Tujuh Pembunuh Bab 4 Manusia yang bukan manusia.

Bab 4 Manusia yang bukan manusia.

Malam memang semakin larut.

Liu Tiang-kay seorang diri duduk dalam ruang tamu yang sempit lagi jelek itu, waktu sudah berlalu, lama sekali, namun tak kedengaran ada sedikit suara pun.

Mula mula dia membaringkan dulu perempuan asing itu ke atas ranjang, lalu menutup tubuhnya dengan memakai selimut dan sprei, dia seperti takut perempuan itu kedinginan.

Kemudian dia memadamkan semua lampu yang ada dalam rumah, tidak terkecuali lampu yang ada di ruang dapur.

Dia tak takut menghadapi kematian, juga tidak takut menghadapi kegelapan, namun terhadap dua hal itu, dia selalu merasa benci dan muak yang tak terlukis dengan kata, dia selalu berharap bisa tinggalkan ke dua hal itu sejauh jauhnya.

Sekarang dia sedang berusaha mengumpulkan semua pikiran dan ingatannya, berpikir ulang sekali lagi jalannya peristiwa sejak awal hingga sekarang dahulu, dia hanya

seorang manusia tak bernama, bahkan dia sendiripun tak tahu seberapa besar kekuatan yang dimilikinya.

Dia tak tahu karena belum pernah mencoba, diapun tak pernah ingin mencoba.

Tapi Oh Lip, Oh Lo-yacu telah mempromosikan dirinya, telah mempolesnya, seperti mempoles sebutir mutiara yang baru diperoleh dari dalam sebuah tiram. Oh Lo-yacu bukan saja memiliki ketajaman mata yang luar biasa, dia pun memiliki otak yang tak tertandingi oleh siapapun.

Dia belum pernah salah melihat orang, belum pernah salah menilaj persoalan apapun dugaan, analisa serta

kesimpulannya belum pernah salah satu kalipun.

Secara resmi dia belum pernah memangku jabatan tinggi dengan mengenakan kopiah kebesaran, belum pernah makan gaji sebagai pegawai pengadilan, tapi dia justru opas nomor satu di kolong langit, hampir semui komandan opas di semua propinsi, di semua keresidenan memandangnyi bagaikan Sin- bin (malaikat agung).

Sebab, asal dia mau campur tangan, tak ada kasus kriminal di koloni langit yang tak bisa terbongkar, selama dia masih hidup, jangan hara) kawan kawan dari golongan hitam dan kaum okpa bisa hidup bebas sentosa

Sayang, setajam apapun golok yang dimiliki akhirnya tiba juga saatnya untuk berkarat, sekuat dan setangguh apapun seorang manusia, akhirnya bakal tua dan sakit sakitan.

Akhirnya dia tua juga, malahan mengidap sakit rhematik, jika tidak dituntun orang, jangan harap dia bisa berjalan, mau melangkah pun susah.

Sejak dia jatuh sakit, hanya dalam kurun waktu dua-tiga tahun, sudah beratus ratus kasus kriminal muncul di sekitar ibu kota jumlah kasus yang pasti mencapai tiga ratus

tiga puluh dua kasus.

Dari tiga ratusan kasus itu, belum satu kasuspun yang berhasil dibongkar.

Padahal kasus kasus itu harus diselesaikan semua, sebab salah satu korban pencurian bukan saja berasal dari keluarga kerajaan, kaum bangsawan dan pejabat tinggi, bahkan termasuk juga keluarga tokoh silat kenamaan. Bukan Cuma berasal dari keluarga persilatan kenamaan, didalamnya menyangkut juga keluarga dekat kekaisaran.

Sepasang kaki Oh lo-yacu boleh lumpuh, namun sepasang matanya belum buta.

Orang yang melakukan semua kasus pencurian itu pastilah Liong Ngo, karena itu untuk membongkar semua kasus kriminal ini, dia pun wajib mencari Liu Tiang-kay.

Semua orang tetap percaya, analisa serta kesimpulannya kali ini pun tak bakal keliru.

Oleh karena itulah Liu Tiang-kay yang semula tak punya nama, sama sekali tak terkenal, secara tiba tiba bisa berubah jadi seorang tokoh yang aneh, tokoh yang disegani banyak orang.

Berpikir sampai disitu, Liu Tiang-kay sendiri masih belum tahu, hal tersebut merupakan satu keberuntungan baginya? Atau justru merupakan kejadian apes?

Hingga detik ini, dia masih belum terlalu jelas, mengapa Oh Lo-yacu bisa tertarik dengan dirinya?

Dia seperti selamanya tak pernah bisa memahami manusia licin bagai seekor rase ini, persis seperti dia pun selamanya tak pemah bisa memahami putri kesayangan orang tua ini.

Dia hanya ingat, setahun berselang dia telah berkenalan dengan seorang sahabat yang bernama Ong Lam. Suatu hari, Ong Lam mengajukan usul, minta dia pergi mengunjungi Oh Lo-yacu, tiga bulan kemudian, Oh Lo-yacu serahkan tanggung jawab ini kepadanya, hingga malam ini, dia baru t.ihu betapa beratnya beban yang diberikan kepadanya itu.

Kini, paling tidak dia berhasil mengelabuhi Liong Ngo dalam Pengalamannya selama tiga bulan terakhir ini.

Tapi bagaimana selanjutnya? Dapatkah dia membunuh Tong Kim, Tam It-hui, tosu tua penggait sukma, Tiat hwesio, si anjing geladak Li serta wanita gadungan im hanya dalam setengah jam? Berhasilkah dia memperoleh kotak kayu cendana yang misterius itu?

Sanggupkah dia menangkap Liong Ngo?

Hanya daiam hati kecilnya dia tahu, sesungguhnya dia sama sekali tak yakin bisa berhasil.

Dari semua persoalan yang dihadapi, masalah yang paling membuatnya gundah adalah masalah Oh Gwat-ji.

Sebenarnya perempuan seperti apakah dia? Bagaimana sikapnya terhadap dirinya?

Hanya dia sendiri yang tahu, diapun seorang manusia, seorang manusia biasa yang terdiri dari darah dan daging, dia bukan sebuah batu karang.

Walaupun malam semakin kelam, namun jaraknya dengan fajar masih cukup lama.

Apa yang bakal terjadi esok hari? Liong Ngo akan mengutus manusia seperti apa untuk menjadi penunjuk jalannya?

Liu Tiang-kay menghela napas, dia berharap bisa tidur sejenak sambil bersandar dibangku, sementara melupakan semua kegundahan dan keruwetan yang menyelimuti perasaan hatinya.

Pada saat itulah, tiba tiba ia mendengar satu suara yang sangat aneh, seolah-olah ada hujan gerimis yang membasahi atap rumah im.

Menyusul kemudian, "Blaaam!" seluruh bangunan rumah itu terbakar secara mendadak, seperti sebuah rumah rumahan kertas yang tersulut api, begitu api berkobar, kebakaran sudah tak dapat dikendalikan lagi.

Kebakaran semacam itu, sudah barang tentu tak akan menewaskan Liu Tiang-kay. Sekalipun dia benar benar terkurung ditengah sebuah tungku dengan kobaran api yang membara, siapa tahu diapun punya akal untuk meloloskan diri.

Bangunan rumah itu, meski bukan sebuah tungku api namun kobaran api yang menyala disitu benar-benar mengerikan, empat penjuru semuanya api, kecuali asap tebal, tak nampak benda apapun.

Dengan satu gerakan cepat Liu Tiang-kay menerjang keluar.

Mula-mula dia menerjang masuk ke dapur, mengambil sebuah gentong air yang besar dan mengguyur seluruh kepala dan badannya dengan air itu hingga basah kuyup, setelah itu dia baru menerjang keluar dari balik kobaran api.

Tak ada orang yang bisa bereaksi secepat dia, lebih lebih tak ada orang yang bisa bergerak lebih cepat dari dia.

Kecuali api yang berkobar hebat membakar bangunan rumah itu, suasana disekeliling tempat im tetap sunyi senyap dan sangat tenang.

Berapa kuntum bunga kuning yang tumbuh dalam pekarangan rumah nampak lebih indah dan lebih mencolok ditengah kilatan cahaya api yang berkobar.

Seorang nona kecil berbaju kuning, dengan menggenggam sekuntum bunga kuning sedang mengawasinya sambil tertawa cekikikan.

Diluar pintu rumah sudah berhenti sebuah kereta kuda, sepasang mata kuda yang menghela kereta itu sudah ditutup dengan kain hitam. hingga kobaran api yang menjilat bangunan rumah itu tidak sampai mengejutkannya.

Bagaikan seekor burung walet, nona kecil berbaju kuning itu meluncur keluar, membukakan pintu kereta, kemudian kembali berpaling ambil tertawa. Dia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Liu Tiang-kay juga tidak bertanya apa apa.

Begitu si nona membukakan pintu kereta, Liu Tiang-kay segera masuk dan duduk dalam ruang kereta.

Kobaran api masih menjilat seluruh bangunan rumah, tapi jaraknya dengan Liu Tiang-kay makin lama semakin jauh.

Kereta kuda berlari sangat cepat, meluncur ke muka menembus kegelapan malam yang tak bertepian.

Malam semakin gelap.

Liu Tiang-kay tak pernah takut menghadapi kegelapan, dia hanya merasa benci dan muak yang tak terlukiskan dengan kata kala.

0-d-0-w-0

Serba baru, mulai kaus kaki, pakaian dalam hingga jubah luar, semuanya serba baru dan indah.

Bahkan bak mandi yang terbuat dari kayu pun kelihatan masih baru

Kereta kuda berhenti diluar halaman sebuah perkampungan, Liu Thian-kay mengikuti nona kecil itu masuk ke dalam, di situ sudah tersedia sebuah bak mandi penuh dengan air, menunggunya untuk mandi.

Suhu air dalam bak mandi itu tidak panas, pun tidak dingin.

Nona kecil itu tidak berkata apa apa, dia hanya menuding ke arah bak mandi itu, Liu Tiang-kay pun segera melucuti semua pakaian yang dikenakan, dengan tubuh telanjang bulat dia terjun ke dalam bak mandi itu

Si nona masih terbungkam dalam seribu bahasa, dia tak mengucapkun sepatah kata pun. Liu Tiang-kay juga membungkam, dia tidak mengajukan pertanyaan walau hanya sepatah kata saja.

Menunggu sampai Liu Tiang-kay selesai mandi, selesai mengeringkan badan dan siap mengenakan pakaian yang serba baru im, tiba tiba si nona kecil itu masuk kembali ke kamar mandi, di belakangnya mengikuti dua orang, ke dua orang itu menggotong sebuah bak mandi baru, dalam bak mandi itu penuh dengan air. suhu air pun tidak panas juga tidak dingin.

Untuk ke dua kalinya nona kecil itu menuding ke arah bak mandi, Liu Tiang-kay memandangnya dua kejap, akhirnya kembali dia terjun ke dalam bak mandi itu.

Seperti sudah tiga bulan tak pernah mandi, sekali lagi dia menggosok seluruh bagian tubuhnya dengan seksama.

Dia bukan termasuk lelaki yang takut mandi karena kuatir akan melukai hawa mumi miliknya, di dalam kenyataan, dia selalu amat suka mandi.

Dia pun bukan termasuk lelaki yang banyak mulut, bila orang lain tak bicara, biasanya dia pun tak akan bertanya.

Dia telah menggosok seluruh kulit badannya hingga memerah, dilihat sepintas lalu, bentuknya persis seperti lobak merah yang baru dikupas kulitnya.

Diluar dugaan, nona kecil itu kembali menuding ke arah air didalam bak mandi, tampaknya dia masih menyuruhnya untuk mandi sekali lagi.

Liu Tiang-kay memandang ke arahnya, tiba tiba ia tertawa.

Nona kecil itu ikut tertawa, padahal selama ini dia memang selalu tertawa.

"Apakah badanku berbau tahi anjing?" tanya Liu Tiang-kay tiba tiba.

"Tidak!" jawab nona kecil itu sambil tertawa cekikikan. "Kalau begitu bau tahi kucing?" "Juga tidak"

"Kalau begitu badanku bau apa?"

Berputar sepasang biji mata nona kecil itu, mukanya yang bulat tiba-tiba terlintas warna merah jengah.

Tubuhnya sama sekali tidak berbau apa-apa.

"Aku sudah mandi tiga kali" kembali Liu Tiang-kay berkata, "sekalipun badanku berbau tahi anjing atau tahi kucing, seharusnya sekarang sudah hilang baunya, seharusnya badanku sudah bersih"

Dengan wajah merah jengah nona kecil itu manggut manggut, padahal gadis sebaya dia sudah tidak termasuk gadis kecil.

"Mengapa kau masih suruh aku mandi sekali lagi?" tanya Liu Tiang-kay.

"Entahlah, aku tidak tahu" jawab si nona. "Kau juga tidak tahu?"

"Aku hanya tahu, siapapun orangnya, bila ingin bertemu nona kami, dari kepala hingga ke ujung kaki dia mesti mandi sebanyak lima kali" Oleh karena itu Liu Tiang-kay pun mandi sebanyak lima kali. Ketika dia sudah mengenakan pakaian serba baru, mengikuti nona kecil itu untuk menghadap sang "nona", tiba tiba dia menemukan bila seseorang harus mandi sebanyak lima kali secara beruntun, ternyata urusan itu bukanlah satu perbuatan yang menderita.

Kini, dia merasa sekujur badannya ringan dan kendor, sewaktu berjalan menelusuri lorong panjang yang berkilauan bagai cermin, dia merasa bagaikan berjalan ditengah awan.

Ujung lorong panjang itu terdapat sebuah pintu, didepan pintu tergantung tirai yang terbuat dari mutiara. Pintu itu hanya dirapatkan, tidak terkunci, bentuknya tidak terlalu lebar, tapi ruangan dibalik pintu luar biasa lebarnya, dinding ruangan berwarna putih bersih, lantainya dilapisi papan kayu yang berkilauan.

Seorang perempuan berbaju kuning yang bertubuh ramping, tinggi tapi montok sedang berdiri di depan sebuah cermin tembaga yang amat besar, dia sedang menikmati diri sendiri.

Dia memang seorang wanita yang pantas dinikmati.

Biarpun Liu Tiang-kay tidak dapat melihat wajahnya secara langsung, dia bisa melihatnya dari balik cermin.

Jangan lagi orang lain, bahkan dia sendiripun mau tak mau harus mengakui, wajah perempuan im betul-betul amat cantik, bahkan nyaris sempurna kecantikan wajahnya, kecantikan yang begitu memikat, begitu memukau, membuat orang tak bosan-bosannya memandang.

Kecantikan semacam ini rasanya tak akan ditemukan pada kecantikan wajah seorang manusia, kecantikannya nyaris melebihi kecantikan bidadari yang sering muncul di sebuah lukisan.

Kecantikannya sudah mencapai pada taraf kecantikan yang hanya bisa dinikmati orang dari kejauhan, begitu cantiknya membuat orang tak berani mendekatinya.

Oleh karena itu Liu Tiang-kay sudah menghentikan langkahnya jauh dari perempuan itu.

Tentu saja perempuan itupun dapat melihat kehadirannya dari balik cermin, dia tidak berpaling, hanya tegurnya dengan suara dingin:

"Kau adalah Liu Tiang-kay?" "Benar!"

"Aku she-Khong, bernama Khong Lan-kun!" Nada suaranya pun sangat indah, merdu disertai kecongkakan yang tak terlukis dengan kata, dia seperti sudah menduga sejak awal, siapa saja yang mendengar namanya, dia pasti akan sangat terperanjat.

Sayang Liu Tiang-kay tidak menunjukkan perasaan terperanjat, dia bahkan berdiri sangat tenang.

Tiba tiba Khong Lan-kun tertawa dingin, ujarnya: "Biarpun aku tak pemah berjumpa dengan kau, sejak awal aku sudah tahu manusia macam apakah dirimu"

"Oya?"

"Menurut Liong Ngo, kau adalah seorang yang menarik, terlebih caramu untuk menghamburkan uang"

"Perkataannya memang tidak keliru"

"Menurut Lan Thian-bong, tulang badanmu sangat keras, punya daya tahan yang bagus ketika menerima gebukan"

"Perkataannya pun tidak salah"

"Hanya sayang semua wanita yang pernah kau jumpai selalu mengibaratkan dirimu dengan tiga patah kata"

"Tiga patah kata yang mana?" "Kau bukan manusia"

"Perkataan mereka pun tidak keliru"

"Seorang lelaki yang bukan manusia bila berani memandang sekejap kepadaku, dia harus mampus!"

"Aku bukan kemari untuk menengokmu, kau sendiri yang mengundangku datang kemari!"

Paras muka Khong Lan-kun berubah memucat, serunya: "Aku membawamu kemari karena aku telah menyanggupi

permintaan Liong Ngo, kalau tidak, kau sudah mampus disitu saat ini" "Kau menyanggupi permintaan apa dari Liong Ngo?" "Aku menyanggupi permintaannya untuk membawa kau

berjumpa dengan seseorang, kecuali hal itu, antara kita

berdua tak ada hubungan apa apa, oleh karena itu kuanjurkan lebih baik bersikaplah lebih sopan dan jujur selama berada dihadapanku, aku tahu, kau sangat tersohor diantara kaum wanita, tapi kau keliru besar jika menganggap aku sama seperti perempuan lain lebih baik jangan cari mampus!"

"Aku mengerti!"

"Memang lebih baik kau mengerti" Khong Lan-kun tertawa dingin.

"Tapi akupun berharap kau bisa memahami akan dua hal" "Katakan!"

"Pertama, aku sama sekali tak berminat untuk menjalin hubungan apa-apa denganmu"

Paras muka Khong Lan-kun berubah semakin memucat. "Kedua, walaupun belum pernah berjumpa denganmu, tapi

aku tahu manusia macam apakah dirimu"

"Manusia macam apa diriku ini?" tak tahan Khong Lan-kun bertanya

"Kau mengira dirimu adalah seekor burung merak, mengira semua orang di kolong langit kagum kepadamu, menikmati keindahanmu, Hmrn, padahal satu satunya orang yang mengagumi dan menikmati keindahanmu hanyalah dirimu sendiri"

Paras muka Khong Lan-kun yang memucat kini telah berubah hijau membesi, tiba tiba dia memutar badan, menatapnya tajam tajam, dari balik sorot matanya yang indah seolah olah menyembur keluar kobaran api yang membara. Liu Tiang-kay tidak menggubris, kembali terusnya dengan suara hambar:

"Demi Liong Ngo, kau mengundangku kemari, demi Liong Ngo pula aku bersedia datang kemari, diantara kita berdua memang   tak   punya    hubungan    apa    apa,    hanya saja "

"Hanya saja kenapa?"

"Tidak seharusnya kau lepaskan api itu!" "Tidak seharusnya?"

"Bila api yang kau lepas sampai membakarku hingga mampus, bagaimana mungkin kau bisa mengajakku untuk berjumpa dengan orang itu?"

Khong Lan-kun segera tertawa dingin.

"Hmm, bila kau mampus gara gara api kebakaran itu, berarti kau sesungguhnya memang tak pantas berjumpa dengan orang itu"

"Sebenarnya siapakah orang itu?" tak tahan Liu Tiang-kay bertanya

"Ciu Heng-po!"

"Ciu-sui hujin?" Liu Tiang-kay terperanjat.

"Betul, Ciu-sui-siang-si (air di musim gugur menimbulkan kerinduan)!" Khong Lan-kun mengangguk.

"Kau akan mengajakku bertemu dengannya?"

"Dia adalah sahabatku, tinggal di perkampungan Ciu-sui- san-ceng hanya aku yang bisa masuk ke situ"

"Kau adalah sahabatnya dan dia pun menganggap kau sebagai sahabatnya, tapi dalam kenyataan kau bekerja untuk Liong Ngo" "Hubungan antara wanita dengan wanita lain memang tak pernah ada persahabatan sejati" tukas Khong Lan-kun dingin.

"Benar, terutama bagi wanita macam kau, satu satunya sahabat sejal yang kau miliki hanya dirimu sendiri"

Ternyata kali ini Khong Lan-kun tidak marah, ujarnya dengan nadi hambar:

"Paling tidak aku masih lebih baik ketimbang dia" "Oya?"

"Jangan lagi sebagai sahabat, dia bahkan menganggap diri sendiri sebagai musuh besar"

"Tapi, paling tidak dia ijinkan kau untuk berkunjung ke perkampungan Ciu-sui san-ceng miliknya"

Tiba tiba dari balik mata Khong Lan-kun kembali memancar sinar kebencian dan rasa dendam yang amat tebal, ujarnya hambar:

"Dia mempersilahkan aku datang karena dia senang sekali menyiksaku, dia senang melihat mimik wajahku ketika tersiksa dan menderita"

Tak ada orang yang bisa melukiskan mimik mukanya saat ini, sebab apa yang dia tampilkan sekarang bukan melulu "perasaan benci dan dendam", tapi ada semacam ungkapan perasaan yang sulit untuk diucapkan dengan perkataan yang tepat.

Siapapun tak menyangka, ternyata diantara dua wanita paling misterius, paling cantik dan paling kejam ini terjalin satu hubungan aneh yang tak bisa diungkap dengan kata kata.

Liu Tiang-kay memandangnya, tiba tiba ia bertanya:"Baik, kau boleh pergi"

"Kau " "Aku sama sekali tak berminat untuk menengoknya, akupun merasa tak perlu untuk melihatnya"

"Tapi kau tetap harus ke situ" "Kenapa?"

"Karena aku sendiripun tak tahu dimana letak gua rahasia itu, aku hanya bisa mengajakmu berkunjung ke perkampungan Ciu-sui san-ceng, disitu kau mesti berusaha sendiri"

Perasaan Liu Tiang-kay serasa tenggelam, dia merasa tekanan batinnya sangat berat.

Tiba tiba saja dia menjadi sadar, ternyata persoalan yang sedang dihadapi jauh lebih rumit dan sulit daripada apa yang dibayangkan semula. Berkilauan sinar mata Khong Lan-kun.

Setiap kali menjumpai orang lain menghadapi kesulitan dan menderita, sinar matanya selalu berkilauan, dia memang senang melihat orang lain tersiksa, menderita.

Liu Tiang-kay menghela napas panjang, katanya kemudian: "Ciu-sui hujin mengijinkan kau berkunjung ke

perkampungannya karena dia senang melihat penderitaan serta siksaan yang menimpa dirimu, darimana kau tahu kalau diapun mengijinkan aku datang berkunjung?"

"Karena dia sangat paham tentang diriku, dia tahu selama ini aku adalah seorang perempuan yang suka menikmati hidup, apalagi sangat seang dilayani kaum lelaki, oleh karena itu setiap kali datang berkunjung, iku selalu mengajak seorang budak untuk melayaniku"

"Sayang aku bukan budakmu" "Tidak, kau adalah budakku"

Dia menatapnya tanpa berkedip, dari balik matanya yang indah terpancar sinar yang sangat aneh. Liu Tiang-kay balas menatapnya, dia pun memandang tanpa berkedip.

Mereka berdua saling menatap dalam keadaan aneh, entah berapa lama sudah lewat, akhirnya Liu Tiang-kay menghela napas panjang.

"Yaa, aku adalah budakmu"

"Kau adalah budakku?" kembali Khong Lan-kun mengulang. "Benar'"

"Mulai hari ini kau harus mengikuti aku bagai seekor anjing, bila kupanggil, kau harus segera datang"

"Baik"

"Ketika melakukan pekerjaan apapun untukku, kau harus hati hati, kau tak boleh menyentuh aku dengan tanganmu, jika tangan kananmu menyentuh aku, maka kupotong tangan kananmu, bila jari tanganmu menyentuh aku, akan kupotong jari tanganmu itu"

"Baik"

Paras mukanya sama sekali tidak menampilkan perubahan apapun, tak ada perasaan gusar, juga tak ada perasaan menderita.

Khong Lan-kun masih menatapnya, sampai lama kemudian dia baru berkata sambil menghela napas panjang"

"Tampaknya kau memang bukan manusia"

0-d-0-0-w-0

Bukit Say-soat-san.

Sebuah bukit yang indah, nama bukit itupun indah.

Setelah melalui kuil Hong-lim-si yang angker, kemudian menyeberang jembatan bianglala yang dipenuhi aneka teratai, pemandangan alam buki Say-soat-san terbentang di depan mata.

Ditengah hembusan angin sepoi sepoi, lamat lamat terdengar ada orantj sedang bersenandung:

"Hawa panas menyengat telaga dingin jadi sarang, Berselimut Awan tebal malam makin nyaman.

Harum bunga semerbak memabukkan orang.

Menyeberangi jembatan tinggi melihat sampan"

Suara nyanyian im kedengaran sangat merdu, bunga teratai nampa] makin indah, tak kalah indahnya dengan pemandangan bukit di tenga senja.

Punggung bukit di belakang gunung penuh diselimuti awan putih nan tebal, jalanan yang sempit nampak curam dan berliku-liku, ditempat yang sepi dari kaum pelacong dan jauh dari keramaian manusia itu ternyata berdiri sebuah rumah makan yang besar lagi megah.

Bangunan loteng itu tidak terlalu tinggi tapi bahan bangunan nya berkualitas tinggi, dua orang tukang kayu nampak sedang bekerja, memaku sebuah papan nama bertuliskan emas diatas pintu gerbang.

Tepat dihadapan rumah makan itu menjulang dua bukit karang yang tinggi, tajam dan runcing bagai sebilah pedang, rupanya letak rurnah makan itu persis berada di mulut lembah tercuram di bukit ini.

Khong Lan-kun dengan mengenakan celana ketat bergaun lebar sedang berdiri di bawah sebatang pohon pinus, sembari menunjuk bangunan rumah makan dihadapannya dia bertanya: "Coba lihat, bagaimana dengan ramah makan itu?"

"Bangunannya sangat bagus, sayang tempatnya tidak bagus" "Oya?"

"Kalau membangun rumah makan di tempat seperti ini, mana ada tamu yang mau berkunjung? Aku kuatir belum sampai tiga bulan, rumah makan ini bakal bangkrut dan tutup usaha"

"Kalau soal itu mah tak perlu kau kualirkan, aku jamin tak sampai esok pagi, rumah makan ini sudah lenyap tak berbekas"

"Masa bisa terbang?" "Tidak"

"Kalau tak bisa terbang, mana mungkin bisa lenyap secara tiba tiba?"

"Kalau ada yang bisa membangun, pasti ada orang yang bisa membongkar"

"Masa rumah makan ini bakal di bongkar orang sebelum fajar esok hari?"

"Ehm!"

Liu Tiang-kay semakin keheranan, tanyanya:

"Bukankah bangunan rumah ini baru saja dibangun, kenapa harus segera dibongkar?"

"Karena bangunan rumah makan ini memang sengaja dibangun untuk kemudian dibongkar"

Liu Tiang-kay semakin keheranan.

Ada orang membangun rumah karena jual beli properti, ada orang membangun rumah karena hendak ditempati, ada orang membangun rumah karena untuk berniaga, ada juga orang membangun rumah karena akan dipakai untuk memelihara See-ih, istri muda, gundik, selir semuanya itu

bukan kejadian aneh. Tapi. ternyata ada orang membangun rumah karena

ingin membongkarnya lagi, belum pernah dia dengar kejadian seaneh ini.

"Kau tidak mengerti?" tanya Khong Lan-kun tiba tiba. "Yaa, aku memang tak mengerti" Liu Tiang-kay mengakui. "Ternyata ada juga persoalan yang tidak kau pahami" ejek

Khong Lan-kun sambi! tertawa dingin.

Tampaknya dia tak berniat membuka cupu cupu untuk beritahu obat apa yang sedang dijualnya, oleh karena itu Liu Tiang-kay pun tidak ingin bertanya lebih lanjut.

Dia tahu, Khong Lan-kun sengaja membawanya kemari bukan lantaran ingin membuatnya jengkel atau mendongkol atau marah.

Dia pasti mempunyai tujuan.

Oleh sebab itu dia merasa tak perlu bertanya, cepat atau lambat dia pasti akan menerangkan sendiri.

Liu tiang-kay selalu yakin dan percaya dengan analisa sendiri, dia percaya kesimpulannya jarang meleset.

Matahari senja telah tenggelam dibalik bukit, udara malam lambat laun mulai menyelimuti seluruh perbukitan itu.

Lampu telah menerangi seluruh bangunan rumah makan im membuat suasana jadi terang benderang bermandikan cahaya, dari balik jalan bukit yang terjal tiba tiba muncul satu rombongan manusia.

Rombongan orang itu ada laki ada perempuan, yang laki laki berdandan pelayan rumah makan, atau berdandan koki dapur, sedang yang wanita berdandan menor dan mencolok, mereka terdiri dari nona nona yang tidak terlalu jelek wajahnya. Tiba-tiba Khong Lan-kun berkata:"Tahukah kau mau apa orang orang itu datang kemari?"

"Membongkar rumah?"

"Kalau mengandalkan orang orang itu untuk membongkar rumah, biar dibongkar tiga hari tiga malam pun tak bakal selesai"

Liu Tiang-kay mengakui, perkataan itu memang benar.

Biarpun membongkar rumah kelihatannya sangat gampang, namun masih diperlukan sedikit pengetahuan dan kemampuan.

Kembali Khong Lan-kun bertanya:"Dapat kau lihat apa kerja perempuan-perempuan itu?"

Tentu saja Liu Tiang-kay tahu dengan jelas:"Biarpun pekerjaan yang mereka lakukan tidak termasuk dalam katagori pekerjaan mulia, namun pekerjaan itu justru mempunyai catatan sejarah terlama"

Pekerjaan itu memang harus diakui merupakan pekerjaan paling kuno, modal yang digunakan pun merupakan peralatan wanita yang paling purba.

"Aku tahu, kau paling suka melihat perempuan jenis ini" kata Khong Lan-kun lagi dengan suara dingin, "tak ada salahnya sekarang kau boleh menikmatinya beberapa saat"

"Memangnya begitu fajar menyingsing esok pagi, mereka akan menguap dan lenyap begitu saja?"

Khong Lan-kun mendengus.

"Rumah itu sengaja dibangun agar bisa dibongkar lagi, tentu saja manusia hidup agar siap dibikin mampus"

"Jadi kau sengaja mengajakku kemari hanya untuk menonton bagaimana rumah itu dibongkar dan bagaimana orang orang itu dibikin mampus?" "Aku mengajakmu kemari agar kau bisa melihat orang yang akan membongkar rumah itu"

"Siapakah mereka?"

"Tujuh orang yang bakal mampus di tanganmu"

Akhirnya Liu Tiang-kay paham, dia balik bertanya:"Malam ini mereka bakal muncul disini"

"Ehm!"

Walaupun sudah paham, namun tak tahan Liu Tiang-kay tanya lagi: "Kenapa?"

"Sebab Ciu Heng-po cukup memahami kebutuhan seorang lelaki, terutama laki laki tersebut, dia sudah kelewat lama mengurung mereka di dalam gua, biarpun tak sampai gila, mereka pasti tak tahan menanggung kesepian, oleh karena itu setiap berapa waktu dia akan lepaskan mereka keluar, agar mereka punya kesempatan untuk bersenang-senang dan melampiaskan hawa napsu birahinya"

Tak tahan Liu Tiang-kay menghela napas panjang.

Apa yang bakal terjadi dengan orang orang itu setelah kehadiran ke tujuh orang brutal itu? Tak usah dilihatpun pemuda itu bisa bayangkan apa yang akan terjadi.

Sejujurnya dia merasa kasihan dengan nasib perempuan- perempuan itu, baginya, dia lebih suka berhadapan langsung dengan tujuh ekor binatang yang sedang kelaparan ketimbang harus berkenalan dengan mereka bertujuh.

Khong Lan-kun melirik sekejap dengan menggunakan ujung matanya, kemudian katanya dingin:"Kau tak usah menaruh simpatik kepada mereka, apalagi menaruh perasaan kasihan, sebab bila langkahmu tidak hati hati, bisa jadi kau sendiri yang akan mati lebih mengenaskan ketimbang mereka" Liu Tiang-kay termenung, lewat lama kemudian dia baru bertanya:"Jika mereka semua datang kemari, siapa yang menjaga tempat itu?"

"Tentu saja Ciu Heng-po sendiri"

"Masa Ciu Heng-po seorang jauh lebih menakutkan daripada gabungan mereka bertujuh?"

"Aku sendiripun tak tahu sampai setaraf apa kepandaian silat yang dimiliki, tapi yang pasti, aku tak bakalan pergi mencoba"

"Maka dari itu aku hanya boleh menonton saja, tak boleh menggebuk rumput mengejutkan ular, tak boleh bertindak semau gue, karena, walaupun aku berhasil membunuh mereka sekarang juga tak ada gunanya?"

Khong Lan-kun manggut-manggut.

"Itulah sebabnya sekarang, aku minta kau hanya menyaksikan tingkah laku serta sepak terjang mereka dengan seksama"

"Kemudian?"

"Kemudian kita pulang, menunggu!" "Menunggu apa?"

"Besok sore kita berkunjung ke perkampungan Ciu-sui San- ceng"

"Setibanya di perkampungan Ciu-sui-san-ceng, aku baru berusaha menemukan letak gua rahasia itu?"

"Yaa, bahkan harus ditemukan sebelum fajar menyingsing" "Aku tak boleh mengekor di belakang mereka ketika

mereka selesai membongkar bangunan rumah ini dan balik ke

sarangnya?" "Tidak boleh" Liu Tiang-kay tidak bicara lagi.

Selamanya dia paling enggan membicarakan perkataan yang sama sekali tak ada gunanya.

Bangunan rumah di bukit seberang bermandikan cahaya, sementara suasana ditempat ini justru gelap gulita, masih untung ditengah kegelapan malam yang menyelimuti angkasa, terlihat ada beberapa biji bintang mengerdipkan cahayanya walau agak redup.

Cahaya bintang yang redup, menyinari wajah Khong Lan- kun yang dingin dan hambar.

Harus diakui, dia memang seorang wanita yang sangat cantik.

Suasana malam pun tak kalah cantiknya.

Liu Tiang-kay mencari sebuah batu karang dan duduk diatas nya, duduk sambil mengawasi wajah perempuan im, dia seakan akan terlena, terbuai dan dibikin mabuk oleh kecantikannya.

Tiba-tiba Khong Lan-kun menegur:"Memangnya aku yang suruh kau duduk?"

"Rasanya tidak"

"Selama aku tidak menyuruhmu duduk, lebih baik kau berdiri"

Liu Tiang-kay terpaksa bangkit dari duduknya, berdiri. "Bukankah aku suruh kau membawa kotak keranjang?" "Ada disini"

Empat buah ketak keranjang persegi empat, terbuat dari kayu pilihan asal Hokciu, indah dan rapi bentuknya.

"Buka keranjang itu" perintah Khong Lan-kun. Ketika keranjang itu dibuka, terlihat sebuah ruang kotak berlapiskan kain lenin warna putih, diatas kain putih tersedia empat macam sayur, sekeranjang mantau kecil serta sebuah teko arak.

Arak adalah arak "kan-liang" yang paling tersohor di kota Hang-ciu, empat macam sayur terdiri dari ikan asap, ayam ca, bebek panggang serta baikut masak tauco.

"Tuangkan arak untukku!" kembali Khong Lan-kun memberi perintah.

Dengan sepasang tangannya mengangkat poci arak, Liu Tiang-kay penuhi cawan itu dengan arak wangi, tiba tiba dia merasa perutnya ikut lapar.

Sayang cawan arak hanya sebuah, sumpit pun hanya sepasang, terpaksa dia hanya menonton dari samping.

Khong Lan-kun menghabiskan dua cawan arak, kemudian mencicipi setiap hidangan dengan satu sumpitan, tiba tiba sambil berkerut kening dia letakkan kembali sumpitnya dan berseru:

"Buang!"

"Buang? Apanya yang dibuang?" "Buang semua barang itu" "Kenapa mesti dibuang?" "Karena sudah kumakan"

"Tapi aku masih lapar"

"Orang macam kau, biar lapar tiga sampai lima hari pun tak bakalan mati kelaparan"

"Kalau toh hidangan sudah tersedia, kenapa aku mesti menahan lapar?" "Karena aku melarang siapapun menyentuh hidangan yang pernah kumakan" jawaban Khong Lan-kun sangat ketus.

Liu Tiang-kay memandangnya, setengah harian kemudian dia baru bertanya: "Tubuhmu juga tak boleh disentuh?"

"Tidak boleh"

"Belum pernah ada yang menyentuhmu?"

"Itu urusanku, kau tak perlu ikut campur" hardik Khong Lan-kun sambil menarik wajah.

"Tapi Kau, justru ingin mencampuri urusanku?" "Benar"

"Kau suruh aku berdiri, aku harus berdiri, suruh aku melihat, aku harus melihat?"

"Benar!"

Kembali Liu Tiang-kay mengawasi wajahnya, setelah memandangnya lama sekali tiba tiba dia tertawa.

"Ketika aku melarang kau tertawa, kau tak boleh tertawa" tegur perempuan itu gusar.

"Karena aku adalah budakmu?" "Rupanya baru sekarang kau mengerti?" "Sayang ada satu hal kau tak mengerti" "Apa?"

"Aku pun manusia, manusia macam aku selalu senang melakukan tindakan yang kusukai, misalnya "

"Misalnya apa?"

"Jika aku ingin minum arak, aku tetap akan meminumnya" Dia benar benar mengangkat teko arak itu dan langsung menuangnya ke dalam mulut Pucat pasi paras muka Khong Lan-kun saking gusarnya, dia tertawa dingin tiada hentinya.

"Kelihatannya kau sudah bosan hidup?"

"Tidak, aku sama sekali tak bosan hidup" Liu Tiang-kay tertawa, "aku hanya ingin menyentuhmu"

"Kau berani?"

"Siapa bilang tak berani?"

Tiba tiba dia mengulur tangannya dan benar benar meraba tubuh Khong Lan-kun.

Reaksi dari Khong Lan-kun sedikitpun tak lambat, Dewi merak memang sudah lama tersohor sebagai salah satu jagoan paling tangguh diantara jago silat perempuan lainnya.

Dia, bukannya tak punya alasan mengapa bersikap angkuh.

Baru saja Liu Tiang-kay menggerakkan tangannya, jari tangan perempuan im sudah mengayun miring ke atas, sepuluh jari tangan nya yang runcing bagai sepuluh bilah pedang tajam, secepat kilat menusuk urat nadi di tangan anak muda im.

Serangan yang dia lancarkan tentu saja cepat sekali, bahkan perubahan jurusnya amat lincah dan hidup, dibalik kelincahan tersembunyi banyak perubahan yang tak bisa diduga sebelumnya.

Sayang sekali semua perubahan yang dia lakukan berulang kali, sama sekali tak ada gunanya.

Tiba tiba saja pergelangan tangan Liu Tiang-kay seperti patah jadi dua, dari arah yang sama sekali tak terduga sepasang tangan itu membengkok lalu memuntir ke atas, tahu tahu dia sudah cengkeram urat nadi pada pergelangan tangan perempuan itu. Sepanjang hidup, belum pernah terpikir oleh Khong Lan- kun kalau tangan seseorang bisa berubah seaneh itu, dalam terkejutnya, belum sempat terlintas cara untuk menghadapi perubahan itu, tahu tahu badannya sudah tercekal lawan.

Buru buru dia jumpalitan di tengah udara dan berusaha mundur dari arena, sayang tubuhnya segera ditarik Liu Tiang- kay dan ditekan diatas batu cadas.

"'Bisa kau tebak apa yang ingin kulakukan sekarang?" pelan-pelan Liu Tiang-kay berkata.

Tentu saja Khong Lan-kun tak dapat menebak.

Bahkan mimpi pun dia tak pemah menyangka akan mengalami nasib setragis itu.

"Sekarang aku hanya ingin melepaskan celanamu lalu menabok pantatmu!" kembali Liu Tiang-kay berkata.

"kau kau berani?" jerit Khong Lan-kun ketakutan, saking

ngerinya, suara ucapannya jadi parau.

Mula-mula dia mengira Liu Tiang-kay tak akan berani melakukan hal tersebut, rnimpipun dia tak mengira ternyata di dunia saat ini benar-benar ada lelaki yang berani berbuat demikian terhadapnya.

Sayang dia telah melupakan sebuah perkataan yang justru diucapkan sendiri olehnya: "Orang ini sama sekali bukan manusia"

"Plak, plak, plaak!" tiga kali tamparan nyaring bergema di udara, ternyata Liu Tiang-kay betul-betul sudah menghajar tiga kali di atas pantatnya.

Tabokan itu sesungguhnya tidak terlampau keras, namun Khong Lan-kun sudah dibuat bergerakpun tak berani.

Sambil tertawa kembali Liu tiang-kay berkata:"Sekarang, sebenarnya aku masih punya kesempatan untuk melakukan satu dua perbuatan lagi, hanya sayang seleraku sudah hilang "

Diiringi gelak tertawa nyaring dia segera berlalu meninggalkan tempat itu, dia pergi tanpa menoleh, melirik sekejap pun tidak.

Biarpun Khong Lan-kun sudah menggigit bibir kuat kuat, namun air mata masih tak tertahankan dan meleleh keluar membasahi pipinya.

Tiba tiba dia melompat bangun, kemudian teriaknya keras- keras:"Liu Tiang-kay, kau binatang, kau bajingan, suatu hari aku pasti akan membunuhmu, kau kau bukan manusia"

"Aku memang bukan manusia" jawab Liu Tiang-kay hambar, menoleh pun tidak.

-oodw00kzoo-