Tujuh Pedang Tiga Ruyung Jilid 10

Jilid 10

"Urusan apa?" tanya si lelaki cepat.

Pelahan perempuan setengah baya itu menutur, "kau tahu beberapa tahun ini Mao-toako telah memupuk kekuasaannya, dengan segala daya upaya ia berusaha memikat dukngan setiap orang Bu-lim, semua itu untuk apa?"

"Aku tidak tahu," jawab si lelaki dengan kening berkerut. "Mengapa caramu bicara akhir-akhir ini juga suka bertele-tele."

Perempuan itu menghela napas panjang, katanya, "Masa kau lupa pada satu malam hujan tujuh belas tahun yang lalu, engkau dan Mao-toako beserta Toh Tiong-ki ditengah malam buta pergi mencari jejak Jing-peng-kiam Song Leng-kong dan Pah-san-kiam-kek Liu Hok-beng."

"Betul, malam itu hujan lebat dan kilat menyambar serta guntur bergemuruh, kutahu biasanya kau takut kilat dan bunyi guntur, maka kusuruh engkau tidur bersama Mao-toaso."

Lelaki itu menengadah dan termenung seperti mengenangkan kejadian masa lampau, lalu melanjutkan, "Malam itu, meski tidak berhasil kami menemukan kedua orang itu, tapi tanpa sengaja berhasil kurampas satu partai barang berharga, peristiwa ini sama sekali diluar tahu Mao-lotoa dan Tah Tiong-ki."

Seperti tidak sengaja ia memandang perhiasan diatas kepala isterinya, lalu menyambung, "Setelah bergabung kembali dengan Mao-lotoa dan TahTiong-ki dan pulang kerumah, engkau ternyata sudah tidur." "Kuingat hal itu, cuma kejadian secara mendetail tidak pernah kau ceritakan padaku, selama ini juga tidak kutanyakan lagi padamu, sebab pada malam itu juga Mao-toaso menceritakan sesuatu padaku, selama ini aku pun tidak pernah menceritakan apa yang kudengar ini kepadamu."

Ia berhenti bicara, suasana menjadi sunyi seketika keduanya sama tenggelam dalam lamunan.

Akhirnya si perempuan berucap pula pelahan, "Tengah malam itu guntur berbunyi sangat keras, aku tidak dapat tidur, ternyata Mao-toaso juga tidak dapat pulas, kutanya padanya mengapa tidak dapat tidur, maka berceritalah dia bahwa waktu Mao-toamoaycu minggat dalam perutnya sudah mengandung. mengandung anak orang she Siu."

Alis si lelaki tampak terangkat, sinar matanya mencorong, seperti mau bicara apa2, tapi urung. Angin mengembus dari celah-celah pintu, terasa merinding dia.

Si perempuan setengah baya terdiam sejenak, lalu bertutur pula, "Meski aku terkejut mendengar keterangannya waktu itu namun tetap kuhibur dia, kataku jika putra dalam kandungan itu darah daging keluarga Siu, masakah adik perempuan Mao-toako akan menyuruh anaknya menuntut balas kepada pamannya sendiri.

"Mao-toaso tetap kuatir, ia berpendapat jika bukan lantaran merasa tidak senang terhadap kakaknya sendiri, mana bisa adik perempuan Mao-toako minggat dari rumah?"

Ia berhenti sambil menghela napas, lalu menyambung, "Sebab itulah kemudian Mao-toako berkeras melarang anak perempuan sendiri berlatih kungfu dengan Mao-toako, sebaliknya mengirimkannya berguru kepada To-liong-siancu, tujuannya juga untuk menghindarkan kemungkinan putra Mao-toamoaycu akan menuntut balas kepada mereka kelak. Dan sekarang, ai, sang waktu berlalu dengan cepat, anak itu tentu juga sudah dewasa."

Alis tebal si lelaki terkerut, ia termenung sekian lama, lalu bergumam. "Jika begitu, berbagai peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini jangan-jangan dilakukan orang she Siu itu. " Mendadak 

ia merandek dan membentak, "Siapa itu?"

Sekali lompat, dengan cepat ia memburu kepintu. Si perempuan juga berdiri sehingga perutnya yang menggunung tampak menyolok.

Terdengar seorang menjawab diluar dengan nyaring, "Aku!"

Menyusul daun pintu lantas terpentang, yang melangkah masuk dahulu adalah pelayan. Lelaki berjubah sulam itu mendengus, pandangannya tetap menatap keluar pintu.

Dibawah cahaya redup lampu diluar tertampak seorang pemuda ganteng dan berpakaian perlente ikut melangkah masuk dengan tersenyum, sinar matanya yang mencorong mengerling  sekejap kearah perempuan hamil itu, lalu berhenti pada diri si lelaki.

Dengan dingin lelaki itu mengamat-amati pemuda perlente ini, kemudian ia berpaling dan tanya si pelayan, "Siapakah anak muda ini?"

Pelayan tampak gugup dan gelagapan, cepat sipemuda perlente memberi hormat dan berkata dengan tersenyum, "Cayhe Ko Bun, sahabat karib pemilik rumah makan ini."

"Hm, apakah kau datang untuk mengusir tamu?" jengek su lelaki, ia merasa rumah makan itu memang sudah waktunya tutup pintu, sedangkan dirinya masih ngendon disitu.

"Ah, mana berani," sahut pemuda itu, "Hanya dari laporan pelayan kudengar ada dua orang tamu terhormat tidak mendapatkan rumah pondokan, maka sengaja kudatang kemari. Apalagi kulihat keadaan nyonya memang agak kurang leluasa, maka bila sudi, marilah menginap semalam ditempatku saja."

Gemerdep sinar mata lelaki itu, kembali ia mengamat-amati pemuda itu, katanya dengan ketus, "Selamanya kita tidak kenal, bukan sanak bukan kadang, mengapa anda sedemikian simpati kepada kami?"

Pemuda Ko Bun melengak, mendadak ia bergelak tertawa dan berkata, "Haha, baiklah, jika anda merasa curiga, anggaplah tawaranku hanya berlebihan saja."

Habis berkata ia terus mengebaskan lengan baju dan melangkah pergi. "Nanti dulu!" seru si lelaki mendadak.

Pemuda Ko Bun berpaling dengan tersenyum, tanyanya, "Ada petunjuk apa, memangnya anda ingin. "

Lelaki itu menukas dengan tertawa, "Maaf, ucapanku tadi hanya bercanda saja, orang baik sebagai anda ini mana mungkin memperlakukan tamu dengan maksud jelek."

Ko Bun hanya tersenyum saja dan tidak mengacuhkan sikap orang yang berubah mendadak 180 derajat itu, seakan-akan segala urusan sudah berada dalam genggamannya sesuai perhitungan. Dengan ramah ia menjawab, "Karena semua kamar pondokan sudah penuh dipesan orang, bilamana anda sudi bolehlah bermalam dirumahku yang kotor sana."

Cepat si lelaki menanggapi dengan hormat, "Banyak terima kasih atas bantuanmu, mengingat keadaan istriku, rasanya terpaksa harus kuganggu anda."

Lalu dia melemparkan sepotong uang perak kepada pelayan sebagai pembayaran makan minumnya tadi, sisanya sebagai tip untuk pelayan.

Diantar Ko Bun, mereka lantas meninggalkan rumah makan itu. Tertampaklah dua ekor kuda  putih mulus bertengger dipelataran, di waha yang dingin kedua ekor kuda itu tidak meringkik dan juga tidak sembarangan bergerak. Sekali pandang saja dapat diketahui adalah kuda pilihan yang sukar dicari.

Melihat pemuda Ko Bun tidak membawa kendaraan dan tidak menunggang kuda, lelaki itu bertanya, "Mungkin kediaman anda tidak terlalu jauh letaknya, marilah kita berjalan kaki saja."

Ko Bun menjawab, "Kediamanku berjarak cukup jauh dari sini. Keadaan nyonya juga tidak leluasa, marilah kita berangkat bersama saja, kedua kuda anda biarlah akan diurus leh orangku."

Lelaki itu tampak ragu, tangan yang lagi membelai bulu suri kuda mendadak berhenti.

Kiranya hidup kedua suami-isteri ini tidak mempunyai hobi lain kecuali mengumpulkan harta benda, terutama yang berwujud putih (perak) dan kuning (emas). Kedua ekor ini dibeli mereka dengan harga mahal, dengan sendirinya merasa berat jika kuda harus ditinggalkan kepada orang yang baru dikenal.

Belum lagi dia memberi jawaban, terdengar Ko Bun bersuit, dari pengkolan jalan sana lantas muncul sebuah kereta besar dan empat kuda.

Dibawah cahaya bintang kelihatan kereta itu berwarna putih perak gemilap, keempat ekor kuda penarik kereta juga putih mulus dan kekar kuat, larinya cepat, tapi langkahnya sangat ringan, begitu mendekat, sais kereta mendesis pelahan dan keempat kuda serentak berhenti.

Kedua suami-isteri itu saling pandang sekejap seperti kehilangan sesuatu. Sungguh sangat mengecewakan mereka, kedua ekor kuda putih orang ternyata bedanya seperti langit dan bumi.

Ko Bun seperti tidak memperhatikan perubahan air muka mereka, tetap dengan tersenyum ia berkata, "Silakan anda berdua naik kereta, kuda anda akan diurus orangku dan dibawa pulang."

Dengan ragu lelaki berjubah sulam berkata, "Kedua kuda kami ini sukar menandingi kehebatan kuda anda, tapi sifatnya sudah terbiasa buruk, orang asing sukar mendekatinya. "

"Ah, perawat kuda kami datang dari Kwan-tang, selama hidupnya bekerja menjinakkan kuda, biarkan dia mencobanya," ujar Ko Bun.

Pelahan ia tepuk tangan, diantara dua orang sais berseragam putih diatas kereta lantas melompat turun satu orang, gerakannya gesit, pakaiannya ringkas, badan kekar dan berotot kuat, kakinya memakai sepatu bersol tipis.

Lebih dulu sais itu memberi hormat kepada Ko Bun, lalu melangkah kedepan kedua ekor kuda putih, setelah dipandang sejenak, lalu selangkah demi selangkah ia menghampiri.

Aneh juga, kedua ekor kuda putih yang biasanya memang sulit didekati orang yang tidak  dikenalnya kini seperti terkena ilmu sihir saja, semuanya berdiri diam sehingga sais berseragam putih itu dengan mudah memegang tali kendali dan mencemplak keatas kuda.

Tentu saja lelaki berjubah sulam melongo dan tidak dapat bicara lagi. Mereka lantas naik kedalam kereta. Terlihat interior kereta ini pun sangat mewah, joknya empuk dan dinding penuh hiasan.

Terdengar sais bersuit pelahan diluar, kereta lantas laju kedepan. Tertampak rumah dikedua tepi jalan terlintas kebelakang secepat terbang, namun kereta terasa mantap dan anteng seperti tidak bergerak saja.

Kedua Suami-isteri jadi heran dan sangsi, mereka tidak tahu sesungguhnya orang macam apakah pemuda perlente ini, orangnya tampan, kaya raya lagi, tapi tingkah-lakunya sopan dan rendah hati, tutur katanya ramah tamah. Apa maksud tujuan orang sengaja berkenalan denan diri mereka?

Selama hidup berkecimpung didunia Kangoue belum pernah kedua suami-isteri ini melihat orang seaneh ini dan kejadian demikian.

Terdengar Ko Bun lagi berkata dengan tertawa, "Anda membawa pedang sehingga kelihatan gagah perkasa, tentulah anda ini pendekar besar ternama dunia persilatan, sejak tadi belum lagi Cayhe diberitahu nama anda yang mulia?"

Alis lelaki itu terangkat, dengan suara lantang ia menjawab, "Cayhe Thia Hong dan ini isteriku, atas pujian kawan Kangouw kami dinamakan Wan-yang-siang-hiap segala."

Ia merasa bangga dapat memperkenalkan namanya didepan pemuda perlente ini, maka sebutan "Wan-yang-siang-hiap" sengaja diucapkan dengan lantang.

Sikap pemuda Ko Bun kelihatan kagum dan hormat, katanya, "Meski Cayhe cuma seorang pelajar, tapi biasanya sangat kagum terhadap kaum pendekar pengelana, sudah lama kudengar nama besar pendekar dua sejoli anda, tak terduga hari ini dapat bertemu secara tidak sengaja."

Si lelaki, Thia Hong terbahak-bahak, Sedangkan siperempuan hamil, Lim Lin, yang sejak tadi hanya diam saja kini juga tersenyum, ucapnya pelahan, "Meski kaum Kangouw kami termashur kemana-mana juga tidak dapat menimpali keluarga hartawan dan bahagia seperti Ko-kongcu."

Sembari bicara ia melirik sekejap kearah sang suami, tampaknya dia sangat iri terhadap kekayaan Ko Bun.

Dengan tertawa Ko Bun berkata, "Sudah lama ku-bosan dengan kekayaan harta benda, mana bisa dibandingkan hidup bebas berkelana di Kangouw. Sungguh beruntung beberapa hari yang lalu Cayhe sempat bertemu dengan Mao-toaya dari Hangciu "

"Aha, kiranya saudara juga kenal Mao-toako kami, jika demikian engkau ini bukan orang luar  lagi," sela Thia Hong sambil bergelak tertawa, tapi pandangannya tidak pernah terlepas dari barang antik dan hiasan mewah pada kabin kereta ini.

Sejak awal Ko Bun selalu menampilkan senyumnya yang khas itu, kini senyumnya yang khas itu menjadi bertambah cerah. Sebab diketahuinya sekarang kelemahan seorang lawan kembali dapat digenggamnya lagi. Ia yakin bila dirinya terus menyerang titik lemah lawan ini pasti akan mencapai sasarannya dengan baik.

Thia Hong da Lim Lin saling pandang, sudah puluhan tahun suami-isteri ini hidup bersama, dengan sendirinya ada kontak batin, kini dalam hati kedua orang cuma berpikir, "Pada pemuda perlente ini ternyata tak sedikit 'minyak' yang dapat diperas, tidak percumalah kami ikut dia kesini."

Kiranya apa yang disebut "Wan-yang-siang-kiam" ini sebenarnya orang tamak harta, meski sekarang mereka sudah tergolong orang kaya, namun mereka masih sering keluar rumah untuk melakukan pekerjaan tanpa modal (begal).

Begitulah ketiga orang didalam kereta mempunyai pikiran masing-masing, wajah mereka sama tersenyum simpul, tampaknya dapat bicara dengan sangat akrab seakan-akan menyesal tidak dapat berkenalan sejak dulu-dulu.

Tengah pasang omong, mendadak kereta berhenti. Selagi Thia Hong hendak membuka pintu, tahu-tahu pintu sudah terpentang sendiri, diluar telah berdiri seorang centing berseragam putih, dengan hormat ia menyapa, "Kongcu sudah pulang!"

Waktu Thia Hong melongok keluar, tertampak kereta berhenti didepan sebuah gedung besar dengan pintu bercat mereha, gelang pintu dari perunggu tampak tergosok mengkilat, halaman didalam sangat luas dan hampir tidak kelihatan bangunan didalam sana.

Kembali kedua suami-isteri itu saling pandang dengan tersenyum puas. 

Mereka lantas dipersilakan masuk kebangunan megah itu. Setelah masuk ruangan tengah, didepan adalah sebuah pigura besar berukir sembilan ekor naga, pigura itu tertulis empat huruf besar yang berarti "Segenap keluarga jaya dan kaya".

Artinya terlalu naif, namun gaya tulisannya jelas berasal dari tangan seniman kelas tinggi. Entah siapa penulisnya.

Dibawah pigura ada sebuah meja panjang, diatas meja terletak sebuah pot perunggu hijau kuno setinggi tiga kaki, disampingnya bergantungan macam-macam lukisan, diatas meja juga penuh barang antik yang sukar disebutnya satu persatu.

Sekilas pandang ruangan besar ini seolah-olah penuh oleh benda pusaka yang sukar dinilai. Orang yang tidak biasa berada ditempat begini pasti akan silau dan bingung. Biarpun Thia Hong sudah banyak berpengalaman terhadap benda mestika, tidak urung ia pun tercengang.

Dengan tersenyum Ko Bun berkata kepada tetamunya, "Kahin bukanlah tempat kediamanku yang tetap, melainkan cuma tempat persinggahan sementara saja, sebab itulah tak terawat dan jelek, hendaknya anda tidak menjadi kecil hati."

"Haha, jika tempat seindah ini dikatakan jelek, maka didunia ini tidak ada lagi rumah yang bagus," seru Thia Hong dengan tertawa. Ia tuding pigura besar bertulisan itu dan berkata pula, "Menurut pendapatku, rumah ini justeru melambangkan arti yang sesuai dengan tulisan pada pigura ini."

Tidak lama kemudian lantas dihidangkan santapan yang serba lezat, ditengah malam begini ternyata dapat menyiapkan hidangan selengkap ini, sungguh luar biasa.

Malam tambah larut, perjamuan pun selesai. Thia Hong dan Lim Lin diantar kesebuah kamar samping yang indah, pajangan kamar ini mengingatkan mereka pada kamar pengantin baru masa lampau! 

Semakin jauh malam, bintang pun mulai jarang, malam tambah kelam. Cahaya lampu gedung megah ini sama dipadamkan. Suasana sunyi.

Namun dalam kamar tamu tempat Wan-yang-siang-kiam mondok ini kedua orang sedang kasak-kusuk, dengan suara lirih Lim Lin lagi membisiki sang suami, "He, apa yang sedang kau pikirkan?"

"Kupikir, umpama kulakukan juga selamanya tak ada yang menyangka akan perbuatanku ini." jawab Thia Hong dengan suara yang sama lirihnya, "Dia sendiri yang mencari penyakit dan tidak dapat menyesali diriku."

Keduanya terdiam agak lama, kemudian Lim Lin mendesis pula, "Aku tidak mau yang lain, cukup semangka jamrud di ujung meja tadi dan "

"Dan kotak buah kristal serta kotak mutiara itu, begitu bukan?" tukas Thia Hong dengan berbisik.

Lim Lin tertawa, "Delapan belas tahun yang lalu pada malam engkau pergi mengejar Song Leng-kong dan Liu Hok-beng itu, barang yang kau bawa pulang dari luar Hongciu itu kukira merupakan benda mestika yang jarang ada bandingannya, tapi setelah melihat barang tadi baru kusadari semua itu belum apa-apa jika dibandingkan barang kepunyaan orang."

Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan, "Baiklah, jika mau pergi lekaslah berangkat, Padahal, ai, orang melayani kita sebaik ini, sebaliknya kita. " mendadak ia tidak meneruskan dan 

menghela napas. "Ah, pandangan orang perempuan. " ujar Thia Hong. "Jangan kuatir, akan kupenggal dulu 

kepalanya baru ambil hartanya, sebentar saja segera kukembali. "

Belum habis ucapannya segera ia membuka jendela dan melayang keluar, dengan enteng sekali ia melompat ke wuwungan rumah, sungguh hebat ginkangnya. 

Suasana sunyi senyap, Thia Hong memandang sekitarnya dari atas rumah, tertampak wuwungan rumah berderet-deret, entah tinggal dimana Kongcu bernama Ko Bun itu.

Ia menjadi ragu, pikirnya, "Biarlah kuambil benda mestikanya, untuk apa kuganggu jiwanya?" Berpikir demikian, segera ia melayang kearah ruang depan.

Baru saja ia melintasi wuwungan rumah sebelah, tiba-tiba terdengar suara orang yang lagi membaca sajak, suaranya lantang jelas berkumandang dari sebelah kanan. 

Thia Hong merandek, lalu mengintai. Dilihatnya beberapa kamar disebelah barat sana masih ada cahaya lampu.

Segera ia meluncur turun kebawah, mendadak suara sajak tadi berhenti. Baru saja Thia Hong tersesiap, terdengar suara pemuda Ko Bun lagi berkata, "Ko Sing, besok pagi hendaknya kau pergi ke istal, ambil kemari kedua pasang pelana kuda kedua tamu kita itu. "

Selagi Thia Hong mengernyitkan kening, terdengar Ko Bun bicara lebih lanjut, "Kukira kedua pelana itu pun akan sangat cocok bagi Toapek dan Jipek."

Thia Hong merasa tidak paham apa yang dimaksudkan pemuda Ko Bun itu.

Terdengar seorang lain bicara dengan sangat hormat, "Apakah Kongcu bermaksud menghadiahkan Toapek (si putih tua) dan Jipek (si putih kedua) kepada kedua tamu itu?"

"Betul," kata Ko Bun.

"Tapi. . . tapi. " suara kaum hamba tadi menjadi rada gugup, "Jika Toapek dan Jipek dibawa 

pergi, bukankah Sahpek dan Sipek akan kesepian? Apalagi Kongcu mendapatkan keempat ekor seragam putih ini dengan susah payah dan telah melatihnya sekian lama, kalau diberikan kepada orang dengan begitu saja, apakah tidak sayang?"

Diam-diam Thia Hong menggerutu.

Namun Ko Bun lantas berkata dengan tertawa, "Kau tahu apa? Thia-siansing itu adalah kaum kesatria jaman kini, kuda mestika harus dipersembahkan kepada kaum pahlawan, inilah langkah yang tepat dan terpuji, masakah kau lupa selama hidupku paling suka bersahabat, terlebih dengan kaum kesatria dan pahlawan yang gagah perkasa demikian ini." Diam-diam Thia Hong merasa rikuh sendiri oleh puja-puji orang.

Terdengar Ko Bun berkata lagi, "Ko Sing, besok pagi sesudah pelana kuda kau ganti, ambilkan pula sekaleng mutiara asli yang kusimpan di almari itu dan taruhlah didalam kantung pelana kuda, jangan sampai diketahui oleh kedua tamu kita."

Ko Sing mengiakan, lalu berkata, "Tapi. . . . tapi. "

"Tentunya kau heran mengapa kuberikan mutiara sebanyak itu diluar tahu mereka, begitu bukan?" tukas Ko Bun dengan tertawa, "Harus kau ketahui kaum kesatria seperti mereka itu tindak-tanduknya memang sering lain daripada yang lain, jika kuhadiahkan secara terus terang tentu takkan diterimanya, terpaksa kuberikan secara diam-diam."

Kembali Thia Hong melengak dan menggerutu terhadap dirinya sendiri.

Tiba-tiba Ko Bun berkata pula, "Selain itu, tadi kulihat nyonya itu terus menerus memandangi semangka jamrud dan kotak mutiara serta kotak kristal, kukira dia pasti sangat suka kepada barang-barang itu. Maka besok boleh kau bungkus sekalian ketiga macam benda itu dan masukkan juga kedalam kantung pelana."

Terdengar Ko Sing mengiakan pula.

Mau-tak-mau Thia Hong berpikir pula, "Sungguh memalukan tindakanku ini. Pemuda ini ternyata sedemikian murah hati dan bertangan terbuka, bilamana aku berbuat sesuatu yang tidak baik padanya, bukankah sangat berlawanan dengan hati nurani?"

Seketika terkenang olehnya kejadian pada tujuh belas tahun yang lampau Pada suatu 

malam hujan lebat, ia meninggalkan Mao Kau dan Toh Tiong-ki untuk mencari sasaran, ditengah hujan lebat tiba-tiba muncul sebuah kereta.   

Thia Hong menghela napas dan berhenti mengenang, gumamnya, "Rasanya aku harus mengikat persahabatan sebaiknya dengan anak muda ini."

Serentak ia melayang keatas wuwungan lagi, dengan beberapa kali lompatan ia menyusup kembali ke kamarnya sendiri, sayup-sayup didengarnya suara Ko Bun masih membaca sajak.

Sesudah Thia Hong pergi, mendadak cahaya lampu dikamar Ko Bun itu tertambah terang, daun jendela yang tertutup rapat juga terbuka sedikit, terdengar suara tertawa dingin pelahan.

Ternyata pemuda Ko Bun berduduk menyanding sebuah meja besar berukir, disampingnya berdiri dengan tangan lurus seorang lelaki gemuk, dia inilah Thio It-tong, katanya, 

"Kongcu sungguh hebat, kasihan Thia Hong itu tentu lagi mabuk oleh pujian Kongcu tadi. Tapi bicara sesungguhnya, apakah benar Kongcu hendak memberikan kuda dan benda mestika itu kepadanya?" Dengan tertawa Ko Bun menjawab, "Benda mestika dan kuda apalah artinya, sudah barang tentu akan kuberikan padanya dengan benar."

Sejenak kemudian, ia berkata pula, "Fajar sudah hampir menyingsing, mengapa Ong Peng belum kelihatan muncul?. "

Dengan tertawa Thio It-tong menjawab, "Jangan kuatir, Kongcu, cara bekerja Ong-jiko biasanya sangat cermat, pasti takkan terjadi sesuatu kesalahan, kuyakin sebentar lagi pasti akan datang."

"Sudah lama kudengar diantara anak buah Liang-toako terdapat Su-tai-kim-kong (empat gembong) yang tergolong jago pilihan, cuma sayang baru kukenal dirimu dan Thia Jit saja, cara bekerjamu tidak perlu dikatakan lagi, kepandaian Thia Jit merawat kuda memang harus dibanggakan sehingga kedua ekor kuda yang dibanggakan orang she Thia itu juga dapat dijinakkan."

"Cara si jenggot Thia Jit menjinakkan kuda memang lain daripada yang lain," ujar Thio It-tong dengan tertawa. "Kuda binal macam apa pun, kalau berhadapan dengan dia pasti akan tunduk. Sedangkan Ong-jiko kami, hehe, caranya menghadapi orang serupa Thia Jit menghadapi kuda, siapa pun kalau bertemu dengan dia, cukup beberapa patah kata saja pasti akan menurut kepadanya. "

Sampai disini, tiba-tiba terdengar orang melangkah datang dengan tergesa-gesa. Seketika semangat Ko Bun berbangkit, Thio It-tong juga lantas berseru dengan girang, "Itu dia sudah datang!"

Segera ia memburu kesana untuk membuka pintu, tertampak bayangan orang berkelebat, masuklah seorang lelaki tegap berambut pirang dan bermata siwer, mukanya penuh kumis dan jenggot.

Diam-diam Ko Bun heran, ia pikir ini pasti satu diantara Su-tai-kim-kong yang bernama Tai-lik- sin Ting Pa, si malaikat bertenaga raksasa.

Tapi segera terpikir lagi olehnya, "Aneh, Ong Peng yang kutunggu tidak muncul, sebaliknya datang Tai-lik-sin ini, memangnya ada pa? Jangan-jangan terjadi sesuatu atas diri Ong Prng?"

Sesudah masuk, lelaki tegap itu lantas memberi hormat kepada Ko Bun sambil menyapa, "Tentunya Kongcu inilah Siu-kongcu sebagaimana dikatakan Liang-toako kami,. Maaf jika hamba datang terlambat karena sedikit gangguan ditengah jalan, namun syukurlah tugas yang dipesan oleh Kongcu sudah hamba laksanakan dengan baik."

"O, jadi kau ini Ong Peng berjuluk si tujuh lubang itu?" tanya Ko Bun. Orang itu tersenyum, "Hamba memang Ong Peng adanya." Ko Bun merasa tercengang oleh lahiriah orang yang kasar kekar, tapi sikapnya keliahatn tenang dengan tutur kata yang sopan ini.

Terdengar Ong Peng bertutur pula, "Hamba bersama beberapa saudara kami telah menyelidiki sekian lama dan baru berhasil mendapatkan keterangan yang jelas. Barang yang dibegal diluar kota Hangciu pada tujuh belas tahun yang lalu itu memang betul barang kawalan gelap Mao- kau."

Mencorong sinar mata Ko Bun, katanya, "Duduklah dan minum dulu, habis itu barulah bercerita sejelasnya."

Ong Peng mengucapkan terima kasih, namun dia tetap berdiri lurus, katanya pula, "Belasan tahun yang lalu kebanyakan perusahaan pengawalan didunia Kangouw memang milik anak buah Jing-peng-kiam Song Leng-kong, tindak-tanduk Song Leng-kong sehari-hari juga cukup tegas, sebab itulah setiap perusahaan pengawalan yang ada hubungan dengan Song Leng- kong dilarang keras menerima order pengawalan gelap. Namun ada sementara orang kaya mendadak, misalnya saudagar yang menipulasi atau pembesar yang korupsi, dengan sendirinya harta benda mereka tidak dapat diangkut pulang kekampung halaman secara terang2an, sebab itulah ketika itu timbul berbagai Piaukok liar yang khusus mengadakan pengawalan rahasia bagi orang yang membutuhkan tenaga mereka."

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan, "Tapi Piaukok liar itu hanya bekerja secara diam-diam, maka tokoh Bu-lim yang terhormat tidak nanti sudi bekerja cara demikian, dengan sendirinya yang menjadi pengawal gelap itu kabanyakan adalah jago-jago kelas menengah. Sebab itulah lantas timbul pula sekawanan jago Lok-lim (begal) yang khusus merampas barang kawalan gelap itu. Sebab selain mudah didapat, kebanyakan yang dirugikan itu pun tutup mulut dan terima nasib sehingga selamatlah perbuatan mereka itu."

"Hahaha, ini namanya hitam makan hitam," sela Thio It-tong dengan tertawa.

"Betul, memang inilah hitam makan hitam." ujar Ong Peng, "Tapi dengan demikian, jumlah Piaukok liar yang tidak becus itu lantas banyak berkurang jumlahnya, akhirnya karena untuk mempertahankan hidup, pengusaha Piaukok liar yang tidak mendapat pasaran itu lantas ikut menjadi pembegal. Karena mereka sudah apal jalan dan juga sasarannya sehingga untuk membegal barang kawalan gelap itu menjadi jauh lebih mudah. Kemudian bahkan mereka bersekongkol dengan kaum bandit yang memang khusus melakukan pekerjaan membegal itu, akibatnya suasana bertambah kacay."

Ia berhenti lagi, melihat Ko Bun mengangguk tanda memuji, dengan bangga ia bertutur pula, "Dasar manusia tamak, melihat bisa mengeduk keuntungan, Mao Kau tidak tinggal diam, ia pun melakukan pengawalan gelap semacam itu, Dengan kungfunya, dengan sendirinya usahanya semakin maju. Pada waktu itulah dia menambah beberapa antek seperti Pat-bin-ling-long Oh Ci-hui, Ho Lim, Ki Mo dan sebagainya."

Ko Bun mendengus mendengar nama antek-antek Mao Kau itu. Ong Peng lantas menyambung, "Cuma untuk menjaga nama baik sendiri, dengan sendirinya ia menyembunyikan pekerjaan itu, orang yang datang minta pengawalannya harus tahu jalannya lebih dulu, Oh Ci-hui adalag wakilnya yang mengadakan kontak dengan para pemesan. Sampai akhirnya, karena begundalnya bertambah banyak sehingga Mao Kau pun jarang turun tangan sendiri."

"Sungguh tak tersangka tokoh utama Jit-kiam-sam-pian yang termashur itu juga melakukan pekerjaan rendah begitu, sungguh lebih rendah daripada aku Thio It-tong." sela Thio It-tong.

"Meski Mao Kau melakukan pekerjaan pengawalan gelap, tapi diantara tokoh Jit-kiam-sam-pian yang lain masih ada yang lebih kotor daripada dia," jengek Ong Peng.

"Oo, siapa?" tanya Thio It-tong.

"Justru diantara tokoh Jit-kiam-sam-pian itu ada yang diam-diam khusus melakukan pembegalan barang kawalan gelap itu." tutur Ong Peng.

Seketika alis Ko Bun bekernyit dan mencorong sinar matanya, desisnya. "Wan-yang-siang- kiam!"

"Betul, memang Wan-yang-siang-kiam," kata Ong Peng. "Hal ini kebetulan dapat kudengar dari seorang saksi mata yang melihat kejadian itu."

"Hah, saksi mata? Siapakah dia?" sela Thio It-tong pula.

Segera Ong Peng memanggil masuk seorang yang menunggu diluar.

"Orang ini tak punya she dan nama, tapi terkenal sebagai Sam-cia-jiu (tiga tangan), dari nama julukannya ini jelas pekerjaannya adalah tukang mengerayangi isi rumah orang. Pada suatu malam hujan lebat dan tepat untuk aksi kaum maling seperti Sam-cia-jiu itu, malam itu dia mengalami nasib sial, perbuatannya diketahui orang dan dikejar, untung dia masih sempat kabur keluar kota dan meninggalkan pengejarnya, dan secara kebetulan memergoki peristiwa itu."

Sampai disini Ong Peng lantas berpaling dan membentak, "Ayolah lekas ceritakan apa yang kau lihat waktu itu kepada Kongcu kita."

Cepat Sam-cia-jiu mengiakan dengan hormat, matanya yang kecil seperti mata tikus itu gemerdip, bibirnya yang tebal seperti mulut kelinci itu mulai bersuara, 

"Malam itu hamba dikejar dan berusaha menyelamatkan diri keluar kota, baru saja sempat bernapas, tiba-tiba kulihat didepan ada seorang menghunus pedang didepan sebuah kereta kuda. Hamba ketakutan dan cepat bersembunyi di semak-semak tepi jalan. Selang sejenak, terdengar ditengah jalan ada orang bicara, 'Thia Hong, kenapa kau bekerja secara ngawur,  apakah tidak kau ketahui barang ini. ' belum habis ucapannya seorang telah memotong 

dengan tertawa. 'Haha, meski barang ini dikawal olehmu Siam-tian-sin-to (golok kilat) tetap orang she Thia tidak peduli,' Menyusul lantas terdengar gemerincing suara berudanya 

senjata. Karena ingin tahu apa yang terjadi kucoba mengintip, siapa tahu lantas terdengar jeritan ngeri, bahkan jeritan ngeri itu terus susul menyusul sampai empat kali. Karuan aku ketakutan dan tidak jadi mengintip. Habis jeritan ngeri itu, keadaan lantas sepi, hanya hujan yang bertambah deras, kuraba kepalaku yang basah kuyup oleh air hujan bercampur dengan keringat dingin. Hamba tidak berani lagi tinggal lebih lama disitu, cepat merangkak ke pematang sawah dan kabur. Semalaman itu pekerjaan hamba gagal total tanpa hasil apa pun, sebaliknya diuber-uber orang dan ketakutan setengah mati, ditambah lagi kehujanan, maka setiba dirumah hamba lantas jatuh sakit sampai hampir sebulan baru sembuh."

"Baiklah, cukup," bentak Ong Peng sambil melemparkan sepotong uang perak kepadanya. "Nah, boleh kau pergi sana. Ingat, apa yang terjadi malam ini dilarang kau ceritakan kepada orang lain. Bila sampai bocor pasti kucabut nyawamu!"

Dengan munduk-munduk Sam-cia-jiu mengiakan, setelah mengantungi uang perak itu, ia menyurut mundur dan melangkah pergi diantar oleh penjaga diluar.

Sepergi orang, Ko Bun menghela napas gegetun, "Betapa rapi perbuatan jahat seorang, pada akhirnya pasti akan ketahuan juga. Mana Thia Hong pernah menyangka bahwa diam-diam ada seorang telah melihat perbuatannya. " mendadak ia menggebrak meja dan berseru kepada 

Thio It-tong, "Eh, lekas kau susul dia dan sekap dia dikamar sana, tanpa diperintah dilarang keluar."

Thio It-tong melenggong, tapi cepat ia melaksanakan perintah Ko Bun.

"Apakah Kongcu bermaksud menyimpan dia untuk dijadikan saksi?" tanya Ong Peng dengan tersenyum, "Darimana Kongcu mengetahui urusan ini kecuali Sam-cia-jiu?"

Ko Bun hanya tersenyum saja tanpa bicara, mendadak dia bertepuk tangan. Segera muncul seorang yang berwajah kaku, sorot mata buram, tubuh juga kaku seperti patung, sekilas pandang orang ini serupa mayat hidup saja.

Sementara itu hari sudah terang benderang, diruang tamu sudah disiapkan pula meja perjamuan. Kembali Ko Bun menyilakan Thia Hong dan Lim Lin hadir.

"Betapapun pagi ini kita harus minum sepuasnya, sayang ada urusan penting harus kutinggalkan rumah, kalau tidak sungguh ingin kulayani anda agar berdiam lebih lama disini," kata Ko Bun.

Thia Hong mengucapkan terima kasih dengan rendah hati. "Tuang arak!" seru Ko Bun sambil memberi anda. Segera seorang menuangkan arak dari belakang tempat Thia Hong berduduk.

Dengan sendirinya Thia Hong dapat melihat tangan yang memgang poci arak ini sangat mantap, arak yang dituang kecawan tampak berwarna kemerah-merahan, sekali tuang lantas secawan penuh, setetespun tidak tercecer.

"Pelayan semalam itu terlalu usil mulut, pagi ini sudah kuganti pelayan yang lain," tutur Ko Bun dengan tertawa, "Tubuh orang ini hampir mati rasa seluruhnya, biarpun ditusuk juga takkan menimbulkan rasa sakit baginya, Hal ini ada segi baiknya, yaitu setiap perintah majikan pasti akan dilaksanakannya dengan baik, umpama dia disuruh mati juga takkan ragu. Mempunyai budak seperti ini sungguh hatiku sangat bangga dan puas."

Diam-diam Thia Hong heran, entah mengapa tanpa sebab pemuda ini bisa menonjolkan seorang budak kebanggaannya, waktu ia berpaling, terlihat sang istri sedang memandang kebelakangnya seperti melihat sesuatu yang membuatnya tercengang.

Tanpa terasa Thia Hong juga berpaling dan memandang muka pelayan dibelakangnya, terlihat sorot mata orang yang kaku dingin itu juga sedang memandang padanya.

Terasa sorot mata orang seperti sudah dikenalnya, tapi jelas orang ini belum pernah dilihatnya, ia menjadi tercengang.

Dalam pada itu sipelayan aneh telah menggeser kebelakang Lim Lin untuk menuangkan arak, lalu menggeser lagi kebelakang Ko Bun.

Selama hidup Thia Hong berkecimpung didunia Kangouw, entah berapa banyak manusia aneh dan tokoh kosen yang dilihatnya, tapi belum pernah terlihat seorang kaku linglung dan lamban mirip mayat hidup demikian.

Dalam pada itu Ko Bun telah mengajak minum, terpaksa Thia hong ikut menenggak secawan. Waktu ia taruh kembali cawan araknya, tertampak sorot mata yang kaku dingin itu sedang menatapnya.

"Lekas menuangkan arak lagi bagi tamu, Hoan Hun!" seru Ko Bun.

Sungguh aneh, manusia yang kaku dan dingin serupa mayat hidup ini ternyata bernama Hoan Hun atau mayat hidup.

Pelahan Hoan Hun menggeser lagi mengitari meja dan menuangkan arak satu persatu, tap sorot matanya tidak pernah lagi meninggalkan wajah Thia Hong.

Orang persilatan paling mengutamakan ketenangan dan kesabaran, tapi sekarang hati Thia Hong ternyata berdebar-debar, tak terpikir olehnya mengapa sorot mata orang serasa sudah sedemikian dikenalnya. Cahaya matahari pagi menyinari wajah Hoan Hun yang kaku itu sehingga kelihatan bekas lukanya yang menyolok pada mukanya.

Thia Hong berdehem risi, ucapnya dengan tersenyum ewa, "Hoan Hun. sungguh nama yang 

aneh."

"Soalnya orang ini mengaku sudah pernah mati satu kali, lalu hidup kembali sebab itulah kuberi nama Hoan Hun padanya, meski nama jelek, tapi cukup berarti, betul tidak?"

tanya Ko Bun.

"Ya, ya, betul," sahut Thia Hong dengan kikuk sambil menenggak araknya.

"Kongcu sungguh beruntung dengan mudah dapat menemukan pembantu yang baik, tidak seperti pelayan umumnya yang suka banyak mulut," tiba-tiba Lim Lin ikut menimbrung.

"Orang ini bukan kutemukan sendiri, tapi dibawa kesini oleh seorang sahabatku pada suatu malam hujan lebat pada tujuh belas tahun yang lalu, dibawa kesini dari luar kota Hangciu," Ko Bun sengaja bicara dengan pelahan, setiap kalimat selalu berhenti. Dan setiap kali berhenti selalu terlihat air muka Thia Hong ikut berubah.

Sekejap itu dalam benak Thia Hong terbayang kembali adegan masa lampau, adegan berdarah yang mengerikan. . . . .

Se-olah2 terbayang olehnya suara jeritan dibawah hujan lebat, seorang lantas membalik tubuh hendak lari, tapi tidak berhasil dan terbunuh. Seorang lagi berdiri tegak dengan membusungkan dada tanpa gentar, sorot matanya dingin dan kaku. . . . .

"Trang", tanpa terasa cawan arak yang dipegang Thia Hong jatuh kelantai dan pecah berantakan.

Ko Bun terbahak, "Haha, belum seberapa anda minum, masakah sekarang juga anda sudah mabuk?"

Ia berhenti tertawa dan membentak, "Lekas bersihkan lantai, Hoan Hun!"

Pelahan Hoan Hun menaruh poci arak diatas meja, lalu berjongkok untuk membersihkan pecahan cawan yang berserakan itu sambil sebentar-sebentar memandang Thia Hong dengan sorot matanya yang kaku dingin itu.

Thia Hong juga menatapnya, sinar mata kedua orang beradu, mendadak timbul nafsu membunuh Thia Hong, pelahan ia menjulurkan tangannya kebawah meja, bilamana jarinya menutuk kepelipis orang, seketika Hoan Hun akan binasa.

Pada saat itulah tiba-tiba Ko Bun berseru, "Haha, minum arak pantang berperut kosong, kenapa  anda tidak makan sedikit. Inilah irisan paha ayam yang lezat, silakan anda rasakan sedikit."

Berbareng Ko Bun telah menyumpit sepotong daging ayam dan disodorkan kemuka Thia Hong, hanya beberapa senti saja didepan hidungnya.

Jika Thia Hong tidak menyambut suguhan tersebut, sumpit orang mungkin akan menutuk Jin- tiong-hiat diatas bibir dan dibawah hidungnya, tempat yang berbahaya. Terpaksa ia menarik kembali tangannya dari bawah meja, ia angkat piring untuk menerima suguhan daging ayam itu. Dalam pada itu Hoan Hun pun sempat berdiri.

Seperti tidak terjadi apa-apa Ko Bun menarik kembali sumpitnya, Sebaliknya Thia Hong menjadi heran dan curiga, entah gerakan Ko Bun itu sengaja atau cuma kebetulan saja.

Meski sudah makan minum lagi sekian lama, namun Thia Hong tidak merasakan lezatnya hidangan, Lim Lin lantas berkata, "Atas kemurahan hati tuan rumah kita telah mengganggu semalam, kini sudah saatnya kita harus mohon diri!"

"Betul, betul, sekarang juga kami mohon pamit!" tukas Thia Hong sambil berbangkit.

"Ah, kenapa anda jadi terburu-buru?" kata Ko Bun dengan tertawa, "Jangan-jangan anda merasa mual terhadap muka kaum budak yang buruk itu. Baiklah, lekas kau pergi saja, Hoan Hun. Ai, muka orang ini memang jelek, daya ingatnya juga lenyap, tapi ada satu hal tidak 

pernah terlupakan olehnya?" 

Hati Thia Hong tergetar, tanpa terasa ia tanya, "Hal apa?"

Ko Bun tidak menjawab melainkan menatapnya lekat-lekat, habis itu mendadak ia tertawa dan berkata, "Haha, jika anda sudah tahu, masakah perlu kujelaskan lagi?"

Berubah air muka Thia Hong, "Kutahu apa? Urusan apa, dari mana kutahu?"

Meski cukup berpengalaman, tidak urung sikap Thia Hong sekarang menjadi serba salah. "Hahaha, apakah anda tahu atau tidak, yan jelas didunia ini kan cuma aku, kau dan dia saja. "

Mendadak ucapannya berhenti, sambil menggebrak meja ia berseru, "Wah, celaka!"

Baru saja Thia Hong dapat menenangkan hati dan angkat cawan arak, mendadak cawan arak ia taruh kembali dan bertanya dengan gugup, "Ada apa?" 

Dengan kening bekernyit Ko Bun berkata, "Selain aku dan kau masih ada lagi seorang lain yang tahu urusan ini."

Tanpa terasa Thia HOng terus bertanya, "Siapa lagi yang tahu?" Setelah berucap demikian barulah ia menyesal, sebab dengan ucapan ini tidak ada bedanya dirinya telah mengakui apa yang tidak mau diakuinya tadi. Tapi ucapan sudah terlanjur keluar, tidak mungkin ditarik kembali lagi.

Ko Bun tersenyum, namun ia tetap bicara dengan serius, "Kabarnya sebelum Hoan Hun datang kemari, dia pernah tinggal sekian lama ditempat Co-jiu-sin-kiam Ting Ih, mungkin. "

Sampai disini ia menghela napas dan tidak meneruskan. Dilihatnya Thia Hong melenggong dengan alis berkerut, lalu Ko Bun menyambung pelahan, "Jika sekiranya hubungan anda dengan Ting Ih cukup baik tentu tidak menjadi soal, kalau tidak, bila diketahui oleh orang itu, urusan pasti runyam."

Mendadak Thia Hong menepuk meja dan berseru dengan bengis, "Apa yang kau maksudkan, sama sekali aku tidak paham."

Ko Bun bergelak tertawa dan berlagak tidak melihatnya, katanya pula, "Jika aku menjadi dirimu tentu aku akan. Ai, jika anda tidak dapat mempercayaiku, lebih baik tidak kukatakan saja."

Habis itu ia menuang arak dan minum sendiri.

Sampai lama Thia Hong melongo, mukanya sebentar merah sebentar pucat, jelas terjadi tertentangan batin. Akhirnya ia menghembuskan napas dan bertanya, "Jika engkau menjadi diriku lantas bagaimana?"

Dengan tersenyum Ko Bun menjawab, "Kalau aku menjadi dirimu, dalam keadaan kepepet begini pasti kubereskan orang yang tahu seluk-beluk urusan ini."

"Hahahaha!" mendadak Thia Hong terbahak, "Apakah kau sendiri tidak tahu persoalan ini?" Kau tahu, bila ingin kubunuh dirimu boleh dikatakan seperti membaliki telapak tanganku sendiri."

Ko Bun tidak menghiraukannya, ia pun tertawa dan berucap, "Coba dengarkan, adakah sesuatu suara diluar?"

Thia Hong tercengang karena mendadak orang mengemukakan hal yang tidak ada sangkut- pautnya dengan urusan yang sedang dibicarakan. Tapi waktu ia mendengarkan dengan cermat, terdengar suara derapan kuda lari yang cepat, baru saja derap kaki kuda lari keluar, dalam sekejap saja suaranya lantas lenyap.

Diam-diam Thia Hong terkejut dan mengakui betapa cepatnya lari kuda itu, namun dimulut ia berucap dengan dingin. "Kuda kesayangan anda sudah kulihat tadi."

"Dan siapa penunggangnya apakah kau tahu?"

Berubah air muka Thia Hong, tanyanya bengis, "Memangnya si. si mayat hidup itu?" "Haha, orang bilang Wan-yang-siang-kiam serba pintar, tampaknya memang tidak keliru. Betul penunggang kuda itu memang Hoan Hun adanya, saat ini dia tentu sudah berada di luar kota Kahin. Meski orang ini linglung dan tidak ingat apa-apa lagi, dia hanya patuh padaku saja da cuma tetap ingat kepada peristiwa pada malam hujan lebat tujuh belas tahun yang lalu."

Dia menenggak arak sendiri dan tidak bicara lagi.

Sampai lama Thia Hong termenung, diam-diam ia masgul, ia merasa setiap gerak-gerik sendiri seakan-akan sudah dalam pengamatan Kongcu kaya yang tampaknya polos dan juga lugas ini.

Setelah berpikir sekian laam, akhirnya Thia Hong bertanya dengan menggebrak meja, "Sebenarnya apa maksudmu dengan ucapan dan tindakanmu ini? Sesungguhnya siapa kau?"

"Tenang, sabar!" ucap Ko Bun dengan tersenyum, "Jangan emosi! Sesungguhnya tidak ada maksud jahat apa pun, yang kuinginkan supaya anda mengetahui dulu akan bahaya apa yang mungkin menimpamu, setiba di Hangciu nanti, jika bertemu dengan Mao-toaya, kita. "

"Dari mana kau tahu aku akan pergi ke Hangciu dan bertemu dengan Mao Kau?" tukas Thia Hong dengan kaget.

"Sepuluh hari lagi Mao-toaya akan mengadakan sidang pertemuan para kesatria dikota Hangciu, berita ini sudah tersiar luas dengan sendirinya kutahu juga, cuma. "

"Cuma apa?" potong Thia Hong.

Ko Bun menghela napas. "Jika aku menjadi dirimu, lebih baik tidak menghadiri pertemuan besar para kesatria ini."

Thia Hong tampak ragu dan termenung, sejenak kemudian ia bergumam sendiri, "Ken.   

.kenapa tidak hadir. Tetap kami harus hadir."

Dengan sungguh-sungguh Ko Bun berkata pula, "Meski kita baru berkenalan, tapi aku sangat ingin bersahabat dengan kesatria besar seperti anda ini. Umpama anda jadi hadir pada pertemuan itu nanti, hendaknya juga jangan bekerja bagi Mao Kau. Maklumlah, urusan terahasia apa pun didunia ini pada akhirnya pasti bocor, bilamana anda ikut melaksanakan sesuatu proyek besar sesudah urusan selesai, tidak nanti Mao Kau yang berjiwa sempit dan licin itu melepaskan dirimu begitu saja."

Ia berhenti sejenak, melihat air muka Thia Hong rada berubah, diam-diam ia merasa geli, tapi dengan serius ia menyambung lagi, "Kukira untung rugi persoalan ini tidak perlu kujelaskan lebih lanjut, tentu anda dapat menimbangnya sendiri. Yang jelas saat ini Mao Kau sudah menjadi titik sasaran setiap orang Kangouw, bahaya sudah mengamcamnya dimana-mana, untuk apa anda mesti ikut mengaduk ditengah air keruh ini. Padahal kalau Mao Kau binasa dan usahanya berantakan, hal ini kan menguntungkan anda dan tidak perlu menguatirkan lagi peristiwa masa lampau, mengenai orang she Ting. " Mendadak ia mengetuk meja dan menambahkan dengan tertawa, "Orang ini cuma gagah tanpa akal, untuk membunuhnya juga tidak perlu membuang tenaga."

Thia Hong memandang jauh keluar jendela tanpa bicara, dari kertuk gigi dan kedua tinjunya yang terkepal erat itu jelas kelihatan pertentangan batinnya yang keras.

Pelahan Ko Bun menyambung, "Dengan kungfu dan kecerdasan anda serta hubunganmu yang luas didunia Kangouw, masakah engkau mesti merasa lebih asor daripada Mao Kau, apalagi kalau ditambah dengan harta kekayaanku, haha, apa salahnya kalau kita mengambil dan menggantikannya daripada selalu berada dibawah perintah orang?"

"Mengambil dan menggantikannya." kata-kata ini serupa godam besar mengetuk hati Thia Hong. Air mukanya sebentar-sebentar berubah, kedua alisnya terkerut rapat, sorot matanya sebentar guram sebentar terang.

Sekonyong-konyong ia berbangkit dan mengetuk meja, serunya, "Baik, setuju!" Dengan tatapan tajam Ko Bun menegas, "Apakah keputusanmu sudah pasti?"

Serentak Thia hong melangkah kedepan anak muda itu dan menjura, ucapnya, "Jika tidak ada petunjukmu, saat ini aku pasti masih terlena didalam impianku sendiri. Dengan ucapanmu tadi, seketika pikiranku terbuka melebihi belajar sepuluh tahun lamanya."

Cepat Ko Bun membalas hormat orang dan berkata, "Ah, jika bukan terhadap orang bijaksana sebagai anda, kata-kata tadi tidak nanti kukemukakan."

Thia Hong terbahak, "Haha, sungguh tidak nyana perjalananku ke Kanglam ini dapat bersahabat dengan orang seperti Ko-heng, kelak bilamana mana ada kemajuan usahaku, semua ini adalah jasa Ko-heng dan budi ini pasti takkan kulupakan."

Ah, terima kasih atas pujianmu," ujar Ko Bun dengan tertawa, "Diriku ini seorang lemah, namun selama hidupku paling kagum terhadap kaum kesatria dan pengelana Kangouw."

Thia Hong tertawa, ia pikir meski anak muda ini kelihatan banyak tipu akalnya, juga orang kaya, namun tidak punya nama dan juga tidak berpengaruh, sebab itulah dia berusaha menarik tokoh Kangouw semacam diriku, tujuannya jelas cuma untuk mengembangkan nama dan meraih kedudukan saja.

Berpikir demikian, rasa waswasnya terhadap Ko Bun lantas banyak berkurang.

Selesai makan minum, hari pun dekat lohor, Thia Hong berdua lantas mohon diri, "Setelah persepakatan ini, biarlah kami mohon diri untuk berangkat, Atas hadiah kuda dan benda  mestika, bersama ini pula kami mengucapkan terima kasih, semoga kelak. "

"Dari mana anda tahu akan sumbangan kuda dan sedikit tanda mata dariku?" tanya Ko Bun dengan tercengang.

"Ko-heng dilahirkan ditengah keluarga jaya, dengan sendirinya tidak tahu seluk-beluk pekerjaan kaum Kangouw kami." seru Thia Hong dengan tertawa. "Bicara terus terang, apa yang diucapkan Ko-heng semalam dikamar telah kudengar."

Ko Bun tampak melenggong, akhirnya ia menghela napas dan berkata, "Ai, kungfu anda sungguh hebat dan sukar ada bandingannya, sungguh sangat mengagumkan."