-->

Badai Dunia Persilatan Jilid 03

Jilid 03

DI TENGAH malam buta yang gelap, setelah termakan sorotan cahaya keempat buah lampu lentera itu segera membuat seluruh ruangan besar berubah pula menjadi hijau menyeramkan keadaan mirip sedang berada dalam penjara akherat saja.

Hu Pak Leng adalah seorang yang memiliki kecerdikan melebihi orang lain, melihat pemandangan hadapannya mendadak dalam hati menjadi tersadar kembali, diam-diam pikirnya :

Sinar lentera berwarna hijau tersebut sebentar kuat sebentar lemah seperti diatur mengikuti cara yang telah ditentukan tentu dibalik kesemuanya ini masih ada kegunaan yang lain.

Sembari secara diam-diam melakukan persiapan dengan menyalurkan hawa murni mengelilingi seluruh tubuh, sepasang matanya tanpa berkedip memperhatikan gerak-gerik dari keempat orang dayang berbaju hijau itu.

Tampaklah keempat orang dayang yang menjengkal lampu lentera tinggi-tinggi itu berdiri dengan penuh kewaspadaan di empat perjuru, air muka mereka memperlihatkan keseriusan yang melebihi siapapun.

Ketika itulah sambil tersenyum Im So It Mo sudah berkata kembali. Selama hidup belum pernah tahu mengalah barang sedikitpun kepada siapa saja ini hari aku akan melanggar kebiasaan dengan mengalah tiga jurusan buat diriku, didalam tiga jurusan ini loohu hanya akan menghindar tanpa melancarkan serangan balasan. Jika kau memiliki kepandaian yang lihay keluarkanlah sekuat tenaga setelah tiga jurus lewat maka harapanmu untuk memperoleh kemenangan bakal lenyap tak berbekas :

Loo enghiong : kau belum menyetujui perjanjian cayhe untuk mengadakan pertaruhan sela Hu Pak Leng tertawa.

Jikalau berhasil menangkan loohu bukan saja aku akan menyembuhkan luka dari saudaramu itu bahkan akan kulepaskan semua orang yang hadir pada malam ini.....

Heeee... heeee... Sungguh bagus sekali permainan Sie Poa dari Loo Ciang Kwee ini. Tiba-tiba terdengar Yu Ih Lok menimbrung sambil tertawa dingin. Walaupun orang yang melakukan perdagangan mengutamakan keuntungan buat diri sendiri tetapi kau harus tahu manusia budimanpun menginginkan juga keuntungan janji pertaruhan kali ini aku rasa kurang adil. Apa kau kira jika kau tidak suka melepaskan diriku lantas kita orang sungguh-sungguh tak bisa pergi sendiri.

Im So It Mo tertawa dingin belum sempat dia mengucapkan sesuatu Hu Pak Leng keburu sudah berebut berbicara :

Baiklah kita putuskan demikian saja. Awas cayhe segera akan turun tangan.

Tubuhnya lantas meloncat kedepan menerjang kearah tubuh musuh tangan kanan serta tangan kirinya kebaskan ke kanan ke kiri dengan kecepatan penuh, hanya didalam sekejap mata tiga jurus sudah berlalu.

Tiga jurus sudah berlalu Loo enghiong kau silahkan turun tangan serunya. Kepalanya segera dihantam kearah depan dengan sejajar dada.

Segulung angin pukulan yang maha dahsyat dan jauh lebih hebat dari pada ketiga pukulan yang terdahulu dengan amat cepatnya sudah menerjang mendekati dada pihak lawan.

Melihat datangnya serangan itu Im So It Mo segera menggerakkan tangan kanannya sejajar dengan dada menyambut datangnya serangan dari Hu Pak Leng itu.

Dari pada menolak lebih baik aku ikuti saja keinginanmu dengusnya dingin.

Segulung hawa pukulan yang sangat keras segera melayang kedepan membentur angin pukulan pihak lawan.

Dua gulung angin pukulan dengan cepat terbentur menjadi satu menciptakan selapis angin puyuh yang hebat luar biasa memaksa lampu lentera serta ujung bajunya dari dara-dara berbaju hijau itu berkibar sangat keras.

Loo enghiong sungguh hebat tenaga lweekangmu. Teriak Hu Pak Leng tertawa nyaring.

Mendadak telapak kirinya didorong kedepan mencengkeram pergelangan tangan kanan Im So It Mo yang sedang mendorong kearah depan kecepatan geraknya laksana sambaran kilat.

Baru saja perkataan pujian meluncur keluar dari ujung bibir jari tangannya sudah mendekati pergelangan Im So It Mo.

Terhadap datangnya serangan cengkereman ini, si iblis tua ini sama sekali tidak menghindar, mendadak tangan kanannya memutar balik mencengkeram pergelangan tangan kiri Hu Pak Leng.

Menghadapi perubahan dengan serangan balasan dari kedudukan bertahan berubah jadi kedudukan menyerang semuanya dilakukan dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat, hal ini membuat Yu Ih Lok yang menonton jalannya pertempuran disamping kalangan diam-diam merasa terperanjat pikirnya didalam hati. Tidak aneh kalau orang ini bisa berbicara besar ternyata memang betul-betul memiliki kepandaian ilmu silat yang sangat lihay cukup ditinjau dari perubahan gerakan yang dilakukan barusan ini sudah cukup membuktikan bila kepandaian ilmu silatnya tidak lemah.

Hu Pak Leng segera menarik lengannya sedikit kebelakang untuk menghindarkan diri dari cengkeraman balasan yang dilakukan oleh Im So It Mo. Pada saat yang bersamaan sewaktu menarik lengannya itulah kelima jari tangannya bersama-sama digetarkan lalu menyentil kedepan mengancam lengan kanan Im So It Mo.

Merasakan datangnya serangan yang maha dahsyat Im So It Mo segera merasakan hatinya bergetar keras pikirnya :

Kepandaian silat orang ini betul-betul mempunyai kesempurnaan yang tak kuduga.

Hawa murni dipusarnya buru-buru ditarik kembali mendadak tubuhnya mundur setengah depa kearah belakang.

Mereka berdua begitu bergebrak menjadi satu berturut-turut sudah memperlihatkan perubahan jurus serangan yang aneh dan lihay membuat dalam hati masing-masing mulai mempunyai perhitungan sendiri- sendiri :

Kini diantara mereka berdua siapapun tak berani memandang enteng pihak musuhnya masing-masing pada menarik kembali serangan sambil berdiri saling berhadap-hadapan empat mata saling melotot dan masing-masing menanti dengan hati yang tenang.

Walaupun begitu didalam hati mereka berdua pada mengetahui bila ketenangan ini hanyalah merupakan suatu waktu yang amat singkat menjelang datangnya suatu angin taupan yang maha dahsyat masing-masing pihak mulai mengumpulkan hawa murninya kedalam telapak tangan.

Asalkan salah satu diantara mereka mulai melancarkan serangan maka serangan balasan yang bakal meluncur keluarpun akan jauh lebih dahsyat.

Lama sekali masing-masing pihak berdiri saling berhadap-hadapan setelah lewat seperminum teh kemudian mendadak Hu Pak Leng maju satu langkah kedepan, telapak kirinya berputar bagaikan tiupan angin lalu dengan gencar dan dahsyat jari tangannya mengancam jalan darah Sian Cie pada dada sebelah depan Im So It Mo, sedang tangan kanannya dengan menggunakan jurus Gang Teh Kiem Cang atau toagkat hantam genta emas menghajar keluar.

Didalam satu serangan yang bersamaan mempunyai gerakan-gerakan yang berbeda bahkan masing- masing gerakan mempunyai kedahsyatan yang tak terduga.

Merasa datangnya serangan Im So It Mo bukannya mundur sebaliknya malah maju tubuhnya tiba-tiba menerjang kedepan, sepasang telapak tangannya bersama-sama didorong kedepan. Tangan kiri menggunakan jurus Pang Hoa Had Liuw atau Aneka Bunga Menyambar Liuw menyapu lengan kanan pihak musuh sedang tangan kanannya dengan menggunakan jurus Cie Hauw Bun Way atau Menahan Harimau Pintu Luar dengan keras lawan keras menyambut datangnya serangan telapak kiri.

Jari-jari tangan dari Hu Pak Leng ketika hampir saling berbentrokan dengan telapak tangan Im So It Mo mendadak tubuhnya meloncat mundur kurang lebih lima depa kearah belakang.

Agaknya si kakek iblis itu sama sekali tidak menduga bila Hu Pak Leng bisa memperlihatkan tindakan semacam ini, tak terasa lagi tubuhnya terpelosok maju kedepan sedang sepasang telapak tangannya mencapai pada sasaran kosong.

Didalam waktu yang relatif sangat singkat itulah dari balik jurus serangan Hu Pak Leng sudah mengubah gerakan untuk berputar kebelakang punggung Im So It Mo tanpa ragu-ragu lagi kakinya mengirim sebuah tendangan kilat menghajar punggung pihak lawannya. Tapi sewaktu Im So It Mo merasakan sepasang telapak tangannya mencapai pada yang kosong diam- diam ia sudah mengambil persiapan, ia tahu dari pihak Hu Pak Leng pasti bakal kedatangan serangan yang mematikan.

Menggunakan kesempatan sewaktu gerakan tubuhnya terperosok kedepan itulah mendadak ia bergerak maju tiga langkah dengan gerakan sangat tepat ia berhasil meloloskan diri dari serangan tendangan Hu Pak Leng yang mengarah punggungnya.

Melihat serangannya gagal Hu Pak Leng tertawa nyaring, hawa murninya ditarik panjang-panjang dari pusar mengelilingi seluruh tubuh badannya mendadak mencelat ketengah udara, kaki kanan yang semula melancarkan tendangan kini diencot kebawah kaki kirinya ganti mengirim tendangan kedepan :

Tadi satelah berhasil Im So It Mo berhasil meloloskan diri dari datangnya serangan tendangan Hu Pak Leng tubuhnya lantas menunduk kebawah sambil berputar satu lingkaran ia sama sekali tidak menyangka bila pada saat itulah Hu Pak Leng sudah mengirim lagi serangan tendangan berantai dengan menggunakan kaki kirinya.

Karena sedikit kurang waspada posisinya lantas berantakan dia terjerumus kedalam keadaan yang sangat berbahaya.

Belum habis tubuhnya berdiri tegak diatas tanah ujung kaki kiri Hu Pak Leng telah berada didepan dadanya.

Tetapi bagaimanapun ia adalah seorang jagoan yang rnempunyai pengalaman sangat luas didalam menghadapi musuh-musuhnya kendati berada dalam posisi yang kritis ia tidak sampai jadi gugup.

Hawa murninya buru-buru ditarik panjang-panjang mendadak seluruh tubuhnya mengerut satu depa lima coen kearah belakang.

Dengan sangat manis dan tepat ia berhasil menghindari pula datangnya tendangan kaki kiri Hu Pak

Leng.

Belum sempat Im So It Mo melancarkan serangan balasan badan Hu Pak Leng yang berada ditengah udara mendadak dibentangkan kedepan kaki kanannya kembali menerjang datang.

Jurus serangannya kali ini dilakukan dengan sangat cepat dan telengas arah yang dituju ujung kakinyapun merupakan jalan darah penting. Ciang Thay ditubuh Im So It Mo memaksa si kakek iblis ini sekali lagi terdesak mundur lima depa kebelakang.

Melihat serangannya kembali berhasil mendesak pihak musuh mundur terus kebelakang semangat Hu Pak Leng berkobar-kobar sepasang lengannya segera direntangkan kedepan kemudian ditepukkan ke kanan ke kiri menahan keseimbangan badannya ditengah udara, sepasang kakinya kembali mengirim tendangan berantai kedepan.

Hanya didalam sekejap mata delapan buah tendangan kilat sudah memenuhi angkasa.

Kedelapan buah tendangan ini dilancarkan sangat gencar dan rapat hal ini memaksa Im So It Mo jadi kerepotan dan sama sekali tiada kesempatan untuk berganti napas apalagi balas melancarkan serangan.

Setelah bersusah payah meloncat kesana membengkok kemari, akhirnya ia berhasil juga meloloskan diri dari datangnya kedelapan buah tendangan itu.

Selesai menteter sang musuh sambil tersenyum Hu Pak Leng baru melayang turun keatas permukaan

tanah.

Kepandaian silat Loo enghiong benar-benar luar biasa sekali pujinya. Kawan-kawan Bu-lim dikolong langit pada saat ini belum ada beberapa orang yang berhasil menghindarkan diri dari serangan Hwee Hong Cap Jie Lian Huan Tui ku ini. Im So It Mo mendengus dingin tanpa mengucapkan sepatah katapun tubuhnya mendadak menubruk kedepan sepasang telapak tangannya secara berantai membabat keluar.

Jurus serangan yang satu lebih cepat dari serangan berikutnya hanya didalam sekejap mata ia sudah mengirim delapan belas serangan telapak.

Karena teteran ini Hu Pak Leng kena terdesak mundur sejauh tujuh depa lebih dengan susah payah akhirnya dia dapat juga meloloskan diri dari ancaman kedelapan belas buah serangan tersebut.

Walaupun pertempuran antara kedua orang itu dilakukan hanya dalam waktu yang amat singkat tetapi masing-masing pihak berhasil menggunakan kelihayan ilmu silatnya untuk rnerebut posisi dan meneter pihak musuhnya sehingga terdesak dan tiada tenaga untuk balas mengirim serangan.

Cukup ditinjau dari hal ini sudahlah dapat kita ketahui jika kekuatan mereka berdua sebetulnya seimbang dan sulit untuk menentukan siapa menang siapa kalah.

Masing-masing pihak setelah menggunakan waktu yang cepat untuk mendesak mundur musuhnya, suasana ditengah ruangan kembali menjadi sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun :

Masing-masing orang berdiri saling berhadapan dengan empat mata saling melotot, tetapi tak seorangpun diantara mereka yang buka suara :

Dalam hati Hu Pak Leng maupun Im So It Mo merasa sadar jika pertempuran yang terjadi pada malam ini merupakan suatu pertempuran yang paling sengit selama hidup mereka tenaga lweekang yang dimiliki sama sempurnanya jurus-jurus serangan yang digunakan sama-sama aneh dan lihaynya.

Siapakah yang bakal menang dan kalah didalam pertempuran kali ini rasanya sulit untuk ditentukan sejak kini.

Dan lagi mereka berdua masing-masing pihak sudah mulai merasa tidak punya pegangan untuk memenangkan pertempuran kali ini.

Setelah saling berpandangan seperminum teh lamanya tiba-tiba Hu Pak Leng maju dua langkah samping kanan.

Loo enghiong ! kau berhati-hatilah serunya keras.

Tubuhnya mendadak merendah kebawah bagaikan sambaran kilat ia langsung meluncur kedepan.

Dalam hati Im So It Mo mengerti didalam tubrukannya ini secara diam-diam tentu sudah tersembunyi suatu serangan yang amat telengas.

Ia tidak berani menerima datangnya terjangan pihak musuh dengan keras lawan keras, tubuhnya segera berkelebat kesamping.

Ujung jubahnya dengan disertai segulung angin pukulan dikebutkan kedepan melindungi seluruh tubuh sedang tangan kanannya dengan mengumpulkan seluruh tenaga lweekang yang dimilikinya disilangkan didepan dada siap menerima datangnya serangan musuh :

Sewaktu Hu Pak Leng hampir menerjang dekat didepan tubuh Im So It Mo mendadak hawa murninya dari pusar ditarik panjang-panjang badan yang semula sedang menerjang laksana sambaran anak panah kini menjadi rada merandek sejenak lalu berputar satu lingkaran ditengah udara.

Dengan amat tepat dan kebetulan sekali Liok-lim Bengcu berhasil meloloskan diri dari kebut hawa murni Im So It Mo yang dikirim melalui ujung jubahnya itu.

Kebutan ujung baju kiri dari Im So It Mo ini pada mulanya hanya bermaksud untuk melindungi badannya saja tetapi dengan tindakan Hu Pak Leng yang putar badan menghindar, kebetulan malah memberikan suatu kesempatan yang sangat bagus baginya untuk turun tangan mendesak lebih lanjut. Terdengar Im So It Mo tertawa dingin tiada hentinya tangan kanan yang sudah dipersiapkan sejak tadi pada saat ini dengan dahsyat dibabat kearah depan.

Pukulan ini merupakan suatu serangan yang di lancarkan dengan menggunakan seluruh tenaga dalam yang dimilikinya selama ini, kedahsyatannya sudah tentu sangat luar biasa. Segulung tekanan hawa murni serasa ambruknya gunung Thay-san dan menumpahnya air ditengah samudra menerjang kearah depan.

Yu Ih Lok serta Lauw San Sam Hiong yang selama ini menonton jalannya pertempuran disamping kalangan sewaktu melihat Bengcunya terpolosok kedalam keadaan bahaya dalam hati merasa tergetar keras.

Pouw Cau pertama-tama yang berhasil menahan sabar lagi tubuhnya lantas bergerak menerjang ke tengah kalangan pertempuran.

Melihat tindakan yang gegabah dari Lauw San Toako Yu Ih Lok kontan saja menggerakan tangan kirinya kearah luar mencengkeram pergelangan kiri Pouw Cau.

Pauw-heng jangan keburu napsu. Cegahnya setengah berbisik. Kepandaian ilmu silat dari Bengcu kita sangat lihay dan sukar diukur dia tidak bakal menderita luka ditangan si iblis tua tersebut.

Sewaktu mereka berdua sedang bercakap-cakap itulah Hu Pak Leng sudah menunjukkan kelincahannya dengan menggunakan jurus Kiem Leh Too Cuan Poo atau Ikan Leehi melentik badannya segera mencelat mundur sejauh delapan sembilan depa kebelakang.

Im So It Mo sama sekali tidak menarik kembali serangannya yang mencapai pada sasaran kosong itu ujung baju kirinya kembali dikebutkan kearah belakang. Tubuhnya mendadak mencelat ketengah udara kemudian meluncur dan mendesak Hu Pak Leng lebih lanjut.

Baru saja Hu Pak Leng berdiri diatas tanah sedang badanpun belum betul-betul berdiri tegak serangan dari Im So It Mo kembali sudah meluncur datang.

Dengan tindakannya mundur kebelakang berarti punggungnya sudah hampir menempel diatas dinding tembok dan tak mungkin untuk mundur lebih jauh terpaksa sepasang telapak kanannya dengan sejajar dada didorong kedepan menerima datangnya serangan tersebut dengan keras lawan keras.

Yang satu melancarkan serangan dengan sepenuh tenaga sedang yang lain menerima datangnya serangan tersebut sebelum kakinya dapat berdiri tegak diatas tanah kendati tenaga dalam yang digunakan sudah melampaui sepertiga sampai seperampat bagian.

Begitu sepasang telapak tangannya terbentur dengan serangan pihak lawan. Hu Pak Leng segera merasakan hatinya tergetar sangat keras, darah panas bergolak didalam dadanya memaksa dia orang berturut- turut mundur sejauh lima langkah kebelakang.

Im So It Mo yang melihat serangannya berhasil mencapai pada sasaran mengambil kesempatan ini sekali lagi ia menerjang kedepan, telapak tangannya menyambar ke kiri kanan sedang jari tangannya menotok ke atas bawah meneter musuhnya untuk dipaksa berada dibawah angin.

Walaupun Hu Pak Leng memiliki kepandaian ilmu silat yang sangat lihay, tetapi menghadapi musuh yang sedemikian tangguhnya untuk merebut kemenangan ditengah kekalahan terasa bukanlah suatu pekerjaan yang saegat gampang.

Tetapi ia adalah seorang yang cerdik semakin keadaannya bahaya dan kritis hatinya semakin tenang dan pikirannya semakin luas. Sembari menangkis datangnya serangan-serangan gencar pihak musuh ia mulai memperlihatkan keadaan disekelilingnya kemudian perlahan-lahan mengobah arah mundurnya kearah yang lain :

Menanti serangan-serangan yang gencar yang dilancarkan Im So It Mo sudah berlalu Hu Pak Leng baru memperoleh kesempatan yang bagus untuk balas melancarkan serangan.

Ia membentak keras kepalanya dibabat kesamping balas melancarkan serangan dengan menggunakan jurus Jan Hong Poo Lang atau Angin menderu ombak memecah menghantam dada pihak lawannya. Im So It Mo segera mengangkat tangannya menangkis mengambil kesempatan inilah Hu Pak Leng miringkan badannya lantas maju kedepan jari-jari tangannya laksana tiupan angin saja menotok kesana kemari mengarah jalan-jalan darah penting.

Pada saat ini pertempuran diantara mereka berdua sudah berubah menjadi suatu pertempuran jarak dekat perubahan-perubahan kepalan maupun telapak dilakukan dengan kecepatan bagaikan kilat, setiap serangan setiap gerakan dilakukan dengan sangat manis pada saat-saat menghadapi kritis.....

Hanya didalam sekejap mata mereka berdua sudah saling serang-menyerang sebanyak empat lima puluh jurus lebih.

Keempat orang dayang cilik berbaju hijau yang mengangkat tinggi-tinggi lampu lenteranya diempat penjuru ruangan tanpa terasa sudah mengurung semakin kecil lagi luas lingkaran kepungannya, masing- masing berdiri diempat penjuru dengan sikap yang angker.

Terlihatlah pertempuran diantara kedua orang itu semakin lama berubah semakin cepat dan semakin seru, perubahan-perubahan didalam serangan telapak maupun jaripun diubah semakin cepat.

Dua sosok bayangan manusia berputar dan berkelebat tiada hentinya diatas tanah seluas lima depa, mereka berputar bagaikan roda kereta, saking cepat dan serunya pertempuran tersebut sehingga membuat orang-orang lain merasakan pandangannya jadi silau dan tak dapat membedakan siapa kawan siapa lawan.

Ditengah berlangsungnya pertempuran yang amat sengit itulah mendadak terdengar berkumandangnya suara dengusan dingin serta bentakan keras, mendadak kedua sosok bayangan manusia itu berpisah lalu berpencar.

Para hadirin yang ada didalam ruangan segera merasakan hatinya tergetar oleh kejadian ini, sewaktu mereka memandang lebih teliti lagi ketengah kalangan, maka tampaklah kedua orang itu sedang berdiri saling berhadapan dengan sepasang mata dipejamkan rapat-rapat ditengah antara mereka berdua terpisahkan oheh suatu kalangan seluas empat lima kaki.

Menemui kejadian semacam ini cukup sekali pandang saja semua orang setelah mengetahui bila masing-masing pihak sudah menderita luka dalam yang parah tetapi paras muka kedua orang itu masih tetap wajar seperti sedia kala, sama sekali tidak menunjukkan perubahan apapun.

Ketika itulah mendadak dengan langkah yang amat perlahan perempuan berbaju putih itu berjalan kesisi tubuh Im So It Mo, bibirnya yang kecil mungil bergerak perlahan seperti sedang mengucapkan sesuatu tetapi belum sampai suaranya diutarakan keluar tiba-tiba saja paras mukanya berubah hebat tubuhnya meloncat mundur sejauh tujuh depa lebih kebelakang.

Tindak tanduk serta gerak-geriknya yang rnenunjukan perasaan kaget serta ketakutan itu segera memancing perasaan curiga dari Lauw San Sam Hiong serta Yu Ih Lok. Terdengar Pouw Cau membentak keras tubuhnya segera bergerak menerjang kearah perempuan berbaju putih itu.

Yu Ih Lok jadi orang jauh lebih teliti dan cermat ketika dilihatnya gerak-gerik perempuan berbaju putih itu sama sekali tiada maksud untuk turun tangan membokong Hu Pak Leng dengan menggunakan kesempatan itu, baru teriaknya keras.

Saudara Pauw jangan berangasan.

Tubuhnyapun ikut meloncat kedepan menyusul dari belakang Pouw Cau.

Walaupun gerakannya dilakukan jauh lebih lambat tetapi berhubung ilmu meringankan tubuhnya jauh melebihi orang lain ditambah pula gerakannya cepat laksana sambaran kilat. Kini malahan ia yang berhasil mencapai pada sasarannya sebelum Pouw Cau tiba disini. 

Saudara Pauw. Cegahnya sambil putar badan menghadang. Bengcu sedang bertempur dengan orang lain untuk menyelesaikan suatu pertaruhan sebelum menang kalah ditentukan kita orang tak boleh turun tangan semaunya sendiri. Mendengar perkataan tersebut Pouw Cau tidak dapat berbicara apa-apa lagi terpaksa sambil melotot kearah perempuan berbaju putih itu makinya.

Perempuan hina yang tidak punya malu ini sungguh amat rendah sekali untuk memancing Bengcu kita agar terjebak, dengan tiada malunya ia pura-pura berkabung kematian lakinya. Hmm melihat tampangnya saja sudah cukup membuat aku jadi muak!.

Perlahan-lahan perempuan berbaju putih itu memejamkan sepasang matanya, terhadap makian yang sangat kotor dari Pouw Cau ini bukan saja dia orang tidak buka suara bahkan matapun sama sekali tidak bergerak, dengan sangat tenang ia berdiri ditempat semula.

Keadaannya mirip sekali dengan sebuah patung arca yang terbuat dari tanah liat.

Perasaan hati Yu Ih Lok jauh lebih cermat dan teliti dari siapapun, sembari mencegah Pouw Cau bergerak maju tadi diam-diam iapun mulai memperhatikan wajah perempuan berbaju putih itu dengan sangat teliti.

Di bawah sorotan cahaya lampu lentera berwarna hijau, diatas wajahnya yang semula amat cantik terlapis pula selapis cahaya hijau yang sangat tawar hal ini membuat raut mukanya terasa agak menyeramkan.

Walaupun dari atas wajahnya ia tak berhasil menentukan apakah perempuan itu sedang merasa girang atau gusar, tetapi dari perubahan sikapnya ia dapat membedakan dengan sangat jelas sekali.

Ia melihat alisnya yang lentik dikerutkan kencang wajahnya murung sepasang matanya dipejamkan rapat-rapat agaknya dia sudah menderita luka dalam yang sangat parah, mirip juga didalam hatinya sedang dikacaukan oleh berbagai persoalan yang membingungkan hatinya, sehingga selama ini ia berdiri termangu- mangu di tempat itu tanpa bergerak sedikitpun.

Bahkan agaknya terhadap makian dari Pouw Cau pun perempuan tersebut sama sekali tidak mendengar, terhadap kejadian ini dalam hati si tukang ramal ini merasa semakin keheranan lagi.

Diam-diam pikirnya dalam hati.

Eeeei..... sungguh aneh sekali ! kenapa sikap perempuan itu jadi berubah sangat hebat? jikalau di katakan ia terluka, tetapi selama ini belum pernah dia orang mendekati Bengcu apa mungkin suhunya sendiri yang sudah turun tangan melukai dirinya??.

Mendadak hati terasa rada bergerak, kembali pikirnya lebih lanjut.

Aaaakh... benar ! tentunya si iblis tua itu sedang mengerahkan semacam tenaga lweekang sehingga sekitar beberapa depa disekeliling tubuhnya tak dapat didekati siapapun.....

Selagi ia berpikir keras itulah mendadak perempuan berbaju putih itu menghela napas panjang sepasang matanya pelan-pelan dipentangkan lebar-lebar setelah memandang sekejap kearah Hu Pak Leng lalu ia mengalihkan sinar matanya kearah tubuh Yu Ih Lok.

Heeeeeei habislah sudah, serunya sambil menggeleng kepala perlahan.

Kedua patah kata tersebut diucapkan dengan menggunakan kata-kata yang amat lirih saking perlahannya sehingga membuat Yu Ih Lok walaupun berada dihadapannyapun tidak dapat mendengar jelas perkataan apakah yang sedang diucapkannya.

Akhirnya setelah dipikirkan dari gerakan bibir perempuan itu serta putar otak beberapa saat ia baru berhasil meraba perkataan apakah yang baru saja diutarakan itu.

Mengapa ia bisa jadi begitu ? diam-diam kembali Yu Ih Lok berpikir alisnya dikerutkan. Apakah sesudah terluka dalam ia jadi menderita penyakit gila?. Selama ini ia memiliki kecerdasan melebihi orang lain siasat setan atau permainan licik yang sering terjadi didalam dunia kangouw tidak satupun yang bisa mengelabuhi sepasang matanya tetapi menghadapi kejadian semacam ini Yu Ih Lok merasa rada repot juga untuk memahaminya.

Saat ini tangan kanan Ong Toa Kang yang terluka sudah membengkak satu kali lipat lebih besar dari keadaan semula pada mulut lukanyapun sudah berubah rnenjadi hijau kehitam-hitaman tetapi karena takut memecahkan konsentrasi Hu Pak Leng didalam pertempurannya kendati luka tersebut terasa amat sakit ia tidak berani merintih dengan sekuat tenaga ia orang mempertahankan diri.

Perempuan muda berbaju putih itu setelah mengalami perasaan kaget dan ketakutan perlahan-lahan semangatnya pulih kembali seperti sedia kala sekali lagi dengan langkah yang lambat ia berjalan mendekati diri Im So It Mo.

Gerak-gerik perempuan ini sungguh mencurigakan sekali melihat kejadian itu kembali Yu Ih Lok berpikir. Entah apakah maksud tujuannya?? atau tidak boleh memberi peluang baginya untuk turun tangan melancarkan serangan bokongan.

Diam-diam iapun mengeluarkan senjata pit besinya, hawa murni lantas disalurkan mengelilingi seluruh tubuh sedang sepasang mata melototi perempuan berbaju putih itu tak berkedip.

Asalkan ia menemukan perempuan tersebut memperlihatkan tindak-tanduk yang mencurigakan terhadap Bengcunya, maka ia segera akan melancarkan serangan dengan menggunakan gerakan yang tertepat.

Tampaklah badan si perempuan muda berbaju putih yang sedang bergerak lambat-lambat kearah depan itu kelihatan gemetar sangat keras, agaknya dalam hati ia merasa sangat takut.

Pada saat itulah Im So It Mo membuka kembali sepasang matanya dan memandang sekejap kearah perempuan berbaju putih itu dengan tajam :

Kau ingin cari mati ?? ancamnya dingin. Suhu, aku.....

Suara dari perempuan berbaju putih ini kelihatan amat gemetar, jelas sekali didalam hatinya pada saat ini sudah diliputi oleh suatu perasaan takut yang tiada taranya.

Mundur ! kembali Im So It Mo membentak dingin...

Tangan kanannya dari tempat kejauhan dikebutkan keras-keras kearah perempuan berbaju putih itu.

Kendati datangnya serangan kebutan tersebut kelihatan sangat perlahan dan sama sekali tidak meninggalkan suara desiran angin ditengah udara, tetapi bagi si perempuan berbaju putih itu merupakan suatu bencana yang sudah berada diambang pintu.

Terdengar ia menjerit melengking, tubuhnya terpukul mundur sejauh tiga langkah kebelakang.

Perubahan yang terjadi secara mendadak ini betul-betul berada diluar dugaan Yu Ih Lok, sehingga tak terasa lagi ia dibuat melongo-longo dan tak berkutik.

Im So It Mo setelah melancarkan satu serangan menghajar tubuh perempuan berbaju putih itu, badannya lantas meloncat kedepan menubruk kearah Hu Pak Leng, sepasang telapak tangannya bersama- sama didorong kedepan.

Mendadak Hu Pak Leng pun membentak keras, rambutnya pada berdiri semua jari tengah serta jari telunjuk tangan kanannya dirapatkan menjadi satu menotok kearah depan, sedang tubuhnya dengan mengikuti gerakan sang jari bergerak maju kedepan menyambut kedatangan Im So It Mo.

Masing-masing pihak begitu bergerak segera menggunakan kecepatan yang paling tinggi untuk mendahului lawannya, tampaklah dua sosok bayangan manusia saling menyambar kearah lawannya. Agaknya Im So It Mo sudah menderita luka yang amat parah, ketika sepasang kakinya melayang turun keatas permukaan tanah, tubuhnya kelihatan bergoyang tiada hentinya.

Setelah beristirahat sejenak, barulah terdengar ia berseru dengan suara yang sangat dingin :

Hmm! pertempuran malam ini kita sudahi sampai disini saja tiga bulan kemudian loohu tentu akan naik kegunung Pak Ih untuk minta petunjuk lagi.

Cayhe pasti akan menanti kunjungan Loo enghiong! sahut Hu Pak Leng dengan wajah keren tetapi nada suaranya sangat halus dan ramah. Tetapi sebelum pergi cayhe harap Loo enghiong suka tinggalkan dulu obat pemunah :

Di atas paras muka Im So It Mo yang dingin dan menyeramkan terlintaslah hawa amarah yang rasanya sukar dibendung, tetapi sewaktu matanya bentrok dengan sepasang mata Hu Pak Leng yang tajam akhirnya ia barhasil menahan hawa amarahnya itu, perlahan-lahan dari sakunya ia mengambil ke luar sebuah botol porselen dan menjemput dua butir pil berwarna hitam :

Salah seorang dara berbaju hijau yang berdiri di empat penjuru tadi segera melangkah maju kedepan menerima obat tersebut kemudian dengan langkah tergesa-gesa bergerak kearah hadapan Hu Pak Leng.

Sesudah menyerahkan pil tersebut kembali dengan langkah yang terburu-buru ia kembali kesisi tubuh Im So It Mo.

Sinar mata Im So It Mo dengan tajam menyapu sekejap kearah para jago yang hadir didalam ruangan tersebut kemudian dengan langkah lebar ia berlalu kearah luar ruangan.

Sewaktu ia lewat disisi tubuh perempuan berbaju putih tersebut kakek itu kembali tertawa dingin tiada hentinya sedang perempuan tadi kontan saja rubuh keatas tanah sambil menjerit keras.

Loo enghiong tiba-tiba terdengar Hu Pak Leng membentak keras, sebelum pergi, ada baiknya kau bubarkan dulu jebakan-jebakan serta anak buahmu yang kau sebar disekeliling ruangan ini.

Sekali lagi Im So It Mo menoleh dan memandang sekejap kearah Hu Pak Leng akhirnya ia mengulapkan tangannya keatas kepala.

Terdengarlah dari tempat kegelapan di empat penjuru ruangan tersebut berkumandang datang suara langkah kaki yang amat ramai, hanya didalam sekejap mata muncullah delapan, sembilan belas orang lelaki kekar berpakaian ringkas warna hitam dengan wajah berkerudung kain hitam pula bergerak menuju keluar ruangan.

Pouw Cau itu Toako dari Lauw San Sam Hiong sewaktu melihat dari tempat kegelapan disekeliling ruangan tersebut secara tiba-tiba muncul sebegitu banyak orang, dalam hati kontan saja merasa amat gusar :

Hey Loo Ong ayo turun tangan... teriaknya keras sembari menoleh kebelakang, mari kita jajal dulu beberapa orang itu untuk memadamkan rasa mangkel dalam hati.

Seorang lelaki berusia pertengahan yang kurus kering bagaikan bambu lantas mergia dan meloncat kedepan menghadang jalan pergi orang-orang itu.

Minggir ! buru-buru Hu Pak Leng membentak keras.

Pouw Cau serta lelaki berusia pertengahan yang kurus kering itu sewaktu mendengar suara bentakan dan Hu Pak Leng ternyata benar-benar tak berani membangkang, mereka segera menyingkir kesamping.

Menanti lelaki kasar yang dibawanya sudah berlalu semua dari dalam ruangan tersebut, diatas wajah Im So It Mo yang dingin dan seram mendadak terlintas suatu perasaan cinta dan rasa sayang tiada terhingga sesudah memandang sekejap kearah perempuan berbaju putih itu baru putar badan berlalu.

Si dara berbaju hijau serta keempat orang dayang kecil yang membawa lampu lentera tadipun segera mengikuti dari belakang tubuhnya. Menggunakan kesempatan sewaktu Im So It Mo sedang putar badan itulah mendadak dengan alis yang dikerutkan Hu Pak Leng menarik napas panjang-panjang setelah busungkan dadanya semangatpun berkobar kembali.

Loo enghiong, silahkan kau orarg berangkat satu langkah terlebih dahulu maaf cayhe tak akan jauh menghantar lagi teriaknya keras dengan sepasang mata memancarkan cahaya tajam.

Perjanjian tiga bulan mendatang pasti tak bakal loohu pungkiri lagi, sahut Im So It Mo dengan dingin kepalanya tidak ditoleh lagi.

Loo enghiong... mendadak sekali lagi Hu Pak Leng berteriak keras, sebelum perjanjian tiga bulan kita berlalu, kau harus betul-betul pegang janji dan tidak diperkenankan menggunakan nama dari aku orang she Hu lagi untuk berbuat jahat dan menimbulkan keonaran.

Mendengar perkataan tersebut kontan saja Im So It Mo menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang.

Hmm ! kau kira loohu adalah manusia macam apa? buat apa aku harus menyaru namamu??

Hu Pak Leng yang melihat diatas paras mukanya terlintas suatu perasaan benci yang sudah merasuk kedalam tulang diiringi hawa murka yang sudah mencapai pada puncaknya, diam-diam mulai berpikir.

Tindak tanduk orang ini sangat terbuka apalagi iapun merupakan seorang jagoan kangouw yang sudah memiliki nama harum didalam dunia persilatan, rasanya tidak mungkin dia orang suka menyaru namaku untuk menerbitkan keonaran. Jikalau semisalnya dikatakan perbuatan tersebut dilakukan oleh anak buahnya, aku rasa tak bakal bisa menemukan orang yang memiliki kepandaian silat sebegitu buasnya, nama besar si Peluru Sakti Tujuh Bintang Peng Cing pun sudah sangat terkenal di daerah Kanglam kepandaian silatnya boleh dibilang luar biasa. Piauw Tauw dari perusahaannya pun merupakan jago-jago pilihan. Orang yang menyaru nama serta gelarku itu hanya cukup didalam beberapa jurus saja sudah kena dilukai hal ini menunjukan bila kepandaian silat bajingan-bajingan itu tidak lemah.....

Im So It Mo yang melihat Hu Pak Leng cuma menundukkan kepalanya berpikir dan tidak menjawab pertanyaannya, dalam hati merasa amat murka.

Heeee..... heee..... selama hidup baru kali ini loohu mengalami penghinaan semacam ini serunya sembari tertawa dingin tiada hentinya.

Belum habis ia berbicara, mendadak tubuhnya sudah sempoyongan kearah depan ke kiri dan ke kanan, hampir-hampir saja ia jatuh keatas tanah.

Perkataan dari Loo enghiong berat bagaikan Hioloo cayhe mana berani tidak mempercayainya. Loo enghiong! silahkan kau orang berlalu! ujar Hu Pak Leng sembari menjura.

Im So It Mo tertawa dingin ia lantas putar badan dan dengan langkah perlahan dari pintu ruangan, langkah kakinya sudah tidak mantap lagi, dengan paksakan diri dan jalan sempoyongan akhirnya ia berhasil juga keluar dari pintu ruangan tersebut.

Si dara berbaju hijau serta ke empat dayang cilik pembawa lampu lentera itupun dengan kencang mengikuti dari belakang tubuhnya berlalu dari ruangan besar.

Begitu keluar dari pintu, mereka segera memadamkan sinar lampu diatas lampu lenteranya. Hanya didalam sekejap mata beberapa orang itu sudah lenyap dibalik kegelapan.

Menanti beberapa orang itu sudah lenyap dari pandangan Pouw Cau baru menyulut lampu lentera untuk menerangi ruangan tersebut. Kemudian dengan wajah penuh perasaan curiga katanya terhadap diri Hu Pak Leng.

Terang-terangan si iblis tua itu sudah menderita luka dalam yang sangat parah mengapa Bengcu melepaskan dirinya dalam keadaan hidup-hidup? bukankah berarti melepaskan harimau kembali ke gunung dan meninggalkan bibit bencana dikemudian hari mengapa tidak gunakan kesempatan baik ini untuk kita babat saja diri mereka.....

Mendadak Hu Pak Leng menarik napas panjang air mukanya berubah hebat keringatnya mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya dengan tiada bertenaga sama sekali ia mengangkat tangan kirinya.

Cepat berikan obat pemunah ini untuk saudara Ong telan, katanya perlahan-lahan. Orang itu sangat beracun jika sedikit terlambat mungkin sulit untuk menolong dirinya...

Berbicara sampai disitu tubuhnya telah sempoyongan tetapi dengan paksakan diri kembali ia menyambut kata-katanya :

Masih ada lagi perempuan berbaju putih itu, sekalian ditolong. Belum habis ia berbicara tubuhnya telah jatuh tertunduk di atas tanah.

Kiranya didalam serangan yang terakhir itu baik Hu Pak Leng maupun Im So It Mo sudah menggunakan seluruh tenaga lweekang yang dimilikinya untuk merubuhkan pihak lawan, didalam bentrokan kali itu mereka berdua sama-sama menderita luka yang amat parah, tetapi mereka berdua sama-sama tidak ingin pihak lawannya mengetahui bila dirinya sudah menderita luka yang sangat parah dan tak dapat bertempur lebih lanjut :

Dengan mengandalkan hasil latihan ilmu lweekang mereka selama puluhan tahun lamanya dengan paksakan diri mereka tekan luka tersebut didalam hati sehingga tidak sampai bekerja :

Tetapi berhubung setelah terluka didalam hati Im So It Mo secara mendadak terlintas perasaan cinta dan sayangnya terhadap perempuan berbaju putih itu, ditambah pula mendengar tuduhan dari Hu Pak Leng yang mengatakan ia sudah menyaru sebagai Liok-lim Bengcu untuk terbitkan keonaran karena gusar hatinya jadi bergolak hal ini membuat tenaga murninya yang semula dikumpulkan menjadi satu kini jadi buyar sedang lukapun jadi mulai bekerja.

Sebaliknya Hu Pak Leng tidak ada kejadian apa-apa mengacaukan pikirannya hal ini membuat dirinya pura-pura tidak terluka kelihatan sungguh-sungguh sedangkan Lauw San Sam Hiong sendiri tak dapat melihat akan hal ini sekalipun Im So It Mo sendiripun diam-diam merasa amat terperanjat.

Di dalam anggapannya Hu Pak Leng masih mampu meneruskan pertempuran oleh karena itu terpaksa ia mengikuti saja perkataan dari Hu Pak Leng dan ketika didengarnya Liok-lim Bengcu tiada maksud untuk menahan dirinya buru-buru sambil membawa anak buahnya ia segera berlalu dari sana.

Yu Ih Lok yang melihat Bengcunya terluka dengan gesit segera meloncat kesampingnya untuk membimbing tubuh Hu Pak Leng.

Bengcu apakah lukamu sangat berat ? tanyanya cemas.

Lauw San Sam Hiong setelah termangu-mangu beberapa saatpun segera lari bersama-sama kedepan Ong Toa Kang dengan tangan kiri menggendong tangan kanannya yang terluka, segera bertanya dengan suara keras.

Hey si tukang ramal luka yang diderita Bengcu parah atau tidak ?

Yu Ih Lok menoleh melihat sekejap kearah Ong Toa Kang dari tangan Hu Pak Leng ia menerima obat pemunah tersebut yang satu disimpannya sedang yang sebutir diserahkan kepada Ong Toa Kang.

Nah cepat telan obat pemunah tersebut serunya.

Tanpa banyak bicara lagi Ong Toa Kang segera menerima pil berwarna hitam itu dan ditelan kedalam perut...

Eeeei bagaimana dengan keadaan luka yang diderita Bengcu ? buru-buru Pouw Cau bertanya dengan

setengah berbisik sambil berjongkok disisi Bengcunya kenapa sejak tadi tak kelihatan tanda yang mencurigakan ?? Aku lihat luka yang dideritanya tidak ringan, sahut Yu Ih Lok menggeleng. Kalian cepat pergi mencari sebuah papan kayu kau harus berusaha secepatnya untuk menggotong Bengcu kembali ke rumah penginapan ditempat ini untuk mencari obat-obatan kurang leluasa dengan sendirinya untuk rnenolongpun rada sulit.

Belum sempat Pouw Cau menyahut, tiba-tiba Hu Pak Leng sudah membuka sepasang matanya.

Tidak usah ! cegahnya dengan tiada bertenaga. Cepat bimbing aku bangun, setelah bergerak sebentar kita bicarakan lagi.

Yu Ih Lok mengikuti perintah segera membimbing tubuh Hu Pak Leng, sedang Pouw Cau dengan tergesa-gesa berlari mendekat bantu membimbing lengan kiri Bengcunya menghantar dia orang maju kedepan.

Saat ini terlihatlah paras muka Hu Pak Leng menunjukkan gejala kesakitan yang luar biasa, langkahnya gontai dan lambat sekali seperti sama sekali tak bertenaga. Setiap kali ia melangkah satu tindak kedepan tulang-tulang diseluruh tubuhnya ikut bergemerutukan nyaring keringat yang membasahi kepalanya besar-besar seperti kacang kedelai membuat pakaiannya basah kuyup.

Setelah berjalan mengelilingi ruangan satu kali napas Hu Pak Leng telah berubah ngos-ngosan seperti napas kerbau tetapi paras mukanyapun telah berubah jauh lebih baikan.

Ketika itu api obor yang berada ditangan Pauw Phoa sudah habis terbakar ketika sinar api sirap keadaan didalam ruangan itupun berubah jadi gelap kembali.

Dari dalam sakunya Yu Ih Lok segera mengambil keluar sebutir mutiara yang memancarkan cahaya tajam digantungkan pada kain kantong putih yang tergantung dibadannya setelah itu dari sakunya ia mengambil keluar pula sebatang lilin untuk kemudian disulut dan diletakkan diatas meja sembahyangan :

Bengcu! ujarnya kemudian setelah semua pekerjaan selesai. Apakah perlu kita bimbing untuk mengitari kembali ruangan ini?.

Tidak perlu sudah! perlahan Liok-lim Bengcu menggeleng. Aku ingin duduk dan beristirahat dengan tenang, kalian cepat gunakan cara mengurut jalan darah Tui Kong Kok Hiat untuk tolong menyadarkan perempuan berbaju putih itu.

Selesai mengucapkan beberapa patah kata tersebut, napasnya kembali tersengkal-sengkal buru-buru ia jatuhkan diri duduk bersila dan mengatur pernapasan.

Melihat Bengcunya sudah mulai bersemedi Yu Ih Lok tak berani mengganggu, sinar matanya sekarang dialihkan kearah Ong Toa Kang.

Tetapi ketika dilihatnya bengkak ditangan kanannya masih tetap seperti sedia kala tak kuasa lagi keningnya dikerutkan rapat-rapat.

Ong-heng, apakah lukamu rada baikan? tanyanya tak tertahan.

Sebelum minum pil berwarna hitam itu rasanya memang rada gatal-gatal tetapi sekarang baik rasa sakit maupun rasa gatal sudah punah sama sekali sahut Ong Toa Kang sambil tersenyum setelah melirik sekejap keatas mulut lukanya :

Ehmm aku rasa daya bekerja obat itu sudah mulai berjalan. Yu Ih Lok mengangguk, sekarang lebih

baik kau jangan terlalu banyak bergerak, dan tidak usah pula berteriak-teriak dan gembar-gembor tidak keruan, lebih baik duduklah beristirahat :

Ong Toa Kang sambil mencekali tangan kanannya yang terluka mendadak tertawa terbahak-bahak :

Haaa... haaa... haaa... tidak kusangka kau Sian-heng tukang ramalpun pandai sekali periksakan penyakit dan menyembuhkan luka serunya.

Yu Ih Lok sewaktu melihat sikapnya yang ketolol-tololan hanya bisa tersenyum saja tanpa mengucapkan sepatah katapun. Ia segera berlalu dan mendekati tubuh si perempuan muda berbaju putih yang menggeletak diatas tanah itu, setelah diperiksanya sejenak kepada Pouw Cau ujarnya :

Pauw-heng, tolong ambilkan lampu lilin yang berada diatas meja sembahyangan itu. Pouw Cau menurut dan dari meja sembahyangan ia mengambil lampu lilin tersebut.

ooooOoooo

4

SETELAH menerima lilin itu Yu Ih Lok mulai berjongkok dan melakukan pemeriksaan yang amat teliti diseluruh bagian tubuh dari perempuan muda berbaju putih.

Terlihatlah olehnya wajah yang semula cantik jelita kini sudah berubah jadi pucat kehijau-hijauan bibirnya tak bersinar lagi bahkan kelihatan seperti layu sepasang mata terpejam rapat-rapat sedang tubuhnya melingkar seperti ular sedikit gerakpun tidak ada lagi.

Lama sekali kedua orang itu memperhatikan seluruh tubuh perempuan muda tersebut, akhirnya terdengarlah Yu Ih Lok menghela napas panjang kemudian bergumam seorang diri.

Kelihatannya luka yang ia derita tidak ringan, siluman tua itu benar-benar kejam sehingga terhadap murid perempuannya sendiripun begitu tega untuk turun tangan jahat.

Yu-heng, Pouw Cau yang mencekal lampu lilin disisi si tukang ramal itu mendadak menegur, tadi Bengcu perintah kita untuk menggunakan cara mengurut jalan darah Tui Kong Kok Hiat, guna menolong dirinya urusan tak boleh terlambat lagi, aku lihat lebih baik kita segera turun tangan.

Ehmmm..... Walaupun Yu Ih Lok menyahut tetapi ia masih belum juga turun tangan, sepasang matanya dengan termangu-mangu memandangi wajah perempuan berbaju putih itu tajam-tajam.

Eeeei... kau kenapa? Pouw Cau yang ada disisinya buru-buru menyikut diri Yu Ih Lok perlahan, kenapa kau orang tidak juga turun tangan? apakah kau orang sudah ngiler dan tertarik dengan kecantikan wajahnya sehingga timbul pikiran untuk mencobai badannya.

Selesai berkata kembali ia tertawa.

Saudara, kau jangan salah paham buru-buru Yu Ih Lok berseru dengan wajah serius... Siauw-te bukanlah seorang manusia yang gampang kesemsem oleh kecantikan wanita apalagi napsu birahi untuk memperkosa dirinya dalam keadaan tidak sadar yang aku ragukan justru dikarenakan adanya peraturan hubungan antara lelaki dan perempuan batas-batasnya bagaimana aku bisa menggunakan ilmu mengurut jalan darah Tui Kong Kok Hiat untuk menolong perempuan tersebut ?? justru hal inilah yang membuat aku jadi serba salah...

Yu-heng boleh dihitung termasuk seorang pendekar aneh didalam dunia kangouw mengapa setelah menghadapi pekerjaan yang kritis sikapmu malah begitu kolot??? ujar Pouw Cau tertawa... Bukankah setiap kali menemui persoalan harus kau timang dahulu berat ringannya urusan?? kini kita masih berada didalam sarang musuh sudah tentu menolong orang merupakan suatu pekerjaan yang sangat penting, buat apa kau gubris peraturan-peraturan serta adat istiadat yang tetek bengek tersebut...

Yu Ih Lok masih tetap ragu-ragu tetapi setelah termenung dan berpikir beberapa saat akhirnya dengan wajah serius ia mengangguk.

Kalau memang demikian silahkan Pauw-heng letakkan lilin tersebut keatas tanah lalu luruskan dulu badannya, biar Siauw-te turun tangan melancarkan peredaran darah didalam urat-urat nadi serta jalan-jalan darahnya. Ia merandek sejenak, lalu tambahnya lagi. Harap Pauw-heng suka melindungi diriku...

Selesai berbicara hawa lweekangnya lantas dikumpulkan kemudian disalurkan kedalam sepasang telapak tangannya

Beberapa saat kemudian setelah menggulung ujung bajunya yang lebar sepasang telapak tangan Yu Ih Lok perlahan-lahan ditekankan keatas sepasang pergelangan tangan bagian dalam dari perempuan berbaju putih itu dan melakukan pengurutan dengan kain baju sebagai penghalang.

Setelah menguruti sepasang pergelangan tangan serta leggannya. Yu Ih Lok kembali menyingkirkan rambutnya yang terurai untuk mengurut dada sebelah belakang, ubun-ubun, kening serta jantung.

Kurang lebih seperminum teh kemudian tiba-tiba perempuan muda berbaju putih itu menghembuskan napas panjang lalu disusul muntahkan darah kental.

Dari kepala serta keningnya keringat dingin mulai mengucur keluar dengan amat deras, sepasang matanya yang jelipun perlahan-lahan dipentangkan lebar-lebar.

Sekali pandang saja perempuan itu dapat menangkap Yu Ih Lok serta Pouw Cau berdua sedang berjongkok disisi tubuhnya bahkan sepasang tangan si tukang ramal itu masih mencekal dan menguruti urat nadi pergelangan tangan kanannya, tak terasa lagi tubuhnya mulai bergerak, dengan ditahan tangan kiri ia paksakan diri untuk bangun duduk :

Yu Ih Lok karena takut perempuan tersebut sudah menaruh rasa salah paham terhadap dirinya, buru- buru ia berseru.

Lukamu tidak ringan, cayhe menerima perintah dari Bengcu untuk mengobati dirimu dengan menggunakan cara ilmu mengurut jalan darah. Tui Kong Kok Hiat, lebih baik kau berbaringlah dulu :

Dengan bangunnya perempuan berbaju putih ini maka rambutnya yang hitam mulus itupun ikut terurai hampir menutupi seluruh wajahnya buru-buru ia mengesampingkan rambutnya dengan tangan kanannya lalu dengan perasaan bingung dan tegang berseru :

Lalu dimanakah Bengcu kalian ?

Tadi ia sudah bergebrak mati-matian melawan siluman tua itu agaknya pada saat ini pun diapun sedikit menderita luka dalam kini Bengcu sedang bersemedi untuk mengatur pernapasan kata Yu Ih Lok menerangkan.

Selesai berkata wajahnya lantas dialihkan kearah dimana Hu Pak Leng sedang duduk bersemedi. Mengikuti sinar matanya si perempuan muda berbaju putih itupun segera memandang kearahnya,

sewaktu melihat Hu Pak Leng sedang duduk bersila mengatur pernapasan ia menghembuskan napas panjang.

Suhuku sudah pergi ?? serunya kemudian dengan sinar mata dialihkan kekanan kekiri mencari.

Heee..... heee..... kau lagi menanyakan kakek tua manusia yang tidak mirip manusia dan membawa beberapa bagian hawa setan itu? Timbrung Pouw Cau dengan dingin.

Sejak sadar dari pingsannya perempuan berbaju putih itu sudah berbicara sangat banyak sekali, agaknya pada saat ini terasa amat lemah. Lengan yang semula menahan badannya untuk duduk mulai tidak kuat bertahan diri lagi, akhirnya perlahan-lahan ia berbaring kembali keatas tanah.

Benar... dia... dia orang... sahutnya dengan suara yang amat lemah.

Ia sudah terluka ditangan Bengcu kami dan sekarang sudah melarikan diri.

Apa?? Diatas paras muka perempuan muda berbaju putih itu berlintas suatu perasaan kaget dan ketakutan ia kena dikalahkan oleh Bengcu kalian. Dengan paksaan diri kembali ia meronta lalu melirik sekejap kearah Hu Pak Leng yang sedang duduk bersemedi.

Sejak semula Yu Ih Lok dapat meraba maksud hatinya. Tidak menanti perempuan itu buka suara mengajukan pertanyaan secara suka rela ia sudah berbicara dahulu.

Karena pertempuran keras lawan keras diantara mereka berdua membuat kedua orang itu sama-sama menderita luka dalam cuma luka yang diderita suhumu agaknya jauh lebih agak berat !

Tidak mungkin..... tidak mungkin..... dengan ngotot perempuan muda berbaju putih itu menggeleng. Suhuku sudah berhasil mempelajari ilmu pukulan berhawa dingin Im Hong Cang yang sangat beracun, perduli seseorang memiliki kepandaian ilmu silat yang bagaimanapun dahsyatnya setelah menahan serangannya tentu akan terjungkal, kemungkinan sekali Bengcu kalianpun sudah terkena angin pukulan Im Hong Ciangnya........

Ia baru saja sembuh dari luka parahnya kesehatan badan sama sekali belum pulih apalagi kini harus berbicara banyak, baru saja berbicara sampai disitu napasnya kembali tersengkal-sengkal.

Apakah nonamu terluka oleh angin pukulan Im Hong Ciang suhumu?? tanyanya Yu Ih Lok cepat dengan kening yang dikerutkan.

Perlahan-lahan perempuan muda berbaju putih memejamkan matanya.

Tidak salah, sahutnya dengan suara yang sama sekali tiada bertenaga, ketika aku melihat dia orang berdiri tenang menyalurkan hawa murninya mengelilingi seluruh badan, dalam hati lantas sadar bila ia hendak menggunakan ilmu pukulan Im Hong Ciangnya yang sangat lihay karena itu aku ada maksud maju kedepan untuk mencegah niatnya, siapa sangka ternyata ia sudah turun tangan jahat terlebih dahulu terhadap diriku.....

Napasnya mulai memburu dan tersengkal-sengkal hal ini membuat kata-kata selanjutnya sulit untuk diteruskan.

Secara mendadak Yu Ih Lok merasakan bahwa perempuan muda berbaju putih yang mengeletak diatas tanah dihadapannya ini terasa sangat lemah dan patut dikasihani diam-diam pikirnya.

Walaupun orang ini ada hal-hal yang patut dibenci tetapi dibawah perintah dan desakan si iblis tua itu sudah tentu ia tak berani membangkang, hal ini tak bisa salahkan semua atas dirinya :

Berpikir akan hal ini, perasaan kasihan serta simpatik semakin menebal didalam hatinya :

Nona tahukah kau bila seseorang setelah terkena angin pukulan Im Hong Ciang tersebut harus menggunakan obat apa untuk menolongnya? tanyanya perlahan.

Ilmu pukulan Im Hong Ciang merupakan suatu ilmu pukulan yang amat beracun kata perempuan muda berbaju putih dengan mengepos semangat. Menurut apa yang aku ketahui dikolong langit pada saat ini hanya ilmu lweekang berhawa panas Sian Thian Seng Kong Cian saja yang bisa menolong. Tetapi kepandaian tersebut merupakan puncak daripada ketujuh puluh dua macam ilmu simpanan kuil Siauw-lim sie para hweesio-hweesio lihay dari Siauw-lim pay saat ini entah masih adakah orang yang memahami ilmu tersebut.

Ia merandek sejenak untuk mengatur pernapasan lalu sambungnya lebih lanjut.

Setelah dia orang kumpulkan hawa lweekangnya ternyata pertama-tama ia memerseni dulu sebuah pukulan Im Hong Ciang kepadaku kemungkinan sekali kekuatannya sudah jauh berkurang dengan demikian luka yang diderita Bengcu kalianpun rada lambat daya bekerjanya. 

Aku sudah terkena racun angin pukulan Im Hong Ciang, itu terlalu dalam saudara-saudara sekalian tidak perlu buang tenaga untuk mengurusi diriku lagi cepatlah carikan akal untuk menolong Bengcu kalian. Heeeeei tenaga lweekang Bengcu kami sangat lihay dan sudah mencapai kesempurnaan, ujar Yu Ih Lok menghela napas perlahan kecerdikannyapun melebihi orang lain walaupun suhumu memiliki ilmu pukulan Im Hong Ciang yang sangat beracun aku rasa belun tentu bisa dilukai, setelah kena pukulan dia masih dapat menyalurkan hawa murninya untuk mengatur pernapasan hal ini membuktikan kalau lukanya tidak terlalu parah.

Di atas paras muka yang pucat dari perempuan berbaju putih itu terlintaslah suatu perasaan girang ia tersenyum :

Semoga saja lukanya tak parah sehingga bisa cepat sembuh seperti sedia kala. Selesai berkata ia memejamkan matanya.

Yu Ih Lok segera angkat tangannya perlahan-lahan menekan keatas keningnya, dia merasa kening perempuan tersebut tiada hentinya mengucurkan keringat dingin ia mengetahui luka yang diderita perempuan ini sangat berat harapan untuk sembuhpun sangat tipis sekali.

Ketika dia menoleh pula kearah Hu Pak Leng terlihatlah napas Bengcunya sudah mulai teratur agaknya luka yang dideritapun rada jauh baikan.

Dengan cepat ia meloncat bangun kepada Lauw San Sam Hiong bisiknya :

Bengcu sedang bersemedi dan hampir mencapai saat-saat yang genting jangan mengganggu dirinya luka tangan Ong-heng pun belum sembuh benar-benar seharusnya kau beristirahat juga dengan tenang kita menanti dulu disini hingga Bengcu tersadar kembali lalu baru berangkat, sedang mengenai perempuan berbaju putih ini rasanya sulit untuk diobati lagi.

Hmm perempuan rendah semacam itu sekalipun mati juga tidak mengapa seru Pouw Cau sambil melirik sekejap kearah perempuan berbaju putih itu.

Mendadak perempuan itu membuka matanya memandang sekejap kearah Pouw Cau, seteleh itu perlahan-lahan meram kembali.

Pandangan mata barusan ini amat mengenaskan sekali membuat setiap orang merasa ikut menaruh rasa kasihan kepada dirinya Pouw Cau yang melihat hal itu secara mendadak hatinya terasa mulai tidak tenang pikirnya :

Aku adalah seorang lelaki sejati jika terhadap seorang perempuan lemah yang hampir mendekati saat ajalnyapun berbicara begitu kasar, bukankah aku sudah menghilangkan semangat serta kegagahan dari seorang lelaki sejati.

Segera ia menoleh kearah Yu Ih Lok sambil bisiknya :

Yu-heng! harap kau menjaga keselamatan dari Bengcu biarlah Siauw-te berjaga-jaga dipintu sebelah kiri sehingga jangan sampai ada orang yang berhasil masuk kemari dan mengganggu ketenangan Bengcu didalam usahanya menyembuhkan luka yang ia derita :

Selesai berkata tanpa menoleh lagi ia lantas berjalan menuju kepintu sebelah kiri.

Biarlah aku berjaga dipintu sebelah kanan sambung si lelaki berusia pertengahan yang kurus kering

itu.

Selesai berkata iapun baru berlalu dari sana.

Walaupun orang ini kelihatan kurus kering dan sangat lemah sehingga hanya tampak kulit pembungkus tulang belaka tetapi didalam deretan Lauw San Sam Hiong kepandaian ilmu silatnya hanya sedikit dibawah Loo-to, Pouw Cau.

Bila dibandingkan dengan Ong Toa Kang yang tinggi besar bagaikan kuda kepandaiannya lebih tinggi satu tingkat dengan demikian adalah kedudukannya nomor dua. Ia bernama Hang Cu merupakan otak dari Lauw San Sam Hiong bukan saja tindakannya paling telengas bahkan pikirannya tajam banyak akal karena itu ia diberi gelar sebagai Koei Cu Khek atau si Cu Khek setan.

Merepotkan kalian berdua harus bersusah payah buru-buru Yu Ih Lok merangkap tangannya menjura.

Kini ditengah lapangan Hu Pak Leng yang sedang duduk bersemedi mengatur pernapasan, si perempuan cantik berbaju putih itu yang napasnya sudah senen-kemis Ong Toa Kang yang beristirahat sambil bersandar diatas dinding ruangan serta Yu Ih Lok mondar-mandir dengan wajah murung.

Kepalanya perlahan-lahan didongakkan menyapu sekejap kedalam ruangan yang sunyi senyap berbagai pikiran berkecambuk didalam benaknya.

Kini empat orang yang berada didalam ruangan hanya dia seorang yang tak terluka asalkan secara diam-diam ia menunjukkan permainan setan dengan cepat dan tanpa meninggalkan sedikit bekaspun ia berhasil membinasakan Hu Pak Leng lalu dengan sedikit menggunakan akal mencelakai pula Lauw San Sam Hiong dan meninggalkan surat palsu peninggalan Hu Pak Leng bukankah dengan begitu dengan sangat mudah sekali kedudukan Liok-lim Bengcu akan terjatuh ketangannya, walaupun dirinya sama sekali tiada maksud untuk merebut kedudukan tersebut tetapi adik angkatnya Tong It Hauw siang malam sangat merindukan kedudukan tersebut asalkan dalam surat peninggalan Hu Pak Leng dituliskan bahwa Tiong It Hauw lah yang harus meneruskan jabatan Liok-lim Bengcu ini bukankah urusan akan jadi beres.

Berpikir akan hal itu hawa napsu membunuh segera melintas diatas wajahnya, perlahan-lahan ia bangun berdiri dan berjalan mendekati diri Hu Pak Leng hawa murninya mulai dikumpulkan siap-siap menotok jalan darah kematian dari si raja akherat berwajah dingin.

Ketika itulah. mendadak terdengar perempuan berbaju putih itu menghela napas panjang.

Aduuuh. benar-benar amat dingin serunya perlahan, agaknya ia sedang mengigau.

Suara seruan yang amat perlahan tadi seketika itu juga melenyapkan napsu membunuh yang semula mencekam seluruh benaknya.

Ia segera menoleh, tampaklah perempuan muda berbaju putih itu menggerakkan badannya perlahan lalu suasana kembali menjadi sunyi.

Ketika ia memusatkan perhatiannya kembali tampaklah Hu Pak Leng yang sedang duduk bersemedi mengatur pernapasan kelihatan sangat angker dan berwibawa, dibawah sorotan cahaya lampu lilin jambangnya pada berdiri bagaikan jarum walaupun berada dalam keadaan lupa kesadaran tetapi wajahnya masih rnemancarkan suatu kekuatan yang dapat mempengaruhi orang lain.

Peristiwa yang terjadi selama beberapa bulan ini kembali terlintas didalam benaknya, diam-diam dalam hati si tukang ramal ini mulai berpikir :

Orang-orang dari kalangan Liok-lim terdiri dari berbagai macam manusia yang sukar dikuasai, kecuali seorang pemimpin yang benar-benar mempunyai pikiran demikian cerdik serta kelapangan dada yang melebihi orang lain, rasanya sulit untuk mencari orang kedua yang mirip dirinya.....

Sejak semula ia sudah menaruh rasa hormat dan kagum terhadap diri Hu Pak Leng, hanya saja perasaan tersebut timbul dari dasar hatinya tanpa ia sadari.

Sewaktu hawa napsu membunuh mulai meliputi wajahnya darah panas bergolak memenuhi seluruh rongga dada dalam pikirannya lantas teringat akan pesan dari adik angkatnya Tiong It Hauw.

Ketika itu dia cuma punya pikiran untuk rebut kedudukan Liok-lim Bengcu lalu dipersembahkan untuk Tiong It Hauw dan satu-satunya jalan untuk mensukseskan niatnya ini adalah turun tangan membinasakan diri Hu Pak Leng terlebih dahulu.

Tetapi kepandaian silat dari Hu Pak Leng sangat lihay dan melebihi siapapun apalagi kecerdikannya tiada bandingan pada hari-hari biasa boleh di kata sama sekali tiada kesempatan baginya untuk turun tangan. Kini ia sedang menderita luka parah inilah suatu kesempatan yang tak mungkin bisa ditemui dalam berribu-ribu peristiwa lainnya.....

Tetapi ketika hawa napsu membunuh sudah luntur dan hatipun jauh lebih tenang mendadak dia merasakan bahkan dirinya sudah menaruh perasaan hormat dan kagum yang tiada taranya terhadap sang Bengcu yang gagah perkasa, lapang dada dan sangat berwibawa.

Ia merasa seorang jagoan yang tidak mengutamakan kedudukan serta nama tetapi menomor satukan kegagahan seorang pendekar berubah betul-betul merupakan seorang lelaki sejati, seorang enghiong hoohan.

Walaupun nama serta gelarnya didalam dunia kangouw dicap sebagai seorang penjahat tetapi setiap langkah setiap tindakannya adalah jujur dan gagah rasanya hanya dia seoranglah yang patut didudukkan sebagai pemimpin diantara bajingan-bajingan serta penjahat-penjahat kalangan Liok-lim.

Jika semisalnya ia jadi turun tangan jahat menotok jalan darah kematiannya bukankah hal ini sama dengan ia sudah melakukan suatu perbuatan yang salah dan patut disesalkan selama hidup.

Ketika berpikir sampai disitu tak kuasa lagi keringat dingin mulai mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya, dengan sangat hormat ia menjura kearah Hu Pak Leng yang duduk bersemedi.