Tujuh Pembunuh Bab 6 Naga diantara manusia.

Bab 6 Naga diantara manusia.

Kembali lewat berapa saat lamanya, dia merasakan sekujur badannya sudah kaku dan kesemutan, tangan dan kakinya mulai jadi dingin.......

Pada saat itulah, tiba tiba dia mendengar ada suara langkah kaki manusia berjalan mendekat.

Langkah kaki im sangat ringan, dia berjalan lambat sekali, tapi setiap ayunan langkahnya seolah olah sedang menginjak diatas otot tabuhnya yang kaku, siapa yang muncul di situ?

Nyonya rindu? Atau Tong Kim?

Terlepas siapa pun yang muncul, ada satu hai adalah pasti, dia tak akan bisa hidup dengan senang Langit sudah terang.

Sinar fajar memancar masuk melalui pintu depan, membiaskan bayangan tubuh orang itu dilantai dan membentuk satu bayangan yang amat| panjang, dari bayangan tersebut terlihat kalau orang yang muncul adalah seorang wanita.

Akhirnya dia dapat menangkap sepatu yang dikenakan orang itu.

Sepasang sepatu kain yang bersulamkan bunga berwarna hijau, sepasang kaki yang lembut, ramping dan menawan hati.

Liu Tiang-kay menghela napas panjang, akhirnya dia tahu juga siapa gerangan yang telah datang. "Sejak kapan kau berubah jadi orang yang alim yang suka duduk mematung diatas bangku?" suara orang itu merdu menawan hati, tapi kini tersisip perasaan cemburu yang tebal, "apakah pantatmu sudah bengkak karena habis digebuki orang?"

Liu Tiang-kay tidak menjawab, dia hanya tertawa getir. "Aku masih ingat, dulu kau selalu gemar memukuli wajah

sendiri hingga bengkak untuk menyamar jadi orang gemuk, kini wajah tidak bengkak kenapa pantatmu yang justru membengkak?"

Tiba tiba Liu Tiang-kay tertawa.

"Biarpun pantatku lebih bengkak satu kali lipatpun tak akan bisa menangkan gedenya pantatmu"

"Bocah kunyuk" umpat perempuan itu sambil tertawa pula, "sudah dalam keadaan beginipun masih berani bicara seenaknya, tidak kuatir kubikin bengkak mulutmu?"

"Aku tahu, kau pantas merasa sayang untuk berbuat begitu, jangan lupa aku toh suamimu"

Ternyata yang datang adalah Oh Gwat-ji.

Dia sudah berjongkok sambil mengangkat dagu Liu Tiang- kay, dengan mata berhadapan mata dia awasi pemuda itu lekat lekat.

"Suami ku yang mengenaskan, siapa yang telah menghajarmu jadi begini? Cepat beritahu kepadaku"

"Kau hendak balaskan dendam untukku?"

"Aku justru akan mencarinya untuk mengucapkan terima kasih" tiba tiba Oh Gwat-ji menjotos hidungnya keras keras, "aku harus berterima kasih karena telah memberi pelajaran kepada si telur busuk yang tidak menurut"

Liu Tiang-kay tertawa getir. ""Kalau seorang bini hendak mengumpat suaminya, kata makian apa pun boleh dipakai, tapi jangan sekali kali menggunakan kata telur busuk"

Oh Gwat-ji menggigit bibir, teriaknya jengkel:"Jangan bikin hatiku panas, kalau aku benar benar jengkel, siapa tahu aku akan memakaikan topi hijau untukmu" (istilah topi hijau dipakai kaum istri yang berbuat serong dengan lelaki lain).

Semakin berbicara semakin jengkel, kembali dia jewer telinga Liu Tiang-kay keras keras sambil teriaknya lagi:"Aku mau tanya, sewaktu kemari sudahkah kau kenakan pakaian yang istimewa tebalnya?"

"Belum"

"Sudah kau minta golok yang luar biasa cepatnya?" "Belum"

"Sudah kau taklukan Tong Kim pada serangan pertama?" "Tidak"

"Sudah turun tangan sesuai dengan rencana?" "Juga tidak"

Sambil menggertak giginya kuat kuat umpat Oh Gwat-ji:

"Orang lain sudah mati matian persiapkan segala sesuatu untukmu, kenapa kau sama sekali tak menurut?"

"Karena sejak kecil aku memang bukan bocah penurut, orang lain semakin paksa aku melakukan sesuatu, aku semakin nekad untuk tidak melakukannya"

Oh Gwat-ji segera tertawa dingin.

"Jadi kau selalu menganggap dirimu luar biasa, selalu menganggap orang lain tak bisa menandingimu?"

Liu Tiang-kay tertawa. "Bagaimana pun juga, apa yang kau minta untuk kulaksanakan, kini telah kulaksanakan semua"

"Hingga sekarang kau masih berani mengucapkan perkataan itu?" Oh Gwat-ji makin mencak mencak.

"Kenapa tak berani?"

"Kenapa kau tidak mencari sebuah cermin dan coba melihat pantatmu itu?"

"Pantatku digebuk orang adalah satu kejadian, bisa menyelesaikan tugas adalah kejadian lain"

"Betul, tapi nyatanya bebek yang sudah matang sekarang sudah terbang kembali"

"Tidak, sama sekali belum terbang" "Belum terbang?"

"Yang terbang cuma bulu si bebek., sementara si bebek plus tulangnya masih berada dalam sakuku"

Oh Gwat-ji tertegun, serunya:

"Jadi kotak yang dibawa lari perempuan im hanya sebuah kotak kosong?"

"Tidak kosong" jawab Liu Tiang-kay tersenyum, "dalam kotak im terdapat sepasang kaus kakiku yang baru kulepas dan baunya luar biasa"

Kembali Oh Gwat-ji tertegun, tapi dia segera tertawa cekikikan, tiba tiba diciumnya pipi Liu Tiang-kay lalu katanya dengan suara lembut:"Aku tahu, kau memang seorang lelaki yang luar biasa, aku tahu aku tak bakal salah mencari suami"

Liu Tiang-kay menghela napas panjang, gumamnya:"Tampaknya, sebagai seorang lelaki kita harus punya sedikit kemampuan, kalau tidak, mungkin kita akan dipaksa mengenakan topi hijau" -ooo0-d-0-w-0ooo-

Cahaya matahari memancar masuk melalui daun jendela, menyinari dada Liu Tiang-kay yang bidang, wajah Oh Gwat-ji menempel diatas dada Liu Tiang-kay yang bidang itu.

Dada dalam keadaan telanjang itu meski tidak terlalu berotot, namun membawa daya tarik yang aneh, membuat orang susah menilai kekuatan sesungguhnya yang dimiliki.

"Masih mau tambah lagi tidak?" bisik Oh Gwat-ji sambil meraba dadanya dengan lembut.

Liu Tiang-kay menggeleng berulang kali, jangankan "bermain" sekali lagi, untuk menggerakkan badan pun dia sudah tak kuat.

"Baru berpisah beberapa hari, kau sudah beraninya mencari perempuan lain" seru Oh Gwat-ji sambil menggigit bibir.

"Aku tidak " sebetulnya Liu Tiang-kay sudah malas

untuk menjawab, namun dalam masalah seperti ini mau tak mau dia harus menyangkal.

"Kalau tidak, mengapa orang lain menaboki pantatmu?" tanya Oh Gwat-ji tidak percaya.

Liu Tiang-kay menghela napas.

"Seandainya benar, masa dia hanya menabok pantatku saja?"

"Kau juga tidak menyentuh Siang-si hujin?" Tampaknya Oh Gwat-ji belum mau percaya.

"Sama sekali tidak"

"Hmm, mungkin hanya setan yang percaya" "Kenapa kau tidak percaya?" "Bila kau benar benar tidak menyentuh wanita, mengapa milikmu sekarang macam ayam jago yang kalah bertarung? Mengapa loyo tak bertenaga? Sarna sekali tak berguna!"

"Kau anggap aku manusia apa? Manusia baja? Sudah lima ronde non" Liu Tiang-kay tertawa getir.

Setelah menghela napas, lanjutnya:

"Akupun bisa lelah, kadangkala aku pun perlu beristirahat.

Perlu tidur"

"Lantas kenapa kau tidak tidur?" Oh Gwat-ji mulai percaya. "Kalau kau ada disisiku, bagaimana mungkin aku bisa

tidur?"

Oh Gwat-ji segera duduk, dengan mata melotot teriaknya: "Jadi kau sedang mengusirku dari sini?"

"Tidak,. Aku tidak bermaksud begitu, tapi kau memang seharusnya segera pulang"

Setelah berhenti sejenak, terusnya dengan suara lembut:"Ketika mengetahui kotak yang dibawa Khong Lan-kun tak ada isinya, Liong Ngo pasti akan datang mencariku"

"Masa dia akan mencarimu sampai disini?" "Di mana pun dia dapat menemukan"

Oh Gwat-ji sedikit agak sangsi, tapi dia segera sadar bahwa rumah penginapan kecil itu memang tidak bisa dibilang merupakan tempat yang sangat aman.

"Baiklah" ujarnya kemudian, "pulang ya pulang, tapi kau "

"Asal kau mau menungguku di rumah dengan tenang, dengan cepat aku akan membawa pulang berita baik"

"Kau yakin dapat menghadapi Liong Ngo?" "Tidak" Liu Tiang-kay tertawa, "sewaktu menghadapi Siang-si hujin pun sebetulnya aku juga tak punya keyakinan apa apa"

Akhirnya Oh Gwat-ji pergi juga.

Sebelum meninggalkan tempat itu, ia sempat berbisik di tepi telinganya sambil mengancam berulang kali: "Jika aku sampai mendengar kau menyentuh perempuan lain, hati hati dengan pantatmu, akan kuhajar sampai robek robek"

Bila seorang wanita telah jatuh cinta pada seorang lelaki, dia pasti ingin sekali mengubah diri menjadi seutas tali yang bisa mengikat kencang kencang sepasang kaki lelaki itu.

Kini Liu Tiang-kay dapat menghembuskan napas lega, dia memang bukan manusia baja, dia butuh waktu untuk istirahat dan tidur nyenyak.

Tak selang berapa saat kemudian dia benar benar sudah tertidur.

Ketika mendusin kembali, suasana di luar jendela nampak sudah gelap, tampaknya saat itu senja sudah lewat.

Angin berhembus masuk melalui daun jendela, membawa harum arak yang semerbak.

Itulah bau harum arak Li-ji-ang, semestinya dalam rumah penginapan sekecil itu, tak mungkin tersedia arak sejenis ini.

Berputar sepasang biji mata Liu Tiang-kay, tiba tiba serunya:"Sahabat yang sedang minum arak diluar, perduli siapakah engkau, silahkan masuk ke mari, jangan lupa sekalian bawa serta arak wangi mu"

Benar juga, dengan cepat ada seseorang mengetuk pintu. "Pintu dalam keadaan terbuka, dorong saja, pintu akan

segera terbuka" Maka pintu pun didorong orang, seseorang dengan tangan kiri membawa teko tembaga, tangan kanan membawa dua cawan arak, berjalan masuk ke dalam ruangan, orang itu tak lain adalah orang yang menemui Tu Jit bertiga tempo hari.

"Cayhe Go Put-ko" sambil tertawa paksa orang itu memperkenalkan diri, "khusus kemari untuk berkunjung, tahu kalau anda sedang tertidur, maka terpaksa cayhe menunggu diluar"

Liu Tiang-kay memandangnya sekejap, lalu tegurnya:"Liong Ngo yang suruh kau mencari aku?"

Sambil tersenyum Go Put-ko manggut manggut.

"Kongcu sedang menanti kedatangan Liu sianseng" "Sayang sekali saat ini mau bangun dan berdiri pun tak

mampu, aku tak bisa pergi menjumpainya" seru Liu Tiang-kay dingin.

Kembali Go Put-ko tertawa.

"Kongcu juga tahu, ada orang telah membuat kesalahan terhadap Liu sianseng, maka cayhe sengaja diutus kemari untuk membawa semacam barang, agar bisa menghilangkan rasa jengkel sianseng"

"Barang apa? Di mana?"

Tanpa berpaling Go Put-ko memberi tanda ke luar pintu, seorang perempuan yang cantik bagai seekor burung merak pelan-pelan berjalan masuk sambil membawa sebuah papan kayu.

Khong Lan-kun.

Sekarang, dia sudah tidak memiliki keangkuhan seekor burung merak, yang tersisa hanyalah seekor ayam yang baru kalah bertarung, seekor ayam betina. Dia menundukkan kepalanya rendah-rendah, begitu masuk ke dalam, papan kayu itu segera diserahkan ke tangan Liu Tiang-kay sambil berkata lirih:"Aku telah menghantammu tiga puluh kali dengan menggunakan papan kayu ini, sekarang kau kau boleh mengembalikan semuanya kepadaku"

Liu Tiang-kay memandangnya, tiba tiba ia menghela napas panjang, gumamnya:"Liong Ngo kongcu memang tak malu disebut naga diantara manusia, tak heran ada begitu banyak orang yang rela jual nyawa baginya"

-ooo0d0w0ooo-

Cahaya lampu yang menerangi bilik mewah itu lembut dan indah, teko tembaga yang berada diatas anglo kecil dengan jilatan api yang merah lembut memancarkan bau harum arak yang semerbak.

Orang yang sedang memanasi arak itu adalah lelaki setengah umur berbaju hijau yang misterius lagi menakutkan itu.

Liong Ngo masih berbaring diatas ranjang pendek berlapiskan kulit macan tutul, dia pejamkan matanya sambil berbaring santai.

Udara masih terasa hangat, kobaran api dibawah anglo kecil membuat suasana di dalam bilik terasa makin panas, namun ke dua orang itu seolah olah sama sekali tidak merasa kepanasan.

Hanya mereka berdua, mereka sedang menunggu kedatangan Liu Tiang-kay.

Diatas meja telah tersedia beberapa macam hidangan yang lezat, bahkan telah tersedia pula sebuah bangku khusus untuk Liu Tiang-kay. Yaa, ada berapa banyak orang di dunia ini yang berhak duduk sederajat dengan Liong Ngo?

Pintu diketuk orang, yang muncul adalah Mong Hiu, tentu saja tempat itu adalah pesanggrahan milik Mong Hiu.

"Sudah datang!" lapornya.

"Persilahkan dia masuk" Liong Ngo masih pejamkan matanya, "masuk seorang diri"

Baru saja Liu Tiang-kay berjalan masuk, Mong Hiu segera merapatkan kembali pintu ruangan.

Lelaki setengah umur berbaju hijau itu masih pusatkan perhatiannya memanasi arak, dia tidak berpaling, melirik sekejap pun tidak.

Sementara itu Liong Ngo sudah bangkit dari tempat tidurnya, sekulum senyuman yang jarang tampil di wajahnya kini menghiasi wajahnya yang pucat pasi.

"Kau tidak sia sia" ujarnya sambil tersenyum, "baik dalam hal ilmu silat maupun dalam soal perempuan, kau tidak pernah menyia-nyiakan setiap kesempatan"

Perkataan itu belum selesai diucapkan, karena itu Liu Tiang-kay tetap membungkam, dia menunggu Liong Ngo menyelesaikan perkataannya.

Betul juga, Liong Ngo berkata lebih lanjut:"Bahkan terhadap wanita yang tak mampu kuhadapi pun tak disangka kau sanggup menghadapinya"

Liu Tiang-kay masih tetap membungkam.

Dia belum meraba jelas apa maksud ucapan Liong Ngo itu, biasanya orang lelaki tak pernah mau mengaku kalah khususnya dalam masalah perempuan. "Bukan pekerjaan yang gampang untuk mengelabuhi Ciu Heng-po maupun Khong Lan-kun" kembali Liong Ngo berkata, "tapi kau berhasil mengelabuhi ke dua duanya"

'Tapi aku kan bekerja demi kau" akhirnya Liu Tiang-kay tertawa.

Liong Ngo memandangnya sekejap, tiba tiba ia tertaw. tergelak:"Hahaha... kelihatannya bukan saja kau cerdik, bahkan sangat hati hati"

"Hai, mau tak mau aku memang selalu harus berhati hati" Liu Tiang kay menghela napas panjang.

"Kini sang kelinci sudah didapat, kau takut aku mengkukus mu di dalam kuali?"

"Orang bilang "burung terpanah busur disimpan, kelinci yang mati anjing yang dikukus", aku tidak paham dengan maksud perkataan ini"

(burung terpanah busur disimpan, artinya setelah dunia aman kembali, semua jasa dan pahala dilupakan, kelinci yang mati anjing yang dikukus artinya Kalau dibutuhkan disanjung sanjung, kalau sudah tak dibutuhkan dijatuhi hukuman mati)

Liong Ngo tertawa, sahutnya:"Aku tahu, kau bukan anjing kaki tangan yang bisanya hanya berburu kelinci, kau adalah orang yang sangat mengerti bekerja, aku selalu menggunakan manusia macam kau"

"Terima kasih banyak kalau begitu" Liu Tiang-kay menghembuskan napas lega.

"Silahkan duduk"

"Lebih baik aku berdiri saja" Sekali lagi Liong Ngo tertawa.

"Tampaknya Khong Lan-kun sudah turun tangan kelewat berat kepada mu" Liu Tiang-kay tidak menjawab, dia hanya tertawa getir. "Apakah kau menginginkan sepasang tangannya?" kembali

Liong Ngo bertanya.

”Ingin!''

'Itu mah gampang, aku segera akan letakkan sepasang tangannya di dalam kotak dan hadiahkan kepadamu"

"Tapi aku lebih suka melihat sepasang tangannya berikut seluruh badannya yang utuh"

"Itu lebih gampang lagi, sewaktu pergi dari sini nanti, kau boleh bawa serta dirinya"

Liu Tiang-kay segera gelengkan kepalanya berulang kali, katanya:"Aku memang suka rnakan telur ayam, tapi aku paling segan membawa serta seekor ayam betina disisiku"

Untuk ke dua kalinya Liong Ngo tertawa terbahak-bahak. "Hahaha kalau begitu aku beritahu alamat dari sarang

ayam betina itu, hingga tiap kali mau makan telur ayam,

setiap saat kau dapat berkunjung ke situ"

"Sayang di dalam telur ayam itu bukan saja bertulang, bahkan ada papan kayunya" kata Liu Tiang-kay sambil tertawa getir.

Untuk ke tiga kalinya Liong Ngo tertawa terbahak-bahak.

Tampaknya suasana hatinya hari ini sangat baik, jumlah tertawanya juga jauh lebih banyak ketimbang dihari hari biasa.

Menunggu hingga dia selesai tertawa, Liu Tiang-kay baru berkata:"Tampaknya kau lupa menanyakan satu hal kepadaku"

"Buat apa mesti ditanya, aku tahu kau pasti telah berhasil" "Kotak itu tidak salah?" "Tidak salah" Liong Ngo menatapnya lekat lekat. "Sudah dilihat dengan jelas?"

"Yaa, sudah dilihat sangat jelas"

Sinar mata ke dua orang itu nampak sedikit agak aneh, pertanyaan yang diajukan Liu Tiang-kay pun makin lama semakin tak bermutu.

Liong Ngo termasuk orang yang tak terlalu suka banyak bicara, tapi kali ini dia sama sekali tidak menunjukkan sikap tak sabaran atau muak.

Terdengar Liu Tiang-kay berkata sambil tertawa:"Jika kotaknya tak salah, berarti barang yang ada didalamnya juga tak bakal keliru"

Akhirnya dari dalam sakunya dia keluarkan sebuah bungkusan kain ungu, bungkusan itu diikat dengan simpul tali yang sangat kuat, katanya:"Benda ini kuambil dari dalam kotak tersebut, bentuk dan ikatan tali simpulnya masih asli, aku tidak menyentuhnya"

"Aku bisa melihatnya, tali simpul itu memang merupakan ikatan simpul yang khusus dilakukan sendiri olehnya"

Ta!i simpul yang dibuat Nyonya rindu, tentu saja bukan simpul yang gampang dibuka.

Liong Ngo hanya menggunakan dua jari tangannya untuk menjepit ekor dari tali simpul itu, lalu dengan suatu gerakan yang aneh, sekali getaran saja tali simpul itu sudah terbuka.

Untuk ke empat kalinya Liong Ngo tertawa terbahak-bahak: "Cara yang kau gunakan, tampaknya selalu paling langsung dan paling mendasar"

"Yaa, karena cara ini saja yang kupahami" "Asa! cara itu bermanfaat, sekalipun hanya semacam, rasanya sudah lebih dari cukup" ujar Liong Ngo sambil tertawa.

Dalam bungkusan im terdapat sebuah bungkusan dari kain sutera, ketika kain sutera itu dibuka, tampaklah sebuah botol kecil yang terbuat dari porselen berwarna hijau.

Bersinar sepasang mata Liong Ngo, diatas wajahnya yang pucat terlintas warna semu merah yang sangat aneh.

Botol berisi obat itu tidak gampang untuk memperolehnya.

Demi obat dalam botol itu, dia telah mengeluarkan pengorbanan yang tak terkira banyaknya.

Hingga saat itu, saat tangannya mulai menyentuh botol berisi obat, tanpa disadari tangan itu nampak gemetaran keras.

Pada detik itulah mendadak secepat sambaran kilat Liu Tiang-kay rebut kembali botol berisi obat itu kemudian membantingnya ke lantai keras keras.

"Prryaang!" diiringi suara keras, botol im hancur berantakan, cairan obat berwarna merah yang ada dalam botol pun berserakan di tanah.

Pucat pias wajah Mong Hui yang kebetulan berdiri di depan pintu, dia sangat terkejut atas terjadinya peristiwa yang tak terduga ini.

Paras muka Liong Ngo turut berubah hebat, hardiknya keras:"Apa apaan kau?"

"Tidak apa apa, aku hanya tak ingin kehilangan majikan sebaik kau, jika kau mampus, tak gampang bagiku untuk menemukan majikan ke dua sebaik dirimu"

"Apa maksudmu? Aku tak mengerti" Liong Ngo amat murka. "Kau seharusnya mengerti"

"Aku dapat melihat, obat itu tidak palsu, aku pun bisa mengendus baunya"

Cairan obat itu berwarna merah bening, ketika botolnya pecah dan cairan obat berserakan di lantai, segera terenduslah bau harum semerbak yang amat menyegarkan hati.

"Biarpun bukan obat palsu, didalamnya pasti sudah dicampur dengan racun jahat" Liu Tiang-kay menjelaskan.

'Atas dasar apa kau simpulkan begitu?" "Atas dasar dua ha!"

"Katakan!"

"Tugas ini berhasil kulaksanakan kelewat gampang, kelewat lancar"

"Alasan itu tidak cukup kuat"

"Aku pun tahu, Siang-si hujin yang kujumpai adalah Nyonya rindu gadungan"

"Selama ini kau belum pernah bertemu dengan Nyonya Rindu, darimana bisa tahu kalau dia gadungan?"

"Kulit tubuhnya kelewat kasar, seorang wanita yang tiap hari mengoleskan minyak madu di sekujur tubuhnya tak akan memiliki kulit badan sedemikian kasar"

"Atas dasar dua hal itu?"

"Analisa yang tepat tak perlu dua, satu alasan saja sudah lebih dari cukup"

Tiba tiba Liong Ngo tutup mulut rapat rapat, tampaknya dia sudah tak mampu lagi untuk berbicara. Sebab pada saat itulah cairan obat yang berwarna merah bening itu tiba tiba berubah jadi cairan hitam pekat yang sangat memualkan.

Ada sejenis racun yang daya kerjanya baru nampak bila terkena angin, sekarang, siapa pun bisa melihat, cairan obat dalam botol itu benar-benar telah dicampuri racun, racun yang sangat dahsyat.

Pucat pias selembar wajah Liong Ngo, ditatapnya wajah Liu Tiang-kay tanpa berkedip, lama kemudian ia baru berkata:"Selama hidup belum pemah kuucapkan kata terima kasih kepada siapa pun"

"Aku percaya"

"Tapi sekarang, mau tak mau aku harus ucapkan banyak terima kasih kepadamu"

"Yaa, tampaknya aku pun mau tak mau harus menerimanya !"

"Tapi ada satu hal, hingga kini belum paham "

"Kau seharusnya paham" tukas Liu Tiang-kay cepat, "Ciu Heng-po tahu aku sedang bekerja untukmu dan tahu tugas apa yang sedang kulaksanakan, karena itu dia gunakan siasat melawan siasat, dia pura pura serahkan obat itu kepadaku, padahal niatnya ingin meracunimu sampai mati"

"Tapi....tapi......kenapa dia dia ingin meracuni aku

sampai mati?" gumam Liong Ngo dengan wajah berubah hebat. Liu Tiang-kay menghela napas panjang.

"Siapa sih yang bisa menebak jalan pikiran seorang wanita?"

Liong Ngo pejamkan matanya, lagi lagi dia tampak amat lelah, rasa sedih yang mendalam memang cepat membuat seseorang cepat lelah. Entah dia sedih lantaran kecewa, ataukah sedih lantaran rasa rindu yang mendalam?

Tiba tiba Liu Tiang-kay bertanya:"Lagi lagi kau lupa menanyakan satu hal kepadaku"

"Pikiranku lagi kalut, katakan saja" Liong Ngo tertawa getir. "Ketika melaksanakan pekerjaaan ini untukmu, bukankah

hanya ke empat orang yang ada dalam bilik ini yang tahu

rahasia ini?" "Betul"

"Lantas, darimana Nyonya rindu bisa mengetahui rahasia ini?"

Mendadak sepasang mata Liong Ngo terbelalak lebar, sinar mata setajam mata pisau langsung dialihkan ke wajah Mong Hui dan menatapnya tanpa berkedip.

Pucat pias wajah Mong Hui saking kagetnya. "Ketika kau menghajarku hingga terluka, orang lain

mengira aku pasti akan membenci mu hingga merasuk ke tulang sumsum, tapi Mong Hui tahu rahasia dibalik semuanya ini" ujar Liu Tiang-kay menerangkan.

"Bukan Mong Hui, pasti bukan dia" tiba tiba Liong Ngo menggeleng.

"Kenapa?"

"Ada Liong Ngo baru ada Mong Hui, dia bisa seperti hari ini semuanya lantaran aku, kematianku tak akan mendatangkan keuntungan apa apa baginya"

Liu Tiang-kay termenung dan berpikir sejenak, akhirnya dia pun manggut manggut: "Aku percaya. Semestinya dia tahu, dikolong langit saat ini tak akan ditemukan Liong Ngo ke dua"

Tiba tiba Mong Hui jatuhkan diri berlutut, sewaktu berlutut, air mata telah bercucuran membasahi wajahnya. Air mata tersebut merupakan air mata terharu, dia terharu karena Liong Ngo begitu menaruh kepercayaan kepadanya.

"Kalau bukan Mong Hui, lalu siapa?" pelan pelan Liu Tiang- kay melanjutkan.

Liong Ngo tidak menjawab, sementara dia pun tak perlu bertanya lagi. Sorot mata mereka berdua kini sudah dialihkan ke wajah lelaki setengah umur berbaju hijau itu, mereka menatapnya tanpa berkedip.

-ooo0d0w0ooo-

Cahaya api dibawah tungku sudah melemah, arak dalam teko masih terasa hangat.

Lelaki setengah umur berbaju hijau itu sedang menuang arak dari teko tembaga ke dalam poci arak tangannya masih tetap tenang, tak setetes arak pun yang tertumpah keluar.

Paras mukanya tetap hambar, sama sekali tak tampak perubahan mimik mukanya.

Begitu tenangnya orang itu, sampai Liu Tiang-kay sendiri puri merasa, sepanjang hidupnya belum pernah dia jumpai orang setenang dan sehambar ini

Bagaimana pun juga, dia harus menaruh rasa kagum terhadap orang ini

Ketika Liong Ngo menatap wajahnya, mimik mukanya kelihatan berubah jadi amat sedih, dia merasa sedih karena rasa sayang dan kecewanya terhadap orang itu.

Terdengar Liu Tiang-kay menghela napas panjang, katanya:"Sebetulnya aku tak ingin menaruh curiga kepadamu, sayang aku sudah tak punya pilihan lain"

Lelaki setengah umur berbaju hijau itu meletakkan poci arak ke meja, dia tetap membungkam, melirik sekejap pun tidak. Kembali Liu Tiang-kay berkata:"Sayang orang yang mengetahui rahasia ini selain Liong Ngo, Mong Hui dan aku, adalah kau"

Lelaki setengah umur itu seolah-olah tidak mendengar apa yang dia ucapkan, dia tetap menjalankan tugasnya, memeriksa suhu arak lalu menuang arak dalam teko ke cawan yang tersedia.

Tak setetes arak pun yang tumpah dari dalam cawan. Liu Tiang-kay berkata lagi:"Kusir kereta itu juga tahu kalau aku sedang bekerja untuk Liong Ngo, dia tahu karena orang itu adalah orang kepercayaanmu, mungkin saja rahasia ini bisa diketahui Nyonya rindu karena lewat dia, sebab kau setiap saat setiap waktu harus berada disisi Liong Ngo, kau tak akan mempunyai kesempatan untuk bekerja sendiri" Dua cawan arak telah dipenuhi isinya.

Lelaki setengah umur berbaju hijau itu masih tidak menunjukkan perubahan apapun, dengan tenang dia letakkan poci arak ke meja.

"Hari itu, secara tiba tiba kau muncul diluar rumah petani" kembali Liu Tiang-kay berkata, "hal ini sengaja kau lakukan karena kau memang ingin membunuhnya untuk membungkam mulut orang itu, maka kau selalu mengawasi gerak geriknya, kebetulan kau peroleh alasan yang kuat, maka kusir itu segera kau bungkam mulutnya untuk selamanya"

Lelaki setengah umur itu masih tetap membungkam, dia seolah olah merasa tak sudi untuk mendebat atau menyangkal.

"Oleh karena itu, setelah kupikir bolak balik, rasanya selain kau yang bocorkan rahasia ini, tak akan ada orang lainnya"

Liu Tiang-kaj berhenti sejenak untuk menghela napas panjang, kemudian lanjutnya:"Yang sama sekali tak kusangka adalah manusia macam kau kenapa begitu tega menghianati teman sendiri?" "Dia tak punya teman" tiba tiba Liong Ngo menyela. "Bukankah kau adalah temannya?"

"Bukan"

"Tuan penolongnya?" "Juga bukan"

"Kalau semuanya bukan, kenapa dia selalu mengikutimu macam seorang budak rendah?" tanya Liu Tiang-kay tidak habis mengerti.

"Tahukah kau, siapa dia?" "Aku tidak pasti"

"Tak ada salahnya kau utarakan"

"Dulu, ada seorang enghiong muda yang luar biasa, ketika usia 9 tahun dia mulai bunuh orang, usia 16 tahun nama besarnya sudah menggetarkan dunia persilatan, baru berusia 20-an tahun sudah diangkat menjadi cianbungjin partai Khong-tong-pay, sebuah partai besar diantara tujuh partai

besar lainnya, memiliki ilmu golok yang tiada tandingan hingga disebut orang Thian-he-Tee-it-to (Golok nomor wahid di kolong langit)!"

"Dugaanku tidak keliru, dia memang Chin Liat-hoa"

"Tapi sekarang, dia kelihatan sudah banyak berubah" ucap Liu Tiang-kay sambil menghembuskan napas panjang.

"Ooh, kau tak habis mengerti kenapa seorang enghiong yang jaman dulu amat tersohor dan amat hebat kepandaian silatnya, sekarang berubah macam seorang budak rendah yang selalu mengintilku?"

"Bukan Cuma aku yang tak mengerti, mungkin hampir semua anggota persilatan tidak akan mengerti" "Di kolong langit pun terdapat sejenis manusia yang dapat membuat dia berubah jadi begini"

"Jenis manusia apa?"

"Musuh besar, musuh besarnya"

"Kau adalah musuh besarnya?" Liu Tiang-kay melengak.

Liong Ngo manggut-manggut. Liu Tiang-kay semakin tak habis mengerti.

"Selama hidup, dia pernah tiga kali menderita kekalahan dan semuanya kalah ditanganku, maka dia pun bersumpah hendak membunuhku, tapi rupanya dia pun tahu selama hidup tak ada harapan lagi baginya untuk mengungguli aku"

"Karena kau masih muda dan sedang berada di masa jaya, sementara ilmu silatnya sudah melampaui masa puncak?"

"Betui" Liong Ngo membenarkan, "selain itu, ketika tiga kali kuungguli kemampuannya, aku telah menggunakan tiga jenis ilmu silat yang berbeda satu dengan lainnya, karena itu dia gagal meraba asal usul ilmu silatku"

"Kecuali dia siang malam bisa mengikutimu, selidiki tingkah lakumu kemudian mencari akal untuk menemukan tilik kelemahanmu, kalau tidak, sepanjang hidup dia akan kehilangan kesempatan untuk mengungguli dirimu?"

"Betul!"

"Dan kau pun setuju mengijikan dia mengikuti disampingmu?" Liong Ngo tertawa.

"Kejadian semacam ini kuanggap sebagai satu tantangan yang sangat merangsang dan sangat menegangkan, tak ada kejadian lain yang lebih menegangkan daripada keputusanku ini, kau tahu, kejadian yang menegangkan justru merupakan sebuan kegembiraan dan kenikmatan yang luar biasa" Kecuali jiwanya terancam, memang tak banyak kejadian di dunia ini yang bisa membuat Liong Ngo tegang dan terangsang.

Kembali Liong Ngo berkata:

"Tapi, aku pun punya syarat"

"Syaratmu, dia harus jadi budakmu, jadi pelayanmu?" Sekali lagi Liong Ngo manggut manggut sambil tertawa.

"Siapa yang bisa memaksa Chin Liat-hoa jadi seorang budak? Bukankah kejadian ini susah dibayangkan dengan akal sehat?"

"Maka dari itu, kau anggap peristiwa inipun merupakan sebuah peristiwa yang menyenangkan, menggembirakan hatimu?"

"Tentu saja, apalagi sebelum dia yakin bisa mengungguliku, dia pasti akan berusaha dengan sekuat tenaga untuk melindungi keselamatanku, karena dia tak ingin melihat aku mati ditangan orang lain"

Liu Tiang-kay menghela napas panjang.

"Tapi, bagaimana pun juga, kau tidak seharusnya membiarkan dia tahu rahasia ini"

'Tak ada rahasia yang sengaja kututup tutupi, karena aku percaya dia, dia bukan orang rendah yang suka membongkar rahasia pribadi orang lain"

Memang tak banyak manusia di dunia ini yang bisa percaya seratus persen terhadap sahabatnya, apalagi percaya penuh dengan seorang musuh besarnya? Benar-benar sebuah kejadian yang mustahil.

"Hai, Liong Ngo memang tak malu disebut Liong Ngo" puji Liu Tiang-kay sambil menghela napas, "sayang sekali kau telah salah melihat orang kali ini" Liong Ngo ikut menghela napas, katanya sambil tertawa getir: "Tiap orang memang mustahil tak pernah salah, mungkin selama ini aku menilai dia kelewat tinggi dan menilai kau terlalu rendah"

"Tampaknya dia pun menilai aku terlalu rendah" sambung Liu Tiang-kay sambil tertawa hambar.

"Kecuali aku, dia memang tak pernah pandang sebelah mata pun terhadap orang lain di dunia ini"

Mendadak Chin Liat-hoa mendongakkan kepalanya, meski wajahnya tidak menunjukkan perubahan apapun namun sorot matanya memancarkan cahaya tajam yang menggidikkan hati, sepatah demi sepatah kata ujarnya:

"Kau percaya dengan perkataan orang ini?" "Mau tak mau aku harus percaya"

"Bagus, bagus sekali"

"Jadi kau sudah siap sedia untuk turun tangan?"

"Aku sudah mengamatimu secara seksama selama empat tahun, setiap gerak gerik, setiap sepak terjangmu tak ada yang lolos dari pantauanku" ucap Chin Liat-hoa perlahan.

"Aku tahu"

"Kau memang seseorang yang sukar ditembus, karena kau jarang memberi kesempatan kepada orang lain, kau sangat jarang bergerak"

"Tidak bergerak bukan berarti lumpuh, begitu bergerak akan mengejutkan orang, tenang bagai bukit karang, gerak bagai meteor di angkasa"

Chin Liat-hoa berdiri tenang disitu, dia pun berdiri tegak bagai sebuah bukit karang, ujarnya pelan:

"Semasa muda dulu aku memang kelewat mencolok, kepandaian silatku juga sudah lewat masa puncaknya, apabila aku gagal mengunggulimu sekarang, kesempatan dikemudian hari memang semakin kecil"

"Maka kau bersiap siap untuk turun tangan sekarang?" "Benar"

"Bagus, bagus sekali"

"Pertarungan kali ini merupakan pertarungan kita yang ke empat rasanya juga merupakan pertarungan yang terakhir, bisa empat kali bertarung melawan Liong Ngo, terlepas siapa menang siapa kalah, rasanya aku pun bisa mati dengan mata meram!"

Liong Ngo menghela napas panjang:"Sebetulnya aku tak bermaksud membunuhmu, tapi kali ini. "

"Jika kali ini aku menderita kekalahan lagi, aku pun segan untuk hidup lebih lanjut" tukas Chin Liat-hoa perlahan.

"Bagus, ambillah golokmu sekarang!"

"Setiap perubahan ilmu golokku sudah kau ketahui sejelas jari tangan sendiri, memakai golok bukan berarti aku bisa rnengunggulimu"

"Lantas kau hendak memakai apa?"

"Hampir semua benda yang berada ditanganku bukankah bisa kuubah menjadi senjata pembunuh?" kata Chin Liat-hoa hambar.

Liong Ngo tertawa keras.

"Hahahaha    bisa bertarung empat kali melawanmu, hal

inipun merupakan satu kejadian yang membanggakan!" Tiba tiba suara tertawanya terhenti di tengah jalan.

Menyusui kemudian suasana dalam bilik pun berubah sunyi senyap, sedemikian heningnya sehingga dengus napas setiap orang dapat terdengar sangat jelas. Angin masih berhembus sepoi diluar jendela, menggoyang tangkai bunga seruni dan kuncup bunga yang siap mekar, bunga seruni tak berisik sementara kuncup bunga seolah olah sedang menghela napas.

Dalam suasana yang sejuk menjelang pertengahan musim gugur ini, langit seolah olah berubah jadi dingin membeku bagai tertimpa badai salju di musim dingin yang menggidik.

Chin Liat-hoa menatap Liong Ngo tanpa berkedip, kelopak matanya menyusut, otot hijau pada keningnya pada menonjol keluar, kelihatan jelas kalau ia sudah menghimpun segenap kekuatan yang dimilikinya untuk melancarkan serangan penentuan.

Siapapun dapat melihat, asal dia turun tangan maka serangan tersebut pasti sangat dahsyat dan mengerikan.

Diluar dugaan, dia sama sekali tidak menggunakan kekuatan dahsyatnya, dengan dua jari tangannya yang menjepit sebatang sumpit, dia tusuk beberapa bagian tubuh Liong Ngo dengan satu gerakan sederhana.

Tenaga serangan yang dipersiapkan luar biasa dahsyatnya, tapi jurus serangan yang digunakan ternyata begitu lemah dan lembut, bahkan tenaga untuk merobek selembar kertas pun tak ada.

Namun paras muka Liong Ngo telah berubah amat serius, sentilan sumpit yang nampak sangat ringan itu, dalam pandangan matanya justru jauh lebih berat daripada sebuah bukit Thay-san.

Dia pun segera menjepit sebatang sumpit dan balas melakukan beberapa tutulan ke udara.

Ke dua orang itu saling berhadapan hanya dipisahkan sebuah meja, malah Liong Ngo sama sekali tidak bangkit berdiri, dia masih tetap duduk di posisi semula. Dalam waktu singkat sumpit ditangan ke dua orang itu sudah saling menutul di angkasa, walaupun perubahan gerakan dilakukan sangat cepat, namun tingkah laku mereka berdua tak ubahnya seperti anak anak yang sedang bermain.

Liu Tiang-kay bukan orang bodoh, tentu saja dia tahu, semua gerakan itu bukan permainan kanak kanak.

Kehebatan dan kecepatan gerak perubahan jurus ke dua sumpit itu sulit dilukiskan dengan kata, seakan akan sebuah gulungan ombak di samudra yang susul menyusul, dibalik setiap perubahan seakan akan mengandung beribu perubahan lain, setiap kali menusuk selalu mengandung kekuatan yang sanggup membelah emas.

Dalam pandangan orang lain, pertarungan ini sama sekali tidak menarik dan tidak tegang, namun bagi Liu Tiang-kay, pertarungan im sangat mendebarkan hatinya, dia ikut merasa tegang dan bergidik.

Ilmu golok yang dimiliki Chin Liat-hoa memang tak malu disebut Thian-he-Te-It-to, golok sakti nomor wahid di kolong langit.

Liong Ngo sendiri pun tak malu disebut manusia aneh yang jarang dijumpai dalam seratus tahun terakhir, kehebatan ilmu silatnya boleh dibilang tiada ke duanya di kolong langit.

Mendadak, dua batang sumpit yang sedang bergerak secepat kilat itu menempel satu dengan lainnya.

Paras muka ke dua orang itu berubah makin serius, tak sampai seperminum teh kemudian butiran peluh sebesar kacang kedele telah jatuh bercucuran membasahi jidat mereka.

Tiba tiba Liu Tiang-kay menjumpai pembaringan yang diduduki Liong Ngo sudah terperosok ke bawah, begitu juga dengan sepasang kaki Chin Liat-hoa. Jelas ke dua orang im sama-sama sudah mengerahkan segenap tenaga yang dimiliki, tak seorang pun bisa bayangkan betapa menakutkan dan mengerikannya kekuatan semacam itu.

Yang aneh justru pada sepasang sumpit mereka yang saling menempel, sumpit bambu yang seharusnya mudah patah itu, saat ini justru telah berubah jadi sangat lembek dan lunak.

Tak selang berapa saat kemudian, sumpit yang berada dalam genggaman Chin Liat-hoa tiba tiba melengkung ke bawah, sementara peluh yang bercucuran membasahi jidatnya bertambah deras, tak lama kemudian dia lepas tangan, sekujur tubuhnya jatuh terpental ke belakang, "blaam!" diiringi suara benturan keras, badannya menumbuk diatas dinding ruangan.

Dinding itu terbuat dari batu bata yang keras, tapi sekarang tak mampu menahan tumbukan badannya, dinding itu segera jebol dan muncul sebuah lubang yang amat besar.

Ketika tubuhnya roboh terjungkal, kucuran darah segar segera menyembur keluar dari mulutnya, bahkan dengus napas pun seakan-akan ikut terhenti.

Liong Ngo sendiri roboh diatas pembaringannya, sepasang matanya terpejam rapat, paras mukanya pucat pias bagai mayat, saking lelah dan lemahnya dia sampai tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun.

Pada saat inilah Liu Tiang-kay turun tangan dengan kecepatan luar biasa.

Cakar tangannya menyambar ke udara lalu bergerak ke bawah dengan kecepatan tinggi, bagai sambaran petir dia cengkeram pergelangan tangan Liong Ngo.

Berubah hebat paras muka Liong Ngo, namun dia sama sekali tidak membuka matanya. Mong Hui tampak terhenyak, baru saja dia akan menerjang masuk ke dalam bilik melalui lubang diatas dinding ruangan, tiba tiba dari luar muncul seseorang dan langsung melepaskan sebuah pukulan tinju yang-membuat tubuhnya kontan roboh terjungkal.

Si singa jantan Lan Thian-bong.

Ternyata orang yang meninju Mong Hui hingga roboh adalah Lan Thian-bong.

Paras muka Liong Ngo putih memucat, begitu pucatnya seperti sama sekali tak ada aliran darah.

Liu Tiang-kay bukan saja telah cengkeram urat nadi pada pergelangan tangannya, secepat kilat dia pun sudah menotok tiga belas buah jalan darah di tubuhnya.

Liong Ngo masih pejamkan matanya, tiba tiba dia berkata sambil menghela napas panjang:"Ternyata aku bukan saja kelewat pandang rendah dirimu, aku pun telah salah menilai watakmu"

"Tak ada manusia yang bisa terhindar dari kesalahan, apalagi kau pun manusia" sahut Liu Tiang-kay hambar.

"Apakah aku pun telah salah menuduh Chin Liat-hoa?" "Mungkin itulah kesalahanmu yang terbesar"

"Kau sudah tahu siapakah dia, juga tahu dia tak akan membiarkan aku terjatuh ke tangan orang lain, karena itu bila ingin menangkapku, kau harus gunakan kekuatanku untuk singkirkan dirinya terlebih dulu"

"Terus terang, aku memang agak segan berhadapan dengannya, tapi yang paling kusegani sesungguhnya adalah kau sendiri"

"Karena itu kau pun menggunakan kekuatannya untuk menghabisi kekuatanku terlebih dulu?" "Bila dua ekor bangau saling berebut, nelayan lah yang paling diuntungkan, siasat yang kugunakan memang siasat satu batu dua burung"

"Racun yang berada dalam obat itu juga hasil karya mu?" kembali

Liong Ngo bertanya.

"Tidak! aku tak ingin diperalat orang lain, terlebih tak ingin menjadi alatnya Ciu Heng-po, aku akan menggunakan sepasang tanganku sendiri untuk menangkap hidup hidup kau si naga sakti"

"Apakah kau adalah anak buah Ciu Heng-po?" "Bukan"

"Diantara kita ada dendam kesumat?" "Tidak ada"

"Lalu apa sebabnya kau lakukan hal ini?"

"Aku mendapat pesan dari Oh Lip, Oh lo tay-ya untuk menangkap kau dalam keadaan hidup hidup, agar berapa kasus pencurian dan perampokan bisa segera terungkap"

"Kasus kriminil apa yang telah kulakukan?" "Seharusnya kau lebih jelas daripada aku"

Liong Ngo menghela napas, bukan saja dia sudah pejamkan sepasang matanya, dia pun menutup rapat mulutnya.

"Bukan baru satu dua hari ini para opas dari enam puluh tiga propinsi baik di utara maupun selatan sungai besar ingin menangkapmu, apa lacur semua orang tahu bahwa menangkapmu bukan satu pekerjaan yang mudah, termasuk aku sendiri pun tidak yakin bisa berhasil, oleh karena itu aku harus membuat kau percaya dulu seratus persen kepadaku. Itulah sebabnya barusan aku turun tangan menolongmu" "Perkataanmu sudah lebih dari cukup" tukas Liong Ngo ketus.

"Kau tak ingin dengarkan lebih lanjut?"

Liong Ngo tidak menjawab, dia hanya tertawa dingin. "Kelihatannya kau sudah malas memandangku lagi?" kata

Liu Tiang-kay setengah mengejek.

"Yang tak ingin dilihat bukan kau, tapi aku" tiba tiba Lan Thian-bong menyela.

"Betul" sahut Liong Ngo, "memandang manusia rendah yang lupa budi dan tak ingat kebaikan orang macam kau hanya akan mengotori sepasang mata ku saja"

"Kau keliru besar" Lan Thian-bong menghela napas panjang, "aku turun tangan terhadapmu bukan lantaran lupa budi atau lupa kebaikan orang, tapi ingin menegakkan keadilan dan kebenaran dengan mengorbankan orang terdekat"

"Kau pun anak buah Oh Lip?" tak tahan Liong Ngo bertanya.

Lan Thian-bong manggut manggut, kepada Liu Tiang-kay serunya:"Apakah kau pun tidak menyangka?"

Liu Tiang-kay memang sama sekali tak menyangka.

"Tapi aku sudah tahu asal usulmu sejak awal" sambung Lan Thian-bong lagi.

"Sejak awal kau sudah tahu?" Liu Tiang-kay menegaskan. "Sebelum kedatanganmu, Oh Lip sudah berpesan untuk baik baik menjagamu"

"Kau memang menjaga ku kelewat baik" Liu Tiang-kay tertawa getir.

Lan Thian-bong menghela napas panjang, ujarnya: "Tempo hari, aku memang kelewat keras menghajarmu, tapi aku sendiripun terpaksa harus berbuat begitu, sebab aku tak boleh membiarkan dia menaruh curiga, aku yakin kau pasti bisa memahami kesulitanku bukan?"

"Tentu saja aku mengerti"

"Aku tahu, kau pasti tak akan salahkan aku" kata Lan Thian-bong lagi sambil tertawa.

"Aku tak pernah salahkan kau"

Sambil tersenyum dia ulurkan tangannya dan berkata lebih lanjut:

"Kita semua berasal dari satu keluarga, apalagi sama sama demi urusan dinas, sekalipun gebukanmu lebih keras lagi juga tak menjadi soal, kita masih tetap bersahabat"

"Hahaha   bagus, bagus sekali, aku suka berteman

dengan manusia macam kau" sahut Lan Thian-bong sambil tertawa tergelak.

Sambil tertawa dia ulurkan tangannya juga untuk berjabatan tangan dengan Liu Tiang-kay, tapi suara tertawanya tiba tiba berhenti setengah jalan, paras mukanya mengejang keras, dia sudah mendengar suara tulang belulang yang sedang remuk.

Hanya didalam waktu singkat, Liu Tiang-kay telah mematahkan pergelangan tangannya dan meninju persis diatas batang hidungnya.

Semuanya ini dapat berlangsung dengan lancar bukan saja karena dia sama sekali tak waspada, hal ini juga disebabkan gerak serangan yang digunakan Liu Tiang-kay kelewat cepat dan kelewat hebat.

Begitu batang hidungnya tertonjok telak, kakek tua bagai singa jantan ini segera roboh terjengkang ke atas tanah. Liu Tiang-kay tidak berhenti sampai disitu saja, kembali kepalan tinju nya menghantam dada serta sepasang bahunya secara bertubi tubi, dengan senyum dikulum katanya:

"Kau menghajarku, aku tak salahkan kau, sekarang aku menghajar dirimu, seharusnya kau pun tak menyalahkan aku bukan? Sekalipun hajaranku kali ini jauh lebih berat daripada pukulanmu tempo hari, aku tahu, kau pun pasti tak masuk kan ke dalam hati"

Lan Thian-bong sudah tak mampu buka suara lagi.

Dia mesti menggertak gigi kuat kuat agar tak sampai menjerit kesakitan, ketika dia menghajar Liu Tiang-kay tempo hari, anak muda itupun tak pernah berteriak kesakitan apalagi minta ampun.

Sepasang mata Liong Ngo meski masih terpejam rapat, sekulum senyuman telah menghiasi ujung bibirnya.

Dia bukan saja sahabat karib Lan Thian-bong, juga terhitung tuan penolong Lan Thian-bong, tapi kenyataannya, Lan Thian-bong telah menghianatinya.

Orang yang lupa budi, membalas air susu dengan air tuba, sudah sepantasnya memperoleh hukuman yang setimpal.

Sekarang Lan Thian-bong telah mendapatkan hukumannya yang setimpal.

Setiap kepalan tinju Liu Tiang-kay yang menghajar tubuh Lan Thian-bong, seolah olah merupakan kepalan tinju dari Liong Ngo.

Yang terdengar dalam ruangan itu hanya dengusan napas yang tersengkal sengkal.

Ketika Liu Tiang-kay menghentikan hajarannya, Lan Thian- bong sudah bukan merupakan singa jantan lagi, dia sudah dihajar macam seekor anjing gelandangan. "Orang yang berhutang kepadaku, kini sudah kutagih lunas" ujar Liu Tiang-kay kemudian sambil mengelus tinju nya, sinar aneh memancar dari balik matanya, "sekarang giliran aku membayar hutang"

"Kau berhutang kepada siapa?" tiba tiba Liong Ngo bertanya.

"Tak mungkin manusia bisa hidup seorang diri di dunia ini, selama manusia masih hidup, dia pasti pernah menerima budi kebaikan orang lain"

"Oya?"

"Begitu juga dengan dirimu, kau pun butuh makan, butuh orang lain menanamkan padi untukmu, ketika kau lahir, orang lain juga yang membantu menerima badanmu, bila tak ada budi kebaikan orang lain, tak mungkin kau bisa hidup hingga hari ini, bahkan mungkin hanya hidup saru hari pun tak sanggup"

"Oleh karena itu setiap orang pasti pernah berhutang?" sambung Liong Ngo.

Liu Tiang-kay manggut manggut.

"Kau mampu membayar semua hutang itu?"

"Tentu saja sulit untuk membayar lunas semua hutang tersebut, tapi, asal kau bisa melakukan beberapa perbuatan baik bagi orang lain sepanjang kau masih hidup di dunia ini, kau sudah dianggap telah membayar hutang hutang itu"

Liong Ngo tidak menjawab, dia hanya tertawa dingin.

Tiba tiba Liu Tiang-kay bertanyar ”Tahukah kau, sudah berapa lama Oh Lip ingin bertemu dengan dirimu?"

"Aku pun bukan satu dua hari ini pingin bertemu dengannya" tukas Liong Ngo sambil tertawa dingin. Liu Tiang-kay menghela napas panjang, tiba tiba ujarnya:"Kalian berdua memang sama sama merupakan orang yang paling susah dijumpai, memang bukan pekerjaan yang gampang untuk mempertemukan kalian berdua"

Kembali dia menghela napas panjang.

Dalam hati kecilnya, memang terdapat banyak masalah yang membuatnya masgul dan murung.

Sekali lagi Liong Ngo pejamkan matanya sambil menghela napas panjang, katanya:

"Sejak awal sudah kuperhitungkan, cepat atau lambat akhirnya kami pasti akan bertemu juga, tapi aku tidak mengira kami akan berjumpa dalam situasi seperti ini"

"Memang banyak kejadian yang sama sekali tak terduga di dunia ini" sela Liu Tiang-kay.

Kemudian sambil menarik bangun Liong Ngo, katanya lebih jauh: "Tentunya kau pun tak mengira bukan akan terjadi peristiwa seperti

saat ini? Yaa, sebab kau memang bukan Naga sakti yang sebenarnya, kau sendiri pun tak lebih hanya seorang manusia biasa"

-ooo0d0w0ooo-