Badai Dunia Persilatan Jilid 06

Jilid 06

DARI salah seorang anak murid Im So It Mo cayhe mendengar kabar bahwa ada beberapa orang iblis tua itu sudah lama mengasingkan diri munculkan dirinya kembali dalam Bu-lim hampir bersamaan waktunya mereka akan melakukan penyerangan secara besar-besaran untuk membasrmi seluruh perguruan dari aliran lurus yang ada didalam Bu-lim tindakan mereka ini meliputi hal yang luas karena hal ini bakal mendatangkan pembunuhan serta banjir darah yang mengerikan dalam Bu-lim maka sengaja aku datang kemari memberi kabar kepada partai Siauw lim sebagai pemimpin partai-partai lainnya aku berharap sejak semula Thaysu suka mengadakan persiapan sehingga sampai waktunya nanti tidak sampai kelabakan.

Di antara beberapa orang jagoan lihay tersebut kecuali Im So It Mo ada siapa saja? tanya Thian Sian Thaysu lebih lanjut setelah termenung sejenak.

Menurut apa yang cayhe dengar pemimpin serta otak dari rencana busuk ini bernama Hong Cioe. Apa? Hong Cioe? mendadak air muka Thian Sian Thaysu berubah hebat.

Sedikitpun tidak salah.

Air muka Thian Sian Thaysu berubah semakin serius lagi.

Hong Cioe sudah ada empat puluh tahun lamanya belum pernah munculkan kembali didalam dunia kangouw apakah kini ia masih hidup dikolong langit? tanyanya kaget.

Pada sepuluh tahun yang lain aku masih bertemu muka satu kali dengan orang ini ujar Hu Pak Leng sambil tersenyum dengan kesempurnaan tenaga lweekang yang dimiliki sekalipun hidup tiga puluh tahun lagi kemungkinan sekali tidak sampai.

Sebenarnya ia ingin berkata tidak sampai mati kesakitan mendadak teringat olehnya bila Hong Cioe bagaimanapun masih merupakan Cianpweenya karena itu perkataan yang semula hendak diutarakan terpaksa ditelan kembali mentah-mentah.

Di atas wajah Thian Sian Thaysu yang ramah itu tiba-tiba terlintaslah cahaya yang sangat aneh sinar matanyapun berkilat.

Mendadak ia bangun berdiri lalu perlahan-lahan berjalan kesamping jendela.

Kalau demikian adanya sudah tentu Hu Bengeu dengan Hong Cioe mempunyai hubungan yang erat bukan? tanyanya sambil memandang kearah angkasa.

Bila dibicarakan dari soal tingkatan, seharusnya Hong Cioe masih merupakan susiok cayhe! Dengan wajah penuh perasaan terkejut mendadak Thian Sian Thaysu menoleh.

Persoalan Hong Cioe hendak menuntut balas terhadap partai-partai besar yang ada didalam Bu-lim tentunya sudah dibicarakan dengan Hu Bengcu bukan! serunya.

Hu Pak Leng segera rneloncat bangun.

Walaupun Hong Cioe adalah susiok cayhe tetapi kami jarang sekali bertemu muka atau boleh dikata hubungan kita sangat tawar bagaikan tawarnya air sungai. Bilamana Loo siansu menganggap perkataan cayhe mengandung maksud-maksud tertentu hal ini merupakan suatu tuduhan yang tak bisa dibantah dari tempat ribuan li jauhnya aku datang kemari maksud tujuannya tidak lebih ingin menyampaikan persoalan kepada kalian sedang mengenai apakah Loo siansu suka percaya atau tidak itu terserah pada kalian sendiri maaf cayhe ingin mohon pamit. Selesai berkata ia lantas merangkap tangannya menjura kemudian putar badan berlalu dari loteng tersebut.

Buru-buru Thian Sian Thaysu merangkap tangannya membalas hormat.

Di bawah loteng sudah tersedia sedikit sayur, Hu Bengcu sudah melakukan perjalanan ribuan li jauhnya sudah tentu perut terasa agak lapar bagaimana kalau kalian bersantap dulu kemudian baru berangkat?? pintanya.

Kami tak berani mengganggu ketenangan siansu lebih lama lagi. Selesai berkata tanpa menoleh lagi ia lantas menuruni loteng tersebut.

Yu Ih Lok dengan kencang mengikuti dari belakang tubuh Hu Pak Leng meninggalkan ruangan sunyi yang dikelilingi hutan pohon siong lebat itu setelah melebihi jalanan beralas batuan putih merekapun berlalu dari kuil Siauw lim si.

Agaknya Yu Ih Lok mengerti bila pada saat ini Hu Pak Leng sedang merasa mendongkol karena itu selama perjalanan ia bungkam tak mengucapkan sepatah katapun.

Hanya didalam sekejap mata mereka berdua sudah melakukan perjalanan sejauh berpuluh-puluh li mendadak Hu Pak Leng berhenti berlari lalu menghela napas panjang-panjang.

Heeei..... nama besar Siauw Lim Hong Tiang sudah terkenal diseluruh dunia persilatan setelah bertemu ini hari aku baru merasakan bahwa ia benar-benar sangat mengagumkan sekali, ujarnya sambil menoleh kearah Yu Ih Lok.

Yu Ih Lok yang mendengar dia orang ternyata memuji Hong Tiang dari partai Siauw lim pay dalam hati merasa keheranan pikirnya.

Ketika orang melakukan perjalanan siang malam cemas bagaikan seekor kuda untuk mendatangi gunung Siong-san memberi kabar kepada mereka bukannya memperoleh pelayanan yang patut sebaliknya mendapatkan rasa curiga dari pihak mereka bagaimana mungkin saat ini kau malah memuji dirinya setinggi langit??.

Semakin dipikir hatinya semakin mendongkol, tak tertahan lagi serunya :

Sungguh memalukan sekali hweesio tua samacam itu dipuji oleh jago-jago Bu-lim sekerabatnya bagaimana mungkin seorang manusia yang berhati sempit semacam dia bisa menguasai partai Siauw lim.....

Mmm aku lihat tindakannya hanya menyamarkan nama baik partai Siauw lim saja... apanya yang patut dipuji??.

Haaaa.... haaa.... haaa    urusan ini tak dapat disalahkan dia orang terlalu banyak menaruh rasa curiga

terhadap kita. Mendadak Hu Pak Leng tertawa panjang kedudukan kita tidak sama bagaimana kau boleh menyalahkan orang lain terlalu banyak menaruh rasa curiga terhadap kita?? maksud kita hanyalah ingin mereka mengetahui urusan ini dan mereka bisa melakukan persiapan sejak sekarang Thian Sin Thaysu bisa menjabat sebagai Ciang Bun Jien dari partai Siauw lim sudah tentu ia termasuk seorang manusia yang cerdik, terhadap peristiwa ini sudah tentu ia tidak akan menanggapi dengan serius asalkan secara diam-diam dia mengirim orang untuk melakukan penyelidikan maka keadaan yang sesungguhnya tentu akan dia ketahui dengan cepat.....

Yu Ih Lok masih tetap merasa tidak puas dengan sikap Bengcunya ini :

Stkapnya terhadap Bengcu amat dingin, tawar bahkan memandang hina. Hmm! sungguh membuat orang yang melihat merasa tidak tahan teriaknya.

Perlahan-lahan Hu Pak Leng mengalihkan sinar matanya memandang tumbuhan gandum yang bergoyang tertiup angin gumamnya seorang diri. Umur seorang manusia ada batasnya hanya sepuluh tahun yang pendek dalam sekejap akan berlalu justru dikarenakan waktu hidup manusia ada batasnya maka hal ini meninggalkan beberapa macam persoalan yang akan teringat sekali didalam benak setiap insan manusia beberapa waktu dapat sampai menunjukkan kesombongan rasanya tak perlu dipikirkan terlalu serius didalam hati.

Selesai berkata ia lantas tertawa tergelak sehingga menggetarkan seluruh angkasa.

Saking kerasnya suara tertawa tersebut beberapa ekor burung yang sedang berada diatas pohon pada beterbangan saking kagetnya.

Agaknya menggunakan suara tertawa yang sangat keras ini ia ingin menyalurkan keluar seluruh rasa mangkel didalam hatinya begitu suara tertawa sirap wajahnyapun sudah terlintas kembali perasaan girang.

Kepada Yu Ih Lok lantas serunya :

Jarak hari ini dengan perjanjian kita tiga bulan mendatang masih terlalu pagi kitapun tak usah berangkat terlalu tergesa-gesa mari kita membeli beberapa ekor kuda jempolan di kota sebelah depan sehingga sambil melakukan perjalanan nanti kita bisa nikmati dulu keindahan alam pemandangan disekeliling jalan.

Heeei Bengcu bisa demikian lapang dada bisa memahami perasaan manusia, bersemangat berhati

welas, boleh dikata sukar untuk mencari orang yang dikolong langit pada saat ini.

Aku Yo Ih Lok bisa mengikuti dirimu boleh di kata hal ini merupakan suatu keuntungan yang tiada taranya, ujar Yu Ih Lok sambil menghela napas panjang.

Mendadak wajah Hu Pak Leng berubah ramah ia tersenyum.

Sejak dahulu kala manusia yang berhati welas dan bersemangat tinggi kebanyakan didasarkan atas baberapa persoalan yang pernah menimpa dirinya, sebelum itu tetapi ada berapa orang yang bisa mencapai cita-citanya dengan sukses?.

Ia mendongakkan kepalanya memandang awan yang bergerak ditengah angkasa dengan sedih sambungnya kembali.

Situasi yang kita hadapi saat ini tidak lebih merupakan lingkaran semak berduri yang sangat berbahaya bagi keselamatan kita, keadaan betul-betul mengerikan dan kritis satu tindak saja kita salah jalan bukan saja akan di cap oleh kawan-kawan kita sebagai pengkhianat bahkan akan terjerumus dalam keadaan terjepit oleh dua golongan yang berbeda keadaan dan situasi semacam ini bagaimana mungkin tidak membuat orang merasa sedih dan harus menghela napas.....

Yu Ih Lok adalah seorang manusia yang sangat cerdik, bagaimana mungkin dia orang tak mengerti keadaan situasi yang dihadapi mereka ini sangat berbahaya.

Orang-orang dari perguruan serta partai-partai aliran lurus tidak ingin bekerja sama dengan mereka anak buah mereka sendiripun merupakan bajingan-bajingan serta perampok-perampok Liok-lim yang pada hari-hari biasa sudah sering berbuat jahat, membunuh orang membakar rumah memandang nyawa manusia seperti permainan, berbuat sesukanya tanpa memperduli hukum.

Kini Hu Pak Leng telah menetapkan empat buah pantangan yang berhasil mengendalikan sifat binal mereka manusia yang biasa berbuat jahat kini bisa dikekang hawa napsu jahatnya hal ini sebetulnya merupakan suatu pekerjaan yang sangat mulya.

Pada hari-hari biasa mereka memang sangat takut oleh kelihayan kepandaian silat Hu Pak Leng sehingga tidak berani bergerak secara gegabah tetapi bilamana sudah terjadi suatu peristiwa bukan saja mereka akan melakukan perlawanan bahkan kemungkinan juga meminjam kesempatan ini mereka akan mengacau sehingga mengakibatkan suatu peristiwa saling bunuh membunuh yang sangat mengerikan.

Tak terasa lagi diam-diam ia menghela napas panjang sedang diujung bibir ia tetap tersenyum. Nyali Bengcu besar melebihi orang lain. Hamba sekalian sudah tentu merasa amat kagum walaupun berada dalam keadaan serta situasi yang berbahaya seharusnya kita bisa lewati dengan tenang.

Mari... mari... kita percepat sedikit lari kita setelah tiba disebuah kota besar ada seharusnya kita beristirahat sambil bersantap.

Kita balik pada Lauw San Sam Hiong yang berjaga-jaga didalam ruangan menanti si perempuan muda berbaju putih itu selesai bersemedi.

Setelah dia sadar kembali Pauw Cau lantas menyampaikan pesan dari Hu Pak Leng sebelum berangkat

pergi.

Demikian mereka lantas melakukan perjalanan cepat menuju kearah Pak Ih.

Sikap perempuan berbaju putih itu mendadak berubah jadi sangat pendiam sikap serta tindak- tanduknyapun lebih gagah dari keadaan tempo dulu, hal ini membuat Lauw San Sam Hiong yang semula memandang rendah terhadap dirinya kini semakin lama semakin menghormat.

Urusan ternyata jadi diluar dugaan selama didalam perjalanan tak menjumpai anak buah Im So It Mo turun tangan menghadang perjalanan mereka.

Siang itu mereka sudah tiba di keresidenan Hwee Gwan jarak dengan Pak Ih tinggal setengah hari perjalanan.

Si setan Coe Khek Hong Ci diam-diam menghela napas panjang, sambil tertawa ujarnya memecahkan kesunyian.

Sekarang jarak dengan Pak Ih sudah dekat sekalipun akan terjadi suatu peristiwa kita tak takut.

Baru saja perkataan tersebut selesai diucapkan mendadak dari ujung muncullah dua orang toosu berusia pertengahan yang menggebol pedang berjalan menghampiri mereka.

Loo jie seru Pouw Cu kepada Hong Ci. Coba kau lihat dua orang toosu yang menggembol pedang itu mempunyai semangat yang menyala agaknya mereka merupakan jago-jago lweekang yang tak boleh dipandang enteng.

Sinar mata si setan Coe Khek berkilat dia memperhatikan sekejap kedua orang toosu tersebut. Agaknya orang-orang dari partai Bu-tong pay entah apa maksud mereka datang kemari?? katanya. Pada saat mereka sedang, bercakap-cakap itulah jarak masing-masing pihak semakin dekat.

Enam buah mata dari Lauw San Sam Hiong bersama-sama dialihkan keatas tubuh kedua toojien tersebut sambil memandangnya dengan tajam sebaliknya kedua orang toojien itu pura-pura tidak tahu mereka tetap melanjutkan perjalanannya kedepan dengan tenang.

Pouw Cau yang berada didepan pertama-tama yang melarikan kudanya menerjang kedepan dalam hati ia merasa sangat curiga terhadap munculnya ke dua orang toojien tersebut disekitar Pak Ih :

Karena itu didalam hati ia ada maksud mencari keonaran kemudian meminjam kesempatan tersebut akan turun tangan menangkap mereka kembali ke lembah Mie Cong Kok.

Kedua orang toojien tersebut sewaktu melihat Pouw Cau melarikan kudanya menerjang mereka kedua orang itu cuma tersenyum kemudian bersama-sama menyingkir kesamping.

Demikian jarak antara mereka berdua terlowong sebuah ruangan selebar tiga depa.

Pouw Cau yang ada maksud mencari gara-gara sengaja ia melarikan kudanya kearah toojien yang ada disebelah kiri.

Siapa sangka mendadak kuda tunggangannya meringkik panjang lalu meloncat keatas. Pouw Cau sama sekali tidak menduga kalau kudanya akan meloncat keatas hampir-hampir saja tubuhnya terlempar dari atas pelana.

Dalam keadaan gugup sepasang kakinya dienjotkan keatas sadal lalu mencelat ketengah udara dan melayang turun keatas permukaan tanah.

Terlihatlah kuda tersebut diiringi suara ringkikan panjang segera menerjang kearah depan. Ketika itu si setan Coe Khek Hong Ci sudah mengejar datang.

Si perempuan berbaju putih yang melihat sang kuda tanpa penumpang berlari kedepan dengan cepat ia meloncat ketengah udara berkelebat kearah depan pula.

Bagaikan seekor burung walet perempuan itu meloncat mengejar kuda tersebut dan dengan sangat tepat berhasil jatuh diatas pelana.

Di dalam sekali sentakan senjata ia sudah menarik tali les kuda itu untuk berputar dan berlari kehadapan beberapa orang itu.

Menanti hampir menerjang beberapa orang itu ia baru menghentikan larinya kuda.

Hong Ci serta Ong Toa Kang dengan cepat meloncat turun pula dari punggung kuda dengan demikian mereka bertiga bersama-sama berdiri sejajar menghadang jalan pergi kedua orang toojien tersebut :

Sinar mata kedua orang toosu itu berputar mereka memandang sekejap kearah si perempuan berbaju putih itu.

Mendadak orang yang berdiri disebelah kanan bergeser dua kesamping berdiri sejajar dengan toosu yang ada disebelah kiri.

Heee... heee... heee... ketika itulah Pouw Cau sudah tertawa dingin tiada hentinya, orang beribadat mengapa tidak tahu adat badan menggembol senjata lagi pula turun tangan hendak melukai kuda tungganganku apakah kalian ada maksud hendak membegal kudaku.

Hmm soal ini harus salahkan kudamu yang sudah buta sepasang matanya sahut sang toosu yang ada disebelah kiri dengan suara yang amat tawar kalau bukan kuda butamu itu menerjang terus kemari apakah kami suka turun tangan... jikalau semisalnya kami yang menemui ajal karena terjangan kudamu lalu apa yang hendak kalian lakukan apa kalian anggap nyawamu adalah nyawa manusia sedang nyawa kami bukan nyawa manusia?

Beberapa perkataan tersebut diucapkan dengan sangat tajam bahkan amat cengli hal ini membuat Pouw Cau untuk beberapa saat lamanya dibuat kelabakan ia sama sekali tidak mengerti harus menggunakan perkataan apakah untuk balas menjawab perkataannya itu.

Tak terasa lagi ia berdiri termangu-mangu disana.

Kiranya dia yang sudah mengikuti Hu Pak Leng beberapa saat lamanya tanpa terasa iapun sudah banyak ketularan sikap dari Bengcunya.

Ketika dirasanya perkataan dari pihak lawan sangat cengli dan tak ada perkataan yang bisa digunakan untuk membantah, perasaan gusar dalam hatinya terasa sukar untuk diutarakan keluar.

Dengan pandangan yang sangat dingin si setan Coe Khek Hong Ci memandang sekejap kearah kedua orang toojien tersebut.

Tootiang berdua apakah jagoan dari partai Bu-tong pay? tegurnya.

Kedua orang toojien tersebut sewaktu mendengar dia orang secara mendadak mengalihkan bahan pembicaraan, tak terasa lagi pada kerutkan alisnya rapat-rapat dan termenung tidak berbicara.

Kembali Hong Ci tertawa dingin tiada hentinya. Partai Bu-tong pay merupakan suatu partai aliran lurus yang sudah amat terkenal didalam dunia persilatan, sekalipun disebutkan keluar rasanya tak akan merendahkan kedudukan kalian berdua bukan? katanya lagi.

Mendengar perkataan yang sangat tajam itu ke dua orang toojien tersebut terdesak untuk mau tak mau harus menyahut.

Kalau benar kalian mau apa? terpaksa sahutnya ketus :

Jarak gunung Butong-san dengan tempat ini terpaut kurang lebih seribu li rasanya perjalanan kalian tidak dekat?

Untuk sementara waktu lamanya kedua orang toojien tersebut tak mengerti maksud perkataannya tanpa terasa kedua orang toosu itu sudah saling bertukar pandangan.

Apa maksudmu dengan mengajukan pertanyaan ini? tanyanya.

Heeei... heeei... heeei... jauh dari ribuan li kalian berdua datang kemari entah apa maksud tujuan kalian kata Hong Ci sambil tertawa dingin air mukanya berubah keren.

Apa tujuan kita apa hubunganya dengan kalian tiba-tiba sang toosu yang usianya lebih tua itu berteriak

keras.

Hong Ci menoleh memandang sekejap kearah Pouw Cau lalu dengan nada yang amat dingin sambungnya.

Kalau memang kalian berdua tidak mau bicara terus terang bagaimana kalau cayhe wakili kalian untuk menjawab...

Apa teriak si toojien yang berada disebelah kanan.

Bukankah kalian berdua mendapat tugas dari suhumu untuk menyelidiki keadaan disekeliling Pak Ih potong Hong Ci dengan cepat. Cuma sayang jalan menuju lembah Mie Cong Kok ada berribu-ribu penjagaanpun sangat ketat tak bisa kalian berdua harus menyia-nyiakan perjalanan kalian yang melelahkan ini.

Sang toosu yang ada disebelah kanan setelah terkena gosokan oleh perkataan tersebut benar tak bisa menahan sabarnya dia tertawa dingin tiada hentinya.

Aku kira belum tentu benar... teriaknya.

Sute buat apa kau ribut! mendadak sang toosu yang ada disebelah kiri membentak memutuskan perkataan yang belum selesai diucapkan.

Haaa... haaa... sayang sudah terlambat teriak si setan Coe Khek sambil tertawa tarbahak-bahak kepada Pouw Cau segera serunya :

Toako kemungkinan sekali mereka sudah berhasil memperoleh peta dari situasi sekeliling lembah Mie Cong Kok mari kita geledah saku mereka.

Tanpa banyak cakap lagi Pouw Cau segera menerjaag kedepan melancarkan serangan gencar ke arah kedua orang toojien itu.

Toosu yang usianya lebih tuaan dengan gemas melototi sekejap sang toosu muda yang banyak bicara itu pergelangan tangannyapun segera digerakkan mencabut keluar pedang yang tersoren diatas punggung.

Di antara kebasan yang keras serentetan cahaya pelangi berwarna keperak-perakan yang di selingi dengan segulung hawa pedang menahan perjalanan selanjutnya dari Pouw Cau.

Hmm...heee... heee... kalian ingin turun tangan...?? serunya tertawa dingin. Hong Ci tidak berbicara apa-apa goloknya segera tercabut keluar pula kemudian dengan cepat menerjang kedepan.

Sang toosu yang usianya lebih mudaan dengan cepat mencabut pedangnya yang tersoren diatas punggung badannya bergeser dua langkah kesamping berdiri sejajar dengan toosu lainnya untuk bersama- sama menahan datangnya serangan musuh.

Ong Toa Kang membentak keras dari dalam sakunya ia mengambil keluar sebuah gelang emas yang memancarkan cahaya keemas-emasan serta sebuah tongkat besi yang kasar dan besar.

Loo jie minggir gembornya keras. Biarlah aku orang yang coba-coba ilmu pedang aliran Bu-tong pay.

Orang ini kasar lagi berangasan selamanya pantang mengikuti aturan setelah berkata hendak bertempur ia lantas turun tangan.

Tongkat besinya dengan menimbulkan suara keras segera ia hantamkan keatas kepala musuh.

Sang toojien yang usianya agak tuaan itu sewaktu melihat serangannya amat ganas pedangnya segera digetarkan menotok jalan darah pergelangan tangan kanan Ong Toa Kang.

Serangan pedangnya ini dilancarkan amat ganas telengas kontan saja Ong Toa Kang kena terdesak sehingga buru-buru ia harus menarik kembali tongkat besinya dan mundur tiga langkah kebelakang.

Si toosu tersebut setelah berhasil melancarkan serangan mendesak mundur Ong Toa Kang tubuhnya dengan cepat menerjang maju kedepan pedangnya menyapu kekanan menghajar kekiri, hanya didalam sekejap mata telah mengirim delapan serangan sekaligus.

Ke delapan buah serangan itu dilancarkan sambung-menyambung kecepatanpun melebihi sambaran kilat setiap jurus kesemuanya mengancam jalan-jalan darah penting diseluruh tubuh Ong Toa Kang kedahsyatannya sungguh luar biasa.

Hal ini memungkinkan Ong Toa Kang harus menangkis dengan repot setelah susah payah akhirnya ia berhasil menghindarkan diri kegagalan sebuah serangan gencar tersebut.

Si setan Coe Khek Hong Ci yang melihat kejadian itu diam-diam mengerutkan dahinya.

Aaaah. ilmu pedang aliran Bu-tong pay benar-benar sangat luar biasa diam-diam ia memuji dalam

hati. Kelihatannya Loo Sam seorang tak bakal tahan menghadapi serangan-serangan gencarnya.

Selagi ia bermaksud turun tangan membantu mendadak terdengar Ong Toa Kang membentak keras suaranya bagaikan halilintar yang membelah bumi.

Serangan-serangan balasan segera dilontarkan keluar gelang emas serta tongkat besinya saling susul- menyusul dikirim keluar.

Hanya didalam waktu yang singkat itu ia sudah mengirim beberapa buah serangan berantai yang memaksa toojien tersebut harus mundur lima langkah kebelakang.

Haruslah diketahui bahwa Lauw San Sam Hiong merupakan jago-jago yang mempunyai nama sangat terkenal didalam dunia kangouw dan bukanlah manusia sembarangan.

Karena pada permukaan sang toojien tersebut telah melancarkan serangan berantai dengan menggunakan jurus andalan yang paling lihay dari ilmu pedang Pat Sian Kiam Hoat maka untuk sementara waktu Ong Toa Kang kena terdesak terus kebelakang.

Tetapi menanti ilmu pedang tersebut telah selesai digunakan belum sempat dia orang berganti jurus Ong Toa Kang sudah mengirim serangan balasan yang gencar memaksa dia orang jadi terdesak.

Orang ini mempunyai tenaga dalam yang maha dahsyat senjata tajam yang digunakanpun sangat berat, serangan tongkat besinya ini hebat bagaikan palu besi yang menghajar batu saja. Walaupun si toosu berusia rada tuaan itu mencekal pedang tetapi ia tak berani menangkis datangnya serangan tongkat besi serta gelang emas itu dengan keras lawan keras selama ini ia cuma mengandalkan kelincahan badannya saja untuk berkelit dan menghindarkan diri dari serangan-serangan gencar pihak musuh.

Masing-masing pihak setelah saling menyerang dengan mengandalkan kepandaian andalannya mendadak sama-sama berhenti dan saling berdiri berhadapan tak bergerak.

Di dalam bentrokan barusan dalam hati masing-masing sudah mengerti bila mereka telah menemui musuh tangguh siapapun tak berani mempunyai pikiran terlalu memandang rendah musuhnya.

Dalam pertempuran selanjutnya masing-masing pihak tentunya akan menggunakaan seluruh tenaga yang dimilikinya untuk menyerang, oleh karena itu mereka berdua mulai mengatur pernapasan melakukan persiapan-persiapan.

Si toosu muda itupun sambil mencekal pedangnya erat-erat berdiri disisi kalangan, sepasang matanya memperhatikan suasana ditengah kalangan tajam-tajam.

Sebaliknya si setan Coe Khek Hong Ci dengan mencekal goloknya melototi diri toosu tersebut asalkan si toosu muda itu turun tangan ia segera akan turun tangan pula menyambut.

Pouw Cau serta si dara berbaju putih itu tetap bersikap acuh tak acuh mereka menonton jalannya pertempuran dari sisi kalangan.

Masing-masing pihak setelah saling berhadap-hadapan beberapa saat pertama-tama Ong Toa Kang lah yang tak bisa menahan sabar, ia membentak keras :

Tongkat besinya segera dibabat kedepan mengikuti badannya yang menerjang ke muka tongkatnya dengan jurus Lek Pit Hoa San atau membabat hancur gunung Hoa-san menghajar kepala pihak lawan, sedang gelang emas ditangan kirinya dengan menggunakan jurus Tong Yang Shia Can, atau sinar timur menyorot membabat sejajar dada.

Toojien tersebut dengan cepat menggerakkan pedangnya ke depan, ditengah menari serta bergoyangnya cahaya tajam terbentuklah tiga kuntum bunga-bunga pedang yang secara terpisah mengancam tiga buah jalan darah penting ditubuh Ong Toa Kang.

Kedua orang itu hampir pada saat yang bersamaan turun tangan bersama-sama bahkan serangan- serangan yang dikerahkan keluarpun merupakan jurus-jurus serangan yang maha dahsyat :

Jikalau mereka berdua tidak suka melepaskan kesempatan untuk melukai pihak musuh dan menghindarkan diri dari serangan pihak lawan masing-masing pihak tentu akan menderita luka yang parah.

Si setan Coe Khek Hong Ci yang menguatirkan keselamatan adik angkatnya buru-buru bentaknya

keras.

Loo sam jangan terima serangan dengan keras lawan keras.....

Sewaktu suara bentakan tersebut baru saja dilancarkan keluar Ong Toa Kang sudah mundur ke belakang.

Gelang emas ditangan kirinya dengan cepat di tarik kebelakang membentuk serentetan cahaya keemas-emasan melindungi seluruh badan.

Terdengarlah suara bentrokan senjata tajam yang sangat ramai diikuti percikan bunga-bunga api, tahu- tahu pedang sang toosu dari Bu-tong pay ini sudah kena tergetar kesamping oleh tangkisan gelang itu.

Mendadak toojien tersebut meloncat ketengah udara pedang yang berada ditangannya dikebutkan laksana kitiran cepatnya.

Dimana cahaya sinar berkelebat terasalah berlaksa-laksa ular perak bersama-sama mengurung dari atas kepala. Buru-buru Ong Toa Kang menggerakkan gelang emasnya menutup rapat seluruh kepalanya tangan kanannya dengan menggunakan jurus Ing Im Pang Jien atau menyambut mega menghantam sinar dengan sekuat tenaga menghajar keatas pedang lawan.

Tubuh sang toosu yang masih ada ditengah udara kembali berjumpalitan beberapa kali gerakannya mirip sekali naga yang menyambar tahu-tahu ia sudah miring kesamping sejauh lima depa.

Ong Toa Kang yang sedang bertempur seru sudah tentu tak suka melepaskan mangsanya begitu saja maka kembali membentak keras, tubuhnya bergerak melakukan pengejaran.

Menanti toosu tersebut telah melayang turun ke atas permukaan tanah air mukanya mendadak berubah sangat serius, pedangnya disilangkan didepan dada menanti datangnya musuh dengan tenang.

Melihat kejadian tersebut si setan Coe Khek Hong Ci lantas menyadari bila toojien itu siap-siap hendak melancarkan serangan dengan ilmu pedang tingkat atas buru-buru tegurnya dengan suara berat.

Loo sam hati-hati jangan terlalu memandang rendah pihak lawan.

Ketika itu Ong Toa Kang sudah menerjang ke sisi tubuh toojien tersebut mendengar peringatan dari Hong Ci dengan cepat ia menghentikan gerakan tubuhnya.

Perlahan-lahan toosu tersebut maju dua langkah ke depan pedangnya didorong keluar dengan gerakan yang luar biasa lambatnya tetapi sikap serta paras mukanya berubah semakin serius.

Toosu tua hidung kerbau ! diam-diam maki Ong Toa Kang didalam hatinya. Kau ingin menunjukkan permainan setan apa lagi aku justru tidak mempercayai bila tusukan pedangmu yang amat lambat itu berhasil melukai diriku.

Tongkat besi ditangannya diangkat keatas lalu dengan gerakan mendatar menyapu pedang toosu itu.

Siapa sangka sewaktu tongkat besinya hampir terbentur dengan pedang pihak lawan pedang yang dicekal ditangan kanan toosu tersebut miring kesamping gerakan pedangnya telah berubah.

Dari gerakan yang lambat kini jadi cepat dengan menggunakan jurus Kiem Si Cau Wan atau surat emas mengikat pergelangan, menotok tangan Ong Toa Kang.

Perubahan pedang yang baru saja terjadi benar-benar luar biasa sekali bahkan kecepatan gerakannya cepat laksana sambaran kilat.

Dengan mengikuti gerakan tongkat besi ditangan kanan Ong Toa Kang serangan tersebut meluncur datang.

Ong Toa Kang sama sekali tidak menduga bisa datangnya serangan tersebut dengan gelang emas di tangan kirinya tetapi terlambat jika melepaskan tongkat besinya iapun akan terluka dibawah serangan pedang tersebut.

Dalam keadaan terdesak terpaksa ia melepaskan tongkat besi ditangannya pergelangan kanan ditekan kebawah lalu buru-buru mundur tiga langkah kebelakang.

Untung sekali perubahan yang dilakukan olehnya sangat cepat sehingga hanya ujung bajunya saja yang tersobek oleh babatan pedang toojien itu.

Pouw Cau serta si setan Coe Khek Hong Ci yang menonton jalannya pertempuran ini dari samping kanan tidak urung menghembuskan napas dingin juga.

Ketika toosu itu merasa serangannya mencapai hasil tubuhnya kembali menerjang kedepan pedangnya langsung menusuk kearah dada musuh dengan gerakan yang tetap sangat lambat.

Ong Toa Kang yang sudah mengetahui dibalik gerakan yang sangat lambat dari serangan pedang itu secara diam-diam tersembunyi suatu perubahan yang tiada taranya saat ini tidak berani bersikap gegabah lagi, gelang emasnya segera dilintangkan didepan dada siap menanti datangnya serangan musuh. Menanti serangan pedang pihak lawan hampir mendekati tubuhnya gelang emas yang berada di tangan kirinya mendadak didorong kedepan langsung menghajar pedang tersebut.

Mendadak toosu itu bersuit panjang yang semula lambat mendadak berubah menjadi sangat cepat dengan mengarah kebawah langsung menubruk kearah lambung lawannya.

Ong Toa Kang ingin berkelit tetapi kembali terlambat satu langkah, tak terasa lagi hawa amarah memuncak dalam hatinya.

Ia sama sekali tidak menghindarkan diri dari datangnya serangan pedang itu ditengah suara bentakan yang amat keras gelang emasnya dihantam kebawah langsung menghajar batok kepala toojien tersebut.

Ujung pedang sang toosu yang hampir menempel diatas lambung Ong Toa Kang secara mendadak merasa angin serangan yang menderu-deru menyambar pula mengancam batok kepalanya dalam hati merasa terkejut bercampur ngeri diam-diam pikirnya.

Orang ini sangat berangasan buat apa aku harus mengadu jiwa dengan dirinya? tindakan ini sama sekali tidak berharga.

Didalam kerepotan hawa murninya segera ditarik dari pusar mengelilingi seluruh tubuh mendadak ia mencelat mundur kebelakang.

Ong Toa Kang yang berhasil memunahkan sebuah serangan bahaya tangan kanannya dengan cepat menyambar kebawah memungut tongkat besinya.

Di tengah suara teriakan yang keras tongkat besi serta gelang emasnya bersama-sama digerakan langsung menerjang kedepan.

Kembali toosu dengan cepat menangkis datangnya serangan lawan dengan demikian mereka berduapun kembali bertempur dengan amat seru.

Kali ini kedua orang itu tidak berani bertindak terlalu gegabah lagi masing-masing mengeluarkan seluruh kepandaian silat yang dimilikinya untuk berusaha mengalahkan pihak lawannya dengan demikian pertempuran diantara mereka terjadi semakin tegang ramai dan seru.

Ong Toa Kang memiliki tenaga besar melebihi orang lain, serangan-serangan dari tongkat besi serta gelang emas itupun ganas tiada hentinya sembari melancarkan terjangan gencar ia membentak terus tiada hentinya. Angin serangan cahaya gelang di tambah pula dengan suara gemboran yang keras laksana sambaran geledek di siang hari bolong benar-benar membuat orang merasa rada jeri.

Tetapi air muka toojien tersebut tetap keren dan serius, pedang panjangnya dimainkan membentuk serentetan cahaya berwarna keperak-perakan dan berputar kesana kemari mengelilingi serangan tongkat besi serta gelang emas dari Ong Toa Kang.

Pertarungan sengit antara mati hidup yang sangat ramai ini hanya didalam sekejap mata sudah lewat tiga puluh jurus banyaknya tetapi keadaan masih tetap seri siapapun tidak ada yang menang dan siapapun tak ada yang memperoleh kekalahan.

Bila dibicarakan dari tenaga yang dimiliki mereka berdua Ong Toa Kang jauh lebih unggul daripada sang toojien tersebut tetapi jurus-jurus pedang dari sang toojien itu jauh lebih sempurna dari Ong Toa Kang jadi bila ditarik garis tengahnya maka keadaan mereka adalah seimbang dan untuk beberapa waktu sukar untuk ditentukan siapa yang bakal menang dan siapa yang akan kalah.

Sttt... ilmu pedang toojien tersebut sudah mencapai taraf kesempurnaan diam-diam si setan Coe Khek Hong Ci mulai berbisik kepada Pouw Cau setiap kali melancarkan serangan tentu mencari saat-saat yang tepat sedangkan Loo sam dengan tidak sayang-sayangnya mengumbar seluruh tenaga murni yang ada untuk ajak adu kekerasan dengan orang lain jika ditinjau sikap serta keadaannya kita kira dialah yang berada diatas angin tetapi bila pertarungan ini berlangsung terus dalam keadaan begini terakhir yang rugi hanyalah Loo sam bagaimana kalau aku menggantikan dirinya?. Hmm! untuk hancurkan dua orang toosu cilik yang tiada bernamapun kita tak sanggup, hendak dibawah kemanakah nama besar Lauw San Sam Hiong kita?... seru Pouw Cau cepat kau suruh Loo sam berhenti kita turun tangan bersama-sama.

Hong Ci mengangguk.

Loo sam cepat mundur teriaknya kemudian dengan suara keras.

Tetapi walaupun ia sudah berteriak dua kali Ong Toa Kang tetap tidak ambil perduli serangan- serangannya masih tetap gencar.

Kiranya pada waktu itu ia sedang pusatkan seluruh perhatiannya untuk menghadapi musuh dan pertarungan ini sudah membangkitkan rasa girang dihatinya. Boleh dikata terhadap teriak-teriakan Hong Ci sama sekali tidak mendengar.

Sang toojien lainnya yang menonton pertarungan dari sisi kalangan sewaktu melihat Pouw Cau serta Hong Ci saling berbisik dengan suara lirih kemudian berteriak suruh Ong Toa Kang mundur karena takut dari antara mereka sudah mengatur siasat busuk hendak mencelakai suhengnya tanpa berpikir panjang lagi pedangnya segera dilintangkan didepan dada.

Melukai orang dengan cara membokong mencari kemenangan tidak andalkan kepandaian. Hmm! orang-orang kalangan Liok-lim tidak lebih cuma kaum bajingan serta perampok yang tidak tahu malu. Bentaknya keras.

Hmm! kau toosu cilikpun berani banyak cerewet disini. Teriak si setan Coe Khek Hong Ci dengan amat gusar. Kau orang benar-benar memuakkan biar aku bereskan dulu dirimu.

Sambil menggerakkan goloknya ia lantas terjang musuhnya itu.

Mendadak si toojien yang berusia lebih tua memperkencang serangan-serangan pedangnya berturut- turut ia mengirim tiga jurus serangan gencar memaksa mundur Ong Toa Kang, setelah itu membentak keras terhadap saudara seperguruannya :

Sute! jangan bergebrak seorang diri melawan orang lain cepat kemari gabungkan ilmu pedangmu dengan ilmu pedangku untuk melawan musuh.

Si toojien berusia agak muda itu menyahut badannya segera mencelat kesisi suhengnya sedang sang pedang dilintangkan didepan dengan jurus Loe Yen Shia Hwee atau burung walet terbang miring mengancam punggung samping dari Ong Toa Kang.

Merasakan datangnya desakan pedang yang demikian mendadak Ong Toa Kang terdesak berturut-

turut ia mundur kebelakang sejauh tiga depa lebih.

Dan didalam yang amat singkat itu pula si setan Coe Khek Hong Ci sambil menggerakkan goloknya membentuk selapis bayangan tajam laksana sambaran petir cepatnya menubruk kedepan.

Si toojien yang berusia lebih tuaan itu dengan cepat menggerakkan pedangnya dari bawah menuju keatas menggunakan jurus Ya Hwee Sauw Thian atau api liar membakar langit menahan datangnya terjangan Hong Ci sedangkan toosu muda tersebut mengambil kesempatan itu bergeser dua langkah kesamping berdiri sejajar dengan suhengnya.

Dari tempat itu dia mengirim sebuah babatan pula memaksa Hong Ci harus meloncat ketengah udara dan berjumpalitan mundur sejauh empat depa kebelakang.

Buru-buru Hong Ci bertukar napas kemudian sekali lagi menggerakkan goloknya menerjang kedepan sedangkan Ong Toa Kang pada saat yang bersamaan pula menggerakkan senjata tongkat besi serta gelang emasnya mengirim serangan-serangan gencar. Setelah kedua orang toosu itu turun tangan bersama-sama kedahsyatannya mendadak bertambah kerja sama diantara mereka berduapun sangat erat dan rapat terutama serangan-serangan pedang dari sang toosu berusia agak lanjut itu. Setiap jurus tentu cepat ganas dan lihay bukan alang kepalang.

Sedangkan sang toosu yang berusia lebih muda walaupun kepandaiannya jauh lebih rendah satu tingkat tetapi dibawah pimpinan serangan pedang sang suhengnya ia bisa mengimbangi dan kerja sama lebih erat.

Sebentar pedangnya menerjang kedepan sebentar lagi ditarik kadang-kadang melancarkan serangan berpencar dan kadang-kadang pula melancarkan serangan bokongan perubahan gerakan pedangnya amat luas sukar diduga.

Golok yang berada ditangan Hong Ci pun dengan cepat digerakan menggunakan jurus-jurus serangan yang paling sempurna terasa bayangan golok menumpuk bagaikan gunung tetapi tidak berhasil juga menerjang hancur pertahanan dari sepasang pedang kedua orang toosu tersebut. Tak terasa lagi ia agak terperajat juga dibuatnya.

Ilmu pedang perguruan Bu-tong pay terkenal karena memimpin Bu-lim agaknya berita ini sama sekali bukan berita kosong belaka diam-diam pikirnya dalam hati cukup dua orang muridnya yang tiada bernama telah memiliki kepandaian ilmu pedang yang demikian dahsyatnya dan tenaga lweekang yang lembek tiada terputus jika aku harus bergebrak dengan cara ini terus-menerus kendati lewat seratus duaratus juruspun sukar untuk mencapai kemenangan :

Pikirannya dengan cepat berubah sedang permainan golokpun tanpa terasa ikut berganti ia lantas mengeluarkan ilmu golok andalannya Noe Pooh Cep Ngo To atau lima belas golok ombak mengganas.

Didalam sekejap mata cahaya berkelebat menyilaukan mata dan menyebar memenuhi angkasa tanpa ampun lagi tubuh kedua orang toojien itu kena terbungkus didalam cahaya yang menyilaukan mata.

Sedangkan si toojien berusia agak lanjut sembari menggerakan pedangnya menahan tekanan-tekanan musuh dalam hatipun mulai berpikir :

Musuh-musuh yang aku temui ini hari rata-rata memiliki kepandaian ilmu silat yang luar biasa hebatnya terutama sekali si lelaki kurus kering yang kelihatannya tidak menarik hati ini ilmu goloknya ternyata benar-benar lihay dan ganas, kelihatannya untuk menerjamg keluar dari hadangan mereka pada saat ini bukanlah suatu pekerjaan yang gampang.

Mendadak ia merasakan daya tekanan semakin bertambah empat penjuru bagaikan tergulung oleh cahaya golok yang tinggi laksana gunung kemudian tiada hentinya mendesak datang buru-buru pikirnya di pusatkan kembali sedang jurus-jurus serangan pedang pun diperketat.

Ketika ia mendongak kesamping tampaklah dari atas kepala sutenya keringat sebesar mutiara sudah mengucur keluar membasahi seluruh pakaian tak kuasa lagi ia jadi amat terperanjat.

Ia bersuit nyaring pergelangannya diperkuat mengirim dua babatan dahsyat untuk menahan datangnya terjangan-terjangan Hong Ci yang hampir-hampir saja menghancurkan pertahanan barisan pedangnya.

Sute jangan sampai terpengaruh oleh cahaya golok pihak lawan. Bentaknya lirih cepat gunakan ilmu Boe Sang Sim Hoat dari perguruan untuk menguasai pikiran yang kacau.

Pada waktu itulah dari samping telinganya kembali terdengar suara gemboran Ong Toa Kang yang keras bagaikan samberan geledek.

Toosu busuk kalian masih juga tidak mau lepas pedang mengaku kalah???.

Tongkat besinya dengan menggunakan gerakan Kiem Kong Kay San atau si Kiem Kong membuka gunung menghantam batok kepala lawan.

Toojien berusia agak lanjut itu buru-buru angkat pedangnya menangkis seketika itu juga ia merasakan pergelangannya jadi kaku hampir-hampir saja pedangnya terpukul lepas dari cekalan. Menggunakan kesempatan itulah dengan menggunakan jurus Huang Lauw Nie Shia atau mengalir ganas melanda gencar Hong Ci sambil menggerakan goloknya menerjang maju kedepan dengan paksa ia memisahkan gabungan serangan dari kedua orang toojien itu.

Badannya berputar goloknya menyambar dengan jurus Ci Leng Huan Tan atau ombak besar menggulingkan perahu ia menghajar pedang dari toojien yang berusia agak muda itu.

Terdengar suara bentrokan senjata tajam bergema memenuhi angkasa diiringi percikan bunga-bunga api pedang ditangan toojien berusia agak muda itu kontan kena dihantam sehingga mencelat ketengah udara.

Melihat pedang sutenya kena dipukul lemas, sang toojien berusia agak tua itu segera gerakkan pedangnya menolong tetapi serangannya tersebut berhasil dihadang oleh senjata tongkat besi serta gelang emas Ong Toa Kang dengan menggunakan jurus, Jiet Gwat Ceng Hwie atau matahari rembulan berebut kekuasaan.

Hong Ci setelah berhasil menggetar lepas pedang dari toosu muda tersebut tangan kirinya laksana sambaran kilat mengirim satu pukulan gencar menghantam jalan darah, Cian Cing Hiat di atas pundak toosu tersebut.

Terdengar suara dengusan berat memecahkan kesunyian sang toosu muda itu terkena pukulan dan mundur dua langkah kebelakang kemudian roboh keatas tanah.

Sang toosu yang melihat sutenya kena terpukul dan roboh keatas tanah dari sepasang matanya memancarkan cahaya tajam penuh kegusaran ia bersuit panjang pedangnya digerakkan laksana terbang, dengan mengerahkan seluruh jurus-jurus serangan yang paling ganas dan telengas didalam sekejap mata ia sudah mengirim hampir dua belas buah serangan berantai.

Cahaya tajam bertamburan memenuhi angkasa angin pedang menderu-deru bagaikan kitiran hal ini memaksa Ong Toa Kang berturut-turut harus mundur enam tujuh langkah kebelakang.

Hong Ci dengam cepat mengirim satu tendangan kilat menyingkirkan sang toosu muda yang kena terhajar itu kesamping kalangan kemudian sambil melintangkan goloknya kedepan dada teriaknya keras.

Loo sam cepat menyingkir.

Mendadak cahaya merah berkelebat menyilaukan mata sebuah angkin tahu-tahu sudah melayang kedepan menggulung pergelangan tangan kanan dari toojien tersebut.

Datangnya angkin ini sedikitpun tidak menimbulkan suara diantara berkelebatnya cahaya merah tahu- tahu sekarang angkin tersebut sudah didepan mata.

Sang toojien tua yang sudah bergebrak sangat lama boleh dikata mata maupun telinganya tidak setajam pada keadaan biasa. Ia merasakan pergelangan tangannya yang mencekal pedang tahu-tahu jadi kaku dan tangannya sudah tergulung oleh angkin tersebut pedangpun tergetar lepas dari tangan.

Mengambil kesempatan inilah Ong Toa Kang mengirim satu tendangan kilat menghajar kaki kiri dari toojien itu.

Walaupun kekuatan tendangan ini tidak ringan tetapi dengan kukuhnya kuda-kuda toosu tersebut tidak berhasil tergempur hancur badannya cuma gentayangan saja tidak sampai roboh keatas tanah.

Toosu kau hidung kerbau sungguh hebat kepandaian silatmu... bentak Ong Toa Kang keras.

Gelang emasnya segera didorong kedepan dengan menggunakan jurus Su Swie Tui Tan atau mengikuti air mendorong perahu menghantam pundak kanannya.

Pergelangan tangan kanan toojien itu kena tergulung oleh senjata angkin gerakannya tidak selincah tadi lagi. Terpaksa ia memiringkan badannya kesamping untuk menghindarkan diri dari datangnya kemplangan gelang emas setelah itu tangan kirinya dibalik mengirim satu tabokan dengan gerakan, Hwie Jan Cing Tan atau mengebut debu bicara tenang. Gelang emas Ong Toa Kang segera diputar kirim kembali satu hantaman kesamping serangan yang dilakukan dalam waktu singkat dan sama sekali tidak terduga kontan saja memaksa toojien itu tak sempat untuk menghindarkan diri lagi.

Pundak kanannya kena terhajar oleh gelang emas tersebut sehingga beberapa kerat tulangnya patah sang tubuh tanpa ampun lagi roboh keatas tanah.

Tetapi tangan kiri sang toosu yang mengirim satu pukulan dengan jurus Hwie Jan Ci Than pun dengan sangat tepat berhasil menghajar diatas pundak kanan Ong Toa Kang.

Terdengar si lelaki kasar lagi berangasan ini berteriak keras tongkat besi ditangan kanannya terpukul jatuh keatas tanah.

Melihat saudaranya terpukul buru-buru si setan Coe Khek Hong Ci memburu kedepan dan membimbing badannya yang sedang sempoyongan.

Loo sam lukamu sangat berat?? tanyanya penuh kekuatiran.

Haaa... haaa... tidak mengapa sekalipun lebih berat lagipun aku si Loo Ong masih sanggup untuk menahan diri Ong Toa Kang tertawa tergelak.

Ia lantas pungut kembali tongkat besinya kemudian dengan langkah lebar mengundurkan diri dari kalangan.

Kiranya orang ini memiliki badan yang berkekuatan alam atos dan kuatnya luar biasa, walaupun hantaman dari toojien tadi tidak lemah tetapi tidak sampai melukai dirinya.

Sewaktu gelang emas dari Ong Toa Kang dengan tepat berhasil menghajar badan sang toojien sehingga jatuh terlentang diatas tanah itulah angkin merah yang menggulung pergelangan kanannya mendadak ditarik kembali.

Dengan cepat Ong Toa Kang menoleh tampaklah si perempuan muda berbaju putih dengan gerakan yang cepat sedang menyimpan kembali angkin merahnya kedalam saku.

Dia adalah seorang yang polos lagi jujur teringat perempuan cantik berbaju putih ini sudah menolong dirinya tanpa pikir panjang lagi ia lantas berteriak keras.

Nona! terima kasih atas bantuanmu jika kau orang tidak membantu mungkin aku Loo Ong terpaksa harus bergebrak mati-matian lagi melawan hidung kerbau itu sebanyak ratusan jurus.

Perempuan cantik berbaju putih itu tersenyum.

Tidak mengapa cuma saja seranganku bisa berhasil tidak lebih karena aku melancarkan serangan

bokongan mengambil waktu orang lain sedang berada dalam bahaya.

Pouw Cau yang mendengar perkataan itu diam-diam merasakan pipinya jadi panas pikirnya.

Cukup berdasarkan nama Lauw San Sam Hiong yang terkenal didalam dunia kangouw ternyata untuk bereskan dua orang toosu cilik yang tiada bernamapun tidak sanggup bahkan masih membutuhkan bantuan orang lain hal ini benar-benar sangat memalukan.

Ketika ia mendongakkan kepalanya kembali tampaklah si setan mendekati toojien tersebut dengan cepat ia berteriak keras.

Loo jie jangan lukai dirinya bawa pulang ke lembah Mie Cong Kok dan tunggu keputusan dari Bengcu.

Eeeei bukankah Bengcu beserta sianseng tukang ramal sedang berada dikuil Siauw lim si? apakah

mereka bisa tiba di lembah Mie Cong Kok jauh lebih cepat dari kita? seru Ong Toa Kang : Di dalam hati selama ini cuma Hu Pak Leng seorang saja yang dihormati dan dikagumi, jelas maksud dari perkataannya barusan dan kini Hu Pak Leng tak ada di lembah Mie Cong Kok, sudah seharusnya tidak usah membawa pulang ke dua orang toojien itu kedalam lembah Mie Cong Kok.

Sewaktu Bengcu meninggalkan lembah ia sudah serahkan seluruh persoalan yang ada dalam lembah kepada orang lain kalau memang ini perintah Bengcu maka orang itu sama pula kedudukannya dengan wakil Bengcu selama ini kita tidak seharusnya membangkang kekuasaannya kata Pouw Cau sambil tertawa tawar.

Ong Toa Kang yang mendengar perkataan tersebut jadi bungkam seribu bahasa kendati begitu dalam hati merasa sangat tidak puas.

Baiklah! pikirannya kemudian kau adalah lotoa dari Lauw San Sam Hiong terpaksa aku si Loo Ong harus mendengarkan keputusanmu.

Tanpa banyak bercakap lagi si setan Coe Khek Hong Ci lantas turun tangan menotok jalan darah kedua toojien tersebut kemudian dibopongnya sang toojien tua naik keatas punggung kuda.

Ong Toa Kang pun menggendong tubuh sang toojien muda keatas pelana kudanya tanpa banyak ribut lagi mereka berempat melanjutkan perjalanan menuju ke lembah Mie Cong Kok.

Jalanan gunung amat bahaya, kuda sukar untuk melalui tempat itu setelah jauh memasuki daerah pegunungan kuda-kuda mereka tak dapat melanjutkan kembali perjalanannya menaiki tebing-tebing yang curam dan bahaya.

Pertama-tama Ong Toa Kang lah yang meloncat turun terlebih dahulu dari kudanya.

Toako teriak keras kuda kita sudah tak dapat melanjutkan perjalanan lagi apakah kita harus menggendong kedua orang toosu bau ini untuk melanjutkan perjalanan??

Pouw Cau kerutkan alisnya selagi hendak memberi jawaban mendadak dari ujung gunung muncullah dua belas orang lelaki kasar berpakaian ringkas warna hitam ditangan masing-masing membawa tombak dan dipunggung menyoren busar dan panah.

Sewaktu melihat munculnya Lauw San Sam Hiong dari tempat kejauhan mereka buru-buru menjura memberi hormat.

Aaaaakh... bagus-bagus sekali! seru si setan Coe Khek Hong Ci sambil tersenyum. Kini ada para peronda yang kuat-kuat disini kita tak usah melanjutkan perjalanan dengan membopong toosu-toosu bau itu lagi.

Tampaklah dari belakang kedua belas orang lelaki kekar tersebut lambat-lambat muncullah seseorang. Dia bukan lain adalah si Hwee Thian Liong atau si Naga Terbang Hoo Cong Hwie dari antara Kiang

Pak Ngo Liong.

Hoo Cong Hwie yang melihat munculnya Lauw San Sam Hiong disana dari tempat kejauhan segera berlari mendekat.

Perjalanan kalian selama ini tentu melelahkan sekali katanya tertawa tanganpun lantas dirangkap menjura.

Mana... mana... buru-buru Pouw Cau balas memberi hormat. Bagaimana keadaan didalam lembah selama ini.

Hoo Cong Hwie memandang sekejap kearah kedua orang toojien itu akhirnya sambil menghela napas menggeleng.

Walaupun tidak mendapatkan serangan dari luar tetapi kerusuhan sudah terjadi didalam...

Mendadak ia merasakan bahwa perkataan tarsebut rada keterlanjur buru-buru sambil tertawa ia bungkam kembali. Setelah merandek beberapa saat lamanya ia ganti bertanya. Entah sekarang Bengcu ada dimana??.

Bengcu serta Ih-heng sedang berangkat menuju kuil Siauw lim si di gunung Siong-san.

Apa??? mau apa Bengcu pergi ke kuil Siauw lim si seru Hoo Cong Hwie terperanjat dan keheran- heranan.

Jejak dari Bengcu cayhe... sekalian tidak berani banyak bertanya Buru-buru sambung si setan Coe

Khek dengan cepat.

Sinar mata Hoo Cong Hwie perlahan-lahan lantas dialihkan keatas tubuh si perempuan berbaju putih itu melihat wajahnya yang cantik dan bercahaya tajam ia tidak berani berlaku kurang ajar dan memandang terlalu lama.

Setelah melirik sekejap sinar matanya lantas di alihkan kembali keatas wajah Pouw Cau. Apakah dia adalah hujienmu?? tanyanya.

Paras muka perempuan muda berbaju putih itu kontan saja berubah jadi merah cegah ia tersenyum dan tetap membungkam.

Pouw Cau menoleh dan melirik sekejap kearah si perempuan cantik berbaju putih itu kemudian tertawa nyaring.

Lauw San Sam Hiong adalah manusia kasar yang tidak berharga mana kami punya rejeki sedemikian besar.....

Aaaach... Pouw-heng terlalu merendah. Seru perempuan cantik tersebut tersenyum.

Walaupan pipinya sudah berubah jadi merah jengah tetapi sekejapnya sama sekali tidak kelihatan riku.

Mendengar perkataan tersebut Hoo Cong Hwie jadi kebingungan setelah termenung sebentar tanyanya kembali :

Lalu apakah Lie-enghiong ini ikut kalian bertiga datang kemari bertujuan hendak menggabungkan

diri??.

Perkataanmu boleh dihitung betul separuh.

Baru saja Pouw Cau bicara sampai disitu sang perempuan cantik berbaju putih itu sudah menyambung.

Aku mendapat perlindungan dari Hu Bengcu mengikuti mereka bertiga datang kemari untuk bersembunyi.

Sekali lagi Hoo Cong Hwie dibuat merengek.

Kalau memang begitu mari cepat masuk kedalam lembah serunya kemudian. Walaupun ia berkata demikian diam-diam dalam hati pikirnya.

Kenapa Bengcu sebegitu bodoh buat apa membawa masuk seorang perempuan yang sedemikian cantiknya kedalam lembah....

Walaupun dalam hati penuh diliputi oleh perasaan curiga tetapi ia merasa tidak enak untuk banyak bertanya akhirnya dengan perasaan apa boleh buat lelaki ini coba berganti bahan pembicaraan.

Kedua orang toojien ini adalah... Kedua orang toosu bau hidung kerbau ini adalah anak murid dari partai Bu-tong pay sambung Ong Toa Kang sambil menggembor mereka dikirim untuk menyelidiki keadaan lembah Mie Cong Kok kita, karena itu kami tangkap dia untuk di periksa.

Apakah Pouw-heng sudah selidiki jelas asal usul kedua orang toojien ini kalau mereka benar-benar orang dari partai Bu-tong pay? tanya Hoo Cong Hwie kembali setelah melirik sekejap kearah kedua orang toojien tersebut.

Jika dilihat dari ilmu pedangnya dan mendengar pula nada suaranya aku rasa tidakkan salah lagi, cuma kami sekalian belum melakukan pemeriksaan yang cermat.

Hoo Cong Hwie tidak banyak bertanya lagi ia memerintahkan sang lelaki kekar yang mengikuti dirinya untuk gotong kedua orang toojien tersebut masuk kedalam lembah.

Lembah Mie Cong Kok terdiri dari berribu-ribu jalan yang bercabang setiap orang yang memasuki lembah tersebut kebanyakkan akan tersesat dan tak bisa kembali lagi.

Tetapi sesudah Hu Pak Leng memilih tempat yang sedemikian baiknya ini untuk dijadikan markas besar di tempat-tempat yang penting ia sudah suruh orang membuat tanda-tanda kode, terali-terali besi serta benteng-benteng batu sebagai pertahanan :

Asalkan setiap orang berjalan masuk kedalam lembah dengan mengikuti kode-kode serta tanda-tanda tersebut maka mereka tidak bakal mendapatkan kesulitan.

Tetapi bagi orang luar bukan saja mereka akan dibingungkan oleh banyaknya cabang-cabang jalan disana bahkan kemungkinan sekali akan terjebak kedalam pos-pos penjagaan yang bertaburan di empat penjuru lembah.

Perempuan cantik yang berbaju putih itu sembari berjalan diam-diam memperhatikan pula keadaan disekelilingnya ia merasa jalanan disana amat rumit dan kacau balau jika tak ada orang yang membawa jalan benar-benar terasa sulit untuk membedakannya.

Setelah berjalan kurang lebih empat lima li di dalam gunung sampailah mereka disebuah tikungan lembah setelah melewati tempat maka pemandangan dihadapan merekapun mendadak berubah.

Tampak sebuah bangunan besar terbuat dari batu hijau berdiri dengan megah dan angkernya bunga- bunga bertaburan di mana-mana rumput tumbuh dengan amat subur, sebuah rumah batu berdiri menempel punggung gunung dan mengitari disekelilingi bangunan besar tersebut.

Bambu-bambu hijau dibuat sebagai pagar pohon siong bergoyang tertiup angin pemandangan disana benar-benar amat indah menarik dan membuat hati setiap orang merasa nyaman.

Di atas bangunan besar ini tergantunglah sebuah papan nama yang bertuliskan keadilan berat bagaikan mega dilangit.

Hoo Cong Hwie langsung memerintahkan lelaki kekar pengikutnya untuk sementara mengirim kedua orang toojien tersebut kedalam sebuah ruangan batu disisi ruangan besar, setelah itu menoleh kearah Pouw Cau tanyanya.

Menurut peraturan didalam benteng kita, setiap orang yang baru untuk pertama kali memasuki lembah harus menghormati dan menyambangi dulu Bengcu kita. Setelah memperoleh ijin ia baru di perkenankan tinggal dalam lembah. Kini semua urusan didalam lembah dipegang oleh Tiong serta Huo dua orang.

Tetapi sejak Bengcu meninggalkan lembah antara Tiong serta Huo dua orang disebabkan perebutan kekuasaan wakil Bengcu inilah sering terjadi keributan masing-masing pihak tidak mau saling mengalah bahkan ada satu kali hampir-hampir saja diantara mereka terjadi bentrokan secara terang-terangan.

Untung sekali hujien buru-buru turun tangan melerai kejadian tersebut sehingga mereka berdua bisa ditaklukkan kembali. Cuma saja... nona ini telah mendapatkan ijin langsung dari Bengcu untuk berlindung disini, menurut keadaan yang sesungguhnya aku rasa ia tidak usah menyambangi Tiong serta Huo kedua orang wakil Bengcu tersebut lagi.

Kalau memang didalam Benteng kalian ada peraturan semacam ini, rasanya akupun tidak seharusnya mengesampingkan adat serta tata cara tersebut si perempuan cantik berbaju putih itu tersenyum.

Demikian saja ujar Pouw Cau kemudian sambil tertawa Hoo-heng boleh laporkan utusan ini kepada Tiong serta Hou dua orang katakan saja nona ini sudah mendapat ijin dari Bengcu untuk berlindung dan menetap disini jikalau mereka merasa tidak ada perlunya untuk bertemu sudah tentu lebih baik tetapi semisalnya mereka anggap perlu terpaksa nona ini harus pergi menyambangi juga kedua orang wakil Bengcu tersebut...

Ong Toa Kang, mendengus dingin tapi belum sempat dia orang buka suara Pouw Cau sudah menoleh sambil melototi sekejap kearahnya.

Sam-te! jangan bicara sembarangan, tegurnya.

Terpaksa Ong Toa Kang mendehem dan menelan kembali kata-kata ucapan yang hendak dilontarkan keluar itu.

Kalau begitu bagaimana kalau kita pergi menemui Bengcu hujien dulu kemudian biar dia yang ambil keputusan? usul Hoo Cong Hwie kemudian setelah termenung sejenak. Mendengar usul itu si setan Coe Khek Hong Ci kerutkan alisnya.

Selama ini Bengcu hujien tidak pernah mencampuri urusan didalam lembah katanya. Jika suruh dia yang bereskan urusan ini rasanya rada kurang leluasa.

Di dalam pandangannya Kok Han Siang tidak lebih adalah seorang bidadari yang amat cantik dan seorang nyonya muda yang bersifat polos kekanak-kanakan dan jarang mengurusi persoalan karena itu ia merasa tidak seharusnya dia orang ikut serta pula didalam persoalan yang menyangkut hal-hal didalam lembah.

Heeei... Hong-heng mana kau tahu semua urasan disini kata Hoo Cong Hwie sambil menghela napas panjang. Sejak Bengcu meninggalkan lembah ini berturut-turut gelombang besar sudah melanda suasana disini bahkan ombak semakin lama memecah semakin besar dibawah pimpinan Tiong serta Huo dua orang wakil Bengcu, persatuan kita jadi hancur dan pecah, hal ini memaksa hujien mau tak mau harus turun tangan juga mengatasi situasi semacam ini.

Sebenarnya dia adalah seorang perempuan cantik yang berpikiran kekanak-kanakan polos dan tak mengerti jahat baiknya manusia tetapi dibawah desakan serta paksaan kekacauan dalam tubuh kita sendiri ternyata dia benar-benar berbuat dan pandai untuk memegang tampuk pimpinan jika bukan dia orang yang sudah turun tangan pegang kekuasaan dan atur seluruh persoalan disini, kemungkinan sekali sejak tempo dulu antara Tiong serta Huo dua orang sudah saling bertempur mati-matian untuk merebut kekuassan.

Di atas paras muka Hong Ci kontan terlintas perasaan kurang percaya tetapi ia tidak berani membantah sepatah katapun sinar matanya perlahan-lahan melirik sekejap kearah Pouw Cau.

Kendati begitu mulutnya tetap membungkam dalam seribu bahasa.

ooooOoooo

6

DENGAN wajah murung Pouw Cau mendongakkan kepalanya memandang awan yang bergerak lambat ditengah angkasa setelah termenung beberapa saat lamanya ia berkata. Kita orang-orang dari kalangan Liok-lim kebanyakan sombong memandang tinggi diri sendiri dan memandang rendah orang lain. Heeei... kecuali Bengcu seorang yang begitu berbudi, begitu cerdik dan memiliki daya pengaruh yang melebihi siapapun rasanya dikolong langit pada saat ini agak sulit untuk menemukan orang kedua yang bisa menguasahi keadaan dan duduk sebagai pemimpin dunia...

Ia rada merandek sejenak setelah menyapu sekejap wajah Hong Ci serta Ong Toa Kang berdua sambungnya kembali.

Mari kita lanjutkan perjalanan! pertama-tama kita unjuk hormat dulu buat hujien, setelah itu secara berpisah menyambangi Tiong serta Huo dua orang wakil Bengcu.

Dengan dipimpin Hoo Cong Hwie didepan mereka melanjutkan kembali perjalanan menuju ke dinding gunung sebelah kiri.

Setelah berjalan puluhan kaki jauhnya sampailah mereka dipinggir sebuah halaman yang dipagari dengan bambu dan tumbuh beraneka warna bunga disekelilingnya.

Setelah menghadap pintu pagar dengan sikap yang sangat hormat Hoo Cong Hwie lantas merangkap tangannya menjura.

Lauw San Sam Hiong jauh-jauh kembali ke lembah mereka bermaksud hendak menyambangi dan menanyakan kesehatan hujien!

Terdengar suara langkah ringan bergema memecahkan kesunyian kedua belah pintu pagar terbuka disusul munculnya seorang gadis cantik yang memakai pakaian sederhana.

Nona Ban apakah hujien ada? Buru-buru Hoo Cong Hwie menegur sambil tertawa.

Sinar mata gadis cantik itu menyapu sekejap kearah Lauw San Sam Hiong kemudian sinar matanya berhenti diatas tubuh perempuan muda berbaju putih itu lama sekali ia baru menyahut dengan suara lirih :

Kalian masuklah kedalam!.

Selesai berkata ia putar badan dan berjalan masuk dulu kedalam dengan langkah lambat.

Hoo Cong Hwie menyingkir kesamping memberi jalan Lauw San Sam Hiong dengan rnenurut urutan kedudukan satu persatu berjalan masuk kedalam.

Sang perempuan muda berbaju putih itupun dengan kencang mengikuti dari belakang Ong Toa Kang disusul Hoo Cong Hwie di paling belakang.

Di dalam ketiga buah ruangan tamu tersebut di atur barang-barang yang sangat sederhana bangku bambu meja terbuat dari bambu dan horden yang menutupi sebagian jendela selain itu tak kelihatan barang lainnya lagi.

Kendati begitu suasana terasa amat nyaman ruangan itupun bersih sekali.....

Sinar mata perempuan muda berbaju putih itu perlahan-lahan menyapu sekejap keadaan didalam ruangan tersebut tak terasa lagi dalam hati ia menghela napas panjang pikirnya.

Seorang Liok-lim Bengcu dari kolong langit yang terhormat ternyata melewatkan hidupnya dengan demikian sederhana dan biasa jika bukan melihat dengan mata kepala sendiri aku benar-benar tak akan percaya.

Dari samping ruangan dinding belakang tampak horden sedikit menyingkap dan muncullah seorang perempuan yang amat cantik sekali berjalan lambat-lambat keluar dari balik pintu.

Perempuan itu mempunyai wajah yang sangat menarik hati rambutnya disanggul tinggi mirip wanita keraton jubahnya panjang hitam terurai sampai ditanah diatas wajahnya yang cantik secara samar-samar terselubung perasaan murung yang tipis. Cuma saja kemurungan itu sama sekali tidak sampai menutupi kecantikan wajah yang tiada bandingannya itu sepasang matanya yang jeli menarik memancarkan cahaya lembut menambah daya tarik bagi dirinya boleh dikata kecantikan wajahnya tak terkalahkan walaupun seorang bidadaripun.

Lauw San Sam Hiong mamandang sekejap wajah perempuan itu kemudian tak kuasa lagi pada tundukkan kepalanya rendah-rendah bahkan sampai Ong Toa Kang yang membawa tiga bagian sifat ketolol- tololan itupun tidak berani memandang terlalu lama.

Di belakang tubuh perempuan cantik itu berdirilah seorang gadis yang memakai pakaian sederhana jubahnya panjang menarik sedang wajahnyapun tidak kalah cantiknya.

Menanti kedua orang perempuan tersebut telah masuk kedalam ruangan Pouw Cau buru-buru bangun berdiri dan menjura dengan kepala ditundukkan rendah-rendah.

Pouw Cau, Hong Ci serta Ong Toa Kang mengunjuk hormat buat hujien.

Hong Ci serta Ong Toa Kang pun dengan cepat ikut bangun berdiri sambil merangkap tangannya menjura.

Selama didalam perjalanan kalian bertiga tentu sangat lelah tidak usah banyak adat lagi cepatlah ambil tempat duduk ujar Kok Han Siang sambil tertawa.