Badik Buntung Bab 03

 
Bab 03

Thian-hi kesima mengawasi wajah gadis baju hitam, kulit wajah gadis remaja ini kelihatan putih halus, sepasang matanya bening dan hitam bersinar tajam, setelah slorot turun dari punggung burungnya hanya sekilas memandang ke arah Soat-san-su-gou, hakikatnya ia seperti tidak melihat akan kehadiran Thian-hi disitu.

Sementara itu, begitu loncat turun dayang kecil atau Siau Hong itu lantas sembunyi di belakang gadis baju hijau itu, lehernya diulur tinggi sembari jinjit2. Sepasang matanya yang jeli melotot lebar mengintip2 dari belakang pundak sinona ke arah Hun Thian-hi.

Dalam pada itu, burung dewata yang lainnya pun sudah mendarat, ditunggangi oleh seorang Nikoh tua yang mengenakan jubah keagamaan warna abu-abu. Pelan seperti malas-malasan ia turun dari punggurg burung dewata itu, matanya terpicing mengawasi Soat-soan-su-gou ganti berganti, mendadak kelihatan biji matanya terpentang lebar memancarkan napsu membunuh yang tebal.

Dilain pihak Soat-san-su-gou tetap berduduk samadi memejamkan mata tak bergerak, seperti tidak mengetahui akan kedatangan mereka.

Kelihatan Bu Bing Loni mengayun tangan kanan, dari dalam lengan bajunya ia melemparkan sebatang tongkat putih ke hadapan si orang tua pertama beralis putih itu.

Tongkat sepanjang tiga kaki yang terbuat dari batu pualam itu melesak masuk seluruhnya ke dalam tanah, tanpa mengeluarkan suara.

Perlahan-lahan orang tua alis putih angkat kepala menatap ke arah Bu Bing Loni. Terdengar Bu Bing Loni tertawa dingin, ujarnya, “Kedatanganku hanya untuk minta orang, ngajaran dari kalian yang menamakan diri sebagai Soa san-su-gou, betapa tinggi dan ada keanehan apa dari ilmu kepandaian kalian?”

Orang tua alis putih beragu sebentar, katanya dengan suara rendah, “Ketahuilah dia bukan murid dari Ang-hwa-lo-mo itu, malah….”

Tak menanti orang bicara habis, Bu Bing Loni segera menyela, “Segala sepak terjangku sejak dulu siapa yang berani tanya kenapa?”

Sesaat orang, tua alis putih merenung, lalu katanya kalem, “Apa tidak lebih baik kau pertimbangkan sekali lagi?”

Bu Bing Loni mendengus gusar, ia berpaling ke arah gadis baju hitam serta berkata, “Ambil pedangku!”

Cepat-cepat gadis baju hitam itu mengangsurkan sebilah pedang panjang, pelan-pelan Bu Bing Loni melolos pedang itu dari sarungnya.

Orang tua alis putih mandah tertawa tawar, sebelah tangannya diulur mencabut keluar tongkat yang amblas dalam tanah di depannya terus dilontarkan kepada orang keempat, serempak mereka lantas mengeluarkan sebatan tongkat putih pula.

Dengan angker Bu Bing loni melintangkan pedangnya di depan dada, lambat-lambat ia memutar tubuh menghadapi Soat-san-su-gou dengan sikap dingin.

Berbareng Soat-san-su-gou bangkit berdiri. Selama hidup ini baru pertama kali ini Thian-hi bakal menyaksikan pertunjukan adu silat tingkat tinggi, tak terasa jantung berdebur keras dan tegang, tersipu-sipu iapun berdiri menyingkir ke samping. Diam-diam ia melirik ke arah gadis baju hitam itu, orang tengah memusatkan perhatiannya ke tengah gelanggang, sedikitpun tidak hiraukan kepadanya.

Hun Thian-hi menjadi malu sendiri, iapun segera menaruh perhatian akan pertarungan dahsyat yang bakal terjadi ini.

Sementara itu Soat-san-su-gou sudah mencari kedudukannya masing-masing, Bu Bing Loni terkepung diantara mereka berempat. Pelan-pelan Bu Bing Loni angkat dan menggerakkan pedang ditangannya, sikapnya yang angkuh dan menyungging senyum ejek hakikatnya tidak memandang sebelah mata pada keempat lawannya.

Pedang panjangnya itu bergerak lamban melancarkan jurus serangan, setelah berputar-putar setengah lingkaran ditengah udara langsung menutul ketenggorokan orang tua alis putih.

Menghadapi musuh besar yang diagulkan sebagai tokoh jahat nomor satu di seluruh jagat ini sedikitpun Soat-san-su-gou berempat tak berani berlaku ayal2an, serempak cepat tongkat pualam mereka bergerak saling silang terbang serabutan melancarkan jurus pertama dari Gin-ho-im-sek yang dinamakan Gin-poh-tam-tam-gi (gelombang perak mengalun berderai), tabir sinar putih perak laksana percikan alunan air gelombang melandai ke arah Bu Bing Loni dari berbagai penjuru.

Dimana Bu Bing Loni menggoreskan pedangnya, tiba-tiba terasa pedangnya menjadi berat seperti tertahan maju, sementara ujung pedangnya laksana disedot oleh sesuatu kuatan yang hebat, sehingga kurang leluasa bergerak lagi. Keruan kejut sekali hatinya, diam-diam ia menyedot hawa mengerahkan tenaga, pedangnya panjang digerakkan kembali lebih cepat merangsak ke arah Soat-san-su-gou.

Mendadak gerak gerik tongkat para tokoh dari Soat-san itu membaling putar balik secara tiba- tiba, kontan pedangnya Bu Bing Loni kena terkurung dan dituntun kesamping hingga menusuk tempat kosong.

Gabungan ilmu tongkat Soat-san-su-gou memang cukup hebat, perubahannya sukar diraba sebelumnya, dari menjaga diri bisa berubah menyerang dengan dahsyat, apalagi dengan kepungan dari empat penjuru ini, serempak empat batang tongkat pualam itu menutuk lempang ke seluruh badan Bu Bing Loni.

Bu Bing Loni sudah diakui sebagai tokoh silat nomor satu yang tiada bandingannya di kolong langit, ilmu pedangnya yang bernama Hui-sim-kiam-hoat merupakan ilmu pedang yang paling digdaya dan malang melintang di seluruh Bulim, masa begitu gampang ia mandah dikalahkan?

Begitu tusukan pedangnya mengenai tempat kosong lantas ia tahu akan akibat apa yang bakal dialaminya, maka dengan mendengus keras-keras, pedang panjangnya ditarik sertakan tenaganya…. Ting, ting, ting! Beruntun terdengar suara benturan nyaring yang menusuk telinga, dengan ketangkasan’

permainan pedangnya sekaligus ia tangkis kembali keempat batang tongkat kemala putih Soat- san-su-gou yang menyerampang tiba.

Dengan serangan gabungan dari empat penjuru ternyata Soat-san-su-gou masih tidak mampu mendesak Bu Bing Loni setapak kakipun, dan betul-betul luar biasa keruan mereka bercekat dan kaget dalam hati, untuk babak selanjutnya mereka tak berani gegabah main serang lebih dahulu serempak mereka loncat mundur dan berdiri menempati kedudukan semula.

Bu Bing Loni berdiri tegar dengan muka beringas meskipun secara gampang ia berhasil membendung dan menghalau serangan gabungan lawan, namun hakikatnya selama hidupnya ini kapan ia pernah terdesak di bawah angin sedemikian rupa? Matanya berkilat memancarkan sinar biru mengandung nafsu membunuh yang berkobar.

Tersapu oleh pandangan cahaya. mata Bu Bing Loni yang menyeramkan itu, tanpa terasa melonjak keras jantung Hun Thian-hi, tak kuasa matanya lantas melirik ke arah sigadas baju berbaju hitam itu. Kelihatan sikap orang tetap seperti waktu datang tadi, sedikitpun wajahnya tidak menunjukkan expresi apa-apa, matanya menatap tajam dalam gelanggang. Sebaliknya Siau Hong membelalak kedua biji matanya tengah mengawasi Hun Thian-hi.

Memang diluar dugaan Bu Bing Loni bahwa kepandaian silat Soat-soan-su-gou kiranya memang hebat diluar perhitungannya semula. Begitulah sekali lagi ia menggetarkan pedang panjangnya mengembangkan lagi Hui-sim-kiam-hoat yang telah menjagoi di seluruh kolong langit. Setitik sinar putih kemilau yang menyilaukan mata berkelebat laksana seekor ular hidup terbang menari ditengah angkasa terus membeliti dan menerjang keempat penjuru menyerang kepada musuhnya.

Soat-san-su-gou memusatkan seluruh perhatiannya. Sekali lagi mereka lancarkan jurus Gin- poh-tam-tam-ki (gelombang perak mengalun berderai), jurus ini memang peranti untuk menjaga diri tanpa balas menyerang.

Gin-ho-sam-sek merupakan ilmu gemblengan hasil pemikiran Swat-san-su-gou selama hidup ini. Betapapun tinggi kepandaian Bu Bing Loni yang sudah diagulkan sebagai jago nomor satu di seluruh jagat ini, dengan satu lawan empat dalam sementara waktu agaknya sukar dapat mengambil kemenangan dan memecahkan kepungan jang’ kepungan yan ketat itu. Begitulah tanpa menggeser kaki tangan Bu Bing Loni terus bergerak gesit dan tangkas sekali memutar dan menarik pedang panjangnya menyerang dahsyat kepada empat lawannya, sebentar saja ratusan jurus sudah berlahu.

Saking hebat pertunjukan yang disaksikan ini Hun Thian-hi sampai melongo dan menjublek ditempatnya, darahnya berdesir semakin cepat. Pertunjukan adu kepandaian yang dilihatnya ini betul-betul belum pernah disaksikan selama hidup ini, kecepatan permainan pedang Bu Bing Loni yang banyak perrubahannya betul-betul sukar diikuti dengan pandangan matanya. Sebaliknya meskipun Soat-san-su-gou selalu hanya melancarkan jurus-jurus pertamanya tadi, namun perubahannya yang kokoh kuat itu sulit pula dapat diselaminya.

Semakin bertempur hati Bu Bing Loni semakin was-was, baru sekarang diinsafi olehnya bahwa Swat-san-su-gou merupkan lawan tertangguh selama hidupnya. Kalau tadi ia berseru angkuh dengan berdiri diam ditempatnya, sekarang mulai kelihatan kakinya bergerak maju mundur, gerak badannya mengikuti tarian kelebat sinar pedangnya, mendadak tampak permainan pedangnya berubah lagi kabut pancaran cahaya putih kemilau beterbangan memenuhi angkasa raya.

Cara perlawanan Swat-san-su-gou sebetulnya adalah dengan ketenangan menundukkan kekerasan, namun begitu permainan pedang Bu Bing Loni berubah, seketika mereka berempat merasakan tekanan tenaga dari luar semakin besar, batang pedang Bu Bing Loni kelihatan selincah naga terbang menari ditengah angkasa dan selulup timbul ditengah samudera raya, sudah beberapa kali hampir saja menerobos keluar dari kepungan.

Empat tongkat Soat-san-su-gou teracung tinggi-tinggi ke tengah begitu sedikit saling sentuh gesit sekali sebelum Bu Bing Loni sempat menerobos keluar gerak perubahan tongkat mereka sudah mendahului menghalanginya kembali.

Sekarang merekapun mulai bergerak. Jurus kedua dari ilmu gabungan Gin-ho-sam-sek mereka mulai dilancarkan yaitu yang dinamaknn Gam-lian-hun-in-ho (gabungan panjang awan dan bayangan), empat batang tongkat pualam mereka seperti tergubat menjadi satu membentuk sejalur cahaya tonggak yang mengurung ketat Bu Bing Loni.

Terdengar Bu Bing Loni menggertak nyaring, permainan pedangnya bergerak semakin cepat, mereka berlima sudah mulai lancarkan seluruh kemampuan masing-masing, setaker dari seluruh kekuatan mereka sudah dikuras seluruhnya. Gelanggang pertempuran menjadi ribut, angin menderu seperti angin lesus, angkasa menjadi gelap. Gadis baju hitam yang menonton dipinggir gelanggang menjadi kesima dan prihatin menahan napas.

Adalah Hun Thian-hi terlongong di tempatnya berdiri, pertempuran dahsyat macam ini betul- betul merupakan totonan yang jarang dapat disaksikan.

Tak terasa pertempuran dahsyat ini berjalan semakin cepat dan hebat, dilain kejap ribuan jurus sudah lewat cuaca semakin terang, sinar bintang-bintang menjadi guram berkelap-kelip bertaburan diangkasa raya menyinari puncak tertinggi Soat-san ini.

Kini kelihatan jurus permainan Bu Bing Loni dari cepat berubah lambat, namun setiap jurus tipunya dilandasi kekuatan tenaga dalam yang luar biasa dahsyatnya, terus memberondong ‘kepada empat lawannya.

Demikian juga Soat-san-su-gou terpaksa juga harus mengerahkan seluruh tenaganya untuk bertahan dan megurung Bu Bing Loni. Kelihatan Bu Bing Loni menyeringai dingin, tiba-tiba batang pedangnya bergerak berputar membuat lingkaran besar seperti lembayung menggubat ke arah empat musuhnya.

Langit di sebelah timur bertambah terang, selarik cahaya kuning yang terang benderang mulai timbul diufuk timur dibalik awan, pelan-pelan matahari mulai timbul dari peraduannya.

Terdengar Bu Bing Loni menggerung tertahan, cahaya sinar pedangnya mendadak menggelembung seperti lajur berkembang, itulah jurus Kek-hun-sau-liang (dibalik awan menggubat tonggak) salah satu jurus Hui-sim-kiam-hoat yang ampuh dan sakti, dimana sinar pedang berkelebat menembus tinggi keangkasa, terdengar pula suara nyaring lirih menembus kesunyian alam pegunungan. terlihat tubuh tinggi besar Bu Bing Loni menjulang tinggi keangkasa menerobos keluar dari kepungan Soat-san-su-gou, ditengah udara ia jumpalitan dengan gaja yang indah terus meluncur turun hinggap di tanah dengan enteng tanpa mengeluarkan suara.

Sambil berdiri tegap wajahnya mengunjuk senyum sinis yang dingin, pedang melintang di depan dada.

Sementara itu Soat-san-su-gou juga bergerak cukup gesit, serentak mereka loncat mundur terus berdiri sejajar bersentuh pundak.

Sesaat orang tua beralis putih merenung, lalu katanya kepada Bu Bing Loni, “Memang hebat, kita berempat m-ngaku kalah!”

Biji nmata Bu Bing Loni memancarkan cahaya aneh, sekelebat saja lantas lenyap, benar-benar diluar dugaannya dengan ketenaran Soat-san-su-gou, begitu terdesak di bawah angin lantas berani terang2an mengaku kalah, apalagi mereka selama ini mengetahui pribadinya.

Bu Bing Loni hanya mendengus saja, tak tahu cara bagaimana ia harus menjawab.

Sekilas menyapu pandang keseluruh gelanggang, orang tua beralis putih borkata lagi, “Secara jujur harus kita akui, kalau pertandingan ini diteruskan pasti kita berempat tak kuat melawan kehebatan Hui-sim-kiam-hoat!”

Bu Bing Loni menyeringai dingin, tanyanya, “Kau ada permintaan apa?”

Orang tua beralis putih berpikir sebentar lalu katanya sungguh-sungguh, “Ya, hari ini kita empat saudara mengaku kalah, malah kita rela untuk bunuh diri. Tapi kau harus melulusi dalam satu tahun ini melepaskan Hun Thian-hi!”

“Tidak mungkin!” jengek Bu Bing Loni ketus,

“Kalau tidak setuju,” kata orang tua alis putih, “kukira kau sendiri lebih tahu, setelah pulang dari sini sedikitnya kau harus menghadap dinding sepuluh tahun, apalagi kita berempat, betapapun tinggi kepandaian silatmu? jangan harap kita mandah menyerah begitu saja.”

Pandangan Bu Bing Loni memancarkan cahaya aneh dan tajam. Orang tua alis putih tahu hati orang sudah tergerak, maka segera ia menambahi, “Satu tahun, hanya setahun saja. Masa dengan kedudukanmu yang teragung sebagai tokoh nomor satu dijagat ini takut menghadapi orang bocah yang masih hijau?”

Bu Bing Loni berpaling mengawasi Hun Thian-hi, “Baik”, sahutnya menjengek hina, “terpaksa kukabulkan sekali permintaan ini!” Orang tua alis putih bersorak girang, matanya memancarkan cahaya terang, serunya lagi, “Kau, demikian juga mereka?”

Bu Bing Loni manggut-manggut.

Orang tua aiis putih memutar tubuh menggapai kepada Hun Thian-hi, “Nak, kemarilah!”

Waktu mendengar percakapan orang tua alis putih dengan Bu Bing Loni tadi sesaat Hun Thian- hi menjadi kesima dan melongo, begitu mendengar panggilan pelan-pelan ia maju kehadapan orang tua alis putih. Dengan mematung ia bertanya kepada orang tua alis putih, “Locianpwe!

Kenapa kau berbuat begitu?” habis berkata tak tertahan lagi air mata lantas mengalir keluar.

Orang tua alis putih tersenyum manis katanya, “Kelak tentu kau akan tahu, tak perlu kau bertanya lagi!”

Kata Hun Thian,hi sambil membasut airmata, “Dengan keputusan kalian ini cara bagaimana aku bisa menerima?…. Baru pertama kali ini aku berjumpa dengan kalian bukan?”

Tangan orang tua alis putih terulur mengelus kepala Hun Thian-hi, matanya memandang jauh ke ufuk timur memandangi sang surja yang mulai menongol keluar, katanya kepada Hun Thian-hi, “Coba apa kau sudah melihat matahari terbit itu, itulah lambang dirimu kelak!”

Raut muka Bu Bing Loni berkerut-kerut dan bergidik, namun sebentar saja, tanpa buka suara.

Pelan-pelan Soat-san-su-gou duduk bersila kembali, tersipu-sipu Hun Thian-hi berlutut dihadapan orang tua alis putih. Jiwa Soat-san-gu-gou berempat untuk menebus jiwanya sendiri selama setahun saja, sungguh perasaannya sangat tertekan dan haru sekali.

Orang tua alis putih menghela napas, tanyanya, “Nak kudengar kau masih mengemban tugas menuntut balas sakit hati ayahmu bukan?” Hun Thian-hi manggut-manggut.

“Siapakah musuh besar itu?” “Mo-bin-su-seng!”

Orang tua alis putih terkejut melongo, mulutnya mendesis, “Oh kiranya dia?”

Sungguh orang tua alis putih tidak mengira bahwa Hun Thian-hi terikat permusuhan dengan dua tokoh lihay yang paling ditakuti di seluruh kolong langit ini. Bu Bing Loni merupakan tokoh paling ditakuti karena kepandaiannya yang tinggi dan sepak terjangnya yang telengas. Sebaliknya Mo-bin-su-seng (pelajar muka iblis) merupakan tokoh paling licik dan banyak akal muslihatnya.

Orang tua alis putih angkat kepala mengawasi Bu Bing Loni sebentar lalu berkata pula kepada Hun Thian-hi, “Nak, sepeninggalmu dari sini segera kau menujlu ke Tiang-pek-san, di Tiang-pek- san ada dua tokoh kosen aneh, jikalau kau dapat menerima anugerah mereka berdua, masa depanmu pasti gilang gemilang!”

Lagi-lagi terdengar Bu Bing Loni menjengek hina. Orang tua alis putih berkata pula, “Kita empat saudara sejak dua puluh tahun yang lalu mengasingkan diri bersama mempelajari dan memperdalam ilmu Gin-ho-sam-sek, sampai detik ini belum sempat menerima, seorang muridpun, hari ini agaknya kita berjodoh maka pelajaran tunggal ini harus kuturunkan kepadamu.” – lalu dari dalam bajunya dirogoh keluar sejilid buku kecil yang tersulam di atas kain sutra putih terus diangsurkan kepada Hun Thian-hi. Hun Thian-hi menerima buku itu dengan kedua tangannya, katanya tertekan hampir sesenggukan, “Terima kasih akan perhatian dan kepercayaan yang diberikan kepada Wanpwe!”

Orang tua alis putih tertawa tawar, ujarnya, “Mengandal bekal Lwekangmu sekarang kau takkan mampu mempelajarinya, tapi boleh kau simpan kelak tentu dapat kau gunakan.”

Pandangan Bu Bing Loni memancarkan cahaya aneh dan tajam. Orang tua alis putih tahu hati orang sudah tergerak, maka segera ia menambahi, “Satu tahun, hanya setahun saja. Masa dengan kedudukanmu yang teragung sebagai tokoh nomor satu dijagat ini takut menghadapi orang bocah yang masih hijau?”

Bu Bing Loni berpaling mengawasi Hun Thian-hi, “Baik”, sahutnya menjengek hina, “terpaksa kukabulkan sekali permintaan ini!”

Orang tua alis putih bersorak girang, matanya memancarkan cahaya terang, serunya lagi, “Kau, demikian juga mereka?”

Bu Bing Loni manggut-manggut.

Orang tua aiis putih memutar tubuh menggapai kepada Hun Thian-hi, “Nak, kemarilah!”

Waktu mendengar percakapan orang tua alis putih dengan Bu Bing Loni tadi sesaat Hun Thian- hi menjadi kesima dan melongo, begitu mendengar panggilan pelan-pelan ia maju kehadapan orang tua alis putih. Dengan mematung ia bertanya kepada orang tua alis putih, “Locianpwe!

Kenapa kau berbuat begitu?” habis berkata tak tertahan lagi air mata lantas mengalir keluar.

Orang tua alis putih tersenyum manis katanya, “Kelak tentu kau akan tahu, tak perlu kau bertanya lagi!”

Kata Hun Thian,hi sambil membasut airmata, “Dengan keputusan kalian ini cara bagaimana aku bisa menerima?…. Baru pertama kali ini aku berjumpa dengan kalian bukan?”

Tangan orang tua alis putih terulur mengelus kepala Hun Thian-hi, matanya memandang jauh ke ufuk timur memandangi sang surja yang mulai menongol keluar, katanya kepada Hun Thian-hi, “Coba apa kau sudah melihat matahari terbit itu, itulah lambang dirimu kelak!”

Raut muka Bu Bing Loni berkerut-kerut dan bergidik, namun sebentar saja, tanpa buka suara.

Pelan-pelan Soat-san-su-gou duduk bersila kembali, tersipu-sipu Hun Thian-hi berlutut dihadapan orang tua alis putih. Jiwa Soat-san-gu-gou berempat untuk menebus jiwanya sendiri selama setahun saja, sungguh perasaannya sangat tertekan dan haru sekali.

Orang tua alis putih menghela napas, tanyanya, “Nak kudengar kau masih mengemban tugas menuntut balas sakit hati ayahmu bukan?” Hun Thian-hi manggut-manggut.

“Siapakah musuh besar itu?” “Mo-bin-su-seng!”

Orang tua alis putih terkejut melongo, mulutnya mendesis, “Oh kiranya dia?”

Sungguh orang tua alis putih tidak mengira bahwa Hun Thian-hi terikat permusuhan dengan dua tokoh lihay yang paling ditakuti di seluruh kolong langit ini. Bu Bing Loni merupakan tokoh paling ditakuti karena kepandaiannya yang tinggi dan sepak terjangnya yang telengas. Sebaliknya Mo-bin-su-seng (pelajar muka iblis) merupakan tokoh paling licik dan banyak akal muslihatnya.

Orang tua alis putih angkat kepala mengawasi Bu Bing Loni sebentar lalu berkata pula kepada Hun Thian-hi, “Nak, sepeninggalmu dari sini segera kau menujlu ke Tiang-pek-san, di Tiang-pek- san ada dua tokoh kosen aneh, jikalau kau dapat menerima anugerah mereka berdua, masa depanmu pasti gilang gemilang!”

Lagi-lagi terdengar Bu Bing Loni menjengek hina. Orang tua alis putih berkata pula, “Kita empat saudara sejak dua puluh tahun yang lalu mengasingkan diri bersama mempelajari dan memperdalam ilmu Gin-ho-sam-sek, sampai detik ini belum sempat menerima, seorang muridpun, hari ini agaknya kita berjodoh maka pelajaran tunggal ini harus kuturunkan kepadamu.” – lalu dari dalam bajunya dirogoh keluar sejilid buku kecil yang tersulam di atas kain sutra putih terus diangsurkan kepada Hun Thian-hi.

Hun Thian-hi menerima buku itu dengan kedua tangannya, katanya tertekan hampir sesenggukan, “Terima kasih akan perhatian dan kepercayaan yang diberikan kepada Wanpwe!”

Orang tua alis putih tertawa tawar, ujarnya, “Mengandal bekal Lwekangmu sekarang kau takkan mampu mempelajarinya, tapi boleh kau simpan kelak tentu dapat kau gunakan.”

Pelan-pelan Hun Thian-hi menyimpan buku catatan pelajaran Ghin-ho-sam-sek itu ke dalam kantong bajunya. Sementara itu orang tua alis putih angkat kepala memandang ke arah Bu Bing Loni katanya, “Tadi kau baru berkenalan dengan dua jurus pelajaran ilmu Gin-ho.sam-sek saja, kita berempat baru menggunakan dua jurus tapi cukup mengurung kau selama satu hari satu malam, ketahuilah perbawa jurus ketiga jauh berlipat ganda, dibanding jurus pertama dan jurus kedua. Sayang kita berempat belum selesai mempelajarinya, jikalau sudah tamat seluruhnya kutangggung kita takkan menderita kekalahan seperti ini, kau perlu selalu ingat akan peristiwa hari ini!”

Bu Bing Loni menjengek dengan nada hina tanpa mengeluarkan suara….

Sejenak orang tua alls putih terpekur lalu katanya kepada Hun Thian-hi, “Jurus pencacat langit pelenyap bumi itu sekali2 jangan kau lancarkan lagi. Ketahuilah Ang-hwat-lo-mo terlalu banyak dan mendalam mengikat permusuhan dikalangan Kangouw. Jikalau dia sendiri yang tampil ke depan mungkin para musuhnya takkan berani banyak tingkah, tapi menghadapi kau kukuatir dendam kesumat mereka akan seluruhnya ditimpahkan ke atas pundakmu, akibatnya tentu sangat berat dan menyulitkan bagi kau!”

Hun Thian-hi manggut-manggut dan menerima wejangan ini dengan patuh. Orang tua alis putih lantas bungkam dan memejamkan matanya.

Sungguh sedih dan rawan sekali perasaan Hun Thian-hi. Soat-san-su-gou rela mengorbankan jiwanya sendiri untuk mengganti jiwanya, budi teramat besar ini selama hidup ini agaknya sulit dapat membalasnya.

Segera ia berlutut dan menyembah empat kali dihadapan orang tua alis putih. Tiba-tiba orang tua alis putih membuka matanya lagi serta katanya, “Nak, sifat congkak dan takabur harus kau tindas ke-akarnya. Kalau kau selalu dibawa akan adatmu sendiri susah kau dapat mencapai tingkatan seperti apa yang kita harapkan, maka kuharap kau tidak menyia-nyiakan pengharapan kita berempat!” — habis berkata lalu memejamkan mata lagi. Rada lama Hun Thian-hi mengheningkan cipta lalu berturut-turut berlutut dan menyembah bergantian kepada empat orahg tua itu, mereKa duduk bersila memejamkan mata tanpa bergerak atau bersuara.

Waktu tiba giliran orang tua keempat, orang tua ini mendadak membuka mata dan berseri tawa katanya, “Nak, kudoakan kau selamat sepanjang jalan, semoga memperoleh rejeki besar!”

Tak tertahan bercucur deras air mata Hun Thian-hi….

Orang tua itu tersenyum manis, ujarnya, “Kenapa kau, waktu pertama kali kubertemu dengan kau, kemana pula sikapmu yang gagah perwira tak mengenal takut itu. Sikap congkak memang boleh asal bukan tukang congkakmu saja yang melandasi segala sepak terjangmu!”

Sejenak Hun Thian-hi terpekur, mendadak ia menyeka air mata dengan tangan kanannya terus bergegas bangun dengan tangkasnya.

Orang tua itu tersenyum lebar, pelan-pelan memejamkan matanya lagi.

Sebaliknya orang tua alis putih membelalakkan kedua matanya, mulutnya menjebir dan bersuit panjang melengking, serempak mereka berempat duduk tegak menyilangkan tangan di depan dada, berbareng tangan kanan terayun kencang, empat tongkat pualam kontan melesat terbang menghilang, maka dilain saat jiwa merekapun ikut melayang dengan duduk sempurna.

Sekian lama Hun Thian-hi termangu-mangu dengan mengembeng air mata, tiba-tiba ia membalik tubuh menghadap Bu Bing Loni dan membentak, “Sehari aku Hun Thian-hi masih hidup, sakit hati ini harus kubalaskan!”

Bu Bing Loni bergantian mengawasi empat orang tua yang sudah wafat itu, lalu melirik ke arah Hun Thian-hi dengan senyum ejek, waktu pandangannya teradu pandang dengan sorot mata Thian-hi tanpa merasa terkesiap hatinya. Terasa sorot pandangan Hun Thian-hi begitu tajam dan menakutkan, selama hidup dan malang melintang di dunia persilatan rasanya belum pernah ia merasa was-was dan kekuatiran yang luar biasa. Hatinya menjadi bertanya-tanya dan heran kenapa pancaran mata Hun Thian-hi bisa begitu tajam dan menakutkan, bukan saja mengandung rasa kebencian yang menggelora terasa pula tersembunyi kepintaran luar biasa yang sulit diraba.

Dengan mengkirik segera ia memutar tubuh ke arah gadis baju hitam serta serunya, “Gwat-ji, mari kita pulang.”

Dingin-dingin saja sekilas gadis baju hitam menyapu pandang ke arah Hun Thian-hi, lalu membungkuk tubuh memberi hormat kepada Bu Bing Loni, sahutnya, “Ya, Suhu!”

Dengan rasa takut-takut dan keheranan Siau Hong mengawasi Thian-hi lalu tersipu-sipu membalikkan tubuh mengintil di belakang nonania, maka dilain kejap mereka bertiga sudah terbang makin tinggi ditengah angkasa menunggang burung dewata yang besar itu.

Entak berapa lama Thian-hi berdiri termenung seorang diri. Pandangan gadis baju hitam tadi meski hanya sekilas saja, terasa olehnya pandangan yang dibekali rasa dendam dan kebencian yang mendalam, entahlah apa dan kenapa gadis remaja itu begitu benci kepadanya.

Thian-hi mendelong mengawasi Soat-san-su-gou, suara mereka masih terkiang dalam kupingnya prihatin si orang tua alis putih serta belas kasihan si orang tua betul-betul berkesan dan takkan terlupakan olehnya. Walaupun mereka baru kenal sehari semalam, namun budi dan kebaikan yang telah tertanam akan dirinya tidaklah kalah besar dibanding gurunya sendiri Seruling selatan Kongsun Hong yang telah mengasuhnya selama puluhan tahun. Pelan-pelan ia menghela napas lalu mendongak mengawasi angkasa, bayangan Bu Bing Loni dan gadis baju hitam bertiga sudah menghilang diujung langit.

Diam-diam Thian-hi menerawang kemana tujuan selanjutnya. Siapakah dua tokoh yang dimaksud di Ting-pek-san itu? Sekian lama ia terpekur. setelah berlutut dan menyembah lagi kepada Soat-san-su”gou terus turun gunung.

Setelah tiba dikaki Gunung salju, Thian-hi langsung mengambil jalan menuju keutara, menyelusuri tembok Besar terus beranjak menuju ketimur laut.

Dataran tinggi tanah merah di daerah utara sangat panas, disini jarang kelihatan orang berlalu lalang, dimana-mana angin menghembus keras, debu dan pasir bergulung menari ditengah angkasa. Menunggang seekor kuda Thian-hi pelan-pelan melarikan tunggangannya.

Menurut adatnya ingin rasanya tumbuh sayap lantas terbang sampai di Ting-pek-san. Tapi dirinya sudah menimbulkan bencana besar setiap saat dirinya menjadi incaran para tokoh-tokoh silat kenamaan, waktu lewat Tionggoan ia berlaku sangat hati-hati. setelah mengalami berbagai rintangan dan susah payah akhirnya bisa sampai disini, betapapun harus selalu waspada jangan sampai meninggalkan jejak.

Begitulah dengan tunggangannya pelan-pelan ia mencongklang ke arah timur. Sekonyong- konyong jauh dibelakangnya terdengar derap langkan kuda yang dilarikan cepat. tak lama kemudian tampak dua ekor kuda berbulu putih melesat lewat disampingnya. Sekilas pandang Thian-hi lantas kenal bayangan mereka, diam-diam terkejut hatinya. Dandan kedua orang itu serba ketat punggungnya mengenakan mantel berbulu warna putih bersih tanpa kelihatan kena debu, kalau ilmu silat mereka tidak lihay tak mungkin mereka berani mencari gara-gara pada dirinya, sedikit mengencangkan pedal kudanya ia menghentikan lari kuda hitamnya. Tampak kedua ekor kuda putih itu terus membedal ke depan.

Thian-hi termangu mengawasi bayangan kedua orang ini menghilang dikejauhan. Mendadak dari samping sebelah kanan terdengar lagi derap langkah kuda yang mendatangi, debu kuning mengepul tinggi, tampak seekor kuda kembang dipacuh ke arah dirinya. Bercekat hati Thian-hi, agaknya hari ini aku harus memeras banyak keringat.

Kuda kembang itu berhenti dan menghadang di depan Thian-hi, sembari bebenger keras kaki depannya terangkat naik tinggi terus berputar setengah lingkaran, kini mereka berhadapan langsung dengan Thian-hi.

Jang duduk di atas kuda kembang ini adalan seorang pemuda bermuka cakap halus berpakaian serba kuning berkilauan, mengenakan mantel besar berwarna Kuning mas pula.

Berdetak keras jantung Hun Thian-hi. Bukankah pemuda ini berjuluk Kim-i kongcu, putra tunggal Sing-hu-it-koay siiblis durjana yang sangat ditakuti itu? Entah untuk apa dia gelandangan sampai di Tionggoan, naga-naganya malah hendak cari setori pada dirinya.

Kim-ikongcu (pemuda baju mas) menyeringai dingin kepada Thian-hi, katanya, “Kau inilah Hun Thian-hi? Pasti kau sudah tahu siapa aku ini bukan?”

Walau tidak tahu apa gerangan maksud kedatangan Kim-i kongcu Leng Bu ini, namun dari sikapnya. yang garang dan takabur agaknya tidak mengandung maksud baik.

Sejenak ia amat-amati pemuda baju mas tanpa mengeluarkan suara. Dari kejauhan tampak mendatangi lagi dua ekor kuda coklat, yang terdepan terdengar berteriak dari kejauhan, “Saudara Leng, Jangan ceroboh!”

Waktu Thian-hi berpaling tampak yang mendatangi tak lain adalah Su Cin dan adiknya Su Giok- lan, diam-diam hatinya membatin, “Payah, entah berapa banyak orang yang bakal meluruk datang.”

Su Cin dan Su Giok-lan datang berjajar. Kim-i kongcu, Leng Bu tentavwa lebar, katanya kepada Su Cin, “Urusan Kim-i kongcu selamanya tak senang dicampuri orang lain.”

Sedikit berubah rona wajah Su Cin, katanya mendengus, “kau sangka aku tukang bikin ribut?

Kalau kau mau hanya kematianlah bagianmu!”

Leng Bu menyeringai sinis, pelan-pelan mantelnya dicopot terus melorot. turun dari tunggangannya serta katanya Kepada Su Cin, “Benar-benar, kunasehat kau jangan mencampuri urusan. Urusanku biar ayahku sendiri yang menanggungnya nanti.”

Berubah pucat air muka Su Cin, sekilas ia melirik Kepada Su Giok-lan, tampak muka adiknya membeku tanpa menunjukkan expresi, kini pandangan Su Cin beralih ke arah Hun Thian-hi.

Sementara itu, ganti berganti Hun Thian-hi juga sedang mengamati mereka bertiga, entah ada hubungan apa diantara mereka bertiga.

Setelah turun di tanah lambat-lambat Leng Bu melolos sebilah pedang panjang kuning emas, katanya kepada Hun Thian-hi; Hati-hatilah pedang hari ini harus menenggak sedikit darahmu!”

Hun Thian-hi tenang-tenang bercokol di atas kudanya, dingin pandangannya mengawasi Leng Bu Ia tahu ayah Leng Bu itu Sing-hu-it-koay merupakan salah satu pentolan iblis ganas yang ditakuti dikalangan Kangouw. Sing-hu-it-koay jauh menetap di Thian-lam, gurunya yang dijuluki Lam-siu (seruling selatan) pun segan untuk berhadapan tangsung dengan manusia iblis itu.

Melihat sikap acuh yang tidak menghiraukan dirinya, Leng Bu menjadi sengit, mendadak ujung pedangnya bergerak menggetar dari samping langsung ia menusuk kepinggang Hun Thian-hi.

Hun Thian-hi tahu bahwa Kim-i-kongcu Leng Bu sudah lama malang melintang di Kangouw mengangkat nama, hari ini segaja mencari setori pada dirinya betapapun aku harus beri hajaran setimpal untuk menumpas sikapnya yang congkak. Seenaknya saja tangan kanan terayun tahu- tahu Badik buntung sudah berada digenggamannya, selarik sinar hijau berkelebat langsung memapas turun kebatang pedang Leng Bu yang menusuk tiba.

Gerak tubuh kedua belah pihak amat cepat dan sama berkelit mundur, dilain saat tubuh Hun Thian-hi sudah mencelat tinggi meninggalkan tunggangannya dan berdiri berhadapan dengan Kim- i kongcu Leng Bu.

Leng Bu bertengger dengan muka merah padam, betapa cepat ia menarik balik pedangnya namun tak urung ujung pedangnya sudah terkupas sebagian oleh ketajaman badik buntung.

Disebelah sana Su Cin tampak berseri dan manggut-manggut.

Leng Bu menyeringai sadis, cahaya pedangnya menari merangsak seru ke arah Hun Thian-hi.

Hun Thian-hi pun menggerakkan badik buntung untuk melawan serbuan musuh. Kedua belah pihak adalah anak murid dari tokoh ternama yang berkepandaian cukup lihay, Lwekang keduanya sama kuat dalam sementara waktu sulit untuk tentukan siapa lebih unggul yang terang mereka bertempur dengan bernapsu dan cepat, sinar pedang ke-kuning2an menari2 laksana kupu2 yang lincah, sebaliknya sinar hijau pupus laksana lembayung berputar dan membabat kian-kemari.

Meski menggenggam senjata pusaka macam Badik buntung. Hun Thian-hi merasa ilmu pedang Leng Bu adalah begitu hebat dan aneh sekali, sayang seruling pualamnya sudah kutung, Badik buntng kurang leluasa baginya sehingga rada menghalangi gerak permainannya.

Begitulah pertempuan sengit itu tanpa terasa sudah mencapai ratusan jurus. Lama kelamaan dari pihak yang terdesak kini Leng Bu malah berinisiatip menyerang, sebaliknya semakin bertempur Hun Thian-hi merasa semakin payah. Ilmu serulingnya yang seharusnya cukup hebat tak kuasa dikembangkan karena tidak sesuai dengan senjata yang dipakai ini, sehingga intisari ilmu serulingnya kehilangan keampuhannya.

Dikejap lain dua puluh lima jurus telah dicapai, tapi jurus demi jurus Leng Bu semakin gencar lancarkan serangannya. Su Cin yang menonton dipinggiran menjadi gugup dan gelisah. Sungguh tak dimengerti olehnya da dalam segebrak saja Hun Thian-hi sekaligus telah dapat membunuh pukulan musuhnya. Toh-hun-cui-hun yang kenamaan dan lihay itu pun terkutung sebelah lengannya, kenapa hari ini tak kuasa menghadapi Leng Bu.

Dalam kuatirnya Su Cin melompat turun dari atas kuda. Su Giok-lan tetap duduk di atas kuda tidak membawa sikap.

Sementara itu, Hun Thian-hi semakin dibuat keheranan, bukankah Su Cin serombongan dengan Kim-i Kongcu Leng Bu, kenapa dia begitu gugup dan gelisah bagi dirinya? Besar hasratnya untuk mengetahui rahasia apa dibalik persengketaan ini. Karena pikirannya ini terpaksa ia main mundur sambil menjaga diri saja.

Sebaliknya Leng Bu menyeringai dingin, pedang panjang ditusukan semakin gencar, ia kembangkan Sing-hu-kiam-hoat, sejalur sinar kuning mas berterbangan mengurung tubuh Hun Thian-hi.

Sedikit perhatian Hun Thian-hi terpecah situasi pertempuran lantas berubah gawat, sekarang Leng Bu telah mantap pegang serangan. Betapa pun Hun Thian-hi menggerakkan Badik buntungnya untuk menangkis, menyampok gerak-geriknya mulai kacau balau, Kim-i-kongcu semakin mendapat angin.

Baru sekarang Thian-hi betul-betul terkejut dengan mengertak gigi ia empos semangatnya, segera mengembangkan ilmu Thian-liong-chit-sek, tujuannya hendak mengrangsak musuh. Tapi cahaya pedang Leng Bu keburu sudah membendung setiap penjuru dengan jurus Pek-lian-jian- cong (rantai putih ribuan kati) sehingga Hun Thian-hi seakan-akan terbelenggu tak mampu bergerak.

Berulang-ulang Hun Thian-hi lancarkan serangan balasan yang dahsyat, namun tak berarti sama sekali, karena ilmu pedang Sing-hu-kiam-hoat yang dilancarkan Lang Bu begitu hebat dengan tipu-tipunya yang lihay dan sulit diraba, dalam keadaan yang terdesak itu berapa kali sudah Hun Thian-hi hendak lancarkan jurus pencacat langit pelenyap bumi, namun setiap kali terkiang pesan orang tua alis putih sehingga niatnya dibatalkan.

Su Cin semakin gelisah seperti semut di dalam kuali panas, tidaklah menjadi soal kalau Hun Thian-hi dipihak yang menang, kalau kalah…. urusan ini terjadi gara-gara paman dan mereka berdua yang harus bertanggung jawab, apalagi….

Waktu Hun Thian-hi menghadapi serangan berbahaya lagi tak tertahan Su Cin berteriak maju, “Leng Bu, berhenti!” Leng Bu tak menduga Su Cin bakal merintangi perbuatannya, serta merta gerak geriknya sedikit merandek. Kesempatan baik ini tak disia-siakan oleh Thian-hi, mendadak mencelat tinggi dengan gaja Lui-tian-hwi-theng (geledek dan kilat terbang menyamber) tubuhnya terbang keluar dari kepungan musuh.

Leng Bu menjadi melongo, dengan dingin ia awasi Thian-hi. Sekian lama mereka beradu pandang dengan diam. Mendadak pelan-pelan Leng Bu berpaling mengerling ke arah Su Cin.

Kata Su Cin dengan gusar, “Leng Bu! Jangan kau terlalu menghina orang. Ketahuilah dunia persilatan bukan milik Sing-hu-lo-koay ayahmu itu saja!”

Thian-hi” tertegun, apa maksud kata-kata Su Cin terhadap Leng Bu ini?

Leng Bu menyipit mata menyeringai sadis, jengeknya, “Kau selalu menghalangi perbuatanku?”

Su Cin mendengus, sebelah tangannya melolos pedang katanya, “Kau sangka murid Pedang utara gampang dibuat permainan?”

Tanpa bercakap lagi setindak demi setindak pelan-pelan Leng Bu maju menghampiri. “Engkoh Cin! Hati-hati!” teriak Su Giok-lan dari atas kuda.

“Tak apa, aku tidak takut!” sahut Su Cin.

Sembari melolos pedang tersipu-sipu Su Giok-lan meloncat turun dan berdiri disamping Su Cin. Hun Thian-hi tidak tahu persoalan apa yang disengketakan, terpaksa ia berdiri menonton saja.

Sebentar Leng Bu menghentikan langkahnya, matanya mengawasi Su Giok-lan lalu mendesak lagi ke arah Su Cin.

Pedang Su Cin bergerak, ujung senjatanya menusuk tepat di tengah alis Leng Bu. Sigap sekali Leng Bu angkat pedang masnya menyampok pedang lawan, tangkas sekali tahu-tahu tajam pedang masnya berbalik sudah mengancam tenggorokan Su Cin.

Su Giok-lan angkat pedangnya membacok, begitulah mereka berdua mengeroyok Leng Bu.

Namun sedikitpun LengBu tidak gentar, dengan Sing-hu-kiam-hoat ia masih mampu menghadapi keroyokan kedua musuhnya, malah ia pegang inisiatif pertempuran, Su Cin berdua dicecar dengan serangan membadai. Terpaksa Su Cin berdua kembangkan Hian-thian-hui-kiam pelajaran gurunya, dengan kekuatan gabungan ini, mereka mandah membela diri saja.

Thian-hi mengikuti terus jalan pertempuran ini pikirnya, “Meski ilmu pedang Leng Bu cukup aneh dan keji. tapi pedang Hian-thian-hui-kiam dari Pedang utara juga cukup lihay paling tidak lima raus jurus kemudian baru dapat dibedakan pihak mana bakal unggul dan asor tapi pertikaian apakah yang membuat mereka bermusuhan? Naga-naganya Su Cin tiada maksud jahat terhadap dirinya, apalagi melihat martabat dan perangainya jauh lebih baik dibanding pamannya yang licik dan rendah itu. Syukur tadi ia memberi bantuan hingga aku terhindar dari malapetaka. Dengan cermat ia ikuti pula jalan pertempuran, kali ini kelihatan situasi telah berubah. Kim-i-kongcu terus lancarkan serangannya yang deras dan keras, sebaliknya. Su Cin berdua hanya memjaga diri tanpa balas menyerang. Hian-thian-tui-kiam mentabirkan bayangan pedang yang rapat dan padat membendung rangsakan Leng Bu. Wajah Leng Bu menyungging senyum dingin, pedangnya menyerang ke timur membabat kebarat bermainan sebat sekali kakinya bergerak lincah mengikuti gaja pedangnya, berputar-putar mengeliling kedua musuhnya. Sekonyong-konyong Leng Bu melenting mundur berkelebat tiba disamping kuda terus meraih mantel mas yang berada di pungung kudanya.

Seketika berubah hebat air muka Su Cin berdua, cepat-cepat Su Cin berpaling ke arah Thian-hi, bibirnya sudah bergerak untuk berkata, namun ditelannya kembali. terasa hati Thian-hi menjadi tegang, serta merta serasa suasana tertekan ini bakal terjadi sesuatu peristiwa hebat.

Sementara itu, dengan seringai giginya yang putih, Leng Bu menyerbu lagi kepada Su Cin berdua, Sekarang kelihatan gerak-geirik Su Cin berdua yang gugup dan was-was. terpaksa mereka bergerak untuk menangkis dan mambela diri.

Melihat sikap dan air muka Su Cin berdua seperti ketakutan, pandangan Thian-hi lantas beralih kepada pedang mas yang dipegang tangan kiri Leng Bu, namun tiada sesuatu yang luar biasa entah kenapa Su Cin berdua agaknya sangat takut.

Beruntun Leng Bu lancarkan puluhan jurus serangan pedang, tiba-tiba ia ayun mantel ditangan kirinya untuk meeggubat kedua batang pedang Su Cin berdua.

Hun Thian-hi tersentak kaget, jurus yang dilancar Leng Bu barusan adalah Hwi-cwan-ciam-soat- cap-sa-si.

Itulah ilmu tunggal yang kenamaan dari Hwi-cwan-ciam-soat Ciok Hou-bu majikan Hwi-cwan-po di Kang-lam. Entah cara bagaimana ilmu hebat itu bisa dipelajari oleh Kim-i-kongcu Leng Bu.

Tengah ia menimang-nimang, Leng Bu sedang mengobat-abitkan mantel masnya itu mendesak musuhnya sehingga Su Cin berdua kepontang-panting. Sekonyong-konyong, Leng Bu menarik mantel masnya berputar begitu cepat dikombinasikan dengan pedang ditangan kanannya, beruntun ia lancarkan lima jurus serangan hebat. Terdengar Su Cin berdua menggertak bersama serentak kedua pedang mereka saling silang terus memantek ke depan.

“Tring!” tahu-tahu kedua batang pedang mereka menceng tinggi ke tengah udara tersapu mantel mas seketika tampak bayangan orang berkelebat berpencar, namun tahu-tahu Leng Bu berdiri angker disebelah samping, mantel mas digenggam ditangan kirinya, sebaliknya ujung pedangnya mengancam tenggorokan Su Cin.

Su Giok-lan hendak memburu maju. “Jangan bergerak!” bentak Leng Bu.

Muka Su Cin penuh keringat, seikilas ia mengerling ke arah Hun Thian-hi. Thian-hi tidak menduga situasi berubah begitu cepat, seketika, ia menjublek ditempatnya tanpa suara.

Leng Bu menyapu pandang mereka berdua, pelan-pelan ia berkata kepada Su Cin, “Kau selalu merintangi perbuatanku!”

Melihat keadaan Su Cin yang mengenaskan itu mencemas perasaan Thian-hi, betapapun keadaan Su Cin in karena menolong dirinya tadi. Sebagai murid Pak-kiam masa mandah saja dihina begitu rupa. Diam-diam ia menerawang sikap Su Cin tadi waktu membantu dirinya terang ia mengajak aku bekerja sama untuk menghadapi dan merobohkan Leng Bu.

Perlahan-lahan Kim-i kongcu menarik pedang masnya. Hun Thian-hi menghela napas lega. Tapi mendadak ujung pedangg Kim-i kongcu menusuk pula ke arah Su Cin. Su Cin tidak menduga Leng Bu berbuat begitu licik dan keji untuk berkelit pun tak sempat lagi, ujung pedang telak sekali menembus dadanya sebelah kanan.

Su Giok-lan terpekik nyaring terus menubruk maju. Kim-i-kongcu mengerling ke arah Su Giok- lan, pelan-pelan menarik pedangnya, wajahnya tak berubah sama sekali, lalu mundur dua langkah.

Kedua tangan Su Cin mendekap luka didadanya, keringat dingin membasahi seluruh mukanya kedua biji matanya mendelik bagai kelereng yang hendak mencelat keluar ke arah Leng Bu penuh rasa dendam yang membwa.

Tersipu-sipu Hun Thian-hi juga memburu datang. “Perlu apa kau datang, pergi!” hardik Su Giok-lan.

Sungguh Thian-hi menyesal setengah mati. ia menjublek ditempatnya.

Kata Su Cin kepada Su Giok-lan, “Dik, jangan begitu kasar! Aku ada omongan yang perlu kusampaikan kepada saudara Hun!” — lalu ia berpaling katanya kepada Hun Thian-hi, “Saudara Hun aku ada sedikit omongan harap dengarlah!”

Lekas-lekas Hun Thian-hi maju memajang Su Cin, katanya berbisik, “Saudara Su, sungguh aku sangat menyesal!”

Su Giok-lan mendekam di tanah menangis tergerung-gerung.

Su Cin mengerling ke arah Su Giok-lan serta katanya pada Hun Thian-hi, “Bermula kusangka pasti saudara Hun takkan terkalahkan oleh Kim-i kongcu, siapa tahu….

Hun Thian-hi bertambah malu,

Kata Su Cin selanjutnya, “Peristiwa tempo hari saudara Hun sampai terfitnah secara semena2, untung Suboku sudah jelas duduk perkaranya, kelak tentu segalanya dapat dibikin terang!”

Thian-hi semakin malu dan menyesal sekali, ia tertunduk tak berani adu pandang.

Kata Su Cin, “Adikku diracun oleh Leng Bu, dipaksanya untuk kawin dengan dia. Setelah aku tiada harap kau suka melindungi dan menjaga adikku baik-baik”

Bercekat hati Hun Thian-hi mulai paham kenapa bermula tadi Su Cin kelihatan rada mengalah segan menghadapi Leng Bu, kiranya punya latar belakang yang keji ini…. Pelan-pelan ia berpaling memicingkan mata menatap ke arah Leng Bu, tampak Leng Bu berdiri jajar disam[ing tunggangannya tanpa menunjukkan sikap tertentu, pedang masih terpegang ditangannya.

Waktu Thian-hi berpaling lagi Su Cin berkata kepadanya, “Kulihat saudara Hun merupakan calon pendekar kenamaan yang bakal menjulang tinggi diantara sekian tunas muda saat ini, hari depanmu pasti gemilang, betapapun kau harus menjaga adikku baik-baik!”

Mendengar orang memuji dan mengagumi dirinya, sungguh Thian-hi merasa haru dan terima kasih, tak kuasa air mata meleleh keluar dari kelopak matanya. Sembari mengigit gigi pelan-pelan ia berkata tegas, “Aku tentu menuntut balas bagi kau!”

Wajah Su Cin mengunjuk tawa riang, katanya kepada Su Giok-lan, “Dik! Ada sedikit omongan perlu kusampaikan kepadamu!” Su Giok-lan berdiri duduk, air mata membasahi dan mengotori mukanya yang putih bersih. Setelah menghela napas baru Su Cin melanjutkan, “Adik Lan. Apakah kau mau dengar pesan eagkohmu sebelum ajal ini?”

“Engkoh!” jerit Su Giok-lan, tangisnya semakin menjadi2.

Su Cin menghela napas, ujarnya, “Jangan bersedih adik Lan!”

Terdengar Leng Bu menjengek, “Kau menyesal sesudah sekarat siapa suruh kau selalu menghalang2i sepak terjangku!”

Berubah air muka Su Cin, cepat Thian-hi menyikapnya erat-erat, kata Su Cin megap2, “Adik Lan, lekas katakan!”

Melihat keadaan engkohnya yang semakin parah Su Giok-lan menjadi bingung dan manggut- manggut.

Tangan Su Cin menunjuk kepada Thian-hi, mulutnya terpentang namun tak kuasa mengeluarkan suara, mendadak mukanya menjadi kejang dan berubah semakin pucat, badannya berkelejotan sebentar terus menjadi kaku

Su Gip-lan semakin hebat tangisnya, dengan mengembeng air mata pelan-pelan Thian-hi rebahkan badan Su Cin di atas tanah lalu pelan-pelan bangkit berdiri. Sejenak ia amat-amati jenazah Su Cin terus memutar tubuh mengawasi Kim-i kongcu Leng Bu.

Dengan menyeringai sinis Leng Bu pun mengawasi ke arah Thian-hi. Kalem saja Hun Thian-hi merogoh keluar Badik buntungnya lagi.

Leng Bu berkata dingin, “Hun Thian-hi menggetarkan Tionggoan, ternyata begitu saja kepandaiannya.”

Hun Thlan-hi melangkah pelan-pelan menghampiri. Melihat sikap Hun Thian-hi ini diam-diam mengkirik tengkuk Leng Bu, dengan tangan kiri ia tepuk-tepuk kudanya terus menyuruhnya menjauh, tangan kanan menyoreng pedang mengawasi Thian-hi dengan tajam.

Setindak demi setindak Thian-hi maju menghampiri, Leng Bu menjidi tidak sabar, ringan sekali pedang masnya berputar terus menyerang lebih dulu kepada Hun Thian-hi.

Sebat sekali Thian-hi melompat kesamping menghindar. namun laksana bayangan ujung pedang mas lawan telah menyamber tiba pula. terpaksa Thian-hi harus mencelat berkelit lagi, kini mereka sudah ganti kedudukan yang berlawanan.

Leng Bu terus mendesak maju dengan serangan pedangnya yang gencar, Thian-hi terdesak mundur terus. Sekonyong-konyong biji mata Thian-hi memancarkan cahaya terang yang aneh, dimana Badik buntung bergerak selarik sinar hijau pupus berkelebat jurus Pencacat iangit pelenyap bumi telah dilancarkan, terus menungkrup ke arah Leng Bu.

Mendadak Leng Bu melihat perubahan permainan Thian-hi yang aneh ini, hatinya sungguh kejut bukan main, pedang mas dibolang-balingkan rapat sekali untuk melindungi badan, namun tampak sinar hijau berkelebatan rapat merekah menyamber2. disertai tekanan tenaga besar yang luar biasa memberondong mengekang dirinya dari berbagai penjuru sehingga tenaga untuk ia angkat pedang sendiri pun tak mampu lagi.

Dimana sinar hijau melintas, kontan tubuh Leng Bu terkapar di tanah tanpa bergerak lagi. Hun Thian-hi menyimpan lagi Badik buntungnya serta berjalan balik menghampiri Su Giok-lan. Su Giok-lan mendelik mengawasi Hun Thian-hi, melihat Thian-hi menghampiri mendadak ia lompat berdiri sambil membopong jenazah Su Cin, makinya sambil mengertak gigi, “Laki-laki palsu!”

Hun Thian-hi menjadi tertegun. Kata Su Giok-lan gemes, “Terang kau dapat membunuh Leng Bu semudah itu, tapi kau biarkan engkohku mati dulu baru kau menuntut balas baginya, kau sangka aku bisa menghargai dan terima kasih kepadamu?” ~ selesai berkata air mata tak kuasa lagi membendung meleleh dengan derasnya.

Hun Thian-hi punya kesukaran sendiri yang tak mungkim dijelaskan, terpaksa ia berdiri melongo saja.

Dengan membonong jenazah Su Cin, Su Giok-lan lompat naik ke atas tunggangannya terus dilarikan ke depan sana dengan cepat.

Tersentak Thian-hi dari lamunannya, cepat ia berlari mengejar serta teriaknya, “Nona Su.”

Su Giok-lan menghentikan lari kudanya, katanya berpaling, “Kau masih ada muka mengejar kemari! Sebelum meninggal, engkohku menuding kau, apa kau tahu apa maksudnya? Gamblang sekali ia menghendaki aku menuntut balas baginya, tahu? Laki-laki palsu!” — lalu kudanya dibedal lagi ke depan sekencang-kencangnya.

Thian-hi berdiri menjublek ditempatnya, mematung seperti tunggak, sungguh hatinya sangat duka dan entahlah bagaimana pula perasaannya, teringat akan pesan Su Cin sebelum ajal ia angkat kepala hendak mengejar lagi ke depan, namun bayangan Su Giok-lan sudah tak kelihatan lagi.

Pelan-pelan ia menghela napas, Su Giok-lan adalah murid Pedang utara yang cukup kenamaan, tentu tidak akan mendapat kesusahan di depan sana, tapi dia kena dicekoki racun Kim-i kongcu Leng Bu cara bagaimana harus mengobatinya.

Teringat akan hal ini, cepat-cepat ia larikan kudanya mengajar ke depan, Tiba-tiba terdengar pekik burung ditengah angkasa, seekor burung terbang rendah di atas kepalanya terus menuju ke depan. Waktu ia angkat kepala dilihatnya orang yang menunggang burung tak lain adalah Siau Hong, tanpa merasa pelan-pelan ia meneriaki nama Siau Hong, Siau Hong berpaling ke belakang melambaikan tangan kepadanya, terus terbang ke depan.

Thian-hi menjadi lega, anak buah Bu Bing Loni muncul menalangi persoalan ini, tentu Su Giok- lan takkan menghadapi bahaya apa-apa, mungkin malah mendapat rejeki besar dari beliau. Justru Bu Bing Loni tengah bermusuhan dengan dirinya, tentu Su Giok-lan akan dibantu dan dididiknya, meski selanjutnya ia bertambah seorang musuh yang kuat, betapa pun hati menjadi lega.

Setelah pikirannia ini hati Thian-hi menjadi lapang, ia tertawa geli sendiri lalu memutar balik kudanya, pelan-pelan dilarikan ke depan menyusuri tembok besar terus menuju ke arah timur laut. Waktu ia berpaling lagi, burung dewata dan kuda tunggangan Su Giok-lan tak kelihatan lagi.

Mayat Kim-i-kongcu Leng Bu masih menggeletak di tanah, kuda kembang bebenger disamping jenazahnya, sedang seekor kuda coklat lainnya tampak berlari kencang ke arah lain.

Sementara itu, Su Giok-lan membedal kudanya lari ke depan, hatinya kosong dan hampa, benaknya dirundung kesedihan yang sangat memukul batinnya, namun tak kuasa dilampiaskan. Kira-kira setangah li kemudian tiba-tiba terdengar pekik burung ditengah udara yang sangat nyaring seekor burung besar berbulu hijau lambat-lambat meluncur turun di depan tunggangannya. Sungguh kejutnya tak kepalang, lekas-lekas ia menarik kendali kudanya, terus melolos pedang.

Di atas burung besar ini duduk dua gadis jelita, seorang berpakaian hitam sedang yang lain dandan sebagai pelayan.

Su Giok-lan tak tahu siapakah mereka berdua, namun mereka menunggang burung besar. tentu bukan sembarang orang, entah apa maksud tujuan mereka?

Sekian lama gadis baju hitam mengamati Su Giok-lan, baru terlihat bibirnya bergerak, katanya, “Nona Su, peristiwa barusan guruku sudah tahu seluruhnya, beliau menyuruh aku datang menahanmu sebentar, beliau ada sedikit omongan ingin tanya padamu!”

Su Gio-lan rada sangsi, tanyanya, “Siapakah gurumu? Urusan apa yang ingin dia tanyakan?” “Guruku itu bergelar Bu Bing Loni!”

“Apa Bu Bing Loni?” teriak Su Giok-lan diluar dugaan.

Gadis baju hitam manggut-manggut. Sungguh mimpipun Su Giok-lan takkan menduga Bu Bing Loni bakal mencari dirinya. Bu Bing Loni merupakan tokoh kenamaan yang menjagoi seluruh jagat, kepandaiannya tiada lawan dikolong langit, sepak terjangnya saja yang tidak menentu. Dari sikap gadis baju hitam yang wajar dan tenang agaknya mereka tak berimaksud jelek terhadap dirinya.

Ia menghela napas lega, katanya prihatin, “Untuk urusan apakah beliau mencari aku?” “Itulah beliau sudah datang kemari!” sahut gadis baju hitam.

Memang benar-benar, waktu Su Giok-lan mendongak, tampak seekor burug dewata yang lain tengah meluncur turun pelan-pelan, dari punggung burung berbulu hijau ini berjalan turun seorang Nikoh tua yang berwajah welas asih, sepasang matanya memancarkan cahaya terang yang berwibawa….

Su Giok-lan melangkah selangkah terus menekuk lutut, sembahnya” .Wanpwe Su Giok-lan menghaturkan sembah sujud kepada Cianpwe!”

Bu Bing Loni mengamati Su Giok-lan dengan seksama, akhirnya katanya sembari manggut- manggut, “Bangunlah!”

Sembari menyeka air matanya pelan-pelan Su Giok-lan bangkit berdiri.

“Sudah jangan nangis lagi,” ujar Bu Bing Loni, “Engkohmu meninggal, kemana selanjutnya kau hendak pergi?”

Sahut Su Giok-lan sesenggukkan, “Aku hendak mencari guruku untuk menuntut balas!”

Bu Bing Loni menggeleng kepala, katanya, “Tak mungkin, gurumu pun takkan mampu menangkis jurus serangannya itu!’-

Su Giok-lan melengak, katanya, “Tentu Suhuku bisa mengundang orang lain untuk membalas dendam ini.” “Apa kau sendiri tidak ingin membalas dendam dengan tanganmu sendiri?” tanya Bu Bing Loni.

Su Giok-lan tersentak kaget sambil angkat kepala, matanya mengawasi Bu Bing Loni sahutnya tersekat, “Aku….aku ….”

“Kalau kau mau, aku bisa menerima kau menjadi muridku.”

Su Giok-lan menjadi kegirangan, sungguh tak terkirakan olehnya bahwa tokoh nomor satu sejagat ini rela menerima dirinya sebagai murid, sesaat ia menjadi melongo.

“Eh, apa kau mau?” desak Bu Bing Loni.

“Suhu!” cepat-cepat Su Giok-lan maju berlutut dan menyembah berulang-ulang.

Bu Bing Loni berseri tawa, ujarnya, “Tulangmu bagus, belum lama berselang aku mendapat sebatang Ho-siu-oh yang berusia ribuan tahun, nanti boleh kau minum, kalau kau giat dan rajin belajar, tiga bulan saja, cukup kau dapat mempelajari Hui-sim-kiam-hoat, kalau kau mau menuntut balas gampang sekali seperti kau membalikkan tanganmu.”

Su Giok-lan merangkak bangun dengan kegirangan, sahutnya, “Aku pasti giat belajar.” lalu tanyanya tak mengerti, “Suhu atau Suci kenapa tidak memberi hajaran kepadanya sekarang saja?”

Bu Bing Loni mengerut kening, katanya, “Aku sudah sumpah, gurunya membunuh ayah Sucimu sehingga sakit hati inipun sulit dibalas!”’

Su Giok-lan mengerling memandang ke arah gadis baju hitam. Bu Bing Loni berkata lagi, “Inilah Sucimu Ham Gwat.”

Tersipu-sipu Su Giok-lan membungkuk tubuh memberi soja, “Suci, harap selanjutnya kau suka memberi bantuan dan bimbingan kepadaku yang masih hijau ini!”

“Ah Sumoay terlalu sungkan. Kulihat bakat dan rejeki Sumoy sangat besar, kelak tentu mencapai tingkatan yang lebih tinggi dari aku sendiri!’

“Hun Thian-hi kan murid Lam siau? Bagaimana bisa menjadi musuh besar pembunuh ayahmu?” Berkedip2 biji mata Ham Gwat, katanya, “Lam-siau? Dia adalah murid Ang-hwat-lo-mo!”

“Apa”, tanya Giok-lan heran dan, menegas, “Dia murid Ang-hwat-lo-mo?”’

Ham Gwat manggut-manggut, katanya, “Jurus pencacat langit pelenyap bumi yang dilancarkan tadi untuk membunuh Kim-i-kongcu adalah ilmu silat pelajaran tunggal dari Ang-hwat-lo-mo. Dulu menggunakan jurus inilah Ang-hwat-lo-mo membunuh ayahku!”

Su Giok-lan manggut-manggut, batinnya, “Kiranya Hun Thian-hi juga menjadi murid Ang-hwat- lo-mo tak heran ilmu silatnya begitu lihay. dalam segebrak saja sekaligus membunuh puluhan tokoh-tokoh silat kosen!”

Kata Bu Bing Loni, “Giok-lan, tak perlu banyak pikir, mari kita pulang!”’

Su Giok-lan mengiakan, jenazah Su Cin dijinjingnya bersama Bu Bing Loni dan lain-lain menunggang burung dewa terbang tinggi dan hilang dikejauhan. Sekarang marilah kita ikuti perjalanan Hun Thian-hi yang terus maju menyelusuri tembok besar, tahu dia bahwa urusan hari ini takkan berakhir begitu saja, di depan tentu masih banyak orang lagi yang tengah menanti kedatangannya. Tengah ia mencongklang kudanya, dari atas tembok yang tinggi itu kelihatann melayang turun bayangan seorang hinggap tiga tombak dihadapannya. Waktu Thian-hi menegasi pendatang ini berusia kira-kira empat puluhan, mengenakan jubah putih, janggut hitam menjulai di depan dadanya, pinggangnya menyoreng sebatang seruling putih, bukankah beliau Suhunya yang berbudi, Lam-siau Kongsun Hong!

Sungguh kejut dan girang sekali Hun Thian-hi, bergegas ia lompat turun terus memburu maju dan berlutut, teriaknya, “Suhu!”

Kongsun Hong mendehem keras. katanya kereng mengawasi Hun Thian-hi, “Apakah aku ini gurumu? Kau masih anggap aku ini gurumu?”

Tercekat hati Thian-hi, berulang-ulang ia menyembah tanpa berani bersuara.

Sejenak kemudian baru Kongsun Hong berkata pula, “Sebelum ajal, ayahmu pernah berpesan wanti2 kepadaku untuk mengasuh kau baik-baik, tapi kau….”

Mendengar gurunya menyinggung ayahnya terketuk sanubari Hun Thian-hi tak terasa air mata meleleh dengan dengan derasnya.

Kongsun Hong menghela napas, ujarnya, “Kalau ayahmu bukan saudara angkatku urusan hari ini aku sudah tidak peduli lagi!”

Hun Thian-hi masih tetap tak berani bicara, Kongsun Hong membentaknya lirih, “Bangun!”

Pelan-pelan Hun Thian-hi merangkak bangun dan berdiri kesamping, lama-lama Kongsun Hong mengamatinya. lalu katanya, “Kini Thi-kiam Lojin dari Bu-tong-pay, Hwi-lam-it-lo Siang Ing serta tokoh-tokoh lain tengah menantimu di depan sana, malah Pak-kiam suami-istri katanya juga sudah datang!”

Berdebar keras jantung Thian-hi, angkat kepala ia awasi Kongsun Hong.

Tanya Kongsun Hong, “Kudengar kau telah membunuh puluhan tokoh-tokoh kosen dalam segebrak saja dan mengutungi sebelah lengan Toh-bing-cui-hun, apakah berita ini benar-benar?”

Hun Thian-hi manggut-manggut.

Kongsun Hong menjadi bungkam beberapa saat, rada lama kemudian ia tanya lagi dengan nada berat tertekan, “Dari mana kau pelajari jurus itu?”