mengembeng dikelopak matanya, dengan gemes ia menyentak keras” tiba-tiba pedangnya bergulung balik, dengan jurus Sing-gwat-cin-hwi, bayangan pedang terpecah kedua jurusan langsung menusuk ke arah dua sasaran ditubuh Cukat Tam.

Mendengar samberan angin deras yang mengancam jiwa ini. Cukat Tam menjadi naik darah, sambil menggembor keras ia membalik tubuh, telapak tangannya bergoyang menghantam balik batang pedang Su Giok-lan. Sementara tubuhnya masih melayang ke depan terus meluncur ke arah Thian-hi.

Sun Giok-lan tahu dengan bekal Ginkangnya sekarang takkan mungkin dapat mengejar, terpaksa ia berdiri menjublek ditempatnya.

Sementara itu, Hun Thian-hi lari terus kebawah, ia belok ketimur lalu balik lagi ke arah barat, darinya pontang panting, namun kira-kira setengah li kemudian ia sudah terkejar oleh Cukat Tam.

Ringan sekali tubuh Cukat Tam meluncur turun dihadapan Hun Thian-hi, dengan pandangan mendelik ia awasi Hun Thian-hi.

Melihat takkan berhasil lolos, Thian-hi berpaling ke belakang, dilihatnya Gwat Long dan Sing Poh juga sudah menyusul tiba. Su Giok-lan tak kelihatan bayangannya, tanpa merasa ia menghela napas lega.

“Berani kau lari!” maki Cukat Tam gusar.

Hun Thian-hi mandah tertawa ewa tanpa buka suara.

Cukat Tam berludah, katanya kepada Gwat Long berdua, “Kalian ringkus dia dan gusur kembali ke Bu-tong-san!”

Baru sadia suara Cukat Tam lenyap, dari hutan sebelah sana terdengar sebuah suara berkata, “Apakah begitu gampang? Kau belum minta izin padaku bukan?”

Kontan mereka berempat terperanjat, Cukat Tam menggerung gusar, teriaknya lantang, “Siapa itu di dalam hutan!”

Seorang tua berambut merah melayang keluar. Bercekat hati Thian-hi, bagaimana mungkin dia kemari? Demikian dalam hati ia bertanya-tanya.

Cukat Tam tertawa dingin, ujarnya, “Kiranya kau. Sejak berpisah tiga puluh tahun yang lalu, tak kira masih hidup?”

Pendatang baru ini bukan lain adalah Ang-hwat-lo-co, itu tokoh nomor satu dari aliran sesat, dengan dingin ia pun pandang Cukat Tam, katanya menyeringai dingin, “Ternyata kau berani memasuki daerah Tionggoan. Hari ini ingin aku menjajal betapa maju ilmu silatmu setelah berpisah tiga puluh tahun.!”

Sudah lama Cukat Tam mendengar nama dan kepandaian Ang-hwat-lo-co, namun sedemkian jauh belum pernah saling gebrak mengadu kepandaian, segera ia pun balas mengolok dengan tidak kalah pedasnya, “Tak nyana kau pun berani muncul kembali dikalangan Kangouw.’

Ang-hwat-lo-mo menyeringai sadis, tanpa bersuara tiba-tiba badannya mencelat mumbul ke atas terus menerjang ke depan merangsek kepada Cukat Tam dengan sebuah pukulan tangan.

Cukat Tam tahu kepandaian musuh bukan oleh2 lihaynya, dengan mengerahkan tenaga segera ia balas menyerang dengan kedua kepalannya. Begitulah mereka mulai serang menyerang dengan sengit. Badan kedua orang tampak beterbangan selulup timbul secepat burung walet bermain di atas air, laksana kupu terbang menari di atas kuntum bunga, kelihatan kedua kaki masing-masing seperti tidak menyentuh tanah, namun gerak gerik mereka begitu cepat membawa kesiur angin yang cukup deras, terdengar lambaian baju pakaian mereka yang lirih ditengah deru angin pukulan yang keras. Dari samping Hun Thian-hi menonton pertempuran, diam-diam ia merasa heran, hatinya dirundung pertanyaan, dulu Arg-hwat-lo-co berusaha mencelakai jiwanya, kenapa sekarang malah menolongnya? Apakah mungkin ia punya muslihat lain lagi?

Dalam pada itu pertempuran masih berjalan dengan sengit, Hun Thian-hi hampir tak dapat mengikuti gerak tempur kedua orang, masing-masing bergerak begitu lincah seperti sikatan, licin bagai belut dan cepat seperti kilat menyamber. Tanpa terasa setengah jam telah lewat, perkelahian itu masih berlangsung dengan serunya, kedua belah masih kelihatan sama kuat, saling hantam dan sepak, masing-masing memberikan tekanan yang mengagumkan. Entah sudah berapa ratus jurus kemudian, tiba-tiba terdengar suara benturan yang rada lirih, suara itu tidak begitu keras, tapi kontan terlihat kedua orang sama-sama terpental mundur.

Kelihatan Ang-kwat-lo-co berdiri tegak sambil menyeringai dingin, sebaliknya Cukat Tam pucat pasi, matanya mendelik mengawasi Ang-hwat-lo-co.

Dengan tenang Hun Thian-hi menonton dari samping dan menanti perkembangan selanjutnya, tahulah dia bahwa Cukat Tam sudah terkalahkan, malah terluka dalam lagi.

Setelah menentramkan pernapasannya, air muka Cukat Tam rada baikan, katanya gusar kepada Ang-hwat-lo-co, “Hadiah pukulanmu hari ini, kelak pasti akan kubalas!”

Ang-hwat-lo-co menyeringai dingin, jengeknya, “Justru karena menanti kedatanganmu menuntut balas kelak maka hari ini kuampuni jiwamu.”

Cukat Tam menggeram gusar, matanya melirik ke arah Hun Thian-hi, serunya, “Jangan sombong! Sakit hati ini dalam setahun pasti kubalas.” — habis berkata terus ngacir pergi.

Sudah tentu Gwat Long dan Sing Poh menjadi ketakutan, pucat pias wajah mereka, serentak putar tubuh lantas melarikan diri. Terdengar Ang-hwat-lo-co bergelak tawa, dari jauh kedua tangannya mencengkeram kepada mereka berdua, mulutnya pun membentak, “Kemana kalian hendak lari?” berbareng kedua telapak tangan didorong lantas ditarik kembali. Terdengar Gwat Long dan Sing Poh melolong panjang terkena pukulan, setelah lari beberapa langkah akhirnya jatuh terjerambab.

Ang-hwat-lo-co menjengek dingin, katanya, “Jangan kalian pura-pura mati disitu, kalian masih berkesempatan hidup satu hari lagi. Lekas pergi!”

Dengan susah payah Gwat Long dan Sing Poh merangkak bangun, setelah mendelik gusar kepada Hun Thian-hi dengan terhuyung-huyung mereka tinggal pergi saling payang.

Bercekat hati Thian-hi, ia maklum bahwa perbuatan Ang-hwat-lo-mo ini bukan menolong sebaliknya malah semakin menjerumuskan dirinya. Perbuatan ini tidak lain akan menimbulkan rasa pertentangan kaum persilatan terhadap dirinya sehingga dia tak mungkin tegak berdiri di pihak Cing-pay, dan lebih besar pula kepercayaan masyarakat umumnya kaum peisilatan bahwa Giok- yap Cinjin memang adalah dia yang membunuh. Kalau peristiwa hari ini tersiar luas mungkin Bun Cu-giok takkan mau percaya lagi akan keperibadiannya.

Terpikir oleh Hun Thian-hi, tanpa merasa ia menghela napas rawan.

Ang-hwat-lo-co terbahak-bahak, serunya, “Kenapa? Ku tolong kau, masa tidak senang?” Hun Thian-hi berludah dengan gusar, terus tinggal pergi. Ang-hwat-lo-co terloroh-loroh, serunya, “Kalau kau berpisah dari aku, kemana pula kau bisa pergi?”

“Seumpama harus mati akupun tidak sudi bersama kau.” semprot Hun Thian-hi gusar.

Ang-hwat-lo-co berkata, “Pertama aku melihat kau kukira kau dari aliran Cing-pay, tapi ternyata kau berani bunuh Bu-tong Ciangbun, tak lain kau pun suka mengagulkan diri saja. sia-sia kau menista golongan kita sebagai kaum sesat yang nyeleweng apa segala. 

“Hakikatnya siapa lurus dan siapa sesat sukar dibedakan bukan?”

Hun Thian-hi mendengus hidung, ia tak mau banyak bicara, langkahnya dipercepat. “Mengandal tingkah lakumu ini, apa kau masih ingin menuntut balas?” terdengar Ang-hwat-lo-

co mengolok, “anggapmu kau gampang mencari kematian?”

Tersentak sanubari Thian-hi, serta merta langkahnya berhenti, betapapun dia tidak rela mati secara penasaran. Begitu berkecimpung di kalangan Kang-ouw urusan sudah mengikat dirinya, untuk mencari kematian rasanya memang tidak begitu gampang….

Terdengar Ang-hwat-lo-co berkata, “Kudengar sakit hati ayahmu belum terbalas, apalagi kau pun harus menuntut balas bagi kematian Soat-san-su-gou bukan?”

Mendengar orang menyinggung Soat-san-su-gou berkobar amarah Hun Thian-hi, serunya gusar, “Soat-san-su-gou berempat cianpwe berkorban karena aku melancarkan jurus Pencacat langit melenyap bumi yang kau ajarkan itu. Kalau aku harus menuntut balas kecuali Bu-bing Loni langkah selanjutnya adalah kau!”

Ang-hwat-lo-co terkial-kial menggila, ujarnya, “Memang benar-benar! Semula memang aku tidak bersungguh hati mengajarkan jurus ganas itu kepada kau. Tapi kau sudah dua kali melancarkan ilmu lihay itu, kedua kalinya telah menolong jiwamu, apa kau berani tidak mengakui? Kalau dulu kau tidak lancarkan jurus Pencacat langit pelenyap bumi, kau takkan hidup sampai sekarang!”

Terbayang oleh Hun Thian-hi keadaan Waktu itu, diam-diam ia mengakui kata-kata orang memang benar-benar.

Terdengar Ang-hwat-lo-co menjengek lagi, “Sejak kau meninggalkan perguruan siapa saja yang mencari perkara kepadamu? Apakah mereka itu tokoh-tokoh yang menamakan dirinya dari aliran sesat? Bukan, kebanyakan mereka adalah kaum lurus, tapi hanya karena sebuah Badik buntung, saling berebutan, cakar mencakar bunuh membunuh, kiranya juga begitu saja mereka yang mengunggulkan dirinya sebagai kaum lurus!”

Hun Thian-hi terkancing mulutnya, tiada alasan untuk balas mendebat. Ang-hwat-lo-co meneruskan ocehannya, “Kau, justru kau tidak tahu diri dan tidak bisa lihat gelagat, kau berani mendesakkan diri masuk ke dalam golongan mereka.”

“Aku bekerja bukan karena minta belas kasihan mereka, hanya menuruti hati nuraniku saja!” semprot Thian-hi.

“Lalu kenapa kau takut berada bersama aku?” olok Ang-hwat-lo-co dengan tertawa lebar, “Aku tidak merebut Badik buntungmu secara licik atau terang-terangan. Sekarangpun aku tidak ingin melukai kau. Kau hanya takut diketahui orang lain bahwa kau berkumpul erat dengan aku!” “Memang kau ingin orang lain tahu aku berkumpul dengan kau, jelas sekali tujuanmu hendak menjerumuskan aku. Kau sendiri sudah keliwat batas kejahatan yang telah kau perbuat, kini masih ingin menyeret orang lain kejurang nista, tujuanmu nyeleweng, masih berani kau katakan hatimu suci bersih?” -Demikian Thian-hi mendebat dengan pendapatnya.

“Di seluruh kolong langit ini, sekarang aku diangkat sebagai jago nomor satu dari kalangan sesat, tapi masih ada seorang yang kutakuti!” demikian kata Ang-hoat-lo-co.

“Bu-bing Loni bukan,?” sambung Thian-hi dengan nada menghina.

Ang-hwat-lo-co manggut-manggut, katanya, “Hui-sim-kiam-hoat milik Bu-bing Loni merupakan kepandaian tunggal yang tiada taranya. Walaupun jurus Pencacat langit pelenyap bumi ciptaanku itu punya perbawa yang sangat ampuh, tapi kurasa takkan unggul melawan Hui-sim-kiam-hoat. Tapi bila kau sudi, aku bisa menunjuk sebuah jalan terang untuk kau, akibatnya kepandaian silatmu bakal jauh lebih tinggi dari kemampuan Bu-bing Loni sekarang.”

Dengan sikap dingin dan tak acuh Thia-hi pandang Ang-hwat-lo-co. rada lama kemudian ia buka suara, “Kalau mungkin, kenapa kau sendiri tidak mencobanya?”

Ang-hwat-lo-co terbahak-bahak, tanyanya menegas, “Kau sudi tidak?” Rada, tergerak hati Thian-hi, sahutnya, “Coba terangkan dulu!”

Ang-hwat-lo-co menjelaskan, “Seluruh perhatian tokoh-tokoh goblok itu sekarang tertuju kepada Badik buntung milikmu itu. Tapi rahasia tersembunyi dari Ni-kay-ki-tin tentu tak berada di dalam Badik buntung itu, kalau cdak masa tiada akhir perebutan itu selama ini? Menurut apa yang kuketahui, Wi-thian~chit-ciat-sek yang merupakan ilmu paling hebat dan digdaya pada ratusan tahun yang lalu sekarang telah muncul kembali, malah aku tahu dimana sekarang berada kalau kau dapat memohonnya, apa perlu takut tethadap Bu-bing Loni?”’ — Habis berkata ia bergelak tawa sepuasnya.

Dengan tajam Thian-hi awasi tingkah pola Ang-hwat-lo-co, katanya dingin, “Kau tahu tempat itu kenapa kau semdiri tidak mau kesana?”

Berubah serius wajah Ang-hwat-lo-co, katanya, “Jago nomor satu dari golongan sesat adalah aku, Bu-bing Loni tidak lurus juga rada nyeleweng, tapi siapakah jago Nomor satu dari golongan Cingpay?”

Thian-hi awasi terus rona wajah Ang-hwat-lo-co lekat-lekat, tak tahu dia siapa yang harus disebutkan. Apakah Giok-yap Cinjin atau Thian-cwan Taysu? Tapi dari nada ucapan Ang-hwat-lo- co terang bukan mereka adanya, lalu siapa?

Terdengar Ang-hwat-lo-co melanjutkan sambii menyengir, “Kau tak tahu bukan? Orang ini bukan Thian-cwan Taysu, juga bukan Giok-yap Cinjin, tapi adalah Ka-yap Cuncia yang menghilang pada lima puluh tahun yang lalu!”

Thian-hi terlongong sebentar, sungguh diluar sangkanya bahwa Ka-yap Cuncia adanya. Sudah lima puluh tahun lamanya Ka-yap Cuncia menghilang dari kalangan Kangouw, konon tokoh ini merupakan orang kosen nomor satu selama ratusan tahun ini, siapa nyana beliau sekarang masih hidup. Terdengar Ang-hwat-lo-co berkata dingin, “Kau tidak sangka bukan? Kiam-boh Wi-thian-chit- ciat-Kek justru berada ditangannya, kalau kau dapat bersua dengan beliau, tentu tiada seorang pun yang berani mengagulkan diri sebagai jago nomor satu.”

Thian-hi termenung, benar-benarkah ada kejadian itu? Mengandal tampang Ang-hwat-lo-co, seumpama betul mengetahui berita ini tentu takkan rela memberi tahu kepada orang lain, betapapun dia takkan rela ada tokoh lain punya kepandaian yang lebih tinggi dari kemampuan sendiri.

Ang-hwat-lo-co melanjutkan, “Sudah tentu, seumpama kau berhasil bertemu dengan beliau, belum tentu dia rela menyerahkan Wi-thian-cit-ciat-sek itu kepadamu, tapi selama hidupnya belum pernah membunuh seorang pun, kau tak perlu takut dan takkan ada bahaya.” 

Hun Thian-hi tertawa tawar, katanya, “Hakikatnya dia tiada punya alasan harus menyerahkan Wi-thian-chit-ciat-sek itu kepada aku, akupun tak perlu kesana!”

Ang-hwat-lo-co menyeringai dingin, katanya, “Apa kau mau mendapat Kiam-boh Wi-thian-chiat- chiit-ciat-sek itu?”

Melihat sikap orang diam-diam Thian-hi mempertinggi kewaspadaannya, ia tahu bahwa orang tengah mengatur tipu muslihatnya, sambil angkat alis ia menjawab, “Siapa yang tidak mau?”

Ang-hwat-lo-co manggut-manggut, katanya. “Itulah baik, sudah tentu aku punya caraku sendiri supaya Kiam-boh Wi-thian-chit-ciat-sek itu dapat kau peroleh”

“Dengan cara apa?” tanya Thian-hi.

“Sudah tentu Ka-yap Cuncia tidak semudah itu sembarang menyerahkan Kiam-boh itu kepada kau,” demikian Ang-hwat-lo-co menerangkan, “Kau mohon dan minta2 juga percuma. Kau tak perlu mengemis, berlakulah wajar supaya dia tidak tahu bahwa kedatanganmu justru karena Wi- thian-chit-ciat-sek itu, kalau, kau kesana kau harus pura-pura tidak kenal dengan dia.”

Thian-hi tahu bahwa Ang-hwat-ho-co tengah mengatur tipu muslihatnya yang keji, tapi ingin dia tahu dan menyelami tipu muslihat apa yang tengah dirancang ini, sehingga dapat mencelakai seorang tokoh kosen seperti Ka-yap Cuncia yang dijunjung sebagai jago nomor satu dari golongan Cing-pay.

Kata Ang-hwat-lo-co menyambung, “Untuk orang lain sangat sukar, tapi bagi kau adalah sangat mudah sekali!”

“Sebetulnya bagaimana aku harus bekerja?” tanya Thian-hi pura-pura tak sabaran.

Ang-hwat-lo-co melanjutkan, “Kau pura-pura tidak mengenalnya, memang dengan usiamu ini tidak mungkin mengenal dia! Jadi dia tidak merasa curiga dan berjaga-jaga terhadap kau, lantas kau gunakan Hek-liong-ling sedikit dicampurkan ke dalam minuman tehnya sudah cukup berlebihan.”

Bertaut alis Thian-hi, dia tidak tahu apakah Hek-liong-ling (sisik naga hitam) itu, tapi dari nada perkataan Ang-hwat-lo-co, tentu merupakan suatu bisa yang sangat beracun, kalau tidak mana mungkin sebagai tokoh nomor satu dari seluruh kolong langit ini begitu terkena sedikit saja lantas bakal lumpuh dan kena dibereskan. Ang-hwat-lo-co tertawa-tawa, ujarnya, “Mungkin kau tak percaya, tapi sisik naga hitam itu kutemukan di dalam gua ularku itu, walaupun seekor ular yang paling ganas dan beracun juga tidak berani mendekat dalam jarak tiga kaki, begitu masuk kontan mati. Sekarang aku sudah dapat menguasainya, jangan kata baru Ka-yap, seumpama dewata begitu tersentuh oleh Hek- liong-ling juga bakal pendek usianya.”

“Itulah baik,” kata Hun Thian-hi, “bolehkah aku melihatnya dulu?”

“Masa begitu gampang?” kata Ang-hwat-lo-co, “Pergilah ke selatan, akan kulindungi kau secara sembunyi, sampai pada waktunya tentu akan kuajarkan cara bagaimana kau harus bekerja.”

Hun Thian-hi termenung sebentar, akhirnya ia tertawa hambar tanpa bicara lagi. Ooo)*(ooO

Hun Thian!-hi sudah pergi, Su Giok-lan masih berdiri melengong, sungguh dia menyesal orang macam Hun Thian-hi kenapa tadi tidak mau turun tangan saja? Keadaannya sudah payah tentu dia kena dicandak dan diringkus oleh Ciang-ho-it-koay dan dibawa ke Bung-tong-san. Kesana saja aku mengejarnya. Begitu menggentakkan kaki laksana batu meteor tubuhnya melenting tinggi terus meluncur cepat ke arah gunung Bu-tong.

Belum lagi ia sampai di Bu-tong-san sudah mendengar bahwa Ciang-ho-it-koay melarikan diri dengan luka-luka parah. Gwat Long dan Sing Poh kedua murid tunggal Giok-yap Cinjin juga sekarat menderita luka-luka dalam yang sangat berat. Hun Thian-hi tinggal pergi ikut Ang-hwat-lo- co.

Su Giok-lan menjublek, sesaat ia menjadi bingung apa yang harus dilakukan selanjutnya, Hun Thian-hi sudah pergi ikut Ang-hwat-lo-co, bagaimana ia harus bertindak? Bu-bing Loni takkan memberi keringanan terhadap dirinya, pikir punya pikir dengan otak kusut dan perasaan hampa ia melanjutkan ke depan.

Entah sudah berapa lama dan berapa jauh ia berjalan, tahu-tahu hari sudah menjelang magrib. Jauh di depan sana kelihatan debu mengepul tinggi, puluhan kuda tunggangan tengah membedal cepat mendatangi. Berjengkit alis Su Giok-lan, sembari membentak ia memapak maju terus menghadang di tengah jalan.

Puluhan kuda itu tak hiraukan keselamatan Su Giok-lan, dengan kencang terus menerjang tiba.

Enteng sekali tubuh Su Giok-lan mencelat mumbul ke atas berbareng kedua tangan bergerak lincah sekali, dalam sekejap mata ia berhasil memukul puluhan penunggang kuda jatuh sungsang sumbel

Waktu ditegasi puluhan orang itu mengenakan seragam merah, terang adalah anak buah Partai Merah, tanpa merasa ia mendengus dingin. Dari depan sana mendatangi pula puluhan kuda tunggangan, mengiringi tiga orang di tengah. Begitu melihat puluhan orangnya malang melintang rebah di tanah, seorang gadis berdiri angker dengan galaknya mencegat jalan segera ketiga orang itu menghentikan kudanya

Sebetulnya kesalahan dipihak Su Giok-lan, serta tahu yang dihadapi adalah pihak Partai Merah, rasa salah itu berubah menjadi rasa tuntutan yang mendesak. Sambil menyeringai dingin ia amat- amati ketiga penunggang yang terdepan.

Ketiga orang ini bukan lain adalah Pangcu Partai Merah Gi Ciok, serta Tio-hong-ho dan Liong Lui. Enteng sekali Liong Lui bergerak melompat turun dari tunggangannya, dengan muka kecut dingin ia awasi Su Giok-lan. “Dimana Pangcu kalian?” tanya Giok-lan aseran.

Liong Lui mendengus ejek, “Kenapa harus Pangcu, aku sudah cukup!”

Di mulut Liong Lui bicara takabur, serta melihat puluhan anak buahnya yang malang melintang tak bergerak itu, hatinya rada bercekat. Puluhan anak buahnya itu menerjang dengan tunggangannya yang berlari kencang, namun dapat dirobohkan dalam sekejap mata, ini betul- betul kejadian yang luar biasa, diam-diam ia menerawang, dirinya sendiri belum tentu mampu berbuat begitu. Tahu dia bahwa dia tengah berhadapan dengan lawan berat. Tapi belum pernah di kalangan Kangouw ada muncul seorang gadis macam ini, punya kepandaian silat tinggi, entahlah kenapa dia bersikap bermusuhan terhadap kita.

Melihat Liong Lui yang maju, Su Giok-lan tersenyum dingin, tanyanya, “Siapa kau?” “Thian-liong-kiam Liong Lui. Masa kau tidak kenal!” bentak Liong Lui gusar.

“Thian-mo-kiam?” seringai Giok-lan semakin menakutkan, “Baik! Cabutlah pedangmu!”

Liong Lui insaf lawannya ini tentu sukar dilayani, namun dengan kedudukan dan ketenaran namanya masa harus mengambil keuntungan menghadapi musuh kecilnya ini, sesaat ia menjadi ragu-ragu, tanyanya, “Sekali pukul kau dapat merobohkan puluhan anak buahku, tentu hebat sekali ilmu silatmu, entah siapakah gurumu yang mulia?”

“Kau tidak punya hak untuk mengetahui!”

Liong Lui tertawa besar, serunya, “Entah gurumu tokoh kosen dari mana, aku Liong Lui kiranya tak sembabat untuk mengetahui, terpaksa aku minta belajar kenal dengan muridnya saja!” sembari berkata pelan-pelan ia melolos pedangnya.

Su Giok-lan pun telah mencabut pedangnya, sedikit tangan kanan mengayun, dengan gaya Ci- tiam-yan-hun tahu-tahu pedang panjangnya menutuk langsung ke arah Liong Lui.

Liong Lui angkat nama karena dia seorang ahli dalam permainan pedang, begitu melihat jurus permulaan serangan Su Giok-lan ini bercekat hatinya. Kelihatannya Su Giok-lan hanya seenaknya saja mengayun dan menusukkan pedangnya, namun tenaga yang terkandung diujung pedang ternyata begitu kuat dan kokoh sekali, merupakan jurus tipu yang cukup ganas dan keji. Lekas- lekas Liong Lui menyilangkan pedang panjangnya lalu didorong kesamping.

Su Giok-lan maklum akan maksud tujuan lawan, mengandal Lwekang dan kepandaiannya sekarang lawan sebangsa Thian-mo-kiam masa bisa menjadi tandingannya. Mengikuti dorongan tenaga lawan ia pun menuntun pedang lawan berputar, seiring dengan gerak putaran pedang kakinya pun ikut bergeser, lalu dengan jurus It-sian-heng-kang pedangnya menyapu, miring, tampak selarik sinar pedang kemilau laksana bianglala melesat ke arah Liong Lui.

Kaget Liong Lui seperti disengat kala, gerak perubahan serangan Su Giok-lan begitu cepat dan belum pernah diketemukan, insaf dia bahwa hari ini ia bakal terjungkal ditangan musuh kecil ini, tersipu-sipu ia menyurut mundur serta menyampokkan pedangnya miring.

Gerak pedang Su Giok-lan berubah lagi, dari menyapu menjadi menutul, telak sekali ujung pedangnya menusuk gagang pedang Liong Lui, kontan pedang panjang ditangan Liong Lui tersontek terlepas dan mencelat jauh. Dengan ketakutan Liong Lui melompat mundur, sambil menghardik ringan Su Giok-lan melejit mengejar, dimana kilasan pedangnya bergerak, tahu-tahu kuping kiri Liong Lui kena terpapas jatuh di tanah. Berubah hebat air muka Gi Ciok melihat kesudahan pertempuran singkat ini. Lekas-lekas ia mencabut Thay-i-kiam yang tajam luar biasa itu. katanya sambil tertawa dingin kepada Su Giok- lan, “Akulah Pangcu Partai Merah, ada urusan apa kau cari aku?”

Su Giok-lan tertawa dingin, katanya, “Urusan sepele saja, hanya ingin minta Badik buntung yang berada ditanganmu itu.”

Beringas muka Gi Ciok, katanya tertawa besar, “Sombong benar-benar, mengandal apa kau?” “Pedang ditanganmu itu juga harus kau tinggalkan!” Su Giok-lan mengancsm semakin berani Dengan muka beringas dan kemarahan yang memuncak Gi Ciok berpikir, ia insaf bahwa

kemungkinan besar dirinya pun bukan tandingan Su Giok-lan, tapi masa harus unjuk kelemahan? Segera ia memberi aba-aba kepada anak buahnya, puluhan anak buahnya segera menyerbu, dia bersama Tio Hong-ho dan Liong Lui pun tidak ketinggalan merangsak dengan hebat

Terdengar Su Giok-lan melengking tertawa. tubuhnya tiba-tiba timbul terbang ke tengah udara, kelihatan diujung pedangnya bergetar lalu berputar satu lingkaran melancarkan jurus Heng-mi- liok-hap, begitu pedang bergerak berpetalah kuntum bunga yang menakjubkan dari sinar gemerdep batang pedangnya, sekaligus menerpa ke arah puluhan penyerangnya.

Kontan terdengar jerit dan pekik kesakitan yang menyayatkan hati, sejurus serangan ini sekaligus telah merobohkan enam orang. Keruan Gi Ciok kaget bukan main, insaf dia kalau pertempuran dilanjutkan tentu tidak menguntungkan pihaknya. Sekonyong-konyong teringat olehnya seorang tokoh kenamaan, macam Bu-bing Loni yang telah menerima murid baru bernama Su Giok-lan, bukankah musuh yang dihadapi ini bernama Su Giok-lan, tanpa merasa kuduknya berkeringat dingin, badan pun gemetar….

Cepat ia bertanya, “Apakah kau nona Su?” “Benar-benar!” dengus Su Giok-lan.

Gi Ciok tertegun sebentar, katanya, “Nona Su, pamanmu adalah sahabat baikku….” “Jangan singgung dia!” tukas Su Giok-lan aseran.

Teringat akan kekejaman Bu-bing Loni badan Gi Ciok semakin merinding, ia menjublek ditempatnya, sungguh diluar tahunya bahwa hari ini ia bakal ketimpa malang berhadapan dengan bintang iblis yang merugikan ini. Apa boleh buat akhirnya ia berkata, “Aku tak tahu kau nona Su, kalau tahu siang-siang tentu sudah kuserahkan Badik buntung itu.”

Su Giok-lan mandah tersenyum ejek, ia tahu Gi Ciok tentu takut akan Suhunya Bu-bing.

Bergegas Gi Ciok merogoh keluar Badik buntung lalu disodorkan kepada Su Giok-lan. “Pedang panjang itu sekalian!” pinta Su Giok-lan.

Berubah pucat air muka Gi Ciok, mana bisa Thay-i-kiam diberikan orang? Kalau TThay-i-kiam hilang, untuk selanjutnya jangan harap dirinya bisa bercokol pula dikalangan Kangouw. Dengan sangsi ia mengawasi Su Giok-lan.

“Berikan tidak!” desak Su Giok-lan dengan nada mengancam.

“Entah keinginan gurumu atau kehendak nona Su sendiri?” tanya Gi Ciok Su Giok-lan mendengus, pikirnya; mungkin orang ini tidak rela menyerahkan pedangnya, maka dengan suara rendah ia berkata, “Apa pula bedanya?”

Gi Ciok mengeluh, katanya, “Pedang ini menyangkut jaya atau runtuh dari Partai kita. Kalau gurumu yang meminta, sudah tentu aku tak banyak bicara, tapi kalau hanya kehendak nona sendiri, aku mohon sukalah nona memberi sedikit kelonggaran.”

“Apa-apaan sikapmu ini,” jengek Su Giok-lan gusar, “Masa murid Bu-bing Loni mau ditekan orang lain?”

Mendengar Su Giok-lan menyinggung nama Bu-bing Loni, semakin kecut dan gemetar badan Gi Ciok, kalau sampai membuat beliau gusar maka celakalah dirinya, cepat-cepat dengan badan basah karena keringat dingin, ia tanggalkan pedangnya. dengan kedua tangan ia angsurkan Thay- i-kiam kepada Su Giok-lan, katanya, “Kalau nona Su memaksa, masa aku harus kikir mengangkangi pedang ini.”

Setelah menerima Badik buntung dan Thayj-i-kiam Su Giok-lan tak banyak bicara lagi, dengan ulapan tangan ia suruh mereka tinggal pergi. Dengan murung dan rawan segera Gi Ciok bawa anak buahnya berlari pergi. Menurut tujuannya semula ia hendak meningalkan daerah Tionggoan secara diam-diam, sembunyi diri mencari dan menyelami rahasia Badik buntung, sungguh diluar dugaannya ditengah jalan ia ketemu begal, semua harapan dan harta miliknya menjadi ludes.

Setelah rombongan musuh pergi jauh, lekas-lekas Su Giok-lan mengamati Badik buntung serta menarik keluar sedikit Thay-i-kiam. Alisnya bertaut semakin dalam, kedua bilah senjata merupakan benda pusaka yang ampuh, tapi apakah kedua pusaka ini bakal membantu dirinya? Mungkin dengan Badik buntung itu ia dapat mengejar jejak Hun Thian-hi, tapi batas waktu yang ditentukan sudah lewat, kalau tiga hari kemudian tidak ketemu, bagaimana sikap Bu-bing Loni terhadap dirinya?

Sungguh ia tidak berani membayangkan akibatnya, boleh dikata hatinya sangat membenci Hun Thian-hi, kalau tidak Hun Thian-hi tentu riwayatnya takkan demikian sengsara dan menderita baru sekarang ia sadar bahwa kepandaian silat takkan dapat merubah haluan hidupnya, ilmu silat tiada bawa manfaat yang berguna bagi dirinya, sungguh rela rasanya hidup sederhana dalam ketenangan jiwa yang aman sentosa tanpa mengarungi kilatan pedang dan genangan darah, tapi apakah mungkin ia merubah haluan ke arah itu?

Demikian Su Giok-lan tenggelam dalam pikirannya, dengan napas berat ia menarik hawa.

Di tengah udara nan jauh sana lapat-lapat terdengar pekik nyaring burung dewata, berdebar keras jantung Su Giok-lan, pikirnya; sekarang baru satu setengah hari, meski sikap dan watak Bu- bing Loni sukar diraba, tapi setiap kata-katanya selamanya tak pernah diubah.

Kejap lain, pelan-pelan burung dewata meluncur turun dan hinggap di tanah, pelan-pelan Ham Gwat melorot turun di hadapannya.

Diam-diam bergidik sanubari Su Giok-lan, kuduknya sampai merinding, dia jauh lebih takut terhadap Sucinya ini dari pada Suhunya Bu-bing Loni, kalau tiada urusan selamanya Ham Gwat tak pernah bicara dengan dia, menurut penglihatannya, ilmu silat Sucinya ini tidak berbeda jauh dari kemampuan Bubing Loni sendiri, tapi setiap kali ia bicara wibawanya seolah-olah lebih angker dari Bu-bing Loni, raut mukanya selalu wajar dan tak pernah berubah, senang atau duka tak pernah terunjuk pada air mukanya. Sekarang Ham Gwat berdiri di hadapannya, hampir saja ia susah bernapas. Dengan mendelong ia awasi Ham Gwat, dengan pandangan bening Ham Gwat menatap dia, katanya, “Suhu sudah setuju untuk tidak menarik panjang urusanmu. Tapi kau harus segera kembali dan menghadap dinding setengah tahun untuk menyelami pelajaran Hui-sim-kiam-hoat!”

Dengan membelalak Su Giok-lan mengawasi Ham Gwat, hampir ia tidak percaya akan pendengarannya.

Dia tahu bahwa Bu-bing Loni selamanya tak pernah menjilat ludahnya kembali, tapi kenapa kali ini ia merubah putusannya? Mendadak ia seperti sadar, dengan suara haru ia berteriak, “Suci!” kata-kata selanjutnya tak kuasa diucapkan.

Rada lama Ham Gwat berdiam diri, akhirnya ia membuka kesunyian, katanya, “Sumoay!

Sikapmu itu tidaklah salah!”

Dengan memicingkan mata Su Giok-lan menatap Ham Gwat, meski ia tidak melihat suatu expresi di wajah Ham Gwat, tapi seolah-olah ia telah menemukan wajah lain dari Ham Gwat. Dari sorot mata Ham Gwat yang bening itu terasakan perasaan welas asih yang agung, di dalam kenangan batinnya, hanya ibunya dulu yang pernah memandangnya dengan sorot pandangan begitu.

Tiba-tiba ia merasa betapa welas asih dan suci perasaan Ham Gwat itu, begitu agung dan mengesankan, mendadak Su Giok-lan merasa heran, seolah-olah sekarang dia tidak begitu takut lagi terhadap Ham Gwat seperti dulu. Tiada jurang pemisah lagi antara ia dan Ham Gwat, akhirnya tercetus perkataan dari mulutnya, “Suci, katamu aku tidak salah?”

Kata Ham Gwat lirih, “Apa tidak betul? Dia kan tidak punya kesalahan terhadap kau, bermula ia tidak membunuh Kim-i Kongcu Leng Bu karena sebelumnya dia sudah berjanji kepada Soat-san- su-gou kalau tidak dalam keadaan yang memaksa dia tidak akan lancarkan jurus ganas itu.”

Su Giok-lan mengiakan dengan menyesal, terasa olehnya dari nada orang bahwa Ham Gwat rada membela kepada Hun Thian-hi. Dia heran, Hun Thian-hi telah pergi ikut Ang-hwat-lo-co, Ang- hwat-lo-co adalah musuh besar pembunuh ayah Ham Gwat, sebaliknya sekarang Ham Gwat bicara membela kebenar-benaran bagi Hun Thian-hi.

Terpikir sampai disini tak kuasa ia lantas bertanya, “Tapi sekarang Hun Thian-hi telah pergi ikut Ang-hwat-lo-mo!”

Ham Gwat menunduk tanpa bicara. Mendadak Su Giok-lan teringat sesuatu, jelas sekali kalau Ham Gwat telah mintakan belas kasihan terhadap Suhunya, tapi apakah Bu-bing Loni betul-betul begitu gampang mau melulusinya? Tersipu-sipu ia bertanya lagi, “Suci! Urusan apa yang telah kau janjikan kepada Suhu?”

Setelah merenung sebentar Ham Gwat berkata, “Bukan soal apa, aku berkata kalau kau toh tidak mau turun tangan, biarlah aku saja yang membunuhnya, dalam jangka satu bulan setelah perjanjian satu tahun lewat aku akan membawa batok kepala Hun Thian-hi.”

Su Giok-lan berseru tertahan, pelan-pelan ia tunduk tak buka suara lagi, pikirnya, kiranya begitu perkembangan selanjutnya, entah apa maksud Ham Gwat menceritakan duduk perkara sebenar-benarnya tadi, apa mungkin ada sebab lain yang lebih istimewa?

Kata Ham Gwat kepada Su Giok-lan, “Sumoay! Jangan banyak pikir lagi, mari kita pulang!” Su Giok-lan angkat kepala, dilihatnya wajah Ham Gwat tetap tidak menunjukkan mimik perubahan, tapi dari biji mata yang besar hitam dan bening itu terasa olehnya rasa prihatin dan kasih sayang Ham Gwat terhadap dirinya.

Pelan-pelan ia menghela napas lega, ia tertawa dibuat-buat, bersama Ham Gwat ia naik ke punggung burung dewata terus menghilang di balik awan.

Ooo)*(ooO

Melihat Ang-hwat-lo-co tinggal pergi, Hun Thian-hi lantas tenggelam dalam renungannya, ia berpikir; ‘kau suruh aku ke Thian-lam, apakah tidak bergurau dengan aku, sudah mending kalau ayah Kim-i Kongcu Leng Bu tidak meluruk ke Tionggoan mencari aku, masa aku harus kesana malahan, bukankah masuk kemulut harimau malah?’

Lalu terpikir pula olehnya; Tiang-pek-san aku tidak perlu kesana, melawan Ang-hwat-lo-co saja Ciang-ho-it-koay tidak unggulan, palagi melawan Bu-bing Loni? Tentu Ce-han-it-ki juga tidak lebih unggul dari kemampuan Ciang-ho-it-koay, sia-sialah kalau aku kesana….

Mendadak terbayang dalam pikiran Thian-hi akan Sam-kong Lama, entah bagaimana keadaannya sekarang, Sin-giok-ling berada ditangannya, sejak ia pulang ke tanah barat apakah Bu-bing Loni pernah meluruk ke tempat kediamannya. Apalagi dia pernah berkata bahwa orang aneh berkepandaian tinggi dikolong langit ini bukan Bu-bing Loni melulu, jelas bahwa tentu dia mengetahui ada orang aneh lainnya yang berkepandaian tinggi juga, kalau aku kesana mencari dia, mungkin dia punya cara untuk menolong aku.

Diam-diam Thian-hi ambil keputusan untuk melanjutkan perjalanan kebarat laut, tapi Ang-hwat- lo-co pernah berkata akan melindungi dirinya secara sembunyi, bukankah ini berarti secara diam- diam hendak mengawasi setiap gerak geriknya? Untuk membebaskan diri dari kejaran dan pengawasan Ang-hwab-lo co ini sungguh tidak gampang.

Dia termenung memikirkan daya cara bagaimana ia meloloskan diri dari pengawasan Ang-hwat- lo-co. Demikianlah ia berjalan terus mengikuti langkahnya, tiba-tiba dilihatnya tak jauh di depan sana terdapat sebuah gua besar selebar setombak lebih, terkilas suatu pikiran dalam benaknya, segera ia kembangkan Ginkang terus melesat masuk ke dalam gua itu.

Setelah berada di dalam gua, Thian-hi mendapatkan gua itu lekak-lekuk tak merata, hatinya menjadi girang, inilah tempat yang memang diinginkan, beruntun ia berkelebat semakin ke dalam berusaha mencari jalan keluar dari arah lain.

Setelah ubek2an sekian lamanya, Thian-hi rada kecewa, selain celah-celah batu yang rada sempit tiada jalan lain untuk keluar dari gua ini. Terpaksa Thian-hi mencari salah satu celah rada besar lalu masuk kesana dan sembunyi disitu, untung tempat itu cukup kering, disana ia mulai duduk bersila bersamadi menenangkan pikiran dan menghimpun tenaga.

Tanpa terasa samadinya itu memakan waktu satu hari lamanya, betul juga sesuai dengan dugaan semula, tiba-tiba terdengar dengusan napas berat seseorang memasuki gua itu. Diam- diam Thian-hi membatin, “Tentu Ang-hwa-lo-co telah datang!”

Memang begitu melihat Hun Thian-hi memasuki gua Ang-hwat-lo-co lantas berputar di tempat sekitarnya untuk memeriksa apakah gua ini punya jalan keluar lainnya. Setelah melihat kenyataan baru dengan lega hati ia balik dan menunggu dengan sabar di dalam hutan.

Tetapi tunggu punya tunggu setelah satu hari satu malam masih belum kelihatan Thian-hi keluar, ia menjadi curiga dan membatin, “mungkin gua ini menembus ke tempat jauh, kalau gua ini panjang tentu Hun Thian-hi sudah pergi jauh, sekarang juga aku masuk dan mengejar kesana tentu dapat kejandak.”

Begitu dia sampai di dalam gerak geriknya sangat cekatan, melesat kesana melenting kesini, tapi setengah harian sudah ia ubek2 di dalam gua tiada sebuah jalan lain pun yang menembus keluar, tanpa merasa ia mendengus gusar, pikirnya: Hun Thian-hi sibocah keparat itu tengah bermain sandiwara apa. Lalu dengan ketajaman matanya pelan-pelan ia menjelajah seluruh pelosok gua, tapi tidak kelihatan bayangan Hun Thian-hi. Tiba-tiba tergerak pikirannya, segera ia membuka suara, “Hun Thian-hi, lekas keluar! Aku sudah melihatmu!”

Mendengar Ang-hwat-lo-co berkaok2, Hun Thian-hi mengumpat dalam hati, kalau aku melongok keluar bukanlah terjebak ke dalam akal muslihatmu malah.

Beruntun Ang-hwat-lo-co berteriak dua kali, tanpa mendapat reaksi, hatinya menjadi gusar dan memaki, “Bocah keparat yang licik!”