Tujuh Pedang Tiga Ruyung Jilid 04

Jilid 04

"Ya, kukira terpaksa harus demikian, memangnya ada cara lain yang lebih baik?"

Semenjak bertemu dengan Mao Bun-ki, nada Kiong Si-cang seakan-akan berubah menjadi dua orang yang berbeda.

Oh Ci-hui tertawa, godanya, "Hubungan Hiantit dengan Mao-mao tidak jelek bukan?" Merah wajah Kiong Si-cang, sementara itu hati Ko Bun juga merasa kecut.

Esok paginya pelayan yang bertugas membawakan air panas untuk setiap kamar, dengan hati-hati mengetuk pintu sebuah kamar kelas satu, sebab ia tahu orang yang menginap disitu mempunyai asal-usul yang besar sekali, murid Mao-toaya yang disegani.

Jika Leng-coa Mao Kau tahu ada seorang pelayan sebuah rumah penginapan di kota Tin- kang juga mengetahui nama besar "Mao-toaya", dia pasti akan merasa bangga sekali.

Pelayan itu mengetuk pintu beberapa kali. Ketika tiada jawaban dari dalam, ia mendorongnya perlahan sambil melongok ke dalam. Tapi tiba-tiba ia menjerit histeris, kemudian putar badan dan lari terbirit-birit tanpa menggubris poci berisi air panas yang tertumpah. Ia lari seperti lihat setan.

Kebetulan Sik Ling baru melangkah keluar dari kamar, nyaris pelayan itu menumbuk tubuhnya.

Dengan cepat ia pegang tubuh pelayan itu seraya membentak, "Hei, ada apa?"

Sambil menuding ke kamar Kiong Si-cang, dengan tergagap pelayan itu menjawab, "Toaya . 

. . temanmu . . . temanmu itu celaka!"

Walaupun Sik Ling sendiri tidak ada urusan penting, namun selama beberapa hari ini sarafnya selalu tegang. Hal ini jauh berbeda dengan keadaannya pada masa lalu. Maka kini demi mendengar laporan si pelayan, dengan terkejut serta merta ia memburu ke kamar Kiong Si-cang dan melongoknya . . . .

Apa yang terlihat olehnya membuatnya menjerit tertahan. Dengan cepat ia lari ke kamar Oh Ci-hui sambil berteriak, "Saudara Oh, Saudara Oh "

Dengan masih mengantuk Oh Ci-hui muncul di depan pintu. Melihat itu Sik Ling berpikir, "Nyenyak amat tidurmu."

"Saudara Sik, ada apa?" tanya Oh Ci-hui sambil mengelus perutnya yang gendut, seakan- akan tak senang karena orang telah mengganggu tidurnya.

Sik Ling tak mempedulikan ketidak senangan orang, dengan gugup katanya, "Giok-bin-sucia tertimpa musibah, harap Saudara Oh segera menengoknya!" Mendengar berita itu, tak sempat bersepatu lagi, dengan kaki telanjang Oh Ci-hui berlari ke kamar depan. Tubuhnya yang gemuk tampak sedikit gemetar.

Dengan cemas ia mendorong pintu kamar, tapi pemandangan yang terpampang dihadapannya membuatnya menjerit kaget. Seandainya tidak berpegangan pintu, mungkin ia sudah roboh terjungkal.

Giok-bin-sucia berdiri tegak menghadap pintu, matanya mendelik, mukanya diliputi rasa kaget bercampur ngeri, telapak tangan kiri terayun ke depan tapi berhenti di tengah jalan, karena itu secara aneh tangan itu terkatung begitu saja, sementara tangan kanan sebatas siku ke bawah tertancap di dinding. Sebab itu sekalipun sudah agak lama nyawanya amblas, ia masih berdiri tegak di tempat semula.

Sinar fajar yang menyorot masuk lewat jendela tepat menyinari wajah sebelah kiri mayat Kion Si-cang, hal ini membuat pemandangan disitu bertambah seram.

Oh Ci-hui memeriksa sekeliling ruangan itu. Tiba-tiba ia bersuara kaget dan lari kesana. Dari atas meja ia mengambil sebuah benda yang berkilat. Sik Ling yang berada di belakangnya segera mengenali benda itu adalah sebilah pedang emas.

"Lagi-lagi benda terkutuk ini "gumam Oh Ci-hui dengan wajah pucat.

Ketika ia mendongakkan kepala lagi, air mukanya kembali berubah hebat. Ternyata sehelai kain hitam menempel di atas dinding. Itulah kain hitam yang dipakai untuk membungkus lencana Jian-kut-leng. Di atas kain hitam tertulis empat huruf yang ditulis dengan kapur, tulisan itu berbunyi, "Dengan darah membayar darah".

Sampai disini terbuktilah Kim-kiam-hiap memang ada hubungannya dengan kematian Siu Tok pada 17 tahun yang lalu.

Sambil memegang pedang emas itu, Oh Ci-hui bergumam lirih, "Pedang mini ini adalah yang kedua."

Tiba-tiba ia memandang Sik Ling, kemudian tanyanya, "Sik-heng, apakah kau lihat pedang emas yang pertama itu?"

Sik Ling menggelengkan kepala, "Mungkin berada di kamar Saudara Ko!"

Mereka berdua segera lari ke kamar Ko Bun, waktu itu si pemuda baru bangun dari tidurnya. Mendengar cerita Oh Ci-hui, dengan terkejut pemuda itu berseru, "Apa? Saudara Kiong mati?"

Sewaktu Oh Ci-hui menanyakan pedang emas itu, Ko Bun termenung beberapa saat lamanya. Kemudian menggelengkan kepala, "Aku memang pernah melihatnya, tapi setelah itu aku tak tahu pedang itu ditaruh di mana!"

Pedang emas itu hilang lenyap, tapi Oh Ci-hui menganggap bukan suatu kejadian serius, maka merekapun menyampingkan masalah itu.

"Kalau hilang, sudahlah, "demikian ia berkata, "Saudara Ko tak perlu pikirkan lagi." Ia mendekati meja di tepi jendela dan meletakkan pedang emas di sana. Ia menuang air teh dan minum dua cegukan, lalu berkata sambil menghela napas, "Dengan tewasnya Kiong-loji, Mao-toako benar-benar kehilangan seorang pembantunya yang setia. Ai, aku benar-benar tidak mengerti Kim-kiam-hiap bisa memiliki kepandaian sehebat ini?"

Dengan mata kepala sendiri Sik Ling pernah menyaksikan kelihaian Giok-bin-sucia Kiong Si- cang. Dia mampu menghancurkan batu hijau dengan injakan kaki, jelas tenaga dalamnya telah mencapai puncak kesempurnaan.

Sik Ling bepikir, "Kungfu Kim-kiam-hiap sungguh luar biasa padahal ilmu silat Kiong Si-cang juga terhitung jago kelas satu dunia persilatan, tapi nyatanya ia terbunuh juga secara mengerikan di tangan orang itu."

Ko Bun juga menuang dan minum seteguk air teh, kemudian sambil mendekat katanya, "Padahal aku tinggal di kamar sebelah Saudara Kiong, mengapa semalam aku tidak mendengar suara apa-apa?"

Oh Ci-hui menghela napas, "Ai, jangankan suara membunuh orang, uang sejumlah sepuluh laksa tahil perak diangkut pergi dari kamar sebelah juga tidak kita rasakan!"

Merah muka Sik Ling bila teringat peristiwa itu. Tapi iapun merasa heran, jika Kim-kiam-hiap khusus membalaskan dendam bagi kematian Siu Tok, itu berarti antara dia dengan Siu Tok ada hubungan yang luar biasa. . . .

Segera terpikir pula olehnya, "Menurut apa yang kuketahui, Siu Tok tidak bersanak dan tidak berkeluarga. Orang yang ada hubungan dengan dia juga cuma adik Ping seorang "

Teringat pada diri Mao Ping, ia teringat pula kepada manusia aneh berbaju kepingan tembaga dan emas itu, pikirnya lebih jauh, "Urusan ini pasti ada hubungannya dengan mereka."

Tapi hubungan apakah itu? Sekalipun ia sudah putar otak sekian lamanya, tetap tak berhasil mendapatkan jawabannya.

Setelah Mao Ping minggat dari rumah, dalam dunia persilatan hanya dia sendiri yang tahu. Ketika Mao Ping dilarikan kedua manusia aneh juga hanya dia saja yang tahu, tapi dia tak ingin mengutarakannya, sebab ia mengira apa yang diketahuinya sangat terbatas. Padahal apa yang diketahuinya sebenarnya jauh lebih banyak daripada orang lain.

Sehabis minum secangkir air teh, Oh Ci-hui mendekati meja dengan maksud memenuhi cangkirnya lagi. Mendadak ia menjerit kaget, "Hah, kemana larinya pedang emas tadi?"

Ketika dilihatnya daun jendela terbuka segera ia melompat keluar dengan cepat luar biasa, tapi suasana di luar jendela hening, sepi, tak nampak sesosok bayangan manusia pun.

Ketika itu fajar baru menyingsing, sang surya memancarkan sinar keemasan menyinari bumi. Dengan gelisah ia melompat ke atas rumah, tapi disanapun tak nampak sesosok bayangan. Mereka bertiga berada dalam kamar, tapi pedang emas yang terletak di meja bisa lenyap tak berbekas di luar tahu mereka, padahal dua dari tiga orang yang berada di situ tergolong jago silat kelas tinggi.

Ketika melayang masuk lagi lewat jendela, kaki Oh Ci-hui yang belum lagi sempat memakai sepatu tidak merasakan dingin.

Dengan tercengang Sik Ling bertanya, "Apakah pedang emas itu lenyap lagi?"

Pat-bin-ling-long duduk lemas di atas kursi, ia cuma tertawa getir sambil mengangguk. Perutnya yang buncit bergerak naik-turun serupa katak yang kebanyakan minum air, keadaannya lucu dan mengenaskan.

Perlahan Ko Bun menghampirinya, wajahnya yang tampan membawa mimik yang sukar dipahami orang. Ia membetulkan letak kopiahnya, kemudian berkata dengan lantang, "Pedang emas sudah hilang, dirisaukan juga tiada gunanya. Lebih baik Saudara Oh pikirkan cara yang baik untuk mengatasi urusan ini."

Ketika sinar matahari menyorot masuk lewat hendela, dari balik lengan bajunya yang longgar seakan-akan ada mengkilat cahaya emas, namun Sik Ling dan Oh Ci-hui tak melihatnya.

Ko Bun baru pertama kali datang ke Hangciu. Ia menarik napas dalam-dalam menyambut terbitnya matahari musim semi ini. Ia merasa hawa udara seolah-olah mengandung bau yang tidak dikenalnya. Tanpa terasa ia menghirup sekali lagi. Ia tahu di dalam darahnya mengalir udara kota Hangciu, maka ia tersenyum penuh arti.

Setelah menghadapi musibah berulang kali, jalan satu-satunya yang bisa dilakukan Oh Ci- hui adalah minta pertolongan kepada Mao Kau, padahal orang yang benar-benar terpukul oleh peristiwa itu bukan dia, melainkan Mao Kau sendiri.

Jika dia ingin cepat-cepat bertemu dengan Mao Kau, tapi Ko Bun ingin berpesiar dulu ke danau Se-oh. Berhubung Oh Ci-hui berniat membaiki pemuda itu, tentu saja keinginannya itu dipenuhinya.

Berjalan menyusuri tepian telaga yang indah dengan air yang tenang serta bunga teratai yang merah, hati Ko Bun terasa lega dan nyaman.

Sebuah perahu kecil berlabuh di balik pohon liu yang lebat sana, ketika mereka lewat di sisinya, tiba-tiba seorang menyingkap tirai perahu sambil menyapa, "Samsiok, kalian juga datang?"

Ternyata orang ini adalah Mao Bun-ki.

Sekilas terlintas rasa girang di wajah Ko Bun, tapi alasannya bergirang sukar diraba.

Oh Ci-hui tertawa, sahutnya cepat, "Haha, kami lagi kesal karena tak ada perahu pesiar, sungguh beruntung berjumpa dengan kau." "Akupun lagi kesal karena berpesiar seorang diri, memang sangat kebetulan bisa bertemu dengan kalian, "kata Mao Bun-ki pula sambil tertawa merdu.

Suara gadis itu bagaikan kicau burung kenari, kecantikannya seperti bunga yang sedang mekar, di tempat yang indah ini, ia tampak terlebih cantik bagai bidadari.

Ko Bun mengawasinya tanpa berkedip, ia seperti terkesima.

Perahu itu perlahan bergerak mendekat, Mao Bun-ki berdiri di ujung geladak bagaikan bidadari.

Sambil melompat ke atas perahu, Oh Ci-hui berseru tertawa, "Mao-mao, makin lama kau makin cantik."

Mao Bun-ki tertawa senang, ia menunjuk Sik Ling dan Ko Bun, tanyanya, "Siapakah kedua orang ini?"

Oh Ci-hui segera memperkenalkan mereka.

Mao Bun-ki menatap Sik Ling lekat-lekat, kemudian berkata, "Ah, jadi engkau ini paman Sik Ling!"

Setelah tertawa merdu, ia menambahkan, "Pernah kudengar ayah membicarakan dirimu, katanya engkau adalah sahabat karib A-ih (bibi)."

Sik Ling tidak berkata apa-apa, ia memandang jauh kesana, memandang bukit di kejauhan dengan termangu.

Dengan sedih Bun-ki berkata lagi, "Ketika aku dilahirkan, A-ih telah pergi meninggalkan rumah. Ayah mencarinya kesana kemari, tapi tidak menemukannya. Aku betul-betul tidak habis mengerti, kemana dia pergi?"

Sik Ling menghela napas dan berpaling kembali, ketika sekilas melihat Ko Bun, wajah pemuda itu tampak berkerut aneh, tangannya menggenggam cangkir teh erat-erat seperti kuatir cangkir itu akan jatuh. Tanpa terasa dia mengawasinya beberapa kejap, berbagai ingatan berkecamuk dalam benaknya.

Agaknya semua orang sama tenggelam dalam kenangan lama.

Tiba-tiba Pat-bin-ling-long Oh Ci-hui mengetuk meja sambil tertawa, serunya, "Kenangan masa lalu ada baiknya jangan disinggung lagi. Hari ini kita harus bergembira ria. Saudara Sik, kau seorang lelaki sejati, mengapa hari ini bersikap semacam anak gadis? Hahaha, harus dihukum, harus dihukum!"

Perlahan sampan bergerak ke tengah telaga, bunga teratai tersimak, bau harum semerbak di udara. Ko Bun berjalan ke tepi jendela dan menarik napas, ketika berpaling kembali wajahnya telah tenang kembali seperti semula.

"Bagaimana dengan ayahmu?" Oh Ci-hui membuka pembicaraan. Dengan kening berkerut sahut Bun-ki, "Sepanjang hari ayah bermuram durja. Ketika mendengar sembilan orang Sin-pian-ki-su mati konyol, beliau marah sekali. Katanya jika sampai terjadi lagi peristiwa serupa, beliau akan turun tangan sendiri."

Sekali lagi Pat-bin-ling-long menghela napas. Sebenarnya dia hendak memberitahu tentang kematian Giok-bin-sucia, tapi setelah memandang Mao Bun-ki sekejap, niat itu dibatalkan.

"Blang," tiba-tiba terjadi benturan yang keras, begitu keras benturan itu hingga cangkir di tangannya jatuh ke lantai dan tubuhnya hampir saja terjengkang dari tempat duduknya.

Cepat Mao Bun-ki berpegangan pada sisi meja, meski badan perahu menjadi oleng, untung barang-barang di meja tak sampai tumpah. Dengan berkerut kening ia melongok keluar jendela.

Tampak sebuah perahu melintang tepat di sisi perahu mereka.

Dengan marah gadis itu menegur, "Hei, apakah kalian tak punya mata? Seenaknya saja main tumbuk!"

Dari balik jendela perahu sana menongol keluar dua buah kepala, mukanya merah karena kebanyakan minum arak. Sambil memandang wajah Mao Bun-ki, dengan senyuman tengik, serunya, "Wah, galak amat perempuan ini!"

"Kalau perahumu rusak tertumbuk, pindah kemari temani Toaya, pasti Toaya akan mengganti dengan sebuah perahu baru, "kata yang seorang lagi.

Mendengar ucapan orang yang tidak senonoh, air muka Mao Bun-ki berubah pucat menahan gusar.

Oh Ci-hui memburu ke tepi jendela, dampratnya dengan gusar, "Anjing buta, kautahu siapa ini?"

Belum lanjut ucapannya ia telah dicegah Mao Bun-ki, sebab nona ini ingin berkelahi. Jika identitasnya diketahui lawan, niscaya pertarungan tak bakalan berlangsung.

Tiba-tiba gadis itu berjalan ke buritan. Tak lama setelah ia kembali lagi, perahu mereka mendadak berubah arah dan balas menumbuk perahu lawan.

"Blang", benturan keras tak terhindarkan lagi. Kedua kepala yang menongol keluar dengan cengar-cengir saling membentur hingga benjut, dengan kaget mereka menarik kepalanya masing-masing.

Mao Bun-ki tertawa geli, Ko Bun juga tertawa. Rupanya ia tertarik pada peristiwa semacam ini, sedangkan Sik Ling sedang memikirkan sesuatu yang aneh.

"Sewaktu terjadi benturan keras tadi, cangkir di tangan Oh gemuk sampai terpental ke lantai, kenapa cangkir Ko Bun tidak terlepas, malah setetes airpun tidak tumpah? Mengapa bisa begini?" demikian ia berpikir. "Jangan-jangan ia berilmu tinggi, tapi sengaja  menyembunyikannya? Namun bila dilihat dari luar, dia sama sekali tidak mirip seorang yang pandai kungfu."

Perlu diketahui, orang yang belajar ilmu silat pasti memiliki ciri khas yang berbeda dengan orang biasa.

Bagi mereka yang berlatih gwakang (tenaga luar), biasanya akan berotot kuat, kaki dan tangannya kasar, langkahnya mantap, tubuhnya kekar. Sedang bagi mereka yang berlatih lwekang (tenaga dalam), kedua matanya kebanyakan bersinar tajam dan kedua pelipisnya menonjol tinggi.

Apalagi jika orang itu berlatih ilmu kebal sebangsa Kim-ciong-toh, Thi-po-san, Yu-cui-koan- ceng atau Cap-sa-tay-po, ciri-cirinya akan tampak semakin nyata dan mudah terlihat.

Sementara Sik Ling masih termenung, perahu mereka kembali oleng. Rupanya ada orang melompat ke atas perahu mereka.

Mao Bun-ki tertawa dingin. Dari dinding perahu ia lolos pedang bersarung kulit kucing itu, kemudian katanya kepada Oh Ci-hui, "Sam-siok, pernah kau dengar dari ayah tentang pedang ini?"

Dengan tertawa Oh Ci-hui menggeleng kepala.

"Nah, kalau begitu sekarang juga akan kutunjukkan padamu," seru Bun-ki sambil menyingkap tirai dan melangkah keluar.

Tampaknya Ko Bun juga ingin menyaksikan ilmu silat si nona, dengan cepat ia menyusul keluar.

Pat-bin-ling-long berpaling ke arah Sik Ling dan berseru, "Saudara Sik, mari kitapun ikut menonton keramaian. Bapak harimau tak nanti beranak anjing. Ilmu silat budak ini pasti luar biasa."

"Ya, jangan bicara yang lain, melulu pedangnya saja sudah jelas benda mestika, "kata Sik Ling sambil tertawa, "Cuma kalau menggunakan pedang itu untuk menghadapi kaum keroco, hal itu terlalu dibesar-besar kan."

Sambil tertawa mereka keluar dari ruang perahu. Terhadap pertarungan yang akan berlangsung sama sekali tidak terpikir, siapa tahu, begitu tiba di luar, apa yang tertampak jauh di luar dugaan. Jika pertarungan sampai berkobar, jelas urusan jadi tidak sederhana lagi.

Di atas geladak perahu yang luasnya sekitar dua tombak itu telah berdiri angkuh lima orang lelaki berbaju ringkas dengan pedang terhunus. Oh Ci-hui tidak terlalu menaruh perhatian kepada mereka, sebab kedua 'muka merah' tadipun berada di antara mereka.

Sinar mata Oh Ci-hui saat itu tertuju kepada dua orang lelaki jangkung ceking yang berdiri di haluan perahu sana. Ia merasa seperti kenal mereka, andaikan tidak kenal betul, paling tidak pernah bertemu di suatu tempat. Tiba-tiba ia bertepuk tangan, teringat olehnya siapa gerangan itu. Cepat ia memburu ke depan sambil berteriak, "Harap kalian jangan berkelahi dulu, kita semua adalah orang sendiri, bila ada persoalan "

Belum habis dia berkata, kedua orang jangkung itu telah membentak bersama, "Tak perlu banyak omong!"

Salah seorang diantaranya tiba-tiba melayang maju dengan cepat luar biasa, langsung telapak tangan kirinya menghantam muka Oh Ci-hui. Angin pukulan tajam bagaikan golok, lebih dulu Oh Ci-hui telah merasakan pipinya panas pedas.

Buru-buru Oh Ci-hui miringkan kepala dan menghindarkan diri dari serangan tersebut. Dalam repotnya ia sempat melihat lengan baju kanan orang itu kosong melompong. Ini semakin meyakinkan dirinya, siapakah orang ini. Sudah barang tentu ia lebih-lebih tak berani melancarkan serangan balasan.

Tapi serangan yang dilancarkan orang itu secepat kilat. Sre, sret, beruntun dua kali serangan kembali dilancarkan. Semuanya mengarah bagian yang mematikan. Jangan kira lengan kanannya buntung, pukulan-pukulannya betul-betul amat lihai.

Oh Ci-hui terdesak sampai-sampai bicarapun tak sanggup. Ia tetap tak berani melancarkan serangan balasan. Posisinya kian terdesak hingga jiwanya terancam bahaya.

Mao Bun-ki membentak nyaring dan menerjang maju siap memberi bantuan.

Tapi lelaki ceking lainnya segera membentak, kedua telapak tangan menghantam sekaligus. Terpaksa Bun-ki menyingkir ke samping.

Geladak perahu itu tidak begitu luas, setelah ke empat orang terlibat dalam pertempuran, maka tiada tempat luang lain lagi yang bisa dipakai.

Ko Bun berdiri jauh di pinggir pintu, dan mengikuti jalannya pertarungan itu dengan seksama.

Sementara Sik Ling enggan turun tangan, ketika dilihatnya gerak serangan kedua lelaki ceking itu cepatnya bukan main, dia lantas berpikir dengan heran, "Aneh, siapakah kedua orang ini?"

Selewatnya tiga gebrakan, Oh Ci-hui semakin terdesak sehingga kalang kabut. Kungfu yang dikuasainya memang tidak sehebat nama besarnya, apalagi dua tahun belakangan ini tubuhnya bertambah gembrot, ini menyebabkan gerak geriknya bertambah tidak lincah.

Lelaki ceking itu tertawa dingin, serangannya tambah gencar hingga Pat-bin-ling-long bermandi keringat dan tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.

Lain halnya dengan Mao Bun-ki, ia putar pedang bersarung kulit kucing dengan tangan kirinya, ia bergerak kian kemari bagaikan bidadari. Telapak tangan kanan juga melepaskan pukulan enteng. Meski semua pukulan si lelaki ceking itu cukup dahsyat, tapi semuanya dapat dipunahkan si nona dengan mudah. Sik Ling berasal dari perguruan ternama. Setelah menyaksikan pukulan kedua orang lelaki ceking itu, ia dapat merasakan betapa sempurnanya tenaga dalam mereka. Tapi ia lebih terperanjat lagi sesudah melihat ilmu pukulan Mao Bun-ki. Dengan pengalamannya yang luas ternyata tak diketahuinya asal-usul ilmu pukulan yang digunakan nona itu.

Ilmu pukulan kedua lelaki ceking itu adalah ilmu pukulan aliran utara sebangsa Pit-kwa- ciang. Walaupun jurus serangannya tiada sesuatu yang aneh, tapi kecepatannya membuat orang agak repot untuk menyambutnya. Apalagi angin pukulannya menderu deru, membuktikan tenaga dalam mereka cukup sempurna.

Oh Ci-hui betul-betul kececar, sesungguhnya ia ingin melancarkan serangan balasan, tapi hati merasa kuatir. Sedikit kurang berhati-hati, mendadak orang berlengan tunggal itu melancarkan pukulan ke arah iganya dengan jurus Sin-liong-jut-in (naga sakti keluar dari mega).

Dalam kejutnya Oh Ci-hui berusaha berkelit ke samping. Lelaki berlengan tunggal itu tertawa dingin, kontan Oh Ci-hui mendengus tertahan. Jalan darah Ki-bun-hiat tertutuk menyebabkan tubuhnya terkapar lemas.

Jika lelaki berlengan tunggal ini berhasil merobohkan lawannya, di pihak lain Mao Bun-ki juga di atas angin, mendadak bentaknya, "Dengan kepandaian semacam ini saja berani berlagak, hmm tak tahu malu."

Lelaki jangkung naik pitam, sambil bersuit dan melompat mundur, kemudian ia memberi tanda kepada lelaki berlengan tunggal, serunya, "Lotoa, beri dia senjata rahasia!"

Sementara itu air muka Ko Bun agak berubah setelah menyaksikan kelihaian Mao Bun-ki, sedangkan Sik Ling menghela napas dan berbisik, "Orang baru selalu bermunculan di dunia, orang lama memang pantas digantikan oleh orang baru. Ilmu silat anak perempuan itu sungguh luar biasa "

Ia betul-betul merasa kagum, hilanglah ambisinya ingin menonjol di dunia Kangow. Ia lantas berpeluk tangan menyaksikan jalannya pertarungan itu.

Jago pedang muda yang dahulu dianggap orang punya masa depan cemerlang sama sekali tak berambisi lagi. Ia enggan berebut nama dengan orang, padahal semua ini tak lain hanya dikarenakan oleh cinta yang gagal.

Kedua orang ini melompat mundur, tapi serentak mereka menerjang maju lagi.

Dalam pada itu Oh Ci-hui yang roboh tertutuk jalan darahnya dapat mengikuti semua kejadian dengan jelas. Tak tertuliskan rasa gelisah dan cemasnya, "Mao-mao sungguh gegabah, "demikian ia berpikir, "Masa dia berani bertarung melawan Ho-siok-siang-kiam?"

Kiranya kedua orang lelaki jangkung ini bukan lain adalah Ho-siok-siang-kiam yang namanya terdapat dalam deretan Jit-kiam-sam-pian. Si lelaki bertangan buntung itu bukan lain adalah Ong It-peng yang lengannya dipatahkan oleh Siu Tok dahulu. Karena luka membusuk, terpaksa lengan harus dipotong, sedangkan yang lain sudah tentu ialah Ong It-beng.

Begitu setelah mundur Ho-siok-siang-kiam mendadak menerjang maju pula, cahaya pedang menyambar bagaikan pelangi melintas di udara.

Cahaya pedang Ong It-peng menyambar dari sebelah kiri ke kanan, sedangkan cahaya pedang Ong It-beng menyambar dari kanan ke kiri, sret, sret, serangan mengacip mengancam tubuh Bun-ki dengan lihai.

"Ilmu pedang bagus!" diam-diam Sik Ling memuji.

Mao Bun-ki sama sekali tidak bergeser dari tempatnya. Betul juga, serangan itu cuma gerak tipu. Ketika serangan tiba di tengah jalan, tahu-tahu berubah arah dan membuat gerak setengah melingkar dan mengancam tenggorokan dan bawah perut gadis itu.

Kedua serangan itu dilakukan pada saat yang sama, suatu kerja sama yang rapi.

Oleh karena lengan kanan Ong It-peng sudah kutung, dia mainkan pedangnya dengan tangan kiri. Walaupun demikian serangannya justru lebih ganas dan keji.

Kiranya selama beberapa tahun belakangan ini kedua Ong bersaudara tersebut giat berlatih ilmu pedang Ji-gi-kiam-hoat yang dimainkan bersama. Kekuatannya tentu saja hebat sekali.

Bun-ki tertawa, sekali bergeser tahu-tahu ia sudah bergerak tiga kaki ke samping. Waktu tangannya bergerak, semua orang merasakan silau oleh cahaya merah yang berkelebat. Hanya sekejap mata saja tahu-tahu Mao Bun-ki telah melolos pedangnya.

Cahaya pedang itu tidak hijau kebiruan, tapi berwarna kemerahan. Cahayanya mengejutkan, pedangpun mengagumkan, entah senjata itu terbuat dari bahan apa?

Begitu pedang terlolos, semua orang baru terkejut, malah Sik Ling yang sudah lama berkelana pun tak tahu asal-usul pedang itu.

Apalagi Ko Bun, ia menatap pedang tersebut tanpa berkedip.

Kedua Ong bersaudara juga ahli pedang. Entah berapa ratus batang pedang mestika pernah dilihatnya, tapi sekarang air muka merekapun berubah hebat.

Dengan cepat mereka putar pedang membentuk setengah lingkaran, menyusul terus menusuk ke tengah. Sementara ujung pedang berbunyi mendengung karena getaran tenaga dalam mereka, kemudian secara tiba-tiba berubah menjadi puluhan lingkaran kecil yang menghujani tubuh Mao Bun-ki. Itulah jurus Jit-gwat-ceng-hui (matahari dan rembulan berebut cahaya), suatu jurus ampuh dari ilmu pedang Ji-gi-kiam-hoat mereka.

Waktu itu Oh Ci-hui masih berbaring di atas tanah. Meskipun matanya terpentang lebar, sayang tak bisa mengikuti jalannya pertarungan itu. Kiranya sewaktu roboh tadi, kebetulan kepalanya menghadap ke samping sana. Oleh karena badannya tak mampu bergerak, otomatis kepalanya tak bisa berputar. Rasa gelisahnya waktu itu ibaratnya seekor babi di ujung pisau tukang jagal.

Senyuman tetap menghiasi wajah Mao Bun-ki. Tiba-tiba cahaya pedangnya memanjang menyongsong cahaya pedang Ho-siok-siang-kiam.

Sementara itu Ho-siok-siang-kiam merasakan pedang yang terpegang seperti bertemu dengan suatu tenaga isapan yang kuat sekali. Rasanya tak sanggup bertahan dan menyodorkan pedangnya ke arah lawan.

"Bawa kemari!" bentak Mao Bun-ki sambil tertawa.

Di tengah cahaya yang bertaburan, bayangan manusia terpencar. Ho-siok-siang-kiam serentak melompat mundur ke belakang. Tangan mereka sudah kosong. Dengan terbelalak kaget mereka mengawasi musuh tanpa berkedip.

Senyum Mao Bun-ki semakin manis. Tangannya terjulur ke depan dan terlihatlah kedua bilah pedang kedua Ong bersaudara melengket di atas pedang yang berwarna merah itu.

Dengan suatu getaran keras, tiba-tiba gadis itu mengayunkan pedangya. Kedua pedang rampasan itu mencelat ke udara dan tercebut ke dalam danau.

Kembali semua orang terkejut, demonstrasi tenaga dalam si gadis terbukti memang luar biasa.

Sudah hampir tiga puluh tahun nama besar Ho-siok-siang-kiam mengisi sejarah persilatan. Kecuali kecundang di tangan Siu-sianseng tempo dulu, selama belasan tahun terakhir ini tak pernah menemukan musuh tangguh. Tapi kenyataannya sekarang, belum sampai tiga gebrakan, pedang mereka sudah dirampas oleh seorang gadis ingusan yang tidak diketahui asal-usulnya. Maka dapat dibayangkan bagaimana perasaan mereka sekarang.

Bagi seorang jago pedang, terampasnya senjata mereka dianggap sebagai suatu penghinaan, apalagi dengan kedudukan Ho-siok-siang-kiam dalam dunia persilatan yang cukup disegani.

Dengan perasaan bagaikan diiris-iris, kedua Ong bersaudara cuma bisa memandang Mao Bun-ki dengan melongo. Kepandaian silat gadis itu betul-betul membuat mereka terkesiap.

Biasanya kelima orang muridnya itu sangat menghormati guru mereka bagaikan menghormati dewa, sekarang mereka pun merasa sangat sedih sehingga air muka pun berubah.

Orang tadi tidak merah lagi wajahnya, sebaliknya berubah menjadi pucat hijau. Sekalipun mereka menggenggam pedang, namun tak seorangpun berani turun tangan. Setelah Ho-siok-siang-kiam mundur, Oh Ci-hui yang tergeletak di tanah pun bisa melihat keadaan mereka dengan jelas.

Dari mimik wajah mereka dan tangan mereka yang kosong, segera diketahuinya kedua orang itu sudah kecundang. Kejut dan girang bercampur aduk dalam hatinya.

Ia terkejut karena Mao Bun-ki bisa mematahkan nama besar Ho-siok-siang-kiam, padahal kedua orang itu adalah sahabat ayahnya. Entah cara bagaimana sakit hati itu akan ditagih nanti.

Dia girang karena putri sahabatnya memiliki ilmu silat sangat lihai. Dalam suasana yang penuh kesulitan dewasa ini, tak bisa disangkal lagi kalau nona ini adalah seorang pembantu yang bisa diandalkan. Sebab tidak banyak jago di dunia ini yang sanggup mengalahkan Ho- siok-siang-kiam.

"Ilmu pedang kalian berdua sungguh hebat sekali, "kata Mao Bun-ki sambil tersenyum. Perlahan ia menyarungkan kembali pedangnya ke sarung kulit kucing. Kemudian katanya pula, "Cuma, bila dengan kepandaian kalian ini ingin bikin keonaran di Se-oh sini dan menumbuki perahu orang, kukira kalian perlu belajar lebih giat lagi."

Air muka Ho-siok-siang-kiam berubah menjadi hijau pucat, saking gusarnya tubuh mereka menggigil, sepatah katapun tak sanggup diucapkan lagi.

Mao Bun-ki kembali menyindir, "Aku tahu, kalian berdua pasti tidak puas bukan? Itu tak menjadi soal, bila kalian ingin cari diriku lagi, langsung saja mencari orang she Mao di kota Hangciu ini."

Tiba-tiba air muka Ho-siok-siang-kiam berubah hebat, serunya hampir bebareng, "Apakah ayahmu adalah Leng-coa Mao Kau?"

"Tepat sekali!" jawab Bun-ki sambil tertawa.

Mendengar itu, tanpa mengucapkan sepatah kata lagi Ho-siok-siang-kiam mengentak kaki terus melompat kembali ke atas perahu mereka sendiri.

Lalu Bun-ki berpaling ke arah kelima orang lelaki yang lain, tegurnya dengan tertawa, "Mengapa kalian belum enyah dari sini?"

Suaranya lembut dan enak didengar, tapi mendatangkan perasaan yang seram bagi kelima orang itu. Tanpa bicara merekapun melompat ke atas perahu sendiri.

Siapa tahu, dalam gugupnya mereka lupa tenaga dalam sendiri masih cetek, tak ampun lagi "plung! plung!" beberapa orang diantaranya tercebur ke dalam telaga.

Bun-ki tertawa terpingkal-pingkal menyaksikan kejadian itu. Mendadak dilihatnya Oh Ci-hui masih menggeletak di tanah. Ia lantas menghampirinya dan membebaskan jalan darahnya yang tertutuk.

Begitu Oh Ci-hui melompat bangun, ia menumpahkan riak kental, lalu ia menarik napas panjang. "Sam-siok, menyakitkan dirimu saja, "kata Bun-ki dengan tertawa.

Dengan murung dan napas tersengal, sahut Oh Ci-hui, "Tersiksa sedikit tidak mengapa, tapi tahukah nona bahwa engkau telah membuat bencana besar?"

"Bencana apa?" tanya Bun-ki dengan heran.

"O, nonaku! Kau telah menghajar orang setengah harian, apakah belum kau ketahui siapakah mereka itu?"

Bun-ki menggeleng kepala.

"Ya, akupun tahu kau pasti tidak kenal mereka, "kata Oh Ci-hui. "Sebab jika tahu tak nanti kau hajar kedua orang itu."

Gelisah juga Bun-ki mendengar ucapan itu, desaknya, "Siapakah kedua orang itu? Sam-siok, kalau bicara jangan bertele-tele!"

"Mereka adalah Ho-siok-siang-kiam yang sama tinggi namanya bersama ayahmu." Melengak Bun-ki mendengar keterangan itu.

Sik Ling juga terperanjat, sambil melangkah maju serunya, "Jadi mereka Ho-siok-siang- kiam?"

Hanya Ko Bun saja tetap berdiri dalam kegelapan dengan wajah senyum tak senyum, entah apa yang dipikirnya.

Bun-ki menghampirinya, dengan tertawa tegurnya, "Hei, kau lagi melihat apa? Aku berkelahi, kenapa tidak kau bantu?"

Sambil geleng kepala, Ko Bun tertawa getir, "Bukannya aku tak mau membantu, apa daya kalau aku tak mampu? Mana aku berani mencari penyakit sendiri?"

Terkikik geli Bun-ki, "Coba lihat, masa bicara semacam ini."

Padahal dia dan Ko Bun baru kenal, namun gadis itu sedikitpun tidak nampak malu.

Sik Ling heran juga menyaksikan lagaknya itu, mana dia tahu bahwa sejak dilahirkan Mao Bun-ki belum tahu apa yang disebut malu.

Menyaksikan kepolosan gadis itu, Ko Bun tersenyum, "Pedang nona menarik sekali, bolehkan kumohon lihat sebentar?"

"Boleh sih boleh, Cuma "tiba-tiba Bun-ki menarik napas panjang kata yang terakhir itu.

"Cuma apa?"

"Cuma kalau bicara lagi, janganlah pakai mohon segala, bikin kikuk saja, "seru si nona dengan perasaan geli. "Nona ini sungguh polos dan lugas, "pikir Sik Ling dengan tersenyum.

Ketika gadis itu melolos pedangnya, Ko Bun mundur dua langkah seperti merasa terkejut. Sik Ling juga kaget, "Kenapa cahaya pedang ini sedemikian aneh?"

"Coba kauraba, "kata Bun-ki sambil tertawa.

Ko Bun berdiri agak jauh, dia menggeleng kepala.

Sambil tertawa, Oh Ci-hui segera menghampirinya seraya berkata, "Kenapa takut meraba pedang?"

Ia sendiri lantas mengulurkan tangannya dan meraba batang pedang tersebut.

Tapi baru saja ujung jari menyentuh pedang, mendadak sekujur badannya bergetar. Melonjak kaget, cepat ia menyurut mundur dengan wajah pucat, jeritnya, "He, apa yang terdapat pada pedang ini?"

Bun-ki cekikik geli, "Sam-siok, kau tertipu, "serunya.

Kemudian sambil mengerling sekejap ke arah Ko Bun, ia menambahkan, "Kau lebih pintar tampaknya."

Sik Ling sendiri meski ikut tertawa, namun hati amat terkejut. Sudah lama dia menjelajahi dunia, tapi belum pernah melihat ada orang melonjak lantaran meraba pedang, bahkan mendengarpun belum pernah.

Sementara itu, tiba-tiba dari tengah danau meluncur datang sebuah sampan kecil dengan kecepatan tinggi. Bukan saja si pendayung sampan itu hapal dengan keadaan disini, tenaga dayungnya juga kuat sekali. Dalam waktu singkat sampan itu sudah mendekat.

Ketika tiba di depan perahu yang ditumpangi Mao Bun-ki, tiba-tiba dia memutar dayungnya sehingga perahu itu berhenti. Lalu dengan gerakan yang enteng melayang naik ke atas perahu, gerakannya lincah, jelas seorang jagoan tangguh dari dunia persilatan.

Begitu tiba di atas perahu, orang itu lantas menegur Mao Bun-ki, "Tampaknya kau membuat keonaran lagi?"

Ko Bun melihat orang itu masih muda, wajahnya tampan, tubuhnya jangkung dan mengenakan baju warna kuning emas. Matanya memandang ke atas dengan sikap angkuh. Orang ini ternyata bukan lain daripada Giok-bin-sucia Kiong Si-cang yang telah tewas terbunuh di rumah penginapan tempo hari.

Air muka Ko Bun berubah hebat, sekujur badan menggigil, agaknya ia merasa ngeri dan takut karena orang yang telah mati terbunuh tahu-tahu muncul kembali dalam keadaan segar bugar. Sik Ling juga terperanjat, tapi Mao Ping dan Oh Ci-hui hanya tersenyum saja, seakan-akan kejadian itu tak perlu dikejutkan.

Perlahan Mao Bun-ki memasukkan pedang ke sarungnya, lalu sambil tersenyum berkata, "Dari mana kau tahu aku membuat keonaran?"

Sedangkan Oh Ci-hui berseru, "Apakah Ho-siok-siang-kiam telah sampai di rumah Mao- toako? Cepat amat langkah mereka!"

Pemuda tampan itu memandang sekeliling perahu, kemudian berhenti pada wajah Ko Bun, katanya dengan tertawa, "Mereka belum sampai di rumah suhu, hanya secara kebetulan kujumpai di tepi danau. Mereka marah-marah, bahkan bilang hendak pulang ke Ho-siok dan tak mau mencampuri urusan di sini lagi."

Dia tersenyum, ia memandang Mao Bun-ki sekejap dan menambahkan, "Hmm, siapa suruh kedua makhluk tua itu berani mencari gara-gara pada Hau-po-sin-kiam milik adik Ki? Salah mereka, mencari penyakit sendiri."

Dari pembicaraannya dapat diketahui pemuda inipun memandang rendah kemampuan Ho- siok-siang-kiam, selain bermaksud mengumpak Mao Bun-ki.

Betul juga, Mao Bun-ki tersenyum manis demi mendengar pujian tersebut.

Perlahan pemuda tampan itu mendekati Ko Bun, sekulum senyuman masih menghiasi wajahnya.

Walau Ko Bun berusaha menenangkan hatinya, tak urung pucat juga wajahnya.

Oh Ci-hui tertawa sambil menghampirinya dan berkata, "Saudara Ko, mari kuperkenalkan dirimu dengan seorang jago kosen."

Ia mengedipi Ko Bun, lalu menuding pemuda tampan itu, katanya, "Dia inilah salah seorang dari kesepuluh murid Leng-coa Mao-toako, tokoh ketiga dalam Giok-kun-sucia. Orang menyebutnya sebagai Leng-hong-sucia (utusan angin sejuk) Kiong Liang-cang. Kiong-jihiap, semoga kau bisa bergaul akrab dengan dia."

Kiong Liang-cang tertawa, katanya, "Melihat sikap Saudara Ko ini, agaknya kenal juga dengan kakakku. Orang persilatan memang tak sedikit yang salah sangka kami berdua saudara sebagai satu orang."

Kemudian ia berpaling ke arah Oh Ci-hui dan melotot, lalu berkata lagi, "Oh sam-siok, tak usah memberi tanda kedipan mata kepada Saudara Ko. Berita kematian kakakku sudah kuketahui. Tak heran bila ia terperanjat melihat kedatanganku, tentunya dia mengira ada orang mati bisa hidup kembali."

Setelah mendengar penjelasan ini, baru Ko Bun mengerti akan duduknya perkara. Tanpa terasa dia perhatikan orang yang bernama Leng-hong-sucia ini lebih seksama. Sementara di mulut dia mengucapkan beberapa kata sungkan, dalam hati dia berpikir, "Kecerdikan dan keculasan Leng-hong-sucia tampaknya di atas kakaknya. Sekalipun mendengar berita kematian kakaknya, sama sekali ia tidak memperlihatkan rasa sedih. Bisa diketahui betapa kejinya orang ini. Padahal Oh Ci-hui cuma mengedip mata, tapi ia bisa menebak maksud orang, bahkan membongkarnya secara terang-terangan. Manusia semacam ini, makin pintar makin berbahaya pula bagi masyarakat "

Karena ditegur secara terang-terangan, Oh Ci-hui tertawa jengah. Buru-buru ia mengalihkan pembicaraan ke soal lain dengan memperkenalkan Sik Ling.

Air muka Sik Ling dingin dan kaku, rupanya iapun tidak puas pada keketusan orang. Sementara itu Kion Liang-cang sedang bertanya, "Sewaktu kakakku tewas, apakah Saudara 

Ko juga hadir di sana?"

Ko Bun manggut-manggut, sikapnya kembali acuh-tak acuh.

Oh Ci-hui menghela napas, katanya, "Kematian kakakmu memang mengenaskan, tapi Kiong hiantit jangan terlalu sedih "

Diam-diam Sik Ling mendengus, pikirnya, "Orang sama sekali tidak tampak sedih, omong kosong melulu Pat-bin-ling-long ini "

Tampaknya Kiong Liang-cang tidak begitu suka pada 'Oh-samsiok' ini, bahkan tanpa sungkan-sungkan untuk memperlihatkan ketidak sukaannya itu. Hakikatnya ia tidak menggubris perkataan Oh Ci-hui tersebut.

Kepada Mao Bun-ki, ia berkata, "Suhu selalu menguatirkan dirimu, takut kau bikin gara-gara, padahal beliau juga terlalu banyak pikir. Dengan pedangmu ini, masa engkau sampai kecundang di tangan orang?"

"O, jadi kau anggap aku hanya mengandalkan keampuhan pedang ini saja?" seru Mao Bun- ki mendongkol, "jangan kau anggap ilmu silatmu paling hebat. Hmm, dengan bertangan kosongpun aku mampu meroboh kau."

Seketika air muka Kiong Liang-cang rada berubah, tapi sedapatnya ia bersabar, katanya lagi sambil tersenyum, "O, tentu, tentu saja. Siapa yang tidak kenal pada murid kesayangan To- liong-siancu? Jangankan aku, biarpun kami bersepuluh Saudara maju sekaligus juga tak mampu menandingi dirimu!"

Kali ini Mao Bun-ki benar-benar marah, sambil mengentak kaki dia berseru, "Bagus, kau berani menyebut nama guruku? Hm, tampaknya kau sudah bosan hidup?"

Buru-buru Oh Ci-hui melerai, dengan senyumnya yang khas dia berkata, "Ai, kalian masih saja seperti sepuluh tahun berselang, asal bertemu lantas ribut. Apakah tidak malu akan ditertawakan orang?"

Diam-diam Sik Ling berpikir pula, "Tampaknya Kiong Liang-cang juga jatuh hati kepada nona Mao " Ko Bun sedang memandang langit, seakan-akan sedang termenung karena mendengar nama seseorang.

Nama "To-liong-siancu" (si dewi pembunuh naga) yang disebut Kiong Liang-cang tadi seolah-olah tidak menarik perhatian orang, seakan-akan nama itu tak ada harganya diperhatikan orang. Hal ini bukan dikarenakan pengetahuan mereka yang dangkal, tapi karena mereka dilahirkan agak lambat puluhan tahun sehingga asing terhadap nama seseorang tokoh perempuan yang kedudukannya sejajar dengan Hay-thian-ko-yan.

Tentu saja hal inipun disebabkan watak To-liong-siancu sendiri yang suka menyendiri, sekalipun memiliki kungfu maha tinggi, tapi jarang sekali perlihatkan diri dalam dunia persilatan.

Demikianlah, setelah Oh Ci-hui angkat bicara, untuk sesaat suasana dalam ruang perahu itu menjadi hening.

Kiong Liang-cang melenggong sejenak, air mukanya sebentar terang sebentar kelam. 

Diolok-olok orang di depan umum memang sesuatu yang tak enak, tapi perasaan lain memaksa dia mau tak mau menerima ketidak enakan tersebut.

Perlahan dia berjalan ke haluan perahu, tiba-tiba ia membalik badan, katanya, "Silakan kalian pesiar dulu, aku akan pulang memberi laporan kepada suhu bahwa Oh-samsiok dan Sik- tayhiap dari Bu-tong datang."

Hati Sik Ling tergerak, ia tahu orang persilatan masih belum melupakan namanya.

Kiong Liang-cang sekali lagi menjura, sementara sampan yang ditumpangi tadi sudah terbawa arus hingga terpisah dua tombak lebih dari tempat semula.

Ia sengaja hendak pamer ginkang, sekali melejit ia mengapung ke udara, kedua lengan terpentang lalu meluncur ke depan.

Dia sudah mengincar sasarannya pada sampan itu dengan seksama, ia akan melayang turun di atas sampan dengan enteng. Tentu saja tujuannya yang terutama adalah untuk dipamerkan kepada Mao Bun-ki.

Siapa tahu, ketika daya layang mulai berakhir dan kaki hampir turun di atas sampan, mendadak sampan kecil itu bergeser beberapa kali ke samping seakan-akan ada orang yang secara tiba-tiba menarik sampan itu.

"Plung!" tak ampun lagi ia tercebur ke dalam danau, air muncrat ke empat penjuru.

Oh Ci-hui sekalian menjadi terkejut. Sik Ling juga merasa kejadian ini di luar dugaan, tanpa terasa ia melirik sekejap ke arah Ko Bun.

Dilihatnya anak muda itu sedang membelai rambutnya yang terembus angin, wajahnya sama sekali tidak menunjukkan reaksi apa-apa, sekali lagi perasaan Sik Ling tergerak. Sebenarnya Kiong Liang-cang berniat pamer kepandaian, siapa tahu malah tercebur ke air. Untung sejak kecil ia hidup di Kanglam dan mahir berenang, begitu tenggelam dengan cepat ia muncul kembali ke permukaan air dan berenang ke arah perahu.

Walaupun akhirnya berhasil juga naik kembali ke atas perahu pesiar, toh keadaannya basah kuyup persis ayam yang kecemplung ke dalam sungai, mengenaskan sekali keadaannya.

Bila dibandingkan kegagahan serta kejumawaannya ketika naik ke atas perahu tadi, tentu saja keadaannya sekarang sangat konyol.

"Siapa yang main gila padaku?" serunya gemas, "aku "

Saking gusarnya dia tak mampu melanjutkan ucapannya.

Mao Bun-ki yang baru keluar dari ruang perahu tertawa geli melihat keadaannya yang mengenaskan itu, rupanya gadis ini sangat senang bila pemuda itu tertimpa musibah.

Namun tak seorangpun yang mengetahui kejadian yang sebenarnya, tapi ada dua kemungkinan yang bisa berakibat demikian.

Pertama, ada orang menyelam ke bawah dan menarik sampan itu ketika tubuh orang hampir turun keatas perahu. Kedua, ada orang yang melancarkan pukulan jarak jauh sehingga sampan itu terdorong ke belakang.

Walaupun demikian, kedua kemungkinan inipun rasanya sukar terjadi. Apalagi kemungkinan yang kedua, sebab dalam dunia persilatan dewasa ini tidak banyak orang yang memiliki tenaga dalam sedemikian sempurnanya. Apalagi beberapa orang yang berada di atas perahu sekarang, kendatipun mereka terhitung jago kelas tinggi dalam dunia persilatan, tapi mustahil bisa memiliki tenaga dalam sedemikian sempurnanya.

Inilah sebabnya biarpun Kion Liang-cang marah-marah, tapi tak menemukan sasaran yang tepat untuk melampiaskan hawa amarahnya itu. Tentu saja terhadap tertawa ejekan Mao Bun-ki ia cuma bisa menahannya dalam hati, kecuali itu apa pula yang bisa dia lakukan? 

Suasana menjadi canggung, hanya pada wajah Ko Bun dan Mao Bun-ki terlihat senyuman. Meski wajah Kiong Liang-cang sekarang tidak bisa dibilang 'pucat seperti mayat', paling tidak keadaannya sudah lemas dan lesu.

Sesudah perahu merapat di pantai, pengaruh Leng-coa Mao-kau di kota Hang-ciu segera terlihat jelas. Setiap orang yang berada di tepi telaga, dari lapisan masyarakat manapun, semuanya menyapa dengan hormat kepada Kiong Liang-cang yang mengenaskan itu. Wajah mereka sama sekali tak berani menampilkan perasaan tercengang atau geli.

Tempat tinggal Leng-coa Mao-kau lebih mengejutkan lagi, mungkin tiada gedung yang lebih besar dan lebih megah daripada gedungnya di seluruh kota Hang-ciu ini, sekalipun rumah pembesar setempat. Pintu gerbang yang berwarna merah terpentang lebar, dua buah singa batu berdiri di tepi pintu dan mengawasi setiap orang yang berlalu lalang, seakan-akan Leng-coa Mao-kau sendiri sedang mengawasi setiap jago persilatan di dunia ini.

Setiap orang yang berjalan bersama putri kesayangan atau murid kesayangan Mao Kau tentu saja tidak perlu lapor atau minta ijin masuk, maka mereka langsung diantar ke dalam ruang tamu Leng-coa Mao Kau yang diatur secara megah dengan perabot yang mewah.

Ko Bun berjalan di samping Oh Ci-hui, tiba-tiba ia menarik ujung bajunya sambil berbisik, "Saudara Oh, sudah sekian hari kita berkumpul, boleh dibilang kita sudah sama-sama tahu keadaan masing-masing, persoalan yang mengganjal hati Oh-heng juga telah kuketahui. Apalagi selama ini Oh-heng sudah banyak membantuku, entah boleh tidak sekarang akupun membantu Saudara Oh?"

Mendengar itu, Oh Ci-hui sangat girang, ia tidak menyangka persoalan yang selama ini tak berani ia singgung kini telah disinggung lebih dulu oleh yang bersangkutan. Namun diluar ia sengaja bersikap rikuh, "Ah, mana, mana . . . kenapa Ko-heng berkata demikian "

Ko Bun tersenyum, katanya lagi, "Ketika Saudara Oh kehilangan barang kawalan, siaute juga ikut di sampingmu. Sayang siaute tak bertenaga, tak bisa membantu apa-apa kepada Saudara Oh. Kalau dibicarakan, sungguh memalukan sekali. Untunglah siaute mendapatkan kasih sayang dari orang tuaku "

Berbicara sampai disini, sengaja ia berhenti.

Oh Ci-hui tak tahan, sambil tertawa dia lantas menukas, "Siaute tahu keluarga Saudara Ko kaya rara. Dalam pandangan orang lain uang kawalanku yang hilang itu mungkin suatu jumlah yang besar, tapi sudah pasti tak terpandang sebelah mata oleh Ko-heng. Cuma siaute tidak punya jasa apa-apa, mana berani kuterima pemberianmu itu?"

"Wah, kalau Saudara Oh berkata demikian, sama artinya dengan memandang asing diriku, soal uang, tanggung beres."

Mimpipun Oh Ci-hui tidak mengira kalau pemuda kaya ini begini murah hati kepadanya. Tentu saja tak terlukiskan rasa terimakasihnya kepada Ko Bun.

Terdengar Ko Bun berkata pula, "Jika bertemu dengan Mao-tayhiap nanti, tolong Saudara Oh mengakui diriku sebagai sahabat karibmu, dengan demikian jika uang kawalanmu yang hilang itu kujamin, orang lain tentu tak bisa bilang apa-apa."

Sudah barang tentu Oh Ci-hui mengiakan berulang kali, bahkan merasa amat berterimakasih karena Ko Bun telah memikirkan kepentingannya dengan begitu sempurna. Jangankan baru mengakui dia sebagai sahabat, sekalipun harus mengakui Ko Bun sebagai Bapak pun sanggup.

Diam-diam Ko Bun mencibir, cibiran yang menandakan perasaan senang karena apa yang dituju telah tercapai. Sementara kedua orang itu sedang berbicara dengan suara lirih, tiba-tiba dari dalam terdengar seseorang berdehem, kemudian menegur dengan lantang, "Apakah Oh-losam yang membawa Sik-lote datang bersama?"

Suara itu tajam melengking, amat menusuk pendengaran, membuat siapa saja yang mendengar akan merasa tidak enak.

Tanpa terasa semua orang berpaling. Tertampaklah melangkah keluar seorang kakek tinggi kurus, bertulang kening tinggi, berhidung elang, mata cekung dan sinar matanya tajam. Sekalipun wajahnya penuh keriput yang menandakan usianya telah lanjut, namun langkah kakinya masih tetap gagah perkasa, sama sekali tidak menunjukkan ketuaannya.

Buru-buru Oh Ci-hui melangkah ke depan dan memberi hormat, sahutnya dengan tertawa yang dibuat-buat, "Mao-toako, baik-baikkah engkau? Sudah lama sekali siaute tidak datang menyampaikan salam kepada toako."

Mao Kau terbahak-bahak, lagak lagunya sengaja dibuat-buat sambil menarik tangan Oh Ci- hui serunya, "Kita kan sesama Saudara sendiri, kenapa sungkan?"

Dengan sinar mata yang tajam dia awasi wajah setiap orang, kemudian sambil tertawa ia menghampiri Sik Ling, katanya, "Sudah sekian tahun tak berjumpa, tak tersangka adik masih semuda ini, tidak seperti kakakmu ini, sudah tua, tua sekali "

Dengan suara yang mendekati keluhan, dia mengakhiri perkataannya itu. Walaupun ia mengaku sudah tua, tapi setiap orang tahu, itu cuma ucapan di bibir, sedang hatinya belum tentu mau mengakui ketuaannya itu.

Waktu itu perhatian semua orang tertuju pada wajah pentolan Bu-lim ini, oleh karena itu perubahan sikap Ko Bun sama sekali tidak diperhatikan orang.

Tapi manusia macam Ko Bun tak nanti mendapat perlakuan dingin dimanapun dia datang. Sinar mata Mao Kau perlahan beralih ke wajahnya, sambil tersenyum katanya, "Adik ini masih asing bagiku, tentunya seorang jago muda yang belum lama muncul di dunia persilatan, bukan?"

Setelah tertawa nyaring, ia melanjutkan, "sudah sekian tahun tak pernah kutinggalkan kota Hang-ciu, terhadap jago-jago muda dari persilatan boleh dibilang asing sekali."

"Kali ini Mao-toako salah melihat, "seru Oh Ci-hui cepat, "Ko-lote ini adalah kenalanku ketika mengawal barang menuju ke Oh-tang dahulu, seandainya tiada Ko-lote, mungkin papan merek Peng-an piaukiok sudah rontok dan bangkrut."

"Oo!" Mao Kau bersuara tercengang.

Agaknya Oh Ci-hui merasa keterangannya belum cukup, dengan cepat ia berkata lagi, "Jaman seperti ini, teman yang baik seperti Ko-lote sungguh sukar dicari. Mao-toako, betul tidak?"

"Betul, betul!" Mao Kau mengangguk. Maka dengan mudah Ko Bun berhasil menimbulkan kesan baik bagi pentolan Bu-lim ini dalam pertemuan yang pertama ini.

Maklumlah, di dunia ini banyak jalan yang bisa menimbulkan kesan baik orang lain terhadap diri sendiri, tapi tak bisa disangkal uang adalah suatu cara yang paling cepat dan efektif.

Dari sekian banyak orang, hanya Sik Ling saja yang merasa curiga, sebab hanya dia yang tahu Ko Bun dan Oh Ci-hui belum lama berkenalan. Ia tidak habis mengerti, kenapa Ko Bun menggunakan berbagai macam cara untuk menarik kesan baik Oh Ci-hui dan Mao Kau.

Ia yakin di balik semua ini pasti tersembunyi suatu rahasia besar, sekalipun ia dapat menebaknya sebagian, namun segan untuk mengutarakannya. Bahkan dia berharap apa yang diduganya itu bisa lebih dekat dengan kenyataan.

Setelah Mao Kau mendapat tahu kedua kejadian terakhir yang tak terduga itu, senyuman bangga yang semula menghiasi wajahnya seketika lenyap.

Sekalipun begitu, ia tetap berlagak tenang. Ketika Oh Ci-hui melaporkan tentang Kim-kiam- hiap dia lantas berkata, "Oh-losam, kita adalah saudara sendiri. Janganlah mengagumi kehebatan orang lain dan meremehkan kemampuan sendiri. Kendatipun Kim-kiam-hiap memiliki tiga kepala dan enam tangan, jangan harap akan lolos dari cengkeramanku."

Baru sekarang sinar mata Ko Bun beralih dari wajah Mao Kau, ia pandang sekeliling ruang besar ini.

Tiba-tiba sinar matanya tertarik oleh sebuah benda yang berada dalam ruangan ini. Kiranya di tengah ruangan itu terdapat sebuah meja altar yang berlapiskan kain hitam. Hal ini sangat menyolok dibandingkan dengan perabot lain yang berada dalam ruangan.

Sinar matanya yang aneh dan sukar diraba artinya kembali terpancar, seakan-akan tidak sengaja pemuda itu berjalan mendekati altar itu dan memperhatikannya dengan seksama.

Oh Ci-hui segera menghampirinya seraya berbisik, "Di dalam pemujaan berkerudung itu berisikan lencana Jian-kut-leng milik Mao-toako. Kau tahu di balik lencana itu terdapat suatu cerita yang amat menggemparkan dunia persilatan."

Ko Bun menundukkan kepala sambil mengiakan, diam-diam tangannya yang tersembunyi dalam lengan baju terkepal erat . . . .

Atas undangan tuan rumah dan dalam keadaan sukar menolak, malam itu Ko Bun dan Sik Ling menginap dalam gedung milik gembong dunia persilatan ini.

--- ooo0ooo ---

Malam kelam, angin mendesir menggoyangkan daun pepohonan di taman belakang gedung keluarga Mao.

Udara sangat gelap, langit tiada rembulan, hanya ada sinar bintang yang jarang-jarang. Di antara bintang yang berkelip di angkasa, tiba-tiba dari belakang taman melompat keluar sesosok bayangan manusia. Siapakah orang yang berani mendatangi tempat Leng-coa Mao Kau yang merupakan pentolan dunia persilatan dewasa ini dalam kegelapan malam seperti ini?

Agaknya ilmu meringankan tubuh orang itu amat sempurna, berada dalam keadaan apapun tidak menimbulkan sedikit suarapun. Dengan enteng dia melayang ke atas pohon, agaknya sedang memeriksa keadaan sekeliling.

Kemudian seenteng burung ia melayang naik dari tempat semula. Sesudah di atas rumah dengan beberapa kali lompatan lagi ia sudah berada beberapa tombak lebih jauh.

Kemudian bersembunyi di atas emper rumah yang besar dan melongok ke bawah. Ruangan di bawah tak lain adalah ruang tengah gedung keluarga Mao.

Tampaknya ilmu meringankan tubuh orang ini sangat lihai, sekali lagi dia berjumpalitan dan melayang turun. Orang ini berpakaian hitam ketat, muka juga berkain kedok hitam.

Selama sekian tahun belakangan Mao Kau tak pernah kuatir ada Ya-heng-jin (orang berjalan malam) akan menyatroni rumahnya. Tak heran kalau suasana di dalam ruangan hening sepi, tak terdengar sesuatu suara.

Dengan sangat berhati-hati orang itu celingukan sekejap sekeliling tempat itu, lalu membuka pintu dan menerobos masuk ke dalam. Langsung melayang ke meja pemujaan berkain hitam itu dan siap menyingkapnya    

Mendadak terdengar bentakan nyaring dari belakang. Dengan terkejut ia berpaling, tampak seorang telah berdiri angker di depan pintu.

Tampaknya penyatron ini enggan berjumpa dengan orang, tiba-tiba ia membalik badan terus melesat keluar ruangan.

Yang muncul dan membentak itu ialah Mao Bun-ki, secepat kilat ia mencegat orang itu. Siapa tahu baru Mao Bun-ki bergerak, mendadak orang itu berputar selincah ikan dalam air. 

Ia ganti arah secara tiba-tiba dan menyelinap keluar pintu dengan cepat luar biasa.

Merasa terkecoh, Mao Bun-ki menjadi gusar. Dengan cepat ia mengejar lagi, gadis itu enggan membangunkan orang lain. Dengan wataknya yang suka menang sendiri dia ingin menawan orang itu dengan kepandaian sendiri.

Memang inilah yang diharapkan si penyatron, begitu keluar dari pintu ruangan langsung dia melompat keluar dinding pekarangan.

Meski ilmu meringankan tubuhnya sangat tinggi, akan tetapi ginkang Mao Bun-ki juga tidak lemah. Demikianlah satu di depan dan yang lain di belakang, dalam waktu singkat mereka sudah lari beberapa puluh tombak jauhnya meninggalkan gedung keluarga Mao. Waktu itulah Mao Bun-ki baru membentak, "Sobat, kalau kau punya keberanian untuk datang kemari, mengapa sekarang melarikan diri terbirit-birit seperti tikus?!"

Ya-heng-jin itu bergelak tertawa, mendadak ia menghentikan larinya dan membalik badan, menyongsong kedatangan Mao Bun-ki.

Mimpipun Bun-ki tidak mengira orang itu bisa membalik badan secara tiba-tiba, padahal ia sedang memburu dengan tubuhnya yang sedang meluncur kencang, tampaknya segera akan menumbuk tubuh Ya-heng-jin tersebut.

Perlu diketahui, kecepatan gerak tubuh kedua orang itu sungguh sukar dilukiskan, hampir mencapai kecepatan suara. Maka baru saja Mao Bun-ki berkata, tahu-tahu sudah berada di hadapan orang.

Untuk menghindarkan ke samping jelas tak sempat. Dalam keadaan demikian terpaksa ia mengerem sebisanya, syukur jaraknya dengan Ya-heng-jin itu masih satu kaki jauhnya. Namun bau harum badan seorang gadis perawanpun dapat terembus lawan.

Kembali Ya-heng-jin itu tertawa.

Merah wajah Mao Bun-ki, dengan nada gusar serunya, "Sobat, pentanglah matamu "

Belum habis ia berkata, orang itu menukas sambil tertawa, "Masa cara bicara seorang nona seperti kaum penyamun?"

Ya-heng-jin ini bersuara parau dengan logat utara.

Sekali lagi air muka Mao Bun-ki berubah merah jengah, maklum sejak kecil dia memang dibesarkan dalam lingkungan keluarga persilatan, otomatis cara bicaranya dan tingkah lakunya ketularan cara orang persilatan. Dulu ia memang tidak merasakan, setelah ditegur ia menjadi malu sendiri sebab bagaimanapun juga sebagai gadis ia enggan dikatai orang sebagai penyamun.

Maka orang yang sebenarnya hendak 'menangkap maling' sekarang berbalik tertegun karena dipandang orang sebagai 'penyamun'.

Dengan sinar mata tajam dari balik kedok Ya-heng-jin itu mengawasinya tanpa berkedip. Ia seperti merasa geli, kemudian sambil melirik sarung pedang yang menongol di punggung si nona, ia berkata dengan setengah mengejek, "Pada mulanya aku mengira keluarga Mao dari kota Hang-ciu adalah suatu tempat yang luar biasa, siapa tahu hmk!"

Rasa menghina yang tak terperikan telah diperlihatkan pada suara jengekannya itu.

Bun-ki tak tahan, belum pernah ada orang berani mengucapkan kata-kata yang tidak hormat pada keluarga Mao. Dengusan tersebut membuatnya naik pitam, tapi di depan Ya-heng-jin ini ia tak sanggup mengucapkan sepatah katapun meski pada hari-hari biasa di pandai bicara. Sambil membentak tangan kirinya bergerak kemuka sebagai pancingan, kemudian tangan kanan menabas dengan jurus Cui-niau-so-ih (burung hijau menyisir bulu), ia sabat samping tengkuk lawan.

Serangan ini bukan saja cepat dan mendadak, Mao Bun-ki yakin sekalipun serangan ini tak berhasil merobohkan lawan, paling tidak bisa merebut posisi mendahului.

Siapa tahu secara gampang Ya-heng-jin itu dapat mengegos, tiba-tiba tangan kirinya membentuk gerak lingkaran, lalu tangan kanannya menonjok. Serangan telapak tangan berubah menjadi pukulan kepalan, jari tengah dan telunjuk menonjok dan menghantam jalan darah Cian-cin-hiat di bahu Mao Bun-ki.

Terkesiap gadis itu, bukan saja serangan Ya-heng-jin itu amat cepat, yang lihai adalah tangan kiri kanan bisa menggunakan serangan yang berbeda sekaligus.

Pukulan telapak tangan kanan yang dahsyat dengan ruas jari yang menghantam Hiat-to sungguh jurus serangan sakti. Yang lebih hebat lagi adalah pukulan tangan kirinya, jurus serangan yang digunakan sungguh belum pernah dilihatnya selama ini.

Diam-diam ia berpikir, tanganpun tidak berhenti. Dalam waktu singkat ia sudah bergebrak tiga jurus dengan musuh, semua jurus serangan yang keras.

Kiranya pembawaan To-liong-siancu bertenaga sangat kuat, meski seorang perempuan, namun ilmu pukulan To-liong-pat-it-sik yang diciptakannya tergolong ilmu pukulan aliran keras. Belum pernah ada orang yang berhasil meraih keuntungan terhadap ilmu pukulannya itu.

Kendatipun demikian, di tangan Mao Bun-ki, ilmu pukulan itu tak mampu mengimbangi kehebatan gurunya. Lagipula jurus serangan yang dipakai musuh juga sangat hebat, ini membuat serangannya sukar mencapai sasaran dengan tepat.

Sepuluh gebrakan kemudian Bun-ki mulai tidak tahan, ia terkejut oleh kelihaian musuh. Tiba- tiba satu ingatan terlintas dalam benaknya, segera ia membentak, "Tahan!"

Ya-heng-jin itu tertegun, serangannya menjadi kendur. Mao Bun-ki terus mundur dan melolos pedangnya.

"Silakan rasakan kelihaian pedangku ini!" bentaknya dengan tertawa dingin.

Pedang di tangan kanannya segera digetarkan, cahaya tajam segera memenuhi angkasa. Diantara suara mendengung keras pedang itu berubah menjadi lingkaran pedang kecil berwarna merah membara bagaikan gumpalan api mengurung tubuh Ya-heng-jin tersebut.

Sekarang Ya-heng-jin itu baru tahu, rupanya teriakan berhenti Mao Bun-ki tadi hanya siasat untuk mengulur waktu. Selagi ia merasa geli, tebasan pedang gadis itu telah menyambar tiba.

Sebelum serangan tiba, lamat-lamat ia sudah merasakan hawa panas yang menyengat. Ia tak berani menyambut serangan itu secara gegabah. Dengan suatu gerak enteng ia berkelit ke samping. Mao Bun-ki membentak, pedang kembali berputar membentuk satu lingkaran. Lingkaran kecil yang berkobar seperti api itu segera menyambar tubuh lawan bagaikan seekor naga berapi.

Kembali Ya-heng-jin itu berkelit ke samping.

Ketika Mao Bun-ki mencecar secara gencar, mendadak Ya-heng-jin itu bersuit nyaring sambil melejit ke udara, kedua tangannya terentang dan sekali lagi badannya melambung ke atas. Inilah Siang-thian-ti (tangga naik ke langit), suatu ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi.

Dengan lejitan tersebut, Ya-heng-jin itu sudah tiga tombak lebih di udara. Serangan Mao Bun-ki tak bisa lagi mengenai tubuhnya. Dengan penasaran gadis itu berpikir, "Hm, asal tubuhmu merosot ke bawah segera kuhadiahkan serangan lagi."

Siapa tahu Ya-heng-jin itu berputar satu lingkaran di udara, dengan kepala di bawah dan kaki di atas, seperti anak panah terlepas dari busur ia meluncur ke samping kemudian kakinya menjejak dahan pohon di sana dan kembali mengapung jauh ke depan.

Dalam waktu singkat bayangan tubuh orang itu lantas lenyap dari pandangan mata. Sekarang Mao Bun-ki baru sadar bahwa ginkang orang itu jauh di atas kepandaiannya. 

Mungkin tadi orang cuma bermaksud memancingnya keluar dari gedung keluarga Mao.

Gadis ini baru saja terjun ke dunia persilatan. Sejak berhasil mengalahkan Ho-siok-siang- kiam, disangkanya kepandaian sendiri paling top di dunia. Tapi setelah berjumpa dengan Ya- heng-jin tadi, dia baru tahu bahwa ilmu pukulan maupun ilmu meringankan tubuhnya masih kalah jauh dibandingkan orang. Betul ia berhasil memukul mundur lawan dengan pedang mestikanya, tapi hal ini bukan sesuatu yang pantas dibanggakan.

Ia mulai bertanya-tanya di dalam hati, siapa gerangan Ya-heng-jin atau manusia pejalan malam itu?

Dengan hati yang kesal ia berjalan kembali ke rumah. Dari kejauhan terdengar bunyi kentongan bergema empat kali, ini menandakan waktu sudah lewat tengah malam, tak lama lagi fajar akan menyingsing.

Keesokkan harinya, ketika Sik Ling bangun dari tidurnya, ia melihat Ko Bun yang tidur sekamar dengannya masih tidur sangat nyenyak. Ia tidak membangunkannya, diam-diam ia keluar kamar.

Embun telah kering, sang surya sudah tinggi di langit.

Diam-diam Sik Ling menghela napas. Beberapa tahun belakangan ini ia selalu bangkit lebih lambat. Ia sangsi apakah dirinya sudah mulai tua. Menyongsong embusan angin sejuk di pagi hari ini, ia menarik napas panjang-panjang. Untuk melemaskan otot, tanpa terasa sejurus demi sejurus ia berlatih ilmu pukulan Bu-tong-pai yang dikuasainya.

Meskipun setiap jurusnya dilakukan dengan amat lambat, namun penuh tenaga. Meski jurus semacam ini tiada kelihatan indah, namun untuk bisa mencapai taraf seperti ini orang harus berlatih berpuluh tahun.

Serangkaian jurus pukulan baru selesai dimainkan, tiba-tiba terdengar orang bersorak memuji, ketika ia berpaling, tertampak Ko Bun sambil mengancing baju berdiri di depan pintu.

"Saudara Sik, permainan yang bagus!" puji Ko Bun dengan tertawa.

Sik Ling juga tersenyum, ditatapnya sekejap pemuda itu dengan bangga, kemudian sahutnya, "Dengan bakat Saudara Ko yang bagus, jika mau berlatih silat pasti akan beratus kali lipat lebih hebat daripadaku."

Ko Bun dan Sik Ling saling pandang sekejap, lalu tertawa lagi, agaknya diantara mereka sudah ada perasaan tahu sama tahu.

Dari balik pepohonan di dalam taman perlahan muncul seorang gadis berbaju hijau. Dari kejauhan ia sudah menyapa dengan tertawa, "Pagi amat kalian bangun!"

"Nona juga bangun pagi!" sahut Ko Bun dengan tertawa.

Gadis itu tak lain adalah Mao Bun-ki, sambil mencibir ia berseru, "Huh, aku bukan lagi bangun pagi, hakikatnya semalaman aku tidak tidur!"

Setelah berhenti sejenak, ia bertutur pula, "Coba aneh tidak, semalam disini kedatangan maling yang ingin mencuri pedang. Untung untung, dapat kupergoki dan kupukul lari."

"Dengan kepandaian nona, tentu saja tidak menjadi soal hanya menghadapi seorang maling saja, "kata Ko Bun dengan tertawa.

Merah muka Bun-ki, ia menundukkan kepala sambil memainkan ujung baju. Tak lama kemudian ia mendongak lagi dan memandang Sik Ling, katanya, "Paman Sik, coba aku lagi sial atau tidak. Beberapa hari ini kota Hang-ciu benar-benar sangat ramai, konon Co-jiu-sin-kiam, Wan-yang-siang-kiam meski untuk sementara sudah pergi, tapi tak sampai dua hari lagi mereka akan kembali kemari. Sedang aku justru dua hari lagi, aku mesti meninggalkan tempat ini."

Walau ia bicara kepada Sik Ling, namun matanya melirik ke arah Ko Bun, jelas perkataannya sengaja diperdengarkan kepada pemuda itu.

"Nona, hendak kemana?" tanya Sik Ling dengan tertawa.

"Pulang ke rumah guruku! Setiap tahun sekali aku pulang dari Ho-pak."

"Kebetulan aku juga hendak pergi ke Ho-pak, "tiba-tiba Ko Bun berkata, "entah " Belum habis ia berkata, dengan girang Bun-ki menyambung, "Kalau kau mau pergi bersamaku itu lebih baik lagi, sepanjang jalan aku akan punya teman."

Gadis itu betul-betul masih polos dan lugas, iapun mempunyai kesan yang baik kepada Ko Bun, maka ia bicara terus terang tanpa tedeng aling-aling.

Tersembul senyuman aneh di ujung bibir Ko Bun.

Sik Ling dapat melihat hal itu dari samping. Ia terkesiap, dengan perasaan ngeri ia melirik sekejap ke arah pemuda itu.

Diam-diam ia menghela napas dan berlalu dari situ, ia merasa seakan-akan telah mengetahui sesuatu yang seharusnya tidak perlu diketahuinya.

Tiba-tiba dari depan sana dilihatnya ada tiga orang pemuda berbaju emas sedang berjalan mendekat.

Ia sengaja menunduk kepala dan tidak memandang mereka.

Ketiga pemuda berbaju emas itupun hanya melirik sekejap ke arahnya, kemudian berjalan lewat. Tak lama kemudian terdengar ketiga orang itu berseru berbareng, "Adik Ki, kami telah pulang."

Dengan langkah lebar mereka menuju ke samping Mao Bun-ki, tapi ketika melihat Ko Bun berdiri dekat pintu mereka tertegun.

"Sudah pulang ya pulanglah, kenapa ribut?" jengek Bun-ki dingin.

Sekali lagi ketiga pemuda itu melengak dan tak tahu apa yang mesti diucapkan pula.

Sementara itu Ko Bun juga sedang memandang ketiga orang pemuda tampan itu. Mereka rata-rata berwajah ganteng, bertubuh tegap, sikapnya jumawa sekali, pikirnya, "Mungkin beberapa orang ini juga termasuk dalam kelompik Giok-kut-sucia. Ehm, agaknya mereka punya peranan juga di gedung ini."

Sementara ia mengamati mereka, ketiga pemuda berbaju emas itupun mengawasinya. Ko Bun tersenyum dan membalik badan masuk ke kamar, tapi wajah ketiga orang itu sudah teringat baik dalam benaknya.

Dia tahu Bun-ki pasti masih mengawasinya, meski timbul perasaan hangat dalam hatinya, tapi dengan cepat perasaan tersebut ia tekan. Diam-diam ia memperingatkan dirinya sendiri, "Kau jangan melibatkan diri dalam urusan cinta dengan siapapun jua, sebab cinta hanya akan merugikan dirimu sendiri. Apakah kau lupa bahwa kehadiranmu di dunia ini sama sekali tidak didasarkan oleh cinta?"

Dua hari kemudian, ketika Co-jiu-sin-kiam dan Pek-poh-tui-hoa berdua tiba di gedung keluarga Mao, Ko Bun menyerahkan sepuluh laksa tahil perak kepada Oh Ci-hui, lalu mohon diri kepada Sik Ling yang juga akan pergi itu dengan membawa rasa terima kasih yang tak  terkirakan dari Oh Ci-hui, beserta putri kesayangan Mao Kau. Berangkatlah dia meninggalkan kota Hang-ciu melalui pintu kota utara.

Sesungguhnya siapa dan orang macam apakah pemuda Ko Bun ini?

Keanehan apa yang terdapat pada pedang mestika mao Bun-ki? Siapakah penyatron berkedok itu?