Tokoh Besar Bagian 11

Bagian 11

"Salah satu di antara kita biar masuk dulu memeriksa keadaan di dalam, dua yang lain biar menunggu saja di luar menjaga segala kemungkinan," sebetulnya Dian Susi sudah berkeputusan untuk menentang cara ini, namun sekarang justru dia sendiri yang mengutarakan.

Naga-naganya Nyo Hoan tiada maksud menentang, tanyanya tawar: "Menurut maksudmu siapa yang harus masuk lebih dulu?" Sungguh tak nyana bahwa sampai hati dia mengajukan pertanyaan ini. Umumnya laki-laki suka menonjolkan diri di hadapan gadis ayu.

Keruan Dian Susi kebingungan sambil menggigit bibir, terpaksa dia menoleh kepada Cin Ko. Ternyata Cin Ko tidak memberi reaksi sedikit pun. Semula pemuda gagah ini tidak begini pendiam, sejak berkumpul dengan setan kepala besar, sikap dan tindak-tanduknya berubah sama sekali.

"Coba kau katakan," kata Dian Susi jengkel, "menurutmu siapa yang harus masuk lebih dulu?"

"Kau sendiri yang mengajukan cara ini, sudah tentu kau sendiri yang harus tampil," siluman babi ini ternyata sampai hati menyuruh seorang gadis rupawan menjadi pelopor untuk menerjang bahaya.

Hampir gila rasanya saking marah, akhirnya Dian Susi menjadi sengit, katanya membanting kaki: "Baik, biar aku yang masuk lebih dulu."

"Setelah kau masuk, umpama kau mengalami apa-apa, kita tetap akan berusaha menolongmu, sebaliknya jikalau kita yang menghadapi bahaya, kau takkan mampu menolong kita."

Malas dan sebal Dian Susi mendengar ocehannya, segera dia melengos dan berlari ke depan menyusuri jalan batu naik undakan di depan pintu kelenteng. Sampai di sini mendadak dia berhenti. Soalnya pintu besar tertutup rapat, namun asap atau kabut tipis berwarna kekuningan sedang mengepul dari sela-sela daun pintu menandakan di dalam kelenteng masih ada asap dupa, itu menandakan ada orang di dalam, namun kenapa sedikit suara

pun tak terdengar? Apakah mereka sudah merasa akan kedatangan dirinya maka semuanya lantas

bSermdiualma Ddiarin? SAutasui emmeoresikaunstudkabhetkeerrbjau,nuahmduan rtaesrbaumngakrahmnymautlaudtni ykain?i sudah lenyap, kaki tangan terasa dingin malah, ingin rasanya dia menggenggam tangan seorang laki-laki. Terutama tangan Nyo Hoan yang gemuk penuh daging empuk itu.

Tangan orang gendut yang satu ini rasanya selalu hangat, tenang dan mantap, bersih lagi, tangan yang selalu menjadi idam-idaman setiap gadis yang suka menggandengnya. Sayang waktu dia menoleh setan kepala besar itu sudah lenyap tak kelihatan bayangannya, Cin Ko ternyata juga menghilang. Keruan kaki tangannya semakin dingjn berkeringat, hampir tak tahan dia ingin berteriak sekeras-kerasnya. Namun dia pantang melakukan perbuatan yang merendahkan derajat dan memalukan ini, apalagi malu terhadap setan kepala besar. Setelah setengah harian mematung

di undakan batu, akhirnya Dian Susi membesarkan nyali beranjak maju seraya mendorong pintu.

*****

Pintu memang tertutup rapat, tapi tidak terkunci atau terpalang dari dalam, hanya sedikit mendorong pelan-pelan daun pintu lantas terpentang lebar dengan mengeluarkan suara keriat- keriut. Suara yang mengerikan di malam gelap ini.

Dengan kertak gigi Dian Susi melangkah maju setindak serta melongokkan kepalanya lebih dulu ke dalam. Tiada sesuatu yang terlihat karena pekarangan dalam penuh diliputi kabut atau asap yang cukup tebal. Untung di bawah pemujaan sana masih ada sinar lampu, walau sinarnya guram, sedikitnya memberi petunjuk jalan kepadanya.

Terlebih dulu Dian Susi menghirup nafas panjang lalu selangkah demi selangkah beranjak masuk. Dia mengharap jangan nanti kakinya menginjak mayat orang mati. Di sini bukan saja tiada orang mati, orang hidup pun tak kelihatan.

*****

Setelah melewati pekarangan, sinar lampu di depan patung pemujaan sudah kelihatan dan semakin terang. Di sini pun tak kelihatan bayangan orang, cuma asap dupa mengepul dari hiolo yang terletak di bagian depan meja pemujaan.

Ke manakah si Brewok dan lain-lain? Memang mereka sudah melarikan diri atau sembunyi karena tahu bahwa dirinya akan kemari? Dengan kencang dia gigit bibirnya, kakinya terus melangkah ke depan, langkahnya amat lambat dan hati-hati, entah takut menginjak mayat atau badan orang yang tidur di lantai? Dia sendiri tak kuasa menjelaskan. Di dalam suasana serba seram ini, setelah melihat patung pemujaan yang kaku dingin bertengger di atas sana, tiba-tiba terbayang pula oleh Dian Susi akan Kek siansing. Bukankah keadaan Kek siansing mirip sekali dengan patung ini? Terasa lemas kedua kaki Dian Susi bila terbayang manusia aneh itu, untung di sebelahnya kebetulan ada sebuah kursi, lekas dia duduk istirahat.

Betapapun sebetulnya dia tak sudi duduk di tempat ini dalam suasana seperti ini pula, namun kedua kakinya benar-benar lemas lunglai, maka dia dipaksa untuk melepas lelahnya, tanpa terasa keringat dingin berketes-ketes di atas kepalanya. "Kepala besar itu, benar-benar tega membiarkan aku masuk kemari seorang diri, malah dia menghilang entah ke mana," demikian batin Dian Susi, semakin dipikir semakin jengkel.

Sekonyong-konyong dia merasakan sesuatu yang menakutkan. Kursi yang dia duduki pelan- pelan bergerak naik, seperti ada orang pelan-pelan mengangkat kursinya ke atas. Tak tahan dia menunduk dan melihat ke bawah. Seketika berdiri bulu kuduk dan bulu romanya, ternyata tempat yang dia duduki sebagai kursi adalah sebuah peti mati. Lebih menyeramkan lagi tutup peti sedang terangkat dan pelan-pelan terbuka.

Tiba-tiba sebuah tangan terulur keluar dari dalam peti mati terus menangkap pergelangan tangannya.

Tangan yang dingin menyerupai es. Sekujur badan Dian Susi menjadi lunglai. Sebetulnya dia hendak menerjang keluar, namun begitu badan bergerak doyong ke depan, tahu-tahu dia terjungkal roboh, hampir saja jatuh semaput. Namun pikirannya masih sadar, bukan saja bisa melihat jelas, kupingnya pun mendengar terang. Bukan tangan saja yang terulur keluar dari dalam peti mati, malah terdengar juga suara tawa orang, tawa yang dingin seram, kedengarannya mirip setan menangis.

Dengan mengerahkan seluruh tenaganya Dian Susi berseru keras: "Siapa sembunyi di dalam peti mati? Aku tahu kau adalah manusia, tiada guna kau pura-pura jadi setan menakut-nakuti aku."

Apa benar tangan yang menyentuh tangannya tadi adalah tangan manusia hidup? Tangan manusia masa begitu dingin?

Suara tawa tadipun sirap, tinggal suara lantangnya saja yang bergema di dalam kelenteng. Dian Susi mengerahkan seluruh kekuatannya meronta-ronta untuk melepaskan pegangan tangan dingin itu, namun tangan orang seolah-olah lengket dengan tangannya, betapapun dia tak kuasa melepas pegangan ini. Lama kelamaan nafasnya sudah ngos-ngosan, keringat dingin sudah gemerobyos.

Tangan siapa sebetulnya? Kenapa tidak mau unjuk diri? Memangnya tidak berkepala dan tak punya raga? Hanya sebuah tangan dingin saja? Baru Dian Susi hendak mencoba apakah dia bisa menarik tangan ini keluar dari peti mati, tak nyana belum sempat kerahkan tenaga, tahu-tahu tangan dingin itu malah yang sudah bertindak lebih dulu. Suatu tenaga besar yang menakutkan tahu-tahu menyeret dirinya, bahwasanya karena tarikan ini Dian Susi mati kutu dan tak mampu meronta dan melawan lagi. Tiba-tiba seluruh badannya tertarik masuk ke dalam peti mati itu.

Dalam keadaan seperti ini, jangan kata seorang gadis yang bernyali kecil, laki-laki yang bernyali besarpun bisa jatuh semaput karena ketakutan. Sungguh kasihan, pikiran Dian Susi justru tetap sadar danjernih.

*****

Ternyata di dalam peti mati bukan saja ada sebelah tangan, masih ada pula kepala dan raga kasarnya, badannya lurus kaku, kecuali mayat tiada sosok badan manusia yang kaku dan dingin seperti ini. Begitu tertarik masuk, badan Dian Susi lantas rebah di atas badan yang kaku ini.

Disusul suara "Brak" tutup peti mati tertutup rapat.

Sinar api lenyap, kabutpun tak kelihatan lagi, keadaan menjadi gelap gulita, walau kesadaran Dian Susi masih jernih, namun sekujur badannya sudah tak mampu bergerak lagi, sekujur badannya ikut menjadi kaku dingin, mungkin lebih kaku dan dingin dari mayat. 

Mayat kaku itu tiba-tiba memeluknya kencang-kencang sampai dia susah bernafas. Ingin berteriak, namun kerongkongannya seperti tersumbat. Hampir gila rasanya saking ketakutan, ingin rasanya dia mampus saja. Sayang dalam keadaan seperti ini ingin mampuspun tak mungkin terlaksana.

Butir-butir air mata bertetesan dari ujung matanya. Siapakah yang pernah mengalami kejadian menyedihkan seperti ini, pengalaman yang begini menakutkan, hari ini justru dia harus mengalami nasib yang jelek ini. Seolah-olah sebuah mimpi yang paling buruk selama hidupnya. Umpama bisa menangis menggerung-gerung sepuasnya, mungkin perasaan takutnya bisa terlampias, namun sekarang dia hanya bisa mencucurkan air mata tanpa bersuara.

Tiba-tiba didengarnya mayat kaku itu mengeluarkan tawa malah, dengus nafas yang panas seiring dengan tawanya meniup di pinggir telinga Dian Susi, ternyata mayat hidup dingin ini masih menguapkan hawa panas dari badannya. Otot daging leher Dian Susi yang semula mengejang pelan-pelan mulai mengendor, dengan kerahkan seluruh kekuatannya tiba-tiba dia berteriak.

Berteriak sampai suaranya serak dan capai, baru mayat dingin ini berkata dengan tertawa: "Berteriak sampai kerongkongannmu pecah juga tak berguna, takkan ada orang mendengar teriakanmu, jangan kata orang, setanpun tak mendengar," suaranya rendah berat dan sumbang, jarang ada orang yang mendengar suara yang begini menakutkan. Sekarang Dian Susi mendengarnya, nafasnya serasa berhenti seketika. Jadi mayat dingin yang dia tindih di bawah badannya ini kiranya bukan mayat, namun manusia, tiada mayat hidup atau setan gentayangan di dunia ini yang lebih menakutkan dibanding manusia yang satu ini, karena dia bukan lain adalah Kek siansing.

Sebetulnya mulutnya sudah hampir berteriak menyebut namanya, namun tenggorokannya seperti disumbat dan hanya mengeluarkan suara krok-krok saja.

Kek siansing tergelak-gelak, katanya: "Tentu kau sudah tahu siapa aku sebetulnya, apa pula yang kau takutkan?"

Bukan Dian Susi takut. Perasaan hatinya sekarang jelas tak mungkin dilukiskan hanya dengan sepatah kata "takut" saja.

Jari-jari tangan Kek siansing menggelitik di atas badannya, katanya pelan-pelan: "Jangan lupa kau pernah berjanji akan menikah dengan aku, berarti aku adalah calon suamimu, tidur bersama bakal suamimu, apa pula yang kau takuti?" Jari-jarinya laksana ular, bergerak-gerak pergi datang atau naik turun. Badannya yang semula dingin kaku lambat laun mulai bergerak-gerak.

Mendadak Dian Susi berteriak keras: "Lepaskan aku... lepaskan aku..." "Lepaskan kau? Coba kau pikir apakah aku mungkin melepasmu?"

"Apa keinginaamu?" kata-katanya kini menjadi jelas kembali, seseorang bila mengalami ketakutan yang keluar batas, seluruh badannya malah mengendor secara aneh. Lantaran apa tiada

yang tahu, karena pengalaman seperti ini memang jarang dialami manusia.

Berkata Kek siansing lebih lanjut: "Aku ingin apa? Aku hanya ingin tidur bersamamu, di kala hidup tak bisa seranjang, biar di kala mati terkubur di dalam satu peti mati."

"Kalau begitu kenapa tidak segera kau bunuh aku saja?" "Apa benar kau ingin mati?"

"Asal aku mati, terserah dengan cara apapun kau hendak perlakukan diriku tak menjadi soal." "Sayang sekali sekarang aku belum ingin kau mati."

"Kau... sampai kapan kau hendak menunggu?"

"Coba kau terka?" tahu-tahu jari-jari tangannya merambat masuk ke dalam pakaian Dian Susi.

Mereka rebah berhimpitan di dalam sebuah peti mati, umpama Dian Susi bebas bergerak dan ingin menghindarpun tak mungkin ada peluang. Saking gemas dan dongkol bibirnya pecah berdarah tergigit kencang, rasa sakit membuat pikirannya semakin jernih, katanya setelah menghela nafas: "Apa benar kau menginginkan aku?"

"Berapa jerih payahku telah kukorbankan demi kau, tentunya kau sudah mengerti." "Kalau kau memang menghendaki diriku, tidak pantas kau menggunakan cara sehina ini." "Lalu cara apa yang harus kugunakan?"

"Ada perintah orang tua, pakai comblang dan meminang secara resmi. Masakah kau tidak tahu akan adat ini."

"Maksudmu supaya aku meminangmu kepada Dian jiya ayahmu?" "Begitulah sepantasnya."

"Kalau dia menerima pinanganku? Apa kau segera mau menikah dengan aku?" "Sudah tentu."

Kek siansing tiba-tiba tertawa, katanya: "Itu mudah sekali." "Mudah sekali?"

"Sudah tentu mudah, sekarang juga aku pergi meminangmu."

Bahwa orang menerima persyaratannya begitu cepat dan tegas, keruan Dian Susi melongo. Sungguh tidak habis pikir olehnya kenapa orang merasa hal itu gampang dilaksanakan? Dengan alasan apa dia begitu yakin? Tiba-tiba terasa olehnya bahwa peti mati itu sedang bergerak turun ke bawah. Tak tahan dia bertanya: "Ke mana kau hendak membawaku? Ke neraka tingkat ke delapan belas?"

Kek siansing terloroh-loroh, ujarnya: "Apa sih jeleknya tempat itu? Yang terang di sana jauh lebih hangat daripada di langit, malah di sana tidak tertiup angin tidak tertimpa hujan."

"Tapi ayahku terang takkan berada di sana, perduli mati atau hidup, dia pasti takkan berada di sana."

"Kau belum pernah turun ke sana, darimana kau tahu Dian jiya ada di sana atau tidak?" peti mati terus bergerak turun, hati Dian Susi mengikuti gerakan peti serasa tenggelam semakin dalam. "Apa ayahpun terjatuh ke tangan gembong iblis ini, sehingga dia begitu yakin?"

Terang tidak mungkin. Terpaksa dia cari akal untuk menghibur hati sendiri: "Ayahku bukan orang yang gampang dilayani, terang tak mungkin," mengingat kehidupan Dian jiya nan jaya dan makmur, legalah hati Dian Susi. Kebetulan peti mati sudah berhenti. Tiba-tiba tutup peti mati terbuka sendiri, selarik sinar guram tiba-tiba menyorot masuk ke dalam peti mati. Maka tampak dengan jelas air muka Kek siansing terpampang di depan mata Dian Susi. Air mukanya tak berubah, mirip muka mayat hidup, setiap kali melihat muka ini tanpa terasa Dian Susi memejamkan mata.

"Kenapa tidak kau pentang matamu?" "Aku... lihat apa?"

"Coba kau lihat bukankah Dian jiya berada di sini?" ujar Kek siansing sambil mengendorkan pelukannya.

Dengan segala kekuatannya Dian Susi segera mencelat berdiri, namun seketika dia berdiri menjublek, seolah-olah mendadak dia kecemplung ke dalam air es yang dingin sekali. Ternyata begitu dia mencelat keluar dari peti mati, matanya seketika melihat Dian jiya, jikalau tidak melihat dengan mata kepalanya sendiri, matipun takkan mau percaya bahwa Dian jiya benar- benar berada di sini.

*****

Itulah sebuah kamar batu persegi, tiada pintu tak berjendela, tak ubahnya sebuah peti mati raksasa. Entah dari mana datangnya cahaya lampu, sinar yang redup dingin, mirip benar dengan pelita setan di dalam neraka.

Dalam peti mati raksasa ini ternyata terdapat sebuah meja dan beberapa kursi. Seorang tua bermuka bersih dan welas asih tengah duduk di kursi tengah, tangannya sedang memegang pipa cangklong warna hijau pupus sambil mengepulkan asap dari mulutnya. Di belakang orang tua ini berdiri seorang perempuan yang sedang memijat punggungnya. Seorang perempuan lain tengah duduk di atas kedua pahanya, tangannya memegangi upet bantu menyulut api di pipa cangklongnya itu.

Dingin mengejang sekujur badan Dian Susi. Sudah tentu dia kenal betul bahwa orang setengah umur yang duduk di kursi itu adalah Dian jiya, diapun kenal baik pipa cangklong hijau pupus yang terbuat dari batu akik, waktu kecil dulu diapun sering duduk di paha Dian jiya serta bantu menyulut pipanya. Siapapun dalam situasi seperti yang dialami Dian Susi pasti menubruk maju dan merebahkan dirinya ke haribaan ayahnya. Tapi Dian Susi hanya menjublek di pinggir peti mati dengan badan gemetar.

Dua perempuan itu ternyata dia kenal baik. Yang berdiri di belakang memijat punggung Dian jiya adalah Ong toanio, yang duduk di pahanya adalah Thio Hou-ji. Perempuan centil yang tidak tahu malu lagaknya memang aleman dan genit duduk di paha lagi. Bukan saja sekujur badan gemetar, air matapun bercucuran membasahi muka Dian Susi, hatinya murka.

Melihat dirinya, agaknya Dian jiya amat prihatin, katanya riang: "Bagus sekali, kau akhirnya kutemukan di sini," itulah tutur sapa seorang ayah waktu melihat putrinya yang minggat ini.

"Kau tahu aku akan kemari?" tanya Dian Susi.

Dian jiya manggut-manggut. Ong toanio malah terkikik, sapanya: "Kebetulan kau kemari, baru saja kami memperbincangkan dirimu."

"Bicara tentang apaku?" ejek Dian Susi ketus.

"Barusan aku sedang wakili Kek siansing meminang kau kepada Dian jiya." "Dia... apa jawabnya?"

"Laki-laki perempuan kalau sudah menanjak dewasa adalah pantas kawin, kalian memangnya pasangan setimpal karunia Thian, coba kau pikir apa pula yang dikatakan?"

Thio Hou-ji tertawa sambil mengerling: "Sudah tentu Dian jiya menerima dengan senang hati, hayo kalian pasangan pengantin ini lekas menghaturkan terima kasih kepada aku mak comblang ini."

Melotot mata Dian Susi mengawasi ayahnya, bukan saja tak bicara, bergemingpun tidak. Sekujur badannya seolah-olah menjadi kaku mendadak.

Entah kapan tahu-tahu Kek siansing sudah berdiri di sampingnya, sebelah tangannya memeluk pinggangnya malah. Muka Dian Susi mendadak kaku dingin tak berperasaan, katanya sinis: "Lekas lepaskan tanganmu yang kotor!"

Kek siansing tersenyum, katanya: "Sekarang perintah orang tua sudah ada, mak comblang juga sudah hadir, apa pula yang kau takutkan?"

Dian Susi tidak hiraukan ocehannya, dengan melotot dia awasi Dian jiya, mendadak dia berseru: "Siapa kau sebenarnya?"

"Lho, lucu benar," teriak Ong toanio, "masakah ayahmu sendiri tidak kau kenal?"

Mendadak Dian Susi memburu maju, teriaknya serak: "Siapa kau sebenarnya? Kenapa menyaru jadi ayahku? Mana ayahku?" baru saja dia melangkah maju, tahu-tahu pinggangnya dipeluk Kek siansing. Tegak alis Ong toanio, katanya: "Kau tahu bahwa dia bukan Dian jiya? Cara bagaimana kau tahu?"

Dian Susi meronta sekuatnya sembari berteriak: "Di mana ayahku berada, bawa aku menemuinya."

Tiba-tiba Ong toanio menarik muka, katanya dingin: "Ketahuilah, sejak kini, orang ini adalah Dian jiya, yaitu ayah kandungmu, di dunia ini hanya ada satu Dian jiya, takkan ada orang yang kedua."

Tiba-tiba lemas lunglai sekujur badan Dian Susi, akhirnya tak tertahan lagi dia menangis menggerung-gerung.

Semula Ong toanio sedang sibuk memijat punggung Dian jiya, tiba-tiba dia menampar mukanya, katanya dingin: "Sudah beberapa kali aku mengajar kepadamu, kenapa masih ketahuan juga olehnya?"

Orang itu meringis kesakitan, katanya tergagap: "Aku... akupun tak tahu."

Ong toanio kembali menamparnya pula, katanya: "Kusuruh kau jangan banyak mulut, kenapa kau justru cerewet?"

Orang itu mendekapi kedua pipinya, katanya: "Tadi aku hanya mengatakan sepatah kata, aku... darimana aku bisa tahu... " tiba-tiba dia merosot turun dari atas kursi terus berlutut di hadapannya.

Ong toanio menjengek dingin serta melangkah ke depan, sorot matanya diliputi napsu membunuh.

Kek siansing tiba-tiba berseru: "Tahan dia saja, kelak orang ini masih berguna."

Ong toanio tertawa dingin, sekali angkat kaki dia tendang orang itu terguling-guling jauh, bentaknya bengis: "Keparat yang tak berguna, hayo menggelindinglah ke belakang... lekas!"

Thio Hou-ji menghela nafas pelan-pelan, katanya: "Memangnya aku sudah bilang samarannya kurang mirip, umpama kata raut mukanya sedikit mirip dengan Dian jiya, namun sikap kereng gagah dan wibawa Dian jiya, mana bisa dia tiru?"

Dengan ujung matanya Ong toanio meliriknya, katanya seperti tertawa tidak tertawa: "Sudah tentu dia tak bisa kelabui kau, tapi orang lain bukan kau, yang pernah main patgulipat dengan Dian jiya.”

Seperti tertawa tidak tertawa Thio Hou-ji balas mengerling kepadanya, katanya: "Apakah kau merasa iri?" "Alasan apa aku harus iri?" ujar Ong toanio tertawa, "memangnya sekarang kau masih berani menemani dia tidur?"

Dian Susi tiba-tiba berjingkrak bangun, katanya kertak gigi: "Di mana ayahku sekarang? Umpama kalian tidak berani bawa aku menemui dia, sedikitnya berani memberitahu di mana dia berada."

Ong toanio menghela nafas, ujarnya: "Memang kami benar-benar tidak berani membawamu untuk menemuinya."

"Kenapa?" semakin pucat muka Dian Susi.

"Pertanyaanku tadi belum kau jawab, dengan alasan apa aku harus memberitahu?" "Kau tanya apa kepadaku?"

"Cara bagaimana kau bisa tahu bahwa orang tadi menyamar Dian jiya?" Dian Susi mengejek dingin: "Masa kau tidak tahu?"

"Memang dia tak punya wibawa sekereng Dian jiya, demikian pula gerak-geriknya takkan mampu meniru gaya Dian jiya, tapi dia duduk di sana tanpa bergerak, sinar lampu di sini pun gelap, cara bagaimana selintas pandang kau dapat membongkar kedoknya?"

Sesaat Dian Susi bimbang, akhirnya berkata lantang: "Ketahuilah, sudah beberapa bulan ayahku tidak mengisap rokok lagi, belakangan kesehatannya rada terganggu, tak mungkin mengisap pipa cangklong itu."

Ong toanio beradu pandang dengan Kek siansing, keduanya sama manggut-manggut. "Nah, bagaimana dengan pertanyaanku?" balas Dian Susi mendesak.

"Apa yang kau tanyakan?" jawab Kek siansing. "Ayahku..."

Kek siansing tiba-tiba menukas ucapannya: "Jika kau ingin melihat ayahmu, gampang sekali, asal kau menjadi biniku, sudah tentu aku harus bawa kau pulang menghadap bapakmu."

Gemeratak gigi Dian Susi, katanya: "Kuharap kau padamkan saja keinginan edanmu ini." "Aku justeru tidak akan mundur sebelum keinginanku tercapai."

"Persetan dengan keinginanmu, yang terang mati pun aku tak sudi menikah dengan orang macam tampangmu, umpama benar ayahku menerima pinanganmu, aku lebih suka mati." "Kenapa?" tanya Kek siansing.

"Memangnya, kenapa kau berbuat senekad ini?" timbrung Ong toanio ikut membujuk. "Usianya belum tua, belum pernah kawin, martabatnya juga tidak jelek, terutama ilmu silatnya luar biasa, dalam hal apa dia tidak setimpal jadi suamimu?"

"Tentang kebaikan apa dia setimpal menjadi suamiku, hakikatnya dia bukan manusia."

Thio Hou-ji tiba-tiba kedip-kedip mata, katanya: "O, aku tahulah, dia anggap tampangmu terlalu jelek."

"Hmm," Dian Susi mendengus hidung.

Ong toanio maju mendekat, katanya sambil menepuk pundak Kek siansing: "Jikalau kau berwajah sedikit tampan, mungkin dia mau menikah dengan kau."

"Benar, gadis remaja secantik ini, siapa yang tidak suka dan bangga akan kecantikannya." "Jadi kalian ingin supaya aku berubah lebih tampan?"

"Semakin tampan semakin baik."

Kek siansing tiba-tiba tertawa, ujarnya: "Itu pun tidak sulit," tiba-tiba dia membalik badan menghadap ke dinding, sekian lamanya entah apa yang dia lakukan, lalu pelan-pelan dia membalik badan pula.

Thio Hou-ji seketika bertepuk tangan, serunya: "Ternyata benar berubah sedikit tampan, laki-laki segagah ini, aku pun ikut terpincut."

Ong toanio terkikik geli, katanya: "Agaknya kalau nona Dian masih tidak sudi menikah sama dia, orang akan merebut calon suamimu yang tampan ini lho."

Sebetulnya sampai mati pun Dian Susi tak sudi melihat tampangnya itu, namun sekarang tak tahan dia angkat kepala, hanya sekilas saja, seketika dia menjublek. Kek siansing memang sudah berubah jadi seorang lain. Seorang laki-laki pertengahan umur yang sudah matang kehidupan, tampan dan romantis, laki-laki gagah yang membawa daya tarik bagi setiap gadis yang memandangnya. Hampir Dian Susi tidak percaya akan pandangan matanya sendiri.

Kata Ong toanio sambil mengawasinya: "Apakah selamanya kau belum pernah dengar soal ilmu tata rias?"

Sudah tentu Dian Susi pernah mendengarnya. Tapi air muka Kek siansing walau tidak menunjukkan mimik apa-apa, kelihatannya tidak mirip dirias dengan ilmu make up segala. Mungkin karena selama ini Dian Susi tidak pernah mau melihat muka orang dengan jelas, bahwasanya dia takut melihat orang sedikit lebih lama lagi. Kalau dia benar bermuka asli setampan dan setegap ini, kenapa harus menyaru jadi orang cacat jelek rupa? Apa pula asal-usul sebenarnya? Bertambah rasa curiga Dian Susi, namun rasa takutnya tidak seperti dulu. Karena tampang Kek siansing yang dihadapi ini bukan saja gagah romantis, senyumnya pun kalem dan ramah tamah. Katanya sambil mengawasi Dian Susi: "Sekarang tentu aku setimpal mengawini kau."

"Dengan keadaanmu sekarang, umpama bidadari dari kahyangan pun akan berebutan minta kawin dengan kau," seru Thio Hou-ji cekikikan genit.

Tergerak hati Dian Susi, namun dengan keras dia menggeleng-geleng, serunya: "Tidak mungkin."

"Kenapa tidak mungkin?" tanya Thio Hou-ji melengak heran.

"Dia ini siapa aku toh tidak mengenalnya, mana boleh aku menikah dengan dia?"

"Benar, masuk akal, putri seorang hartawan besar seperti Dian Siocia, sudah tentu harus kawin dengan laki-laki yang punya kedudukan dan terpandang."

Ong toanio tertawa, timbrungnya: "Untung Kek siansing bukan laki-laki yang tidak punya asal- usul, kalian bukan saja pasangan setimpal, latar belakang keluarga masing-masing pun cocok satu sama lain. Jikalau kau sudah tahu siapa nama aslinya, tanggung kau akan terkejut."

Dian Susi hanya melongo saja mendengarkan ocehan Ong toanio. "Liu Hong-kut, pernahkah kau dengar namanya?"

Liu Hong-kut!

Apakah orang ini benar-benar Liu Hong-kut pendekar besar nomor satu dari Kanglam? Dian Susi benar-benar terkejut dibuatnya. Liu Hong-kut dulu merupakan salah satu tokoh besar yang selalu menjadi idam-idaman pujaannya, sungguh mimpi pun tak pernah diduganya bahwa laki- laki rendah hina dina dan tak tahu malu bergajul lagi, ternyata adalah tokoh besar yang pernah dia puja-puja.

Kalau hal ini terjadi lebih dulu, mungkin Dian siocia sudah berjingkrak senang, tapi sekarang wataknya sudah jauh berubah, kali ini dia cukup tabah katanya sambil menatap orang itu: "Apa benar kau Liu Hong-kut?"

"Sedikit pun tidak salah," sahut Liu Hong-kut tersenyum simpul.

"Apa benar kau ini Liu Hong-kut yang berkepandaian silat nomor satu di Kanglam, laki-laki yang memiliki kepintaran tiada bandingannya di kolong langit?" "Liu Hong-kut hanya satu, takkan ada orang kedua," ujar Liu Hong-kut tersenyum. Bukan saja bentuknya berubah, suara bicaranya pun berubah, kedengarannya lembut, sopan dan jenaka lagi, paling tidak Dian Susi merasa ucapannya jenaka.

"Katamu kau ini Liu Hong-kut, tapi cara bagaimana aku tahu kau ini tulen atau palsu?"

Liu Hong-kut tertawa tawar, tidak kelihatan dia bergerak, tiba-tiba badannya melambung ke atas, jelas badannya sudah hampir menumbuk atap rumah, mendadak ia kembangkan kedua lengannya, laksana burung walet tubuhnya tiba-tiba melesat miring ke samping seperti terbang menempel atap.

Thio Hou-ji bersorak gembira sambil bertepuk tangan.

Ong toanio berkata: "Itulah Hwi-yan-chit-sek, ginkang yang paling sulit dilatih, merupakan ilmu tunggal dari Liu Hong-kut."

Thio Hou-ji tertawa, katanya: "Tak usah kau jelaskan, Dian siocia toh cukup pengalaman untuk menilai sesuatu yang tulen."

Memang Dian Susi cukup tahu, bahwa gerakan merubah gaya dan arah di tengah udara dari ginkang seperti itu merupakan ilmu yang paling sulit diyakinkan. Tak tahan dia menghela nafas, agaknya orang yang hina dan rendah martabatnya ini, memang tokoh besar yang pernah dipuji- pujinya dulu.

Seenteng asap Liu Hong-kut meluncur turun di hadapannya, senyum yang menghias mukanya begitu lembut dan simpatik, katanya: "Sekarang kau sudah mau percaya?"

Sekian lama Dian Susi melenggong, mendadak dia menghela nafas, katanya: "Aku sudah percaya, tapi aku semakin tidak mengerti."

"Tidak mengerti? Persoalan apa yang tidak kau mengerti?"

"Orang macammu ini, jikalau mengajukan pinangan secara terus terang dan gamblang, bukan mustahil sejak lama aku sudah menikah dengan kau, kenapa kau justru menggunakan akal berliku-liku?"

Liu Hong-kut tertawa, katanya: "Belum terlambat kau menikah dengan aku sekarang." "Sekarang justeru sudah terlambat."

"Kenapa?"

"Karena... karena sekarang aku sudah punya pujaan hati." Liu Hong-kut menarik muka, katanya dingin: "Sayang sekali pujaan hatimu itu adalah pembunuh yang malu dilihat sinar matahari."

Berkedip mata Dian Susi, katanya: "Kau kira Cin Ko yang kumaksud?" "Masa bukan dia?"

Seperti bersinar sorot mata Dian Susi, mendadak dia tertawa, katanya: "Jikalau kau kira pujaan hatiku adalah Cin Ko, maka kau sengaja memfitnah dan menjatuhkan dosa atas dirinya sebagai pembunuh Hwesio Banyak Urusan itu, maka tindakanmu ini meleset jauh sekali."

Liu Hong-kut menarik muka, katanya: "Lalu siapa kalau bukan Cin Ko?"

"Tampangnya tidak setampan kau, tapi dia seorang yang pintar, seorang yang patut dicintai." "Siapa sebenarnya yang kau maksud?" Liu Hong-kut menegas tidak sabar.

"Dia she Nyo bernama Nyo Hoan," sembari bicara sengaja dia melirik memperhatikan mimik muka Liu Hong-kut, tak nyana Liu Hong-kut tidak menunjuk sedikit pun perubahan.

Terpaksa Dian Susi berkata lebih lanjut: "Nyo Hoan adalah calon suami yang kusukai sendiri, malah dia pula pilihan orang tuaku, mau tidak mau aku harus menikah dengan dia, kecuali..."

"Kecuali apa?"

"Kecuali dia suka rela menyerahkan aku kepadamu."

Sebentar Liu Hong-kut terpekur, katanya kemudian: "Asal dia suka menyerahkan kau, maka kau rela menikah dengan aku?"

"Tidak salah."

"Kali ini kau tidak akan mungkir lagi?"

"Takkan mungkir," waktu menjawab tak tertahan hatinya amat geli. Walau setan kepala besar itu amat menyebalkan, tentu tidak akan sudi menjual kawan sendiri. Apalagi lahirnya saja kelihatan galak, yang terang bukan mustahil secara diam-diam dia sudah menaruh hati kepadaku. "Jika tahu aku berada di sini, tanpa perdulikan segala akibatnya dia pasti kemari menolong aku," bukankah sudah berulang kali orang sudah menolong jiwanya? Tak terasa tiba-tiba timbul perasaan syuur dan hangat dalam sanubari Dian Susi.

Ternyata Liu Hong-kut terpekur seperti memeras otak, agaknya orang tahu bahwa hal itu jelas tidak mungkin terjadi. Dengan ujung matanya Dian Susi mengerling, katanya penuh ejekan: "Sudah kukatakan kali ini aku tidak akan mungkir, kenapa tidak kau mengundangnya untuk membicarakan hal ini, bukan mustahil dia bisa menerima permintaanmu."

Setelah terpekur sekian lamanya, tiba-tiba Liu Hong-kut tertawa, katanya: "Aku tak perlu mengundangnya."

"Kenapa? Memangnya kau sudah batalkan niatmu?"

"Tidak, aku masih tetap ingin mempersunting dikau, tapi tidak perlu susah-susah pergi mencarinya, karena..."

"Karena apa?"

Aneh sekali mimik tawa Liu Hong-kut, katanya tandas: "Karena dia sudah akan segera tiba di sini."

Sekilas melengak Dian Susi, tanyanya: "Kau... darimana kau tahu?" Lebih misterius tawa Liu Hong-kut.

"Apakah setan kepala besar itu terjebak dalam muslihat mereka?" demikian Dian Susi bertanya- tanya dengan was-was. Kepalanya begitu besar, mana mungkin begitu mudah terperangkap orang, apalagi masih ada Cin Ko yang mendampinginya. Sekian lama Dian Susi termenung- menung, akhirnya dia tertawa geli sendiri.

Sekarang dia hanya mengharap Liu Hong-kut tidak menipu dirinya, dia harap Nyo Hoan benar- benar datang secepatnya. Waktu ia menoleh benar juga dilihatnya seorang tengah mendatangi, langkahnya terserot-serot melangkah masuk. Nyo Hoan.

Ternyata Nyo Hoan benar-benar datang.

Jikalau kau mau sedikit menaruh perhatian, maka kau akan mendapatkan banyak manusia di dalam dunia ini sembarang waktu selalu berubah bentuknya. Sekarang mungkin dia seorang Kuncu, namun detik lain bukan mustahil sudah berubah jadi seorang buaya darat. Dalam detik itu mungkin dia masih menyuguh arak kepadamu, malah mungkin berlutut menjilat kakimu, namun sekejap kemudian, mungkin dia lantas berpaling muka mencari perkara, sekali tendang mengusirmu. Orang seperti ini jelas tidak banyak, tapi juga tidak sedikit.

Untunglah masih ada semacam orang lagi di dalam dunia ini, di kala nasibmu baik kau melihatnya, bentuk rupanya demikian saja, tapi jikalau kau melihatnya di kala kau sebal dan tertimpa malang, dia tetap dalam keadaan semula. Nyo Hoan justeru adalah orang seperti ini. Perduli kapan saja, di mana saja kau melihatnya, dia tetap cengar-cengir dengan sikap acuh tak acuh. Selintas pandang kepalanya selalu jauh lebih besar dari manusia umumnya, setiap langkahnya tetap kalem tak pernah tergesa-gesa, seakan-akan dunia kiamat pun dia tidak akan gugup.

Keadaan malas-malasan dan serba klemak-klemik yang membosankan ini tak terhitung gagah dan menyenangkan. Tapi dalam pandangan Dian Susi sekarang, tiada manusia lain yang lebih mungil dan menyenangkan daripada laki-laki gemuk gendut yang satu ini.

"Dia pasti akan menolongku dengan mempertaruhkan jiwanya." Asal Nyo Hoan sudah datang, urusan sulit apa yang takkan dapat diselesaikan? Saking senang hampir Dian Susi berjingkrak menari-nari.

Anehnya melihat Nyo Hoan datang, Liu Hong-kut sedikit pun tidak merasa heran atau kaget, sikapnya malah kelihatan senang dan lega. Katanya sambil melambaikan tangan kepada Nyo Hoan: "Kemarilah kau."

Nyo Hoan lantas menghampiri.

Dian Susi mengira begitu Nyo Hoan muncul, Cin Ko pasti akan ikut muncul. Tak nyana Nyo Hoan hanya berdiri di sana tanpa bersuara, air mukanya tetap mengulum senyum.

Dalam hati Dian Susi sudah mulai menggerutu: "Mungkin dia sedang menunggu kesempatan, setan kepala besar ini biasanya bertindak amat tabah dan berani."

Dian Susi mengawasi kedua tangannya, dia hanya mengharap kedua jari tangan orang tahu-tahu sudah mencekik leher Liu Hong-kut. Sayang begitu beranjak masuk ke ruang ini, jangan kata berpaling melirik pun Nyo Hoan tidak melihat dirinya, seolah-olah tiada kehadiran dirinya di dalam ruang besar ini.

Liu Hong-kut tersenyum, katanya: "Kau datang terlambat." Nyo Hoan tersenyum, katanya: "Maaf."

"Tak perlu kau minta maaf kepadaku, sejak tadi nona Dian sedang menunggu kedatanganmu, dia sudah tidak sabar lagi."

"Lho, menunggu aku?" lagaknya baru sekarang melihat bahwa Dian Susi berada di sini, katanya tawar sambil berpaling ke arahnya: "Maaf, aku tidak tahu kau menunggu aku di sini."

"Kau tidak tahu?" terbelalak mata Dian Susi. Nyo Hoan menggeleng-geleng.

Hampir saja Dian Susi berjingkrak gusar dan berteriak, namun sedapat mungkin dia kendalikan emosinya, katanya: "Kau kira aku berada di mana?" "Perduli kau di mana, agaknya tiada sangkut pautnya dengan aku." "Kau... kau sudah lupa siapa yang suruh aku kemari?"

"Kaki tumbuh di badanmu sendiri, sudah tentu kau sendiri yang datang kemari."

Dian Susi menjublek di tempatnya, mulutnya terkancing rapat. Tiba-tiba dia merasa Nyo Hoan seperti berubah jadi manusia lain. Seorang asing yang belum pernah dia jumpai. "Apakah Nyo Hoan yang ini juga samaran orang lain?"

Tidak mungkin, kepala orang lain tidak akan begitu besar, senyum tawanya pun takkan begitu menyebalkan.

Liu Hong-kut menggendong kedua tangannya, dari samping dia celingukan, kelihatannya amat senang dan puas. Baru sekarang dia tersenyum katanya: "Nona Dian suruh aku mengundangmu untuk berbicara."

"Membicarakan apa?" "Soal dirinya."

"Apakah dirinya ada persoalan yang perlu dibicarakan?"

"Aku ingin mengawini dia, tapi dia bilang harus minta persetujuanmu dulu."

"Minta persetujuanku?" seru Nyo Hoan. Agaknya dia amat geli, mendadak terbahak-bahak, katanya: "Aku bukan bapaknya, kenapa harus minta persetujuanku dulu?"

"Karena dia sebetulnya ingin kawin dengan kau."

"Sejak dulu aku sudah bilang, umpama perempuan di dunia ini mampus seluruhnya, aku tak berani minta dia kawin dengan aku."

"Lalu apa pula yang dia katakan?"

"Dia bilang andaikata laki-laki di kolong langit ini mati semua, dia tidak sudi kawin dengan aku," tiba-tiba dia berpaling kepada Dian Susi pula seraya tertawa, serta menegas: "Bukankah kau pernah bilang demikian?"

Gemeratak gigi Dian Susi, sekujur badannya gemetar dan gemerobyos keringat dinginnya. Saking murka, sampai sepatah kata pun tak kuasa keluar dari tenggorokannya. Ingin rasanya sekali cengkram dia bikin batok kepala setan kepala besar ini hancur lebur seperti semangka.

Terdengar Liu Hong-kut berkata dengan tertawa: "Kalau kau sudah berkata demikian, agaknya perkawinan kita tidak menjadi soal lagi." "Memangnya tiada persoalan apa-apa," ujar Nyo Hoan.

"Bagus, bagus sekali," seru Liu Hong-kut tertawa besar. "Tiba waktunya pasti kuundang kau untuk makan minum sepuasnya."

"Tidak bisa tidak kau harus mengundang aku," kata Nyo Hoan.

Liu Hong-kut tergelak-gelak gembira sambil memegangi pundaknya, sampai sekarang, umpama Dian Susi seorang pikun, jelas sudah apa hubungan kedua orang ini.

Tapi tak tahan dia bertanya juga: "Memangnya kalian sudah jadi kawan sejak lama?" "Bukan, kita bukan kawan," sahut Nyo Hoan.

Liu Hong-kut tersenyum, katanya menyambung: "Kita hanya bersaudara, saudara yang paling baik."

"Sejak mula semua peristiwa ini memang sudah kalian rencanakan lebih dulu?" tanya Dian Susi. "Tadi dia sudah bilang, kita adalah kawan baik," ujar Nyo Hoan.

Melotot besar mata Dian Susi, mendadak dia berteriak dengan seluruh tenaganya: "Orang she Nyo, Nyo Hoan, kau ini manusia bukan? Barang apa kau sebenarnya?"

Nyo Hoan menyengir tawa, ujarnya: "Memangnya Nyo Hoan bukan barang."

Liu Hong-kut tertawa, katanya: "Kau kira dia benar-benar she Nyo? Benar-benar Nyo Hoan?"

Seperti dilecut dengan cambuk Dian Susi tersentak mundur, berdiri pun tak tegak lagi sampai menyurut beberapa langkah "Bluk" jatuh terduduk di atas peti mati. Seperti orang yang tercebur ke sungai yang berarus deras, sedapat mungkin tangannya menggapai-gapai dan beruntung berhasil menangkap sesuatu yang dikiranya kayu, tapi kenyataan adalah buaya, buaya pemakan manusia. Kini dirinya seolah-olah sudah tenggelam ke dasar air.

Berselang lama baru dia kuasa bersuara pula dengan serak: "Kau bukan Nyo Hoan?" "Untung aku bukan," sahut Nyo Hoan.

"Lalu di mana Nyo Hoan yang tulen?" "Berada di Siau-lim-si."

"Untuk apa dia berada di Siau-lim-si?" "Membaca mantram mengetuk bokhi." "Dia... sudah menjadi Hwesio?"

"Sekarang dia sudah menjadi Hwesio tua."

Pelan-pelan Dian Susi manggut-manggut, mulutnya menggumam: "Aku sudah mengerti, akhirnya aku mengerti..." Apa benar dia mengerti? Mungkin dia memang sudah mengerti banyak persoalan, namun masih ada sesuatu yang masih tidak terduga olehnya meski di alam mimpi.

Duduk di atas peti mati sungguh rasa gegetun Dian Susi bukan kepalang, ingin rasanya rebah saja di dalam peti mati ini, agar dirinya bisa menangis menggerung-gerung, namun setetes air mata pun tak kuasa dia cucurkan. Apakah air matanya sudah kering?

Tiada harapan pasti tiada air mata, hanya seorang yang mutlak putus asa, baru dia tahu tiada air mata yang harus dicucurkan merupakan suatu derita yang luar biasa, betapa pula menakutkan hal ini. Tapi lahiriahnya kelihatan lebih tenang, tenang sekali.

Liu Hong-kut sedang mengamatinya, katanya tersenyum: "Kau sudah bilang kali ini pasti tidak mungkir."

Seperti orang linglung Dian Susi manggut-manggut, katanya: "Ya, aku pernah bilang." "Jadi kau sudah rela menikah dengan aku?"

"Boleh aku menikah dengan kau, hanya aku harus bertanya sepatah kata dulu kepadamu." "Asal kau senang, seribu patah pertanyaan pun boleh."

"Aku hanya ingin tanya, kenapa kau harus kawin dengan aku? Bukan aku saja perempuan dalam dunia ini."

"Perempuan memang banyak, tapi Dian Susi hanya satu."

"Aku ingin mendengar kejujuran. Masih ada hal apa yang kau kuatirkan? Kenapa tidak kau bicara terus terang saja?"

"Soalnya perkataan yang jujur biasanya tidak enak didengar." "Aku justru ingin mendengarnya."

Sesaat Liu Hong-kut terpekur, akhirnya tertawa, katanya: "Tahukah kau siapa orang yang paling punya duit di dunia ini?"

"Coba kau katakan siapa dia?" balas tanya Dian Susi. "Kau. Orang yang terkaya di seluruh dunia ini adalah kau." Lama Dian Susi menjublek tak mengerti, katanya pelan-pelan: "Jadi kau mengawini aku bukan lantaran pribadiku, tapi karena aku punya uang."

"Tadi sudah kukatakan, perkataan jujur tidak semerdu omong kosong."

"Kenapa tidak kau bunuh aku saja lalu merebut uangku, bukankah cara yang paling mudah dilaksanakan?"

"Bagiku cara itu malah menyulitkan." "Bagaimana bisa menyulitkan?"

"Tahukah kau berapa besar kekayaan keluarga Dian?" "Tidak tahu."

"Aku sebaliknya sudah menyelidiki dengan jelas dan terperinci, di setiap kota-kota besar dan keresidenan di enam propinsi utara, boleh dikata ada perusahaan milik keluarga Dian, jikalau satu persatu kurebut, sampai jenggotku putih takkan bisa seluruhnya kumiliki." Sampai di sini dia tersenyum, katanya pula: "Tapi jikalau aku jadi menantu keluarga Dian, bukankah secara langsung aku menjadi cukong besar dari keluarga Dian yang sekaligus memegang kuasa dalam semua perdagangan keluarga Dian, jikalau suatu ketika kau mati, semua harta kekayaan perusahaan itu bukankah menjadi milik aku orang she Liu?"

Dian Susi manggut-manggut, katanya: "Cara ini memang paling gampang dan menghemat tenaga."

"Sekarang kau sudah mengerti?"

"Sebetulnya sejak awal aku sudah harus mengerti."

"Tapi kau tak pernah sempat memikirkannya, soalnya hal ini terlalu sepele untuk dipikirkan, dan anehnya, sesuatu persoalan yang sepele, justeru sering orang sulit untuk memikirkannya."

"Memang ada sebuah hal yang tidak kumengerti." "Silahkan bicara."

"Bahwa kau hendak paksa aku kawin dengan kau, kenapa kau suruh orang menyaru Nyo Hoan untuk menolong aku?"

"Karena aku ingin supaya kau menikah sama dia." "Kau kira aku sudi kawin sama dia?" "Banyak perempuan demi membalas budi pertolongan jiwanya, secara suka rela menyerahkan dirinya untuk dinikahi oleh laki-laki penolongnya."

"Maka berulang kali kau membuat kesempatan supaya beberapa kali dia menolongku?" "Cara ini memang sering digunakan orang lain, namun masih tetap berguna."

"Kenapa tidak kau pilih orang lain, kau justeru pilih setan babi yang tromok itu?" "Karena dia adalah saudaraku, jikalau dia punya uang, itu berarti milikku juga."

"Kenapa tidak kau berdaya supaya aku berterima kasih dan hutang budi kepadamu, lalu menikah sama kau, bukankah cara ini lebih gampang?"

"Orang seperti diriku, perduli melakukan kerja apapun ada lebih baik tidak unjuk diri, mungkin sekarang kau masih belum mengerti akan liku-likunya, tapi kelak kau akan tahu juga,"

Dian Susi menjengek dingin: "Mungkin sekarang aku sudah mengerti." "O, kau mengerti apa?"

"Jika kau sendiri tidak mau unjuk diri, umpama tugas yang kau kerjakan gagal, dirimu tidak akan terlibat, oleh karena itu selamanya kau tetap Kanglam Tayhiap, tiada orang yang bisa menemukan ciri atau kelemahanmu." Dian Susi tertawa dingin: "Tapi aku justeru sudah menemukan kekuranganmu, kekuranganmu adalah kau terlalu pintar."

"Agaknya kau pun tidak bodoh." "Sekarang kau sudah unjuk diri." "Tidak salah."

"Kenapa kau mengubah niat atau rencanamu?"

"Pertama, karena kukira kau amat membenci saudaraku ini, jelas tak mau kawin sama dia. Kedua, sekarang aku perlu pakai uang, tiada waktu main sandiwara lagi"

"Maka sekarang kau bicara sejujurnya kepadaku?"

"Sekarang perduli apapun yang kukatakan kiranya tidak akan membawa akibat apa-apa yang besar."

"Sekarang apa pula yang ingin kau lakukan?" "Tentunya kita harus pulang ke Dian keh-ceng untuk melangsungkan perkawinan, malah Dian jiya sendiri yang harus menjadi wali dalam pernikahan ini."

"Dian jiya yang mana?" tanya Dian Susi. "Sudah tentu orang yang kau lihat tadi." "Dan selanjutnya?"

"Setelah kawan-kawan Kangouw mengakui bahwa aku benar adalah babah mantu keluarga Dian, maka Dian jiya yang satu ini boleh dipensiun untuk selamanya."

"Setelah itu suatu ketika mungkin aku pun akan jatuh sakit dan tahu-tahu mampus tanpa keruan paran."

"Perempuan cantik banyak yang bernasib jelek, begituiah takdir menentukan, maka banyak gadis-gadis jelita yang tidak berumur panjang."

"Maka seluruh harta kekayaan keluarga Dian, tentunya terjatuh ke tanganmu dan menjadi milik kau orang she Liu."

"Tapi kebaikan keluarga Dian terhadapku, selamanya tidak akan kulupakan, setiap musim semi dan rontok, aku pasti datang ke pusara keluarga Dian untuk bersembahyang dan mencucurkan beberapa tetes airmata."

Dian Susi menghela nafas, katanya: "Rencanamu memang amat sempurna, sayang sekali kau masih melupakan satu hal."

"O, melupakan apa?"

"Bahwa kau sudah membeber rencanamu sejujurnya, memangnya aku masih sudi menikah dengan kau?"

"Bukankah kau sendiri sudah berjanji kepadaku? Malah kau sudah berjanji takkan mungkir."

"Ucapan seorang perempuan yang menjanjikan sesuatu kepada orang, boleh saja dianggap kentut

anjing yang busuk."

Liu Hong-kut tiba-tiba tergelak-gelak, katanya: "Kau kira aku tidak memikirkan hal ini? Liu Hong-kut terkenal memiliki kecerdasan luar biasa yang tiada bandingannya, perhitungannya tidak pernah meleset, memangnya gampang dia mendapat ketenaran namanya ini." "Kau... umpama kau main paksa mengawini aku, kau takkan mampu membuatku tunduk kepadamu untuk melangsungkan upacara pernikahan denganmu di hadapan sekian banyak tamu, jangan kau mimpi."

"Selamanya aku tidak suka mimpi."

"Memangnya kau punya akal untuk paksa aku merubah putusanku?"

"Tidak perlu kau merubah putusanmu, cukup asal kubikin kau tak mampu bicara saja cukup."

"Tapi kaki tumbuh di badanku, dengan cara apa kau hendak paksa aku berlutut bersembahyang kepada langit dan bumi segala?"

"Tapi aku toh bisa meminjam kaki orang lain untuk mewakili kakimu, di waktu pengantin perempuan berjalan, bukankah dia selalu harus dipayang orang?"