Tujuh Pembunuh Bab 2 Siasat menyiksa diri

Bab 2 Siasat menyiksa diri

Cawan kuno nan antik, arak wangi berusia tiga puluh tahun.

Lelaki setengah umur berbaju hijau itu menuang empat cawan arak.

Sambil tersenyum Liong Ngo berkata:"Kau seorang diri harus melakukan pekerjaan tiga orang, sudah sepantasnya bila kau habiskan tiga cawan arak. "Tentu saja" sahut Liu Tiang-kay, "arak ini arak bagus, arak untuk tiga puluh orang pun akan kuhabiskan seorang diri"

Takaran minum yang dia miliki memang luar biasa, cara meneguk pun luar biasa cepatnya.

Tak heran dia segera mabuk.

Orang yang paling gampang mabuk adalah orang yang punya takaran minum hebat serta orang yang dapat minum dengan cepat.

Dalam waktu singkat dia sudah berubah seperti segumpal lumpur, jatuh terperosok dari tempat duduknya.

Liong Ngo duduk disitu dengan tenang, mengawasinya, seakan akan sedang memikirkan sesuatu.

Bau harum arak berhembus dalam ruangan, suasana diluar bilik masih sangat tenang.....

Lewat lama kemudian, Liong Ngo baru berseru: "Tanya!"

Lan Thian-bong segera berjalan mendekat, dia cengkeram rambut Liu Tiang-kay lalu menuang sisa arak di dalam poci ke atas wajahnya.

Kadangkala, arak justru dapat mendusinkan orang yang sedang mabuk.

Liu Tiang-kay segera membuka sepasang matanya, mengawasi orang itu dengan sinar lesu.

"Kau bermarga apa? Siapa namamu?" bentak Lan Thian- bong.

"Aku she-Liu, bernama Liu Tiang-kay" sewaktu bicara, tampaknya Liu Tiang-kay memiliki lidah yang dua kali lebih besar dari bentuk semula.

"Kau berasal dari mana?"

"Desa Yangliu-cung, kota Chilam" "Belajar ilmu silat dari siapa?"

"Belajar sendiri" Liu Tiang-kay tertawa terkekeh-kekeh, "tak ada yang pantas jadi guruku, aku memiliki kitab langit"

Ucapan tersebut tidak seratus persen igauan orang mabuk.

Dalam kolong langit memang banyak terdapat kitab kitab rahasia ilmu silat yang sudah lama lenyap dari peredaran tapi secara tiba tiba bisa ditemukan kembali.

"Ilmu silatmu baru berhasil kau yakini belakangan ini?" kembali Lan Thian-bong bertanya.

"Aku sudah berlatih cukup cepat, aku bukan orang goblok" "Siapa yang suruh kau datang kemari?"

"Aku sendiri, s ebetulnya a ku ingin membunuh Liong Ngo" tiba tiba Liu Tiang-kay tertawa terbahak-bahak, "jika berhasil membunuh Liong Ngo, aku akan menjadi orang paling tersohor di kolong langit"

"Mengapa kau tidak turun tangan?" "Aku tahu "

"Tahu kalau kau tak mampu membunuhnya?"

"Aku memang bukan orang bodoh" Liu Tiang-kay masih tertawa, "biarpun hanya menempati posisi orang ke dua di kolong langit, posisi itu sudah cukup bagus apalagi dia

persilahkan aku duduk, mengundang aku minum arak, rupanya dia pun tahu kalau aku berkemampuan tinggi"

Lan Thian-bong ingin bertanya lagi, tapi Liong Ngo segera memberi tanda:

"Sudah cukup!" "Bagaimana orang ini?"

Rasa letih kembali muncul di wajah Liong Ngo, sahutnya hambar: "Dia minum arak kelewat banyak" Lan Thian-bong manggut-manggut, mendadak dia hantam tulang rusuk Liu Tiang-kay keras-keras.

0-0-0

Cahaya bintang berkedip bagaikan kilauan permata, rembulan yang bulat bersih bagaikan salju.

Tiba tiba Liu Tiang-kay sadar dari mabuknya karena rasa sakit yang luar biasa, dia dapatkan tubuhnya sudah tergantung diatas wuwungan rumah makan Thian-hiang-lo bagaikan sebuah keleningan.

Angin malam di bulan ke tujuh, sudah terasa amat dingin.

Ketika angin malam berhembus diatas tubuhnya, dia merasa amat sakit bagai disayat dengan mata golok tajam.

Pakaian yang dikenakan sudah robek dan hancur tak berbentuk, bahkan tulang belulangnya juga terasa sakit seperti hancur berantakan, darah masih meleleh dari mulutnya, bercampur dengan liur getir, kecut lagi pahit.

Begitu juga dengan sekujur tubuhnya, bekas darah dan muntahan membekas di seluruh badan, tampaknya dia sudah dihajar orang secara keji, keadaannya sekarang tak ubahnya seperti seekor anjing yang habis digebuk.

Lampu yang menerangi rumah makan Thian-hiang-lo, kini sudah padam, pintu rumah makan pun sudah dalam keadaan tertutup rapat dan terkunci.

Ke mana perginya Liong Ngo?

Tak ada yang tahu jejak Liong Ngo, selama ini memang tak banyak yang tahu.

Tak ada cahaya, tak ada manusia, tak ada suara......

Yang tertinggal sepanjang jalanan hanya sampah yang berserakan, dilihat dalarn kegelapan malam, suasana disitu amat jelek, amat bodoh dan amat berantakan, persis seperti keadaan Liu Tiang-kay yang tergantung di atas wuwungan rumah.

Bila seseorang telah menghianati diri sendiri, tapi balasan yang diperoleh justru hanya gebukan dan siksaan yang luar biasa, dapat dibayangkan bagaimana perasaan hatinya saat ini.

Tiba tiba Liu Tiang-kay mengerahkan sisa kekuatan yang dimilikinya dan mulai mengumpat:"Liong Ngo, kau jahanam yang dipelihara anjing gembel, kau "

Semua kata makian, semua kata kasar yang pernah tercatat dalam kamusnya telah dipergunakan untuk mengumpat, suara umpatan juga sangat keras, apalagi di tengah malam buta yang senyap, suara makian itu menggaung hingga belasan lorong jauhnya dari tempat itu, membuat setiap orang yang berada di radius situ dapat mendengar dengan jelas.

Dari kejauhan tiba tiba terdengar seseorang bertepuk tangan sambil tertawa nyaring:

"Umpatan yang bagus, umpatan yang sangat memuaskan, umpatan mu benar benar memuaskan hati"

Bersamaan waktu terdengar suara tertawa dan derap kaki kuda bergema tiba, disusul kemudian tampak tiga ekor kuda mun cul dari ujung jalan dan berlarian mendekat, kuda kuda itu berhenti persis di bawah wuwungan rumah.

Orang yang duduk di kuda terdepan mendongakkan kepalanya memandang Liu Tiang-kay sekejap, lalu ujarnya sambil tertawa keras:"Sudah lama aku tak pernah mendengar ada orang berani mengumpat manusia yang dipelihara anjing itu, ayoh mengumpat lah terus, kau jangan berhenti mengumpat"

Orang itu mempunyai alis mata yang tajam bagai sebilah pedang, mukanya penuh bercambang, dia kelihatan sangat kasar, dibalik kekasarannya justru terdapat sepasang mata yang bening, mata seorang cerdik.

"Kau senang mendengar aku mengumpat manusia yang dipelihara anjing itu?" tanya Liu Tiang-kay sambil memandang ke arahnya.

Lelaki bercambang itu tertawa nyaring. "Senang.....hahaba senang setengah mati"

"Baik, lepaskan aku dulu, entar aku akan mengumpat lagi" "Aku memang kemari untuk menolongmu"

"Oya?"

"Begitu mendengar kabar tentang kau, aku segera menyu sul kemari tanpa berhenti"

"Kenapa?"

"Sebab aku tahu. kecuali aku, tak bakal ada orang ke dua yang mampu menolong orang yang telah digantung Liong Ngo di wuwungan rumah" jawaban lelaki bercambang itu kedengaran sangat pongah.

"Kau kenal aku?"

"Dulu tidak, tapi mulai sekarang kau adalah sahabatku" "Kenapa?" tak tahan Liu Yiang-kay bertanya.

"Sebab mulai sekarang kau sudah menjadi musuh besar nya Liong Ngo, siapapun orangnya, asal dia sudah menjadi musuh besarnya Liong Ngo berarti dia adalah sahabatku"

"Siapa kau?" "Mong Hui!"

"Si pemberi sedekah bernyali baja Mong Hui?" Kembali lelaki bercambang itu tertawa tergelak. "Betul, aku adalah Mong Hui yang sudah tak mau nyawa sendiri!"

Selain orang yang sudah tak ambil perduli dengan nyawa sendiri, siapa yang berani bermusuhan dengan Liong Ngo?

Liu Tiang-kay duduk terpaku disita, dia merasa badannya persis seperti bakcang, seluruh badannya terikat kain, terikat sangat kencang.

Mong Hui duduk persis di hadapannya, setelah menga matinya sekejap, tiba tiba dia acungkan jempolnya sambil memuji:

"Bagus, seorang lelaki sejati!"

"Orang yang sudah digebuki habis habisan juga terhitung seorang lelaki sejati?" Liu Tiang-kay tertawa getir.

"Kau tak sampai mampus digebuki jahanam yang dipeliha ra anjing gembel itu, kau pun masih bernyali untuk mengumpat mereka habis habisan, kau layak disebut seorang lelaki sejati!"

Setelah mengepal tinjunya dan menggebrak meja keras keras, kembali ujarnya dengan nada kesal:"Sudah seharusnya ku cekik anjing anjing jahanam itu hingga mampus semua"

"Kenapa tidak kau lakukan?"

"Sebab aku tak mampu mengalahkan mereka" Mong Hui menghela napas panjang.

Liu Tiang-kay segera tertawa.

"Kau bukan Cuma bernyali, kau pun jujur dan berani berterus terang" "Aku memang tak punya kemampuan apa apa, tapi a ku punya nyali untuk bermusuhan dengan Liong Ngo si anak jadah yang dipelihara anjing"

"Aku merasa heran "

"Heran soal apa?" "Kenapa dia tidak membunuhmu?" Mong Hui tertawa dingin.

"Sebab dia ingin tunjukkan kepada orang bagaimana kebe saran jiwanya, ingin tunjukkan bahwa dia adalah seorang tokoh be sar yang luar biasa, dia tak sudi berurusan dengan manusia rendah macam aku, padahal dia sendiri tak lebih Cuma anak jadah yang dipelihara anjing"

"Padahal dia pun bukan anak jadah yang dipelihara anjing, sebab jadi anak jadah yang disusui anjing pun tak pantas"

"Hahaha betul! Tepat sekali!" Mong Hui tertawa terba

hak bahak,

"cukup mendengar perkataanmu ini, aku mesti hormati kau dengan tiga ratus cawan arak!"

Sambil tertawa tergelak, dia panggil orang untuk siapkan arak, kemudian katanya lagi: "Rawatlah lukamu di sini, sudah kusiapkan dua macam obat yang terbaik untukmu"

"Salah satunya adalah arak wangi?" sela Liu Tiang-kay. Kembali Mong Hui tertawa terbahak-bahak.

"Tepat sekali, secawan arak yang betul betul wangi, untuk siapa pun akan mendatangkan banyak keuntungan"

Dia memandang Liu Tiang-kay sekejap, tiba tiba kembali dia gelengkan kepalanya berulang kali, katanya:"Berada dalam keadaan seperti kau, hanya secawan arak saja tak akan mendatangkan kebaikan apa apa, paling tidak kau mesti menenggak tiga ratus cawan baru kelihatan manjurnya"

Liu Tiang-kay ikut tertawa.

"Selain arak masih ada semacam obat lagi, obat apa itu?" Mong Hui tidak menjawab, dia memang tak perlu men jawab. Dari luar pintu kamar sudah muncul orang yang memba wa arak, enam orang gadis, enam orang gadis yang muda, cantik dan lagi seksi. Berkilauan sinar mata Liu Tiang-kay.

Dia memang paling suka gadis cantik, dia tak mau menutup nutupi kegemaran utamanya ini.

"Sekarang kau pasti mengerti bukan" seru Mong Hui kemudian sambil tertawa nyaring, "seorang gadis yang sempurna, buat siapa pun pasti akan mendatangkan banyak keuntungan dan manfaat"

"Tapi bagi aku dalam keadaan seperti ini, seorang gadis saja tak akan memberi banyak manfaat, paling tidak harus ada enam orang gadis sekaligus"

Mong Hui memandangnya, tiba tiba ia menghela napas panjang. "Aai, kau bukan Cuma berani bertenis terang, balikan memang betul betul bernyali" katanya. "Oya?"

"Untuk menghadapi enam orang gadis sekaligus, mungkin jauh lebih susah ketimbang harus menghadapi Liong Ngo"

Dalam satu hal, perkataan Mong Hui memang benar.

Buat Liu Tiang-kay, arak serta perempuan memang sama sama mendatangkan banyak manfaat, kelihatannya luka yang dia derita akan sembuh jauh lebih cepat dari apa yang dibayangkan semula.

Tapi dalam hal yang lain, perkataan Mong Hui salah besar.

Kalau Liu Tiang-kay disuruh menghadapi Liong Ngo, dia memang masih kalah sedikit, tapi kalau disuruh menghadapi perem puan perempuan itu, dialah jagonya.

Memang tidak banyak yang tahu kalau dia bukan Cuma jagoan dalam hal ini, bahkan boleh dibilang dialah biangnya.

Sekarang Mong Hui sudah menjadi sahabat karibnya, saat yang paling gembira buat mereka adalah sembari memeluk gadis cantik dan minum arak, mereka bisa mencaci maki Liong Ngo habis habisan. Bahkan mereka mempunyai banyak pendengar.

Semua orang yang hadir dan berada di tempat itu adalah musuh musuh bebuyutan Liong Ngo, mereka yang pernah menderita siksaan ditangan Liong Ngo, asal belum mampus pasti diundang kemari oleh Mong Hui, dilayani dengan arak paling harum dan perempuan paling cantik, kemudian setelah diberi ongkos mereka dipersilahkan pergi.

Julukan "si Pemberi sedekah" diperoleh lantaran perbuatannya ini, sementara julukan "bernyali baja" diperoleh kare na dia sudah tak mau lagi nyawa sendiri. hanya

orang yang sudah tak mau nyawa sendiri baru berani bermusuhan dengan Liong Ngo.

Semakin banyak arak yang diminum, tentu saja umpatan serta caci maki mereka semakin bersemangat.

Saat itu tengah malam sudah menjelang tiba, para pendengar sudah lelah mendengarkan caci maki itu, tapi mereka yang meng um pat justru makin lama semakin bersemangat.

Kini, dalam bilik tinggal mereka berdua, mereka sudah menghabiskan arak yang biasa nya diminum puluhan orang.

Tiba tiba Liu Tiang-kay bertanya:"Kau juga pernah disiksa oleh mereka?"

"Tidak pernah" Mong Hui menggeleng.

"Kau punya dendam kesumat karena anakmu dibunuh atau bini mu direbut olehnya?"

"Juga tak ada"

"Lalu, mengapa kau amat membencinya?" Liu Tiang-kay merasa keheranan.

"Karena dia adalah anak jadah yang dipelihara anjing" Liu Tiang-kay termenung beberapa saat, mendadak ujamya: "Padahal dia belum termasuk anak jadah yang dipelihara anjing"

"Aku tahu, dia memang lebih rendah daripada di pelihara anjing" Kembali Liu Tiang-kay termenung, tiba-tiba dia tertawa, ujarnya: "Padahal dia masih jauh lebih hebat ketimbang dipelihara anjing"

Mong Hui melotot besar, lama sekali dia awasi pemuda itu dengan mata mendelik, akhirnya dengan terpaksa dia menyetujui juga, sahutnya: "Mungkin memang sedikit lebih, tapi sedikit sekali "

"Paling tidak, dia lebih cerdik daripada seekor anjing" "Di kolong langit, rasanya memang tak ada anjing yang

lebih cerdik daripada dirinya" kembali Mong Hui terpaksa menyetujui.

"Kalau orang semacam si Raja singa Lan Thian-bong saja rela jadi budaknya, hal ini membuktikan bukan saja dia berkemam puan tinggi, perlakuannya terhadap orang pun sangat baik, kalau tidak, mana mungkin orang lain rela menjual nyawa buatnya?"

"Apa perlakuannya terhadap kau tidak baik"

Liu Tiang-kay menghela napas panjang.'Tadahal kita tak boleh terlalu salahkan dia, aku tak lebih Cuma seorang asing yang sama sekali tak dikenalnya, dia tak kenal aku, darimana dia bisa tahu kalau aku betul betul ingin melakukan pekerjaan baginya?"

Mendadak Mong Hui menggebrak meja sambil melompat bangun, teriaknya penuh kegusaran:"Apa maksudmu? Dia sudah menghajarmu habis habisan, mengapa kau malah bicara membelai dia?" "Aku hanya berpendapat, mungkin saja dia punya alasan mengapa bersikap demikian kepadaku, tampaknya dia bukan termasuk orang yang sama sekali tak pakai aturan"

Mong Hui tertawa dingin.

"Jadi kau masih kepingin bertemu sekali lagi dengannya, bertanya kepadanya mengapa kau dihajar habis habisan?" teriaknya.

"Benar, aku memang bermaksud demikian"

Dengan penuh rasa benci Mong Hui melotot ke arahnya, tiba tiba teriaknya nyaring: "Enyah, enyah dari sini, menggelinding lah lewat pintu belakang, makin cepat makin baik "

Liu Tiang-kay bangkit berdiri, berjalan keluar lewat pintu belakang.

Pintu itu amat sempit dan selama ini berada dalam keada an terkunci, diluar pintu bukan halaman melainkan sebuah ruang rahasia dengan tatanan perabot yang indah dan mahal, dalam ruang rahasia tak ada pintu lain, bahkan jendela pun tak nampak.

Tapi dalam mangan itu terdapat manusia, dua orang manusia.

Liong Ngo sedang duduk bersandar diatas sebuah pembaringan beralaskan kulit macan tutul, dia bersandar sambil pejamkan mata, sementara lelaki setengah umur berbaju hijau itu sedang menghangatkan arak diatas sebuah tungku kecil, hanya Lan Thian-bong tidak nampak hadir disitu.

Begitu mendorong pintu, Liu Tiang-kay segera berjumpa dengan mereka.

Ia sama sekali tidak tertegun, tidak terhenyak, kejadian yang sama sekali diluar dugaan ini tampaknya sudah terduga olehnya. Liong Ngo membuka matanya, mengawasinya sekejap, sekulum senyuman segera tersungging diujung bibirnya, tiba tiba dia berkata: "Sekarang aku baru tahu, mengapa selama ini kau tidak terkenal"

Liu Tiang-kay tidak menjawab, dia hanya mendengarkan.

Sambil tersenyum kembali Liong Ngo berkata:"Untuk berlatih ilmu silat, kau harus mengeluarkan banyak pikiran dan tenaga, apalagi untuk bermain wanita, pikiran dan tenagamu semakin banyak terkuras, dalam dua hal ini kau sudah melakukan dengan baik sekali, mana mungkin kau punya waktu untuk melakukan pekerjaan lain?"

Tiba tiba Liu Tiang-kay ikut tertawa.

"Masih ada satu pekerjaan lagi yang bisa kulakukan dengan sangat baik" katanya.

"Pekerjaan apa?" "Minum arak!"

"Takaran minum mu memang sangat banyak" "Tapi aku tidak terlalu cepat mabuk"

"Oya?"

"Arak yang kuminum hari ini jauh lebih banyak ketimbang tempo hari, tapi hari ini aku sama sekali tidak mabuk"

Tiba tiba Liong Ngo tidak tertawa lagi, kembali sorot mata setajam mata golok memancar keluar dari balik matanya, dia awasi wajah pemuda itu dengan pandangan mengerikan.

Liu Tiang-kay berdiri tenang ditempat, ia sama sekali tidak menghindari pandangan mata tajam itu.

"Duduk, silahkan duduk" tiba tiba Liong Ngo berkata lagi. Liu Tiang-kay segera ambil tempat duduk. "Kelihatannya aku sudah kelewat rendah memperhitung kan kemampuanmu" kembali Liong Ngo berkata.

"Kau sama sekali tidak memandang rendah kemampuan ku, kau hanya sedikit menaruh curiga kepadaku"

"Yaa, karena kau adalah seorang yang asing bagiku" "Oleh sebab itu sudah seharusnya kau selidiki asal usulku

terlebih dulu, ingin membuktikan dulu apakah perkataanku

semuanya jujur dan sebenarnya?" "Tampaknya kau memang tidak goblok!"

"Bila apa yang kukatakan tidak bohong, belum terlambat bagimu bila ingin menggunakanku, sebaliknya bila aku sedang berbohong, kau boleh habisi nyawaku, sebab bagaimana pun juga selama ini aku toh selalu berada dalam cengkeramanmu"

"Oya?"

"Mong Hui datang menolongku, tentu saja inipun hasil rekayasamu, kedatangannya kelewat kebetulan" "Apa lagi yang kau ketahui?"

"Aku tahu, manusia macam kau pasti masih membutuh kan beberapa orang manusia macam Mong Hui untuk berperan sebagai musuh besarmu, hanya musuh besar yang bisa melakukan pekerjaan bagimu, bahkan kadangkala jauh lebih banyak tugas yang bisa mereka kerjakan ketimbang seorang teman paling tidak, dia bisa menyelidiki dan mencari

tahu kabar berita yang selama hidup jangan harap bisa diperoleh teman temanmu itu"

Liong Ngo menghela napas panjang.

"Tampaknya kau bukan saja tidak goblok, bahkan sangat pintar" katanya.

Liu Tiang-kay sama sekali tidak menyangkal. "Jadi, sedari awal kau sudah mengetahui hubunganku dengan Mong Hui, sudah memperhitungkan dengan tepat bahwa aku bakal datang kemari?" kembali Liong Ngo bertanya.

"Kalau tidak, buat apa aku masih menunggu di sini?" "Berarti, tempo hari kau hanya pura pura mabuk?" "Sudah kukatakan, takaran minum arakku luar biasa"

"Tapi ada satu hal kau keliru besar" ucap Liong Ngo dingin.

"Kau berpendapat, tidak seharusnya aku beritahu semua rahasia ini kepadamu hari ini?"

Liong Ngo manggut-manggut.

"Orang yang pintar bukan saja harus pandai berpura pura mabuk, diapun harus pandai berlagak pilon, bila seseorang mengeta hui terlalu banyak, hari kehidupannya pun akan semakin sedikit"

"Aku berani mengatakan semua itu kepadamu, tentu saja dilandasi alasan yang sangat baik" Liu Tiang-kay tertawa.

"Katakan!"

"Kau datang lagi mencariku, tentu saja karena kau telah selidiki bahwa semua perkataanku tidak bohong, kau siap menggunakan aku"

"Lanjutkan!"

"Kau minta Tu Jit bertiga melaksakan sebuah tugas, pekerjaan itu pasti sebuah pekerjaan yang amat besar, sudah barang tentu kau tak ingin seorang setan mabuk yang tolol yang melaksanakan tugas ini"

"Berarti kau sengaja b icara b egini, karena kau ingin membuktikan bahwa kaupun bisa bantu aku melaksanakan tugas tersebut?" Liu Tiang-kay manggut-manggut.

"Bila usia seseorang telah mencapai tiga puluh tahun, bila dia tak mampu melakukan beberapa pekerjaan besar yang mengge larkan sungai telaga, mungkin dikemudian hari jangan harap kau bisa peroleh kesempatan semacam ini lagi"

Liong Ngo kembali mengawasi wajahnya, sekulum se nyuman sekali lagi tersungging diujung bibirnya yang pucat, tiba tiba ia bertanya:

"Apakah kau mau menemani aku minum berapa cawan lagi?"

0-0-0

Arak kembali dihidangkan, arak yang sudah dihangatkan.

Sambil mengangkat cawan, pelan-pelan Liong Ngo berkata:"Aku amat jarang minum arak, apalagi menghormati orang lain dengan arak, tapi hari ini aku harus menghormati kau dengan tiga cawan arak"

Sinar gembira dan rasa terharu yang amat sangat terpancar keluar dari balik mata Liu Tiang-kay, ternyata Liong Ngo mau meng hormatinya dengan tiga cawan arak, peristiwa ini benar benar meru pakan satu kejadian langka yang tak terbayangkan sebelumnya.

Setelah meneguk habis isi cawannya, sambil tersenyum kembali Liong Ngo berkata:

"Hari ini aku sangat gembira, aku percaya kau pasti dapat melaksanakan pekerjaan itu dengan baik"

"Aku berjanji akan mengerahkan segenap kemampuan yang kumiliki" "Pekerjaan itu bukan saja merupakan satu pekerjaan besar, selain amat berbahaya, juga merupakan satu tugas yang teramat rahasia" Tiba tiba paras mukanya berubah amat serius, lanjutnya: "Waktu itu, aku bersikap demikian kasar kepadamu, hal ini bukan lantaran aku menaruh curiga kepadamu"

Liu Tiang-kay mendengarkan, setiap kata setiap kalimat didengarnya dengan sangat cermat.

"Aku tak bisa beritahu kepada setiap orang bahwa kau sedang bekerja untukku, karena itu aku harus membuat satu tindakan agar orang lain mengira kau sudah menjadi musuh besarku, bahkan rasa bencimu kepadaku sudah merasuk ke tulang sumsum"

Inilah siasat menyiksa diri, siasat jitu yang pernah diguna kan Ciu Gi untuk menaklukan Oey Kay dalam cerita SamKok.

Tentu saja Liu Tiang-kay mengerti, tapi ada satu hal yang masih tidak dipahami, tanyanya:

"Apakah Lan Thian-bong juga tidak mengetahui persoalan ini?" Liong Ngo manggut manggut.

"Semakin sedikit yang tahu pekerjaan ini, makin kecil resiko dan bahaya yang kita hadapi, berarti kesempatan untuk berhasil pun semakin besar"

Tiba tiba Liu Tiang-kay menyadari, ternyata orang yang benar benar dipercaya Liong Ngo hanya dua orang lelaki

setengah umur berbaju hijau itu serta Mong Hui.

"Tempo hari kau toh pernah berkata, manusia macam aku bukan saja tak punya sahabat, bahkan musuh besar pun tak punya" kembali Liong Ngo berkata.

"Yaa, aku pernah berkata begitu"

"Padahal kau keliru" mimik muka Liong Ngo berubah sangat aneh, "bukan saja aku punya teman, aku pun punya musuh besar, bahkan punya bini"

"Siapakah mereka?" tergerak hati Liu Tiang-kay. "Bukan mereka, tapi dia" Liu Tiang-kay tidak habis mengerti.

"Temanku, musuhku dan biniku adalah satu orang yang sama" kembali Liong Ngo menerangkan.

Liu Tiang-kay semakin tak mengerti, tak tahan tanyanya: "Siapakah dia?"

"Dia bernama Ciu Heng-po"

"Ciu-sui hujin (Nyonya air dimusim gugur)?" "Kau juga kenal dia?"

"Rasanya tak ada orang persilatan yang tidak mengenali dia"

"Tapi kau pasti tak tahu bukan kalau dia sebenarnya adalah biniku?"

"Dimana dia sekarang?"

"Saat ini, walaupun kami sudah bukan suami istri, tampak nya masih merupakan sahabat karib"

"Padahal. "

Paras muka Liong Ngo yang pucat pasi berubah jadi hijau membesi, selanya:

"Padahal dia sudah sangat membenciku, dia kawin dengan aku lantaran dia amat menbenciku!"

Liu Tiang-kay masih tak mengerti, tapi dia tak bertanya lagi..........

Memang lebih baik orang tak banyak tahu tentang rahasia yang dimiliki Liong Ngo apalagi rahasia semacam ini.

Liong Ngo bukan saja telah tutap mulut, dia bahkan sudah pejamkan sepasang matanya. Dia tak ingin bicara terlalu banyak, gejolak perasaannya kelevvat besar, lewat lama kemudian pelan pelan dia baru bertanya:

"Kau pernah melihat aku turun tangan?" "Belum pemah"

"Tahukah kau sampai dimana kemampuan ilmu silatku?" "Tidak tahu"

Liong Ngo masih memejamkan matanya, pelan-pelan dia ulurkan tangannya ke depan.

Tangan itu putih memucat, bahkan kelihatan sangat halus.

Gerak gerik nya juga sangat lambat, pelan pelan dia cengkeram ke tengah udara.

Satu peristiwa aneh segera terjadi, bara arang yang sedang membara dibawah tungku kecil itu, tiba tiba melayang ke tengah udara kemudian meluncur ke dalam genggamannya.

Pelan pelan dia merapatkan genggaman tangannya, batu bara berwarna merah membara itu segera tergenggam kencang ditangannya.

Ketika dia membuka kembali tangannya, bara api itu sudah berubah jadi abu, abu yang sudah dingin.

Dengan suara hambar Liong Ngo berkata lagi:

"Aku tidak bermaksud mempamerkan kehebatan ilmu silatku dihadapanmu, aku hanya ingin memberitahukan dua hal kepadamu"

Liu Tiang-kay tidak bertanya, dia tahu, Liong Ngo akan menjelaskan sendiri kepadanya.

Benar saja, Liong Ngo kembali berkata:"Walaupun aku mempunyai ilmu silat sehebat ini, tapi sayang aku tak bisa turun tangan sendiri" Kemudian setelah mengamati abu dingin dalam genggamannya, kembali ia melanjutkan: "Hubungan percintaan kami tak ubahnya seperti abu dingin ini, selama hidup tak mungkin bisa membara kembali"

Kejadian ini benar benar merupakan sebuah peristiwa yang sangat langka, sangat aneh dan sangat menarik, didalamnya menyangkut dua orang manusia yang luar biasa.

Yang satu adalah lelaki paling hebat di kolong langit, yang lain adalah perempuan paling misterius, paling cantik di kolong langit.

Biarpun pengetahuan serta pengalaman Liu Tiang-kay tidak luas, namun dia sudah lama mendengar kisah yang menyangkut perempuan itu.

Terlalu banyak kisah dan dongeng mengenai perempuan ini.

Kisah dan dongeng yang berhubungan dengannya, persis seperti manusianya, penuh keindahan dan kemisteriusan.

Banyak jagoan tangguh dan orang gagah dalam dunia persilatan yang ingin berjumpa dengannya, tapi selama hidup tak seorangpun diantara mereka yang pemah bersua dengannya.

Oleh karena itulah banyak orang lebih suka menyebutnya sebagai "Siang-si hujin" (Nyonya rindu), karena dia memang mengundang rasa rindu banyak orang.

Siapapun tak ada yang menyangka, ternyata Nyonya rindu adalah istri Liong Ngo.

Hubungan mereka ternyata begitu misterius, begitu aneh........

Kalau memang dia adalah bininya, sahabat karibnya, mengapa dianggap menjadi musuh besarnya? Semestinya mereka adalah sepasang suami istri yang harmonis, yang laki ganteng yang perempuan cantik, mengapa mereka harus berpisah?

Tentu saja dibalik semua ini terselubung satu kisah cerita yang penuh liku liku, Liu Tiang-kay sangat berharap Liong Ngo mau mengisahkan cerita percintaannya itu.

Sungguh patut disayangkan, cara Liong Ngo berbicara ternyata persis seperti gerak gerik sehariannya, bagai seekor naga sakti yang kelihatan kepalanya tak nampak ekornya.

Tiba tiba saja dia mengakhiri kisah cerita tersebut berganti pokok pembicaraan, katanya hambar: "Kejadian itu merupakan peristiwa lama yang sudah berlalu banyak tahun, tak banyak orang di dunia ini yang tahu persoalan itu, aku rasa kau pun tak perlu mengetahui terlalu banyak"

Liu Tiang-kay tidak memperlihatkan perasaan kecewanya, dia memang termasuk orang yang sangat pintar mengendalikan diri.

"Kau hanya cukup mengetahui satu hal saja" kembali Liong Ngo berkata.

Liu Tiang-kay tidak menyela, dia hanya mendengarkan. "Orang yang harus kau hadapi adalah dia, aku minta kau datang ke tempat tinggalnya dan ambilkan semacam barang untukku" "Maksudmu mengambil?"

"Aku tidak melarang kau mengatakan pergi mencuri" tukas Liong Ngo dingin.

Liu Tiang-kay menghembuskan napas panjang.

"Kalau begitu, paling tidak masih ada dua hal yang perlu kuketahui" katanya.

"Katakan saja"

"Harus kucuri di mana? Dan apa yang mesti dicuri?" "Mencuri sebuah kotak" Liong Ngo menjawab pertanyaan terakhir lebih dahulu.

Dia segera memberi tanda, lelaki setengah umur berbaju hijau itu segera berjalan mendekat sambil membawa sebuah kotak.

Kotak itu tidak terlalu besar, terbuat dari emas murni, diatas kotak terukir seeekor naga yang sangat indah, ukiran itu terbuat dari batu kemala hijau.

"Curilah kotak yang bentuk dan ukurannya persis seperti kotak ini" Liong Ngo menerangkan.

"Apa isi kotak itu?" tak tahan Liu Tiang-kay bertanya.

Liong Ngo agak ragu sejenak, tapi akhirnya ia menjelaskan: "Sebetulnya kau tak perlu tahu, tapi tak ada salahnya

kuberitahukan kepadamu, isi kotak itu hanya sebotol obat"

"Hanya sebotol obat?" Liu Tiang-kay merasa sedikit diluar dugaan.

Liong Ngo mengangguk.

"Bagiku, botol obat itu jauh lebih berharga daripada intan permata atau batu manikam yang paling berharga pun di kolong langit"

Setelah memandang Liu Tiang-kay dengan sorot matanya yang setajam mata golok, pelan pelan ia melanjutkan:

"Semestinya kau sudah tahu bukan, aku adalah seorang yang sedang menderita sakit"

Tentu saja Liu Tiang-kay mengetahui hal ini.

Dia juga tahu, bila orang berpenyakitan ini menggerakkan tangannya, maka berapa banyak pun orang tersehat dikolong langit yang berada dihadapannya saat ini, mereka akan mampus dalam waktu singkat. Kembali Liong Ngo mengamati perubahan mimik muka pemuda itu, tiba tiba katanya lagi sambil tertawa:"Aku tahu apa yang sedang kau pikirkan, dalam kolong langit saat ini memang terdapat banyak jenis orang sakit, aku, mungkin termasuk orang sakit yang paling menakutkan, tapi seorang yang sedang sakit tetap merupakan orang sakit"

Liu Tiang-kay sangsi sejenak, akhirnya dia bertanya: "Apakah obat dalam botol itu dapat menyembuhkan

sakitmu?"

"Tentunya kau pernah mendengar kisah cerita tentang Ho Ie dan Siang Go si dewi rembulan?"

Ketika Ho Ie berhasil memanah sembilan buah matahari, dia berangkat ke See-thian (langit barat) dan memohon Ong- bo mau menghadiahkan sebotol obat sakti panjang umur, tapi obat tersebut kemudian dicuri oleh Dewi Siang Go dan ditelannya.

Walaupun kemudian dewi Siang Go panjang umur dan tak bisa mati, namun yang diperoleh hanyalah kesepian yang abadi.

Dewi Siang-go menyesal mengapa mencuri obat dewa itu, sehingga akhirnya tiap malam dia selalu tampil sebagai bulan purnama untuk menghibur hatinya yang lara.

"Kisah kami, persis seperti kisah mereka berdua" Liong Ngo menjelaskan.

Dia tidak melanjutkan kata katanya, tapi Liu Tiang-kay sudah mengetahui dengan jelas.

Mungkin Liong Ngo dilahirkan sebagai orang yang berpenyakitan, mungkin juga dia menderita Cau-hwee-jit-mo lantaran melatih sejenis ilmu silat sehingga terkena sejenis penyakit aneh yang susah disembuhkan, penyakit itu bagaikan penyakit kanker saja selalu merongrongnya, selalu menyiksanya sepanjang masa. Suatu ketika, aldiirnya dia berhasil memperoleh sebotol obat mestika yang dapat menyembuhkan penyakitnya, tapi obat mujarab itu justru telah dicuri dan dilarikan istrinya.

Karena persoalan inilah, walaupun dalam hati dia sangat membenci perempuan itu namun tak berani menyalahinya, sebab dia takut bininya akan memusnahkan botol berisi obat itu, karenanya walaupun dia ingin mencari orang untuk menghadapi nya, tapi diapun kuatir berita ini sampai bocor hingga ketahuan oleh nya.

Liong Ngo mengalihkan sinar matanya ke tempat kejauhan, mimik mukanya memperlihatkan perasaan sedih dan kesepian yang tak terlukiskan dengan kata kata.

Mungkinkah di dalam kisah cerita ini, yang kesepian bukan dewi rembulan Siang-go, melainkan Ho Ie?

"Aku tahu, meskipun dia telah mencuri obatku, tapi dia tak pernah menyesal, diapun tak akan kesepian, dia gunakan botol berisi obat itu memaksa aku untuk melakukan banyak pekerjaan yang sebetulnya tak ingin kulakukan" pelan pelan Liong Ngo berkata.

Sinar mata sedih dan kesepian kini telah berubah jadi kemarahan dan kebencian, lanjutnya:

"Oleh karena itu aku tak perduli harus membuang berapa banyak tenaga, pikiran maupun uang, akan kuhalalkan segala cara untuk mendapatkan kembali botol berisi obat itu!"

"Aku harus mencurinya di mana?" sekali lagi Liu Tiang-kay tak tahan untuk bertanya.

"Tentunya kau bisa bayangkan sendiri, untuk merebut kembali sebuah benda yang begitu penting dan berharga dari tangannya, tak mungkin pekerjaan ini merupakan satu pekerjaan yang gampang"

Tentu saja Liu tiang-kay sudah berpikir sampai ke situ. Kembali Liong Ngo berkata:"Dia sembunyikan peti itu di dalam sebuah gua rahasia diatas bukit see-soat-san, selain itu, diapun telah mengundang tujuh orang okpa yang sedang kabur dari kejaran jago jago Bu-lim dan sudah tak bisa tancapkan kaki lagi di sungai telaga untuk menjaga gua rahasia itu"

Liu Tiang-kay segera teringat kembali dengan si tujuh pembunuh Tu Jit yang dapat mencabut nyawa orang secepat kilat.

"Diluar ruang rahasia dalam gua itu terdapat sebuah pintu baja seberat ribuan kati" kembali Liong Ngo menerangkan.

Kali ini Liu Tiang-kay teringat dengan Si Tiong, orang yang memiliki tenaga raksasa.

"peti itu disimpan di dalam sebuah pintu rahasia dalam ruang rahasia itu, untuk masuk ke dalam ruang rahasia, orang harus membuka pintu rahasia itu lebih dulu, harus membuka tujuh macam gembokan, setiap gembokan dibuat oleh ahli kunci kenamaan dikolong langit saat ini"

Kembali Liu Tiang-kay teringat dengan Kongsun Biau. "Yang lebih penting lagi, letak gua itu hanya berjarak

berapa depa dari tempat tinggalnya, begitu ada tanda bahaya,

setiap waktu setiap saat dia bisa menyusul ke sana, bila dia sudah muncul disitu, maka tak akan ada seorang manusia pun di dunia ini yang bisa membawa pergi peti tersebut"

Liu Tiang-kay menghela napas panjang, mendadak dia memahami akan satu hal rasa takut dan ngeri Liong

Ngo terhadap See-soat hujin bukan melulu lantaran botol berisi obat itu, paling tidak ada separahnya dikarenakan ilmu silat yang dimiliki perempuan itu.

Kepandaian silat yang dimiliki wanita itu jelas tidak berada dibawah kemampuan Liong Ngo. "Untung saja dia mempunyai satu kebiasaan yang amat menggelikan" terus Liong Ngo, "yaitu saban malam, sebelum naik ke tempat pembaringan, dia selalu akan melumuri setiap inci tubuhnya dengan minyak madu yang khusus dibuatnya untuk itu"

Kembali sinar mata benci dan muak memancar keluar dari balik pandangannya, dia berkata lebih jauh: "Tiap hari, paling tidak dia butuh setengah jam lamanya untuk melakukan itu, ketika sedang melakukan hal tersebut, dia selalu mengunci diri didalam kamar, saat itu, biar langit sedang runtuh pun dia tak bakalan tahu"

Akhirnya Liu Tiang-kay paham, mengapa mereka sampai berpisah dan tak mau berkumpul kembali.

Jika saban hari bininya harus membuang waktu hampir setengah jam lamanya hanya untuk melakukan kebiasaan yang sangat menggelikan, lama kelamaan dia pasti tak akan tahan.

Di kolong langit saat ini, mungkin tak bakal ada seorang pria pun yang tahan dan rasanya ttap orang

bisa membayangkan sendiri, tiap hari harus memeluk sang istri yang sebelum naik pembaringan untuk tidur, selalu melumuri sekujur badannya dengan minyak madu, kejadian semacam ini benar benar merupakan satu peristiwa yang menakutkan.

Tampaknya Liong Ngo dapat membaca jalan pikirannya, dengan suara dingin katanya:"Kejadian semacam ini benar benar merupakan satu kejadian yang sangat memuakkan, tapi, justru waktu selama setengah jam ini merupakan satu satunya kesempatan bagimu untuk turun tangan"

"Berarti didalam waktu setengah jam aku harus berhasil membantai ke tujuh okpa itu, menyingkirkan pintu baja seberat ribuan kati, membuka ke tujuh buah gembokan, mencuri peti itu kemudian masih harus kabur sejauh ratusan li agar tidak terkejar olehnya?" seru Liu Tiang-kay. Liong Ngo manggut manggut.

"Aku toh pernah berkata, tugas semacam ini seharusnya dikerjakan oleh tiga orang" katanya.

Liu Tiang-kay menghela napas panjang, ujarnya setelah tertawa getir:

"Bukan hanya tiga orang, bahkan mereka harus Tu Jit, Si Tiong dan Kongsun Biau bertiga "

"Tapi sekarang, kau telah memusnahkan ke tiga orang itu, sedang aku pun tak akan bisa menemukan lagi tiga orang semacam mereka" sambung Liong Ngo dingin.

Liu Tiang-kay sangat memahami jalan pikirannya, dia segera menyela:"Itulah sebabnya, sekarang aku pasti akan melakukan pekerjaan tersebut untukmu"

"Kau yakin akan berhasil?" "Tidak, aku tak yakin"

Liong Ngo segera menarik wajahnya, kerutan dahinya nampak sangat menyeramkan.

Dengan suara hambar kembali Liu Tiang-kay menyambung:"Selama hidup, entah tugas apapun yang sedang kukerjakan, sebelum dilakukan, aku tak pernah merasa punya keyakinan untuk berhasil"

"Tapi tiap tugas selalu berhasil kau laksanakan?"

"Justru karena aku tak yakin, maka setiap gerak gerik dan sepak terjangku selalu kuperhitungkan dengan cermat dan sangat hati hati" Liu Tiang-kay tertawa.

Liong Ngo ikut tertawa.

"Bagus, ucapan yang sangat bagus, aku memang selalu senang dengan orang yang cermat dan sangat hati hati" "Tapi sekarang, aku masih belum tahu bagaimana harus bertindak" "Kenapa?"

"Sebab aku belum tahu, gua rahasia itu terletak dimana"

Kembali Liong Ngo tertawa, sambil tersenyum dia memberi tanda.

Lelaki setengah umur berbaju hijau itu segera berjalan mendekat, kemudian meletakkan setumpuk uang kertas diatas meja.

"Tumpukan uang itu bernilai lima puluh laksa tahil perak, ambillah dan bermainlah sepuas puasnya selama beberapa hari" kata Liong Ngo.

Liu Tiang-kay sama s ekali tak sungkan, dia s egera terima tumpukan uang itu dan masukkan ke dalam saku.

"Aku hanya berharap dalam sepuluh hari kau bisa gunakan lima puluh laksa tahil perak itu untuk berfoya foya hingga ludas" kembali Liong Ngo berkata.

Liu Tiang-kay segera tersenyum.

"Tidak gampang menghabiskan uang sebanyak itu" katanya, "tapi paling tidak aku bisa belikan rumah gedung buat perempuanku, aku masih bisa kalah"

"Asal satu diantara kedua hal tersebut bisa kau lakukan, ha! itu sudah lebih dari cukup" sorot mata Liong Ngo memancarkan juga sinar kegembiraan.

Setelah berhenti sejenak, kembali terusnya:"Siapapun itu orangnya, sebelum melaksanakan sebuah tugas yang berat dan penting, ia perlu releks dan mengendorkan seluruh syarafnya, apalagi kau sudah banyak menderita gara gara ulahku"

"Padahal penderitaan itu belum seberapa" kata Liu Tiang- kay hambar, "bagaimanapun juga, Lan Thian-bong sudah tua, serangan yang dia lancarkan sudah tidak berat" Tiba tiba Liong Ngo tertawa tergelak............

Dengan perasaan terhenyak lelaki setengah umur berbaju hijau itu berpaling memandang wajahnya, sejak dulu hingga sekarang, belum pemah ia jumpai majikannya tertawa sekeras itu.

Tapi suara tertawa Liong Ngo yang nyaring dengan cepat disudahi, tiba tiba dia menarik wajahnya dan berkata serius:"Sepuluh hari kemudian, kau sama sekali tak diperkenankan menyentuh seorang wanita pun, dilarang meneguk setetes arakpun"

Liu Tiang-kay tersenyum.

"Setelah berhura hura selama sepuluh hari, aku rasa untuk sementara waktu akupun akan kehilangan selera untuk mendekati wanita" katanya.

"Bagus, bagus sekali, sepuluh hari kemudian aku akan mengurus orang untuk mencarimu dan membawa kau ke tempat itu"

Tiba tiba mimik mukanya berubah jadi sangat letih, sembari mengidapkan tangannya ia berkata: "Sekarang kau boleh pergi"

Liu Tiang-kay tidak bicara apa apa lagi, dia segera pergi dari situ.

Mendadak terdengar Liong Ngo berseru lagi:"Bagaimana pendapatmu tentang enam orang wanita yang selama beberapa hari ini selalu menemani dan melayanimu?"

"Mereka bagus sekali"

"Jika kau suka, tak ada salahnya untuk bawa pergi mereka semua" "Memangnya perempuan lain di dunia ini sudah mampus semua?" seru Liu Tiang-kay sambil tertawa tergelak. "Tentu saja tidak" "Kalau toh belum pada mampus, kenapa aku harus memakai ke enam orang wanita itu lagi?"

0-0-0

Liu Tiang-kay sudah berjalan keluar dari bilik.

Memandang bayangan punggungnya yang menjauh, sekali 1 agi sorot mata Liong Ngo memancarkan cahaya setajam mata golok.

"Bagaimana pendapatmu tentang orang ini?" tiba tiba dia bertanya.

Lelaki setengah umur berbaju hijau itu berdiri hormat di belakang pintu, lewat lama kemudian dia baru berkata:"Dia adalah seorang yang sangat berbahaya!"

Setiap patah kata yang diucapkan diutarakan sangat lambat, seakan akan setiap patah kata yang akan diucapkan selalu dipikirkan dan dipertimbangkan masak masak terlebih dulu sebe lum diucapkan.

"Goloknya pun sangat berbahaya" sela Liong Ngo. Lelaki berbaju hijau itu manggut manggut.

"Betul, goloknya bukan saja dapat dipakai untuk membu nuh orang, kadangkala juga bisa merobek tangan sendiri" "Seandainya golok itu berada ditanganmu?" "Belum pernah aku merobek lenganku sendiri"

Liong Ngo tertawa hambar, katanya: "Aku amat suka menggunakan manusia berbahaya, seperti juga kau amat senang menggunakan golok kilat" "Aku mengerti"

"Aku paham, kau pasti dapat mengerti. "

Kali ini dia pejamkan matanya, setelah terpejam sama sekali tidak dibuka kembali.

Rupanya ia sudah tertidur. Liu Tiang-kay sudah berjalan keluar dari perkampungan milik Mong Hui.

Dia Tidak berjumpa lagi dengan Mong Hui, dia pun tidak melihat lagi ke enam orang wanita itu.

Sepanjang perjalanan keluar dari perkampungan, dia tak nampak sesosok bayangan manusia pun. Tampaknya Mong Hui termasuk orang yang tak suka menghantar pergi tamunya, untung saja Liu Tiang-kay termasuk type manusia macam begini.

Perlahan-lahan dia berjalan menelusuri jalan raya, dia nampak begitu santai, begitu releks, seakan akan tak ada persoalan yang membelenggu pikirannya.

Bila seseorang menggembol lima puluh laksa tahil perak di dalam sakunya, bila seseorang dapat berhura-hura selama sepuluh hari lamanya , sikap maupun lagaknya pasti sama seperti dirinya saat itu.

Yang menjadi persoalan saat ini hanya satu, dengan cara apa hura hura itu akan diselenggarakan? Dengan hura hura macam apa semua uang itu bisa digunakan hingga ludas?

Persoalan semacam ini tidak seharusnya membuat pusing siapapun.

Di dalam kenyataan, hampir semua orang pasti senang memikirkan persoalan ini, bahkan orang yang tidak menggembol uang sebanyak lima puluh laksa tahil perak pun kadangkala senang berkhayal seolah olah mereka memiliki banyak uang untuk berfoya foya.

Siapapun orangnya, jika mereka membayangkan masalah ini, biar sedang tertidur nyenyakpun seringkah bisa mendusin sambil tersenyum.

Hang-ciu sesungguhnya merupakan sebuah kota besar yang sangat ramai Di dalam kota besar yang ramai, sudah pasti banyak terdapat tempat perjudian serta perempuan, dua hal tersebut memang merupakan tempat yang cocok untuk menghamburkan uang. Apalagi perjudian.

Mula mula Liu Tiang-kay mencari beberapa orang wanita yang termahal untuk dinikmati lebih dulu, kemudian minum sam pai mabuk dan akhirnya pergi main judi.

Kalau orang minum dulu sampai mabuk kemudian baru pergi bermain judi, keadaan itu tak ubahnya s eperti membenturkan kepala sendiri d atas batu cadas, kalau bisa menang judi pasti meru pakan satu kejadian yang aneh.

Tapi, kejadian aneh memang seringkah muncul tanpa diduga. Liu tiang-kay ternyata berhasil menang judi, dia berhasil menangkan lima puluh laksa tahil perak lagi.

Sebenarnya dia ingin menghadiahkan ke lima orang wanita itu sepuluh laksa tahil perak setiap orang, tapi keesokan harinya tiba tiba dia merasa ke lima orang wanita itu hampir semuanya sangat memuakkan, yang satu lebih jelek daripada yang lain, jangan lagi sepuluh laksa tahil, biar seribu tahi! perakpun rasanya tak pantas.

Memang banyak lelaki selalu bersikap demikian, wanita yang dilihat ketika sedang mabuk pada malam harinya selalu dianggap amat cantik bagai bidadari dari kahyangan, tapi begitu sadar dari mabuk keesokan harinya, wajah mereka seakan akan telah berubah jadi amat jelek.

Keadaannya waktu itu persis seperti orang yang sedang melarikan diri, kabur dari sebuah rumah pelacuran..........

kabur lagi ke rumah pelacuran yang lain, apalagi kalau sudah minum arak, dia selalu berpendapat kali inilah dia telah menemukan tempat pelacuran yang paling cocok dengan seleranya.

Hanya perempuan perempuan ditempat itulah benar benar memiliki kecantikan wajah bagai bidadari dari kahyangan. Tapi keesokan hari ketiga, sewaktu dia mendusin dari mabuknya, kembali dia merasa perempuan yang tersedia ditempat itu ternyata jauh lebih memuakkan, jauh lebih jelek rupa ketimbang lima orang wanita yang dinikmatinya pada hari pertama, bukan saja dia muak untuk memakainya,.

Bahkan untuk melirik sekejap pun rasanya amat malas.

Di hari kemudian, mucikari rumah pelacuran itu bercerita kepada orang lain, katanya, semenjak dua belas tahun dia di jual untuk melacurkan diri hingga akhirnya menjadi seorang mucikari kenamaan, belum pernah dia jumpai lelaki hidung belang seroyal dan begitu tak punya perasaan semacam tamu "she-Liu" itu.

Dia boleh dibilang tak kenal orang, tak berperasaan dan sama sekali tak punya belas kasihan.

Ketika Liu tiang-kay berjalan masuk kedalam rumah makan Thian-hiang-lo, tengah hari baru saja lewat.

Dia baru saja menghabiskan delapan puluh tahil perak, maka dipesannya satu meja hidangan masakan termewah, lalu memerintahkan sang pelayan untuk menjajarkan semua hidangan diatas meja agar dia bisa melihatnya dengan jelas, kemudian dengan membayar seratus dua puluh tahil perak, dia tinggalkan rumah makan itu begitu saja.

Padahal dia sama sekali tidak mencicipi hidangan yang dipesannya itu, biarpun hanya sesuap. Konon memang seringkah terdapat orang kaya yang senang memesan hidangan yang berlimpah ruah, tapi dia sendiri tidak mencicipinya, dia bahkan hanya duduk disamping meja melihat orang lain makan.

Masih untung semalam dia menderita sedikit kekalahan, tapi uang yang masih digembol dalam sakunya sekarang masih ada tujuh puluh laksa tahil perak. Tiba tiba dia mulai sadar, ternyata bukan pekerjaan yang terlalu gampang untuk menghabiskan uang sebanyak lima puluh laksa tahil perak dalam sepuluh hari.

Waktu itu adalah akhir musim semi dan permulaan musim panas, udara amat bagus dan segar, cahaya matahari bagaikan kerlingan mata seorang gadis perawan.

Dia ambil keputusan akan berjalan jalan diluar kota, udara segar diluar kota mungkin bisa membantunya menemukan akal yang baik untuk menghamburkan sisa uang yang dimilikinya.

Dia pun segera membeli dua ekor kuda jempolan ditambah sebuah kereta kuda yang masih baru, bahkan dia pun menyewa seorang kusir kereta yang masih muda dan kuat untuk membawa kereta kuda itu.

Dalam waktu singkat semuanya telah beres, tapi dia hanya menghabiskan uang sebanyak seribu lima ratus tahil perak.....................

Uang, kadangkala bisa juga dipakai untuk membeli waktu.

Sebidang tanah berwarna hijau segar terbentang diluar kota, pegunungan yang terlihat dikejauhan tampak bagaikan payudara perawan yang sedang melompat keluar dari balik pakaian.

Dia perintahkan kereta untuk berhenti dibawah pohon yangliu, kemudian dengan santainya berjalan menelusuri tepi telaga, angin sepoi sepoi yang berhembus lewat tampak menimbulkan riak kecil diatas permukaan air, dari kejauhan riak riak air itu tampak bagaikan pusar seorang gadis muda.

Dia merasa, dirinya saat ini tak ubahnya seperti seorang hidung belang sejati.

Dikala dia mulai berpikir dan melamun, tiba tiba pemuda itu menyaksikan munculnya seorang gadis yang sepuluh kali lipat lebih cantik daripada cahaya matahari, lebih manis daripada pegunungan nun jauh disana balikan sekalipun ditambah dengan riak air diatas permukaan telaga.

Gadis itu sedang memberi makan sekawanan ayam dalam pekarangan rumahnya yang kecil, dia mengenakan gaun berwarna hijau, sembari menyebar segenggam beras, mulutnya yang kecil mungil tak hentinya mengeluarkan bunyi "kurr,kurr.kurr" untuk memanggil kawanan ayam itu.

Selama hidup, belum pernah dia jumpai bibir kecil se mungil dan seindah itu.

Udara terasa mulai panas, pakaian yang dikenakan perempuan itu tipis sekali, kancing diatas kerah bajunya tampak terbuka satu sehingga nampak dengan jelas tengkuknya yang berwarna putih dan sangat halus.

Hanya melihat tengkuknya saja, orang dapat dengan mudali membayangkan bagian bagian tubuhnya yang lain, apalagi waktu itu dia bertelanjang kaki, sepasang kakinya yang putih mungil hanya mengenakan sepasang bakiak kayu.

"Kaki diatas bakiak putih bagai salju, pusar drperut hitam bagai burung gagak"

Tiba tiba Liu Tiang-kay merasa dua bait syair diatas benar benar tidak mengerti tentang wanita, mana ada kaki wanita diibarat kan dengan "salju"? Kalau ingin bicara sejujurnya, kaki wanita seha rasnya putih bagai susu sapi, lembut bagai telur ayam yang baru keluar dari cangkangnya.

Dari dalam bilik rumah muncul seorang lelaki, seorang pria y«i| usianya sudah cukup banyak, wajahnya sangat memuak kan, terutama sepasang mata cabulnya sungguh memuakkan sekali, waktu itu mata yang memuakkan itu sedang menatap pantat si gadis yang bulat lagi kencang.

Tiba tiba dia berjalan mendekat, setelah meraba dan meremas sejenak pantat bulat itu, dia menarik tangan gadis itu untuk diajak masuk. Gadis itu nampak tertawa cekikikan, sambil gelengkan kepalanya dia menuding matahari di angkasa, artinya dia sedang berkata, sekarang masih siang, kenapa kau sudah ngebet?

Kelihatannya pria itu adalah suami si gadis.

Membayangkan bagaimana begitu malam tiba, si lelaki tengik iiu segera akan menarik si gadis naik ke ranjang dan menaikinya, hampir saja Liu Tiang-kay tak dapat menahan diri, dia ingin menerjang ke hadapan lelaki itu dan meninju hidungnya hingga bengkok.

Sayang dia bukan manusia yang tak tahu aturan, dia tahu meskipun dia bisa menghajar hidung lelaki itu sampai bengkok, dia tak bisa menghajarnya dengan memakai kepalan.

Buru buru dia balik kembali ke kota, uang kertas miliknya segera ditukar dengan goanpo bernilai lima puluh tahil perak, kemudian balik laci ke tempat semula.

Waktu itu, si nona sudah tidak lagi memberi makan ayam ayamnya, suami istri berdua sedang duduk di muka pintu rumah, yang satu sedang minum teh sedang yang lain sedang menjahit pakaian.

Jari tangannya yang halus, panjang dan indah sedang meraba rata tubuh lelaki itu, Ooh, betapa nikmatnya ketika dibelai.....diraba......

Liu Tiang-kay tak dapat menahan diri lagi, dia segera mengetuk pintu, kemudian tanpa menunggu jawaban orang lain, dia langsung mendului, masuk ke dalam ruangan.

Lelaki itu segera melompat bangun, tegurnya dengan mata melotot:"Siapa kau? Mau apa datang kemari?"

Liu Tiang-kay tersenyum. "Aku she-Liu, khusus datang kemari untuk menyambangi kalian!"

"Tapi aku tidak kenal kau!"

Liu Tiang-kay tersenyum, dia ambil keluar sekeping goanpoo, kemudian katanya:"Tapi kau pasti kenal dengan benda ini bukan?"

Tentu saja setiap orang pasti kenal dengan benda itu, sepasang biji mata lelaki itu hampir melotot keluar, teriaknya:"ltu kan uang perak, goanpo perak!"

"Kau memiliki berapa banyak goanpo macam begini?" tanya Liu Tiang-kay lagi.

Lelaki itu tak mampu menjawab, sebab biar sekeping pun dia tak punya.

Waktu itu, si gadis sebenarnya ingin bersembunyi ke dalam kamar, tapi dia segera menghentikan langkah kakinya setelah melihat kepingan goanpo itu.

Benda semacam ini tampaknya memiliki daya tarik yang luar biasa, bukan saja dapat menghentikan langkah kaki banyak orang, juga dapat merontokkan liangsim banyak orang.

Liu Tiang-kay mulai tertawa.

Dia segera memberi tanda, si kusir pun segera menggotong keluar empat buah peti besar yang penuh berisi goanpo dari dalam kereta, peti peti berat itu dijejerkan di tengah halaman dan membukanya satu per satu.

Kata Liu Tiang-kay kemudian:"Setiap keping goanpo itu bernilai lima puluh tahil perak, semua goanpo yang ada disitu total jenderal bernilai seribu tahil perak"

Biji mata pria itu nyaris melompat keluar dari kelopak matanya, sementara paras muka perempuan itu pun telah berubah merah membara, napasnya tersengkal sengkal, persis seperti anak gadis yang mulai terangsang napsu birahinya dan ingin segera dinaiki pasangannya.

"Kau ingin tidak mendapatkan semua goanpo itu?" tanya Liu Tiang-kay.

Pria itu segera manggut manggut.

"Bagus sekali" Liu Tiang-kay tersenyum, "bila kau mau, akan kuberikan kepadamu!"

Biji mata lelaki itu hampir saja melompat keluar dari kelopak matanya, ia terhuyung huyung mundur berapa langkah, tubuhnya mulai gontai.

"Sekarang kau boleh segera ambil pergi dua peti goanpo itu, pergi saja semaumu, kereta itu juga kuberikan kepadamu, asal kau baru boleh pulang tujuh hari kemudian"

Setelah tersenyum dan melirik perempuan itu sekejap, lanjutnya: "Sisanya yang dua peti akan kuberikan untuk binimu!"

Perempuan itu sama sekali tidak memandang ke arah suaminya, sepasang matanya seperti tertempel lekat diatas dua peti besar berisi goanpo itu.

Sambil menjulurkan lidahnya membasahi bibirnya yang mulai mengering, pria itu berbisik dengan suara terbata bata: "Kau.....bagaimana bagaimana menurut kau?"

Sambil menggigit bibir tiba tiba perempuan itu membalik kan tubuhnya dan lari masuk ke dalam kamar.

Pria itu seperti ingin mengejar bininya, tapi kemudian dia berhenti, dia batalkan niatnya itu.

Seluruh pikiran dan perhatiannya sudah tertuju pada dua peti besar berisi goanpo itu. Tiba tiba Liu Tiang-kay berkata lagi:"Kau hanya perlu pergi selama tujuh hari, tujuh hari toh bukan masa yang terlalu panjang "

Mendadak pria itu mencomot keluar sekeping goanpo dari dalam peti, lalu digigitnya kuat kuat, saking kerasnya dia menggigit hingga nyaris dua buah giginya patah jadi dua.

Tentu saja semua uang perak itu adalah uang asli.

Liu Tiang-kay berkata lagi:"Setelah tujuh hari, kau masih boleh pulang kemari, sedang bini mu "

Tidak menunggu hingga ucapan tersebut selesai diutarakan, tiba tiba pria itu mengerahkan segenap tenaga yang dimilikinya untuk menggotong peti peti berisi uang perak itu kemudian lari menuju ke kereta kuda.

Si kusir kereta membantunya mengangkat peti uang perak yang lain.

Dengan napas terengah engah dan memeluk peti berisi uang perak itu erat erat, lelaki itu berseru:

"Ayoh jalan, cepat jalan, terserah ke manapun mau pergi, makin jauh semakin baik "

Sekali lagi Liu Tiang-kay tertawa.

Kereta kuda segera bergerak meninggalkan tempat itu dengan kecepatan tinggi.

Liu Tiang-kay segera mengangkat dua peti uang yang tersisa, berjalan masuk ke dalam rumah, meletakkan peti uang dilantai, menutup pintu kemudian menguncinya dari dalam.

Pintu kamar tidur masih dalam keadaan terbuka, kain tirai tergulung setengah, perempuan itu sedang duduk diujung ranjang, menggigit kencang bibirnya, selembar wajahnya telah berubah merah membara, merah segar bagai sekuntum bunga tho. Sambil tersenyum Liu Tiang-kay berjalan masuk ke dalam, kemudian tanyanya perlahan:

"Apa yang sedang kau pikirkan?"

"Aku sedang berpikir, kau benar benar seorang manusia busuk! Maknya ! hanya manusia macam kau yang bisa

memi kirkan cara sekotor itu dan melakukan perbuatan sebusuk itu"

Liu Tiang-kay menghela napas panjang, setelah tertawa getir katanya: "Baru saja aku bertaruh dengan diriku sendiri, perkataan apa yang pertama kali akan kau ucapkan, bila dalam perkataanmu itu ada kata "maknya", aku rela tidak melihat perempuan lain selama tiga bulan penuh"

-00d00w00-