Badik Buntung Bab 01

 
Bab 01

Kabut malam mulai menyelimuti seluruh kota Hangciu. Disebelah timur kota Hangciu terdapat sebuah bangunan gedung mentereng yang berdiri megah dan angker dikegelapan malam.

Dari dalam gedung yang megah dan angker ini lapat-lapat terdengar gelak tawa orang banyak.

Seorang pemuda mengenakan jubah panjang warna putih, seperti pemuda pelajar umumnya tengah beranjak cepat menuju ke arah gedung besar ini, pemuda itu berpaling menengadah melihat cuaca, memandang sang putri malam yang memancarkan cahayanya yang terang cemerlang. Ditimpah cahaya sang bulan purnama kelihatan sikap tegas dan watak keras dari wijah pemuda yang putih cakap itu.

Sejenak ia berhenti mengamat-amati gedung besar dihadapannya, ujung mulutnya mengulum senyum, sedikit pundaknya bergoyang gerak tubuhnya sudah terbang tinggi ke tengah udara langsung melesat ke atas wuwungan ruangan besar terus meluncur turun memasuki ruangan pesta itu.

Suara tawa dan percakapan ramai dalam ruangan besar seketika sirap. Dengan berputar tubuh pemuda itu menjelajahkan pandangannya keseluruh ruang besar itu. Penerangan terpasang terang benderang, meja besar perjamuan berputar tiga lingkaran. yang terletak paling tengah sana duduk seorang tua bermuka merah, dua lilin besar dibelakangnya tengah terbakar menyala menerangi sebuah huruf “SIU” (panjang umur) yang besar dari kertas mas.

Semua mata memandang heran ke arah sipemuda. Mereka merasa takjup akan kepandaian silatnya begitu lihaynya sampai sudah mendarat di dalam ruangan besar itu baru hadirin mengetahuinya.

Setelah berputar memeriksa keadaan seluruh ruangan pesta ini sipemuda langsung menghadap ke arah si orang tua bermuka merah itu, serunya sambil menjura, “Siautit Hun Thian-hi, mendapat perintah dari orangtua untuk menyampaikan salam panjang umur, setindak telah terlambat harap paman suka memberi maaf!

Waktu Hun Thian-hi memperkenalkan diri si orang tua muka merah mengerutkan kening dan mengunjuk rasa heran dan curiga, dengan tajam ia awasi Hun Thian-hi bibirnya bergerak seperti hendak berkata apa, tapi urung diucapkan. Selanjutnya air mukanya lantas menunjukkan rasa kejut dan marah. Sekilas kedua biji matanya melirik keseluruh ruang, sekejap saja wajahnya berubah lagi menjadi beringas dan gusar.

Hun Thian-hi seakan tidak merasa dan tidak tahu akan segala perubahan air muka si orang tua muka merah, acuh tak acuh seperti anak kecil yang ketarik akan sesuatu yang memincut hatinya ia berputar dan celingukan menatapi itu persatu seluruh hadirin. Setelah sepasang mata tajam berkilat menerawang seluruh isi ruang pesta ini, ujung mulutnya lagi-lagi menampilkan senyum dikulum. Mendadak berkelebat cahaya aneh dan mengejutkan terpancar dari kedua biji matanya tanpa merasa sebelah tangannya mengelus Seruling batu pualam dipinggangnya. Ternyata bahwa dikedua samping kiri kanan si orang tua merah duduk sepasang muda mudi, sorot pandangan mereka berdua juga berkilat mengandung ketajaman yang luar biasa, pandangan muda-mudi itu juga tertuju ke arah dirinya.

Dengan muka gusar si orang tua muka merah membentak kepada Hun Thian-ki, “Siapa kau?

Berani kau mengaku sebagai putra Hun Siau-thian Hun-toako untuk menyampaikan salam hormat kepadaku?”

Seluruh hadirin yang terdiri dari orang-orang gagah persilatan terkejut, begitu mendengar nama Hun Siau-thian disebut. Harus diketahui bahwa Hun Siau-thian adalah tetua dari Bulim-sam- ciat pada dua puluh tahun yang lalu, dengan menggembol dan bersenjatakan Badik buntung ia belum pernah mendapat tandingan di seluruh jagat. Selama dua puluh tahun terakhir jejaknya menghilang tak karuan paran. Sungguh diluar dugaan hari ini ada seseorang yang berhubungan dekat dengan beliau muncul disini menyampaikan salam hormat.

Hun Thian-hi mengulum senyum tawar, katanya pelan-pelan, “Jangan takut! Aku tidak akan menuntut balas, kedatanganku ini hanya mau minta balik badik buntung saja, apa kau minta bukti?” — dari dalam lengan baju tangan kanannya ia melolos keluar sarung pedang pendek sepanjang satu kaki entah terbuat besi atau mas, yang terang sarung Pedang ini memancarkan cahaya terang terus diangsurkan ke depan orang tua muka merah.

Seluruh hadirin bertambah kejut dan heran lagi. Badik buntung sudah menghilang ikut lenyapnya Hun Siau-thian selama dua Puluh tahun tak duga bisa berada disini!

Merah Padam muka si orang tua, mendadak ia berjingkrak bangun terus membentak sambil menuding Hun Thian-hi, “Badik buntung berada ditangan Hun Siau-hian, seluruh orang gagah dijagat ini mengetahui. Siapa kau sebenar-benarnya? Kau kira aku Hoan-thian-chiu Su Tat-jin gampang dihina dan dipermainkan?”

Baru lenyap suara Su Tat-jin, seseorang yang duduk disebelah samping kanannya sudah bergegas berdiri serta serunya, “Su Toako, biar kuberi hajaran kepadanya!”

Kalem saja Hun Thian-hi memutar tubuh menghadapi si orang pembicara ini, dengan seksama ia awasi orang ini. Kiranya seorang Tosu pertengahan umur mengenakan jubah pendeta warna hijau mulus. Matanya juling seperti mata garuda menyorotkan sinar dingin mendelik ke arah dirinya.

Sekonyong-konyong wajah putih Hun Thian-hi menampilkan senyum tawa yang aneh. Seketika si Tosu itu berhenti dan berdiri melongo, matanya berkilat ragu-ragu, agaknya tak tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya setelah melihat senyum tawa Hun Thian-hi yang penuh arti itu.

“Harap tanya slapakah gelaran Totiang ini?” tanya Hun Thian-hi dengan nada mengejek. Tiba-tiba Tosu pertengahan umur ini tersentak kaget seperti sadar dari suatu lamunan,

dimakluminya sekarang bahwa senyum tawa Giok-liong tadi hakikatnya mengandung sindiran dan memandang ringan dirinya, saking gusar selebar mukanya menjadi merah padam, teriaknya, “Hun-tiong-it-ho Ling-ci-cu itulah aku adanya!” habis berkata kakinya terus bergerak menubruk maju ke hadapan Hun Thian-hi disertai dengan mulutnya membentak, “Lihat pukulan!” sebelah tangannya tahu-tahu nyelonong menjotos ke dada Hu Thian-hi. Hun Thian-hi sedikit menekuk dengkul lalu menggeser mundur, ringan sekali tubuhnya ikut berputar menghindar. Maka pukulan lawan dengan mudah sekali dapat dihindarkan menyamber lewat disamping dadanya terpaut seurat saja.

Ling-ci-cu menggerung murka, tangan kiri berputar menyusul tiba terus menepuk ke punggung Hun Thian-hi.

Sambil tetap mengulum senyum Hun Thian-hi menggoyangkan sedikit badan indah sekali ia bergaja berkelit dari serangan musuh. Gerak tubuhnya enteng laksana awan mengembang seperti air mengalir ia main mundur ke tengah ruangan. Dimana sepasang matanya berkilat menyapu pandang ke seluruh keadaan meja perjamuan dalam ruang pesta besar ini.

Diam-diam terkejut hati seluruh hadirin. Siapa yang tak kenal akan ketenaran nama Hun-tiong- it-ho Ling-ci-cu yang berkepandaian tinggi, dengan gerak tubuh serta bekal Lwekangnya ternyata dua kali serangannya dengan mudah telah dihindarkan oleh pemuda pelajar ini. Ini betul-betul suatu hal yang luar biasa. Seandainya pemuda ini betul adalah anak kandung Hun Siau-thian, dengan usia yang masih muda betapapun latihannya takkan mungkin mencapai tingkat yang sempurna sekian baiknya.

Beruntun serangan berantainya dengan mudah kena kelit oleh lawan, hati Ling-ci-cu menjadi dongkol seperti dibakar, gesit sekali ia menerjang datang lagi sambil kirim serangan lebih gencar.

“Nanti dulu!” tiba-tiba Hun Thian-hi berseru menghentikan pertempuran.

Ling-ci-cu segera menghentikan aksinya, dengusnya, “Ada omongan apa lagi yang hendak kau katakan?”

Hun Thian-ki tertawa lebar, sekilas ia menyapu pandang ke sekelilingnya lalu berkata kepada Su Tat-jin, “Hari ini aku sudah datang kemari. Perihal Badik Buntung yang di tanganmu itu betapa juga pasti akan tersiar luas, dengan kemampuanmu kau takkan mungkin kuat melindunginya.

Biarlah kutekankan lagi bahwa kedatanganku ini bukan hendak menuntut balas. Serahkan saja Badik buntung itu kepadaku, segalanya beres!”

Belum lagi Su Tat-jin membuka suara Ling-ci-cu telah menyelak, “Nanti dulu.”

Pelan-pelan Hun Thian-hi memutar badan menghadapi Ling-ci-cu sambil memicingkan mata.

Kata Ling-ci-cu dengan gusar, “Bocah keparat jangan kau terlalu sombong, tak perlu dikatakan apakah benar-benar Badik buntung itu berada disini. Seumpama betul ada disini, berani kau dihadapan kita sekalian hendak mengambilnya begitu gampang?”

Hun Thian-hi celingukan melihat reaksi seluruh hadirin, satu pun tiada yang berani bersuara.

Terang bahwa mereka sudah setuju akan kata-kata profokasi dari Ling-ci-cu itu. Dengan sabar dan kalem ia hadapi Ling-ci-cu, lalu katanya acuh tak acuh, “Lalu bagaimana maksudmu?”

“Hatimu tahu sendiri,” jengek Li-ci-cu, “kenapa perlu tanya lagi!”

Alis lentik Hun Thian-hi terangkat tinggi, ujung mulutnya mengulum senyum manis, berturut- turut ia mundur dan mundur terus sampai diambang pintu lalu dirogohnya keluar Seruling batu giok di pinggangnya langsung diangkat ke depan mulutnya.

Gadis yang duduk di sebelah kanan Su Tat-jin bergegas bangun, matanya memancarkan sinar tajam penuh kejut dan heran, tak kuasa mulutnya juga berteriak, “Lam-siau!” Pemuda yang duduk di sebelah kiri juga tersentak bangun berdiri.

Seluruh hadirin juga sama terkejut, siapapun tak mengira bahwa Hun Thian-hi kiranya adalah murid Lam-siau (seruling selatan) salah satu dari Hwe-siang-ki (sepasang manusia aneh dalam dunia). Tak heran dengan mudah dan seenaknya saja ia tadi berkelit dan menghindari serangan Ling-ci-cu yang cukup hebat itu.

Sejenak sorot mata Hun Thian-hi memancarkan rasa bimbang dan ragu, namun demikian mulutnya sudah mulai meniup serulingnya, dilain saat irama seruling yang merdu sudah kumandang mengalun di tengah udara.

Beramai-ramai seluruh hadirin mengerahkan tenaga murni dan Lwekang untuk mempertahankan diri.

Hun Thian-hi sendiri juga prihatin dan penuh keseriusan, karena dia sendiri harus memusatkan pikiran dan mengerahkan seluruh kekuatan Lwekangnya disalurkan ke dalam irama serulingnya untuk menundukkan musuh.

Selain kedua muda mudi itu, seluruh hadirin sudah mulai mandi keringat, mati-matian mereka tengah bertahan sekuat tenaga.

Sambil meniup serulingnya pandangan Hun Thian-hi menyapu ke seluruh ruangan besar, lagi- lagi matanya memancarkan rasa ragu dan bimbang, sejalur irama melengking tinggi memecah angkasa, dinding di empat penduru gedung ini terdengar bergetar dan mulai retak hampir roboh.

Pelan-pelan Hun Thian-hi menarik turun Serulingnya, pandangannya menyapu ke seluruh hadirin, nyata tiada satupun yang lolos semua telah tertutuk jalan darahnya oleh getaran irama serulingnya, sebentar ia menarik napas panjang terus tertawa lebar langsung ia melangkah menghampiri Su Tat-jin.

Pertama-tama ia bebaskan jalan darah Su Tat-jin yang tertutuk. Dengan penuh rasa kejut gusar dan takut-takut Su Tat-jin menyapu pandang ke seluruh tamu-tamunya. Dilihatnya kedua muda mudi itu juga telah tertutuk jalan darahnya, dengan penuh rasa murka dan hampir tak percaya ia tatap Hun Thian-hi.

Kata Hun Thian-hi tanpa menunjukkan expresi, “Su Tat-jin, semasa hidup ayahku betapa baik sikapnya terhadap kau. Tak duga, dalam keadaan beliau sedang sakit kau rebut Badik buntung itu lalu melarikan diri menghilang!”

Sambil mundur ke dalam ruangan dalam, Su Tat-jin menyahut cepat, “Bukan aku, itulah. Ling Ci-cu yang melakukan!”

Hun Thian-hi mendengus hina, katanya, “Sekarang aku tidak ingin tahu segala tetek bengek itu, serahkanlah Badik buntung itu kepadaku!”

Su Tat-jin kempas-kempis berusaha mengendalikan pembawaannya, sikapnya ragu-ragu. “Lekas!” desak Hun Thian-hi.

Su Tat-jin membuka pintu terus membawa Hun Thian-hi masuk kerumah dalam. Setelah melewati sebuah serambi panjang mereka tiba pada pada sebuah kamar. Sekilas Hun Thian-hi memeriksa keadaan kanan kirinya, mulutnya lantas berkata kepoda Su Tat-jin, “Jangan kau mengatur tipu daya, aku takkan bisa terjebak oleh tipu muslihatmu!” Mata Su Tat-jin berjelilatan, akhirnya apa boleh buat ia menghampiri ke depan tempat tidur.

Dengan ketat Hun Thian-hi mengintil dibelakangnya. Mendadak ia memutar tubuh sambil mengulur serulingnya menekan jalan darah di punggung Su Tat-jin lalu berpaling ke belakang ke arah pintu.

Di depan kamar tidur sana berdiri berendeng kedua muda mudi tadi, masing-masing tangannya menyoreng pedang panjang, dengan tajam dan gusar mereka tatap Hun Thian-hi….

Hun Thian-hi diam saja mengawasi mereka. Dalam hati ia menyesal kenapa waktu menutuk jalan darah mereka dengan irama serulingnya tadi tidak gunakan tenaga berat, sehingga begitu cepat mereka sudah bisa ikut mengintil datang.

Terdengar pemuda itu buka suara, “Hun Thian-hi, kau adalah murid Lam-siau, lepaskan pamanku, mari kita bicara diluar!”

Hun Thian-hi merenung sebentar, akhirnya ia menjawab, “Tidak! Suruh dia mengembalikan Badik buntung kepadaku!”

Su Tat-jin menjadi gugup, serunya, “Anak Cin, jangan kau percaya omongannya, hakikatnya aku tidak menyimpan Badik buntung apa segala.”

“Lalu kenapa kau bawa aku kemari?” jengek Hun Thian-hi menyeringai. “Adalah kau yang mendesak aku begitu rupa!”

Hun Thian-hi mendengus hidung, sedikit menerawang hati-hati sekali mendadak sebuah kakinya menendang ke tempat tidur Su Tat-jin.

“Blang!” seketika ranjang kena ditendang terbalik dimana terdengar suara pegas berbunyi serentetan pisau terbang melesat keluar berseliweran, sigap sekali Hun Thian-hi jinjing tubuh Su Tat-jin melompat terbang keluar kamar.

Dengan selamat Hun Thian-hi mendaratkan kakinya di tanah, hidungnya mendengus hina.

Sekilas Su Tat-jin memandang ke arah muda mudi itu lalu berkata, “Memangnya Badik buntung tidak berada ditanganku, terpaksa aku berbuat begitu!”

Berbareng muda mudi itu melolos pedang panjangnya terus menerjang ke arah Hun Thian-hi. Cepat sekali biji mata Hun Thian-hi menjelajah keadaan sekitarnya, tiba-tiba tangannya diayun ke belakang melemparkan tubuh Su Tat-jin keluar rumah sana, disusul tubuhnya sendiri juga ikut berkelebat keluar hinggap di pelataran luar.

Sebetulnya Su Tat-jin bukan kaum kroco, tadi sedikit pun ia tidak berontak karena di bawah ancaman Hun Thian-hi, sekarang setelah lepas dari tangan Hun Thian-hi seiring dengan luncuran tubuhnya ini tiba-tiba ia jumpalitan ditengah udara badannya terus membalik naik hinggap di atas dahan sebuah pohon besar.

Meski kepandaian Hun Thian-hi tinggi, pengalaman masih cetek sedikit gegabah ia lemparkan Su Tat-jin keluar, setelah ia melempar tubuh orang baru menyesal juga sudah kasep.

Begitu badan Hun Thian-hi melenting keluar, kedua muda mudi itu juga sudah terbang mengejar tiba, pedang panjang mereka sebat sekali menusuk tiba dari kanan kiri. Mendadak Hum Thian-hi memutar tubuh ditengah udara, serempak tangannya dibalikkan ke belakang sambil menyapukan Serulingnya dengan jurus Hoat-hi-pit-thian, sejalur kabut putih dari kekuatan tenaga dalamnya segera menyampok ke arah muda-mudi itu.

Baru tusukan sampai ditengah jalan sebelum pedang mereka dan seruling Hun Thian-hi saling sentuh, pedang sudah ditarik balik, disusul pedang dibalikkan berputar terus menusuk ke depan dari atas dan bawah, masing-masing mengarah temggorokan dan perut Thian-hi.

Pancaran mata Thian-hi menampilkan rasa kejut dan heran, serulingnya diputar dan disurutkan mundur, berbareng lincah sekali tubuhnya menggeser terus hinggap di atas tanah. Saat itu juga kedua muda mudi itu juga sudah meluncur turun, sesaat ketiga orang ini saling tatap tanpa bicara.

Sejenak kemudian Hun Thian-hi baru membuka mulut, “Apakah kalian murid Pak-kiam?” “Betul!” sahut sipemuda, “Aku bernama, Su Cin. Dan ini adikku bernama, Su Giok-lan.” Su Giok-lan mencemooh, “Apakah kau murid Lam-siau?”

Hun Thian-hi manggut-manggut, ujarnya; “Kalau begitu lebih baik, harap kalian suka bujuk paman kalian untuk mengembalikan Badik buntung itu kepadaku!”

“Kau punya bukti apa berani menuduh bahwa Badik buntung itu berada ditangan pamanku.” semprot Su Giok-lan aseran.

“Dulu pamanmu menggunakan akal muslihat licik merebut Badik buntung itu dikala ayahku terluka berat,” demikian Hun Thian-hi memberi keterangan, “Kalau nona benar-benar adalah murid Pak-kiam Siau-cianpwe tentu mengenal juga betapa pentingnya Badik buntung ini, kuharap nona suka membujuk paman kalian untuk kembalikan Badik buntung itu kepada aku yang rendah, kupandang muka kalian aku tidak akan menuntut segala peristiwa yang sudah lalu.”

“Enak benar-benar kau mengudal mulutmu,” jengek Su Giok-lan. “Ada bukti apa kau berani bicara begitu takabur?”

“Apakah murid Lam-siau juga bisa membual?” “Apakah murid Pak-kiam bisa berlaku ceroboh?” Berkobar hawa amarah Hun Thian-hi,

“Kau….” katanya berhenti, lalu sambungnya, “Kalau nona hendak mengetahui duduk perkara yang berbelit2 itu silakan tanyakan kepada Hun-tiong-it-ho dan pamanmu itu, tentu kalian akan jelas segalanya.”

“Jangan kau kira kau ini paling pintar,” dengus Giok-lan, “apa hakmu menyuruh kami mengompes keterangan mereka. Murid Lam-siau punya kepandaian apa?”

Mendadak bercekat hati Hun Thian-hi, pikirnya, “Ooo, jadi begitu!” — mungkin karena tadi mereka kena tertutuk jalan darahnya oleh irama seruling jadi mereka uring-uringan.

Hun Thian-hi berdiri diam, bungkam seribu bahasa.

“Adik Lan!” Cegah Su Cin sambil berpaling ke arah adiknya. “Kenapa engkoh bantu orang luar!” teriak Giok-lan keras, lalu ia menghadapi Hun Thian-hi lagi, ujarnya, “Jangan banyak mulut lagi, tiga hari kemudian jam empat subuh kita bertemu di Giok- hong-gay di gunung Sian-sia-nia. Kalau kau menang bagaimana juga kita berusaha mengembalikan Badik buntungmu, kalau kau kalah sudah jangan cerewet lagi!”

Thian-hi berpaling ke arah Su Cin, melihat orang tidak membuka suara, lalu ia mengawasi pula ke arah Su Tat-jin, pelan-pelan baru ia berkata, “Begitupun baik, kita bertemu tiga hari kemudian!” selesai berkata ia memutar tubuh terus berlari bagai terbang sekejap saja ia sudah menghilang.

Sebentar saja tiga hari sudah mendatang. Pagi hari itu cuaca masih gelap Hun Thian-hi sudah beranjak dari penginapannya, berlari cepat menuju ke Giok-hong-gay di gunung Sian-sia-nia.

Udara gelap dingin kabut masih tebal, dengan kepandaian dan latihan Lwekang Hun Thian-hi yang sudah cukup sempurna juga tidak lebih hanya dapat melihat setombak jauhnya. Sejenak ia mengerutkan kening, sebentar ia berdiri di atas ngarai lalu memandang ke arah hutan sebelah sana.

Tak lama kemudian diantara kabut tebal muncul tiga bayangan orang, langsung berlari kencang menuju ke puncak ngarai ini. Itulah Su Tat-jin bersama Su Cin dan Su Giok-lan.

Melihat Hun Thian-hi sudah menunggu disitu, Su Giok-lan tersenyum ejek, ujarnya, “Kiranya kau bisa menepati janji?”

Hun Thian-hi menggendong tangan sambil angkat dahi tanpa bicara.

Kata Su Cin, “Hun Siauhiap! Sudah beberapa kali kutanyakan kepada pamanku, bahwa Badik buntung memang tiada ditangannya, mungkin Hun Siauhiap salah duga!”

Hun Thian-hi berpaling menatap Su Tat-jin dengan tajam tanpa bersuara.

“Keluarkan Serulingmu!” tantang Su Giok-lan uring-uringan, “ingin aku belajar kenal kepandaian hebat apa yang dimiliki oleh murid Lam-siau yang diagungkan itu!”

Diam-diam Hun Thian-hi tengah menerawang dalam hati, ia tahu pasti bahwa Badik buntung itu benar-benar berada ditangan Su Tat-jin, namun dengan adanya Su Cin dan Su Giok-lan sebagai pelindungnya urusan menjadi rada runyam. Bahwasanya Lam-siau (seruling selatan) dan Pak-kiam (pedang utara) sama tenar sama derajat, betapa juga ia tidak mungkin bermusuhan dengan mereka, sebaliknya Badik buntung itu bagaimana juga harus direbut kembali.

Tengah ia berpikir Su Giok-lan sudah tidak sabaran lagi “sreng!” ia cabut keluar pedang panjangnya, katanya menuding Hun Thian-hi, “Bagaimana, apakah murid Lam-siau sedemikian pengecut?”

Hun Thian-hi menjadi dongkol pelan-pelan ia putar tubuh, ujarnya, “Apakah nona Su mendesak aku turun tangan?”

“Bukankah kau minta kembali Badik Buntung?” dengus Su Giok-lan, “Kalau mau minta kembali silakan keluarkan serulingmu!”

Dengan angkuhnya Hun Thian-hi menyeringai tawa, pelan-pelan dikeluarkan serulingnya.

Tanpa banyak mulut segera Su Giok-lan menerjang maju sambil menusuk membabat dan membacok bergantian, beruntun ia lancarkan empat jurus serangan berantai. Seenaknya saja Hun Thian-hi menggerakkan serulingnya, entah menyampok atau menangkis gampang saja ia punahkan seluruh serangan Su Giok-lan.

Melihat serangan gencarnya tak dapat mendesak lawan Su Giok-lan menjadi sengit, sambil menggertak pedang panjangnya mendadak menekan ke bawah tiba-tiba terus menukik ke atas menusuk lambung, kiranya ia sudah mulai kembangkan pelajaran tunggal yang diandalkan pihak Pak-kiam (pedang utara) yaitu ilmu pedang yang dinamakan Hian-thian-kiam-hoat badan dan pedang seakan bersatu padu bergerak lincah mengikuti gerak badan dan samberan pedang.

Sejalur pelangi panjang menggubat dan melilit kencang ke arah Hun Thian-hi.

Dengan angkernya Hun Thian-hi tetap berdiri di tempatnya tanpa menggeser sesentipun, Serulingnya terayun ke kiri menyampok kekanan lalu menekan kebawah bergantian sedikitpun tidak menjadi gugup atau terpengaruh oleh serangan gencar lawannya.

Meskipun Hian-thian-kiam-hoat yang dikembangkan Su Giok-lan mengandung banyak perubahan yang susah diraba, sayang Lwekangnya setingkat lebih rendah, sedikitpun ia tak mampu menyentuh atau mendesak Hun Thian-hi yang berlaku tenang itu.

Sekejap saja kedua belah pihak sudah saling serang sebanyak lima puluh jurus. Dimana ayunan seruling Hun Thian-hi bergerak sekarang mulai mengambil inisiatif pertempuran dari banyak membela diri mulai melancarkan serangan balasan. Begitu Lwekang dikerahkan seiring dengan ayunan serulingnya terpancarlah sinar cahaya putih bergerak lincah menari2 terus menyerang lebih deras dan ketat ke arah Su Giok-lan.

Semakin lama Su Giok-lan terdesak di bawah angin, untuk membela diri saja menjadi kerepotan jangan kata balas menyerang.

Akhirnya Su Cin menjadi cemas dan kuatir, sreng! Pedangnya lantas dilolos keluar, teriaknya, “Adik Lan, kau mundurlah!” — lalu iapun berteriak ke arah Hun Thian-hi, “Hun Siau-hiap, biarlah aku pun belajar kenal dengan kepandaianmu!”

Sambil menyapukan pedangnya Su Cin terus menerjang maju. Su Giok-lan mendapat peluang dengan sengit dan gemes ia berteriak, “Aku belum terkalahkan, buat apa kau ikut maju?” seiring dengan kata-katanya, pedang panjangnya mendadak bergerak lincah, beruntun ia lancarkan lagi serangan ketat kepada Hun Thian-hi.

Su Cin menjadi serba susah, maju mundur menjadi sulit baginya, kedua belah pihak adalah murid perguruan ternama yang sejajar ketenarannya, bagaimana mungkin dirinya melawan orang dengan cara keroyokan. Tapi keadaan Su Giok-lan sudah di ambang bahaya, tidak bisa tidak aku harus maju membantu, terpaksa mengeraskan kepala ia terus menerjang maju.

Hun Thian-hi bergelak tawa lantang, dimana Serulingnya menari kencang mendadak tubuhnya terbang ke atas, di tengah udara jumpalitan terus mengembangkan Thian-liong-cit-sek atau tujuh gaja naga langit.

Jurus pertama yang bernama Liok-liong-wi-hian (enam naga terbang berputar) dikembangkan berpetalah bayangan seruling samar-samar seperti ada seperti tiada serentak meluncur ke arah dua sasaran.

Su Cin dan Su Giok-lan merupakan murid didikan Pak-kiam yang kenamaan apalagi dengan dua mengeroyok satu sudah tentu tidak gampang mereka dikekang dan terkepung. Serempak pedang panjang mereka silang menyilang di tengah udara ke kanan kiri inilah jurus Ban-liu-ing-hong (dahan pohon liu menyambut angin) jalur sinar pedang terpancang menjadi pepat merintangi serangan melandai tiba. Tapi di tengah jalan tubuh Hun Thian-hi mendadak melenting lebih tinggi lagi, seruling batu pualam putihnya lagi-lagi meluncur dengan serangan yang dinamakan Gin-liong-jip-cui (naga sakti masuk air) Seruling batu itu menukik dari atas meluntiur seperti burung menyambar belalang langsung menutuk ke jalan darah Bi-sim-hiat Su Cin dan Su Giok-lan.

Sekali lagi pedang panjang mereka bekerja sama bersatu padu melancarkan tipu Loan-ciok- bing-hun (batu kalut menerjang awan), sinar pedang berubah setitik bintang menutul balik merangsak ke arah Hun Thian-hi lagi.

Hun Thian-hi tertawa tawar, lagi-lagi lawan bergabung menyerang dirinya, memang inilah yang sedang diharapkan, tiba-tiba tubuhnya mengkerut turun, dimana seruling batunya terayun maju langsung memapak ke arah kedua batang pedang lawan yang terbang meninggi mengarah dirinya. Di tengah jalan jurus serangan Thian-hi ini lagi-lagi dirubah menjadi Hun-liong-pian-yu, bayangan seruling mendadak berubah menjadi beribu banyaknya, seperti menyerang tapi juga membela diri langsung menyapu ke depan.

Naga terbang menyapu baju yang dilancarkan Hun Thian-hi ini merupakan salah satu jurus dari ilmu Thian-liong-cit-sek yang paling banyak perubahan dan paling sulit di jajaki. Su Cin dan Su Giok-lan tidak mengira Hun Thian-hi bakal melancarkan jurus-jurus yang sangat lihay ini, keruan bercekat hati mereka, tak tahu mereka kemana juntrungan Hun Thian-hi melancarkan serangan berbahaya ini, tanpa merasa gerak-gerik mereka sedikit merandek.

Sementara serangan Hun Thian-hi ini sampai di tengah jalan mendadak juga memperlihatkan setitik kelemahan, dimana jurus serangan yang seharusnya menutuk maju rada2 kelihatan sedikit lamban seperti hendak membela diri malah, karuan sedikit lubang kelemahan ini cukup ketahui oleh kakak beradik didikan Pak-kiam ini, keruan bukan kepalang girang hati mereka, tanpa berjanji seperti sudah terjadin ikatan batin saja mendadak pedang mereka berbareng membabat dan menyontek ke atas membabat kaki dan menusuk perut Hun Thian-hi.

Tak kira perbuatan Hun Thian-hi ini memang disengaja untuk memancing gerakan musuh, sedikit lamban mendadak Hun Thian-hi lincah sekali menyelonong maju, lenyap gaya membela diri semula mendadak berubah menjadi serangan telak, berbareng dengan gerak tubuhnya yang lincah lantas menyelinap ke tengah diantara mereka berdua, serulingnya menutuk pundak dan mengetuk batok kepala.

Karuan Su Cin berdua berjingkrak kaget seperti disengat kala. Berbareng mereka mundur kedua samping untuk menghindar.

Dengan tipu jurus yang indah Hun Thian-hi berhasil memisahkan kedua musuhnya, mendapat angin yang menguntungkan ini serulingnya bergerak semakin sebat lagi, jurus demi jurus tipu-tipu serangan serulingnya membadai tiada habisnya, dengan jurus Jian-hong-ing-long (menuntun angin menyambut gelombang) ia tumplek seluruh kekuatan untuk menyerang kedua lawannya.

Su Giok-lan dan Su Cin harus melompat mundur kesamping lagi, namun sambil berkelit ini tiba- tiba pedang panjang mereka menukik balik, dengan jurus Yau-ci-thian-lam (jauh-jauh menuding langit selatan) pedang mereka tepat sekali memapaki kedatangan serangan Hun Thian-hi, begitu seruling dan pedang kedua belah pihak saling bentur, kontan Su Cin dan Su Giok-lan tergetar mundur satu langkah.

Gerakan Hun Thian-hi tidak berhenti sampai disitu saja, lagi-lagi serulingnya menyapu tiba dengan tipu Ci-ang-yau-sut (pelangi menggubat saka) dimana sinar putih berkelebat masing- masing menutuk ke arah jalan darah Thian-to-hiat di atas tubuh Su Cian dan Su Giok-lan. Karena terdesak untuk membebaskan diri dari tutukan berbahaya ini terpaksa mereka mundur berulang- ulang.

Wajah Hun Thian-hi menampilkan senyum tawar. seorang diri bukan saja dirinya mampu melawan keroyokan mereka malah mendesak mundur kedua musuhnya, betapa hatinya takkan senang.

Dalam pada itu dengan kesima Su Tat-jin menonton pertempuran seru ini dengan seksama, lambat laun berubah rona wajahnya, kedua biji matanya memancarkan rasa kebencian yang meluap-luap, samar-samar juga terunjuk rasa ragu sulit mengambil suatu keputusan.

Sementara itu, sinar putih kemilau dari seruling Hun Thian-hi terus berkembang berputar-putar di tengah gelanggang mengepung dua musuhnya.

Belum lama Su Cin serta adiknya kelana, baru pertama kali ini mereka menghadapi musuh tangguh, dalam waktu singkat mereka menjadi kelabakan dan keripuhan tak tahu cara bagaimana untuk bekerja sama menghadapi musuh karena kehilangan pegangan, maka gerak pedang mereka lambat laun juga menjadi tak terkontrol lagi, begitulah dalam suatu ketika mereka harus mengayun pedang untuk menangkis.

Melihat kedua musuhnya mengangkat pedang menangkis serangannya Hun Thian-hi tersenyum riang, tahu dia kalau pedang dan serulingnya saling bentrok tak ampun lagi pasti pedang kedua musuhnya bakal terpental terbang ke tengah udara terlepas dari cekalannya. Mereka adalah murid Pak-kiam yang sejajar dengan gurunya, hal inilah yang menjadikan penghambat gerak geriknya.

Semakin lama hati Su Tat-jin semakin berang dan kebat-kebit, pancaran matanya semakin buas dan mengandung hawa membunuh. Mendadak ia menghardik keras sekali, “Ni, sambutlah Badik buntung!” sejalur sinar hijau melesat terbang dari tangannya langsung melayang lewat disamping gelanggang pertempuran tiga kaki tingginya.

Begitu mendengar bentakan, Hun Thian-hi sangat terkejut, sedikitpun tiada tempo untuk ia pikir, sebat sekali tubuhnya bergerak terus mengejar ke arah Badik buntung yang meluncur itu.

Su Cin dan Su Giok-lan sendiri juga terperanjat, dengan muka merah padam mereka mengawasi Su Tat-jin.

Ditengah gelapnya kabut di sebelah sana terdengar pekik kejut yang tertahan, sinar hijau kelihatan berloncat dan terus melayang jatuh ke bawah jurang sana.

Su Cin serta adiknya berdiri terlongo tanpa membuka suara, wajah mereka menjadi pucat pias.

Tak lama kemudian Su Giok-lan membuka mulut kepada Su Tat-jin, “Paman! Ternyata Badik buntung itu betul berada ditanganmu!”

Su Tat-jin tertawa kering dua kali, ujarnya menyeringai, “Benar-benar! Badik buntung berada ditanganku. Tapi kalian harus tahu bahwa perbuatanku tadi adalah demi untuk kebaikan kamu berdua. Kalau aku tidak bertindak cepat, kukuatir kalian bakal terjungkal ditangannya”

“Tapi paman,” sela Su Cin cepat, “seharusnya kau tidak boleh berbuat demikian, dia adalah murid tunggal Seruling selatan….”

“Justru karena dia adalah murid tunggal Seruling selatan, maka aku bertindak demikian.” Demikian sambung Su Tat-jin, “apa kalian sudah lupa bahwa kalian adalah murid Pedang utara? Kalau kalian terkalahkan kemana muka guru kalian hendak ditaruh. Seruling selatan dan Pedang utara tergabung menjadi Hwe-siang-ki (sepasang manusia aneh di majapada tapi hakikatnya mereka sendiri belum pernah saling jajal kepandaian masing-masing, apa kalian sudah tahu?”

Su Cin dan adiknya bungkam. Mereka insaf bahwa dengan kekalahan mereka berdua melawan Hun Thian-hi mungkin akan merupakan noda hitam bagi ketenaran nama baik Pedang utara, bukankah sejak saat ini taraf antara Seruling selatan dan Pedang utara harus dibagi tingkatannya.

Kata Su Tat-jin pula, “Cin-ji! Lan-ji! Kalian harus tahu bahwa peristiwa pagi ini sekali2 tidak boleh diketahui orang luar, kalau tidak bukan saja kalian aku pun terseret pula, bagaimana selanjutnya kita harus berkecimpung dikalangan Kangouw. Kukira guru kalian juga menjadi sulit untuk angkat kepala di dunia persilatan!”

Berbareng Su Cin dan Su Giok-lan angkat dagu memandang ke arah Su Tat-jin, hati mereka maklum bahwa kata-kata tadi merupakan ancaman halus terhadap mereka.

Dengan tajam Su Tat-jin juga tatap mereka berdua, apa boleh buat akhirnya mereka menundukkan kepala. Su Tat-jin tertawa kering lagi dengan puas akan kemenangan, sambungnya lagi, “Sudah tentu, kalau kalian tidak mengobral mulut aku pun tetap bungkam. Sudahlah, mari kita turun gunung,” habis berkata ia mendahului berlari-lari kecil kebawah gunung.

Dengan lesu dan rawan Su Cin dan Su Giok-lan ikut turun gunung dengan langkah berat bergoyang gontai.

Dalam pada itu, begitu melihat Badik buntung meluncur tanpa pikir panjang serta melihat keadaan sekelilingnya Hun Thian-hi lantas melesat mengejar, syukur tangannya masih sempat meraih dan digenggamnya kencang, sementara itu badannya lantas meluncur turun. Tapi karena kabut sedemikian tebal pandangan menjadi gelap begitu tubuhnya meluncur turun terasa badannya koh terus melayang jatuh tanpa menyentuh tanah, keruan hatinya menjadi gugup, tanpa merasa ia lantas menjerit dengan kaget!

Sekuat tenaga ia berusaha mengendalikan tubuh untuk jumpalitan mumbul ke atas ngarai, tapi pandangan sekelilingnya remang-remang semuanya serba putih gelap. Begitulah badannya terus melayang kebawah, kini hatinya diliputi hawa amarah, sungguh tidak terkirakan olehnya baru pertama terjun ke gelanggang kericuhan dunia persilatan dirinya lantas masuk jebakan.

Samar-samar di depannya sana menyongsong dekat sebuah bayangan hitam besar, sekilas pandang saja Hun Thian-hi lantas tahu bahwa itulah sebatang pohon besar yang menjolor keluar dari batu-batu gunung di tengah kabut, keruan bukan kepalang girang hatinya. Sontak bangkit semangatnya tenaga dalamnya juga lantas bergairah keseluruh badan, cepat-cepat ia ulurkan tangan untuk meranggeh, ternyata usahanya tidak sia-sia dengan kencang ia kena menyekap sebatang pohon sehingga sesaat luncuran tubuhnya menjadi membal bergelantungan, baru saja hatinya kegirangan tak kira mendadak terdengar suara “krak!” dahan pohon terlalu kecil tak kuat menahan berat pantulan badannya, seketika badannya terjungkal pula kebawah.

Hun Thian-hi terperanjat, nurani untuk tetap mempertahankan hidup masih menyadarkan pikirannya, sekuatnya ia mengendalikan badan dengan kesempatan dahan pohon patah dan meluncur jatuh, kedua tangannya kuat2 menekan kebawah, sehingga tubuhnya lantas membal ke atas.

Dengan kencang ia berhasil sikap batu gunung untuk menahan badannya, suara gemuruh dari jatuhnya pohon besar tadi terus kumandang di bawah jurang sana, dengan saksama ia mendengarkan agak lama kemudian baru terdengar pohon besar itu jatuh menyentuh tanah.  Thian-hi menghela napas lega, hatinya bersyukur dan memanjatkan doa akan kebesaran hati Tuhan yang mulia. Jikalau pada batang pohon sebagai penangsang tubuhnya tadi, pasti dirinya sudah terbanting hancur lebur didasar jurang sana.

Sebentar ia mengheningkan cipta lalu angkat tangan meng-amat-amati Badik buntung ditangannya, terlihat olehnya Badik buntung itu berkilau memancarkan cahaya hijau yang cemerlang, hawa dingin meresap tulang. Dengan hati-hati ia masukkan Badik buntung ke dalam sarungnya, sejenak ia berpikir lalu pelan-pelan merambat turun kedasar jurang.

Setelah susah payah menghabiskan banyak tenaga akhirnya ia berhasil mencapai dasar jurang, didapati bahwa dasar jurang ini merupakan sebuah lembah subur akan semak belukar banyak batu-batu gunung yang berserakan pula, disebelah sana malah kelihatan onggok demi onggok tulang-ulang putih manusia.

Dengan jijik dan penuh kelelahan Hun Thian-hi berjalan menyusuri pinggir jurang terus merambat maju ke arah kiri sana. Kira-kira ia berputar setengah lingkaran. Tiba-tiba di depan sana dilihatnya sebuah gua besar. Dari dalami gua besar ini terbaur keluar hawa amis yang memuakkan, diam-diam mencelos hati Hun Thian-hi, ia menjadi kuatir dan was-was kalau gua besar ini menjadi sarang binatang buas atau berbisa yang sangat ganas sekali, itu akan membuat dirinya berabe.

Karena kesangsiannya ini segera ia menghentikan langkahnya, baru saja ia hendak berputar tinggal pergi, mendadak dari dalam gua sana terdengar suara orang bertanya, “Siapa itu!”

Hun Thian-hi tersentak kaget, sungguh diluar sangkanya bahwa gua besar ini ternyata dihuni oleh manusia. Legalah hatinya, maka dengan tertawa lebar segera ia beranjak mendekati ke arah gua besar itu, ingin ia melihat orang macam apakah kiranya yang tinggal dalam gua berbau busuk ini!

Baru saja kakinya melangkah sampai diambang gua, terdengar suara dengusan keras dari dalam, sejalur benang hitam terus melesat datang menerjang dirinya, Lagi-lagi Hun Thian-hi terperanjat dibuatnya, secara gerak reflek sebat sekali ia merogoh keluar Badik bumtung terus diayunkan keluar memapas maju.

Dimana sinar hijau berkelebat lewat bayangan hitam itu seketika putus menjadi dua terus terpental jatuh di atas tanah. Waktu ia menunduk kebawah kiranya itulah seekor ular.

Berkat ketajaman matanya dengan cermat Hun Thian-hi memandang ke dalam, samar-samar terlihat olehnya di atas sebuah batu besar duduk bersila seorang tua, berambut panjang warna merah, demikian juga jenggotnya berwarna merah, sepasang sinar hijau bening dari sorot matanya menembus keluar dari aling2 rambutnya yang awut2an menutupi mukanya, dengan seksama ia awasi Badik buntung ditangan Hun Thian-hi. Disekitar kakinya dimana ia duduk melingkar2 banyak macam ular-ular aneh besar kecil.

Sinar mata hijau bening dari orang tua berambut merah beralih dari Badik buntungnya kemuka Hun Thian-hi, biji matanya memancarkan rasa gusar dan kebencian yang meluap-luap.

Hun Thian-hi sendiri menjadi menjublek ditempatnya, hatinya tengah dirundung kecemasan.

Mendadak si orang tua berambut merah mendengus hidung, tubuhnya mendadak mumbul ke atas terus terbang maju dengan tetap bergaja duduk langsung menerjang ke arah Hun Thian-hi.

Bertambah kejut lagi hati Hun Thian-hi, orang tua berambut merah ini tanpa bergaja atau bergerak ternyata bisa mencelat tinggi terus meluruk datang, betapa tinggi kepandaiannya agaknya sudah mencapai Sia-ki-hwi-hing (terbang menghimpun hawa), kepandaian hebat begitu rupa bukan saja dirinya bukan tandingan, seumpama Suhunya sendiri Seruling selatan berhadapan secara langsung juga takkan mungkin dapat menandinginya.

Tahu ia bahwa aksi orang tua berambut merah ini tentu mempunyai tujuan yang tertentu, cepat-cepat ia bergerak mundur ke belakang seraya berseru, “Nanti dulu!”

Pedulipun tidak akan seruan Hun Thian-hi ini, si orang tua berambut merah tetap melesat tiba.

Terpaksa Hun Thian-hi mengayun tangan kanan, dengan jurus Jian-hong-in-long Badik buntungnya menyapu ke arah si orang tua berambut merah, Tampak si orang tua berambut merah mengebutkan lengan baju tangan kanan, kontan Hun Thian-hi merasa seluruh lengannya pegal, jalan darah pergelangan tangannya tertutuk, sudah tentu Badik buntung tak kuasa dipegangnya lagi langsung jatuh ke atas tanah. Tangkas sekali orang tua berambut merah menyamber dengan tangan kiri meraih Badik buntung itu. Sedang tangan kanan menjinjing tubuh Hun Thian-hi terus mencelat balik ke atas batu besar lagi. Dalam sejurus saja Hun Thian,hi teringkus oleh lawan. hatinya menjadi uring-uringan, dua jari tangan kirinya segera diulurkan untuk mencolok kedua biji mata si orang tua.

Tidak kalah lihay dan sebatnya tahu-tahu Badik buntung sudah mengancam ditenggorokan Hun Thian-hi. Baru sekarang Hun Thian-hi merasa bagaimana juga dirinya bukan menjadi tandingan si orang tua berambut merah ini, sudah terang kalah main licik pun tak unggulan. Akhirnya ia tertawa lebar sambil menurunkan” tangan kirinya.

Dengan tajam si orang tua berambut merah memincingkan mata memandangi mukanya, sorot matanya mengunjuk rasa heran dan kejut2 aneh, sejenak kemudian ia me buka suara, “Apa yang kau tertawakan?”

Dengan pandangan aneh Hun Thian-hi juga pandang si orang tua berambut merah ini, sahutnya, “Apa? Tak boleh tertawa?”

Si orang tua merenung sebentar. lalu katanya, “Badik buntung berada ditanganmu, kau tahu cara bagaimana aku akan menghadapimu?”

Sebetulnya tengkuk Hun Thian-hi sudah merinding melihat sorot pandangan si orang tua yang bengis mengandung hawa membunuh, tapi mulutnya tetap bandel, “Itu kan urusanmu, buat apa aku main tebak?”

Orang-tua berambut merah mendehem keras-keras, ujarnya, “Kau akan kujadikan umpan ular, supaya kau mati pelan-pelan.” — sambil berkata sinar matanya berkilat-kilat lalu sambungnya lagi, “Tapi jika kau minta ampun padaku, aku boleh memperingan hukumanmu!”

Hun Thian-hi tertawa dengan angkuhnya, ujarnya, “Minta ampun? Selamanya aku belum pernah minta ampun kepada siapapun juga!”

Pandangan si orang tua berambut merah berubah beringas penuh kemarahan, katanya sesaat kemudian, “Apa betul?”

Terasa oleh Hun Thian-hi kelima jari si orang tua berambut merah mencengkram semakin kencang, sampai pergelangan tangan kanannya sakit bukan main seperti tulang-ulangnya hancur luluh. Tapi akhirnya ia tetap bersikap keras kepala dan adem-ajem malah dengan congkaknya ia tersenyum simpul seperti tidak merasakan sakit sedikitpun. Akhirnya pandangan si orang tua berambut merah menjadi guram putus asa, mulutnya terdengar menggumam, “Bocah yang keras kepala!” — lalu ia menundukkan kepala, sesaat kemudian ia angkat dagu memandang muka Hun Thian-hi, wajahnya mengulum senyum sadu.

Dengan pancaran sinar yang bersifat congkak dan berani Thian-hi bersiap menerima siksaan kedua dari si orang tua berambut merah.

Ternyata pelan-pelan si orang tua berambut merah melepas pergelangan tangan Thian-hi. sekilas dilihatnya seruling batu pualam yang tergantung dipinggangnya, hidungnya lantas mendengus hina, pancaran matanya sekarang berganti penuh kemarahan dan bermusuhan.

Hun Thian-hi tak tahu apa yang tengah dipikirkan oleh si orang tua berambut merah, tapi dari sinar matanya yang penuh kebencian dan bermusuhan ini tak perlu dijelaskan lagi, hatinya sudah membadek (menebak) cara bagaimana si orang tua rambut merah ini hendak menjadikan dirinya bulan2an. Apakah mungkin aku kuat menerima siksaan berat demikian, ia membatin.

Setelah berkilat-kilat sebentar si orang tua berambut merah berkata, “Cara bagaimana kau turun kemari?”

Hun Thian-hi tercengang, hatinya menjadi heran kenapa si orang tua berbalik menanyakan hal ini, sejenak ia ragu-ragu dan curiga, akhirnya ia tertawa tawar, ujarnya, “Kau tak perlu tahu.”

“Karena digasak oleh musuh besarmu?” tanya si orang tua rambut merah tak acuh.

Thian-hi semakin heran akan perubahan sikap si orang tua yang menjadi sabar dan kalem, sejenak ia tatap mata orang tanpa membuka suara.

Si orang tua rambut merah tertawa aneh, ujarnya lagi, “Akupun digasak terjungkal kesini oleh musuhku, untung tidak sampai menemui ajal, sayang kedua kikiku ini buntung, jadi tak berdaya pula untuk dapat keluar dari tempat terkurung ini!”

Sejenak ia berhenti, matanya memandang Hun Thian-hi, melihat orang tetap membisu lalu ia menyambung lagi, “Aneh, dengan bekal kepandaianmu ini, jatuh dari Ngarai curam sedemikian tinggi tidak mati ini sudah cukup untung dan besar rejekimu, tapi kenapa sedikit luka saja tidak kau derita?”

Hun Thian-hi tertawa, lebar dengan takabur, katanya, “Kau sangka aku digasak jatuh Kesini?

Tidak, hanya karena kebodohankulah sehingga aku tertipu jatuh kemari!”

Si orang tua berambut merah menjengek dingin; ujarnya, “Jangan kau terlalu membanggakan dirimu sendiri, kena tipu? Apakah kau tidak merasa malu?”

Kontan mendidih darah Hun Thian-hi bagai dibakar, raut muka merah padam saking menahan gusar, namun mulutnya tetap terkancing tiada alasan untuk main debat.

Kata orang tua rambut merah lagi, “Apa kau ingin naik ke atas pula?”

Hun Thian-hi menjadi melenggong, pikirnya, “apakah orang tua rambut merah ini sudah merubah maksudnya semula? Kenapa nada perkataannya berubah begitu besar? Karena berpikir demikian ia lantas tertawa riang, katanya, “Masa kau sendiri tidak ingin naik?”

Si orang tua menengadah memandang puncak gua, tiba-tiba ia tertawa aneh lagi, katanya, “Ya, benar-benar. Aku tidak ingin naik, tapi aku dapat membantumu naik!” Kini berbalik Hun Thian-hi mengerut kening, hatinya was-was, hidungnya mendengus tanpa bicara,

Orang tua itu menepekur sebentar lalu berkata lagi, “Tapi setelah kau naik ke atas, dengan bekal ilmu silatmu sekarang, apa pula yang dapat kau kerjakan?” habis berkata ia tertawa geli penuh nada menghina.

Hun Thian-hi pun tidak mau kalah congkaknya, debatnya, “Walaupun ilmu silatku sekarang belum cukup tinggi tapi usiaku masih muda, kau sendiri kau sudah tua bangka dan rejot, tinggal menunggu ajal saja masa kau tahu kalau kepandaianku tak bisa menandingi kau?”

Terpancar rasa bangga dan puas dalam pandangan mata si orang tua rambut merah, katanya kemudian, “Punya pambek! Tapi kalau tidak berjodoh juga akan sia-sia belaka.”

Lama, dan, lama sekali Hun Thian-hi meng-amat-amati si orang tua berambut merah tanpi membuka suara, Dia merasa heran kenapa si orang tua rambut merah ini tidak marah lagi, dan yang lebih menbuatnya tak habis mengerti kenapa orang tua ini tidak menyinggung lagi tentang Badik buntung dan Seruling batu pualamnya? Kedua benda pusaka ini hakikatnya seperti mempunyai sesuatu hubungan erat dengan orang tua renta aneh ini, kenapa ia tidak menanyakan perihal kedua benda ini lebih lanjut?

Ujar si orang tua, “Aku dapat mengangkatmu menjadi seorang tokoh silat ncmor satu di seluruh kolong langit ini!”

Hun Thian-hi mandah tertawa ewa tanpa menunjukkan sesuatu reaksi.

“Jangan kau mengejek,” ujar si orang tua, “Ketahuilah jika dulu aku jadi melancarkan jurus tunggalku, yang terjatuh ke dalam jurang sini tentu bukan aku. sebaliknya adalah mereka berdua.”

“Nah, kenapa tidak kau lancarkan?” cemooh Hun Thian-hi.

Si orang tua terkekeh dua kali, ujarnya, “Mungkin kelak kau akan tahu sendiri!” Hun Thian-hi menebak2 dalam hati, tapi ia tidak mau banyak tanya lagi.

Si orang tua angkat tangan kirinya yang menyekal Badik buntung, katanya, “Badik pusaka tiada tandingan di kolong langit ini, ditambah dengan jurus tipu ilmuku yang kunamakan Jan-thian-ciat- te (pencacat langit pelenyap buana), kiranya cukup untuk menjagoi di seluruh dunia persilatan!” lalu ia tertawa nyengir penuh misterius, tiba-tiba ia lempar Badik buntung itu ke arah Hun Thian- hi.

Dengan gugup Hun Thian-hi menampani Badik buntung itu, hatinya penuh tanda tanya….

Setelah mengerling ke arah Hun Thian-hi sembari tersenyum simpul si orang tua mengambil sebatang pedang dari bawah batu, katanya, “Lihat dengan cermat jurusku Jan-thian-ciat-te ini!” Setelah berkata tubuhnya lantas bergerak melejit tinggi, berbareng pedang panjangnya melingkar terayun membuat setengah bundaran di tengah udara, seketika bayangan sinar pedang berkilau laksana bentuk gunung, berputar dan bergerak gesit laksana tebaran bintang-bintang di langit, hawa pedang berkembang dingin membeku laksana ular emas melingkar yang menari menjadi gambaran abstrak di tengah udara.

Lima tombak sekelilingnya dilingkupi samberan deras hawa pedang, terdengar suara “plak-plok” ledakan lirih ditengah udara berulang kali sampai memekakkan telinga! Hun Thian-hi sendiri juga terdesak mundur keterjang angin lesus yang berputar cepat sampai terhujung beberapa tindak, diam-diam hatinya mencelos, batinnya dengan kehebatan ilmu pedang yang tiada taranya ini, ucapan si orang tua berambut merah memang bukan omong kosong belaka.

Si orang tua menarik permainan pedangnya, sekilas ia melirik ke arah Hun Thian-hi, air mukanya lagi-lagi mengunjuk senyum misterius penuh arti, tanpa bertanya dulu pada Hun Thian- hi secara tekun dan pelan-pelan ia terangkan intisari pelajaran jurus tipu Jan-thian-ciat-te ini kepada Hun Thian-hi.

Sambil memberi keterangan dengan pelan secara terperinci sekali lagi ia praktekkan secara lamban supaya dapat diselami oleh Hun Thian-hi. Dengan tekun dan cermat Hun Thian-hi berdiri diam saja mendengarkan.

Terdengar orang tua rambut merah bertanya, “Masih adakah yang belum kau paham?”

Hun Thian-hi mandah tertawa-tawa saja, Badik buntung ditangan kanannya tiba-tiba bergerak sekitar tubuhnya menjadi terang benderang disinari oleh cermerlangnya cahaya hijau pupus yang menyilaukan mata….

Terunjuk sedikit perubahan pada air muka si orang tua rambut merah, sekilas biji matanya memancarkan hawa membunuh yang menyala-nyala, tapi hanya sebentar saja lantas hilang lagi. Sungguh tidak terduga olehnya bahwa Hun Thian-hi sedemikian berbakat dan pintar. Hampir- hampir ia tidak berani percaya akan penglihatannya sendiri.

Sambil memasukkan Badik buntung ke dalam kerangkanya, Hun Thian-hi berkata tawar, “Apakah begitu cara mainnya?”

Orang tua rambut merah mendengus dongkol, matanya berputar lalu katanya, “Sungguh tak kuduga ternyata kau berbakat benar-benar, mengandal jurus tipu pedang tadi ditambah dengan Badik buntungmu itu, aku berani pastikan di seluruh kolong langit ini kau tiada tandingan. Kau dapat turun dengan selamat menggunakan Badik buntung itu pasti juga kau dapat naik, bolehlah kau segera berangkat!”

Hun Thian-hi menjadi bimbang, katanya kepada orang tua rambut merah, “Bukankah katamu semula hendak menjadikan tubuhku sebagai umpan ular, kenapa sekarang kau lepas aku?”

Lagi-lagi orang tua rambut merah menampilkan mimik wajahnya yang aneh dan lucu, serunya sambil gelak tawa, “Kelak kau akan tahu”

“Kalau kau juga ingin keluar, mari kubantu kau!” demikian ajak Hun Thian-hi.

Orang tua aneh itu tercengang, matanya memancarkan cahaya aneh, dengan tajam ia pandang muka Hun Thian-hi, sebentar kemudian baru ia membuka mulut, “Kalau aku mau keluar, siang- siang aku sudah manjat ke atas, buat apa kau harus bantu aku!”

Hati Hun Thian-hi diliputi pertanyaan yang tak terjawab, heran ia kenapa orang tua ini tidak mau diajak naik ke atas, diam-diam ia menimang, pernah Suhunya memberitahu bahwa tokoh silat kosen di seluruh kolong langit yang pernah diceritakan itu agaknya tiada seorang seperti orang tua berambut merah ini.

Sementara itu, pandangan si orang tua juga teralih ke kempat lain. Hun Thian-hi coba-coba hendak mengorek keterangan, “Tapi kau mengajari jurus lihay itu kepadaku, aku tidak sudi terima budimu secara gratis, adakah sesuatu urusanmu yang perlu kulaksanakan?” Orang tua rambut merah berpaling, ujarnya, “Kau merasa hutang budi? Karena aku mengajar sejurus ilmu pedang itu?” sampai disini ia bergelak tawa sekian lamanya, lalu sambungnya, “Kenapa aku menurunkan sejurus ilmu pedangku ini kelak kau akan maklum sendiri, sekarang silakan kau pergi!”

Sekian lama Hun Thian-hi menjadi ragu-ragu dan tak enak mati, akhirnya menjadi kewalahan katanya, “Kalau begitu baiklah aku pergi!” sambil berkata ia putar tubuh terus keluar.

Memandang punggung Hun Thian-hi orang tua rambut merah menyengir seram dan menyeringai dingin, seolah-olah ia sudah melaksanakan sesuatu pekerjaan yang sangat menyenangkan hatinya.

Sampai diambang mulut gua, mendadak Hun Thian-hi memutar badan dan bertanya, “Tapi siapakah namamu?”

Berubah airmuka orang tua rambut merah, jawabnya mendengus tak sabaran, “Dalam kelanamu di Bulim kau akan tahu siapa aku ini Sudahlah berangkat jangan cerewet!”

Hun Thian-hi memutar tubuh terus keluar gua, tak jauh kemudian ia duddk bersila memusatkan pikiran menghimpun tenaga, lalu dikeluarkan Badik buntung dengan senjata ampuh inilah ia selangkah demi selangkah merambat naik. ke atas tebing yang curam itu.

Setelah susah payah kira-kira pada tengah hari baru ia sampai diatas, perut terasa lapar dan tenagapun seperti terkuras habis, lagi-lagi ia duduk bersila memejamkan mata beristirahat, kira- kira setengah jam kemudian matanya terbuka lagi.

Sejenak ia menerawang keadaan sekelilingnya, dalam benaknya terbayang wajah Su Tat-jin, Su Cin dan Su Giok-lan, ujung mulutnya mengulum senyum ejek dan mendengus hidung, pelan-pelan ia bangkit terus berlari pesat turun gunung.

Setelah matahari tenggelam tabir kegelapan malam mulai menelan bumi, tampak dimana-mana sudah menyulut pelita, saat itu Hun Thian-hi beranjak pula menuju kegedung Su Tat-jin yang megah dan angker itu.

Dimana tubuhnya bergerak melayang enteng ke arah samping sana seperti daun jatuh hinggap di atas wuwungan rumah, terus meluncur lagi turun ke dalam ruang besar perjamuan.

Keadaan ruang besar terang benderang suasana ramai bersuka ria, agaknya Su Tat-jin tengah merajakan kemenangannya dan menjamu para tamunya.

Begitu Hun Thian-hi melayang turun dalam ruang besar itu, seketika berubah hebat rona wajah Su Tat-jin, suasana yang riuh rendah tadi saketika menjadi sunyi senyap, begitu hening seumpama jarum jatuh juga bisa terdengar.

Pelan-pelan Hun Thian-hi menggerakkan kepalanya dengan pandangan menghina dan memincingkan mata ia tatap semua hadirin, akhirnya pandangannya berhenti pada wajah Su Cin dan adiknya

Rada lama ia tatap mereka bergantian, akhirnya tercetus jengek sinis dari mulutnya, “Bagus benar-benar sepak terjang murid Pedang utara “

Kakak beradik ini menundukkan kepala saking malu, namun dikejap lain tiba-tiba Su Giok-lan angkat kepala dengan mata mendelik ke arah Hun Thian-hi semprotnya, “Orang she Hun, jangan kau mendesak dan menghina orang, peristiwa itu bukan perbuatan kita berdua, apa maksudmu dengan murid Pedang utara apa segala!”

Hun Thian-hi menyeringai sinis kepalanya berpaling ke arah Su Tat-jin, katanya, “Sebetulnya tiada niatku mencari perkara kepadamu. Tapi sekarang aku tak bisa melepasmu lagi, marilah perhitungan lama dan baru ini kita selesaikan sekarang.

Su Tat-jin menyapu pandang kepara tamunya, matanya berjelilatan, katanya sembari bangkit dari tempat duduknya. “Banyak orang tahu, betapa besar budi Hun Siau-thian Hun-toako kepadaku laksana setinggi gunung. Meskipun aku Su Tat-jin tidak bisa membalas budi kebaikannya itu, tapi aku sudah bekerja sekuat tenagaku.”

Ia menundukkan kepala lalu merendahkan suara, sambungnya, “Waktu Hun~toako menghilang dulu aku sudah berdaya upaya dengan seluruh kemampuanku untuk mencari jejaknya, akhirnya….”

Mendadak ia angkat kepala serta bersuara keras; Akhirnya aku tahu sebab musabab menghilangnya Hun-toa, beliau menghilang karena Badik buntung yang menjadi miliknya itu. Tokoh-tokoh lihay dalam dunia persilatan ini, ada berapa banyak yang ilmu silatnya bisa mengungguli Hun-toako?”

Kata-katanya dilembari nada yang penuh keibaan, matanya dingin menyapu seluruh orang gagah yang hadir, akhirnya pandangan matanya berhenti pada wajah Hun Thian-hi.

Bercekat hati Hun Thian-hi terang dengan kata-katanya ini Su Tat-jin bermaksud mengobarkan kemarahan hati seluruh hadirin, meski ia tidak takut menghadapi profokasi ini, namun ia harus menghindari salah paham dengan orang lain.

Maka cepat2 ia bergerak dan berseru lantang, “Ucapan Su Tat-jin ini hanya bualan belaka, jangan kalian percaya akan obrolannya ini.”

“Banyak orang tahu bahwa musuh besar Hun-toako adalah Sam Kong Lama,” begitulah cepat- cepat Su Tat-jin memainkan diplomasinya, “Untuk merebut Badik buntung itulah maka ia mencelakai Hun-toako, dan Badik buntung itu kini berada ditangannya,. Coba kalian lihat, Badik buntung itu kini berada ditangan bocah yang mengakui bernama Hun Thian-hi ini, darimana ia bisa tahu sama yang hendak kukatakan? Darimana pula ia tahu kalau ucapanku ini bohong belaka?”

Hun Thian-hi membalik tubuh menghadapi Su Tat-jin, semprotnya gusar; ….Diplomasimu memang cukup lihay, kau kira kau bisa bebas dari kematian?”

Su Tat-jin melirik ke arah Su Cin dan Su Giok-lan, mestinya mereka sudah menggerakkan mulut hendak bicara, namun lantas urung dan menundukkan kepala.

Kata Su Tat-jin kepada Hun Thian-hi, “Kau tidak memandang mata seluruh orang gagah disini bukan?” demikian pancihgnya sembari menyapu pandang keseluruh gelanggang.