Tujuh Pedang Tiga Ruyung Jilid 20

Jilid 20

"Aku justru ingin membikin cacat diri sendiri, mati pun tidak ada sangkut-pautnya denganmu." teriak Siok-sing pula, belum habis ucapannya air mata lantas bercucuran.

Tentu saja semua orang sama terheran-heran sampai Kiong-sin Leng Liong yang sudah kenyang asam garam kehidupan Kangouw juga merasa bingung akan hubungan kedua orang yang aneh itu.

otak Thi-ta-sucia Ci Tok terus berputar, diam-diam ia menyurut mundur dua-tiga tindak dan memberi tanda. Segera tiga orang begundalnya mendekatinya. 

"Turun tangan" desis Ci Tok sambil memberi tanda kearah siu Su. Serentak ketiga orang itu merogoh saku, jelas hendak mengambil senjata rahasia.

Dalam pada itu semua orang lagi memperhatikan Siu Su dan Buyung Siok-sing, sehingga tidak ada yang menghiraukan mereka.

Buyung Siok-sing tampak menangis sedih, sedangkan Siu Su berdiri termenung memandangi Buyung Siok-sing, katanya kemudian dengan menyesal, "Sesungguhnya apa kehendakmu, katakan saja. "

"Jangan.. .Jangan- kau peduli diriku. " Siok-sing menunduk dengan terguguk.

Mendadak Siu Su menjadi nekat, dijemputnya golok yang jatuh itu, sekali ayun segera ia tabas tangan sendiri.

Siapa tahu sebelum golok menurun kebawahi tahu-tahu tangannya juga dipegang oleh Buyung Siok-sing.

" Untuk apa kau siksa diriku, jika kau mau menabas boleh menabas tanganku saja," ratap Siok-sing.

"Bilakah kusiksa dirimu." kata siu su dengan suara tersendat. "Tapi engkau sendiri"

"Akulah yang salah, boleh kau bunuh saja diriku," ujar siok-sing.

Menyaksikan semua itu, diam-diam dapat dirasakan oleh Leng Liong bahwa diantara kedua orang itu, pasti telah terjadi cinta kasih yang mendalam, soalnya karena ada salah paham, sebab itulah keduanya sekarang lagi uring-uringan. Dia merasa geli dan sengaja tidak mau ikut campur. siapa tahu pada saat itu juga mendadak terjadi hujan senjata rahasia, berpuluh bintik tajam berhamburan mengarah siu su, sebaran senjata rahasia itu sangat cepat, tapi cuma menerbitkan suara yang sangat pelahan.

Karena lagi dirundung kekesalan emosi, siu su menjadi lengah dan tidak merasakan datangnya bahaya.

Leng Liong terkejut, cepat ia hendak menolong, namun sudah terlambat. Bahaya yang mengancam itu sungguh hanya terjadi dalam sedetik saja, mendadak dilihatnya Buyung siok- sing membalik keatas tubuh siu su sambil berteriaki 

"Rebah"

Dan baru saja mereka menjatuhkan diri, berpuluh sinar hitam mengilap itu lantas menyambar lewat diatas kepala mereka, dan Buyung siok-sing tetap terlambat selangkah, dirasakan pundak kesemutan jelas keserempet senjata rahasia.

"Bangsat tidak tahu malu" bentak Leng Liong dengan murka, ia berputar terus menghantam Ci Tok-

Cepat ci Tok mengelak, tiga orang lantas menubruk maju, tiga batang golok mereka serentak menyerang dari tiga jurusan. Kiong-sin Leng Liong tidak gentar, sambil menghindar ia balas memukul dan menendang kian kemari sehingga ketiga lawan terdesak mundur. segera kawanan pengemis dibawah panggung sama berteriak, 

"Pangcu sudah turun tangan, kita mau menunggu apa lagi?"

Belum lenyap suaranya, mendadak dari kerumunan orang banyak itu menyambar setitik sinar perak secepat kilat langsung mengarah dada seorang lelaki putus jari diatas panggung.

Kontan lelaki itu mengerang dan jatuh tersungkur dengan darah muncrat. Cucuran darah juga merangsang kebuasan kawanan lelaki itu seketika suasana berubah menjadi kacau ditengah raungan murka orang banyak- Berpuluh orang anggota Kai-pang segera menyerbu keatas panggung, belasan orang lelaki putus jari juga menerjang kebawah panggung. Maka terjadilah pertempuran terbuka dan berlangsung dengan sengit.

Mestinya Kiong-sin Leng Liong tidak menghendaki terjadi banjir darah pada saat ini dan ditempat begini, tapi kemarahan umum sudah timbul, betapa pun sukar baginya untuk meng atasinya.

Ditengah pertempuran gaduh itu, tiba-tiba siu su dan Buyung siok-sing sama berbangkit. Keduanya saling pandang, siu su berucap dengan tergagap, "Teri... terima kasih "

"Ahi terima kasih apa?" jawab siok-sing lirih dengan mengerling lembut.

segala pertentangan dan salah paham awkara kedua orang seakan-akan memperoleh pengertian dan terhibur oleh ucapan dua kata yang singkat itu, keduanya saling pandang sekian lamanya sampai lupa pada kekacauan yang terjadi disekitarnya. sekonyong-konyong sinar golok berkelebat, dua batang golok menyambar dari belakang siu su, membacok kepala anak muda itu.

siu su tidak berpaling, ia masih tetap memandang Buyung siok-sing, tapi sebelah tangannya lantas terayun kebelakang, "trang-trang" dua kali, kedua golok yang menyambar tiba itu tergetar jatuh ketanah.

Kedua lelaki yang menyergap itu jadi melenggong, mereka tidak mengerti cara bagaimana Siu Su membikin senjata mereka terlepas, mereka cuma merasakan pergelangan tangan tergetar kesemutan, lalu golok terpental.

selagi kedua orang itu melongo heran dan juga jeri, mendadak terdengar oran membentak dibawah panggung. 

"TUrun"

Berbareng itu dua utas tali melayang tiba dari bawah panggung, pada ujung tali tersimpul lingkaran jeratan dan tepat menjerat pada leher kedua lelaki itu, sekali tali ditarik dan jeratan mengencang, kedua orang itu cuma sempat bersuara tertahan, lalu terseret terjungkal kebawah panggung.

"Haha, bagus" teriak anggota Kai-pang yang lain. segera ia pun melemparkan lasso untuk menjerat leher Thi-tah-sucia Ci Tok.

Permainan lasso juga termasuk kepandaian khas kawanan pengemis anggota Kay-pang, menjerat manusia dan binatang atau benda lain dalam jarak beberapa meter boleh dikatakan 

hampir tidak pernah meleset, seratus kali jerat seratus kali kena. Terlihat lasso pengemis itu dengan tepat telah menjerat dileher ci Tok, siapa sangka mendadak Ci Tok membentak malah, 

"Naik kemari"

sebelah tangannya meraih tali lasso, menyusul terus disendai dengan kuat, kontan anggota Kai-pang itu mencelat keudara dan jatuh terbanting diatas panggung. Cepat Ci Tok melompat maju dan memberi bacokan dengan telapak tangan. Tanpa menoleh lalu ia memutar tangannya kebelakang dan tepat menghantam seorang pengemis lain yang menubruk tiba, kontan pengemis itu mencelat kebawah panggung.

suasana ditanah mangkuk pegunungan ini tambah kacau dan hiruk-pikuk dengan suara teriakan, bentakan dan jeritan ngeri disana-sini serta suara nyaring beradunya senjata.

Darah segar pun berceceran diatas panggung dan menggenangi tanah dibawah.

Mendadak Kiong-sin Leng Liong bersuit panjang dan mengapung keudara, ditinggalkannya lelaki yang bergebrak dengan dia setelah mendesaknya mundur dengan suatu pukulan dahsyat, lalu ia menerjang kearah Thi-tah-sucia Ci Tok. Pukulan dengan mengapung diatas udara tambah dahsyat, Ci Tok tidak berani gegabah, cepat ia mengelak kesamping, tapi sebilah golok panjang lantas menabas dari sebelahnya, namun dia sempat mendoyongkan tubuh sambil menendang dengan sebelah kaki sehingga golok yang menyergap itu terdepak lepas. Tiba-tiba bayangan orang berkelebat, Siu Su dan Buyung siok-sing juga telah melayang kedepannya. Pada saat hampir sama Leng Liong juga hinggap disebelahnya, kedua orang mengapit ci Tok dari kanan kiri-

"Hm, apakah kalian ingin main kerubut? Ayolah, silakan mulai saja" jengek Ci Tok dengan lagak takabur.

"Huh, hanya menghadapi dirimu saja perlu main kerubut?" jawab Leng Liong dengan gusar.

Tapi sebelum dia bertindaki siu su telah memberi tanda, katanya, "Tunggu sebentar, Leng-pangcu."

sekilas Leng Liong memandang mayat telah bergelimpangan disana-sini, banjir darah sudah terjadi, tak tertahankan lagi rasa murkanya, teriaknya, "untuk apa banyak bicara lagi dengan dia? Binasakan saja dia lebih dulu"

"Hanya jiwanya saja masakah berharga?" ujar siu su dengan suara tertahan, 

"Buat apa kita menimbulkan korban lebih banyak secara sia-sia diantara saudara Kay-pang kita."

selagi Leng Liong tertegun, segera siu su berseru kepada ci Tok, 

"Jika engkau ingin hidup, hendaknya Lekas kau perintahkan begundalmu berhenti bertempur"

"Buat apa kusuruh mereka berhenti? Melihat orang lain mencucurkan darah kan tontonan yang menarik?" ujar Ci Tok dengan tertawa-

"Memangnya jiwamu sendiri juga tidak kau pikirkan lagi?" jengek siu su dengan menahan rasa gusar.

Ci Tok tampak ragu, katanya kemudian. 

"Jika kuberi perintah gencatan senjata, apakah kalian menjamin keselamatan kami untuk mengundurkan diri dari sini?"

"Baik, kami menjamin keamananmu." jawab Leng Liong.

"Umpama dia tidak mau menjamin, akulah yang menjamin." sela Buyung siok-sing.

Betapapun sebagai anak perempuan dia ngeri menyaksikan pertempuran sengit itu, suara jeritan ngeri benar-benar telah membuat kusut pikirannya,

Ci Tok menyapu pandang sekejap keadaan medan tempur, katanya kemudian sambil menggeleng,  "Korban yang jatuh dari kedua pihak sudah sangat besar, semua orang yang bertempur itu sudah kadung khilap dan nekat, umpama kuberikan perintah berhenti bertempur juga belum tentu mereka mau menurut." 

"Habis bagaimana?" tanya Buyung siok-sing.

"Apa boleh buat, terpaksa membiarkan mereka bertempur hingga mati semuanya." jawab Thi-ta-sucia dengan muka kelam.

Waktu Leng Liong memandang kesana, medan tempur memang kacau, yang bertempur tampak sama nekadnya, semuanya kelihatan seperti binatang buas yang sukar dikendalikan lagi.

Kawanan lelaki putus jari yang sudah sumpah berani mati dan datang bersama Ci Tok itu memang manusia-manusia nekat dunia Kangouw, meski jumlah mereka jauh lebih sedikit dibandingkan anggota Kay-pang, tapi mereka kumpul ditengahi anggota Kai-pang yang mengerubut mereka terpaksa berjubel, malahan yang berada dibelakang tidak mampu ikut memberi bantuan apa pun, dalam keadaan demikian kawanan pengemis sendiri menjadi tambah kacau malah.

Melihat anak buahnya banyak jatuh korban, Leng Liong merasa kasihan juga, katanya, "Bagaimana kalau kita memberi perintah gencatan senjata bersama?"

"Boleh juga jika mau dicoba," jawab Thi-tah-sucia Ci Tok- segera Leng Liong mendahului berteriak. 

"Berhenti bertempur, anak murid Kai-pang Berhenti" Thia-ta-sucia juga membentak dengan lantang, "Berhenti dulu, saudaraku"

Ia pun dapat melihat gelagat, ia tahu untuk bisa mundur dengan selamat, jalan paling baik adalah gencatan senjata, kalau tidaki terpaksa dia harus mati bersama begundalnya yang pada dasarnya memang tidak takut mati itu.

sebab itulah sesungguhnya ia sendiri jauh lebih besar keinginannya untuk berhenti bertempur daripada siapa pun, cuma dia memang licik, segala sesuatu tidak terlihat pada luarnya-

Karena teriakan pimpinan kedua pihak, orang yang bertempur itu sudah mulai mereda. "Berhenti dulu, anak murid Kai-pang" Leng Liong mengulangi seruannya- Maka anak murid 

Kai-pang sudah sebagian menyurut mundur, sebagian lagi menyingkir kesamping.

Kawanan lelaki putus jari mendapat kesempatan untuk ganti napas, mereka juga tidak mendesak maju lagi. siapa duga, pada saat pertempuran itu hampir berhenti seluruhnya, tiba-tiba ditengah gerombolan kaum pengemis ada orang berteriaki 

"sudah sekian banyak saudara kita menjadi korban, jika kita tidak menuntut balas bagi yang telah mati, apakah hati nurani kita dapat tentram terhadap saudara kita yang gugur itu?"

"Betul, serbu saja, binasakan mereka seluruhnya untuk membalas dendam bagi saudara kita yang gugur" teriak lagi seorang yang lain.

Suara mereka yang seram dan mengharukan itu merangsang lagi semangat tempur kawanan pengemis, serentak mereka berteriak bergemuruh.

Melihat gelagat tidak beres, cepat Leng Liong membentak dengan bengis, "siapa itu yang sembarangan berteriak?"

Tapi segera terlihat dua sosok anggota anggota Kai-pang menerjang maju kearah seorang lelaki putus jari, sekali sinar golok berkelebat, kontan nyawa seorang melayang-

Kawanan lelaki putus jari yang lain menjadi murka, teriak mereka, "Keparat yang tidak pegang janji, ayolah kita labrak mereka lagi"

serentak mereka berteriak histeris dan menyerbu pula- seorang anggota Kai-pang agak ayal, kontan perutnya didodet oleh senjata lawan dan menimbulkan jeritan ngeri-Kawanan pengemis yang lain lantas berteriak, 

"serbu Balaskan sakit hati saudara kita" 

suasana menjadi panik lagi, pertempuran sengit berbangkit kembali-

Melihat keadaan sukar dikendalikan lagi, Ci Tok berkata dengan kurang senang, 

"yang melanggar janji adalah pihak Kai-pang sendiri, tidak dapat menyalahkan pihak kami." Kiong-sin Leng Liong juga merasa wibawanya telah dilanggar, dengan gusar ia membentaki "Berhenti anak murid Kai-pang Barang siapa melanggar perintah pasti akan diberi hukuman 

setimpal"

Mendadak siu su mendengus, 

"Hm, yang melanggar perintah bukanlah anak murid Kai-pang-"

Tentu saja Ci Tok menjadi gusar, bantahnya, 

"Fakta membuktikan apa yang terjadi, memangnya pihak kami yang tidak taat kepada perintah jika bukan orang Kai-pang?"

"Yang melanggar perintah itu bukan orang Kai-pang danjuga bukan anak buahmu." kata Leng Liong dan ci Tok sama melengak, "Memangnya siapa dia?" tanya Kiong-sin Leng Liong. siu su menuding kesana dan berkata, 

"Coba kalian lihat ketiga orang yang paling tangkas itu, ketiga orang yang bermuka hitam dan berdandan sebagai pengemis dengan baju rombeng warna kuning itu, perhatikan gerak- gerik mereka"

Waktu semua orang memandang kearah yang ditunjuki benar juga ditengah kekacauan sana terlihat ada tiga orang berdandan sebagai anggota Kai-pang dengan gerak-gerik yang sangat lincah dan tangkas, jelas kungfu mereka jauh lebih tinggi daripada yang lain. 

"Ya, betul juga... ." ucap Leng Liong dengan suara tertahan.

Tiba-tiba tergerak hatinya, teringat olehnya pengirim info rahasia tadi, ia yakin pasti salah seorang diantara mereka ini, keruan ia tambah curiga.

Dari atas terlihat ketiga orang itu sebentar melompat maju lain saat menyusup mundur kebelakang. Tiba-tiba salah seorang membacok secara diam-diam sehingga seorang Kai-pang dirobohkan.

Habis itu dia lantas meraung dan menerjang lagi lelaki putus jari seperti orang yang benar- benar nekat.

Karena kedua pihak sedang bertempur dengan sengit, suasana kacau sehingga tidak ada orang yang memperhatikan gerak-gerik ketiga orang itu. Namun orang yang menonton dari atas panggung dapat mengikuti setiap kejadian itu.

"siapakah orang ini?" tanya Leng Liong dengan gusar. "siapa dia masakah Leng-pangcu belum tahu?" kata siu su. 

"Dia pasti musuh Kai-pang, juga memusuhi pihak Leng-coa-bun Mao Kau, sebab itulah diam- diam mereka menyusup ketengah Kai-pang untuk mengadu domba kedua pihak kalian, bila terjadi pertempuran sengit seperti ini, tidak peduli pihak mana yang menang dan kalah, yang menarik keuntungan jelas adalah mereka. Bilamana kedua pihak sama-sama runtuh, tentu saja tambah menyenangkan bagi mereka. Karena itulah mereka tetap berusaha agar pertempuran sengit ini terus berlangsung.

Baru sekarang Leng Liong menyadari duduknya perkara, ucapnya, "ya, memang betul sungguh bangsat yang berhati keji. "

Thi-tah-sucia Ci Tokjuga terkesiap, ucapnya dengan kening bekernyit, 

" orang yang bermusuhan dengan kedua pihak kita berdua sangat sedikit didunia persilatan ini, kita harus melihatnya sesungguhnya sebenarany siapakah ketiga orang ini?"

Baru selesai ucapannya, serentak ia melompat kebawah panggung menerjang kearah ketiga musuh yang misterius itu. Kiong-sin Leng Liong juga tidak mau ketinggalan, cepat ia menyusul kesana- siu su sendiri malah berdiri diam saja diatas panggung dan mengawasi suasana dibawah.

"Engkau yang menemukan rahasia mereka itu, mengapa engkau tidak turut membekuk mereka?" ucap Buyung Siok-sing dengan suara lembut. 

"Kukuatir engkau ngeri melihat darah yang berceceran dibawahi maka. "

"Ayolah pergi saja, kemanapun tetap ku... -ku. " Buyung siok-sing tidak meneruskan 

ucapannya, sebab mendadak mukanya menjadi merah, lalu menunduk-seketika semangat siu su terbangkit, timbul jiwa kesatrianya, serunya, 

" Ayo pergi" Berbareng mereka bergerak dan melayang turun kesana.

saat itu agaknya ketiga orang berbaju kuning itu pun merasakan gelagat kurang eNak, diam- diam mereka hendak mengeluyur pergi, akan tetapi tahu-tahu Leng Liong dan Ci Tok sudah menghadang didepan mereka.

Mendadak Leng Liong berteriaki 

"Dengarkan anak murid Kai-pang, ketiga orang inilah biang-keladi daripada pertempuran berdarah ini jangan membiarkan mereka kabur" segera Ci Tok juga berseru, "Kepung mereka, saudara-saudaraku"

Ketiga orang itu saling pandang sekejap serta saling memberi tanda, serentak mereka hendak meloncat pergi-

siapa tahu, belum lagi mereka bergerak keatas tahu-tahu dua sosok bayangan orang melayang turun dari atas dengan membawa angin pukulan yang dahsyat sambil membentaki 

"Turun"

Karena damparan angin pukulan itu, ketiga pengemis gadungan itu sama tergetar kebawah lagi.

yang melayang tiba ini adalah siu su dan Buyung siok-sing, sebelum hinggap kepermukaan tanah, lengan baju mereka mengebas sehingga tubuh mereka sempat mengapung lagi sejenak diudara, dengan suara lantang siu su berteriak, 

"Barang siapa berani bergerak lagi, segera akan menerima ganjaran setimpal"

Dengan jelas kawanan pengemis beserta lelaki putus jari itu menyaksikan siu su dan Buyung siok-sing melayang diudara serupa malaikat yang turun dari langit, semuanya sama tercengang, dengan sendirinya tiada seorang pun berani bergerak lagi.

Ketika berhadapan dengan siu su dan Buyung Siok-sing, ketiga pengemis gadungan itu sama menunduk dan tidak berani bertatap muka.

Waktu siu su mengawasi mereka dengan teliti, nyata pada muka mereka telah dipoles dengan hangus sehingga wajah asli mereka sukar dikenali. Dengan suara tertahan siu su berkata kepada Leng Liong, 

"Leng-pangcu, ketiga orang ini sama memoles muka masing-masing dengan hangus, agaknya mereka harus dibekuk hidup,hidup untuk dimintai keterangan sejelasnya, kemudian. "

Belum habis ucapan siu su, sekonyong-konyong satu diantara ketiga pengemis gadungan itu mengikik tawa dan berseru, 

"Tidak perlu bertindak segala. "

Air muka siu su berubah, tanyanya, "siapa kau?"

orang itu masih tertawa, suara tertawanya nyaring merdu, lalu mengangkat kepala dan berkata, 

"Eh, adik cilik, masa engkau sudah pangling kepada Cici?"

Ucapan ini membuat semua orang melengaki mereka sama memandang siu su dan ingin tahu apa jawabnya.

Ci Tok lantas mendengus, "Hm, bagus sekali, kiranya dia ini adalah saudara siu-kongcu kita."

Pengemis gadungan yang bicara itu lantas menyingsing lengan bajunya untuk mengusap muka sendiri, hangus yang terpoles pada wajahnya lantas hilang dan tertampaklah kulit mukanya yang putih halus.

Semua orang sama melongo- Sebera juga ada yang mengenalnya sebagai Pekitiohihui-hoa Lim Ki-ceng.

"Hahi kau Lim Ki-ceng" seru siu su.

Lim Ki-ceng tertawa ngikiki katanya kemudian, 

"Ai, sesudah punya kekasih baru lantas melupakan yang lama, ya?" seketika air muka Buyung siok-sing juga berubah.

Dengan tertawa genit Lim Ki-ceng berucap pula, 

"Wahi cantik amat adik ini- Eh, siapakah namamu? Cara bagaimana engkau berkenalan dengan adikku ini? Maukah kau ceritakan padaku? "

"Tutup mulutmu" bentak siu su dengan gusar.

Lim Ki-ceng menghela napas menyesal, katanya, "ai, mengapa engkau jadi begini galak padaku? Masa kau lupa tempo hari betapa mesra kau panggil cici padaku, waktu itu hatiku bisa luluh bila mendengar panggilanmu yang mesra itu, tapi sekarang.... sekarang. "  Dia menghela napas panjang dan menunduk seperti orang yang sangat kecewa dan menyesal.

Muka Buyung siok-sing sebentar merah sebentar pucat, katanya dengan suara agak gemetar, "siu su, se.. sebenarnya. "

Tidak kepalang dongkol dan gusar siu su sehingga mukanya merah padam, tapi apa daya, siapa pun, lelaki perkasa macam apapun bila menghadapi perempuan yang suka aleman dan tidak tahu malu begini pasti juga akan mati kutu.

Karena itu, suasana menjadi gempar lagi, semua orang kasak-kusuk membicarakan hal ini. Leng Liong berpikir dengan cepat, mendadak ia membentak-

"Bekuk dulu ketiga orang ini dan urusan diselesaikan belakang" "Betul" seru siu su-

Mendadak Lim Ki-ceng berteriaki "Aku ini kakak siu-kongcu dan bibi guru Thi-ta-sucia ci Tok, siapa diantara kalian yang berani mengusik diriku?"

Ci Tok lantas mendengus, 

"Hm, tidak cuma seorang bibi guru saja, malahan masih ada dua orang paman guruku, bukan?"

Kedua pengemis gadungan yang lain serentak menjawab, "ya, betul"

segera mereka pun mengusap wajah masing-masing sehingga terlihat muka aslinya Jelas mereka juga samaran tokoh diantara jit-kiam-sam-pian (tujuh pedang dan tiga ruyung), yaitu Co- jiu-sin-kiam Ting Ih dan ong It-beng.

Kiranya ketiga orang ini kabur dari-pertemuan besar para kesatria yang diadakan Mao Kau di Hangciu tempo hari, mereka lantas berkumpul menjadi satu. Cuma seketika mereka pun tidak berhasil menemukan jejak Mao Kau yang kemudian terus bersembunyi itu.

sampai suatu hari mereka mendengar kawanan pengemis dari Kai-pang hendak mengadakan pesta ulang tahun bagi Liong-sin Leng Liong ditanah mangkuk pegunungan ini, maka mereka lantas berusaha menyusup ketengah kawanan pengeimis, untuk ini jalan terbaik bagi mereka adalah menyamar sebagai pengemis.

Mestinya mereka bermaksud mengadakan kontak dengan pihak Kai-pang untuk bersama- sama menghadapi Mao Kau, tapi ketika mereka melihat Thi-ta-sucia Ci Tok juga muncul disitu dengan begundalnya, segera rencana mereka berubah-

Lim Ki-ceng yang mengusulkan agar berusaha mengadu domba antara Kai-pang dengan pihak ci Tok, bilamana kedua pihak sudah jatuh korban dan susut tenaga intinya, lalu dengan  kekerasan mereka akan mengancam Leng Liong aaar menuruti kehendak mereka untuk menghadapi Mao Kau.

Biasanya Co-jiu-sin-kiam Ting Ih selalu menuruti setiap kehendak Lim Ki-ceng, dalam demikian ong It-beng juga cuma menurut saja, maka mereka lantas sengaja mengirim info rahasia kepada Leng Liong untuk membongkar kedok Ci Tok-

siapa tahu urusan lantas berubah lagi, mendadak siu su muncul, biarpun samaran mereka sangat misterius, tapi pandangan siu su yang tajam tetap dapat membongkar tipu-muslihat mereka-

Begitulah setelah samaran mereka terbongkar Lim Ki-ceng lantas mengeluarkan kemahirannya lagi dengan main memikat dan mengadu domba, dengan mengerling genit ia berkata pula. 

"Jika kalian hendak bertindak kepadaku, agaknya perlu kalian minta izin dulu kepada siu- kongcu dan Thi-ta-sucia."

Tapi Ci Tok lantas mendengus, "Hm, sudah lama kalian mengkhianati guruku, memangnya kau kira kami tidak tahu?"

Tergetar juga hati Lim Ki-ceng, tapi dia tertawa terlebih manis, katanya kepada siu su, 

"Itu dia, dengar tidaki adik su? Demi membela dirimu, banyak kawan karibku telah berubah, dari kawan berubah menjadi lawan. Tapi engkau malah bersikap garang padaku. masakah tidak kau bela diriku?"

Tiba-tiba timbul sesuatu pikiran siu su, tanyanya, "Dan bagaimana dengan Ting Ih dan ong It-beng?"

"Tentang mereka " Lim Ki-ceng bicara dengan tertawa genit, mendadak ia membalik tubuh 

dan menghantam tepat mengenai dada Co jiu-sin-kiam Ting Ih.

Keruan Ting Ih kaget, mimpi pun tak terpikir olehnya akan diserang Lim Ki-ceng, ketika mau mengelak sudah terlambat, ia tergetar mundur dua-tiga tindak dan tumpah darah, serunya dengan suara gemetar, 

"Ke keji amat kau"

ong It-beng juga kaget, teriaknya dengan gusar, "

Prempuan hina, demi keselamatan sendiri lantas hendak kau jual kawan?"

Mendadak ia menengadah dan bergelak tertawa, suaranya berubah menjadi pedih, serunya, "Baiklahi apa yang dapat kukatakan lagi, biarlah orang she ong menyempurnakan kehendakmu."

Tiba-tiba ia menggorok leher sendiri dengan pedangnya, seketika darah berhamburan dan robohlah dia terkapar. Rupanya dia menyadari keadaan yang tidak menguntungkan, betapa pun sukar lolos dari kepungan musuhi maka sekalian dia membunuh diri saja dan habis perkara. Co jiu-sin-kiam Ting Ih meraba dada yang terpukul Lim Ki-ceng tadi, ucapnya dengan tersenyum pedih, 

"Hm, bagus, bagus kau. Sekarang baru sekarang kukenal sesungguhnya siapa kau?"

Mendadak ia menggreget, ia menggigit ujung lidah sendiri hingga putus, ia meraung dan menyemburkan lidah putus dan darah kemuka Lim Ki-ceng, lalu roboh terguling.

Adegan membunuh diri yang mengerikan ini sungguh membuat semua orang terkesiap, sampai Kiong-sin Leng Liong juga menghela napas, katanya, 

"sungguh lelaki gagahi kematian yang gemilang"

Dengan suara tandas ci Tokjuga berkata. "Jelek-jelek mereka ternyata tidak malu sebagai anggota Jit-kiam-sam-Pian"

sinar matanya berputar, kembali ia mengalihkan pandangnya kepada Lim Ki-ceng.

Dengan lengan bajunya Lim Ki-ceng membersihkan darah yang melumuri wajahnya, biarpun hatinya berbisa, melihat kematian Ting Ih dan ong It-beng yang gagah berani itu, mau-tak-mau ia pun ngeri-

Namun dia tetap tertawa genit dan berucap pula, 

"Adik cilik, coba kau lihat, lantaran membela dirimu, aku. "

"Diam" bentak siu su dengan muka masam, 

"Takkan kubunuh dirimu, jika kubunuh dirimu kan cuma membikin kotor tanganku saja." "Tidak, Saudara siu," bentak Leng Liong mendadaki 

"Perempuan hina-dina dan beracun seperti ini harus kita cincang dia- " " Hahhh" Lim Ki-ceng menjerit ngeri.

Mendadak terbayang olehnya adeganpada sembilan belas tahun yang lalu disuatu tempat pegunungan, dimana seorang pendekar muda gagah perkasa dengan sekujur badan berlumuran darah sedang merintih dan meronta karena dicencang orang. Tubuhnya bergemetar, mendadak ia menubruk kearah siu su sambil berteriak dengan rasa ngeri, "Tolong. "

Tapi sebelum orang mendekat, lengan baju siu su lantas mengebas sambil membentaki "Enyah"

Kontan Lim Ki-ceng tergetar mundur beberapa tindak dan jatuh terduduki Disampingnya itulah menggeletak mayat Co-jiu-sin-kiam Ting Ih. Meski sudah mati, namun kedua mata Ting Ih tampak mendelik, jelas mati dengan penasaran, menanggung benci dan duka. Melihat wajah Ting Ih yang sudah tak bernyawa itu, mendadak Lim Ki-ceng menangis sedih, ia menubruk keatas mayat Ting Ih sambil meratap, 

"o, Ting-toako, aku... aku berdosa padamu..."

Dengan ketus Thi-tah-sucia Ci TOk menjengeki "Hm, baru sekarang merasa menyesal, bukankah sudah terlambat?"

Dalam pada itu kawanan pengemis Kai-pang telah mendesak maju.

"Tidak perlu kalian membunuhku, aku dapat membunuh diri sendiri" seru Lim Ki-ceng sambil melompat bangun mendadak-

"Hm, membunuh diri? Kan terlalu murah bagimu" jengek kawanan pengemis dengan gusar, serentak mereka mendesak maju lagi.

"Siapa berani mendekat?" teriak Lim Ki-ceng sambil menarik dada baju sendiri.

Meski dia sudah tergolong setengah umur, namun kulit badannya masih tetap putih mulus, halus terpelihara, dadanya yang masih cukup montok itu tampak berjumbul naik-turun mengikuti getar napasnya.....

semua orang sama melenggong dan menyurut mundur. Wajah Buyung siok-sing tampak pucat, pelahan ia melengos.

Lim Ki-ceng tertawa pedih, serunya kemudian, "Tapi sebelum kumati, ada beberapa patah kata ingin kukemukakan."

"Lekas bicara?" bentak Leng Liong dengan tak sabar-

Lim Ki-ceng membalik tubuh menghadapi siu su, lalu berteriaki " Kutahu engkau sangat benci terhadap jit-kiam-sam-pian, kutahu engkau sangat menginginkan kematian mereka, kalau bisa hendak kau bunuh sekaligus. "

siu su tidak mau memandang dada orang, ia menengadah dan mendengus, "Hm, Jit-kiam- sam-pian adalah musuhku yang tak terampuni, ucapanmu memang tidak salah-"

"ya, betul, harus kuakui bahwa memang jit-kiam-sam-pian yang membunuh ayahmu," kata Lim Ki-ceng dengan menyesal, mendadak suaranya berubah sedih, "Namun. apakah kau tahu 

sesungguhnya siapa yang membunuh ayahmu?" siu su jadi melenggong, tanyanya, "Siapa?"

Dengan tandas Lim Ki-ceng bertutur, "Pikirkan saja, waktu itu adalah masa jaya ayahmu, dia sedang malang melintang di dunia Kangouw tanpa tandingan, sebaliknya tatkala mana kepandaian jit-kiam-sam-pian belum lagi mencapai taraf seperti sekarang ini. "

"Hm, biar pun sekarang juga cuma begini saja."jengek Kiong-sin Leng Liong. Lim Ki-ceng berlagak tidak mendengar sindirannya, ia menyambung ceritanya, "Kalau cuma kepandaian jit-kiam-sam-pian waktu itu, biarpun sepuluh lawan satu juga bukan tandingan siu- siansing, mana bisa mereka membunuhnya dan mencencangnya-" 

"Habis siapa yang membunuh ayah?" teriak siu su dengan suara gemetar. Lim Ki-ceng sengaja berdiam sejeNak, habis itu mendadak berteriaki 

"Ibumu"

"Hahh Kentut" bentak siu su kaget dan gusar, segera ia bermaksud memburu maju untuk memberi hajaran padanya.

Tapi Lim Ki-ceng lantas berteriak pula, 

"Tentu saja engkau tidak percaya. Tapi hendaknya kau tahu, aku sudah akan mati, untuk apa aku memfitnah ibumu sendiri?Jika kau mau tahu duduk perkara yang sebenarnya, hendaknya kau dengarkan dulu ceritaku lebih lanjut."

siu su tidak jadi melangkah maju, dengan tubuh bergemetar katanya kemudian, "Co... -coba jelaskan"

semua orang juga tercengang oleh cerita yang luar biasa ini, seketika keadaan menjadi sunyi, semuanya pasang telinga ingin mendengarkan duduk perkara peristiwa ngeri yang terjadi pada sembilan belas tahun yang lalu itu.

Maklumlah, meski peristiwa lama itu pernah menggemparkan dunia Kangouw, tapi tidak ada seorang pun tahu bahwa dibalik tragedi itu masih menyangkut sesuatu rahasia lain. Kiong-sin Leng Liong juga kelihatan prihatin dan tidak ikut bicara lagi.

"Pada waktu sebelum lit-kiam-sam-isian menggerubuti siu Toki ibumu sudah ada hubungan intim dengan ayahmu, atas suruhan Mao Kau, yaitu kakak ibumu, pada saat siu TOk sedang berlatih kungfu, secara mendadak ibumu menutuk hiat-to kelumpuhan ayahmu sehingga mengakibatkan kelumpuhan setengah badan ayahmu, kalau tidaki berdasarkan kepandaian Jit- kiam-sam-pian saja mana mampu membunuhnya?" Tambah terkesiap semua orang oleh keterangan luar biasa ini. 

"Kau... -kau bohong" teriak siu su dengan gemetar.

Lim Ki-ceng menggeleng, ucapnya dengan pelahan, "Tidaki aku tidak bohong. Apa yang kukatakan ini semuanya benar dan kejadian yang sesungguhnya. Mao Kau sengaja menggunakan Bi jin-keh (akal memperalat perempuan cantik) untuk menjebak ayahmu, yaitu dengan mengorbankan adik perempuannya, siapa tahu sesudah menutuk ayahmu, ibumu jadi menyesal, sebab dia telah benar-benar jatuh cinta kepada siu Tok"

Dia berhenti sejeNak, lalu dengan suara bengis berseru, "Nah, maka kalau betul kau mau menuntut balas, maka yang harus kau bunuh lebih dulu ialah ibumu" sungguh keterangan ini sangat mengguncangkan isi kiranSiu Su, seketika ia menjadi bingung dan tidak tahu apa yang harus dikatakannya.

semua orang juga sama bersuara heran oleh berita ini, dengan suara bengis Leng Liong membentaki 

"Dan mengapa baru sekarang kau ceritakan hal ini?"

"ya, memang rahasia ini sudah tersimpan selama dua puluh tahun didalam hatiku." tutur Lim Ki-ceng pula, 

"Kecuali jit-kiam-sam-pian memang tidak ada oran lain yang tahu. Tapi demi kehormatan, demi gengsi jit-kiam-sam-pian sendiri, dengan sendirinya rahasia ini tidak mau disiarkan, baru sekarang baru sekarang kubeberkan rahasia ini,tujuanku supaya kau tahu sesungguhnya 

siapa musuhmu?"

= Apa daya dan apa yang akan dilakukan siu su setelah diketahuinya kematian ayahnya juga akibat komplotan ibunya dengan Mao Kau? =

= Bagaimana nasib Mao Bun-ki yang telah merusak wajah sendiri? = 

setelah menutur, Lim Ki-ceng menunduki sejenak kemudian mendadak ia angkat kepala dan berteriak lagi, "Nah, setelah kau tahu jelas siapa yang membunuh ayahmu, jika benar engkau bertekad akan membalas dendam ayah, mengapa tidak kau bunuh ibumu dulu."

Ia menggreget, lalu menyambung, 

"Memang betul, Mao Kau bersalah dan pantas mati, Thia Hong juga pantas mati, kami semua memang pantas mati- Tapi sebelum kau bunuh Mao Kau dan lain-lain mengapa tidak kau-. " 

"Sudahlah, jangan bicara lagi" bentak siu su dengan suara pedih- "Tidaki harus kutanya" seru Lim Ki-ceng, 

"Ingin kutanya lagi padamu, apakah kau tahu siapa yang menulis peringatan 'sepuluh tahun kemudian, darah dibayar dengan darah'?" 

Pertanyaan ini membuat semua orang melengak dan sama pasang telinga lebih cermat. "Akulah yang menulisnya" teriak Lim Ki ceng sambil menuding hidung sendiri. selagi semua 

orang tercengang, mendadak Lim Ki-ceng menyambung pula, "Bahkan Mao Kau yang menyuruhku menulisnya" Karuan semua orang terkejut, "Hahi apakah Mao Kau sudah gila? Masakah dia yang menyuruhmu menulis kata peringatan itu?" tanya Leng Liong.

"sudah tentu ada alasannya" sambung Lim Ki-ceng. 

"Dia kuatir setelah siu Tok mati, lalu jit-kiam-sam-pian akan tercerai-berai. Demi memperkuat pengaruh sendiri, supaya diantara jit-kiam-sam-pian tetap bersatu, maka dia sengaja menulis kata peringatan itu."

Ia menghela napas, kemudian ia sambung pula, 

"setelah membaca kata peringatan itu, benar juga timbul rasa takut pada jit-kiam-sam-pian, kuatir keturunan siu Tok akan menuntut balas kepada mereka, maka secara sadar atau tak sadar mereka pun rela diperalat Mao Kau."

Diam-diam Leng Liong menghela napas menyesal dan mengakui rencana Mao Kau itu memang keji, benar-benar gembong iblis yang lihai-

"Nah, apa kehendakmu sekarang setelah kubeberkan segala rahasiaku," kata Lim Ki-ceng dengan tersenyum pedih.

"Pergilah" siu su memberi tanda- "Aku tidak sudi membunuhmu lagi-.. ."

Pandangan Lim Ki-ceng beralih kepada Leng Liong, pengemis tua itu berkata, "Baik, aku pun tidak ada komentar. "

Thi-ta-sucia juga bungkam dan tidak ada maksud hendak merintanginya.

Lim Ki-ceng berdiri termangu, mendadak ia tertawa keras dan berteriaki "Kalian tidak sudi membunuhku lagi, tapi aku sendiri sudah bosan hidup,"

semua orang melenggong, dilihatnya perempuan itu telah menjemput sebatang pedang, dengan kedua tangan memeaang tangkai pedang terus ditubleskan kedalam perut sendiri sambil meratap, 

"Ting Ih, jangan kau benci diriku, tunggu sebentar, akan kutemani kau." Darah segera muncrat, tubuh Lim Ki-ceng lantas ambruk diatas mayat Ting Ih.

Terharujuga semua orang, seketika tidak ada yang bicara, lewat sekian lama barulah Leng Liong berseru, 

"Ci Toki kau pun boleh pergi saja"

Cahaya senja indah, akan tetapi cahaya yang indah ini takkan tahan lama. ci Tok memandangi cahaya senja dengan termenung, katanya kemudian, "Lantaran urusan ini, dunia persilatan telah terlanjur banjir darah, entah berapa orang yang telah menjadi korban peristiwa ini, sekarang biarpun ingin menyudahi urusan inijuga sudah terlambat... ."

Ia bicara dengan nada pedih, sambungnya kemudian, 

"umpama diriku, sekarang pun kasip untuk lepas tangan begini saja, diantara kesepuluh saudaraku sebagian besar sudah mati ditanganmu, sebagai kepala Cap-toa-sucia mau-tak-mau harus menuntut balas padamu."

sampai disini, mendadak ia menambahkan dengan suara keras, "Maka dari itu, supaya tidak mendatangkan bencana bagimu kelaki mestinya sekarang tidak kau lepaskan aku pergi"

Mendadak siu su menatapnya dengan tajam. Cahaya senja menyinari wajah kedua orang yang berubah kemerahan, keduanya sama tahu pihak lawan bukanlah lawan yang empuk

-"Pergilah" Akhirnya siu su berucap dengan menghela napas pelahan.

Thi-ta-sucia memandang semua orang sekejap, lalu berucap pula, 

"Kejadian tadi sudah cukup mengerikan, tapi tidak sampai sebulan lagi didunia Kangouw masih akan berjangkit tragedi yang terlebih kejam dan menyedihkan. Aku dan kaupun akan menjadi peranan dalam tragedi itu, akhirnya siapa yang akan hidup atau mati biarlah kita tunggu dan lihat saja tanggal mainnya"

Ia mengangkat kedua tangannya memberi salam dan berseru, 

"sampai bertemu lagi" segera ia melangkah keluar, kawanan lelaki putus jari juga ikut kepergiannya. suasana sunyi, hanya langkah mereka yang berderap menggetar perasaan orang.

Semua orang masih termenung ditempat masing-masing, ucapan ci Tok sebelum pergi seakan-akan masih terngiang ditelinga mereka.

sampai lama barulah Leng Liong menghela napas dan berkata, 

"Permusuhan dendam dan menuntut balas, mengapa dunia persilatan ini penuh permusuhan dan balas dendam melulu?"

Pelahan ia menyapu pandang mayat yang menggeletak disekitarnya itu, sekian banyak jiwa yang berguna kini telah berubah menjadi mayat yang tak berIaedah, sebab musebabnya tidak lebih cuma satu kata yang singkat saja, yaitu permusuhan.

Mendadak ia berpaling menghadapi siu su dan berseru, siu-heng, semoga sejarah hidupmu nanti kecuali permusuhan dan banjir darah masih ada juga welas-asih dan pengampunan."

siu su termenung bimbang, gumamnya, " Welas-asih?- - "  " Pengampunan?. "

"Betul." tukas Leng Liong. 

"Hendaknya kau gunakan welas-asih dan suka mengampuni untuk menghadapi musuhmu, dengan begitu roh ayahmu dialam baka pasti juga akan membenarkan tindakanmu dengan tersenyum."

Mendadak siu su bergelak tertawa keras, katanya. Jika kuperlakukan orang dengan welas- asih dan mengampuni kesalahan mereka, adakah orang lain juga menaruh welas-asih dan mengampuni kesalahanku?"

Dengan sorot mata tajam mendadak Leng Liong menuding mayat yang berlumuran darah itu dan berkata, 

"Apakah kau tahu orang-orang ini mati bagi siapa?" Berubah juga air muka siu su. "Bagimu, tahu?" teriak Leng Liong mendadak penuh emosi-

" orang-orang ini semuanya mati bagimu, umpama mereka dapat mengampunimu, mereka tak dapat lagi mengeluh kepadamu, juga tak dapat menuntut balas padamu. Lantas apa yang akan kau lakukan terhadap mereka." 

Tergetar tubuh siu su, ia menunduk dan tidak berani memandang mayat itu lagi.

Didengarnya Leng Liong menghela napas pula dan berkata, 

"Menghadapi urusan rumit ini, sungguh sukar untuk dibedakan antara budi dan benci, antara kawan dan lawan, semuanya serba ruwet, sudah berpuluh tahun pengemis tua berkecimpung didunia Kangouw, tapi belum pernah menghadapi persoalan sesulit ini."

sampai lama siu su menunduk dan tidak bicara. Buyung siok-sing yang sejak tadi juga cuma diam saja sekarang mendadak berkata, 

"Meski urusan ini maha ruwet, tapi tetap ada orang yang dapat menyelesaikannya." "siapa?" tanya Leng Liong ragu. 

"Dia- " Buyung siok-sing menuding siu su.

"Aku?" tanya siu su dengan bingung sambil mengangkat kepalanya.

"Betul, hanya engkau sendiri yang dapat menyelesaikan persoalan ini." kata Buyung siok- sing, 

"Asalkan engkau mau mengambil keputusan tegas, dapat menggunakan pedang tajam untuk memotong segala benang kusut yang melibatkan budi dan benci, antara cinta dan permusuhan, maka segalanya akan beres dan dunia Kangouw pun akan terhindar dari banjir darah lebih banyak lagi." siu su termenung memandang sisa cahaya senja yang hampir lenyap itu, gumamnya bimbang, 

"Dapatkah aku?" Pelahan dia menuju kebawah karang dimulut lembah sana memandangi jalan sempit yang membentang jauh kesana, memandang jalan yang sempit dan berliku serupa jalan kehidupan manusia yang penuh rintangan ini....

Buyung siok-sing menyusul pelahan kesampingnya dan melampaui didepannya. siu su memandang bayangan samping si cantik, garis tubuh yang indah dan profil yang mempesona, seketika timbul rasa bimbang dan rasa hampanya, segera hatinya diliputi pula rasa duka yang tebal.

Diam-diam ia bertanya kepada dirinya sendiri, "Apa betul hanya aku saja yang dapat menyelesaikan urusan ini?jika aku mati. "

Ia memejamkan mata dan tidak berani membayangkan lebih lanjut. Entah selang berapa lama, tiba-tiba dari belakangnya berkumandang suara kidung yang mengharukan. semula cuma suara seorang saja yang pelahan terbawa angin, lalu bergema suara orang banyaki suara duka yang memilukan.

Ia tahu inilah suara kidung kaum pengemis yang lagi mengenangkan kawan-kawannya yang mati, dan sedang mengubur kawan-kawannya yang gugur tadi-

Dia tidak berani berpaling untuk memandang gapura yang bertulisan pesta gembira itu. Hc.ri yang seharusnya gembiara ria kini telah berakhir dengan duka nestapa-semua itu karena siapa dan untuk apa?

Hari sudah gelap, siu su berpaling, ditanah mangkuk sana sudah bertambah banyak gundukan api unggun, disamping setiap api unggun terdapat pula kuburan baru. gapura pesta sudah dibongkar, Leng Liong berdiri d iba wah panggung menghadapi api unggun yang gemerdep.

suasana sunyi, seram dan mengharukan.

siu su menunduk dan tidak merasakan sejak tadi Buyung siok-sing terus mengawasi gerak- geriknya dan ingin menyelami perasaannya.

Pada saat itulah dua anggota Kai-pang mendekatinya dan menyapa, "siu-kongcu, Pangcu mohon bicara denganmu."

"Baik, memang kuingin sembahyang atas arwah saudara kita yang telah meninggal," kata siu su dengan khidmat.

setelah berada lagi ditengah kerumunan orang Kai-pang, siu Su melihat setiap setiap anggota Kai-pang sama memandangnya dengan cemas serta sorot mata seakan-akan memohon kepadanya- siu su tidak tahu apa kehendak orang, bersama Buyung siok-sing mereka lantas berlutut dan memberi hormat kepada makam kawanan pengemis yang gugur sambil berdoa, lalu ia berbangkit dan menyatakan tekadnya, 

"Selanjutnya asalkan ada sesuatu permintaan kawan Kai-pang, tanpa syarat pasti akan kukerjakan, terjun kelautan api pun takkan kutolak-"

Dengan wajah prihatin Leng Liong mendekatinya dan berkata, "siu-kongcu, Kai-pang hanya ingin mohon sesuatu pada mu-"

"silakan bicara saja," jawab siu su- Ia merasa hutang budi terhadap Kai-pang, meski kawanan pengemis itu tidak dibunuh olehnya, tapi mati karena dia, maka dia berharap akan dapat mengerjakan sesuatu untuk Kai-pang.

Didengarnya Leng Liong berkata pula, 

"Kita telah sama menyaksikan betapa ngerinya banjir darah, demi kedamaian, Kai-pang kita memohon siu-kongcu agar suka mengakhiri permusuhan ini dan jangan lagi menerbitkan bunuh membunuh berdarah didunia Kangouw..."

Hati siu su tergetar dan berdiri termenung.

"siu-kongcu." seru Leng Liong pula. Jiwa manusia ciptaan Tuhan, hidup manusia dipermukaan bumi ini sama derajatnya, janganlah lantaran dendam kematian seorang harus mengorbankan pula jiwa orang banyak secara sia-sia. Permohonan kami hanya semoga siu- kongcu sudi mengakhiri permusuhan yang berlarut ini dan jangan menerbitkan korban lagi, maka biarpun di-alam baka saudara kita ini pasti juga akan tidur dengan tenang." siu su menunduk dan berkata, 

"Akan... .akan kupertimbangkan. "

Mendadak seorang anggota Kai-pang berteriaki "Sebelum siu-kongcu menerima permohonan kami, setiap saudara Kai-pang akan tetap berlutut dan takkan meninggalkan tempat ini." 

serentak anggota Kai-pang yang lain berteriak setuju.

Hati siu su tergetar pula, segala apa yang pernah dilakukannya selama ini memang cuma lantaran balas dendam saja, apa yang dipikirkannya melulu usaha menuntut balas belaka, sekarang kalau dia disuruh menghentikan seaala usaha dan permusuhan ini, sungguh hal ini membuatnya serba susahi tapi dalam keadaan demikian dapatkah dia menolak permintaan orang banyak-

suasana berubah hening, setiap orang sama menantikan jawaban siu su, pandangan semua orang sama tertuju kepadanya-

Akhirnya siu su menghela napas panjang, ucapnya pelahan, "Kuterima permintaan kalian " serentak bersoraklah kawanan pengemis, tapi siu su lantas menyambung pula dengan lantang, 

"Tapi tidak kuketahui cara bagaimana harus kuterima permintaan kalian ini?" Kembali semua orang melengaki keadaan menjadi hening lagi.

siu su mengangkat kepala dan menyapu pandang sekelilingnya sekejap, lalu berseru pula, 

"Dalam hati setiap orang pada umumnya mempunyai sesuatu kesulitan yang sukar terbuka, dan kesulitanku ini adalah soal permusuhan, untuk ini kuharap dapat diberi kelonggaran satu- dua hari agar dapat kupikirkan dengan tenang. "

Belum selesai ucapannya, sekonyong-konyong terdengar suitra gemuruh yang berkumanda dari mulut lembah sana, suara menggelegar bergema hingga lama diangkasa 

-ooo00000ooo-

Menyusul diatas tebing sekeliling tanah mangkuk ini lantas berjangkit suara teriakan orang banyak yang siap menyerbu.

Berbareng itu dari atas lantas berhamburan bola api yang terbuat darijerami dan rumput kering yang dibakar.

Kawanan pengemis sama terkesiap, namun tidak ada seorang pun yang bergeraki semuany tetap berlutut disitu dan mengharapkan jawaban tegas siu su.

Dengan kuatir anak muda itu berseru, 

"Ayolah saudara-saudara. lekas menghadapi musuh- "

Buyung siok-sing menghela napas pelahan, katanya, "Sebelum kau terima permintaan mereka, mati pun mereka tidak mau berbangkit-"

Belum lenyap suaranya, dari atas tebing berhamburan pula panah berapi, seketika api berkobar dimana-mana, panggung dan barak bambu juga terbakar, tanah mangkuk yang tidak terlalu luas ini menjadi lautan api.

Dengan mengepal tinjunya erat-erat, Leng Liong memandang siu su tanpa berkedip-

Api sudah berkabar disamping setiap orang, malahan ada sebagian ujung bajunya sudah terjilat api, namun mereka masih tetap diam saja, tidak ada yang bergerak, apalagi berbangkit. 

Bersambung