Tokoh Besar Bagian 12

Bagian 12

Selama ini Dian Susi terus bersitegang leher, masih penuh keyakinan dan tabah. Seseorang jikalau menyadari tiada sesuatu yang bisa dibuat sandaran atau menjadi tulang punggungnya, sering menjadi tegang. Tapi tak tertahan air matanya sekarang hendak bercucuran, bibirnya tergigit sampai pecah, lama sekali baru dia melepas nafasnya yang sesak, katanya: "Aku tahu di mulut kau berkata demikian, yang benar kau takkan bisa bertindak demikian.”

"Kau tidak percaya bahwa aku ini laki-laki yang bisa bertindak sesuai dengan perkataannya?"

"Tentunya kau sendiri pun tahu, perbuatanmu pasti akan menimbulkan curiga orang, kalau tidak sejak lama kau sudah laksanakan akal licikmu ini, kenapa pula harus membuang waktu dan pakai banyak liku-liku, kenapa pula harus tunggu sampai sekarang?"

"Benar, kawan-kawan Dian jiya memang banyak, dengan kedudukan dan asal-usulku, tentu takkan ada orang curiga, oleh karena itu aku harus menemukan dulu seorang yang bisa wakilkan kau bicara."

"Tiada orang yang bisa mewakili aku bicara."

"Ada saja, aku berani tanggung, bila dia yang wakili kau bicara, siapapun percaya seratus prosen."

"Apakah kau sudah menemukan orangnya?" "Kau tidak percaya?"

"Kau... siapa orang yang kau temukan?" Sebetulnya tiada gunanya dia mengajukan pertanyaan ini, karena saat itu dia sudah melihat Thio Hou-ji sedang menggandeng tangan seseorang, dengan tersenyum simpul melangkah mendatangi. Selama hidupnya takkan pernah dia duga bahwa orang ini bakal menjual dirinya, sampai mati pun dia takkan mau percaya, namun kenyataan di depan mata, mau tidak mau dia harus percaya.

Dian Sim.

Perempuan yang digandeng Thio Hou-ji adalah Dian Sim. Akhirnya dia bertemu muka pula dengan Dian Sim pelayan pribadinya sejak kecil.

*****

Dian Sim tersenyum gembira menarik tangan Thio Hou-ji, seperti dulu dia menggandeng tangan Dian Susi. Kelihatannya masih begitu lincah, pintar dan cerewet, malah tak kelihatan rasa malu sedikit pun pada wajahnya yang cerah itu.

Sebetulnya Dian Susi paling suka melihat senyum tawanya, paling senang bila melihat dia sedang tertawa dan memonyongkan mulut, ada kalanya dia kelihatannya amat berpengalaman dan ahli, tahu urusan, tapi begitu dia tertawa, wajahnya berubah mirip benar seorang bayi.

Tapi yang terlihat oleh Dian Susi sekarang bukan senyum tawa seperti bayi, untung dia tidak melihatnya, kalau tidak mungkin dia bisa kelenger saking gusar. Walau biji matanya sedang melotot membundar, namun pandangannya kabur dan gelap. Sampai Liu Hong-kut sedang bicara pun tak terdengar olehnya, suaranya sayup-sayup sampai seperti dari tempat jauh.

Liu Hong-kut sedang bertanya kepada Dian Sim: "Kau harus menjalankan tugasmu seperti yang kujelaskan barusan, kau sudah mengerti belum?"

"Tadi Thio cici juga sudah menjelaskan, sepatah kata pun tidak kulupakan," sahut Dian Sim. "Apa yang dia katakan?"

"Besok malam, aku harus pulang mengiringi Loya dan Siocia, waktu itu seluruh penghuni rumah pasti sudah pulas seluruhnya, maka kita akan masuk dari pintu belakang dengan leluasa secara diam-diam tanpa diketahui siapapun."

"Kenapa harus pulang secara diam-diam?" tanya Liu Hong-kut.

"Karena Siocia sudah tidak mampu bersuara, tidak bisa bergerak, apalagi berjalan, sudah tentu menjadi pantangan keadaan dirinya dilihat orang."

"Hari kedua jikalau ada orang menanyakan dia, kenapa tidak seperti biasanya bermain di kebun?" "Akan kujawab bahwa Siocia malu-malu kucing, maka tidak enak dia keluar menemui orang banyak."

"Kenapa harus malu-malu kucing?"

"Karena besok lusa adalah hari pernikahan Siocia, seorang gadis yang akan jadi pengantin, adalah jamak kalau malu-malu kucing."

"Kenapa pernikahan ini dilakukan begitu tergesa-gesa?"

"Karena Dian jiya jatuh sakit, beliau sudah kangen dan ingin lekas punya cucu." "Kenapa Dian jiya tiba-tiba jatuh sakit?"

"Terkena demam atau flu di tengah perjalanan, sehingga penyakit lamanya kambuh, penyakitnya cukup prihatin."

"Justru karena penyakitnya agak berat, maka dia tergesa-gesa ingin melangsungkan pernikahan putrinya, adalah jamak kalau orang tua punya pikiran demikian."

Dian Sim berkata: "Dan karena penyakitnya gawat, maka dia tak bisa keluar kamar menemui tamu, umpama temannya yang terdekat, paling hanya diundang duduk di kamarnya."

"Dan masih ada apa lagi?" tanya Liu Hong-kut.

"Orang sakit tentunya tidak boleh kena angin, maka pintu jendela kamarnya harus selalu tertutup rapat, kerai jendela pun harus diturunkan."

"Harus pakai kerai atau kain gordin yang tebal."

"Bukan saja si sakit tidak bisa duduk, malah bicara pun tidak boleh, paling hanya tiduran di ranjang dan memberi sekedar salam angkat tangan kepada tamu-tamu yang menengoknya, apalagi perkawinan ini dilakukan tergesa-gesa, berapa banyak pula handai taulan terdekat yang bisa diberitahu?"

"Semakin sedikit makin baik, cukup beberapa orang yang bisa bicara saja."

"Daftar nama-nama tamu sudah kucatat, barusan sudah kuberikan kepada Thio cici." Liu Hong-kut unjuk rasa puas dan senang, katanya manggut-manggut: "Selanjutnya?"

"Maka tibalah hari-hari bahagia akan pernikahan Siocia, Thio cici dan Bibi Ong adalah pengiring manten, merekalah yang bertugas untuk mendandani dan merias mempelai perempuan, lalu bersamaku membimbingnya ke ruang upacara untuk melakukan sembahyang sumpah setia kepada bumi dan langit." "Masih ada kelanjutannya?"

"Tentunya mempelai perempuan harus masuk kamar pengantin, urusan selanjutnya bukan tugas kita lagi."

Liu Hong-kut tertawa besar, katanya: "Selanjutnya segala rencana ini boleh dikata sukses atau berhasil dengan memuaskan, dan langkah selanjutnya aku akan mempersiapkan pesta pernikahanmu dengan saudaraku, pesta inilah yang benar-benar pesta pernikahan."

Dengan muka merah Dian Sim menunduk kepala, namun matanya mengerling penuh arti kepada Nyo Hoan, sorot matanya penuh dibuai cinta asmara. Apa benar dia benar-benar sudah jatuh hati kepada setan kepala besar ini?. Apakah karena cintanya kepada si gendut ini maka tak segan- segannya dia menjual majikannya sendiri?

Memang banyak kebrutalan sering terjadi di dunia ini, terlalu aneh untuk diterima oleh nalar, malah bukan mustahil kadang-kadang sukar dipikir, sukar dipercaya

*****

Semua orang sedang tertawa. Memang perkembangan ini cukup memuaskan dan tibalah saatnya bagi mereka untuk tertawa puas dan senang, betapapun keras gelak tawanya tidak menjadi soal.

Yang terang Dian Susi tidak lagi mendengar gelak tawa mereka, kalau tadi dia sudah kecemplung dalam air dan tenggelam, kini air itu hampir membeku jadi es, Dian Susi sendiri merasakan tulang belulangnya terasa dingin sekali.

"Nyo Hoan, kau baik, Dian Sim, kau pun baik, kalian berdua memang baik," ingin dia tertawa tergelak-gelak sepuasnya, mentertawakan diri sendiri yang bodoh dan anggap kedua orang ini sebagai teman, bukan saja teman, memangnya kedua orang ini sudah merupakan sesuatu yang tidak boleh kurang di dalam kehidupannya. Tapi sekarang? Kini segalanya sudah amblas, apakah dunia fana ini masih berada, rasanya tiada kepentingannya lagi bagi dirinya. Tiba-tiba terasa olehnya di dalam dunia fana ini dirinya sudah tiada sanak tiada kadang, tidak punya teman lagi

— Mungkin masih ada satu. Cin Ko.

Cin Ko terang tidak akan berkomplot dan sudi bergaul dengan manusia-manusia rendah dan hina dina seperti mereka, kalau tidak buat apa pula mereka harus mengatur banyak tipu daya untuk menjebak dan memfitnahnya? Tapi di mana dia sekarang? Ke mana pula? Apakah dia sedang berdaya untuk menolong dirinya? Hanya inilah setitik harapan terakhir bagi Dian Susi, asal dia mendapat kabar Cin Ko, dia rela mempertaruhkan segala pengorbanannya.

Pada saat itulah kebetulan dia mendengar Liu Hong-kut sedang bertanya kepada Nyo Hoan: "Mana Cin Ko? Kau tidak membawanya kemari?" "Jika bukan lantaran dia, aku takkan datang terlambat," sahut Nyo Hoan tertawa. "Dia kenapa? Apa benar sukar dibereskan?"

"Seorang bila pernah merasakan lima ratus kali bacokan golok, tentunya tidak mudah diakali."

"Kenapa tidak kau serahkan dia kepada Hwesio Siau-lim-si supaya dibereskan? Kenapa kau membuang-buang tenaga?"

"Orang ini terlalu suka mencampuri urusan orang lain," ujar Nyo Hoan. "Kalau ditinggal di luar, hatiku rada kurang tentram."

"Agaknya dalam setiap langkah tugasmu kau lebih hati-hati dari aku, tak heran orang sering bilang orang yang kepalanya besar memang lebih teliti."

Nyo Hoan tertawa, ujarnya: "Aku sudah serahkan dia kepada saudara yang bertugas di luar, sekarang apa perlu membawanya masuk?"

"Baik, bawa dia kemari."

Maka Dian Susi melihat Cin Ko. Namun dia lebih rela mengorbankan dirinya daripada melihat Cin Ko digotong dengan cara begitu rupa.

*****

Seorang mendekap kepala, seorang yang lain memanggul kakinya, seperti orang yang memanggul mayat saja membawanya masuk.

Tapi mayat biasanya menjadi kaku karena masih mempunyai tulang-tulang, tapi keadaan Cin Ko sekarang begitu mengenaskan, sekujur badannya lemas lumpuh, lemas seperti tanah liat. Baru saja kedua orang itu merebahkan dia serta menariknya bangun, seketika dia meloso jatuh pula dengan lunglai, biasanya kalau dia mabuk begitulah keadaannya. Tapi pikirannya sekarang cukup jernih, sorot matanya sedikit pun tidak kelihatan mabuk, malah sorot mata gusar dan dendam.

Liu Hong-kut menghela nafas, katanya: "Dengan cara apa kau membekuknya? Kenapa kau bikin dia begitu rupa?"

Tawar jawaban Nyo Hoan: "Aku sih tidak menggunakan cara luar biasa, hanya pakai dua jari mengetuk beberapa kali di badannya.”

Berkerut alis Liu Hong-kut, katanya: "Dia kuat dibacok orang lima ratus kali, sekarang hanya ketukan jari saja tidak kuat menahannya?" "Dulu dia masih laki-laki rudin, tulang belulang orang miskin biasanya jauh lebih keras." "Dan sekarang?"

"Orang kalau sudah ternama, sudah tentu berbeda keadaannya, manusia siapapun jikalau dalam satu tahun setiap hari hidup berfoya-foya makan minum dan judi serta main perempuan, umpama dia seorang manusia besi, akhirnya menjadi keropos juga, besi toh bisa karatan apalagi manusia biasa."

"Lekas bawa kursi kemari, bimbing Cin Tayhiap duduk, tanah sedingin dan selembab ini, kalau Cin Tayhiap terserang demam, siapa yang bertanggung jawab?"

Gemeratak gigi Dian Susi, ingin rasanya menerjang maju, seorang dipersen beberapa kali tamparan kepada manusia-manusia munafik ini. Kursi itu cukup besar dan lebar, namun Cin Ko tidak bisa duduk tenang dan anteng, sewaktu-waktu bisa melorot jatuh.

Pelan-pelan Liu Hong-kut maju menghampiri, katanya tersenyum: "Cin-heng, sudah beberapa tahun kita tidak bertemu, sejak lama aku sudah ingin membujukmu, lebih baik menjaga kesehatan, arak dan perempuan paling lekas membuat badan keropos, jangan kau anggap sebagai

kesenangan hidup melulu."

Cin Ko mengawasinya mendelik, tiba-tiba dia buka mulut dan meludah ke mukanya. Air ludahnya membasahi selebar muka Liu Hong-kut, namun orang bergerak pun tidak, tangan pun tidak diangkat untuk menyeka, malah mukanya mengulum senyum.

Mendadak dengan sisa tenaganya Cin Ko tergelak-gelak, serunya: "Sungguh aku kagum kepadamu, kau sontoloyo begini sabar, sontoloyo benar kau memangnya bukan manusia, sungguh aku heran cara bagaimana ibumu dulu melahirkan kau."

Liu Hong-kut terus menatapnya, sesaat kemudian berpaling kepada Nyo Hoan dengan tertawa, tanyanya: "Kau tahu apa maksudnya?"

Nyo Hoan manggut-manggut, katanya: "Dia ingin kau lekas membunuhnya saja."

"Sekarang pihak Siau-lim-si sudah yakin bahwa pembunuh Hwesio Banyak Urusan adalah dia, perduli dia mati atau hidup, bakal tiada perbedaannya lagi."

"Tapi kau tetap tidak akan segera membunuhnya."

"Sudah tentu tidak, sudah sejak lama aku ingin mengetahui satu hal, kecuali dia, tiada orang yang bisa memberitahu kepadaku, mana mungkin aku membiarkan dia lekas mati?"

"Persoalan apa yang ingin kau ketahui?" tanya Nyo Hoan. "Aku selalu bertanya sebetulnya berapa banyak dia kuat dibacok golok?" "Menurut dugaanmu?"

"Sedikitnya seratus dua puluh kali bacokan."

"Takkan ada orang yang kuat dibacok seratus dua puluh kali."

Liu Hong-kut mendadak tertawa, katanya: "Kau mau bertaruh tidak?" "Bartaruh apa?"

"Jikalau sampai bacokan seratus sembilan belas dia mampus, anggaplah aku yang kalah." "Itu tergantung berapa berat dan kuat bacokan golokmu?"

"Kira-kira beginilah beratnya," mendadak Liu Hong-kut bergerak, tahu-tahu tangannya sudah memegang sebatang golok, ujung goloknya ternyata sudah amblas ke daging di paha Cin Ko.

Mengerutkan alis pun tidak, Cin Ko malah mengejek: "Tusukan golok ini terlalu ringan, umpama bapakmu ini dibacok tiga lima ratus kali pun tidak menjadi soal."

"Cin-heng kalau benar-benar ingin dibacok lebih banyak, cayhe pasti tidak akan bikin kau kecewa."

Mendadak Dian Susi berseru keras: "Biar aku bertaruh dengan kau." "Kau ingin bertaruh dengan aku? Apa taruhanmu?"

"Aku berani bertaruh kau pasti tak berani sekali bacok membunuhnya. Kalau aku kalah, aku... aku akan rela menikah dengan kau, tak perlu kau pakai banyak akal muslihat lagi."

"Tidak kecil nilai taruhanmu, patut dipertimbangkan," kata Liu Hong-kut.

Tiba-tiba Dian Sim tampil ke depan dengan langkah gemulai, katanya berseri tawa: "Siocia kami memang berhati baik, kuatir Cin Tay-hiap tersiksa, maka dia sengaja pakai akal ini. Bahwa cepat atau lambat akhirnya toh mati, berapa banyak dia harus dibacok kan tidak menjadi soal," tawanya begitu manis dan lincah, katanya lebih lanjut: "Bagaimana maksud hati Siocia, tiada orang lain yang lebih jelas dari aku."

"Apa lagi yang masih kau ketahui?" tanya Liu Hong-kut.

"Aku tahu walau hati Siocia baik, tapi cepat pula berubah, ada katanya dia ingin makan gula-gula teratai, begitu kepinginnya sampai berteriak-teriak, tapi waktu aku berlari mengambilnya, disentuh saja tidak, karena tiba-tiba dia kepingin manisan jahe," setelah mengedipkan matanya, Dian Sim melanjutkan: "Oleh karena itu apapun yang dikatakan Siocia, lebih baik kau anggap tidak mendengarnya, jangan sekali-kali kau anggap serius perkataannya, terutama jangan kau bertaruh segala kepadanya, karena jika dia yang kalah, boleh dikata tak pernah dia menepati janjinya."

Dian Susi mendelik, sorot matanya seperti bara panasnya.

Tiba-tiba Dian Sim berpaling ke arahnya, katanya tertawa: "Aku bicara sejujurnya, Siocia, jangan kau marah kepadaku."

"Jangan kuatir, umpama aku marah kepada telur busuk, aku takkan marah kepadamu."

Tertunduk kepala Dian Sim, katanya: "Aku tahu dalam hati Siocia pasti membenci aku, sebetulnya aku pun punya kesulitanku sendiri.”

"Kesulitan apa?"

"Sejak lahir aku sudah jadi budak, dan kau dilahirkan untuk jadi Siocia, bagaimana deritaku,

tentu kau sudah tahu, seorang gadis jikalau dia jadi budak, maka tak ubahnya seperti kayu, bukan saja tidak boleh senang, dia pun dilarang merasa menderita," setelah menghela nafas, lalu melanjutkan. "Sebetulnya Siocia adalah manusia, budak juga manusia, tiada orang selama hidupnya terima menjadi budak."

Bergetar badan Dian Susi, katanya tersendat: "Aku... sejak kapan aku pandang kau sebagai budak? Coba katakan?"

"Perduli bagaimana pandangan Siocia kepadaku, yang terang aku tetap adalah budak suruhan." "Oleh karena itu maka kau mencelakai aku?"

Tertunduk kepala Diam Sim, katanya: "Jikalau Siocia sendiri kepepet dalam keadaan seperti aku, bukan mustahil kau pun akan bertindak seperti apa yang kulakukan."

Tiba-tiba Dian Susi menghela nafas, katanya: "Baiklah, aku tidak salahkan kau, tapi ada sepatah kata aku ingin sampaikan kepadamu."

"Baik, aku sedang mendengarkan."

"Kemarilah kau, kata-kata ini tak boleh didengar orang lain."

Dengan menundukkan kepala pelan-pelan Dian Sim melangkah maju. "Majulah lebih dekat, baik..." tiba-tiba dengan kerahkan setaker tenaganya dia layangkan tangannya menggampar muka Dian Sim. Begitu bernafsu dia menampar sampai dia sendiri terjerembab jatuh dan pecahlah tangisnya menggerung-gerung.

Sungguh tak sabar lagi, sudah terlalu lama dia menahan gejolak dan emosinya, sebetulnya dia masih ingin bertahan. Tapi sekarang dia sudah luluh, laksana tanggul yang bobol diterjang air bah. Tiada harapan, setitik harapan terakhir pun sudah amblas.

Bila seseorang sudah kehilangan harapan, umpama kuat bertahan dan berusaha mati-matian, lalu apa pula guna dan maafaatnya? Kalau manusia hanya menempuh satu jalan hidup, maka sudah tentu dia menjalani kehidupannya. Kini dia sudah didesak menuju jalan buntu. Apa benar ada jalan buntu yang menjurus ke arah kematian dalam dunia ini?

Bukankah jalan itu tercipta karena manusia berjalan menempuh ke arahnya? Seorang bila dia belum benar-benar digotong masuk ke peti mati, pasti akan mendapatkan jalannya sendiri — umpama tiada jalan, kau tetap bisa menciptakannya dengan menempuh arahmu sendiri.

Dian Susi tersungkur jatuh di samping peti mati, jaraknya memang sudah amat dekat dengan peti mati.

Ruang bawah tanah yang rahasia itu mendadak menjadi sunyi, bukan lantaran hadirin tumplek perhatiannya untuk mendengarkan isak tangis Dian Susi yang memilukan, adalah karena mereka tiba-tiba mendengar langkah kaki yang sangat aneh. Derap langkah kaki yang berkumandang dari sebelah atas, di atas ruang bawah tanah ini adalah Hoan-in-si. Hoan-in-si adalah sebuah biara, bahwa ada orang berjalan di dalam biara, bukan suatu hal yang harus dibuat heran.

Anehnya, derap langkah orang ini ternyata sangat berat, terlalu berat sampai menimbulkan getaran keras. Umpama seorang manusia raksasa yang berperawakan sepuluh tombak besarnya berjalan di atas, derap kakinya juga tidak akan seberat dan berdentam begitu keras.

Semua orang pasang kuping, terdengar langkah berat ini semakin dekat, terus ke arah sana, akhirnya putar balik pula dengan pelan-pelan.

" Agaknya Bu-sek telah datang," kata Liu Hong-kut tiba-tiba memecah kesunyian. Memutih kulit muka Ong toanio, tanyanya: "Darimana kau tahu?"

"Kecuali Hwesio tua ini, tokoh mana yang punya tenaga seberat ini dalam langkahnya?" "Ada tiga orang yang datang," sela Nyo Hoan.

"Tiga orang?" tanya Ong toanio pula. Liu Hong-kut manggut-manggut, katanya: "Langkah kaki dua orang yang lain amat ringan, kalian tidak mendengar."

"Untuk apa Hwesio tua itu putar kayun di atas?"

"Dia sedang menantang kepada kita," jengek Liu Hong-kut dingin.

"Kalau begitu," timbrung Thio Hou-ji, "dia sudah tahu ada orang di bawah?"

Nyo Hoan manggut-manggut, katanya: "Tapi dia belum menemukan jalan untuk turun ke bawah sini."

"Tapi cepat atau lambat akhirnya diapasti menemukan bukan?" tanya Thio Hou-ji kuatir.

"Dia sudah tahu di bawah ada orang, sebelum menemukan kita, mana dia mau pergi?" sela Ong toanio.

"Untung si Brewok dan lain-lain sudah tak mampu buka mulut lagi, perkara sudah tiada saksi lagi." Thio Hou-ji berkata dengan tertawa paksa.

"Tapi kalau dia melihat kita di bawah, tetap akan curiga juga," bantah Ong Toan-nio. "Kalau begitu, marilah kita lekas menyingkir saja," ajak Thio Hou.

"Kita tak bisa pergi," sela Nyo Hoan tiba-tiba. "Kenapa?"

"Tidak boleh pergi ya tidak boleh pergi," jawab Nyo Hoan menarik muka.

"Memangnya kita menunggu saja di sini, sampai dia menemukan kita?" debat Thio Hou-ji. "Kita pun tak usah menunggu."

"Kalau tidak menunggu dan tak boleh pergi, coba katakan apa yang harus kami lakukan?" tanya Thio Hou-ji.

"Kucari dia di atas," jawab Nyo Hoan.

"Kau hendak ke atas mencarinya?" Ong toanio berteriak kaget. "Kau sudah gila?"

Rendah dan berat suara Nyo Hoan: "Mereka sudah menemukan tempat ini, bukan mustahil sudah mulai curiga, sebelum segalanya diselidiki sampai terang, pasti tak mau lepas tangan, maka..."

"Maka bagaimana?" timbrung Thio Hou-ji. "Terpaksa harus kerja jangan kepalang tanggung, babat dia sekalian."

"Jadi maksudmu hendak membunuhnya juga untuk menutup mulutnya?" tanya Ong toanio. "Kita sudah membunuh seorang Hwesio, Hwesio kan bukan manusia yang tidak boleh dibunuh." "Persoalannya, siapa yang akan membunuhnya?" tanya Thio Hou-ji.

"Aku," sahut Nyo Hoan.

Terbelalak mata Thio Hou-ji, katanya: "Kau? Kau tidak takut menghadapi Lo-han hu-hou-kun?" Nyo Hoan tertawa-tawa, katanya: "Aku kan bukan harimau, kenapa takut Hu-hou-kun segala?"

Thio Hou-ji menghela nafas, dia berpaling kepada Liu Hong-kut, tanyanya: "Coba kau katakan apakah dia sudah gila?"

"Dia tidak gila, umpama seluruh manusia di dunia ini gila, dia tetap takkan gila."

Derap langkah di atas masih berkumandang, Nyo Hoan dengan langkah lebar segera beranjak keluar. Melihat punggung orang tak tertahan Thio Hou-ji menggumam sendiri: "Aku harap jangan nanti dia betul-betul menjadi harimau yang mampus."

Liu Hong-kut tiba-tiba tertawa, katanya: "Umpama mampus, aku toh tidak suruh kau mengiringi dia mati, kenapa kau gelisah tidak keruan?"

*****

Derap langkah yang kerap dan berat itu akhirnya berhenti.

Pelan-pelan Thio Hou-ji menghela nafas, katanya: "Sekarang dia sudah tiba di atas, Hwesio tua itu tentu sudah melihat dan berhadapan sama dia."

"Hwesio tua itu kan tidak mengenalnya, tentunya tidak tahu apa maksudnya dia ke sana," ujar Ong toanio.

"Oleh karena itu, Hwesio tua kini tentu sedang menanyai dia, kau ini siapa? Untuk apa kemari?" Thio Hou-ji mengoceh.

"Mungkinkah dia bilang, aku kemari untuk membunuhmu?"

”Tentu tidak, dia kan bukan babi, masa memberi kesempatan kepada Hwesio tua untuk bersiaga." "Betul, tentu dia akan turun tangan di saat Hwesio tua tidak menduga-duga, barulah kesempatan untuk berhasil merobohkan lawan lebih meyakinkan."

"Umpama sekali serang tidak berhasil merobohkan Hwesio tua itu, sedikitnya dia sudah mendapat peluang untuk menyerang lebih dulu."

"Maka sekarang dia sedang adu mulut dengan Hwesio tua untuk mengalihkan perhatiannya." "Dengan mulutnya yang lebar itu, tentu dia bisa bikin Hwesio tua kewalahan mendebatnya." Ong toanio tertawa, tanyanya: "Apakah kau pernah juga ditipunya sampai kewalahan?"

"Apa kau sedang cemburu?" olok Thio Hou-ji. Lalu ditariknya tangan Dian Sim, katanya tertawa: "Sekarang umpama benar ada orang cemburu, juga takkan tiba giliranmu."

Selama ini Dian Sim membuka matanya lebar-lebar, dia mendengarkan dengan seksama, bukan mendengar obrolan kedua perempuan centil ini, tapi mendengarkan gerakan di sebelah atas.

Terhadap Nyo Hoan agaknya dia lebih menaruh perhatian daripada orang lain.

Lalu Dian Susi? Apakah dia benar-benar mengharap kepalanya yang besar itu digenjot hancur oleh Bu-sek Taysu?

Tiba-tiba Dian Sim berkata: "Coba kalian dengar, agaknya mereka sudah mulai berhantam."

Sebetulnya tak usah dia katakan, orang lain pun sudah mendengar. Kini di atas kembali berkumandang derap langkah kaki yang berat, gerakan kaki yang sekarang jauh lebih berat dan cepat, namun hanya beranjak pada beberapa tempat yang tertentu saja.

Kabarnya seorang Hwesio tokoh silat dari Siau-lim-pay yang benar-benar sudah mempunyai latihan matang di dalam ilmu Lo-han hu-hou-kun (pukulan penakluk harimau), bila latihan di atas tanah bersalju paling hanya meninggalkan tujuh tapak kaki saja.

Ong toanio berkata: "Agaknya Hwesio tua betul-betul menggunakan Lo-han hu-hou-kun menghadapinya."

Kumandang dari derap kaki dari atas semakin keras dan cepat, seolah-olah Hwesio tua dari Siau- lim-pay sudah kerahkan seluruh kekuatannya.

Tiba-tiba Thio Hou-ji tertawa, katanya: "Tapi engkoh gendut itu pun bukan lawan enteng, kalau tidak masakah Hwesio tua sampai mengeluarkan seluruh tenaganya?"

Sekonyong-konyong secara beruntun dan cepat langkah kaki berbunyi tujuh kali, seperti palu godam yang dipukulkan bertalu-talu. Muka Liu Hong-kut amat serius, katanya kereng: "Jurus itu pasti Hong-lui-ping-co (angin dan geledek bekerja bersama)." Jurus Hong-lui-ping-co memangnya tipu serangan yang paling ganas dari Hu-hou-kun, malah di dalam jurus mengandung tipu, menyembunyikan perubahan yang berantai dan tak habis-habis. Dengan bekal lwekang dan latihan Bu-sek Taysu untuk melancarkan jurus serangan ini, mungkin bisa dihitung tokoh silat di Kangouw yang mampu menandinginya.

Tapi kedengarannya Nyo Hoan bisa meluputkan diri dari serangan berantai ini, karena di atas tak terdengar suara jeritan dan sesuatu benda yang terbanting keras. Entah kenapa diam-diam Dian Susi ikut menghela nafas lega — bukankah dia amat gemas dan ingin Nyo Hoan lekas mati?

Perasaan anak gadis memang sukar diraba. Tapi memangnya apa pula perbedaan perasaan kaum

laki-laki?

Sebetulnya memang tiada manusia dalam dunia fana ini yang benar-benar mampu mengendalikan emosinya sendiri, hal ini seperti pula tiada manusia yang mampu mengendalikan perubahan hawa dan cuaca.

Thio Hou-ji menghela nafas lega, katanya: "Agaknya jurus Hong-lui-ping-co si Hwesio tua tidak mampu mengalahkan dia."

Muka Liu Hong-kut masih membeku serius mukanya, katanya: "Memang dia berhasil meluputkan diri."

"Ingin aku naik ke atas melihat pertempuran sengit ini, memangnya dengan ilmu apa dia menghadapi pukulan hebat si Hwesio tua," ujar Thio Hou-ji.

"Sampai sekarang, dia belum pernah balas menyerang meski sejurus pun," kata Liu Hong-kut. "Apakah dia mandah diserang terus menerus, tidak membalas?" tanya Thio Hou-ji.

"Ya, begitulah."

"Cara bertempur ajaran dari perguruan mana itu?" tak habis mengerti Thio Hou-ji bertanya.

"Itulah termasuk cara tempur yang paling lihay, dengan menggunakan cara tempur ini, baru dia mampu menghadapi Bu-sek."

"Kau tahu cara apa yang dia gunakan?"

Liu Hong-kut manggut-manggut, katanya: "Sekarang dia menggunakan kelincahan tubuh semacam Pat-kwa-yu-sin-ciang yang gesit untuk memancing serangan lebih gencar dari Bu-sek, setelah tenaga Bu-sek terkuras habis, baru dia akan balas menyerang dengan telak." 

Berkedip-kedip mata Thio Hou-ji, katanya: "Aku sudah mengerti, betapapun kuatnya Bu-sek, usianya sudah cukup tua, kekuatannya pasti tak lebih unggul dari kondisi anak muda." "Apalagi Lo-han-hu-hou-kun justru mengutamakan kekuatan menggempur kelemahan, dengan kekerasan mengekang yang lemas, maka banyak menguras tenaga murni, kalau bisa menyelesaikan seratus delapan jurus Hu-hou-kun dan masih mampu buka suara berbicara, dia boleh terhitung tokoh kosen yang jarang ada tandingannya."

"Tapi si gendut itukan bukan murid perguruan Pat-kwa-bun, dan mana dia bisa memainkan ilmu semacam Pat-"kwa-yu-sin-ciang?"

"Kepandaian silat yang dibekal orang ini teramat rumit dan banyak ragamnya..." kata Liu Hong- kut, sorot matanya seperti melamun dan memikirkan sesuatu, agak lama kemudian baru dia menambahkan: "Dia memang seorang pembantu yang baik, amat berguna, aku memang memerlukan tenaga orang seperti dia, buat apa aku memperdulikan asal-usulnya?"

Berkerling biji mata Thio Hou-ji, katanya: "Kepada siapa omonganmu ini kau tujukan?" "Kutujukan kepadaku sendiri," sahut Liu Hong-kut tawar.

"Sebetulnya aku tak mengerti," tiba-tiba Ong toanio menimbrung. "Bagaimana kau bisa bersahabat kental sama dia?"

"Pernah kukatakan, aku amat memerlukan dia, dia pun sangat memerlukan aku." "Kenapa dia memerlukan kau?" tanya Ong toanio.

"Kabarnya di luar perbatasan dia melakukan perkara besar, di sana dia sudah menimbulkan kemarahan beberapa tokoh kosen persilatan dan hendak dijagal, maka dia melarikan diri ke Kanglam."

"Kau pernah menyelidiki persoalannya?" tanya Ong toanio.

"Kau kira aku sembarangan percaya seseorang?" jengek Liu Hong-kut.

"Tapi kau tidak percaya sepenuh hati, banyak urusan yang tidak kau beritahukan atau sengaja kau rahasiakan kepadanya."

Tiba-tiba Liu Hong-kut tertawa, katanya: "Kau kira kau sendiri sudah tahu segala persoalan?" tawanya simpatik dan lucu serta romantis.

Tapi muka Ong toanio seketika menjadi pucat, mulut pun ternganga tak mampu bersuara. Tiba-tiba Thio Hou-ji menyeletuk: "Ada sebuah hal yang masih belum kumengerti."

"Coba katakan," ujar Liu Hong-kut. "Kepalanya begitu besar, perutnya pun tidak kecil, cara bagaimana bisa main ginkang? Apakah tulang-tulangnya terlalu enteng..." cekikik tawanya tiba-tiba berhenti.

Liu Hong-kut tiba-tiba berseru: "Jurus ini adalah Hu-hou-yang-wi (harimau mendekam memperlihatkan perbawanya)," belum hilang suaranya, tahu-tahu sesosok tubuh orang melayang jatuh dari atas, tepat sekali tubuhnya jatuh dan masuk ke dalam peti mati yang terbuka itu.

*****

Seperti diketahui, tutup peti mati memang setengah terbuka, jadi lebar mulut peti mati yang terbuka hanya separo saja, tapi orang itu melayang jatuh tepat masuk ke dalam peti mati, karena perawakan badan orang itu kurus kecil, cukup untuk melayang jatuh ke dalam peti mati itu.

Umpama tutup peti tertutup sedikit sempit lagi, dia tetap bisa melayang masuk.

Begitu jatuh gedobrakan ke dalam peti, seperti orang yang benar-benar sudah tidak bernyawa layaknya, tidak bergerak dan tidak bersuara. Yang terang orang ini bukan Nyo Hoan. Kepalanya terlalu besar, perutnya sebesar gentong, peti mati yang lebih besar pun tak cukup memuat badannya yang tromok itu. Jadi yang melayang jatuh tadi adalah Bu-sek.

*****

Hu-hou-yang-wi adalah jurus terakhir dari Lo-han-hu-hou-kun yang terdiri seratus delapan jurus. Baru saja dia melancarkan jurus ini, tahu-tahu Bu-sek sudah melayang jatuh. Jangan kata bergerak bersuara pun tidak bisa.

Maka kejap lain Nyo Hoan pun tampak melayang turun tanpa mengeluarkan suara, kepala besarnya saja kira-kira ada puluhan kati beratnya, tapi badan sebesar itu tanpa mengeluarkan sedikit pun suara waktu hinggap di atas tanah. Apakah benar tulang-tulangnya amat enteng? Umpama benar terlalu enteng, atau tidak bertulang sekerat pun, yang terang dia kembali dalam keadaan segar bugar tak kurang apa-apa.

Dian Susi pejamkan mata. Untuk selamanya dia tidak ingin melihat orang ini, takkan pernah sudi melihatnya lagi. Tapi waktu orang belum kembali tadi, kenapa hatinya seakan-akan sedang menguatirkan keselamatannya? Jelas setan kepala besar ini adalah manusia rendah hina dina, jelas dirinya ditipu mentah-mentah, malah mencelakai dirinya. Bu-sek Taysu adalah Hwesio pendekar besar yang berjiwa luhur, namun kenapa dalam sanubarinya tadi justru mengharap dia yang menang dalam pertempuran ini? Tak terasa air mata merembes dan mengalir membasahi pipi dari kelopak matanya yang terpejam. Sungguh dia sendiri tidak bisa memahami perasaan hati sendiri. Matanya terpejam, namun dia tetap bisa membayangkan keadaan setan kepala besar saat itu. "Tentunya dia amat bangga dan membusungkan dada." Memangnya siapa tidak akan bangga, karena Bu-sek Taysu toh terjungkal di tangannya.

Agaknya tipu muslihat dan rencana mereka sudah mendekati penyelesaian, hampir berhasil dengan sukses besar, sekarang takkan ada orang yang menjadi penghalang dan merintangi kemajuan mereka di dalam melaksanakan rencananya.

Dulu sering Dian Susi mendengar banyak cerita mengenai para penjahat yang menggunakan berbagai muslihat licik dan lain-lain, betapapun rumit dan luas rencana muslihat seseorang, akhirnya pasti bisa disingkap dan dibongkar orang, akhirnya akan gagal dan berantakan.

Cendekiawan yang luhur budi dan bijaksana akhirnya akan muncul sebagai pemenang.

Tapi pengalaman yang dialaminya sendiri, justru jauh berbeda kalau tidak mau dikatakan berlawanan dengan apa yang pernah dia dengar di dalam cerita-cerita itu. Kini kaum penjahat sedang merajalela dan mencapai kemenangan gemilang dengan muslihatnya, orang-orang baik malah didesak dan dijebloskan ke dalam neraka yang gelap dan penuh siksaan.

Sungguh gemas dan benci Dian Susi bukan kepalang, benci kepada diri sendiri, benci terhadap para penjahat yang rendah budi dan hina dina ini, dia pun benci kepada dunia fana ini.

Memangnya tiada keadilan lagi di dunia ini?

*****

Sikap Nyo Hoan kelihatan senang dan berseri tawa seperti orang putus lotre layaknya. Memang dia punya alasan cukup untuk senang dan bangga.

Liu Hong-kut menyongsong kedatangannya, katanya sambil menepuk pundaknya keras-keras: "Saudaraku yang baik, kau memang hebat, pertempuran ini kau lakukan baik sekali."

Nyo Hoan menjawab rawan "Sebetulnya tidak perlu diagulkan."

"Siapa bilang tidak patut diagulkan? Berapa banyak tokoh silat di Kangouw sekarang yang mampu merobohkan jago pelindung Siau-lim-si?"

"Yang benar lwekangnya lebih unggul dari aku, aku hanya menggunakan sedikit keuntungan yang dilembari nasib baik saja."

"Jelas itu bukan nasib baik, yang benar adalah strategi tempurmu yang tepat dan berhasil."

"Cara bagaimana sebetulnya kau merobohkan dia?" tanya Thio Hou-ji. "Coba jelaskan kepada kami." Kata Nyo Hoan: "Lo-han-hu-hou-kun dari Siau-lim-pay, setelah mengalami revisi atau perbaikan yang lebih sempurna dari beberapa Hwesio dari beberapa generasi, sampai sekarang boleh dikata

sudah kuat laksana benteng baja yang tak tergoyahkan dan bisa dijebol, aku tahu begitu dia menggunakan ilmu pukulan hebat ini, aku terang takkan mendapat kesempatan untuk merobohkan dia maka..."

Ong toanio tak tahan, tanyanya: "Maka bagaimana?"

"Terpaksa aku menunggu, menunggu setelah dia selesai mainkan seratus delapan pukulannya itu, disaat dia hendak merubah jurus permainannya dan belum sempat berubah, dengan setaker kekuatan, aku menghantamnya secara telak."

Thio Hou-ji tepuk tangan, katanya: "Betul juga kenyataan kau berhasil memukulnya roboh."

Liu Hong-kut berkata: "Kedengarannya amat gampang diceritakan, yang benar prakteknya sulit sekali, bukan saja harus berjuang menyelamatkan diri dari rangsakan seratus delapan pukulan Hu-hou-kun yang dilancarkan Bu-sek, malah dia harus memperhitungkan dengan tepat saat lawan mengganti nafas, memperhitungkan di mana letak kelemahannya, waktu dan sasaran yang diincar harus tepat dan telak tidak boleh meleset sedikit pun, karena kalau kesempatan baik ini kau sia-siakan, maka selamanya takkan bisa kau peroleh lagi untuk keduakalinya."

Tiba-tiba Ong toanio bertanya: "Lalu bagaimana dengan kedua Hwesio gede yang lebih mudaan itu?"

Nyo Hoan tersenyum, sahutnya: "Hwesio gede-gede itu bukan kaum keroco, mereka pun jago dari Siau-lim-pay."

"Tentunya kau sudah membereskan mereka sekalian?" tanya Ong toanio. "Tidak," sahut Nyo Hoan pendek.

"Tidak?" Ong toanio keheranan. "Apa kau..." "Mereka sudah pergi," ujar Nyo Hoan.

"Bagaimana boleh kau biarkan mereka pergi?" tanya Ong toanio terbelalak. "Memang sengaja aku biarkan mereka pergi," ujar Nyo Hoan pula. "Kenapa kau biarkan?" tanya Ong toanio pula.

Nyo Hoan tertawa, ujarnya: "Karena aku ingin supaya mereka pulang, memberitahu kepada murid-murid dan ketua Siau-lim-pay, siapa sebetulnya yang membunuh Hwesio Banyak Urusan." Ong toanio terpekur sebentar, katanya berseri tawa: "Orang yang kepalanya lebih besar, kerjanya memang lebih cermat dan teliti."

Sejak tadi Cin Ko meringkuk lemas di atas lantai, nafasnya empas-empis, kini bersuara: "Kalian menjebak dan memfitnahku demikian rupa, memangnya kalian takut bila Dian Susi kawin sama aku?"

Liu Hong-kut segera menanggapi: "Bukan lantaran kau rencana ini dilakukan." "Memangnya ada latar belakang atau sebab apa lagi?"

"Hwesio Banyak Urusan itu memang terlalu usil, sejak lama aku sudah ingin melenyapkan dia." "Tapi kau takut pihak Siau-lim-pay menuntut balas terhadapmu?"

Liu Hong-kut tersenyum, ujarnya: "Sekarang aku belum bersedia bentrok langsung dengan pihak Siau-lim-pay, entah beberapa tahun lagi, mungkin keadaan situasi dan kondisiku sudah berbeda, tentu takkan segan-segan lagi aku turun tangan."

"Oleh karena itu kau perlu lempar batu sembunyi tangan, mencari korban lain untuk jadi kambing hitammu?" jengek Cin Ko.

"Sebetulnya di antara aku dan kau tiada sesuatu persoalan yang penting, soalnya waktu itu sukar aku menemukan orang yang benar-benar dapat kujadikan kambing hitam, kebetulan kau muncul, kaulah yang tertimpa getahnya," demikian kata Liu Hong-kut kalem dan tertawa-tawa.

"Yang terang menurut hematku kau memang sudah lama menaruh dendam kepadaku," ejek Cin Ko.

"O, masa?" sumbang suara Liu Hong-kut.

"Karena secara mendadak aku muncul dan dalam dua tahun saja ketenaranku mengungguli kau, maka sejak permulaan aku muncul kau sudah pandang aku sebagai duri di depan matamu, cepat atau lambat, kau akan berusaha membereskan aku, inilah yang dinamakan sekali tipu sekaligus menjebak dua orang yang tak berdosa, dua duri di depan matamu sekaligus kau cabut."

"Kalau kau berpikir dan begitulah tuduhanmu, aku pun tidak perlu menyangkal lagi," ujar Liu Hong-kut.

"Sekarang aku hanya ingin tanya, siapa sebenarnya pembunuh Hwesio Banyak Urusan?" "Coba kauterka?"

"Kau. Tentu kau." "Kau saksikan sendiri?"

"Walau aku tidak melihat, tapi aku tahu di kala Hwesio Banyak Urusan terjeblos jatuh dari atas papan jeplakan itu, kau sudah menunggunya di bawah, di saat dia belum sempat berdiri tegak, kau lantas memberi pukulan yang menamatkan jiwanya."

"Dan bagaimana selanjutnya?"

"Selanjutnya kau angkut jenazahnya dari bawah lorong itu ke kamar rahasia itu." "Kenapa aku harus berbuat demikian?"

"Karena kau harus mengejar waktu, kau pancing kami ke kamar rahasia itu, maksudnya adalah untuk menggunakan peluang yang pendek merubah dan membereskan segala perubahan di luar seperti sedia kala, waktu kita keluar pula, keadaan di luar sudah menjadi sarang judi pula."

"Lanjutkan," suara Liu Hong-kut semakin keren.

"Di samping itu sengaja kau membocorkan kabar ke pihak Bu-sek Taysu, supaya dia lekas menyusul datang ke sarang judi itu."

"Cara bagaimana aku bisa tahu kalau dia bisa datang tepat pada waktunya?"

"Hwesio Banyak Urusan bukan saja adalah sute Bu-sek Taysu, malah sejak kecil berlatih dan diasuh langsung oleh suhengnya yang bertubuh kecil kurus ini, hubungan kedua orang laksana saudara. Jikalau Bu-sek Taysu tahu bahwa sutenya yang kecil ini mengalami bahaya, sudah tentu tanpa perdulikan akibatnya segera menyusul datang."

"Dan masih ada apa lagi?"

"Untuk memberikan kesaksian kepada Bu-sek Taysu akan keadaan waktu itu maka waktunya harus diperhitungkan dengan tepat, kau membeli dan mengumpulkan banyak kaki tanganmu menjadi pelaku-pelaku yang pintar di dalam sarang judi itu, sekaligus menjadi saksi di hadapan Bu-sek Taysu."

"Masih ada kelanjutannya?"

"Orang-orang yang dipaksa mencukur gundul rambut kepalanya oleh Hwesio Banyak Urusan, walaupun semua adalah kaki tanganmu, tapi untuk melaksanakan rencanamu dan supaya muslihatmu tidak bocor, tiada bukti hidup, maka tak segan kau bunuh mereka seluruhnya." 

"Dimana aku membunuh sekian banyak orang?" "Di gedung ini," ujar Cin Ko kalem, setelah menghela nafas, dia meneruskan: "Hoan-in-si adalah biara kuno, jauh sejak dinasti Liang Bu-te yang suka menjagali Hwesio itu, biara ini sudah didirikan, untuk menyelamatkan diri dari kejaran yang berkuasa, maka kaum pendeta waktu itu membangun biara ini dengan banyak kamar-kamar rahasia dan lorong-lorong di bawah tanah yang rumit sekali."

"Lanjutkan bualanmu," ejek Liu Hong-kut sinis.

"Membunuh orang di sini bukan saja serba rahasia dan tak diketahui orang, malah banyak tempat di sini cocok untuk menyembunyikan mayat dan mengebumikan jenazah, terutama untuk memasang berbagai jebakan dan perangkap juga amat gampang, oleh karena itulah kau memilih gedung kuno ini menjadi sarang anjingmu." Cin Ko menyeringai dingin, katanya lebih lanjut:

"Oleh karena itu, kalian rombongan anjing jantan dan betina ini, saling janji untuk kumpul dan bertemu di sini, tunggu kesempatan untuk makan tahi orang lain sebagai hidangan pesta pora."

Liu Hong-kut menatapnya tajam, tanyanya dingin: "Masih ada tidak?"

"Tiada lagi," sahut Cin Ko. "Tahi anjing boleh dikata sudah hampir habis kalian lalap bersama, apa pula yang harus kukatakan?"

Mendadak Liu Hong-kut menghela nafas panjang, katanya: "Tak nyana ternyata kau pun orang pintar, selama ini kami terlalu rendah menilai kau."

"Benarkah pembunuh Hwesio Banyak Urusan adalah kau?"

"Biasanya jarang aku membunuh orang, jikalau bukan pendeta sakti macam Hwesio Banyak Urusan, tidak setimpal aku turun tangan sendiri," sejenak dia menelan ludah, lalu meneruskan dengan kalem dan tenang: "Biasanya yang kubunuh hanya orang-orang ternama, pendeta sakti, enghiong dan perempuan cantik."

"Dan aku?"

"Kau belum setimpal untuk aku sendiri yang membereskan," Liu Hong-kut menyeringai. "Tapi kau tak usah tergesa-gesa," tiba-tiba Nyo Hoan menimbrung.

"Akan kami cari orang yang cocok untuk membunuhmu pada babak terakhir."

Cin Ko tertawa dingin, ejeknya: "Aku ingin mati saja. Aku rela mati, daripada menonton sekawanan anjing-anjing lapar sedang bermuka-muka di hadapanku."

Nyo Hoan tidak marah, katanya dengan tertawa ewa: "Anjing lapar tentu lebih baik dari anjing yang sudah mampus." Tiba-tiba Liu Hong-kut berkata pula: "Ilmu silat yang kau pelajari terlalu banyak ragamnya, entah pernah kau mempelajari ilmu pukulan dari Siau-lim-pay?"

"Setiap orang yang berlatih silat tiada yang tidak pernah meyakinkan ilmu silat Siau-lim-pay."

Pukulan Siau-lim memang terlalu umum tersebar di berbagai lapisan persilatan, memang tidak sedikit orang-orang yang benar-benar pernah meyakinkan pukulan Siau-lim-pay, namun yang benar-benar bisa mendapatkan inti sari dan melatihnya sampai tingkat yang patut dibanggakan, mungkin tidak lebih dari sepuluh orang.

"Kalau kau pernah meyakinkan ilmu pukulan Siau-lim-pay, biarlah tugas ini kuserahkan kepadamu saja."

"Tugas apa maksudmu?"

"Tugas terakhir," sahutnya tersenyum lebar. "Asal kau gunakan pukulan Siau-lim menghantam tepat pada hiat-to yang mematikan di badannya, lalu menggunakan golok Cin Tayhiap menusuk tenggorokan Bu-sek Taysu, dengan sendirinya akan kucari orang untuk mengantar mereka ke Siong-san."

"Aku mengerti sekarang," sela Thio Hou-ji, "dengan caramu ini kau ingin supaya Hwesio-hwesio Siau-lim-si menyangka mereka gugur bersama setelah mengalami pertempuran seru."

Ong toanio tertawa, katanya: "Dengan demikian, walau Cin Ko berhasil membunuh Bu-sek Taysu, tapi Bu-sek Taysu pun berhasil menuntut balas bagi kematian sutenya, maka peristiwa bunuh membunuh ini pun akan berakhir sampai di sini."

Thio Hou-ji cekikikan, katanya: "Rencana kita boleh dikata sudah mendekati hasil yang baik, kita tinggal menunggu pesta poranya saja."

Liu Hong-kut tiba-tiba tertawa, katanya: "Oleh karena itu tadi kukatakan tugas terakhir, merupakan tugas yang paling gampang dilaksanakan."

Tiba-tiba Nyo Hoan geleng-geleng kepala, katanya: "Kalian salah semua." Liu Hong-kut mengerut kening, tanyanya: "Kenapa salah?"

"Menurut pandanganku, tugas ini justru tugas yang paling sulit."

"Kenapa sulit?" bantah Thio Hou-ji, "untuk membunuh mereka sekarang, cukup hanya mengangkat tangan saja."

Nyo Hoan tertawa tawar, katanya: "Jikalau kau anggap gampang, kenapa tidak kau saja yang bunuh mereka?" Thio Hou-ji berkedip-kedip, katanya: "Jikalau kau tidak mau turun tangan, aku saja yang membereskan mereka," lalu diacungkannya sepasang jari-jarinya yang putih runcing dan halus, katanya dengan cekikikan: "Jangan kau kira kedua tanganku ini hanya bisa mengelus pipi laki- laki, ada kalanya dia pun bisa berubah sekeras baja, begitu kerasnya sampai kau pun takkan berani merasakannya."

"Masa?"

"Kau tidak percaya?" tanya Thio Hou-ji, dari dalam kantong bajunya dia merogoh keluar sepasang sarung tangan besi yang bercakar runcing, satu persatu dia kenakan pada jari-jarinya yang putih halus itu, katanya tertawa berseri: "Sekarang kau percaya tidak? Kau mau mencobanya?"

Nyo Hoan tertawa, katanya: "Kalau ada orang yang mau mencoba, buat apa aku harus merebut dagangan orang lain?"

"Kiranya kau tidak bodoh," Thio Hou-ji menyeringai sadis.

Liu Hong-kut justru menarik muka, katanya keren: "Tunggu dulu."

"Jangan memandang rendah," kata Thio Hou-ji. "Pukulan Siau-lim-pay aku pun pernah mempelajari, tidak percaya coba kau lihat inilah jurus Hu-hou-yang-wi," mendadak dia menerjang ke depan Cin Ko, menekuk lutut bergaya jongkok seperti orang duduk di punggung kuda, "Wut" begitu pasang kuda-kuda tangannya menjotos ke depan.

Gaya jotosan dan kekuatannya mirip dan serasi benar dengan ilmu pukulan dari Siau-lim-pay, jotosannya mengeluarkan deru angin keras. Tapi jotosannya itu tidak mengenai badan Cin Ko. Karena tahu-tahu kepalan tangannya mendadak ditangkap oleh Cin Ko.

*****

Cin Ko yang lemas lunglai seperti cacing meringkuk di lantai, tiba-tiba mencelat bangun, gagah dan tangkas, terutama jari-jari tangannya sekeras kacip besi. Thio Hou-ji sudah kerahkan setaker tenaganya untuk membetot dan meronta, namun tangannya tidak bisa lepas, saking sengitnya tiba-tiba sebelah kakinya melayang. Sayang tendangan kakinya tahu-tahu mengenai tempat kosong, lebih celaka pula kakinya ini pun kena ditangkap orang. Keruan air mukanya pucat pias.

Nyo Hoan baru menghela nafas, katanya tawar: "Nah sudah kukatakan justru tugas inilah yang paling sulit, sekarang tentu kalian mau percaya?"

Liu Hong-kut memandangnya dingin, tidak tampak mimik perubahan pada mukanya. Dian Susi pun sedang memandangnya dengan terkesima. Sungguh dia tidak habis mengerti apa sebenarnya yang telah terjadi. Tahu-tahu didengarnya seorang membentak dengan bengis: "Yang kau bunuh adalah orang-orang ternama dan pendeta sakti, Enghiong dan perempuan cantik, sebaliknya aku suka membunuh manusia rendah budi dan hina dina, hari ini biar aku melanggar pantangan membunuh untuk membereskan kau manusia rendah ini."

Bu-sek Taysu.