Tokoh Besar Bagian 13 (Tamat)

Bagian 13 (Tamat)

Tiba-tiba Bu-sek Taysu mencelat bangun dari peti mati. Perawakannya memang kurus kecil namun keren dan wibawanya sungguh menciutkan nyali orang, begitu gagah perbawanya laksana laki-laki raksasa yang murka.

Muka Ong Toa-nio pun sudah pucat pasi, tiba-tiba putar badan terus lari terbirit-birit.

Dengan memegang sebelah tangan dan kaki Thio Hou-ji, Cin Ko mengangkatnya tinggi dan diputar satu lingkaran terus dilempar. Badan Thio Hou-ji seketika terbang memburu dan menumbuk Ong toanio, dua orang saling rangkul terguling-guling di tanah.

Cin Ko tertawa puas, katanya: "Nah kan begitu, kalian memangnya saudara sepupu, siapapun jangan lari meninggalkan yang lain."

Dengan menahan sakit Ong toanio meronta bangun seraya membalik badan, tiba-tiba dia pentang mulut dengan keras menggigit kuping Thio Hou-ji, Thio Hou-ji menjerit sekeras-kerasnya, tangannya tidak tinggal diam, mencekik leher Ong toanio, lekas Ong toanio angkat dengkulnya menyodok perutnya, begitulah mereka bergulat dan saling tindih dengan ramainya seperti anjing betina memperebutkan tulang. Begitulah watak manusia rendah budi dan picik. Di saat kedua pihak bisa saling memperalat dan membutuhkan, mereka adalah saudara kental, namun di saat menghadapi mara bahaya, mereka berubah menjadi anjing gila, kau gigit aku, aku cakar kau.

Memangnya mereka orang yang bukan manusia.

Mendadak Liu Hong-kut memburu maju, satu tangan menjinjing satu orang, Thio Hou-ji dan Ong toanio dipisah, Ong toanio dia injak, tangannya melayang menampar muka Thio Hou-ji puluhan kali sekeras-kerasnya, habis itu ia lempar badan Thio Hou-ji ganti menjinjing Ong toanio, demikian pula orang dia persen dengan tamparan keras puluhan kali. Kedua orang dihajarnya sampai muka melepuh biru dan mata meram, darah bercucuran dari panca indra mereka, meringkuk di tanah tak berkutik lagi.

Pelan-pelan Liu Hong-kut baru membalik badan, katanya tawar: "Perempuan macam mereka memangnya binatang yang tidak tahu malu, seharusnya cayhe tidak menarik mereka di dalam perserikatan besar ini, bikin kalian geli dan merasa jijik saja," pada saat dan tahap seperti ini, dia masih berlaku tenang dan bisa tertawa lagi.

Tiba-tiba Cin Ko menarik nafas panjang, katanya: "Agaknya untuk menjadi seorang pendekar besar, seorang harus menempuh jalan berliku, jadi bukan tujuan yang gampang dicapai, bukan saja harus bertangan gapah dan berhati culas, kulit mukanya harus setebal tembok."

Nyo Hoan tersenyum, katanya: "Tapi pendekar besar tidak seluruhnya seperti apa yang kau katakan, pendekar besar seperti dia, berapa banyak di dunia ini?"

Liu Hong-kut berkata: "Teman sebaik kau ini, kukira jarang terdapat di dunia ini." "Benar, memang tidak banyak," sahut Nyo Hoan.

Liu Hong-kut menghela nafas, katanya: "Baru sekarang aku tahu, mencari kawan sejati memang bukan hal yang mudah."

"Ada beberapa persoalan seharusnya bisa kau maklumi," kata Nyo Hoan. "O?"

"Masa kau belum paham akan maksudku?" "Aku ingin tahu."

"Penjagaanmu di sini amat baik, luar dalam semuanya dipasang tiga puluh enam alat-alat rahasia jebakan, perduli siapa asal berada seratus tombak di sekitar gedung ini, segera kau akan tahu jejaknya."

"Ada sedikit kesalahan hitung," kata Liu Hong-kut. "Alat-alat rahasia jebakan yang ada di sini seluruhnya ada empat puluh sembilan banyaknya."

"Oleh karena itu, perduli siapapun yang ingin kemari membuat perhitungan dengan kau, sebelum dia berhasil masuk kemari, kau sudah melarikan diri entah ke mana."

"Untuk menemui aku memang bukan hal yang gampang."

"Apalagi, umpama dapat menemukan kau, belum tentu dapat menemukan bukti-bukti nyata bahwa kaulah yang menjadi penjahatnya, tentunya kau pun takkan mengaku bahwa kaulah yang membunuh Hwesio Banyak Urusan."

"Oleh karena itu, terpaksa kau gunakan caramu itu, baru berhasil membawa mereka kemari." "Pertama kubiarkan Dian Susi masuk sendirian, maksudku adalah supaya kau menyangka dengan mudah kau bisa menghadapi dia, sekali-kali aku takkan bertindak salah sehingga kau menaruh sesuatu kecurigaan terhadap langkah-langkahku ini!"

"Oleh karena itu, maka dia pun kau kelabui?" tanya Liu Hong-kut.

"Karena dia bukan orang yang pandai membual, jikalau dia tahu akan rahasia ini, pasti gerak- geriknya dapat diketahui orang dan bocorlah segala rencanaku..."

Liu Hong-kut menghela nafas, ujarnya: "Tapi kalau aku jadi kau, aku pasti takkan tega bertindak sedemikian jauh sampai dia begitu kuatir dan ketakutan, agaknya kau memang tidak kenal kasihan kepada gadis cantik."

"Tapi aku cukup tahu cara bagaimana untuk memancing seseorang yang jahat dan tidak jujur membongkar rahasia kebejatannya sendiri."

"O?"

"Hanya dengan caraku ini, baru aku bisa memaksamu untuk bicara sejujurnya di hadapan Bu-sek Taysu. Karena persoalan ini tiada bukti dan saksi hidupnya, jikalau tidak kau sendiri yang mengakui kesalahan dan perbuatanmu, hakikatnya tidak mungkin aku mencuci bersih dosa-dosa yang kau timpakan kepada Cin Ko."

Pelan-pelan Liu Hong-kut manggut-manggut, katanya: "Kerjamu baik sekali, memang terlalu baik kerjanya."

"Apa kau kagum padaku?" tanya Nyo Hoan tertawa.

"Selama ini aku terlalu memandangmu, selalu kuanggap kau teman baikku, tak nyana kau..." dia menghela nafas panjang, raut mukanya mengunjuk perasaan amat menderita, seperti saking menderita sampai tak bisa berbicara.

Nyo Hoan malah tertawa berseri, tanyanya: "Apa benar kau anggap aku sebagai teman?" "Masa kau sendiri tidak tahu?"

"Sudan tentu aku tahu dan mengerti, malah terlalu mengerti, yang tidak mengerti kau malah." "O? Aku tidak mengerti apa?"

"Tahukah kau kenapa aku mencarimu?" "Yang kutahu sejak hari itu, aku lantas bersahabat baik sekali dengan kau, hanya kaulah yang punya ingatan hendak menghadapi aku, hakikatnya tak pernah terbetik dalam ingatanku untuk menghadapi kau."

"Oleh karena itu kau tetap tidak bisa mengerti." "Tidak mengerti apa?"

"Kaulah yang hendak menghadapi aku lebih dulu, maka aku dipaksa untuk mendahului mencarimu."

"Sejak kapan aku pernah menghadapi kau?"

"Sejak lama sekali," tanpa memberi peluang Liu Hong-kut bicara, Nyo Hoan melanjutkan: "Ingin aku tanya, begitu besar hasratmu merebut harta kekayaan keluarga Dian, apa pula tujuanmu?"

"Karena aku memerlukan uang."

"Kenapa tergesa-gesa kau mau menggunakan uang?"

"Karena aku hendak melakukan suatu kerja besar, untuk kerja besar tentu perlu uang." "Urusan besar apakah itu?" tanya Nyo Hoan.

Berkilat biji mata Liu Hong-kut, tanyanya sesaat termenung: "Apakah kau sudah tahu kerja besar itu?"

Nyo Hoan tertawa, ujarnya: "Aku hanya tahu belakangan ini di kalangan Kangouw muncul sebuah organisasi gelap yang bernama Chit Hay."

"Apa pula yang kau ketahui?"

"Aku pun tahu organisasi gelap ini dihimpun karena hendak menghadapi San Liu, karena Lotoa (ketua) organisasi gelap ini, secara diam-diam pernah melakukan beberapa kali kerja tanpa modal, selalu usahanya gagal dirintangi atau diganggu oleh San Liu," sampai di sini Nyo Hoan tertawa, "sudah tentu aku pun tahu Lotoa dari organisasi gelap itu adalah kau."

Rada berubah air muka Liu Hong-kut, lama biji matanya mendelik menatapnya, akhirnya berkata sepatah demi sepatah: "Lalu apa pula sangkut paut persoalan ini dengan dirimu?"

"Bukan saja ada sangkut paut, malah besar sekali sangkut pautnya." "Kau...apakah kau pun orang San Liu?" tanya Liu Hong-kut mendelik.

Mendadak Cin Ko tertawa, timbrungnya: "Jikalau tiada dia, mana bakal San Liu berdiri?" Mendengar keterangan Cin Ko seperti dilecut badan Liu Hong-kut, lama sekali baru dia bersuara, setelah menghela nafas baru dia berkata dengan tersenyum getir: "Selama ini aku sedang bingung dan tidak tahu siapa sebenarnya Liong-thau Toako dari San Liu, selalu aku berusaha mencarinya, sungguh tak nyana orang ini justru adalah teman dekat yang setiap hari bertemu dan berhadapan dengan aku."

Nyo Hoan tersenyum, katanya: "Jikalau benar kau pandang aku sebagai teman, kenapa tidak kau ajak dan tarik aku menjadi anggota organisasimu?"

"Karena..."

"Kalau kau tak bisa bicara, biar aku saja yang wakili kau," tukas Nyo Hoan. "Soalnya kau hanya ingin memperalat aku melaksanakan rencanamu itu, setelah usahamu sukses, kau takkan membiarkan aku hidup lebih lama lagi. Organisasi gelap yang keras dan rahasia seperti Chit Hay, tentu tidak memerlukan tenaga manusia seperti aku yang sudah dekat liang kubur."

"Paling tidak tugas yang ingin kau laksanakan bukan urusan kejahatan, dan kau sendiri tidak akan dirugikan."

"O"

"Aku ingin kau bersandiwara menjadi Enghiong menolong si cantik, kuminta kau mempersunting gadis cantik ini menjadi istrimu, kerja sebaik ini, banyak orang akan saling berebutan melaksana-kannya."

"Tapi kau jelas takkan mencari orang lain."

"Benar, karena aku memang pandang tinggi bakat-bakatmu, kuanggap kau sebagai teman, maka aku tidak perlu susah-susah mencari orang lain."

"Kukira bukan lantaran itu."

"Bukan lantaran itu memangnya karena apa?"

"Kau cari aku, karena tiada orang yang berbentuk seperti aku dan aku justru mirip dengan Nyo Hoan, memangnya sejak lama kau ingin mencari orang seperti diriku ini."

"Kenapa?"

"Karena kau ingin supaya aku bantu kau pergi ke keluarga Dian dan menipu perkawinan putrinya."

"Masa kau tidak takut terbongkar oleh orang lain?" "Takkan ada orang yang bisa membongkar muslihat ini, Nyo jiya matanya sudah buta, kupingnya sudah tuli, karena di waktu mudanya banyak menanam permusuhan, kuatir para

musuhnya meluruk datang menuntut balas kepadanya, maka kejadian ini jarang sekali ada orang tahu di kalangan Kangouw."

Liu Hong-kut terpekur, katanya: "Tapi beberapa hari yang lalu masih ada orang melihatnya!" "Itu bukan lain hanya duplikat Nyo jiya saja."

"Duplikat?"

"Justru karena Nyo jiya tidak ingin kebutaan dan ketuliannya diketahui orang-orang Kangouw, sengaja dia mencari seorang duplikat, setiap tahun sengaja disuruh keluar berkelana di Kangouw satu dua kali."

"Apakah duplikat yang satu ini pun tidak bisa membedakan Nyo Hoan asli atau palsu?" "Bahwasanya dia sendiri pun jarang melihat Nyo Hoan."

"Demikian juga dengan Dian jiya?"

"Beberapa tahun belakangan ini, hakikatnya Dian jiya tidak pernah melihat Nyo Hoan lagi." "Bagaimana kalau Nyo Hoan yang asli kebetulan kembali?"

"Dia sudah menghilang tiga empat tahun, ada orang bilang dia sudah jadi Hwesio, ada pula yang mengatakan dia sudah mati, dan kau sudah memperhitungkan serta yakin benar dia takkan muncul mendadak."

"Bagaimana dengan teman-temannya?"

"Wataknya memang aneh, bahwasanya dia jarang kalau tidak mau dikatakan tidak pernah bergaul dengan orang lain, orang-orang yang mendekati dia, tabiatnya justru lebih aneh daripada dia, sudah tentu sudah dalam perhitunganmu pula bahwa orang-orang itu tidak akan hadir dalam pesta perkawinan," seperti tertawa geli lalu dia melanjutkan, "apalagi, umpama benar Nyo Hoan dan teman-teman anehnya itu mendadak muncul, kau pasti sudah punya cara untuk menghadapi mereka, sehingga mereka selamanya takkan bisa muncul kembali."

Liu Hong-kut seperti terkesan mendalam, lama dia berdiam diri seperti mengakui semua ini.

Nyo Hoan berkata pula: "Dalam kerja ini rencanamu sudah amat sempurna, tak nyana situasi justru mendadak berubah."

"Ada perubahan apa?" "Perubahan ini terjadi pada diri Dian jiya itu."

Berkerut alis Liu Hong-kut, tanyanya: "Kau tahu bahwa dia sudah meninggal?" "Memangnya aku sudah curiga, sampai malam tadi baru aku mendapat bukti-bukti konkrit." "Bukti-bukti apa?"

"Masa kau lupa bahwa Ong toanio punya seorang adik perempuan yang berjiwa gagah ksatria melebihi kaum laki-laki."

"Kau sudah bertemu dengan dia?"

Nyo Hoan manggut-manggut, ujarnya: "Untuk hal itu selama ini kau selalu mengelabui aku, justru karena Dian jiya sudah meninggal, dan kau sudah tidak memerlukan tenagaku pula, kau sudah siap menendangku keluar dari rencana kerjamu."

Lama Liu Hong-kut mengawasinya, seperti termenung, akhirnya baru menghela nafas, katanya: "Persoalan yang begitu rumit dan luas berliku-liku, sungguh tak nyana kau tahu begitu jelas."

"Memang aku tahu jelas sampai sedetail-detailnya."

"Banyak persoalan yang semestinya tidak mungkin bisa kau ketahui." "Kau tak habis mengerti kenapa aku justru mengetahui?"

"Memang aku tak habis mengerti."

Nyo Hoan tertawa lebar, katanya: "Soalnya masih ada sebuah hal yang belum kau mengerti, dan hal ini justru titik tolak yang penting sekali bagi kunci persoalan ini."

"Persoalan apa?"

"Nyo Hoan sebetulnya aku, dan aku sebetulnya memang Nyo Hoan," dengan tersenyum dia menambahkan: "Tentunya mimpi pun kau tidak mengira, bahwa Nyo Hoan yang palsu ternyata adalah Nyo Hoan yang asli pula."

Baru sekarang Liu Hong-kut benar-benar tersentak kaget, lama dia menjublek.

Berkata Nyo Hoan lebih lanjut: "Beberapa tahun belakangan ini mendadak aku menghilang, bukan menjadi Hwesio, jiwaku pun masih segar bugar, hanya dalam San Liu banyak tugas berat yang perlu kutangani, maka selama itu aku tidak pernah muncul di kalangan Kangouw."

Pucat pias selebar muka Liu Hong-kut, mulutnya terkancing. Nyo Hoan berpaling kepada Cin Ko, katanya: "Persoalan ini memang amat rumit, mungkin kau sendiri pun baru sekarang jelas duduk perkaranya."

Cin Ko menghela nafas, katanya tertawa: "Bicara terus terang, sampai sekarang aku justru masih belum mengerti."

"Bukankah aku sudah beberkan persoalan ini secara mendetail?"

"Walau sudah kau beberkan satu per satu, saking rumitnya, tak kuasa aku mengingatnya satu per satu," ujar Cin Ko sambil mengawasi Nyo Hoan, katanya lebih lanjut: "Aku kan tak punya

kepala sebesar kepalamu, mana bisa mengingat persoalan rumit yang simpang siur, malah semuanya masuk di akal."

"Masuk diakal?"

"Memang banyak sumber dan liku-liku persoalan ini, namun akibatnya hanya satu, malah sebelumnya sudah ditentukan akan berakhir demikian."

“Sudah ditentukan akan berakhir bagaimana?"

Nyo Hoan tidak langsung menjawab pertanyaan ini, kembali dia berpaling kepada Liu Hong-kut, katanya: "Siapapun takkan membeli sebuah peti mati tanpa sebab bukan?"

Liu Hong-kut manggut-manggut. Tidak bisa tidak dia harus mengakui, jikalau tiada orang mati, siapapun takkan membeli peti mati.

Kata Nyo Hoan: "Kau tidak tahu bahwa Cin Ko dan Bu-sek Taysu bakal meluruk kemari?" "Aku tidak tahu."

"Oleh karena itu, peti mati ini kau siapkan untuk aku, benar tidak?" "Tidak jelek bukan peti mati ini," kata Liu Hong-kut.

"Setelah ada orang mati, maka peti mati harus segera disediakan. Demikian pula setelah peti mati disediakan, maka harus ada orang mati untuk dimasukkan ke dalamnya."

Lo Hong-kut mengawasi Cin Ko lalu berpaling mengawasi Bu-sek pula, akhirnya dia manggut- manggut, katanya: "Akhirnya aku mengerti maksudmu."

"Oleh karena itu, sekarang aku pun tidak perlu banyak bicara mungkin hanya sepatah dua patah kata lagi."

"Apa pula yang ingin kau katakan?" "Silahkan tuan masuk ke dalam peti."

"Sudah berapa lama Liu Hong-kut meninggal?" "Sembilan bulan."

"Sembilan bulan tidak terlalu lama, ada kalanya sesuatu terjadi seperti sekejap mata belaka, namun sembilan bulan kenyataannya sudah teramat lama."

"Itulah karena selama ini hatimu selalu dirundung kerisauan."

"Aku salah berpendapat jikalau aku tidak terlalu brutal, ayah tidak akan meninggal begitu cepat." "Sekarang kau sudah tumbuh dewasa, kenapa masih punya alam pikiran anak kecil?" "Memangnya bagaimana aku harus berpikir?"

"Yang terang kau tidak berdosa terhadap orang lain, kau pun tidak bersalah dan berdosa terhadap dirimu sendiri, itu sudah cukup."

"Tapi aku..."

"Kau harus keluar rumah dan pergi jalan-jalan di luar, banyak melihat dan banyak mendengar, saksikanlah kenyataan hidup ini, perasaan sesak di dadamu lekas sekali akan menjadi lapang terbuka."

"Ke mana kau hendak mengajakku pergi?"

"Ke Kanglam — bukankah kau sudah lama ingin pergi ke Kanglam?"

***** Kanglam.

Musim semi sedang melanda Kanglam. Pepohonan liu sedang melambai-lambai disepanjang tanggul memanjang putih, alam menghijau laksana permadani, air membiru laksana angkasa raya.

Dian Susi memeluk lengan Nyo Hoan berjalan-jalan di atas tanggul. Cin Ko dan Dian Sim berjalan tak jauh di depan mereka, selendang sutra merah yang terikat di lehernya berkibar-kibar ditiup angin, menyentuh muka Dian Sim.

Dian Susi tiba-tiba tertawa, katanya: "Setan cilik itu akhirnya sudah besar, semula aku kira dia takkan pernah tumbuh dewasa." Nyo Hoan tersenyum, katanya: "Kau pun sudah dewasa, aku sendiri hampir mengira selamanya kau sulk dibesarkan."

Seseorang yang pernah mengalami kesulitan dan pengalaman hidup yang mengukir sanubarinya, baru akan mengerti sedalam-dalamnya betapa arti dari jiwa itu, baru bisa tumbuh dewasa secara kenyataan.

Dian Susi memang sudah tumbuh dewasa. Kelihatannya sekarang dia lebih tenang dan pendiam. Lebih cantik!

Nyo Hoan seperti sedang termenung, katanya pelan-pelan: "Dian Sim memang seorang kawan yang setia, demi kau, kerja apapun rela dia lakukan, jikalau bukan dia mau menyerempet bahaya, mungkin tidak gampang dan belum tentu Liu Hong-kut terjebak."

"Waktu itu dia main baik sekali sampai aku pun dikelabui."

"Selama ini aku selalu merasa, kita harus mencari akal untuk menyatakan terima kasih kepadanya."

"Cara apa yang tepat menurut pendapatmu?" tanya Dian Susi.

Nyo Hoan mengawasi selendang merah yang melambai-lambai itu, katanya tersenyum: "Lebih baik kita hadiahkan sebuah selendang merah saja."

Dian Susi tertawa riang, tawa yang manis. Hanya perempuan yang hidup dan tinggal di dalam buaian cinta dan bahagia, baru bisa menampilkan senyum mekar semanis itu.

Jauh di ujung tanggul dan di sekitarnya, muda-mudi berpasang-pasangan, bertamasya, berperahu,

berdendang, bersuka ria riang gembira. Musim semi memangnya menjadi milik mereka yang sedang dimabuk asmara. Dan saat mana musim semi memang sedang melanda Kanglam. Mengawasi orang-orang itu, terbetik secercah harapan dalam sanubari Dian Susi, dia harap nona- nona cantik itu pun sesenang dan bahagia seperti dirinya, riang dan gembira. Sekonyong- konyong, entah siapa yang berteriak: "Gak Tayhiap juga tamasya di sini, itulah Gak Hoan-san Gak Tayhiap yang menggetarkan dunia."

Berbondong-bondong orang banyak berlari menyongsong ke arah sana, siapapun memang ingin melihat dan berkenalan dengan Enghiong yang kenamaan, pendekar besar yang tenar.

Nyo Hoan tiba-tiba tertawa, katanya: "Apa kau pun ingin ke sana melihatnya?" "Melihat siapa?" tanya Dian Susi mengedip mata.

"Gak Hoan-san, bukankah dia juga tokoh besar yang terpandang dalam sanubarimu?" "Tapi sekarang aku tidak ingin melihatnya lagi." "Kenapa?"

Dian Susi angkat kepalanya memandangnya lekat-lekat, sorot matanya nan lembut bening laksana permukaan air danau yang tenang cemerlang, katanya pelan-pelan: "Karena sekarang aku

sudah menemukan TOKOH BESAR yang tulen, yang sejati, di dalam sanubariku, tiada tokoh besar yang lebih besar lagi dibanding dia di kolong langit ini."

Nyo Hoan sengaja mengedip-ngedip mata juga, tanyanya: "Siapakah TOKOH BESAR yang kau puja ini?"

Tiba-tiba Dian Susi cekikikan, lalu berbisik di pinggir telinganya: "Yaitu kau, setan kepala besar seperti kau ini."

TAMAT