Tujuh Pedang Tiga Ruyung Jilid 18

Jilid 18

Mereka berdua semula memakai jubah hijau dan memakai kedok mayat hidup, tapi sepanjang jalan mereka selalu menarik perhatian orang awam, maka Buyung Siok-sing lantas memberi tukar Siu Su dengan jubah Tosu serta diberinya kedok yang buruk sehingga membuat orang awam tidak senang memandang keburukan muka mereka, dengan demikian terhindarlah berbagai kesulitan dalam perjalanan.

Namun dari mana Siu Su tahu akan jejak Mao Kau, dengan sendirinya mereka hanya mencari kian kemari dan tidak menemukan sesuatu.

Setelah berputar kayun, secara tidak sengaja mereka pun berteduh kerumah berhala ini ketika hujan lebat, sungguh mereka tidak menyangka rumah berhala inilah sarang rahasia Mao Kau.

Pada waktu Thi Peng berempat keluar dari lorong bawah tanah, cepat Buyung Siok-sing mengempit Siu Su dan bersembunyi didalam rumah-rumahan patung setelah menutuk hiat-to bisu dan kelumpuhannya. Dengan demikian merekapun disangka patung karena pakaian mereka mirip jubah yang dipakai patung yang dipuja disitu.

Dengan demikian jadilah mereka seperti patung benar dan dapat mengikuti macam-macam adegan beberapa kelompok orang itu dengan berbagai persoalannya yang ruwet itu. Dan setelah semua orang sudah pergi barulah Buyung Siok-sing membuka hiat-to Siu Su yang ditutuknya.

Setelah berdiam sejenak, kemudian Siu Su berkata, "Setelah kau dengar percakapan Thi Peng dan lain-lain tadi, tentu kau tahu bahwa Mao Kau bersembunyi disini,"

"Betul!" jawab Buyung Siok-sing.

Jika begitu, mengapa tidak lekas kaucari dia?" tanya Siu Su, "Kaupun dengar orang-orang tadi sama hendak memusuhi Mao Kau, mengapa engkau tidak ikut campur?"

"Tujuanku hanya mencari adik Ki, peduli apa urusan Mao Kao denganku?" "Setelah kau temukan dia, apakah segera akan kau lepaskan diriku?" "Untuk itu perlu lihat keadaan nanti," jengek Buyung Siok-sing.

Diam-diam Siu Su merasa sangsi, pikirnya, "Meski dia menyatakan tidak peduli urusan Mao Kau, tapi bila bertemu dengan Mao Kau dan dia tetap tidak melepaskan diriku, kan bisa celaka bagiku?"

Tengah berpikir, Buyung Siok-sing lantas menariknya melompat keatas altar tempat Thi Peng menerobos keluar tadi.

"Lubang masuknya tentu pakai alat rahasia, memangnya dapat kau temukan?" jengek Siu Su. Buyung Siok-sing juga mendengus, "Untuk apa ikut resah, murid To-liong-siancu masakah dapat dipersulit oleh soal lubang masuk begini? Hm, pesawat rahasia apa pun sukar mengelabuiku."

"Tapi sudah sekian lamanya, bisa jadi dia sudah pergi dari sini."

"Kuyakin tempat ini pasti cuma ada sebuah lubang keluar, dia takkan pergi dari sini."

Habis berkata, pelahan tangan Buyung Siok-sing meraih dan memutar salah sebuah patung, terdengar suara "krek", segera tertampak sebuah lubang dibawah altar.

"Bagaimana?" ucap Buyung Siok-sing sambil tersenyum bangga terhadap Siu Su. "Ayo, turun!"

Segera ia menarik Siu Su. Dengan mengertak gigi, mendadak Siu Su mendahului melompat kebawah. Dibawah keadaan gelap gulita serupa neraka.

"Mereka ayah dan anak telah kau desak hingga bersembunyi ditempat seperti ini, seharusnya kau tahu batas dan sudahi urusan ini," ujar Buyung Siok-sing dengan menyesal.

Siu Su hanya mendengus saja tanpa menanggapi. Segala apa sekarang tidak terpikir lagi olehnya, maka hatinya tidak gentar sedikitpun.

Setelah melangkah beberapa tindak, Buyung Siok-sing berkata pula, "Yang kau pikir hanya menguber musuh sendiri saja, mengapa tidak kau pikirkan juga bahwa orang lain pun ingin menuntut balas padamu gara-gara perbuatan mendiang ayahmu? Apakah ucapan Cu Pek-ih tadi tidak kau dengar?"

"Urusanku tidak perlu kau pikirkan," jengek Siu Su.

"memang tidak perlu kupikirkan, aku justru ingin tahu cara bagaimana akan kau selesaikan urusan ini," jengek Buyung Siok-sing dengan gusar.

Ia percepat langkahnya, tidak lama kemudian, tiba-tiba disebelah kiri lorong ada cahaya lampu yang guram, sebuah tabir tampak terjulur menutupi sebuah pintu.

Nyata dibalik tabir itulah akan ditemuinya musuh bebuyutannya. Sampai disini segera Siu merandek.

Tak terduga langkah Buyung Siok-sing mendadak juga berhenti, padahal tujuannya ingin mencari Mao Bun-ki, seharusnya dia menerjang kedalam sana.

Terlihat dia termenung sejenak, akhirnya dia memanggil pelahan, "Adik Ki, adakah engkau didalam?" Namun dibalik tabir sunyi senyap tiada sesuatu suara. Cepat Buyung Siok-sing menyingkap tabir dan melompat kedalam.

Ternyata keadaan ruangan yang cukup luas ini morat-marit, meja kursi terjungkir balik, lantai penuh bekas darah, diantara bekas darah itu ada tiga potong jari putus.

Sebuah meja sembahyang doyong bersandar dipojok dinding, lilin diatas meja sudah hampis habis terbakar, cahaya api berkedip, tiada seorang pun didalam kamar ini, apalagi bayangan Mao Kau dan Bun-ki.

Kedua orang sama melenggong, entah bagaimana perasaan Siu Su, entah kecewa atau gembira.

Bilamana sekarang dia bertemu dengan Mao Kau, memang sukar diramalkan bagaimana akibatnya. Tapi demi tidak menemukan Mao Kau, tanpa terasa timbul juga rasa kecewanya. Mungkin yang membuatnya kecewa adalah karena tidak terlihat Mao Bun-ki berada disitu.

Karena tidak menemukan Mao kau dan Bun-ki, Siu Su yang seharusnya gembira malah menampilkan rasa kecewa. Sebaliknya Buyung Siok-sing yang seharusnya kecewa, sorot matanya ternyata tidak menampilkan rasa kecewa.

Ia termenung sejenak, lalu bergumam, "Masakah mereka sudah pergi. "

Tiba-tiba dilihatnya dibawah tatakan lilin sana tertindih secarik surat. Cepat ia memburu kesana dan mengambilnya, terbaca surat itu tertulis, "Pangkalan ketiga sudah dihapus, pindah ke pangkalan kelima."

"Hm, betul tidak?" jengak Siu Su, "Tadi mereka memang berada disini, cuma agak terlambat kedatanganmu."

Buyung Siok-sing diam saja, anak muda itu ditariknya masuk ke pintu yang lain.

Disitu kembali ada sebuah kamar dibawah tanah, ada dua dipan didalam kamar, jelas inilah tempat istirahat Mao Kau berdua. Bantal selimut masih lengkap, namun orangnya sudah lenyap.

Setelah menembus ruangan ini, kembali ada sebuah lorong gelap dan seram, enah menembus kemana.

"Mereka pasti keluar melalui lorong ini." ucap Buyung Siok-sing. "Hm, pintar juga kau." jengek Siu Su.

Mendadak Buyung Siok-sing berpaling dan mendamperat, "Kenapa setiap kataku selalu kau tanggapi dengan mengejek?" "Mana aku berani." sahut Siu Su dingin.

"Hm, kau tahu bilamana hendak kubunuh dirimu adalah sangat mudah." jengek Buyung Siok- sing pula.

"Jika begitu silakan membunuh, silakan!" jawab Siu Su dengan ketus.

Dengan gusar Buyung Siok-sing membenak, mendadak sebelah tangannya menghantam dada anak muda itu.

Segera Siu Su memejamkan mata, tidak mengelak. Siapa tahu sampai sekian lamanya pukulan Buyung Siok-sing belum juga dilontarkan.

Waktu Siu Su membuka mata, tertampak si nona telah berpaling kesana, seperti tidak suka air mukanya dilihat Siu Su.

"Hm, jika aku tidak kau bunuh, hendaklah kau lepaskan diriku, jika tetap kau siksa diriku cara begini, bagiku akan lebih baik mati saja." jengek Siu Su.

"Boleh kau bunuh diri jika ingin mati." ucap Siok-sing tanpa menoleh.

"Huh, tubuhku ini adalah pemberian ayah-bunda, seoran lelaki sejati mana boleh membunuh diri?"

"Jika begitu hendaknya kau tutup mulut, bila menemukan Bun-ki tentu kulepaskan dirimu." "Kalau selama hidup tidak dapat menemukan dia, lalu bagaimana?"

"Selama hidup pula takkan kulepaskanmu!" jengek Buyung Siok-sing tanpa menoleh.

Siu Su jadi melenggong. Mendadak ia menengadah dan bergelak tertawa, "Hahahaha! Aku tahu, haha, tahulah aku! Kiranya maksudmu supaya selama hidupku dapat mendampingimu."

Tubuh Buyung Siok-sing seperti gemetar sedikit, damperatnya, "Apa katamu?"

"Hahahaha!" Siu Su tetap tertawa, "Ku tahu, mukamu terlalu jelek, sukar mencari suami, maka kau gunakan akal ini untuk mencari seorang lelaki untuk menemanimu, pantas sengaja kau tahan diriku, rupanya. "

Belum habis ucapannya mendadak Buyung Siok-sing membalik tubuh, sebelah tangan terus menampar, "plak", dengan keras muka Siu Su tergampar.

Dengan gusar Siu Su membentak dan balas menghantam. Akan tetapi urat nadinya tercengkeram sehingga sukar mengeluarkan tenag, sedikit Siok-sing menarik, kembali pergelangan tangannya tercengkeram erat lagi. Karena tak bisa berkutik, Siu Su terus mencaci maki, "Setan alas, perempuan buruk, siluman jelek! Aku tidak kau bunuh, juga tidak kau lepaskan, lantas mau apa jika bukan untuk dijadikan lakimu? Huh, sepanjang hari hanya memegangi tangan seorang lelaki, tidurpun tidak kau lepaskan, huh, perempuan tidak tahu malu begini juga menghendaki kutemanimu selama hidup, jangan mimpi "

Sebenarnya Siu Su bukan pemuda yang bermulut kotor, biasanya dia tenang dan sabar, marah atau senang tidak begitu kelihatan. Tapi lantaran sudah sekian lama dia ditawan oleh Buyung Siok-sing, hidup tersiksa sehingga sukar menahan rasa gemasnya sekarang.

Sudah digunakan macam-macam akal, dengan halus, dengan kasar, dengan membujuk, dengan memancing dan mengadu domba, namun tetap Buyung Siok-sing tidak mau melepaskan dia. Saking tidak tahan, akhirnya semua kata-kata kotor dihamburkannya.

Tentu saja Buyung Siok-sing merasa pedih, air mata berlinang dan badan gemetar, serunya, jangan. . . jangan kau. "

Namun Siu Su masih terus mencaci maki. "Tutup mulut!" bentak Siok-sing mendadak. 

"Aku justru tidak mau tutup mulut, kau perempuan bermuka buruk, tak laku kawin. "

Belum lanjut makian Siu Su, mendadak Buyung Siok-sing menanggalkan kedoknya sambil berteriak, "Memangnya kau kira aku tidak laku kawin?"

Sekilas pandang, seketika tubuh Siu Su tergetar dan berdiri melongo.

Ternyata yang berdiri didepannya bukan seorang nona bermuka buruk apa segala melainkan seorang perempuan secantik bidadari, sungguh sukar dibayangkan perempuan secantik ini, dengan kata dan istilah apa pun sukar melukiskan kecantikannya.

Biarpun banyak perempuan cantik didunia ini, tapi kalau dibandingkan dia, perempuan cantik lain menjadi tidak ada artinya.

Bila kecantikan orang lain cuma mempesona maka kecantikan Buyung Siok-sing bisa membuat orang gila.

Kecuali orang yang paling berdekatan dengan dia, siapa pun tidak pernah melihat kecantikan wajahnya. Tapi lelaki yang pernah melihat kecantikannya sudah sama mati gila.

Rupanya ia pun menyadari kecantikannya bisa mendatangkan bencana bagi orang lain dan juga bagi dirinya sendiri, sebab itulah mukanya selalu ditutupi selapis kedok yang buruk. Setelah dia bersumpah pantang membunuh, dia terlebih enggan wajahnya dilihat orang. Ia tidak ingin orang lain gila lantaran dia, ia pun tidak suka melihat orang lain mati gila.

Dan sekarang, karena marahnya, saking tidak tahan mendadak ia membuka kedoknya. Tubuh gemetar, jantungnya juga berdetak.

Ia mengertak gigi dan sekuatnya menahan gejolak perasaan sendiri, teriaknya, "Sekarang tentu kau tahu apa yang kulakukan ini adalah demi Bun-ki." ia menghela napas panjang, lalu menyambung, "Sebab itulah kupaksa dirimu menemui dia, ingin kuselesaikan permusuhan kalian yang sebenarnya bukan kesalahan kalian melainkan akibat perbuatan orang tua masing- masing, aku tidak dapat melepaskan dirimu, sebab. . . .sebab aku "

Sampai disini Buyung Siok-sing tidak melanjutkan lagi, mukanya menjadi merah. Siu Su melenggong, sungguh ia tidak mengerti isi hati orang, hati perempuan memang sukar diraba.

Kedua orang sama bungkam sampai sekian lamanya, mendadak api lilin padam seluruhnya, suasana menjadi gelap.

Akhirnya Siu Su berkata, "Mereka sudah pergi, tempat rahasia ini pun tidak diketahui orang luar, kukira lebih baik kita keluar saja dan mencari ketempat lain."

Tapi Buyung Siok-sing menjawab, "Jelas dia meninggalkan surat disini, pasti ada orang lain lagi akan datang kemari."

Siu Su tidak membantah lagi, ia membuat api dan menyalakan sepotong sisa lilin lain. Katanya, "Jika harus menunggu, entah harus menunggu sampai kapan."

Setelah menaruh lilin pada tatakannya, lalu Siu Su menarik kedua dipan agar rapat, ia sendiri lantas duduk diujung dipan sebelah kiri, dipan lain diberikan kepada Buyung Siok-sing.

Nona itu diam saja menyaksikan perbuatan Siu Su, tiba-tiba matanya memancarkan cahaya aneh, sebab apa yang dilakukan Siu Su biasanya adalah pekerjaan Buyung Siok-sing sepanjang perjalanan.

Selang sejenak pula, mendadak Siu Su bertanya, "Sudah seharian kita tidak makan minum, apakah engkau tidak lapar?"

Siok-sing menunduk dan menjawab, "Ya, lapar juga. "

Padahal sepanjang perjalanan ini meski Siu Su kenyang tersiksa, tapi juga cukup merepotkan Buyung Siok-sing, sebentar2 Siu Su minta ini dan itu, tiba-tiba mengeluh lapar, lain saat bilang haus, mendadak tak mau jalan lagi karena lelah katanya.

Dengan sendirinya semua perbuatan Siu Su itu disengaja karena panasaran, meski terkadang Buyung Siok-sing tidak menghiraukannya tapi lebih sering dituruti segala kehendaknya. Siapa tahu sekarang Siu Su malah tanya dia lapar atau tidak, perubahan ini sangat besar dan aneh, tanpa terasa Siok-sing menunduk rikuh.

Siu Su juga gegetun melihat sikap likat orang. Dia berubah sebanyak ini lantaran mendadak disadari dirinya adalah seorang lelaki, kalau berada bersama seorang perempuan adalah wajib melindungi perempuan itu.

Padahal sepanjang perjalanan Siu Su belum pernah memandang Buyung Siok-sing sebagai perempuan, ia merasa orang sedemikian galak, bengis, mendadak marah-marah, lain saat main bentak segala. Tapi sekarang dirasakan olehnya kegalakan si nona juga membawa semacam kelembutan yang pantas dikunyah kembali.

Sepanjang perjalanan mereka entah sudah berapa kali mereka tidur sekamar, tapi sekali ini dirasakan oleh mereka jauh berbeda daripada yang sudah-sudah.

Lilin semakin pendek, sang waktu lalu dengan cepat. . . . .

Mendadak Buyung Siok-sing mengangkat kepala dan berkata dengan dingin, "Jangan lupa, engkau masih juga tawananku, selanjutnya jangan tanya ini dan itu. Bila kulapar tentu dapat kucari makanan sendiri."

"Aku cuma bermaksud baik. "

"Tidak perlu berlagak baik." jengek Siok-sing, "Sepanjang jalan engkau selalu membikin repot padaku, sekarang mendadak hatimu berubah sebaik ini, jangan kau kira aku. " dia 

mengerling dan tidak melanjutkan.

"Ka kira aku mau apa? Kenapa tidak kau katakan?" tanya Siu Su.

Sampai sekian lama Buyung Siok-sing termenung, katanya kemudian dengan bengis, "Bila suka dapat kukatakan, tidak suka tentu tidak kukatakan, kau berani memerintah diriku?"

Siu Su mendengus, "Huh, sungguh perempuan galak!" Lalu ia melengos dan tidak memandang lagi.

Biarpun dia memandangnya juga takkan mengetahui betapa perasaan Buyung Siok-sing, terlebih takkan tahu betapa pedih dan bertentangan batinnya, sebab semua itu sudah disembunyikannya di dalam lubuk hatinya.

Ketika Siu Su memandang kearah lain, tiba-tiba dilihatnya ditepi dipan ada sebuah kantung sutera. Kantung ini mestinya berada dibawah dipan, lantaran dipan digeser sehingga kantung sutera itu pun kelihatan.

Segera ia mengambil kantung itu, tertampak ada sulaman bunga peoni, ditengah bunga  tersulam pula dua hati yang lengket menjadi satu. Sulamannya indah dan berbau harum. Tergerak hati Siu Su, pikirnya, "Jangan-jangan ini barang milik Bun-ki?"

Ia coba membuka kantung sutera itu, mendadak dari dalam jatuh keluar satu biji kancing kain dan dua comot rambut.

Ia ingat kancing ini adalah kancing bajunya yang terlepas pada waktu dalam perjalanan bersama Bun-ki dahulu, lalu Bun-ki membetulkannya dengan kancing baru. Tak tersangka kancing lama ini masih disimpannya sekarang.

Jika kancing ini masih disimpannya, jelas rambut ini juga rambutnya. Siu Su pandang sulaman hati pada kantung itu, timbul perasaan bimbangnya.

"Barang-barang ini asalnya kepunyaanmu bukan?" terdengar Buyung Siok-sing lagi bertanya. Tanpa melihat Siu Su menjawab, "Entah, mungkin betul."

"Apakah kau tahu sebab apa dia menyimpan barangmu sebaik ini?" "Dari mana kutahu urusannya?"

"Sedemikian besar cintanya padamu, masakah engkau pura-pura tidak tahu?" damperat Siok- sing dengan gusar. "Jika engkau punya perasaan, tidak pantas kau lukai lagi hatinya."

"Peduli dia suka padaku atau kepada siapa, memangnya siapa yang menentukan aku harus menyukainya juga?" teriak Siu Su sambil berpaling.

"Aku yang menentukan." jengek Buyung Siok-sing.

"haha, berdasarkan apa engkau berhak menentukan perasaan orang lain?" tanya Siu Su. "Biarlah kukatakan padamu bahwa antara aku dan dia biarpun tidak ada rasa permusuhan, paling-paling juga kupandang dia sebagai adik perempuan belaka."

"Jika demikian, mengapa kau biarkan cintanya padamu semakin tumbuh?"

"Dia sendiri mau begitu, kenapa menyalahkan diriku?" jengek Siu Su. "Jika ada seorang pria suka padamu, tapi engkau tidak membalas kebaikannya, apa ini pun salahmu?"

Buyung Siok-sing jadi melenggong, katanya kemudian, "Dia bilang padaku, dahulu kau pun sangat baik padanya, mengapa sekarang. "

"Terus terang, waktu itu tujuanku hanya ingin mengorek rahasia ayahnya," sela Siu Su. "Jadi tujuanku adalah untuk membikin susah Mao Kau. Betapa mendiang ayahku telah dicelakai oleh Mao Kau, cara pembalasannya juga akan kugunakan dengan cara yang keji, ini namanya  'dengan gigi bayar dengan gigi, dengan darah bayar dengan darah', tahu?"

Dia bicara dengan penuh rasa dendam sehingga membuat Buyung Siok-sing mengkirik juga.

Selang agak lama barulah Siok-sing berkata pula, "Yang ada permusuhan denganmu ialah Mao Kau, dia sendiri kan tidak salah."

Siu Su terdiam, katanya kemudian, "Ya, sebab itulah kemudian kubebaskan dia. "

Sampai disini, mendadak diluar bergema suara kaki orang, kedua orang sama terperanjat, cepat mereka tutup mulut. Suara melangkah diluar segera juga berhenti.

Pelahan Buyung Siok-sing berbangkit, di luar seorang lantas memanggil, "Suhu!" Suaranya masih agak jauh, agaknya pendatang ini belum masuk keruangan pertama. Tiba-tiba Siu Su menahan suaranya dan menjawab, "Masuk kemari!"

Selang sejenak pula, suara orang itu berkata lagi, "Apakah Suhu sudah tidur? Tecu Tiangsun Jik ingin melapor."

Sekarang suaranya kedengaran berada dikamar sebelah.

"Ah, kiranya anak muridnya, anggota Giok-kut-sucia." pikir Siu Su. Segera ia berdehem menirukan suara Mao Kau dan berkata, "Baik, bicara saja dari situ."

Buyung Siok-sing memandangnya sekejap dengan sorot mata memuji. Semula ia bermaksud menawan Tiangsun Jik dan kemudian memaksanya bicara, tapi sekarang Siu Su telah menirukan suara Mao Kau dan menyuruhnya bicara sendiri.

Maka terdengar Tiangsun Jik lagi bicara, "Sesuai perintah Suhu. Tecu telah mengantar sisa tulang Siu Tok ketempat Toh-susiok, maka Toh-susiok minta Tecu menyampaikan kepada Suhu bahwa beliau sudah menerima dengan baik."

Mendengar "sisa tulang belulang Siu Tok", seketika darah Siu Su bergolak, ia mengertak gigi dan sedapatnya menahan rasa gusarnya, katanya pula, "Lalu apa lagi yang dikatakan Toh Tiong-ki?"

Kening Tiangsun Jik bekernyit, dia sudah mulai sangsi ketika sang guru tidak keluar, sekarang dia tambah curiga, pikirnya, "Biasanya Suhu tidak pernah langsung menyebut nama Toh-susiok, mengapa sekarang Ah, jangan-jangan orang yang bicara ini bukan Suhu melainkan 

samaran orang lain?"

Diantara kesepuluh anggota Giok-kut-sucia, Tiangsun Jik ini terhitung paling cerdik, tindak- tanduknya juga sangat hati-hati, sebab itulah Mao Kau selalu menyerahkan tugas penting  kepadanya.

Maka ia pun berlagak tidak tahu dan menjawab, "Tecu disuruh Toh-susiok untuk menyampaikan kepada Suhu bahwa ke-dua belas pedang dan golok pusaka yang dititipkan Suhu kepadanya telah diatur dengan baik."

Sembari bicara ia mengeluarkan sebuah poci perak mini dan memandang kearah tabir. "Lantas apa lagi?" terdengar suara dibalik tabir bertanya pula.

Diam-diam Tiangsun Jik mendengus, "Hm, sekarang ketahuan juga belangnya. Mana Suhu mempunyai dua belas pedang dan golok pusaka segala, Hm, berani kau palsukan suara Suhu untuk menipuku, sekarang biar kau tahu kelihaianku."

Pelahan ia memutar tutup poci mini itu, ia sendiri lantas memakai tutup hidung, lalu poci mini yang sudah terbuka itu dipegang terbalik, lamat-lamat kelihatan asap tipis teruar keluar dari poci mini itu.

Asap tipis itu melayang masuk kebalik tabir sana, Tiangsun Jik pura-pura bicara lagi, "Toh- susiok bekerja keras bagi Suhu, beliau telah mengumpulkan dua puluh tujuh tokoh terkemuka daerah Kwan-gwa, diantaranya termasuk pendekar pedang dari Thian-san-pai dan Tiang-pek- pai, juga ada. "

Dia bicara asal bicara saja, tapi Siu Su benar-benar dibikin kaget. Sama sekali tak terpikir olehnya bahwa dari luar Tiangsun Jik telah mengeluarkan obat bius maha lihai yang disebut "Jian-jit-cui-hun-hiang" atau dupa pembius mabuk seribu hari.

Malahan Siu Su jadi ingin mengorek lebih banyak kekuatan Mao Kau yang lebih lengkap, segera ia tanya pula, "Dan siapa lagi?"

Tiangsun Jik menyambung, "Ada lagi jago-jago kelas tinggi daerah Siamsai dan Kamsiok juga sudah dihubungi Toh-susiok, orang-orang ini memang sudah lama dendam terhadap Siu Tok, maka dengan gampang saja Toh-susiok mendapatkan janji bantuan mereka. Bahkan Kiong-sin Leng Liong dari Kai-pang juga telah berhasil dibeli oleh Toh-susiok dengan janji upah sepuluh laksa tahil perak."

Makin tak masuk akal dia membual, makin membikin kejut Siu Su, dan diluar sadarnya dia lantas terkena dupa bius yang digunakan Tiangsun Jik itu.

Hanya sekejap kemudian, Siu Su merasakan kepala pening dan mata ber-kunang2 selagi ia mengeluh bisa celaka, mendadak dirasakan pegangan Buyung Siok-sing padanya juga mengendur. Waktu ia memandang kesana, nona itu juga kelihatan seperti orang mengantuk dan badan tampak lemas.

Karuan Siu Su kaget, tahulah dia telah terperangkap, cepat ia menahan napas dan  mengerahkan segenap sisa tenaga pada sebelah tangannya. Namun tubuh sudah tak tahan dan terkulai.

Jian-jit-cui-hun-hiang adalah semacam tumbuhan beracun yang cuma terdapat dipegunungan Thian-san tidak berwarna dan tidak berbau, bila terhisap sedikit saja segera tubuh terasa lemas lunglai, namun pikiran tetap jernih.

Obat bius ini adalah ciptaan Sai-jik-hong seorang bandit cabul di Thian-san, obat bius ini digunakannya untuk membius kaum wanita yang diperkosanya. Perempuan yang terbius akan merasa lemas lunglai tak bertenaga, namun pikiran tetap sadar, dalam keadaan demikian jadi sama sekali tidak dapat melawan meski tahu jelas dirinya diperlakukan tidak senonoh oleh Sai- jik-hong.

Dalam keadaan tidak berdaya demikian, tentu saja rasa pedih perempuan yang digarap Sai-jik- hong sukar diceritakan. Sebaliknya bila melihat korbannya menderita, Sai-jik-hong justru tambah senang dan semakin bersemangat. Entah sudah berapa banyak korban yang telah dinodainya berkat obat bius yang ampuh itu.

Dengan sendirinya orang Bu-lim sangat benci kepada perbuatan Sai-jik-hong itu. Maka be- ramai2 beberapa tokoh Kwan-gwa telah menggunakan Bi-jin-keh atau akal perempuan cantik, yakni menggunakan perempuan cantik sebagai umpan untuk menjebaknya sehingga akhirnya Sai-jik-hong dapat dibinasakan.

Dengan sendirinya resep obat bius itu lantas tersebar diantara tokoh-tokoh terkemuka didaerah Kwan-gwa, selama ini obat bius itu sering digunakan menjebak musuh yang tangguh, tapi pada umumnya tidak pernah disalah-gunakan.

Begitulah Tiangsun Jik jadi girang demi mendengar suara orang jatuh terkulai dibalik tabir, ia tahu orang didalam sudah terjebak olehnya.

Namun dia memang suka bekerja cermat, ia tunggu lagi sekian lama baru kemudian menyingkap tabir dan masuk kesitu. Dilhatnya dua orang telah menggeletak tanpa bisa berkutik.

"Hm, nasib kalian memang tidak jelek." jengek Tiangsun Jik, "Suhu menyuruhku mencari Jian- jit-cui-hun-hiang ini untuk menghadapi bocah she Siu itu, tapi sekarang kalian berdua telah mendapat prioritas utama untuk mencicipinya."

Kiranya obat bius mabuk seribu hari ini sengaja diminta Toh Tiong-ki dari sahabatnya yang tinggal di Kwan-gwa, tujuannya adalah untuk menghadapi Siu Su.

Rupanya tadi Tiangsun Jik bilang "ada juga", maksudnya adalah obat bius ini juga telah diperolehnya dari Toh Tiong-ki.

Dengan suara bengis ia lantas mendamperat, "Hm, besar juga nyali kalian, berani memalsukan diri sebagai Suhuku, rasanya harus kuberi hukuman setimpal kepada kalian, kemudian baru  kutanyai kalian."

Tiba-tiba ia menatap tajam wajah Siu Su berdua, lalu mendengus, "Hah, kiranya kalian juga memakai kedok segala. Baik, akan kulihat bagaimana bentuk kalian yang sebenarnya."

Segera ia melompat maju, lebih dulu ia menarik Buyung Siok-sing.

Karena pikirannya masih cukup sadar, karuan Buyung Siok-sing merasa cemas, malu dan juga gusar, Ia lebih suka terbunuh saja daripada kedoknya dibuka orang.

Maklumlah, ia tahu bilamana pemuda ini melihat wajah aslinya, tidak bisa tidak pasti akan timbul nafsu birahinya. Padahal keadaan sendiri lemas lunglai, tidak mampu meronta, juga tidak sanggup melawan, akibatnya pasti celaka.

Dalam pada itu Tiangsun Jik telah berjongkok dan merangkul pundaknya dan diangkat keatas, jengeknya tiba-tiba, "Huh, sedemikian halus dan lunak tubuhmu, rasanya seperti seorang perempuan Haha, bila benar kau perempuan cantik, mungkin akan kubikin senang hati lebih dulu baru nanti. "

Sembari bicara tangan yang lain terus menarik kedok Buyung Siok-sing dan begitu kedok tersingkap, seketika dia melongo kesima dan tidak sanggup bersuara lagi.

Sungguh mimpi pun tak tersangka olehnya dibalik kedok adalah seraut wajah secantik ini, dan perempuan secantik bidadari ini kini justru berada dalam rangkulannya.

Seketika perasaannya menjadi terombang-ambing seperti orang mabuk, nafsu birahinya juga membakar, segera tangannya meraba.   

Melihat pandangan Tiangsun Jik yang jalang itu sudah diketahui Buyung Siok-sing apa yang terpikir oleh anak muda itu, apalagi sekarang tangan orang mulai beraksi, sungguh ia menjadi malu dan juga gusar setengah mati.

Tapi apa daya, ia tidak bisa berkutik. Terpaksa ia memejamkan mata dan membatin dengan pedih, "O, Siu Su, tahu akan terjadi begini, seharusnya sejak dulu kuberitahukan isi hatiku yang sesungguhnya kepadamu, bahwa engkaulah satu2nya pemuda yang pernah menimbulkan cintaku. "

Tengah berpikir, tangan Tiangsun Jik sudah menyentuh dadanya, "bret", mendadak baju dadanya terobek. . . .

Mata Tiangsun Jik menjadi merah beringas serupa binatang buas, tapi sebelum dia berbuat lebih lanjut, sekonyong-konyong Siu Su menubruk maju dan menghantam sekuatnya.

Rupanya sebelum terkulai tadi Siu Su telah menghimpun segenap sisa tenaga pada sebelah tangannya, maksudnya akan memberi pukulan terakhir kepada lawan, dan bila gagal terpaksa  harus pasrah nasib. Untuk itu dia berharap Tiangsun Jik akan mendekat dan membuka kedoknya, siapa tahu yang didekati Tiangsun Jik justru adalah Buyung Siok-sing.

Dapat dilihatnya kecemasan nona itu dari sinar matanya, diam-diam Siu Su juga kuatir dan gusar, ketika dilihatnya Tiangsun Jik akan berbuat tidak senonoh, tanpa pikir lagi Siu Su meronta dan menubruk kesana sebisanya dan menghantam.

Pukulan dengan segenap sisa tenaganya itu sungguh sangat dahsyat, "blang", tubuh Tiangsun Jik terpental dan tumpah darah, seketika pun binasa.

Siu Su sendiri juga tidak mampu menguasai tubuhnya lagi, ia jatuh terkapar dan tepat bertindih diatas dada Buyung Siok-sing.

Waktu nona itu membuka mata, dilihatnya mata hidung Siu Su hanya sejengkal saja disebelahnya, dada anak muda itu mendempel diatas dadanya.

Sekejap itu kedua orang sama dapat merasakan detak jantung pihak lain yang begitu keras, napas juga terengah. Kedua orang lantas memejamkan mata dan tak berani lagi beradu pandang.

Siu Su cuma mencium bau harum yang menggetar sukma, dengus napas yang pelahan tambah memabukkan perasaannya.

Ia tidak tahu apakah semua ini memang sudah takdir, perubahan kejadian ini sungguh sedemikian aneh dan kebetulan. Ia tidak berani membuka mata, sebab ia tidak dapat menerka bagaimana perasaan si nona.

Rasa cinta memang sesuatu yang ajaib. Tanpa disadari Siu Su bahwa rasa gemasnya terhadap Buyung Siok-sing sepanjang perjalanan ini hanya dalam sekejap pada saat nona itu menanggalkan kedoknya itu telah berubah menjadi rasa cinta.

Perubahan yang cepat dan aneh ini memang belum diketahuinya sendiri. Ia pun tidak percaya Buyung Siok-sing yang sebentar marah dan sebentar membentaknya itu juga bisa jatuh hati padanya.

Tak diketahuinya perasaan Buyung Siok-sing itu timbul secara pelahan, yaitu berasal dari rasa benci berubah menjadi cinta.

Akan tetapi setelah pengalaman sepanjang perjalanan, dirasakannya Siu Su adalah pemuda yang berperasaan, hanya saja perasaan halusnya telah tertutup oleh rasa dendamnya yang membara.

Juga ditemukan sifat ke-kanak2an pada diri Siu Su, sifat kekanakan itu secara naluri menimbulkan kasih sayang seorang ibu padanya. Maka setelah berkumpul bersama sekian lama, hati Buyung Siok-sing jadi tambah goyah. Selama dua puluhan tahun ini dia hampir tidak sudi melirik barang sekejap terhadap lelaki mana pun, akan tetapi sekali perasaan yang sudah terpendam sekian lama itu meledak, maka sukar lagi untuk diatasi.

Tapi demi Mao Bun-ki, sekuatnya ia tahan perasaan yan bergolak itu, lantaran itu juga, pertentangan batinnya itu telah banyak juga mempengaruhi tingkah laku dan tutur katanya. Maka sifatnya yang sebenarnya tenang dan sabar itu lantas berubah menjadi judes, girang dan marah tidak menentu.

Kini suasana jagat raya ini sunyi senyap se-akan2 cuma tersisa mereka berdua saja.

Setelah mengalami bahaya yang menentukan mati dan hidup, biasanya perasaan manusia mutlak menjadi lemah. Cinta kasih antara lelaki dan perempuan juga paling mudah tumbuh pasa saat-saat demikian.

Entah selang berapa lama lagi, mendadak Siu Su membuka mata. Hampir pada saat yang sama Buyung Siok-sing juga membuka mata. Tapi hanya beradu pandang sekejap itu, keduanya lantas memejamkan mata lagi. Lalu kejap lain sama-sama membuka mata pula, dan seterusnya tidak mau terpejam lagi.

Tidak ada yang bersuara, tidak ada yang bergerak. Dari pandangan masing-masing dapat 

dibaca pujian pada cinta, dapat mendengar nyanyian cinta, juga dapat mencium bau harum bunga. . . .

Sungguh keadaan yang aneh dan perpaduan yang lucu, diatas wajah yang maha cantik itu adalah wajah Siu Su yang buruk karena memakai kedok.

Detak jantung dan dengus napas mulai normal kembali. Tenanglah pergolakan perasaan kedua orang, mereka menikmati kemesraan dengan diam.

Ditengah suasana yang hening dan adegan aneh itu, se-konyong2 dari luar melayang masuk sesosok bayangan orang. Sekilas melihat keadaan yang aneh ini, seketika pendatang ini berdiri melenggong.

Kedua orang yang berbaring itu masih saling pandang, sama sekali mereka tidak tahu bahwa didalam ruangan sudah bertambah seorang dengan wajahnya yang pucat dan agak kurus, nyata dia inilah Mao Bun-ki.

Dengan melenggong Bun-ki memandang mereka, bilamana sorot matanya dapat bicara, maka apa yang akan diucapkan entah betapa duka, betapa benci dan murka. Sebab sekali pandang segera dapat dikenalinya orang yang rebah diatas tubuh kakak seperguruannya itu ialah Siu Su, sang jantung hati yang tidak berperasaan itu.

Pelahan ia mendekati tempat tidur, mendadak ia berteriak histeris, diraihnya kantung sutera dan  kancing kain diatas tempat tidur itu dan dirobeknya hingga hancur.

Karena teriakan kalapnya itu telah menyadarkan Siu Su dan Buyung Siok-sing dari buaian asmaranya. Hati mereka tergetar ketika tahu-tahu terlihat Mao Bun-ki sudah berada disitu.

Setelah merobek hancur kantung sutera dan kancing kain itu, Bun-ki terus membantingnya dan meng-injak2nya dengan gemas sambil berteriak, "Persetan!. . . .Mampus kau!. "

Untuk mengambil kantung sutera yang ketinggalan ini dia kembali lagi kesini, tak tersangka olehnya disini akan dilihatnya adegan yang membuat hancur perasaannya.

Siu Su dan Siok-sing tidak dapat bicara, dalam keadaan demikian mereka pun tidak tahu apa yang mesti diucapkannya.

Mendadak Bun-ki melompat kedepan Siu Su berdua dan tertawa pedih dan ngeri, serupa tertawa hantu.

Dengan suara melengking ia berseru, "Suci yang baik, kau bilang hendak menyelesaikan permusuhanku dengan dia, kau katakan akan menariknya untuk bergabung denganku, cara yang kau gunakan ternyata sedemikian hebat."

Dia terkekeh-kekeh lagi, lalu menyambung, "Dan kau, Siu-kongcu, seharusnya engkau berterima kasih padaku. Tanpa diriku mana kalian dapat berada bersama seperti ini. Kau harus berterima kasih padaku."

Dalam keadaan tidak dapat bicara dan tidak bisa bergerak, juga tidak mampu memberi penjelasan, terpaksa Siu Su dan Siok-sing hanya mendengarkan suara tertawa dan nistanya saja.

Lengking tawa serupa hantu itu menusuk hulu-hati mereka, menyakiti lubuk hatinya.

Setelah berhenti tertawa, mendadak Bun-ki menjerit parau, "Mengapa kalian tidak bersuara?"

Segera ditariknya Siu Su, dilepaskan kedoknya, diguncang-guncangkan tubuh anak muda itu sambil berteriak, "Sungguh pemuda yang cakap, pantas Suci tergila-gila padamu."

Habis berteriak ia terus melepaskan pegangannya sehingga Siu Su jatuh terkapar lagi.

Bun-ki jadi melengak, "Hah, kenapa jadi begini? Mengapa tubuh kalian selemas ini? Ehm, ya, kalian tidak perlu memberi penjelasan, kutahu Ya, kutahu, dapat kulihat tadi, kalian saling 

tatap dengan begitu mesra, pada waktu itu biarpun kepala kalian akan dipenggal orang juga takkan kalian rasakan, cuma sayang, pada saat demikian aku justru muncul disini. "

Mendadak ia menampar muka sendiri dua kali dan berseru pula, "Salahku, salahku sendiri, mengapa kudatang kemari dan menggagalkan perbuatan kalian. Namun kalian. kalian pun  jangan menyesal, pasti akan kuganti rugi kepada kalian."

Lalu ia berjongkok, digesernya Siu Su sehingga muka berhadapan muka diatas tubuh Buyung Siok-sing, dia membetulkan posisi mereka dengan hati-hati sehingga tepat hidung beradu hidung dan mulut beradu mulut.

Kemudian ia berkeplok dan berseru, "Hah, bagus, begini baru bagus. "

Mendadak ia seperti ingat sesuatu, sambungnya lagi, "Ah, tidak baik, begini kurang baik. Harus kubikin kalian tidak terpisahkan selama hidup, Eh, Suci yang baik, betul tidak?"

Kekuatan cinta memang sangat besar, tapi bilamana cinta berubah menjadi benci, tenaganya terlebih dahsyat sehingga dapat membuat Mao Bun-ki yang serupa malaikat itu berubah menjadi setan iblis.

Mendadak ia berlari kesamping tempat tidur, dikeluarkannya sebungkus barang, lalu berlari balik kedepan Siu Su berdua, katanya dengan terkekeh, "Diam saja sayang, jangan bergerak!"

Isi bungkusan itu ternyata jarum dan benang. Dikeluarkan alat jahit itu, benang dimasukkan kelubang jarum, dengan tangan kanan memegang jarum, tangan lain menarik pergelangan tangan Siu Su dan Buyung Siok-sing, lalu jarum terus ditubleskan ke pergelangan tangan kiri Siok-sing.

Darah segar merembes keluar, rasa sakit menyerang lubuk hati Buyung Siok-sing, namun rasa jasmani jauh daripada rasa sakit rohani.

Terdengar lengking tawa Bun-ki bergema lagi, katanya, "Coba kau lihat, aku kan sangat baik, telah kuikat kalian menjadi satu."

Segera jarumnya menusuk terlebih dalam sehingga menembus lagi pergelangan tangan Siu Su, lalu ditarik keatas dan ditubleskan lagi dan beitu pula pada tangan yang lain.

Sesudah menjahit kedua tangan orang dengan erat akhirnya Bun-ki mengikat tali pati, habis itu baru berkata, "Nah, sekarang kalian takkan berpisah lagi untuk selamanya."

Darah segar bertetesan melumuri pergelangan tangan kedua orang itu.

"Coba lihat," Bun-ki terkekeh pula, "Pada tubuhmu sudah ada darahnya dan pada tubuhnya juga sudah ada darahmu. Apakah kalian tidak berterima kasih padaku?"

Mendadak dia seperti ingat sesuatu hal lagi, cepat ia menegluarkan setengah potong gelang baja, dirabanya sejenak, lalu mengeluarkan setengah gelang baja yang lain, gelang baja sebesar jari dan bersinar mengklat.

"Tring", Bun-ki mengetuk kedua belah gelang baja itu, Pada gelang baja sebelah kiri terdapat  pula rantai kecil.

Air muka Buyung Siok-sing berubah seketika demi melihat gelang baja itu. Air mukanya sejak tadi memang sudah pucat, sekarang tambah seram tampaknya.

Bun-ki tetap tertawa ngekek, "Suci yang manis, tentu kau kenal barang ini bukan? Namun. " 

ia memandang Siu Su dan menambahkan, "Apakah Siu-kongcu juga kenal barang ini? Ketahuilah barang ini bernama Tok-liong-goan (gelang naga berbisa) buatan Suhuku dengan baja murni, semula dibuat beliau untuk membelenggu sejenis binatang yang paling aneh, asalkan kedua belah gelang ini tercakup, maka takkan terpisah lagi untuk selamanya, pedang pusaka atau golok mestika apa pun tetap tak dapat menabasnya patah."

Bila kedua belah gelang itu dicakup, besar lingkarannya cuma sebesar cangkir.

Mendadak kedua tangan Bun-ki bekerja "krak", kedua belah gelang itu dipasang dipergelangan tangan Siu Su dan Buyung Siok-sing sehingga tulang tangan mereka serasa mau patah.

Sejauh itu Siu Su tetap tidak pentang matanya, namun sekarang keringat dingin telah menghiasi dahinya. Tetesan keringat menitik ke pipi Buyung Siok-sing.

Bun-ki menengadah dan tertawa latah, "Hahaha, bagus, sungguh bagus, benang dapat diputuskan, tapi Tok-liong-goan ini takkan terpatahkan untuk selamanya dan kalianpun takkan berpisah untuk selamanya."

Habis itu mendadak ia termenung. Pelahan ia duduk dilantai dan memandang Siu Su dan Buyung Siok-sing dengan terbelalak, tampaknya dia sedang memikirkan apa-apa.

Dia seperti lagi merenung dengan cara apa yang lebih keji dan lebih gila untuk menyiksa Siu Su berdua yang telah melkai hatinya ini. Ia merasa harus menyiksa mereka barulah rasa pedih dan iri sendiri dapat dikurangi.

Cinta yang mendadak berubah menjadi benci yang dahsyat sungguh semacam perasaan yang mengerikan.

.                                                   == ooo OO ooo ==

Di luar kota Tinkang sebelah timur terdapat tiga bukit, yaitu Jiau-san, Siang-san dan Kim-san. Disebelah barat kota adalah lereng pegunungan yang jauh membentang ke wilayah Kangling.

Hujan baru reda, sinar matahari memenuhi angkasa.

Dijalan pegunungan ini mendadak muncul tujuh orang pengemis dengan baju yang dekil, perjalanan mereka tampak terburu-buru.

Rombongan pengemis ini terdiri dari berbagai usia, yang menjadi kepala rombongan masih  sangat mudah, sinar matanya tajam, mukanya yang agak kurus menampilkan semacam sifat dingin.

Setiba dijalan pegunungan yang sepi ini, segera pengemis muda ini berkata, "Lekas, bila kurang cepat mungkin akan terlambat!"

Sembari bicara ia lantas mendahului mengeluarkan ginkangnya dan berlari kedepan. Gerakannya gesit dan cepat, meski keenam orang yang lainnya juga memiliki ginkang lumayan, tapi selisih jauh bilamana dibandingkan pengemis muda ini.

Pengemis muda ini tampak gelisah, jelas ada urusan penting tapi dia juga sering berhenti untuk menunggu keenam kawannya.

Setiba disuatu tempat lereng bukit itu, mendadak pengemis muda itu bersuit, suara suitan melengking nyaring berkumandang hingga jauh.

Begitu mendengar suara suitan, dari beberapa lekuk lereng sana serentak muncul likuran bayangan orang dan berlari kesini, semuanya lelaki kekar berbaju rombeng dan berdandan sebagai pengemis.

"Sudah datang semua?" tanya pengemis muda tadi segera sesudah berhadapan.

Seorang lelaki berewok menjawab dengan hormat, "Sudah, hanya saudara keluarga Tan dari Hwe-keh-san minta mengundurkan diri dan mengembalikan uang yang telah diterimanya. "

Air muka pengemis muda itu tampak prihatin, katanya, "Kurang ajar, berani amat! Dimana mereka sekarang?"

"Disana," jawab lelaki kekar tadi.

Waktu pengemis muda itu memandang kearah yang ditunjuk, dilihatnya dua pengemis kekar lain telah melompat keatas sepotong batu karang, keduanya lantas menarik sehingga dari balik batu terseret keluar dua sosok mayat yang kelihatan babak-belur dan anggota badan sudah terkutung, jelas keduanya mati karena teraniaya berat.

"Baik, cara yang bagus!" seru pengemis muda tadi dengan tersenyum, "Gantung mereka diatas pohon agar ditonton setiap orang, inilah contohnya manusia khianat yang tidak setia pada sumpah persekutuan."

Semua orang terkesiap dan sebagian besar sama menunduk.

Pengemis muda itu menyapu pandang mereka sekeliling, mendadak ia mendekati seorang pengemis kekar yang berdiri pada ujung kiri sana.

Serentak pengemis kekar itu berdiri tegak menjulurkan telapak tangannya. Sekilas pandang  sipengemis muda dapat melihat jari kelingking orang sudah putus sebatas pangkal jari. 

"Bagus!" pengemis muda itu mengangguk. Lalu ia mendekat orang kedua, dengan sendirinya orang ini juga tidak punya jari kelingking.

Dan begitu seterusnya, pengemis muda itu melakukan inspeksi, telapak tangan setiap orang diperiksanya semua, diantara ke-dua puluh tujuh lelaki kekar ini ternyata ada delapan orang tanpa jari kelingking.

"Bagus sekali!" seru si pengemis muda sambil memberi tanda.

Segera kedua puluh tujuh lelaki kekar itu menarik tangan dan disembunyikan didalam saku.

Lalu pengemis muda itu angkat bicara dengan sikap kereng, "Pertemuan hari ini sangat berbahaya dan sukar diramalkan hidup dan mati setiap peserta. Maka kalau diantara kalian ada yang takut dan ingin mengundurkan diri, saat ini masih belum terlambat."

Akan tetapi Ke-dua puluh tujuh orang itu serentak berseru, "Mati atau hidup tidak menjadi soal, kami siap melaksanakan tugas."

Melihat contoh yang sudah tergantung diatas pohon, mana ada yang berani lagi menyatakan akan mengundurkan diri?

Pengemis muda itu tersenyum, "Jika kalian memang sedemikian setia kawan, segera juga kita akan berangkat. Tapi setiba disana setiap orang harus bertindak dengan hati-hati dan tenang, tanpa perintah tidak boleh sembarangan bertindak."

Serentak semua orang mengiakan.

"Sekarang keluarkan karung masing-masing dan melaksanakan tugas menurut rencana." seru pula sipengemis muda.

Suasana menjadi gaduh, orang-orang itu berlari kian-kemari menuju ke gua dan mengeluarkan setumpukan karung, ada yang lima buah, ada yang tujuh buah.

Pengemis muda itu membawa karung terbanyak, dia memegang sembilan buah dan disandang dipunggung.

"Sekarang tutup mulut dan berjalan secara teratur!" serunya.

Hendaknya maklum, karung yang tersandang dipunggung setiap pengemis itu menunjukkan kedudukan masing-masing didalam Kai-pang, sedikit pun tidak boleh keliru, kalau keliru bisa mendatangkan maut bagi yang bersangkutan.

Pengemis biasa umumnya cuma membawa sebuah karung, itu pun sudah terhitung kepala  kelompok pengemis setempat. Pengemis yang memiliki tiga buah karung biasanya juga tidak banyak.

Tapi pengemis yang masih muda ini ternyata menyandang sembilan buah karung, hal ini sudah menandakan kedudukannya adalah calon Pangcu.

Lelaki yang lain semuanya kekar tegap, juga tidak mirip kaum pengemis umumnya meski dandanan mereka serupa anggota Kai-pang, malahan semua membawa karung yang menandakan kedudukan yang cukup tinggi, sungguh hal yang aneh.

Segera pengemis muda itu mendahului melangkah kelereng sana, lalu melayang turun kebagian yang landai dengan bersemangat.

Lelaki yang lain tidak ada yang bersuara dan mengikut dibelakang pengemis muda itu dengan tenang.

Tidak lama kemudian, tertampak didepan ada sebuah selat yang diapit tebing gunung dikanan- kiri, lebar selat itu lebih dari setombak, tapi panjangnya pada beberapa pluh tombak.

Pengemis muda itu memberi tanda, katanya sambil menoleh, "Sudah sampai, inilah tempatnya!"

Air muka orang-orang tadi serentak berubah, semuanya memandang selat itu dengan sorot mata tajam, sikap mereka menjadi bersemangat dan agak tegang.

Segera pengemis muda itu mendahului berjalan pula kedepan, baru saja tiba diujung selat, mendadak terdengar suara orang membentak berkumandang dari atas, "Berhenti pendatang itu!"

Menyusul dari atas tebing yang rimbun tetumbuhan itu lantas melayang turun dua sosok bayangan, keduanya juga pengemis yang berbaju rombeng.

Satu diantaranya menyandang sebuah karung berwarna merah, dalam karung penuh terisi bambu runcing berwarna-warni.

Pengemis muda tadi tersenyum dan menyapa, "Apakah kalian petugas menyambut tamu pertemuan ini."

Pengemis berkarung merah itu tampak ragu sejenak, sahutnya kemudian, "Betul, entah kalian datang dari mana?"

Sipengemis muda menarik muka, katanya, "Jika benar murid penyambut tamu, setelah bertemu denganku kenapa tidak lekas berlutut?"

Sembari bicara ia setengah berputar tubuh untuk memperlihatkan ujung karung yang  disandangnya.

Air muka pengemis berkarung merah berubah, cepat ia berlutut dan menyembah, "Ampun, Tecu tidak tahu kedatangan Locianjin (calon pejabat)."

Pengemis yang lain berwajah pucat kuning seperti orangt sakit-sakitan, pada tangannya membawa sejilid buku, dia mengamat-amati pengemis muda ini dengan cermat, lalu bertanya dengan membungkuk tubuh, "Mohon tanya siapa nama Locianjin yang mulia dan datang dari mana?"

"Untuk apa engkau banyak bertanya dan tidak lekas menyembah?" bentak si pengemis muda.

Bersambung ke-19.