Badik Buntung Bab 02

 
Bab 02

Hun Thian-hi menggerung keras, gesit sekali ia bergerak terus menubruk ke arah Su Tat-jin. Tapi dalan waktu yang sama tiba-tiba seseorang membentak keras dibelakangnya, “Bocah she Hun jangan kau takabur dan menghina orang.”

Belum lenyap suara ini sepasang sumpit tahu-tahu meluncur kencang mengarah punggung Hun Thian-hi.

Laksana angin lesus sebat sekali badan Hun Thian-hi bergerak memutar dan mengacungkan kedua jari tangan kanannya tahu-tahu kedua sumpit terbang itu sudah kejepit dicelah-celah jari tangannya.

Berkilat matanya memandang ke arah sana, ternyata penyerang gelap ini adalah seorang laki- laki pertengahan umur yang mendelik memandang dirinya.

Hun Thian-hi tidak tahu sikapnya yang sombong dan perbuatannya meniup seruling itu sudah menimbulkan rasa dongkol dan tak senang seluruh hadirin, kini dibakar dan diprofokasi lagi dengan ucapan Su Tat-jin yang tajam tepat menusuk ke lubuk hati mereka, semakin besar rasa benci seluruh hadirin terhadap dirinya.

Sesaat Hun Thian-hi menjadi melongo dan menjublek di tempatnya, tak tahu ia apa yang harus diperbuatnya atas laki-laki pertengahan umur ini.

Melihat sikap Hun Thian-hi yang acuh tak acuh itu, laki-laki pertengahan umur itu mengira Hun Thian-hi sengaja bersikap tidak memandang sebelah mata pada dirinya, maka hardiknya, “Seluruh orang gagah di kolong langit banyak yang hadir disini, seumpama kau betul adalah murid Seruling selatan, kita tidak akan membiarkan kau bertingkah dan main gagah2an disini.”

Hun Thian-hi coba berlaku sabar katanya pelan-pelan, “Kelatanganku hari ini bukan ingin mencari perkara dengan kalian, tujuanku yang utama adalah Su Tat-jin.”

Selesai berkata pelan-pelan setindak demi setindak ia maju ke arah Su Tat-jin.

Su Tat-jin mandah menyeringai dingin, ia tahu sikap lun Thian-hi ini tentu dapat mengobarkan kemarahan seluruh hadirin, maka untuk peristiwa selanjutnya dirinya boleh enak-enak duduk di tempatnya tinggal menonton pertarungan saja.

Salah besar dugaan Hun Thian-hi, sangkanya dengan sekedar penjelasannya tadi cukup menyelesaikan segala urusan, tak disadarinya bahwa dengan perkataannya tadi justru lebih mempertebal keyakinan seluruh orang-orang gagah yang hadir akan sifatnya yang takabur dan memandang ringan seluruh hadirin, maka begitu ia bergerak maju, lantas terlihat dua orang bangkit berdiri malah terus menerjang ke arah dirinya, yang satu menggablok punggung sedang seorang lain membabat pinggangnya.

Terpaksa Hun Thian-hi menggerakkan Serulingnya, tanpa membalik tubuh serulingnya menutuk dan menangkis serangan kedua musuh pembokong ini, untuk menolong diri terpaksa kedua penyerang ini melompat mundur.

Seluruh hadirin terbakar kemarahannya, serempak Semua erdiri dan meluruk maju bersikap mengancam, bila perlu akan main keroyok tanpa pandang bulu lagi.

Su Cin dan Su Giok-lan menjadi gelisah, namun serta melihat Su Tat-jin tengah melirik dengan pandangan dingin ke arah mereka mencelos hatinya, kata Su Tat-jin sembari maju mendekat, “Hakikatnya Hun Thian-hi tidak percaya lagi pada kalian, buat apa kalian hendak menolong ia?” Su Cin dan Su Giok-lan bungkam sembari menundukkan kepala, waktu angkat kepala lagi terlihat Hun Thian-hi tengah melancarkan ilmu Thian-liong-chit-sek seruling ditangannya berputar lincah gagah perwira ia tengah berkutet melawan sekian banyak pengepungnya, namun dasar kepandaiannya memang hebat setiap kali terlihat sinar putih berkelebat dan menutuk satu persatu para pengepungnya terjungkir balik dengan jalan darah tertutuk.

Berubah air muka Su Tat-jin, katanya kepada Su Cin dan Su Giok-lan, “Sudah saatnya kita tinggal pergi.”

“Tidak….” sahut su Giok-lan beragu.

Su Tat-jin berpaling menatap ke arahnya, tanyanya, “Kau tak mau pergi?”

Su Giok-lan menunduk tanpa menjawab. Maka Su Tat-jin segera mendahului beranjak masuk ke belakang.

Dengan bekal kepandaiannya yang lihay sebetulnya Hu Thian-hi tidak perlu gentar menghadapi keroyokan sedemikian banyak orang, namun semakin banyak pengerojoknya gerak-geriknya menjadi sedikit terhalang, kini melihat Su Tat-jin hendak melarikan diri, tiba-tiba ia menghardik keras jurus-jurus Thian-liong-chit-sek lantas dilancarkan semakin kencang, dengan tipu Lui-thian- hwi-theng (kilat dan geledek menyamber2), seruling pualamnya berputar menyilang menyapu mundur para pengepungnya, badannya lantas mencelat terbang mengejar.

Sudah tentu para orang gagah yang mengeroyoknya itu tak tinggal diam, be-ramai-ramai merekapun memburu dengan kencang.

Bukan kepalang gusar Hun Thian-hi, tahu-tahu serulingnya menutuk membalik telak sekali seorang yang memburu paling depan kena tertutuk jalan darahnya kontan terjungkal dan diinjak2 oleh para kawannya sendiri, gerakan Hun Thian-hi masih tidak berhenti tanpa hiraukan korbannya kakinya menjejak tanah terus meluncur mengejar ke arah Su Tat-jin. Di lain kejap ia sudah tiba diserambi panjang, sesudah memutar dua pengkolan terlihatlah ketiga orang buronannya, laksana seekor burung elang segera ia menubruk tiba.

Su Tat-jin terkejut, katanya kepada Su Cin berdua, “Kalian maju rintangi dia sebentar.” Sejenak Su Cin “berdua” ragu-ragu, tapi akhirnya melolos pedang terus menghadang di depan

Hun Thian-hi.

Hun Thian-hi mengayun seruling mengembangkan tipu-tipuan ia mendesak mundur mereka berdua, mulutnya menjengek dingin, “Bukan kalian yang kucari!”

Su Cin berdua menjadi serba runyam tiada tempo buat mereka untuk menerangkan, apalagi mendengar sindiran Hun Thian-hi ini hampir-hampir Su Giok-lan melelehkan air mata, dengan mengertak gigi ia nekad merangsak maju menusuk ke arah Hun Thain-hi.

Ilmu seruling Hun Thian-hi memang cukup hebat terlihat sedikit bergetar tahu-tahu serulingnya menjungkit dan menyampok turun, sekaligus ia tangkis dan sampok miring pedang panyang lawan, sebat sekali tahu-tahu ia menerobos lewat diantara celah-celah kosong ini terus mengejar ke arah mana Su Tat-jin telah melenyapkan diri.

Dengan mengeluh tertahan Su Cin berdua kirim pukulan jarak jauh dengan kepalan tangan kiri untuk merintangi tindakan Hun Thian-hi, terpaksa ia merandek sejenak sembari dan menggerakkan serulingnya mendesak mundur mereka berdua. Sedikit hambatan ini, sementara itu para orang gagah yang mengejar sudah tiba, tanpa kuasa Hun Thian-hi terkepung lagi dengan ketat….

Sinar pedang berkelebat menyambar2, namun bayangan seruling Thian-hi pun tidak kalah gesit bergerak, namun menghadapi sekian banyak serangan dari berbagai penjuru akhirnya Thian-hi terdesak juga di bawah angin. Apalagi dengan rangsekan Su Cin berdua yang berkepandaian cukup tinggi, semakin payah keadaannya.

Dalam pada itu bayangan Su Tat-jin sudah tidak kelihatan lagi, saking murka dada Hun Thian-hi terasa hampir meledak, dengan menggertak keras tangan kirinya tiba-tiba terayun, tahu-tahu Badik buntung sudah tergenggam ditangannya, dimana sinar hijau pupus berkelebat dua batang pedang yang menyamber tiba kontan terpapas kutung menjadi dua.

Para pengepung menjadi kaget, serempak mereka menyurut mundur dengan ketakutan.

Terpecik dalam benak mereka bahwa ucapan Su Tat-jin barusan memang kenyataan. Bukankah Badik buntung sudah berada ditangan Hun Thian-hi….

Para pengepung itu hanya sedetik saja beragu lantas merangsek semakin hebat dengan kemurkaan yang berkobar.

Hun Thian-hi mandah tersenyum sinis sembari melirik ke arah Su Cin berdua.

Keruan hati Su Cin dan Su Giok-lan menjadi mendak seperti ditusuk sembilu, namun urusan sudah berkembang sedemikian larut terpaksa biarlah terus berlanjut tanpa berkesudahan.

Dengan bersenjatakan Badik buntung di tangannya, Hun Thian-hi bertambah besar, seruling pualam di tangan kanan ditanggalkan di pinggangnya, sedang Badik buntung dipindah ke tangan kanan, dengan menggerung keras segera ia terjang para orang-orang gagah yang mengepung itu.

Dimana sinar hijau pupus berkelebatan, para orang-orang gagah menjadi terdesak mundur tanpa berani melawan tajaman senjata sakti ini, akhirnya mereka mundur-mundur terus sampai di halaman belakang.

Tapi bayangan Su Tat-jin memang sudah tak kelihan lagi entah sudah merat kemana, sudah tentu rasa dongkol dan kemarahannya lantas ditimpahkan kepada para pengepungnya, gesit sekali tubuhnya bergerak terbang menerobos serambi panjang terus menerjang ke dalam halaman tengah terus meluncur di tengah gelanggang.

Baru saja ia hinggap di tanah lantas ia merasa situ rada ganjil, didapatinya bahwa perhatian seluruh hadirin ternyata tidak dipusatkan kepada dirinya sebaliknya terus mendelong mengawasi satu jurusan.

Ia memutar tubuh memandang ke arah sana terlihat di atas tembok tinggi sana berdiri dua orang, itulah Su Tat-jin dan seorang tua yang mengenakan jubah hitam, dua mata orang tua jubah hitam ini tengah menatap tajam ke arah Hun Thian-hi.

Secara langsung Hun Thian-hi lantas merasa bahwa orang tua jubah hitam im agaknya punya wibawa yang cukup angker, kalau tidak kenapa seluruh hadirin menjadi bungkam dan tak berani sembarangan bergerak, sedang Su Tat-jin sendiri juga kelihatan sangat tenang dan perhatian?

Sejenak Hun Thian-ki menyapu pandang sekelilingnya, sebaliknya orang tua jubah hitam disampingnya itu lantas membentak dengan nada rendah, “Siapa kau? berani bertingkah dan kurang ajar dihadapanku?” Hun Thian-hi menyeringai dengan jongkak, sahutnya, “Siapa kamu aku tidak perduli.”

Su Tat-jin berkata melengking, “Haha, kiranya masih bau kerucut yang tidak tahu kebesaran nama Toh-bing-cui-hun Cu Hwi!”

Rada bercekat benak Hun Thian-hi ketenaran nama Cu Hwi sudahpernah didengarnya, bukan saja tinggi ilmu silatnya, terutama permainan senjata rahasia boleh dikatan jagoi seluruh dunia persilatan tiada tandingan. Adalah senjata rahasia pribadinya lain dari yang lain pula, begitu dikembangkan memang bukan gertakan belaka dapat mengejar sukma mencabut nyawa.

Cu Hwi tertawa dingin jengeknya, “Sungguh tak kuduga martabat seruling selatan ternyata begitu rendah.”

Berubah air muka Hun Thian-hi, dengan seringai sombong ia berkata menghina, “Aku juga tak menduga, Toh-bing-cui-hun yang kenamaan itu ternyata adalah berotak tumpul gampang diapusi bajingan tengik.”

“Memang sombong dan takabur sekali!” teriak Cu Hwi murka.

Kata Hun Thian-hi kepada Su Tat.jin, “Su Tat-jin, sungguh pintar akalmu, seluruh orang gagah di kolong langit ini gampang saja kau peralat untuk menjuai nyawa demi kepentinganmu.” habis berkata ia mendesak maju lebih dekat.

“Berhenti disitu!” bentak Cu Hwi di atas tembok.

Hun Thian-hi tak menghiraukan. Cu Hwi lantas mengulur tangan kanan jari tengahnya menjelentik, terdengarlah suara mendengung nyaring, sebuah gelang hitam berputar-putar ditengah udara terbang memutar terus melesat ke arah Hun Thian-hi.

Hun Thian-hi mendengus hidung, tahu dia inilah satu senjata rahasia andalan Cu Hwi yang kenamaan dinamakan gelang mencabut nyawa.

Hun Thian-hi tak berani memandang enteng, dengan gagap dan penuh prihatin ia menggerakkan Badik buntung terus menutul ke arah gelang penyabut nyawa yang menyamber tiba. Namun ia kecele.

Gelang hitam itu terbang melintang berputar-putar di tengah udara satu bundaran lalu terbang kembali ketangan Cu Hwi.

Dengan senyum ejek dan dingin Cu Hwi menatap Hun Thian-hi.

Merah jengah muka Hun Thian-hi, terang ia sudah kalah dalam selintas jurus ini.

Alisnya bertaut dalam, tiba-tiba tubuhnya bergerak laksana burung manyar terus menerjang ke arah Cu Hwi.

“Bocah sembrono!” maki Cu Hwi, lagi-lagi tangan kanannya bergerak dua bilah pisau terbang meluncur memapak kedatangan Hun Thian-hi.

Begitu badan Hun Thian-hi meluncur cepat, Badik buntung lantas disodokkan ke depan tepat sekali menyambut kedua pisau terbang ini, maka dilain saat ia sudah hinggap di atas tembok dimana tadi Cu Hwi berdiri. Terdengar Cu Hwi mendengus keras, hatinya dongkol dan tak senang menghadapi sikap Hun Thian-hi yang berandal dan takabur. Namun demikian toh ia tidak gampang jebak dalam tipu muslihat Su Tat-jin, tahu dia bahwa apa yang dikatakain Su Tat-jin belum tentu benar-benar, tapi juga kemungkinan ada betulnya, maka ia tidak segera ambil suatu kepastian total, yang pasti ia hanya ingin menyapu bersih sikap Hun Thian-hi yang sombong ini.

Tangannya membalik melolos pedang panjangnya terus meluncur menyerang ke arah Hun Thian-hi.

Terpaksa Hun Thian-hi juga membalikkan tangan untuk memapas pedang panjang ditangan Cu Hwi. Segera Cu Hwi kembangkan ilmu pedangnya yang lihay, seketika ia lancarkan serangan berantai lima enam jurus, maksudnya hendak mendesak Hun Thian-hi terjungkal ke tanah.

Hebat kepandaian Hun Thian,hi, sembari menggertak keras, Badik buntung bergerak lincah balas menyerang, tapi serangan Cu Hwi juga cukup gencar sehingga Hun Thian-hi terdesak mundur berulang-ulang.

Terpaksa Hun Thian-hi merogoh keluar seruling pualamnya, dalam seribu kerepotannya menjaga diri segera dikembangkan ilmu Thian-liong-chit-sek terus memberondong ke arah Cu Hwi.

Cu Hwi pun tidak mau kalah wibawa, pedang ditangannya ditarikan secepat kitiran, namun toh terdesak dua langkah, hatinya menjadi kaget sekali. Sungguh diluar perhitungannya bahwa Hun Thian-hi kiranya membekal kepandaian silat yang begitu tinggi dalam jangka dua tiga tahun mendatang mungkin tiada tandingannya, dikolong langit.

Karena pikirannya ini serempak tangan kanannya dibolang-balingkan, selarik sinar putih berkilau meluncur bergantian saling susul, itulah pisau terbang yang disambitkan ke arah Hun Thain-hi.

Untuk menyelamatkan diri terpaksa Hun Thian-hi memutar dan menggerakkan seruling dan Badik buntung bersama, namun timpukan pisau terbang musuh memang punya caranya sendiri, ditengah jalan mendadak luncuran pisau terbang itu berubah arah menukik kebawah, keruan kejut. Hun Thian-hi bukan main cepat-cepat ia menggeser kaki menyurut mundur kesamping, meski ia sudah berlaku sebat tak urung ketiga batang pisau terbang itu menembus lengan bajunya terus menancap didinding dibelakangnya…. Terdengar Cu Hwi tertawa dingin berulang-ulang.

Melihat Cu Hwi hanya main gertak belaka tiada tanda2nya hendak membunuh Hun Thian-hi, Su Tat-jin menjadi sengit segera ia berseru memberi aba-aba, “Hayo maju semua!”

Banyak diantara pengepung itu yang sudah merasakan kelihayan Hun Thian-hi, rasa dongkol dan penasaran belum sempat terlampias, kini mendengar aba-aba yang memberikan kesempatan untuk menuntut balas ini, segera mereka serabutan menerjang maju bersama secara membabi buta.

Hun Thian-hi menggembor keras dan panjang, tangan kanannya menarik sekuat tenaga “bret!” lengan bajunya yang kepanjangan sobek saparo, disusul ia mengayun Badik buntung melancarkan jurus Jan-thian-ciat-te yang ganas itu. Lima tombak sekitar gelanggang pertempuran seketika terkurung dalam jangkauan serangan jurus yang lihay ini, sinar hijau kemilau hanya berkelebat cepat laksana kilat terus lenyap tanpa bekas. Namun akibatnya adalah dahsyat sekali dan mengerikan.

Dalam gelanggang tampak mayat bergelimpangan, hanya Su Cin berdua dan Su Tat-jin serta Cu Hwi yang kehilangan sebelah lengannya saja yang masih ketinggalan hidup. Hun Thian-hi terlongong-longong menjublek di tempatnya. Seperti patung kaju tak bergerak.

Dengan dihantui kemarahannya ia melancarkan jurus pelajaran dari orang tua rambut merah, sungguh diluar tahunya bahwa akibat dari serangannya itu ternyata begitu mengerikan.

Begitu jurus ganas itu mulai dilancarkan lantas segulung tenaga yang begitu besar mengendalikan nuraninya sehingga tanpa kuasa Badik buntung ditangannya terlanjur mengarah keleher para musuhnya, dia sendiri sampai heran dan terkesima mengapa ia tak mampu mengendalikan diri lagi.

Dengan muka pucat pias Cu Hwi mendesis, “Kejam benar-benar! Asal aku Cu Hwi sehari masih hidup, akan datang saatnya pembalasanku!” habis berkata ia terus berlari sipat kuping.

Demikian juga keadaan Su Tat-jin yang pucat pasi, terhuyung-huyung ia tersurut mundur terus mendoproh dikaki dinding dengar badan lemas lunglai tak mampu bergerak lagi.

Adalah Su Cin dan adiknya yang berdiri rada jauh diluar gelanggang selamat dari bencana mengerikan ini. Namun demikian menyaksikan pemandangan yang mengerikan ini tak urung berubah pucat dan ketakutan, lama dan lama kemudian baru mereka saling pandang terus berlari sekencang-kencangnya.

Tinggal Hun Thian-hi yang kesima mengawasi mayat-mayat tak berkepala dengan muka pucat, seolah-olah ia tak sadar dan tak tahu apa yang telah terjadi barusan, yang masih terpercik dalam ingatannya hanyalah dengan jurus Jan-thian-ciat-te tadi sekaligus ia telah bunuh semua orang ini, tak tahu bagaimana ia bekerja dalam waktu sesingkat itu telah mengutungi sedemikian banyak kepala musuh, terasa pandangannya menjadi gelap otaknya seperti kosong hampa.

Agak lama kemudian baru tercetus gumam dari mulutnya, “Jurus sesat! Jurus sesat.” sembari berteriak ia berlari sempoyongan dengan kedua tangan menutup mukanya….

Bulan purnama tengah memancarkan sinar redup memutih perak menerangi seluruh jagat raja, tampak seorang pemuda tengah bergoyang gontai berjalan menyusuri jalan raja yang dipagari pohon-pohon rindang. Ditimpah sinar bulan nan menyejukkan jelas kelihatan muka si pemuda yang murung seperti dirundung kemalangan entah kekisruhan apa yang tengah membelit hatinya. Sinar kemilau bergoyang2 dari sebatang seruling batu pualam yang tergantung di pinggangnya.

Pelan-pelan ia angkat kepala memandang ke arah bulan nan jauh di cakrawala, tak terasa kakinya berhenti melangkah entah apa yang tengah dipikirkan, tak lama kemudian ia mulai beranjak lagi ke depan dengan langkah berat.

Sekonyong-konyong sesosok bayangan hitam melesat keluar dari dalam rimba di pinggir jalan, persis hinggap ditengah jalan raja dan mencegat di hadapannya….

Segera si pemuda menghentikan langkahnya, pelan-pelan ia berpaling ke arah hutan gelap di pinggir kanannya lalu berputar menghadapi orang di hadapannya ini.

Kiranya itulah seorang Lama yang mengenakan jubah kuning tua, dari penerangan sinar bulan jelas kelihatan, lama jubah kuning ini tak lain tak bukan adalah musuh besar gurunya dulu, yaitu Sam Kong Lama.

Agak lama Sam Kong Lama memicingkan mata mengawasinya, baru ia membuka mulut, “Apakah kau ini yang bernama Hun Thian-hi?”

Mendengar pertanyaan ini si pemuda rada bimbang, sesaat baru ia menyahut, “Ya, betul!” Sam Kong Lama bergelak tawa sekeras-kerasnya, ujarnya, “Sungguh besar nyalimu. Sebetulnya tiada niat aku mencari kau, tapi kudengar kau sekaligus telah membunuh puluhan tokoh-tokoh silat kenamaan, malah mengutungi sebelah lengan Toh-bing-cui-hun Cu Wi, apakah berita itu benar-benar adanya?”

Hun Thian-hi meragu, “Benar-benar!” akhirnya ia mengakui dengan lantang.

Sam Kong Lama menyeringai dingin, jengeknya, “Sungguh tak duga Seruling selatan punya murid muda yang berhati kejam telengas melebihi kebuasan binatang. Terang dia tak mampu mendidik muridnya, biarlah aku saja yang memberi hajaran!”

Hun Thian-hi tersenyum sombong, ujarnya, “Lebih baik aku bunuh diri di hadapan guruku daripada menerima hajaranmu. Ketahuilah sepak terjang murid Seruling selatan selamanya tak sudi dikekang orang lain.”

Sam Kong Lama menyeringai dingin, katanya, “Cukup gagah dan besar nyalimu, tak malu menjadi murid Lam-siau. Tapi sepak terjangmu hari ini seumpama Lam-siau sendiri hadir disini, beliau takkan berani merintangi aku untuk menghajar adat kepadamu.”

Berubah air muka Hun Thian-hi, ia maklum bahwa jurus serangan yang dilancarkan itu terlampau ganas dan besar akibatnya. Tak heran orang tua berambut merah tak membunuhnya malah mengajarkan ilmu yang hebat ini, kiranya mempunyai maksud-maksud tersembunyi.

Dengan peristiwa yang telah dialaminya ini, terasa betapa menderita pukulan batin yang menimpa dirinya rasanya lebih besar derita yang menimpa dirinya dari pada dibunuh oleh si orang tua berambut merah….

Akhirnya ia tertunduk tanpa bicara, sementara Sam Kong Lama langkah demi langkah menghampiri semakin dekat.

“Tidak!” mendadak Hun Thian-hi angkat kepala dan berteriak tegas. Sam Kong Lama terhenyak.

Dalam benak Hun Thian-hi tengah membatin, sakit hati orang tua masih belum terbalas betapapun aku tidak sudi dikekang orang lain, apalagi peristiwa ini terjadi bukan karena disengaja.

Maka kata Hun Thian-hi lantang, “Tidak, betapapun aku tidak rela menerima cercah kalian.”

Raut muka Sam Kong Lama berkerut-kerut menampilkan rasa gusar, katanya, “Semakin kau berkukuh dosamu semakin tak berumpun, akan kuseret kau kehadapan gurumu, coba kulihat cara bagaimana dia akan mendidikmu sekali lagi!”

Hun Thian-hi menanggalkan serulingnya sembari tertawa panjang, ujarnya, “Kalau kau mampu membekuk aku, dengan senang hati aku ikut kepadamu.”

Sam Kong Lama terbahak dua kali, ujarnya, “Dua puluh tahun yang lalu aku pernah bergebrak dengan gurumu, akhirnya sama-sama terluka berat. Aku harus mengakui secara pribadi gurumu adalah seseorang tokoh kenamaan yang sangat kuhormati, sungguh tak duga dia punya murid macam kau yang tak bisa mengurus diri!”

Berkilat mata Hun Thian-hi desisnya dengan kukuh, “Urusan ini tak perlu kau turut campur.” Saking murka Sam Kong Lama bergelak tawa menggelegar, tiba-tiba tubuhnya mencelat mumbul laksana seekor burung elang yang menyamber mangsanya langsung menubruk ke arah Hun Thian-hi.

Hun Thian-hi tahu bahwa Sam Kong Lama ini merupakan tokoh nomor satu diluar perbatasan, seorang tokoh yang tidak boleh diganggu usik, melihat sedemikan hebat terjangan orang, gesit sekali ia melompat mundur, pikirnya hendak meluputkan diri dari jurus serangan pertama ini. Tak kira badan besar Sam Kong Lama tiba-tiba jumpalitan dan berputar cepat di tengah udara tahu- tahu kedua kakinya sudah menyapu datang ke arah Hun Thian-hi….

Hun Thian-hi menggeser kesamping berbareng serulingnya melintang mengetuk jalan darah Yung-cwan-hiat dimata kaki Sam Kong Lama.

“Bagus!” Sam Kong Lama berseru memuji, disusul tubuhnya bergerak lurus seperti berhenti di tengah udara, secepat kilat kedua telapak tangannya sudah menepuk datang kedada Hun Thian- hi.

Bercekat hati Hun Thian-hi, diam-diam ia kagum dalam hati akan keanehan dan kecepatan perubahan jurus tipu serangan Sam Kong Lama ini. Dalam saat2 genting ini tiada waktu untuk banyak berpikir, tangkas sekali ia bergerak memutar meluputkan diri. “Trang”, tahu-tahu Badik buntung sudah digenggam ditangan kirinya, berdiri tegap menghimpun semangat ia nantikan gebrak selanjutnya.

Baru pertama kali ini Sam Kong Lama menyaksikan Badik Buntung, maka ia menjadi was-was tak berani sembarangan menyerang, lama dan lama sekali ia menatap wajah Hun Thian-hi tanpa bergerak.

Hun Thian-hi sendiri juga tegak berdiri bersiaga tanpa berani sembarangan bergerak.

Rada lama kemudian baru Sam Kong Lama berkata lirih, “Tak malu kau menjadi murid Lam- sia!” hilang suaranya laksana geledek menyamber mendadak ia menubruk maju lagi seraya menyerang dengan dahsyat.

Hun Thian-hi bersuit nyaring, gerak tubuhnya pun tak kalah cepatnya menyongsong maju, tangan kanan membalingkan Seruling pualam mengembangkan ilmu Thian-liong-jhit-sek mengombinasikan Badik buntung di tangan kiri merangsak dengan berani ke arah Sam Kong Lama.

Kedua belah pihak tengah meluncur cepat saling terjang di tengah udara, dalam sedetik itu mereka sudah saling serang sebanyak lima jurus baru meluncur turun dan hinggap di atas tanah.

Tampak Sam Kong Lama menampilkan rasa kagum dan keheranan, katanya, “Betul-betul murid Lam-sia yang gagah perkasa!”

Sebaliknya Hun Thian-hi mematung ditempatnya tanpa bergerak dan bicara. Dalam kejap lain rona wajah Sam Kong Lama berubah putus asa dan murung, sekonyong-konyong tubuhnya mencelat lagi menerjang ke arah Hun Thian-hi.

Meski lahirnya Hun Thian-hi berlaku tenang dan wajar, sebenar-benarnya susah payah tadi ia menyambut lima kali serangan lawan secara keras lawan keras, dadanya terasa bergetar dan sakit sehingga napas rada sesak.

Kini melihat lawan menerjang lagi, maka kapok sudah ia, tak berani main kekerasan, cepat- cepat ia membuang diri ke samping. Tapi betapa luas pengalaman tempur Sam Kong Lama, sembari mendengus hidung kedua tangannya bergerak menyilang satu di belakang dan yang lain di depan saling susul menghantam ke arah Hun Thian-hi.

Terpaksa Hun Thian-hi menyapukan Seruling pualam setengah lingkaran di tengah udara terus mengepruk ke depan. Begitu serulingnya saling bentur dengan telapak tangan lawan seketika tergetar hebat badan Hun Thian-hi, tak kuasa ia tersurut dua langkah, seketika wajahnya menjadi pucat.

Sementara serangan susulan Sam Kong Lama sudah melandai tiba pula. Dalam keadaan gawat ini tanpa disadari Badik buntung di tangan kirinya lantas bergerak memutar siap hendak melancarkan jurus Pencacat langit pelenyap bumi yang ganas itu.

Untung baru saja jurus sakti itu akan dilancarkan mendadak bergolak darah dalam rongga dadanya, nuraninya bekerja, secara reflek akan keganjilan hajat diluar kesadarannya, maka cepat- cepat ia berusaha menguasai diri sembari menghentikan aksinya, untung masih keburu menarik kembali serangan dahsyat yang bakal dilancarkan itu.

Akan tetapi serangan Sam Kong Lama pun sudah melandai tiba, telak sekali sebuah pukulan mengarah pundak kirinya, untuk menghindar agaknya sudah terlambat. Dalam keadaan krisis inilah bintang penolong telah tiba.

Mendadak ditengah udara terdengar pekik nyaring seekor burung, disusul suara seorang gadis berkata, “Siau Hong — Benar-benar itulah orangnya, coba kau turun dan bekuk dia kemari!”

Seiring dengan merdu suaranya tampak dari tengah udara melayang turun seorang gadis berbaju hijau, pakaian yang lazim dikenakan oleh seorang dayang, dengan tangan tunggalnya tepat dan persis benar-benar ia tangkis pukulan Sam Kong Lama itu, di lain saat ia sudah berdiri tegar di atas tanah

sambil tersenyum simpul Terhindarlah Hun Thian-hi dari ancaman maut.

Dayang berbaju hijau ini mendehem dengan puas dan bangga, katanya kepada Hun Thian-hi, “Mari ikut aku!”

Sejenak Sam Kong Lama menatap dayang baju hijau itu lalu tanyanya, “Siapa kau?”

Dayang baju hijau mendengus hidung, tiba-tiba tangannya bergerak melemparkan sebuah medali putih dari batu pualam. Begitu melihat medali putih batu pualam ini seketika berubah hebat air muka Sam Kong Lama, mulutnya terkancing tak berani banyak bicara lagi, diam-diam ia mengutirkan keselamatan Hun Thian-hi.

Sementara itu dengan seksama Hun Thian-hi sudah mengamati dayang kecil berusia kira-kira 15-16-an, iapun tahu siapa pemilik dari medali putih pualam itu, namun toh ia tersenyum sombong dan berkata, “Kau kira aku sudi ikut kau?”

Sedikit berubah rona wajah si dayang kecil ini, alisnya bertaut dalam, katanya menjengek, “Besar benar-benar nyali anjingmu, apa kau tidak kenal medali putih pualam ini?”

Pucat wajah Hun Thian-hi, namun sikapnya tetap angkuh, sahutnya tertawa, “Bu Bing Loni merupakan tokoh aneh yang kenamaan, aku Hun Thian-hi toh tidak berbuat dosa terhadap beliau. Kalau kau mampu silakan kau ambil kepalaku persembahkan kepadanya!” Dayang itu bersungut, katanya, “Kapan kau dengar orang yang dipanggil dengan medali putih pualam, boleh sembarangan saja dibunuh?”

“Nanti dulu!” tersipu-sipu Sam Kong Lama berseru.

Dayang cilik itu menjadi murka, semprotnya jengkel, “Ada apa lagi yang perlu kau katakan!”

Ragu-ragu sejenak akhirnya Sam Kong Lama berkata, “Untuk apa Bu Bing Loni memanggilnya dengan medali putih pualam itu?”

Sebetulnya ia tak berani sembarang buka mulut, namun serta melihat Hun Thian-hi berani main debat, dirinya seorang angkatan yang lebih tua masa harus unjuk kelemahan di hadapan murid Lam-siau? Apalagi diam-diam timbul kecurigaan dalam benaknya, masakan dengan kepandaian yang dimiliki oleh Hun Thian-hi sekarang mungkinkah kabar yang tersebar luas di kalangan Kangouw itu benar-benar kenyataan?”

Sementara itu Dayang kecil itu semakin uring-uringan, ujarnya, “Kalau mau tanya silakan pergi tanya langsung kepada pemilik medali putih pualam itu!”

Berubah air muka Sam Kong Lama, tapi ia tertawa gelak-gelak untuk membesarkan nyalinya, dijemputnya medali putih pualam itu, katanya, “Baik, apapun yang hendak kau lakukan silakan. Tapi sebelum kau katakan sebab musababnya tak kuberi izin kau menyentuhnya.”

Dayang kecil itu semakin gusar, bentaknya, “Besar benar-benar nyali anjingmu!” seiring dengan bentakannya tubuhnya bergerak bagai angin lesus menerjang kepada Sam Kong Lama, dimana tangan kanannya bergerak tahu-tahu cakarnya Sudah mengancam muka Sam Kong. 

Sam Kong juga bergerak tidak kalah cepatnya, namun ia harus lancarkan empat serangan balasan baru berhasil membendung sejurus serangan lawan, keruan basah bajunya oleh keringat dingin.

Sungguh diluar dugaannya bahwa kepandaian silat dayang kecil ini begitu lihay, dilihat naga- naganya, apa yang dinilai orang lain tentang betapa tinggi kepandaian Bu Bing Loni memang bukan omong kosong.

Melihat jurus serangannya tak membawa hasil dayang kecil itu berjingkrak murka, mukanya merah padam, tahu-tahu tubuhnya bergerak lebih cepat dan tangkas menyerang pula kepada Sam Kong.

Hun Thian-hi berpeluk tangan menonton tenang-tenang, sekilas pandang saja lantas diketahui olehnya bahwa Sam Kong Lama terang bukan menjadi tandingan dayang kecil ini.

Tak tahu dia untuk keperluan apa Bu Bing Loni memanggilnya dengan medali piutih pualam itu.

Pernah didengar dari cerita orang bahwa Bu Bing Loni merupakan tokoh nomor satu di seluruh Bulim, namun sifatnya kejam dan telengas melebihi para gembong-gembong iblis yang paling jahat. Dulu waktu masih remajanya pernah patah hati, namun secara kebetulan menemukan sejilid buku pelajaran silat yang sekaligus telah mengangkat dirinya menjadi tokoh nomor satu tiada tandingan di seluruh kolong langit.

Konon kabarnya empat puluih tahun yang lalu dipuncak Hoa-san ia tempur puluhan tokoh- tokoh silat kelas wahid, semuanya kena dibunuh tanpa ketinggalan satu pun yang hidup, cara turun tangannya kejam dan sadis sekali tiada bandingannya. Para penonton menjadi bergidik dan tak tega, sebaliknya sedikit pun tak berubah airmukanya. Meski kejadian itu sangat menggemparkan, nanum para korban itu memang bukan orang baik- baik dari golongan sesat. Palagi memang ilmu silat Bu Bing terlalu tinggi maka tiada seorangpun yang berani tampil ke depan, maka untuk selanjutnya dimana medali putih pualam ini muncul tiada seorangpun yang berani menolak.

Akan tetapi sebetulnya untuk urusan apakah, kenapa sekarang menimpa giliranku? “Hai, berhenti!” tiba-tiba ia berseru mencegah.

Tangkas sekali dayang kecil baju hijau itu jumpalitan balik, ditengah udara badannya berputar indah sekali terus meluncur turun dengan kaki menginjak tanah lebih dulu, tanyanya, “Keperluan apa pula. yang perlu kau katakan?”

Pelan-pelan Hun Thian-hi berpaling mengamati Sam Kong Lama, mulutnya menyungging senyum tawar katanya kepada. dayang kecil itu, “Urusan ini tiada sangkut paut dengan dia. Marilah kita selesaikan sendiri.”

Tak kira Dayang kecil dan Sam Kong Lama berseru berbareng tanpa berjanji, “Tidak!”

Sejenak mereka saling pandang lalu Dayang kecil itu mendengus ejek, ujarnya, “Setiap kali medali putih pualam muncul siapa yang berani membangkang?” — sejenak ia berhenti mengawasi Hun Thian-hi berdua bergantian lalu sambungnya, “Memang lain dia lain kau, tapi persoalan ini bisa dibereskan bersama, silakan kamu berdua maju bersama!”

Sam Kong Lama bergelak tawa, serunya, “Bagus! Hari ini terpaksa aku harus belajar kenal betapa, tinggi ilmu silat murid didik Bu Bing Loni!”

“Sombong benar-benar,” jengek Dayang kecil baju hijau, Mengandal kemampuan kalian masa ada. harganya belajar kenal dengan kepandaiian silat dari aliran Bu Bing loni? Aku saja yang maju sudah cukup berharga memandang kalian!”

Sam Kong Lama menjadi dongkol dipandang enteng begitu rupa, dilandasi kemarahan segera kirim sebuah pukulan kencang ke arah Dayang cilik itu.

Terdengar Dayang kecil itu tertawa dingin, sebat sekali meloncat terbang lempang ke depan, kedua ujung sepatunya menendang bergantian mengarah kedua biji mata Sam Kong Lama, betapa cepat dan tepat serangan berani ini benar-benar sangat hebat dan menakjubkan. Namun dengan suatu gerak yang sangat cepat Sam Kong Lama meloncat mundur menjauhi.

Sementara Hun Thian-hi juga tidak tinggal diam, laksana kilat iapun sudah bergerak membuntut tiba, dimana seruling pualamnya bergerak langsung ia menutuk jalan darah mematikan dipunggung Dayang kecil. Hebat benar-benar kepandaian Dayang kecil baju hijau ini, seperti tumbuh mata saja belakang kepalanya, mendadak membalik sebuah tangannya, sekali raih ia mencengkram seruling Hun Thian-hi yang menutuk datang.

Keruan bukan kepalang kejut Hun Thian-hi, cepat Badik buntung ditangan kirinya mengiris kebawah langsung membabat pergelangan tangan Dayang kecil itu.

Dilain pihak Sam Kong Lama juga tak kalah kejutnya, tergopoh2 ia lancarkan sebuah pukulan ke arah Dayang kecil untuk menolong Hun Thian-hi.

Dayang kecil itu menggeram lirih, tiba-tiba tangan kanannya digentakkan kuat2, sehingga tergetar tangan kanan Hun Thian-hi, kontan badannya mencelat ke tengah udara karena hentakan yang kuat dari gentakan tenaga Dayang kecil itu. seiring dengan gerakannya itu, lincah sekali dayang kecil itu berputar selicin belut meluputkan diri dari pukulan Sam Kong Lama, tangannya merangsang ke belakang lengan membelakangi penyerangnya, namun cukup lihay tipunya ini karena telak sekali jalan darah pelemas Sam Kong Lama tertutuk, kontan ia terjungkal roboh dengan badan lamas tak mampu bergerak lagi.

Sementara itu, Hun Thian-hi yang mencelat ke tengah udara beruntun jumpalitan dua kali baru mendarat turun di atas tanah

Sembari tersenyum ejek Dayang kecil mengawasi Hun Thian-hi, sedikit kerahkan tenaga Seruling batu pualam yang dirampasnya itu seketika dipotes menjadi dua.

Berubah hebat rona wajah Hun Thian-hi. Maklum Seruling pualam itu sudah puluhan tahun malang melintang mengikuti gurunya, Akhirnya diturunkan kepadanya sampai sekarang.

Melihat perubahan air muka Hun Thian-hi, Dayang kecil Ru malah tertawa riang, ejeknya menggoda, “Apa, tidas terima?”

Terpancar sinar kilat aneh dalam biji mata Hun Thian-hi, dengan mengertak gigi ia mengayun Badik buntung sekeras-kerasnya, sejalur cahaya hijau pupus kelihatan menari bergelombang ditengah gelanggang disertai suara mendesis yang semakin nyata terus menungkrup ke arah dayang kecil baju hijau.

Semula dayang kecil perdengarkan tawa menghina langsung ia terbang maju memapak serangan lawan. Dimana jurus Jan-thian-ciat-te dilancarkan gelanggang pertempuran menjadi seperti dicekam dalam suasana yang menusuk perasaan, begitu kedua belah pihak saling sentuh si dayang kecil lantas merasa sesuatu yang luar biasa bakal terjadi, berubah air mukanya, sejalur cahaya hijau pupus langsung menyamber ke arah lehernya.

Secara gerak reflek segera ia angkat kedua kutungan seruling di tangannya untuk menangkis. Terdengar sentuhan yang lirih nyaring, dengan pesona ia memandangi dua kutungan seruling di kedua tangannya, sekarang kedua kutungan itu telah terpapas lagi menjadi empat kutungan, dua yang lain jatuh di tanah, seruling ditangannya terpapas licin dan rajin sekali.

Waktu ia angkat kepala terlihat muka Hun Thian-hi bersemu merah kehitaman, ujung mulutnya melelehkan sealur daran segar, susah payah ia mengtiasai dirinya untuk tetap berdiri.

Dayang kecil itu semakin dibakar kemarahan, sambil menggertak nyaring ia menyerbu lagi. Sekonyong-konyong terdengar suara merdu seorang gadis dari tengah udara, “Siau Hong.

Kembali, hari ini ia telah melepas jiwamu, kitapun melepasnya sekali ini, marilah pulang!”

dayang kecil yang bernama Siau Hong itu segera menghentikan aksinya, dengan seksama ia mengawasi Hun Thian-hi, diam-diam hatinya sangat menyesal dan mendelu, keadaan Hun Tnian- hi ini terang berusaha hendak menarik dan mengendalikan serangan ganas tadi sehingga tenaga murni sendiri membalik menerjang jantung sampai terluka dalam yang berat.

Ia tahu bahwa dengan bekal yang dimiliki Hun Thian-hi terang takkan mampu melukai dirinya. namun demikian tak urung ia menjadi terharu dan merasa terima kasih.

Seekor burung besar berbulu hijau terbang rendah, pelan-pelan dayang kecil bernama Siau Hong itu lantas melompat tinggi naik ke atas punggungnya, sebentar saja burung besar berbulu hijau itu sudah menjulang tinggi ke tengah angkasa sambil berpekik nyaring dan panjang, dalam kejap lain sudah menghilang dari pandangan mata. Mengantar menghilangnya burung besar itu Hun Thian-hi bengong sekian lamanya, lalu duduk bersila bersemadi mengembalikan tenaga dan semangatnya, setelah pikiranya jadi jernih kembali bergegas ia berdiri terus membetulkan tutukan jalan darah Sam Kong Lama. 

Pelan-pelan Sam Kong Lama merajap bangun, rona wajahnya menunjukkan rasa yang malu yang tak terhingga, lambat-lambat dijemputnya medali putih pualam itu lalu katanya pada Kun Thian-hi, “Jurus yang kau lancarkan tadi itu belajar dari mana, aku tidak tahu dan belum pernah mengenalnya?”

Hun Thian-hi bungkam tak bicara. Agak lama kemudian ia angkat kepala berkata sambil tersenyum, “Bukankah lebih kau tidak mengetahui saja?” lalu ia melangkah maju menjemput potongan kecil seruling pualamnya yang kutung terpapas oleh Badik buntungnya sendiri, kutungan seruling yang lain dibawa pergi oleh dayang kecil tadi, memandangi kutungan dua seruling ditangannya Hun Thian-hi menjublek di temparnya seperti patung.

Kata Sam Kong Lama, “Medali putih pualam itu sudah berada ditanganku maka aku harus segera kembali. Aku percaya akan martabatmu, mungkin kau terdesak oleh peristiwa ini. Sekarang kau sudah bentrok dengan pihak Bu Bing Loni, kalau kau mau marilah kita pulang bersama.

Ketahuilah ilmu silat dikolong langit ini hakikatnya bukan Bu Bing Loni saja yang paling tinggi.”

Hun Thian-hi angkat kepala pandangannya menampilkan rasa haru yang tertekan, sahutnya, “Terima kasih, tapi aku tak ingin pergi!”

Sam Kong Lama terlongong sesaat lama, katanya tersenyum, “Seharusnya aku tahu kau takkan sudi ikut aku, Tapi kau harus ingat Bu Bing Loni bukan sembarang tokoh yang dapat dibuat main- main jangan sampai kau mengorbankan jiwanya secara sia-sia.”

Bertaut alis Hun Thian-hi, menggelengkan kepala.

Sam Kong Lama menghela napas, ujarnya: Perangainya rada sama dengan sifat gurumu, akupun tak perlu banyak membujuk kau. Hari ini kau sangat banyak membantu kepadaku jikalau kelak kau memerlukan bantuan silakan datang ke tempatku, setelah keluar dari perbatasan jejakku akan gampang kau temukan asal kau bertanya sembarang orang disana.”

Hun Thian-hi tersenyum pahit, ia menganggukkan kepala.

Biji mata Sam Kong berkilat mengawasinya, ia menggeleng kepala dan berkata, “Sayang kau tak sudi ikut aku, kau sia-siakan kesempatan paling baik ini.” -setelah menghela napas panjang ia putar tubuh Mengantar punggung Sam Kong Lama yang semakin jauh itu, Hun Thian-hi menghela napas panjang.

Tengah ia terlongong mendadak dari dalam hutan sebelah kiri sana terdengar gelak tawa orang yang keras nyaring.

Sigap sekali Hun Thian-hi memutar tubuh sembari menghardik, “Siapa itu?”

Namun suasana hutan di depannya sangat hening lelap, gesit sekali badannya meluncur menuju ke arah dimana suara gelak tawa tadi terdengar, namun meski ia sudah bergerak begitu cepat bayangan seorang pun tak terlihat olehnya.

Bercekat hatinya. Batinnya kenapa hari ini beruntun aku bertemu dengan tokoh-tokoh kosen2, jarak dirinya berdiri tidak lebih tiga tombak saja, dengan kesebatan gerak tubuhnya ternyata bayangan orang saja tak keliahatan olehnya. Dengan dongkol ia celingukan ke sekelilingnya Sekonyong-konyong gelak tawa tadi bergelombang keras seperti gema lonceng besar yang memekakkan telinga. Lagi-lagi Hun Thian-hi melesat cepat mengejar jejaknya ke arah sana namun ia meluncur turun bayangan setanpun tak terlihat olehnya.

Sebentar ia menerawang situasi sekelilingnya dengan ketajaman matanya, namun tak diketemukan sesuatu keganjilan apa-apa.

Meski gelak tawa tadi terdengar lagi, kali ini tak dihiraukan lagi,tanpa berpaling ia terus berlari keluar.

Tiba-tiba ia merasa tengkuknya terasa rada dingin, juga ada gatal2, keruan kejutnya bukan main, secara reflek ia menggunakan tangannya untuk mengusap ke belakang, tampak seekor ulat menggelinding jatuh dari atas tengkuknya….

Hun Thian-hi menjublek ditempatnya, sungguh hatinya berang sekali, namun hakikatnya ia merasa kagum dan kaget dengan kepandaian orang telah begitu hebat mempermainkan dirinya.

Gelak tawa yang mengalun tinggi itu bergema pula dari dalam hutan.

Tak sabaran Hun Thian-hi membentak keras, “Siapa itu yang main sembunyi seperti pancalongok. Kalau kau manusia mari unjukkan tampangmu yang sebenar-benarnya.”

Setitik bayangan melesat dari dalam hutan langsung terbang ke arah Hun Thian-hi, cepat-cepat ia angkat tangan kanannya dengan kedua jarinya hendak menjepit bayangan kecil ini, tapi luncuran titik hitam itu mendadak bertambah cepat menerobos lewat dari celah-celah jari tangannya langsung melekat di bibir Hun Thian-hi. Hun Thian-hi berjingkrak merinding sembari mengusapnya diatuh dengan tangan kiri, lagi-lagi seekor ulat kecil.

Sungguh dongkol dan gemes benar-benar sampai tak mampu bicara, akhirnya Hun Thian-hi menjadi nekad terus mengejar semakin dalam ke hutan yang semakin gelap.

Gelak tawa itu selalu membayangi dirinya terus menerobos semakin jauh ke dalam hutan, Hun Thian-hi pun terus mengejar dengan berani, kejar punya kejar akhirnya sampai di depan sebuah gua, tiba-tiba gelak tawa itu berhenti.

Hun Thian-hi menjadi ragu-ragu sebentar, namun ia nekad juga mengejar masuk ke dalam gua. Begitu ia melangki masuk dilihatnya seorang tua yang mengenakan jubah panjang dari kain bagor tengah duduk semadi didalaiH pojok gua sana. Orang tua ini berwajah merah, rambut dan jenggotnya sudah ubanan, wajaknya itu mengunjuk senyum ramah tamah, tempat dimana ia duduk dikeliling sebuah garis bundaran sebesar tiga tombak.tangannya kanan mencekal sebatang tongkat putih batu pualam panjang tiga kaki.

Hun Thian-hi ragu-ragu sejenak, tanyanya kepada urang tua itu, “Kaukah tadi yang menggoda aku?”

Orang tua itu tetap dalam keadaan samadinya tanpa bergerak, sedikitpun ia tidak hiraukan pertanyaan Hun Thian-hi.

Hun Thian-hi mengerutkan kening, hidungnya mendengus lalu melangkah maju dengan uring- uringan. Namun baru saja kakinya menginjak masuk ke dalam arena garis bundaran itu. tampak tongkat ditangan si orang tua bergerak menutul ke depan, seketika ia merasa sejalur tenaga besar mendorong dirinya, tanpa kuasa karena tidak bersiaga sebelumnya Hun Thian terjungkir balik. Sungguh kejut hati Hun Thian-hi bukan kepalang. Dengan bekal Lwekangnya sekarang masa begitu gampang kena disengkelit orang dengan sekali tutul dari jarak jauh? Bergegas ia bangkit berdiri, dengan uring-uringan ia pandang si orang tua, namun orang tua itu tetap dalam gaya semadinya tanpa bergerak sedikitpun.

Pelan-pelan Hun Thian-hi coba-coba ulur kakinya ke dalam bundaran namun segera hendak ditarik kembali, namun belum sempat bergerak lebih jauh mendadak terasa kakinya terdorong naik oleh segulung tenaga besar yang tidak kelihatan, cepat-cepat ia menghimpun tenaga dan mengendalikan pernapasannya, namun hawa murni seperti macet ditengah jalan, sementara itu tubuhnya sudah terangkat naik oleh dorongan tenaga besar itu, terpaksa ia harus jumpalitan ditengah udara baru meluncur turun ke tanah.

Orang tua itu tetap duduk ditempatnya seperti tak terjadi sesuatu.

Setelah hinggap di tanah Hun Thian-hi menjadi berdiri terlolong tak bersuara. Agak lama kemudian ia melangkah pelan-pelan memutar ke belakang si orang tua.

Si orang tua tetap tak bergerak. Setelah sampai di belakang orang, dijemputnya sebutir kerikil terus diselintikkan kepunggung si orang tua. Baru saja kerikil itu melesat sampai ditengah jalan, pandangannya seperti menjadi kabur oleh berkelebatnya selarik bayangan putih, disusul kerikil yang disambitkannya itu mendadak meluncur balik menerjang dirinya sendiri.

Tersipu-sipu Hun Thian-hi menyingkir kesamping, kerikil itu menyamber lewat disamping lehernya, “plok” amblas ke dalam dinding batu tanpa bekas.

Akhirnya Hun Thian-hi menjadi gemas dilolosnya keluar Badik buntung, dengan nekad ia menubruk masuk ke dalam bundaran. Punggung si orang tua seperti tumbuh sepasang mata, mendadak tongkat putihnya terayun ke belakang menyapu kedua kaki Hun Thian-hi.

Sigap sekali Hun Thian-hi mengayun Badik buntungnya hendak menangkis, namun lagi-lagi pandangan matanya serasa kabur oleh berkelebatnya sinar putih kemilau, kontan terasa Badik buntung ditangan kanannya tergetar keras terlepas dari cekaiannya terbang ke atas, sedang badannya sendiri juga terlempar keluar dari arena bundaran itu.

Begitu berdiri tegak lagi Hun Thian-hi menjadi kesima sekian lama, pelan-pelan dijemputnya Badik buntung lalu dengan lesu ia berjalan keluar.

Tiba-tiba si orang tua membuka matanya, katanya, “Bocah, kiranya tidak punya tekad besar!” Hun Thian-hi menghentikan langkahnya, lalu berpaling memandang ke arah si orang tua,

sahutnya, “Betapa besarpun tekadku, aku tak mampu menerjang masuk.”

Si orang tua tercengang dilain saat mendadak bergelak tawa nyaring, serunya, “Benar-benar, ucapanmu memang betul!”

Teringat akan pengalaman yang aneh yang dialaminya selama ini tergerak hati Hun Thian-hi, lekas-lekas ia berlutut ke arah si orang ua sembari ujarnya, “Cianpwe menuntunku kemari, entah ada petunjuk apa yang berharga?”

Orang tua itu tertegun sebentar lalu bergelak tawa, katanya, “Ternyata cukup pintar.” Rada girang hati Hun Thian-hi, tahu dia bahwa ilmu silat orang tua ini pasti sangat tinggi,

jikalau bisa minta petunjuknya, perbekalan ilmu silatnya tentu akan bertambah maju. Sekian lama si orang tua tenggelam dalam pikirannya, mendadak wajahnya tegang serius, tanyanya, “Jurus Jam-thian-ciat-te itu kau pelajari dari mana?”

Hun Thian-hi tertegun, sesaat ia menjadi kememek tak tahu bagaimana ia harus menjawab. Orang tua itu mendengus hidung, tanyanya pula, “Ang-hwat-lo-mo itu apamu?”

Mendengar orang menanyakan orang tua aneh berambut merah itu, terperanjat hati Thian-hi sahutnya, “Aku tiada hubungan apa dengan beliau!”

“Bohong!” maki si orang tua, “Kalau kau tiada hubungan dengan dia bagaimana ia bisa mengajarkan Jan-thian thiat-te kepandaian tunggal yang ganas itu kepada kau!”

Semakin kejut hati Hun Thian-hi, tengkuknya terasa merinding, bermula ia merasa heran kenapa Bu Bing Loni, bisa mencari dirinya. Pula teringat kata-kata orang tua rambut merah yang berkata sendlap-sendlup tak keruan itu, kiranya tak lain memang bertujuan mengumpankan dirinya kepada Bu Bing Loni, bukankah kematian dirinya bakal lebih mengerikan.

Karena pikirannya ini tak terasa mulut Thian-hi menggumam, “Ternyata tujuannya utama adalah hendak mencelakai jiwaku!”

Si orang tua berubah air mukanya, mengerutkan kening tanpa bicara.

Hun Thian-hi angkat kepala mengawasi si orang tua, Hanya ia bercerita pengalamannya di dalam jurang dimana Ang-hwat-lo-mo bersemajam. Sambil mendengarkan orang tua manggut- manggut, setelah Hun Thian-hi habis bercerita ia berkata, “Begitu lebih baik, kan tak usah takut menghadapi Bu Bing Loni!”

Menatap tajam ke arah si orang tua berubah pikiran Thian-hi, ia mereka-reka, ia heran siapakah orang tua di hadapannya ini, seluruh tokoh-tokoh di Bulim ini siapa yang berani berkata bahwa dia tidak gentar menghadapi Bu Bing Loni!.

Melihat sikap Hun Thian-hi ini agaknya si orang tua sudah dapat menebak isi hatinya.

Mendadak ia bergelak tawa pula, tahu-tahu laksana angin lesus berputar tubuhnya melenting keluar gua, terdengar ia berkata, “Carilah aku di Tay-soat-san, jikalau Ham Gwat mencarimu lagi, ambillah ini serahkan kepadanya!” — lenyap suaranya tampak tongkat putih batu pualam itu terbang jatuh di bawah kaki Hun Thian-hi.

Hun Thian-hi terpesona di tempatnya, sekian lama ia menjublek tak bergerak, dari mulutnya menggumam, “Soat-san-su-gou!”

Soat-san-su-gou juga merupakan tokoh-tokoh aneh dari kalangan persilatan, sudah puluhan tahun terakhir tak pernah berkecimpung dikalangan Kangouw. Sungguh tak duga hari ini berjodoh bisa bertemu dengan beliau, malah mengundang dirinya pergi ke Soat-san.

Hun Thian-hi menghela napas dengan riang, sungguh girang hatinya tak terkatakan. dijemputnya tongkat putih pualam itu, mendadak mulutnya berseru tertahan, ujarnya, “Eh siapakah Ham Gwat itu?”

Nama Ham Gwat ini menjadi tanda tanya dalam sanubarinya, teringat olehnya akan dayang kecil berpakaian hijau yang bernama Siau Hong serta suara gadis remaja ditengah udara itu. “Mungkinkah….” demikian ia bertanya-tanya dalam hati. Akhirnya ia menjadi geli sendiri, lalu dengan langkah lebar ia keluar dari gua itu, kiranya hari sudah terang tanah, langit di sebelah timur bertambah terang, cahaya ungu suram bertambah lama bertambah kuning, dan kesudahannya timbul dibalik awan luar yang bersusun matahari. Mula-mula sepotong, sebelah dan akhirnya bulat sebagai bulan digambar2an berseri-seri laksana orang tersenyum memandang ke bumi.

Hun Thian-hi celingukan mengawasi keadaan sekelilingnya, panjang dan dalam-dalam ia menghirup hawa pagi lalu perlahan-lahan keluar dari lautan rimba raja.

Baru saja ia sampai diambang hutan gelap itu, ditengah udara didengarnya pula pekik burung besar berbulu hijau, berdetak jantungnya, lekas-lekas ia mendongak memandang ke angkasa.

Tampak seekor burung besar warna hijau melayang turun dari tengah angkasa, dalam kejap lain sudah mendarat di tanah.

Dengan tajam Hun Thian-hi menatap gadis kecil di atas punggung burung besar itu, itulah dayang kecil berpakaian hijau yang bernama Siau Hong itu.

Dayang kecil itupun memandang ke arah Hun Thian-hi sembari tersenyum simpul.

Tanpa menunjukkan perubahan mimik wajahnya Hun Thian-hi terus menatap wajah orang tanpa buka suara. Entah untuk tujuan buruk atau demi kebaikanlah dayang kecil ini mencari dirinya lagi.

Seruling pemberian gurunya sudah dikutungi olehnya, ini merupakan suatu kesalahan yang tak terampunkan baginya.

Ragu-ragu akhirnya Siau Hong menundukkan kepala, namun dalam kilas lain sudah angkat kepala pula, katanya kepada Hun Thian-hi, “Nyalimu sungguh sangat besar. Kenapa tidak lekas pergi, sebentar lagi nonaku bakal tiba, beliau takkan melepasmu lagi.”

Hun Thian-hi masih sekian lama mengamati Siau Hong, melihat orang berkata setulus hati, namun ia masih segan dan tak sudi buka mulut.

Siau Hong menjengek, “Kau jangan anggap diiimu sangat jempolan, aku bermaksud baik datang kemari memberi kisikan kepadamu, kalau ganti orang lain aku takkan peduli!”

Berkerut wajah Thian-hi, katanya pelan-pelan, “Terima kasih akan maksud baikmu. Aku tak perlu takut menghadapi nonamu.”

Siau Hong mengejek lagi, ujarnya, “Sombong benar-benar kau. Sangkamu jurus pencacat langit pelenyap bumimu itu tiada bandingannya di jagat ini? Ketahuilah, sangat jauh sekali dibanding dengan kepandaian nonaku!”

Siau Hong membanting kaki sembari berkata aleman, “Aku tak mau peduli lagi!”

Terdengar sebuah suara berkata pula ditengah udara, “Siau Hong apa yang tengah kau lakukan?”

Siau Hong angkat kepala dengan kaget dan takut, sahutnya tercekat, “Nona! Tidak apa-apa.”

Hun Thian-hi mendongak, tampak seekor burung berbulu hijau mulus yang besar sekali, di atas punggung burung besar ini samar-samar kelihatan duduk seorang gadis remaja.

Terdengar gadis di punggung burung besar itu berkata pula, “Siau Hong, ringkus Hun Thian-hi dan bawa pulang…. Suhu masih menunggu kedatangan kita!” Siau Hong mengiakan, matanya memandang gugup dan gelisah ke arah Hun Thian-hi.

Hun Thian-hi malah mandah tersenyum sinis, tanyanya, “Apakah nonamu itu yang bernama Ham Gwat?”

Siau Hong manggut-manggut. katanya, “Sekarang tiada jalan lain, biarlah aku berlaku sedikit ayal2an, lekas kau bunuh diri, biar aku pulang mendapat hukuman saja.”

Hun Thian-hi tertawa-tawa tanpa bergerak.

Suara dari tengah udara berteriak mendesak, “Siau Hong, kenapa tidak lekas turun tangan?”

Hun Thian-hi menyurut mundur beberapa langkah ke belakang, tongkat putih batu pualam di tangannya diayun berputar setengah lingkaran terus dilontarkan miring ke tengah udara.

Tampak sesosok bayangan mencelat terbang dari punggung burung besar laksana bintang jatuh tangkas sekali meraih tongkat batu pualam yang melesat terbang meninggi itu, di tengah angkasa berputar satu lingkaran lalu seringan kapas meluncur pula ke atas punggung burung besar yang terbang berputar-putar di tengah udara itu….

Gerak gerik tubuhnya adalah sedemikian indahnya laksana bidadari yang menari gemulai di angkasa, kelihatannya jauh lebih ringan dan gesit dari burung camar. Sekian lama Hun Thian-hi terpesona sambil mendongak ke atas, hampir saja ia tidak mau percaya akan pandangan matanya sendiri. Selama hidup ini belum pernah ditontonnya ilmu kepandaian begitu tinggi dan menakjupkan.

Begitulah ia terlongong memandang ke angkasa. Dari bentuk bayangannya yang kelihatan sekelebat itu, dapatlah dibayangkan tentu ia seorang gadis remaja yang cantik molek berperawakan langsing menggiurkan, sayang tak terlihat jelas, sungguh besar harapannya gadis juwita itu bisa turun kemari untuk bertemu.

Gadis itu berteriak di tengah angkasa, “Siau Hong, hari ini batal saja, mari kita pulang.”

Siau Hong mengiakan, dengan pandangan ganjil ia awasi Hun Thian-hi lalu pelan-pelan naik ke punggung burung besar itu, sebentar saja mereka sudah menghilang dibalik awan.

Hun Thian-hi mendelong mengawasi ujung langit, hatinya terasa kosong dan hampa, akhirnya ia menjadi geli sendiri akan sikapnya yang seperti kehilangan semangat itu, bergegas ia meninggalkan tempat itu.

Selepas pandangan mata panorama di atas puncak pegunungan ini adalah putih bersalju melulu, pohon siong dan pek sudah berselimutkan bunga salju, selayang pandangan dunia sekelilingnya seperti dibuat dari keramik yang memutih berkilau.

Waktu sang surja pertama kali mengintipkan sinar kemuning menembus tabir gelapnya seluruh jagat raya ini, Hun Thian-hi seorang diri sudah beranjak naik menuju ke gunung salju mencari Soat-san-su-gou.

Tak terasa pagi hari itu ia sudah mencapai setengah perjalanan di lamping gunung, disini ia berhenti sebentar menghirup napas segar, pemandangan ciptaan alam yang indah molek yang terbentang di hadapannya betul-betul merupakan sebuah pesona yang seolah-olah merampas kesadarannya sehingga sekian saat ia menjublek di tempatnya. Puncak tertinggi dari gunung bersalju sudah terbentang di hadapannya, semangat Hun Thian-hi tambah berkobar dan hatinya menjadi girang sekali, segera kakinya bergerak semakin cepat menempuh berbagai aral rintang berbahaya, namun toh semua itu dapat diatasi berkat bekal Lwekang dan ilmu ringan tubuhnya yang cukup sempurna.

Lain dari keadaan di bawah gunung, puncak. tertinggi dari gunung bersalju ini justru serba hijau dan bersih sama sekali dari bunga salju, di mana-mana bertabirkan batu hijau seluas tiga lima puluh tombak. Waktu Hun Thian-hi memanjat ke atas batu hijau itu didapatinya di tengah- tengah sana duduk bersila jajar empat orang tua yang semuanya sudah beruban dan berjenggot memutih salju pula. Mereka duduk memutar setengah lingkaran, semuanya tengah memejamkan mata bersamadi, sekali pandang membuat orang timbul rasa hidmat dan hormatnya.

Tersipu-sipu Hun Thian-hi maju berlutut serta sembahnya, “Tecu Hun Thian-hi menghadap para Cianpwe!”

Seorang tua yang duduk paling ujung membuka mata meng-angguk-angguk kepada Hun Thian- hi sembari tersenyum simpul. Baru sekarang Hun Thian-hi melihat tegas orang tua ini bukan lain si orang tua beruban yang memberi petunjuk kepadanya di dalam gua itu.

Beruntun orang ketiga juga membuka mata mengamati Hun Thian-hi sekian saat, lalu ujarnya, “Omongan Si-te memang tidak salah, bocah ini bertulang mas punya bakat yang luar biasa, benar- benar seorang tunas yang punya harapan dan masa depan yang gemilang. Sayang sifat congkak dan sombongnya terlalu besar melibatkan dirinya.”

Orang kedua lantas membuka mata dan tertawa gelak-gelak, serunya, “Hal itu tidak menjadi halangan, bukankah waktu masih muda dulu kita lebih nakal dan brandalan?”

Diam-diam Hun Thian-hi menjadi girang dalam hati, sungguh tak terkirakan olehnya bahwa Soat-san-su-gou sangat menghargai dirinya.

Orang ketiga mengerutkan kening, ia tetap menyanggah, “Tapi sifat congkak dan takabur selalu pasti menjadi rintangan kemajuan.”

Tanpa perduli sanggahan saudaranya, orang kedua itu berkata kepada Hun Thian-hi, “Kudengar Si-te memujimu, sebelum ini aku belum percaya, hari ini dengan mataku sendiri kusaksikan baru aku mau percaya. Memang tidak salah pujiannya.”

“Terima kasih akan pujian para Cianpwe!” — diam-diam Thian-hi menjadi heran akan sikap orang pertama dari Su-gou yang tetap samadi tak bergerak atau membuka mata.

Tanya si orang tua Kepada Thian-hi, “Waktu kau kemari apa kau bersua dengan Ham Gwat?.” Hun Thian-hi manggut-manggut, segera ia ceritakan pertemuan hari itu sejelasnya.

Si orang tua manggut, sebaliknya orang tua kedua mendengus hidung, ujarnya, “Bu Bing Loni terlalu takabur, sepak terjangnya sangat keterlaluan.”

Baru sekarang tiba-tiba orang tua pertama membuka mata, dua biji matanya yang ditaungi kedua alisnya yang memutih panjang itu berkilat tajam, tersentak kaget benak Hun Thian-hi melihat ketajaman sinar pancaran mata orang.

Orang tua beralis putih ini berkata lambat-lambat, “Ji-te, Sam-te dan Si-te!” suaranya terdengar rendah namun mengandung wibawa yang besar dan angker. Tiga, orang tua lainnya segera bungkam dan menunduk.

Sambung orang tua beralis putih kalem, “Kita jangan terlalu bangga dan percaya akan kekuatan sendiri, aku kuatir dengan gabungan kekuatan kita berempat pun masih belum bisa menandingi Bu Bing Loni!”

Orang tua kedua tak tahan lagi lantas menyeletuk, “Apakah ucapan Toako ini tidak terlalu tinggi menilai Bu Bing Loni?”

Kata orang tua beralis putih kepada Thian-hi, “Nak, kau bangunlah!”

Sembari mengawasi orang tua beralis putih ini pelan-pelan Thian-hi bangkit berdiri, orang tua pertama ini rada punya sikap yang angker dan agung dari ketiga saudaranya, setiap patah kata yang diucapkannya mempunyai pertimbangan yang masak dan masuk di akal.

Orang tua beralis putih manggut-manggut memberi tanda supaya ia maju mendekat. Thian-hi menurut melangkah maju ke hadapan orang.

Dari jarak yang dekat ini si orang tua beralis putih mengamati Hun Thian-hi dengan seksama, rada lama kemudian baru ia menghela napas, ujarnya, “Kebesaran dan kejayaan Bulim kelak bakal tercekam di tangan bocah ini!” lalu ia menunduk terpekur lagi.

Berempat semua diam tenggelam dalam pikiran masing-masing, lahirnya ia memuji akan bakat dan rejeki Thian-hi yang besar, namun helaan napas panjang itu betul-betul membuat perasaan semua orang menjadi tertekan dan berat.

Dilain saat orang tua beralis putih angkat kepalanya berkata kepada Hun Thian-hi, “Mungkin kau harus tinggal beberapa hari disini, tunggulah setelah segala sesuatu mengenai urusan ini dapat dibikin beres baru kau boleh tinggal pergi, apakah kau sudi?”

Hun Thian-hi manggut-manggut dengan melongo, tak tahu ia entah apa yang dimaksud dengan kata-katanya itu. Seperti disengat kala, ketiga orang tua lainnya berpaling kaget.

“Toako!” seru orang tua keempat lirih dan tertekan perasaannya.

Mendadak orang tua beralis putih unjuk senyum riang, katanya, “Kalian tahu ilmu silat apa yang paling diandalkan oleh Bu Bing Loni?”

Tiga yang lain menyahut berbareng, “Kita sama tahu, dia menggunakan sebilah pedang!” Orang tua alis putih manggut-manggut, ujarnya, “Bukankah ilmu pedangnya yang dinamakan

Hui-sim-kiam-hoat menjagoi di seluhuh jagat ini!” sampai disini ia merandek sebentar lalu sambungnya, “Kalau kita berempat secara langsung menghadapi Hui-sim-kiam-hwat ini cara bagaimana mengatasinya?”

Ketiganya tenggelam dalam pikirannya tak bersuara, akhirnya orang kedua buka bicara, “Menggunakan Gin-ho-sam-sek!”

Orang tua alis putih menganggukan kepala, ujarnya, “Ucapan Ji-te memang tepat, menggunakan Gin-ho-sam-sek (tiga jurus sungai perak, untuk menyerang dan bertahan!”

Sekonyong-konyong dari jauh diufuk langit Sana terdengar pekik burung yang bersahutan. Mendengar itu orang tua beralis putih lantas unjuk senyum lebar sembari manggut. Dia memberi tanda kepada Hun Thian-hi untuk menyingkir dan duduk disamping sana.

Hun Thian-hi menurut perintah, ia menyingkir ke samping orang tua alis putih terus duduk bersila.

Sementara kedua ekor burung besar yang bentuknya seperti merak yaitu yang dinamakan burung dewata berbulu hijau pupus sudah terbang mendatang semakin dekat. Kini Hun Thian-hi sudah semakin jelas, kedua ekor burung besar itu terbang jajar mendatangi dengan cepat. Di lain kejap kedua ekor burung ini sudah meluncur turun dan hinggap di atas batu hijau tanpa mengeluarkan sedikitpun suara.

Hun Thian-hi melihat ke atas punggung burung besar itu, yang mendarat lebih dulu ditunggangi dua orang, yaitu dayang kecil yang bernama Siau Hong, seorang lain adalah gadis berpakaian serba hitam.