Tujuh Pedang Tiga Ruyung Jilid 16

Jilid 16

Benar juga, Siu Su juga yakin Buyung Siok-sing pasti tidak mau pergi lebih dulu, disangkanya yang kabur itu ialah Toanbok Hong-cing, kalau Buyung Siok-sing masih tinggal disini, ia pikir untuk apa kudiam juga disini?

Karena pikiran itu, serentak ia pun mengejar kesana.

Maka yang tertinggal disitu sekarang hanya Toanbok Hong-cing dan Ciok Ling berdua saja. Karena mereka juga tidak mau bersuara, dengan sendirinya mereka tidak tahu siapa pihak lain.

Pikir Ciok Ling, Buyung Siok-sing tidak mungkin kabur lebih dulu, yang pergi itu tentu Toanbok Hong-cing, dia bermaksud memancing pergi Buyung Siok-sing, siapa tahu Buyung Siok-sing justru sengaja tinggal disini sampai semuanya pergi lebih dulu."

Sebaliknya Toanbok Hong-cing juga lagi berpikir sama, disangkanya Ciok Ling yang pergi dulu dan disusul oleh Siu Su. Meski mereka bertiga terhitung orang cerdik, tapi mereka tetap tidak dapat menyelami perasaan kaum wanita yang jelimet, dan sekali salah duga, semuanya menjadi kacau balau!

Jadi baik Toanbok Hong-cing maupun Ciok Ling sama mengira pihak lain adalah Buyung Siok- sing.

Tadi Toanbok Hong-cing mendengar pujian Mao Bun-ki terhadap sang Suci, sudah timbul maksudnya akan menguji kehebatan kungfu Buyung Siok-sing, sekarang tanpa ragu lagi ia lantas mendahului menyerang.

Ciok Ling juga berpikir setelah Siu Su pergi, biarlah kutahan Buyung Siok-sing disini. Maka ia menangkis serangan lawan dan balas menyerang.

Kedua orang sama tidak menggunakan kungfu perguruan sendiri melainkan saling labrak dengan bungkam, setelah belasan jurus, mendadak Ciok Ling menubruk maju, secara beruntun tangan yang satu menjotos muka lawan, menyusul kepalan yang lain terus menghantam dada,

Inilah serangan berantai Bu-tong-pai yang lihai. Akhirnya tanpa terasa Ciok Ling mengeluarkan juga kungfu perguruan sendiri.

Dengan sendirinya Toanbok Hong-cing kenal kungfu orang , cepat ia melompat mundur sambil berteriak, "Ciok Ling?"

Tentu saja Ciok Ling juga kaget dan menahan daya pukulannya, serunya dengan sangsi, "Eng. . 

. engkau Toanbok-heng?!"

Toanbok Hong-cing mengentak kaki dan menggurutu, "Wah celaka! Kita salah sangka semua!"

Cepat Ciok Ling melompat keatas pagar tembok, namun suasana malam sunyi senyap, bayangan Siu Su dan Buyung Siok-sing sudah tidak kelihatan lagi.

"Wah, bilamana Siu Su menyangka Buyung Siok-sing yang ikut pergi bersama dia itu ialah salah seorang diantara kita, akibatnya sungguh sukar dibayangkan," gumam Ciok Ling.

"Kejar!" seru Toanbok Hong-cing.

"Mungkin tidak dapat menyusulnya lagi," Ciok Ling menggeleng. "Tidak dapat menyusulnya juga harus dicoba." seru Hong-cing. Segera mereka memburu ke jurusan sana. . . . . .

.                                          === ooo OO ooo ===

Sementara itu, dalam waktu singkat saja Siu Su sudah dapat menyusul bayangan orang  didepan, ia yakin yang disusulnya pasti Toanbok Hong-cing, maka ia lantas berseru, "Tunggu sebentar, Toanbok-heng!"

Tentu saja Buyung Siok-sing bergirang demi mengenali suara Siu Su, namun dia tidak memperlihatkan sesuatu tanda dan berhenti.

Begitu sampai didepan orang, dengan tertawa Siu Su berkata pula, "Untung tadi cuma ada empat mayat hidup, kalau tidak, bisa tambah membingungkan orang. Toanbok-heng, Buyung Siok-sing itu sungguh perempuan luar biasa, hanya sayang berwajah buruk, kalau tidak tentu jadilah dia nona serba lengkap dan sukar dicari bandingannya."

Sama sekali tak terpikir olehnya bahwa orang yang jalan berendeng dengan dia justru adalah Buyung Siok-sing yang "berwajah buruk".

Sembari bicara mereka berlari lagi sekian jauhnya kedepan. Mendadak Buyung Siok-sing memutar kesamping.

Selagi Siu Su hendak tanya apa kehendak orang, mendadak pergelangan tangan sendiri telah kena dicengkeram. Sama sekali tak terpikir olehnya gerak memutar Buyung Siok-sing itu hanya untuk membelokkan perhatian Siu Su dan ternyata anak muda itu dapat ditipunya.

Keruan Siu Su kaget, "Hei, siapa kau?"

Dengan mencengkeram urat nadi pergelangan tangan Siu Su, cepat Buyung Siok-sing menambahi lagi tutukan pada Kik-ti-hiat di bagian kedua lengannya sehingga tangan Siu Su tidak dapat bergerak lagi, tapi kaki tetap dapat berjalan.

Sembari tetap berlari dan tetap menarik tangan Siu Su, Buyung Siok-sing lantas menjengek, "Hm, kau tanya siapa aku? Inilah Buyung Siok-sing yang berwajah buruk!"

Seketika Siu Su melenggong dan tidak sanggup bicara lagi. Tapi apa daya, kedua lengan terasa kaku, tanpa kuasa ia ikut lari terseret.

Tentu saja ia gugup, cemas dan juga menyesal, sejenak kemudian ia coba berkata, "Nona Buyung, kau tahu antara lelaki dan perempuan ada pembatasannya, caramu memegang tanganku ini bukankah kurang sopan?"

"Hm, jika kau ingin kulepaskan tanganmu, boleh juga kututuk hiat-to pingsanmu, boleh kau pilih."

Siu Su terkesiap, saat ini dia masih ada harapan dapat membebaskan diri, jika tertutuk pingsan, nasibnya tentu celaka. Terpaksa ia diam saja.

"Betapapun aku juga tidak dapat memanggul dirimu, maka kakimu harus lebih giat sedikit," ujar Buyung Siok-sing. Siu Su menyesali dirinya yang ceroboh sehingga tertipu seorang perempuan.

Selang sejenak, kembali ia bertanya lagi, "Nona Buyung, sesungguhnya hendak kau bawaku kemana? Ketempat gurumu atau mencari nona Mao?"

"Kau tahu Sumoaiku berada dimana?"

Tergerak hati Siu Su, jawabnya, "Meski sekarang tidak kuketahui, tapi bila kucari pasti dapat kutemukan dia."

Ia pikir Toh dirinya memang ingin mencari Mao Kau, maka sekalian dapat mencari Mao Bun-ki, tentu Buyung Siok-sing tak dapat menutuk pingsan padanya, sepanjang jalan juga tidak mungkin selalu menggandeng tangannya, asalkan pegangannya mengendur sedikit, segera ada kesempatan baginya untuk meloloskan diri.

"Baik, kupercaya kepadamu, lekas kita mencari Sumoaiku." kata Buyung Siok-sing. "Tapi awas, jika kau sengaja main gila, nanti biar kau tahu betapa wajahku yang jelek ini tidak lebih jahat daripada tanganku."

Diam-diam Siu Su membatin, "Sungguh konyol. Tanpa sengaja aku mengatakan mukanya buruk, selama hidupku ini pasti akan dibencinya habis2an. Tampaknya sebelum dapat kulepaskan diri sedikit banyak pasti akan tersiksa olehnya."

Belum habis ia berpikir, terdengar Buyung Siok-sing mendengus lagi, "Awas, jangan sekali-kali berusaha melarikan diri. Dengan susah payah baru dapat kutawan dirimu, mana dapat kulepaskanmu begitu saja. Waktu tidur akan kututuk hiat-to tidurmu, dalam keadaan sadar akan kucengkeram urat nadimu, bila berani main gila bisa kupotong sebelah kakimu, lalu kubuatkan kaki palsu bagimu. Toh aku ini perempuan buruk, apa pun dapat kulakukan, aku juga tidak pantang pembatasan antara lelaki dan perempuan segala."

"Wah, celaka. " kembali Siu Su mengeluh.

"Ayo, kejurusan mana? Lekas jalan!" bentak Buyung Siok-sing.

Siu Su memandang kegelapan malam sana, dimana Mao Kau berada mana dia tahu? Apa daya? Terpaksa pasrah nasib dan melangkah maju ke depan.

.                                             === oo OOOOO oo ===

Sejak pertemuan besar para kesatria yang berakhir dengan menghebohkan itu, dunia persilatan daerah Kanglam menjadi lebih sepi daripada biasanya.

Namun diam-diam orang Bu-lim juga merasa heran, sebab para peran pokok dalam pertemuan besar itu kemudian lantas tidak diketahui jejaknya. Bukan cuma Mao Kau saja yang tiada kabar  beritanya, sampai Ong It-peng, Cu Pek-ih, Hoa-san-gin-ho dan sebagainya juga tidak siketahui kemana perginya. Lebih-lebih "Siu-kongcu" yang misterius itu, bayangannya saja tidak kelihatan.

Tapi didunia Kangouw lantas tersiar pula semacam berita. Katanya Leng-coa Mao Kau tidak rela sarangnya diobrak-abrik orang, diam-diam ia sedang memupuk kekuatan untuk bangkit kembali, bahkan pengaruhnya terlebih besar dan lebih misterius daripada dulu. . . . .

Walaupun desas-desus itu sangat santer, namun jejak Leng-coa Mao Kau tetap tak diketahui.

Menjelang musim panas, gumpalan awan memenuhi langit, malam tambah gelap, terkadang berkumandang gemuruh guntur melempen, angin meniup membawa hawa kelembaban, suatu tanda hujan badai selekasnya akan turun.

Ditengah antara kota Tanyang dan Tinkang, disawah ladang tepi jalan raya berdiri sebuah Suteng atau rumah pemujaan leluhur yang sudah bobrok, dalam kegelapan malam rumah berhala ini serupa seekor binatang raksasa yang mendekam di tengah ladang.

Bunyi serangga bagai paduan suara ditengah deru angin dan berkelebatnya cahaya kilat, tiba- tiba dari kejauhan muncul lima sosok bayangan melintasi sawah ladang dan menuju kerumah berhala itu dengan cepat.

Setiba di depan rumah berhala itu, dengan cerdik orang-orang itu mengawasi sekitarnya, setelah pasti tiada sesuatu tanda mencurigakan, barulah mereka menyelinap kedalam suteng yang daun pintunya sudah rusak sebelah itu.

Di halaman dalam rumput alang-alang hampir memenuhi halaman, ruangan tengah cukup megah, tapi juga sudah bobrok, cat merah sama terkupas, daun jendela juga terlepas, undak2an batu juga tumbuh rumput liar sehingga semakin menambah keseraman suteng yang tak terawat ini.

Dua orang yang berjalan didepan menaiki undak2an batu dan mendorong pintu ruang tengah dengan pelahan, terdengar suara keriut, daun pintu terpentang dengan mudah, segera debu berhamburan dari atas.

Cepat orang-orang itu menyurut mundur, setelah debu rontok habis barulah mereka masuk kesitu. Seorang diantaranya merapatkan lagi daun pintu dan kembali menimbulkan rontoknya debu.

Sekonyong-konyong cahaya api berkelebat, obor telah dinyalakan.

Di bawah cahaya api kelihatan galagasi memenuhi ruangan, debu bertimbun di-mana2, kecuali altar sembahyang yang masih agak utuh, baik patung maupun meja sembahyang sudah sama rusak dan runtuh, jelas tempat ini sudah lama sekali tidak dirawat. Bahkan patung apa yang dipuja disini sudah tidak dikenal lagi. Orang yang menyalakan obor itu adalah seorang pemuda jangkung berbaju ringkas, baru saja dia tersenyum, segera ia menggerakkan kepalanya memberi isyarat kepada temannya.

Teman yang diberi isyarat juga seorang pemuda cakap berdandan ringkas, segera ia melompat keatas altar, dengan hati-hati sekali ia gunakan dua jari untuk memegang pundak salah sebuah patung, diam-diam ia mengerahkan tenaga untuk memutarkan. Maka terdengarlah suara "keriat-keriut".

Sejenak kemudian, dibawah altar lantas muncul sebuah lubang sebesar dua-tiga kaki bulatan tengahnya.

Pemuda jangkung tadi memberi tanda kepada tiga orang temannya yang lain sambil mendesis, "Ikut kemari!"

Dengan membawa obor segera ia mendahului melompat kedalam lubang.

Ketiga orang itu, yang satu lelaki bermuka hitam dan bercambang, seorang lagi setengah baya bermuka putih dan berjenggot jarang, orang ketiga adalah lelaki pendek kecil tapi kelihatan tangkas.

Mereka saling pandang sekejap, tanpa bersuara mereka lantas ikut melompat kedalam lubang itu dengan wajah prihatin, hal ini menandakan hati mereka agak tegang.

Si pemuda cakap cepat menarik jarinya yang memutar patung, lalu menyelinap juga kedalam lubang dan patung itu segera bergeser kembali kepada posisi semula, segera juga lubang dibawah altar lantas merapat kembali.

Setiba didalam lubang bawah tanah, ia mengangguk pelahan terhadap si pemuda jangkung sebagai tanda semuanya sudah beres.

Pemuda jangkung juga mengangguk sebagai tanda tahu, lalu melangkah kedepan.

Di bawah cahaya obor kelima orang terus menyusuri sebuah lorong sempit, tercium bau apek lembab yang menusuk hidung, suasana seram.

Kedua pemuda yang berjalan di depan seperti cukup apal terhadap lorong bawah tanah ini, mereka tidak pernah berhenti. Setelah membelok dua-tiga kali, se-konyong2 angin dingin menyambar tiba dan api obor mendadak padam.

Suasana menjadi gelap gulita, seram seperti di neraka.

Dalam kegelapan mendadak berkumandang orang membentak dengan suara tertahan, "Sun- lui-keng-cit (guntur musim semi mengejutkan ular)!" Segera kedua pemuda yang berjalan didepan menjawab, "Leng-kau-ting-siau (naga sakti naik ke langit)

Dalam kegelapan seorang mendengus, cepat pemuda jangkung itu memberi hormat, "Tecu Thi Peng dan Auyang Bing telah mengundang datang Wi-im-sam-kiat dan mohon berjumpa dengan Insu (guru berbudi)."

Kiranya kedua pemuda ini adalah murid Mao Kau, yaitu dua murid utama kesepuluh Ciok-kut- sucia, Toat-beng-sucia (duta perengut nyawa) Thi Peng dan Gin-to-sucia (duta golok perak) Auyang Bing."

Selesai mereka bicara, lorong bawah tanah itu mendadak terang benderang suara orang tadi lantas berkumandang lagi dari balik tabir yang terpasang disebelah kiri lorong. 

"Masuk!"

Dengan hormat Thi Peng dan Auyang Bing mengiakan, mereka membawa Wi-im-sam-kiat atau tiga jagoan dari Wi-im, masuk kebalik tabir sana. 

Di dalam adalah sebuah ruang rahasia seluas empat meter persegi, sebuah meja sembahyang terletak ditengah dengan dua batang lilin sebesar lengan anak kecil, dibawah cahaya lilin yang cukup terang tertampak diatas meja sembahyang tertaruh sebuah tempayan tembaga, didepan meja sembahyang ada sebuah kursi berlapis kulit harimau, disitulah berduduk seorang tua jangkung dengan tulang pipi menonjol, mata besar dan hidung seperti paruh elang.

Dia inilah Leng-coa Mao Kau, si ular sakti yang baru saja mengalami musibah, rumah hancur, usaha bangkrut, para mengikut sama meninggalkannya pula, lalu sudah sekian lama ia sendiri pun menghilang.

Mao Kau sekarang kelihatan lesu, agak kurus, kerut mukanya tambah nyata, lagak kereng masa lalu sudah lenyap, hanya sorot matanya yang tajam itu belum lagi berkurang. Ia pandang Wi-im-sam-kiat dengan tajam tanpa berkedip.

Thi Peng dan Auyang Bing melangkah maju dan memberi hormat sambil melapor, "Tecu berdua telah melaksanakan tugas ke utara dan selatan sungai besar (Tiangkang) untuk menghimpun para pahlawan, kini mendapatkan kesanggupan Wi-im-sam-kiat yang mau membantu, maka Tecu khusus mengantarnya kemari untuk menemui Insu."

Habis melapor, Thi Peng berdua lantas berbangkit dan melangkah mundur serta memperkenalkan Wi-im-sam-kiat satu persatu.

Rupanya lelaki bermuka hitam dan bercambang itu adalah kepala Wi-im-sam-kiat, Thi-ciang Utti Bun, si telapak besi sakti. Lelaki setengah baya bermuka putih adalah jago kedua Ciok-bin-

boan-koan Tong-hong, si hakim bermuka kemala, dan lelaki pendek kecil tapi tangkas itu adalah Pang Kin berjuluk Lui-tian-kiam, si pedang guntur dan kilat. Ketiga orang sama mempunyai  kungfu yang khas, mereka terkenal sebagai tokoh hartawan disekitar daratan dan perairan Wiyang.

Selama ini Mao Kau belum kenal ketiga tokoh ini, cuma nama Wi-im-sam-kiat sudah sering didengarnya sebelum ini, walaupun belum diketahui dengan jelas berapa bobot ketiga orang tamu ini, namun orang bermaksud baik hendak membantunya, dengan tersenyum ia lantas membungkuk tubuh sebagai tanda hormat dan menyapa, 

"Kalian bertiga ingin membantu, dengan sendirinya kuterima dengan senang hati. Cuma urusan ini bukan tugas ringan, malahan sangat berbahaya, untuk ini hendaknya ketiga saudara menimbang secara masak."

Sebagai kepala ketiga jago Wiyang itu. Utti Bun lantas menjawab, "Nama kebesaran Mao-toako sudah lama tersiar luas, bahwa hari ini kami dapat sekedar mengabdikan diri sungguh suatu kehormatan bagi kami. Maka apapun yang harus kami laksanakan tidak nanti kami tolak."

Terkilas senyuman puas pada sorot mata Mao Kau, ia mengucapkan terima kasih, lalu dikeluarkannya tiga bentuk mainan kecil yang indah dan diberikan kepada ketiga orang itu, katanya, "Sedikit tanda mata ini sekedar tanda hormat dariku, bilamana kelak berhasil memulihkan kejayaan masa lalu, tentu Mao kau akan memberi tanda terima kasih yang pantas."

Wi-im-sam-kiat saling pandang sekejap, lalu menerima hadiah itu dan mengucapkan terima kasih.

Habis itu mendadak Mao kau bicara lagi dengan serius, "Bahwa terpaksa orang she Mao mengasingkan diri disini untuk memupuk kekuatan, sebelum pekerjaan dimulai, segala sesuatu harus dirahasiakan. Untuk ini kukira kalian bertiga dapat memaklumi kesukaranku, sebab itulah. 

. . ." sampai disini Mao kau berdehem dan melirik sekejap tempayan yang terletak diatas meja dan tidak meneruskan ucapannya.

Wi-im-sam-kiat saling pandang sekejap, Lalu Utti Bun berkata dengan suara lantang, "Apa pun juga kami patuh kepada perintah Toako."

Begitu dia berucap demikian, Gin-to-sucia Auyang Bing yang berdiri disamping segera melolos sebilah golok perak yang berkemilau dan diserahkan kepada Utti Bun.

Dengan khidmat Utti Bun menerima golok perak itu, bersama Cia Tong-hong dan Pang Kin mereka lantas maju kedepan meja sembayang, sekilas mereka melirik tempayan tembaga itu, terlihat isinya adalah arak darah, didalam tempayan terdapat berpuluh potong ujung jari kecil.

Berubah juga air muka mereka bertiga, Utti Bun memandang sekejap wajah Mao kau yang dingin itu, akhirnya dia mengertak gigi dan angkat golok perek lalu "sret", jari kecil tangan kiri sendiri dipotongnya hinga putus dan jatuh kedalam tempayan.

Ber-turut2 Cia Tong-hong dan Pang Kin bergiliran menerima golok perak itu dan masing-masing  juga memotong ujung jari kelingking sendiri. Muka mereka sama berubah pucat. Sebaliknya arak darah dalam tempayan bertambah kental.

Auyang Bing lantas mengambil cangkir, dengan khidmat ia menceduk tiga cangkir arak darah, lalu disodorkan kepad Wi-im-sam-kiat.

Setelah menerima ketiga cangkir arak darah, Wi-im-sam-kiat menyurut mundur kehadapan Mao Kau, lalu berlutut berjajar, dengan khidmat mereka bersumpah, "Kami, Utti Bun, Cia Tong-hong dan Pang Kin, selanjutnya berjanji akan setia bekerja dibawah perintah Mao-toako dan pasti takkan membocorkan segala sesuatu yang kami ketahui disini, bilamana melanggar sumpah ini, biarlah kami binasa serupa jari ini."

Berbareng mereka lantas menenggak arak darah masing-masing. 

Air muka Mao Kau berubah cerah, ucapnya, "Silakan kalian bangun, mulai sekarang kalian adalah saudaraku sehidup semati, ada rejeki dirasakan bersama, ada kesukaran ditanggung bersama, bila aku. "

Belum habis ucapannya, se-konyong2 terdengar suara seorang berteriak dan berkumandang dari lorong sana, "Dimana beradanya Mao-tayhiap?"

Air muka Mao Kau berubah seketika, sorot matanya yang tajam menatap Thi Peng, Auyang Bing dan Wi-im-sam-kiat, tanyanya, "Apakah waktu kalian masuk kesini telah diketahui orang?"

Cepat Thi Peng melapor, "Jejak Tecu berlima waktu datang kemari sangat dirahasiakan, sebelumnya juga sudah kami periksa sekitar sini dan tidak terlihat bayangan seorang pun, dari suara pendatang ini nadanya seperti belum. "

Belum habis perkataannya, terdengarlah suara langkah orang dari lorong sempit itu.

Air muka Mao Kau berubah pula, sekali mengayun tangan lilin dipadamkannya, namun dia tetap duduk tenang ditempatnya, sorot matanya yang tajam menatap tabir yang menutupi pintu tembus kelorong itu dan siap tempur.

Thi Peng berlima serentak juga menyebar dan siap diberbagai pojok. Terdengar suara langkah orang semakin dekat, agaknya tidak cuma satu orang saja.

Pelahan Mao Kau berbangkit dan siap melancarkan serangan. Didengarnya suara kaki mendadak berhenti dibalik tabir, lalu suara lantang seorang bertanya, "Mao-tayhiap. "

Suaranya berat, tapi jelas, menggetar anak telinga.

Mao Kau menggeser kesamping tabir, telapak tangan siap dibelakang tabis, lalu menjawab dengan suara pelahan, Siapa?" Suara dibalik tabir menjawab, "Kong-yu dari Kun-lun mohon bertemu!"

Kembali suaranya menggetar anak telinga dan se-olah2 tersiar dari berbagai penjuru dan membuat Mao Kau ragu harus menyerang kearah mana.

Setelah berpikir, cepat Mao Kau melayang mundur, lilin dinyalakan pula, lalu duduk tenang lagi dikursinya, kemudian dia memberi tanda dan berkata, "Singkap tabir, silakan tamu masuk!"

Serentak Thi Peng dan Auyang Bing memburu kesamping tabir dengan belati terhunus. Sekali sinar pisau berkelebat, dengan ujung belati mereka mengangkat kain tabir.

Di bawah cahaya lilin tertampaklah didepan pintu berdiri seorang paderi tinggi besar, berkasa warna kelabu dengan tangan memegang tasbih.

Seorang lagi berbaju pendek dan berikat kepala hijau, memakai sepatu rumput, seorang lelaki setengah umur yang berdandan sebagai petani berdiri disamping si paderi, sorot matanya tajam kemilau lagi menatap Mao Kau.

Dengan pelahan Mao Kau berkata, "Aku inilah Mao Kau, ada keperluan apa kalian berkunjung kemari?"

Hwesio tinggi besar itu melirik kedua belati Thi Peng dan Auyang Bing yang melintang didepan pintu itu, ucapnya, "Dari jauh aku berkunjung kemari, apakah cara begini biasanya Mao-tayhiap menerima tamu?"

Mao Kau mendengus, "Caraku menerima tamu biasanya juga melihat apa maksud kedatangan kalian."

Hwesio yang mengaku bergelar Kong-yu itu bergelak tertawa, ucapnya, "Jika ada maksud jahatku, sebelum datang kemari rasanya perlu kudatangi dulu putra orang she Siu itu, Betul tidak, Mao-sicu?"

Serentak Mao Kau berbangkit dan menegur, "Sesungguhnya siapa kau dan mau apa?"

"Orang beragama sudah melupakan asal-usulnya, kedatanganku kesini memang ada sesuatu keperluan." ujar Kong-yu dengan tertawa.

"Urusan apa?" tanya Mao kau.

"Selama hidupku ini tidak dapat berdiri berdampingan dengan putra Siu Tok itu!" kata Kong-yu.

Sejenak Mao Kau melengak, setelah menatap tajam si hwesio sekejap, mendadak ia tertawa dan berseru, "Silakan masuk!"

Serentak Thi Peng dan Auyang Bing menarik kembali senjatanya. Kong-yu Hwesio dan lelaki petani itu lantas melangkah masuk.

"Mao Kau lagi kepepet dan tidak mempunyai tempat pantas untuk menerima tamu, diharap kalian suka maklum," ujar Mao Kau.

Sesudah berhadapan dengan kedua tamunya, dengan prihatin ia menyambung lagi, "Sesungguhnya tempat sembunyi orang she Mao ini sangat dirahasiakan dan kuyakin sangat sedikit diketahui orang entah cara bagaimana kalian mampu menemukan tempat ini, sungguh aku tidak mengerti."

"Ya, aku memang tidak mempunyai kesaktian mencari tempatmu ini," kata Kong-yu Hwesio. "Tapi, nah ini dia. " ia tuding petani itu dan menyambung. "Tanpa bantuan Liang-sicu ini, 

betapa pun tidak mungkin dapat kutemukan Mao-sicu."

Mao Kau memandang lelaki berdandan petani itu sekejap, serunya dengan tertawa, "Aha, barangkali anda inilah Liang Siang-jin, Liang-tayhiap yang termashur itu?"

Petani itu tersenyum, "Ah, mana berani kuterima sebutan Tayhiap segala. Paling-paling lantaran setiap hari aku bergaul dengan orang dari berbagai lapisan masyarakat sehingga sumber beritaku jauh lebih cepat dan dapat dipercaya."

"Memang sudah lama kudengar pergaulan Liang-tayhiap yang luas, mata-telingamu tersebar di segenap pelosok, apa pun mendengar, setelah bertemu sekarang, terbukti memang tidak bernama kosong. Sungguh harus disesalkan Oh-site belum sempat mengajak Liang-tayhiap kesini untuk diperkenalkan padaku, kalau tidak tentu takkan terjadi salah paham seperti tadi."

Hendaklah maklum, memang sudah lama Mao Kau bermaksud merangkul Liang Siang-jin untuk bekerja sama, maka dia pernah menyuruh Pat-bin-ling-long Oh Ci-hui untuk membujuknya, sekarang dilihatnya Liang Siang-jin datang sendiri, tentu saja ia sangat girang.

Setelah beramah tamah sejenak, lalu, Mao Kau bertanya, "Bahwa sudah sekian lama kuasingkan diri disini, entah ada petunjuk apakah atas kunjungan Taisu berdua secara tiba-tiba ini?"

Kong-yu menyebut nama Buddha, lalu mengeluarkan sebuah sepatu kecil anyaman benang perak dan disodorkan kepada Mao Kau, katanya, "Apakah Mao-sicu kenal pemilik barang ini?"

Mao Kau memandangnya dengan bingung, jawabnya kemudian dengan menggeleng, "Maaf, mungkin mata tua sehingga tidak kukenal lagi barang ini."

Dengan tersenyum Kong-yu menyodorkan sepatu kecil itu kedapan Liang Siang-jin, tanyanya, "Apakah Liang-sicu mengenalnya?"

Wajah Liang Siang-jin tampak khidmat, jawabnya, "Inilah barang tanda pengenal penolongku  yang paling kuhormati, yaitu Ban-biau Siansing Locianpwe, sampai mati pun tetap kukenal benda ini."

Hati Mao kau terkesiap, serunya, "Ban-biau Siansing?"

Kong-yu mengerling dengan tersenyum, katanya, "Bilamana putri anda berada disini, tentu dia juga kenal asal-usul barang ini."

Mao Kau merasa heran, "Ban-biau Siansing suka berkelana menjelajahi jagat, beliau serupa naga sakti yang cuma terlihat ekornya dan tak tertampak kepalanya, hanya sekilas muncul lantas hilang lagi. Selama dua puluh tahun ini juga cuma muncul beberapa kali saja didepan umum, dari mana putriku bisa mengenalnya? Ah, mungkin Taisu salah sangka "

Belum habis ucapannya, se-konyong2 tabir pintu disebelah kanan sana tersingkap, sesosok bayangan ramping melayang keluar, siapa lagi dia kalau bukan Mao Bun-ki.

Pakaiannya sekarang sudah berganti putih mulus, rambutnya tampak kusut, kelihatan kurus dan pucat, hanya kedua matanya kelihatan tambah besar. Ia memandang sekejap sepatu perak yang dipegang Kong-yu Taisu, lalu berkata pelahan, "Memang betul, kukenal barang tanda pengenal ini."

Dia bicara dengan kaku tanpa emosi, seperti sudah kehilangan gairah hidup. Tentu saja Mao kau tambah heran, "dari mana kau kenal barang ini?"

"Tentu saja anak kenal, sebab sepatu perak mini ini adalah milik guruku," tutur Bun-ki.

Wi-im-sam-kiat memandang si nona, terpesona kepada kecantikannya sehingga apa yang diucapkannya tidak diperhatikan oleh mereka.

Namun keterangan Bun-ki telah mengejutkan Mao Kau, Liang Siang-jin dan lain-lain.

Dengan heran Liang Siang-jin berseru, "Tak tersangka nona Mao adalah murid Ban-biau Siansing. "

"Siapa itu Ban-biau Siansing? Siapa yang mengenalnya?" tukas Bun-ki dengan ketus. Liang Siang-jin jadi melongo, dengan pandangan heran ia tanya Kong-yu Taisu.

Kong-yu tertawa, tuturnya, "Pantas juga bila kalian sama heran oleh urusan ini, sebab kejadian ini sendiri memang peristiwa yang aneh dan mengejutkan, Bahkan nona Mao kenal sepatu mini ini sebagai milik To liong-siancu, sebaliknya Liang-sicu cuma tahu barang ini adalah tanda pengenal pribadi Ban-biau Siansing, seluk-beluk urusan ini hanya aku saja yang tahu sedikit."

"Mohon Taisu memberi penjelasan." kata Mao Kau. "Orang Kangouw sama tahu ilmu silat To-liong-siancu maha tinggi dan sukar diukur, bahkan kepandaiannya merias muka cukup menandingi Seng-jiu Siansing jaman dulu yang terkenal ahli menyamar."

"Ya, hal ini memang cukup diketahui setiap orang Kangouw kawakan, entah ada sangkut-paut apa antara dia dan Ban-biau Siansing?" tanya Mao Kau.

Kong-yu terbahak, "Soalnya justru To-liong-siancu adalah Ban-biau Siansing, dan Ban-biau Siansing sama dengan To liong-siancu."

Semua orang sama melenggong.

Pelahan Kong-yu menyambung pula, "Dahulu, setelah To-liong-siancu mengasingkan diri dan menyimpan golok jagalnya, meski maksudnya ingin tirakat dan menyesali perbuatannya, namun dia tetap merasakan banyak kejadian didunia Kangouw yang tidak adil". 

"Sebab itulah dia lantas menyaru sebagai lelaki dan memakai nama Ban-biau Siansing untuk menjelajahi Kangouw lagi?" tukas Mao Kau.

"Tepat, Mao-sicu sungguh seorang yang cerdik," ujar Kong-yu dengan tertawa.

"Pantas tingkah-laku Ban-biau Siansing sedemikian misterius, mendadak muncul, tahu-tahu menghilang pula, entah datang dari mana, perginya juga tidak diketahui lagi jejaknya sehingga tiada seorang pun orang Kangouw tahu asal-usulnya." ujar Mao Kau dengan gegetun. Tiba-tiba tergerak pikirannya, katanya pula, "Rahasia dunia Kangouw ini sejauh itu tiada seorang pun yang tahu, bahkan putriku yang menjadi muridnya juga tidak pernah diberitahu, tapi entah darimana Taisu malah mengetahuinya?"

"Tidak boleh kukatakan, tidak boleh kukatakan," tiba-tiba Kong-yu menjawab dengan menyitir ucapan Buddha.

Terpaksa Mao Kau ganti haluan dan bertanya, "Dan apa kehendak Taisu dengan memperlihatkan sepatu perak mini ini?"

"Bahwa Mao-sicu bermaksud membangun kembali pangkalanmu, untuk ini seharusnya kuberi bantuan seperlunya mengingat musuh yang kita hadapi adalah sama."

"Jika Taisu mempunyai niat demikian, sungguh Cayhe merasa sangat berterima kasih," kata Mao kau.

Dengan tersenyum Kong-yu berkata pula, "Meski To-liong-siancu tidak mendapatkan sesuatu pahala didunia Kangouw, tapi orang Kangouw yang pernah ditolong oleh Ban-biau Siansing berjumlah tidak sedikit, apabila Mao-sicu menggunakan sepatu perak ini sebagai tanda pengenal beliau untuk menghimpun para pahlawan, kukira pekerjaan ini sangat bermanfaat  bagi Mao-sicu, sebab itulah jauh-jauh kudatang kemari untuk mempersembahkan barang ini kepadamu, tentu Mao-sicu dapat mengerti maksudku ini."

Mao Kau ada jasa apa sehingga mendapatkan dukungan Taisu sebesar ini?" ucap Mao kau. Meski diluar dia tetap tenang saja, tapi didalam hati merasa girang sekali.

"Cuma. " Kong-yu memandang Mao kau dengan tersenyum, "Bilamana kelak Mao-sicu sudah 

berhasil bangkit kembali, hendaknya jangan lupa kepada diriku." "Tentu saja. "

"Tapi," potong Kong-yu, "Didunia persilatan dinegeri ini sejak dulu hingga sekarang selalu terbagi dalam beberapa wilayah kekuasaan masing-masing, di utara sungai besar ada ketua perserikatan Bu-lim, didaerah selatan juga ada pimpinan dunia persilatan, untuk ini kukira Mao- sicu pasti juga maklum."

Tiba-tiba air muka Mao Kau berubah kelam, "Bicara kesana kemari, rupanya tujuan Taisu adalah ingin membagi wilayah kekuasaan denganku?"

Dengan tenang Kong-yu menjawab, "Bilamana kita gunakan Tiangkang sebagai tapal batas, daerah selatan menjadi wilayah kekuasaan Mao-sicu dan utara sungai menjadi daerah pengaruhku, kita saling mendukung, bekerja sama, tentu akan saling menguntungkan."

Mao Kau terdiam sejenak, mendadak ia tertawa keras dan berkata, "Tak tersangka Taisu ternyata mempunyai ambisi sebesar ini. "

"Hendaknya Mao-sicu ingat, bersatu teguh, berpisah runtuh, bahkan besar untung-ruginya, cuma dimana letak untungnya dan ruginya belum lagi kukatakan," sampai disini si hwesio berhenti sejenak, lalu menyambung pelahan, "Dengan sepatu mini yang kubawa ini dapat menghimpun para pahlawan, inilah keuntungan pertama."

"Betul, memang menguntungkan." jengek Mao kau.

Kong-yu tersenyum, mendadak ia membalik tubuh secepat kilat, kedua tangan bekerja cepat, terdengar Thi Peng dan Auyang Bing menjerit kaget, tahu-tahu kedua belati mereka sudah berpindah ketangan si hwesio.

Hanya sekali membalik tubuh saja senjata dua orang sudah dirampasnya, betapa cepat dan jitu cara turun tangannya sungguh sangat mengejutkan.

Sambil siap tempur lebih lanjut Thi Peng dan Auyang Bing lantas melompat mundur dengan terkesiap.

Serentak Mao Kau berbangkit dan membentak, "Apa maksud tindakan Taisu ini?" Pelahan Kong-yu menaruh senjata rampasan diatas meja, lalu berkata pula dengan tersenyum, "Kudatang jauh dari Kun-lun-san, kupercaya kungfu sendiri tidak terlalu rendah, berdasarkan sedikit kemampuanku ini sudah cukup untuk memberi segala bantuan kepada Mao-sicu, inilah keuntungan kedua bagimu."

= Sesungguhnya siapa Kong-yu Hwesio ini? Jadikah dia bersekutu dengan Mao Kau?

= Dimana beradanya Siu Su, apa yang sedang dirancangnya dalam usahanya mencari musuh?

Mao Kau termenung sejenak sambil duduk kembali, lalu mengangguk, "Baik, ini pun dapat dianggap suatu keuntungan bagiku."

Kong-yu mengerling sekejap, lalu bicara pula, "Mao-sicu telah berusaha memupuk kekuatan, tujuanmu adalah membangkitkan kembali kejayaan masa lalu, tapi yang lebih utama adalah ingin menumpas bencana yang senantiasa mengancam dirimu itu, ialah putra Siu Tok, betul tidak?"

Sambil mengreget Mao Kau menjawab, "Betul!"

"Tapi saat ini dimana beradanya putra Siu Tok, apakah kau tahu?"

Selagi Mao Kau melenggong, segera Kong-yu melanjutkan, "Saat ini dia mungkin berada di daerah Kanglam, bisa jadi jauh diluar perbatasan utara sana, atau bukan mustahil bersembunyi ditengah semak pohon di kegelapan sekitar rumah berhala ini."

Seketika air muka Mao Kau berubah hebat, kembali ia berbangkit, dibawah cahaya lilin kelihatan pucat mukanya.

Mao Kau benar-benar sudah serupa burung yang ketakutan bila mendengar suara jepretan pelinteng, asalkan mendengar "putra Siu Tok" disebut, seketika hati berdebar dan bingung.

Kong-yu menatap tajam muka Mao kau, katanya pula dengan pelahan, "Tahu pihak sendiri dan kenal kekuatan lawan barulah seratus kali bertempur seratus kali menang. Inilah ajaran siasat perang yang dikenal oleh siapa pun. Bila Mao-sicu ingin memenangkan perang tanding ini, tentu perlu kau temukan dulu dimana jejak putra Siu Tok, betul tidak?"

"Betul." sahut Mao kau kaku.

Kong-yu tersenyum, "Kawanku Liang-sicu ini mempunyai mata-telinga di segenap pelosok negeri, kecuali dia mungkin tiada orang lain yang mampu menemukan jejak orang she Siu,  bilamana Mao-sicu mau bergabung denganku mengingat diriku tentu Liang-sicu mau berusaha mencari dimana beradanya putra orang she Siu itu, dan inilah keuntungan ketiga bagimu."

Mao Kau duduk bersandar dikursinya dan berkata, "Betul, inilah keuntungan ketiga,"

Berulang ia menyatakan "betul", tapi makin lama makin lirih, air mukanya juga semakin kalem.

Dengan sendirinya Kong-yu tahu hati orang sudah mulai goyah, segera ia berkata pula dengan tertawa, "Tapi bila antara kita terjadi keretakan, jelas lebih banyak ruginya."

"Rugi dalam hal apa?" Mao kau coba bertanya pula.

"Jika tidak ada kesepakatan diantara kita, tentu orang she Siu itulah yang akan kuajak bersekutu, lantas bagaimana akibatnya, kukira tanpa kuceritakan pasti juga Mao-sicu sudah tahu sendiri."

Mendadak wajah Mao kau berubah beringas, teriaknya, "Jika demikian, memangnya kau kira dapat kau pergi begitu saja?"

Kong-yu menengadah dan tertawa, "Umpama kami tidak mampu menerobos keluar dari sini, tidak lebih dari tiga hari setiap tindak-tanduk Mao-sicu pasti juga akan sampai ditelinga orang she Siu, selanjutnya dimana pun Mao-sicu bercokol tetap akan diketahui olehnya, apalagi.     

hehe, umpama Mao-sicu ingin menahan kami disini, kukira juga bukan pekerjaan gampang." Sampai disini ia lantas berpaling dan bertanya kepada Liang Siang-jin, "Betul tidak, Liang-sicu?" Tanpa memperlihatkan sesuatu emosi Liang Siang-jin menjawab, "Betul."

Waktu Kong-yu berpaling kembali, dilihatnya Mao Kau berduduk lemas dikursinya dengan kulit muka berkerut-kerut, segera ia berkata pula, "Maka kuharapkan Mao-sicu memberi. "

"Memberi apa?" bentak Mao Kau mendadak.

"Maksudku, sebelum persatuan kita terlaksana, perlu kuminta dulu pembagian setengah kekuatan manusia dan benda dari Mao-sicu, selain itu juga ingin kuketahui termasuk siapa- siapa saja orang yang ikut dalam 'sumpah potong jari' yang kau tetapkan ini."

"Lantas bagaimana setelah persekutuan kita terlaksana?" tanya Mao kau.

"Tentu saja pembagian wilayah kekuasaan secara tegas seperti apa yang kukatakan tadi, Mao- sicu di daerah selatan sungai dan kami di utara, kedua pihak bahu membahu dan saling membantu bila perlu."

"Alangkah serakahnya hwesio ini!" teriak Mao kau sambil menggebrak meja. "Hm, memangnya kenapa?" jengek Kong-yu, "Daerah Kanglam jauh lebih menguntungkan daripada daerah utara, jika kuberikan kekuasaan Kanglam padamu, memangnya belum memuaskanmu."

Gemertuk gigi Mao Kau dan mengepal tinjunya erat-erat, sejenak kemudian dia berteriak pula, "Dan apalagi kehendakmu yang lain.?"

Kong-yu tersenyum licik, ucapnya, "Ingin kutahu dulu apakah Mao-sicu sudah menerima syaratku yang pertama?"

"Hm, kau kira aku sudah terima?" jengek Mao Kau.

"Mengingat keuntungan kedua pihak, tentu saja akan Mao-sicu terima," ujar Kong-yu dengan tertawa. Lalu sambungnya. "Tentang permintaanku yang kedua menjadi jauh lebih sederhana. Bahwa bila antara kita sudah ada persekutuan, dengan sendirinya akan kuberitahukan asal- usulku."

"Jadi untuk menceritakan asal-usulmu itu juga merupakan suatu syarat?" jengek Mao Kau. "Haha, betul." seru Kong-yu.

"Dan apa yang kau minta?" teriak Mao Kau dengan gusar. "Minta sebuah kepala manusia." ucap Kong-yu dengan tenang.

Serentak Mao kau menggebrak meja lagi sambil berbangkit, dengan beringas ia tanya, "Kepala siapa?"

Kong-yu tersenyum, pelahan ia menggeser kedepan tabir dan berdiri disitu, ia menyapu pandang sekejap dengan sinar matanya yang tajam, air mukanya berubah menjadi kelam penuh nafsu membunuh.

Leng-coa Mao Kau juga siap tempur, Mao Bun-ki berdiri dibelakangnya dengan wajah pucat sambil memandang Kong-yu dengan dingin.

Auyang Bing dan Thi Peng saling pandang dengan perasaan ngeri.

Wi-im-sam-kiat berdiri berjajar dengan hati sama kebat-kebit, terutama sinar mata Cia Tong- hong tampak gemerdep memperlihatkan rasa waswas, semua orang sama bertanya didalam hati, "Kepala siapakah yang dikehendaki hwesio ini?"

Terlihat Kong-yu hwesio melirik sekejap setiap orang yang berada disitu, lalu berucap dengan suara berat, "Sebelum cukur rambut, jelek2 diriku juga punya nama didunia Kangouw. Sayangnya aku telah salah mengambil isteri perempuan jalang, diam-diam perempuan celaka itu bergendakan dengan lelaki lain, dia membikin malu padaku, bahkan mengakibatkan aku  dihina oleh Siu Tok. "

Tergerak hati Mao kau, tercetus pertanyaannya, "Hah, jangan-jangan anda ini Bo-ih-cian Tio Kok-bing!"

Kong-yu Hwesio menengadah dan terbahak, "Ya, memang betul!" "Jadi musuhmu yang akan kau. "

Belum lanjut ucapan Mao kau, serentak Kong-yu melompat maju.

Pada detik itu juga air muka Cia Tong-hong juga berubah mendadak, cepat ia menggeser dan melayang kearah pintu sebelah sana.

"Lari kemana?!" bentak Kong-yu Hwesio sambil memburu maju, secepat kilat kedua tangan menghantam punggung Cia Tong-hong.

Kungfu Cia Tong-hong juga tidak rendah, dengan jurus "Tai-tau-bong-goat" atau mengangkat kepala memandang rembulan, ia berpaling sambil menangkis, berbareng sebelah tangan lain balas menutuk perut Kong-yu.

Cia Tong-hong adalah ahli Tiam-hiat, meski belum sempat digunakan senjata andalannya, yaitu sepasang Boan-koan-pit, potlot baja, namun tutukan jarinya cukup keras dan jitu, bila kena pasti binasa.

Mendadak Kong-yu bersuit sambil berputar, dengan gerakan yang tak terduga serangannya berubah, dari menghantam berubah menjadi mencengkeram.

Sungguh jurus serangan yang lihai, sebelum Cia Tong-hong tahu apa yang terjadi, "krek", terdengar suara tulang patah, Cia Tong-hong menjerit ngeri dan jatuh kelenger. Ternyata kedua pergelangan tangannya telah dipatahkan pleh Kung-yu Hwesio.

Malahan Kong-yu lantas menambahi sekali tendang sehingga kena dagunya, ditengah cahaya lilin yang bergoyang Kong-yu sudah berdiri tegak.

Kedua orang hanya bergebrak dua jurus dan cuma berlangsung dalam sekejap saja, setelah Cia Tong-hong menggeletak semua orang masih berdiri melongo.

Semuanya kejut dan sangsi, sebab tidak tahu sesungguhnya ada permusuhan apa diantara Kong-yu Hwesio dan Cia Tong-hong.

Demi melihat saudara angkatnya roboh, serentak Utti Bun dan Pang Kin lantas menubruk maju.

Pan Kin melolos pedangnya dan membentak, "Selamanya kami tidak ada permusuhan apa pun denganmu, mengapa kau turun tangan sekeji ini kepada saudara kami?" "Bayar nyawa Jite kami!" teriak Utti Bun, kontan telapak tangan besi lantas menghatam. Tapi Mao Kau lantas membentak, "Berhenti! Akan kutanya dia lebih dulu."

Utti Bun dan Pang Kin tidak berani bergerak lagi melainkan cuma mendelik kepada Kong-yu Hwesio.

"Hm, kau mau tanya apa?" jengek Kong-yu.

Mao Kau menyeringai, katanya, "Kau tahu Wi-im-sam-kiat sudah bersumpah setia padaku, sekarang kau berani mencederai salah seorang diantaranya didepanku, memangnya sengaja kau pamer kekuatan disini?"

"Setelah kita sepakat untuk bersekutu, anak buahmu sama juga dengan anak buahku, jika pimpinan ada permusuhan dengan anak buahnya, mengapa tidak boleh kubunuh dia?"

"memangnya ada permusuhan apa antara kalian?" tanya Mao Kau.

"Cia Tong-hong inilah yang telah menghancurkan rumah tanggaku tujuh belas tahun yang lampau, mengapa tidak boleh kubunuh dia?" teriak Kong-yu dengan penuh dendam.

Semua orang sama melengak, betapapun Utti Bun dan Pang Kin tidak dapat ikut campur lagi, soalnya mengenai perzinahan dengan istri orang, hal ini merupakan pantangan besar orang persilatan, dengan alasan apa pun tak dapat diampuni.

Mao kau melenggong sejenak, ia duduk kembali, lalu berkata, "Dan apalagi perkataanmu yang ketiga?"

"Sebelum kukatakan soal ketiga ini, hendaknya " mendadak Kong-yu menuding Utti Bun dan 

Pang Kin berdua dan membentak, "Sekarang juga Mao-sicu tangkap kedua orang ini."

Serentak Utti Bun dan Pang Kin menyurut mundur. Sedangkan Mao kau lantas tanya, "Sebab apa?"

"Dengan sendirinya ada alasanku, tangkap saja dulu!" kata Kong-yu.

Selagi Mao kau merasa ragu, se-konyong2 sinar pedang berkelebat dan cahaya lilin sama padam, secepat kilat Pang Kin telah mengayun pedangnya dan sekali tabas memadamkan api lilin.

Berbareng Utti Bun lantas membentak, "Orang she Mao, engkau orang yang tidak dapat dipercaya, tiada gunanya kami tinggal lebih lama disini, selamat tinggal!"

"Hm, dapatkah kau pergi?" jengek Kong-yu. Dalam kegelapan segera terdengar suara "blang"  sekali, dua orang telah adu pukulan.

Sekonyong-konyong cahaya api berkelebat, tertampak Kiu-ciok-sin-tu Liang Siang-jin telah menyalakan lilin dan berdiri di pojok sana dengan tersenyum.

Di sebelah lan Utti Bun dan Kong-yu Hwesio sudah saling ebrak beberapa jurus, pukulan Utti Bun sangat dahsyat, memang tidak malu berjuluk "telapak tangan besi".

"Coba beradu tangan lagi sekali!" jengek Kong-yu.

Kembali terdengar "blang" yang lebih keras, empat telapak tangan Utti Bun dan Kong-yu beradu, Utti Bun menyurut mundur beberapa langkah dengan tergeliat, mendadak ia berteriak dan tumpah darah terus roboh disamping meja sembahyang.

Tempayan tembaga ikut teraih dan tumpah, darah dan jari berserakan di lantai. Dengan pedang terhunus Pang Kin berdiri di pojok sana dengan pandangan yang jeri. "Lekas menyerah, pengkhianat!" bentak Mao Kau.

Tubuh Pang Kin tampak gemetar, pedang pun hampir terlepas. Biarpun tinggi kepandaiannya, berada dibawah pengawasan tokoh-tokoh kelas tinggi sebanyak ini, mau-tak-mau ia ketakutan.

Dengan suara bengis Kong-yu lantas berkata, "Cia Tong-hong merasa diselamatkan oleh Siu Tok, tidak nanti dia setia kepada Mao Kau, kalian berdua adalah saudara angkat orang she Cia, tentu juga kalian bukan manusia baik-baik."

Ia berhenti sejenak, nafsu membunuhnya tampak berkobar, katanya pula, "Melanggar sumpah dan berkhianat harus dihukaum mati, tapi bila kau mau mengaku atas suruhan siapa kalian menyelundup kesini, mungkin Mao-tayhiap akan mengampuni jiwamu."

Dengan suara lantang Pang Kin coba membantah, "Kami bertiga mestinya ingin mengabdi kepada Mao-toako, tapi lantaran Jiko kami kau bunuh, terpaksa kami membelanya, sama sekali tidak ada maksud khianat kami, apalagi disuruh orang."

"Hm, apa betul?" jengek Kong-yu Sembari bersuara, pelahan ia melangkah maju mendekati Pang Kin.

Muka Pang Kin menjadi pucat, ucapnya dengan rada keder, "Sudah tentu benar. Ada permusuhan apa antara Jiko kami dengan Siu Tok dan dirimu, sama sekali kami tidak tahu menahu, biarpun kau bunuh diriku juga tetap ini saja yang dapat kukatakan."

Dalam pada itu Utti Bun sudah mulai siuman, dengan terengah ia pun bicara, "Mao-toako, dengan sesungguh hati kami ingin. ingin bekerja bagimu, tapi jika cara demikian engkau 

memperlakukan orang, siapa pula yang mau bergabung denganmu?" Sejak tadi Auyang Bing dan Thi Peng berdiri kaku disamping, mendadak Thi Peng ikut bicara, "Suhu, tampaknya mereka bertiga memang sungguh-sungguh ingin bekerja setia kepada Suhu, menurut pendapat Tecu sebenarnya tidak ada persoalan diantara mereka, harap Suhu jangan percaya kepada ocehan orang luar."

Betapapun hati Mao Kau tergerak juga, namun dia tetap merasa ragu, sejenak kemudian barulah ia berkata, "Ya, kutahu, kalian mundur saja."

Kong-yu lantas mendengus, "Kuberi nasihat dengan cara baik, sekarang terserah Mao-sicu bagaimana akan bertindak."

"Nasihat baik apa," seru Pang Kin mendadak, "soalnya Jiko kami sudah kau bunuh, kau kuatir kami akan menuntut balas dan ingin membabat rumput sampai akarnya, maka hendak kau binasakan juga kami."

"Apa katamu?" bentak Kong-yu dengan murka dan segera hendak menerjangnya. Tapi Mao Kau lantas mencegah, "Nanti dulu, Taisu!"

"Lebih baik salah bunuh sepuluh orang daripada tersisa seorang yang akan mendatangkan bibit bencana dikemudian hari, bila Mao-sicu tidak turut nasihatku, kelak engkau pasti akan menyesal sendiri," ujar Kong-yu.

Tiba-tiba Thi Peng mendengus, "Engkau dijanjikan kekuasaan setengah negeri ini dan belum lagi puas, memangnya hendak kau bikin lagi Suhu dikhianati setiap pengikutnya supaya engkau dapat mengangkangi dunia ini?"

"Tutup mulut, Peng-ji!" bentak Mao Kau. Lalu ia berpaling dan berkata kepada Kong-yu, "Persoalan anggota kami sendiri boleh dikesampingkan dulu, sekarang silakan Taisu menjelaskan dulu permintaanmu yang ketiga."