Badik Buntung Bab 08

 
Bab 08

Sontak Thian-hi merasa jantungnya berdebur keras, hatipun tak tenang, nada tertawa Bun Cu- giok malah membangun kembali kenangan yang tak menentu, bayangan Ham-gwat, Su Giok-lan dan Siau Hong berkelebat dalam benaknya, akhirnya bayangan jelita lenyap dan berganti wajah dingin kaku dan seram dari muka Bu-bing Loni.

Tanpa merasa bergidik tubuh Thian-hi, badannya merinding dan terasa dingin. setelah menghirup hawa ia berkata, “Saudara Bun jangan berkelakar.”

Bertaut alis Bua Cu-giok, hatinya membatin, “Kenapa kelihatannya Hun Thian-hi takut menghadapi wanita, hanya menyinggungnya saja kenapa badan sampai gemetar?”

Thian-hi menghembuskan angin dari mulutnya, ditatapnya sikap dan mimik wajah Bun Cu-giok, ia tertawa dibuat-buat, pikirnya mungkin aku terlalu serius dan tegang dalam bicara tadi.

Mendadak ia tertawa lebar dan katanya, “Ucapanku tadi hanya pancingan saja, karena waktu kusinggung tentang nona Ciok kulihat mimik dan sikap saudara Bun kurang wajar.”

Terketuk sanubari Bun Cu-giok, katanya tersipu-sipu, “Lote, jangan kau sembarang ngoceh, jangan main-main dengan urusan asmara!”

Melihat kegugupan Bun Cu-giok, Thian-hi menjadi bergelak tawa ujarnya, “Siaute berpikir sampai sekarang saudara Bun belum punya istri, nona Ciok seorang gadis rupawan, lemah lembut lagi, menurut penilaian Siaute watak dan martabatnya pun boleh deh….”

Sampai disini dilihatnya. perubahan air muka Bun Cu-giok, maka segera ia berhenti kata, dan merubah haluan, “Saudara Bun, maaf akan kelancangan mulutku tadi.”

Bun Cu-giok menghela napas, ujarnya, “Tak apa, aku sedang memikirkan persoalan lain, apakah patut aku berbuat begitu.” Hun Thian-hi bungkam, Bun Cu-giok pun tenggelam dalam renungannya. Mendadak ia bertanya kepada Thian-hi, “Lote, ada satu persoalan hendak kutanya kepadamu. Jikalau seseorang melakukan pekerjaan, tapi melanggar adat istiadat dan pengajaran, namun ia ingin beaar melakukan semua itu, apakah patut kalau dia melaksanakan terus niatnya itu?”

Mendelong mata Thian-hi mengawasi Bun Cu-giok, hatinya heran dan bertanya-tanya kenapa Bun Cu-giok menyinggung persoalan begitu kepada dirinya, sebentar ia berpikir lalu jawabnya, “Aku sendiri juga tidak tahu. Tapi menurut hemadku kalau dia merasa betul, boleh saja dia melakukan keinginannya.”

Bun Cu-giok menunduk terpekur, katanya kemudian, “Lote, mari kita berangkat, coba lihat, bagaimana dandanan kita sekarang!”

Waktu Thian-hi menunduk, memang separo badan mereka sudah kotor dan lembab oleh noda2 darah tercampur debu, tak kuasa ia menjadi tertawa geli.

Cepat-cepat mereka menuju kesebuah kota kecil. Anak buah Partai Putih tersebar luas dimana- mana, tak lama kemudian mereka sudah berganti pakaian, dan menginap semalam dikota itu. Hari kedua Thian-hi berkeras hendak melanjutkan perjalanan seorang diri.

Terpaksa Bun Cu-giok mengangguk setuju.

Begitulah Hun Thian-hi lantas berangkat melalui jalan raja. Jauh dibelakangnya Bun Cu-giok berlari-lari kecil mengejar. Entah berapa lama Bun Cu-giok berlari saat mana tiba didataran tinggi. yang menghijau. Mendadak Bun Cu-giok berhenti dan berdiri terlongong, jauh di sebelah sana kelihatan sebuah bayangan orang yang sangat dikenalnya, bayangan orang bergoyang gontai berjalan pelan-pelan. Orang ifu bukan lain adalah CioK Yan adanya.

Ciok Yan berjalan menunduk dan tengah menghampiri ke arah dirinya. Jantung Bun Cu-giok seperti bertambah berdegup dan darahnya menggelora, napas pun jadi memburu. Hampir ia berniat menyingkir, namun kaki terasa berat dan mungkinkah ia tinggal pergi?

Ciok Yan sudah semakin dekat, setiap langkah Ciok Yan menambah jantung Bun Cu-giok berdetak semakin cepat, sekarang jelas kelihatan rambut panjang Ciok Yan yang awut2an, matanya yang redup dan titik-titik air mata yang membasahi pipinya.

Akhirnya Bun Cu-giok tak kuasa angkat kepala, sementara itu Ciok Yan sudah berjalan lewat di sampingnya seperti orang linglung hakikatnya seperti tak dirasakan akan kehadiran Bun Cu-giok di pinggir jalan itu.

Sungguh rawan perasaan Bun Cu-giok, hati laksana ditusuk sembilu, sekuatnya ia bertahan supaya air mata tidak meleleh keluar. Saat itulah terketuk hatinya, ia merasa tidak seharusnya ia membiarkan keadaan Ciok Yan yang menyedihkan itu, tak tertahan lagi ia berteriak, “Nona Ciok!”

Ciok Yan tersentak kaget dari lamunannya, seketika ia berdiri menjublek. Bun Cu-giok berseru lagi, “Nona Ciok!”

Pelan-pelan Ciok Yan menoleh memandang ke arah Bun Cu-giok. Bun Cu-giok tak berani beradu pandang dengannya, cepat-cepat ia berpaling ke arah lain, namun sekilas saja ia sudah melihat jelas wajah Ciok Yan yang aju jelita, begitu menggiurkan dan menawan hati. Waktu pertama kali mereka jumpa, dia kelihatan begitu gagah dan berani, sekarang seperti seekor kelinci yang ketakutan dan terluka, ah, betapa bijaksana hatinya! Sekian lama Ciok Yan terlongong memandang wajahnya tanpa bersuara.

Apa boleh buat akhirnya Bun Cu-giok buka suara lagi, “Nona Ciok, lekas kau pulang saja, Hwi- cwan-po hakikatnya tidak pernah kumusnakan.”

Biji mata Ciok Yan memancarkan cahaya aneh yang gemilang, matanya terbelalak kesima mengawasi Bun Cu-giok, rasa rawan dan kesedihan hatinya seketika tersapu bersih. Lubuk hatinya yang paling dalam mendadak merasa kegembiraan yang sangat aneh dan menggairahkan.

Desisnya kegirangan, “Kau…. apakah ucapanmu benar-benar?”

Bun Cu-giok tersenyum dan balas pandang, ujarnya, “Kau tidak percaya kepadaku?” “Tidak!” kata Ciok Yan kememek, air mata berlinang dikelopak matanya, “Maksudku aku

kegirangan

Bun-pangcu, kau….”

Melihat air mata Ciok Yan, Bun Cu-giok menjadi terpesona, pikirannya melayang, “Ternyata dia begitu lincah dan lucu,” diam-diam ia merasa lega, namun tak terpikir olehnya kata-kata manis yang enak dikatakan, terpaksa ia berkata pendek, “Aku….? Kenapa aku?”

Melihat pandangan Bun Cu-giok yang tajam dan penuh mengandung arti itu, Ciok Yan menjadi malu dan menunduk, batinnya, “kiranya Bun Cu-giok menyusul kemari hendak mencari aku malah memberi penjelasan duduk perkara sebenar-benarnya. Usianya masih begitu muda, berkepandaian silat tinggi, sikapnya begitu baik pula terhadap dirinya.”

Melihat Ciok Yan menunduk malu tergetar hati Bun Cu-giok, tersipu-sipu ia berkata, “Nona Ciok, lekaslah kau pulang. Sekarang aku masih ada urusan, segera harus berangkat!”

Ciok Yan angkat kepala, katanya, “Apa? Kau akan berangkat kemana?”

Sedapat mungkin Bun Cu-giok tertawa sewajarnya, sahutnya, “Hun Thian-hi tengah terkepung oleh berbagai mara bahaya, aku hendak menyusul dan melindungi jiwanya.”

Lagi-lagi Ciok Yan menunduk dengan rawan, katanya tersendat, “Kalau begitu silakan kau pergi.”

“Kau sendiri, kau harus lekas pulang!” ujar Bun Cu-giok gugup karena sikap Ciok Yan yang ogah2-an.

Ciok Yan memutar tubuh tanpa bicara lagi, pelan-pelan ia tinggal pergi.

Bun Cu-giok mengejar beberapa langkah, katanya, “Nona Ciok, kupinta kepadamu, jangan kau menuju ke tempat lain, langsung pulang saja ke rumahmu.”

Sesaat Ciok Yan menatap Bun Cu-giok lalu manggut-manggut, katanya, “Terima kasih Bun- pangcu.”

Bun Cu-giok menghirup hawa panjang, dipandangnya punggung Ciok Yan semakin menjauh, sejenak ia terlongong, tiba-tiba tergetar hatinya, cepat-cepat ia memutar tubuh hendak mengejar kesana tapi begitu ia berputar kontan ia tersentak kaget, entah kapan di belakangnya sudah berdiri seorang nenek ubanan. Bergegas Bun Cu-giok menyurut mundur, dengan seksama ia awasi nenek tua ini, sekarang baru lega hatinya, kiranya nenek ini adalah Hoan-hu Popo dari pegunungan Tangkula di daerah barat, kepandaian silatnya tidak di bawah gurunya Ce Hun Totiang.

Tersipu-sipu Bun Cu-giok menjura serta sapanya, “Nenek apa kau baik.”

Hoan-hu Popo memicingkan matanya, tanyanya tertawa, “Gadis remaja tadi baik bukan?” Bun Cu-giok mengalihkan pandangannya, apa boleh buat ia manggut-manggut.

Kata Hoannhu popo tersenyum simpul, “Kau tak perlu takut, kulihat sikapmu terlalu baik padanya, kau harus berkumpul sama dia.”

Bun Cu-giok tergagap, jawabnya, “Jangan nenek berkelakar, Sutit masih banyak urusan lain.”

Berubah dingin wajah Hoan Hu, jengeknya, “Karena Hun Thian-hi bukan? Kau berani melindungi dia, ketahuilah kedatanganku justru hendak mencabut nyawanya.”

Bun Cu-giok menjadi gugup, serunya, “Nenek, dia orang baik. Giok-yap Cinjin bukan meninggal di tangannya, dia kena difitnah orang lain.”

“Bocah kecil jangan terlalu banyak turut campur urusan orang.” semprot Hoan-hu popo.

Keruan Bun Cu-giok semakin gelisah, bujuknya, “Kenapa nenek kemari mencarinya. Berilah muka kepadaku dan memberi ampun pada jiwanya!”

“Tidak bisa!” sentak Hoan-hu sambil menarik muka.

Bun Cu-giok menjadi heran, teraba olehnya sikap Hoan-hu yang kereng ini bukan kenyataan hendak membunuh orang, kelakuan kasarnya memang sengaja dilakukan untuk menakut2i saja. Ia beragu sebentar lalu katanya, “Nenek, adakah sesuatu urusan yang perlu kulakukan?”

Hoan-hu merengut, semprotnya, “Urusan apa yang perlu kau kerjakan? Omong kosong belaka.”

Bun Cu-giok rada kuatir kalau membuat sinenek marah mungkin urusan selanjutnya bakal lebih sulit diselesaikan, cepat-cepat ia merubah sikap, ia berkata tersenyum: ….Nenek. pandanglah muka Siautit dan berilah kelonggaran!”

Hoan-hu popo menggeram, tanyanya, “Berapa tahun kau berkelana di Kangouw. semakin lama semakin bejat dan tak tahu aturan.”

Bun Cu-giok menjadi kikuk dan bungkam tak bisa bicara.

Kata Hoan-hu popo lagi, “Apa yang terkandung dalam sanubarimu kuketahui semua, namun gurumu tak pernah mengurus kau, kalau dia tidak peduli biar aku yang mewakili dia mengajar adat kepadamu. Cepat kau susul dahulu nona kecil itu kemari.”

Bun Cu-giok melengak, tanyanya menegas, “Nona kecil yang mana?”

“Bocah goblok, jangan pura-pura linglung, lekas susul dia, jangan sampai ia lari jauh atau tak kuberi ampun kepada kau….”

Bun Cu-giok menjadi serba susah, terdengar Hoan-hu mendengus, katanya, “Ajahnya sudah cukur gundul menjadi Hwesio, kenapa kau suruh dia kembali seorang diri?” Bun Cu-giok melengak kaget, dipandangnya mata Hoan-hu lekat-lekat. Hoan-hu mendesak lagi, “Lekas susul dia!” terpaksa Bun Cu-giok beilari mengejar’ ke depan.

Tak lama kemudian ia sudah dapat menyusul Ciok Yan. Ciok Yan masih berjalan pelan-pelan sambil menundukkan kepala. Mendengar derap langkah ia angkat kepala dan menoleh, dengan heran dan bertanya-tanya ia pandang Bun Cu-giok.

Kata Bun Cu-giok tersendat, “Nona Ciok! Seorang teman guruku bernama Hoan-hu Popo hendak mencari kau, ada berapa patah kata yang hendak disampaikan kepadamu.”

“Apa?” Ciok Yan menegas dengan terlongong.

“Cepatlah,” desak Bun Cu-giok, “Kalau sampai dia jengkel urusan bakal berabe.”

Sejenak Ciok Yan sangsi, akhirnya ia mengintil di belakang Bun Cu-giok. Mulutnya bertanya, “Untuk keperluan apa dia mencari aku?”

“Akupun tidak tahu,” jawab Bun Cu-giok singkat.

Tak lama kemudian mereka sudah sampai dimana Hoan-hu popo menunggu. Dengan tersenyum manis Hoau-hu menatap Ciok Yan, bergegas Ciok Yan maju berapa langkah serta sapanya, “Wanpwe Ciok Yan menghadap pada nenek!”

Hoan-hu menarik Ciok Yan lebih dekat, dengan lekat-lekat ia mengawasi wajah orang, tak tertahan mulutnya. menggumam, “Ah, anak yang kasihan!”

Hati Ciok Yan menjadi pedih, tak tertahan airmata mengalir deras, ia menangis sesenggukan. “Jangan nangis, jangan nangis! bujuk Hoan-hu sambil menepuk2 bahunya. Lalu ia berpaling ke

arah Bun Cu-giok dan berkata, “Cu-giok, lihatlah betapa baik dan rupawan gadis ini dimana ada kekurangannya.”

Bun Cu-giok terperanjat, mulutnya ternganga tak mampu bicara, sesaat baru ia berkata, “Baik, baik sekali, tiada kekurangannya!”

“Nah kalau begitu baik kujodohkan menjadi istrimu saja. Untuk selanjutnya kau harus membimbingnya baik!”

“Apa?” Bun Cu-giok dan Ciok Yan berteriak bersama.

“Kenapa?” tanya Hoan-hu, “Bukankah menguntungkan kau malah?” Cepat Ciok Yan menalangi, “Nenek, bagaimana bisa, ayahku….”

Hoan-hu membujuk dengan kata-kata manis, “Kau tak perlu kuatir, ayahmu diapusi Hwesio aneh itu menjadi muridnya. Tentu dia setuju dan tiada persoalan lagi.”

“Aku….aku….Bun Cu-giok hendak menolak.

“Kau kanapa?” semprot Hoan-hu, “Apa kau tidak setuju?”

“Bukan nenek tidak tahu” demikian ujar Bun Cu-giok sambil tunduk, ….Soalnya aku….” “Jangan kau takut,”-Hoan-hu menghibur. “Akulah yang bertanggung jawab kepada gurumu, sedang calon istrimu itu, buang saja.”

Ciok Yan tersentak kaget,

“Apa?” tanyanya, Sungguh diluar tahunya bahwa Bun Cu-giok ternyata sudah punya calon istri. Bun Cu-giok tunduk semakin dalam. Kata Hoan-hu lebih tandas, “Aku yang bertanggung jawab.

kenapa takut-takut lagi. Kukira gurumu pun akan setuju.”

Sekilas Bun Cu-giok melirik ke arah Ciok Yan, dilihatnya orang pun menunduk tanpa bersuara, akhirnya iapun tunduk lagi tanpa bicara.

Hoan-hu memandang ]ekat2, katanya, “Cu-giok, tak perlu beragu, kebahagian hanya sekilas datangnya, kalau kau ingin bahagia dihari tua, cepatlah kau ambil putusan!”

Bun Cu-giok masih tunduk tak berani ambil putusan.

Hoan-hu membujuk lagi, “Dalam segala hal terang Nona Ciok lebih unggul dari Nona Ce itu, sudahlah kau jangan terlalu berat mengenangnya!”

Dilain pihak hati Ciok Yan sendiri juga tengah bimbang, pikiran dan kemauannya saling bertentangan tak tertahan lagi air mata mengucur deras.

“Nona Ciok,” ujar Hoan-hu. “Apakah kau mau?”

Pikiran Ciok Yan kusut dan bingung. jawabnya, “Nenek, aku tidak mau menikah!”

Hoan-hu menjadi heran dan menatapnya dengan tak mengerti, lalu berpaling dan berkata kepada Bun Cu-giok, “Cu-giok, kau tunggu disini sebentar, aku hendak bicara dengan nona Ciok.” Lalu digandengnya tangannya diajak menyingkir.

Ciok Yan mandah saja diseret menyingkir sambiil tunduk, entah apa yang hendak dikatakan Hoan-hu kepadanya, hatinya menjadi kebat kebit. Betapapun dia takkan begitu saja menyetujui akan perjodohan ini, sebagai seorang wanita menjadi keharusan untuk menjaga gengsi pribadinya.

Hoan-hu membawa Ciok Yan kebawah sebuah pohon besar yang rindang, dengan tangan ia suruh Ciok Yan duduk disebelahnya, mulailah ia buka mulut bicara kepada Ciok Yan, “Mungkin kau menyangka cara kerjaku terlalu sembrono bukan?”

Ciok Yan menggeleng, katanya, “Aku belum memahami jiwa dan karakternya.”

“Bukan kau tidak paham kepadanya,” ujar Hoan-hu, “yang terang kau menyangsikan rahasia dibalik pribadinya itu bukan?”

Ciok Yan tunduk tak bersuara. Hoan-hu menghela napas sambil menepuk bahunya, katanya, “Ada sebuah cerita, apakah kau mau mendengarkan?”

“Cerita?” tanya Ciok Yan heran.

“Dulu adalah seorang pendekar muda,” demikian Hoan-hu mulai ceritanya, “belum lama ia berkelana di Kangouw, waktu itu usianya masih muda dan berwajah ganteng, kepandaian silatnya pun lihay, sikapnya menjadi congkak dan mau menang sendiri, sudah menjadi kodrat alam akhirnya ia jatuh cinta dengan seorang gadis.” Sampai disini ia berhenti sebentar. Pikiran Ciok Yan lantas melayang, mungkin ini cerita pengalamannya sendiri waktu masih muda dulu.

Memang tampak Hoan-hu tengah termenung2 dan tertawa-tawa tenggelam dalam kenangan lama.

Akhirnya ia melanjutkan, “Meski jatuh cinta, nmun ia tak berani menyatakan rasa cintanya itu. Sebaliknya gadis itupun sebetulnya merasa tertarik juga kepadanya, melihat sikapnya itu timbul salah paham, disangkanya si pemuda adalah begitu congkak dan takabur.”

Ciok Yan menunduk, dua tokoh dalam cerita itu persis benar-benar seperti bayangannya dengan Bun Cu-giok.

Kulit muka Hoan-ihu berkerut-kerut, lalu katanya lebih lanjut, “Pada suatu hari, pendekar itu tiba-tiba pergi mencarinya, secara langsung ia meminang dan mengharap sang gadis pujaan mau menjadi istrinya!”

Sampai disini ia berpaling ke arah Hoan-hu, tanyanya, “Seumpama gadis itu adalah kau, bagaimana kau hendak mengambil sikap?”

“Aku tidak tahu.” Ciok Yan menjawab singkat.

“Martabatnya baik, dari sepak terjangnya di kalangan Kangouw dapatlah dinilai jiwanya itu, tapi tiada orang yang tahu perihal asal usulnya, apalagi dia adalah begitu mendadak….” ia merandek sebentar lalu melanjutkan, “Gadis itu menjadi marah, ia merasa seolah-olah terlukakan oleh tusukan pedang di ulu hatinya, lalu memakinya kalang kabut, dikatakan dia terlalu takabur, berlawanan dengan lubuk hatinya ia menyatakan bahwa dia tidak menyukainya!”

Ciok Yan mengeluh tertahan, pikirnya kalau aku sendiri yang mengalami kejadian itu, aku pun akan berkata begitu.

“Akhirnya baru gadis itu tahu bahwa pendekar muda itu ternyata adalah murid Bu-tong Ciangbunjin, sebetulnya dia harus masuk biara menjadi imam, tapi demi sang pujaan hatinya dia rela kehilangan segala miliknya, namun gadis itu berkeras tak menyetujui.”

Baru sekarang Ciok Yan dapat meraba pendekar muda yang dimaksud dalam cerita itu tak lain tak bukan adalah Ce-hun Totiang adanya.

Hoan-hu berkata lagi, “Cu-giok adalah anak baik. Untuk ini aku berani bicara dimuka, dulu memang ia sudah mengikat tali perjodohan, namun calon istrinya itu sepak terjangnya semakin kotor, dari lurus menjurus ke sesat. Setelah mengetahui hal ini, saking duka seorang diri ia berkecimpung di dunia persilatan. Sebaliknya perempuan itu belum tahu bahwa Cu-giok sudah tahu akan tingkah lakunya, hatinya masih terkenang akan pujaan hatinya ini. Maka Cu-giok menjadi hidup sengsara dan merana, dalam hal ini kaulah yang dapat membantunya untuk melupakan perempuan itu!”

Ciok Yan semakin dalam menunduk. Hoan-hu tertawa geli, ujarnya, “Ajahmu sudah menjadi Hwesio, kalau kau sudi, Hwi-cwan-po boleh bergabung dengan Partai Putih, kupikir ayahmu tentu sangat senang mendengar berita ini.”

Terpikir oleh Ciok Yan, “Agaknya Bun Cu-giok bukan seorang tamak dan pengecut seperti yang tersiar di kalangan Kangouw, dia boleh dipercaya, apalagi sejak bertemu aku sudah memujanya, asal aku sudah mengetahui martabat dan jiwanya sudah cukup, kenapa menuntut terlalu jauh.” Akhirnya ia tersenyum dan manggut-manggut setuju.

Hoan-hu berjingkrak bangun kegirangan, katanya sambil menarik tangan Ciok Yan, “Bangunlah Cu-giok masih menanti kita disana!”

Begitulah mereka beranjak kembali. Hati Ciok Yan menjadi was-was, kuatir Bun Cu-giok sudah tinggal pergi? Waktu sampai di tempat semula, tampak Bun Cu-giok masih berdiri terlongong tanpa bergerak. Rada terhibur hati Ciok Yan, cepat-cepat ia menunduk dengan muka merah malu.

Ooo)*(ooO

Sekarang baiklah kita ikuti perjalanan Hun Thian-hi sejak berpisah dengan Bun Cu-giok, seorang diri dengan tunggangannya langsung ia menuju ke Tiang-pek-san.

Satu jam kemudian, ia sudah menempuh kira-kira lima puluh li jauhnya. Dia insaf siapapun yang bertemu dengan dirinya pasti takkan melepas begitu saja. Sejenak Thian-hi menerawang ‘pandangan alam sekelilingnya, pikirnya, kalau aku dapat selamat tanpa gangguan hari ini, mungkin perjalanan kali ini bisa selamat sampai ke tempat tujuan.

Tengah ia berpikir2, kupingnya menangkap samberan angin kencang dari samping menyerang dirinya, secara gerak reflek ia melolos pedang pemberian Bun Cu-giok terus memapas ke arah datangnya serangan. “Tak,” kiranya itulah sebatang kayu kering kecil yang patah dua.

Bercekat hati Thian-hi, ia celingukan kian kemari tiada tampak bayangan seorangpun, ia menghembus napas sebal dari mulutnya lalu mengeprak kudanya ke depan, pedang disarungkan kembali, untuk selanjutnya ia mulai waspada dan berjaga-jaga.

Tak lama kemudian sebatang kayu kering menyamber tiba lagi, kali ini Thian-hi angkat tangan dengan kedua jari ia menjepit kayu kecil itu. Tapi tenaga luncuran kayu kecil itu begitu besar dan kuat, jepitannya menjadi gagal, kayu kecil itu terus terbang melesat dari sampingnya.

Kejut Thian-hi seperti disengat kala, sekarang dilihatnya seseorang tengah duduk bersila di atas sepucuk dahan pohon, orang itu bukan lain adalah Situa Pelita.

Bergegas Thian-hi melompat turun serta maju menyapa, “Kiranya adalah Jan-teng Cianpwe, Wanpwe tidak tahu, harap suka dimaafkan!”

Tanpa bersuara Situa Pelita menatap Thian-hi le-kat2, rada lama kemudian baru bicara, “Begitu besar nyalimu berani membunuh Giok-yap Cinjin!”

Hampir semua orang yang ketemu oleh Thian-hi tentu menuduhnya demikian, dengan sedih ia menundukkan kepala.

Situa Pelita mendengus serta katanya, “Waktu pertama kali aku melihat kau, mengingat riwayat dan pengalamanmu yang penuh derita aku rada kasihan dan membantu kau. Aku terburu-buru pergi karena punya urusan penting, untung waktu itu aku tidak turunkan ilmu Ginkang milik tunggalku itu kepadamu- Jiwa Soat-san-su-gou berempat terhitung tersia-sia, mereka salah menilai kau.”

“Cianpwe juga. mencurigai aku?” tanya Thian-hi mendongak. “Kenapa? Kau berani tak mengakui dosa2mu itu?” “Semua orang menuduhku begitu, apakah aku harus memberi penjelasan kepada seluruh manusia di kolong langit ini? Kiranya cukup kukatakan bahwa bukan akulah yang berbuat, aku tidak bisa menuntut kepada semua orang untuk memberi maaf kepada aku, namun dalam sanubari aku selalu berdoa, hanya Tuhanlah yang tahu apa yang telah terjadi!”

Situa Pelita menjadi bungkam, dengan mendelong ia awasi Hun Thian-hi.

Hun Thian-hi berdesah sambil menunduk, ujarnya, “Cianpwe! Sikapku ini mungkin rada keterlaluan, hakikatnya aku tidak tahu cara bagaimana aku harus memberi penjelasan kepada setiap orang, aku pun takkan bisa membuat setiap orang mau percaya kepada aku.”

Setelah berpikir Situa Pelita berkata, “Sebetulnya akupun tak berani berkukuh. Aku hanya mendengar berita saja, kenyataan pihak Bu-tong-pay sudah menyebar Bu-lim-tiap, mengundang seluruh tokoh-tokoh silat dari segala lapisan dan golongan untuk mencari jejakmu bersama.”

“Thian-cwan Taysu mengatakan supaya aku bersabar, tujuan hidupku sekarang hanyalah hendak menuntut balas bagi ayah dan Soat-san-su-gou berempat Cianpwe, soal lain aku tidak ambil peduli lagi.”

Akhirnya Situa Pelita menghela napas, katanya memberi pesan, “Bagaimana duduk perkara sebenar-benarnya sulit diterangkan. Tapi kau harus selalu ingat, hasrat kita sangat besar terhadap kemajuanmu dihari depan, kau harus bisa mengendalikan diri baik-baik, sudah aku pergi!” — enteng sekali tubuhnya lantas melayang jauh ke dalam hutan dan lenyap tanpa meninggalkan bekas.

Hun Thian-hi menjublek, pikirannya melayang jauh, akhirnya ia menghirup hawa panjang, meski Situa Pelita tidak membantu secara langsung, namun sikap dan kata-katanya itu sungguh membuatnya tunduk lahir batin.

Hun Thian-hi naiki kudanya dan melanjutkan perjalanan lagi. Tak lama kemudian ia memasuki sederetan hutan-hutan lebat yang semakin gelap. Jalan punya jalan lambat laun firasatnya bicara bahwa sekelilingnya telah penuh dikuntit oleh banyak perangkap. Segera Thian-hi menarik tali kekang dan menghentikan kudanya, sekian saat ia celingukan ke sekitarnya.

Benar-benar juga tahu-tahu di hadapannya melayang turun dua sosok manusia, mereka bukan lain adalah Gwat Long dan Sing Poh. Dengan sikap dingin Hun Thian-hi menatap mereka berdua. Demikian juga Gwat Long dan Sing Poh berdiri tegak dengan sikap angker di kanan kiri di hadapan kuda Thian-hi.

“Untuk apa kalian menghadang perjalananku?” jengek Thian-hi dingin.

Gwat Long dan Sing Poh berkata bersama, “Seluruh tokoh Bulim siapa yang tidak tahu bahwa kau telah membunuh guruku. Kenapa tanya lagi!”

Thian-hi tertawa dengan sombong, sindirnya, “Tapi adalah kalian berdua lebih jelas dari aku siapa sebetulnya pembunuhnya?”

“Hun Thian-hi!” maki Gwat Long gusar, “jangan cerewet lagi, apa hari ini kau sangka bisa keluar dari hutan ini? Hutan ini sudah terkepung rapat, seumpama tumbuh sayap pun jangan harap kau dapat terbang ke langit!”

Thian-hi bergelak tawa dengan congkak, katanya, “Guru kalian Giok-yap Cinjin semula menyangka kamu berdua sangat setia terhadap beliau, tapi setelah beliau wafat, sepak terjang kalian sungguh….” “Hun Thian-hi jangan banyak bacot lagi!” teriak Gwat Long sambil mengulapkan tangan ke belakang. “Lihatlah itu!”

Tampak dari hutan sebelah depan sana muncul Kongsun Hong gurunya.

Kata Gwat Long berpaling ke belakang, “Kongsun Tayhiap, muridmu disini bagaimana menurut anggapanmu?”

Melihat gurunya Kongsun Hong mendadak muncul di tempat itu, Thian-hi tercengang heran, cepat ia nyapa, “Suhu!”

Lam-siau Kongsun Hong menatap tajam ke arah Thian-hi tanpa bersuara.

Gwat Long mendesaknya lagi, “Kongsun Tayhiap, kaulah seorang tokoh Kangouw yang bangkotan, sepak terjang dan tingkah laku muridmu ini, kau sebagai gurunya bagaimana mempertanggung jawabkan!”

Kongsun Hong menghela napas tanpa bicara. Thian-hi menunduk dengan sedih, jelas terlihat olehnya titik-titik air mata dimuka gurunya. Dibanding pertemuan dengan gurunya tempo hari Lam-siau Kongsun Hong sekarang kelihatan jauh lebih tua sepuluh tahun, rambut dipinggir telinganya kelihatan sudah mulai ubanan.

Sekian lama Kongsun Hong tenggelam dalam renungannya, akhirnya ia angkat kepala berkata kepada Gwat Long, “Aku mengusirnya dari perguruan terserah bagaimana kalian hendak menghukumnya. Aku tak perlu banyak bicara lagi!”

Habis bicara terus tinggal pergi.

Gwat Long menjengek hidung, katanya, “Kongsun Tayhiap begitu saja keputusanmu?”

Kongsun Hong membalik ke arah Gwat Long katanya, “Bagaimana? aku menyerahkan dia kepada kalian untuk menghukumnya sesuka hatimu apakah masih kurang adil?”

Gwat Long mendengus tak bicara lagi. Maksudnya semula hendak mendesak Kongsun Hong supaya memerintahkan Hun Thian-hi bunuh diri, sekarang terpaksa harus turun tangan sendiri….

Dengan berlinang air mata Hun Thian-hi mengawasi punggung Kongsun Hong yang menghilang dibalik pohon dalam hutan. Tahu dia sikap dan keputusan gurunya terhadap dirinya tadi adalah yang paling baik dan banyak memberi kelonggaran, dan terpaksa memang harus demikianlah yang dapat diperbuatnya…. di hadapan para gembong-gembong silat Kangouw. Seumpama Kongsun Hong mengetahui bahwa kematian Giok-yap bukan lantaran dirinya, diapun bakal berbuat demikian.

Gwat Long melolos pedang terus menyerang kepada Hun Thian-hi.

Hun Thian-hi bergelak tawa, sigap sekali tubuhnya mencelat tinggi dari tunggangannya, sebelah tangan kiri menanggalkan pedang dengan jurus Hun-liong-pian-yu ia balas menyerang kepada Gwat Long.

Hun-liong-pian-yu adalah salah satu jurus dari Thian-liong-chit-sek yang paling hebat dan lihay.

Meski Gwat Long sebagai murid Bu-tong Ciangbun Giok-yap Cinjin tak urung juga terdesak mundur selangkah. Tapi dasar punya kepandaian tinggi dari didikan perguruan murni ilmu silatnya memang lain dari yang lain. Kejap lain ia sudah dapat memperbaiki posisinya, sekarang ia mulai balas menyerang, pedangnya panjang berterbangan, dengan jurus Soat-yong-lou-hwa, selarik sinar dingin berputar terus balas menyerang mengarah tenggorokan Thian-hi.

Menyaksikan Gwat Long mendesak gurunya begitu rupa sungguh benci Thian-hi bukan main, saking sengit segera ia kembangkan ilmu Gin-ho-sam-sek, tenaga dikerahkan seluruhnya untuk merobohkan lawan.

Melihat saudaranya rada terdesak Sing Poh segera mencabut pedang, sekarang berdua mengepung Hun Thian-hi. Dengan dua lawan satu Hun Thian-hi masih lancar memainkan Tam- lian-hun-in-hap untuk menyerang dan untuk membela diri.

Pertempuran sudah berjalan setengah jam, meski Thian-hi membekal pedang aliran murni dari tingkat yang paling tinggi, lama kelamaan ia merasa tenaga mulai terkuras habis, pula Gwat Long dan Sing Poh sudah mainkan Cian-si-bik-so ilmu pedang gabungan yang kokoh dan rapat sekali untuk menempur Thian-hi mati-matian.

Semakin tempur Gwat Long berdua semakin gagah dan serangan semakin gencar.

Tiba-tiba Hun Thian-hi bersuit nyaring panjang, tibalah saatnya ia kembangkan jurus ketiga Gin-sho-sam-sek yang belum selesai dilatihnya. Dimana pedangnya berputar lempang dimana jurus Hwi-ho-poh-cun-siau berkembang, cahaya mas berkilau mengembang lebar langsung menerjang dan membobol kepungan jalur sinar pedang Gwa Long dan Sing Poh, seiring dengan hasil gemilang ini tubuh Thian-hi pun ikut melesat keluar dari kepungan.

Begitu berhasil lolos dari kepungan seketika Thian-hi rasakan dadanya sesak dan mual, tanpa kuasa mulutnya lantas menyemburkan darah segar, sekali lompat ke atas punggung kudanya terus mencongklang keluar hutan.

Dalam ilmu Gin-ho-sam-sek hanya jurus ketiga inilah yang paling ganas dan merupakan jurus menyerang melulu. Dulu karena belum selesai sempurna ciptaan jurus ketiga ini maka Soat-san- su-gou tak berani melancarkan melawan Bu-bmg Loni sehingga mereka sendiri yang menjadi korban. Atau kalau terpaksa dilancarkan tentu untuk hari2 selanjutnya bilamana Hun Thian-hi melancarkan jurus ini Bu-bing Loni takkan gentar dan dapat menyelami inti sari serta pemecahannya. Kenyataan memang mereka terdesak dan bakal kalah akhirnya mereka sembunyikan jurus yang terlihay ini khusus diturunkan kepada Hun Thian-hi. Kalau Hun Thian-hi kelak berhasil mempelajari dengan sempurna tentu akan merupakan tekanan berat bagi Bu-bing.

Dengan luka-luka berat Thian-hi semampai di atas kudanya terus menerjang keluar hutan.

Waktu sampai diluar hutan dimana sudah ada orang yang menunggunya. Pertama-tama Toh-bing- cui-hun yang menyerang lebih dulu, sekali ayun tangan kanan cincin pencabut nyawa dan Cui- hun-chit-sa-to sekaligus diberondong keluar, semua mengarah tempat mematikan di tubuh Thian- hi.

Meski luka dalam sangat berat, tapi musuh menghadang jalan, terpaksa ia menahan sakit dan kerahkan tenaga, dengan menggeram gusar pedangnya berkelebat miring, cukup dengan jurus Tam-lian-hun-in-hap seluruh hujan senjata rahasia kena dipukul runtuh.

Sementara itu jarak kedua belah pihak sudah semakin dekat terpaksa Toh-bing-cui-hun To Hwi menggunakan pedang menyerang Thian-hi. Di belakangnya tampak Tosu gila juga muncul, teriaknya tertawa, “Bocah, mau lari kemana lagi!”

Perasaan Thian-hi menjadi pedih seperti diiris-iris, Tosu gila yang tempo hari pernah berjanji hendak membantu dirinya sekarang berbalik memusuhi dirinya. Saking berduka ia bergelak tawa panjang, pedangnya bergerak kencang menangkis dan menyampok serangan senjata para musuh, karena gelak tawanya ini darah menyembur lagi dari mulutnya. Melihat keadaan Thian-hi, Tosu gila menjadi kaget, biji matanya memancarkan sorot cahaya aneh berkilat.

Beruntun pedang Thian-hi menutul dan menabas ke arah kedua musuh, terpaksa Tosu gila berkelit mundur, Thian-hi berkesempatan mengeprak kudanya lari.

Tidak jauh Thian-hi lari Gwat Long dan Sing Poh sudah menyusul tiba. Tubuh mereka bagai terbang mencelat tiba menghadang jalan Hun Thian-hi.

Hun Thian-hi menjadi sengit bentaknya, “Jangan kalian terlalu mendesak orang!” — matanya mendelik membara ke arah kedua musuhnya.

Gwat Long dan Sing Poh menjadi gentar dan mundur ketakutan. Dengan gusar Thian-hi menggentakkan pedang menyerang lagi, karena kata-katanya tadi ia menyemburkan darah segar. Urusan sudah ketelanjur sedemikian jauh terpaksa Gwat Long berdua pun tak mau menyudahi begitu saja. Mana kuat dan mana lemah jelas dapat dibedakan, sekali balas menyerang’ pedang Thian-hi mencelat dari cekilannya.

Tepat saat itu Toh-bing-cui-hun juga telah memburu tiba, pedangnya menusuk kelambung Thian-hi karena tak membekal senjata terpaksa Thian-hi menjepit perut kudanya melecutnya ke depan untuk menghindari tusukan ganas ini.

Melihat Toh-bing-cu-hun To Hwi begitu bernafsu hendak membunuh Thian-hi, memang inilah yang menjadi maksud tujuan Gwat Long berdua, l<mbat2 saja mereka bergerak memberi peluang kepada TO Hwi. To Hwi lancarkan pula tabasan mengarah paha Thian-hi.

Sekonyong-konyong dari tengah udara meluncur sesosok bayangan orang, dimana sinar perak berayun kontan pedang To Hwi kena tergulung terbang ke tengah udara.

Tampak Bun Cu-giok meluncur hinggap di tanah, sekilas dilihatnya dari kejauhan banyak Tosu tengah memburu tiba, cepat-cepat ia berseru kepada Thian-hi, “Saudara Hun. Lekas lari!”

Sementara itu, Ciok Yan juga membedal kudanya menerjang tiba. Bun Cu-giok mainkan ilmu cambuknya yang lincah dan hebat untuk mendesak para musuh, kesempatan lain serentak mereka melarikan diri bersama.

Sudah tentu Gwat Long dan Sing Poh tak rela ikan yang sudah masuk jaring terlepas lagi.

Dengan kencang mereka mengejar. Terpaksa Bun Cu-giok mainkan gabungan ilmu pedang dan cambuk untuk menandingi para pengejarnya, sambil tempur terus melarikan diri.

Sekejap saja sepuluh li sudah ditempuh, lari bertempur masih terus berlangsung, akhirnya tinggal Gwat Long dan Sing Poh yang masih terus mengejar.

Bun Cu-giok menghentikan langkah dan membalik tubuh, bentaknya kepada Gwat Long berdua, “Cara bagaimana kematian Supek kalian berdua jelas mengetahui, tahu salah tapi tak bertobat, sekarang malah berani main bunuh pada orang yang tak berdosa, dimana hati nuranimu?”

Sejenak Gwat Long berdua tercengang, akhirnya menebalkan muka berkata, “Kaukah murid Ce- hun Totiang? Meski Ce-hun diusir dari perguruan, hubungan kental dengan guruku masih kekal.

Hun Thian-hi membunuh guruku, hal ini diketahui seluruh dunia, bagaimana kau bisa melepas dia.”

Bun Cu-giok menjadi murka, makinya, “Sampai matipun kalian cdak insaf?” Pedang mas dan cambuk perak bergerak bersama merabu kepada Gwat Long berdua. Betapa girang hati Thian-hi mendapat bantuan Bun Cu-giok dan Ciok Yan, lambat-lambat ia meraba daun buah ajaib terus ditelannya, bersama Ciok Yan menonton diluar gelanggang.

Seorang diri Bun Cu-giok melawan keroyokan Gwat Long dan Sing Poh. Sama-sama murid Bu- tong dari aliran murni, setiap jurus dan tipu permainan mereka hampir sama, sekejap saja pertempuran sudah berlangsung lima puluh jurus.

Kuatir bala bantuan pihak lawan keburu tiba, segera Bun Cu-giok melompat mundur terus naik ke atas kudanya serunya, “Tak perlu kulayani kalian!” bersama Thian-hi dan Ciok Yan mereka lari pula dengan kencang.

Gwat Long dan Sing Poh juga tahu tak lama lagi bala bantuan bakal tiba mana mereka berani mengejar terus, kalau sekarang tidak beres tentu kelak menimbulkan bibit bencana. Beberapa lama kemudian Bun Cu-giok berhenti dan memutar balik, hardiknya, “Kalian benar-benar bandel?”

Gwat Long berdua tak banyak bicara begitu dekat lantas menyerang. Hun Thian-hi menggertak sengit. dengan kedua kepalannya ia lancarkan pukulan jarak jauh merabu kedua musuhnya.

Sungguh kejut Gwat Long berdua bukan main, cepat-cepat mereka jumpalitan mengegos, kelihatannya tenaga Thian-hi sudah pulih begitu cepat, pelan-pelan mereka mundur menjauh dan tak berani sembarangan bergerak. Bun Cu-giok berkakakan, baru saja mereka hendak melanjutkan lari.

Tiba-tiba meluncur turun bayangan orang dari tengah udara, tahu-tahu seorang tua muka hitam berdiri tegak dihidapan Gwat Long berdua.

Terbelalak mata Thian-hi bertiga, cara gerak tubuh pendatang ini, sungguh sangat menakjubkan, belum pernah terlihat orang bisa bergerak begitu lincah dan indah, entah apa maksud kedatangannya Orang itu menggeram ditenggorokan sambil mendelik Ke arah Thian-hi bertiga, lalu memutar menghadapi Gwat Long dan Sing Poh.

Begitu melihat jelas orang muka hitam kontan Gwat Long berdua mengunjuk rasa girang dan berseri tawa, tersipu-sipu maju menjura serta sapanya, “Wanpwe Gwat Long dan Sing Poh menghadap Cu-kat Cianpwe!”

Mendengar nama orang terkejut Bun Cu-giok, mulutnya mendesis, “Dialah jiang-ho-it-koay Cukat Tam!”

Thian-hi juga terlongong, memang ia sedang menempuh perjalanan menuju ke Tiang-pek-san hendak mencari Ciang-ho-it-koay, tapi sekarang dia sudah datang sendiri, namun situasi sekarang jelas sangat tidak menguntungkan bagi pihaknya.

Kata Cukat Tam kepada Gwat Long berdua. “Kudengar berita katanya gurumu sudah wafat, apakah betul?”

Gwat Long dan Sing Poh menjawab bersama, “Harap Cukat Cianpwe suka memberi keadilan, memang begitulah kebenar-benarannya!”

Cukat Tam menoleh ke arah Bun Cu-giok, tanyanya menyerngai, “Siapakah Hun Thian-hi?” “Akulah Hun Thian-hi!” jawab Thian-hi lantang. Ciang-ho-it-koay mengawasi Thian-hi dengan seksama, tiba-tiba ia terbahak-bahak, nada tawanya begitu keras mendengung di pinggir telinga sampai Thian-hi merasa pusing tujuh keliling.

Terpikir dalam dugaan Thian-hi bahwa Cukat Tam ini mungkin dulu pernah mendapat kebaikan dari Put-lo-sin-sian Giok-yap Cinjin, jelas hari ini dirinya takkan dapat terhindar dari bencana.

Hal yang paling menggelikan justru dirinya hendak pergi mencarinya.

Setelah menghentikan gelak tawanya Cukat Tam bertanya menegas, “Kau yang bernama Hun Thian-hi?”

Thian-hi tersenyum lebar, “Betul!” sahutnya manggut.

Cukat Tam mengawasi lagi dengan seksama, akhirnya ia berpaling dan berkata kepada Gwat Long Sing Poh, “Benar-benarkah guru kalian terbunuh ditangannya?”

Gwat Long Sing Poh manggut bersama, menjelaskan, “Suhu tersesat waktu latihan Lwekang, dalam keadaan tak bisa bergerak dan bicara, gampang saja dia membunuh beliau.”

Ciang-ho-it-koay bergegas membalik tubuh serta membentak kepada Thian-hi dengan gusar, “Kenapa kau membunuh Giok-yap Cinjin?”

Thian-hi tertawa-tawa, jawabnya, “Kau tanya saja kepada mereka berdua” “Aku tanya kau!” hardik Cian-ho-it-koay murka.

Bun Cu-giok segera menyelak bicara dengan keras, “Giok-yap Supek hakikatnya bukan dibunuh oleh Hun Thian-hi.”

Ciang-ho-it-koay tercengang, jengeknya kepada Bun Cu-giok, “Siapa kau?” “Aku yang rendah Bun Cu-giok.” sahut Bun Cu-giok lantang.

Ciang-ho-it-koay mendengus hina, ejeknya, “Bun Cu-giok merupakan kaum keroco yang tak terkenal, kenapa diagulkan!”

Bun Cu-giok tahu selamanya Ciang-ho-it-koay bicara tentang budi tak mengenai keadilan, jelas dia punya hubungan erat dengan Gwat Long dan Sing Poh, pihak sendiri terang menjadi bulan2an belaka.

Tiba-tiba tergerak hatinya, cepat ie menjura serta katanya, “Cukat Cianpwe guruku Ce-hun, apakah Cianpwe pernah dengar nama beliau?”

Bertaut alis Ciang-ho-it-koay Cukat Tam, hatinya menjadi curiga dan bertanya-tanya, dia tahu bahwa Ce-hun adalah Sute dari Giok-yap. Diantara sesama perguruan yang sedemikian banyak hubungan Giok-yap paling akrab dengan Ce-hun, kenapa para murid kedua tokoh seperguruan mereka saling bertentangan? Katanya, “Jadi kau murid Ce-hun?”

Bun Cu-giok tahu sekarang tiada untungnya membicarakan aturan, segera ia manggut-manggut katanya lagi, “Karena urusan Supek itu, maka Suhu menitahkan aku untuk bicara dengan Cianpwe.” Ciang-ho-it-koay semakin gopoh, batinnya, “Selamanya aku tak punya hubungan dengan Ce- hun, untuk persoalan apa ia mengajak aku bicara?” — tapi kedua belah pihak adalah tokoh-tokoh ternama betapapun ia harus memberi muka, maka segera ia menegas, “Apa betul?”

Gwat Long dan Sing Poh segera menimbrung, “Cukat Cianpwe jangan kau tertipu oleh obrolannya. Coba pikir, baru saja kau orang tua mendengar kabar dan memburu datang, bagaimana mungkin dia mendapat tugas gurunya untuk mengundang kau? Jelas ia sedang menggunakan tipu memancing harimau dari gunung.”

Ciang-ho-it-koay termakan oleh hasutan ini, dengusnya kepada Bun Cu-giok, “Dimana gurumu?”

“Sudah tentu berada di Tangkula-san!”

“Itulah baik. Hun Thian-hi hendak kuringkus kesana, kupikir kau takkan menolak bukan.”

Bun Cu-giok tertegun melongo, dia tahu gurunya takkan sudi mau mengurus segala tetek bengek ini. Apalagi soal perjodohannya dengan Ciok Yan pun belum mendapat restunya. Kalau membawa Hun Thian-hi ke Tangkula-san, kalau diadu bertiga dan bicara secara berhadapan, jelas pembualanku bakal membuat marah Suhu, bukankah urusan bakal lebih tidak menguntungkan bagi Hun Thian-hi!

Melihat keraguan Bun Cu-giok Ciang-ho-it-koay menyeringai ejek. Cepat-cepat Hun Thian-hi berkata, “Apakah Cukat Cianpwe takut Hun Thian-hi bakal melarikan diri?”

Ciang-ho-it-koay terloroh-loroh, “Bocah cilik, jangan takabur di hadapanku!” sembari berkata tangan kanannya diulurkan mencengkeram ke arah Bun Cu-giok.

Melihat urusan tak bisa dibikin damai, lekas-lekas Bun Cu-giok mengegos kesamping serta berteriak, “Hoan-hu popo segera bakal tiba, apakah kau masih tidak percaya?”

Ciang-ho-it-koay semakin murka, bentaknya, “Peduli apa Hoan-hu popo!” tangannya bergerak lagi, kelima jari-jarinya seperti cakar garuda menyengkeram kemuka Bun Cu-giok.

Melihat situasi sekarang sangat menguntungkan pihaknya, Gwat Long berkesempatan bergerak lagi, sambil menggertak berbareng mereka menubruk ke arah Hun Thian-hi.

Tepat pada saat itu, kelihatan Huan-hu popo melayang datang dengan kecepatan seperti anak panah, langsung ia meluncur di hadapan Ciang-ho-it-koay, seringainya dingin, “Cukat Tam! Berani kau menghina padaku!”

Melihat Hoan-hu popo betul-betul muncul Ciang-ho-it-koay menjadi tersipu-sipu, sesaat ia tertegun. Sebaliknya Bun Cu-giok menjadi kegirangan, sebat sekali badannya melejit tinggi merangsek ke arah Gwat Long Sing Poh. Terpaksa Gwat Long Sing Poh melompat menyingkir.

Cukat Tam menjengek, “Apa pedulimu dalam persoalan ini!”

“Gadis itu adalah muridku, Bun Cu-giok adalah calon suaminya, apa yang hendak kau perbuat kepada mereka!” tanya Hoan-hu popo.

Cukat Tam menjadi sangsi, tahu dia bahwa Hoan-hu popo tidak gampang diajak bekerja, katanya, “Jadi kau sudah tahu duduk perkara sebenar-benarnya. Apakah betul Ce-hun Totiang mengundang aku?” “Peduli dengan urusan itu. Tapi muridku dan calon suaminya betapapun tak kuijinkan kau mengganggu usik mereka.”

Kata Bun Cu-giok kepada Hoan-hu, “Nenek, bantulah aku sekali ini. Sebetulnya Hun Thian-hi tidak membunuh Giok-yap Cinjin, ini hanya fitnah belaka.

“Nak, kau jangan menjadi bodoh”’ ujar Hoan-hu, “Urusan ini sulit diketahui siapa benar-benar atau salah, jangan kau usil!”

Sementara itu Ciang-ho-it-koay sudah berpikir sekian lamanya, katanya, “Baiklah, secara sembrono mulutku mengoceh menyakiti hatimu. Hitung saja dia tak bersalah kubebaskan dia!”

“Tidak bersalah apa,” bentak Bun Cu-giok dengan gusar. “Justru kau ini yang tidak tahu duduk perkara Sebenar-benarnya, kau dengar kata sepihak dari kawanan penjahat.”

Berubah air muka Gwat Long dan Sing Poh. Rona wajah Ciang-ho-it-koay juga berubah bergantian. terdengar ia menjengek dingin, “Berani kau mengoceh lagi, awas, kupuntir kepalamu!”

“Coba kau berpikir,” semprot Bum Cu-giok dengan lantang, “Apa alasan Hun Thian-hi untuk membunuh Giok-yap Cinjin?”

“Peristiwa Hun Thian-hi membunuh puluhan jiwa aku pun sudah dengar, memang di seluruh kolong langit ini siapa yang punya alasan untuk membunuh Giok-yap Cinjin?”

Bun Cu-giok menjadi bungkam, sebaliknya Hun Thian-hi mandah tersenyum ewa, katanya kepada Bun Cu-giok, “Saudara Bun terima kasih akan kebaikanmu ini, sebetulnya aku hendak ke Tiang-pek-san mencari dia, sekarang dia sudah datang, sangat kebetulan malah.”

“Kau hendak mencari aku?” tanya Ciang-ho-itkoay mendengus hidung. Hun Thian-hi tak mau jawab.

Kata Bun Cu-giok:”Lote, hakikatnya kau tidak melakukan kesalahan, betapapun jangan mandah menyerah saja.” — Lalu ia lemparkan pedang panjangnya kepada Hun Thian-hi.

Melihat kekukuhan pendapat Bun Cu-giok, Hoan-hu mengerut kening, ia insaf bila benar-benar- benar-benar sampai Ciang-ho-it-koay marah dan urusan sudah ketelanjur tentu berabe, segera ia maju selangkh serta berkata kepada Ciang-ho-itkoay, “Aku pulang lebih dulu!” — Sembwi berkata secepat kilat ia tutuk jalan darah Bun Cu-giok dan Ciok Yan terus dikempit dan dibawa lari.

Menyoreng pedarg mas pemberian Bun Cu-giok, Hun Thian-hi tenggelam diam pikirannya, sekarang dia menghadapi lawan tangguh, dia tahu bagaimana juga dia tak mampu menang.

Terdengar Ciang-ho-it-koay mendehem keras serta mendesak maju kehadapan Hun Thian-hi.

Hun Thian-hi mengangkat alis, sebetulnya hatinya berontak untuk menyerah begitu saja, ada hasrat menggunakan jurus Pencacat langit pelenyap bumi yang ganas itu, tapi tempo hari sudah pernah berjanji terhadap Situa Pelita

Hati Ciang-ho-it-koay juga rada heran dan bertanya-tanya, dia heran atas ketenangan Hun Thian-hi, desisnya dingin, “Hun Thian-hi, sebelum ajalmu ingin aku bertanya, untuk keperluan apa kau hendak ke Tiang-pek-san mencari aku!”

Dengan mendelong Hun Thian-hi menjawab, “Urusan sudah lewat, tak perlu disinggung lagi!” Gwat Long dan Sing Poh menjadi kuatir kalau semakin berlarut urusan bakal berabe, segera mereka mendesak, “Cukat Cianpwe, bocah ini cukup licik dan banyak muslihat, jangan sampai tertipu olehnya, cepat bunuh saja supaya tidak menimbulkan bencana dikemudian hari!”

Ciang-ho-it-koay terbahak-bahak, ujarnya, “Masa aku takut menghadapi muslihat orang?” — Sebat sekali tubuhnya berkelebat merangsak ke arah Thian-hi. kedua jari tangan kanannya dirangkap menutuk ke jalan darah Sam-kiau-hiat Hun Thian-hi.

Cepat Thian-hi menggerakkan pedang, laksana lembayung sinar mas dari pedangnya berkelebat melancarkan jurus Gelombang perak mengalun berderai, menjaga diri dan balas menyerang dengan tarian pedang yang menakjupkan.

Terdengar Cukat Tam menjengek murka, “Dengan bekal Lwekang begini berani unjuk gagah di depan seorang ahli?” — Sembari berkata tangan kanannya bergerak lincah seperti bayang2 kipas melancarkan ilmu pukulan Biau-hun-ciang, telapak tangannya berkembang terus mencengkeram ke arah

pedang mas Hun Thian-hi.

Lekas-lekas Thian-hi menarik pedang dan berusaha melompat mundur, namun pedang sudah tak kuasa dipegangnya lagi, entah bagaimana tahu-tahu sudah terampas oleh Ciang-ho-it-koay.

Cukat Tam buang pedang di atas tanah, sambil menyeringai mulutnya menjengek, “Masih punya kepandaian lihay apa lagi?”