Tujuh Pedang Tiga Ruyung Jilid 02

Jilid 02

Kedudukan Siau-siang-bun Lau Teng Kok dalam Bu-lim tentu saja tak dapat disejajarkan dengan Jit-kiam-sam-pian, oleh sebab itu dengan perasaan apa boleh buat dia harus merendah diri dan berharap tiap masalah bisa diatasi secara baik-baik.

Tiba-tiba Leng-coa Mao Kau mendongakkan kepala dan berpekik keras, suaranya melengking menusuk pendengaran.

Siau-siang-bun Lau Teng Kok melengak bingung. Sin-piau-kek juga memandang ke arah tokoh yang amat tenar namanya dalam dunia persilatan ini dengan sinar mata keheranan.

Mendadak suara pekikan itu terputus di tengah jalan, lalu dengan suara yang tajam Mao Kau berseru, "Bagus sekali! Bagus sekali!"

Ia berpaling dan memberi tanda kepada rekan-rekannya yang selama ini membungkam, kemudian katanya lagi, "Saudara, lihatlah akan kuberi sedikit hajaran kdp orang-orang ini."

Sejak peristiwa di Hian-ni-san dulu, tanpa terasa Leng-coa Mao Kau telah menjadi pemimpin kelompok Jit-kiem-sam-pian, sebaliknya kedudukan Pa-san-kiam-kek Liu Hu-beng malah menyurut paling buncit.

Baru selesai dia berkata, dengan suatu gerak cepat Leng-coa Mao Kau melolos ruyung lemasnya dari pinggang, sekali disentakkan, ujung ruyung bergetar membawa denging tajam.

Karuan Siau-siang-bun Lau Teng Kok dan Sin-piau-kek To Bong-peng sama terkejut, mereka tak menyangka Leng-coa Mao Kau bakal melolos senjata untuk turun tangan kepada mereka.

Bukan cuma setahun Lau Teng Kok berkecimpung di ujung golok, tak sedikit pula ia menghadapi kasus semacam ini, dengan menahan diri tegurnya, "Mao-tayhiap ada apa ini?"

Air muka Leng-coa Mao Kau sedingin es mendadak ia menyerang, dengan jurus Sin-kau jut- in (ular sakti keluar dari mega) ujung ruyung langsung menutuk jalan darah Ki-bun-hiat pada dada sebelah kanan Siau-siang-bun Lau Teng Kok.

Siau-siang-bun terkejut dan buru-buru menyurut ke belakang, untung dia sudah turun dari kudanya dan bisa bergerak lebih lincah, ketika serangan tersebut dapat dihindarkan secara mudah, dalam hati dia berpikir, "Ternyata kehebatan Leng-coa Mao Kau juga Cuma begini saja!"

Siapa tahu, belum lenyap ingatan tersebut, bayangan ruyung menyapu tiba pula ke atas kepalanya. Hal ini membuatnya terkejut dan cepat menghindar ke kiri.

Bagaikan bermata saja, tiba-tiba ruyung juga berbelok ke kiri. Siau-siang-bun hanya merasakan iganya kesemutan, terdengar Mao Kau mendengus dan robohlah dia terkulai.

Sin-piau-kek Ci Cong-yan membentak, tangannya terayun ke depan, tiga titik senjata rahasia serentak menyambar ke muka secepat kilat. Ilmu It-jiu-sam-piau (satu tangan tiga piau) memang merupakan kepandaian andalan Sin- piau-kek, tubuh lawan bagian atas, tengah dan bawah sekaligus terkurung di bawah cahaya senjata rahasianya.

Dengan jurus andalan It-jiu sam-piau ini entah sudah berapa banyak pertarungan yang pernah dihadapi Sin-piau-kek, tapi dalam pandangan Leng-coa Mao Kau kepandaian ini ibaratnya permainan anak kecil.

Setelah melukai Siau-siang-bun, tanpa berpaling Leng-coa Mao Kau memutar ruyungnya dan merontokkan ketiga batang senjata rahasia andalan Sin-piau-kek Ci Cong-yan dengan mudah.

Suasana menjadi gaduh setelah para anggota perusahaan piaukiok melihat piausu mereka terluka.Para pejalan kaki di sekitar sana pun tak menduga bakal terjadi pertumpahan darah, bahkan piausu dari Ceng-bu piaukiok sama terluka, beberapa orang yang takut urusan buru- buru mengambil langkah seribu.

Di antara pekikan manusia yang panik dan ringkik kuda yang ramai, jalan raya menjadi macet.

Dengan angkuh Leng-coa Mao Kau memandang sekejap sekeliling tempat itu, mendadak dia larikan kudanya ke depan.

Sin-piau-kek bermaksud mengalanginya. Sambil tertawa dingin, Leng-coa memutar ruyungnya, dan mendamprat, "Kau cari mampus!"

Ruyung berputar, sampai di tengah jalan tiba-tiba berubah tegak dan menutuk. Jurus serangan yang aneh ini membuat Ci Cong-yan yang pada dasarnya memang kurang kuat menjadi gugup.

Dia ingin melompat turun dari kudanya untuk menghindari serangan itu, sayang kemampuannya masih selisih jauh bila ingin menghindari serangan Leng-coa Mao Kau tersebut. Baru sebelah kakinya bergeser, kuda tunggangannya ketakutan dan kabur dengan menyeret tubuhnya yang tergantung di pelana, batu kerikit di tanah segera menimbulkan banyak luka pada tubuhnya.

Leng-coa Mao Kau tidak berhenti sampai disitu saja. Tiba-tiba ia melambung ke udara meninggalkan ku-danya, dia melayang ke depan dan hinggap di atas kereta barang yang pertama.

Sambil membentak, telapak tangan kirinya yang tajam bagaikan golok itu membacok ke bawah, "krek", peti uang yang berada di dalam kereta segera hancur berkeping-keping. Lantakan perak yang setiap kepingnya berbobot lima puluh tahil itu segera berceceran di atas tanah.

Di balik terik metahari, uang perak itu memancarkan sinar menyilaukan mata.

Sambil berdiri angker di atas kereta, Leng-coa Mao Kau tertawa terkekeh, serunya, "Semua uang ini adalah milik kalian pribadi, siapa menginginkan boleh ambil saja." Seraya berkata, ia menyapu pandang sekejap para anggota piaukiok, pekerja kasar serta pejalan yang menonton keramaian di tepi jalan.

Pa-san-kiam-kek berkerut dahi, dengan suara lantang cepat dia berseru, "Mao-hiante, jangan gegabah!"

Sesungguhnya ia tidak mau ikut terseret ke dalam perkara ini, tapi iapun tak mampu berbuat apa-apa untuk mengalangi perbutan Mao Kau itu.

Dengan suara bangga, Leng-coa Mao Kau lantas berseru, "Liu totiang, lihatlah kehebatanku ini!"

Dengan suatu gerak cepat kembali dia melayang ke atas kereta yang kedua. Seperti juga perbuatan yang pertama, peti dibongkar dan uangnya dilemparkan ke atas jalanan.

Tak selang berapa lama kemudian, sepuluh laksa tahil perak lebih yang dimuat belasa kereta besar itu telah dibongkar dan dibuang berserakan.

Sinar perak gemerlapan menyilaukan mata menciptakan pemandangan yang sukar dilukiskan.

"Ayo ambil! Ambil!" teriak Leng-coa Mao Kau dengan suara lantang, "semua uang perak itu bagian kalian!"

Ruyungnya kembali diayunkan kesana kemari membikin uang perak itu sama beterbangan kemana-mana, malah ada yang tercerai-berai ke dalam semak belukar di tepi jalan.

Uang memang gampang menggoyahkan iman manusia, apalagi berhadapan dengan uang perak sebanyak itu, daya tariknya tentu saja sukar ditolak oleh siapapun.

Sepanjang hidupnya belum pernah pekerja kasar dan anggota perusahaan itu menyaksikan uang sebanyak ini. Meski mereka tahu uang sebanyak itu tak boleh diambil, tapi di bawah rangsangan sekuat ini, hilanglah kesadaran mereka. Tanpa berbicara serentak mereka menyerbu ke depan dan berusaha sebanyak mungkin mengumpulkan uang perak yang berserakan di depan matanya.

Suasana kacau itu memancing gelak tertawa Leng-coa Mao Kau yang penuh perasaan bangga melihat titik kelemahan watak manusia, ialah peristiwa yang paling menggembirakannya.

Ruyung diputar lagi di udara sehingga berbunyi menggelegar.

Para pekerja dan anggota perusahaan pengawal yang berhasil mengumpulkan uang perak bagaikan kelinci yang baru berhasil mencuri wortel di kebun orang segera melarikan diri. Para penonton keramaian di tepi jalan yang menyaksikan kejadian ini, serentak ikut menyerbu pula untuk berebut rejeki nomplok itu. Dalam sekejap suasana menjadi kacau balau bagaikan segerombolan anjing liar yang sedang berebut tulang.

Pa-san-kiam-kek Liu Hu-beng berkerut dahi rapat-rapat, ia menghela napas dan menyesali watak manusia yang begitu rendah.

Tiba-tiba sorot matanya tertuju pada seorang pemuda sastrawan yang berjubah biru yang sudah luntur warnanya, orang itu berdiri di antara kerumunan orang banyak tanpa bergerak. Terhadap uang perak yang berserakan di hadapannya, melirik sekejappun tidak. Seakan-akan benda itu adalah barang kotor yang enggan dilihatnya. Sikap semacam ini betul-betul amat menyolok dalam suasana semacam ini.

Satu ingatan segera terlintas dalam benak Pa-san-kiam-kek LiuHu-beng. Ia melarikan kudanya menghampiri sastrawan itu, tegurnya, "Tidak tertarikkan anda untuk turut mendapatkan rejeki?"

Sebagai seorang terpelajar, nada ucapannya kepada sastrawan ini kedengaran halus dan sopan.

Sastrawan muda itu tampak melengak, jawabnya dengan serius, "Rejeki tidak halal jangan diambil, meski orang bodoh, tapi ajaran Nabi tak berani kulupakan."

Diam-diam Pa-san-kiam-kek Liu Hu-beng manggut-manggut memuji, serunya dengan gembira, "Kau memang seorang bijak."

Setelah mengamati sekejap pakaian si sastrawan yang lusuh, tiba-tiba katanya lagi, "Maaf, ada sepatah kata hendak kusampaikan kepadamu."

Setelah berhenti sejenak, lalu ia melanjutkan, "Kau masih muda dan gagah, ibaratnya naga dari manusia. Bila mau belajar silat niscaya besar harapan akan berhasil. Bila kau berminat, dapat kucarikan guru pandai untukmu. Sebagai seorang lelaki gagah, tidak sayangkah bila dirimu akan dimakan usia dengan tiap hari hanya terbenam di tengah buku?"

Sastrawan muda itu termenung, lalu melirik sekejap ke wajah Pa-san-kiam-kek, kemudian jawabnya dengan nyaring, "Perkataan Totiang memang beralasan, sepantasnya harus kuturut. Tapi aku masih ada orang tua di rmh, aku tak dapat berpisah dengan mereka."

Mendadak ia mementangkan matanya lebar-lebar. Dengan sikap gagah dia melanjutkan, "Apalagi bila ber-hasil dalam sastra, rasanya belum terlambat untuk belajar pedang. Sebelum aku sukses dalam pelajaran, urusan yang lain lebih baik jangan dibicarakan dulu." 

Mendengar perkataan itu, Pa-san-kiam-kek Liu Hu-beng manggut-manggut. Ia amat tertarik oleh kegagahan pemuda ini dan berniat menerimanya menjadi murid. Tapi setelah mendengar perkataan orang, walaupun dalam hait merasa sayang, ia tak berani lagi memaksa orang.

Dengan wajah berseri, katanya lagi kepada sastrawan itu dengan tertawa, "Tak akan kupaksa dirimu, bila ada jodoh semoga kita dapat bersua lagi, hari ini " Belum selesai dia berkata, tiba-tiba Leng-coa Mao Kau melayang datang. Sambil tertawa ia berseru, "Liu-totiang, coba lihat. Bukankah tindakanku ini cukup memuaskan!"

Ketika melihat sastrawan muda itu, tanpa terasa ia bertanya, "Siapakah orang ini?"

Dengan perasaan muak, sastrawan muda itu melirik sekejap ke arahnya. Dahinya berkerut hingga tampak lekukan yang dalam. Setelah menjura kepada Pa-san-kiam-kek, ia lantas membalik badan dan pergi.

Pa-san-kiam-kek tersenyum. Jawabnya kemudian, "Dia adalah putra seorang temanku, tak kusangka sekarang sudah sebesar ini."

Walaupun Leng-coa Mao Kau merasa curiga, namun iapun tidak memikirkan persoalan ini.

Dengan gembira Leng-coa Mao Kau memuji perbuatan sendiri. Sesungguhnya dia bukan seorang yang suka pamer, sebab dia adalah seorang yang licik dan culas. Tapi sekarang ia terlampau girang atas apa yang ba-rusan dilakukannya. Sebab itulah tindak tanduknya menjadi sedikit di luar kebiasaan.

Pa-san-kiam-kek menanggapinya dengan tak acuh, ketika berpaling ke sana dilihatnya hanya Siau-siang-bun saja yang berbaring di situ dengan tubuh lemas.

Itu berarti semua uang yang berceceran di tanah telah disikat orang hingga bersih. Sedang orang-orang yang menyikat uang kini sudah angkat langkah seribu dan entah ke mana perginya.

Pa-san-kiam-kek tersenyum kecut, ia memutar kudanya dan berseru sambil tertawa, "Mari kita pergi!"

"Ya, tempat semacam ini memang makin cepat kita tinggalkan semakin baik," sambung It-ci- kiam Thia Hong setelah memandang peti yang hancur di tanah. "Kita masih asing dengan wilayah Kanglam, kesulitan yang bisa dihindari lebih baik dihindari saja."

Wan-yang-siang-kiam biasanya tinggal di daerah utara, daerah Kanglam hampir tak pernah dikunjunginya.

Dengan rasa puas Leng-coa Mao Kau lantang menanggapi, "Betul, betul, mari kita pergi saja!"

Ia maju ke depan dan menendang tubuh Siau-siang-bun Lau Teng Kok yang masih tergeletak di tanah itu.

Lau Teng Kok sadar kembali dari pingsannya. Tadi jelas darahnya tertutuk, setelah menarik napas panjang. Ia merasa tenggorokan seperti tersumbat. Setelah meludah ia baru merasa lega, ketika membuka matanya, dilihatnya Leng-coa Mao Kau sedang memandangnya dengan senyuman aneh.

Ia merangkak bangun sambil mengendurkan otot-otot tulangnya, tapi belum lagi berjalan mendadak Leng-coa Mao Kau melompat ke depannya. Ruyung menyabas ke mukanya. Siau-siang-bun yang baru saja menenangkan diri jadi kaget pula, seketika dia seperti lupa ilmu silatnya sendiri. Begitu desing angin menyambar tiba, kakinya menjadi lemas dan sekali lagi ia jatuh ke tanah. Sesaat itu dia tak mampu merangkak bangun kembali.

Sambil menarik muka, Leng-coa Mao Kau membentak, "Ayo jawab, apakah sekarang Cing- peng-kiam Song Leng-kong berada di Lam keng?"

Pa-san-kiam-kek menghela napas, pikirnya "Sungguh keji orang ini, rupanya ia bermaksud melakukan pem-bunuhan habis-habisan."

Siau-siang-bun tampak sangsi, tiba-tiba ujung ruyung Mao Kau menyambar lagi sehingga meninggalkan goresan panjang pada wajahnya. Rasa sakit tak terkatakan sehingga mencucurkan air mata.

"Cepat jawab!" hardik Leng-coa Mao Kau lagi, mencorong bengis matanya, sampai Pa-san- kiam-kek juga merasa bergidik.

Padahal sampai detik ini Lau Teng Kok belum tahu untuk apa mereka mencari Cing peng- kiam, dan men-gapa mereka melakukan pembegalan di tengah jalan.

Karena itulah iapun tidak menganggap serius peristiwa ini, katanya kemudian, "Sudah lama Song-locianpwe hidup mengasingkan diri, bulan yang lalu memang keluar gunung satu kali, tapi sekarang mungkin sudah pu-lang. Beliau jarang keluar rumah."

Mimpipun ia tak menyangka ada maksud Leng-coa Mao Kau melacak jejak Cing peng-kiam untuk melak-sanakan tindakan kejinya.

Demikianlah, setelah mengetahui berita pasti tentang Cing peng-kiam Song Leng-kong, Leng-coa Mao Kau segera melanjutkan perjalanannya. Senja itu mereka bersembilan tiba di kota Lamkeng.

Setelah masuk lewat pintu gerbang Sui-sa-bun mereka langsung menuju ke kuil Hu-cu-bio di tepi sungai Huai. Degan tampang mereka bersembilan yang dingin seperti es, sesungguhnya sangat tidak cocok men-datangi tempat berpesiar yang termashur itu.

Di sekitar kuil Hu-cu-bio banyak terdapat rumah makan. Mereka bersembilan merasakan rombongannya ter-lampau besar dan agak menyolok, maka setelah berunding mereka putuskan membagi diri menjadi tiga kelompok. Wan-yang-siang-kiam dengan Pek-poh-hui-hoa menuju ke rumah makan Lo-ceng-hin di ujung jalan. Jit-seng-pian Tu Tiong-ki dan Leng-coa Mao Kau serta Co-jiu-sin-kiam Ting Hi menuju ke rumah makan Cui-gwat-lau di ujung selatan jalan.

Sebaliknya Pa-san-kiam-kek Liu Hu-beng dan Ong It-peng yang cacat dan Ong It-beng mencari makanan sayur.

Betul juga, setelah memecahkan diri menjadi beberapa kelompok, kehadiran mereka tidak begitu menyolok. Apalagi rumah makan itu berdekatan letaknya. Andaikata terjadi sesuatu tidak  sukar untuk mengadakan kontak. Di samping mereka memang tak acuh terhadap kejadian yang mungkin menimpa mereka.

Pa-san-kiam-kek dengan jubah pertapanya dan menyandang pedang di punggung, dandanannya pendeta bukan pendeta, preman bukan preman, serta Ong It-peng yang lengan kanannya masih diikat dengan dua keping papan merupakan dua orang yang paling menyolok di antara mereka.

Siapa tahu, sekitar Hu-cu-bio memang biasa penuh dengan manusia yang beraneka ragam, sesungguhnya tak seorangpun yang menaruh perhatian terhadap mereka.

Diam-diam Pa-san-kiam-kek tertawa geli, pikirnya, "Tampaknya kami sendiri yang terlalu banyak curiga?"

Hiang-ki-tu adalah rumah makan yang khusus menjual sayur tak berjiwa, tapi kebanyakan orang bilang say-urnya dimasak dengan minyak babi dan kuah ayam, namun mata tak lihat, persoalan ini tak pernah diusut.

Sayur yang dimasak dengan kuah ayam tentu saja sedap rasanya, pantas Hiang-ki-tu sangat laris. Di atas maupun di bawah loteng semuanya penuh tetamu. Ditambah lagi Hiang-ki-tu punya suatu keistimewaan lain yakni kebersihan. Hal ini membuat tamunya lebih kerasan mengunjungi rumah makan tersebut.

Ong-it-beng duduk di hadapan Pa-san-kiam-kek. Baru saja mengangkat cangkir teh, mendadak terlihat air muka Pa-san-kiam-kek berubah. Cepat ia ikut berpaling. Tertampak Kanglam-tayhiap Cing-peng-kiam Song Leng-kong dengan senyum dikulum sedang menghampiri mereka.

Serba susah perasaan Pa-san-kiam-kek. Sesungguhnya dia adalah sobat karib Song Leng- kong. Telah be-lasan tahun mereka berkawan, mengangkat nama bersama, memperjuangkan keadilan bersama, maka ketika melihat tubuh Cing-peng-kiam yang bertambah kurus, muka lesu, rambut juga tambah putih, tanpa terasa kekejian Leng-coa Mao Kau terbayang kembali dalam benaknya.

Waktu itu masih ada beberapa jam sebelum Mao Kau akan membantai Cing-peng-kiam sekeluarga. Sekilas pandang Pa-san-kiam-kek melihat pula perubahan air muka kedua saudara Ong yang tak tenang. Hal ini membuat hatinya tergerak juga.

Dengan tersenyum Song Leng-kong menghampiri mereka seakan-akan tak tahu apa-apa. Setelah tiba di samping Pa-san-kiam-kek baru menyapa, "Kebetulan sekali, sudah lama Siaute tidak keluar rumah, tak tahunya begitu keluar rumah lantas bertemu dengan saudara sekalian."

Suaranya, senyumnya masih dikenal baik oleh Pa-san-kiam-kek. Sedih hatinya. Tiba-tiba ia merasa tak enak atas perbuatannya sendiri.

Tentu saja perasaan semacam itu tak diperhatikan Song Leng-kong. Tanpa ragu ia duduk di samping mereka dan bersenda gurau dengan Hu-siok-siang-kiam dan Pa-san-kiam-kek  seakan-akan tak tahu ketiga orang di hadapannya datang ke situ khusus untuk merenggut jiwanya.

Macam2 perasaan berkecamuk dalam hati Pa-san-kiam-kek, akhirnya tersisa semacam perasaan yang direnungkan berulang.

"Harus kuberitahu padanya agar dalam beberapa jam ini ia melarikan diri."

Ketika melirik ke arah Ho-siok-siang-kiam, dilihatnya wajah mereka pun menunjukkan perasaan menyesal, bahkan sikapnya waktu berbicara pun tampak kikuk.

"Tapi, bagaimana caraku untuk berbicara?" demikian timbul lagi keraguan Pa-san-kiam-kek Walaupun di luar mereka berempat masih berbicara dan bergurau, sedikit pun tidak 

menunjukkan sesuatu yang aneh. Tapi bila orang tahu hubungan mereka yang ruwet pasti juga akan merasakan betapa serba salahnya perasaan mereka.

Terutama Pa-san-kiam-kek Liu Hu-beng, ia khusus datang ke Kanglam untuk membunuh orang ini, tapi setelah bertemu mereka bergurau dan bercakap dengan santai, hal ini bukankah kejadian yang aneh sekali?

Akhirnya Pa-san-kiam-kek mengambil keputusan, demi sahabat ia harus mengambil keputusan bulat, juga untuk pertama kalinya ia menyusun rencana jahat.

Sekali lagi ia melirik Ho-siok-siang-kiam, dilihatnya tangan Ong It-beng sedang meraba janggut sendiri dengan perasaan tak tenang. Sedangkan Ong It-beng dengan sumpit di tangan kirinya mengetuk pinggiran piring dengan perlahan. Tapi satu hal dapat dipastikan, rasa malu dan menyesal mereka sudah tidak setebal ketika Cing-peng-kiam muncul tadi.

Diam-diam Ong It-beng menyepak kaki Pa-san-kiam-kek, sedangkan di luar ia masih mengajak Song Leng-kong berbicara ke sana kemari, sekalipun jelas pembicaraannya cuma basa-basi belaka.

Sekali lagi Pa-san-kiam-kek mengambil keputusan, ia berdiri dan diam-diam memutar ke belakang Ho-siok-siang-kiam, sementara hawa murni disalurkan pada ujung jari tangan di balik lengan jubahnya.

Ho-siok-siang-kiam tidak menaruh curiga, berpalingpun tidak. Pa-san-kiam-kek melirik sekejap ke sekeliling ruangan, lalu menghampiri kedua bersaudara itu. Perlahan tangannya menabok punggung kedua Ong ber-saudara yang sama seklai tidak siap itu.

Andaikata saat itu salah seorang di antara kedua Ong bersaudara berpaling, mungkin keadaannya sama sekali akan berubah. Sebab keputusan yang diambil Pa-san-kiam-kek bukannya sama sekali tak tergoyahkan lagi.

Cing-peng-kiam Song Leng-kong duduk berhadapan dengan Ong It-peng, maka posisi Pa- san-kiam-kek berdiri sekarang tak mungkin terlihat tanpa berpaling, sebaliknya Cing-peng-kiam  persis dapat melihat mimik wajahnya yang aneh di belakang Ho-siok-siang-kiam, ia menjadi tercengang.

Dengan cepat Pa-san-kiam-kek melancarkan serangannya, jari tangan kirinya menghajar Cian-keng-biat di bahu kanan Ong It-beng, sedang jari tangan kanan menutuk jalan darah Cian- keng-hiat di bahu kiri Ong It-peng.

Sesaat sebelum kedua orang yang tertutuk itu roboh, mendadak Pa-san-kiam-kek menahan bahu kedua Ong bersaudara yang hendak roboh itu, sumpit di tangan Ong It-peng jatuh ke meja, kepala mereka pun terkulai ke depan.

Bila tidak diperhatikan dengan seksama orang tak akan mengetahui perbuatan Pa-san-kiam- kek ini, malah Cing-peng-kiam sendiripun tercengang. Segera ia bangkit berdiri.

Buru-buru Pa-san-kiam-kek mengedip mata dan memberi tanda, ujarnya, "Saudara Leng- kong, mungkin kedua Ong bersaudara sakit."

Setelah mencegah Cing-peng-kiam bertanya lagi, ia menambahkan, "Ayolah kita bimbing kedua saudara ini pulang dulu dan mencarikan tabib."

Sikap ini semakin menimbulkan kecurigaan Cing-peng-kiam, tapi ia tahu perbuatan Pa-san- kiam-kek itu tak mungkin tanpa sebab. Maka sambil menahan rasa sangsinya ia melemparkan sekeping perak ke meja. Kemudian bersama rekannya memayang kedua Ong bersaudara berlalu dari situ.

Dengan pandangan heran para tamu lain memandangi mereka, tapi Song Leng-kong cukup tersohor di kota Kiang-leng, maka tak seorangpun yang menaruh prasangka padanya.

Keluar dari rumah makan Hiang-ki-tu adalah jalan raya yang ramai, dengan memayang Ong It-peng, buru-buru Pa-san-kiam-kek berjalan menuju ke luar kota.

Cing-peng-kiam tak tahan lagi rasa curiganya. Ia menegur, "Saudara Liu, apa yang terjadi sebenarnya?"

"Nanti saja kuceritakan, yang penting kita harus keluar dari kota lebih dulu," sahut Pa-san- kiam-kek.

Cing-peng-kiam semakin curiga dan melanjutkan perjalanan. Tidak jauh mereka menyewa sebuah kereta kuda dan menaikkan kedua Ong bersaudara.

Kusir kereta itu rupanya kenal Kanglam-tayhiap, segera tanyanya, "Hendak kemana Song- tayhiap?"

"Keluar Sui-se-bun!" kata Song Leng-kong.

Dengan cepat kusir menutup pintu kereta dan segera melarikan keretanya. Pelahan berangkatlah kereta kuda itu meninggalkan kota. Setelah berada dalam kereta, ketegangan Pa-san-kiam-kek baru agak mengendur. Ia menghela napas dan berbisik kepada Cing-peng-kiam, "Saudara Song, kau sungguh gegabah."

Setelah menghembuskan napas, ia menambahkan, "Berapa lama jarak dari sini sampai di luar kota?"

"Cepat sekali, Saudara Liu. Sesungguhnya apa "

"Saudara Song," kembali Pa-san-kiam-kek menukas, "apakah masih ada urusanmu di rumah yang tak bisa ditinggalkan?"

Sekali lagi Cing-peng-kiam melengak. Pikirnya, "Aneh, kenapa ia melakukan perbuatan yang tak jelas tujuannya dan mengucapkan kata-kata yang tiada ujung pangkalnya ini?"

Sewaktu berpaling, dilihatnya air muka Pa-san-kiam-kek sangat prihatin. Maka iapun menjawab, "Kebanyakan orang yang ada di rumah adalah sanak famili dekatku. Tiada urusan yang tak bisa kutinggalkan."

"Ai, mendingan kalau begitu, "ujar Pa-san-kiam-kek sambil mengembus napas lega.

Cing-peng-kiam benar-benar tak tahan lagi, kembali ia berseru, "Saudara Liu, sebenarnya apa yang terjadi?"

Pa-san-kiam-kek menghela napas. Secara singkat dia lantas menceritakan segala seluk beluknya.

Untuk sesaat lamanya suasana dalam ruang kereta menjadi hening. Baik Pa-san-kiam-kek maupun Cing-peng-kiam Song Leng-kong sama tutup mulut rapat. Yang kedengaran Cuma suara roda kereta yang meng-gelinding tiada hentinya.

"Ai, urusannya sudah kadung begini " Cing-peng-kiam menghela napas sedih dan 

terharu.

"Ya, kini urusan sudah menjadi begini," sambung Pa-san-kiam-kek, "kukira tiada cara lain lagi yang lebih baik, Saudara Song. Kita sama-sama sudah tua, semangat orang muda sudah lama punah dari jiwa kita. Apa gunanya kita ribut dengan mereka!"

"Hm, aku justru tidak terima," seru Cing-peng-kiam sambil memukul lutut sendiri dengan marah. "Ingin kuli-hat, sampai dimanakah kelihaian Leng-coa Mao Kau dengan komplotannya?"

Sesudah mendengus, dia melanjutkan, "Apalagi urusan terjadi di Kang-lam, saudara Liu. Kau boleh cuci tangan, tapi aku harus beradu kekuatan dengan mereka."

"Saudara Song, apa gunanya berbuat demikian?" Pa-san-kiam-kek menepuk bahunya. "Kalau sampai demikian, dunia persilatan pasti akan geger."

Ia membuka jendela dan melongok keluar, rembulan dan bintang bertaburan di angkasa, suasana hening, kiranya kereta sudah berada di luar kota. Dengan perasaan yang gundah, kedua orang itu membungkam sampai lama sekali. Akhirnya Pa-san-kiam-kek berkata, "Walaupun kita berdua sudah menjelajahi seluruh negeri, hanya luar perbatasan yang belum pernah kita kunjungi. Sudah lama ingin kunikmati pandangan alam di gurun pasir. Saudara Song, bagai-mana kalau temani Siaute berpesiar kesana?"

Dengan rasa terima kasih Song Leng-kong menepuk punggung tangan Pa-san-kiam-kek. Dari kejauhan berkumandang suara pekikan burung. Angin malam berembus mengibarkan jenggot Pa-san-kiam-kek yang memutih.

Di bawah cahaya rembulan, tampak kerut wajah Pa-san-kiam-kek tertera amat jelas sekali. "Kita semua sudah tua!" keluh Cing-peng-kiam sambil menghela napas. Ambisinya yang 

berkobar seketika lenyap tak berbekas.

Ia mulai menyesal. Menyesal telah mengikuti peristiwa di bukit Him-ni-san dahulu.

"Ai, nasi sudah menjadi bubur, apa gunanya dipikirkan lagi?" gumamnya dengan sedih.

Waktu itu Pa-san-kiam-kek sedang termenung mendengar gumaman tersebut. Ia mendongakkan kepala dan bertanya, "Saudara Song, apa yang kau katakan?"

Cing-peng-kiam tertawa, sahutnya, "Aku bilang, jika dikemudian hari kita bisa mengarungi gurun pasir bersama, betapa senangnya waktu itu."

Pa-san-kiam-kek tertawa penuh pengertian. Tiba-tiba ia bertanya, "Bagaimana dengan kedua bocah she Ong ini?"

"Lemparkan saja dari kereta kan beres," sahut Cing-peng-kiam dengan kening berkerut. "Toh beberapa jam lagi jalan darah mereka akan bebas dengan sendirinya. Masa mereka tak bisa pulang sendiri?"

"Benar!" kita Liu Hu-beng dengan tertawa.

Ia lantas membuka pintu kereta dan mendorong kedua orang itu, "bluk, bluk,", Ho-siok-siang- kiam didorong ke luar kereta.

Agaknya sang kusir mendengar suara itu, sambil berpaling tegurnya lantang, "Song-ya, apa yang terjadi?"

"O, tidak apa-apa, "sahut Cing-peng-kiam dengan tertawa.

Sesudah termenung sebentar, kusir itu kembali bertanya, "Tuan berdua hendak kemana?" Cing-peng-kiam termenung sejenak, sahutnya kemudian, "Jalankan saja keretamu ke depan. 

Fajar tiba nanti, sampai dimana waktu itu disana juga kami akan turun." Buru-buru kusir itu mengiakan. Tiba-tiba Pa-san-kiam-kek merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah bungkusan, lamat- lamat di atas bungkusan masih kelihatan ada noda darah, ujarnya kemudian, "Sisa tulang Siu Tok juga tak ingin kusimpan terus."

Sambil berkata, ia melemparkan buntalan itu keluar kereta.

Menyaksikan kejadian itu, Cing-peng-kiam berkerut kening, ia berbisik, "Kenapa kaubuang tulang orang di tempat terpencil semacam ini?"

Tapi kemudian dengan menghela napas, sambungnya lagi, "Semoga Siu Tok tak punya keturunan, kalau ti-dak, dendam sedalam lautan ini bagaimana caranya menuntut balas?"

Terbayang betapa sisa tulang Siu Tok masih tertumpuk dalam rumahnya, timbul perasaan menyesal dalam hatinya.

"Song-heng, tulisan 'Sepuluh tahun kemudian dengan darah membayar darah' apakah tulisanmu?" tanya Pa-san-kiam-kek tiba-tiba.

Cing-peng-kiam Song Leng-kong menggeleng kepala, ia tidak menjawab pertanyaan itu, seakan-akan di dalam hati sedang memecahkan sesuatu masalah pelik.

Suara roda kereta terus berputar. Kuda yang meringkik makin lama semakin jauh dan lenyap dalam kegela-pan . . . .

--- ooo0ooo ---

Musim gugur telah lalu, musim dingin dengan siang hari yang semakin pendek menyusul datang. 

Hari berubah semakin hening dan sepi. Mao Ping yang cantik merasa kesepian dan sedih.

Bunga salju bertebaran di luar jendela. Ia membuka daun jendela dan membiarkan bunga salju melayang masuk. Meski udara sangat dingin, tapi ia rela membiarkan tubuhnya tersiksa. Dengan tubuh tersiksa ia baru merasakan berkurangnya siksaan batin.

Seorang nyonya muda jangkung mendorong pintu kamar dan berjalan masuk. Pada tangannya membopong seorang bayi. Sambil tersenyum katanya, "Adik Ping, baik-baikkah kau selama ini?"

Ia memandang bunga salju di luar jendela, kemudian dengan sedih katanya, "Entah bagaimana jadinya dengan Toakomu itu? Tahun baru sudah hampir tiba dan ia belum juga pulang."

Mao Ping Cuma tersenyum dan tidak menjawab pertanyaannya.

Nyonya muda itu berjalan mondar-mandir dalam kamar, kemudian desisnya, "O, sungguh dingin!" Ia mendekap bayinya dengan kencang, kembali katanya, "Adik Ping, kau harus baik-baik menjaga diri. Jangan berpikir yang bukan-bukan. Persoalan apapun harus kautunggu sampai orok dalam perutmu itu lahir lebih dulu, mengerti?"

"Tahu, Enso. Terimakasih!" Mao Ping mengangguk.

Sambil tertawa, nyonya muda itu berjalan keluar. Tiba-tiba bayinya menangis, dengan penuh kasih sayang ditimangnya bayi itu sambil berbisik, "Jangan menangis, nak, ayahmu sebentar akan pulang."

Setelah berpaling dan tertawa kepada Mao Ping, alau ia meninggalkan kamar itu.

Mao Ping menutup pintu, lalu sambil memandang wajah sendiri pada cermin, ia geleng kepala beberapa kali.

Inikah wajahku? Makin hari makin layu? Ia membalik badan sambil tertawa getir. Memandang pinggang sendiri yang kian membesar, ia menghela napas panjang, pikirnya, "Kenapa begitu cepat? Tampaknya orok segera akan lahir."

Tiba-tiba ia merasa sedih, "Tapi dimanakah ayah anak ini?"

Ia menggigit ujung bibir dengan giginya yang putih, "Mungkin ayah anak ini tak akan kembali untuk selamanya!"

Bayangan Siu Tok yang tampan dan gagah serta perawakannya yang perkasa tiba-tiba terlintas dalam benaknya.

Situasi dunia persilatan belakangan ini tampaknya mengalami gejolak yang sangat besar. Walaupun sudah lama Mao Ping tak pernah bergerak lagi dalam dunia persilatan, tapi berita dunai persilatan selalu didapatnya dari anak buah Toakonya, yakni Leng-coa Mao Kau. Itulah sebabnya dia mengetahui dengan jelas.

Siu-sianseng telah mati, Pa-san-kiam-kek Liu Hu-beng dan Cing-peng-kiam Song Leng-kong menghilang dari dunia persilatan. Leng-coa Mao Kau dengan membawa tujuh orang dari Jit- kiam-sam-pian telah banyak melakukan pekerjaan yang menggetarkan dunia. Setiap perusahaan piaukiok milik Song Leng-kong yang berada di wilayah Kanglam, bahkan setiap sanak keluarga Cing-peng-kiam telah dibabat mereka sampai punah. Maka Leng-coa Mao Kau pun menjadi pemimpin yang paling berkuasa dalam dunia persilatan de-wasa ini.

Malah muridnya dengan bangga memberitahukan kepada Mao Ping, "Sekarang Toaya betul- betul luar biasa, konon Toaya hendak mendirikan perkumpulan dan akan bersaing dengan perguruan lain."

Atas semua berita tersebut, Mao Ping hanya mendengarkan dengan hambar. Bukan saja tidak bergirang, malahan merasa agak malu, menyesal dan sedih.

Ia benci kepada diri sendiri, kenapa berbuat demikian. Ia benci kakaknya karena perbuatannya yang memalukan. Tapi semua itu Cuma dipendam di dalam hati, sebab yang paling dibenci ialah dirinya sendiri. Maka rasa kangennya kepada Siu Tok dan rasa sesalnya pada diri sendiri menciptakan beban batin yang besar baginya, menggerogoti hatinya dan akhirnya ia tak tahan lagi. Dia tak ingin hidup lebih jauh dalam ke-luarga yang dibencinya. Dia tak ingin berjumpa lagi dengan kakaknya Leng-coa Mao Kau.

Di tengah malam bersalju itulah Mao Ping kabur dari rumahnya, membedal kudanya kencang-kencang melalui jalan bersalju yang becek, tapi hatinya kosong. Dia tak tahu kemana harus pergi.

Kota Hang-ciu pada musim dingin tidak seramai pada musim lain. Perlahan ia menjalankan kudanya keluar kota lewat pintu timur.

Seorang gadis cantik melakukan perjalanan seorang diri, tentu saja hal itu memancing perhatian orang. Ada yang menudingnya sambil memuji, ada pula yang berbisik-bisik, "Stt, coba lihat! Gede amat perut nona itu, jangan-jangan ia bergendakan di luar " 

Tapi baru bicara setengah jalan, kepalanya ditabok orang dengan mata melotot dan berseru, "Keparat, jangan sembarang bacot. Kautahu siapakah nona itu?"

Setelah mendengus, sambungnya, "Dia adik kandung Mao-toaya. Tahu diri sedikit. Berani bicara lagi bisa kubeset kulitmu!"

Baru saja orang itu marah karena ditabok, mendengar nama Mao-toaya kontan ia ketakutan. Tanpa mengucapkan sepatah katapun dia putar badan dan kabur.

Pikiran Mao Ping waktu itu sangat kalut. Perkataan apapun tak didengar olehnya. Goncangan kuda membuatnya merasa agak mual. Ia memperketat mantelnya. Memandang awan di ufuk timur, ia membedal kudanya lebih cepat.

Salju turun amat deras, orang yang berlalu lalang di kota Hang-ciu cukup banyak. Mereka seakan-akan tidak peduli dinginnya cuaca. Mula-mula Mao Ping keheranan, tapi setelah dipikir lagi ia baru mengerti, ternyata orang-orang itu pulang ke rumah di bawah hujan salju agar bisa berkumpul dengan anak istrinya untuk merayakan Tahun Baru bersama.

Mao Ping semakin merasa kesepian, dengan sorot mata yang kagum diawasinya orang- orang itu. Sementara para pejalan kakipun mengawasi si cantik itu dengan sorot mata keheranan.

Mendadak Mao Ping merasakan matanya menjadi silau. Diantara sekian banyak orang yang berlalu lalang, tiba-tiba ia melihat suatu pemandangan yang aneh.

Dari kejauhan sana muncul dua orang dengan perawakan yang aneh. Mereka sama-sama amat jangkung, tapi yang satu gemuk dan yang lain kurus. Yang gemuk, gemuknya luar biasa, yang kurus pun kurusnya luar biasa. Lebih mengherankan lagi adalah pakaian mereka yang berbunyi gemerincingan. Setelah dekat barulah diketahui bahwa 'pakaian' si gemuk itu adalah buatan dari kepingan tembaga merah, sedang 'pakaian' yang dikenakan si kurus adalah kepingan emas.

Mao Ping keluar rumah pada tengah malam, kini sudah mendekati lohor. Meski tiada sinar matahari, namun cahaya salju yang terpantul pada pakaian mereka membuat orang silau. Apalagi sesudah mengawasi wajah mereka, Mao Ping bertambah ngeri. Buru-buru ida melengos ke arah lain.

Bukan dandanan mereka saja yang aneh, sorot matanyapun sangat tajam, seolah-olah mengandung sesuatu daya pengaruh yang luar biasa.

"Siapa gerangan mereka?" Mao Ping berpikir.

Dia dibesarkan dalam keluarga persilatan. Walaupun kungfunya terbatas oleh kesehatan badan yang lemah, namun dalam hal ilmu silat dia memiliki pengetahuan yang cukup luas.

"Tampaknya kungfu kedua orang ini jauh di atas Toako," pikirnya. Tapi lantas teringat kepada Siu Tok, "Mungkin setingkat dengan kungfu engkoh Tok. Tapi heran, belum pernah kudengar tentang kedua orang macam begini di daerah Tionggoan. Jangan-jangan mereka datang dari luar lautan?"

Mao Ping memang beralasan untuk menduga kungfu kedua orang itu sangat lihai, meski dia baru memandang sekejap saja.

Maklumlah benda sebangsa besi dan emas bukan bahan yang dapat menahan udara dingin, oleh karena itu bila mengenakannya di tubuh, tentu akan menambah kedinginan.

Padahal waktu musim dingin, orang yang bermantelpun kedinginan dan gemetaran, tapi kedua orang ini memakai beberapa ratus kati kepingan logam yang dibuat sebagai baju tanpa gemetar atau kedinginan. Ditambah lagi bekas telapak kaki mereka di atas permukaan salju tampak rata dan rajin. Semua ini menunjukkan bahwa tenaga dalam mereka benar-benar sudah mencapai tingkatan yang luar biasa.

Itulah sebabnya Mao Ping buru-buru berpaling karena kuatir menimbulkan perhatian kedua orang aneh itu.

Apa mau dikata, mata kedua orang itu juga menatap wajah Mao Ping tanpa berkedip. Nona itu bergidik, mukanya terasa merah. Buru-buru ia larikan kudanya lebih cepat dari situ.

Kedua orang aneh itu saling pandang sekejap, tiba-tiba mereka membalik badan dan mengikuti Mao Ping. Para pejalan kaki lain segera menyingkir jauh-jauh dari situ, tapi diam-diam lantas melirik lagi ke arah mereka.

Tanpa mengucapkan sepatah katapun, kedua orang itu mengikuti di belakang Mao Ping. Gadis itu tambah tegang, keringat dingin membasahi telapak tangannya. Dia ingin kabur secepatnya, tapi tak mungkin. Terlalu banyak orang yang berjalan kaki di sekitar situ. Hatinya makin gelisah dan tak tahu apa yang harus dilakukan. Tak lama kemudian, sampailah di sebuah persimpangan jalan. Arah yang menuju ke jembatan lebih banyak orang yang lalu, sedangkan jalan lain lebih sepi. Mao Ping berpikir, "Bisa susah bila mereka mengintil terus di belakangku."

Tapi setelah teringat kuda tunggangannya adalah kuda jempolan, dia yakin masih dapat meninggalkan kedua orang itu bila melarikannya dengan kencang.

Segera ia melarikan kuda secepatnya ke jalan yang lebih sepi. Semakin cepat kudanya lari, semakin perih lambungnya. Terpaksa ia mendekam di punggung kudanya.

Beberapa li kemudian, dia sangka kedua orang itu tentu sudah ditinggalkan jauh-jauh. Tapi begitu ia berpaling, ia bergidik.

Ternyata kedua orang aneh itu masih mengikuti di belakangnya dengan tenang. Wajah mereka tetap kaku dingin, muka tidak merah, napas tidak tersengal.

"Aneh, masa kedua orang ini bisa mengerutkan bumi?" pikir Mao Ping terperanjat. Kedua orang itupun tidak bicara apa-apa, mereka hanya mengikuti terus dengan tenang.

Mao Ping semakin gugup. Tanpa terasa kembali ia berpaling. Tapi begitu beradu pandang dengan mereka, buru-buru ia melengos lagi.

"Apa tujuan mereka sebenarnya? Jangan-jangan " berpikir sampai disini, merah 

mukanya. Ia tak berani berpikir lebih jauh.

Berjalan seorang diri di tengah jalanan yang sepi dengan perut lagi bunting dan kungfu tidak tinggi, diam-diam Mao Ping mengeluh. Ia mulai menyesal, mengapa memilih jalan yang ini, apalagi setelah memandang jauh ke depan ternyata tiada rumah penduduk. Yang ada cuma hutan kecil. Saking gelisah dan cemas hampir saja ia menangis.

Ia tahu mustahil bisa melepaskan diri dari intilan kedua orang itu. Perjalananpun dikendurkan, sementara otaknya berputar mencari akal guna mengatasi persoalan ini.

Tiba-tiba kepalanya terasa pusing. Kudanya seolah-olah berjalan di atas awan. Pepohonan dilewati seperti terbang. Belum pernah dia alami keadaan seperti ini.

"Jangan-jangan aku ditolong oleh dewa untuk meloloskan diri dari cengkeraman kedua orang itu?" demikian ia berpikir.

Tapi pikirannya masih cukup terang. Mustahil bisa terjadi hal begitu. Ia berpikir pula, "Lantas apa gerangan yang terjadi?"

Ia makin heran. Ia ingin tahu keduar orang itu apakah masih mengikut di belakang, tapi kecepatan terlalu luar biasa sehingga tidak jelas untuk memandang ke belakang.

Mendadak kepalanya tambah pening. Perutnya makin mual dan akhirnya ia tumpah, menyusul iapun tak sadarkan diri. Maklumlah ia sedang berbadan dua, tentu saja tak tahan melakukan perjalanan cepat dalam kondisi badan selemah ini.

Ketika sadar kembali, ia merasa ada dua tangan sedang meraba dada dan perutnya. Keruan ia malu dan gelisah. Anehnya tempat yang teraba segera terasa hangat dan nyaman. Badan terasa tak bertenaga.

Ia coba mengintip. Dilihatnya lelaki gemuk dan kurus itu sedang menundukkan kepala dan memandangnya dengan mata terpicing. Tangan mereka bergerak terus di atas badannya. Teringat apa akibatnya, ia tambah gelisah. Ia berusaha meronta. Tapi pandangannya kembali jadi gelap dan tak sadarkan diri lagi.

Ketika sadar kedua kalinya, keadaanpun tidak berbeda. Ada dua tangan sedang meraba- raba dada dan perutnya. Hal ini membuatnya heran.

"Aneh, kenapa mereka cuma meraba-raba belaka, memangnya mereka tak mengerti urusan lain?" demikian ia pikir.

Teringat hal ini, mukanya menjadi merah. Diam-diam ia mendamprat diri sendiri kenapa bisa berpikir sejauh itu.

Tapi kenyataannya memang demikian. Tak bisa menyalahkan dia kalau berpikir kesitu. Ia tak kenal kedua manusia aneh itu, iapun tak tahu kenapa mereka menguntit terus di belakangnya dan mengapa melakukan hal semacam ini terhadapnya?

Tiba-tiba berkumandang suara bentakan yang dikenalnya, "Bangsat, tak tahu malu!"

Enam jalur cahaya tajam secepat kilat menyerang punggung kedua orang yang sedang meraba tubuh Mao Ping itu.

Gembira sekali Mao Ping mendengar suara itu. Ia tahu bala bantuan telah tiba. Tapi untuk sesaat tak teringat olehnya siapa gerangan orang itu. Ia hanya tahu orang itu pasti dikenal olehnya, maka legalah hatinya.

Siapa tahu kedua orang aneh itu sama sekali tidak berpaling, bergerakpun tidak.

"Trang! Trang!" Mao Ping Cuma mendengar suara gemerincing nyaring, sementara tangan mereka masih meraba di sekujur tangan badannya. Hawa yang tersalur lewat telapak tangan mereka pun kian bertambah panas dan membuat dia merasa nyaman. Kalau bisa ia ingin telapak tangan itu meraba terus di atas badannya.

Waktu itu mereka ternyata berada dalam hutan. Menyusul bentakan tadi beberapa titik senjata rahasia lantas menyambar.

Sesosok bayangan mendadak menerobos masuk dari luar hutan. Sambil menerjang datang, orang itu membentak, "Bangsat, kalian belum mau berhenti!" Pedang dengan desing angin tajam lantas menusuk kedua orang itu.

Cepat sekali terjangan orang itu. Cahaya pedang yang menyilaukan mata mengancam jalan darah Ciang-hiat-biat di belakang kepala si gemuk dan Lang-tay-hiat di bawah iga si kurus. Bukan cuma tepat sekali jalan darah diincar, jelas dia adalah seorang jagoan kelas tinggi.

Kedua orang aneh itu belum juga berpaling. Tangan si gemuk dan tangan kanan si kurus masih bergerak di sekitar dada dan perut Mao Ping. Sedangkan sisa dua tangan lainnya, si gemuk menggeser tangan kanan ke samping, tahu-tahu menghajar bawah iga penyerang tersebut menyusul kakinya berputar dan menendang jalan darah Ting-kek-hiat di bagian selangkangan.

Sedangkan si kurus dengan lima jari yang dipentangakan mencengkeram pedang si penyerang.

Penyerang itu terkejut, buru-buru dia melompat mundur, tapi segera ia menubruk maju kembali. Diiringi cahaya pedang ia tabas punggung kedua orang aneh itu.

Kedua orang aneh itu mendengus, tangan si kurus mendadak menyampok ke belakang.

Baru saja penyerang itu mengayun pedangnya, tahu-tahu senjata tersebut bergetar keras dan terlepas terus mencelat jauh ke sana.

Penyergap itu terkejut, pikirnya, "Ilmu silat apa yang digunakan kedua orang ini?"

Seperti diketahui, ruas tulang manusia kebanyakan cuma bisa menekuk ke satu arah, tapi tangan si kurus ternyata bisa berputar begitu saja. Kalau tidak menyaksikan sendiri, siapapun tak akan percaya akan kenyataan tersebut.

Kungfu penyergap itupun hebat, meski kaget bukan berarti ia menjadi keder. Kening berkerut, tegurnya, "Siapa kalian? Apa yang kalian lakukan?"

Kedua lelaki aneh itu seperti tidak mendengar teguran itu, tapi Mao Ping dapat mendengar suara penyerang itu dengan lebih jelas. Dengan girang pikirnya, "Ah, kiranya Sik Ling yang datang!"

Ia mencoba melirik wajah kedua orang aneh itu. Dilihatnya mereka masih meraba tubuhnya dengan prihatin.

Baru saja teringat sesuatu olehnya, tahu-tahu kedua orang aneh itu berdiri tegak dan menari- mari dengan wajah berseri sehingga lempengan logam yang menghiasi tubuh mereka bergemericingan tiada hentinya.

Jago pedang muda itu bernama Sik Ling, seorang pendekar pedang kenamaan, murid Leng- gong-kiam-kek, seorang tokoh Bu-tong-pai.

Walaupun baru beberapa tahun keluar perguruan, namanya sudah tersohor dalam dunia persilatan. Pengalaman menjelajahi dunia Kangouw tidak sedikit. Tapi demi melihat tingkah- laku kedua aneh itu, dia terbelalak heran dan tak tahu apa yang terjadi. Setelah menari sekian lama, tiba-tiba si gemuk mengeluarkan semacam benda dan diperlihatkan kepada Mao Ping. Sambil mengoceh entah apa yang diucapkan, seperti juga kicauan burung.

Mao Ping masih berbaring di tanah. Sesaat ia belum berani bangun. Meski benci kepada kedua orang aneh itu, tapi setelah melihat benda di tangan si gemuk, tiba-tiba ia menjerit kaget lalu melompat ke udara seperti dilemparkan dengan pegas yang kuat.

Lompatan itu paling tidak lebih dari setombak. Dengan tercengang Sik Ling berpikir, "Aneh, sejak kapan ilmu meringankan tubuh Siau Ping sebagus ini?"

Perlu diketahui, melompat ke udara dari posisi berbaring jauh lebih sulit daripada melompat dengan posisi berdiri.

Mao Ping tidak menaruh perhatian akan lompatan sendiri. Begitu turun ke tanah dia berteriak lagi, "Kembalikan padaku, kembalikan padaku!"

Agaknya benda itu amat berharga baginya.

"Ai, kenapa ia tidak menyapa padaku?" diam-diam Sik Ling menghela napas menyesal.

Kedua orang aneh itu sama sekali tidak mengerti apa yang dikatakan Mao Ping. Mereka masih berdiri disitu dengan tersenyum dan memegang sebuah kotak kulit kecil dengan rantai emas yang halus. Sewaktu bergoyang menimbulkan suara gemerincing yang nyaring.

Mengikuti goyangan kotak kulit kecil yang tergantung pada rantai emas itu, mata Mao Ping juga ikut berputar kian kemari.

Sik Ling semakin heran, "Aneh! Apa bagusnya kotak itu? Kenapa ia begitu tertarik?"

Melihat air muka Mao Ping, kedua lelaki kurus dan gemuk itu kembali bercuit-cuit beberapa patah kata yang tidak dimengerti. Wajah mereka semakin kegirangan, sambil tertawa si gemuk lantas mengulur tangannya seperti mau menarik tangan Mao Ping.

Sik Ling menjadi gusar, bentaknya, "Bedebah, serahkan nyawamu!"

Suatu pukulan segera dilancarkan menghajar jalan darah Ciang-keng-hiat di bahu si gemuk.

Berubah juga air muka si gemuk. Cepat tangannya ditarik dan diulur pula seperti seekor ular hidup. Mendadak membalik hendak mencengkeram pergelangan tangan Sik Ling.

Sik Ling tidak menyangka orang itu bisa menyerang dari posisi demikian. Dalam terkejutnya cepat ia turunkan tangan ke bawah, ujung jari menutuk ke atas.

Siapa tahu lengan orang itu seperti bisa berputar sesuka hatinya. Dengan lima jari terpentang, tiba-tiba pergelangan tangannya berputar dan mencengkeram pergelangan tangan Sik Ling dengan cepat luar biasa.

Serangan ini bukan cuma cepat saja, juga sangat aneh dan belum pernah dilihat sebelumnya. Sebagai murid Leng-gong Cinjin dari Bu-tong-pai, Sik Ling punya dasar kungfu  yang kuat. Tapi setelah bertemu dengan manusia aneh ini, semua kepandaiannya tak mampu digunakan.

Hanya satu gebrakan saja, ia sudah kena dicengkeram pergelangan tangannya. Dalam kejut dan gusarnya, ia menjadi nekat. Tanpa menghiraukan lengan kanannya, secepat kilat jari tangan kiri menutuk Ki-ciat-hiat di punggung orang.

Si gemuk seakan-akan tidak merasakan datangnya ancaman. Begitu jari tangan Sik Ling mengenai tubuhnya, baru dia bergeser ke samping.

Sik Ling kaget. Baru teringat olehnya, pakaian orang itu terbuat dari logam. Dengan tenaga dalamnya sekarang, mana mungkin menembus lapisan logam itu?

Cengkeraman orang itu pada pergelangan tangan Sik Ling tetap tanpa sepenuh tenaga. Dengan melotot dia mengawasinya dan mengucapkan kata-kata yang tidak dimengerti pemuda itu.

Kejut dan marah Sik Ling. Pergelangan tangannya berputar ke atas, maksudnya hendak melepaskan diri dari cengkeraman orang dengan ilmu Kim-na-jiu hoat aliran Bu-tong-pai. Siapa tahu cengkeraman orang itu sekencang tali kulit. Bagaimanapun ia berusaha meronta selalu gagal melepaskan diri.

Tiba-tiba satu ingatan terlintas dalam benak Sik Ling. Ia teringat pada cerita gurunya tentang semacam ilmu pukulan sakti yang sudah lama punah di daerah Tionggoan.

Ketika ia mengawasi telapak tangan dan kulit badan si gemuk itu, benar juga warnanya putih mulus seperti kemala, diantara putih bersemu warna hijau muda. Ia terkejut, teriaknya kepada Mao Ping, "Adik Ping, cepat lari! Mereka mahir Hua-kut-sin-kun (pukulan sakti penghancur tulang)!"

Waktu itu benak Mao Ping terasa kosong dan tak tahu apa yang sedang dipikirkan. Namun ucapan "Hua-kut-sin-kun" ibaratnya bunyi guntur menggelegar dan membuatnya sadar dari lamunannya.

Sekalipun kungfunya tidak terlalu tinggi, tapi "Hua-kut-sin-kun" cukup diketahuinya.

Konon pada beberapa puluh tahun yang lalu, dalam dunia persilatan muncul seorang tokoh persilatan yang sangat lihai bernama Hay-thian-ko-yan (si walet tunggal dari Hay-thian). Jarang ada orang yang tahu akan jejaknya. Meski hanya beberapa tahun berkelana dalam dunia persilatan, tapi namanya sudah sangat menonjol. Ia pernah mengalahkan dua puluh tujuh orang Ciangbunjin dari berbagai perguruan dalam dunia persilatan dengan bertangan kosong. Setiap orang tak pernah bisa melawan lebih sepuluh gebrakannya.

Kehebatannya ketika itu sangat menggetarkan dunia. Dalam sejarah persilatan sekian ratus tahun lamanya, tak seorang jago pun yang bisa melampaui prestasinya itu. Ilmu pukulan yang digunakan Hay-thian-ko-yan ketika itu tak lain adalah Hua-kut-sin-kun. Sejak Hay-thian-ko-yan mengasingkan diri, tak seorangpun dalam dunia persilatan yang mahir mempergunakan ilmu pukulan sakti itu. Tapi selama puluhan tahun ini orang tetap ngeri bila menyinggung pukulan Hua-kut-sin-kun. Tak heran Mao Ping menjadi terperanjat setelah mendengar Sik Ling menyebut ilmu pukulan tersebut.

Setelah melengong sejenak, ia mengawasi sekejap kedua orang aneh itu, lalu dengan terkejut bercampur heran, pikirnya, "Benarkah ilmu pukulan yang digunakan kedua orang aneh ini adalah Hua-kut-sin-kun?"

Tiba-tiba terdengar Sik Ling bersuara tertahan, tubuhnya segera terkulai ke tanah.

Mao Ping tak sempat berpikir banyak lagi. Sik Ling roboh demi membelanya. Tentu saja ia tak mau pergi dengan begitu saja, apalagi kotak kecil kulit itu masih berada di tangan lawan.

Sambil menggigit bibir, pikirnya, sekalipun jiwaku akan melayang, kotak tersebut harus kurampas kembali.

Tapi iapun cukup memaklumi tarap kungfu sendiri. Mustahil ia sanggup melawan kedua orang aneh itu. Dahinya berkerut. Dalam keadaan begini ia merasa tak punya pilihan lagi.

Dalam pada itu, kedua orang aneh itu tidak lagi menengok Sik Ling yang tergeletak di tanah. Perhatian mereka tertuju sepenuhnya kepada Mao Ping

Kotak kecil di tangan si kurus digerakan semakin cepat. Suara gemerincing yang ditimbulkan kotak itupun semakin nyaring. Tampaknya si gemuk tahu lawan tak paham bahasanya. Ia garuk-garuk kepala yang tidak gatal dan berulang berusaha memberi kode tangan.

Meski Mao Ping gadis pintar, sayang dia lagi bingung oleh suasana yang dihadapinya. Ia tak dapat menerima makna isyarat tangan di gemuk itu.

Tiba-tiba ia tertawa kepada si kurus, cepat si kuruspun balas tertawa. Siapan sangka tertawanya itu sengaja digunakannya untuk memencarkan perhatian orang.

Menyusul tertawanya, secepat anak panah yang terlepas dari busurnya ia menerjang maju dan hendak merampas kotak kulit yang berada di tangan si kurus. Agaknya si kurus tidak berjaga. Tangannya sama sekali tidak bergerak.

Ketika tangannya menyentuh kotak kulit itu, Mao Ping sangat girang. Sambil menarik dia menyurut mundur ke belakang. Kotak kulit itu sudah berhasil dirampasnya.

Setelah membalik badan segera ia mencari peluang untuk kabur. Dalam keadaan demikian Sik Ling pun dilupakannya.

Siapa sangka sedikit merunduk saja, pandangannya menjadi kabur. Tahu-tahu si kurus dengan wajah yang sukar diraba perasaannya telah berdiri di hadapannya.

Sedangkan ujung rantai sebelah lain pada kotak kulit itu masih berada di tangan si kurus. Keruan perasaan Mao Ping kaget sekali. Tak tersangka ilmu meringankan tubuh si kurus sedemikian hebatnya. Sementara itu si gemuk juga menyusul datang. Tidak kelihatan kakinya bergeser, tahu-tahu tubuhnya meluncur tiba dihadapannya. Malah kepingan logam di badannya sama sekali tidak mengeluarkan suara apa-apa.

Setibanya di depan Mao Ping, kembali ia mengucapkan kata-kata yang sukar dimengerti. Tentu saja nona itu cuma berdiri dengan bingung.

Terbukti sekarang ilmu meringankan tubuh orang itu berlipat kali di atasnya. Kungfunya tak perlu dikatakan lagi. Bertarung tak bisa menang, mau kabur tak bisa lolos, apakah dia harus pasrah nasib tanpa melawan? Dari takut ia menjadi sedih juga.

Sudah setumpuk kata diucapkan si gemuk, tapi sama sekali tidak mendatangkan hasil apa- apa.

Si kurus berkerut kening sambil termenung. Mendadak ia memegang kepalanya dan menjulurkan tangannya yang kurus seperti cakar burung tapi putih mulus itu sambil menuding ke kotak kulit di tangan Mao Ping, lalu menuding pula ke leher si nona. Habis itu dia mengawasi dia seperti menunggu jawaban.

Sikap ini makin membingungkan Mao Ping. Timbul perasaan ingin tahu dalam hatinya, pikirnya, "Sebenarnya apa kehendak kedua orang ini?"

Tanpa terasa dia menunduk kepala dan memandang ke leher sendiri. Tapi begitu ia tundukkan kepala, hampir saja dia menjerit. Ternyata pada lehernya masih terkalung sebuah kotak kulit yang bentuknya persis seperti benda yang direbutkan tadi.

Ia membuka tangan dan memandang kotak kecil rampasan itu. Pelbagai kecurigaan muncul dalam hatinya, pikirnya, "Ah, kiranya kotak kulit si kurus itu bukan milikku, tapi mereka mendapatkannya dari mana?

Mungkinkah kedua orang ini mempunyai hubungan yang erat dengan dia? Aneh benar, dari mana datangnya mereka berdua? Kenapa mereka terus menerus merecoki diriku?"

Makin dipikir semakin bingung, untuk sesaat ia termangu-mangu.

Tanpa terasa kenangan lama terlintas kembali dalam benaknya. Bayangan tubuh kedua orang aneh itu serasa makin kabur, sedang wajah Siu Tok yang tampan terbayang kembali di depan mata.

Ia masih ingat, ketika Siu Tok hendak pergi meninggalkannya dengan sedih, ia sendiri merasa menyesal dan malu pada diri sendiri.

Siu Tok mengira dia sedih karena hendak ditinggalkan, maka anak muda itu mengeluarkan sebuah kotak kulit kecil dan diberikan kepadanya, bahkan berpesan bahwa benda itu merupakan benda paling berharga baginya karena penuh dengan kenangan. Gadis itu dapat menangkap keseriusannya waktu itu. Sejak itu, setiap saat kotak kulit itu tak pernah berpisah darinya. Setiap kali teringat pada Siu Tok, teringat utangnya atas cinta Siu Tok, ia lantas mengeluarkan kotak itu, menatapnya dengan tenang dan memainkannya, mengenangkan kejadian masa silam.

Itulah sebabnya ia menjadi gelisah ketika mengetahui kotak kulit itu berada di tangan orang lain, tentu saja semua itu dikarenakan oleh rasa cintanya kepada Siu Tok yang mendalam.

Tapi setelah ia menemukan kotak kulit miliknya masih berada di lehernya, ia menjadi terkejut lagi. Kenapa keuda orang aneh inipun memiliki kotak kulit serupa dengan miliknya? Apakah antara mereka dengan Siu Tok ada hubungan yang akrab? Lantas apa pula tujuan mereka bersikap demikian kepadanya?

Dengan perbagai kecurigaan memenuhi benaknya, sekali lagi Mao Ping mendongakkan kepala. Waktu itu kedua manusia aneh itu sedang memandanginya dengan tertawa.

Rasa ngeri dan takutnya terhadap kedua orang aneh itu mulai hilang. Meski demikian, ia tak tahu bagaimana caranya mengutarakan suara hatinya itu.

Perbedaan bahasa untuk pertama kalinya dirasakan menyulitkan dirinya. Ia berpikir, "Berhadapan dengan mereka aku seperti berkumpul dengan orang-orang bisu "

Mendadak satu ingatan terlintas dalam benaknya. "Sekalipun orang bisu kan juga bisa mengutarakan isi hatinya. Meski ucapanku tidak dimengerti, masa tulisan tidak mereka pahami?"

Wajahnya lantas berseri, karena ia telah menemukan satu cara terbaik untuk mengatasi kesulitan ini.

Tentu saja kedua orang aneh itupun bisa menangkap perubahan mimik wajah si nona. Si gemuk segera berpaling dan mengucapkan beberapa patah kata kepada si kurus. Meski Mao Ping tidak mengerti apa yang diucapkan, tapi dari nada suara mereka bisa diketahui kedua orang aneh itupun merasa gembira.

Ia lantas berjongkok dan menggunakan kukunya yang tidak terlalu panjang untuk menulis huruf 'Siu Tok' di atas tanah.

Melihat kelakuannya itu, kedua orang aneh itupun ikut berjongkok. Pakaian logam mereka ikut berbunyi gemerincing.

Mereka mengawasi sekejap huruf 'Siu Tok' di atas tanah itu. Tiba-tiba mereka melompat bangun dan manggut-manggut. Meski kungfunya lihai, mukanya agak bengis dan seram, tapi sikapnya sekarang tak ubahnya seperti anak kecil yang polos.

Mao Ping tersenyum, sekarang dia tahu kedua orang ini pasti mempunyai hubungan yang erat dengan Siu Tok. Malah dia yakin mereka bukan orang Tionggoan. Kedatangan mereka kemari pasti untuk mencari Siu Tok. Tapi bagaimana dengan Siu Tok sendiri? Rasa sedih segera timbul dalam hatinya. Kalau pada hari biasa waktu pikirannya sedang jernih, tentu dia akan segera mengetahui bukan saja kedua orang itu tidak memahami perkataannya, bahkan huruf yang ditulispun tidak begitu dipahami. Hal ini diketahui dari sikap mereka yang harus mengamati huruf 'Siu Tok' sampai sekian lamanya.

Tapi sayang perasaannya ketika itu sedang gundah. Ia sama sekali tidak menaruh perhatian sejauh itu. Maka iapun berharap agar kedua orang ini bisa menulis beberapa huruf untuk menyingkap tabir yang membingungkannya.

Demikianlah, setelah bergembira sekian lamanya, kedua orang aneh itu kembali berjongkok dan angguk-angguk kepala kepada Mao Ping sambil tersenyum. Mereka menunjukkan sikap yang akrab sekali, lalu mengawasi tangan Mao Ping seakan-akan menunggu ia menulis lagi. Tapi Mao Ping sendiri justru sedang menunggu mereka menulis.

Jadinya mereka bertiga hanya sama-sama berjongkok sambil saling pandang, tapi kedua pihak sama-sama tak tahu apa yang diinginkan pihak lawan. Cuma mata saja yang berbelalak lebar.

Tentu saja Mao Ping tidak kenal asal-usul kedua orang aneh ini, bahkan dalam dunia persilatan dewasa inipun, tidak banyak yang mengetahui asal-usul mereka berdua. Meski setelah menyaksikan gaya ilmu pukulan mereka, semua orang hanya bisa menduga mereka pasti ada hubungan yang erat dengan Hay-thian-ko-yan.

Hay-thian-ko-yan sendiri masih merupakan teka-teki. Pada hakikatnya tiada orang yang mengetahui akan asal-usulnya dan kemana perginya. Siapapun tidak tahu dia ada hubungan dengan kedua manusia aneh ini. Bahkan dengan tokoh paling aneh dewasa ini, 'Siu-sianseng', juga mempunyai hubungan yang erat sekali.

Sejarah kehidupan Siu Tok yang tiga puluhan tahun yang singkat dan penuh aneka ragam itu selain persoalan-persoalan yang telah diketahui orang, masih ada lebih banyak ld masalah yang tak diketahui orang lain.

Ia pernah jauh mengarungi samudra dan tiba di sebuah pulau terasing dan berkenalan dengan banyak sekali jago persilatan yang telah dianggap mati oleh orang lain. Salah seorang diantaranya tak lain ialah naga diantar manusia, Hay-thian-ko-yan.

Para Bu-lim-cianpwe atau tokoh angkatan tua dunia persilatan itu kebanyakan karena menghadapi kesulitan yang tak terpecahkan atau sudah bosan hidup di keramaian dunia, akhirnya mereka diundang Hay-thian-ko-yan untuk berdiam di pulau kecil itu dan melewatkan penghidupan tenang bagai malaikat dewata.

Ketika tanpa sengaja Siu Tok tiba di pulau terpencil itu, dia segera merasakan kungfu sendiri yang dianggap jagoan nomor wahid dalam dunia persilatan ternyata sama sekali bukan apa-apa bila dibandingkan dengan para tokoh silat dalam pengasingan itu.

Sebagai seorang anggota dunia persilatan, setelah menemui kesempatan sebaik ini, tentu saja tak terlukiskan rasa gembiranya. Siu Tok minta tinggal di pulau kecil itu untuk mempelajari sejumlah kungfu yang pernah di dengar tapi belum pernah dilihatnya itu.  Tapi Hay-thian-ko-yan yang usianya sudah mencapai seratus tahun lebih dan masih memiliki semangat besar itu berkata kepadanya, "Setiap orang yang tinggal disini harus mengangkat sumpah untuk tidak meninggalkan pulau ini lagi, sanggupkah kau melakukannya?" 

Mendengar perkataan ini, Siu Tok menjadi bungkam dan tak mampu mengucapkan sepatah katapun.

Waktu itu usianya baru mencapai angka dua puluhan. Inilah masa yang terindah dalam kehidupan manusia. Ia merasa tak ada harganya untuk mengorbankan penghidupannya demi ilmu silat, sebab sekalipun berhasil mempelajari kungfu yang maha tinggi, apapula yang bisa dilakukan di pulau terpencil seperti itu?

Keadaan ini serupa dengan orang yang bersedia memberikan kekayaan yang tak terhitung banyaknya untukmu, tapi kau dilarang meninggalkan rumahnya barang selangkahpun. Sudah barang tentu sukar bagimu menyanggupi permintaannya itu.

Suara hatinya itu tentu saja bisa dipahami oleh Hay-thian-ko-yan. Maka sambil tertawa katanya pula, "Tak perlu rikuh, bila aku berusia seperti kau, akupun takkan melakukannya."

Persaaan yang paling berharga bagi umat manusia adalah rasa simpatik dan saling pengertian antara sesamanya. Selama hidup Siu Tok enggan tunduk kepada orang lain, tapi terhadap tokoh sakti di luar samudra ini, ia betul-betul takluk.

Sebaliknya Hay-thian-ko-yan sendiri pun sangat mengagumi pemuda ini, meski usia mereka berbeda hampir enam puluh tahun. Namun mereka toh menjadi sahabat karib. Siu Tok di ijinkan berdiam selama satu bulan lebih di pulau terpencil itu.

Dalam waktu satu bulan ini, sekalipun Hay-thian-ko-yan tak pernah membicarakan soal ilmu silat, namun secar lamat-lamat ia membeberkan rahasia tenaga dalamnya dalam setiap pembicaraan. Dengan kecerdasan Siu Tok, tentu saja tak sulit untuk menangkap rahasia itu. Tak heran kalau dia berhasil menguasai intisari Ban-liu-kui-cong yang menggetarkan dunia persilatan itu.

Setiap orang yang tinggal di pulau terpencil itu selalu menyimpan sebuah kotak kulit kecil. Apa isinya tak seorangpun yang pernah membukanya. Sebelum Siu Tok berangkat meninggalkan tempat itu, Hay-thian-ko-yan memberi sebuah kotak kepadanya sambil berpesan bahwa kotak kulit itu mungkin akan banyak membantunya. Bila keadaan tidak terlalu berbahaya jangan sekali-kali kotak itu dibukan.

Sesaat sebelum Siu Tok naik ke atas perahunya, Hay-thian-ko-yan kembali berpesa, "Bila kau sudah bosan dengan kehidupan dunia persilatan, setiap saat kau boleh datang kemari."

Sambil menghela napas ia menambahkan, "Baik aku ada disini atau tidak, tempat ini selalu akan menyambut kedatanganmu."

Dari ucapan tersebut ia seakan-akan memberitahu bahwa ajalnya sudah makin mendekat. Dengan perasaan iba dan berat, Siu Tok pun mohon diri. Gunung lima jari atau Ngo-ci-san di pulau Hay-lam (Hainan) terhitung pula salah satu tempat kelahiran jago-jago pedang ternama. Ilmu pedang aliran Hai-lam-kiam-pai mengutamakan gerakan yang keji dan ganas. Meski berbeda dengan aliran silat di daratan Tionggoan, tapi sejak dulu sumber ilmu pedang adalah satu meski cara mempelajarinya berbeda.

Kedua manusia aneh berbaju lapisan tembaga dan emas ini sesungguhnya adalah jago-jago lihai Hai-lam-kiam-pai. Meski mereka tak pernah meninggalkan wilayah laut selatan, namun ilmu pedangnya memang luar biasa. Watak mereka pun sangat aneh.

Waktu berada di Hai-lam-to dulu, cara kerja mereka sudah terkenal nyentrik. Siapa tahu mendadak jejak mereka lenyap tak berbekas. Tentu saja semua orang merasa heran, sebab kedua orang ini tak mungkin mengasingkan diri, sedang di daratan Tionggoan juga tak terdengar jejak mereka.

Sudah barang tentu orang tak tahu mereka berdua telah diajak Hay-thian-ko-yan untuk bermukim di pulau terpencil itu sambil memperdalam ilmu silatnya, karena Hay-thian-ko-yan yang wataknya memang sangat aneh itu menaruh perhatian besar terhadap mereka berdua.   

Selama Siu Tok berada di pulau terpencil itu dulu, hubungannya dengan kedua orang aneh ini sangat akrab. Jodoh orang memang sangat aneh. Padahal biasanya baik Siu Tok maupun kedua orang ini berwatak angkuh dan suka menyendiri, tapi setelah bertemu entah mengapa hubungan mereka menjadi akrab sekali.

Kedua orang aneh ini adalah saudara misan. Si gemuk bernama Thia Ki, sedang yang kurus bernama Poa Cian. Setelah tinggal selama sepuluh tahun lebih di pulau terpencil itu, akhirnya mereka tak tahan menghadapi kesepian di pulau itu. Diam-diam mereka pun ngeluyur pergi.

Pertama hal ini disebabkan watak mereka memang enggan kesepian, kedua mereka pun belum mencapai tingkatan yang memandang kosong segala apa di dunia ini, terutama setelah banyak mendengar cerita dari Siu Tok tentang aneka ragam persoalan di dunia persilatan dan keindahan alam di walayah Kanglam. Semua ini membuat hati mereka tergelitik.

Segera mereka berangkat menuju ke Kanglam. Mereka tidak pernah menginjak daratan, mereka merasa asing terhadap segala sesuatunya. Dandanan mereka yang aneh pun menimbulkan perhatian orang, serta merta teringat oleh mereka untuk mencari sahabat. Sedang satu-satunya sahabat mereka dalam dunia persilatan hanya Siu Tok.

Itulah sebabnya mereka menjadi girang setengah mati demi melihat kotak kulit kecil yang dikenakan Mao Ping itu, sebab penyelidikan mereka terhadap jejak Siu Tok sama sekali belum mendatangkan hasil. Maklumlah, dengan dandanan mereka yang serba aneh, apalagi orang yang dicari adalah Siu Tok, sudah barang tentu orang lain enggan memberitahukan kejadian yang sesungguhnya kepada mereka.

Dan sekarang mereka menggunakan bahasa daerah yang aneh untuk mencari keterangan, tentu saja Mao Ping tidak paham maksud mereka. Bahasa yang tak lancar gampang menimbulkan salah paham, maka usaha mereka mengurut tubuh Mao Ping dengan tenaga dalam pun menimbulkan salah sangka nona itu sebagai suatu penghinaan.

Setelah menggunakan berbagai jalan dan cara, akhirnya mereka bisa juga membuat Mao Ping sedikit memahami hubungan mereka dengan Siu Tok.

Dengan sedih Mao Ping segera menulis huruf 'telah mati' di bawah tulisan 'Siu Tok' tadi. Melihat itu, mencorong terang sinar mata Thia Ki dan Poa Cian. Sambil meraung mereka memburu maju dan menangkap lengan Mao Ping dan mengajukan serentetan pertanyaan yang tidak dimengerti.

Karena kedua lengannya dicengkeram, Mao Ping merasa kesakitan. Air matanya jatuh bercucuran, tapi ia menangis bukan lantaran berduka melainkan merasa girang.

Maklumlah, sejak Siu Tok, tak seorangpun yang memperlihatkan rasa sedih karena kematian Siu Tok. Sedang ia sendiripun menitikkan air mata secara bersembunyi bila terkenang pada kematian kekasihnya. Ia terpaksa berbuat demikian sebab setiap orang yang ditemuinya adalah musuh Siu Tok.

Tapi sekarang ia telah bertemu dengan sahabat sejati Siu Tok, saking terharu dan gembiranya ia sampai melelehkan iar mata, sebab luapan rasa gembiranya ketika mengetahui Siu Tok masih mempunyai kawan sejati.

Thia Ki dan Poa Cian tampak cemas, mereka bertanya, "Apa yang penyebabnya kematian Siu Tok? Apakah dibunuh orang? Siapa musuhnya?"

Sayang Mao Ping tidak paham pertanyaan mereka. Sekalipun mengerti, bagaimana caranya memberitahukan? Padahal musuh besar Siu Tok tak lain adalah kakak kandungnya sendiri.

Walaupun Thia Ki dan Poa Cian adalah manusia aneh, namun mereka pun penuh perasaan. Namun tetap sulit untuk mengutarakan maksudnya mereka hanya dengan memegang lengan Mao Ping sambil menggoyangkannya berulang kali.

Tiba-tiba cahaya pedang berkelebat dan menebas jalan darah Hian-cu-hiat di sisi telinga Thia Ki.

Waktu itu mereka berdua sedang memusatkan perhatian atas musibah yang menimpa Siu Tok, terhadap sambaran pedang itu boleh dibilang tidak peduli. Ditambah lagi sambaran pedang itu datangnya cepat sekali, jelas sulit untuk menghindar bagi si gemuk.

Hawa pedang mendesing di udara, tampaknya telinga kanan Thia Ki akan terkelupas.

Apa maksud tujuan kedatangan Thian Ki dan Poa Cian? Apa yang akan mereka lakukan terhadap Mao Ping? Dapatkah Mao Kau dan begundalnya hidup tenteram setelah memaksa Song Leng-kong dan Liu Hu-beng kabur dari Tionggoan? Intrik apa pula yang sedang disiapkannya?