Tujuh Pedang Tiga Ruyung Jilid 17

Jilid 17

"Semula kusangka engkau seorang tokoh yang tegas dan dapat melihat kenyataan, maka kubicara terus terang padamu, siapa tahu engkau juga berpikir seperti orang perempuan, mana mungkin bisa menghasilkan pekerjaan besar. Biarlah tidak jadi kukatakan urusan lain."

Sambil memegang lilin Liang Siang-jin lantas mendekatinya dengan pelahan, katanya dengan tertawa, "Taisu jangan marah dulu, harap Mao-tayhiap juga sudi mendengarkan keteranganku."

"Ada urusan apa, silakan Liang-tayhiap bicara saja," kata Mao Kau. Liang Siang-jin menaruh lilin diatas meja, lalu berucap, "Persoalan kedua pihak sama-sama mempunyai alasan yang cukup, jika Taisu mau menjelaskan permintaanmu yang ketiga, kukira urusannya akan lebih mudah dibicarakan."

"Kuanggap ucapan Liang-heng ini tidak membela pihak manapun, kuterima jasa baik Liang- heng," ujar Mao Kau.

"Tapi. "

Belum lanjut ucapan Kong-yu, tiba-tiba Liang Siang-jin memotong, "Tentang permintaan Taisu yang ketiga itu, jika sekiranya Taisu sungkan mengatakan sendiri, biarlah Cayhe mewakili engkau bicara."

"Silakan, ingin kudengarkan apa kehendaknya, kata Mao Kau ketus.

Dengan tersenyum Liang Siang-jin berucap, "Sebenarnya permintaan Taisu hanya urusan sepele saja, beliau ingin mengangkat Mao-tayhiap sebagai kaum Cianpwe demi memperkukuh kepercayaan kedua pihak."

Mao Kau tidak menyangka permintaan orang hanya urusan begini saja, ia bergirang, tapi ia pun tidak mengerti apa maksud orang yang sesungguhnya, apakah ingin mengangkat guru padanya?

Maka berkatalah dia dengan rendah hati, "Ah, mana berani kuterima gagasan demikian ini, Taisu sendiri seorang paderi saleh. "

Diam-diam Liang Siang-jin tertawa geli, tapi dimulut ia bicara lagi dengan serius, "Taisu mengajukan permintaan ini dengan setulus hati, maka anda juga tidak perlu sungkan."

Mao Ka tersenyum, "Jika demikian, lantas apa imbalan yang diminta Taisu?" Ia pikir, jika benar orang mau mengaku guru padanya biarpun kepala Utti Bun dan Pang Kin yang diminta juga akan diberikannya. Sekilas ia melirik Pang Kin dan Utti Bun.

Dalam pada itu Pang Kin sudah membangunkan Utti Bun, hati mereka kembali kebat-kebit setelah mengikuti percakapan itu, Thi Peng dan Auyang Bing juga merasa penasaran.

Terdengar Liang Siang-jin lagi berkata dengan tertawa, "Imbalan yang diminta Taisu hanya satu panggilan dari Mao-tayhiap. "

"panggilan apa?" sela Mao Kau dengan tertawa.

Liang Siang-jin melirik sekejap kearah Mao Bun-ki yang berdiri dibelakang sang ayah itu, lalu menyurut mundur dua tindak dan menjawab, "Dia minta Mao-tayhiap memanggilnya sebagai anak menantu. " Sebutan 'anak menantu' ini membikin orang terkesiap.

Sampai sekian lama Mao kau terkesima, mendadak ia melompat bangun dan berteriak, "Apa katamu?!"

Dengan Liang Siang-jin menjawab dengan tersenyum, "Maksudku, Taisu ingin menjadi menantu Mao-tayhiap, bila diantara kalian terikat menjadi besanan, sedikitnya Cayhe ikut bahagia sebagai perantaranya. Peristiwa menggembirakan ini selanjutnya pasti akan tercatat dalam sejarah dunia persilatan sepanjang jaman."

Sedapatnya Mao Kau menahan rasa gusarnya, jengeknya, "Kong-yu Taysu adalah orang yang telah meninggalkan rumah, tidakkah Liang-heng cuma bergurau saja."

"Tidak, sama sekali tidak bergurau." jawab Liang Siang-jin, "Janda boleh kawin lagi, duda juga boleh menikah pula. Meski Kong-yu Taysu telah cukur rambut dan menjadi hwesio, asalkan dia menanggalkan jubahnya dan piara rambut kembali, segera pula beliau akan berubah menjadi seorang lelaki gagah perkasa."

Pandangan Mao Kau beralih kearah Kong-yu, tanyanya dengan gusar. "Apakah betul ucapannya?"

Kong-yu duduk tenang saja dan menjawab, "Jika urusan ini tidak dapat kau terima, urusan lain juga anggap batal."

Mata Mao Kau melotot, kedua tinju terkepal erat, Auyang Bing dan Thi Peng juga lantas menggeser kesana, menyumbat jalan keluar.

Suasana dalam ruangan bawah tanah ini seketika berubah tegang. Dengan beringas Mao Kau berucap sekata demi sekata, "Jika kau minta putriku menjadi istrimu, hanya bilamana air sungai mengalir terbalik dan matahari terbit di barat."

Serentak Kong-yu berbangkit dan mendengus, "Apa katamu, coba ulangi lagi!" "Jika. "

Belum lanjut perkataan Mao Kau, mendadak Bun-ki memotong, "Aku akan kawin dengan dia!"

Suaranya pelahan dan dingin, sama sekali tidak menampilkan perasaan, tapi sangat diluar dugaan orang dan mengejutkan.

Sampai Kiu-ciok-sin-tu Liang Siang-jin juga terperanjat, seketika lenyap senyumannya. Air muka Thi Peng dan Auyang Bing juga pucat.

Sudah lama mereka berdua juga menaksir Ma Bun-ki dan belum pernah mendapat sambutan yang pantas dari nona itu, siapa tahu gadis yang angkuh ini sekarang mendadak menyatakan  mau kawin dengan seorang kepala gundul alias hwesio.

Sampai gemetar tubuh Mao kau menahan gejolak perasaannya, "Anak Ki, masuklah sana!"

Muka Bun-ki tampak pucat lesi, sorot matanya justru memancarkan semacam sinar yang aneh. Dia tetap berdiri tak bergerak ditempatnya, jawabnya kalem, "Dengan suka-rela anak bersedia kawin dengan dia!"

Mao Kau menyurut mundur dengan lemas, hampir saja dia jatuh terkulai. Dengan geram ia berseru sekata demi sekata, "Anak Ki, jangan kau pikirkan ayahmu, biarpun usaha ayah akan gagal total juga takkan mengorbankan dirimu untuk dijadikan istri hwesio ini."

Dengan sinar mata tajam ia menyapu pandang sekejap dan mendadak membentak, "Jaga semua jalan keluar, siap tempur!"

Auyang Bing dan Thi Peng berteriak mengiakan. Pang Kin juga memegang pedang dan siap melabrak musuh.

Bun-ki lantas melangkah maju dengan pelahan serupa badan halus, katanya, "Seorang perempuan akhirnya toh harus menikah, menikah dengan siapa pun sama saja. Hanya saja ada syaratku, harus menunggu sampai pekerjaannya berhasil dengan baik barulah aku mau melangsungkan upacara nikah dengan dia."

"Tapi. "

"Itulah keputusanku, ayah, tidak perlu disesalkan lagi," sela Bun-ki.

Mao Kau terkesima sekian lama, akhirnya ia duduk kembali dikursinya dengan lemas.

Dengan tertawa manis Bun-ki lantas berkata kepada Kong-yu Hwesio, "Nah, kan sudah kuterima lamaranmu, kenapa tidak lekas kau sembah kepada ayah?"

Kong-yu Hwesio sendiri jadi melengak, sahutnya dengan gelagapan dan menyengir, "O, ini.   

.ini. "

Karena ingin membalas sakit hati dan demi memupuk kedudukan sendiri, dengan berbagai cara dia berusaha memperistri Mao Bun-ki. Tapi sekarang dia masih memakai kasa (jubah hwesio), usianya juga jauh lebih tua, jika dia disuruh menyembah dan memanggil "bapak mertua" kepada Mao Kau, sungguh hal ini membuatnya rikuh.

Berputar biji mata Liang Siang-jin, cepat ia berkata dengan tertawa, "Ah, masakah Taisu perlu merasa malu segala. Lamaran sudah diterima, selain perlu menyembah dan memanggil mertua, bahkan juga harus menyerahkan beberapa barang tanda mata sekedar mengukuhkan perjodohan ini." "Tapi paderi. " mendadak Kong-yu merasa ucapannya tidak betul dan cepat tutup mulut.

"Anak menantu, begitulah sebutan bagi dirimu sendiri," tukas Liang Siang-jin dengan gelak tertawa.

Bahwa seorang hwesio harus menyebut dirinya sendiri sebagai anak menantu dan memanggil orang sebagai mertua, sungguh lelucon yang tidak lucu. Namun dalam keadaan begini, siapapun tidak ada yang merasa geli.

Hati Kong-yu Hwesio terasa gembira, tak dirasakannya ucapan Liang Siang-jin yang bernada mengejek itu, ia termenng sejenak dengan ragu, akhirnya berkata dengan pelahan. "Tapi Cayhe terburu-buru keluar rumah sehingga tidak membawa sesuatu benda berharga. " 

"Selanjutnya kalian adalah orang sekeluarga, apa alangannya Taisu menggunakan sepatu perak mini sebagai emas kawin, sepatu itu memang milik guru nona Mao, jadinya kan lebih baik." demikian usul Liang Siang-jin.

Kong-yu termenung dan tidak menanggapi.

"Memangnya kau rasakan berat memberikan sepatu mini itu?" jengek Bun-ki.

"Ah, masa," seru Kong-yu mendadak, akhirnya ia keluarkan sepatu mini itu dan diserahkan kepada Mao Kau.

Melihat orang telah mengeluarkan sepatu perak itu, diam-diam Liang Siang-jin membatin. "Asalkan tanda pengenal ini telah kau serahkan, selanjutnya aku pun tidak perlu tunduk lagi kepada perintahmu."

Sedangkan wajah Thi Peng dan Auyang Bing tampak kelam dan mata merah berapi, meski tidak bersuara, namun dari sorot mata mereka yang penuh kebencian sudah cukup bicara segalanya.

Pikiran Mao Kau juga bergolak, diam-diam sudah timbul niatnya membunuh, tapi dalam keadaan ditempat ini betapapun dia tidak dapat bertindak secara terang2an, maka sepatu mini dari Kong-yu Hwesio lantas diterimanya.

Sekilas dilihatnya air muka Thi Peng dan Auyang Bing yang penuh rasa dendam itu, segera ia memberi tanda dan berkata, "Wi-im-sam-kiat terluka satu dan yang satu lagi tewas, lekas kalian membantu Pang Kin membereskan jenazah yang mati dan merawat luka yang cedera, untuk apa berdiri saja disini?"

Auyang Bing dan Thi Peng mengiakan dan mengangkat jenazah Cia Tong-hong dan memayang pergi Utti Bun yang terluka itu bersama Pang Kin.

Diam-diam Mao Kau menghela napas, dikeluarkan sebuah kipas lempit, lalu berkata, "Ini,  terimalah!"

Selagi Kong-yu belum tahu apa kehendak Mao Kau. Liang Siang-jin lantas menepuk pundaknya dan berkata, "Itulah tanda mata balasan dari bakal mertua, lekas kau terima."

Setelah Kong-yu menerima kipas itu, mendadak dirasakannya sikap Liang Siang-jin terhadap dirinya baik sebutan maupun cara bicara ternyata telah berubah agak kasar.

Teringat pada hal ini, terkesiap juga dia, dengan menyengir ia coba berkata, "Sekali ini telah banyak mendapat bantuan Liang-heng, sungguh aku. "

Liang Siang-jin mendengus, "Aku seangkatan dengan Mao-tayhiap, selanjutnya lebih pantas kaupun panggil aku sebagai paman, kalau tidak kan terasa kurang sopan?"

Kong-yu jadi melenggong dan tidak sanggup bicara lagi.

Melihat perubahan sikap dan cara bicara mereka, diam-diam Mao Kau bergirang, pikirnyanya, "Hm, biarpun engkau selicin belut dan hampir saja aku terjebak olehmu, tapi akhirnya kau sendiri tetap salah, sekarang berbalik aku yang akan mengemudikan dirimu."

Hati Kong-yu juga terkesiap demi melihat sikap Mao kau yang pongah itu, tapi ia pun tidak gentar, pikirnya, "Hm, tidak perlu kau senang, bila ada sesuatu maksud jahatmu padaku, segera engkau akan tahu rasa."

Yang paling gembira adalah Kiu-ciok-sin-tu Liang Siang-jin, pikirnya diam-diam, "Wahai saudara Siu, jika benar mereka bedua bergabung menghadapi dirimu, memang engkau akan repot juga, untunglah kedua oang ini sama-sama mempunyai niat busuk sehingga engkau pun tidak perlu kuatir lagi."

Air muka Mao Bun-ki kelihatan tetap dingin saja, ia pun berpikir, "Wahai Siu Su, bila aku tidak dapat menjadi istrimu, pasti juga aku takkan menikah dengan orang lain, begitu pula bila engkau tidak dapat menikahiku, pasti juga takkan kubiarkan kau nikahi orang lain."

Begitulah cinta kasihnya yang semula berkobar kini telah berubah menjadi dendam kesumat. Wataknya yang suci bersih kini juga berubah menjadi dingin, kejam tanpa kenal ampun.

Jika mereka yang berada disini sama mempnyai pikiran masing-masing, Thi Peng dan Auyang Bing yang sudah meninggalkan ruang ini juga sukar diraba jalan pikirannya.

Setelah keluar dari ruangan itu, menerobos lorong dan keluar lagi keruangan tengah rumah berhala yang kotor itu.

Diluar kegelapan malam tetap pekat, bahkan hujan keras disertai suara gemuruh guntur dan terkadang berkelebatnya sinar kilat memecah angkasa yang gelap, Inilah sesaat yang paling gelap sebelum subuh tiba. Baru saja keluar diruang rumah berhala itu, segera Thi Peng berhenti dan memberi hormat kepada Pang Kin. ucapnya, "Sungguh Siaute merasa sangat berterima kasih bahwa Pang-heng telah tutup mulut serapatnya."

Dengan suara gemas Pang Kin menjawab, "Ai, janganlah Thi-heng bicara demikian, kami bersaudara sudah lama menerima budi kebaikan Siu-siansing, adalah pantas bila kami bekerja baginya. Apalagi sekali ini juga kami telah menjadi korban keganasan mereka."

Auyang Bing muncl paling akhir, sambil merapatkan kembali lubang bawah tanah itu, katanya dengan menyesal, "Sungguh kami tidak menyangka ditengah jalan bisa muncul seorang Kong- yu Hwesio, kalau tidak tentu kami takkan mengundang kalian bertiga dan mengakibatkan Cia- toako tewas secara sia-sia."

Utti Bun menghela napas, "Ah, mungkin sudah takdir, tak dapat menyalahkan kalian "

Mendadak Thi Peng menghela napas panjang, "Takdir. . . takdir. Jika bukan takdir masakah 

kami berdua dapat mengetahui bahwa guru kami yang paling kami hormati dan kagumi adalah musuh kami pula yang telah membunuh segenap anggota keluarga kami."

Dengan heran Pang Kin bertanya, "Eh, kiranya baru sekarang kalian mengetahui Mao Kau adalah musuh yang membunuh keluarga kalian, tadinya kusangka kalian cuma dendam saja, maka pura-pura berguru kepada Mao Kau."

"Sebenarnya kami berdua adalah saudara misan," demikian Auyang Bing bertutur dengan sedih, "Pada waktu berumur tujuh kami sudah berguru kepada orang she Mao."

"Mengapa kalian masuk keperguruannya?" tanya Pang Kin.

"Tatkala mana sudah timbul ambisi Mao Kau yang ingin merajai dunia persilatan, sebab itulah dia khusus mencari anak yatim piatu yang cukup berbakat untuk dijadikan murid kepercayaan sendiri demi memupuk kekuatan dikemudian hari."

"Dengan sendirinya sama sekali tak tersangka olehnya bahwa diantara anak yatim piatu yang diterimanya itu terdapat juga putra musuh sendiri yang telah menjadi korban keganasannya," sambung Thi Peng dengan gemas, "Rupanya jaring langit memang cukup ketat, apa yang telah diatur Thian terkadang memang sangat ajaib."

Saat itu diluar suara guntur lagi menggelegar sehingga makin membuktikan kebesaran Thian.

"Oo, jadi dia ang menemukan kalian dan bukan kalian yang mencari dia." ucap Pang Kin dengan gegetun.

Utti Bun juga tertarik oleh cerita mereka itu, ia meronta bangun dan bertanya, "Jika hal itu sudah terjadi belasan tahun dan tidak kalian ketahui, kenapa akhir-akhir ini dapat diketahui kalian?" Thi Peng tersenyum pedih, "Apabila Mao Kau tidak bermaksud mencakup segenap jagoan didunia ini, tentu kami takkan mencari kalian bertiga. Dan bila kami tidak mencari kalian tentu kami takkan pulang ke Wi-im dan tentu pula takkan mengetahui persoalan ini, jika persoalan ini tidak kami ketahui, pasti juga Cia-jiko takkan tewas."

"Tapi jika Cia-jiko tidak mati, kalian berdua yang sudah mati." tukas Pang Kin dengan sedih. "Mengapa bisa begitu?" tanya Auyang Bing dengan heran.

"Sebab ketika kalian berkunjung ketempat kami, diam-diam kami sudah menaruh racun didalam arak," tutur Pang Kin. "Kami ingin meracun mati kedua utusan Mao Kau sekedar membalas budi kebaikan Siu-siansing, siapa tahu. "

"Ya, waktu perjamuan di Sam-kiat-ceng kalian, segera kami mengetahui dalam arak beracun." tukas Thi Peng dengan tertawa. "Dari sana beru kami tahu bahwa antara Wi-im-sam-kiat juga ada permusuhan dengan Mao kau. Kalau tidak, mana kami berani secara terang2an mengajak kerja sama dengan kalian kesini, memangnya kami tidak kuatir akan dijual oleh kalian."

Utti Bun dan Pang Kin sama melenggong, kemudian Pang Kin berkata, "O, kiranya kalian juga cerdik."

"Ah, sama-sama." ujar Thi Peng dengan tersenyum.

Ke-empat orang lantas saling pandang dengan sama-sama merasa ngeri. Dunia Kangouw memang penuh intrik, penuh pertentangan antar pribadi dan kelompok, setiap saat bisa terjadi perubahan dan bilamana salah dalam sekejap mungkin akan mendatangkan bencana bagi diri sendiri.

Sejenak kemudian Utti Bun berkata pula, "Agaknya setiba di Wi-im kalian menemukan sesuatu. 

. ."

"Ya, Wi-im sesungguhnya adalah kampung halaman kami," tutur Thi Peng. "Seplangnya disana, dengan sendirinya kami berziarah kemakam leluhur, siapa tahu "

Tiba-tiba tertampil rasa duka dan juga dendamnya, dengan tandas ia sambung pula, "Selesai kami berziarah dan baru meninggalkan makam leluhur, tiba-tiba datang dua orang kakek berjubah hijau. Waktu itu sudah jauh malam, karena ingin tahu sesungguhnya siapa kedua kakek itu dan apa yang akan diperbuatnya, maka diam-diam kami bersembunyi.

Dalam kegelapan terlihat kedua kakek itu yang satu tinggi dan yang lain pendek, keduanya berbaju dekil, rambut sudah ubanan, tampaknya merekapun dirundung duka nestapa. Mereka memberi hormat didepan makam leluhur kami, kakek yang pendek mendadak menghela napas panjang dan bergumam, 'Wahai Siu Tok, ternyata tidak salah ucapanmu!' 

Hati kami sama terkesiap waktu itu, sungguh kami tidak menyangka orang tua kami almarhum bisa ada sangkut-pautnya dengan gembong iblis Siu Tok itu? Kudengar kakek yang tinggi itu  juga bergumam dengan menyesal, 'Wahai Siu Tok, dahulu pernah kau bilang Mao kau telah banyak melakukan perbuatan kotor dan jahat disekitar Tinkang, sayang kami tidak mau percaya, tapi setelah tujuh belas tahun kemudian sekarang kami telah menyelidiki daerah sekitar Tinkang dan baru diketahui bahwa keteranganmu memang benar seluruhnya. Namun urusan sudah terlambat.'

Mendengar uraian kakek tinggi itu, kembali hati kami bergetar. "

Sampai disini, Pang Kin coba menyela, "Apakah makam itu makam ayah-bundamu?" "Betul." jawab Thi Peng.

"Jika begitu, untuk apa kedua kakek itu menyebut Siu-siansing didepan makam dan menyebut pula apa yang diperbuat Mao kau di Tinkang segala?" tanya Pang Kin.

"Meski asal leluhurku di Wi-im, tapi ayah membuka Piaukok di Tinkang." tutur Thi Peng.

"Setelah kedua orang tua dan paman serta bibi terbunuh pada sembilan belas tahun yang lalu, sanak famili yang masih hidup lantas membawa layon orang tua kami kembali ke kampung halaman di Wi-im."

Sampai disini air matanya tak terbendung lagi, sambungnya dengan tersendat, "Kematian orang tua kami sungguh sangat mengerikan, biarpun marah, namun tidak ada seorang kawan Kangouw yang mengetahui siapa pembunuhnya. Maka hatiku tergerak ketika mendengar ucapan kedua kakek itu, kupikir perkataan mereka itu pasti ada sangkut-pautnya dengan ayah- bundaku."

Sampai disini, kerongkongan Thi Peng serasa tersumbat dan tidak sanggup meneruskan lagi.

Pelahan Auyang Bing menepuk bahu sang Suheng, lalu menyambung, "Selagi kami merasa sangsi, kakek tinggi itu berkata pula, 'Wahai arwah didalam kuburan, bilamana kalian bisa mendengar di-alam baka, ketahuilah bahwa musuh kalian akhirnya ketahuan juga, dia bukan lain ialah Mao kau.'

Kakek yang lain lantas menyambung, ' Meski kalian tidak mempunyai keturunan yang akan menuntut balas bagimu, tapi. ' Sampai disini kami tidak tahan lagi, tanpa berjanji serentak 

kami melompat keluar bersama dan menangis sedih didepan makam."

Auyang Bing mengusap air matanya yang bercucuran, lalu melanjutkan, "Tentu saja kedua kakek itu terkejut, tapi setelah mereka tahu kami adalah keturunan orang di dalam kuburan, serentak mereka pun bersorak dan bersyukur.

Kakek jangkung itu meng-amat2i kami sejenak, mendadak air mukanya berubah dan bertanya, 'Apakah kalian murid Mao Kau?'

Kami lantas menceritakan tentang masuknya kami keperguruan Mao Kau yang tidak sengaja itu, sungguh duka dan murka kami pada waktu itu sukar dilukiskan."

Thi Peng berhenti menangis dan menyambung, "Sejak dari kedua kakek itu kami mengetahui  Mao kau adalah musuh kami, tentu saja disamping girang hati kami juga berduka dan murka. Sebab musuh yang ingin kami cari akhirnya ditemukan juga, tapi Thian justru mengatur kami masuk dalam perguruannya sehingga kami secara diam-diam dapat menyabot segala usahanya."

"Masakah Mao kau sendiri sama sekali tidak tahu?" ujar Pang Kin dengan alis berkerut.

Wajah Thi Peng yang belum kering dari air mata itu menampilkan senyuman licik, katanya, "Itulah ganjaran yang diberikan oleh Thian. Sebab pada waktu kami masuk perguruan, Mao Kau mengharuskan kami bersumpah agar selamanya tidak lagi mengungkit asal-usul kami sendiri."

"Tindakannya itu adalah ingin memutuskan segala hubungan kekeluargaan kami dengan leluhur kami agar dapat bekerja baginya dengan sepenuh hati dan mati baginya," sambung Auyang Bing dengan gemas.

"Tapi dia tidak menyangka bahwa masih ada Thian yang maha kuasa yang telah mengatur dan menentukan segalanya akhirnya senjata makan tuan dan dia harus menelan hasil perbuatannya sendiri," kata Thi Peng dengan tersenyum pedih.

Utti Bun dan Pang Kin sama menghela napas, agar tidak membikin duka hati Thi Peng dan Auyang Bing, mereka tidak tanya lagi cara bagaimana kematian orang tua mereka yang mengenaskan itu.

Tapi Pang Kin lantas bertanya, "Sesungguhnya siapakah kedua kakek itu?"

"Kami telah tanya mereka berulang-ulang tapi mereka tidak mau omong, mereka lantas tinggal pergi begitu saja kecuali menyatakan bahwa nama mereka sudah terlupakan dua puluh tahun yang lalu." tutur Thi Peng dengan gegetun.

Diluar suara guntur tambah keras, hujan semakin deras.

Perasaan semua orang sama tertekan dan memandang air hujan yang seperti dituangkan dari atas itu, semua diam saja.

Kecuali pada waktu sinar kilat berkelebat, suasana gelap gulita, siapa pun tidak dapat melihat wajah masing-masing, namun keempat orang mempunyai dendam yang sama dan saling mengerti.

Mendadak Thi Peng bersuara pula, "Dan sekarang bagaimana dengan jenazah Cia-jiko, akan dikebumikan dimana?"

"Cia-jiko sudah meninggal, kami wajib menuntut balas baginya, supaya rohnya dapat tenang di alam baka, harus kami kebumikan dia se-baik2nya," ujar Utti Bun.

Tiba-tiba Pang Kin menambahkan, "Eh, kukira untuk menuntut balas, kesempatan yang  terbesar terletak juga pada tangan Thi-heng berdua, kalian yang selalu mendampingi jahanam she Mao itu, mengapa kalian tidak ada rencana untuk membunuhnya?"

"Cara membunuh Mao kau terhadap orang tua kami terlalu keji. " saking emosinya Thi Peng 

tidak sanggup meneruskan, sejenak kemudian baru menyambung pula dengan gemas, "Maka bila kami hanya membunuh dia begitu saja, kan terlalu murah baginya?"

"Jika demikian, kecuali akan kami bantu dari dalam, kukira kita masih harus mengatur seperlunya, kalau tidak. "

Belum lanjut pembicaraan mereka, mendadak terdengar suara derapan kaki kuda yang ramai ditengah hujan lebat.

"Ssst, ada orang datang!" desis Auyang Bing dengan air muka berubah.

Waktu mereka pasang kuping, suara lari kuda itu ternyata menuju kerumah berhala ini.

Cepat Auyang Bing mengangkat mayat Cia Tong-hong dan disembunyikan dibawah meja sembahyang, katanya dengan suara tertahan, "Lekas sembunyi ditempat yang tak kelihatan."

Rumah berhala ini memang cukup luas, ada belasan patung yang dipuja disini, ruangan ini sedikitnya ada belasan meter luasnya. Cepat mereka lantas mencari tempat sembunyi.

Sejenak kemudian, terdengar suara ringkik kuda diluar, seorang berkata dengan tertawa, "Haha, untung dapatlah kita menemukan tempat berteduh sebaik ini."

Baru lenyap suaranya, masuklah dua orang dengan basah kuyup. Seorang muka putih dan berjenggot pendek, tegap dan gagah. Seorang lagi rambut terikat diatas kepala dan berjubah kelabu, langkahnya tampak gesit, tapi sikapnya kelihatan lesu.

Thi Peng yang bersembunyi dibelakang altar samar-samar dapat membedakan bangun tubuh kedua orang ini, mendadak sinar kilat berkelebat hingga wujud kedua orang itu tertampak jelas.

"Ah, kiranya Jing-hong-kiam- Cu Pek-ih dan Hoa-san-gin-ho," demikian pikir Thi Peng.

Begitu kedua orang itu masuk kesitu, lebih dulu mereka mengebaskan baju masing-masing untuk membuang air yang masih berketes, lalu baju luar dilepas dan diperas, kemudian mengusap muka. Baju yang basah itu lantas dibentang dan digantung di dinding.

"Apakah Toheng membawa alat ketik api?" tanya Cu Pek-ih.

"Umpama membawa alat ketik api juga basah dan tidak dapat digunakan lagi." ujar Gin-ho Tojin, cara bicaranya kurang bersemangat, agaknya lagi menanggung sesuatu pikiran.

"Haha, boleh juga duduk dalam kegelapan." ucap Cu Pek-ih dengan tertawa. Kedua orang lantas diam.

Sejenak kemudian Cu Pek-ih buka mulut pula, "Tempat ini entah Tokoan (kuil To atau Tao) atau Hudsi (biara Buddha), jika yang dipuja adalah Sam-ciang-loco (tiga tokoh agama Tao yang dipuja), kita harus memberi sembah hormat."

Dalam kegelapan, yang sebentar2 bicara hanya Cu Pek-ih saja, Hoa-san-gin-ho cuma berduduk mematung, tidak buka mulut, juga tidak menanggapi.

Selagi Thi Peng dan lain-lain merasa heran, tiba-tiba Cu Pek-ih berkata pula, "Toheng, engkau sudah menyerahkan dirimu kedalam agama, sepantasnya urusan budi dan dendam dikesampingkan saja, jika engkau sudah bertekad takkan menuntut balas, kenapa engkau memikirkannya pula?"

Sinar kilat kembali berkelebat, mendadak Hoa-san-gin-ho berdiri, dengan langkah lebar ia menuju kepintu rumah berhala itu, tapi lantas putar balik, dan bergitulah ia mondar-mandir beberapa kali, lalu menghela napas dan menggerundel, "Tapi kalau tidak menuntut balas, mana bisa rasa dendamku ini terlampias?"

"Balas membalas,lantas sampai kapan baru akan berakhir?" ujar Cu Pek-ih.

Hoa-san-gin-ho duduk kembali dan berdiam lagi sekian lamanya, kemudian berkata pula dengan suara berat, Cu-heng, kau tahu betapa susah aku meyakinkan ilmu pedanku, siang malam tidak kenal lelah, orang lain sudah tidur, aku masih giat berlatih, soalnya kutahu bakatku sendiri terlalu rendah, kalau aku tidak berlatih segiatnya, cara bagaimana aku dapat menntut balas?"

"Meski aku tidak mempunyai dendam kesumat apa-apa, caraku berlatih ilmu pedang juga segiat itu," ujar Cu Pek-ih.

"Tapi selama dua puluh tahun ini tak pernah kulupakan dendan kemsumat ini barang sedetikpun, kini ilmu pedangku sudah selesai kuyakinkan, apakah boleh kulupakan sakit hati yang kudendam selama dua puluh tahun ini?" seru Gin-ho Tojin.

"Ya, biarpun tidak dapat melupakannya juga harus dibikin lupa, di dunia ini memang banyak urusan yang membikin orang apa boleh buat." ujar Cu Pek-ih dengan menyesal. "Sekalipun dendammu merasuk tulang juga tidak dapat kau tuntut balas."

Thi Peng dan lain-lain sama heran dan kejut mendengar percakapan mereka. Diam-diam mereka sama membatin, "Siapakah musuh mereka?"

Tertampak Hoa-san-gin-ho berdiri pula dan mondar-mandir diruangan rumah berhala ini, jelas hatinya tidak tentram, penuh pertentangan. "Toheng," kata Cu Pek-ih lagi, "Maaf jika kubicara terus terang. Bahwa Siu-siansing itu telah membunuh ayah-bundamu, tapi Cukat It-peng suka menindas orang kecil dan memeras orang baik-baik, Cukat-toanio juga memaksa perempuan baik menjadi pelacur, hal ini cukup diketahui khalayak ramai, sakit hati terbunuhnya mereka itu andaikan harus kau tuntut balas juga tidak pantas dijatuhkan terhadap anak keturunan Siu-siansing."

Thi Peng dan lain-lain sama terkesiap, pikir mereka, "Hah, kiranya Hoa-san-gin-ho ini asalnya ialah putra Cukat It-peng yang terkenal dijaman dahulu dan juga musuh Siu-siansing."

Teringat kepada permusuhan yang ruwet ini, tanpa terasa semua orang sama menghela napas.

Terdengar Hoa-san-gin-ho lagi berkata pula dengan menyesal, "Wahai, Siu Su, jika kulupakan dendam padamu, memangnya dapat kau lupakan dendammu terhadap orang lain."

Habis bergumam kembali ia duduk lemas lagi. Kedua orang lantas tidak bicara lagi. semuanya sama termenung.

Ditengah hujan lebat dan gelegar guntur terdengar ringkik kuda sehingga suasana terasa seram.

Kembali sinar kilat berkelebat, cu Pek-ih berkata, "Aneh, selain patung Sam-cing-cosu kenapa disini juga ada patung Buddha "

Belum lanjut ucapannya, sekonyong-konyong dua sosok bayangan orang menyelinap masuk dari luar. Keduanya sama bertubuh jangkung, lelaki setengah umur yang jelas berkungfu tinggi.

Sesudah berada didalam, kedua orang mengebaskan air yang membasahi baju mereka, setelah mengucap maaf, lalu mereka duduk dipojok sana.

Meski empat orang berduduk di suatu ruangan, namun siapa pun tak dapat melihat wajah yang lain.

Cu Pek-ih dan Hoa-san-gin-ho tidak bicara, sebaliknya kedua pendatang baru lantas kasak- kusuk entah apa yang sedang dibicarakan mereka.

Selang agak lama, ketika sinar kilat berkelebat lagi, waktu Cu Pek-ih dan Gin-ho Tojin memandang kesana, terlihat kedua orang itu juga sedan memandang mereka, setelah keempat orang saling pandang sekejap, semuanya sama tersenyum.

Keadaan kembali gelap lagi, lamat-lamat Cu Pek-ih merasa satu diantaranya seperti sudah dikenalnya, cuma tidak ingat siapa dia.

Suara kasak-kusuk dipojok sana juga sudah berhenti, agaknya kedua orang itu sedang mengheningkan cipta. Cu Pek-ih coba membisiki Gin-ho Tojin, "dari geraK tubuh waktu mereka datang tadi, tampaknya mereka bukan sembarang jagoan Kangouw, tapi mengapa aku tidak ingat siapakah mereka ini?"

"Apu pun tidak kenal mereka," Gin-ho Tojin menjawab dengan lirih.

Cu Pek-ih lantas menghela napas dan menggurutu sendiri, "Ai, hujan selebat ini, entah sampai kapan baru akan berhenti?!"

Semua orang tidak ada yang menanggapi ucapannya, terpaksa Cu Pek-ih memejamkan mata dan menghimpun tenaga, Keempat orang sama duduk diam dalam kegelapan sehingga serupa patung diatas altar.

Dalam kegelapan keempat orang yang lain menjadi gelisah juga dan berharap hujan lekas berhenti. Mereka bersembunyi, ada yang dikolong meja sembahyang, ada yang dibelakang altar, sampai bernapas juga tak berani keras-keras.

Tak lama kemudian, mendadak terdengar suara orang, kembali dua sosok bayangan melayang masuk, gerakan mereka ternyata tidak kurang gesitnya daripada kedua pendatang yang pertama.

Semua orang sama terkejut dan memandang kesana.

Dalam kegelapan hanya tertampak dua sosok bayangan tinggi besar, meski tidak tertampak jelas wajahnya, tapi dapat diketahui kedua orang ini adalah orang cacat badaniah.

Agaknya kedua orang ini sama berwatak keras, begitu masuk kesini, mereka memandang sekitarnya apakah ada orang lain atau tidak, seorang diantaranya lantas membentak, "Jika terus menerus kau recoki diriku, bisa kupukul mampus dirimu."

Suaranya kedengaran agak serak, jelas suara orang tua renta. Seorang lagi mendadak berlutut dan memohon, "O, ayah. . . .ayah. "

Suara tua itu membentak pula dengan gusar, "Jika tidak kau bawa kepala putra Siu Tok kepadaku, seterusnya tidak perlu kau panggil ayah padaku. Putra yang tidak membalaskan dendam ayahnya, untuk apa aku mengakui dia sebagai anak?"

Orang kedua mendekam dilantai dan menangis tergerung-gerung.

Tidak perlu tanya juga Cu Pek-ih dan Hoa-san-gin-ho tahu siapa kedua orang ini, yaitu Ong Loh-peng dan putranya.

Mendadak Cu Pek-ih bersuara, "Jika putra berbakti begini tidak kau terima, sungguh engkau ini orang bodoh." Jin-beng-loh-hou, si pemburu nyawa manusia Ong Loh-peng serentak berpaling dan membentak, "Siapa itu yang bicara?"

Cu Pek-ih tertawa, "Aku yang memper temukan kembali kalian ayah dan anak, masakah sekarang engkau tidak kenal lagi padaku."

Dibawah berkelebatnya sinar kilat dapatlah Ong Loh-peng melihat jelas wajah Cu Pek-ih.

Tiba-tiba guntur menggelegar dengan dahsyatnya sehingga kuda yang tertambat di-emper rumah meringkik kaget.

Ong Loh-peng mendengus, "Hm, kiranya lagi-lagi sahabat yang suka ikut campur urusan ini, untuk apa kau datang kesini?"

"Untuk menunggu seorang teman yang tidak mau mengakui anaknya sendiri." sahut Cu Pek-ih dengan tertawa.

Ong Loh-peng melangkah maju dan berteriak dengan gusar, "Kudengar kabar yang mengatakan Mao Kau dan keturunan orang she Siu telah berada disekitar Tinkang sini, sebab itulah kususul kemari. "

"Memangnya mau apa menyusul kemari?" jengek Cu Pek-ih.

"Kau sendiri menunggu disini, apakah juga sedang menunggu orang she Siu?" damperat Ong Loh-peng dengan gusar. "Tampaknya kau sendiri adalah calo bagi orang she Siu itu, tapi biarpun mengoceh tiga hari tiga malam juga takkan menggoyahkan pendirianku."

"Jadi kau pasti akan menuntut balas?" Cu Pek-ih menegas.

"Tentu saja, sakit hati selama dua puluh tahun harus kubalas," teriak Loh-peng.

"Hm, kau sendiri berjuluk si pemburuh nyawa manusia, kenapa engkau tidak langsung memburu putra orang she Siu, tapi sengaja mempersulit putramu sendiri? Orang she Siu telah menyelamatkan nyawanya, tapi engkau malah. "

"Keparat. "

Selagi Ong Loh-peng meraung murka, memdadak dari pojok sana seorang mendengus, "Hm, Siu-siansing telah menyelamatkan jiwa anakmu, tapi berbalik hendak kau bunuh putra Siu- siansing, dimana letak keadilan urusan ini?"

Dua sosok bayangan jangkung lantas berbangkit pelahan dari pojok sana, lalu bersama menggeser kearah Ong Loh-peng. Kedua orang ini sama tinggi perawakannya dan sama besarnya, langkahnya juga sama enteng dan pelahan, dipandang dalam kegelapan serupa badan halus saja.

Dengan suara bengis Ong Loh-peng menegur, "Siapa kalian, ada sangkut-paut apa denga orang she Siu?"

"Sebelum kau cari orang she Siu untuk menuntut balas, ingin kutanya dulu kepadamu." jengek orang yang sebelah kiri, "Coba jawab, kau sendiri telah banyak membunuh orang jauh diperbatasan utara sana, lalu apakah tidak kau pikirkan orang juga akan menuntut balas padamu?"

Segera orang yang sebelah kanan menyambung, "Tidak sedikit kafilah yang kau ganggu di padang pasir sana, arwah orang-orang yang kau bunuh dan gentayangan itu juga akan minta ganti nyawa kepadamu."

Terkesiap Ong Loh-peng, dengan suara gemetar ia tanya, "Se. sesungguhnya siapa kalian?"

"Siapa kami?" jengek orang sebelah kiri, "Boleh kau lihat sendiri. "

Belum habis ucapannya, kembali sianr kilat berkelebat disertai guntur menggelegar, kuda juga meringkik dan daun jendela sama bergetar, bumi ini seakan-akan berguncang.

Sekilas Ong Loh-peng dapat melihat wajah kedua orang itu putih pucat dan kaku serupa mayat hidup, namun sinar matanya setajam sembilu. Wajah kedua orang ternyata serupa bagai pinang dibelah dua.

"Kau. . .kau. . . ." sambil menuding Ong Loh-peng menyurut mundur dengan gemetar..

"Hehehe," orang sebelah kiri menyeringai, "Sudah sekian lama kucari kau, selama kau masih hidup didunia sehari, selama sehari pula kafilah di padang pasir akan terasa tidak aman. Maka kukira akan lebih baik kau susul Siu-siansing saja ke-akhirat untuk menuntut balas padanya disana."

Sambil bicara pelahan ia lantas mendesak maju.

Dalam kegelapan, samar-samar Ong Loh-peng merasa wajah orang serupa orang yang pernah dibunuhnya digurun dan sedang menyeringai padanya. Tiba-tiba terbayang darah yang berhamburan dan mayat yang bergelimpangan. Mendadak ia berteriak, lalu membalik tubuh 

dan berlari pergi dengan cepat.

Si Thauto berambut kusut sudah berhenti menangis, tapi masih mendekam dilantai, melihat sang ayah berlari pergi seperti orang kurang waras, ia pun menjerit kaget, "Ayah!"

Cepat ia pun melompat bangun dan ikut lari keluar secepat terbang. Sejak tadi Cu Pek-ih hanya mengikuti kejadian itu dengan tak acuh, mendadak sekarang ia bertepuk tangan dan berkata dengan tertawa, "Haha, bagus! Tindakan kalian ini sungguh sangat mengagumkan."

Kedua pendatang terakhir itu tersenyum, yang sebelah kiri berkata, "Seterusnya kukira dia tidak berani lagi mencari orang untuk menuntut balas dan juga tidak berani burbuat kejahatan pula. Tapi kalau dia tidak memperbaiki perbuatannya, suatu ketika dia tetap tak bisa lolos dari tanganku."

"Tadi kulihat jelas kalian adalah tokoh yang gagah dan cakap, mengapa dalam sekejap kalian telah berubah wujud, barangkali kalian juga selalu sedia kedok kulit manusia?" tanya Cu Pek-ih dengan tertawa.

Kedua orang itu tertawa, seorang diantaranya berkata, "Tajam benar pandanganmu." Serentak mereka menanggalkan kedok masing-masing.

"Ketika sinar kilat berkelebat segera dapat kulihat wajah asli kalian, entah sudikah kalian memberitahukan nama kalian yang mulia?" tanya Cu Pek-ih.

"Cayhe Toanbok Hong-cing!" jawab orang sebelah kiri dengan tersenyum.

Hendaknya maklum, biarpun nama "Kim-kiam-hiap" telah menggemparkan dunia Kangouw, tapi nama Toanbok Hong-cing sendiri sama sekali asing bagi dunia persilatan.

Cu Pek-ih bersuara heran, ia tidak mengerti ginkang orang sedemikian tinggi, mengapa namanya tidak pernah terdengar didunia Kangouw?

Pandangannya beralih kepada orang sebelah kanan, ketika itu sinar kilat kebetulan berkelebat lagi sehingga kedua orang dapat saling pandang dengan jelas. Tanpa terasa orang itu memanggil dengan pelahan, lalu menunduk, seperti malu bertemu dengan Pek-ih.

Tergerak hati Cu Pek-ih, teringat olehnya siapa orang ini, dengan suara terputus ia melangkah maju dan menyapa, "Ah, bukankah engkau ini Siausute Ciok Ling?"

Ia pegang pundak Ciok Ling dengan erat, meski kelihatan kurus dan tua, tapi raut wajah Ciok Ling dan sinar matanya yang terang masih sangat dikenal oleh Cu Pek-ih.

Merasa tidak bisa menghindar lagi, Ciok Ling menghela napas, katanya, "Suheng, kiranya engkau masih kenal Siaute."

Selama belasan tahun ini dia patah semangat dan putus asa, selalu menghindari bertemu dengan para saudara seperguruan dari Bu-tong-pai, ia tidak ingin keadaannya yang nelangsa dilihat oleh mereka.

Pek-ih memegang erat Ciok Ling dan berkata, "Ah, masa aku tidak kenal padamu. Selama ini  justru selalu ingin kucari dirimu untuk memberi pengajaran sepantasnya " sampai disini 

suaranya menjadi tersendat.

Hati Ciok Ling juga terharu, darah serasa bergolak, ucapnya dengan menunduk, "Mohon Suheng memberi petunjuk."

"Sejak tujuh belas tahun yang lalu mengapa selalu engkau menghindari kami dan tidak pernah pulang kegunung sama sekali, apakah karena ada sesuatu kesalahan kami terhadapmu atau engkau yang merasa bersalah kepada kami?"

Dengan sedih Ciok Ling menjawab. "Siaute merasa bersalah kepada diri sendiri dan berdosa terhadap perguruan, sebab. sebab selama ini Siaute hanya luntang-lantung didunia 

Kangouw tanpa menghasilkan sesuatu, sungguh Siaute malu untuk bertemu kembali dengan para Suheng, kini hati Siaute sudah beku dan "

"Hatimu beku?" bentak Cu Pek-ih mendadak, "Mengapa hatimu beku? Usiamu masih muda, hari depanmu masih panjang dan gemilang, mengapa kau patah semangat dan masa bodoh, apakah caramu ini tidak berdosa terhadap orang tua, terhadap perguruan?"

Ciok Ling menunduk dan menghela napas tanpa bicara.

Kedukaan dan kehancuran hatinya sungguh sukar baginya untuk dipaparkan kepada orang lain. Sudah sepuluh tahun ini dia hidup merana sejak gadis yang dicintainya meninggalkan dia, baginya hidup ini menjadi tidak ada artinya lagi.

Dengan suara lantang Cu Pek-ih berkata pula, "Sekalipun hatimu mengalami pukulan, tidak layak lantas melupakan segalanya, tidak boleh kau lupakan saudara seperguruanmu yang pernah berkumpul dan belajar bersama sekian lama, terlebih tidak pantas kau lupakan budi kebaikan perguruan yang telah memupukmu,"

"Tapi Siaute. "

"Jangan bicara lagi, singkatnya mulai sekarang kau harus bangkit kembali, harus memperbaharui hidupmu, supaya dunia tahu bahwa Ciok Ling bukanlah pemuda yang rela tenggelam dalam kehidupan yang tak berarti."

Ciok Ling masih tetap menunduk.

Dengan gusar Cu Pek-ih menambahkan, "Sebenarnya dalam hal apa engkau lebih rendah daripada orang lain, mengapa kau rela dipandang hina orang? Asalkan engkau berdiri tegak dan membusungkan dada, siapa pula yang takkan menghormati orang yang bernama Ciok Ling?"

Hati Ciok Ling mulai tergerak, darah terasa mendidih, mulai tumbuh daya hidupnya. Mendadak ia berbangkit dan berseru lantang, "Teguran Suheng memang benar, mulai saat ini Siaute  menurut pada nasihat Suheng dan akan menjadi manusia baru."

Hao-san-gin-ho yang sejak tadi diam saja mendadak juga berbangkit dan berseru, "Jika ada orang yang ingin kuajak menjadi sahabatku, orang pertama adalah Ciok-heng!"

Ciok Ling tertawa cerah dan memegang tangan Gin-ho dengan erat, serunya, "Hoa-san-gin-ho, sungguh sudah lama kukagum padamu."

Toanbok Hong-cing juga berseru dengan tertawa, "Haha, bagus, inilah peristiwa yang paling menyenangkan selama aku berkelana sekian tahun. "

"Cuma sayang disini tidak ada arak, kalau tidak tentu aku akan minum sampai mabuk," seru Cu Pek-ih.

"Disini tidak ada arak, memangnya ditempat lain juga tidak ada." kata Toanbok Hong-cing. "Ayo berangkat!"

Meski hujan diluar sudah agak mereda, tapi masih gerimis.

"Kedatangan kita ini adalah untuk berteduh karena kehujanan, masa sekarang akan berangkat begini saja?" ujar Cu Pek-ih.

"Menerobos hujan golok dan pedang saja tidak gentar, masakah takut kehujanan?" seru Toanbok Hong-cing.

Keempat orang lantas bergelak tertawa. Segera terdengar ringkik kuda yang ramai, akhirnya derapan kaki kuda pun lenyap dan suasana kembali dalam kesunyian.

Thi Peng berempat yang bersembunyi ditempat gelap baru merasa lega, setelah ditunggu lagi sekian lama, kemudian barulah mereka melompat keluar.

"Wah, jika mereka tidak segera pergi, sungguh aku bisa mati sesak napas," kata Pang Kin.

"Jika tidak ada Hoa-san-gin-ho, tentu sejak tadi kukeluar untuk menemui mereka." ujar Thi Peng.

Luka Utti Bun tidak terlalu parah, setelah istirahat sekian lama, keadaannya sudah tambah baik dan sudah dapat berjalan.

Dengan tersenyum ia pun berkata, "Meski Hoa-san-gin-ho ada permusuhan dengan Siu- siansing, tapi dia pasti bukan orang yang suka membocorkan rahasia orang lain. Justru kukuatir mereka memergoki kita dan timbul salah paham."

Auyang Bing memandang patung yang menjadi kunci lubang masuk tadi dan berkata, "Selang sekian lama, mungkin hwesio itu segera akan keluar." "Ya, kita juga harus membereskan jenazah Cia-jiko, tempat ini juga bukan tempat bicara yang baik, marilah kita pergi saja." ujar Thi Peng.

Tanpa bicara lagi mereka lantas membawa mayat Cia Tong-hong dan berangkat dibawah hujan.

Suasana rumah berhala ini segera kembali sunyi senyap.

Dalam pada itu subuh pun tiba, di-ufuk timur sudah mulai remang-remang, samar-samar patung sudah mulai kelihatan. Bilamana patung-patung ini makhluk hidup, setelah menyaksikan suka- duka soal budi dan dendam serta percakapan orang-orang tadi dengan rahasianya, entah bagaimana pula dia akan berpikir.

Tiba-tiba ditengah suara gemercik hujan, ruang rumah berhala ini bergema lagi suara orang menghela napas.

Hah, jangan-jangan patung itu benar-benar hidup dan lagi menyesali manusia dengan beraneka ragam persoalannya didunia ini.

Dibawah remang fajar, pada tempat pemujaan sebelah sana, suara oang menghela napas itu bergema dari balik tabir rumah patung sana.

Anehnya mendadak sebuah patung diantaranya lantas bergerak pelahan, mendadak patung itu melompat keluar dan hinggap ditengah ruangan.

Terlihat patung ini berjubah Tosu, mukanya sangat jelek, sorot matanya mencorong terang seperti dapat menembus segala keburukan dan kejahatan yang terjadi pada kehidupan manusia ini.

Dia memandang sekejap sekeliling ruangan, mendadak melompat kembali kerumah patung dan berkata, "Sudah pergi semua!"

Dari dalam rumah patung lantas bergema suara orang yang mendongkol, "Hm, tentu saja sudah pergi semua."

Rupanya patung itu juga bukan patung benaran melainkan manusia hidup.

Tapi siapakah dia? Setelah mendengar rahasia sebanyak ini dan melihat macam-macam sengketa yang ruwet itu, apa yang akan dilakukannya.

Jika dia sekutu Mao Kau, maka rencana rahasia Thi Peng dan kawan-kawannya bukankah akan gagal total? Bahkan jiwa mereka pun terancam bahaya, Mana Leng-coa Mao Kau dapat mengampuni mereka. Sebaliknya bila kedua orang ini sahabat Siu Su, setelah mendengar perundingan rahasia komplotan Thi Peng tadi, mengapa mereka tidak keluar untuk bergabung melainkan cuma mencuri dengar saja secara diam-diam.

Bila mereka teman Siu Su, seharusnya mereka keluar untuk menemui Toanbok Hong-cing dan Ciok Ling serta memberitahukan kepada mereka bahwa rumah berhala inilah tempat sembunyi rahasia Mao kau.

Namun semua itu tidak dilakukan oleh mereka, sungguh sukar untuk dimengerti, siapakah mereka?

Angin pagi tambah dingin, sebaliknya hujan mulai reda.

Dari rumah patung rahasia itu kemudian melompat turun dua orang, tangan kanan seorang memegang pergelangan tangan temannya, perawakan orang kedua ini lebih tinggi, tapi gerak- geriknya lebih lamban.

Dia menengadah dan menarik napas panjang lalu berkata dengan gemas, "Mengapa kau tutuk diriku, padahal mana ada maksudku untuk melarikan diri? Jika kau tetap siksa diriku cara begini, rasanya lebih baik aku bunuh diri saja."

Yang lebih pendek itu mendengus, "Hm, jika tidak kututuk dirimu hingga tak bisa berkutik, ketika melihat Ciok Ling tentu engkau sudah berteriak minta tolong. Pendek kata, sebelum menemukan adik Ki tidak dapat kubebaskan dirimu."

Tidak perlu diterangkan lagi kedua orang ini jelas ialah Siu Su dan Buyung Siok-sing.

Tempo hari, karena salah langkah, Siu Su telah kena dikibuli Buyung Siok-sing dan tertawan, sebegitu jauh dia belum berhasil meloloskan diri, sebab pada hakikatnya satu langkah pun Buyung Siok-sing tidak pernah meninggalkan dia tanpa menghiraukan pantangan antara lelaki dan perempuan yang dilarang berdekatan.

= Apakah Siu su dan Buyung Siok-sing akan menerjang ketempat sembunyi Mao Kau untuk membekuknya?

= Cara bagaimana akan terselesaikan berbagai permusuhan antar kelompok dengan macam2 persoalan 

 yang ruwet itu?