Tujuh Pedang Tiga Ruyung Jilid 08

Jilid 08

Gerak tubuhnya enteng dan cepat, meskipun waktu itu sudah saatnya matahari terbit,, namun orang lain sukar melihat jelas gerakan tubuhnya, sekalipun dapat melihatnya juga akan sangsi mata sendiri yang kabur, karena sukar dipercaya manusia bisa bergerak secepat ini.

Dia mengerahkan segenap tenaganya untuk lari, ia berharap sebelum Mao Bun-ki bangun tidur ia sudah berada kembali disana.

Apa yang dibicarakannya semalam dengan Toan-bok Hong-ceng masih menggelora dalam hatinya, sebab pembicaraan itu telah membangkitkan kenangan masa lalu dan membangkitkan kemurungannya selama berapa hari belakangan ini.

Udara pagi sejuk bagaikan baru diguyur air, kota pada waktu pagi pun tampak semarak, inilah udara cerah yang sering dijumpai didaerah kanglam.

Setelah melewati beberapa wuwungan rumah, dia kembali kerumah penginapan, ia memperhatikan sekeliling tempat itu, lalu melompat turun kebawah, jendela kamarnya masih terbuka seperti waktu keluar tadi, segala sesuatunya tiada perubahan. 

Empat penjuru amat hening, siapa pun tak akan mengira dia pernah meninggalkan tempat itu semalam. Ia tersenyum puas dan menyilanap masuk melalui jendela.

Tapi setelah melihat keadaan didalam ruangan, seketika ia terkesiap, cepat ia pegang kusen  jendela dan melompat keluar pula.

Kiranya terlihat olehnya ada sepasang kaki yang bersepatu terangkat tinggi-tinggi pada pembaringannya. Kusen jendela yang lama tak dibetulkan itu mengeluarkan bunyi gemercit ketika tertekan oleh tangannya.

"Oh, kau telah kembali?" suara teguran diiringi tertawa ringan bergema dalam kamar.

Tiba-tiba jantung Ko Bun berdebar keras, dengan cepat dia melayang turun. Tertampak bayangan orang berkelebat, sesosok tubuh muncul didepan jendela, dengan senyum dikulum orang itu berkata, "Cepat masuk, disini tiada orang lain."

Debaran jantung Ko Bun mereda kembali, sebab bayangan tubuh itu bukan orang yang dikuatirkannya melainkan Sik Ling yang tiada kabar beritanya sejak berpisah dikota Hang-ciu dulu.

"O, rupanya saudara Sik juga datang?" sapanya kemudian sambil tersenyum.

Dia segera melompat masuk kedalam kamar, kemudian merapatkan jendela, keadaan dalam kamar menjadi gelap, rupanya lilin yang dibiarkan menyala waktu pagi tadi kini sudah padam.

Ia berpaling dan memandang sekejap kearah Sik Ling, pikirnya, "Ketika ia datang tadi, lilin pasti masih terang, jelas pasti dia yang memadamkan. Anehnya dari mana dia tahu aku tinggal disini? Apa pula maksudnya datang kemari mencariku?"

Berpikir sampai disini, dia lantas berkaya, "Baru saja aku bepergian hingga membuat saudara Sik menunggu lama, harap suka dimaafkan?"

Dia lantas mempersilahkan tamunya duduk, kemudian ia pun berduduk, terdengar suasana dikamar sebelah hening sekali, tampaknya Mao Bun-ki tertidur nyenyak.

Sambil tersenyum Sik Ling duduk dikursi, lalu berkata, "Orang kangouw ada yang biasa berpesiar ditengah malam, sungguh tak kusangka saudara Siu mempunyai minat berbuat demikian. Sayang kudatang terlambat dan tak dapat menemani saudara Siu."

Air muka Ko Bun berubah hebat, mendadak ia melompat bangun sambil menatap Sik Ling lekat-lekat.

Tapi setelah melihat sorot mata Sik Ling yang tenang, sedikitpun tidak bermaksud jahat, dia menghela napas panjang dan duduk kembali.

"Benar, aku she Siu sudah kuketahui hal ini takkan bisa mengelabui saudara Sik."

"Ai, padahal saudara tak perlu mengelabuiku, tujuh belas tahun yang lalu. " Ia berhenti 

sebentar untuk menghela napas, kemudian melanjutkan, "Sebetulnya aku adalah teman karib  ibumu, selama tujuh belas tahun aku mengembara, tujuanku pun tak lain ingin mengetahui kabar berita tentang kalian, ingin kuketahui apakah kalian selamat. Kini senang sekali dapat bertemu dengan dirimu yang sudah dewasa, mana tampan lagi, aku amat girang, Ai, tujuh belas tahun berlalu tanpa terasa, kupikir ibumu juga tambah tua, bukan?"

Sinar matahari menembus lewat jendela, menyinari wajah jago pedang yang dulu termashur dalam dunia persilatan itu, usia yang tak kenal ampun, kenangan lama yang terlintas kembali, senyuman yang selalu menghiasi ujung bibirnya kini pun lenyap.

Ko Bun turut berguman, "Rambut telah memutih. " Ia mendongakkan kepala, lalu 

melanjutkan, "Ya, ibu memang sudah bertambah tua, sebagian besar rambutnya memutih, pada hakikatnya hampir semuanya berubah, Ai, waktu yang penuh kemurungan dan kesedihan, satu tahun serasa sepuluh tahun, ucapan ini sering dikatakan oleh ibuku, Sik. paman Sik, benar 

juga ucapan itu?"

Pelahan Sik Ling mengangguk, "Lebih baik kau sebut saudara Sik saja kepadaku. selama ini 

hidupku seolah-olah sudah melupakan kenangan lama yang takkan kembali, namun mau-tak- mau aku harus memikirkannya kembali, Saudara cilik, baik2kah ibumu? Bagaimanakah penghidupanmu selama ini?"

Ko Bun tertunduk sambil termenung, tapi akhirnya dia mengatakan juga tempat dia meningkat dewasa, kemudian tambahnya, "Meski rambut ibuku telah putih, tapi badannya tetap sehat, ada kalanya beliau teringat pada teman lama dan ingin kemari menengoknya, tapi. "

"Aku tahu, aku tahu. " bisik Sik Ling sambil menghela napas, "Seandainya aku jadi dia, 

akupun takkan kembali." Kemudian setelah berhenti sejenak, dia melanjutkan, "Tak heran dengan usiamu yang begini muda ternyata menguasai ilmu silat begitu lihay, rupanya kau mendapat pendidikan beberapa Cianpwe yang termashur namanya pada seratus tahun yang lalu, Ai, tujuh belas tahun sudah lampau, waktu itu aku masih muda dan menganggap ilmu pedangku sangat hebat, siapa tahu tiga gebrakan pun aku tak mampu bertahan dibawah serangannya."

Ia mendongakkan kepala dan menatap wajah "Ko Bun", lalu melanjutkan, "Waktu itu bila kutahu kedua orang itu bermaksud baik kepada ibumu, tentu aku takkan turun tangan merintanginya."

Ko Bun tertawa pedih, "Ibu pernah menceritakan kisah tersebut kepadaku." "Selalu kau sebut dirimu sebagai Ko Bun, apakah. "

"Namaku yang sebenarnya adalah Siu Su, ibu yang memberikan nama itu kepadaku, sedang nama Ko Bun tak lain cuma nama samaran saja."

Sik Ling menunduk dan berguman, "Siu Su, Siu Su. " Mendadak ia menengadah dan 

berkata lagi dengan suara lantang, "Tahukah kau apa yang dimaksudkan ibumu waktu memberikan nama itu kepadamu?" Mata Siu Su terbelalak lebar, memancarkan sinar setajam sembilu.

"Adik cilik." Sik Ling melanjutkan kata2nya, "Kau masih muda dan gagah, inilah masa jayamu, dengan kecerdasan dan ilmu silatmu sekarang tidak sulit untuk melakukan pekerjaan yang menggemparkan kolong langit, tapi bila kau lebih menitik beratkan soal dendam kesumat, maka kau telah salah langkah."

Siu Su berkerut kening, kemudian berkata dengan lantang, "Sakit hati ayah lebih dalam dari pada samudra, kalau tidak kubalas, apa artinya hidupku ini sebagai putranya?"

Sik Ling menghela napas, "Ai, tapi tahukah kau bahwa musuhmu adalah pamanmu sendiri? Jika kau berbuat demikian apakah tindakan ini takkan menyedihkan hati ibumu?"

Siu Su menghela napas, ia menunduk, sahutnya dengan suara rendah, "Paman Sik, ibu bilang di kolong langit hanya engkau seorang merupakan sahabatnya yang paling memahami perasaannya, sekarang aku baru tahu bahwa perkataan ibu memang betul, dia selalu merahasiakan peristiwa yang menimpa ayah, tujuannya adalah agar aku jangan membalas dendam. Tapi ai, tiada rahasia yang bisa selalu tersimpan dengan rapat, akhirnya aku tahu 

juga tentang kematian mengenaskan yang menimpa mendiang ayahku, setelah mengetahui hal ini, apakah aku dapat tinggal diam? Sekalipun aku tahu tindakanku ini akan melukai hati ibu, tapi. dendam ayah tetap harus kutuntut balas."

Tiba-tiba Sik Ling tertawa dingin, ejeknya, "Sungguh seorang anak yang berbakti, betul-betul anak yang berbakti "

Setelah berhenti sebentar, tiba-tiba dia berbangkit dan menambahkan, "Dengan tersiksa ibumu memelihara dan membesarkan kau, siapa sangka kau hanya tahu berbakti pada ayah kau bicara soal hidup sebagai anak manusia, padahal ayahmu itu. hmm, hmm!"

"Kenapa dengan ayahku?" tanya Siu Su dengan marah.

"Ayahmu itu. hmm, lebih baik tak kubicarakan." jengek Sik Ling.

Sejak kecil dia dibesarkan bersama dengan Mao Ping, cinta kasihnya begitu mendalam sehingga boleh dibilang merasuk tulang sumsum, tapi akhirnya semua khayalan indahnya lenyap, tentu saja hal ini membuatnya dendam pada Siu Tok.

Cuma saja dia adalah seorang lelaki sejati dan berjiwa besar, kendatipun rasa cemburu membakar hatinya, perasaan tersebut tak pernah dia perlihatkan pada wajahnya. Sampai kini, rasa cemburu yang telah menumpuk selama belasan tahun baru bisa diutarakan keluar.

Mendengar ucapannya, tentu saja Siu Su gusar, 

"Kenapa dengan ayahku?" teriak Siu Su sambil menggebrak meja , "dia adalah seorang  pendekar gagah yang tewas ditangan manusia licik. Paman Sik, meski kau teman akrab ibu dan aku Siu Su menghormat padamu, tapi jika kau berani kurang hormat kepada ayahku, hmm, jangan menyesal jika aku akan bertindak kasar."

"Bagus sekali, bagus sekali," seru Sik Ling sambil tertawa dingin, "ingin kulihat apa yang hendak kau lakukan. "

Tapi sewaktu dia mendongak kepala dan melihat sinar mata Siu Su yang penuh rasa benci dan kejam itu, tergerak hatinya, Mendadak teringat kembali pada sepak terjang "Siu-sianseng" masa hidupnya dahulu.

Diam-diam dia menghela napas dan urung bicara lagi, pikirnya, "Jangan2 dunia persilatan akan muncul seorang gembong iblis lagi?"

Pelahan dia berjalan kepintu, tapi lantas membalik badan dan katanya lagi, "Kalau keputusanmu sudah bulat, aku pun tak akan banyak omong lagi, cukup asal kau tetap ingat pada budi kebaikan ibumu yang telah memelihara dan mendidikmu."

"Hal ini sudah tentu," jawab Siu Su dingin.

Dilihatnya diatas meja ada cawan air teh, dia segera mengambilnya.

Sik Ling menjengek pula, "Kau tak perlu mengambil air teh lagi, aku hendak pergi, Cuma aku ingin memberitahukan kepadamu, lain kali jika ingin bepergian malam, padamkan dulu lampu dan tutuplah jendela, coba kalau tadi aku tidak tidur diranjangmu dan ber-pura2 mendengkur, nona Mao yang berada dikamar sebelah mungkin sudah masuk kesini melakukan pemeriksaan."

Diam-diam Siu Su malu hati, tapi diluar dia tetap bersikap dingin, "Terima kasih atas perhatianmu."

Kembali Sik Ling tertawa dingin, katanya lebih jauh, "Aku tidak membutuhkan rasa terima kasihmu, kaupun tak perlu berterima kasih padaku."

"Hanya berapa patah kata itukah yang hendak kau sampaikan?"

"Masih ada satu hal lagi, lain kali jika ingin merahasiakan asal-usul sendiri, gunakanlah cara yang lebih baik, kalau hanya mengaku sebagai anak saudagar kaya dari selatan, jelas jalan ini sukar ditempuh." Sambil mengebaskan lengan baju pelahan dia berjalan menuju kepintu kamar.

Tiba-tiba bayangan orang berkelebat, dengan wajah dingin Siu Su mengadang dihadapannya sambil menegur dengan suara tertahan, "Kalau bicara hendaknya bicaralah dengan jelas, jangan se-tengah2 dan lantas mau tinggal pergi. "

"Hehe, kalau kukatakan seluruhnya mungkin kau harus berterima kasih kepadaku," kata Sik  Ling.

Siu Su hanya mendengus.

"Meski kau seorang yang pandai." kembali Sik Ling menyambung. "orang lain pun tidak bodoh, Leng-coa Mau Kau bisa mempunyai kedudukan seperti sekarang bukan diperoleh secara kebetulan, dengan usiamu yang masih muda, dan lagi baru kenal dengan Pat-bin-long-kun Oh Ci-hui tapi segera memberi uang puluhan laksa tahil, mustahil orang tidak curiga. Hm, 

memangnya mereka orang goblok semua."

Diam-diam Siu Su mali hati pula, tapi diluar dia tetap berkata dengan ketus, "Kalau curiga lantas kenapa?"

Sik Ling tertawa geli, pikirnya, kekerasan kepala orang ini betul-betul persis bapaknya. Ia lantas menjawab, "Kalau sudah curiga, tentu diselidiki, anggota Thi-ki-sin-pian-tui mereka tersebar disepanjang sungai besar dan hampir diseluruh negeri, asal mereka mengirim orang untuk melakukan penyelidikan, niscaya akan segera diketahui kalau pengakuanmu sebagai anak saudagar kaya hanya bualan belaka."

Jantung Siu Su berdebar keras, keningnya berkerut dan termenung.

Terdengar Sik Ling berkata lagi, "Cuma sebelum anggota Sin-pian-ki-su mereka sampai ditempat tujuan, lebih dulu mereka sudah mampus semua ditanganku, jadi kau pun tak perlu kuatir."

Setelah berhenti sejenak dan mendengus, lalu lanjutnya, "Aku berbuat demikian hanya demi ibumu, kau pun tak perlu berterima kasih kepadaku. . . . Hmm, bila mengingat ayahmu itu.   

biarpun tidak kukatakan juga kau tahu sendiri."

Mendadak Siu Su membentak dengan gusar, "Sudah tiga kali kau bantu diriku, dikemudian hari aku pasti membalas lima kali padamu, tapi bila perkataanmu masih tetap tidak menghormati ayahku, itu lain soalnya dan jangan salahkan aku. "

Belum habis dia berkata, tiba-tiba diluar pintu terdengar suara seorang tertawa genit dan berkata, "Hei ada apa? Kenapa sepagi ini sudah marah-marah pada orang?"

Siu Su dan Sik Ling terperanjat.

Ketukan pintu segera terdengar, kemudian suara merdu itu berkumandang lagi, "Bolehkah aku masuk?"

Buru-buru Siu Su menyingkir kesamping, sedangkan Sik Ling memburu kedepan pintu dan membukanya, katanya sambil tertawa, "Apakah nona Bun-ki yang datang? Pagi benar sudah bangun!" "Sudah siang, tidak pagi lagi!" jawab orang diluar pintu itu. Menyusul tertawa merdu, sesosok bayangan berkelebat masuk kedalam.

Begitu Sik Ling melihat siapa yang muncul, tanpa terasa ia menyurut mundur tiga langkah kebelakang dan memandangi perempuan yang tinggi semampai dihadapannya dengan tertegun.

Siu Su juga heran, pikirnya, "Aneh, kenapa dia bisa datang kemari?"

Sementara itu perempuan tadi masih tertawa cekikikan, ia mengerling sekejap kearah Sik Ling lalu ia memandang Siu Su, katanya dengan tertawa, "Kau heran bukan yang muncul kenapa diriku dan bukan adik Bun-kimu?"

Sambil tertawa ia menghampiri Siu Su, lalu menambahkan, "Coba kau lihat, mukamu sampai pucat karena marah, ada apa sih? Katakan padaku, siapa yang mempermainkanmu? Biar Taci menghajarnya."

Sedapatnya Siu Su menenangkan diri, setelah berpikir sebentar, dengan tersenyum dia memberi hormat dan berkata, "Kukira siapa yang datang, tak tahunya Pek-poh-hui-hoa Lim- siancu (dewi Lim), setelah bertemu dengan wajah dewi semalam, sungguh sukar kulupakan, aku merasa gembira sekali."

Pek-poh-hui-hoa Lim Ki-cing tertawa merdu bagaikan suara keleningan, dia segera mencolek dahi "Ko Bun" dengan jarinya yang putih bersih. "Saudara cilik, mulutmu sungguh manis sekali, begitu manisnya sampai Taci hampir tak tahan."

Ucapan yang terakhir sengaja ditarik panjang se-akan2 terlengket permen karet saja.

Siu Su tersenyum, ucapnya, "Hanya mereka yan bermata buta saja tidak mengenal kecantikan Dewi Lim, ucapanku ini benar-benar keluar dari lubuk hatiku, bila Lim-siancu mengatakan aku hanya manis dibibir saja, sungguh membuat orang penasaran."

Pek-poh-hui-hoa Lim Ki-cing mengerling genit, kemudian tertawa cekikik, "Taci sudah tua, gigi pun hampir ompong, masa masih kau katakan cantik, cuma. "

Setelah membereskan rambutnya yang kusut dan menggoyang pinggul, dia melanjutkan, "Dalam dunia persilatan memang tak sedikit yang mengatakan encimu ini cantik, aku selalu mengira mereka cuma menyanjung belaka, namun setelah mendengar ucapanmu sekarang.    

." Ia mencolek lagi pipi Siu Su, kemudian mengakhiri, "aku sekarang baru rada percaya." Tiba-tiba Sik Ling mendengus, tanpa berbicara dia berjalan keluar.

Mendadak terendus bau harum berkelebat lewat, tahu-tahu Pek-poh-hui-hoa sudah mengadang dihadapannya, dengan tangan kanan menuding, serunya dengan suara merdu, "Mengapa kau mendengus? Apa merasa jemu padaku?" Sorot matanya melewati wajah Sik Ling dan mengerling kearah Siu Su, lalu katanya lagi, "Saudara cilik, beritahukan padaku apakah barusan kau sedang marah-marah padanya?"

Tergerak pikiran Siu Su, cepat ia memburu kedepan sembari berkata, "Aha, kulupa memperkenalkan dirimu kepada Lim-siancu, dia adalah. "

"Hihihi, tak perlu kau perkenalkan lagi, aku sudah tahu siapa dia," seru Lim Ki-cing, "sudah lama kudengar orang membicarakan seorang Liu-long-kiam-kek (jago pedang petualang) yang berasal dari Bu-tong-pai dan bernama Sik Ling, kerjanya cuma luntang-lantung kesana kemari, pekerjaan apa pun tak dilakukan dan merupakan seorang manusia aneh. Begitu mendengar nama Sik Ling segera kurasakan seperti sudah kenal, tapi tak ingat siapakah gerangannya. "

Setelah berhenti sebentar, ia melanjutkan, "Tapi setelah perjumpaan hari ini. Hahaha, baru 

kutahu pada belasan tahun berselang sudah pernah saling berjumpa dirumah Mao-toako, waktu itu sepanjang hari dia selalu mengintil dibelakang adik Mao, tadi aku mengira kalian sedang bertengkar, rupanya kalian adalah sahabat."

Cepat dia mundur selangkah dan tambahnya, "Kalau begitu, aku tak akan mengalangi dirimu lagi."

Selama berbicara, Pek-poh-hui-hoa selalu main mata dengan genit, setiap akhir katanya selalu ditarik panjang-panjang dengan nada agak gemetar, membuat orang yang mendengarnya jadi kesemsem.

Tapi bagi pendengaran Siu Su, ucapannya itu membuat jantungnya berdetak pula, pikirnya, "Kiranya antara dia (Sik Ling) dengan ibu. "

Waktu dia memandang kearah Sik Ling, kebetulan orang pun sedang memandangnya, keduanya sama timbul semacam perasaan yang hangat?

Kembali Sik Ling menghela napas dan pelahan berjalan keluar.

"Sepanjang hari luntang-lantung kian kemari. . . . pekerjaan apa pun tidak dilakukan. selalu 

mengintil dibelakang. " semua perkataan ini tiada hentinya mengiang ditelinganya.

Ia merasakan darah dalam tubuhnya bergolak, pikirnya, "Benarkah aku seorang manusia aneh?"

Dengan termangu Siu Su menyaksikan bayangan punggung Sik Ling yang kurus itu lenyap dibalik pintu, kemudian sorot matanya baru beralih kearah lain.

Tampak olehnya Pek-poh-hui-hoa Lim Ki-cing sedang berjalan kesamping meja, membersihkan kursi dengan lengan bajunya, lalu berduduk, kemudian sambil mengerling ke-empat penjuru, katanya seraya tertawa merdu, "Saudara cilik, tutuplah pintu dan ambilkan air minum buat Cici,  temanilah Cici ber-bincang2."

Pelbagai ingatan terkilas pula dalam benak Siu Su, tiba-tiba tersembul senyuman pada ujung bibirnya, segera dia menutup pintu kamar seraya berguman, "Entah Bun-ki sudah bangun belum? Jika dia sudah bangun pasti akan datang kemari."

Dia se-akan2 sedang berguman dan ditujukan pada diri sendiri, padahal sengaja diperdengarkan kepada Pek-poh-hui-hoa Lim Ki-cing.

Lim Ki-cing tertawa, "Coba lihat kau, siang malam selalu teringat kepada Bun-ki melulu, apakah kau tahu pasti setelaH bangun tidur dia akan kemari?"

Dia menyodorkan cawan teh yang kosong tadi ketangan Siu Su.

Sambil tersenyum pemuda itu menyambutnya, "Ya, bila Bun-ki bangun, dia pasti akan kemari."

"Mungkin cuma kau saja yang berpikir demikian, orang lain belum tentu berpikir sama," kata Lim Ki-cing sambil mengerling genit dan tertawa.

Siu Su tertegun, teh yang dituang kecawan hampir tercecer, buru-buru ia berkata, "Lantas bagaimana menurut pendapat Lim-siancu?"

"Ah, jangan Lim-siancu terus-menerus." Lim Ki-cing pura-pura mengomel, "Kalau kau panggil begitu lagi, apa pun takkan kuberitahukan kepadamu, biar kau berpikir sendiri."

"Habis cara bagaimana harus kupanggil dirimu, supaya kau mau memberitahukan sesuatu padaku?" Lim Ki-cing mengerling genit, sambil tertawa merdu katanya, "Kau. kau panggilku. 

. . . Taci saja, dan aku. ehm, aku pun memanggilmu sebagai saudara cilik, Coba betapa 

bagusnya itu, terasa mesra, enak pula untuk menyebutnya, jauh berbeda bila kau sebut Lim- siancu segala."

Dia menerima cawan teh itu dan minum seceguk, dibawah sinar matahari pagi, diantara kelopak matanya sudah muncul kerutan, namun senyumnya yang mengiurkan membuat perempuan setengah umur ini kelihatan mempesona seperti dahulu.

Dia meletakkan kembali cawan teh kemeja, kemudian tertawa cekikik, katanya lagi, "Kau jangan terburu nafsu, biar Taci memberitahukan kepadamu, setelah bangun tidur, bukan saja adik Bun- kimu tidak datang kemari, dia malah sudah pergi sejak tadi entah kemana."

Sambil menggeleng kepala berulang kali dia melanjutkan, "Kasihan, benar-benar kasihan! Saudara cilik kita ini masih menunggu terus disini dengan tak sabar. Ai, nona Bun-ki memang kebangetan, masa pergi tanpa meninggalkan pesan sepatah kata pun?"

Dengan kerlingan mata yang genit dia tatap Siu Su.  Mendengar itu, Siu Su terperanjat, "Masa begitu pagi dia sudah pergi? Mengapa dia pergi tanpa memberitahukan hal ini kepadaku? Apa yang terjadi?"

Dia memburu kedepan pintu, dia ingin memeriksa sendiri kamar sebelah, tapi pikirannya kembali tergerak.

"Ahh, masa Pek-poh-hui-hoa ini membohongiku?" demikian pikirnya.

Dia segera berhenti, ia membalik badan dan menuju kedepan meja, timbul rasa curiganya, meski sudah dipikirkan pulang pergi, namun ia tidak habis mengerti apa sebabnya Mao Bun-ki pergi meninggalkannya secara mendadak.

Selama berapa hari ini, dia percaya gadis itu telah jatuh kedalam perangkap cintanya, bahkan terjerumus amat mendalam, apa yang dibayangkan gadis yang polos itu setiap harinya adalah bayangan indah masa mendatang, bahkan dia hampir saja batal pergi menemani gurunya dan mau ikut dirinya. 'Tapi sekarang, dia telah pergi!'

Peristiwa ini betul-betul mencengangkan dan membingungkan orang. Siu Su merasakan seperti kehilangan sesuatu, untuk sesaat hatinya terasa hampa.

'Kalau tiada mendapatkan sesuatu, mengapa bisa merasakan kehilangan?' diam-diam ia tanya pada diri sendiri, "apakah aku pernah mendapatkan sesuatu? Dan apakah aku sudah merasakan berharganya sesuatu yang kuperoleh itu? Kalau tidak, mengapa saat ini aku merasakan seperti kehilangan? Lagi pula perasaan ini sedemikian besar?"

Tapi dengan cepat dia membela diri sendiri, "Ah, tak mungkin, aku cuma merasa heran saja, mungkinkah dia tahu aku telah membohonginya maka dia pergi tanpa pamit? Apakah dia tahu aku ini seorang musuh yang datang hendak menuntut balas? Bukankah aku bersikap demikian kepadanya adalah karena ingin kutipu cintanya dan sekaligus melukai hati ayahnya?" 

Persoalan tersebut berkecamuk dalam benak Siu Su dan berubah menjadi tali mati yang sukar dilepaskan, untuk beberapa saat lamanya dia berdiri ter-mangu2 seperti orang linglung.

Pek-poh-hui-hoa melihat keadaannya dengan tertawa cekikikan.

"Coba lihat dirimu, saking gelisahnya hingga berubah seperti patung saja. Mari, duduklah disini, biar Taci menghibur dirimu, kalau dia sudah pergi, kenapa cemas? Memangnya perempuan didunia ini sudah mampus semua? Mao Bun-ki tak lebih cuma seorang budak ingusan, apanya yang hebat?" Siu Su hanya tertawa, pikirnya, "Kukira dia pergi bukan dikarenakan mengetahui asal usulku, kalau tidak, Lim Ki-cing tak akan bersikap demikian kepadaku."

Maka senyuman yang menghiasi wajahnya pun semakin cerah. Terdengar pelayan lagi berteriak, "Ayo yang hendak melanjutkan perjalanan lekas berangkat, hari sudah siang, kalau terlambat pasti akan kepanasan, kalau ingin sarapan, hidangan segera diantar, jangan ada barang yang ketinggalan, jangan lupa rekening penginapan, uang kecil diberi atau tidak tak  menjadi soal."

Lim Ki-cing tertawa cekikikan dan mengajak Siu Su ber-bincang2, kedua matanya mengerling genit penuh arti.

Ketika pertama kali terjun kedunia persilatan dulu, perempuan ini masih muda remaja, waktu itu Suhengnya, seorang jago pedang dari Thiam-cong-pai, yakni Sin-kiam-jiu (si pedang sakti) Cia Kian baru saja mati, karena tak ada yang mengawasinya, hidupnya lantas tidak terkendali lagi.

Selanjutnya meski ada sementara waktu ia pun hidup prihatin, tapi tak lama kemudian kebinalannya kambuh kembali, bahkan semakin menghebat, diantara sepuluh jago muda dalam dunia persilatan paling tidak tiga atau lima orang pernah melakukan hubungan intim dengan Pek-poh-hui-hoa.

Perempuan cantik umumnya, terutama perempuan genit macam Lim Ki-cing, mustahil hatinya tidak tertarik kepada pemuda tampan seperti Siu Su.

Akan tetapi bagaimana dengan Siu Su sendiri? Sudah barang tentu ia pun tahu akan maksud tujuan Lim Ki-cing yang sebenarnya, meski dia benci pada perempuan yang tak tahu malu ini, tapi segera iapun memberitahukan kepada diri sendiri bahwa inilah kesempatan paling baik yang bisa dimanfaatkan olehnya.

Oleh sebab itu, dengan sikap se-akan2 tak tahu apa-apa dia mengajak Lim Ki-cing ber- bincang2 dengan gembira. 

Hanya dalam hati ia selalu bertanya kepada diri sendiri, "Mengapa Bun-ki bisa pergi secara tiba- tiba?"

Matahari sudah tinggi ditengah angkasa, tiba-tiba sipelayan rumah penginapan mengetuk pintu dan masuk kedalam, setelah meletakkan air teh, pelahan mengundurkan diri pula.

Meski pelayan tersebut berusaha keras mengendalikan diri, tapi tidak urung dia mengerling kearah Lim Ki-cing, diam-diam ia menggurutu didalam hati, "Anak muda ini betul-betul amat mujur, kemarin ditemani seorang nona, hari ini berkencan pula dengan seorang nyonya genit."

Beberapa saat kemudian, ia muncul kembali membawakan cawan teh, tujuannya tak lain hanya ingin memandang wajah perempuan cantik ini beberapa kejap lebih banyak.

Maklum musim semi, musim birahi.

Melihat kelakuan sipelayan, Lim Ki-cing berkerut kening, katanya sambil tertawa, "Aku berada disini, tujuanku adalah omong-omong dengan tenang bersamamu, tapi coba kau lihat, tempat ini sangat bising, saudaraku, bila kau tak ada urusan, bagaimana kalau temani Taci ber-jalan2 keluar, nanti kita mencari suatu tempat untuk minum arak baran dua cawan, setelah itu. " Dia tertawa cekikikan, lalu menyambung, "Aku paling suka melihat wajahmu waktu minum arak. Kemarin setelah minum arak, wakjahmu menjadi merah seperti. seperti buah apel."

Maka Siu Su pun segera membayar rekening kamar dan mengikut Lim Ki-cing keluar, katanya dengan tertawa, "Hari ini aku akan menemani Taci bermain sepuasnya, besok aku akan segera berangkat ke Hopak, disitu masih ada urusan dagang ayahku yang harus kuselesaiakn."

"Yang penting kita bermain sepuasnya hari ini." kata Lim Ki-cing sambil tertawa, "bila kau benar- benar mau bermain sepuasnya dengan Taci, besok Taci pasti akan menjadi pengawalmu dan menemani kau ke Hopak."

Siu Su meliriknya sekejap, terlihat pipinya telah berubah merah, diam-diam ia mendamprat didalam hati, "Betul-betul perempuan jalang yang tak tahu malu."

Dalam hati dia menyumpah, namun diluar dia berkata dengan tersenyum, "Bila Taci mau bertindak sebagai pengawalku, sudah tentu aku akan merasa senang."

Setelah keluar dari rumah penginapan, sinar matahari gilang gemilang menyilaukan mata, waktu Siu Su berpaling, dilihatnya air muka Lim Ki-cing berubah hebat.

Ia ikut memandang kesana, tertampaklah ditengah jalan sana berdiri disamping kuda seorang lelaki tegap dan sedang memandangnya dengan sinar mata tajam, dia adalah satu diantara Cu- bo-siang-hui, si pedang sakti tangan kiri Ting Ih.

Ketika angin berhembus, ujung baju Co-jiu-sin-kiam berkibar tiada hentinya, namun tubuhnya bagaikan patung baja, sedikit pun tidak bergerak, wajahnya juga kaku tanpa emosi, hanya kedua matanya memancarkan cahaya berkilat. 

Setelah berubah air mukanya, senyuman manis lantas menghiasi wajah Lim Ki-cing seperti biasa, pelahan dia berjalan mendekat, lalu menegur dengan tertawa, "Ting-suko, mengapa kau pun datang kemari? Bukankah kau bersama Mao-toako telah berangkat ke Hang-ciu?"

Ting Ih hanya mendengus, sinar matanya masih terarah pada wajah Siu Su dan menatapnya tanpa berkedip.

Melihat itu diam-diam Siu Su tertawa geli, pikirnya, "Tampaknya Co-jiu-sin-kiam ini cemburu.   

."

Betul juga segera Ting Ih menjengek, "Hm, memang sudah kuketahui kau penujui bocah ini, makanya enggan turut kembali ke Hang-ciu." 

"Ting-suko, apa maksudmu berkata demikian." 

Kim Ki-cing menarik muka, "Kemana aku suka, kesitu aku pergi, memangnya siapa yang dapat melarang kebebasanku?" Ting ih memandangnya sejenak, kemudian tertawa, katanya kemudian, "Jitmoay, jangan kau marah."

Kembali Siu Su tertawa geli menyaksikan kejadian itu, pikirnya lagi, "Tampaknya Co-jiu-sin- kiam rada jeri kepadanya."

Ketika ia berpaling kembali, terlihat olehnya Lim Ki-cing juga sedang tertawa merdu dan bertanya, "Lantas ada urusan apa kau datang kemari?"

Ting Ih melirik sekejap lagi kearah Siu Su, kemudian katanya, "Sepuluh hari lagi Mao-toako akan menyenggarakan suatu perjamuan untuk para enghiong dikota Hang-ciu, kali ini dia telah mengundang semua tokoh ternama yang berada ditiga belas propinsi utara dan selatan sungai besar, oleh karena itulah ia suruh aku memberi kabar kepadamu, Toako, dia. dia kuatir kau 

main-main sampai lupa daratan."

Tergerak hati Siu Su mendengar perkataan itu, buru-buru dia melangkah maju, ia menjura lebih dulu kepada Ting Ih, kemudian baru berpaling kearah Lim Ki-cing.

"Lim-toaci." katanya dengan tertawa, "Jika kau masih ada urusan penting, biarlah kumohon diri lebih dulu, kesempatan masa mendatang masih panjang, dikemudian hari pasti akan kutemani Toaci untuk minum arak selama tiga hari."

Setelah memberi hormat, dia lantas membalik badan dan berjalan pergi.

Agaknya Pek-poh-hui-hoa menjadi gelisah, serunya, "Kau. . . .kau. " tapi tiada kata 

lanjutannya.

Kemudian terdengar Co-jiu-sin-kiam lagi berkata, "Toako sedang menantikan kita di Hang-ciu, sayang jika kau lewatkan pertemuan besar tokoh dunia persilatan ini."

Siu Su merasa geli bercampur senang, dia tahu se-tebal2nya kulit muka Lim Ki-cing, tak nanti ia menahan dirinya dihadapan Co-jiu-sin-kiam, apa lagi setelah ditunggu Ting Ih, niscaya perempuan itu tak dapat datang mencari dirinya lagi.

Sebaliknya bila kelak dia membutuhkan bantuan perempuan tersebut, setiap saat dia dapat pergi mencarinya. Berpikir sampai disini, satu ingatan terlintas dalam benaknya, tanpa terasa ia tersenyum.

Setelah menyusuri jalan ini, waktu ia berpaling, tertampak olehnya lelaki berdandan sebagai saudagar sedang mengikutinya dibelakang, dia lantas mengangkat tangannya memberi tanda.

Lelaki itu segera bersuit memanggil sebuah kereta besar, setelah naik kedalam kereta itu Siu Su berbisik, "Larikan keluar kota." Kusir kereta itu segera mengayunkan cambuknya dan melarikan kereta dengan cepat.

Siu Su berpaling dan bertanya, "Apakah tugas yang kuberikan kepadamu semalam telah diselesaikan semua?"

Lelaki berdandan saudagar itu memberi hormat lebih dulu, kemudian baru menyahut, "Hamba telah mengutus Song Siau-to segera berangkat ke Hang-ciu, tak sampai tiga hari mendatang pasti ada berita tentang Mao Kau."

Siu Su manggut-manggut tanpa bicara.

Lelaki itu berkata lagi, "Si gemuk she Oh itu menginap semalam disini, dia memanggil dua perempuan menemaninya minum arak, hingga larut malam baru pergi, ada tiga orang dari pasukan Thi-ki-sin-pian-tui menuju ke timur kota, Tan Thi-tau mengikutinya, entah mengapa tahu-tahu ketiga orang keparat itu sudah ditemukan mampus diluar kota, diatas badan mereka hanya terlihat bekas tusukan pedang, jelas cara kerja orang itu amat cekatan sekali, meski Tan Thi-tau coba melakukan pemeriksaan tetap tidak tahu hasil pekerjaan siapakah itu?"

"Ehmm!" Siu Su bersuara singkat, ia tahu pasti pembunuhan tersebut adalah hasil kerja Sik Ling.

Sesudah berhenti sebentar, kembali lelaki berdandan saudagar itu melanjutkan ceritanya, "Sejak pagi tadi Oh gemuk sudah berangkat pulang ke Hang-ciu, sedangkan manusia berbaju biru yang Kongcu perintahkan untuk diselidiki asal-usulnya, hingga kini hamba belum tahu dengan jelas, semalam baru saja kukuntit dia sampai setengah jalan, hanya sekejap dia lantas menghilang, Kongcu, lihai sekali orang ini, sudah lama aku Gu Sam-gan berkecimpung dalam dunia persilatan, tapi belum pernah kujumpai jago cekatan seperti dia."

Siu Su tersenyum, "Aku sudah mengetahui asal-usul orang ini, tak perlu kau selidiki lagi."

Ketika dia berpaling dan melihat wajah Gu Sam-gan menunjukkan perasaan kagum, sambil tertawa katanya pula, "Tahukah kau perempuan yang berada bersamaku semalam telah pergi kemana?"

Gu Sam-gan atau Gu simata tiga terbelalak heran, sahutnya, "Semalam bukankah dia bersama Kongcu menginap dirumah penginapan itu? Ia tak pernah keluar lagi!"

"Oo. " Siu Su berkerut kening dan merasa heran juga.

"Lantas kemanakah dia telah pergi?" tanpa terasa ia termenung dan berpikir keras.

Sementara dia masih berpikir, Gu Sam-gan berkata lagi dengan hormat, "Sekarang masih ada lima saudara yang menanti dirumah abu keluarga Can diluar kota, bila Kongcu masih ada perintah, hamba segera akan menghubungi mereka." "Selama berapa hari ini kalian pasti amat lelah," kata Siu Su dengan tersenyum. Dari sakunya dia mengeluarkan selembar uang kertas, tanpa dilihat segera diserahkan kepada lelaki itu, katanya pula, "Sedikit uang ini hendaknya kau terima untuk minum arak."

Gu Sam-gan melotot, sambil bertepuk dada serunya nyaring, "Kongcu, apa artinya ini? Tempo hari engkau sudah memberi seribu tahil kepada kami, sampai sekarang pun uang tersebut belum kami habiskan, masa sekarang engkau memberi lagi? Kongcu, aku melakukan pekerjaan untukmu dengan berlarian kesana kemari bukan karena kami mengharapkan uang darimu, Liang Siang Jin, Liang-toako menyuruhku mengikuti dirimu, maka aku menuruti perkataannya, coba kalau orang lain, belum tentu aku Gu Sam-gan sudi mendengarkan perkataannnya, Liang- toako bilang kecuali Kongcu seorang yang betul-betul seorang enghiong didunia ini, dikolong langit ini tak ada orang kedua, Pada mulanya aku tidak percaya tapi sekarang aku percaya, cukup dilihat dari caramu. "

Siu Su tersenyum dan menukas ucapan lelaki kasar ini, "Hal ini tentu saja aku pun mengerti, cuma uang ini ada baiknya kau terima saja, meski kau pribadi tidak membutuhkannya, tapi anak buahmu mungkin membutuhkannya. "

Akhirnya dia menyusupkan uang kertas itu ketangan Gu Sam-gan, kemudian melanjutkan, "Aku pun ingin pergi kerumah abu keluarga Can untuk me-lihat2, sekalian hendak kucari orang untuk menyampaikan surat kepada Liang-toako dan ketiga saudara keluarga Liong, suruh mereka segera berangkat ke Hang-ciu dalam sepuluh hari mendatang."

Gu Sam-gan segera membusungkan dada dan berkata, "Sekarang kita sudah keluar kota, rumah abu keluarga Can terletak tak jauh didepan sana."

Kemudian dia berseru pada sikusir kereta, "Hei, Siau Mao, cambuklah kudamu agar lari lebih cepat."

Sambil tertawa lalu dia berpaling dan berkata lagi, "Kongcu kusir keretaku ini kunamakan Siau Mao (Mao Kau cilik), coba kau lihat bagus tidak namanya? Hehehe. coba lihat, betapa keras 

Siau Mao mencambuk kudanya, namun tak melukai seujung bulunya, mungkin Mao gede saja belum tentu mampu berbuat demikian."

Siu Su tertawa mendengar perkataan itu, ia mendengar sikusir kereta dengan bersemangat sedang mengayunkan cambuknya berulang kali, kuda pun lari terlebih cepat.

Gu Sam-gan duduk disisi kusir sambil membusungkan dada, menentang hembusan angin dari depan, ia kelihatan bangga sekali. 

Meski pada saat ini dia berdandan sebagai seorang saudagar, namun tubuhnya dari atas kepala sampai kekaki sedikit pun tidak memperlihatkan tampang seorang saudagar.

Sekali lagi sikusir mengayun cambuknya, kemudian membentak keras, tiba-tiba kereta itu berhenti. Dengan cekatan Gu Sam-gan melompat turun membukakan pintu kereta dan menarik napas panjang, lalu hidungnya berkembang kempis sambil bergumam, "Ehmm, harum, sedap sekali. Entah darimana anak-anak berhasil menangkap seekor anjing liar? Kongcu, apakah pernah kau makan daging anjing? Wah, harum sekali, kalau tidak percaya coba enduslah baunya. Rupanya beberapa saudaraku sedang masak daging anjing disitu. Siau Mao, parkir keretamu ditepi 

jalan sana dan mari cicipi barang dua mangkuk."

Siu Su tersenyum, dalam hati berpikir, "Penjagal anjing umumnya termasuk orang rendah dan kasar, namun banyak juga lelaki setia dan berbudi, sebaliknya kawan yang berpakaian rapi dan makan hidangan mewah itu, hmm "

Sejauh mata memandang, empat penjuru hanya semak belukar belaka, suasana sepi, tak kelihatan seorang pun, dibelakang beberapa batang pohon Yang-liu sana tampak ujung bangunan, mungkin disitulah letak rumah abu keluarga Can.

Udara diluar kota memang jauh lebih sejuk, ditengah udara segar tiba-tiba terendus bau harum sedap merangsang selera makan.

Sambil tersenyum Siu Su berkata, "Sering kudengar bahwa daging anjing adalah daging terharum maka dinamakan daging harum dalam daftar menu, meski begitu aku belum pernah mencicipinya, hari ini aku ingin turut mencicipi daging yang termashur ini!"

"Hahaha. Kongcu, bukan hamba sengaja jual kecap, bila engkau sudah mencicipinya, 

tanggung takkan suka lagi makan daging ayam, itik, ikan dan daging lain." kata Gu Sam-gan sambil tertawa ter-bahak2. "Wah, rasanya. . . .ehmm, ckk-ckk. sukar untuk dilukiskan."

Rumah berhala itu sudah lapuk dimakan usia, banyak kapur dinding sudah rontok, pintu gerbang yang semula berwarna merah kini lantaran sudah terlalu tua telah berubah menjadi kuning, gelang pintu pun berkarat hingga berubah menjadi hitam.

Sambil melangkah kedalam, dengan gembira Gu Sam-gan segera berteriak, "Hei. ! kalian 

jangan cuma makan daging anjing melulu, ayo cepat keluar dan lihatlah siapa yang datang ini!" Siapa tahu suasana didalam ruangan tetap sunyi senyap tak kedengaran sedikit pun suara.

Dengan kening berkerut Gu Sam-gan segera memaki, "Kawanan anjing itu barang kali makan daging anjing hingga lupa daratan?"

Dengan langkah lebar dia segera masuk kedalam, tampak diruang tengah terdapat api unggun, diatas api unggun tergantung sebuah kuali yang disanggah oleh tiga batang kayu, uap panas mengepul dari dalam kuali, dari sana pula bau sedap itu terendus.

Di kedua sisi api unggun itu bukan berduduk orang-orang yang mereka cari, melainkan dua orang kakek kurus kering dengan rambut dan jenggot yang telah beruban semua, mereka  sedang mengawasi daging anjing didalam kuali tanpa berkedip, pada tangan salah seorang kakek itu memegang sebuah buli-buli besar yang cukup memuat tiga kati arak, mereka sama sekali tidak memandang sekejap pun akan kedatangan Gu Sam-gan, 

Gu Sam-gan jadi tertegun dan berdiri mematung, mulutnya terngaga lebar, tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun.

Siu Su ikut masuk dibelakangnya dan juga tercengang.

Kedua orang kakek itu mengenakan jubah pendeta To yang sudah rombeng, meski disana-sini penuh tambalan, namun pakaian itu tercuci bersih, jenggot mereka yang putih terjulur kebawah, sedangkan rambutnya yang beruban digelung diatas kepala dan disunduk dengan sepotong kayu hitam sebagai tusuk kundai.

Setelah menenangkan hatinya, Gu Sam-gan baru melangkah maju, tegurnya, "Toya berdua, apakah kalian melihat kemana perginya lima orang saudara kami?"

Kedua kakek yang berdandan tosu bukan tosu itu saling pandang sekejap, kemudian tertawa, "Siapakah saudaramu itu?" sahut salah seorang.

Sekali lagi Gu Sam-gan tertegun, sahutnya, "Saudara2ku itu. ehm, yang seorang jangkung 

kurus berdandan sebagai penjual obat, membawa sebuah kotak obat. Yang seorang lagi berjenggot lebat, mengenakan baju hitam, orang ketiga berbadan gemuk, berperut besar. "

Kedua kakek itu sama-sama menggeleng kepala. Salah seorang diantaranya yang berperawakan agak tinggi, sama duduk dilantai pun lebih tinggi satu kepala daripada tosu yang ceking, ia tertawa dan menjawab,

"Tak seorang pun diantara orang-orang yang kau katakan itu kulihat."

"Sejak fajar tadi kami sudah sampai disini, tak tampak sesosok bayangan manusia pun, mungkin orang-orang yang kau sebutkan itu sudah pergi semua."

"Sungguh?" tiba-tiba Gu Sam-gan membentak dengan mata melotot.

Tapi kedua kakek itu hanya tersenyum dan tidak memandangnya lagi, salah seorang diantaranya malah mengambil sepasang sumpit yang panjang untuk meng-aduk2 isi kuali.

Gu Sam-gan melotot pula dan bermaksud membentak lagi, mendadak bahunya terasa kencang dan terseret mundur tiga langkah, waktu berpaling, dilihatnya sorot mata Siu Su menampilkan rasa curiga, se-akan2 ada sesuatu yang membuatnya terperanjat.

Sejak masuk kesitu Siu Su lantas melihat kedua kakek itu bukan orang sembarangan, maka ketika Gu Sam-gan membentak, dia sengaja berdiri dikejauhan sambil memperhatikannya. Dilihatnya meski pakaian yang dikenakan kedua kakek itu rombeng dan penuh tambalan, tapi telapak tangannya justeru putih bersih, malah orang yang berperawakan agak tinggi itu memelihara kuku yang panjangnya hampir dua inci dan bagian ujungnya melingkar, seketika hatinya tergerak.

Kemudian kakek yang lain menggunakan sumpit untuk mengaduk-aduk kuah daging anjing, ia menemukan peristiwa yang lebih mengherankan lagi.

Tubuh kakek itu pendek, sebaliknya kuali itu tergantung cukup tinggi, seharusnya uluran tangannya sukar mencapai kuali.

Tapi kenyataan, meski badannya tak bergerak, akan tetapi lengannya yang terulur itu se-olah2 mendadak mulur lebih panjang berapa inci, hal ini membuat Siu Su sangat heran.

"Masa ditempat ini terdapat seorang tokoh yang bertenaga dalam sempurna begini?" demikian ia berpikir.

Perlu diketahui, waktu itu sudah mendekati musim panas, Gu Sam-gan yang berdiri sejenak saja ditepi api unggun sudah bermandikan keringat, namun kedua kakek itu masih tetap tenang2 saja sedikit pun tidak terasa kepanasan, hal ini jelas gejala khas seorang jago yang bertenaga dalam sempurna, Siu Su adalah seorang jago muda yang pernah memperoleh didikan beberapa tokoh locianpwe dunia persilatan, tentu saja cukup mengetahui mutu kepandaian seseorang, maka ketika dilihatnya Gu Sam-gan hendak mengumbar hawa amarahnya buru-buru dia maju kedepan dan menariknya, untuk sesaat Gu Sam-gan berdiri melongo dan tidak tahu apa gerangan yang terjadi.

"Pluk", tiba-tiba api unggun meletupkan segumpal bunga api.

Kakek itu cepat menyumpit gumpalan bunga api yang meletup keatas itu dan segera dibuang kelantai, setelah itu dia melanjutkan lagi pekerjaannya, mengaduk-aduk isi kuali dan menyumpit sepotong daging.

"Tampaknya daging ini sudah masak." gumamnya, disuapnya daging itu kemulut dan dikunyah dengan nikmatnya.

Siu Su tersenyum, ia menyeret Gu Sam-gan ke samping, ia sendiri maju ke depan dan memberi hormat, katanya, "Permisi Lotiang!"

Kedua kakek itu melirik bersama dan mengangguk, "Silakan!"

Setelah memperhatikannya dari atas hingga kebawah, sikakek tinggi berkata lagi dengan tertawa, " Apakah ingin mencicipi daging sedap ini?"

Siu Su memandang sekejap, segera ia duduk bersila ditanah, sahutnya sambil tertawa, "Ingin  sih memang ingin, tapi tak berani bilang."

Kedua kakek itu tertawa bersama dan lantas menyodorkan sumpit kepada pemuda itu, tanpa sungkan Siu Su menyambutnya dan segera makan minum dengan lahapnya.

Gu Sam-gan terkesima menyaksikan tingkah laku mereka itu.

Terdengar si kakek ceking tertawa lagi sambil berkata, "Sicu yang satu itu apakah ingin kemari juga? Silakan makan seadanya."

Sorot matanya segera beralih kearah Siu Su, setelah menatapnya beberapa saat, ia berkata lagi sambil tersenyum, "Sudah puluhan tahun kutinggalkan daerah Kanglam, sungguh tak nyana orang-orang Kanglam makin lama semakin tampan dan pintar, hal ini patut digirangkan."

Tapi Gu Sam-gan sedang menggurutu, "Kawanan anjing itu entah kabur kemana? Sungguh menggemaskan!" 

Dengan langkah lebar dia segera berjalan keluar.

Melihat itu, sambil tersenyum sikakek ceking berkata, "Rekan Sicu itu benar-benar seorang lelaki yang berdarah panas. "

Setelah berhenti sebentar, tiba-tiba ia menghela napas panjang, kemudian lanjutnya, "Cuma saja dunia persilatan penuh dengan kelicikan dan kemunafikan, hati manusia sukar diduga, menjadi orang juga tidak perlu terlalu bersemangat, kalau tidak kita sendiri yang kan rugi."

Bicara sampai disini, dia mengalihkan sorot matanya dan mengawasi kobaran api unggun dihadapannya, dia seperti melamun, tapi tak tahu apa yang sedang dipikirkannya.

Tergerak hati Siu Su, pikirnya, "Ilmu silat kedua orang ini sangat lihai, perbawanya pun luar biasa, jelas mereka orang yang punya asal-usul, tapi sekarang seperti sengaja menghilangkan jejak untuk menghindari sesuatu, entah apa sebabnya."

Bau sedap yang tersiar dari kuali berisi daging itu makin lama makin keras, makin mendidih baunya makin harum. . . . .

Kakek berperawakan tinggi itu tertawa terbahak-bahak. "Hahaha, kejadian sudah lama lewat, dipikirkan lagi hanya bikin hati duka, buat apa kau meniru kaum wanita dan memikirkan soal yang tak dapat dipecahkan? Selama belasan tahun, kau telah menjelajahi seluruh negeri, apakah timbunan salju digunung Tiang-pek, air beku di sungai Hek-liong, pasir kuning di Say- pak dan padang rumput di Ho-say, semua itu belum dapat membuka pikiranmu? Mari, mari minum arak sambil bernyanyi, hidup manusia berapa lama, mari kita minum seteguk."

Kakek yang lain juga terbahak-bahak, sambil memukul kuali dengan sumpit, dia bernyanyi dengan suara lantang. Seusai menyanyi, mendadak tangannya berayun, sumpit panjang segera meluncur kedepan secepat kilat. erat, sumpit itu menancap didinding dan lenyap.

Daging dalam kuali terendus makin harum, ketika angin berhembus, kobaran api tertiup condong kesamping. . . . .

Diam-diam Siu Su menghela napas panjang, pikirnya, "Nyanyi bagai menangis, pahlawan menghadapi jalan buntu. tampaknya kedua orang ini gagah perkasa, tapi entah persoalan 

apa yang membuat hati mereka sedih "