Tujuh Pembunuh Bab 5 Rindu membuat tua

Bab 5 Rindu membuat tua

Seluruh bangunan ramah makan masih bermandikan cahaya lentera.

Dua orang pelayan yang baru datang sedang sibuk mengatur mangkuk dan sumpit, sementara tujuh orang nona yang berdandan menor itu sedang duduk santai diatas sebuah bangku panjang, ada yang sedang bergurau, ada yang sedang berbisik bisik, ada pula yang sedang melamun.

Orang yang mau membongkar bangunan belum datang, yang datang justru Liu Tiang-Kay, Khong Lan-kun anjurkan dia jangan bertindak ceroboh, jangan mendatangi tempat itu.

Tapi dia justru datang. Dia memang selalu bekerja sesuai dengan cara dan prinsip sendiri.

Melihat dia berjalan masuk, setiap orang nampak tertegun, seakas akan mereka sudah tahu, orang ini bukan orang yang sedang mereka tunggu.

Kecuali orang yang sedang mereka tunggu, seharusnya orang lain tak akan datang ke situ.

Liu Tiang-Kay seperti sama sekali tak menyadari hal itu, dia masih melangkah masuk dengan santainya lalu duduk persis dibelakang meja dimana sumpit dan mangkuk baru saja disiapkan.

"Siapkan dulu empat macam Leng-ban, lalu empat macam gorengan ditambah lima kati arak "Ka-Pan"

Arak "Ka-Pan" merupakan arak kenamaan di kota Hang-Ciu, menurut orang yang pengalaman minum, konon arak ini jauh lebih mantap ketimbang arak "Kao-Liang".

Kedua orang pelayan im masih berdiri dengan wajah tertegun, mereka tak tahu apa baik menuangkan arak atau lebih baik sama sekali tidak.

Rumah makan itu bukan rumah makan biasa, tapi Liu Tiang-kay telah bersikeras menganggap tempat itu sebagai rumah makan biasa, malahan dia sudah menggapai ke arah tujuh orang nona itu dan berseru sambil tersenyum:"Cepat kemari, semuanya saja kemari, ayoh temani aku minum, kalau orang lelaki sedang minum, tanpa ditemani perempuan rasanya seperti hidangan tak diberi garam"

Ke tujuh orang nona itu melongo, mereka ikut tertegun dan saling berpandangan tanpa mengetahui apa yang mesti diperbuat.

"Hei, aku toh bukan harimau yang suka terkam manusia" teriak Liu Tiang-kay lagi, "apa yang kalian takuti? Ayoh cepat kemari!" Tiba tiba terdengar suara tertawa cekikian yang sangat merdu bergema datang, menyusul kemudian seseorang berseru manja:"Aku datang!"

Ketika pertama kali suara tertawa itu bergema, suara itu masih datang dari suatu tempat yang jauh dari pintu gerbang, namun ketika setatal mengucapkan dua patah kata itu, orang tersebut sudah tiba didepan mata.

Terasa segulung angin tajam berhembus lewat, tampak setolok bayangan manusia meluncur masuk dengan kecepatan tinggi dan tahu tahu sudah duduk di samping Liu Tiang-kay.

Yang muncul tentu saja seorang wanita, bahkan seorang wanita yang amat cantik, bukan saja cantik malahan amat genit, terutama sepasang matanya, sedemikian genitnya seolah olah sorot matanya dapat menembus hingga ke tulang sumsum.

Terserah kau hendak memandang dari mana, dari atas, dari bawah, dari kiri, dari kanan, mulai ujung rambut hingga ke ujung kaki semuanya berbau wanita asli, setiap inci setiap depa bagian tubuhnya seratus persen wanita tulen.

Liu tiang-kay memandangnya sekejap, tiba tiba ujarnya sambil tertawa:"Aku pingin perempuan yang menemani aku minum arak"

"Masa kau tak bisa melihat, aku toh wanita?" seru perempuan itu sambil tertawa genit.

"Kenapa aku tidak melihatnya?"

"Bagaimana caranya agar kau bisa melihat lebih jelas?" "Asal kau mau lucuti semua pakaianmu dan berdiri

telanjang bulat di hadapanku, mungkin aku bisa periksa asli tidaknya kau sebagai wanita"

Berubah hebat paras muka perempuan itu, tapi kembali dia tertawa cekikikan. Terdengar seseorang berseru dari luar pintu:"Kelihatannya sahabat ini sangat berpengalaman soal wanita, tak mungkin perempuan gadungan bisa mengelabuhinya"

Bersamaan dengan selesainya perkataan itu, tiba tiba dalam ruang rumah makan telah bertambah dengan lima orang manusia.

Orang pertama berwajah pucat, berdandan perlente, kumis maupun jenggotnya kelimis karena tercukur licin, dia adalah seorang lelaki setengah baya dengan ujung mata mulai keriputan, dia tak lain adalah si Jay-hoa-cat Iong Kim.

Orang ke dua adalah seorang hwesio setegap pagoda besi, tentu saja dialah Tiat hwesio.

Si meteor setan Tam It-hui dan si pengait sukma lo-Tio adalah orang tua yang kurus lagi penyakitan, wajah mereka tiga puluh persen membawa hawa setan, tujuh puluh persen mengandung hawa pembunuhan.

Yang sama sekali tak diduga Liu Tiang-kay adalah si anjing gila Li, ternyata orang itu hanya seorang anak muda yang bertampang jujur, hanya sayang wajahnya penuh bekas luka, telinga nya juga tinggal separuh.

Dugaan Oh Gwat-ji ternyata sangat tepat, satu pun tak ada yang salah tebak.

Tiba tiba Liu Tiang-kay teringat satu hal, mengapa yang dijelaskan nona itu hanya enam orang, bukan tujuh orang seperti yang didengar? Dan sekarang, kenapa yang muncul pun hanya enam orang? Masih ada satu lagi, siapakah dia? Mengapa Oh Gwat-ji tidak menjelaskan?

Mengapa orang yang tak disebut namanya juga tidak muncul malam ini?

Dari ke lima orang itu, hanya wajah Tong Kim yang selalu dihiasi senyuman, orang yang barusan bicara pun tak lain adalah dia. Liu Tiang-Kay ikut tertawa. "Pengalaman anda dalam hal perempuan tentunya jauh lebih hebat dar pengalamanku?" katanya.

"Jadi kau kenal aku?"

"Kalau tidak kenal, darimana aku bisa tahu kalau pengalaman anda dalam hal perempuan jauh lebih matang dan hebat ketimbang aku?'

Berubah hebat paras muka Tong Kim, bentaknya:"Jadi kau datang untuk mencari aku?"

"Aku datang untuk minum arak"

"Khusus datang kemari untuk minum arak?" "Benar"

"Dibawah bukit sana banyak terdapat warung makan, rumah makan pun beribu ribu banyaknya, mengapa kau khusus datang kemari untuK minum arak?"

"Aku senang tempat ini, selain rumah makan ini baru dibuka kebetulan aku termasuk orang yang bosan dengan teman lama senang mencari sahabat baru"

"Sayang" tiba tiba Tiat hwesio menyela, "kebetulan aku termasuk orang yang justru paling benci ketemu sahabat baru"

"Lalu apa yang kau sukai?"

"Aku suka membunuh orang, terutama membunuh orang yang bosan dengan teman lama senang mencari sahabat baru semacam kau!"

Pada dasarnya hwesio ini bertampang menyeramkan, selain alis matanya tebal dengan mata yang bengis, kulit wajahnya pun kasar dan penuh bopeng sehingga ketika berubah paras mukanya sekarang, hawa napsu membunuh yang terpancar keluar dari balik matanya kelihatan semakin menyeramkan. Liu Tiang-kay masih tertawa, ujarnya sambil tersenyum: "Kalau begitu, kau pasti senang bila dapat membunuhku?"

'Tepat sekali dugaanmu"

"Lantas kenapa tidak segera kemari untuk membunuhku?" Tiat hwesio segera maju mendekat dengan langkah lebar.

Seluruh tubuhnya seolah-olah terbuat dari baja yang tebal dan kuat, ini membuat gayanya sewaktu berjalan persis seperti seekor gorilla.

Ayunan kakinya juga sangat berat tapi mantap, setiap langkah selalu meninggalkan bekas kaki yang sangat dalam di atas permukaan tanah.

Kesemuanya ini membuktikan kalau ilmu gwakang yang dimiliki sudah mencapai tingkat sempurna, mungkin saja ilmu cap-sah-tay-po miliknya juga sudah mencapai taraf yang luar biasa sehingga badan jadi kebal dan tak mungkin terluka oleh bacokan senjata.

Liu Tiang-Kay tetap berdiri dengan tangan kosong, jangan lagi senjata golok, biar pisau sayur pun tidak membawa.

Tong Kim memandang ke arahnya, mimik wajah yang ditampilkan sangat aneh, seakan dia sedang melihat seseorang yang sudah mati.

Sementara para nona berdandan menor itu sudah dibikin panik, mereka berlarian ketakutan, badannya gemetar keras, bahkan sudah ada yang terkencing-kencing.

Berjalan empat-lima langkah, mendadak seluruh ruas tulang tubuh Tiat hweesio mulai gemerurukan menimbulkan suara nyaring.

Namun dia belum sempat turun tangan, karena saat itulah tiba tiba si bocah muda yang bertampang jujur itu sudah menerkam ke arah Liu Tiang-kay. Sepasang matanya sudah memancarkan cahaya darah yang berapi api, mulutnya dipentang lebar hingga nampak sebaris giginya yang putih dan runcing, tampangnya saat itu tak ubahnya seperti seekor anjing gila yang sedang kelaparan dan siap menggigit tenggorokan Liu Tiang-kay.

Liu Tiang-Kay seolah olah tidak melihat, dia sama sekali tak bergerak.

Dalam waktu singkat dia sudah berada disisi Liu Tiang-kay, sepasang tangannya secepat kilat mencekik tengkuk pemuda itu.

"Kraaakkk!" terdengar suara aneh bergema di udara.

Liu Tiang-kay masih duduk dalam posisi semula, dia tak bergerak.

Anjing gila Li juga tak bergerak, sepasang tangannya masih mencekik di tengkuk Liu Tiang-kay, tapi batok kepalanya tiba tiba tertunduk lemas ke depan, sepasang biji matanya menonjol keluar, wajahnya menunjukkan mimik muka yang sangat aneh.

Menyusul kemudian semburan darah segar memancar keluar dari mulutnya.

Darah itu sama sekali tidak menyembur ke atas badan Liu Tiang-kay.

Dengan satu gerakan yang cepat tapi gesit seperti ikan yang berenang di kolam, tahu tahu tubuhnya sudah melesat lewat melalui sisi tubuh perempuan gadungan itu.

Ketika tubuh si anjing gila Li roboh ke lantai, badannya persis roboh di atas badan perempuan gadungan itu.

Ternyata perempuan gadungan itu tidak menghindar, dia ikut roboh terjungkal ke tanah, sementara wajahnya ikut memperlihatkan perubahan mimik muka yang sangat aneh dan tak terlukis dengan kata. sepasang mata genitnya sudah melompat keluar dari kelopak matanya dan bergelantungan persis seperti mata ikan.

Ke dua orang im saling berhadapan, wajah ketemu wajah, mati ketemu mata, namun tubuh mereka sama sekali tak bergerak.

Tak selang berapa saat kemudian, tubuh ke dua orang itu sudah dingin membeku, sudah kaku dan tak bernapas.

Pucat pias wajah Tong Kim bagai mayat, dia tahu, ke dua orang rekannya sudah putus nyawa.

Anehnya, dia tak melihat Liu Tiang-kay turun tangan.

Tak seorang pun menyaksikan Liu Tiang-kay turun tangan.

Ketika membunuh, tampaknya dia memang tak perlu melakukan sesuatu gerakan.

Tiat hwesio telah menghentikan langkahnya, diantara otot otot hija yang menonjol pada kening dan jidatnya, peluh dingin jatuh bercucuran.

Dia amat senang membunuh, juga sangat mengerti bagaimana cara membunuh.

Oleh karena itulah dia merasa jauh lebih takut, jauh lebih ngeri dan jauh lebih seram ketimbang orang lain.

Liu Tiang-kay menghela napas, katanya pelan:"Sudah kubilang, aku tak ingin membunuh, aku datang untuk minum arak"

"Tapi dalam waktu singkat kau telah membunuh dua orang" seru Tong Kim.

"Aku tak ingin membunuh, justru mereka yang ingin membunuhku, orang mati tak mungkin bisa minum arak bukan?"

"Baik, minum arak" tiba tiba si Pengait sukma Tio tua berseru, "biar aku yang menemani minum" Sebuah poci arak tersedia di atas meja.

Si Pengait sukma Tio tua menuang dulu secawan arak untuk diri sendiri, kemudian menuang untuk Liu Tiang-kay, setelah itu katanya sambil mengangkat cawan:

"Silahkan!"

Dia meneguk habis lebih dulu arak dalam cawannya. Dua cawan arak keluar dari sebuah poci arak yang sama.

Liu Tiang-kay memandang cawan arak dihadapannya sekejap, kemudian katanya sambil tertawa:"Aku khusus kemari untuk minum arak, aku tak ingin hanya minum secawan"

"Selesai menghabiskan cawan arak itu, kau boleh minum lagi'"

"Tak mungkin, jika kuhabiskan arak dalam cawan itu, selama nya aku tak akan punya kesempatan untuk minum arak yang kedua"

"Kau menuduh dalam arak itu ada racunnya?" teriak si Pengait sukma Tio tua sambil tertawa dingin.

"Sebenarnya arak itu tak beracun, racunnya keluar dari kuku jari tanganmu"

Berubah hebat paras muka si Pengait sukma.

Sewaktu menuang arak untuk Liu Tiang-kay tadi. diam diam dia telah menyentil kuku jarinya, gerakan tangannya lincah, ringan dan cekatan, kecuali dia sendiri, tak mungkin orang lain akan mengetahuinya.

Tapi Liu Tiang-kay tahu.

Sambil memandangnya dan tersenyum, ujarnya:"Arak yang kau minum tadi sebenarnya juga tak beracun"

"Sekarang?" tak tahan si Pengait sukma Tio tua bertanya. "Sekarang apakah beracun atau tidak, seharusnya hati kecilmu yang tahu lebih jelas"

Mendadak paras muka si Pengait sukma Tio tua berubah jadi hitam gosong, dia melompat bangun kemudian teriaknya keras:"Ka kapan kau turun tangan? Kenapa bisa beracun?"

"Sudah kuduga cawan arak mana yang bakal kau gunakan, maka sewaktu kau mengambil arak, diam diam kumasukkan racun ke dalam cawan, cara ini sebenarnya sangat sederhana, aku percaya kau pun pasti bisa menggunakamrya"

Si Pengait sukma Tio tua tak sempat buka suara lagi, tenggorokannya terasa sakit dan mengencang seakan akan sedang dijirat dengan seutas tali besar yang tak berwujud.

Menyusul kemudian napasnya terputus di tengah jalan, ketika roboh ke lantai, seluruh badannya mengejang kaku.

Kembali Liu Tiang-kay menghela napas panjang:"Hei!

Sebetulnya aku tak suka membunuh, tapi sekarang, aku telah membunuh tiga orang, padahal orang yang selalu gembar gembor mengatakan senang membunuh, saat ini justru berdiri tak berkutik"

Tiat hwesio tak mengucapkan sepatah kata pun, tiba tiba dia membalikkan badannya dan kabur meninggalkan tempat itu dengan langkah lebar.

Apa yang dikatakan Oh Gwat-ji ternyata sangat tepat.

Orang yang senang membunuh, kadangkala merupakan orang yang paling takut mampus.

Perkataan Liu Tiang-kay juga tidak keliru.

Justru lantaran takut mati, maka hwesio ini sengaja melatih ilmu kebal yang tahan bacokan.

Ketika menjumpai ada orang lain bisa mencabut nyawa tanpa harus menggunakan senjata, maka dialah orang pertama yang kabur paling cepat. Si meteor setan tak kalah cepatnya melarikan diri dari situ.

Dalam kenyataan, gerakan kaburnya ketika itu boleh dibilang jauh lebih cepat daripada gerakan meteor meluncur di angkasa bebas.

Tong Kim tidak kabur.

Liu Tiang-kay mengawasinya, lalu sambil tersenyum berkata:"Apakah kau juga pingin menjajal kemampuanku?"

Tiba tiba Tong Kim tertawa.

"Aku datang kemari bukan untuk membunuh, akupun datang untuk minum arak"

"Bagus sekali"

"Aku terhitung orang yang sangat berpengalaman soal wanita, akupun termasuk orang yang bosan yang lama, senang yang baru"

"Sangat bagus"

"Berarti kita berdua satu aliran, satu kesenangan dan satu kemauan, apa salahnya kita duduk sebagai teman dan minum arak bersama"

Sambil tersenyum dia berjalan mendekat, duduk dan berkata lebih lanjut:

"Apalagi disini bukan saja tersedia arak, juga ada wanita" "Betul, persediaan arak di sini cukup bagi kita berdua untuk

diminum sampai puas" Liu Tiang-kay manggut manggut.

"Stock perempuan pun berlebihan, cukup untuk memuaskan kita berdua"

"Stok perempuannya tidak cukup" "Tidak cukup?"

"Biarpun persediaan perempuan di tempat ini sangat banyak, sayang mereka semua kurang cantik" "Ooh, rupanya seleramu jauh lebih tinggi ketimbang seleraku" Tong Kim tertawa tergelak.

"Terus terang, perempuan perempuan ini tidak termasuk jelek, hanya sayang belum cukup untuk membuatku sakit rindu "

Senyuman yang semula menghiasi wajah Tong Kim tiba tiba membeku, dengan perasaan terkesiap dia awasi Liu Tiang-kay tanpa berkedip, bahkan jauh lebih kaget ketimbang sewaktu melihat Liu Tiang-kay membunuh tanpa menggerakkan tangan tadi.

Akhirnya dia paham dengan niat Liu Tiang-kay yang sesungguhnya, tapi dia tak menyangka begitu besar nyali yang dimiliki orang ini.

Liu Tiang-kay tidak bicara lagi, dia ambil sumpit dari meja, lalu mulai memukul cawan sambil bersenandung:

"Jangan bilang tak ada rindu. Rindu membuat orang cepat tua. Setelah dipikir berulang-ulang.

Lebih enak merasa rindu,

Lebih enak merasa rindu "

Tong Kim menarik napas panjang-panjang, setelah tertawa paksa katanya:"Jadi kedatangan anda khusus hendak mencari si pembawa rindu"

"Apakah ada yang lebih indah di dunia ini selain si pembawa rindu?" Liu Tiang-kay balik tanya sambil menghela napas.

"Yaa, memang tak ada" "Tentu saja tak ada" Berputar biji mata Tong Kim, sembari tertawa licik katanya: "Sebelum nya, akupun ingin bersenandung untukmu, maukah kau menikmatinya?"

"Sebenarnya mendengar orang lelaki bersenandung itu sangat memuak kan" sahut Liu Tiang-kay sambil menghela napas lagi, "sayang mulut iUi tumbuh diwajahmu, jika kau tetap ingin bernyanyi, nyanyilah!"

Tong Kim benar benar mulai bersenandung: "Jangan bilang tak ada rindu.

Rindu membuat orang cepat tua, Orang tua tentu akan mampus, Kalau mampus, itu baru menderita"

"Tidak merdu, tidak merdu" Liu Tiang-kay segera menggeleng berulang kali.

"Biarpun suara nyanyianku tidak merdu, tapi itulah kata yang jujur"

"Betul, perkataan jujur memang biasanya tak merdu" ternyata Liu Tiang-kay sependapat.

"Si pembawa rindu yang sedang kau cari, bukan saja bikin orang cepat tua, bahkan tuanya sangat cepat karena itu matinya juga lebih cepat"

"Kau takut mampus?"

"Siapa manusia di dunia ini yang tak takut mampus?" "Aku!"

Ditatapnya wajah Tong Kim tak berkedip, kemudian lanjutnya dengan suara dingin: "Oleh karena kau takut mati sedang aku tidak, maka kau harus membawaku ke sana"

"Membawa mu ke mana?" Tong Kim berlagak pilon. "Mencari si pembawa rindu" "Kalau aku pun tak tahu di mana ia berada?“ Tanya Tong Kim sambil tertawa paksa.

"Berarti selamanya kau tak akan tua"

Sekarang Tong Kim tak bisa tertawa lagi, pura pura tertawa pun tak sanggup.

Tentu saja dia sangat paham dengan perkataan Liu Tiang- kay, hanya orang mati yang selamanya tak akan tua.

Liu Tiang-kay masih menatap wajahnya, kembali dia berkata:"Konon kalian bertugas sebagai penjaga di sebuah gua rahasia, kini kalian semua datang kemari, berarti dia pasti berada dalam gua itu untuk menggantikan kalian, jadi, kau pasti dapat menemukan dirinya"

Sekarang, Tong Kim ingin menyangkal pun sudah tak bisa menyangkal lagi.

"Kau ingin mampus?" tanya Liu Tiang-kay. Tong Kim menggeleng.

Selesai meneguk habis isi cawannya, kembali Liu Tiang-kay berkata: "Lalu apa yang kau pikirkan?"

"Pingin kau mampus!"

Tiba tiba tubuhnya berjumpalitan di tengah udara, selapis pasir terbang diiringi gulungan angin topan menggulung ke arah Liu Tiang-kay.

Inilah pasir beracun yang sangat mematikan dari perguruan keluarga Tong.

Liu Tiang-kay sama sekali tidak menghindar, mendadak dia pentang mulutnya dan menyembur ke udara: selapis cahaya perak memancar keluar dari mulutnya menyongsong datangnya pasir terbang itu, cahaya perak tersebut tak lain adalah arak yang baru diteguknya. Dalam sekejap mata, gulungan pasir terbang yang menyelimuti angkasa itu sudah tergulung ke samping, berhamburan diatas dinding bangunan yang baru selesai dilabur, beribu ribu butir pasir terbang yang lebih kecil dari wijen itu menancap semuanya diatas tembok.

Kembali paras muka Tong Kim berubah hebat, belum pernah terbayang olehnya sebelum ini kalau ada orang memiliki kekuatan sedemikian dahsyatnya.

Liu Tiang-kay tersenyum, ujarnya:"Arak ini bernama Kou- ciu-kou, disebut juga si Penyapu kemurungan, ada kalanya bisa juga dipakai untuk menyapu pasir beracun"

Tong Kim tertawa getir.

"Sungguh tak kusangka, minum arak pun punya banyak kegunaan ”

"Makanya, jadi orang tak boleh tak minum arak" "Aku minum"

"Tapi sayang orang mati tak bisa minum!" "Aku tahu"

"Lantas apa lagi yang kau pikirkan sekarang?"

"Aku sedang berpikir, bagaimana caranya agar cepat cepat mengajakmu ke sana"

Liu Tiang-kay segera tertawa tergelak.

"Hahaha sengaja aku memilih kau karena sejak awal

aku sudah tahu, kau memang orang yang pintar, aku paling suka berhubungan dengan orang pintar"

"Makanya orang pinrar selalu banyak menghadapi persoalan dan kesulitan" Tong Kim menghela napas.

"Paling tidak, enakan punya masalah dan kesulitan ketimbang sama sekali tak ada" "Kenapa?"

"Karena di dunia ini, hanya orang mati yang benar benar tak punya masalah"

Rindu termasuk salah satu masalah, itulah sebabnya gampang bikin orang cepat tua.

Tapi, bila kau pikirkan lebih dalam, mau berpikir lebih seksama, maka kau segera akan tahu bahwa jadi orang, lebih baik masih bisa merasakan rindu daripada sama sekali tak tahu apa arti sebuah kerinduan.

0-d-0-w-0

Asal ada gunung, tentu ada gua.

Ada gua berbentuk besar, ada gua berbentuk kecil, ada gua yang indah, ada gua yang sangat curam dan berbahaya, ada juga gua yang bentuknya persis lubang hidung. Gua gua semacam ini, gampang sekali dilihat dan gampang ditemukan oleh siapa pun.

Tapi ada juga gua yang bentuknya seperti pusar seorang gadis perawan, walaupun semua orang tahu akan keberadaannya, bukan berarti setiap orang dapat menemukan dan melihatnya secara bebas.

Gua ini, bentuknya jauh lebih misterius dan rahasia ketimbang pusar seorang gadis perawan.

Sesudah mengitari enam tujuh buah tebing tinggi, merangkak naik di enam tujuh buah dinding curam, akhirnya tibalah mereka di bawah sebuah lembah.

Sekeliling lembah merupakan dinding bukit yang tinggi menjulang ke wigkasa, dikelilingi jurang yang tak nampak dasarnya, persis dihadapannya merupakan dinding yang diapit puncak terjal, antara puncak yang satu ?lengan puncak yang lain ada selisih empat lima kaki, hingga dilihat dari kejauhan nampak bagaikan sebuah celah.

Akhirnya Tong Kim menghembuskan napas lega, bisiknya: "Sudah sampai!"

"Di mana?" tanya Liu Tiang-kay.

Tong Kim menuding ke atas sebuah dinding terjal di hadapannya. "Semestinya kau sudah melihat sendiri bukan?"

Memang benar, Liu Tiang-kay telah melihatnya, diatas dinding yang terjal dan curam bagai mata golok terdapat segerombolan semak belukar, dibalik semak im muncul sebuah gua yang gelap.

Awan putih melayang lewat di muka gua, rotan bergelantungan dan menari nari oleh tiupan angin.

Biarpun Liu Tiang-kay telah melihatnya, namun dia tak mampu menyeberang ke sana.

Tiba tiba Tong Kim bertanya:"Kau pernah membaca ayat syair yang membahas soal "Burung elang menembus pintu langit?"

"Belum pernah"

"Dalam ayat syair im dikatakan, ada seorang gadis cantik sedang duduk ditepi sungai, muncul seorang lelaki hidung belang, walaupun si hidung belang dapat melihat gadis im secara jelas, sayang tak ada kendaraan untuk menyeberang ke tepi seberang. Nah, gua tersebut persis seperti kisah gadis cantik itu"

"Dan aku adalah si hidung belang?"

"Kau hanya minta aku membawamu kemari, sekarang aku telah membawamu kemari" kata Tong Kim sambil tertawa.

"Tak disangka ternyata kau terhitung orang yang berpendidikan" "Tidak berani"

Liu Tiang-kay melirik jurang di hadapannya sekejap, kemudian katanya lagi dengan suara hambar:"Jika seorang terpelajar jatuh ke dalam jurang dari atas tebing sini, kira kira sama mampusnya tidak dengan orang yang sama sekali tidak terpelajar?"

Tong Kim tak sanggup tertawa, bahkan berbicara pun tak mampu, mendadak dia jongkok dan membuka sebuah batu cadas yang berada diatas dinding tebing curam, dari balik batu seketika menyembur keluar seutas tali baja yang sangat kuat, diujung tali baja itu terdapat sebuah pengait yang sangat kuat.

"Tiingg...!" pengait itu segera menembak ke depan dan menancap kuat kuat diatas dinding tebing seberang, maka segera terbentuklah dua utas tali kawat yang berfungsi sebagai jembatan penyeberang.

"Silaukan!" ujar Tong Kim kemudian sambil membungkuk hormat

"Orang terpelajar silahkan jalan duluan!" sahut Liu Tiang- kay.

"Aku harus menemanimu?" berubah hebat paras muka Tong Kim.

"Bukan Cuma menemani, kau harus berjalan duluan, jadi, seandainya jatuh ke jurang, orang terpelajar jatuh duluan"

"Bila Siang-si hujin tahu kalau aku yang membawamu kemari, aku bakal dibunuh olehnya" seru Tong Kim hampir menangis.

"Rasanya jauh lebih baik begitu ketimbang mati duluan di dasar jurang, ingat! Nyawa itu sangat berharga, lebih baik hidup semenit lebih lama daripada mati semenit lebih cepat, lagipula siapa tahu aku punya akal agar kau tidak dibunuh

olehnya" "Sungguh?"

"Aku ini termasuk orang yang belum pernah makan bangku sekolahan, tapi biasanya, orang bodoh macam aku lebih suka bicara kenyataan"

Tong Kim menghela napas panjang, gumamnya kemudian sambil tertawa geli:"Aai, ternyata jadi orang terpelajar yang banyak membaca pun bukan satu kejadian yang baik"

0-d-0-w-0

Tali kawat baja itu sangat licin, sementara angin gunung berhembus sangat kencang dan kuat, jika berjalan di depan, sedikit kurang hati hati saja bisa berakibat jatuh mampus di dasar jurang.

Bila seseorang terjatuh ke dasar jurang, bisa dipastikan tubuhnya akan berubah jadi cacahan daging.

Untung saja selisih jarak antara ke dua tebing itu tidak terlampau jauh, baru saja mereka menyeberang, terdengar seseorang telah menegur sambil tertawa:

'Pejamkan mata kalian, aku sedang mandi"

Mulut gua itu sangat dalam, suasana di dalam sana nampak gelap gulita, tapi begitu tiba di dalam, tampak cahaya lentera menerangi sekeliling tempat itu.

Cahaya lampu berwarna merah, sangat lembut, hangat dan niempersona.

Nada suara orang yang berbicara lebih lembut, lebih hangat dan lebih niempersona ketimbang cahaya lentera itu.

Liu Tiang-kay sama sekali tidak pejamkan matanya, satu kejadian yang aneh bila dia betul betul mau pejamkan matanya. Setelah menelusuri lorong yang panjang, suasana di depan mata jauh lebih lebar dan terbuka, mereka seolah olah telah tiba di kahyangan, bahkan lempat yang jauh lebih indah dan menawan ketimbang kahyangan.

Dibalik sebuah tirai tipis, terlihat sebuah kolam air panas yang dikelilingi pagar kayu berwarna putih.

Seseorang berada didalam kolam air panas, yang terlihat hanya kepalanya.

Rambut panjangnya yang berwarna hitam mengapung diatas permukaan air, membuat wajahnya nampak cantik bagaikan bunga, kulitnya putih dan halus sangat menggoda hati.

Sayang air di dalam kolam bukan air jernih......

Liu Tiang-kay menghela napas panjang, dia tahu, bagian bawah tubuh yang berada didalam air pasti lebih menggoda dan menggetarkan hati.

Siang-si hujin dengan sepasang matanya yang bening, indah dan menggoda, sedang mengawasi sepasang matanya, dia seperti tertawa tidak tertawa, genit, nakal, menantang, tapi merangsang nada suaranya merdu, bagaikan kicauan

burung nuri.

"Bukankah kusuruh kau masuk dengan mata terpejam?" tegurnya.

"Benar"

"Kau tahu, saat ini aku sedang mandi?"

"Justru karena mendengar kau sedang mandi, maka aku semakin! enggan untuk pejamkan mata" sahut Liu Tiang-kay sambil tertawa. Nyonya rindu menghela napas panjang.

"Tampaknya, selain tidak menurut, kau terhitung orang yang sangat tak jujur" "Tapi aku selalu berbicara jujur"

"Kau tidak kuatir kucukil sepasang matamu?" "Kehilangan batok kepala saja tidak takut, apalagi cuma

sepasang mata"

"Jadi kau tak takut mati?"

"Takut mati? Kenapa harus takut mati? Kehidupan manusia di dalam dunia bagaikan sebuah darmawisata, manusia tak lebih hanya tamu yang mampir minum, kalau kelahiran disambut dengan kegembiraan, kenapa mati dihantar dengan ketakutan?"

"Ooh, rupanya kau pun termasuk seorang terpelajar" Nyonya rindu tersenyum.

Liu Tiang-kay ikut tersenyum.

"Orang kuno bilang, bisa mati setelah melihat matahari senja, tak ada yang perlu disesalkan, begitu juga dengan aku, asal dapat melihat hujin, biar harus mati pun, aku tak akan menyesal"

"Bukankah sekarang kau telah melihatku?" tegur Nyonya rindu sambil mengerling genit.

"Yaa, apa yang selalu diimpikan, apa yang selalu didambakan, akhirnya terkabul juga"

"Sekarang, bukankah kau sudah boleh mati?" "Belum, belum bisa"

"Kau belum puas melihatku?"

"Bukan saja belum puas, bagian tubuhmu yang terlihat pun belum cukup banyak"

Nyonya rindu mendelik besar, dia seperti tak paham dengan perkara itu. Liu Tiang-kay balas menatapnya, sorot matanya seolah olah ingin menyingkap air yang menggenangi tubuh perempuan itu dan melihat dengan seksama bagian tubuh yang tersembunyi dibalik air itu.

"Apa yang dapat kulihat sekarang, tak lebih hanya sebagian kecil dari tubuhmu, sebagian besar lainnya sama sekali belum kelihatan"

"Seberapa banyak yang ingin kau lihat?" "Semuanya"

Paras muka Siang-si hujin bersemu merah, dia kelihatan agak jengah, serunya:"Besar amat ambisimu"

"Lelaki tanpa ambisi, sesungguhnya tidak pantas disebut seorang lelaki sejati, seorang lelaki tulen"

Dengan sepasang matanya yang membetot sukma, kembali Siang-si hujin menatap pemuda itu tanpa berkedip, katanya kemudian:"Kau belum termasuk seorang lelaki yang baik"

"Selamanya aku memang bukan lelaki baik"

"Tapi kau memiliki sedikit perbedaan dibandingkan dengan lelaki lain"

"Rasanya perbedaan itu tidak sedikit"

"Aku suka sekali dengan lelaki yang berbeda" bisik Siang-si hujin lembut.

"Hampir semua wanita di kolong langit senang dengan lelaki yang berbeda dengan kebanyakan lelaki lain"

"Keluar!" tiba tiba siang-si hujin menghardik. Liu Tiang-kay sama sekali tidak keluar.

Dia tahu, Siang-si hujin bukan menyuruh dia yang keluar dari situ, seharusnya Tong Kim yang keluar dari tempat tersebut. Benar saja, Tong Kim segera keluar dari situ, keluar sambil pejamkan matanya rapat rapat, pada hakikatnya dia belum pernah membuka matanya, walau hanya sekejap saja.

"Kelihatannya dia adalah seorang lelaki yang sangat penurut" sindir Liu Tiang-kay sambil tertawa.

"Dia tak akan berani membangkang"

"Itulah sebabnya dia terpaksa harus keluar, sedang aku, tetap tinggal di sini"

"Kaum wanita memang tidak senang dengan lelaki yang kelewat penurut, tapi kau "

Dengan ujung matanya dia mengerling Liu Tiang-kay sekejap, lalu terusnya dengan nada genit:"Tapi kau pun tak lebih hanya seorang lelaki dungu, ngapain kau hanya berdiri melulu disitu? Memangnya keberanianmu hanya begitu saja?"

Liu Tiang-kay tidak menjawab.

Dia menggunakan tindakan untuk menjawab ejekan tersebut. Lelaki yang lak banyak tingkah, lelaki yang beraninya hanya mematung termasuk lelaki yang tak disukai kaum wanita.

Tiba tiba dia berjalan mendekati kelam air panas, kemudian mulai melepaskan sepatunya.

Siang-si Hujin terbelalak lebar, seperti amat terkejut dengan perlakuan pemuda itu, jeritnya:

"Kau berani terjun ke mari?"

Liu Tiang-kay sudah mulai melucuti pakaiannya. "Bukankah kau sudah tahu siapakah aku? Kau tidak kuatir

kubunuh?'' teriak Siang-si hujin lagi.

Liu Tiang-kay sama sekali tak bicara, dia sudah tak sempat untuk menjawab. "Apakah kau tidak melihat sesuatu yang beda, sesuatu yang istimewa dengan air kolam ini?" Kembali Siang-si hujin berteriak.

Liu Tiang-kay sama sekali tidak memperhatikan.

Yang dia perhatikan sekarang bukan air dalam kolam im, sorot matanya tak pernah bergeser dari pandangan mata Siang-si hujin.

"Aku telah mencampurkan sejenis obat yang khusus dalam air kolam ini" kembali Siang-si hujin berseru, "selain aku, siapa pun yang berani terjun ke sini baka! mati"

Liu Tiang-kay tidak menggubris, dia sudah terjun ke dalam kolam.

"Byuurrr " percikan bunga air memancar ke empat

penjuru.

"Tampaknya kau memang tak takut mampus" Siang-si hujin menghela napas panjang, "banyak lelaki yang mengatakan berani mati demi aku, tapi lelaki yang benar benar membuktikan berani mati demi aku ternyata hanya kau seorang "

Dia tak melanjutkan kembali kata katanya, dia memang tak sanggup melanjutkan kembali kata katanya.

Sebab bibirnya saat itu sudah tak sanggup mengeluarkan suara.

Untuk menaklukan seorang wanita, hanya ada satu macam cara yang bisa digunakan.

Cara yang digunakan Liu Tiang-kay saat ini kebetulan sekali adalah cara tersebut.

Manusia, belum tentu akan tertawa bila dia berada dalam suasana gembira, merintih pun belum tentu dikeluarkan bila dia sedang menderita. Suara rintihan sudah tak kedengaran sekarang, yang tersisa hanya dengusan napas yang terengah engah, dengusan napas yang sangat membetot sukma.

Riak ombak yang begitu keras dan kencang dalam kolam air tadi, perlahan lahan berubah jadi tenang kembali.

Siang-si hujin menghembuskan napas perlahan, katanya:"Orang bilang keberanianmu seperti langit, kenyataannya nyali mu jauh lebih hebat dari langit"

Liu Tiang-kay pejamkan matanya, dia sudah tak punya tenaga untuk menjawab, ciia sudah kehabisan tenaga.

Kembali Siang-si hujin berkata:"Padahal, sedari awal aku sudah tahu, kedatanganmu kali ini bukan lantaran ingin mencari aku, kedatanganmu pasti mempunyai tujuan lain"

Perempuan, bukan saja lebih suka bicara, bahkan dalam kondisi seperti ini, daya tahan tubuhnya selalu lebih segar ketimbang orang lelaki.

Maka dia pun berkata lebih lanjut:"Entab mengapa, ternyata aku tak tega membunuhmu"

"Aku tahu mengapa begitu, sebab aku adalah lelaki yang lain daripada yang lain" kata Liu Tiang-kay tiba tiba sambil tertawa.

Siang-si hujin menghela napas panjang, dia tidak menyangkal.

"Itulah sebabnya dalam air kolam tak ada racunnya" sambung Liu Tiang-kay.

Ternyata Siang-si hujin pun tidak menyangkal.

"Bila ingin membunuhmu, aku masih mempunyai banyak cara yang lain"

"Yaa, aku percaya" Liu Tiang-kay menghela napas, "Bila seorang wanita benar benar menginginkan kematian seorang pria, dia memang mempunyai banyak cara untuk melakukannya"

"Maka dari itu, lebih baik cepatlah berterus terang kepadaku, sebetulnya mau apa kau datang kemari?"

"Sekarang kau sudah tega untuk membunuhku?" "Hanya lelaki segar yang terhitung seorang lelaki lain

daripada yang lain" kata Siang-si hujin hambar.

"Jadi aku sudah tak segar?"

"Perempuan pun sama seperti lelaki, mereka pun senang yang baru bosan yang lama" perkataan Siang-si hujin sangat lembut.

"Sayang kau telah melupakan sesuatu" Liu Tiang-kay menghela napas ringan.

"Oya?"

"Ada sementara lelaki sama seperti kaum wanita, jika dia benar benar menginginkan kematian seorang wanita, dia pun mempunyai banyak cara yang lain"

"Itu mah tergantung perempuan macam apa yang sedang dia hadapi" kata Siang-si hujin sambil tertawa genit.

"Perempuan macam apa pun sama saja"

"Termasuk perempuan macam aku?" tanya Siang-si hujin semakin genit.

"Terhadap kau, sebetulnya hanya ada satu cara saja, sayang, dengan cara sederhana pun sudah akan berhasil, jadi aku hanya butuh sebuah cara ini saja"

"Kenapa tidak kau cobakan kepadaku?" "Sudah kucoba"

Suara tertawa Siang-si hujin mulai dipaksakan:"Menurut kau, berhasil tidak caramu itu?" "Tentu saja berhasil"

"Cara apa yang telah kau gunakan?" tak tahan Siang-si hujin bertanya.

"Sebetulnya dalam air kolam ini tak ada racunnya, tapi sekarang telah beracun"

"Kau "jerit Siang-si hujin, tiba tiba suaranya jadi kaku.

"Tentu saja sebelum meracuni air kolam ini, aku telah menelan obat penawarnya lebih dahulu"

"Sejak kapan kau meracuni air kolam ini?" tanya Siang-si hujin, tampaknya dia masih belum percaya.

"Racun itu kusembunyikan didalam kuku jari tanganku, sewaktu terjun ke air, racun pun secara otomatis membaur di air"

"Obat penawar racunnya "

"Aku menelan obat penawar racun itu ketika sedang melucuti pakaianku, aku tahu lelaki yang sedang melepaskan pakaian tidak bagus dilihat, oleh karena itu ketika seorang lelaki sedang melepaskan pakaiannya, tak mungkin kaum wanita akan memperhatikannya"

Setelah tersenyum, kembali lanjutnya:"Sebelum melakukan segala tindakan, aku selalu mempersiapkannya terlebih dulu dengan seksama"

Berubah hebat paras muka Siang-si hujin, tiba tiba dia berenang mendekat, dengan sepuluh jari tangannya yang tajam dia mencekik tenggorokan Liu Tiang-kay.

Saat itulah dia baru tahu, ternyata perkataan dari Liu Tiang-kay bukan cuma gertak sambal karena dia jumpai badannya secara tiba tiba jadi lemas, tangannya juga lemas, seluruh kekuatan tubuh yang dimilikinya mendadak hilang lenyap tak berbekas. Dengan satu gerakan yang sangat enteng Liu Tiang-kay cengkeram pergelangan tangannya, lalu berkata pelan:"Orang lelaki pun bisa senang yang baru muak dengan yang lama, kini kau sudah bukan barang baru, jadi lebih baik berbicaralah dengan lebih jujur"

"Kau kau benar benar tega membunuhku?" tanya

Siang-si hujin dengan wajah berubah.

"Sebetulnya aku tak tega" Liu Tiang-kay menghela napas.

Perkataan itu belum selesai diucapkan, dia sudah menotok tiga buah jalan darah ditubuh Siang-si Hujin, menotok persis diatas payudara yang besar lagi montok.

0-d-0-w-0

Pekerjaan berikut menjadi jauh lebih sederhana dan gampang.

Pintu rahasia terletak diatas dinding tebing persis di belakang sebuah permadani Persia yang sangat besar, pintu yang konon seberat ribuan kati ternyata tidak mencapai lima ratus kati, kunci gembokan pun tidak terlampau sulit untuk membukanya.

Pada dasarnya Liu Tiang-kay memang memiliki sepasang tangan yang trampil.

Setibanya diluar, walaupun Tong Kim sudah melarikan diri hingga tak nampak batang hidungnya, jembatan kawat masih terpasang ditempatnya seperti semula.

Semua pekerjaan benar-benar terlaksana secara gampang dan amat lancar.

Mungkin orang lain akan mengira keberhasilan yang bisa dicapai secara gampang dan lancar lantaran nasibnya yang lagi mujur, Liu Tiang-kay pribadi sama sekali tidak berpendapat begitu. "Seseorang, bila cara yang digunakan tepat, sesulit apapun persoalan yang sedang dihadapi, pasti bisa diselesaikan secara mudah dan lancar"

Cara atau sistim kerjanya memang sama sekali berbeda dibandingkan cara kerja orang lain.

Rumah makan yang menurut rencana dibangun untuk dirobohkan kembali, hingga kini masih berdiri utuh dan kokoh, rombongan manusia yang menurut rencana siap kesitu untuk membongkar bangunan, kini sudah mati tiga dan kabur tiga orang.

Banyak sekali peristiwa di dunia ini memang demikian keadaannya, suatu rancangan rencana yang seharusnya mulas, sempurna dan mustahil bisa gagal, ternyata mengalami kegagalan total. Sesuatu rancangan yang seharusnya banyak rintangan dan kesulitan, dalam kenyataan justru berhasil dilaksanakan dengan gampang, lancar dan sempurna.

Berhasil atau gagal memang tak bisa ditentukan dengan suatu teori .nau rumus yang pasti, oleh sebab itu jadi manusia lebih baik jangan memandang terlalu serius terhadap segala persoalan yang dihadapi.

Lampu lentera masih menerangi seluruh ruangan rumah makan, penghuni nya juga masih menunggu disana dalam jumlah yang lengkap.

Sekarang hari belum terang tanah, sebelum fajar menyingsing mereka mk akan berani pergi dari situ.

"Ternyata orang itu belum mampus, ternyata dia datang lagi" Nona nona berdandan menor itu memandang dengan mata terbelalak lebar, mengawasi pemuda itu tanpa berkedip, kini semua orang sudali tahu, dia memang seorang pemuda yang hebat dan berkemampuan luar biasa. Arak masih berada diatas meja Liu Tiang-kay duduk diatas bangku dengan santainya, sekarang memang sudah tiba waktu baginya untuk minum dua cawan arak secarl releks dan santai.

Baru saja dia akan menuang arak ke dalam cawannya, seorang nona bermata besar dan tampaknya paling cerdik diantara kumpulan cewek itu sudah berjalan mendekat dengan langkah yang lemah gemulai, sambil tertawa dia menyapa:"Baguskah si rindu?"

"Bagus, bagus sekali!"

Sambil tertawa nona im tarik napas kuat kuat agar payudaranya yang sudah gede menonjol semakin besar, katanya memperkenalkan diri:"Aku bernama Ji-gi (berkenan), aku pun sangat bagus"

"Betul, kau memang bagus" Liu Tiang-kay tertawa, " sayang kau berkenan (Ji-gi) denganku, bukan berarti aku pun berkenan kepadamu"

"Kenapa?" tanya si nona berkenan sambil mengerling genit. "Karena isi dalam buntalanku ini bukan emas murni, bukan

juga intan permata atau mutu manikam"

Ji-gi sama sekali tidak memperlihatkan perasaan kecewanya, masih tertawa genit, ujamya:"Aku tidak menginginkan emas atau intan atau mutu manikam, aku hanya menginginkan kau!"

"Sayang sekali orang itu sudah ku bucking untuk kunikmati sendiri" ,

Perkataan itu muncul dari luar pintu ruangan, ketika Ji-gi berpaling, dia jumpai seorang wanita yang sangat cantik tapi angkuh bagaikan burung merak telah muncul di hadapannya dan sedang berjalan mendekat.

Ternyata yang muncul adalah Khong Lan-kun. Berada dihadapannya, tiba tiba Ji-gi merasa diri sendiri bagaikan seekor ayam kampung, terpaksa dia menghela napas seraya bergumam:"Sungguh tak nyana lelaki pun ada yang bekerja seperti kami ternyata dia pun bisa dibucking orang"

Liu Tiang-kay ikut menghela napas panjang.

"Mungkin apa yang kulakukan sekarang masih kalah jauh dibandingkan dirimu"

"Tapi aku amat suka manusia macam kau" ujar Ji-gi lagi sambi tertawa genit, "bila ada waktu senggang, aku pun bersedia membuckingmu untuk beberapa hari"

Sambil tertawa cekikian dia menowel wajah Liu Tiang-kay kemudian sambil mengajak rekan rekan lainnya ia berseru:"KeIihatannya kita sudah kehilangan transaksi di tempat ini, lebih baik pulang tidur"

Liu Tiang-kay mengawasi bayangan tubuh mereka hingga lenyap dikejauhan sana, dia seperti merasa berat hati membiarkan gadis gadis itu berlalu begitu saja.

Sementara itu Khong Lan-kun sudah mengambil tempat duduk, sambil menatapnya dia menegur dengan nada ketus:"Kau masih berat hati membiarkan mereka pergi?"

"Hai, aku memang seorang lelaki romantis" Liu Tiang-kay menghela napas panjang.

"Kau dasar kau bukan manusia" seru Khong Lan-kun

sengit sambil menggigit bibir.

"Untung sekali banyak cewek justru suka dengan lelaki yang bukan manusia"

"Cewek cewek itu pasti bukan manusia" "Bagaimana dengan kau sendiri?" Khong Lan-kun menghela napas panjang, katanya lembut 'Tampaknya sebentar lagi akupun akan berubah jadi perempuan bukan manusia"

Dalam sekejap mata dia telah berubah seratus delapan puluh derajat, dari seekor burung merak yang angkuh berubah jadi seekor burung merpati yang jinak dan penurut.

Menghadapi perempuan ini, tampaknya Liu Tiang-kay telah menggunakan cara yang amat tepat.

Ada sementara wanita memang persis seperti buah yang dilindungi cangkang tebal dan keras, kita harus menghancurkan cangkang kerasnya lebih dulu sebelum dapat menikmati isinya yang lembut tapi gurih.

Sekarang, dia seperti buah yang cangkang kerasnya sudah hancur, yang tersisa hanyalah hati yang lembut dan halus.

Liu Tiang-kay mengawasinya, tiba tiba dalam hati kecilnya muncul satu perasaan kemenangan, menang karena berhasil menaklukan sesuatu yang amat sulit, perasaan semacam ini terasa begitu nikmat dan menggembirakan, belum pernah dia rasakan perasaan nikmat seperti ini.

Tanpa terasa sikap nya juga ikut berubah jadi lebih halus, lembut dan hangat.

Terhadap seorang wanita yang berhasil ditaklukkan, dia sudah tak perlu menggunakan kekerasan lagi, dia ulurkan tangannya dan menarik tangan perempuan itu dengan halus, bisiknya:"Padahal akupun tahu, kau memang selalu amat baik kepadaku"

"Kau kau benar benar tahu?"

Khong Lan-kun menundukkan kepalanya. "Aku pun tahu, rencana mu sangat bagus"

"Tapi. tapi kau tidak melakukan sesuai dengan rencana

ku" "Yaa, aku termasuk orang yang tak sabaran, aku selalu lebih senang menggunakan cara yang lebih langsung"

Khong Lan-kun angkat kepalanya, memandang pemuda itu dengan agak termangu, dari balik matanya yang indah terpancar perasaan kuatir serta perhatian yang amat tebal.

"Tapi aku beranggapan, cara yang kau gunakan kelewat bahaya, kelewat nyerempet bahaya"

Liu Tiang-kay tertawa.

"Bagaimana pun juga, sekarang aku telah berhasil melakukannya"

"Sungguh?" cahaya terang memancar keluar dari balik mata Khong I Lan-kun.

"Ehmm"

"Barang itu sudah kau dapatkan?"

Liu Tiang-kay segera menunjuk buntalan yang diletakkan di atas meja.

Khong Lan-kun memandangnya agak termangu, entah senang entah kagum, tanpa sadar dia pegang tangan pemuda dengan dua belah tangannya lalu menempelkan tangan itu diatas pipinya sembari berbisik :"Sekarang aku baru tahu, bukan saja kau adalah lelaki sejati bahkan seorang lelaki yang luar biasa"

Liu Tiang-kay teramat gembira, bagaimana pun macam lelaki itu, mereka pasti akan sama girangnya jika mendengar ungkapan perasaan semacam ini.

Tak tahan sahurnya sambil tertawa:"Padahal aku bukan seseorang yang kelewat luar biasa, hanya "

Perkataan itu belum selesai diungkap, mungkin selamanya tak akan terungkap lagi. Pada saat itulah tiba tiba Khong Lan-kun menjepit tangannya dengan ke dua belah tangan, ujung jarinya mencengkeram urat nadinya lalu sambil memelintir dan membanting, dia gunakan ilmu gulat gaya Mongolia untuk membanting tubuh pemuda itu ke depan.

Seluruh badan Liu Tiang-kay segera terangkat ke tengah udara kemudian berbalik dan seperti seekor ikan mampus, jatuh terbanting ke lantai, jatuh terlentang dengan kaki terentang ke udara.

Menyusul kemudian dengan satu gerakan kilat Khong Lan- kun menotok jalan darah diatas tulang punggung pemuda itu, ejeknya sinis:"Tentu saja kau bukan lelaki yang luar biasa, karena kau tak lebih hanya seekor anjing gila"

Liu Tiang-kay tak mampu berkata lagi.

"Kau anggap dengan cara begitu menghadapi aku maka aku akan takluk?" kembali Khong Lan-kun tertawa dingin, "aku beritahu, kau keliru besar, barang siapa berani menggebuk aku satu kali, aku harus balas menggebuknya sepuluh kali"

Entah darimana dia dapatkan papan kayu, dengan gemas dan penuh rasa sakit hati dia menghajar pantat Liu Tiang-kay berulang kali, tidak kurang tidak lebih dia benar benar menghajarnya dengan tiga puluh kali gebukan.

Dalam keadaan begini, terpaksa Liu Tiang-kay harus terima nasib.

Dengan susah payah dia menahan sakit, akhirnya Khong Lan-kun selesai juga menggebuknya.

"Kali ini, aku hanya ingin memberi sedikit pelajaran kepadamu, agar lain hari kau jangan seenaknya pandang rendah kaum wanita" dia sambar buntalan yang ada di meja dan berkata lebih jauh, "barang ini kubawa pergi, aku harap nasibmu tidak terlampau jelek, jangan sampai Ciu Heng-po dan Tong Kim muncul lagi disini untuk membuat perhitungan denganmu"

Hidangan yang telah disiapkan dengan susah payah, tiba tiba saja berpindah ke mulut orang lain.

Mendengar langkah kakinya semakin menjauh, Liu Tiang- kay tak dapat melukiskan bagaimana perasaan hatinya saat ini.

Dia bukannya tak mampu buka mulut, tapi sekarang, kau suruh dia berkata apa lagi?

Perempuan, Hei..................

Liu Tiang-kay menghela napas panjang, mendadak dia sadar, ternyata perempuan ini memang tak seharusnya disakiti.

Sayang dia sudah kelewat banyak menyakiti kaum wanita.

Sekarang, seandainya Nyonya rindu benar benar muncul disitu, nasib tragis yang menimpa dirinya benar benar tak terbayang dengan kata apapun.

Bukan hanya perempuan itu, masih ada Tam It-hui, Tiat hwesio, Tong Kim........

Orang orang itu pasti mempunyai cara yang berbeda dalam menyiksa dan membuat derita orang lain.

Kini, Liu Tiang-kay hanya bisa duduk bersandar diatas bangku, menanti. Keadaannya kini sudah tak mirip dengan anjing gila, boleh dibilang dia lebih mirip dengan seekor anjing mati.

Entah berapa lama sudah lewat, seolah olah sudah menunggu beribu ribu tahun lamanya....

Fajar baru menyingsing, untung saja sejak awal para pelayan dan gerombolan cewek menor itu sudah kabur dari situ, kalau tidak, sekalipun dia bisa bangkit berdiri, malunya pasti bukan kepalang.

-00dw00kz00-