Badai Dunia Persilatan Jilid 02

Jilid 02

MENDADAK air muka sang kakek aneh itu membesi :

Tempo dulu sewaktu loohu masih berkelana di dalam dunia kangouw katanya dengan dingin berkat penghargaan dari kawan-kawan Bu-lim telah menghadiahkan gelar Im So It Mo kepadaku, tetapi loohu sudah ada sepuluh tahun lamanya tidak berkelana lagi didalam dunia kangouw orang yang mengetahui gelarku tentu tinggal beberapa gelincir saja.

Walaupun Hu Pak Leng menjabat sebagai Liok-lim Bengcu yang terhormat tetapi daerah kekuasaannya dan daerah berkelananya tempo dulu hanya terbatas disekitar daerah utara saja kecuali beberapa orang jagoan lihay yang benar-benar punya nama besar terhadap jago-jago lihay yang lebih tuaan ia jarang mengenalnya kini dalam hatinya mulai berputar :

Nama Im So It Mo memang tidak pernah aku dengar tetapi gelarnya sudah memakai Ganas memakai iblis pula ia pasti seorang manusia yang berhati kejam dan buas.....

Sembari tersenyum ia buru-buru merangkap tangannya menjura. Haaaaa..... haaaa selamat bertemu!

Pada mulanya si kakek aneh itu menduga dengan usia yang demikian muda dari Hu Pak Leng ia tidak bakal mengetahui peristiwa pada sepuluh tahun yang lalu. Oleh karena itu setelah menyebutkan gelarnya kembali ia menambahi dengan beberapa patah kata siap-siap sebagai pegangannya untuk turun dari panggung.

Siapa sangka ternyata Hu Pak Leng sudah menangkap tangannya menjura bahkan mengucapkan pula kata-kata selamat bertemu, dalam hati ia merasa rada ada diluar dugaan.

Diam-diam pikirnya.

Tempo dulu setelah aku dikerubuti oleh hweesio-hweesio lihay dari kuil Siauw-lim si, dengan membawa luka parah sudah melarikan diri dari kepungan. Kebanyakan orang-orang kangouw menganggap aku sudah mati, apakah gelarku ini benar-benar masih di ingat dan di kenal orang- orang Bu-lim ?.

Dasar sifatnya yang kejam dingin, buas dan telengas selama ini banyak menaruh curiga terhadap orang lain perasaan gusar maupun girang belum pernah ditampilkan diatas paras mukanya, perduli dalam hati ia merasa sangat girangpun air mukanya masih tetap dingin, kaku dan tawar.

Sekalipun kau bisa mengenali gelar loohu ujarnya tawar. Tetapi dengan usiamu yang masih muda aku rasa urusan dunia kangouw yang kau ketahui tak akan banyak apalagi seluruh orang dikolong langit sudah menganggap loohu telah menemui ajalnya.

Ia sudah munculkan dirinya lagi didalam dunia kangouw, sudah tentu dalam hati telah merencanakan suatu perbuatan yang sungguh-sungguh luar biasa diam-diam Hu Pak Leng berpikir kembali. Lebih baik meminjam kesempatan ini aku mengadakan pembicaraan dulu dengan sikap yang ramah dan hormat terhadap dirinya, kemungkinan pula dari mulutnya aku berhasil mengetahui maksud tujuannya yang sebetulnya terkandung didalam hati dia orang : Ia adalah seorang manusia cerdik dengan perbuatan jahatnya tempo dulu dimana dia sudah membunuh banyak orang sejak bertemu dengan Kok Han Siang, ia mulai merasa menyesal dan meletakkan golok pembunuh menoleh ketepian :

Apalagi dengan kecantikan wajah Kok Han Siang serta sikapnya yang ramah tamah berhasil melelehkan sifat Hu Pan Leng yang keras kepala dan mengubahnya menjadi halus, dan berbudi.

Setiap kali bila ia teringat kembali dengan perbuatan-perbuatan jahatnya tempo dulu dalam hati kontan saja merasa sedih dan pedih seperti tersiksa.

Karena itu setiap kali ia berhasil menemui orang semacam ini maka berusahalah dia orang untuk banyak berbuat baik guna menebus dosa-dosanya dahulu.

Buru-buru sambil menjura ujarnya :

Kemunculan Loo enghiong kali ini didalam dunia kangouw tentunya sudah menyiapkan suatu pekerjaan yang bakal menggetarkan dan menggemparkan seluruh dunia persilatan bukan ??

Munculnya loohu kali ini dalam dunia kangouw sebetulnya bermaksud hendak mengajak kerja sama beberapa orang jago lihay dari kalangan Liok-lim untuk melakukan suatu pertempuran mati-matian melawan manusia-manusia yang menganggap dirinya sebagai perguruan aliran lurus kata Im So It Mo sambil tertawa dingin. Siapa sangka kau sudah keburu berhasil merebut kedudukan Liok-lim Bengcu tersebut.

Perkataan Loo enghiong sedikitpun tidak salah pada beberapa tahun mendekat ini kami orang- orang dari Liok-lim memang sering mendapatkan rasa mangkel dari mereka.....

Waktu Im So It Mo mendengar apa yang diucapkan Liok-lim Bengcu ternyata mirip dengan apa yang dipikirkan dalam hatinya tak terasa ia menjadi sangat girang.

Di atas paras mukanya yang dingin kaku mendadak terlintas suatu senyuman ramah.

Tidak kusangka setelah loohu mengundurkan diri dari keramaian dunia kangouw didalam kalangan Liok-lim sudah muncul seseorang jagoan yang berbakat katanya.

Ia rada merandek sejenak, lalu sambungnya kembali.

Selama hidupku loohu belum pernah menaruh rasa simpatik terhadap siapapun tetapi terhadap dirimu rasanya terkecuali maksud loohu yang sebenarnya adalah hendak memancing kau datang ke mari untuk kemudian turun tangan membasmi kau dari muka bumi setelah itu baru berangkat ke daerah Pak Ih untuk merebut kedudukan Liok-lim Bengcumu itu kemudian dengan menggunakan seluruh kekuatan Liok-lim kita adakan suatu pertempuran mati-matian melawan jago-jago dari perguruan serta partai kalangan lurus didalam Bu-lim, tetapi kalau memang kau dengan loohu bisa cocok satu sama lain maka akupun tidak merebut kedudukan Liok-lim Bengcumu itu.

Aaaakh..... kalau begitu didalam hal ini masih ada persoalan yang berbelit-belit diam-diam

pikir lagi Hu Pak Leng dalam hatinya.

Belum habis pikiran tersebut berkelebat didalam benaknya Im So It Mo telah menyambung kembali!.

Walaupun loohu membiarkan kau orang tetap menduduki jabatan sebagai Liok-lim Bengcu tetapi kau harus menyanggupi dulu ketiga syarat yang loohu ajukan.

Hmmm sungguh besar lagaknya diam-diam maki lelaki ini dalam benaknya. Walaupun demikian diluaran ia tetap tersenyum. Entah macam apa ketiga buah syaratmu itu.

Pertama kau harus menyerahkan kekuasaan Liok-lim Bengcumu itu ketangan loohu dan harus melaksanakan setiap tindakan yang sudah loohu rencanakan secara diam-diam. Kedua harus angkat loohu sebagai gurumu kemudian aku akan memberikan beberapa macam ilmu silat kepadamu ketiga.

Bagaimana dengan syaratmu yang ketiga ini?

Mendadak Im So It Mo mengulapkan tangannya keempat orang dayang cantik berbaju hijau itu bersama-sama mundur tiga langkah ke belakang, lalu sambil mengangkat lampu lenteranya tinggi-tinggi serunya hampir berbareng.

Hidangkan arak.

Kurang ajar dari mana datangnya sebegitu banyak macam ucapan..... kembali Hu Pak Leng memaki dalam hatinya.

Ketika ia mendongakkan kepalanya maka tampaklah dari belakang patung arca perlahan- lahan muncullah dua orang perempuan berusia pertengahan yang memakai baju warna hijau serta warna putih ditengah masing-masing perempuan itu membawa sebuah nampan pualam yang kecil mungil tapi menarik.

Dengan langkah yang menggiurkan akhirnya mereka berdua berhenti dihadapan Hu Pak Leng

:

Syaratku yang ketiga sangat gampang sekali, kembali Im So It Mo berkata dengan suara

dingin, asalkan kau suka meneguk habis kedua cawan arak obat yang ada diatas nampan pualam ini cukuplah sudah.

Hu Pak Leng segera menundukkan kepalanya memeriksa isi dari kedua cawan arak tersebut.

Tampaklah isi cawan yang berada ditangan perempuan berbaju putih itu berwarna merah darah sedangkan arak yang berada di nampan perempuan berbaju hijau itu berwarna hitam pekat bagaikan tinta bak, tak terasa lagi keningnya dikerutkan :

Dapatkah Loo enghiong memberi tahukan dahulu kegunaan dari kedua cawan arak obat ini? tanyanya kemudian. Setelah itu biarlah aku berpikir-pikir dahulu perlukah aku orang minum arak ini atau tidak??

Heeee... heeee.. heee... Im So It Mo tertawa dingin tiada hentinya. Arak obat berwarna merah darah adalah arak yang loohu buat dengan susah payah dan mengeluarkan banyak tenaga setelah mengumpulkan tiga puluh dua macam bahan-bahan obat yang aneh siapa saja yang minum obat ini maka tenaga dalamnya memperoleh kemajuan yang amat pesat tetapi disamping itu setiap malam bilamana tidak ditemani oleh perempuan maka ia akan sukar untuk tidur! :

Ooouw... begitu lalu apa pula kegunaan dari arak obat berwarna hitam pekat itu? :

Haaaa... haaa... haaa... karena loohu merasa sangat cocok dengan dirimu maka untuk kali ini aku akan melanggar kebiasaanku untuk beritahukan soal ini kepadamu, arak kental yang berwarna hitam pekat seperti tinta bak itu bernama pula Siang Sim Lok siapa saja yang minum arak ini selama hidup akan setia kepada loohu, barang siapa saja yang hendak masuk kedalam perguruanku tentu harus minum dulu arak ini.

Aku sama sekali tidak percaya hanya mengandalkan secawan arak beracun saja bisa membuat diriku takluk dan setia kepadamu untuk selamanya seru Hu Pak Leng tersenyum. Ia lantas mengangsurkan tangannya kedepan untuk menjemput cawan arak yang berisikan arak obat berwarna hitam pekat itu.

Merdadak tampaklah diatas paras muka perempuan berbaju putih itu terlintas suatu perasaan yang sangat murung nampan yang ada ditangannya segera diangsurkan kedepan.

Setiap orarg yang hendak masuk kedalam perguruan kami kebanyakan minum dulu isi arak ini terhadap dirimu bagaimana boleh melanggar kebiasaan? serunya.

Tiba-tiba Im So It Mo tertawa terbahak-bahak dengan sinar mata yang tajam ia melototi lelaki bercambang itu tajam-tajam.

Haaaa... haaaa... baiklah untuk dirimu kali ini loohu akan mengambil tindakan terkecuali asalkan kau suka menghabiskan arak yang berada di tangannya loohu hadiahkan pula perempuan itu untuk menemani kau setiap malam.

Beberapa patah perkataan ini jikalau diucapkan sebelum Hu Pak Leng menyesali perbuatannya dan bertobat mungkin ia cuma tersenyum sinis tetapi kini didalam pendengarannya serasa disambar geledek saja air mukanya kontan saja berubah sangat hebat.

Arak cabul semacam ini bukanlah minuman yang harus dicoba oleh seorang lelaki sejati walaupun cuma kekuatan secawan arak obat belum tentu dapat membuat kesadaran cayhe jadi kacau...

Minum arak ini terlebih dahulu merupakan peraturan yang paling keras dari perguruan kami, ujar perempuan berbaju putih itu tiba-tiba sambil melancarkan cahaya yang sangat aneh dari sepasang matanya. Kalau memang kau sudah menyanggupi untuk masuk kedalam perguruan kami jikalau sampai menolak untuk minum arak dicawanku ini bukankah sama saja dengan tidak menghormati suhu dia orang tua.....

Haaaa... haaaa... Tetapi kapan aku sudah menyanggupi kalian untuk angkat guru dan masuk kedalam perguruan kalian??

Budak rendah yang banyak bicara... mendadak dengan paras muka membesi Im So It Mo membentak dingin.

Tubuhnya mendadak maju dua langkah kedepan telapak kirinya segera didorong kedepan menekan diatas jalan darah. Ming Bun Hiat pada punggung perempuan berbaju putih itu.

Asalkan ia mendorong lagi telapak tangannya yang penuh dengan hawa murni itu kedepan maka jelas sekali perempuan muda ini pasti akan menemui ajal dibawah telapak tangannya.

Tahan. Hu Pak Leng segera membentak keras, turun tangan jahat terhadap seorang perempuan yang lemah bukanlah suatu perbuatan yang layak dari seorang lelaki sejati.

Dia adalah anak muridku, mau bunuh atau tidak itu urusan pribadiku, buat apa kau banyak ikut campur teriak Im So It Mo dengan sangat gusar :

Hu Pak Leng yang mendengar perkataan tersebut tidak seharusnya kau bersikap demikian terhadap dirinya.

Perlahan-lahan Im So It Mo menarik kembali telapak tangannya yang menempel diatas jalan darah Ming Bun Hiat diatas punggung perempuan berbaju putih itu.

Jadi kau mohon ampun buat dirinya? tanyanya tertawa : Bukannya begitu, di dalam suatu perguruan seharusnya ada peraturan-peraturan perguruan yang mengatur walaupun ia sudah melanggar peraturan perguruan seharusnya pula ia dihukum sesuai dengan peraturan tindakanmu sedikit-dikit lantas turun tangan membunuh orang Hmm!

Hmm! mana mirip sebagai seorang ketua partai Im So It Mo yang kena didahului dengan kata-kata amat tajam itu untuk beberapa saat benar-benar dibuat gelagapan sehingga tak dapat mengucapkan sepatah katapun :

Aaaaakh. perkataanmu sedikitpun tidak salah sahutnya kemudian setelah termangu-mangu :

Mendadak dengan alis yang dikerutkan dan sepasang mata memancarkan cahaya tajam Hu Pak Leng berkata kembali :

Sebelum aku orang melakukan percobaan ini terlebih dahulu harus dijelaskan dulu duduknya persoalan Loo enghiong memerintahkan cayhe untuk menghabiskan kedua cawan arak obat ini, aku rasa setelah obat ini aku teguk hingga habis selama hidupku ini cayhe tak akan mempunyai pikiran yang kedua terhadap dirimu. Semisalnya aku betul-betul minum obat ini dan apa yang kau ucapkan tadi sudah terjadi, hal ini tak usah dipersoalkan lagi tetapi jikalau semisalnya setelah aku menghabiskan kedua cawan obat itu tetapi pikiranku sama sekali tidak berubah entah Loo enghiong hendak mengambil tindakan apa lagi terhadap persoalan ini?

Kau ingin loohu berbuat apa? balik tanya Im So It Mo dengan dingin. Hu Pak Leng segera tersenyum.

Jikalau pikiran serta kesadaranku sama sekali tidak berubah setelah minum kedua cawan arak obat ini, maka aku hanya mengharapkan agar Loo enghiong bisa mengambil keputusan sendiri untuk meninggalkan dunia ini dan janganlah memalukan kedudukanmu lagi.

Im So It Mo yang melihat dia orang dapat berbicara tanpa memperlihatkan sikap yang gugup bahkan sama sekali tidak memikirkan persoalan kedua cawan arak tersebut tak terasa lagi dalam hati timbul perasaan curiga pikirnya :

Arak racunku ini selamanya belum pernah meleset ternyata orang ini berani bertaruh dengan diriku, apakah didalam sakunya sungguh suatu obat pemunah yang sangat mujarab??

Untuk sesaat lamanya dia berdiri terpekur tak sepatah katapun dapat diucapkan.

Hu Pak Leng yang melihat dia orang lama sekali tidak berbicara dengan nada yang dingin kembali ujarnya :

Jikalau Loo enghiong tidak punya nyali untuk bertaruh, cayhepun tidak ingin memaksa lebih lanjut perkataan seorang lelaki sejati berat bagaikan gunung Thay-san kalau memang aku orang she Hu sudah menyetujui untuk menghabiskan arak obatmu ini, sekalipun jelas aku tahu setelah kuminum bakal merontokkan dan menghancurkan usus-ususku tetapi tak bakal aku tolak kembali.

Im So It Mo jangan melihat Hu Pak Leng terus menerus mendesak dia orang untuk bertaruh dengan dirinya, bahkan semangat pihak lawan begitu menyala-nyala dalam hati merasa semakin curiga lagi kini mendengar pula si Liok-lim Bengcu memanasi dirinya dengan beberapa patah kata- katanya ia betul-betul kena terdesak.

Ehmm... tidak kusangka kau orang betul-betul seorang enghiong yang bernyali besar kalau kau memang berani minum arak yang loohu suguhkan ini berarti pula.....

Berbicara sampai disini mendadak ia menutup mulutnya kembali. Sebenarnya ia hendak mengatakan bila didalam saku Hu Pak Leng sudah tersedia semacam obat pemunah yang sangat mujarap, tetapi baru saja perkataan tersebut hendak meluncur keluar dari ujung bibirnya mendadak ia merasa keadaan tidak beres.

Maka dari itu buru-buru ia menutup mulutnya kembali ditengah jalan sepasang matanya dengan tajam dan bulat-bulat melototi diri Hu Pak Leng tidak berkedip.

Hu Pak Leng yang melihat paras muka si orang aneh itu penuh diliputi oleh keragu-raguan dalam hati lantas mengerti bila pihak lawannya tentu sedang menaruh curiga bila didalam sakunya sudah menggembol semacam obat pemunah yang sangat mujarab.

Haaa... haaa... jika dilihat dari perubahan paras muka Loo enghiong apakah kau sudah menaruh rasa curiga bila didalam perkataan cayhe itu sudah tersembunyi suatu siasat? atau mungkin kau sudah menganggap didalam sakuku sudah menggembol semacam obat pemunah yang sangat mujarab? serunya kepada Im So It Mo sambil tertawa mengejek.

Im So It Mo yang ditanyai begitu kontan saja dibuat gelagapan paras mukanya berubah hebat dan tak sepatah katapun dapat diucapkan keluar ia cuma bisa tertawa haha hihi saja.

Setelah mendengar pembicaraan dari kedua orang itu, perasaan tegang yang menghiasi wajah perempuan yang berbaju putih itupun perlahan-lahan mengendor kembali dari sepasang matanya kini memancarkan cahaya terkejut serta kuatir, dengan sangat kagum ia melirik sekejap kearah Hu Pak Leng.

Hu Pak Leng yang melihat Im So It Mo cuma tertawa haha hihi saja setelah selesai mendengar perkataannya dalam hati merasa sangat tidak puas kembali ia tertawa dingin tiada hentinya.

Orang budiman tidak akan melakukan pekerjaan yang tidak senonoh, cayhe sudah menyanggupi untuk meneguk habis arak obat ini hanya aku tidak percaya bila arak obatmu ini mempunyai suatu kekuatan yang sangat aneh bersamaan itu pula cayhe pun masih percaya dengan mengandalkan kekuatanku yang masih ada tidak sampai kesadaranku terbius oleh secawan dua cawan arak obatmu itu, katanya.

Sepasang tangan perempuan berbaju putih itu kelihatan gemetar sangat keras, keningnya dikerutkan kemudian dengan pandangan penuh kesedihan dan mendongkol melirik sekejap kearah Hu Pak Leng.

Sebaliknya Im So It Mo cuma memutar-mutarkan biji matanya yang lebih banyak putihnya dari pada hitamnya itu untuk melirik sekejap kearah sang Liok-lim Bengcu agaknya dia orang sama sekali tidak begitu percaya terhadap perkataannya.

Diam-diam Hu Pak Leng mencuri lihat keadaan cuaca setelah didalam hati mengambil perhitungan kembali sambungnya lagi :

Walaupun cayhe ada maksud hendak mencoba kekuatan arak obat dari Loo enghiong tetapi sebaliknya Loo enghiong malah menaruh curiga bahwa aku sudah menyembunyikan obat pemunah yang mujarab bahkan apabila ditinjau dari perubahan paras muka Loo enghiong bukan saja tidak percaya terhadap perkataan cayhe masih ingin juga memeriksa diriku. Sungguh tidak kusangka sama sekali bila Loo enghiong sebenarnya adalah seorang yang tidak bisa dipercaya hal ini benar- benar membuat cayhe merasa sangat kecewa.

Beberapa patah perkataan ini diucapkan dengan sangat bersemangat, cengli bahkan amat tajam. Kontan saja air muka Im So It Mo berubah sangat hebat. Sewaktu perempuan berbaju putih itu mendengar perkataan dari Hu Pak Leng barusan ini sangat tajam buru-buru ia melirik sekejap kearahnya. Tetapi ketika dilihatnya lelaki bercambang itu tak menunjukkan reaksi maupun perasaan jeri tak terasa lagi ia menghela napas panjang.

Bibirnya yang kecil mungil kelihatan sedikit bergerak tapi tak sepatah katapun yang diucapkan keluar sinar matanya kembali memandang sekejap wajah Im So It Mo.

Agaknya dari perasaan malu kini Im So It Mo benar-benar dibuat amat murka air mukanya berubah sangat hebat.

Apa kau kira loohu benar-benar tak dapat melakukan pemeriksaan terhadap dirimu ? bentaknya keras.

Hu Pak Leng tertawa dingin tiada hentinya, tak sepatah katapun yang diucapkan keluar.

Kau orang jangan jual lagak lagi dihadapan loohu    kembali Im So It Mo membentak keras.

Baru saja perkataan itu diucapkan keluar telapak kanannya segera diayunkan kedepan melancarkan satu pukulan yang sangat berat menerjang diri Hu Pak Leng :

Melihat datangnya serangan tersebut Hu Pak Leng sama sekali tidak berkelit maupun menghindar telapak kirinya setelah membentuk gerakan satu lingkaran didepan dada dengan keras lawan keras ia menyambut datangnya angin pukulan dari Im So It Mo itu :

Heeee..... heeee..... heeee     sudah ada puluhan tahun lamanya loohu belum pernah berkelana

di dalam dunia kangouw dan ada dua puluh tahun lamanya tak pernah bergerak melawan orang lain. Seru Im So It Mo tertawa aneh. Tidak kusangka didalam dunia kangouw ternyata sudah bermunculan jago-jago lihay dalam jumlah yang tidak sedikit, jika ditinjau dari kekuatan pukulanmu barusan ini kelihatannya memang ada sedikit tenaga, tidak aneh kalau kau orang berhasil merebut kedudukan sebagai Liok-lim Bengcu :

Selesai berkata kembali ia tertawa aneh sambungnya :

Ini hari loohu hendak mencoba bagaimanakah lihaynya pukulan itu.

Hu Pak Leng yang baru saja menerima datangnya angin pukulan dari Im So It Mo dengan keras lawan keras dalam hati mengerti bila tenaga si kakek aneh ini sangat sempurna bahkan sudah mencapai pada puncaknya dalam hati diam-diam ia mulai berpikir kembali.

Jika ditinjau dari keadaan pada saat ini jangan dikata jumlah mereka sangat banyak, cukup Im So It Mo seorang saja sudah tidak gampang untuk dihadapi, terpaksa mulai sekarang aku harus berusaha untuk mengulur waktu setelah Yu Ih Lok sekalian pada berdatangan baru mengambil keputusan kembali.

Setelah mengambil keputusan didalam hatinya iapun dengan sendirinya menyingkir satu langkah kesamping.

Cayhe menghormati dirimu sebagai seorang Cian Pwee seorang enghiong    katanya.

Si perempuan berbaju putih yang berdiri disamping dengan tenangnya itu semula ketika mendengar pembicaraan mereka berdua mencapai pada puncaknya dalam hati merasa sangat tidak tenang.

Apalagi sewaktu dilihatnya Im So It Mo melancarkan satu serangan dahsyat kearah Hu Pak Leng saking terperanjatnya seluruh paras muka perempuan itu berubah jadi pucat pasi bibirnya gemetar keras. Semisalnya ia tidak menaruh rasa jeri terhadap sang kakek tua Im So It Mo tersebut kepingin sekali dia orang maju kedepan untuk melerai :

Kini setelah dilihatnya Hu Pak Leng menyingkir kesamping ia tak dapat menahan sabar lagi, dengan cepat serunya kepada si lelaki bercambang itu.

Kalau memangnya kau orang sudah setuju untuk memasuki perguruan kami mengapa sikapmu begitu tidak tahu sopan.....

Kapan cayhe pernah menyanggupi untuk masuk kedalam perguruan kalian?.

Kau suka minum arak ini berarti pula kau sudah setuju untuk masuk kedalam perguruan kami, apakah hal inipun kau ingin pungkiri kembali?...

Aku menyanggupi untuk menghabiskan arak obat ini hal ini dikarenakan aku tidak percaya bila didalam arak obat ini mempunyai suatu daya kekuatan yang aneh.

Itulah dia! si perempuan berbaju putih ini mendadak tersenyum. Asalkan kau sudah menyanggupi untuk minum arak ini berarti pula sudah menyetujui pula untuk masuk kedalam perguruan kami inilah peraturan perguruan!

Mendengar perkataan tersebut Hu Pak Leng segera tertawa dingin tiada hentinya.

Angkat guru belajar silat adalah suatu peristiwa yang harus disetujui oleh kedua belah pihak di kolong langit mana ada cara yang menggunakan sistim paksaan semacam kalian ini. Serunya keras-keras. Peraturan yang aneh dari kalian apa kamu semua sudah anggap cukup untuk memaksa cayhe menyerah begitu saja.....

Selesai berkata kembali dia orang tertawa dingin tiada hentinya.

Dia adalah seorang lelaki yang berpikiran tajam dan bersemangat gagah jika berada pada hari- hari biasa Hu Pak Leng sudah tentu tak akan suka banyak bicara dengan perempuan berbaju putih ini, tetapi sekarang demi mengulur waktu yang lebih lama lagi terpaksa ini harus mengucapkan kata-kata tersebnt dengan perempuan itu.

Im So It Mo yang ada disamping kalangan, ketika itulah kembali tertawa aneh.

Heeeee..... heeeeee..... heeeeeee..... kau sebagai seorang Liok-lim Bengcu mengapa tindakanmu begitu plin-plan ? teriaknya.

Loo enghiong adalah seorang jagoan Bu-lim yang mempunyai nama serta kedudukan, sudah tentu didalam setiap tindakan tak akan melontarkan tuduhan semau sendiri bantah Hu Pak Leng dengan nada yang serius. Selamanya cayhe paling pegang teguh setiap perkataan yang telah aku ucapkan dan belum pernah pungkiri kembali. Mengapa sekarang Loo enghiong bisa menuduh cayhe sebagai seorang yang plin-plan ? :

Bukankah kau tadi sudah setuju untuk menghabiskan kedua cawan arak obat ini ? mengapa sekarang coba-coba menyingkir dan pungkiri kata-katamu tadi ?.

Sepatah kata setelah diucapkan keluar bagaikan kuda cepat yang tak tercandak kembali setelah cayhe menjumpai dirimu untuk minum kedua cawan arak obatmu itu sudah tentu aku orang tak akan mungkiri kembali seru Hu Pak Leng dengan alis yang dikerutkan.

Kalau memang demikian adanya mengapa kau masih coba membantah ?

Haaaa.... haaaa.... cayhe memberi penjelasan seperti ini tidak lain sebetulnya ingin menerangkan dulu persoalan tersebut. Hu Pak Leng tertawa terbahak-bahak. Minum arak adalah satu persoalan dan angkat guru adalah satu persoalan pula, mengapa kau bisa mencampurbaurkan kedua persoalan itu menjadi satu persoalan ? peraturan kalian semacam ini membuat cayhe amat geli......

Im So It Mo yang melihat paras muka Hu Pak Leng amat tenang dalam hati tak terasa rada bergerak pikirnya :

Asal kau suka minum arak ini dan asalkan kau sungguh-sungguh tidak memiliki obat pemunah apakah loohu harus takut kau berhasil meloloskan diri dari cengkeramanku ??

Tetapi setelah dipikir lebih lanjut dan melihat diatas paras muka Hu Pak Leng sama sekali tidak memperlihatkan perasaan jeri atau takut dalam hati mulai menaruh curiga lagi.

Im So It Mo adalah seorang manusia yang paling banyak menaruh rasa curiga terhadap orang lain baik dia sedang gembira sedih murung atau mendongkol siapapun tak bisa menebaknya. Setelah berpikir beberapa saat lamanya perasaan curiga didalam hatinya semakin lama semakin menebal.

Di dalam hati dengan cepat mengambil suatu keputusan kepada kedua orang gadis berbaju hijau yang berdiri disisinya lantas berseru :

Kalian berdua majulah akan periksa saku orang itu coba lihat apakah didalam sakunya tersembunyi obat pemunah atau tidak ?

ooooOoooo

3

KEDUA orang dara berbaju hijau itu lantas menyahut kemudian dengan langkah yang menggiurkan berjalan mendekati tubuh Hu Pak Leng :

Melihat majunya kedua orang dara berbaju hijau itu Liok-lim Bengcu ini segera mendengus dingin : Kalian sungguh-sungguh hendak mengadakan pemeriksaan ? bentaknya berat.

Kedua orang dara berbaju hijau itu memandang sekejap kearah Im So It Mo mulutnya tetap membungkam sedang tubuhnyapun tetap berjalan semakin mendekat lagi.

Hu Pak Leng yang melihat kedua orang dara berbaju hijau itu berjalan semakin mendekati dirinya dalam hati merasa sangat gusar.

Berhenti ! bentaknya keras.

Paras mukanya memang sudah keren dan berwibawa, apalagi suara bentakannya kali ini amat keras bagaikan guntur yang membelah bumi.

Kontan saja kedua orang dara berbaju hijau itu dibuat terperanjat dan tak terasa lagi sudah menghentikan langkahnya dan bersama-sama menoleh kearah si lelaki bercambang itu.

Tampaklah wajahnya sudah berubah amat serius sepasang matanya memancarkan cahaya tajam dan mengeluarkan suatu kekuatan yang memaksa setiap orang merasa bergidik.

Kedua orang gsdis itu dengan cepat merasakan hatinya berdesir belum sempat mereka menoleh kearah Im So It Mo untuk menantikan perintah selanjutnya disebelah sana sang kakek aneh itu sudah membentak keras : Dasar sifat Im So It Mo amat kejam buas dan telengas walaupun didalam hati kedua orang gadis tersebut merasa jera terhadap kewibawaan serta kegagahan dari Hu Pak Leng tetapi terhadap perintah dari Im So It Mo pun mereka tidak berani membangkang.

Setelah saling bertukar pandangan sejenak akhirnya kedua orang dara berbaju hijau itu maju juga kedepan.

Lelaki sejati tak akan bertempur melawan kaum perempuan. Aku Hu Pak Leng adalah seorang lelaki sejati sudah tentu tak bakal mau bertempur pula melawan kalian perempuan-perempuan dari kaum yang lemah, ayo cepat mundurlah, seru sang Liok-lim Bengcu dengan hati yang amat cemas.

Kedua orang dara berbaju hijau itu sama sekali tidak menggubris terhadap perkataan si lelaki bercambang itu, mereka tetap melanjutkan langkahnya kedepan.

Hu Pak Leng yang melihat kedua orang dara berbaju hijau itu sama sekali tidak menggubris bentaknya, dalam hati merasa makin cemas. Kembali ia muudur satu langkah ke belakang.

Loo enghiong ! teriaknya keras cayhe menghormati dirimu sebagai seorang loocianpwee dari kalangan Bu-lim mengapa sekarang kau malah menyuruh kedua orang dara berbaju hijau ini untuk maju mencari keonaran? cepat suruh mereka kembali cayhe lebih suka bergebrak melawan Loo enghiong sendiri !.

Im So It Mo segera melengos kesamping memandang sekejap kearahnya pun tidak.

Ketika kedua orang dara berbaju hijau itu tiba dihadapan Hu Pak Leng kurang lebih tiga empat depa mendadak tampak lengannya bersama-sama digetarkan mencabut keluar sebilah pedang lemas.

Kedua pedang lemas tersebut begitu kena tergetar menyambut angin, yang sebilah segera memancarkan cahaya keemas-emasan yang menyilaukan mata sedang sebilah pedang lainnya memancarkan cahaya keperak-perakan.....

Hu Pak Leng yang melihat kedua orang dara berbaju hijau itu sudah mencabut keluar senjata tajamnya dalam hati kembali berpikir :

Pedang lemas merupakan senjata tajam yang paling sukar untuk dipelajari sebelum tenaga dalam yang amat sempurna ternyata kedua orang nona itu menggunakan pedang lemas sebagai senjatanya sudah tentu kepandaian ilmu silat yang mereka miliki tidak lemah.

Setelah berpikir akan hal tersebut kewaspadaannyapun semakin ditingkatkan.

Kalau kalian berdua tidak suka juga mendengarkan perkataan cayhe janganlah salahkan aku orang she

Hu.....

Belum habis dia berkata kedua orang gadis tersebut sudah menggetarkan pedangnya masing-masing berpencar kearah samping kiri serta samping kanan.

Bila kau menyembunyikan obat pemunah didalam sakumu cepatlah keluarkan seru dara berbaju hijau yang berdiri disebelah kanan.

Hu Pak Leng tetap membungkam ia tertawa dingin tiada hentinya.

Eeeeeeei..... apa yang kami tanyakan sudah kau dengar belum ?..... Teriak sang dara berbaju hijau yang berdiri disebelah kiri lelaki tersebut.

Kedua orang dara berbaju hijau itu segera saling bertukar pandangan sekejap, tanpa banyak bicara lagi diiringi suara bentakan yang amat nyaring, cahaya keemas-emasan berkelebat memenuhi angkasa cahaya keperak-perakan bagaikan titik-titik air hujan menekan kearah bawah.

Kedua orang gadis itu dengan secara berpencar sudah mulai menggerakkan pedangnya melancarkan serangan dahsyat kearah Hu Pak Leng sang Bengcu dari kalangan Liok-lim. Hu Pak Leng dengan tangan kiri mengempit tongkat besinya, tangan kanan dengan menggunakan jurus Cin Thian Wie Teh atau batas langit garis bumi mengirim segulung hawa pukulan khiekang menyambut datangnya tusukan pedang dari kedua orang dara tersebut.

Jurus Cin Thian Wie Teh atau batas langit garis bumi ini langsung membabat kearah Timur serta Barat kekuatannya benar-benar sangat luar biasa.

Dimana angin pukulan menyambar lewat segera berubah menjadi suatu desiran yang sangat tajam. Begitu bentrok dengan datangnya serangan pedang dari kedua orang gadis itu, kontan saja membuat tubuh pedang tersebut tergetar sangat keras ditengah udara hampir-hampir saja terlepas dari genggamannya.

Kedua orang gadis berbaju hijau yang secara tiba-tiba merasakan cekalan pada pedang tersebut rada mengendor dan hampir-hampir saja terlepas dalam hati merasa amat terperanjat buru-buru mereka salurkan hawa murninya kedalam tubuh pedang itu.

Suatu permainan ilmu pukulan yang amat bagus puji Im So It Mo yang berada disisi kalangan tanpa terasa lagi...

Kedua orang dara tersebut sewaktu melihat serangannya tidak berhasil mencapai pada sasaran untuk kedua kalinya secara berbareng menerjang kembali kedepan.

Kali ini kedua bilah pedang tersebut dengan membagi menjadi dua arah masing-masing langsung menusuk kearah jalan darah penting ditubuh lelaki bercambang tersebut.

Hu Pak Leng yang melihat datangnya serangan pedang itu sangat lihay ia tertawa dingin tiada hentinya.

Heee... heee... heee... jikalau kalian memaksa terus menerus janganlah salahkan aku orang she Hu segera akan turun tangan terhadap kalian.....

Selesai berkata tetap dengan menggunakan telapak tangan kanannya menggunakan jurus Liuw Seng Cui Teh atau bintang meteor jatuh ketanah, dalam satu jurus terdapat dua buah gerakan, langsung menerjang keatas menangkis kebawah dengan kecepatan bagaikan kilat dan kekuatan laksana ambruknya gunung Thay- san.

Dengan gerakan keras lawan keras ia menangkis pental datangnya kedua buah tusukan tersebut.

Tapi sewaktu kedua orang dara berbaju hijau itu merasakan pedang lemasnya tergetar sangat keras, sehingga hampir-hampir terlepas dari genggaman sewaktu terbentur dengan angin pukulan pihak lawan dalam hati sudah menyadari bila tenaga dalam itu telah berhasil mencapai pada taraf yang tertinggi karenanya perasaan waspadapun sudah dipertingkat.

Kini ketika dilihatnya jurus serangan, Liuw Seng Cui Teh atau bintang meteor jatuh ketanahnya langsung menangkis keatas menghantam kebawah menyambut datangnya serangan meraka kontan saja mereka berdua merasakan segulung tenaga yang luar biasa besarnya mengunci seluruh gerakan mereka.

Kedua orang gadis itu tidak berani berlaku gegabah mendadak serangannya ditarik kembali dimana sang pergelangan digetarkan keras diiringi berkelebatnya cahaya kehijau-hijauan kedua orang yang pada mulanya menyebar kini berkumpul kembali.

Satu didepan yang lain dibelakang masing-masing secara berpisah melancarkan serangan gencar kedepan.

Serangan gabungan dari kedua orang yang dilakukan barusan kerja sama yang erat dan rapat terasalah cahaya keemas-emasan menyilaukan mata tahu-tahu ujung pedangnya sudah menyambar datang mengancam jalan darah. Cian Cing Hiat diatas pundaknya.

Hu Pak Leng adalah seorang manusia luar biasa yang memiliki pandangan yang tajam, pendengaran yang cermat serta pikiran yang pintar, tetapi belum sempat ia turun tangan menangkis datangnya serangan pedang emas dihadapannya, mendadak dari arah belakang kembali terasa serangan angin tajam menyambar lewat.

Si dara berbaju hijau yang ada dibelakangnya sudah menggerakkan pedangnya menusuk keatas jalan darah Wie Long Hiat diatas tubuhnya.

Mendapatkan serangan gencar dari depan maupun belakang bahkan arah yang ditujupun merupakan jalan-jalan darah penting, keadaan dari Liok-lim Bengcu benar-benar sangat berbahaya dan menegangkan.

Si perempuan cantik berbaju putih yang berdiri termangu-mangu disisi kalangan ketika melihat kejadian itu saking kagetnya ia merasakan hatinya berdesir bibirnya digigit kencang-kencang sedang keringat mengucur keluar dengan teramat derasnya sepasang mata yang bulat indah terbelalak lebar-lebar memperhatikan diri Hu Pak Leng dengan perasaan amat kuatir.

Mendadak terdengar Hu Pak Leng membentak keras, telapak kirinya dibalik tongkat besinya bagaikan sebatang pit diangkat lurus-lurus kedepan sedikit ujung kakinya menggunakan tenaga sang tubuh dengan meminjam kekuatan tersebut segera berputar kencang menangkis datangnya setiap serangan tersebut.

Inilah yang dinamakan jurus Kun Liong Sin Thien atau naga perkasa naik kelangit.

Terdengarlah dua kali suara bentrokan senjata tajam yang amat nyaring diikuti suara jeritan kaget dari kedua orang gadis tersebut.

Dimana ujung baju berwarna hijau berkibar tersampok angin tahu-tahu mereka berdua sudah mundur sejauh lima depa kearah samping.

Terburu-buru perempuan berbaju putih itu menoleh kearah kedua orang dara berbaju hijau tersebut. Tampaklah mereka berdua dengan wajah berubah pucat pasi bagaikan mayat, tangan gemetar bibir menjadi putih berdiri disana dengan napas yang ngos-ngosan.

Ketika ia memandang pula kearah Hu Pak Leng tampaklah lelaki bercambang ini sambil menarik kembali tongkat besinya berdiri ditempat semula dengan sangat tenang.

Hal ini membuat dalam hatinya segera timbul parasaaa kagum terhadap lelaki itu, suatu senyuman yang amat manispun tanpa ia rasa sudah menghiasi bibirnya dengan sinar mata penuh mengandung perasaan cinta ia melirik sekejap kearahnya.

Kedua orang dara berbaju hijau itu setelah berhasil menenangkan hatinya yang kaget dengan perasaan takut segera menoleh kearah Im So It Mo.

Heeee... heeeee Dengan tenaga dalamnya yang sangat lihay sudah tentu bukanlah tandingan kalian,

kekalahanmu berdua kali ini tak akan aku salahkan kepada kalian, seru Im So It Mo tertawa dingin.

Selesai berkata dengan cepat ia maju dua langkah kedepan sambungnya dingin :

Orang yang berhasil memecahkan ilmu gabungan Siang Su Lian Kiam dari loohu pada saat ini mungkin hanya tinggal beberapa orang saja, ternyata kau berhasil memukul mundur pula mereka berdua, hal ini menunjukkan bila tenaga dalammu sudah mencapai pada taraf kesempurnaan.....

Sang perempuan berbaju putih yang melihat Im So It Mo sembari berbicara mulai menggeserkan badannya kedepan sejak tadi hatinya sudah merasa kuatir atas keselamatan dari Hu Pak Leng, tanpa terasa iapun ikut maju dua langkah kedepan.

Terdengar Im So It Mo kembali tertawa dingin tiada hentinya :

Loohu benar-benar merasa sangat girang setelah bertemu dengan dirinya ujarnya ketus. Sudah ada banyak tahun aku orang belum pernah bergebrak melawan orang lain ternyata ini hari ada kesempatan buat diriku untuk bergebrak ingin sekali loohu coba bagaimanakah lihaynya kepandaian silat dari Liok-lim Bengcu saat ini..... heee..... heee aku mau lihat apakah cukup lihay untuk jabatannya tersebut.

Berbicara sampai disini ia segera tertawa terbahak-bahak, tambahnya : Loohu pun tidak ingin mendesak dirimu terlaluan, asalkan kau dapat menerima tiga buah serangan loohu sudah cukup.....

Hu Pak Leng adalah seorang enghiong hoohan yang bersemangat jantan, sudah tentu dia orang tidak bakal suka takluk dan memperlihatkan kelemahannya di depan orang lain.

Iapun segera tertawa tergelak dengan nyaringnya.

Haaaaaa... haaaaaa... haaaaaaa..... jikalau Loo enghiong punya kegembiraan sudah tentu cayhe akan mengiringinya, jangan dikata cuma tiga jurus, sekalipun tiga puluh jurus maupun tiga ratus juruspun akan aku layani semua :

Bagus : teriak Im So It Mo sambil menengadah keatas lalu bersuit aneh : Berhati-hatilah kau orang menerima seranganku.

Perkataan tersebut belum selesai diucapkan mendadak didepan ruangan sudah berkumandang datang suara ribut-ribut yang sangat ramai diikuti bergemanya suara bentrokan-bentrokan senjata tajam.

Begitu mendengar suara yang amat ramai itu baik Hu Pak Leng maupun Im So It Mo segera merasakan hatinya tergentar sangat keras.

Pada saat itulah dari tempat luaran berkumandang datang suara bentakan dari seseorang yang amat kasar :

Kau tidak usah banyak berbicara lagi aku si orang tua selamanya paling tidak suka dengan cara-cara begini jikalau bukannya dalam hati aku orang tua lagi cemas. Hmm... paling sedikit aku akan hancur leburkan seluruh batok kepala dari kalian bajingan-bajingan tengik... yang tidak tahu diri.....

Im So It Mo yang mendengar suara bentakan tersebut keras laksana dengungan genta dalam hati merasa rada tertegun pikirnya :

Siapakah orang itu ? mengapa tindakannya sangat gegabah??.....

Belum habis ia berpikir dipintu luar sudah berkumandang datang suara bentrokan senjata yang amat ramai diikuti robohnya suatu benda dengan sangat keras diatas tanah lalu terdengar pula suara teriakan- teriakan serta bentakan-bentakan yang ramai diselingi suara langkah manusia yang keras berkumandang masuk kedalam ruangan.

Hanya didalam sekejap saja suara langkah manusia yang amat kacau itu sudah berada dipintu luar.

Sewaktu mendengar suara bentrokan senjata tajam tadi didalam hati Im So It Mo sudah merasa bila keadaan telah berobah, tetapi dia adalah seorang jagoan yang pengalaman sangat luas sifatnyapun dingin tawar dan ketus diatas paras mukanya sama sekali tidak kelihatan berubah.

Mendadak ia menarik kembali serangannya yang hendak dikerahkan kedepan lalu menengok dan memandang sekejap keluar pintu ruangan.

Tampaklah empat sosok bayangan manusia dengan sangat cepat menerjang masuk kedalam ruangan. Orang yang berada di paling depan mempunyai perawakan yang tinggi besar kurang lebih ada delapan depa punggungnya : lebar dengan pinggang yang kekar wajahnya berwarna merah bercahaya cambangnya pendek bagaikan golok diatas punggungnya tersoren sebilah golok besar.

Saat ini dengan sepasang mata yang dipentangkan lebar-lebar ia menerjang masuk kedalam ruangan.

Kedua orang yang mengikuti dari belakangnya adalah lelaki-lelaki kasar yang memakai pakaian ringkas mereka bukan lain adalah Lauw San Sam Hiong.

Ong Toa Kang yang dari tempat jauh dapat melihat Hu Pak Leng ada disana ia segera berteriak keras : Heey Bengcu kiranya kau disini. Sembari berteriak tubuhnya kontan menerjang kearah Im So It Mo yang berada didalam ruangan.

Hu Pak Leng mengerti dia adalah seorang yang bebal lagi berangasan takut lelaki kaum itu sampai kena dicelakai buru dia orang ada maksud hendak berteriak untuk mencegah,

Siapa sangka pada saat itulah Ong Toa Kang sudah membentak keras sambil menuding kearah Im So

It Mo.

Hey setan tua siapa kau? dia adalah Liok-lim Bengcu kami yang menguasahi seluruh kolong langit kendati kau belum pernah menemui dirinya pernah dengar orang nyebut namanya bukan? Hmm mengapa sekarang kau begitu berani melototkan matamu terhadap Bengcu kita? Heee... heee... tentu kau kepingin aku si orang tua kasih sedikit hajaran haaaa.....

Ong Hiante jangan timbulkan keonaran, buru-buru Hu Pak Leng palangkan tangan kirinya kedepan menghadang. Cianpwe enghiong ini adalah seorang yang sangat lihay, dengan mengandalkan kekuatan yang kau miliki masih belum sanggup untuk mengalahkan dirinya..... 

Haaa... haaa soal ini Bengcu boleh legakan hati. Ong Toa Kang tertawa terbahak-bahak, sekalipun

aku si Loo Ong belum tentu berhasil hajar mampus dirinya tetapi aku percaya bila akupun tak bakal kena ditabok mengapa aku si Loo Ong harus menaruh rasa jeri terhadap dirinya??

Selesai berkata tubuhnya segera menerjang maju kedepan.

Im So It Mo yang melihat tindak tanduk Ong Toa Kang sangat kasar lagi berangasan ia tidak suka menggubris dirinya, selama ini si kakek aneh ini cuma berdiri sambil tertawa dingin tiada hentinya.

Sewaktu Ong Toa Kang menerjang maju kedepan sedang Hu Pak Leng siap-siap hendak turun tangan mencegah dan Im So It Mo tertawa dingin tiada hentinya itulah mendadak dari pintu luar berkumandang datang suara gembrengan yang amat keras memecahkan kesunyian diikuti suara tertawa tergelak yang sangat keras.

Im So It Mo segera menoleh kearah belakang tampaklah seorang lelaki dengan dandanan sastrawan, ditangannya mencekal gembrengan tembaga dan lempengan besi dengan langkah kaki menurut perhitungan Pat Kwa berjalan masuk kedalam ruangan sambil tersenyum diatas pundaknya tergantung pula sebuah karung putih yang amat panjang.

Menggunakan kesempatan sewaktu Im So It Mo menoleh kearah Yu Ih Lok itulah Ong Toa Kang segera membentak keras.

Kau orang tidak usah menengok kekiri kekanan lagi, aku si Loo Ong segera akan turun tangan!

Im So It Mo yang mendengar kata-kata ucapannya sangat menarik hati tak terasa lagi sudah menoleh dan memandang sekejap kearahnya.

Apa yang kau tertawakan? teriak Ong Toa Kang lagi dengan perasaan kurang puas kedatangan aku si Loo Ong selamanya terus terang dan blak-blakan belum pernah aku orang mengirim satu pukulan bokongan kepada orang lain.

Ia merandek sejenak lalu sambungnya kembali.

Kau sudah bersiap sedia? aku si Loo Ong segera akan turun tangan.....

Belum habis perkataan itu diucapkan, tubuhnya dengan cepat sudah meloncat kedepan.

Pukulannya kali ini benar-benar sangat luar biasa, bagaikan ambruknya gunung dan terbaliknya samudra angin pukulan menderu-deru menggasak perut Im So It Mo.

Im So It Mo yang melihat datangnya pukulan tersebut bukannya menghindar kesamping sebaliknya ia malah tertawa mengejek.

Bagus sekali ilmu pukulanmu!! manusia tolol yang tidak tahu diri serunya : Sembari berkata pergelangan tangannya rada sedikit ditekuk kebawah, terdengarlah suara angin yang sangat ringan berhembus lewat tahu-tahu ujung bajunya sudah menyenggol perlahan diatas pergelangan tangan Ong Toa Kang.

Haaaaaduuuuuh : mendadak saja Ong Toa Kang meloncat keluar tangan kirinya memegang erat-erat kepalan kanannya sedang sepasang mata dengan terbelalak lebar-lebar memandang keatas wajah Im So It Mo dengan penuh kebencian.

Kau..... kau tidak bisa memenangkan aku see...sekarang berani menggunakan ilmu setan menghadapi aku si Loo Ong..... kurang ajar teriaknya gemas.

Ketika Hu Pak Leng memparhatikan lengan kanan Ong Toa Kang dengan lebih teliti lagi maka ia menemukan bila tangan lelaki tersebut sudah mulai membengkak besar. Hatinya terasa sangat terperanjat pikirnya :

Kendati seseorang memiliki tenaga lweekang yang bagaimana dahsyat kekuatan kebutannya bagaimana lihaypun tidak bakal bisa melukai seseorang yang memiliki ilmu kebal hanya dalam satu kali sapuan dengan ujung bajunya saja. Mungkin orang inipun sudah melatih suatu ilmu kepandaian yang sangat beracun......

Berpikir akan hal tersebut perasaan curiga di dalam hatinyapun mulai timbul.

Saudara Ong bentaknya rendah cepat luruskan lengan serta jari-jari tanganmu coba periksa apakah tulang-tulangmu sudah terluka parah.

Bengcu boleh berlega hati walaupun kepandaian silat dari aku si Loo Ong tidak begitu lihay tetapi kepandaianku untuk menahan sakit atas pukulan orang lain masih rada mempan.

Walaupun diluaran ia berbicara dengan sangat ringan dan seenaknya tetapi didalam hati diapun merasakan keadaannya rada tidak beres. Ia menurut saja untuk meluruskan lengan serta jari-jari tangannya.

Tetapi sebentar kemudian ia sudah menemukaa bila tulang-tulang lengannya sama sekali tidak terluka tak kuasa lagi Ong Toa Kang tertawa terbahak-bahak.

Berkat dari perhatian Bengcu, maka kulit badan dari aku si Loo Ong keras seperti kulit badak tulang- tulang lenganku sama sekali tidak terluka katanya.

Hu Pak Leng mendengus ringan air mukanya berubah semakin membesi sedikit pundaknya bergerak tahu-tahu ia sudah berada disisi tubuh Ong Toa Kang:

Cepat keluarkan tangan kananmu biar aku periksa! perintahnya dengan suara keras:

Perlahan-lahan Ong Toa Kang mengeluarkan kelima jari tangannya dan diangsurkan kedepan.

Diatas punggung telapak tangannya tampaklah sebuah garis belang berdarah yang memanjang cuma saja bekas garis belang ini sangat halus sehingga bila tidak diperhatikan dengan teliti tak akan ditemuinya.

Sinar mata Hu Pak Leng segera dialihkan keatas wajah Im So It Mo sambil memandang dirinya tajam- tajam katanya dingin :

Terhadap seorang yang berhati jujur kau pun ternyata turun tangan jahat juga secara diam-diam apakah kau tidak merasa malu atas perbuatanmu itu Im So It Mo yang mendengar perkataan tadi semula rada tertegun, setelah termenung sejenak ia baru menjawab:

Apa kau kira gelarku si Iblis Sakti Bertangan Ganas hanya suatu gelar yang kosong belaka?:

Kiranya selama hidupnya jarang sekali ada orang yang menegur dirinya dengan kata-kata yang ramah dan mengandung rasa peri kemanusiaan. Oleh karena itu didalam pendengarannya perkataan tersebut terasa rada berada diluar dugaan sehingga setelah lama termenung ia baru bisa menjawab kembali : Perlahan-lahan Hu Pak Leng maju kedepan tangan kanannya segera diangkat mencabut keluar pedangnya dari sarung, kemudian sambil memandang kearah Im So It Mo dengan cahaya mata yang dingin ia maju kedepan lambat-lambat.

Sikap serta gayanya benar-benar amat gagah membuat setiap orang merasa kagum.

Im So It Mo sebagai seorang manusia berdarah dingin dan ganaspun tidak urung terpengaruh juga oleh sikapnya yang sangat gagah tanpa terasa lagi paras mukanya berubah sangat tegang. Dengan melototkan sepasang matanya yang lebih banyak hitam dari pada putihnya itu diam-diam ia mulai mengadakan persiapan.

Hu Pak Leng segera mengibaskan tangannya dengan sangat ringan kearah depan pedangnya dengan membentak serentetan cahaya keperak-perakan berkelebat mamenuhi angkasa jambul merah pada gagang pedangnya berkedip-kedip ditengah sorotan cahaya hijau memantulkan sinar yang berwarna-warni lalu bergoyang tiada hentinya diantara cahaya pedang.

Si perempuan muda berbaju putih yang berada disisi tubuh Im So It Mo mendadak menghubungkan pinggang meletakkan cawan arak obat yang ada ditangannya keatas tanah lalu dari dalam sakunya mengambil keluar seutas tali yang terbuat dari serat berwarna merah pada ujung sebelah depan terikat sebuah palu yang terbuat dari baja sedang ujung yang lain terikat sebuah bola perak yang berwarna putih bersih. Sedangkan tangan kirinya lantas mencabut keluar sebilah pedang dari punggungnya.

Suhu ujarnya dengan suara yang amat lirih terhadap diri Im So It Mo. Bagaimana kalau aku turun tangan terlebih dahulu untuk melawan dirinya ??

Belum sempat Im So It Mo menjawab mendadak terdengar suara gembrengan berbunyi memecahkan kesunyian Yu Ih Lok pun sudah mencabut keluar senjata pit besinya lalu meloncat kehadapan Hu Pak Leng.

Bengcu sebagai Liok tauw dari seluruh kalangan Liok-lim dikolong langit tidak seharusnya turun tangan secara sembarangan pertempuran kali ini biarlah cayhe yang mewakili :

Aku tidak suka bergebrak melawan dirimu. Mendadak si perempuan muda berbaju putih itu melototkan matanya bulat-bulat dan memandang kearah Yu Ih Lok dengan dingin. Ayo cepat mundur buat apa mencari penyakit buat diri sendiri ?

Jual beli walaupun tidak jadi tetapi kejujuran serta keadilan masih tetap ada, kata Yu Ih Lok tersenyum walaupun barter kita kali ini gagal ada seharusnya kau tinggal sedikit muka buat kami.

Kau tidak usah banyak mengacau, mendadak perempuan muda berbaju putih itu membentak keras.

Pedangnya segera diangkat dengan menggunakan jurus. Tok Mang Jut Hiat atau ular berbisa keluar sarang langsung menusuk kearah ulu hati.

Yu Ih Lok dengan cepat mengibaskan senjata pitnya menangkis. Traaang... ditengah suara bentrokan yang amat keras tahu-tahu pedang pusaka dari perempuan itu sudah tertarik pental.

Tahan ! mendadak Hu Pak Leng membentak rendah :

Si perempuan muda berbaju putih yang melihat tusukan pedangnya tidak mengenai sasaran angkin merah ujung palunya segera diayunkan kedepan melancarkan serangan.

Gembrengan yang berada ditangan kiri Yu Ih Lok buru-buru dikebut kedepan membentuk selapis cahaya keemas-emasan melindungi dirinya dari serangan musuh.

Suara bentrokan keras sekali lagi berkumandang memenuhi angkasa, senjata angkin merah berkepala palu itu sudah kena tertangkis pula oleh haluan gembrengan tembaga.

Meminjam kesempatan itulah Yu Ih Lok buru-buru meloncat kesamping : Bengcu ! kau ada petunjuk apa? tanyanya sembari menjura. Paras muka Hu Pak Leng berubah hebat dengan perasaan curiga dan sepasang mata terbelalak lebar- lebar ia memperhatikan senjata angkin merah berkepala palu itu tajam-tajam :

Apakah nama dari senjata tajam yang berada ditanganmu? tanyanya.

Perlahan-lahan perempuan muda berbaju putih itu menoleh sekejap kearah Im So It Mo ketika dilihatnya si kakek aneh tersebut pejamkan matanya rapat-rapat dan berdiri sambil gendong tangan, tak terasa lagi air mukanya berubah hebat.

Senjata apa yang aku gunakan kau orang tidak perlu tahu sahutnya kemudian dengan keras sambil mengibaskan pedang ditangannya.

Senjata angkin merah berkepala palu yang kau gunakan jarang sekali ditemui dalam dunia persilatan, apakah pelajaran tersebut kau dapatkan dari gurumu? tanya Liok-lim Bengcu kembali dengan serius.

Pertanyaannya terhadap senjata tersebut diajukan dengan wajah yang amat berat dan keren bahkan pertanyaanpun bertubi-tubi agaknya ia menaruh perhatian yang sangat mendalam terhadap senjata aneh tersebut.

Yu Ih Lok adalah seorang manusia yang berpikiran cerdik setelah melihat perubahan paras muka Bengcunya mendadak dalam hati merasa tersadar kembali.

Aaakh benar pikirnya diam-diam. Orang yang menggunakan senjata angkin merah berkepala palu memang jarang sekali ditemui dalam dunia persilatan sedang orang-orang ini menggunakan senjata yang persis seperti senjata yang digunakan oleh hujiennya tidak aneh kalau dia orang ada maksud untuk menanyakan persoalan ini hingga menjadi jelas.

Perempuan muda berbaju putih itu termenung berpikir keras beberapa saat lamanya mendadak tubuhnya bergerak maju kedepan pedang serta senjata angkin merah berkepala palunya bersama-sama digerakan melancarkan serangan mengancam jalan darah penting diseluruh tubuh Hu Pak Leng.

Melihat datangnya serangan tersebut Hu Pak Leng sama sekali tidak menjadi gugup, tongkat besi serta pedangnya digerakkan seenak hati memusnahkan datangnya setiap serangan gencar tersebut.

Tangkisannya ini dilakukan tidak enteng pun tidak berat dan hanya menyingkirkan senjata musuh dari daerah anggota badan yang berbahaya.

Terhadap istri kesayangannya Hu Pak Leng menaruh rasa cinta dan hormat justru disebabkan senjata yang digunakan perempuan muda berbaju putih ini mirip dengan senjata yang digunakan Kok Han Siang maka ia tidak tega untuk turun tangan melukai dirinya ia berharap pihak musuh bisa mengetahui kekuatan sendiri dan mengundurkan diri.

Berturut-turut si perempuan muda berbaju putih itu melancarkan beberapa serangan berantai walaupun kelihatannya serangan tersebut dilancarkan dengan amat ganas tetapi baik pedang maupun senjata angkin merah berkepala palu tersebut sama sekali tidak mengandung tenaga.

Tampaklah Hu Pak Leng menggerak-gerakan tangannya menarikan pedang dan tongkatnya, semua serangan ia lakukan dengan seringan mungkin dan sama sekali tiada maksud mencari kemenangan.

Datangnya serangan pedang serta palu tersebut semakin lama semakin santar, setelah lewat dua puluh jurus banyaknya diantara berkelebatnya bayangan palu menimbulkan suara deruan angin yang santar cahaya pedang berkilat membentuk selapis tembok pertahanan yang sangat kuat :

Melihat kejadian itu Hu Pak Leng mulai mengerutkan keningnya :

Jikalau ia melancarkan serangan terus-terusan tanpa suka mundur entah sampai kapankah pertempuran ini baru bisa selesai, pikirnya didalam hati, jikalau tidak kuberi sedikit kelihayan rasanya dia orang tak akan mundurkan diri. Berpikir akan hal itu diam-diam hawa murninya segera disalurkan keseluruh tubuh tongkat besi ditangannya mendadak dengan menggunakan jurus :

Cing Hong Lie Wie atau burung terkejut meninggalkan gala menyapu pedang serta palu perempuan muda berbaju putih itu secara mendatar.

Terdengarlah suara bentrokan keras memecahkan kesunyian bayangan pedang yang terbentuk disekeliling tubuhnya kontan saja tersapu lenyap tak berbekas sedang tubuh perempuan berbaju putih itu sendiri kena tergetar mundur sejauh dua langkah lebih.

Kau bukan tandinganku ! seru Hu Pak Leng tersenyum sinar matanya perlahan-lahan dialihkan keatas wajah Im So It Mo yang berdiri disana.

Kepandaian silat dari beberapa orang murid kesayanganmu sudah cayhe coba semua katanya gagah sekarang sudah seharusnya aku orang menjajal pula kelihayan dari ilmu silat Loo enghiong cepat cabut keluar senjata tajammu.

Selama ini Im So It Mo memejamkan sepasang matanya terus-menerus kini setelah mendengar tantangan dari Hu Pak Leng perlahan-lahan ia baru membuka matanya kembali.

Heee... heee... heee... kalau begitu biarlah loohu mengandalkan sepasang telapakku ini untuk menjajal kelihayan dari ilmu pedang serta tongkat besimu itu.

Haaaa..... haaaaa..... haaaa... besar sekali lagakmu Loo enghiong! Hu Pak Leng tertawa tergelak. Kalau memang kau orang tidak suka mencabut keluar senjatamu, cayhepun terpaksa harus melayani dirimu dengan tangan kosong pula :

Selagi ia bersiap-siap hendak turun tangan mendadak suara dengusan berat bergema memecahkan kesunyian.

Dengan cepat ia menoleh tampaklah tangan kiri Ong Toa Kang sedang memegangi tangan kanannya dengan wajah menahan rasa kesakitan yang luar biasa keringat sebesar kacang kedelai mengucur keluar bagaikan curahan hujan, sedang tangan kanannya yang terluka pada saat ini sudah membengkak satu kali lipat lebih besar lagi.

Diam-diam Hu Pak Leng merasakan amat terperanjat pikirnya.

Entah orang ini sudah menggunakan kepandaian silat macam apa untuk melukai dirinya? mengapa hantamannya begitu beracun dan ganas?

Walaupun dalam hati merasa terperanjat oleh kejadian itu tetapi diluaran ia masih tetap mempertahankan ketenangannya.

Bagaimana kalau didalam pertempuran kita kali ini disertai pula dengan suatu pertaruhan barang? katanya sambil tertawa tawar.

Mendadak Im So It Mo mendongakkan kepalanya tertawa panjang dengan seramnya.

Jikalau kau menderita kalah ditangan loohu maka kedudukan Liok-lim Bengcumu itu harus kau serahkan kepada loohu teriaknya.

Semisalnya cayhe yang menang?.

Jika kau yang menang maka aku hadiahkan dirinya sebagai dayangmu seumur hidup sahut Im So It Mo sambil menoleh dan memandang sekejap kearah perempuan muda berbaju putih itu.

Setan tua yang tidak tahu diri diam-diam maki Hu Pak Leng didalam hatinya. Sedang diluaran ia tetap tersenyum : Maksud baik dari Loo enghiong kemungkinan sekali tak bisa cayhe terima, karena aku merasa tidak punya rejeki yang begitu besar.

Ia merandek sejenak kemudian sambungnya lebih lanjut.

Jikalau beruntung cayhe menang maka aku cuma mengharapkan Loo enghiong suka mengobati luka yang diderita saudaraku itu.....

Agaknya Im So It Mo merasa jawaban itu berada diluar dugaannya dengan nada yang dingin segera ujarnya :

Didalam kalangan dunia kangouw paling mengutamakan kepercayaan kau sebagai seorang Liok-lim Bengcu semisalnya tidak menepati janji maka kawan-kawan Bul-im diseluruh kolong langit tentu akan menertawakan dirimu.

Perkataan seorang lelaki sejati laksana kuda yang dicambuk keras, harap Loo enghiong suka berlega

hati.

Di atas wajah Im So It Mo yang sangat tawar tak menunjukan perubahan secara samar-samar terlintaslah perasaan amat malu sinar matanya segera menyapu sekejap keseluruh ruangan.

Janji ini adalah kau sendiri yang putuskan, jikalau sampai menderita kalah ditangan loohu janganlah salahkan bila taruhan ini kurang adil serunya.

Pouw Cau dari Lauw San Sam Hiong mendadak maju dua langkah kedepan.

Mati hidup seorang lelaki sejati bukanlah suatu persoalan besar karena nasib ada ditangan Thian.

Teriaknya keras Bengcu mana boleh mengambil kedudukan Liok-lim Bengcu yang terhormat di pakai sebagai barang taruhan untuk menggantikan kesempatan seseorang :

Persoalan ini sudah aku pikirkan secara masak-masak saudara-saudara sekalian tidak perlu banyak bicara lagi Hu Pak Leng tertawa-tawa.

Selesai berkata sambil menjura dengan langkah lebar ia berjalan mendekati diri Im So It Mo. Keempat orang dara cantik berbaju hijau yang membawa lampu lentera itu mendadak menyebarkan diri keempat penjuru, lampu lentera ditangan masing-masing segera diangkat tinggi-tinggi sehingga menyinari seluruh ruangan dengan terang benderang.