Tujuh Pedang Tiga Ruyung Jilid 06

Jilid 06

Sekalipun usia dan tingkatannya selisih jauh daripada Lo-tiau, namun bicara soal kedudukan di dunia persilatan, belum tentu ia lebih rendah dari pihak lawan.

Maka sambil tertawa dingin katanya, "Benda yang berada di alam semesta ini diperuntukkan setiap manusia, sampai waktunya bila Mao-toako tidak pergi mengambil, aku orang she Lim justru akan mengambilnya. Akan kulihat betapa hebat kau si elang tua (lo-tiau) ini."

Dengan gusar Siau Lo-tiau menggebrak meja, seorang lelaki berusia tiga puluhan yang duduk di sampingnya segera melompat bangun dengan wajah marah.

Dia bukan lain adalah Congtoacu dari tujuh belas benteng perairan di telaga Ko-yu dan Hongtik, keturunan ke empat keluarga Siau, Kim-li (si ikan emas) Siau Peng. Dengan kemunculan itu, sudah terang bermaksud mewakili ayahnya untuk bertarung.

Tapi Kiong-sin Leng Liong segera berkata sambil tertawa, "Setelah Siau Lo-tiau berkata demikian, aku si pengemis tua baru tahu hubungan antara kalian sesungguhnya penuh lika-liku. Tapi bicara pulang-pergi, tahukah kalian sesungguhnya apa persoalannya?"

Sinar matanya beralih ke wajah Mao Kau, kemudian katanya lagi, "Tadi si monyet kecil bilang dia tak bisa mengambil keputusan, sekarang tentu dapat kauputuskan bukan? Nah, aku ingin bertanya padamu, bukankah kau telah mendapatkan rahasia tentang letak harta karun itu dari orang Kai-pang? Seandainya perbuatan kalian tidak diketahui siapapun tentu tak menjadi soal. Kini aku si pengemis tuapun sudah tahu. Bila aku bersama kawanan pengemis cilik lainnya bersama-sama datang menegurmu, coba apa yang akan kaulakukan?"

Dari pembicaraan ini, suatu rahasia yang selama ini tertutuppun segera terungkap.

"O, rupanya persoalan ini ada sangkut pautnya dengan pihak Kai-pang?" demikian semua orang berpikir.

Meski begitu mereka tetap belum tahu barang apakah yang sebenarnya tersimpan di telaga Hongtik dan Ko-yu itu sehingga Leng-coa Mao Kau yang enggan bermusuhan dengan orang itu kini harus bersitegang dengan pihak Kai-pang?

Sekali lagi Siau Lo-tiau mengerutkan dahi. Ia tahu persoalan yang menyangkut yang menyangkut orang Kay-pang memang sukar diselesaikan.

Dilihatnya Leng-coa Mao Kau memang tak malu sebagai pentolan Lok-lim. Dalam keadaan begini wajahnya tetap tidak berubah sama sekali.

Terdengar Mao Kau berkata sambil tertawa, "Mestika yang ada di dunia ini akan diperoleh mereka yang bijaksana. Sekalipun aku Mao Kau seorang yang tak becus juga tak berani menantang takdir. Karena itu, setelah kutahu rahasia ini akupun akan berusaha mendapatkannya. Sedang mengenai soal lain, sayang Mao Kau terlalu bodoh sehingga tak tahu bagaimana mesti menjawab."

Lebih dulu ia menyebut 'takdir', kemudian mengatakan dirinya 'bodoh', pokoknya dia tak peduli soal lain. Maksudnya bila kalian punya kepandaian, silakan berebut dengan aku.

Sudah barang tentu Kiong-sin Leng Liong dapat menangkap arti perkataannya. Dengan gusar ia berkata, "Kalau begitu, aku si pengemis tua akan mohon petunjuk lebih dulu dengan kau si pentolan Lok-lim ini!"

Selama kejadian itu berlangsung, Ko Bun cuma diam saja, terkadang ia bicara dengan Mao Bun-ki. Tapi sekalipun sedang berbicara, ia tetap mengikuti setiap kata pembicaraan yang sedang berlangsung.

Maka ketika didengarnya Kiong-sin Leng Liong hendak turun tangan sendiri menghadapi Leng-coa Mao Kau, air mukanya segera berubah, seakan-akan kuatir Leng-coa Mao Kau kalah di tangan orang. Melihat pemuda itu menguatirkan keselamatan ayahnya, hati Bun-ki terhibur, pikirnya, "Semula aku mengira ia kurang senang kepada ayah, ternyata dugaanku salah."

Dalam pada itu air muka Leng-coa Mao Kau juga berubah, sorot mata semua orang juga tertuju ke arahnya.

Di tengah suasana yang kritis inilah, suara pujian kepada sang Budha mendadak berkumandang.

Setelah memuji keagungan Budha, Bak-it Siangjin dari Siau-lim-pai memandang sekejap wajah para jago di sekeliling ruangan, kemudian berkata, "Sicu sekalian adalah jago kenamaan dunia persilatan dewasa ini, sekalipun sudah lama kuhidup terpencil di atas gunung, namun selalu merasa kagum terhadap nama2 besar kalian "

Kiong-sin Leng Liong tertawa, serunya, "Taysu terlalu merendahkan diri, padahal kami cuma kamu silat kasaran. Mana bisa dibandingkan dengan Taysu yang hidup bebas menyenangkan."

Sesudah tertawa nyaring, dia melanjutkan, "Apalagi kungfu Siau-lim-pai sudah termashur. Bila Taysu menganggap kami sebagai tokoh persilatan, entah orang lain, tapi aku si pengemis tua merasa malu sendiri, cuma "

Setelah menatap sekejap sekitar tempat itu, lalu sambungnya, "Sudah lama Taysu tidak mencampuri urusan duniawi, apakah kedatangan Taysu kali ini juga disebabkan harta karun ini?"

Selama puluhan tahun menjagoi dunia persilatan, Kiong-sin Leng Liong termashur sebagai manusia yang sukar dihadapi, tak heran ucapannya kedengaran tajam dan bernada menyindir.

Bak-it Siangjin segera menukas, "Siancai, meski tak becus, kehidupanku di pegunungan telah membuat sifat kerakusan lenyap dari hatiku. Meski harta mestika yang kalian maksudkan adalah "Sam-cai-po-cong" yang diidamkan setiap umat persilatan, namun mestika itu belum membuatku kemaruk untuk mengangkanginya sendiri. Jadi sicupun tak perlu sangsi dan curiga."

Terkerut kening Mao Kau, lalu tertawa nyaring, "Hahaha, Siangjin tak usah memberi penjelasan, akupun tahu seorang Bu-lim-cianpwe seperti Siangjin takkan berebut barang sampingan dengan wanpwe sekalian. Sebab kalau sampai berbuat begitu bukan lagi Bu-lim- cianpwe namanya."

Selesai berkata ia lantas tertawa nyaring pula, sementara matanya melirik sekejap ke arah Kiong-sin Leng Liong. Jelas ucapan itu bernada menyindir seakan-akan mengatakan mereka yang turut ambil bagian dalam perebutan itu bukan Bu-lim-cianpwe.

Kiong-sin Leng Liong mendongakkan kepala dan tertawa keras, suaranya lantang mengatasi gelak tertawa Leng-coa Mao Kau, berhenti tertawa matanya lantas melotot.

"Cara kerja pengemis tua selamanya terang-terangan, "serunya lantang, "orang she Mao, kalau bicara hendaknya jelas sedikit. Meski aku pengemis tua terkenal miskin, namun bukan orang yang suka menganiaya kaum muda, apalagi berebut barang dengan orang muda macam  kau. Cuma peta Sam-cai-po-cong diperoleh kaum pengemis dengan susah payah, jika ada yang ingin merebutnya, tentu saja aku pengemis tua takkan tinggal diam."

"Betul, peta mestika itu diperoleh Ho-sute dari anggota pengemis kalian. Tapi waktu itu anak buah kalian terluka oleh bidikan panah penjaga benteng perairan. Ho-sute telah menolong jiwanya, mungkin lantaran berterima kasih atas budi pertolongannya, maka peta itu diberikan kepadanya."

Setelah berhenti sebentar, sambil tertawa dingin sambungnya lagi, "Apakah kejadian semacam inipun dianggap suatu perampasan?"

"Orang she Mao, sekalipun kau putar balik persoalan juga tak ada gunanya, "bentak Kiong- sin Leng Liong, "walaupun murid kami terluka oleh bidikan panah, andaikata tiada 'pertolongan' Ho-sutemu, kurasa jiwanya juga tak sampai melayang."

Setelah mendengus, katanya lagi, "Hmm, bila kau anggap peristiwa ini akan berlangsung tanpa diketahui orang, maka keliru besar dugaanmu itu. Ketahuilah, bila tak ingin diketahui orang, kecuali kau sendiri tidak berbuat."

Seraya berkata, tokoh yang termashur karena ilmu Kun-goan-it-khi-tong-cu-kang itu mengambil dua buah poci di atas meja, lalu diremasnya sehingga berubah menjadi sepotong toya timah.

Para jago yang hadir ini rata2 berilmu silat tinggi, namun mereka dibuat kagum juga oleh kelihaian tenaga dalam orang.

"Blang", Kiong-sin Leng Liong menggetukkan toya timah itu ke meja, lalu katanya lagi, "Nah, orang she Mao, bila kau tahu diri, cepat kau kembalikan peta mestika itu kepadaku. Mengingat suhumu si hwesio dari Ngo-tai-san yang sudah tiada, bukan saja soal ini takkan kusinggung lagi, bahkan apapun yang hendak kau lakukan dalam dunia persilatan juga tak akan kucampuri. Kalau tidak, jerih payahmu yang kaupupuk selama ini akan mulai goyah."

Baru saja Leng-coa Mao Kau hendak menjawab, Kim-gan-tiau (si Rajawali bermata emas) Siau Ti telah berdiri dan menimbrung, "Aku si orang tua tidak peduli siapa yang mendapatkan peta mestika itu. Aku hanya tahu benda itu milik orang-orang di telaga Ko dan Hong, berarti milik benteng perairan keluarga Siau kami. Bila kalian sobat dari daratan ingin mengincar barang kami, kecuali membantai semua Saudara dari tiga puluh enam benteng perairan, jangan harap keinginan tersebut dapat tercapai!"

Pada dasarnya dia memang berperawakan kereng dan gagah, apalagi dalam keadaan gusar. Alis matanya menegak, sinar matanya setajam sembilu, ditambah suaranya lantang seperti bunyi genta, sungguh ia tak malu disebut seorang pentolan 39 buah benteng perairan. 

Ko Bun menggunakan sumpitnya menjepit sepotong daging iga dan dikunyahnya pelahan. Melihat ketiga pihak itu saling ngotot, dengan berpeluk tangan ia saksikan mereka cakar- cakaran sendiri. Leng-coa Mao Kau dengan kedudukannya sebagai Lok-lim-pangcu berdiri diantara Kiong-sin Leng Liong dan Kim-gan-lo-tiau. Dia sama sekali tidak gentar. Masing-masing saling menatap dengan tajam. Persoalan mereka sedemikian rumitnya sehingga boleh dibilang tiada satu pihak yang menduduki posisi di atas angin.

Itulah sebabnya saat itu tiada yang berbicara lagi. Masing-masing sibuk merancang bagaimana caranya mengadu domba pihak yang lain, dan dia sendiri tinggal meraih keuntungan.

Para jago yang hadir waktu itu rata-rata merupakan jago kenamaan, tapi tiada seorangpun buka suara, sebab mereka tahu ketiga orang itu sama-sama sukar dihadapi. Meski diantara mereka ada yang lebih erat hubungannya dengan salah satu pihak, tapi juga enggan ikut terjun ke dalam air keruh.

Selama ribut2 Bak-it Siangjin hanya diam saja, wajahnya tanpa emosi, tapi begitu semua jago membungkam dengan kening berkerut ia baru berbicara, "Omitohud!" serunya, "sudah setengah harian sicu sekalian ribut tanpa hasil, sebab siapa pemilik Sam-cai-po-cong tak bisa diselesaikan dengan pertentangan antara kalian bertiga saja."

Mendengar ucapan itu, serentak para jago mengalihkan sorot matanya ke wajah pendeta ini. "Taysu, apa maksud ucapanmu ini? Aku si pengemis tua tidak mengerti, "seru Kiong-sin 

Leng Liong.

"Apakah Siangjin pun berminat atas benda itu?" sambung Leng-coa Mao Kau pula.

Sedangkan Kim-gan-lo-tiau menggebrak meja sambil tertawa terbahak-bahak, "Hahaha, bagus sekali, bagus sekali. Lebih baik pendeta sakti dari Siau-lim-si saja yang memberikan keadilan."

Tangannya yang besar segera menepuk bahu Kim-li Siau Peng yang duduk di sampingnya, kemudian menambahkan, "Peng-ji, masih ingatkah kau apa yang sering kukatakan? Hanya Siau-lim-pai saja yang bisa dianggap perguruan baik dalam dunia persilatan, sekarang coba kaulihat, para jago sudah melupakan peraturan terpenting yang ditetapkan jago-jago darat dan perairan di Cin-nia dulu yang menetapkan bahwa 'pihak perairan dan daratan terpisah pada wilayah masing-masing, pihak satu tak boleh menjajah pihak yang lain', syukur pendeta suci Siau-lim-pai telah muncul untuk memberi keadilan."

Diam-diam Ko Bun tertawa geli, pikirnya, "Tua bangka ini memang lihai, dia telah melemparkan abu hangat ke tangan si hwesio."

Perlu diketahui, persoalannya sekarang telah menjadi masalah pelik, siapapun tak dapat menyelesaikan masalah ini. Maka setelah Kim-gan-lo-tiau melemparkan soal ini ke tangan Bak- it Siangjin, tanpa terasa Ko Bun ikut mengalihkan sorot matanya kepada si pendeta dari Siau- lim-si ini. Dia ingin tahu bagaimana caranya pendeta ini menyelesaikan masalah tersebut.

Semua jagopun merasa kagum atas kelicikan si rajawali tua. Semua orang bukan orang bodoh, tentu saja mereka tahu apa maksud yang sebenarnya dari perkataannya itu. Bak-it Siangjin tetap tenang, ujarnya dengan perlahan, "Sicu, kalau dilihat dari napsu kalian untuk memperebutkan harta karun Sam-cai-po-cong tanpa segan mengorbankan kehormatan masing-masing, kukira selain emas intan, mungkin dalam Sam-cai-po-cong terdapat pula senjata mestika atau obat mujarab yang bisa menghidupkan lagi orang mati. Tapi tahukah kalian akan asal-usul yang sebenarnya dari Sam-cai-po-cong tersebut?"

Pertanyaan ini membuat para jago sama melengak. Semula mereka memang heran apa sebabnya orang-orang itu getol memperebutkan mestika tersebut, benda apakah yang membuat jago-jago lihai itu menjadi bernafsu untuk mendapatkannya?

Kemudian setelah mendengar nama "Sam-cai-po-cong", mereka baru tahu mestika ini menyangkut sejumlah harta karun yang sudah berusia ratusan tahun. Meski begitu mereka tidak tahu benda apa saja yang terdapat di balik harta karun itu, apalagi asal-usulnya.

Tak heran suasana menjadi gempar setelah mendengar pertanyaan pendeta Saiu-lim itu, sebab baik soal senjata mestika, obat mujarab atau harta karun berupa emas intan, semuanya menimbulkan rangsangan bagi setiap orang yang hadir.

Mao Bun-ki yang masih muda dengan rasa ingin tahunya yang besar, kontan terbelalak matanya demi mendengar kisah tersebut.

Ia melirik sekejap ke arah Ko Bun, melihat pemuda itu asyik makan, sambil tertawa geli dia menarik ujung bajunya dan menegur lirih, "Eh, bagus amat nafsu makanmu, masa dalam keadaan beginipun masih bisa makan?"

Berada dalam keadaan begini, kecuali Ko Bun seorang, memang tiada orang lain yang bernafsu untuk bersantap.

Kiong-sin Leng Liong memandang sekejap ke sekeliling tempat itu. Melihat semua orang membungkam, dia lantas tergelak, "Hahaha, pertanyaan Taysu memang sangat bagus. Kutahu serba sedikit tentang asal-usul Sam-cai-po-cong tersebut."

Leng-cao Mao Kau segera mendengus.

Kiong-sin Leng Liong tidak menghiraukannya, ujarnya lebih jauh, "Seratus tahun yang lampau, dalam dunia persilatan terdapat tiga orang cianpwe persilatan dengan nama Sam-cai- lian-beng (persekutuan tiga unsur) yang menguasai 'jual-beli' kalangan Lok-lim " 

Belum habis dia bicara, Kim-gan-lo-tiau segera menimbrung, "Thian-ih (tabib langit), Te-sat (malaikat bumi) dan Jin-mo (manusia iblis) merajai dunia persilatan masa itu dengan kepandaian yang tinggi. Setiap jual beli yang terjadi dalam kalangan Lok-lim harus menyumbangkan tiga bagian sebagai upeti untuk mereka. Meski aku si tua bangka berpengetahuan cetek, namun kalau Cuma soal ini sedikit banyak akupun tahu."

Berbicara sampai disini, dia melirik sekejap ke arah Kiong-sin Leng Liong dengan sikap bangga. Diam-diam Mao Bun-ki tertawa geli, bisiknya kepada Ko Bun, "Rupanya mestika tersebut peninggalan tiga gembong penyamun."

Ko Bun tidak berkata apa-apa kecuali tersenyum.

Sementara itu Pat-bin-ling-long Oh Ci-hui juga sedang berbisik kepada Thi-jiu-sian-wan, "Losi, coba kau lihat Cing-hong-kiam Cu Pek-ih, mengapa duduk melulu disitu tanpa bergerak macam orang mati saja?"

Thi-jiu-sian-wan berseru tertahan, agaknya iapun merasa heran.

Tapi sebelum ia bicara, Bak-it Siangjin telah berkata lagi dengan lantang, "Sudah lama kudengar Siau-losicu berpengetahuan luas dan seorang ahli sejarah. Dan setelah berjumpa hari ini, terbukti kabar itu memang betul."

Perkataan pendeta Siau-lim-pai ini hampir saja membuat Siau Ti tertawa bangga. Baru saja dia akan bicara lagi, Bak-it Siangjin telah mendahului, "Walaupun Thian, Te dan Jin bertiga sekutu itu mendapat upeti, namun tindakan ketiga orang Bu-lim-cianpwe ini justru telah mengurangi banyak masalah dalam dunia persilatan dan menciptakan banyak pahala. Siau- losicu, walaupun kautahu tentang soal ini, tapi apakah kau tahu mestika apa saja yang ditinggalkan ketiga orang cianpwe itu?"

Tanpa terasa para jago memasang telinga baik-baik untuk mendengar jawaban itu.

Siapa tahu Siau-lo-tiau hanya bersuara "oo" dan tak mampu meneruskan, rupanya iapun tak tahu mestika apa saja yang ditinggalkan itu.

Leng-coa Mao Kau tertawa nyaring, serunya cepat, "Tiga puluh tahun lamanya Thian-ih, Te- sat dan Jin-mo merajai dunia persilatan, kemudian entah apa sebabnya mereka sama-sama lenyap tak berbekas. Sejak itulah harta kekayaan yang berhasil dikumpulkan ketiga orang Bu- lim-cianpwe itu ditambah sebilah pedang pusaka milik Te-sat Siang-locianpwe, jarum Pat-to-jit- sing-ciam, senjata rahasia ampuh milik Jin-mo Sugong-locianpwe serta pil-pil penyambung nyawa tinggalan Thian-ih Go-locianpwe, semua itu menjadi mestika yang diinginkan setiap umat persilatan dalam dunia Kangouw."

Setelah memandang sekejap sekitarnya dengan bangga, dia melanjutkan lagi, "Hanya saja selama ratusan tahun ini, seperti juga ketiga orang Bu-lim-cianpwe itu, harta pusaka itu tak pernah muncul kembali dalam dunia persilatan. Sam-cai-po-cong pun menjadi rahasia besar. Beruntung sekali empat puluh tahun berselang pernah kudengar hal ini dari guruku, siapa tahu . 

. . "

Sengaja dia berhenti berbicara, tentu saja ia hendak bilang tak menyangka kalau rahasia tersebut bisa terjatuh ke tangannya.

"Omitohud!" seru Bak-it Siangjin kemudian sambil mendongak kepala, "tak kusangka Mao- sicu yang berusia muda ternyata memiliki pengetahuan yang amat luas. Hanya saja tahukah sicu mengapa ketiga orang Bu-lim-cianpwe itu bisa lenyap secara tiba-tiba dan mengapa mestika tinggalan mereka bisa lenyap pula selama ini?" Pendeta suci Siau-lim-pai ini memang sangat sabar. Uraiannya lamban, membuat para jago gelisah dan ingin mencengkeram leher bajunya dan memaksanya berbicara cepat dan jelas.

Tapi Bak-it Siangjin adalah seorang yang berkedudukan tinggi dalam dunia persilatan. Meskipun sikap jual mahalnya membuat semua orang mendongkol, namun mereka hanya bisa memandangnya dengan melotot saja.

Diantara mereka, hanya Kiong-sin Leng Liong saja yang tertawa terbahak-bahak. "Hahaha, soal ini, bila kumati, akan kutanyakan sendiri kepada ketiga orang cianpwe itu di 

neraka nanti."

Selesai berkata, kembali ia bergelak tertawa, membuat para jago lain turut tertawa geli.

Bak-it Siangjin seperti tidak mengerti akan sindiran itu, kembali ia berkata perlahan, "Sebenarnya persoalan ini merupakan rahasia besar dalam dunia persilatan. Baiklah, mau tak mau agaknya harus kuceritakan sekarang."

Setelah berhenti sebentar, dia seperti lagi menyusun kembali daya ingatannya, kemudian baru melanjutkan ceritanya.

"Meski Thian-ih, Te-sat dan Jin-mo bersekutu, namun watak mereka berbeda. Walau Thian- ih Go Put-ko terjun ke kalangan Lok-lim, namun ada tujuan lain. Dia cuma ingin mengatur dunia Lok-lim yang banyak pertikaian itu. Sedang Te-sat Siang Si-lik dan Jin-mo Sugong adalah gembong-gembong iblis dunia persilatan. Justru karena terpengaruh oleh budi kebaikan Thian- ih serta takut pada kungfunya yang lihai, maka selama sekian tahun persekutuan tiga serangkai dapat menjagoi persilatan dengan nama harum."

Setelah berhenti sejenak, lalu dia melanjutkan, "Oleh karena itu, meski diluar Te-sat dan Jin- mo amat menurut, padahal diam-diam merasa sirik terhadap Thian-ih Go-locianpwe. Akhirnya ketika Go-locianpwe tidak waspada, mereka menutuk Thian-jian-hiatnya. Hanya saja cara kerja mereka amat rahasia sehingga tiada umat persilatan yang tahu.

Setelah jalan darah Thian-jian-hiat tertutuk, ilmu silat Go-locianpwe punah dan ditahan secara halus. Dalam keadaan begini, Te-sat dan Jin-mo tidak takut kepada siapa-siapa lagi. Ulah mereka makin menjadi. Dalam sedihnya Go-locianpwe lantas memutuskan untuk berbakti kepada Budha. Pada dasarnya locianpwe ini memang seorang berhati mulia. Sejak mengabdi kepada agama, lalu dengan kesabaran yang luar biasa, tiap hari dia selalu berusaha memberi khotbah dan membawa kedua saudaranya kembali ke jalan yang benar. Ternyata perjuangan tidak sia-sia. Akhirnya kedua orang gembong iblis itupun bersedia meletakkan golok pembunuh dan kembali ke jalan yang benar."

Berbicara sampai disini, pendeta agung ini berseru memuji keagungan Budha, kemudian sambil membuka matanya dia berkata lagi, "Setelah tiga orang Bu-lim-cianpwe ini kembali ke jalan yang benar, semua harta kekayaan serta senjata mestika milik mereka ditenggelamkan ke dasar telaga. Setelah itu mereka pun berangkat ke Siau-lim-si, dimana oleh Ciangbun-cosu kami waktu itu rambut mereka dicukur dan jadilah ke tiga orang itu sebagai pendeta Siau-lim-si." Mendengar kisah yang menyangkut rahasia dunia persilatan itu, para jago sama melongo.

Setelah berhenti sebentar, kembali Bak-it Siangjin berkata lebih lanjut, "Setelah menjadi pendeta Siau-lim-si, mereka laporkan tempat penyimpanan harta karun itu kepada Ciangbun- cosu dengan harapan Ciangbun-cosu dapat menyerahkan rahasia ini kepada orang yang betul- betul berjiwa kesatria sehingga harta karun itu bisa digunakan bagi kesejahteraan orang banyak. Tapi Ciangbun-cosu kami sudah tidak mencampuri urusan duniawi lagi, itulah sebabnya peta harta karun itu dibagi menjadi tiga. Satu diberikan kepada Pek Ciong-cosu dari Bu-tong-pay, satu lagi diserahkan kepada Teng-khong Cousu dari kuil kami dan satu lagi diberikan kepada sobat karib yang paling dihormatinya waktu itu, Hai-thian-ko-yan yang amat tersohor itu."

Begitu mendengar nama terakhir ini, serentak para jago sama bersuara tertahan.

Ko Bun pun mengangkat cawan air teh dan minum seteguk, dia berpaling ke arah Mao Bun- ki sambil bergumam, "Adik Ki, coba lihat, fajar telah menyingsing!"

Bun-ki berpaling keluar jendela. Betul juga, fajar telah menyingsing di langit sebelah timur. Rupanya saking asyiknya para jago membicarakan soal mestika dunia persilatan itu sampai lupa matahari sudah hampir terbit.

Bak-it Siangjin berdehem perlahan, kemudian berkata lagi, "Kalau menuruti keinginan Ciangbujin-cousu kami, tentu saja beliau berharap ketiga orang cianpwe itu bisa memanfaatkan harta karun itu demi kesejahteraan umat manusia. Tapi waktu itu ketiga orang cianpwe itu sudah menyerahkan diri ke dalam agama, maka peta harta karun itu turun temurun diwariskan hingga sekarang. Sedang mengenai kedua bagian peta lainnya, kurasa mungkin disebabkan tak menemukan orang yang sesuai, maka selama ratusan tahun ini harta karun tersebut tetap terpendam."

Baru sekarang semua orang mengembus napas lega. Sedikit banyak merekapun memperoleh gambaran yang sesungguhnya.

"Tapi sekarang mendadak ada berita yang mengatakan peta harta karun itu telah muncul kembali dalam dunia persilatan, "kata Bak-it Siangjin lebih jauh, "mendapat kabar ini, segera kuturun gunung. Sebab harta karun itu besar sekali pengaruhnya. Mendingan kalau terjatuh ke tangan orang budiman, bila diperoleh manusia berhati busuk, apakah takkan menimbulkan bencana? Itulah sebabnya tujuanku turun gunung adalah untuk mencari tahu orang yang mendapat peta itu serta duduk persoalan yang sebetulnya "

Dengan sorot mata setajam sembilu dia awasi sekejap wajah Mao Kau bertiga, kemudian melanjutkna, "Jika orang mendapatkan peta harta karun itu dari Bu-tong-pai atau dari Hai-thian- ko-yan, tentu saja aku tak perlu kuatir. Sebaliknya jika orang itu memperoleh peta secara tidak jelas, terpaksa aku ikut bertanggung jawab."

Berbicara sampai disini, dengan sorot mata yang tajam dia awasi wajah Leng-coa Mao Kau, Kiong-sin Leng Liong dan Kim-gan-lo-tiau. Walaupun Bak-it Siangjin tidak berbicara blak-blakan, namun setiap jago sudah paham arti kata-katanya itu, yakni menuduh Mao Kau memperoleh peta itu secara mencurigakan serta menyatakan dia tak berhak mengusik harta karun itu.

Meski tindak tanduk Kiong-sin Leng Liong antara lurus dan sesat, bagaimanapun dia terhitung seorang tokoh dunia persilatan, maka setelah mendengar perkataan paderi agung itu, rasa tak puas yang semula menghiasi wajahnya kontan lenyap.

Air muka Kim-gan-tiau Siau Ti juga berubah. Ia tak sanggup berkata apa-apa lagi.

Hanya Leng-coa Mao Kau saja tetap tenang, seakan-akan dia sudah mempunyai suatu rencana yang matang. Senyuman licik tampak menghiasi bibirnya.

Kiong-sin Leng Liong termenung sejenak, setelah menghela napas, katanya, "Aku si pengemis tua tak tahu di balik urusan ini terdapat banyak seluk-beluknya. Kutahu urusan ini karena muridku mendadak menerima sepucuk surat kaleng, tapi murid yang menerima peta rahasia tersebut kini sudah mati di telaga Hongtik sehingga dari mana asalnya peta rahasia itu tidak kuketahui."

Bak-it Siangjin mengalihkan sorot matanya ke wajah Cing-hong-kiam Cu Pek-ih yang selama ini membungkam.

"Cu-tayhiap!" tegurnya, "jauh-jauh kau datang kemari, tentunya juga disebabkan persoalan ini bukan? Aku ingin tanya apakah peta rahasia itu berasal dari tanganmu yang kauserahkan kepada murid Kay-pang?"

Selama ini Cing-hong-kiam Cu Pek-ih cuma duduk membungkam, kecuali wajahnya agak berubah sewaktu mendengar pembicaraan Bak-it Siangjin tadi. Keadaannya tak berbeda jauh dengan 'orang mati' seperti dikatakan Pat-bin-ling-long.

Mendadak jago pedang Bu-tong-pai ini bangkit berdiri, ia mengitari sebuah meja dan menuju ke sisi Bak-it Siangjin, kemudian membisikkan sesuatu ke telinganya.

Puluhan pasang mata serentak tertuju pada kedua orang itu. Terlihat senyuman yang sukar dicernakan artinya tersungging di ujung bibir mereka berdua.

Kemudian Cing-hong-kiam Cu Pek-ih bangkit berdiri, ia menjura ke empat penjuru dan tanpa mengucapkan sepatah katapun lantas menuju ke mulut tangga dan turun ke bawah.

Semua orang menjadi tercengang, begitu juga Mao Bun-ki. Dengan kening berkerut ia membisiki Ko Bun, "Aneh, apa yang terjadi? Sungguh aku tidak mengerti."

Ko Bun menggeliat sambil menguap, iapun tersenyum seperti apa yang terlihat pada wajah Bak-it Siangjin dan Cu Pek-ih, kemudian ia membisiki Mao Bun-ki, "Persoalan yang sukar dimengerti suatu ketika pasti akan diketahui juga, buat apa gelisah?"

"Aku tak tahan "seri Bun-ki sambil mencibir. Belum habis dia berkata, Bak-it Siangjin telah berbangkit dan berseru, "Omitohud, sesuai peredaran alam semesta, hukum karma selalu berjalan. Siapa berjasa dan siapa berdosa, semuanya tercatat. Takdir telah menentukan segala-galanya. Benda yang bukan miliknya, diperebutkan juga tak ada gunanya. Semoga sicu sekalian bisa memahami ajaran Thian dan baik-baik menjaga diri."

Selesai mengucapkan kata-kata yang entah ditujukan kepada siapa, pendeta agung itu mengebas lengan bajunya dan melayang pergi. Terhadap Sam-cai-po-cong hakikatnya tak ambil peduli lagi.

Semua jago dibikin bingung dan saling pandang tanpa berkata. Persoalan ini ibaratnya sebuah jalan sempit pegunungan yang makin melebar, siapa tahu mendadak muncul puncak tinggi mengadang di depan, sehingga meski gelisah juga tak dapat melihat apa yang terdapat di depan sana.

Setelah kepergian kedua orang itu, Kiong-sin Leng Liong menunduk dan termangu sejenak, mendadak ia mengentak kaki dan menghela napas.

"Kita orang Kai-pang memang ditakdirkan miskin, mungkin kita tak berjodoh dengan harta karun itu, "katanya kemudian dengan tergelak sambil memberi tanda, "ayo, mari kita pergi. Sudah kenyang bersantap, apalagi yang perlu ditunggu disini?"

Seorang pengemis jangkung berbangkit sambil melotot ke arah Leng-coa Mao Kau, dia seperti ingin mengucapkan sesuatu. Tapi melihat ketuanya sudah memberi tanda, tanpa bicara lagi dia lantas mengikuti rekan-rekannya berlalu dari situ.

Tapi semenjak itulah hubungan Leng-coa Mao Kau dengan pihak Kai-pang menjadi renggang.

Memandangi bayangan punggung para pengemis yang menjauh, Ko Bun manggut-manggut sambil bergumam, "Memang orang pintar, memang bijaksana!"

"Hei, apa kau bilang?" Bun-ki berpaling dan menegur.

Ko Bun tertawa, dia berpaling ke arah Pat-bin-ling-long Oh Ci-hui yang duduk di sebelah sana dan berkata, "Ingin kutanya kepada Saudara Oh, Mao-tayhiap dan Saudara Oh telah datang kemari, lantas siapa pula yang mencari harta karun di Hongtik-oh sesuai dengan apa yang tertulis dalam peta?"

Mula-mula Oh Ci-hui melenggong, kemudian katanya sambil tertawa, "Ko-lote, memang orang pintar, memang orang pintar "

Setelah berhenti sejenak, dia melanjutkan dengan suara tertahan, "Kalau kau dapat menebaknya, tak ada salahnya kuberitahukan kepadamu, orang yang pergi ke Hongtik-oh untuk mencari harta adalah Ki-jikoku. Kau memang belum pernah berjumpa dengan dia." Tentu saja Bun-ki yang duduk di tengahpun mendengar pembicaraan mereka, serunya, "Ah, kiranya Ki-jisiok pergi ke Hongtik-oh lebih dulu!"

Sebenarnya waktu itu Kim-gan-tiau Siau Ti sedang termenung setelah kepergian Cing-hong- kiam Cu Pek-ih, Bak-it Siangjin dan Kiong-sin Leng Liong secara mendadak. Maka begitu mendengar perkataan Mao Bun-ki, dia tersadar dari lamunannya.

Dia berhasil memahami rahasia di balik persoalan ini dan diam-diam dia memaki, "Hari ini aku si tua betul-betul dipecundangi orang. Tak nyana aku keno dibodohi keparat she Mao itu. Dengan susah payah kuhimpun segenap kekuatan perairan dan bersiap siaga disini, tak tahunya orang lain lantas menerobos ke telaga Hongtik-oh untuk mencari harta."

Berpikir sampai disini, dia naik pitam. Mendadak ia menggebrak meja sambil bangkit berdiri dan memandang sekejap ke sekeliling tempat itu dengan sorot mata tajam.

"Orang she Mao, "bentaknya, "Kukira kau seorang jagoan, tapi terbukti permainanmu kurang gemilang. Sekalipun kau dapat menipuku, apakah tak malu ditertawakan orang persilatan sebagai manusia rendah dan tak tahu malu? Hmm, sudah 70 tahun kuhidup di dunia ini, baru hari ini kutahu dalam dunia persilatan terdapat seorang kotor, seorang munafik dan berjiwa pencoleng!"

Diantara empat saudara angkat Leng-coa Mao Kau, hanya Thi-soan-cu (si suipoa baja) yang paling banyak tipu muslihatnya, kelicikannya jauh di atas Mao Kau sendiri.

Sejak Thi-jiu-sian-wan (monyet dewa bertangan baja) Ho Lim berhasil merampas peta rahasia Sam-cai-po-cong dari murid Kai-pang, benda tersebut segera dikirim kepada Mao Kau dengan cepat. Sudah barang tentu harta karun yang luar biasa itu segera membangkitkan kerakusan Mao Kau untuk mendapatkannya.

Tapi iapun sadar, bila kabar ini sampai bocor, suatu badai mengerikan pasti akan terjadi dalam dunia persilatan. Meski belakangan ini dia berkedudukan tinggi, rasanya juga sulit memperoleh harta karun itu dengan aman.

Maka si 'suipoa baja' Ki Mo segera menyusun rencana. Mula-mula dia membocorkan rahasia itu lebih dulu agar perhatian jago persilatan tertuju pada pertemuan yang akan diselenggarakan Thi-jiu-sian-wan, sedang dia sendiri dengan membawa murid kedua dan ketiga dari Giok-kut-su- cia segera berangkat ke Hongtik-oh diiringi barisan penyelam dari pasukan Thi-ki-sin-pian-tui. Maksudnya harta karun itu hendak diangkat tanpa sepengetahuan orang lain.

Rencana ini berhasil juga mengelabui orang persilatan. Bukan cuma Bak-it Siangjin dari Siau-lim-pai dan Kiong-sin Leng Liong saja yang tertipu. Bahkan Hwe-gan-kim-tiau Siau Ti yang berpengalamanpun kena dikibuli siasat itu.

Tentu saja hal ini disebabkan semua orang tak menyangka dengan kedudukan Leng-coa Mao Kau ternyata dapat melakukan perbuatan rendah semacam ini. Sekarang Sam-cai-po-cong bagaikan seekor ikan segar yang besar daya pikatnya untuk memancing kucing rakus guna melakukan perbuatan apapun. Orang persilatan yang menilai Mao Kau sebagai seorang pendekar sejati tentu saja banyak yang terkecoh.

Sedang Mao Kau sendiri sudah barang tentu diam-diam merasa senang.

Siapa sangka intrik yang tak diketahui oleh orang itu, akhirnya berhasil dibongkar oleh seorang pelajar.

Setelah pertanyaan Ko Bun tadi, diam-diam Pat-bin-ling-long dapat menangkap apa artinya. Tentu saja ia merasa terkejut. Tapi demi mengambil hati Ko Bun, iapun memberitahukan persoalan ini kepadanya.

Mao Bun-ki kurang pengalaman. Ia tak tahu urusan dan mengutarakan persoalan itu tanpa sengaja, akibatnya urusan jadi runyam.

Leng-coa Mao Kau tahu Siau Lo-tiau adalah seorang berpengalaman, tentu saja dia mengerti keadaan yang sebenarnya setelah mendengar perkataan itu. Maka diam-diam iapun melakukan persiapan untuk menghadapi badai yang akan meledak itu.

Disamping itu, diam-diam iapun merasa lega hati karena jago-jago lihai seperti Bak-it Siangjin, Cin-hong-kiam Cu Pek-ih dan Kiong-sin Leng Liong sekalian telah pergi semua, meski kini masih hadir seorang Hwe-gan-kim-tiau, namun ia tak memandang sebelah mata terhadap orang tua tersebut.

Tapi sayang, pintar selama hidup bodoh sesaat. Bayangkan saja, kawanan jago itu berdatangan demi peristiwa harta karun, sebelum memperoleh sesuatu keputusan, mana mungkin orang-orang itu pergi begitu saja?

Sebab itulah begitu Siau Lo-tiau menggebrak meja dan mencaci maki, sekalipun ada diantaranya belum tahu persoalan itu, akhirnyapun jadi tahu.

Hanya saja mereka adalah jago kawakan Kang-ouw, meski mengincar harta karun namun mereka tak berani memusuhi Mao-toaya. Maka semua orang pun belagak tuli dan berpeluk tangan, seakan-akan sedang menonton pertunjukkan sandiwara di bawah panggung saja.

Mao Kau hanya tersenyum dan sengaja bersikap menghina untuk menunjukkan kedudukannya berbeda dengan yang lain, padahal dia mengandalkan begundal yang banyak jumlahnya. Tentu saja dengan kekuatannya ia tak perlu kuatir.

Sementara dia masih duduk sambil memandang hina terhadap lawannya, mendadak "blang", seorang muncul dari belakang.

Orang ini menggunakan jubah panjang berwarna hijau. Pedangnya tersandang di punggung. Dia tak lain adalah Co-jiu-sin-kiam (jago pedang tangan kiri) Ting Ih.

Sambil melompat ke depan Mao Kau dia membentak, "Orang she Siau, kami bersaudara menganggap kau sebagai seorang tua bangka, maka selama ini selalu mengalah padamu,  siapa tahu kau sok belagak dan tak tahu diri. Sekarang jangan menyesal jika kami tak mau sungkan-sungkan lagi padamu."

Air muka Siau Lo-tiau berubah hebat saking gusarnya, dia mendongakkan kepala dan tertawa seram.

Pek-poh-hui-hoa Lim Ki-cing yang berada di sisinya segera berkata dengan suara dingin, "Siau-lotaucu, bila kau tahu diri, cepatlah mencawat ekor dan merat dari sini. Bila sampai menunggu Ting-toako turun tangan, sudah pasti untuk menggelinding pergi saja tak sempat lagi."

Tadi ia kecundang di tangan si rajawali tua she Siau ini, maka kesempatan yang baik ini segera dimanfaatkan untuk balas mengejek lawannya.

Bagaimanapun sabar Siau Ti, akhirnya meledak juga kemarahannya. Sekujur tubuhnya gemetar menahan emosi.

Semua orang sama menahan napas, semua tahu suatu bentrokan akan segera berlangsung. Ko Bun berpaling ke arah Bun-ki sambil tersenyum.

Belum lagi lenyap senyumannya, suara bentakan telah menggelegar, "Hari ini harus kuberi pelajaran kepada kalian yang tak tahu aturan."

Dalam gusarnya, si rajawali tua she Siau itu tak peduli posisinya yang terjepit lagi. Sambil membentak segera ia menerjang dan melancarkan serangan.

Jangan kira usianya telah lanjut, ternyata ilmu silatnya sama sekali tidak lemah, begitu menerjang ke muka, segera ia menghantam Co-jiu-sin-kiam.

Co-jiu-sin-kiam tertawa dingin, ia mengegos ke samping. Siapa tahu, Hwe-gan-kim-tiau yang termashur di air ini juga sempurna dalam permainan telapak tangan. Serangan tadi menderu dan hanya serangan tipuan belaka. Ketika sampai setengah jalan, mendadak tangannya ditarik ke samping dan secara tiba-tiba menebas lambung Ting- Ih.

Buru-buru Co-jiu-sin-kiam Ting Ih menarik perut dan menghindar, siapa tahu bayangan telapak tangan berkelebat lagi. Jari tangan Siau Ti sebelah kiri menyambar tiba pula dengan cepat.

Baru sekarang Ting Ih kaget. Ia berusaha menangkis dan menghindar, namun sekali salah langkah, segera dia didahului musuh dan terdesak di bawah angin. Terasa olehnya pukulan Siau Lo-tiau menabas pula dari depan, belakang, kiri maupun kanan. Sebaliknya ia sendiri sama sekali tak sempat melakukan serangan balasan.

Suasana dalam ruangan rumah makan menjadi kacau, para jago sama meninggalkan tempat duduknya dan menyingkir, terutama Ko Bun. Dia menyingkir jauh di tepi jendela sana, seakan- akan kuatir tersambar pukulan dan mengakibatkan terluka. Sebaliknya Bun-ki meraba gagang pedangnya dan berdiri di depannya, matanya melotot, kalau bisa dia ingin menyuruh Co-jiu-sin-kiam mundur agar dirinya bisa mendemontrasikan beberapa jurus di depan kekasih ini.

Lim Ki-cing pun tersenyum licik sambil mengerling ke arah Leng-coa Mao Kau. Tampak olehnya gembong persilatan itu sedang menyeringai. Rupanya nafsu telah menggelora dan bertekad membunuh si rajawali tua she Siau itu.

Sebaliknya Kim-li Siau Peng berdiri tegak di pinggir arena sambil berjaga-jaga menghadapi segala kemungkinan, terutama yang menyangkut keselamatan ayahnya.

Dalam pada itu, Co-jiu-sin-kiam telah keteter hebat, kini dia hanya bisa berkelit dan menangkis saja. Jelas sudah terdesak di bawah angin.

Menyaksikan ini, para jago mulai berbisik-bisik, "Padahal Co-jiu-sin-kiam terhitung jago lihai yang ternama dalam dunia persilatan, mengapa hari ini dia begitu tak becus? Apakah namanya yang termashur selama ini hanya nama kosong belaka?"

Ada pula yang berkata begini, "Lebih baik jangan sembarang bicara, kungfu andalan Cu-bo- siang-hui mungkin belum dikeluarkan."

Semua pembicaraan itu sangat didengar oleh Pat-bin-ling-long Oh Ci-hui. Dia lantas menarik Ko Bun sambil membisikinya, "Ko-lote, kau sering mengatakan belum pernah melihat kehebatan jago persilatan. Sebentar dapat kau lihat semua. Tahukah kau diantara tujuh pedang tiga ruyung, bicara soal keganasan adalah Mao-toako kami, dan kedudukan kedua ditempati oleh Co-jiu-sin-kiam Ting-toaya."

Ko Bun tersenyum pula. Meski dia menunjukkan sikap seperti takut urusan, namun sorot matanya memperhatikan jalannya pertarungan antara Ting Ih melawan Siau Lo-tiau.

Tampak kedua orang itu masih bergebrak, dengan sendirinya meja kursi terjungkir balik, mangkuk piringpun berantakan.

Puluhan gebrak kembali lewat. Tiba-tiba terdengar Siau Lo-tiau tertawa seram. Kedua telapak tangannya terentangkan, diputar dan dirapatkan kembali. Dia hendak menggunakan Im- yang-jin untuk menarik pergelangan tangan kanan Co-jiu-sin-kiam.

Tampaknya lengan kanan Ting Ih segera bisa cacat, tanpa terasa semua orang menjerit kaget. Juga Mao Kau berubah air mukanya.

Namun Cu-bo-siang-hui Ting Ih menjagoi dunia persilatan sekian tahun bukan secara kebetulan. Meski pergelangan tangan kanan terancam namun ia tidak gugup dalam bahaya. Sementara Mao Kau sekalian siap memberikan pertolongan, mendadak ia mendengus, sebuah tendangan kilat segera dilontarkan ke depan.

Ting Ih termashur di wilayah Kwitang dan Kwisai. Tendangan yang digunakan itu merupakan kungfu aliran selatan, cepat dan tepat. Yang diancam adalah hulu hati, tempat mematikan yang harus dijaga oleh setiap orang. Kalau Hwe-gan-kim-tiau berhasil dengan serangannya, bila dia puntir pergelangan tangan orang lebih keras, niscaya tulang pergelangan tangan Co-jiu-sian-wan akan patah.

Siapa tahu pada saat yang kritis itulah pihak lawan melancarkan tendangan kilat ke hulu hatinya. Dalam keadaan begini, jika ia tidak batalkan ancamannya meski Ting Ih bakal dilukai, namun ia sendiripun akan celaka.

Terpaksa sambil merentangkan sepasang tangannya ia melompat mundur ke tempat semula.

Sekarang Thi-jiu-sian-wan, Pat-bin-ling-long dan Pek-poh-hui-hoa sekalian baru bisa menghembuskan napas lega.

Thi-jiu-sian-wan segera berebut maju ke depan, sambil menggulung lengan baju dan mengencangkan ikat pinggang ia berseru, "Ting-toako, beristirahatlah lebih dulu. Biar siaute yang mewakili Ting-toako bergebrak beberapa jurus dengan dia."

Hwe-gan-kim-tiau terbahak-bahak, serunya lantang, "Orang she Ho, silakan maju. Sekalipun kalian hendak maju kerubut akupun tak gentar!"

Air muka Co-jiu-sin-kiam Ting Ih sedingin es. Tanpa mengucapkan sepatah kata dia angkat tangan kanan. Belasan kancing jubah hijaunya itu seketika terlepas dan pakaian pun terbuka.

Ia lantas mengebaskan tangannya dan jubah panjang itu lantas tertanggal. Pakaian ringkas bagian dalam berwarna hijau dengan tujuh bilah pedang pendek beronce kuning yang terselip di pinggangnya.

Hal ini membuat jantung para jago berdebar tegang.

Leng-coa Mao Kau pun menyeringai, kepada Bun-ki katanya, "Anak Ki, Ting-toasiokmu sudah gusar. Bisa kau manfaatkan kesempatan ini untuk menyaksikan kelihaian Cu-bo-siang- hui paman Ting itu. Awas jangan sampai kena sasaran pedang!"

Bun-ki mencibir sambil mengiakan, dalam hati merasa tidak puas. Selama beberapa hari ini beruntun dia pernah merobohkan beberapa jagoan. Jangankan Ting Ih, bahkan ayahnya sendiripun tak dipandang sebelah mata olehnya.

Ting Ih memang lihai, entah bagaimana tentang kungfu yang sesungguhnya, tapi cukup dilihat dari gerakan membuang jubahnya yang begitu cekatan terbukti dia bukan jago sembarangan.

"Orang she Siau," terdengar ia berkata sambil tertawa dingin. "Keluarkan senjatamu dan bersiaplah menghadapi kematian!"

Air muka Siau Ti maupun Siau Peng berubah menjadi amat tak sedap dipandang. Si Ikan Emas Siau Peng segera melompat ke depan ayahnya sambil berbisik, "Ayah, biar ananda yang menghadapi dia!" Ia kuatir ayahnya tak tahan sehingga nama baiknya selama puluhan tahun pudar, maka dia mengutarakan niatnya itu.

"Hei anak muda, mengapa terburu nafsu?" jengek Pek-poh-hui-hoa tiba-tiba, "biarpun ingin cepat mampus juga tak perlu tergesa-gesa, cuma "

Setelah tertawa dingin, lanjutnya, "Tua bangka she Siau, bila kau merasa tenagamu telah loyo, memang ada baiknya jika beristirahat lebih dulu."

Hwe-gan-kim-tiau adalah seorang jago kenamaan dunia persilatan, sekalipun ada golok dipalangkan di atas tengkuknyapun dia tak akan mengerutkan dahi. Mana dia tahan menghadapi sindiran tersebut?

Tanpa bicara dia segera melolos sepasang senjatanya dari balik baju, itulah Hun-sui-go-bi-ci, semacam cundrik yang panjangnya satu kaki lebih.

Begitu Siau Lo-tiau keluarkan senjatanya, kembali para jago berseru kaget. Mereka tahu kepandaian jagoan perairan ini sangat hebat.

Maklumlah kawanan jago itu cukup berpengalaman dan memiliki ketajaman mata yang luar biasa. Begitu melihat senjata yang digunakan, mereka segera tahu bila tiada kepandaian yang hebat tentu tak akan berani mempergunakan senjata semacam itu.

Tapi Co-jiu-sin-kiam tetap tertawa dingin dan acuh tak acuh. Sekali pergelangan tangan berputar, cahaya hijau segera memancar, tahu-tahu pedang yang tersandang di punggung telah dilolosnya. Sebagai seorang kidal ia memegang pedangnya dengan tangan kiri.

Kemudian dia angkat pedang dari bawah ke atas dan diayunkan beberapa kali, lalu bentaknya, "Lihat serangan!"

Sinar pedang berkelebat, mendadak ia menusuk hulu hati Siau Ti. "Trang!" bayangan orang segera berpisah.

Rupanya ketika Ting Ih melepaskan tusukan tadi, Siau Lo-tiau segera membendung dengan sepasang senjata cundrik. Dia gunakan senjata pendek yang enteng itu untuk menyambut serangan lawan dengan keras lawan keras.

Pedang yang dipakai Co-jiu-sin-kiam diperoleh dari gurunya dan terbuat dari baja asli, tentu saja bentrokan mana tidak mengakibatkan kerusakan apa-apa. Sedangkan Siau Lo-tiau mengangkat cundrik kanan sebatas alis mata, sementara cundrik di tangan kiri siap di depan dada. Ia berdiri tak bergerak.

Bagaikan dua ekor ayam jago yang siap bertarung, kedua pihak saling melotot.

Mendadak Co-jiu-sin-kiam Ting Ih menggeser ke samping. Cahaya pedang di tangan kiri berputar membentuk sekuntum bunga cahaya, kemudian pedangnya berputar pula menusuk ke depan. Sret, sret beruntun ia lancarkan dua kali serangan kilat. Hwe-gan-kim-tiau membentak gusar. Dengan cundrik kanan ia tangkis pedang lawan, cundrik kiri menyerang jalan darah Seng-hiang-hiat di muka lawan dengan jurus Cing-liong-jut- in (naga hijau muncul dari mega).

Sebagai jago berpengalaman puluhan tahun, Co-jiu-sin-kiam tidak gampang terkecoh. Dengan gerakan lincah dia berputar. Pedang balas menyerang dengan jurus To-coan-im-yang (memutar balikkan im dan yang). Pedangnya merendah lalu menyambar ke atas, dengan cepat menyambar perut musuh.

Ilmu pedang tangan kiri selalu bergerak terbalik dan jarang dijumpai dalam dunia persilatan. Si Ikan Emas Siau Peng terbelalak lebar, telapak tangan basah oleh keringat dingin. Dia sangat menguatirkan keselamatan ayahnya.

Siau Ti pantang menyerah. Dengan taktik menangkis, menjebat dan menusuk, kedua cundrik menyambar kian kemari secara gencar.

Kakek yang sudah lanjut usia ini ternyata berani menyerempet bahaya dengan mengandalkan sepasang senjatanya yang pendek. Perawakan tubuhnya yang tinggi besar berputar kian kemari mengitari ruangan rumah makan yang sempit ini. Jenggot yang putih berkibar, namun langkahnya sama sekali tidak bersuara.

Cahaya tajam menyilaukan mata memenuhi ruangan, namun suasana justru hening.

Mendadak Hwe-gan-kim-tiau melejit dengan gaya Koai-bong-huan-siu (ular aneh membalik badan), lalu sepasang cundriknya disertai desing angin tajam menusuk dari kiri dan kanan.

Co-jiu-sin-kiam tertawa dingin, pedangnya berputar membabat pergelangan tangan kiri Siau Lo-tiau, lalu dengan jurus Siu-sa-lan-huan (kebaskan baju berulang kali), menyusul pedang menusuk pula ke muka, satu jurus dua gerakan.

Siau Lo-tiau mengegos ke samping, cundrik di tangan kiri membentur senjata lawan dengan cepat.

"Trang!" sekali lagi terjadi benturan nyaring.

Co-jiu-sin-kiam segera menggeser dengan gaya Hi-gwat-liong-bun (ikan melompati pintu naga), cahaya pedang berkelebat lewat secepat kilat dan menusuk jalan darah Lip-cu-hiat di sisi telinga Siau Ti.

Dalam dua kali bentrokan kekerasan yang terjadi, Hwe-gan-kim-tiau sudah mengetahui tenaga lawan tidak melebihi dirinya. Sebagai jago yang banyak pengalaman tempur, begitu menemukan titik kelemahan lawan, tentu saja ia tidak melepaskannya dengan begitu saja.

Sambil mundur selangkah, dengan jurus Heng-ka-kim-liang (tiang emas malang melintang), kedua cundrik sekaligus menusuk ke depan, maksudnya hendak mengunci gerak pedang Ting Ih.

Siapa tahu, ketika serangan pedang Co-jiu-sin-kiam mencapai setengah jalan, tiba-tiba serangan ditarik kembali, badan bergerak mengikuti gerak pedang dan mundur. Dengan cepat tangan kanan meraba pinggang, menyusul ayunan tangannya menghamburkan cahaya hijau.

Buru-buru Hwe-gan-kim-tiau menghentikan geraknya, sementara itu cahaya tajam berkilau secepat kilat menyerang tiba. Cepat kedua cundriknya menangkis.

"Sret, sret!" mendadak terdengar desing tajam menyambar tiba menyergap kedua matanya.

Dalam kejutnya buru-buru dia menjatuhkan diri ke belakang, jenggotnya berkibar terembus angin, badannya yang tinggi besarpun rebah ke belakang dengan gaya jembatan gantung.

Kawanan jago sama terbelalak. Tiba-tiba ada yang berteriak tertahan, "Cu-bo-sing-hui ! "

Senjata andalan tokoh selatan ini betul-betul luar biasa, dimana cahaya tajam menyambar, ketiga bilah pedang kecil juga disambitkan.

Waktu Siau Lo-tiau menjatuhkan diri ke belakang itulah, segera Co-jiu-sin-kiam menubruk maju. Pedang di tangan kiri langsung membabat kaki Siau Lo-tiau yang memantek di tanah seperti batu karang itu, sementara tangan kanan tetap siap menarik pedang kecil yang terselip di pinggangnya.

Terkesiap para jgao menyaksikan kejadian itu. Mereka tahu walaupun Siau Lo-tiau dapat meloloskan diri dari serangan Bo-kiam (pedang induk) yang berada di tangan kirinya, jangan harap dapat lolos dari serangan "Cu-kiam" (pedang anak) yang siap dihamburkan lagi dengan tangan kanan.

Cu-bo-siang-hui (pedang terbang induk dan anak) memang merupakan kepandaian andalan Co-jiu-sin-kiam Ting Ih. Tampaknya Hwe-gan-kim-tiau Siau Ti segera akan tewas di ujung senjata Cu-bo-siang-hui nya.

Pada detik krisis yang menentukan mati hidup seorang ini, mimik wajah yang diperlihatkan setiap orang berbeda satu sama lain. Ini menunjukkan apa yang dibayangkan masing-masing orangpun berbeda-beda.

Leng-coa Mao Kau menyeringai, Pek-poh-hui-hoa berseri, Thi-jiu-sian-wan berkilat matanya, Pat-bin-ling-long melongo lebar, sedang Mao Bun-ki berpikir dalam hati, "Jurus serangan ini tidak seberapa hebat, coba menghadapi diriku, pasti dia akan mati kutu!"

Bagaimana dengan Ko Bun? Ia tetap tersenyum, hanya sekali ini senyum yang sukar dilukiskan itu seakan-akan lantaran merasa kasihan, maka senyuman itu menjadi lebih berperasaan.

Kedua mata si Ikan Emas Siau Peng merah membara, sambil membentak ia menerjang maju. Terasa angin tajam mendesir di depan, ternyata tiga bilah pedang kecil tadi menyambar lewat di depannya dengan membawa sisa kekuatan yang cukup keras. "Cret. Cret, cret!" ketiga bilah pedang kecil itu menancap di atas tiang besar ruangan makan itu. Hanya gagang pedang spanjang tiga inci dengan ronce kuning yang bergetar tiada hentinya.

Untuk diceritakan agak lambat, namun kejadian berlangsung terlalu cepat. Baru saja Hwe- gan-kim-tiau berpaling, cahaya hijau telah menyambar pula ke tubuhnya.

Baru saja dia menghela napas dengan perasaan sedih, siapa tahu cahaya hijau yang sebenarnya sudah hampir membacok tubuhnya itu tahu-tahu menyambar balik kesana.

Baru saja ia tenangkan diri, terdengar 'cret' pula, sebatang senjata rahasia telah menancap di atas dinding ruangan.

Peristiwa yang terjadi mendadak ini kontan saja membuat suasana dalam ruangan menjadi gempar pula.

Rupanya sewaktu Co-jiu-sin-kiam mengayunkan pedangnya sambil tertawa dingin tadi, mendadak dari sisi tubuhnya menyambar datang desing angin tajam. Dia segera sadar ada senjata rahasia sedang mengancam iganya.

Sebagai seorang tokoh silat lihai, meski berada dalam keadaan begini, kewaspadaannya tetap tinggi. Setiap saat ia selalu berjaga terhadap datangnya ancaman.

Tentu saja menyelamatkan diri lebih utama daripada melukai musuh, apalagi dari desing angin serangan tersebut dia menyadari betapa dahsyatnya. Bila dia melanjutkan bacokannya terhadap Siau Ti, niscaya iganya akan berlubang lebih dulu.

Terpaksa ia menarik kembali serangannya sambil membalikkan badan dan berkelit ke samping.

Tampak sekilas cahaya emas menyambar lewat di depan tubuhnya dengan cepat luar biasa. Sebagai seorang ahli senjata rahasia tak urung hatinya terkesiap juga oleh kecepatan serangan tersebut.

Dalam kejutnya dia celingukan ke sekeliling arena dengan sorot mata tajam.

Terlihat olehnya Leng-coa Mao Kau sekalian memperlihatkan wajah keheranan, kawanan jago sama berseru kaget.

Ia coba menakar arah datangnya cahaya emas, jelas datang dari luar jendela. Sementara itu Leng-coa Mao Kau dengan cepat telah membalik tubuh dan melongok ke luar jendela.

Angin berembus sepoi di luar, namun tak ada bayangan apapun. Keadaan di bawah lotengpun sunyi senyap tiada suara, kawanan lelaki berbaju emas yang semula berjaga disitu kini tertidur di bawah emper rumah karena mengantuk.

Fajar telah menyingsing dan menyinari sederetan bangunan rumah di seberang jalan, tapi disitupun tak tampak ada orang kecuali cahaya matahari pagi yang keemasan. Sekalipun banyak akalnya, tak urung berubah juga air muka gembong persilatan ini, bentaknya, "Losi, cepat keluar dan periksa dengan seksama!"

Thi-jiu-sian-wan segera mengiakan dan menerobos keluar jendela.

Sebaliknya Leng-coa Mao Kau melompat kesana dan mencabut senjata rahasia yang menancap di dinding itu. Ternyata benda itu adalah sebilah pedang kecil berwarna emas.

Suasana dalam ruangan kembali gempar, perhatian semua orang tadi hanya tertuju pada pedang Ting Ih. Siapapun tidak memperhatikan dari mana datangnya senjata rahasia ini.

Bahkan Leng-coa Mao Kau sendiripun menganggap senjata rahasia ini berasal dari luar jendela, tapi ketika dia berpaling, di luar jendela sudah tiada bayangan orang lagi.

Dengan kening berkerut Leng-coa Mao Kau mempermainkan pedang kecil berwarna emas yang belakangan ini banyak menimbulkan kesulitan baginya ini.

Dalam pada itu, Co-jiu-sin-kiam Ting Ih juga telah meninggalkan Hwe-gan-kim-tiau dan mendekati Mao Kau. Setelah memperhatikan pedang kecil berwarna emas itu sekejap, serunya, "Lagi-lagi dia?"

Mao Kau mengangguk. Sorot matanya yang serupa mata elang memperhatikan orang yang berdiri di tepi jendela.

Mula-mula yang dilihatnya adalah Pat-bin-ling-long Oh Ci-hui. Waktu itu dia berdiri disana sambil sebentar melongok keluar jendela, sebentar lagi memandang pedang emas.

Disamping Pat-bin-ling-long Oh Ci-hui adalah putri Mao Kau sendiri. Iapun sedang melongok keluar jendela, sedang di samping putrinya adalah kongcu kaya yang royal itu.

Lebih kesana adalah tempat dimana ia berdiri tadi. Pelbagai ingatan segera berputar dalam benak tokoh Lok-lim ini, pikirnya, "Pedang emas ini meluncur masuk lewat sebelah kiriku. Jika bukan meluncur masuk dari luar jendela berarti dilepaskan orang yang berada di sebelah kiri    

."

Sorot matanya kembali mengawasi orang-orang itu dengan seksama. Alisnya berkernyit, kemudian pikirnya lagi, "Oh-losam dan anak Ki tentu saja tak akan berbuat demikian. Satu- satunya kemungkinan adalah bocah she Ko itu. Hmm, dia bilang tak mengerti ilmu silat, tapi aku tidak percaya, tapi . . . jika dibilang dia Kim-kiam-hiap, hal inipun mustahil Jika demikian, 

berarti pedang emas itu berasal dari luar jendela. Tapi inipun tak mungkin?"

Pikir punya pikir, ia merasa di balik persoalan ini pasti ada hal-hal yang tidak beres.

Akhirnya dengan kening berkerut, jago Lok-lim ini segera mendekati Ko Bun dan menepuk tubuhnya.

Ia sengaja hendak mencoba kemampuan anak muda itu, maka tepukan mana secara diam- diam disertai tenaga yang cukup kuat. Kebetulan Pat-bin-ling-long Oh Ci-hui sedang berpaling, melihat apa yang terjadi ia terperanjat, teriaknya, "Toako, apa yang kaulakukan?"

Leng-coa Mao Kau berpikir cepat, sambil tertawa ia tarik kembali tenaganya. Ia tepuk perlahan bahu Ko Bun, pikirnya, "Tampaknya Ko Bun dan Oh-samte sudah berkenalan lama. Rasanya tak mungkin dia adalah orang kucurigai?"

Kebetulan Ko Bun juga berpaling, kedua orang beradu pandang.

Leng-coa Mao Kau bertanya dengan tertawa, "Ko-lote, barusan kau berdiri disini, apakah kau rasakan sesuatu yang tak beres dari belakangmu?"

Ko Bun tersenyum dan menggeleng.

Bun-ki lantas menimbrung, "Ayah, kau ini terlalu. Masa kau tanyakan soal ini kepadanya. Dia kan seorang kutu buku, sekalipun ada orang hendak membacoknya dari belakangpun tak akan diketahuinya."

Mao Kau tersenyum, memperhatikan lagi wajah Ko Bun beberapa saat, dia berpaling ke arah lain.

Waktu itu Siau Lo-tiau berdiri di sisi anaknya sambil berbicara dengan suara lirih.

Mendadak terdengar angin berembus di luar jendela, cepat Mao Kau berpaling, ternyata yang datang adalah Thi-jiu-sian-wan Ho Lim.

Sambil menggelengkan kepala Ho Lim berkata, "Tak ada bayangan manusia yang nampak di luar. Sudah kutanyakan hal ini kepada penjaga di luar, tak seorangpun melihat apa-apa. Kukira kejadian ini agak aneh, memangnya Kim-kiam-hiap bisa menghilang?"

Leng-coa Mao Kau mendengus, "Hmm, tampaknya anak buahmu makin lama makin tak becus. Kalau tak ada urusan masih mendingan. Begitu terjadi peristiwa, segera terasa orang- orang yang kita pelihara selama ini sesungguhnya cuma sekumpulan manusia tukang gegares belaka. Sama sekali tak berguna."

Jelas maksudnya, Kim-kiam-hiap bukannya bisa terbang melainkan orang-orang di luar kelewat tak becus sehingga tidak melihat kehadirannya.

Merah padam wajah Thi-jiu-sian-wan, sahutnya kemudian dengan cepat, "Perkataan Toako memang benar. Orang-orang itu sudah biasa malas, selanjutnya siaute pasti akan mendidik mereka lebih berdisiplin."

Sekali lagi Leng-coa Mao Kau mendengus, kemudian membalik badan dan perlahan menghampiri Siau Peng.

Co-jiu-sin-kiam segera mengiring di sisinya. Thi-jiu-sian-wan lantas memberi tanda kepada anak buahnya, kemudian mengikuti pula di belakang Mao Kau berdua.

Bergidik hati para jago menyaksikan itu, mereka menduga keadaan Siau Ti berdua amat bahaya, lebih banyak celaka daripada selamat.

Hwe-gan-kim-tiau berdua bukan orang bodoh. Sudah barang tentu mereka menyadari posisi mereka yang terjepit waktu itu. Tapi dengan kedudukan mereka dalam dunia persilatan, mustahil melarikan diri begitu saja.

Mendadak Hwe-gan-kim-tiau tertawa terbahak-bahak, lalu bentaknya, "Orang she Mao, ada urusan apa kau kemari? Memangnya kau berani berbuat sesuatu terhadap ku?"

Dengan perkataannya ini, jelas terlihat dia merasa jeri terhadap lawannya.

Co-jiu-sin-kiam Ting Ih mendengus, katanya dengan angkuh, "Orang she Siau, pentanglah matamu lebar-lebar dan lihatlah sendiri, apakah hari ini kau dapat meninggalkan ruang ini dengan hidup? Apakah kau masih mengharapkan bantuan Kim-kiam-hiap si keparat itu?"

Meledak hawa amarah Kim-li Siau Peng, segera ia membentak," Kalian hendak main kerubut terhadap kami? Apakah kau kira dunia persilatan sudah tiada keadilan lagi?"

Ia lantas menjura kepada kawanan jago yang hadir dan berkata lagi, "Sobat sekalian, hendaknya kalian tampil sebagai saksi. Bila bertarung satu lawan satu, sekalipun aku Siau Peng akan mati juga tak menyesal, tapi kalau main kerubut, aku . . . aku " 

Mendadak ia mengentak kaki dan tak sanggup melanjutkan kata-katanya. Leng-coa Mao Kau mendongak dan tertawa latah.

"Hahaha, bagus, bagus sekali!" serunya, "Satu lawan satu, matipun tak menyesal. Bagus, bagus!"

Sambil menggulung lengan baju ia berkata lebih lanjut dengan suara dingin, "Kalau begitu, silakan kemari. Aku Mao-toaya akan menemanimu bermain beberapa gebrakan. Asal mampu bertahan lima puluh gebrakan ku, dengan hormat aku orang she Mao akan mengantarmu pergi, tentunya ini cukup adil."

"Orang she Mao," bentak Hwe-gan-kim-tiau dengan suara keras, "kalau ingin menantang, jangan menantang kaum muda. Bila kau memang jagoan, sebulan kemudian di tempat lain boleh kita menentukan siapa lebih unggul. Sekarang kau tipu kami berdua untuk datang kemari dengan akal busuk kinipun ingin mengandalkan jumlah banyak untuk mencari kemenangan. Wahai Mao Kau, apakah kau tidak takut pada karma? Apakah kau tidak kuatir akan pembalasan?"

Si ular sakti Mao Kau menyeringai seram. "Tua bangka she Siau," jengeknya, "sekalipun lidahmu bicara sampai keringpun jangan harap akan hidup. Keadilan macam apakah yang kau bicarakan di depanku? Terus terang kuberitahukan kepadamu, aku orang she Mao inilah keadilan."

"Bagus, bagus sekali!" seru Hwe-gan-kim-tiau sambil menggertak gigi dan menahan gusar, "bila aku si tua bisa mati hingga semua kawan persilatan mengenali wajah sebenarnya dari manusia munafik macam dirimu ini, sekalipun mati aku tidak menyesal."

Kakek yang sudah berambut putih ini berseru dengan sedih, kemudian sambil merentangkan senjata cundrik membentak pula, "Nah, maju saja semua. Hari ini biar kuadu jiwa dengan manusia laknat seperti kalian itu!"

Co-jiu-sin-kiam tertawa dingin tiada hentinya.

"Huh, untuk memberi pelajaran kepada tua bangka celaka macam kau, masa mesti menyuruh orang lain?" jengeknya.

Dia lantas mempersiapkan pedangnya dan hendak turun tangan.

Mendadak terdengar suara langkah kaki bergema dari mulut loteng. Lalu tampak dua orang berlari ke atas dengan napas tersengal dan wajah pucat.

Kedua orang itu mengenakan baju berwarna emas, tapi mungkin lantaran menempuh perjalanan jauh baju emas mereka sudah penuh lumpur.

Sebenarnya kedua orang ini berwajah tampan, namun wajahnya kini penuh debu, matanya buram tak bersinar, seperti sudah sekian malam tak tidur, lemah nan lesu, keadaannya mengenaskan sekali.

Begitu sampai di atas loteng, mereka celingukan kesana kemari. Begitu melihat Mao Kau, buru-buru mereka lari ke depannya dan menjatuhkan diri berlutut.

Air muka Mao Kau berubah, serunya cepat, "Tang-san, In-tay, cepat bangun! Apa yang terjadi? Dimana Ki-jisiok? Mana Lam-siong? Ai, mengapa kalian masih berlutut, cepat bangun dan bicara!"

Leng-coa Mao Kau seorang yang cerdas, saat ini selain ucapannya gugup, wajahpun hijau kelam.

Air muka Pat-bin-ling-long pun berubah seketika. Segera ia ambil dua cawan arak dan diangsurkan kepada kedua pemuda berbaju emas itu seraya berkata, "Minumlah dan beristirahat dulu!"

Lalu ia berpaling ke arah Mao Kau, ujarnya, "Toako, jangan gelisah. Ki-jiko tak mungkin tertimpa musibah."

Meski dia berkata demikian, padahal hati sendiri juga gugup. Dia tak tahu peristiwa apa yang telah terjadi? Agaknya Ko Bun tak tertarik menyaksikan sandiwara itu. Dia menguap panjang dan mendekap di meja seperti ingin tidur.

Bun-ki yang berada di sisinya segera berbisik, "Ya, kau boleh istirahat sebentar. Jika kami akan pergi nanti akan kubangunkan dirimu."

Ko Bun mendekap di meja seakan-akan betul sudah tertidur.

Sementara itu kedua pemuda berbaju emas tadi telah menenggak arak dan siap berbicara.

Mendadak Mao kau berkerut kening, lalu berkata kepada Ho Lim, "Losi, kau benar-benar kebangetan, masa menahan teman sebanyak ini semalaman disini? Cepat persilakan mereka pergi beristirahat."

Seraya berkata, dia lantas menjura ke empat penjuru sambil menambahkan, "Sobat sekalian, silakan! Bila pelayanan Mao Kau kurang sempurna, lain hari pasti akan kulayani kalian terlebih baik."

Semua orang tahu tuan rumah telah mengusir tamu secara halus, maka setelah saling pandang sekejap merekapun mengucapkan kata-kata merendah dan berlalu dari situ.

Mendadak Co-jiu-sin-kiam mengadang jalan pergi Hwe-gan-kim-tiau dan anaknya. Dengan pedang tersilang di depan dada katanya dingin, "Orang she Siau, bagimu belum tiba waktunya untuk pergi."

Siau Lo-tiau tertawa seram, "Hahaha, kau suruh aku pergi saja belum tentu aku mau pergi. Aku ingin turut mendengarkan cerita tentang kalian dipecundangi orang."

Dia sengaja mengucapkan perkataan itu dengan suara nyaring dengan harapan para jago lain mendengarnya.

Padahal sekalipun dia tidak berkata demikian, hati semua orang juga sudah mengerti bahwa Ki Mo yang diam-diam pergi mengambil harta karun itu telah dipecundangi orang, bahkan nyawapun sukar dipertahankan. Hanya saja semua orang belagak bodoh dan tak mau mengutarakannya.

Kedua pemuda berbaju warna emas tadi tak lain adalah dua diantara enam belas murid Leng-coa Mao Kau yang turut Thi-soan-cu Ki Mo pergi mengambil harta karun, yakni Tui-in- sucia (duta pengejar awan) Utti Tang-san dan Siu-Kiam-sucia (duta pedang sakti) Bwe In-tay.

Tak heran kalau Mao Kau terperanjat melihat kemunculan kedua orang ini dalam keadaan mengenaskan, bahkan terhadap sindiran Hwe-gan-kim-tiau pun tidak dihiraukan lagi.

Begitu para jago turun loteng, dengan cemas dia lantas bertanya, "Apa yang telah menimpa Ki-jisiokmu? Apakah tugas yang dibebankan kepada kalian sudah beres? Cepat ceritakan!" Setelah minum arak dan menenangkan hati, Sin-kiam-sucia baru bangkit berdiri dan menjawab dengan gelisah, "Setibanya di pintu air yang memisahkan danau Hongtik dengan Ko- yu-oh, kami mulai melakukan pencarian seperti apa yang tertera pada peta. Diantara kami, Utti suheng dua bersaudara memiliki ilmu menyelam yang paling lihai, maka Ki-jisiokpun menyuruh mereka terjun ke dalam danau untuk melakukan pencarian."

Leng-coa Mao Kau mengalihkan sorot matanya ke wajah orang yang lain, yaitu Utti Tang- san.

Pemuda Utti Tang-san menghela napas, lalu berkata dengan sedih, "Tecu dan adik Lam- siong turun ke dalam air. Betul juga di dasar telaga dekat pantai kami temui tanda seperti yang tercantum dalam peta. Tentu saja kami gembira. Setelah berganti napas kamipun menuju ke arah tanda tersebut dan menemukan perahu yang tenggelam. Tecu segera mengikat perahu itu. Lalu bersama Ki-jisiok dan Bwe sute menariknya. Betul juga di bawah perahu tampak sepotong lempengan besi berkarat."

Waktu itu, bukan hanya Mao Kau saja yang memperhatikan cerita Tui-in-sucia, yang lainpun dengan mata terbelalak dan wajah kuatir asyik mendengarkan.

Tiba-tiba terdengar Hwe-gan-kim-tiau memaki, "Keparat, masa para penjaga disana mampus semua?"

Utti Tiang-san meliriknya sekejap, kemudian melanjutkan, "Melihat lempengan besi itu tentu saja tecu berdua amat girang. Kami segera naik ke permukaan air untuk berganti napas dan memberi laporan kepada Ki-jisiok. Siapa tahu pada saat itulah mendadak terjadi hujan panah. Tecu sekalian segera tahu jejak kami ketahuan kawan dari benteng perairan."

Siau Lo-tiau segera mendengus pula.

Utti Tiang-san kembali melirik sekejap ke arahnya, kemudian melanjutkan dengan suara dingin, "Siapa tahu kawanan keroco perairan sama sekali tak becus, dalam sekejap saja mereka sudah dibikin keok semua."

Berbicara sampai disini, kembali ia melirik sekejap ke arah Siau Ti yang air mukanya berubah berulang kali karena gusar, lalu sambungnya, "Setelah itu tecu sekalian menyelam lagi dan menggeser papan besi itu. Di bawah papan besi terdapat sebuah liang besar dan di dalam liang benar-benar terdapat puluhan buah peti.."

Baru saja ia berhenti sebentar, Mao Kau lantas menimbrung dengan tak sabar, "Cepat lanjutkan!"

"Tecu girang setengah mati, serta merta semua peti itu kami angkat ke darat. Adik Lam-siong tak tahan dan segera membuka peti tersebut untuk mengetahui apa isinya."

Sewaktu bicara sampai disini, Leng-coa Mao Kau segera mendengus sebagai tanda tidak senang.

Utti Tang-san menarik napas beberapa kali, rasa sedih menyelimuti wajahnya. Bwe In-tay segera menyambung, "Ki-jisiok berpikir sebentar untuk mempertimbangkan keinginan Saudara Lam-siong dan kemudian mengabulkan. Semua peti itu sudah berkarat. Utti jiko harus membantingnya beberapa kali sebelum peti berhasil dibuka. Siapa tahu, begitu peti terbuka, menyambarlah panah kecil yang berhamburan. Dalam keadaan tidak siap, Utti-jiko tersambar tujuh batang panah dan tembus sampai ke dalam tulang, tak sempat mengucapkan sepatah katapun dia dia menghembuskan napas penghabisan."

Semua orang terkesiap. Utti Tang-san menunduk sedih mengenang nasib adiknya yang malang itu, sedang Bwe In-tay berkata lagi setelah menghela napas panjang, "Siapa tahu setelah peti itu dibuka, isinya cuma setumpuk batu karang. Tecu sekalian merasa sedih, terkejut dan marah. Beruntun Ki-jisiok membongkar pula belasan peti yang lain, ternyata setiap peti dilengkapi alat pembidik rahasia dan berisikan bongkahan batu karang belaka."

Bicara sampai disini, air muka Leng-coa Mao Kau sekalian segera berubah hebat. Sedangkan Hwe-gan-kim-tiau bergelak tertawa, namun semua orang sedang kaget, gusar, kecewa dan berpikiran kalut. Tak seorangpun menggubris suara tertawanya.

Terdengar Sin-kiam-sucia Bwe In-tay melanjutkan ceritanya, "Peristiwa ini membuat tecu sekalian bertambah kaget. Ki-jisiok lantas memeriksa peralatan rahasia dalam peti itu dengan seksama, tiba-tiba saja wajahnya berubah menjadi tak sedap dipandang. Ia menghela napas berulang kali, lalu memberitahukan kepada tecu sekalian bahwa sistem pemasangan alat pembidik panah dalam peti itu ternyata mirip sekali dengan cara yang dipergunakan Seng-jiu- suseng, seorang tokoh sakti dunia persilatan pada puluhan tahun yang lalu."

Mendengar nama "Seng-jiu-suseng" atau si pelajar bertangan sakti, semua orang tambah terkejut.

Rupanya Seng-jiu-suseng Tan Tok-siu selain lihai dalam ilmu silat juga mahir dalam ilmu alat perangkap. Hanya saja semenjak puluhan tahun lalu jejaknya mendadak lenyap dan tak terdengar apakah dia mempunyai ahli waris.

Walaupun semua orang merasa terkejut dan sangsi, tapi merekapun tahu si suipoa baja Ki Mo adalah seorang jago Kangouw kawakan. Sudah barang tentu pandangannya tidak keliru.

"Bagaimana mungkin tua bangka itu bisa muncul kembali dalam dunia persilatan? Cepat teruskan!"

Banyak kejadian di dunia ini tampaknya seperti tak berhubungan satu sama lain dan tak masuk di akal, padahal semua ini disebabkan kebodohan manusianya sendiri yang tidak mengetahui keadaan yang sebenarnya.

Tokoh macam apakah Seng-jiu-suseng itu ? Kenapa usaha Mao Kau mencuri harta karun gagal dan berantakan ?

Sesungguhnya siapa Kim kiam-hiap atau si pendekar pedang emas ?