-->

Badai Dunia Persilatan Jilid 09

Jilid 09

SENJATA tak bermata, jikalau aku salah turun tangan sehingga melukai Huo-heng maka sampai waktunya kau jangan salahkan aku orang turun tangan terlalu kejam.....

Sembari berkata tangan kanannya lantas merogoh kedalam saku mengambil keluar sebuah gelang emas yang memancarkan cahaya tajam.

Huo-heng! silahkan turun tangan, sambungnya.

Huo Yen Ga sudah merasakan pahit getir karena mengalah terhadap pihak musuhnya tadi sehingga hampir-hampir saja terluka ditangan pihak lawan kali ini ia tak berani mengalah lagi.

Thio-heng berhati-hatilah! teriaknya.

Baru saja mulutnya membungkam sang badan sudah menerjang maju kedepan cambuk lemas berkepala ularnya dengan membawa sambaran angin tajam mengancam jalan darah Sian Khie pada dada lawan.

Sikap Thio Cing An masib tetap tenang-tenang saja terhadap datangnya serangan dari Huo Yen Ga sama sekali tidak ambil gubris.

Menanti ujung cambuk lemas berkepala ular tersebut hampir mendekati dadanya kurang lebih tiga coen badannya baru berputar dengan mengikuti gerakan serangan cambuk Huo Yen Ga tersebut. Sewaktu cambuk lemas pihak lawan menyambar lewat melalui ujung baju pada dadanya mendadak gelang emas ditangan menghantam kebawah.

Sedikitpun dia kurang berhati-hati tubuhnya akan roboh bermandikan darah oleh hajaran cambuk lemas dari Huo Yen Ga tersebut.

Loo Hu It Shu membentak keras mendadak ia menahan gerakan badannya yang sedang menerjang kedepan sepasang kaki bersama-sama mengerahkan tenaga dan didalam waktu sekejap mata telah mundur kembali enam depa kearah belakang.

Gerak-gerik cepat bagaikan sambaran angin gerakan mundurnya kali ini semakin cepat lagi beberapa bagian keadaanya mirip dengan ular lincah yang menyusup kedalam semak.

Keadaan dari Thio Cing An justru merupakan kebalikannya menghindarkan diri dari serangan musuh, melancarkan serangan balasan selalu tidak bergeser setengah langkahpun dari tempat semula.

Sewaktu sama-sama melancarkan satu jurus serangan tadi diam-diam Huo Yen Ga sudah merasa amat terperanjar, pikirnya.

Kelihatannya jurus-jurus serangan senjara gelang emasnya jauh lebih aneh beberapa bagian jika dibandingkan permainan kepalan serta telapak tangannya... aku harus berhati-hati!

Ia tidak berani maju secara gegabah, badannya tetap mematung ditempat semula sambil memperhatikan seluruh gerak-gerik musuh dengan serius.

Huo-heng cepat gerakanmu puji Thio Cing An sambil tersenyum.

Bersamaan dengan kata-kata ucapannya terasa cahaya emas berkelebat menyilaukan mata, badannya tahu-tahu sudah menerjang kembali kemuka.

Huo Yen Ga membentak keras cambuk lemas kepala ularnya digerakan dengan menggunakan jurus Pat Hong You atau delapan penjuru hujan angin seketika itu bayangan cambuk menari diangkasa dan melindungi seluruh badannya?

Gelang Tiang Cing Ang digetarkan dengan menggunakan jurus Liuw Seng Kan Gwat atau bintang meluncur bulan mengejar. Ia paksa kembali membuka kembali serangan cambuk melindungi seluruh Loo Hu It Shu sehingga menimbulkan suara bentrokan yang membisingkan telinga diikuti telapak kirinya dengan jurus Thian Way Lay Im atau luar langit mega mendekat menghantam dada musuh.

Huo Yen Ga mendengus dingin telapak kirinya dengan sejajar dada didorong menggunakan jurus Tui San Chan Hey atau mendorong gunung membendung samudra.

Sekali lagi telapak tangan kedua orang itu saling bentrok dengan amat keras didalam serangan ini masing pihak telah mempergunakan sepertujuh bagian tenaga keluar untuk merobohkan lawan.

Loo Hu It Shu tak dapat berdiri tenang lagi berturut-turut ia tergetar mundur sejauh lima langkah baru bisa berdiri tegak.

Sebaliknya Thio Cing An dengan menggunakan gerakan tubuh Hong Pay Ku Hoo atau angin bergoyang teratai berguguran memaksa pundak serta badannya tetap berdiri ditempat semula walaupun terkena hawa tekanan yang maha dahsyat dari pihak lawan.

Begitu tubuh Huo Yen Ga mundur kebelakang ia segera menerjang, maju lagi cambuk lemas kepala ularnya dengan menerobos keudara menotok ke arah luar.

Menanti Thio Cang An gerakan gelang emasnya untuk menangkis Huo Yen Ga mendahului tarik kembali cambuk lemasnya kemudian setelah berputar satu lingkaran ditengah udara langsung membabatkan keatas kepalanya.

Thio Cing An yang kehilangan posisi baik segera terjerumus dalam kurungan pihak lawan. Terlihatlah Huo Yen Ga menggerakan pergelangan tangannya semakin gencar cambuk lemas kepala ularnya bagaikan tiupan angin taupan serta curahan hujan deras melancarkan serangan gencar.

Ketujuh buah serangan itu dilancarkan dengan kecepatan laksana sambaran petir setiap jurus kesemuanya mengancam jalan-jalan darah penting.

Serangan tipuan serangan nyata berubah sukar diduga tanpa ampun lagi Thio Cing An kena terdesak mundur empat langkah kebelakang.

Huo Yen Ga yang melihat serangannya berhasil mencapai sasaran dan berhasil pula merebut posisi yang menguntungkan sekali lagi membentak keras.

Dengan sepenuh tenaga ia berebut menyerang kemuka didalam sekejap mata bayangan cambuk memenuhi angkasa empat penjuru dipenuhi deruan angin tajam, kedahsyatannya melebihi bobolnya tanggul gunung.

Pada mulanya Thio Cing An memang kelihatan rada dibuat gugup dan kacau balau seluruh gerakkannya tetapi sesudah lewat dua puluh jurus perlahan-lahan ia berhasil menenangkan dirinya.

Gelang emas ditangannya berturut-turut mengunci kearah kiri menangkis kekanan gerakan badannya bergerak laksana tiupan mega diawan lincah gesit dan sukar diraba arah tujuannya.

Menanti permainan ilmu cambuk dari Huo Yen Ga sudah selesai digunakan Thio Cing An baru tertawa dingin...

Heee... heee... heee... Huo-heng! kau masih punya kepandaian lihay apalagi yang belum sempat kau keluarkan... jengeknya ketus, atos dan sombong... Ayolah cepat keluarkan semua biar Siauw-te pentang- pentang mata mempelajari ilmu keledaimu itu... kalau tidak Siauw-te segera akan mengirim serangan balasan.

Baru saja ucapan selesai diutarakan mendadak tubuhnya menerjang maju kedepan gelang emas didalam genggamannya dengan menggunakan jurus Cing Hong Lie We atau menimbulkan buih meninggalkan gelagah mengirim serangan dahsyat kemuka.

Cambuk lemas berkepala ular dari Loo Hu It Shu buru-buru ditekan ke bawah mengancam lambung Thio Cing An sedang badannya bergeser kesebelah kiri meloloskan ancaman dari gelang emas lawan.

Lelaki lemah berusia pertengahan segera putar badan berkelit dari serangan cambuk gelang emas ditangan kanannya didorong kedepan sejajar dada sedang tangan kirinya mengirim satu tabokan menghajar pundak Loo Hu It Shu?

Dengan amat cepat pertarungan jarak dekat yang amat sengit sudah berkobar ditengah kalangan cambuk gelang emas sama-sama ambil bagian tidak ketinggalan pula serangan jari hantaman menyambar silih berganti.

Pertarungan jarak dekat semacam ini cukup angkat tangan atau gerakan kaki maka jalan darah penting pihak lawan sudah ada diambang pintu mati hiduppun dapat ditentukan dalam sekejap mata.

Walaupun pertarungan semacam ini kalah tegangnya jika dibandingkan pertarungan cambuk melawan gelang emas tadi tetapi bahaya serta tegangnya jauh melebihi beberapa kali lipat.

Mereka berdua semakin bertempur semakin cepat dan semakin dahsyat beberapa saat kemudian hanya terlihat bayangan manusia saling menyambar tiada hentinya siapa kawan siapa lawan sukar di bedakan lagi.

Di tengah pertarungan yang maha sengit itulah mendadak terdengar suara tertawa dingin serta dengusan berat bergema silih berganti diikuti berpisahnya bayangan manusia kearah belakang.

Sewaktu semua orang memandang lebih cermat tampaklah Thio Cing An dengan melintangkan senjata gelang emasnya masih berdiri ditempat semula sedangkan tubuh Loo Hu It Shu berturut-turut mundur lima langkah kebelakang dan setelah bersusah payah akhirnya berhasil juga menahan diri. Dengan ketajaman mata Hu Pak Leng sekali lihat ia lantas tahu jika Huo Yen Ga sudah menderita luka dalam sedang Thio Cing An sama sekali tidak menemui cedera.

Tak terasa lagi ia tertawa dingin.

Heee... heee... sepuluh tahun tidak bertemu muka ternyata kepandaian silat dari sute sudah memperoleh kemajuan yang amat pesat.

Kepandaian sakti suheng melebihi orang Siauw-te merasa tak sanggup untuk menandingi. Kembali Hu Pak Leng tertawa tawar.

Sute kau sudah gunakan ilmu silat apa untuk melukai orang?? tegurnya ketus.

Tenaga lweekang dari Huo-heng luar biasa sempurnanya permainan kepalan serta telapakpun sangat handal walaupun Siauw-te mengerti bukan tandingan tapi dalam keadaan terpaksa Siauw-te harus mengeluarkan ilmu pukulan Hiat So Ing atau pukulan telapak berdarah...

Sinar mata Hu Pak Leng segera dialihkan keatas jenasah Chi Peng sambungnya kemudian : Jadi iapun terluka dibawah ilmu pukulan telapak berdarahmu??

Thio Cing An tersenyum dan mengangguk sahutnya :

Walaupun Siauw-te sudah terlatih selama sepuluh tahun tetapi kekuatan ilmu pukulan Telapak berdarahku baru berhasil mencapai lima bagian saja.

Mendadak Huo Yen Ga melepaskan cekalan cambuk lemas kepala ularnya kemudian merobek pakaian pada pundak kirinya.

Tampaklah dibawah pundak atas lengan kirinya membekas tiga buah bekas jari tangan yang berwarna merah darah.

Tak kuasa lagi hatinya tergetar keras ia menoleh sekejap kearah Hu Pak Leng sedang bibirnya yang bergerak hendak mengucapkan sesuatu mendadak dibatalkan kembali.

Sebenarnya ia hendak bertanya kepada Hu Pak Leng setelah terkena pukulan telapak berdarah ini apakah masih bisa tertolong tetapi sewaktu perkataan tersebut hampir meluncur keluar dari ujung bibir mendadak hatinya merasa malu sehingga akhirnya dibatalkan.

Mendadak terdengar Thio Cing An tertawa tergelak.

Haaa... haaa... haaa... Huo-heng tidak usah kuatir Siauw-te cuma menggunakan dua bagian tenaga lweekang saja....

Heee... heee... heee... seorang lelaki sejati tak akan memikirkan soal mati hidup didalam hati seru

Huo Yen Ga sambil tertawa dingin.

Ia merandek sejenak untuk tukar napas.

Karena memandang wajah Bengcu maka cayhe tidak ingin turun tangan jahat melukai Thio-heng! siapa sangka ternyata Thio-heng sudah menggunakan ilmu silat yang demikian beracunnya untuk menghadapi Siauw-te, baik baiklah! satu dibayar dengan satu sewaktu nanti kita turun tangan lagi harap

Thio-heng suka berhati-hati terhadap serangan bokongan dari Siauw-te.

Thio Cing An yang mendengar perkataan tersebut sambil tertawa lantas menggeleng.

Huo-heng! kau sudah terkena pukulan telapak berdarahku walaupun dalam hati ada maksud untuk bertempur rasanya tak akan ada tenaga untuk memenuhi keinginanmu itu ujarnya acuh tak acuh bilamana Huo-heng masih belum puas rasanya tiga hari kemudianpun Siauw-te belum mati menunggu lukamu sudah sembuh kita baru bergebrak kembali. Diam-diam Huo Yen Ga lantas berpikir dalam hatinya.

Jika dilihat dari bekas jari warna merah darah yang menempel diatas lengan rasanya pukulan telapak berdarah tersebut tentu merupakan semacam ilmu silat yang sangat beracun jikalau aku harus menanyakan tentang cara menolong diri dihadapan para jago seantero dunia rasanya hal ini merupakan suatu kejadian yang sangat memalukan lebih baik aku panasi saja dirinya dengan menggunakan kata-kata.....

Setelah mengambil keputusan iapun tertawa dingin :

Siapa yang berkata aku orang tak bisa bergebrak lagi? teriaknya gusar apakah cuma sedikit luka kecil ini sudah cukup untuk mencabut selembar nyawaku?.

Siauw-te sukar karena cuma menggunakan tenaga dua bagian saja sahut Thio Cang An sambil tertawa, tetapi racun dari hawa pukulan telapak berdarah ini sudah jauh meresap kedalam tulang serta daging Huo- heng jikalau tidak menelan obat pemunah dari perguruan Siauw-te maka didalam dua belas jam kemudian racun tersebut akan mengikuti jalannya aliran darah jauh meresap kedalam isi perut dan keenam buah anggota badan penting lainnya sampai waktu itu maka sekalipun Hoa Tuo si tabib sakti tersebut hidup lagipun jangan harap bisa menolong nyawa Huo-heng jikalau kau ngotot ingin bergebrak juga maka racun itu akan mengalir masuk kedalam isi perut semakin cepat lagi didalam enam jam kemudian Huo-heng tak akan lolos dari cengkereman malaikat elmaut.

Merdengar penjelasan ini diam-diam Huo Yen Ga diam merasa amat terperanjat tetapi diluaran ia tetap tenang-tenang saja.

Perlahan-lahan ia menoleh kearah Hu Pak Leng dan menangkap tangannya menjura.

Kepandaian silat hamba tidak menangkan pihak lawan sehingga aku tidak berhasil menyelesaikan perintah Bengcu katanya lambat.

Memang kalah didalam pertarungan adalah kejadian yang terbiasa dalam dunia kangouw harap Huo- heng jangan pikirkan persoalan ini dalam hati.

Dengan langkah lebar ia menuruni podium dan langsung menotok lengan kiri Huo Yen Ga yang terluka.

Loo Hu It Shu hanya merasakan lengannya yang terluka jadi kaku sebuah lengan sama sekali sudah tidak dapat mendengarkan perintahnya lagi.

Dari dalam sakunya Hu Pak Leng mengambil pil langsung diberikan kepada Huo Yen Ga ujarnya sambil tertawa.

Huo-heng! cepat kau telan kedau butir pil itu kemudian aturlah pernapasan satu jam kemudian setelah racun tersebut berhasil didesak keluar maka kaupun segera akan pulih kembali kesehatannya seperti sedia kala.

Pada saat ini sikap sombong dan buas dari Loo Hu It Shu sudah lenyap tak berbekas. Ia menurut dan telan pil tersebut setelah itu mengundurkan diri ke pojokan ruangan dan mulai duduk bersila mengatur pernapasan.

Menanti Huo Yen Ga sulah berlalu sinar mata Hu Pak Leng baru dialihkan keatas wajah Thio Cing

An.

Sute! sejak kau mendatangi lembah Mie Cong Kok ini keseluruhannya sudah berhasil melukai berapa orang? tegurnya.

Thio Cing An termenung sebentar.

Terus terang suheng! bersama-sama dengan Huo-heng aku sudah membinasakan dua orang dan melukai tiga orang. Haaaaa... haaaa... haaaaa... dua mati tiga terluka bilamana ditukar dengan selembar nyawa sute rasanya cukup berharga bukan kembali sang Liok-lim Bengcu tertawa terbahak-bahak.

Air muka Thio Cing An kontan saja berubah hebat.

Kalau soal itu harus dilihat bagaimana caramu menghitung katanya dingin. Jikalau dibicarakan dari pihak Siauw-te sekalipun tambah delapan atau sepuluh lembar nyawapun sama sekali tidak berharga untuk ditukar dengan selembar nyawa Siauw-te.

Sungguh besar sekali bacotmu, sute jikalau semisalnya kedudukan Liok-lim Bergcu dari Siauw-heng ini aku serahkaa kepadamu entah tindakan apa yang hendak kau ambil terhadap si pembunuh yang mencelakai anak buahmu??

Sudah tentu akan kubalaskan dendam sakit hati tersebut guna menunjukan kebaktian dan kecintaannya terhadap anak buah sendiri...... cuma...

Cuma apa? Bentak Hu Pak Leng keras berturut-turut kau sudah mencelakai lima orang dua mati dan tiga terluka, masih ada perkataan apalagi yang hendak kau utarakan? cepat serahkan diri untuk dibelenggu apakah kau sungguh-sungguh hendak menanti aku sendiri yang turun tangan?

Thio Cing An sambil merangkap tangannya buru-buru mundur satu langkah kebelakang teriaknya :

Kedatangan Siauw-te kali ini lantaran ada perintah dari suhu sekalipun suheng tidak mengijinkan untuk berlalu tetapi seharusnya memandang pula diatas wajah suhu...

Heeee... heeee... heee... sewaktu Hong susiok perintahkan dan datang kemari untuk mengirim surat apakah iapun memerintahkan dirimu untuk melukai orang ? desak Hu Pak Leng lebih lanjut.

Soal ini..... soal ini.....

Heee... heee... heee... kembali Liok-lim Bengcu tertawa dingin sute kau harus ingat merusak sama suhu sendiri adalah merupakan suatu dosa yang tak ternilai besarnya harap kau berpikir dulu tiga kali sebelum berbicara.

Walaupun suhu tidak memerintahkan untuk turun tangan melukai mereka yang menghadang perjalanan Siauw-te tetapi anak buah dari suheng terus menerus mendesak, hal ini mana boleh menyalahkan Siauw-te terpaksa turun tangan jahat.

Jangan dikata Hong susiok memberi petunjuk kepadamu untuk melukai setiap orang yang menghalangi perjalananmu sekalipun ia sudah beritahu padamu setelah memasuki lembah Mie Cong Kok ini harus mengikuti pula peraturan yang berlaku disini. Jika kau orang tidak suka melepaskan senjata lagi untuk menantikan keputusanku. Hmm! jangan salahkan aku orang akan turunkan tindakan kekerasan.

Mendengar ancaman itu Thio Cing An segera dongakan kepalanya tertawa terbahak-bahak.

Jikalau suheng merasa sangat tidak puas dengan perbuatan Siauw-te kau boleh ajukan keberatanmu sewaktu suhu sudah tiba ditempat ini jikalau kau menginginkan Siauw-te menyerah dengan demikian saja maaf Siauw-te sulit untuk melaksanakannya.

Alis Hu Pak Leng berkerut rapat sepasang matanya memancarkan cahaya tajam ujarnya berat :

Selama sepuluh tahun ini aku terka kepandaian silatmu tentu sudah memperoleh kemajuan yang amat pesat kalau kau orang memang ingin paksa aku turun tangan sendiri bagus... bagus sekali mengingat kau orang melakukan perjalanan sejauh ribuan li datang kemari untuk menyampaikan surat maka aku beri satu jurus kesempatan buat dirimu, ayo cepat turun tangan.

Melihat kedua ekor macan tersebut hendak melakukan suatu pertarungan sengit rata-rata para jago yang ada didalam ruangan mulai pusatkan seluruh perhatiannya ketengah kalangan.

Ada pula beberapa orang anak buah Hu Pak Leng tempo dulu secara diam-diam ikut merasa kuatir bagi keselamatan bekas majikannya. Sewaktu terjadi pertarungan dipuncak Han Pek Ay tempo dulu para jago dapat melihat bagaimana dahsyatnya pertarungan antara Hu Pak Leng melawan Huo Yen Ga.

Walaupun akhirnya kepandaian Hu Pak Leng jauh lebih tinggi satu tingkat dan berhasil merebut kedudukan Liok-lim Bengcu tetapi selesai pertarungan tersebut ia sendiripun sudah kedapatan setengah mati.

Dan barusan saja Thio Cing An yang lemah kurus dan seperti berpenyakitan itu ternyata berhasil mengalahkan Loo Hu It Shu dengan begitu enteng dan sama sekali tidak kelihatan ngotot hal ini menunjukkan sebagaimana dahsyatnya kepandaian silat yang ia miliki.

Rasanya didalam pertarungan yang akan datang ini siapa yang bakal menang dan siapa yang bakal kalah masih merupakan tanda tanya didalam desakan sepasang mata Hu Pak Leng yang amat tajam perlahan- lahan kembali Thio Cing An mundur dua langkah kebelakang.

Suheng! apakah kau orang sungguh-sungguh hendak paksa Siauw-te untuk turun tangan?

Jadi kau anggap aku sedang bergurau? jika kau orang tidak suka turun tangan lagi jangan salahkan kalau aku segera akan berusaha merebut posisi terlebih dahulu.

Merasa dirinya didesak terus menerus akhirnya Thio Cang An dongakkan kepalanya tertawa tergelak.

Haaaa... haaaa... haaaa... suheng mendesak terus menerus bilamana Siauw-te menolak rasanya tentu akan merusak nama baik dari suheng.

Baiklah! dari pada membangkang lebih baik aku menurut saja. Suheng kau berhati-hatilah.

Sepasang pundaknya sedikit bergoyang tahu-tahu tubuhnya sudah maju kedepan telapak kirinya dengan menggunakan jurus Ci Kouw Thian Bun atau mengangguk kepala pintu langit menghantam keatas kepala suhengnya.

Hu Pak Leng tidak mau ketinggalan melihat orang itu melancarkan serangan telapak kiripun dengan cepat menyambar kearah urat nadi Thio Cing An dengan gerakan Thian Ong Tuo Tah atau raja langit menyungging pagoda.

Kepala Thio Cing An yang meluncur kebawah mendadak menyeleweng kesamping lengannya ditekuk mengirim satu sikutan gencar sedang kaki kanannya pada waktu yang bersamaan maju satu langkah kedepan mengancam jalan darah Ci Bun Hiat pada tubuh Hu Pak Leng.

Jurus serangan ini walaupun kelihatan sangat sederhana padahal dibalik gerakan masih tersembunyi gerakan cepatnyapun bagaikan sambaran petir.

Tangan kanan Hu Pak Leng merentang kesamping mengancam jalan darah Ci Tie Hiat pada iga Thio Cang An sedang mulutnya memperdengarkan suara tertawa tergelak yang sangat keras.

Haaa... haaa... haaa... kepandaian silat dari sute ternyata benar-benar memperoleh kemajuan yang

pesat.

Mana... mana... suheng terlalu memuji.

Kaki kanannya mendadak membuat lingkaran dan berputar satu lingkaran besar untuk meloloskan diri dari totokan bokongan Hu Pak Leng kemudian telapak kanan serta kaki kirinya bersama-sama menerjang keluar sang kaki mengancam jalan darah penting didepan dada.

Hu Pak Leng membentak keras sepasang telapak tangannya bersama-sama didorong kemuka dari gerakan Tong Cu Pay Hud atau bocah cilik menyembah buddha berubah jadi gerakan Ya Hwie Sauw Thian atau api liar membakar langit.

Sepasang telapak mendadak merentang satu ke atas lain kebawah yang atas mengunci datangnya serangan lawan sedang serangan bawah menyodok kearah persendian penting pada lutut Thio Cing An. Merasakan serangan musuh dahsyat Thio Cing An terdesak mundur dua langkah kebelakang mendadak sepasang lengan direntangkan lebar-lebar kemudian tubuhnya mencelat ketengah udara sepasang telapak bersama-sama melancarkan serangan berantai kebawah.

Menghadapi serangan ini Hu Pak Leng mendadak berdiri dengan pusatkan seluruh perhatian telapaknya berturut-turut berkelebat menggagalkan datangnya serangan tersebut.

Demikianlah kedua orang itu dengan menggunakan perubahan badan yang tercepat saling bertukar serangan.

Menanti Thio Cing An melayang turun kembali keatas tanah kedua orang itu masing-masing sudah saling melancarkan empat buah serangan hal ini membuat para jago yang menonton jalannya pertarungan jadi terbelalak dan berdiri melongo.

Menanti Hu Pak Leng selesai menyambut datangnya serangan Thio Cing An mendadak ia membentak keras tubuhnya kembali menerjang maju kedepan kepalan dikiri telapak dimuka bersama mendesak kedepan.

Sang kepalan bagaikan kapak raksasa membelah gunung sedang sang telapak bagaikan hujan salju deras didalam sekejap mata sudah mengirim enam gebukan duabelas tabokan dan memaksa Thio Cing An mundur terdesak sejauh tujuh, delapan depa kebelakang.

Menyaksikan jalannya pertarungan yang amat seru ini diam-diam si tangan pencari sukma Pah Thian Ih kerutkan alisnya dengan suara lirih bisiknya kepada saudaranya Song Thian Toh :

Agaknya kepandaian silat yang dimiliki oleh Bengcu jauh lebih maju dari pada waktu bertanding di atas tebing Han Pek Ay, coba kau lihat angin pukulannya jauh lebih bertenaga dan kuat. Apakah didalam setengah tahun yang sangat pendek ini kepandaian silatnya sudah memperoleh kemajuan yang demikian pesatnya.

Haruslah diketahui sewaktu pertarungan perebutan kedudukan Liok-lim Bengcu ditebing Han Pek Ay tempo dulu separuh bertanding Hu Pak Leng harus mengobati dulu seorang bocah yang terluka berat atas permainan Kok Han Siang istrinya sehingga tenaga dalamnya sudah banyak yang dikorbankan sedang sewaktu bergebrak melawan Huo Yen Ga pun tenaga lweekangnya belum pulih kembali oleh sebab itu sewaktu bergebrak kekuatannya ternyata seimbang dengan kepandaian silat dari Huo Yen Ga.

Thio Cing An yang melihat dirinya berturut-turut kena didesak mundur terus oleh keanehan serta kecepatan jurus serangan Hu Pak Leng sehingga sama sekali tak bertenaga untuk memberikan perlawanan hatinya mulai merasa paham jika kepandaian silatnya yang dilatih secara tekun selama sepuluh tahun ini masih belum berhasil menandingi kelihayan dari suhengnya.

Ia merasakan tekanan-tekanan dari ilmu pukulan Hu Pak Leng semakin lama semakin memberat dan semakin gencar akhirnya ia mulai kewalahan daa tak sanggup untuk bertahan lebih lama lagi.

Jika aku harus bertempur dengan cara begini terus-terusan tidak sampai seratus jurus kemudian aku pasti akan terluka oleh pukulannya yang sangat aneh dan maha dahsyat itu pikirnya didalam hati. Bilamana aku sampai terluka parah maka sampai saatnya untuk turun tangan jahatpun tak bakal sanggup lagi... aku harus menggunakan kesempatan pada saat ini...

Setelah mengambil keputusan hawa napsu membunuhpun mulai melintasi wajahnya. Dengan alis dikerutkan rapat-rapat dan sepasang mata memancarkan cahaya kebuasan bentaknya keras :

Suheng kau orang terus menerus mendesak diriku demi menjaga nama baik perguruanku terpaksa Siauw-te harus menggunakan tindakan yang ganas dan kejam untuk menghadapi dirimu.

Serangan telapak Hu Pak Leng semakin mengencang angin pukulan menderu-deru memekikan telinga seketika itu juga ia mengurung seluruh badan Thio Cing An kedalam sambaran angin pukulannya.

Haaa... haaa... Sute kau tidak usah mengingat-ingat soal hubungan perguruan lagi teriaknya sambil tertawa lantang. Jika kau masih memiliki kepandaian ilmu silat yang maha dahsyat silahkan dikeluarkan semua. Mumpung masih ada kesempatan gunakanlah sebaik-baiknya karena begitu kesempatan hilang maka kau bakal konyol.

Thio Cing An tertawa dingin telapak kanannya mendadak berubah dengan santer dan gencar ia balas melancarkan serangan.

Hanya dalam sekejap mata ia telah dapat melancarkan tujuh buah serangan berantai.

Ketujuh buah serangan tersebut bagaikan air terjun yang maha dahsyat hanya dalam beberapa waktu saja sudah berhasil membendung semua angin pukulan dari Hu Pak Leng dan merebut kembali posisinya yang terdesak.

Tidak menunggu Hu Pak Leng melancarkan serangan kembali telapak kirinya mendadak diangkat tinggi-tinggi ketengah udara.

Para jago yang hadir didalam ruangan sewaktu melihat pertarungan antara kedua orang semakin lama semakin berbahaya dan semakin menegang dan rata-rata pada tahan napas dan melototi tengah kalangan dengan penuh perhatian.

Tampaklah telapak kiri Thio Cing An yang di angkat tinggi tadi mendadak berubah menjadi merah memancarkan cahaya tajam.

Melihat tindakan Hu Pak Leng mendadak mundur tiga langkah kebelakang sepasang telapak dirangkap menjadi satu dan berdiri tenang menunggu serangan musuh, seluruh rambut serta cambangnya berdiri lurus bagaikan landak wajah berubah sering mata melotot bulat-bulat dan memancarkan cahaya yang amat tajam memperhatikan wajah Thio Cing An tanpa berkedip.

Selintas tertawa seram berkelebat lewat diatas wajah Thio Cing An perlahan-lahan ia mendesak lebih kemuka.

Hu Pak Leng yang sedang melotot lebar-lebar mendadak memejamkan mata agaknya ia tidak ingin melihat lebih lama terhadap telapaknya yang berwarna merah seperti darah itu.

Ketika itu selangkah demi selangkah Thio Cing An mendesak lebih dekat kearah Hu Pak Leng sedangkan yang didesak sama sekali tidak kelihatan mundur ataupun turun tangan melancarkan serangan hal ini membuat para jago yang menonton jalannya pertarungan tersebut merasakan hatinya sangat terperanjat.

Terdengr Thio Cing An tertawa dingin tiada hentinya.

Suheng! kau berhati-hatilah Siauw-te segera akan melancarkan ilmu pukulan telapak berdarah. Telapak kiri dengan membawa segulung angin pukulan tajam membabat kearah bawah.

Terasalah serentetan bayangan meraah berdarah dengan membawa bau amis yang sangat menusuk hidung membentang seluas dua kaki lebih dan mengurung seluruh Hu Pak Leng dibawah serangan angin pukulan telapak darahnya gerakan telapak tersebut berputar-putar dua kali diatas batok kepala suhengnya tetapi tidak sampai menabok kebawah.

Para jago yang menonton jalannya pertarungan setelah melihat kejadian ini rata-rata menganggap Thio Cing An sudah teringat persahabatan lama dan tidak tega untuk turun tangan jahat oleh karena itu serangan yang sudah mencapai ditengah jalan tidak jadi diteruskan menghantam kebawah.

Padahal yang benar ketika itu Thio Cing An sedang mengumpulkan seluruh tenaga beracun pukulan telapak berdarahnya telapak tangan yang berputar ditengah udara setiap kali perputaran berarti tenaga hantamannya bertambah satu tingkatan.

Pada saat ini ia ada maksud untuk mengumpulkan seluruh kekuatan lweekang yang dimilikinya kemudian secara berbareng dihajarkan keatas batok kepala suhengnya.

Di dalam hati Thio Cing An pun paham kalau hantamannya ini bukan saja mempengaruhi kalah menang didalam pertarungan kali ini bahkan mempengaruhi pula mati hidupnya. Bilamana hantamannya kali ini tidak berhasil menggetar mati Hu Pak Leng atau paling sedikit membuat ia terluka parah maka sang Liok-lim Bengcu tersebut pasti akan balas melancarkan serangan dengan suatu hawa pukulan yang maha dahsyat.

Di luaran walaupun Hu Pak Leng masih bisa mempertahankan ketenangannya tetapi dalam hati ia penakut merasa tegang.

Ilmu pukulan telapak berdarah Hiat Ing Ciang dari Hong Cioe sudah terkenal akan keganasan jangan dikata kena dicap oleh telapak tangen tersebut sekalipun terkena hawa beracun yang dibawa oleh angin pukulanpun sudah cukup untuk membinasakan seseorang, sudah tentu saja ia tak berani berlaku gegabah seluruh hawa murninya disalurkan mengelilingi seluruh tubuh semua perhatian dipusatkan jadi satu sehingga membuat badan jadi keras bagaikan baja.

Diam-diam ia kerahkan ilmu sakti Thian Seng Cie atau ilmu jari bintang langit untuk bersiap sedia setiap ada kesempatan ia akan melancarkan serangan dahsyat itu berbareng.

Terasa olehnya dibawah serangan perputaran dari angin pukulan Thio Cing An secara samar-samar membawa bau amis yang menusuk hidung dan membuat setiap orang merasa hendak muntah buru-buru ia salurkan hawa murninya untuk menutup seluruh pernapasan.

Setelah berputar dua kali diatas kepala Hu Pak Leng akhirnya Thio Cing An membabatkan telapak tangannya kebawah.

Hu Pak Leng membentak keras tubuhnya mencelat ketengah udara sedang tangan kanannya meluncur kedepan dan menyambut datangnya pukulan Thio Cing An sedang membabat kearah bawah itu dengan gencar.

Dua sosok bayangan berpisah Thio Cing An mendengus berat dan berturut mundur empat lima langkah kebelakang.

Dua orang empat mata saling berpandangan tajam siapapun diantara mereka tak ada yang mengucapkan sepatah katapun.

Kurang lebih seperminum teh kemudian Thio Cing An baru menghembuskan napas panjang.

Kepandaian silat suheng betul-betul amat lihay Siauw-te bukan tandinganmu dikemudian hari bila kita berjodoh bisa bertemu kembali Siauw-te akan minta petunjuk lagi dari suheng.

Heee... heee... bagaimana? jengek Hu Pak Leng sambil tertawa dingin Sute masih ingin berlalu dari

sini?

Walaupun Siauw-te bakan tandingan suheng tapi percaya aku masih mampu untuk berlalu dari sini.

Sute kau sudah kena dipukul luka oleh pukulan Thian Seng Cie-ku sehingga isi perutmu sudah tergeser didalam dua jam lukamu tentu bakal kambuh kembali walaupun sampai bergebrak melawan orang lain juga tak akan melewati seratus li apalagi didalam lembah Mie Cong Kok banyak tersebar halangan- halangan yang akan menghadang perjalananmu sekalipun aku lepaskan dirimu pergi kaupun tak bakal lolos dari sini.

Heee... heee dibalik pukulan Hiat Ing Ciang dari Siauw-te pun mengandung racun aneh sahut Thio

Cing An dengan suara yang dingin walaupun suheng menggunakan ilmu Thian Seng Cie berhasil menggagalkan pukulan Hiat Ing Ciang-ku aku rasa kaupun sudah ikut terluka oleh hantaman racun.

Sungguh patut disayangkan tenaga dalam sute kurang sempurna dan tidak sanggup memaksa racun dalam pukulanmu itu meresap masuk kedalam badan Siauw-heng.

Air muka Thio Cing An kontan saja berubah hebat.

Jika demikian adanya suheng ada maksud untuk menahan Siauw-te didalam lembah Mie Cong Kok- mu ini? teriaknya. Tidak menanti jawaban dari Hu Pak Leng lagi ia putar badan dan berjalan menuju keluar dengan langkah lebar.

Berhenti bentak Hu Pak Leng keras:

Ada apa? Perlahan-lahan Thio Cing An putar kepala.

Bunuh orang bayar nyawa hutang uang bayar uang sute masih mempertanggung jawabkan peristiwa terbunuhnya anak buahku sebanyak dua orang dan melukai tiga orang lainnya kenapa kau kepingin pergi?.

Diam-diam Thio Cing An menyalurkan hawa murninya mengelilingi seluruh tubuh sedikitpun tidak salah ia merasakan isi perutnya sudah terluka parah sehingga tak terasa lagi pikirnya didalam hati.

Jikalau saat ini ngotot ingin berlalu maka jelas sekali aku orang pasti akan terluka ditangan suheng kini suhu sudah berada ribuan li jauhnya dari sini sebelum bulan tujuh tanggal tujuh tak bakal tahu beritaku pada saat ini satu-satunya cara untuk mempertahankan nyawa sendiri adalah berusaha untuk meloloskan diri.

Setelah mengambil keputusan dalam hati ia lantas menoleh dan tertawa.

Kalau memang suheng tidak mengingat lagi akan hubungan persaudaraan, lalu hukuman apa yang hendak kau jatuhkan kepada diri Siauw-te?

Untuk sementara waktu menahan sute didalam lembah Mie Cong Kok jawab Hu Pak Leng dingin menanti aku berhasil menyelidiki jelas keadaan yang sebenarnya lalu dijatuhi hukuman sesuai dengan peraturan yang berlaku dalam lembah Mie Cong Kok.

Suheng terlalu bijaksana dan tidak terlaluu mementingkan diri sendiri tidak aneh kalau seluruh jagoan Liok-lim dari seantero dunia suka tunduk dan takluk kepadamu. Baiklah Siauw-te rela untuk menyempurnakan nama besar dari suheng kata Thio Cing An tersenyum.

Baru saja Hu Pak Leng menoleh untuk perintahkan Tiong It Hauw menangkap diri Thio Cing An dan dijebloskan kedalam penjara bawah tanah mendadak terasa angin tajam menyambar lewat.

Thio Cing An dengan menggunakan gerakan yang paling cepat telah menerjang maju kedepan telapaknya disabet kesamping kemudian mengancam dada lawan.

Serangan yang datangnya secara mendadak ini dilancarkan dengan sepenuh tenaga kedahsyatan serta keganasannya sangat luar biasa.

Hu Pak Leng membentak keras tangan kanan dengan menggunakan jarus Im Wu Kiem Kong atau kabut mega cahaya keemasan menerima datangnya serangan Thio Cing An keras lawan keras sedang tangan kirinya setelah membentuk gerakan setengah lingkaran didepan dada batas menghantam kedepan.

Sepasang telapak dengan cepatnya bentrok menjadi satu terdorong oleh hawa pukulan yang maha dahsyat dari Hu Pak Leng itu kontan saja tubuh Thio Cing An tergetar mundur dua langkah kebelakang.

Belum sempat ia berdiri tegak angin pukulan dari tangan kiri Hu Pak Leng sudah menyambar datang. Beberapa saat lamanya suasana terasa hening.....

Lama sekali akhirnya Hu Pak Leng melirik sekejap kearah Thio Cing An. Gotong dia orang dan jebloskan kedalam penjara bawah tanah ! perintahnya.

Empat orang lelaki kekar segera mengiakan dan lari mendekat setelah menggotong Thio Cing An lantas mengundurkan diri lagi terburu-buru.

Ruangan besar diliputi keheningan berratus-ratus orang jago pada bungkam dalam seribu bahasa tak seorangpun yang menunjukkan suatu reaksi.

Perlahan-lahan Hu Pak Leng berjalan kesisi Huo Yen Ga lantas tanyanya dengan suara lirih. Huo-heng! bagaimana dengan lukamu?

Watak sombong dan angkuh dari Huo Yen Ga pada saat ini sudah tersapu lenyap dari hatinya perlahan-lahan ia bangun berdiri dan menjawab dengan sikap penuh hormat.

Setelah menelan pil mujarab dari Bengcu luka dalamku sudah rada baikan. Ia merandek sejenak lalu menghela napas panjang.

Ini hari pikiran hamba baru terbuka... kiranya dalam pertarungan ditepi tebing Han Pek Ay tempo dulu Bengcu memang ada maksud untuk mengalah kepadaku...

Heeeeei... Huo-heng! kau baik-baiklah memelihara lukamu dikemudian hari masih banyak urusan yang membutuhkan tenagamu.....

Ini hari hamba baru tahu jika hati Bengcu sangat ramah dan berbudi. Sambung Huo Yen Ga dengan lantang. Dikemudian hari bilamana ada membutuhkan tenaga aku Huo Yen Ga sekalipun harus menjual nyawapun hamba tak akan menampik jikalau perkataanku ini tidak sesuai dengan perbuatan maka Thian akan menghancurkan diriku.

Karena hatinya meraaa berhutang budi atas pertolongan yang diberikan Hu Pak Leng kepadanya hal ini membuat dia orang bukan saja tunduk betul-betul bahkan niat merebut kedudukan Bengcupun ikut lenyap tak berbekas.

Dengan nada menghibur Hu Pak Leng tertawa ujarnya dengan suara tinggi.

Manusia hidup dikolong langit tak akan melewati seratus tahun lamanya, jangan dikatakan soal karma yang bakal menimpa kalian harus ingat mati hidup seorang manusia tak bisa ditentukan pada saat ini. Kemungkinan sekali sebentar lagi diantara kita ada yang matipun tak tahu. Berpuluh-puluh keluarga orang baik-baik sudah kita bubarkan kehidupan tenangnya banyak manusia yang sudah kita bunuh banyak kejahatan yang sudah kita lakukan. Heeei sewaktu ditengah malam kalian ngelilir bangun pernahkah hati

kecilmu berpikir apa yang sudah aku lakukan selama seharian ini? apakah kedudukan kita sebagai orang- orang kalangan Liok-lim betul-betul sangat memalukan? apakah watak kita benar-benar ganas dan buas?.....

Perlahan-lahan ia menghela napas panjang.

Aku rasa didalam hati Cuwi sekalian sudah sangat jelas bukan terhadap persoalan ini? sebagai contohnya Siauw-te sendiri pada beberapa tahun yang lalu semua tindak tanduk serta perbuatan-perbuatan yang aku lakukan tak sebuahpun yang bukan merupakan kejahatan dosaku sudah bertumpuk-tumpuk sepasang tanganku sudah penuh berlepotan darah...

Agaknya para jago yang ada didalam ruangan rata-rata sudah dibikin terpesona oleh perkataan tersebut tak terasa lagi sinar mata mereka bersama-sama dialihkan keatas wajah Hu Pak Leng.

Kembali Liok-lim Bengcu menghela napas panjang.

Semakin banyak dosa yang telah aku lakukan hati merasa semakin tersiksa bilamana pada suatu hari kalian tersadar kembali dan menyesali perbuatan-perbuatanmu itu niat untuk menebus dosa inipun semakin besar menyelimuti diri kita.....

Di hadapan kaum penjahat Liok-lim yang sudah terbiasa melakukan kejahatan dia orang membicarakan soal penjelasan hal ini memancing perhatian yang cukup serius dari semua orang.

Ketika itulah mendadak dari luar ruangan muncul seseorang yang langsung menerjang kehadapan Hu Pak Leng dengan langkah tergopoh-gopoh.

Bengcu....

Agaknya ia mempunyai suatu urusan penting yang hendak disampaikan tetapi baru menyebut Bengcu dua kata mendadak ia batalkan kembali kata-katanya. Ketika para jago menoleh kearahnya maka tampaklah orang itu bukan lain adalah Yu Ih Lok yang keluar Mie Cong Kok bersama-sama Hu Pak Leng terlihat wajahnya lesu kusut dan sangat lelah agaknya baru saja melakukan suatu perjalanan yang sangat jauh.

Sinar mata Hu Pak Leng perlahan-lahan dialihkan keatas wajah Yu Ih Lok lalu tertawa dan mengangguk.

Kau sudah kembali?

Benar, hamba sudah kembali jawab Yu Ih Lok dengan wajah keren dan serius.

Selama melakukan perjalanan kau tentu sangat lelah bukan? cepat pergilah beristirahat dahulu ada perkataan disampaikan nanti saja.

Hamba masih sanggup mempertahankan diri.

Hu Pak Leng melihat dia orang tidak mau mengundurkan diri dalam hati lantas menduga tentu ada suatu urusan yang hendak dilaporkannya kepadanya tak terasa lagi keningnya dikerutkan rapat.

Kau ada urusan yang sangat penting hendak kau sampaikan akhirnya ia bertanya.

Benar Yu Ih Lok perlahan-lahan mengangguk dan menyeka keringat yang membasahi keningnya hamba sudah menjumpai Ci Yang Tootiang dari Bu-tong pay.

Dia bilang mau datang menjumpai Bengcu tidak sampai nanti siang atau paling lambat besok pagi ia akan datang kemari.

Para jago sewaktu mendengar Ci Yang Tootiang akan datang ke lembah Mie Cong Kok untuk mengunjungi Hu Pak Leng rata-rata hatinya merasa memberat pikirnya : Ci Yang Tootiang adalah seorang ketua partai besar yang terhormat dalam Bu-lim dia orang mana suka mengunjungi lembah Mie Cong Kok? kedatangannya tentu disertai suatu peristiwa yang amat penting dan besar.

Ia memberi tahu sendiri kepada hamba rasanya tak akan berbohong ujar Yu Ih Lok kembali. Kapan kau berjumpa dengan dirinya?

Antara jam tiga sampai jam lima siang tadi kami berjumpa disebuah dusun kecil kira-kira seratus li di luar lembah Mie Cong Kok ditempat itu banyak murid-murid Bu-tong pay dibawah pimpinan Ci Yang Tootiang sendiri agaknya ada suatu peristiwa yang maha penting.

Bicara sampai disitu mendadak ia tutup mulut dan membungkam kembali. Hu Pak Lengpun tidak mendesak lebih lanjut ia tertawa tawar.

Kecuali urusan ini kau ada urusan apa lagi?

Kecuali orang-orang Bu-tong pay akupun bertemu pula dengan orang hweesio dari Siauw lim pay kembali Yu Ih Lok tertawa pahit.

Walaupun ia berusaha untuk mendatarkan nada suaranya seperti tidak pernah terjadi suatu kejadian tak urung berita itu menggempar juga seluruh jagoan yang berada dalam ruangan? tersebut mereka masing- masing mulai membicarakan persoalan ini dengan suara lirih...

Setelah bertemu dengan hwesio-hwesio Siauw lim lalu apa yang hendak dilakukan?

Di bawah desakan dari Hu Pak Leng yang gencar agaknya Yu Ih Lok tak dapat menyimpan rahasia didalam hatinya lagi mendadak dengan mempertinggi suaranya ia berkata lantang :

Menurut pendapat hamba orang-orang Bu-tong pay serta orang-orang Siauw lim pay agaknya ada maksud untuk berkumpul didalam dusun tersebut jikalau tak ada urusan penting orang-orang dari kedua partai besar tak mungkin berkumpul didalam dusun tersebut. Begitu berita tersebut disiarkan rata-rata air muka para jago berubah sangat hebat mereka mulai merasakan bila peristiwa ini sangat tidak terbiasa hanya Hu Pak Leng seorang yang berhasil mempertahankan ketenangannya.

Kecuali partai Siauw lim serta Bu-tong pay masih adakah partai-partai lain yang ikut serta? tanyanya kembali.

Aku melihat orang-orang partai Siauw lim serta Bu-tong pay dengan mata kepala sendiri bahkan sangat jelas sedang mengenai adakah orang-orang dari partai lain yang ikut aku rada kurang jelas.

Ehmm, aku sudah tahu Yu-heng boleh beristirahat.

Yu Ih Lok menyahut setelah menjura lantas mengundurkan diri dari dalam ruangan.

Bengcu! seru Tiong It Hauw sepeninggal Yu Ih Lok. Ci Yang Tootiang dari Bu-tong pay sangat jarang meninggalkan gunung Butong-san sekalipun ada urusan yang maha pentingpun tak akan mengadakan pertemuan dengan hwesio-hwesio Siauw lim si ditempat ini hamba rela pergi melakukan penyelidikan seorang diri sebentar lagi akan kulaporkan semua yang aku lihat.

Kedua partai besar sama-sama berkumpul disini dalam waktu dan tempat yang sama tentu ada urusan penting yang sedang mereka hadapi diam-diam pikir Hu Pak Leng dalam hatinya apa mungkin persoalan ada sangkut pautnya dengan pertemuan puncak para iblis yang disponsori Hong Cioe pada bulan tujuh tanggal tujuh nanti??

Teringat akan persoalan tersebut ia lantas menoleh dan memandang wajah si lelaki berkerudung itu tajam-tajam.

Jikalau Tiong-heng ada maksud menempuh bahaya untuk pergi kesana sudah tentu aku merasa sangat kegirangan hanya saja didalam tugasmu kali ini jangan sampai bentrok atau bertempur dengan orang lain.

Bengcu boleh berlega hati hamba segera akan berangkat :

Setelah menjura dia lantas meloncat keluar dari ruangan dan berlalu dengan tergesa-gesa.

Menanti bayangan punggung dari Tiong It Hauw sudah lenyap dari pandangan Hu Pak Leng baru ulapkan tangannya kepada para jago.

Cuwi silahkan kembali kekamar untuk beristirahat kemungkinan sekali didalam satu dua hari ini dalam lembah Mie Cong Kok bakal terjadi suatu perubahan yang sangat besar.

Pada waktu itu Kok Han Siang sedang berdiri didepan pintu pondoknya sambil menunggu, walaupun jarak antara pondok mereka dengan ruangan Ci Ih Tong cuma beberapa depa saja tetapi setelah Hu Pak Leng memesan wanti-wanti agar dia orang jangan mendekati ruangan Ci Ih Tong untuk mencari dirinya dengan watak Kok Han Siang yang penurut walaupun dalam hati merasa cemas tetapi ia menurut juga untuk tetap tiaggal dipondoknya.

Menanti dilihatnya Hu Pak Leng sudah munculkan diri dengan langkah terburu-buru dia lantas lari menghampiri ujarnya sambil tertawa :

Beberapa aku ingin mendatangi ruangan Ci Ih Tong untuk menemui dirimu tetapi teringat akan laranganmu maka terpaksa kutunggu kedatanganmu didepan pintu.

Setiap patah kata setiap gerak geriknya dilakukan menurut perasaan bukan saja mempersonakan bahkan membuat setiap orang merasakan hatinya jadi tenang.

Walaupun pada saat ini Hu Pak Leng sedang dirundung oleh persoalan yang maha berat tetapi melihat kecantikan serta tertawa istrinya yang mempersonakan hatipun ikut merasa girang dan tenang.

Akhirnya mereka berdua sambil bergandengan tangan berjalan masuk kedalam pondok. Biauw Siok Lan serta Ban Ing Soat sejak semula sudah menantikan didalam ruangan belum kedua orang itu duduk air teh sudah dihidangkan.

Kok Han Siang turun tangan sendiri membawakan air teh untuk Hu Pak Leng setelah itu duduk disisinya sambil tertawa.

Toako baru meninggalkan lembah Mie Cong Kok beberapa bulan aku sama sekali tak becus untuk mengurusi persoalan dalam lembah sekarang aku baru merasa kalau aku orang sebetulnya sangat bodoh katanya lembut.

Persoalan yang menyangkut lembah kita teramat banyak aku sendiripun tak sanggup untuk menyelesaikannya dengan baik.

Tapi sekarang juga baikan... sambung Kok Han Siang sambil tersenyum manis. Kau sudah pulang dan akupun tidak perlu repot-repot peras otak lagi.

Mendadak Hu Pak Leng meletakan cawan air tehnya keatas meja lalu bangun berdiri. Bagaimana kalau kita melihat keadaan bocah tersebut? ajaknya.

Sejak permulaan aku sudah ada maksud untuk mengajak dirimu pergi menengok dirinya tapi melihat kau begitu repot aku sungkan untuk membuka mulut seru Kok Han Siang manja.

Wajahnya kelihatan cerah jelas hatinya kegirangan.

Hujien kau sudah punya anak? seru Biauw Siok Lan dengan lirih. Kenapa aku belum pernah menemuinya??

Anak itu bukan aku yang lahirkan, kami pungut anak orang lain. Lalu dipelihara dimana??

Kok Han Siang melirik sekejap kearah Hu Pak Leng kemudian menghela napas panjang.

Tentang urusan ini jarang sekali ada yang tahu tetapi enci bukan orang luar sudah tentu boleh aku beritahukan kepadamu.

Nona Biauw mari kaupun ikut kita bersama-sama pergi kesana ajak Hu Pak Leng sambil tersenyum.

Kemungkinan sekali dikemudian hari aku masih membutuhkan tenaga dari nona.

Jikalau ada kebutuhan budakmu pasti akan melaksanakan tanpa membakang buru-buru Biauw Siok Lan menyahut.

Mendadak ia merasakan perkataan dari Hu Pak Leng ini diucapkan dengan nada sedih tak terasa lagi ia menoleh kearah lelaki bercabang tersebut bibirnya sedikit bergerak seperti hendak mengucapkan sesuatu.

ooooOoooo

9

SIAPA tahu belum sampai ia membuka mulut Hu Pak Leng sudah meloncat bangun. Mari kita berangkat serunya kepada Kok Han Siang sambil tertawa.

Kok Han Siang bangun berdiri berjalan bersama-sama suaminya menuju halaman belakang.

Biauw Siok Lan termenung sejenak  kemudian dengan mengikuti dari belakang kedua orang  itu berjalan keluar dari pondok. Pondok rumahnya ini dibangun bersandar pada dinding gunung setelah berjalan melalui pintu muka sampailah mereka disisi dinding tersebut.

Seluruh gunung penuh ditumbuhi pohon siong pohon bambu serta rerumput hijau yang subur tak kelihatan jalanan kecil yang menuju kearah gunung.

Hu Pak Leng berjalan dipaling depan memisahkan rerumput kesamping lalu berjalan naik keatas tebing gunung tersebut.

Kurang lebih setelah berjalan sepuluh kaki tingginya sampailah dia orang dibawah sebuah batu cadas yang menonjol keluar Hu Pak Leng gerakkan tangannya mendorong batu gunung itu kesamping kemudian mengikuti sebuah lorong kecil turun kebawah.

Melihat hal tersebut Biauw Siok Lan kerutkan alisnya.

Hujien! bisiknya kepada Kok Han Siang dengan suara lirih apa maksud kalian menyembunyikan bocah tersebut didalam lambung gunung berbatu itu.

Aku sendiripun tidak tahu ini ide dari Toako.

Sewaktu berlangsung pembicaraan tersebut merasa sudah tiba pada ujung lorong terlihatlah dua buah ruangan batu berdiri sejajar didinding sebelah kanan diatas tanah bertumpukan rumput-rumput kering sebagai alas dan tidur terlentang seorang bocah berusia empat lima tahunan yang berselimut tebal saat ini ia sedang tertidur dengan nyenyaknya.

Terburu-buru Kok Han Siang lari menghampiri lalu berjongkok dan membelai rambut yang halus dari bocah itu.

Ooouw bocah kau kurus sekali! bisiknya lirih.

Perlahan-lahan bocah itu membuka matanya ia memandang sekejap kearah Kok Han Siang kemudian tertawa.

Mama sudah lama benar kau tidak menengok diriku.

Beberapa waktu ini aku banyak pekerjaan tak ada waktu yang terluang untuk datang kemari menengok dirimu...

Bocah itu menghela napas panjang. Aku sangat rindu dengan Mama...

Wajahnya yang cilik perlahan-lahan dialihkan kesamping mendadak ia meloncat bangun dan duduk dengan tegak.

Gie-hu kau pun sudah datang???.

Ehmm... kita sudah ada beberapa bulan tidak berjumpa! sapa Hu Pak Leng sambil tersenyum.

Aku tidak tahu sudah ada beberapa bulan tapi waktu sudah berlalu sangat lama sekali kepandaian silat yang kau ajarkan kepadakupun sudah kupahami semua.

Bocah! seru Kok Han Siang dengan suara yang lembut kau tinggal seorang disini tidak takut? Bocah itu menggeleng dan tertawa :

Pada mulanya aku rada takut tapi lama kelamaan tidak takut lagi.

Biauw Siok Lan yang melihat wajah bocah itu merah bersinar dan kelihatan sangat segar hatinya jadi keheranan. Selama beberapa hari ini aku tidak melihat dia orang datang mengirim nasi maupun air teh lalu apa yang ia makan? pikirnya didalam hati.

Tak tertahan lagi tanyanya kepada Kok Han Siang dengan suara lirih.

Hujien! setiap hari adakah orang yang datang kemari untuk mengirim nasi buat bocah ini?. Tak ada! Kok Han Siang menggeleng.

Agaknya bocah tersebut dapat mendengar apa yang sedang dibicarakan kedua orang itu dari balik bantalnya ia mengambil keluar dua botol porselen yang lantas ditujukan kemuka.

Aku makan ini! teriaknya...

Biauw Siok Lan yang alihkan sinar matanya keatas botol tersebut tampaklah didalam botol porselen tersebut berisikan penuh dengan butiran pil warna kuning sebesar kacang kedelai, untuk sesaat tak dimengerti olehnya obat apakah itu karenanya ia membungkam dalam seribu bahasa.

Inilah pil obat yang terbuat dari daging harimau beserta jinsom berumur seratus tahun yang dicampurkan menjadi satu terhadap kesehatan serta tulang-tulang bocah ini mendatangkan bantuan yang sangat besar kata Hu Pak Leng sambil tersenyum. Heeei ! kesehatan bocah ini pada mulanya sangat lemah

ditambah lagi sewaktu menderita luka parah banyak darah yang sudah hilang. Setelah menelan pil ini maka badannya semakin hari akan semakin sehat dan semakin kuat.

Biauw Siok Lan melirik sekejap kearah Hu Pak Leng kemudian tanyanya keheranan :

Bengcu! kau khusus membuatkan obat mujarab tersebut buatnya apa tujuan yang sebenarnya sehingga harus begitu repot-repot dan buang banyak tenaga???.

Mendadak terdengar bocah itu menghela napas panjang.

Gie-hu pernah berkata kepadaku setelah makan pil mujarab ini bukan saja badan akan jadi sehat bahkan berlatih ilmu silatpun akan mencapai sempurna lebih cepat dengan begitu akupun bisa cepat-cepat menuntutkan balas buat ayah ibuku.

Eeeeei bocah, kepandaian silat yang aku ajarkan kepadamu sudah kau pahami belum? coba mainkan

satu kali untuk aku lihat! perintah Hu Pak Leng sambil tertawa : Bocah tersebut mengangguk.

Bisa sih, sudah bisa cuma entah benar atau tidak bila aku salah harap Gie-hu suka memberi petunjuk.

Badannya dengan cepat meloncat bangun sepasang telapak disilangkan didepan dada setelah itu tangan maupun kaki mulai digerakkan keluar.

Hu Pak Leng yang melihat gerakan tangan serta gerakan kaki tiap jurus serta tiap gerakan dimainkan mirip seperti apa yang ia ajarkan tempo dulu dalam hati merasa amat kegirangan sambil mengelus kepalanya ia berseru :

Kau benar-benar sangat pinter jika pelajaran ilmu silat ini kau latih dengan penuh ketekunan maka tidak sampai sepaluh tahun seluruh kepandaian silatku pasti berhasil kau dapatkan semua hanya saja entah dapatkah Gie-hu memberi pelajaran sampai sepuluh tahun lagi...

Terutama sekali perkataannya yang terakhir benar-benar bernadakan kesedihan..... suasana seketika dirundung kemurungan.

Kok Han Siang yang mendengar perkataan itu mendadak putar badan dan memandang diri Hu Pak Leng dengan sinar mata tajam.

Toako apa kau kata? kenapa kau tak dapat mengajari dia orang sepuluh tahun lagi. Ia merandek sejenak setelah menghela napas sambungnya kembali : Heeei... sejak Toako berhasil merebut kedudukkan Liok-lim Bengcu dari seantero kolong langit kegembiraanpun ikut lenyap setiap hari selalu dirundung kemurungan aku lihat lebih baik kau jangan menduduki jabatan Liok-lim Bengcu itu lagi, kita lebih senang aman sentausa seperti dahulu setiap hari berlari dan melakukan perjalanan ditengah gunung yang lebat walaupun setiap kali ada saja kaum jago yang mengejar kita tapi itupun hanya kadang-kadang saja terjadi. Toako bisa gembira setiap hari sama sekali tak kelihatan murung semacam ini.

Hu Pak Leng tahu dirinya sudah memperhatikan perubahan air muka yang kelewat batas sehingga memancing rasa curiga dihati istrinya buru-buru dia pusatkan perhatian dan tertawa terbahak-bahak.

Haaa... haaa... haaa... kapan aku pernah kelihatan murung? aku cuma teringat akan bocah ini.....

Sebetulnya ia ingin berkata bila dia orang teringat akan ayah ibu bocah ini yang menemui ajalnya dalam keadaan sangat mengerikan ia berharap dengan berkata demikian maka ia menghilangkan rasa curiga didalam hati istrinya tetapi setelah perkataan tersebut meluncur keluar dari mulutnya mendadak ia teringat bahwa perkataannya ini kemungkinan besar akan memancing rasa sedih dari bocah tersebut.

Karenanya buru-buru ia tutup mulut kemudian tertawa terbahak-bahak dan berusaha menutupi kejadian tersebut :

Pikiran Kok Han Siang masih suci bersih ia mengira suaminya benar-benar sudah teringat akan peristiwa kematian orang tua bocah tersebut tak terasa lagi ia menghela napas panjang.

Heeeei..... peristiwa yang sudah berlalu biarkanlah berlalu jangan kau ingat kembali persoalan tersebut, kedatangan kita ini hari untuk menengok sang bocah seharusnya berada dalam suasana gembira dan senang.

Benar timbrung Biauw Siok Lan dari samping. Setiap hari Bengcu repot dengan urusan dan jarang mendapatkan waktu yang sedemikian bagusnya untuk mengaso dan berkumpul biarlah aku pergi persiapkan beberapa macam arak dan sayur agar kalian bisa menemani bocah ini bersantap dalam gua.

Hu Pak Leng termenung tidak berbicara ia tak menyanggupi tetapi tidak pula turun tangan mencegah Biauw Siok Lan pergi mengambil arak dan sayur.

Sebaliknya Kok Han Siang mengangguk sambil tertawa.

Ide dari enci sangat bagus sekali terpaksa enci harus berlari sebentar. Sudah sepantasnya ini pekerjaan budakmu.....

Tidak selang beberapa saat kemudian dia sudah muncul kembali disana dengan membawa sebuah nampan dengan empat macam sayur serta satu teko arak.

Ia menghidangkan sayur-sayur tersebut keatas batu kemudian memunahkan cawan arak dari Hu Pak Leng serta Kok Han Siang.

Perlahan-lahan Hu Pak Leng mengangkat cawan arak itu dan diangkatnya kehadapan Kok Han Siang.

Selama beberapa bulan ini karena urusanku kau jadi terus ikut merasa kuatir dalam hati aku merasa tidak tenang, katanya sambil tertawa. Mari biar aku hormati secawan arak kepadamu untuk minta maaf...

Mendadak Kok Han Siang bangun berdiri dan lari kearah pangkuan Hu Pak Leng.

Sejak kali ini Toako kembali dari tempat luaran rasanya terlalu memandang asing diriku serunya dengan manja. Aku adalah isterimu! kenapa kau ucapkan kata-kata tersebut...

Senyuman masih menghias bibirnya hanya saja titik-titik air mata jatuh berlinang membasahi pipinya.

Langit ambruk laut kering cintaku tak akan padam, sehidup semati dalam satu liang kubur yang sama Senandungnya lirih. Hu Pak Leng menghela napas panjang. Ia membelai rambut istrinya dengan hati pedih, dan pikiran kusut pikirnya :

Sebetulnya aku bisa membawa istriku mengasingkan diri dari keramaian dunia dan menjalani hidup yang tenang dan tenteram bagaikan sepasang dewa dewi... hei kenapa justeru aku punya niat untuk merebut kedudukan Bengcu ini sehingga memaksa posisiku seperti menunggang di atas punggung harimau. Di luar tidak berhasil memperoleh kepercayaan dari para pemimpin partai besar dari dalampun tidak mendapatkan dukungan kawan-kawan Liok-lim gerombolan iblis-iblis sakti dibawah pimpinan Hong Cioe pun sudah mulai munculkan diri kedalam dunia kangouw sebentar lagi seluruh dunia persilatan tentu akan kacau balau tidak karuan... kini suatu badai pembunuhan yang sangat mengerikan sudah berada diambang pintu... dan kedudukanku mulai terjepit ditengah maju tak dapat mundurpun seram, heeei... apa tindakanku saat ini??

Teringat akan kesulitan yang mulai menyelimuti dirinya semangat dalam hatipun mulai buyar.

Kok Han Siang yang berada dalam pangkuan Hu Pak Leng perlahan-lahan dongakan kepalanya ke atas sambil mengusap kering air mata yang membasahi pipinya ia berkata sembari tertawa :

Toako hatimu sudah tidak gembira lagi. Heeeei akupun tidak seharusnya mengucurkan air mata. Mendengar perkataan tersebut kontan Hu Pak Leng merasakan hatinya bergidik pikirnya :

Hu Pak Leng! Hu Pak Leng! tempo dulu kau adalah seorang bajingan besar yang sering membu nuh orang dan manusia yang paling berdosa, semangatmu berkobar-kobar tidak takut langit tidak takut bumi, sepertinya manusia dari seantero dunia pada menaruh rasa jeri terhadap dirimu. Kenapa setelah mempunyai ingatan untuk menolong manusia menolong dunia dari bahaya kau malah menunjukan sikap yang takut semacam pengecut semacam cucu kura-kura??

Mengikuti perputaran ingatan tersebut semangat jantanpun berkobar didalam hatinya, dengan gagah ia tertawa tergelak.

Siang moay kau jangan banyak berpikir, kapan aku tidak gembira?? mari kita teguk arak ini! Tanpa banyak pikir lagi diteguknya isi cawan tersebut.

Kok Han Siang tersenyum iapun angkat cawan arak itu dan diteguk isinya habis. Toako ulang tahunmu hampir tiba.

Ooouw..... kau masih teringat.....

Tempo dulu karena setiap hari harus melarikan diri sedikitpun tak ada waktu untuk merayakan ulang tahunmu ini, tahun ini aku harus baik-baik mempersiapkan beberapa macam sayur untuk merayakan hari besar tersebut.

Jarak ini hari dengan hari ulang tahunku masih ada setengah bulan sampai waktunya kita bicarakan lagi! kata Hu Pak Leng tertawa sambil melirik sekejap kearah bocah tersebut.

Selama beberapa bulan ini aku sudah banyak belajar ilmu masak memasak semuanya sayur yang paling kau gemari.

Agaknya secara mendadak Hu Pak Leng sudah teringat akan suatu persoalan yang maha berat.

Siang moay! serunya sambil tertawa aku sudah teringat akan satu persoalan entah seharusnya aku lakukan atau tidak?.

Apa yang hendak kau rundingkan dengan diriku?

Benar! seseorang yang hidup dikolong langit perlukah meninggalkan sedikit kenang-kenangan buat orang-orang dikemudian hari?.

Sudah tentu harus, sahut Kok Han Siang sesudah termenung sejenak. Hu Pak Leng tersenyum, kembali ujarnya.

Lembah Mie Cong Kok kita bayangkan ditinggali jago-jago Liok-lim yang tak akan mendatangkan pandangan kurang baik bagi sang bocah ini, mendadak aku teringat dengan seorang kawanku yang sudah beberapa tahun tak kutemui, aku ingin menghantar bocah ini kesana.....

Bagaimana?? apakah kepandaian silat dari kawanmu itu jauh lebih kuat dari dirimu??.

Bukan saja kepandaian silatnya jauh lebih hebat dari diriku bahkan pandai pula didalam ilmu perbintangan serta ilmu tanah ia merupakan satu-satunya manusia aneh yang masih tinggal di Bu-lim pada saat ini.

Lama sekali Kok Han Siang bungkam diri dan termenung akhirnya ia menghela napas panjang. Bagaimana kalau aku hantar dia seorang diri??.

Akan kutulis sepucuk surat kemudian suruh Boen Thian Seng serta Soat Cie masing-masing menemani diriku.

Kalau begitu bukankah kita bakal berpisah dalam jangka waktu yang amat lama sekali??. Hu Pak Leng tempat termenung beberapa saat akhirnya dengan gagah ia tertawa tergelak.

Haaa... haaa dikolong langit tak ada perjamuan yang tidak bubar jikalau aku mati seharusnya kaupun

hidup seorang diri.

Mendengar perkataan tersebut tubuh Kok Han Siang kontan gemetar sangat keras cawan yang ada ditangannya terlepas jatuh dan hancur berantakan

Setelah berdiri tertegun beberapa saat akhirnya ia menghela napas panjang.

Heeei Toako sampai saat ini apakah kau masih belum mengerti hatiku? jikalau kau mati apakah aku

bisa hidup seorang diri?

Dengan pandangan yang sayu Hu Pak Leng memandangi wajah istrinya terlihatlah air muka Kok Han Siang kelihatan begitu mengenaskan. hatinya terasa goyah sangat keras.

Dengan cepat ia tersenyum.

Seorang manusia hidup seratus tahunpun akhirnya akan mati juga aku cuma bicara bergurau kenapa harus kau anggap bersungguh-sungguh? serunya perlahan.

Walaupun ia berusaha untuk menekan nada suaranya agar tetap lunak dan tenang tetapi ia tak berhasil juga menahan kepedihan dalam hatinya terasa pandangan mata berkunang tetesan air mata jatuh berlinang.

Kok Han Siang bangun berdiri dan berjalan menghampiri suaminya.

Toako! ujarnya lunak, aku tidak akan pergi menghantar bocah tersebut biarlah Boen Thian Seng serta Soat Jie saja yang hantar dirinya! aku akan tetap tinggal didalam lembah Mie Cong Kok untuk menemani dirimu.

Mendadak Hu Pak Leng meloncat bangun dan menyeka bekas air mata diatas wajahnya. Aku masih ada urusan tak bisa lama-lama menemui kalitan lagi.

Setelah menepuk pundak bocah tersebut dengan langkah lebar ia lantas berjalan keluar.

Sebenarnya Biauw Siok Lan ada maksud untuk menghalangi perjalanannya tetapi melihat wajah lelaki tersebut penuh diliputi keseriusan ia tak berani untuk melaksanakan niatnya.

Akhirnya dengan kepala tertunduk buru-buru ia menyingkir kesamping jalan. Selama hidup belum pernah Kok Han Siang melihat suaminya menunjukkan sikap yang berani kepada dirinya untuk beberapa saat ia dibuat jadi kebingungan dan memandang bayangan Hu Pak Leng dengan pandangan mendelong.

Kiranya Hu Pak Leng secara mendadak menemukan bila sikap istrinya yang lemah lembut itu ia tak berani duduk lebih lama lagi dan buru-buru meninggalkan tempat itu.

Ia merasakan beribu-ribu persoalan beratus-ratus macam kemurungan bersama-sama mengalir keluar memenuhi benaknya kendati ia adalah seorang yang cerdik tak urung dibuat kebingungan juga.

Setelah berjalan keluar dari dalam gua dan tertiup angin gunung yang dingin kesadaranpun perlahan- lahan pulih kembali seperti sedia kala.

Mendadak hatinya rada bergerak diam-diam pikirnya.

Selama ini Hong susiok paling banyak akal, ia sengaja mengirim sute untuk kirim surat ke lembah Mie Cong Kok sudah tentu secara diam-diam ia membuat persiapau pula kalau aku memang berniat untuk menolong seluruh dunia kangouw kenapa tidak tempuh bahaya untuk menghadapi pertemuan puncak para iblis dan cari keterangan tentang siasat licik yang sedang mereka susun dikemudian hari ada kesempatan bagiku untuk bikin persiapan-persiapan.