Badik Buntung Bab 19

 
Bab 19

Begitulah sambil bercakap-cakap Thian-hi berdua menempuh perjalanan, terlihat oleh Thian-hi wajah Pek Si-kiat dirundung hawa kekuatiran yang melesukan hati, beberapa kali ia niat bertanya namun selalu urung.

Diam-diam heran Thian-hi, akhirnya tak tertahan ia bertanya, “Paman Pek, apa pula yang perlu kau katakan?”

Pek Si-kiat beragu sebentar, katanya, “Hun-hiantit, ingin kutanya kau, Wi-thian-cit-ciat-sek sudah sempurna kau latih belum?”

Mendengar orang menanyakan soal itu, berdetak jantung Thian-hi, tahu dia bahwa urusan pasti rada janggal, atau pasti terjadi sesuatu yang menyulitkan, soalnya Pek Si-kiat masih kuatir bila Wi- thian-cit-ciat-seknya belum sempurna sulit untuk mengatasi soal ini, maka dia tidak berani membuka mulut.

Dari sikap dan raut muka Pek Si-kiat dapat diraba bahwa persoalan ini tentu sangat penting dan genting, katanya, “Yang lain tidak berani kukatakan, melulu menghadapi Tok-sim-sin-mo kiranya cukup berlebihan!” “Apa benar-benar?” Pek Si-kiat menegas dengan muka kegirangan. “Hian-tit, ada sesuatu hal yang harus kau sesalkan terhadapku, harap kau suka memaafkan!”

“Soal apakah sebenar-benarnya, harap paman suka menjelaskan?”

“Kalau dibicarkan sungguh memalukan, aku kehilangan taci angkatmu Sutouw Ciko!” “Apa?” tanya Thian-hi berjingkrak.

“Ka-yap Taysu menyuruh aku menunggu sampai burung dewata muncul, bila kau turun segera kami harus langsung pulang ke Tionggoan, bila kau tidak turun, sepuluh hari kemudian aku harus naik ke atas tebing menyambut kau. Tapi aku kehilangan Sutouw Ci-ko terpaksa aku memburu ke atas.”

Thian-hi menenangkan hati, katanya, “Paman tahu cara bagaimana menghilangnya?” “Diculik oleh Tok-sim-sin-mo!”

“Bukanlah Ci-ko tidak punya permusuhan apa dengan mereka.”

“Benar-benar, tapi Ci-ko bersama aku. kubawa dia mengembara di Kangouw, entah bagaimana akhirnya Tok-sim tahu bahwa aku juga sudah lolos, berulang kali ia mengutus anak buahnya mencari aku minta aku masuk menjadi anggota gerombolan mereka, namun dengan tegas kutolak, siapa kira dia malah menculik Ci-ko sebagai sandera.”

Thian-hi menjadi gugup, katanya, “Entah bagaimana pula keadaan Ci-ko?”

“Dia minta aku menjadi anggota dan diangkat sebagai Wakil Pangcu, sudah tentu dia tidak berani siksa atau mempersulit Ci-ko, namun bila terlalu lama kurasa kurang leluasa juga. Aku tahu tenagaku bukan lawan Tok-sim, jalan yang terbaik hanya mencari kau. Bila Wi-thian-cit-ciat-sek sudah sempurna kau latih, apa pula yang perlu ditakuti?”

Thian-hi sudah melulusi permintaan Ham Gwat untuk menyempurnakan dulu latihan Wi-thian- cit-ciat-sek di Thia-bi-kok ini baru pulang ke Tionggoan. Tapi kejadian ini terpaksa harus merubah pula keputusannya, bgaimana juga ia harus segera menyusul kesana untuk menolong Sutow Ci-ko meski ilmu pedangnya belum sempurna. Karena itu terpaksa Thian-hi harus menyelusuri pula jejak2 berdarah di kalangan Kangouw, dan seluruh dunia persilatan bakal gempar pula karena Thian-hi muncul pula di Kangouw, yang jelas dia harus langsung berhadapan dengan para gmbong2 iblis yang lihay dan jahat itu.

Dunia persilatan bakal bergelombang dan tiada ketenteraman hidup lagi.

Justru karena Wi-thian-cit-ciat-sek belum lagi sempurna latihannya, Thian-hi sendiripun harus menempuh mara bahaya yang selalu mengancam jiwanya.

Begitulah bersama Pek Si-kiat mereka melakukan perjalanan cepat siang malam untuk menolong Sutouw Ci-ko dari cengkeraman sarang iblis.

Hari menjelang magrib. sang surja sudah hampir terbenam diutuk barat, cahayanya nan kuning keemasan terang benderang menerangi jagat raja, di atas tanah tandus yang berdebu ke arah timur tampak bayangan dua ekor kuda yang memanjang ke depan. di atas kuda ini masing-masing bercokol Hun Thian-hi dan Pek Si-kiat. Hun Thian-hi sekarang mengenakan jubah panjang seperti pakaian sastrawan umumnya. Sudah beberapa hari ini mereka menempuh perjalanan jauh dengan tidak mengenal lelah. tujuan utama adalah Jian-hud-tong.

Menurut perhitungan Pek Si-kiat, ia mengharap sebelum Sutouw Ci-ko berhasil digondol pulang masuk ke Jian-hud-tong mereka harus mencegatnya dulu ditengah jalan, menurut situasi dan keadaan menolong Sutouw Ci-ko dari cengkeraman musuh.

Lambat laun cuaca menjadi gelap, seluruh jagat raja ini dicekam kesunyian dan kegelapan tabir malam. Mendadak Hun Thian-hi menarik tali kendali serta berkata kepada Pek Si-kiat, “Paman Pek, ada orang mendatangi dari depan!”

Pek Si-kiat kaget, tahu ia orang yang dimaksud oleh Thian-hi ini tentu seorang tokoh luar biasa, maka cepat iapun menghentikan lari kudanya, dengan cermat ia pandang ke depan. Benar-benar juga tak lama kemudian dilihatnya seorang mendatangi. kiranya pendatang ini adalah Bing-tiong- mo-tho (siiblis bungkuk dari Bing-tiong) Sukong Ko.

Sejak Si-gwa-sam-mo kena dibelenggu dan disekam di dalam Jian-hud-tong oleh Ka-yap Cuncia, Sukong Ko tahu diri, ia mengundurkan diri dari percaturan dunia persilatan. Kini setelah Si- gwa-sam-mo lolos dari hukuman, tujuan yang utama adalah menggabung seluruh kekuatan golongan hitam untuk menyelidik dan mencari tahu soal mati hidup Ka-yap Cuncia yang ditakuti itu.

Disamping itu keadaan yang cukup menguntungkan bagi golongan mereka pula sehingga mereka dapat melebarkan sayap dan kekuasaannya ke-mana-mana, karena pihak aliran lurus sedang merosot semangat dan tercerai berai. Oleh karena itulah Bing-tiong-mo-tho Sukong Ko berani menampilkan diri pula dalam gelanggang adu kekuatan antar golongan sesat melawan aliran lurus ini.

Sudah tentu Pek Si-kiat tahu dan mengenal pribadi Sukong Ko ini melihat munculnya orang ini, ia insaf bahwa Tok-sim-sin-mo pasti sudah bertindak lebih cepat dari dugaan mereka, tentu kedatangan Sukong Ko ini tanpa sebab dan tujuan.

Bagaikan angin lesus Bing-tiong-mo-tho Sukong Ko mendatangi kehadapan mereka, setelah menyapu pandang sebentar ia berkata tertawa kepada Pek Si-kiat, “Pek-heng! Pho-toako mengutusku kemari untuk menyilahkan kau kesana!”

Thian-hi tidak tahu siapakah Bing-tiong-mo-tho ini. ia heran dan terkejut akan kehebatan kepandaian orang yang tinggi, dengan cermat ia amati orang, lalu tanyanya kepada Pek Si-kiat, “Paman Pek! Siapakah orang ini?”

Pek Si-kiat mendengus lirih, sahutnya, “Mo-tho-cu! (iblis bungkuk).”

Selama hidup Sukong Ko paling benci dan sirik bila ada orang memanggilnya si Bungkuk, mendengar kata-kata Pek Si-kiat, kontan berubah airmukanya, katanya, “Pek-heng! Ketahuilah kedatangan Sukong Ko hari ini bertujuan baik dan menguntungkan bagi kau, jangan kau sangka aku gentar menghadapi kau, sekarang aku menjalankan tugas engkohmu untuk mengundangmu kesana, kau sangka Sukong Ko sudi meminta2 sesuatu terhadap kau!”

Thian-hi belum pernah dengar nama Sukong Ko, namun dari ilmu silat orang dari sikapnya yang kaku serta punya hubungan erat dengan Pek Si-kiat lagi, ia kira orang sebagai salah satu gembong-gembong iblis yang telah mengundurkan diri dan sekarang muncul pula di Kangouw. Pek Si-kiat menyeringai dingin, jengeknya, “Dimana Sutouw Ci-ko sekarang? Lekas kau bebaskan dia!”

Sukong Ko pun tidak kalah dingin, dengusnya, “Bila kau masuk anggota, jabatan wakil Pangcu jelas dapat kau duduki, kenapa pula kau terburu nafsu, bukan aku tidak tahu perangaimu, kenapa kau tidak mau bekerja sama dengan kita? Apakah kau tidak lagi ingin menuntut balas pada Ka-yap Cuncia yang telah mengurung kalian sekian lamanya?”

“Tutup mulutmu!” hardik Pek Si-kiat. hatinya marah sekali.

Bercekat hati Sukong Ko, betapapun hatinya masih gentar menghadapi Pek Si-kiat, meskipun. sebagai salah seorang gembong iblis yang jahat dan berkepandaian tinggi, namun bila dibanjng dengan Si-gwa-sam-mo rasanya masih kalah jauh beberapa tingkat. Membayangkan sepak terjang Pek Si-kiat dulu, sungguh hatinya jadi mengkirik dan beku darahnya. Tak tahu dia kenapa Pek Si- kiat melepaskan diri dari hubunngan eratnya dengan Tok-sim-sin-mo. Pek Si-kiat dapat mengendalikan diri, ia tahu tak boleh membawa sikapnya yang keras dan ketus, soalnya Sutouw Ci-ko masih berada ditangan mereka, yang dikuatirkan justru adalah keselamatan Sutouw Ci-ko.

Dengan memincingkan mata ia pandang muka Sukong Ko lalu katanya pelan-pelan, “Kau pulang dan suruh Pho Cu-gi kemari bicara langsung dengan aku!”

Dengan heran dan bertanya-tanya Sukong Ko pandang Pek Si-kiat, ia menjadi melengak akan perubahan

sikap Pek Si-kiat yang mendadak dapat mengendalikan hawa marahnya ini. Sebentar kemudian ia menyeringai dingin, katanya, “Pek-heng! Apapun yang kau inginkan bakal dikabulkan. Jangan kau lupa bahwa Sutouw Ci-ko sudah dibawa masuk ke Jian-hud-tong. Lima puluh tahun sudah menjelang, apakah kau masih takut dan gentar menghadapi Ka-yap si Hwesio tua itu?”

Memang Sukong Ko pernah dengar bahwa Ka-yap Cuncia belum wafat, namun dia tidak tahu bahwa Pek Si-kiat sekarang sudah berubah haluan, dari tersesat sudah kembali kejalan lurus.

Malah mendapat kebebasan langsung dari Ka-yap Cuncia sendiri. Sekarang Ka-yap Cuncia sudah ajal, namun sikap Pek Si-kiat ini dianggapnya masih takut menghadapi Ka-yap seperti dulu.

Pek Si-kiat angkat alis, katanya mendengus lirih, “Aku tak sudi banyak mulut pada kau, aku ingin bicara berhadapan dengan Pho Cu-gi. Dimana dia sekarang?”

“Pek-heng!” sindir Sukong Ko. “Kau tak perlu takut pada Ka-yap lagi, meskipun Pan-yok-hian- kangnya itu merupakan kepandaian tunggal yang tiada taranya, namun kita sudah punya cara yang paling sempurna untuk mengatasi ilmunya ini!”

Pek Si-kiat semakin murka, semprotnya, “Dimana Pho Cu-gi sekarang?”

Sukong Ko sengaja menghindari pertanyaan ini, matanya melirik ke arah Thian-hi lalu bertanya pula kepada Pek Si-kiat, “Konon kabarnya Pek-heng menempuh perjalanan bersama seorang yang bernama Hun Thian-hi, apakah benar-benar bocah ini adanya?”

Pek Si-kiat menyeringai, ejeknya, “Apakah Pho Cu-gi tidak sudi menemui aku? Atau takut melihat aku?”

Sukong Ko tertawa sinis, sahutnya, “Kau bersaudara dengan dia sekian lamanya. masa tidak tahu tabiatnya? Emangnya dia pernah takut pada siapa? Bila tidak mendapat persetujuannya aku sendirilah yang tidak sudi kemari menemui kau, sekarang kaulah yang perlu menemui beliau, terpaksa akulah yang menunjukkan jalan, tapi jangan kau lupakan tabiatnya!” Pek Si-kiat mendengus hidung, jengeknya, “Dia pun bukan tidak tahu akan watakku, masa perlu kau orang luar ikut campur dalam urusan ini. Cukup asal kau bawa aku kepadanya saja!”

“Kalau begitu, akupun tidak akan merintangi perjalananmu sekarang dia berada di Jian-hut- tong, mari ku antar kesana!” — habis berkata sebelah tangannya diayun ke belakang, seekor burung dara segera dilepaskan terbang cepat ke arah barat-laut. Pek Si-kiat cukup melirik saja, dengan kaku ia awasi Sukong Ko.

“Sekarang aku sudah memberi lapor, tidak bisa tidak kau harus datang ke sana!” “Kau kira aku takut berhadapan dengan dia?”

Sukong Ko mandah menyeringai dingin, segera ia putar kudanya terus dilarikan dengan cepat.

Sepanjang jalan ini diam-diam Thian-hi pasang mata dan kuping, memang kenyataan kekuatan gerombolan Tok-sim-sin-mo sudah sedemikian luas dan kokoh kuat di daerah utara dan selatan sungai besar. Banyak aliran lurus di daerah Tionggoan yang digencet dan diancam sehingga mereka tutup pintu dan menyarungkan pedang. Daerah kekuasaan dan tempat rebutan antara Partai Merah dan Partai putih sekarang sudah menjadi sarang pusat Tok-sim-sin-mo dengan ganti nama menjadi Hek-liong-pang.

Singkatnya sepuluh hari kemudian rombongan Thian-hi bertiga tibalah dalam wilajah yang berdekatan dengan Jian-hud-tong. Dari kejauhan Hun Thian-hi memandang ke arah Jian-hud-tong yang ditinggalkan beberapa bulan yang lalu, kini sudah ganti rupa, mulut Jian-hud-tong sekarang sudah diperlebar menjadi semacam pintu gerbang yang megah.

Baru saja mereka tiba diambang pintu gua, Tok-sim-sin-mo sudah menyongsong keluar, tampak oleh Thian-hi Tok-sim-sin-mo mengenakan pakaian serba hitam, wajahnya berseri tawa lebar, jenggot dan kumisnya sudah dicukur kelimis, hanya sepasang matanya itu yang tetap mencorong dingin berkilau seperti mata kucing, hampir Thian-hi tidak kenal bahwa yang dihadapi ini kiranya adalah Tok-sim-sin-mo.

Berkatalah Tok-sim-sin-mo lemah lembut kepada Pek Si-kiat, “Samte! Watakmu seperti dulu, antara saudara sendiri kenapa main sungkan-sungkan apa segala. Sekarang kita sudah sama bebas seharusnyalah kita gabung dan kerja sama lagi untuk menghadapi Ka-yap. kenapa kau suka menyendiri dan tidak sudi bekerja sama!”

Pek Si-kiat menarik muka dan tidak bersuara.

Kata Tok-sim-sin-mo kepada Hun Thian-hi, “Kau pun ikut datang. Sejak kapan kau bergaul dengan Samteku, sekarang kami tidak perlu mempersoalkan perhitungan lama, kau sudah gaul bersama Samte berarti menjadi keluarga kami pula, mari silakan masuk!” — lalu ia mendahului memberi jalan ke dalam.

Dengan waspada Thian-hi amat-amati beberapa orang di belakang Tok-sim-sin-mo, diam-diam bercekat sanubarinya, para pengikutnya itu semua adalah tokoh-tokoh lihay atau gembong- gembong silat yang menakutkan, hampir seluruhnya dapat setingkat dijajarkan melawan Situa Pelita. Entah darimana Tok-sim-sin-mo dapat menggaruk begini banyak botoh2 silat ini!

Dengan lirikan matanya Pek Si-kiat mengajak Hun Thian-hi masuk. Begitu berada di dalam didapati oleh Thian-hi, keadaan disini tidak banyak berbeda dengan keadaan dulu, hanya sekarang keadaan di dalam terang benderang ditimpah cahaya sinar mutiara yang diporotkan di atas dinding di berbagai tempat. Tampaknya Pek Si-kiat tidak pedulikan keadaan sekelilingnya, dengan langkah lebar ia beranjak masuk terus ke dalam gua. Akhirnya mereka dibawa masuk ke dalam sebuah kamar batu yang cukup luas dan besar. Setelah seluruh hadirin mengambil tempat duduk, belum lagi Pek Si-kiat sempat membuka mulut menuntut kebebasan Sutouw Ci-ko, Tok-sim-sin-mo sudah membuka suara lebih dulu, katanya, “Samte! Aku punya sebuah barang ingin kuperlihatkan kepada kau!” Tangannya bertepuk dua kali.

Pek Si-kiat dan Hun Thian-hi sama heran, entah Tok-sim-sin-mo sedang main sandiwara apa! Segera mereka mendapat jawaban, tampak sebuah dinding di depan sana pelan-pelan terbuka, seorang berpakaian hijau segera keluar menyanggah sebuah kotak besi panjang dipersembahkan ke hadapan Tok-sim-sin-mo,

Dengan berseri tawa Tok-sim-sin-mo meraih kotak besi itu terus dibuka, dari dalamnya ia menjemput keluar sebilah pedang panjang, pedang dan sarungnya lantas ia angsurkan kepada Pek Si-kiat serta katanya, “Samte! Coba kau periksa, inilah pedang pusaka yang baru saja kusuruh orang membuatnya, bagaimana menurut penilaianmu?”

Berdetak jantung Pek Si-kiat, kiranya Tok-sim-sin-mo mampu cari seorang ahli untuk membuatkan pedang pusaka, sekarang diperlihatkan pada dirinya pula, entah kemana maksud juntrungannya.

Dengan kedua belah tangannya pelan-pelan Pek Si-kiat melolos pedang itu keluar, baru saja separo diantaranya tercabut selarik sinar kemilau yang menyilaukan mata memancar keluar dari batang pedang itu. Begitu melihat cahaya berkilau yang menyilaukan mata ini kontan Pek Si-kiat berjingkrak kaget, otaknya lantas teringat akan seseorang, tanpa merasa mulutnya lantas berseru, “Ling-lam-kiam-ciang!” hatinya menjadi was-was bila pandai pedang dari Ling-lam ini kena dipelet oleh Tok-sim-sin-mo, sungguh akibatnya sukar dibayangkan.

Terdengar Tok-sim-sin-mo terkekeh-kekeh dingin, ujarnya, “Benar-benar. Ling-lam-kiam-ciang Coh Jian-jo memang berada disini, oleh karena itu kau tidak perlu takut lagi bukan!”

Hun Thian-hi juga ikut kaget. Tiada seorang pun kaum persilatan yang tidak tahu dan kenal akan seorang pandai pedang yang kenamaan macam Coh Jian-jo dari Ling-lam ini. Bukan saja ia pandai membuat pedang, iapun pandai membuat bermacam2 senjata tajam lainnya yang hebat, beliau merupakan seorang jenius dari kaum Bulim. Tapi konon sudah ratusan tahun lamanya menghilang dan tidak pernah membuat lagi senjata tajam, bila sekarang dia masih hidup usianya paling tidak sudah mencapai seratus lima puluh tahun, siapa nyana sekarang ahli pedang itu kena dipelet oleh Tok-sian-sin-mo.

Pek Si-kiat bungkam tak bersuara, hatinya semakin mencelos. seperti yang dikatakan Bing- tiong-mo-tho tak perlu takut lagi menghadapi Pan-yok-hian-kang kiranya beginilah kenyataannya Kalau begitu pasti Tok-sim-sin-mo sudah memperoleh sebuah alat senjata yang jahat dan ganas dapat memecahkan ilmu Pan-yok-hian-kang itu. Kalau ini benar-benar maka Hun Thian-hi tidak akan mampu bertahan mengandal Pan-yok-hian-kang latihannya itu menang atau kalah menjadi sulit diperkirakan lagi.

Terdengar Tok-sim-sin-mo mendesak, “Samte! Sampai detik ini apa pula yang perlu kau pertimbangkan?”

Pek Si-kiat menunduk berpikir sebentar, mendadak ia angkat kepala serta katanya: Dimana Sutouw Ciko sekarang?’ “Samte!” ujar Tok-sim-sin-mo, “Kulihat sikapmu sekarang tidak sewajar dulu lagi. Apa kau belum tahu tabiatku? Dari sikapmu ini jelas kau masih tidak rela bekerja sama dengan aku. sebetulnya apakah sebabnya?”

Pek Si-kiat tertawa tawar, sahutnya, “Kau tak perlu tanya soal ini. Coh Jian-jo sudah berada disini, apa pula yang perlu kau takuti? Kaupun tidak perlu menarik diriku supaya bantu kau lagi!”

“Kukira soal apa, kiranya soal sepele ini.” ujar Tok-sim-sin-mo tertawa, “Watakmu seperti dulu, diantara kita bertiga hanya kaulah yang paling kupercayai, soal ini tiada halangannya kujelaskan kepada kau. Siapapun tiada yang kutakuti, tapi aku dapat membatasi diri tidak melebarkan sayapku keluar perbatasan dan juga tidak mencari perkara pada pihak Siau-lim, apa kau tahu apa sebabnya?”

Pek Si-kiat juga tahu tabiat Tok-sim-sin-mo, maka ia mandah diam saja, terdengar orang melanjutkan kata-katanya, “Ang-hwat dia tidak akan mau dengar kata-kataku. Kau tahu tabiatku. lebih baik aku tidak mencari perkara pada pihak Siau-lim dan Ce-hun sitojin kerdil itu, tapi aku tidak akan membiarkan Ang-hwat bersimaharaja, sekarang diapun tengah mengumpulkan banyak kaki tangannya, tujuannya hendak mendirikan sebuah aliran yang bertentangan dengan pihak kami.”

Pek Si-kiat tertawa, katanya, “Ya, tapi bagi kau dia tidak lebih seperti seekor lalat belaka yang dapat ditimpuk mati.”

Tok-sim-sin-mo menyeringai iblis, ujarnya, “Seluk beluk soal ini belum kau ketahui, meskipun aku tidak gentar menghadapi dia, tapi Hwe-tok-kun sekarang sedang membantu dia.”

Thian-hi tersentak kaget. Hwe,tok-kun bukankah nama lain dari Mo-bin-suseng? Hampir dia berjingkrak bangun, setiap kali mendengar nama Mo-bin-suseng, darahnya lantas bergolak dirongga dadanya.

Dengan kalem Pek Si-kiat manggut-manggut. setelah berpikir sebentar ia berkata, “Darimana kau toako tahu bahwa Hwe-tok-kun sedang membantu usaha Ang-hwat?”

Tok-sim-sin-mo terkekeh kering. ujarnya, “Kalau bukan dia yang bergerak di belakang layar pasti Ang-hwat sudah tergenggam dalam telapak tanganku,” lalu ia awasi Pek Si-kiat, sambungnya, “Samte! Kau tahu maksudku bukan?”

Pek Si-kiat maklum bahwa Tok-sim-sin-mo mengharap dirinya suka bergabung dalam komplotannya untuk menghadapi Hwe-tok-kun. maka dengan tertawa ewa ia menyahut, “Aku takkan mampu bantu kau menyelesaikan persoalan ini.”

“Apa betul?” dengus Tok-sim-sui-mo sembari bergegas bangun. kedua biji matanya memancarkan cahaya berkilat mengandung hawa membunuh.

“Aku punya kepentinganku sendiri yang harus segera kuselesaikan. Sekarang aku sedang menjelajahi jejak Ji-ci. masa kau sendiri kau tidak pikirkan dia?”

Lekat-lekat Tok-sim-sin-mo awasi Pek Si-kiat, sesaat kemudian, baru berkata, “Kiranya kaupun tahu soal itu, akupun tidak perlu menjelaskan lagi. Ketahuilah kupanggil kau tujuanku justru supaya menghadapi dia. Sekarang tentu dia sedang giat memperdalam ilmu Hian-thian-mo-kip untuk menghadapi aku. Kalau kau tinggal disini pasti dapat mencarinya, bukankah malah meringankan bebanmu!” “Tidak, aku tidak sudi melakukan kejahatan lagi. Malah aku sudah menyesal akan perbuatanku yang penuh noda dulu!”

Terpancang pandangan heran dari biji mata Tok-sim-sin-mo, sesaat kemudian ia bergelak tawa serunya, “Kau sudah menyesal? Kenapa kau harus menyesal? Apa tidak terlambat kau menyesal sekarang?”

Kata Pek Si-kiat menghela napas, “Bila kau anggap antara kau dan aku masih punya hubungan persaudaraan, aku harap kau suka menyerahkan Sutouw Ci-ko kepadaku sekarang juga!”

Tok-sim sin-mo rada melengak, dengan pandangannya berkilat ia menyapu seluruh hadirin lalu berkata, “Kau minta aku menyerahkan sekarang juga dihadapan sekian banyak orang?” terdengar hidungnya mendengus lalu melanjutkan, “Memang hubungan kami seperti saudara sekandung layaknya, bila hanya kepentinganku seorang tentu segera kuserahkan Sutouw Ci-ko kepadamu, tapi soalnya sekarang berlainan, urusan umum harus diselesaikan secara umum, kecuali kau masuk menjadi anggota kumpulan kita, kalau tidak aku tidak bisa mementingkan urusan pribadi mengingkari kepentingan umum.”

Pek Si-kiat tertawa sinis, ia pandang Hun Thian-hi sebentar lalu menyapu pandang semua orang yang hadir, katanya pula, “Apakah urusan ini tiada kompromi lagi?”

Tiba-tiba Tok-sim-sin-mo terbahak-bahak, ujarnya, “Begitupun baik, berpisah selama lima puluh tahun, ingin aku melihat sampai dimana kemajuan ilmu silat Samte selama ini?”

Habis berkata dengan lirikan matanya ia pandang Bing-tiong-mo-tho. Bing-tiong-mo-tho segera bangkit dan berseru kepada Pek Si-kiat, “Sukong Ko ingin mewakili Pangcu mohon pengajaran kepada Pek-heng!”

Pek Si-kiat bersikap tenang, sembari menyeringai pelan-pelan ia bangkit, tapi Thian-hi yang berada disampingnya juga melonjak bangun. katanya, “Paman Pek, untuk gebrak ini biarlah aku saja yang turun gelanggang!”

Sebentar Pek Si-kiat pandang Hun Thian-hi, ia tahu kepandaian dan kemampuan Hun Thian-hi jauh mencukupi untuk menghadapi musuh, maka dia manggut-manggut lalu mundur dan duduk kembali.

Sementara Tok-sim-sin-mo malah pandang Hun Thian-hi dan Pek Si-kiat bergantian dengan perasaan aneh dan heran. Adalah Bing,tiong-mo-tho yang berjingkrak gusar, serunya, “Selamanya Sukong Ko belum pernah lihat ada orang berani kurang ajar memandang rendah diriku!”

Hun Thian-hi mandah tersenyum manis, ujarnya, “Aku bernama Hun Thian-hi, tidak lebih sebagai Wanpwe, angkatan muda!” Lalu ia memutar menghahadapi Tok-sim-sin-mo. katanya pula, “Bila Sukong Ko dapat kukalahkan, apakah Pho-pangcu rela menyerahkan Sutouw Ci-ko kepada kami?”

Hati Tok-sim-sin-mo rada was-was, biji matanya berjelilatan, katanya, “Jadi maksudmu kau ingin main taruhan dalam pertandingan babak pertama. ini?”

Hun Thian-hi mandah tersenyum saja tanpa bersuara.

Kata Tok-sim-sin-mo lagi, “Apa yang kau taruhkan dalam pertandingari ini?” Baru saja Thian-hi mau buka mulut. dari belakang Pek Si-kiat sudah keburu bicara, “Bila dia kalah, kami berdua suka masuk menjadi anggota. Kau dengar, kami akan bekerja demi kepentinganmu!”

“Bagus!” teriak Tok-sim-sin-mo menepuk paha. “Aku terima syarat pertandingan ini, bila kau yang menang, Sutouw Ci-ko segera kuserahkan. tapi bila kalah kalian harus menepati janji dan harus tunduk pada perintahku!”

Bing-tiong-mo,tho Sukong Ko beranggapan kepandaiannya cukup lihay dan berkedudukan tinggi pula, kecuali beberapa tokoh silat kosen jaman ini yang ditakuti hanya beberapa orang saja. ia tidak pernah tunduk pada siapapun juga, sekarang justru harus berhadapan dengan Hun Thian- hi yang dianggap masih pupuk bawang, keruan hatinya murka sekali.

Dengan pandangan berapi-api ia pandang Pek Si-kiat sembari menggerung geram, ia sangka Pek Si-kiat sengaja memajukan Hun Thian-hi untuk mempermainkan dan menghina dirinya.

Bahwasanya ia tidak pandang Hun Thian-hi sebelah matanya….

Sambil menyungging senyum lebar pelan-pelan Hun Thian-hi beranjak masuk gelanggang, sikapnya tenang tanpa gentar. Diam-diam Tok-sim-sin-mo terkejut dan tak habis herannya, melihat kewajaran sikap Thian-hi. seolah-olah ia punya pegangan untuk memenangkan gebrak pertama ini. Sebaliknya tampak sikap congkak Bing-tiong-mo-tho yang berkelebihan, tanpa merasa sanubarinya mendapat firasat jelek, seakan-akan Bing-tiong-mo-tho jelas bakal kalah. Ia heran kenapa dia bisa punya pikiran demikian, memang kepandaian antara Hun Thian-hi dan Bing-tiong- mo-tho dalam pandangannya terpaut antara bumi dan langit. Hun Thian-hi tidak akan kuat bertahan, sekali pukul.

Begitu Hun Thian-hi memasuki gelanggang Bing Cong-mo-tho lantas menggeram keras seperti harimau kelaparan, mendadak tubuhnya berkelebat menubruk maju seraya mencengkeram dengan cakar tangan kanannya. Gebrak pertama ini ia sudah lancarkan kepandaian khususnya yang sangat dibanggakan yaitu Jian-yu-mo-jiu (cakar iblis beribu bayangan), maksudnya sekali cengkeram ia hendak membuat Thian-hi sebagai kelinci, makanan empuk yang dapat dibuat permainan, tindakannya ini bukan saja supaya Pek Si-kiat tahu bahwa dirinya tidak gampang dihina dan dipermainkan, tujuan yang utama adalah hendak memperlihatkan kepandaian silatnya sejati.

Gerakannya ini memang cepat luar biasa, telak sekali cengkeramannya ini mengenai pundak Hun Thian-hi. Tampak biji mata Hun Thian-hi memancarkan sinar aneh, diam-diam ia menerawang situasi yang tidak menguntungkan ini, maka harus menyelesaikan pertandingan babak pertama ini secara kilat, maka Pan-yok-hian-kang segera dikerahkan tanpa berkelit lagi.

Begitu tangannya kena mencengkeram pundak orang, kontan berubah airmuka Bin-tiong~mo- tho Sukong Ko, terpancang rasa heran dalam sorot matanya, begitu kelima jarinya mencengkeram seketika terasa tangannya kesemutan tak mampu mengerahkan tenaga. Keruan bukan kepalang kejutnya. Kiranya pemuda yang dihadapi ini membekal ilmu sakti yang hebat sekali, sungguh aku terlalu memandang ringan padanya!

Dasar ingin menangnya sendiri sedikitpun ia tidak gentar atau mumdur teratur, sambil mendengus ia kerahkan seluruh kekuatannya dikelima jarinya untuk mencengkeram lebih keras, pikirnya kecuali Ka-yap Cuncia. tiada seorang pun yang akan mampu bertahan dari cengkeraman jarinya yang lihay seperti jepitan tanggem besi ini.

Dalam pada itu Thian-hi kerahkan seluruh Lwekangnya untuk bertahan, memangnya iapun rada memandang ringan pada Bing-tiong-mo-tho, apalagi Cian-kin-hiat dipundak kena dicengkeram, seolah-olah sipenunggang harimau yang sulit turun. terpaksa ia harus melawan dengan segala kemampuannya. sebab ia harus menang dalam pertandingan babak pertama ini.

Tampak Tok-sim-sin-mo mengunjuk rasa kaget dan tak habis herannya, kehebatan Lwekang Thian-hi benar-benar diluar perhitungannya semula. yang lebih mengejutkan hatinya lagi justru dari tubuh Hun Thian-hi yang berdiri sekokoh gunung itu seolah-olah terbayang duplikat Ka-yap Cuncia yang sangat ditakuti itu. Bukankah Lwekang yang dikerahkan itu adalah Pan-yok-hian-kang yang diandalkan Ka-yap Cuncia untuk malang melintang dan menjagoi dunia persilatan dulu?

Sekian lamanya kedua belah pihak bertahan berdiri seperti tonggak kayu, kedua musuh ini sama tokoh kosen ahli Lwekeh yang lihay, adanya adu kekuatan tenaga dalam ini membuat seluruh hadirin menonton dengan jantung berdebar dan menahan napas, keadaan ruang batu itu menjadi sunyi senyap.

Entah berapa lama berselang, mendadak Hun Thian-hi menjebir bibir bersuit lirih pendek. dimana kelihatan pundaknya sedikit bergerak terdengarlah suara “Duk!” yang keras kontan badan Bing-tiong-mo-tho yang tinggi besar itu terpental jauh tiga empat tombak terus terbancng roboh dan berkelejetan, Banyak orang segera merubung maju memajang Bing-tiong-mo-tho ke dalam untuk diobati.

Pundak kiri Thian-hi sendiri juga terasa sakit dan kesemutan lekas-lekas ia menyedot napas lalu mengerahkan hawa murninya untuk memulihkan kesegaran badannya. Pek Si-kiat mengunjuk seri tawa lebar, ia sangat bangga akan hasil kemenangan Hun Thian-hi…. dengan tersenyum sinis ia pandang Tok-sim-sin-mo.

Tok-sim-sin-mo menggeram gusar, tanyanya kepada Hun Thian-hi, “Apa hubunganmu dengan Ka-yap? Dimana dia sekarang?”

Lihay benar-benar Tok-sim-sin-mo ini, demikian pikir Thian-hi dengan kaget. Namun lahirnya ia tetap tenang, sahutnya tawar, “Soal ini dibicarakan nanti. yang terang aku sudah menang lekas kau serahkan dulu Toaciku!”

Tok-sim,sin-mo menyeringai iblis, jengeknya, “Hari ini bila kalian tidak masuk menjadi anggota, untuk meninggalkan tempat ini. sesulit memanjat langit!”

Pek Si-kiat berjingkrak bangun, pedang pusaka ditangannya diangsurkan kepada Thian-hi, serunya, “Jadi kau mau ingkar janji?”

“Samte!” teriak Tok-sim-sin-mo mendongak sambil terbahak-bahak, “Kau sangka aku gentar oleh sebatang pedang pusaka itu? Aku berani memperlihatkan pedang pusaka itu kepada kau sebelum kalian menentukan haluan, sudah tentu aku punya cara untuk mengatasi dan menundukkan Kamu berdua!”

Pek Si-kiat berdua bungkam.

“Kau harus tahu!” sambung Tok-sim-sin-mo, “kenapa aku angkat nama dengan Hek-liong-pang!

— Lalu ia terkekeh-kekeh dingin sambil menyapu pandang keseluruh hadirin.

“Seumpama kau punya tipu daya yang keji kamipun tidak perlu gentar.” demikian ujar Pek Si- kiat,

“Kau tahu watakku, apa yang hendak kulakukan kecuali aku lepas tangan, kalau tidak aku tidak merubah haluan sebelum tujuanku tercapai!” Tok-sim-sin-mo tertawa kering dua kali, katanya kepada Hun Thian-hi, “Aku tahu tentu kau pernah bertemu dengan Ka-yap. malah mendapat pelajaran. ilmu saktinya, namun semua pengalaman itu akupun tidak perlu main selidik lagi. Bila kau mau masuk anggota, kami tidak akan menyia-nyiakan bakat dan segala kemampuanmu. Apalagi Sutouw Ci-ko masih berada ditanganku, mau atau tidak, kau harus pilih satu diantaranya. Kalau kau benar-benar keras kepala dan tidak mau, aku kuatir kelak kau akan menyesal!”

Hun Thian-hi tersenyum manis. katanya, “Setelah kau tahu aku sebagai ahli waris Pan-yok- hian-kang, maka tiada halangannya kita bicara secara blak2an saja. Kau sebagai Pangcu, aku menuntut supaya Sutouw Ci-ko segera kau lepaskan, soal masuk jadi anggota, saat ini aku tidak suka membicarakannya, karena kurasa pembicaraan ini tidak akan menguntungkan.”

Lalu bagaimana menurut maksudmu?” semprot Tok-sim-sin-mo dengan mata berapi-api.

“Pak-yok-hian-kang cukup berkelebihan untuk menggetarkan Bulim,” ujar Thian-hi sinis, “Hek- liong-pang kalian mengundang aku masuk menjadi anggota, dengan apa kalian hendak melemaskan hatiku?”

“Samteku menjabat wakil Pangcu, sedang kau bagaimana kalau kuangkat menjadi kepala dari empat pelindung kumpulan?”

Hun Thian-hi menggeleng dengan menjebir bibir. jengeknya, “Bila demikian tawaranmu ini terlalu merendahkan derajatku, tidak sukar kau undang aku menjadi anggota, asal kau mau serahkan kedudukan Pangcu kepada aku!”

Tok-sim-sin-mo mendongak tertawa menggila, serunya, “Sombong benar-benar, kau belum pernah lihat dan menjajal kekuatan Hek-liong-pang kami, bukankah kau mengandalkan Pan-yok- hian-kang yang tiada tandingannya di Bulim? Akan kupertunjukkan kepada kalian betapa hebat dan lihaynya, Pek-tok-kek-liong-ting! (paku naga hitam beratus racun)” — lalu ia ulapkan sebelah tangannya empat orang berpakaian seragam hitam segera muncul, tangan masing-masing membawa selaras besi hitam, langsung diarahkan kepada mereka berdua.

Pek Si-kiat kaget bukan main, dengan tajam ia pandang keempat orang itu.

Ia tahu Pek-tok-hek-liong ting khusus untuk memecahkan Lwekang aliran Lwekeh yang terhebat, cara pemhuatannya sangat sukar, ratusan tahun yang lalu senjata macam ini sudah lenyap dari percaturan dunia persilatan. Sekarang mendadak muncul disini. jikalau Ling-lam-kiam- ciang Coh Jian-jo berada disini, tentu Tok-sim mampu membuat senjata jahat ini, tapi untuk membuat laras senjata ini diperlukan Besi murni laksaan tahun, entah dari mana Tok-sim-sin-mo mampu memperoleh bahan bakunya yang sulit didapat ini.

“Dalam dunia ini tokoh mana yang mampu melawan Pek-tok-hek-liong-ting? Pan-yok-hian-kang memang ilmu sakti yang tiada taranya, namun mana bisa melawan kehebatan Pek-tok-hek-liong- ting.

Pek Si-kiat menggeram gusar, serunya, “Jangan kau kira setelah memiliki Pek-tok-hek-liong-ting lantas kau dapat malang-melintang bersimaharaja. Apakah senjatamu itu tulen atau tiruan belum diketahui, bila benar-benar, kaupun akan kena ditumpas oleh seluruh kekuatan kaum persilatan!”

Tok-sim-sin-mo tertawa besar, ujarnya, “Kau sangka senjataku itu tiruan? Kiu-thian-ham-giok merupakan bahan terpilih yang paling cocok untuk membuat Pek-tok-hek-liong-ting. Apalagi kekuatanku sedemikian besar ini masa takut ditumpas kaum persilatan apa segala?” Hun Thian-hi berpikir sebentar lalu menyela bicara, “Dalam kehidupan di dunia ini terdapat dua unsur positip dan negatif yang saling berlawanan. Kau sangka Hek-liong-tingmu ini tiada benda lain yang dapat mengatasinya?”

“Kau hendak mencari tahu? Sayang tiada suatu benda apapUn yang dapat mengatasinya.

Dalam tempo sesulutan batang hio kuberikan kesempatan pada kalian untuk berpikir memberikan keputusan kalian.” dari samping sana seorang menyulut hio lalu ditancapkan di atas meja.

Thian-hi harus berpikir secara cermat, mencari jalan untuk mengatasi situasi yang gawat ini, namun sesaat lamanya ia tidak memperoleh jalan keluar untuk menghadapi Tok-sim-sin-mo.

Sementara Pek Si-kiat sendiri pejamkan mata tanpa berkata-kata, ia mengandal kecerdikan otak Thian-hi, entah punya cara apa yang sempurna, buat dia sendiri tiada punya pegangan.

Tak lama kemudian batang hio itu sudah terbakar separo, Thian-hi lantas buka suara kepada Tok-sim-sin-mo, “Apakah benar-benar Hek-liong-ting kalian bisa memecahkan segala Lwekang aku belum tahu, dengan cara ancamanmu ini kau hendak menarik kami menjadi anggota, kukira kalian bertindak kurang bijaksana.”

“Jadi maksudmu kau ingin tahu kekuatan Hek-liong-ting ini lebih dulu?” “Begitulah maksudku!”

Pek Si-kiat membuka mata, dia heran kenapa Thian-hi begitu gegabah, masa Hek-hong-ting dianggap barang mainan yang boleh dicoba apa segala, seumpama pedang pusaka atau senjata tajam lainnya juga tiada kemungkinan mematahkannya.

“Begitupun baik,” seru Tok-sim-sin-mo terloroh-loroh, “Aku sendiri juga belum tahu apakah Hek-liong-ting dapat memecahkan Pan-yok-hian-kang, melalui percobaan ini ingin aku saksikan ilmu saktimu yang hebat itu, terlebih penting akan kuketahui betapa lihay Hek-liong-ting milik kita ini!”

“Tapi cara bagaimana mencobanya?”

“Gampang saja. Hek-liong-ting seluruhnya ada tujuh batang, kusuruh keempat orang itu bergantian menyerang kepadamu, kau boleh melawan dengan Pan-yok-hian-kangmu.”

“Cara ini tidak bisa dilaksanakan!” dengus Pek Si-kiat. Dia tahu akan kelicikan pihak lawan, bila Thian-hi benar-benar tak kuasa bertahan, bukankah bakal menjadi korban secara konyol.

“Kenapa? Kalau tidak begitu cara bagaimana pula?”

Hun Thian-hi tertawa tawar, ujarnya, “Paman Pek, cara ini memang cukup baik, kau tidak perlu kuatir padaku!”

Dengan sorot heran dan tak mengerti Tok-sim-sin-mo pandang wajah Thian-hi, Hun Thian-hi berani mempertaruhkan jiwanya untuk percobaan yang berbahaya ini. Bagi perhitungan Hun Thian-hi bila dia berhasil memunahkan serangan Kek-liong-ting lawan, nyali Tok-sim-sin-mo tentu ciut dan gentar menghadapi dirinya, serta menyerahkan Sutouw Ci-ko. Seumpama dirinya yang kalah, dirinya tidak akan hidup lama lagi, maka sasaran utama bagi musuh adalah dirinya, meski harus ajal di bawah paku naga hitam yang jahat ini, betapapun Pek Si-kiat harus berkesempatan meloloskan diri dari sarang iblis ini.

Tok-sim-sin-mo menggeram, dalam hati ia mencemooh, “Anak muda, kau terlalu congkak!” Bahwasanya ia tahu bahwa Hun Thian-hi tidak akan mampu melawan Hek-liong-ting, namun betapapun ia tidak mau kehilangan kesempatan paling baik yang sukar dicari ini.

Pelan-pelan Hun Thian-hi maju ke tengah gelanggang, pedang disarungkan di dalam serangkanya, terkilas olehnya akan Wi-thian-cit-ciat-sek, tergeraklah hatinya, bila Hek-liong-ting benar-benar khusus untuk memecahkan ilmu Lwekang, kenapa aku tidak gunakan saja Wi-thian- cit-ciat-sek untuk memenangkan percobaan ini? Seumpama gagal juga tidak menjadi soal, apalagi Wi-thian-cit-ciat-sek merupakan ilmu pedang dari aliran Lwekeh yang tiada taranya, apakah benar- benar tidak mampu bertahan dari serangan Pek-tok-hek-liong-ting?

Melihat Thian-hi menunduk memandangi pedang di tangannya, seperti sedang memikirkan apa- apa, Tok-sim-sin-mo mengejek dingin, “Kau menggunakan pedang juga boleh, tapi kukuatir Hek- liong-ting tidak semudah itu dapat ditangkis atau dilawan!”

Dengan tangannya Thian-hi obat-abitkan pedangnya sambil tertawa tawar tanpa bersuara. “Kau sudah siap belum?” tanya Tok-sim-sin-mo.

Hun Thian-hi angkat kepala, dengan pandangannya yang tajam ia awasi seluruh hadirin, lalu manggut pelan-pelan.

Tok-sim-sin-mo menyeringai iblis seperti serigala yang kelaparan bakal menggares mangsanya, biji matanya berkilat mengandung hawa membunuh. Dalam angan2nya, Hun Thian-hi segera bakal mati konyol di hadapannya….

Pelan-pelan ia sedikit angkat tangannya, salah seorang seragam hitam yang berdiri paling kanan segera angkat longsong besinya serta memijatnya, “cret” setabur sinar hitam kontan melesat keluar, seluruhnya menerjang ke depan dada Hun Thian-hi.

Sejak menelan buah ajaib jasmani Hun Thian-hi luar biasa melebihi orang bjasa. maka ia menjadi terkejut waktu melihat Pek-tok-hek-liong-ting melesat mengarah dirinya. Dalam sekilas pandang saja ia melihat jelas formasi ketujuh Hek-liong-ting yang menerjang datang ini begitu sempurna dan lihay benar-benar, yang membuatnya terkejut adalah formasinya yang mengincai berbagai tempat, mungkin tiada seorang tokoh kosen dari Bulim yang mampu terhindar dari incaran Hek-liong-ting yang ganas ini. Seumpama SitUa Pelita yang mengagulkan ilmu Gin-kang yang tiada keduanya dijagat ini juga takkan mampu menyelamatkan diri.

Sementara itu laksana kilat ketujuh paku naga hitam itu, sudah meluncur tiba, tiada tempo lagi bagi Hun Thian-hi untuk berpikir. lekas-lekas ia angkat tangan kiri menepuk ke depan, ia kerahkan Pan-yok-hian-kang menyongsohg kedatangan ketujuh Hek-liong-ting itu dengan pukulannya.

Baru saja Thian-hi melancarkan pukulannya lantas dia merasa firasat jelek, tampak olehnya ketujuh Hek-liong.ting itu masih menerjang tiba dengan kecepatan yang ada, sedikitpun tidak menjadi terhalang atau menyimpang dan merandek oleh tenaga pukulan Thian-hi tadi. Sebat sekali Thian-hi menggeser mundur seraya mengayun tangan, tahu-tahu pedang pusaka sudah berada ditangannya terus membalik ke depan, dengan jurus gelombang perak mengalun berderai salah satu jurus dari Gin-ho-sam-sek ia tangkis ke depan, cahaya pedangnya yang gemerdep segera mengurung luncuran senjata rahasia musuh.

Ketujuh paku naga hitam itu seperti terhenti sekilas ditengah udara, namun lantas meluncur maju lagi dengan kekuatan yang sama. Apa boleh buat terpaksa Thian-hi lancarkan Wi-thian-cit- ciat-sek dengan tujuan men-coba-coba. Dengkul ditekuk tubuhnya rada mendak kebawah pedang panjangnya lantas teracung miring ke depan, dimana pedangnya sedikit bergerak beberapa mili saja, (gerak pedang yang hanya beberapa mili ini sulit diikuti oleh pandangan mata) ia sudah kerahkan seluruh Lwekangnya. seketika hawa pedang mengembang memenuhi udara sekitar gelanggang, benar-benar juga usahanya ternyata berhasil, ketujuh paku naga hitam beracun itu kena terhalang.

Keruan girang hati Thian-hi, dengan kekuatan hawa pedangnya ia bermaksud menghancur leburkan semua paku2 beracun itu, namun begitu pedangnya berputar terdengarlah suara Trang- tring yang ramai, terasa olehnya bahwa ketujuh paku itu adalah sedemikian keras pedangnya tak berhasil mematahkannya. Sudah tentu kejut sekali hatinya, sembari bersuit nyaring cepat ia putar pedangnya pula menyapu jatuh ketujuh Hek-liong-ting itu tercerai berai di atas lantai….

Tok-sim-sin-mo kaget bukan main, tanpa kuasa ia melonjak bangun seraya berteriak, “Itulah Wi-thian-cit-ciat-sek!”

Waktu pertama melihat Hun Thian-hi tidak berhasil melumpuhkan luncuran paku naga hitam musuh, berubah airmuka Pek Si-kiat. Kini dilihatnya Thian-hi berhasil menyapu rontok seluruh paku berbisa dan ganas itu, keruan bukan kepalang senang hatinya, dengan suara lantang iapun berteriak, “Benar-benar, itulah Wi-thian-cit-ciat-sek. Dalam kotong langjt ini siapapun yang mampu melawan Wi-thian-cit-ciat-sek?”

Tok-sim-sin-mo menggeram gusar, matanya berapi-api. Dilihatnya Thian-hi berdiri tegak lurus dengan gagahnya pelan-pelan menyarungkan kembali pedangnya. tanpa merasa hatinya menjadi gentar dan kuncup nyalinya. Sekali sapu Thian-hi dapat menyampok runtuh senjata rahasia yang paling dibanggakan ini. mungkin Wi-thian-cit-ciat-sek benar-benar sudah sempurna dilatihnya, betapapun dirinya bukan tandingannya, bagaimana tindakan selanjutnya? Ia menjadi bingung.

Tapi tidak terpikir olehnya bahwa latihan Wi-thian-cit-ciat-sek Thian-hi justru belum sempurna, sebelumnya tadi ia sudah lancarkan Pan-yok-hian-kang dan sejurus Gin-ho-sam-sek. sehingga daya luncuran Hek-liong-ting yang keras dan cepat itu kena dipunahkan seoagian besar, begitu ia lancarkan sejurus Wi-thian-cit-ciat-sek dengan sendirinya mudah sekali ia rontokkan seluruh Hek- liong-ting itu. Bila Tok-tim-sin-mo tadi memberi perintah pada anak buahnya supaya menyerang bergantian, betapapun tinggi kepandai Hun Thian-hi tidak akan lolos dari renggutan elmaut, dan kelak ia akan benar-benar dapat menjagoi dan bersimaharaja di seluruh dunia persilatan.

Justru karena kagetnya ini sehingga otak Tok-sim-sin-mo tidak dapat berpikir secara jernih, sesaat lamanya ia tak kuasa buka suara, entah berapa lama kemudian baru ia berkata, “Kalau begitu, akupun tidak akan memaksa kalian masuk anggota lagi, Sutouw Ci-ko akan kuserahkan kepada kalian!”

Thian,hi dan Pek Si-kiat menjadi girang.

“Tapi ada syaratnya!” demikian tambah Tok-sim-sin-mo.

Pek Si-kiat mendengus, jengeknya, “Syarat apa? Apa kau mampu melawan Wi-thian-cit-ciat- sek? Ketahuilah Pek-tok-hek-liong-ting tidak lebih sebagai barang rongsokan belaka!”

“Benar-benar. memang aku tidak kuasa melawan Wi-thian-cit-ciat-sek.” Tok-sim-sin-mo mengakui terus terang. “Tapi ingat Sutouw Ci-ko masih berada ditanganku, masa kalian berani mengusik-usik kepada aku?”

Pek Si-kiat terbungkam. Dia tahu tabiat Tok-sim-sin-mo, bila ia sudah nekad segala apapun berani dilakukan, seumpama gugur bersamapun akan dia lakukan, dalam keadaan yang mendesak dan genting ini terpaksa ia harus berlaku sabar dan mengalah, maka katanya, “Coba kau katakan dulu syarat apa yang kau ajukan?” “Paling tidak sampai pada detik ini, setelah aku menyerahkan Sutouw Ci-ko, diantara kita tiada ikatan permusuhan dan dendam sakit hati lagi. Kelak peduli apapun yang kami lakukan, kalian berdua dilarang turut campur dan menghalangi, inilah syaratnya. gampang dan sepele saja apakah kalian mau setuju dan mematuhi syarat yang kuajukan ini?”

Hun Thian-hi berpikir sebentar, ia insaf bahwa situasi tetap gawat dan belum menguntungkan pihaknya, bila ia tidak setuju akan syarat yang diajukan ini, bila Tok sim-sin-mo murka dan nekad, paling-paling kepandaian sendiri setingkat sama Tok-sim belum lagi anak buahnya yang banyak jumlah dan tinggi kepandainnya, akan merupakan tekanan berat juga bagi pihaknya, maka ia berkata, “Tapi bila tindakan kalian merugikan sanak kadang dan para sahabat kita bagaimana?”

“Tidak mungkin! Kalian harus cepat membawa Sutouw Ci-ko meninggalkan Tionggoan, sanak kadang atau teman2 kalian tidak akan kami recoki, bagaimana pendapat kalian?”

Thian-hi berpikir, bila aku mengajukan imbalan yang terlalu rumjt juga belum tentu mereka mau setuju, pula tidak mungkin hanya karena urusan kecil lantas aku mengingkari urusan besar ini, akhirnya ia tertawa mauggut2, ujarnya, “Begitupun baiklah!”“

Melihat Hun Thian-hi begitu wajar dan tanpa curiga sedikitpun menyetujui syarat2 yang diajukan Tok-sim-sin-mo menyeringai tawa lebar, katanya, “Kau harus pegang teguh janji ini, kau tahu aku pernah kau tipu sekali, tempo hari kau tinggal merat sendiri tanpa hiraukan aku lagi, apakah kau masih ingat?”

Berdeguk jantung Thian-hi, sahutnya tertawa, “Kau harus percaya kepada ucapanku sekarang!”

Tok-sim-sin-mo tertawa aneh, katanya, “Segera kuantar Sutouw Ci-ko keluar gua, sekarang kalian boleh keluar dan tunggu diluar.” — habis berkata ia melangkah ke ruang sebelah dan menghilang. Thian-hi berdua keluar diantar anak buah Tok-sim-sin-mo.

Tak lama kemudian tampak Tok-sim-sin-mo beranjak keluar sambil menggusur Sutouw Ci-ko. Begitu melihat Hun Thian-hi Sutouw Ci-ko berteriak kegirangan, “Thian-hi, kau sudah pulang!” — Begitu senang hatinya sampai matanya mengalirkan air mata.

“Mari lekas kita tinggalkan tempat ini!” demikian ujar Thian-hi sambil menggandengnya.

Tok-sim-sin-mo mengunjuk tawa sinis yang aneh, tangannya segera diulapkan, anak buahnya segera menuntun tiga ekor kuda putih, katanya, “Aku tiada punya tanda mata yang harus kuberikan, ketiga ekor kuda ini anggap saja sebagai tanda kenangan.”

Pek Si-kiat rada heran dan bertanya-tanya kenapa Tok-sim-sin-mo hari ini begitu sungkan dan bersikap begitu baik. malah begitu gampang kena diapusi lagi. Siapa pun tahu Hun Thian-hi tidak mungkin mau pegang janjinya yang merugikan itu, tapi orang mau percaya begitu gampang, tentu ada udang dibalik batu. Demikian ia menerawang dan berpikir.

Tok-sim-sin-mo mengangsurkan selempit kertas kepada Hun Thian-hi, katanya, “Setelah meninggalkan tempat ini boleh kau baca surat ini seorang diri!”

Bercekat hati Pek Si-kiat, katanya cepat, “Hun-hiantit, lekas kau lihat, apa yang dia tulis di atas kertas itu?”

Tanpa bersuara Thian-hi awasi Tok-sim-sin-mo dengan pandangan berkilat. pelan-pelan ia membuka lempitan kertas itu. Terdengar Tok-sim-sin-mo tertawa dingin, mendadak tubuhnya berkelebat menghilang kedalaan gua. Begitu melihat apa yang tertulis di atas kertas itu, sejenak Hun Thian-hi melengak dan terlongong, lalu ia meremas hancur kertas itu dengan tangan kanannya, katanya kepada Pek Si- kiat dan Sutouw Ci-ko, “Mari lekas berangkat!”

Melihat perobahan sikap Hun Thian-hi yang mendadak ini, Pek Si-kiat dan Sutouw Ci-ko berbareng mengajukan pertanyaan, “Apa yang tertulis dalam kertas tadi?”

Thian-hi menunduk sambil tertawa tawar, sahutnya, “Tiada persoalan bagi kalian!” mulutnya bicara begitu, namun jelas ia mengetahui bahwa urusan bakal berlarut-larut berkepanjangan, karena surat itu berbunyi;

“Sutouw Ci-ko sudah menelan Pek-tok-hoan (pil seratu5 bisa) setiap tahun pada pertengahan musim rontok, datanglah mengambil obat penawarnya….”

Hun Thian-hi punya perhitungan, bila sekarang dia bersikap keras dan bermusuhan menghadapi Tok-sim-sin-mo, pihak sendiri terang tidak unggulan, dan pada pihak sendiri yang bakal konyol lebih baik bersabar dan main ulur waktu sembari menyempurnakan Wi-thian-cit-ciat- sek sebelum Tok-sim-sin-mo menyadari bahwa latihan Wi-thian-cit-ciat-seknya belum sempurna ia harus cepat-cepat meninggalkan daerah yang penuh ancaman mam bahaya ini. Maka segera ia keprak kudanya serta berseru kepada mereka berdua, “Kita keluar dulu dari Giok-bun-koan baru bicara lagi lebih lanjut!” — dalam bicara ini kudanya sudah dibedal sekencang angin.

Terpaksa Sutouw Ci-ko dan Pek Si-kiat mengikuti jejak Thian-hi, merekapun mencongklang tunggangannya secepat angin pula, debu mengepul tinggi memenuhi angkasa. Sekejap saja mereka sudah pergi jauh dan tidak kelihatan lagi.

Sementara itu Tok-sim-sin-mo sedang termenung memikirkan keadaan Hun Thian-hi, lambat laun timbul rasa kecurigaannya. masa Hun Thian-hi mandah saja mau tinggal pergi begitu saja? Rasanya tidak mungkin, atau mungkinkah dia punya urusan penting lainnya. sehingga harus cepat menyusul kesana.

Begitulah ia menepekur dan menerawang adegan yang terjadi tadi, semakin dipikir terasa kejanggalan yang semakin menyolok, dia mendengus lirih, tingkah laku itu Hun Thian-hi terakhir ini sudah membuatnya curiga, maka terbayang pula. gerak-gerik Hun Thian-hi sejak ia memasuki Jian-hud-tong tadi. Mendadak terbayang olehnya waktu Hun Thian-hi melolos pedang, sikapnya rada ragu-ragu dan sangsi. Kontan terpancar sorot “tajam berkilat dari biji matanya, ia berpaling dilihatnya seluruh anak buahnya berdiri tegak meluruskan tangan. Gerak gerik Hun Thian-hi selanjutnya lantas terbayang pula di dalam ingatannya. Akhirnya ia menggerung dengan murkanya, baru sekarang ia paham kenapa Hun Thian-hi bersikap demikian. Adegan Hun Thian-hi menangkis dan menghadapi Pek-tok-hek-liong-ting tadi lantas terhenti dalam bayangannya. jelas kelihatan cara Hun Thian-hi menghadapi serangan itu begitu runyam dan terpaksa. Sungguh sesal dan dongkol dibuatnya kenapa waktu itu dirinya tidak perhatikan jurus permainan Wi-thian-cit- ciat-sek itu sendiri hakikatnya belum begitu sempurna dilancarkan oleh Hun Thian-hi.

Baru sekarang ia sadar justru dirinyalah yang kena tipu malah. Cepat ia berteriak, “Lekas siapkan kuda. Kita kejar Hun Thian-hi bertiga!”

Sebagai salah satu Huhoat (pelindungl Hek-liong-pang Bing-tiong-mo-tho merasa berkewajiban dalam tugas2 berat ini, sejenak ia tertegun lantas berkata, “Mereka sudah berangkat satu jam yang lalu, apakah sekarang masih dapat kecandak?”

Tok-sim-sin-mo melongo, dengan kertak gigi ia berkata, “Lekas kau lepas burung dara! perintahkan Siang-tongcu mencegat dan merintangi mereka, kita segera menyusul tiba. Bagaimana juga aku harus bunuh bocah keparat itu sebelum ia berhasil menyempurnakan Wi- cian-cit-ciat-sek!”

Bing-tiong-mo-tho rada terkejut cepat ia mengundurkan diri melaksanakan perintah, tak lama kemudian merexa sudah mencongklang kuda be-ramai-ramai dibedal menuju ke Giok-bun-koan.

Dalam pada itu Hun Thian-hi bertiga tengah membedal kuda masing-masing cepat-cepat, ditengah jalan ia memperingatkan kepada Pek Si-kiat dan Sutouw Ci-ko, “Tok-sim-sin-mo pasti mengejar datang. Kita harus cepat keluar dari daerah kekuasaannya.”

“Apa yang dia tulis dalam kertas tadi?” tanya Pek Si-kiat.

“Tidak apa-apa. Tok-sim-sin-mo mampu membunuh kami bertiga, kenapa dia tidak akan mengejar? Coba pikir apakah dia bisa menepati janjinya?”

Sebagai seorang kawakan Kangouw, serta mengetahui tabiat Tok-sim-sin-mo, sedikit berpikir lantas Pek Si-kiat maklum akan keadaan yang berbahaya ini. tahu dia kemana juntrungan kata- kata Hun Thian-hi.

Begitulah tanpa berhenti dan tidak mengenal lelah mereka bertiga membedal tunggangan mereka, selama sehari semalam tanpa berhenti istirahat. Untung tujuan Tok-sim-sin-mo semula supaya mereka lekas pergi dan meninggalkan wilajah kekuasaannya, maka kuda yang diberikan pada mereka rata2 adalah kuda pilihan yang dapat lari ribuan li sehari. dalam waktu sehari semalam itu mereka sudah hampir tiba di Giok-bun-koan.

Mereka larikan kudanya berjajar. sebelum memasuki Giok-bun-koan jauh di depan sana tampak jejak musuh telah menanti dan mencegat ditengah jalan. Pek Si-kiat bertiga tidak tahu siapa dan apa tujuan mereka mencegat mereka? Apalagi sudah tiba diambang pintu Giok-bun-koan tidak perlu merasa kuatir yang berkelebihan, segera bersama menghentikan kuda dan menanti kedatangan rombongan musuh.

Setelah dekat baru Pek Si-kiat melihat tegas, diam-diam hatinya bercekat melihat siapa yang menjadi pemimpin rombongan pencegat ini, dia bukan lain Lam-bing-it-hiong Siang Bu-wong.

Nama julukan Lam-bing-it-hiong memang tidak begitu tenar di daerah Tionggoan. Tapi Pek Si-kiat dulu pernah menjajal ilmu silatnya, kepandaian Lam-bing-it-hiong (si durjana dan selatan) tak terpaut jauh dibawahnya. Sekarang Tok-sim-sin-mo sudah melebarkan sayapnya dan menggaruk sedemikian banyak gembong-gembong iblis, Siang Bu-wong adalah satu diantara gembong- gembong iblis itu, betapapun kita harus hati-hati menghadapi mereka, demikian Pek Si-kiat.

Sambil memincingkan mata Lam-bing-it-hiong Siang Bu-wong menyapu pandang mereka bertiga lalu berkata sembari tertawa aneh, “Kiranya Pek-heng masih gemar tamasya naik kuda untuk melemaskan tulang-ulang tua. Aku mendapat perintah dari Pangcu untuk menahan kalian bertiga.”

Pek Si-kiat tahu Tok-sim-sin-mo sangat mengandalkan tenaga dan kemampuan Siang Bu-wong ini, dia merupakan salah seorang tangan kanannya yang paling diandalkan. Dia diutus bercokol di tempat ini tujuannya adalah untuk menghadapi Kiu-yu-mo-lo yang telah menghilang diluar perbatatan.

Sambil menjengek dingin segera Pek Si-kiat balas mengolok, “Siang Bu-wong kiranya kau. Kau hendak menahan aku, haha, mampukah kau?”

Ternyata Lam-bing-it-hiong seorang yang licik dan licin, sedikitpun ia tidak terpengaruh oleh olok2 ini, dengan sikap dingin mendadak ia angkat sebelah tangannya memperlihatkan sebuah benda. teriaknya, “Aku sendiri memang tidak mampu, namun kupercaya senjata ini akan mampu menahan kalian disini.”

Berjingkrak kaget Pek Si-kiat dan Hun Thian-hi, benda yang diacungkan Lam-bing-it-hiong itu bukan lain adalah laras Pek-tok-hek-liong-ting.

Dengan lirikan matanya Hun Thian-hi memberi aba-aba kepada Pek Si-kiat dan Sutouw Ci-ko, ‘Sreng!’ cba2 tangan kanannya mencabut keluar pedang pusaka itu.

Lam-bing-it-hiong Siang Bu-wong mandah tersenyum sinis, begitu tangan kirinya menepuk ke atas laras besi panjang itu kontan setabur bayangan hitam kontan menungkrup ke arah Hun Thian-hi.

Sambil menghardik keras tubuh Thian-hi tiba-tiba mencelat mumbul dari tunggangannya. pedang pusaka ditangannya lantas melancarkan jurus pedang dari ilmu Wi-thian-cit-ciat-sek, itulah tipu Thian-wi-te-liu (langit berputar bumi mengalir), hawa pedang yang menyerupai kabut putih kehijauan pupus menguap keluar dari batang pedang terus memberondong maju menerjang ke arah samberan Pek-tok-hek-liong-ting.

Dalam pada itu. Pek Si-kiat juga sedang berteriak, “Ci-ko. lekas terjang!” Secepat kitiran kedua telapak tangannya bergerak. dia kerahkan Pek-kut-sin-kang terus menerjang ke depan dilindungi kekuatan angin pukulannya terus menyerbu ke arah rombongan Lam-bing-it-hiong.

Lam-bing-it-hiong tahu begitu ia turun tangan. pasti Pek Si-kiat juga tidak akan tinggal diam dan menerjang pada dirinya. Cepat ia ayun laras Pek-tok-hek-liong-ting, terus menutuk kejalan darah Siau-hou-hiat ditenggorokan Pek Si-kiat. hebat benar-benar serangan ini, kekuatannya pun ia kerahkan seluruhnya.

Pek Si-kiat rada kaget menghadapi rangsekan musuh yang lihay, tapi sebagai seorang ahli silat yang waktu mudanya merupakan seorang Gembong iblis juga kepandaian Pek Si-kiat sudah tentu tak terukur tingginya, mana ia gentar menghadapi serangan jurus yang lihay ini, tiba-tiba ia menggentakkan kaki, seketika tubuhnya mencelat tinggi meninggalkan tempat duduknya, berbareng kedua telapak tangannya terpentang ke kanan kiri terus melancarkan ilmu pukulan Pek- kut-mo-ou-ciang yang pernah menggetarkan kalangan Kangouw dulu, dimana kedua tangannya bergerak, dengan setaker tenaganya ia balas merangsak kepada Lam-bing-it-hiong.

Dalam pada itu, waktu Hun Thian-hi melancarkan Thian-wi-te-tong dengan seluruh kekuatan Lwekangnya untuk menghalau senjata rahasia musuh, namun Pek-tok-hek-liong-ting musuh masih menerjang maju terus sampai ke depan dadanya kira-kira setengah kaki baru kena dihalau dan tertangkis jatuh tercerai berai. Betapa kejut hatinya bahwa Pek-tok-hek-liong-ting ternyata benar- benar begitu hebat, bila musuh melancarkan dua laras senjata rahasia yang lihay ini, jelas dirinya tidak akan mampu melawan. Bila musuh sampai berhasil memproduksi laras2 senjata rahasia yang hebat ini, mungkin seluruh Kangouw ini tiada seorangpun yang bakal mampu melawan.