Tujuh Pembunuh Bab 7 Tangan kosong menangkap naga.

Bab 7 Tangan kosong menangkap naga.

Oh Lip tentu saja seorang manusia.

Tapi, dia pun termasuk seorang manusia luar biasa, dalam sejarah hidupnya, dia memang sudah banyak sekali melakukan pekerjaan yang sangat luar biasa. Ketika awal kemunculannya dalam dunia persilatan, banyak orang memanggilnya si "Rase".

Tapi, selain memiliki kecerdikan dan kelicikan bagaikan seekor rase, dia pun memiliki kesabaran seekor unta, keuletan seekor kerbau, kegesitan seekor burung elang, kelincahan burung merpati dan ketajaman mata golok.

Sayang sekali, kini dia sudah tua.

Ketajaman matanya sudah sangat mundur, otot tubuhnya sudah mengendor, reaksinya semakin lamban, bahkan mengidap sakit rhematik yang amat parah, sudah banyak tahun dia berbaring sakit, kemampuannya untuk berdiri pun sudah amat berkurang.

Untungnya, hingga kini dia masih tetap dihormati dan disanjung orang banyak.

Gedung utama yang kuno dan antik, lebar lagi tinggi, meski sudah ketinggalan jaman namun masih mengandung hawa seram dan suasana angker yang sulit dilukiskan dengan kata.

Meja kursi pun sudah ketinggalan jaman, warna catnya sudah memudar, ketika ada angin berhembus masuk, rontokan debu dan kotoran ikut berguguran dari atas wuwungan rumah, mengotori tubuh para tetamu.

Saat ini masih ada angin yang berhembus.

Liu Tiang-kay bantu membersihkan noda kotoran dari tubuh Liong Ngo.

Terdengar Liong Ngo bergumam:"Tempat ini kotor sekali, sudah waktunya untuk bersih bersih"

"Aku tak perduli" sahut Liu Tiang-kay sambil tertawa, "ada sementara orang memang sudah ditakdirkan untuk hidup dan bergelindingan diantara pasir dan debu"

"Kau termasuk manusia jenis ini?" Liu Tiang-kay manggut-manggut.

"Tapi kau berbeda, Oh loya juga berbeda" katanya. "Kenapa kau selalu menggunakan aku sebagai

perbandingan?" tegur Liong Ngo dengan nada ketus.

"Karena kalian berdua memang berasal dari satu aliran, satu jenis, sejak dilahirkan sudah berada jauh diatas sana"

Liong Ngo tidak bicara lagi, ia tutup mulutnya rapat rapat.

Suasana di dalam ruang gedung kembali pulih dalam keheningan, yang terdengar hanya suara angin yang bertiup diatas kertas jendela, suaranya mirip daun kering yang rontok ke lantai.

Saat ini musim gugur telah berakhir, sudah tiba saatnya musin hujan salju.

"Loya-cu ada?"

"Ada" yang membukakan pintu juga seorang kakek, "tunggulah sejenak di ruang utama, aku segera memberi laporan"

Kakek itu rambutnya telah beruban, wajahnya penuh bekas luka bacokan, hal ini menunjukkan dulu dia pastilah salah satu rekan Oh Lip ketika masih malang melintang dalam sungai telaga.

Tak heran cara bicaranya sangat kasar dan tak sungkan, tapi Liu Tiang-kay memaklumi, dia pun menunggu di ruang utama, menunggu lama sekali.

Ke mana perginya Oh Gwat-ji?

Semestinya gadis itu tahu kalau Liu Tiang-kay telah datang, mengapa ia masih belum menampakkan diri?

Liu Tiang-kay tidak bertanya, juga tak dijumpai orang yang bisa ditanya. Dia sudah dua kali berkunjung ke situ, tapi selama kunjungannya yang dua kali, dia hanya bertemu dengan tiga orang Oh Lip, Oh Gwat-ji dan kakek si pembuka

pintu itu.

Tapi jika kau anggap tempat ini bisa dikunjungi dan ditinggalkan seenak sendiri, dugaanmu itu keliru besar, bahkan keliru setengah mati.

Arti "setengah mati" adalah benar-benar bisa membuat kau kehilangan nyawa.

Sudah puluhan tahun lamanya Oh lo-yacu malang melintang di sungai telaga, tak sedikit jumlah jagoan dan orang gagah golongan hitam yang pecundang ditangannya.

Musuh besar yang menginginkan nyawa nya juga tak sedikit jumlahnya, diantara mereka, banyak sekali yang pernah datang ke situ dan mencoba mencari balas.

Sayangnya, orang yang pernah datang ke situ tak seorang pun diantara mereka yang berhasil keluar dalam keadaan hidup.

Rembulan lambat laun semakin tenggelam di ufuk barat, suasana di dalam ruang utama pun semakin gelap.

Oh Lo-yacu belum juga menampakkan diri.

Liong Ngo tak bisa menahan diri lagi, jengeknya sembari tertawa dingin:

"Hmm, tampaknya orang itu pandai sekali jual lagak" "Orang yang pandai berlagak memang bukan hanya kau

seorang" sambung Liu Tiang-kay hambar.

Setelah tertawa, kembali terusnya:

"Apalagi bila aku jadi kau, aku pasti tak ingin terburu buru bertemu dengan nya"

"Dia juga tak terburu buru ingin bertemu denganku?" "Dia memang tak perlu terhuni napsu"

"Karena aku sudah menjadi ikan dalam perangkap?" "Tapi dalam pandangannya, kau masih tetap bagaikan

seekor naga beracun" "Oya?"

"Dia adalah seorang yang teliti dan sangat berhati-hati, sebelum segalanya menjadi jelas, mustahil dia akan muncul disini untuk bertemu dengan naga beracun macam kau"

"Kenapa?"

"Dia harus yakin dulu apakah si naga beracun betul-betul sudah berubah jadi seekor ikan dalam jaring, selain im, dia pun harus tahu apakah ikan dalam jaring ini masih bermanfaat baginya atau tidak"

"Dia harus bertanya pada siapa?"

"Siapa yang paling memahami kau, siapa yang paling jelas tentang masalah ini?"

"Lan Thian-bong maksudmu?"

Liu Tiang-kay tidak menjawab, dia hanya tersenyum. "Dia juga kemari?" kembali Liong Ngo bertanya. "Aku rasa dia baru saja tiba di sini"

Pada saat itulah terdengar seseorang dengan suara yang parau tua berkata seraya tertawa:"Maaf sekali, kalian harus menunggu agak lama"

0-0-0

Dalam ruang utama yang panjang lagi lebar, terdapat pintu yang ditutup dengan kain tebal, ruangan im terbagi menjadi lima bagian.

Liu Tiang-kay berada diluar pintu lapis pertama, sementara suara itu muncul dari pintu lapisan terakhir. Seorang kakek kurus kering yang berwajah layu dan kusut, dengan mengenakan mantel yang terbuat dari bulu rase, duduk di sebuah bangku besar yang beroda dan bisa didorong.

Orang yang mendorong bangku itu adalah pelayan tua yang membukakan pintu tadi didampingi Lan Thian-bong.

Hampir pada saat yang bersamaan, tiba tiba terdengar suara "kraakk!" yang amat nyaring, dari atas empat buah pintu itu berbareng muncul empat buah terali besi yang sangat besar dan kuat, yang memisahkan antara Oh lo-yacu dengan Liu Tiang-kay.

Terali besi itu besarnya selengan bayi, begitu besar, kasar dan kuat, walaupun ada beribu ribu prajurit sekalipun rasanya sulit untuk menjebol terali besi itu dalam waktu singkat.

Liu Tiang-kay sama sekali tidak heran atau tercengang, dia sudah pernah mengalami hal semacam ini ketika datang untuk pertama kalinya, yang merasa diluar dugaan justru Liong Ngo.

Sekarang dia baru percaya, Oh Lip memang seorang yang sangat berhati hati dan teliti, kehati-hatiannya jauh diatas siapa pun di dunia ini.

Dalam pada itu Liu Tiang-kay telah bangkit berdiri, sambil tersenyum membungkukkan badan memberi hormat.

"Lo-yacu, baik baikkah anda?"

Sepasang mata Oh Lip bertambah sipit ketika tertawa, sahutnya:"Aku sangat baik, kaupun baik, semua orang baik baik"

Kemudian sambil berpaling ke arah Liong Ngo, tambahnya:"Hukum langit memang sukar ditembus, aku tahu, cepat atau lambat dia bakal mengalami nasib seperti ini" Kemudian sambil tersenyum ke arah Liu Tiang-kay, ujarnya lagi:"Aku pun tidak salah menilai kau, aku tahu, kau tak akan membuat aku kecewa"

Liu Tiang-kay tertawa, kepada Lan Thian-bong katanya:"Sudah kau laporkan semua kejadian kepada loya- cu?"

Sambil meraba bekas luka di wajahnya, Lan Thian-bong tertawa getir:"Seandainya kau turun tangan lebih berat sedikit saja, mungkin tenaga untuk bicara pun sudah tak kumiliki"

Oh Lip tertawa keras.

"Hahahah sekarang kalian berdua sudah seri, lebih baik

masing-masing jangan mengingatnya lagi di dalam hati"

Kemudian sambil mengidapkan tangannya memberi tanda, dia berpaling dan perintahnya:"Singkirkan semua barang barang itu"

Yang dimaksud "semua barang" tak lain adalah ke empat pintu berterali besi itu.

Sementara kakek bercodet itu masih sangsi, dengan kening berkerut Oh Lip telah berkata Iagi:"Lebih baik kau ingat baik- baik, mulai saat ini Liu toaya sudah menjadi saudara sendiri, diantara saudara tidak seharusnya dihalangi oleh benda apa pun"

Tiba tiba Liong Ngo tertawa dingin, ejeknya:"Sepasang saudara yang sangat tepat, seekor budak anjing plus seekor rase tua'"

Oh Lip sama sekali tak berubah muka, dia masih berkata sambil tersenyum:'"Lebih baik kau pun ingat baik baik, selama persaudaraan kami masih hidup, hanya manusia macam kalian yang bakal mampus satu per satu"

Pintu terali besi telah dibuka. Tiba tiba Oh Lip berkata Iagi:"Serahkan barang itu kepada Liu toaya, lalu seret kemari naga beracun itu, aku ingin lihat manusia macam apakah dia"

Kakek bercodet itu segera berjalan mendekat sambil membawa sebuah buntalan kain, isi buntalan itu tak lebih hanya satu stel pakaian berwarna biru.

Pakaian itu tak lain adalah pakaian yang dikenakan Oh Gwat-ji ketika bermain cinta dengan Liu Tiang-kay malam itu, dari atas pakaian lamat lamat masih terendus bau harum tubuhnya.

"Pakaian itu sengaja ditinggalkan olehnya sebelum pergi dari sini, dia minta benda itu diserahkan kepadamu" Oh Lip menerangkan.

"Dia     dia pergi ke mana?" Liu Tiang-kay merasa hatinya

seolah-olah tenggelam.

Sekilas perasaan sedih dan duka yang mendalam menghiasi wajah Oh Lip yang layu, sahutnya:"Sebuah tempat yang bakal didatangi setiap orang, sebuah tempat yang bisa didatangi tapi tak akan ditinggalkan untuk selamanya"

Setelah berhenti sejenak, kembali terusnya dengan suara pedih: ”Rembulan ada kalanya redup dan tak bersinar, manusia pun kadang gembira kadang sedih, kadang berkumpul kadang harus berpisah, kau masih muda, kau harus bisa memandang lebih terbuka soal ini"

Liu Tiang-kay merasakan sekujur tubuhnya jadi kaku, mengejang keras.

Apakah Oh Gwat-ji benar-benar telah mati?

Setiap saat, setiap kesempatan, dia selalu berpesan kepadanya agar berusaha mempertahankan hidup, mengapa dia sendiri malah mati? Mengapa dia mati secara mendadak, mengapa mati secepat itu?

Liu Tiang-kay tidak percaya, dia tak pernah mau percaya. Tapi kenyataan memaksa dia mau tak mau harus percaya.

Oh Lip kembali menghela napas, dia kelihatan lebih tua, lebih layu, terusnya:"Sejak kecil dia sudah mengidap satu penyakit ganas yang belum ada obatnya, dia sadar, setiap waktu setiap saat dia bisa berangkat ke langit barat, maka selama ini dia rahasiakan urusan tersebut, mengapa dia enggan kawin denganmu? Tak lain karena dia kuatir kau teramat sedih"

Liu Tiang-kay tidak bergerak, tidak buka suara.

Dia bukan seorang pemuda yang kelewat emosional, tak mungkin baginya untuk menangis tersedu-sedu atau tertawa terbahak bahak, kini dia hanya berdiri termangu, seolah-olah telah berubah jadi manusia batu.

Sementara itu Lan Thian-bong menghela napas panjang, tiba tiba ujarnya:"Belum pernah aku bujuk orang untuk minum arak, tapi sekarang " sambil membawa poci arak dia

berjalan mendekat, kemudian terusnya, "sekarang kau memang butuh dua cawan arak"

Arak itu masih hangat. Jelas dia memang sengaja mempersiapkannya untuk Liu Tiang-kay.

Bila perasaan hati seseorang sedang hancur berantakan, selain minum arak, hiburan apa lagi yang bisa mententeramkan perasaannya?

Namun, setelah minum arak, apa pula yang bisa diperbuat? Ketika air kata kata mengalir ke dalam usus yang murung,

bukankah akan berubah juga menjadi air mata kerinduan?

Bagaimana pula bila tak diminum? Bisa minum arak sepuas puasnya, paling tidak bisa membuat diri jadi mabuk, jadi hilang kesadarannya, dan keadaan pasti jauh lebih enakan.

Akhirnya Liu Tiang-kay terima juga poci arak itu, sahurnya sambil tertawa paksa:"Mari, kau temani aku minum secawan!"

"Aku tidak minum" tampik Lan Thian-bong.

Suara tertawanya kedengaran agak dipaksakan juga, lanjutnya:"Darah yang keluar dari mulutku belum mengering, aku tak boleh minum biar hanya setetespun"

"Tidak mau pun tetap harus minum" paksa Liu Tiang-kay lagi sambil tertawa.

Lan Thian-bong tertegun.

"Tidak maupun tetap harus minum", perkataan apa im? Diluar dugaan, ternyata Liu Tiang-kay masih ada tindakan berikut yang sama sekali diluar dugaannya.

Sambil mengangkat poci arak itu, dia langsung menuang isinya ke dalam mulut Lan Thian-bong.

Berubah hebat paras muka singa jantan ini.

Begitu juga dengan kakek bercodet itu, paras mukanya nampak berubah sangat hebat.

Hanya Oh Lip yang sama sekali tidak menunjukkan perubahan, tiba tiba dia ayunkan tangannya, tiga buah titik cahaya tajam secepat petir menyambar ke tubuh Liong Ngo.

Jalan darah ditubuh Liong Ngo sudah tertotok, tadi dia diseret masuk oleh kakek bercodet itu macam seekor bangkai ikan yang tak berkutik.

Tapi, ketika tiga titik cahaya tajam itu mengancam ke tubuhnya, tiba tiba dia melejit ke tengah udara dengan kecepatan tinggi. Lompatan itu sangat cepat dan hebat, tak ubahnya bagaikan seekor naga sakti yang sedang bermain di angkasa.

Oh Lip yang dingin bagai bunga salju, tenang bagai batu karang itu mau tak mau ikut berubah hebat paras mukanya.

"Triing!" bunga api memancar ke empat penjuru, senjata rahasia yang dia lancarkan semuanya menancap di atas ubin lantai yang terbuat dari batu hijau.

Menyusul kemudian, kembali terdengar suara dentingan nyaring, "Triing!", Lan Thian-bong telah melepaskan sebuah pukulan tinju ke depan, bukan wajah Liu Tiang-kay yang terhajar, tahu tahu dia hancurkan poci arak itu.

Tak ampun isi poci arak itu segera menyembur ke empat penjuru, membasahi wajahnya, membasahi pula sepasang matanya.

Bagaikan terkena senjata rahasia yang paling menakutkan, tiba tiba dia menjerit kesakitan, sambil meraung bagai binatang yang terluka dia tutupi sepasang matanya dengan dua belah tangannya lalu berlarian keluar dari ruangan itu.

Apakah arak dalam poci itu adalah arak beracun?

Semua tugas yang diberikan Oh Lip telah diselesaikan Liu Tiang-kay dengan sempurna, mengapa Oh Lip justru perintahkan orang untuk meracuninya hingga mati?

Liong Ngo yang jelas sudah ditangkap Liu Tiang-kay dan sama sekali tak mampu berkutik, mengapa secara tiba tiba bisa melejit ke udara, bahkan gerakan tubuhnya jauh lebih hebat dari seekor naga sakti?

-oo0d-0-w0oo-

Tak ada angin. Awan kelabu yang kelam dan gelap di luar jendela menggumpal dan sama sekali tak bergerak, sekilas pandang, bentuknya persis seperti sebuah lukisan tinta yang kusam.

Raung kesakitan yang memilukan hati juga telah berhenti. Baru saja Lan Thian-bong menerjang keluar dari ruangan,

dia sudah roboh diatas batuan, kakek yang berperawakan

tinggi besar lagi tegap itu dalam waktu sekejap telah roboh tak berkutik di lantai.

Memandang hingga tubuhnya roboh tak bergerak Liu Tiang-kay baru memalingkan kepalanya, sementara tubuh Liong Ngo baru saja melayang turun ke bawah.

Oh Lip masih belum berkutik, dia masih duduk di kursi dorongnya tanpa bergerak, paras mukanya telah pulih kembali dalam ketenangan, terdengar ia bergumam lirih:

"Tujuh langkah, dia hanya mampu lari tujuh langkah" "Arak beracun yang sangat lihay!" Liu Tiang-kay menghela

napas pula.

"Arak beracun itu hasil racikanku sendiri" Oh Lip menerangkan.

"Khusus diracik untuk disuguhkan kepadaku?"

Oh Lip manggut manggut:"Oleh karena itu kau seharusnya menyesal"

"Menyesal?"

"Arak itu lumayan rasanya" bisik Oh Lip perlahan, dari balik matanya tiba tiba terpancar keluar perasaan sayang yang amat besar, "Lan Thian-bong belum berhak untuk minum arak semacam itu"

"Oya?"

"Selama ini dia memang tak pernah jadi orang baik, dia tak pantas menerima kematian semacam ini" "Tapi mati tetap mati. "

"Mati pun ada banyak macamnya" tukas Oh Lip. "Kematiannya termasuk yang mana?" "Kematian yang amat menyenangkan"

"Apakah lantaran dia mati dalam waktu singkat?" Oh Lip manggut manggut.

"Semakin cepat maut datang menjemput, semakin berkurang penderitaan yang harus dirasakan, hanya orang baik yang pantas dan berhak menerima kematian semacam ini" dia dongakkan kepalanya menatap wajah Liu Tiang-kay, tiba tiba sekulum senyuman yang aneh tersungging diujung bibirnya, pelan pelan dia melanjutkan:"Selama ini aku selalu menganggap kau adalah orang baik, itulah sebabnya secara khusus aku racikkan arak beracun itu untukmu"

"Wah, kalau begitu tampaknya aku harus mengucapkan banyak terima kasih kepadamu" kata Liu Tiang-kay sambil tertawa.

"Yaa, kau memang seharusnya berterima kasih kepadaku" "Tapi sayang kau telah melupakan sesuatu"

"Melupakan apa?"

"Agaknya kau lupa bertanya dulu kepadaku, apakah aku ingin cepat cepat mati atau tidak?"

"Ketika ingin membunuh seseorang, aku ,tak pernah bertanya dulu apakah dia pingin mati, aku hanya perhatikan patutkah dia mati"

"Ehmmm, sangat masuk diakal" puji Liu Tiang-kay sambil menghela napas panjang.

"Maka dari itu, semestinya kau sudah mampus sekarang" "Aku belum mampus, atau mungkin lantaran aku bukan orang baik?"

"Yaa, tampaknya memang begitu" Oh Lip ikut tertawa, "jika aku orang baik, tak bakal aku bisa menduga kalau kau ingin membunuhku"

"Aku memang ingin bertanya kepadamu, darimana kau bisa menduga sampai ke situ?"

"Sejak awal aku sudah menduga sampai ke situ" "Oya?"

"Sejak awal aku sudah curiga, perampok ulung yang sesungguhnya bukan Liong Ngo melainkan kau"

"Oya?"

"Sebab semua kasus pencurian dan perampokan terjadi setelah kau mengundurkan diri, Liong Ngo tak perlu takut kepadamu, jika dia ingin melakukan tindak kriminal, dia tak perlu melakukannya setelah menunggu kau mengundurkan diri dari jabatan"

"Kelihatannya alasan ini masih belum cukup"

"Setiap kasus dilakukan sangat bersih tanpa meninggalkan sedikit jejak pun, hanya seorang ahli yang bisa melakukan pekerjaan sebersih ini"

"Liong Ngo bukan seseorang yang sangat ahli?" "Tidak, dia bukan"

"Atas dasar apa kau berkesimpulan begitu?"

"Karena aku sendiripun seorang ahli, aku bisa melihatnya" "Kau yakin tidak keliru?"

"Tidak mungkin keliru, itulah sebabnya aku pergi mencari bukti"

"Maka kau pergi mencari Liong Ngo?" sela Oh Lip. Liu Tiang-kay manggut manggut.

"Aku berbuat begitu tentu saja agar kau menaruh kepercayaan kepadaku, agar kewaspadaanmu terhadapku semakin mengendor, kalau tidak, mana mungkin aku bisa mendekatimu?"

Setelah tertawa hambar, kembali terusnya:

"Bila aku tidak menangkap Liong Ngo dan membawanya menghadapmu, bagaimana mungkin kau bisa perintahkan orang untuk menarik kembali semua terali besi penyekat itu?"

Oh Lip menghela napas panjang.

"Dahulu, tampaknya aku telah salah menilaimu, kau memang tidak termasuk seorang manusia baik baik"

"Tapi aku tak pernah salah menilai dirimu"

Oh Lip kembali tertawa, namun sorot matanya sudah tidak memancarkan niat untuk tertawa.

"Manusia macam apa aku ini?" tanyanya, "kau sungguh dapat melihatnya dengan pasti?"

"Dengan kecerdikan dan ketelitianmu, semestinya tak gampang untuk menangkap manusia macam kau, sayangnya ambisimu kelewat besar"

Oh Lip hanya mendengarkan, dia tidak memberi komentar.

Liu Tiang-kay berkata lebih lanjut:"Ketika awal melakukan tindak kriminal, mungkin kau ingin cepat cuci tangan dan sudahi kebiasaan tersebut, tapi sayang, sejak dimulai kau sudah tak mampu mengendalikan diri, kau tak sanggup perintahkan sendiri untuk berhenti, karena kau memang selamanya tak kenal arti kepuasan"

Oh Lip menatap tajam wajahnya, dua butir kelopak matanya seakan akan telah berubah jadi dua butiran salju yang membeku. Liu Tiang-kay melanjutkan:"Oleh karena itu tindak kriminal yang kau lakukan makin hari semakin besar, makin lama semakin banyak, kau sendiripun sadar, gejala macam begini sangat membahayakan posisimu, sekalipun kau sudah mengundurkan diri, telah hidup terpencil mengasingkan diri, tapi cepat atau lambat semua kasus ini pasti akan merembet ke kepala sendiri"

Tampaknya dia merasa sedikit terenyuh, terusnya:"Bila seseorang pernah makan sesuap nasi dari uang negara, selama hidup jangan harap kau bisa lolos dari urusan negara"

"Itulah sebabnya aku harus mencari seseorang sebagai kambing hitam untuk memikul semua dosa itu, dengan begitu aku baru bisa cuci tangan dari semua tanggung jawab itu" sambung Oh Lip.

"Yaa, karena kaupun tahu, hidupmu baru aman sentosa jika semua kasus ini sudah terbongkar dan terkuak"

"Kelihatannya kau memang seorang yang sangat ahli" ejek Oh Lip sambil tersenyum.

"Tapi ada satu hal yang tidak kupahami, kenapa kau harus pilih Liong Ngo sebagai kambing hitammu?"

"Kau tidak mengerti?"

"Bukankah lebih gampang mencari orang lain sebagai kambing hitam ketimbang mencari Liong Ngo?"

Oh Lip memandang Liong Ngo sekejap, sementara itu Liong Ngo sudah duduk, dia memilih sebuah bangku yang paling enak dan paling nyaman untuk duduk.

Paras mukanya masih tenang dan tenteram, seakan akan kasus tersebut sama sekali tak ada sangkut paut dengan dirinya. Kembali Oh Lip menghela napas, katanya:"Aku memang tidak seharusnya pilih dia, kelihatannya orang ini tidak gampang untuk dihadapi"

"Tapi kau harus pilih dia" sela Liu Tiang-kay. "Kenapa?"

"Karena dalam kasus ini kau tak bisa ambil keputusan sendiri"

"Oya?"

"Kau masih punya seorang rekan, dan rekanmu sangat berkeinginan untuk menghabisi nyawa Liong Ngo"

"Sejak kapan kau berpendapat begitu?" "Setelah mengunjungi Nyonya Rindu, aku baru

berpendapat demikian"

"Maksudmu rekanku itu adalah Ciu Heng-po?" Liu Tiang-kay manggut-manggut.

"Tidak seharusnya dia tahu kalau aku hendak mencarinya, tapi dia seperti sudah membuat persiapan sejak awal, bahkan sudah menanti kedatanganku"

"Kau curiga aku yang beritahu kepadanya?"

"Tentu saja, karena orang yang tahu rencana ini selain aku hanya Liong Ngo, Chin Liat-hoa dan Oh Gwat-ji"

"Ehmm, tentu saja kau tak akan beritahu kepadanya" kata Oh Lip.

"Liong Ngo dan Chin Liat-hoa juga tak mungkin" Oh Lip tidak menjawab, tapi dia harus mengakui.

"Oleh sebab itu setelah kupikir bolak balik, Ciu Heng-po bisa tahu rahasia ini karena hanya ada satu penjelasan karena dia memang satu komplotan dengan

kalian" Setelah tertawa lebar, terusnya:"Apalagi meski kau tak pandai berhitung, tapi enam tambah satu mestinya tujuh orang, hitung hitungan semacam ini mestinya tak akan menyulitkan aku bukan?"

Oh Lip berkerut kening, tampaknya dia tak mengerti maksud perkataan itu.

Liu Tiang-kay segera menjelaskan:"Aku sudah tahu, di luar gua rahasia milik Ciu Heng-po ada tujuh orang jagoan yang berjaga disitu, tapi Oh Gwat-ji hanya beritahu nama enam orang, sewaktu dalam rumah makan di bukit Say-soat-san, orang yang kujumpai pun hanya enam orang"

"Yang kau jumpai tentunya Tong Kim, Tam It-hui, si Pengait sukma Tio tua, Tiat hwesio, si anjing gila Li serta si wadam?"

"Betul" Liu Tiang-kay mengangguk, "karena itulah aku selalu keheranan, ke mana perginya yang seorang lagi?"

"Sekarang kau sudah mengerti?"

"Setelah kupikir berulang kali, rasanya hanya ada satu penjelasan"

"Apa penjelasanmu?"

"Dia tak pernah mengungkap nama orang ke tujuh karena aku kenal dengan orang itu"

"Siapakah orang itu?"

"Kalau bukan Ong Lam, tentunya Oh Gwat-ji sendiri" Ong Lam adalah orang yang berperan sebagai suami Oh

Gwat-ji sewaktu di rumah pertanian, yaitu si petani yang

kemaruk harta tapi takut mati itu.

"Tentu saja aku tahu Ong Lam bukan orang desa sungguhan, aku pun tahu dia bukan opas sungguhan"

"Kau mengetahui asal usulnya?" "Justru karena tidak tahu maka aku baru curiga" Kembali Oh Lip menghela napas panjang.

"Jalan pikiranmu sungguh cermat dan teliti, jauh lebih cermat ketimbang aku" pujinya.

"Jadi kau pun ada yang tidak dipahami?" "Banyak sekali"

"Kalau begitu tanyakan"

"Kau tidak sungguhan menguasahi Liong Ngo?"

"Kau sendiri pernah berkata, dia bukan seorang manusia yang gampang dihadapi"

"Dia juga tidak sungguhan membunuh Chin Liat-hoa?" "Chin Liat-hoa adalah sahabat karibnya dan satu satunya

sahabat yang paling setia kepadanya, tak akan ada yang tega

membunuh seorang sahabat macam dia"

"Berarti kalian sengaja berakting untuk memainkan sandiwara ini agar ditonton Lan Thian-bong?"

"Sejak awal sudah kuduga, disisi Liong Ngo pasti ada mata mata yang sengaja kau selundupkan ke situ"

"Maka kau sengaja membiarkan Lan Thian-bong pulang duluan agar melaporkan kejadian tersebut kepadaku?"

"Hajaranku yang keras sebetulnya bukan untuk balas dendam, aku sengaja berbuat begitu agar kau percaya kepadaku"

"Aku sama sekali tak menyangka, ternyata kau bekerja sama dengan Liong Ngo memainkan sandiwara tersebut" seru Oh Lip sambil tertawa getir.

"Masih ada yang tidak kau pahami?"

"Setelah bertemu Ciu Heng-po, apakah kau belum pernah bertemu lagi dengannya?" "Belum"

"Lalu kapan kalian rundingkan rencana ini?" Tiba tiba Liu Tiang-kay tertawa tergelak.

"Tahukah kau, kenapa aku bikin gusar Khong Lan-kun hingga dia pergi dengan marah?" tanyanya. Oh Lip menggeleng.

"Karena aku sengaja menginginkan dia pergi sambil membawa kotak kosong itu" Liu Tiang-kay menjelaskan.

"Rahasia apa dibalik kotak kosong itu?"

"Tidak ada rahasia apa apa, Cuma sebuah buku skenario untuk memainkan sandiwara ini"

"Skenario sandiwara ini?"

"Sudah kuduga Khong Lan-kun pasti akan serahkan kotak kosong itu kepada Liong Ngo, akupun yakin dia pasti akan mengikuti skenarioku untuk mengimbangi aku bermain dalam sandiwara ini"

Setelah tersenyum, kembali ujarnya:"kau memang tak salah menilai dia. akupun tidak, hanya saja ada kemungkinan orang itu jauh lebih cerdik dari apa yang kita bayangkan, bahkan jauh lebih baik membawakan perannya dalam sandiwara ini"

"Tampaknya kau sudah melupakan peran aktor lain yang tak kalah hebatnya" tiba tiba Liong Ngo menyela.

"Yaa betul, peran Chin Liat-hoa dalam sandiwara inipun sangat hebat" sambung Liu Tiang-kay sambil tertawa.

"Tapi dia selalu merasa kuatir" "Kuatir rencana ku bakal gagal?"

Liong Ngo mengangguk membenarkan. "Tapi nyatanya peran kalian dalam sandiwara ini sangat hidup" puji Liu Tiang-kay.

"Itu disebabkan hanya dia seorang yang kuatir" "Kau tidak kuatir?" Liong Ngo tertawa.

”Temanku memang tak banyak, tapi aku jarang salah menilai seseorang" sahutnya.

"Menurut kau, manusia macam apa Oh Lip ini?" "Penyakitnya yang terutama bukan berhati rakus" "Lalu apa?"

"Berhati busuk!"

"Wah, tampaknya penilaianmu jauh lebih tepat ketimbang aku" Setelah menghela napas, Liu Tiang-kay berpaling ke arah Oh Lip dan berkata lebih lanjut:"Jika kau tidak terburu buru ingin membunuh kami, mungkin sampai sekarang pun aku belum yakin kaulah orang yang sedang kucari"

"Sekarang sudah yakin?” "Tidak diragukan lagi"

"Kelihatannya kau kelupaan satu hal" "Soal apa?"

"Perampok itu bisa meloncat keatas penglari rumah, bisa berlarian di wuwungan rumah, bahkan bisa masuk keluar rumah keluarga kerajaan dengan leiuasa, sebaliknya aku hanya seorang cacad yang lumpuh sepatuh badannya"

Liu Tiang-kay segera tertawa.

"Kau tidak percaya?" kembali Oh Lip berseru. "Bila kau jadi aku, kau percaya?" Oh Lip memandangnya sekejap, lalu memandang pula Liong Ngo. tiba tiba ia tertawa tergelak:"Hahaha yaa, jika

aku jadi kalian, akupun tak percaya"

Ketika tertawa kali ini, sorot matanya mengandung niat untuk tertawa, tertawa yang membawa kelicikan seekor rase, kekejian seekor kalajengking beracun.

Tiba tiba dia berpaling dan bertanya kepada kakek bercodet itu: "Kau percaya?"

"Aku percaya!"

"Bukankah sepasang kakiku sudah kaku, hilang kontrol dan sama sekali cacad?"

"Benar"

"Mana golokmu?" "Golok ada disini"

Tanpa perubahan mimik muka kakek bercodet itu mencabut keluar dua bilah golok dari sakunya, golok itu tidak panjang tapi tajamnya luar biasa.

"Cepat tidak golokmu? Kembali Oh Lip bertanya sambil tersenyum.

"Cepat sekali"

"Bila ditusukkan keatas kakiku?" "Kau tak akan kesakitan" "Kenapa?"

"Karena kakimu sudah lumpuh, sudah cacad" "Benarkah itu?"

"Akan kucoba"

Wajahnya masih tidak menunjukkan perubahan apapun, mendadak dia turun tangan, diantara kilatan cahaya golok, dua bilah golok pendek itu sudali menancap diatas kaki Oh Lip, mata golok sepanjang satu depa tiga inci menancap dalam pahanya hingga tinggal gagangnya.

Darah segar jatuh bercucuran dari mulut luka, tapi senyuman masih menghiasi wajah Oh Lip, katanya:"Aah, ternyata memang benar, aku sama sekali tidak merasa sakit"

Kakek bercodet itu menundukkan kepalanya, otot dan kerutan wajahnya nampak mengejang keras, sambil menggertak gigi katanya sepatah demi sepatah:"Tentu saja semuanya benar, aku memang sangat percaya"

Sambil tersenyum Oh Lip mendongakkan kepalanya, sambil memandang Liu Tiang-kay dan Liong Ngo tegurnya:"Bagaimana dengan kalian? Sekarang kalian percaya bukan?"

Tak ada yang menjawab, tak ada yang bisa menjawab. Kembali angin berhembus masuk melalui daun jendela,

membawa baui harum bunga yang semerbak.

Tiba tiba Liong Ngo menghela napas panjang, gumam nya:"Kemungkinan besar malam ini akan turun hujan"

Pelan pelan dia bangkit berdiri, membersihkan debu dari pakaiannya dan tanpa berpaling berjalan keluar dari ruangan gedung.

Melihat dia berjalan keluar dari ruangan, tiba tiba Liu Tiang- kay ikul menghela napas, gumamnya pula:"Yaa, kemungkinan besar malam ini akan turun hujan"

Dia pun berjalan keluar dari ruangan, tiba didepan pintu, tak tahan ia berpaling sambil berseru:"Aku tak ingin kehujanan, tampaknya aku pun harus pergi dari sini"

Oh Lip tersenyum.

"Akupun tak ingin melihat kau kehujanan, biarpun kau bukan orana baik, rasanya kaupun tidak terlalu jahat" "Tapi ada satu hal aku ingin bertanya lagi kepadamu" "Tanyakan"

"Kau punya nama, punya kedudukan, banyak orang menghormatimu! hidupmu sudah tergolong tenteram, jauh lebih nyaman dan tenteram ketimbang kebanyakan orang lainnya"

"Aku peroleh semuanya itu dari jerih payahku selama banyak tahun"

"Aku tahu" setelah menghela napas, terusnya, "justru karena tahu maka aku jadi tak mengerti"

"Mengerti apa?"

"Setelah berjuang dan bersusah payah banyak tahun, kau baru peroleh semuanya seperti hari ini, Kini kau memiliki segalanya, kaupun sudah termasuk orang sesepuh, tapi mengapa masih harus melakukan perbuatan macam ini?"

Oh Lip tidak langsung menjawab, dia termenung dan berpikir sampai lama sekali, kemudian baru jawabnya:"Sebetulnya akupun tidak mengerti, kenapa seseorang yang usianya makin sepuh justru dia semakin kemaruk harta? Memangnya dia ingin membawa semua uang dan harta kekayaannyu ke dalam liang kubur?"

"Sekarang kau sudah mengerti?" Pelan pelan Oh Lip mengangguk.

"Sekarang aku baru mengerti, orang semakin tua semakin kemaruk harta karena hanya orang tua yang bisa menembusi semua masalah, hanya orang tua yang tahu, barang yang ada di dunia ini tak ada yang lebih penting daripada harta kekayaan"

"Aku masih belum mengerti" Oh Lip tertawa. "Jika kau sudah hidup seusia ku, kau pasti akan paham teori ini" katanya.

Liu Tiang-kay ragu sesaat, akhirnya dia berjalan keluar dari ruangan, tiba di luar pintu, tak tahan dia berpaling lagi seraya bertanya:"Ke mana perginya Gwat-ji?"

"Kau ingin bertemu dengannya?"

Liu Tiang-kay manggut manggut:"Perduli dia masih hidup atau sudah mati, aku ingin sekali dapat bertemu sekali lagi dengannya"

Oh Lip pejamkan matanya, sahurnya hambar:"Sayang sekali, baik dia hidup atau sudah mati, kau tak akan bertemu lagi dengannya"

Kembali angin berhembus lewat, lamat lamat membawa air hujan yang lembut.

Oh Lip membuka matanya, mengawasi golok yang menancap diatas pahanya, mendadak wajahnya mengejang keras, berkerut menahan rasa sakit yang tak terhingga.

Air hujan terasa dingin, dingin sekali.

"Musim gugur sudah berakhir, hari hari berikut tentu makin lama semakin dingin" gumam Oh Lip dengan suara lirih, tiba tiba dia cabut keluar golok itu dari kakinya.

-ooo0dw00kz00ooo-