Tokoh Besar Bagian 09

Bagian 09

Sudah tentu Cin Ko harus mencobanya. Baru dia angkat tangan dan mendorongnya perlahan, daun pintu lantas terbuka. Sudah tentu Dian Susi tidak percaya akan kenyataan ini, teriaknya: "Pintu ini terang terkunci dari luar, pasti tidak salah." Bagaimana juga pintu sudah terbuka dengan mudah dia bisa keluar, hal ini membuatnya riang. Tapi dia masih uring-uringan. Hatinya amat penasaran.

Cin Ko menghela nafas, katanya: "Umpama benar pintu ini tadi terkunci dari luar, sekarang sudah terbuka, hayolah keluar."

"Aku tidak mau."

"Kenapa tidak mau?" Cin Ko melengak.

"Kau memfitnah aku? Kau kira aku menipumu?"

"Selamanya aku tidak pernah beranggapan demikian, apapun yang kau katakan selamanya kupercaya!"

Dian Susi menyengir tawa, tapi lekas sekali mengerut kening, katanya: "Siapa yang mengunci pintu? Kenapa kelakuannya tidak genah?"

"Asal menemukan orang itu, kau bisa tanya kepadanya."

"Benar, kita harus temukan dia, aku ingin kompes keterangannya," tanpa menunggu Cin Ko menyuruhnya, segera dia beranjak keluar lebih dulu.

Hawa di luar memang lebih segar, tiga cangkir teh tetap berada di meja seperti tidak pernah disentuh orang. Tentunya air tehnya sudah dingin. Dengan keadaannya sekarang ingin rasanya dia tenggak habis ketiga cangkir teh ini, namun dia sudah tambah pengalaman, terpikir olehnya bila air teh ini beracun. Baru saja dia hendak panggil Cin Ko, tahu-tahu Cin Ko sudah berdiri di sebelahnya dengan mendelong.

"Hai, kenapa melamun? Apa yang kau pikir?" sentak Dian Susi. "Aku sedang pikir, cara bagaimana kita harus keluar."

"Memangnya, keluar mencari orang yang mempermainkan kita itu," terpikir olehnya pintu di kamar ini tadi pun terkunci dari luar, tadi dia pun tak kuat mendorongnya terbuka. Kali ini dia tidak suruh Cin Ko mencobanya, dia sendiri yang akan mendorongnya. Betul juga dengan sekali dorong tanpa pakai tenaga daun pintu sudah terbuka.

Serta pintu terbuka sungguh kaget dan melongo dibuatnya, dari luar kumandang banyak suara aneh dan gaduh. Mimpi pun takkan pernah terpikir olehnya, bakal mendengar suara-suara ini pula.

Baru saja pintu terbuka segaris, dari luar kumandang berbagai suara, ada suara dadu, suara kartu dikocok, suara rolet berputar, gelak tawa bagi yang menarik uang, helaan nafas bagi yang kalah main.

Di sini memang sarang judi, adalah jamak kalau mendengar suara-suara itu. Tapi bukankah sarang judi ini sudah bubar? Bukankah tadi sudah berubah jadi biara Hwesio? Dan Hwesio- hwesio itu sudah pergi seluruhnya? Tak tahan hampir Dian Susi menjerit keras, dengan keras daun pintu dia dorong. Tak tahan akhirnya ia benar-benar menjerit keras.

Jelas dan gamblang, di luar adalah sarang judi, bukan biara dan bukan lagi rumah kosong. Sinar lampu terang benderang, berbagai manusia sama gembira berjudi, melulu tiada Hwesio.

Sarang judi yang tadi lenyap secara misterius, kini mendadak muncul pula secara misterius pula. Apakah sebenarnya yang telah terjadi?

Siapa yang bisa menjelaskan?

Lampu dipasang terang benderang di sarang judi ini, setiap meja penuh sesak para penjudi yang berdesakan. Begitulah pemandangan umum dalam setiap sarang judi di seluruh dunia.

Tapi melihat keadaan ini kejut Dian Susi lebih besar dibanding waktu sarang judi ini penuh dihuni sekian banyak Hwesio.

Lama sekali dia menjublek di tempatnya baru berpaling, Cin Ko berdiri di belakangnya, mulutnya ternganga lebar, matanya melotot, mimik mukanya seperti orang yang ditendang perutnya. Dengan lidahnya Dian Susi membasahi bibirnya yang kering, katanya tersendat: "Apa yang kau lihat?"

"Sarang... sarang judi yang amat ramai." "Benarkah kau melihatnya?"

Cin Ko menyengir tawa, katanya: "Siapa tahu benar atau tidak?... Hanya setan yang tahu."

Baru saja Dian Susi hendak mengomel, tiba-tiba dilihatnya seseorang tengah melangkah mendatangi dengan muka berseri. Seorang yang berpakaian perlente, tangannya membawa pipa cangklong, perawakannya tinggi gede, selebar mukanya penuh dihiasi brewok lebat, dilihat dari gayanya berjalan, orang akan tahu bahwa kuda-kuda silat orang ini amat hebat.

Belum orang mendekat Dian Susi sudah memapak maju, tanyanya: "Sudah berapa lama sarang judi ini dibuka?"

Agaknya orang ini merasa pertanyaan ini amat lucu, dengan seksama dia awasi Dian Susi naik turun, baru menjawab dengan tertawa: "Di saat perjudian ini dibuka, mungkin nona masih orok."

Sedapat mungkin Dian Susi menahan gejolak hatinya, katanya: "Sejak sarang judi ini dibuka, kau sudah berada di sini?"

Orang itu tertawa lebar, sahutnya: "Tamu pertama yang mengunjungi sarang judi ini adalah aku sendiri."

"Jadi kau selalu berada di sini?"

"Kecuali saat tidur, aku selalu berada di sini." "Siang hari tadi?"

"Biasanya setiap siang aku pasti tidur, tapi hari ini kebetulan kedatangan beberapa tamu, terpaksa aku harus menemani mereka di sini seharian."

Dengan kencang Dian Susi mengepalkan kedua tangannya, tiba-tiba dia berpaling, katanya: "Kau... kau dengar apa yang dia katakan?"

Muka Cin Ko memutih, dengan langkah lebar dia menerobos maju, bentaknya beringas: "Lebih baik bicaralah yang jujur."

Orang itu unjuk rasa kaget, katanya: "Kenapa aku harus bicara tidak jujur?" "Siapakah kau sebenarnya?" "Aku she Kim..."

"She Kim? Pernah apa kau dengan Kim-toa-hu-cu?"

Orang itu mengelus brewoknya yang lebat sambil menjawab dengan tertawa: "Cayhe inilah Kim- toa-hu-cu adanya."

Tak tahan lagi Dian Susi, teriaknya keras: "Kau bukan Kim-toa-hu-cu, pasti bukan."

"Lalu aku siapa kalau bukan Kim-toa-hu-cu alias si Brewok Emas?" agaknya orang ini pun terkejut.

"Perduli siapa kau, yang terang kau bukan si Brewok," seru Dian Susi.

Karena ribut-ribut ini, orang mulai berdatangan merubung. Tampak oleh Dian Susi orang-orang yang merubung di sekelilingnya semua memiliki wajah aneh yang jelek dan berseri tawa kepadanya. Maka laki-laki brewok menanya: "Darimana nona tahu kalau aku bukan si Brewok?"

"Karena aku kenal si Brewok, dia tidak punya brewok, sehelai pun tiada."

Laki-laki itu tiba-tiba tergelak-gelak, serunya dengan menuding Dian Susi: "Nona ini bilang si Brewok tidak punya jenggot," seluruh hadirin ikut tertawa terbahak-bahak, seolah-olah mereka mendengar lelucon yang menggelikan. "Kim-toa-hu-cu masa tidak punya jenggot?"

"Jikalau dia tidak punya jenggot, kenapa dinamakan Kim-toa-hu-cu alias si Brewok?" gelak tawa mereka menusuk pendengaran.

Hampir gila Dian Susi dibuatnya, dengan seluruh kekuatannya dia menjerit: "Bukan saja Kim- toa-hu-cu tidak punya brewok, malah sudah menjadi Hwesio."

Mendengar ucapannya, tawa orang banyak semakin menjadi-jadi, ada yang terpingkal-pingkal memeluk perut, ada yang saling hantam, ada pula yang terkencing-kencing. "Kalau Kim-toa-hu- cu jadi Hwesio, laki-laki di kolong langit semuanya bakal jadi Hwesio juga." "Kalau nona ini tidak salah melihat orang, tentu dia kesurupan setan, atau otaknya sudah sinting."

Keruan Dian Susi berjingkrak gusar, dampratnya: "Sedikit pun aku tidak sinting, ingatanku masih segar, pasti takkan salah, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri."

"Kau melihat apa?" tanya si Brewok.

"Melihat si Brewok cukur gundul jadi Hwesio."

"Laki-laki sehat walafiat kenapa harus jadi Hwesio?" "Karena ada orang memaksanya." "Siapa yang memaksanya?" "Seorang... seorang Hwesio."

Gelak tawa orang banyak semakin keras dan berkumandang dalam gedung besar ini, semakin menusuk kuping, Dian Susi semakin bingung dan terasa pening kepalanya.

Sekonyong-konyong seorang bertanya: "Katamu seorang Hwesio?" suaranya rendah dan datar, kedengarannya tidak berteriak keras, tapi di tengah gelak tawa orang banyak, setiap hadirin mendengar jelas suara pertanyaannya, seolah-olah orang ini berdiri di pinggir telinga mereka.

Seorang yang mengerti ilmu silat pun akan tahu, bahwa pembicara ini memiliki lwekang yang maha hebat.

Orang yang semula merubung bundar seketika menyiak minggir, serempak mereka berpaling ke arah datangnya suara, baru sekarang mereka lihat orang yang bertanya ini adalah seorang Hwesio

juga.

*****

Hwesio ini bertubuh kurus pendek, mukanya kuning seperti orang sakit, duduk di sana kelihatan seperti anak kecil. Tapi siapapun yang mengawasinya, tiada satu pun yang mengandung rasa hina atau memandang rendah.

Bukan lantaran sepasang biji matanya yang tajam berkilat, bukan lantaran ada dua Hwesio setengah umur bermuka kereng dan bersikap prihatin berdiri di belakang Hwesio cilik itu. Tapi juga bukan lantaran jubah para Hwesio ini dibuat dari kain yang berkualitas tinggi, bukan lagi karena tasbih di tangannya yang bergerak-gerak itu semuanya mengeluarkan sinar cemerlang.

Apakah sebabnya, tiada orang tahu, yang terang siapapun meski hanya sekilas melihatnya, dalam hati tanpa sadar lantas timbul rasa hormat kepada dia. Demikian juga Dian Susi. Meski dia

belum pernah melihat Hwesio ini, tidak tahu siapa dia sebenarnya, namun dalam sanubarinya dia sudah menebak orang tentu seorang Hwesio sakti berkepandaian tinggi. Adalah jamak bagi Hwesio yang berkepandaian tinggi, seperti seorang pendekar besar, di manapun dia berada selalu menjadi perhatian orang banyak. Anehnya tiada orang melihat sejak kapan ketiga Hwesio ini datang.

"Barusan kau tanya kepadaku?" tanya Dian Susi.

Hwesio tua kecil manggut-manggut, ujarnya: "Bukankah Li-sicu barusan menyebut seorang Hwesio?"

"Benar," sahut Dian Susi. "Hwesio macam apakah dia?"

"Hwesio itu bermuka bundar, kalau tidak salah, pipinya masih ada lesung pipit." "Berapa usianya?"

"Usianya belum lanjut, tapi sikap dan bicaranya seperti bangkotan tua." "Apakah dia bersama seorang Tosu?"

"Bukan saja dengan Tosu, masih ada lagi seorang Siucay." "Di mana mereka sekarang?"

"Siucay dan Tosu entah di mana aku tidak tahu, hanya Hwesio itu..." sampai di sini dia menghirup nafas segar, katanya lebih lanjut: "Hwesio itu sudah mati."

Muka kurus kering Hwesio tua tidak menunjukan mimik perasaannya, tiba-tiba "Brak" kursi kayu merah yang dia duduki hancur berantakan. Namun Hwesio tua tetap duduk bergaya di

tempatnya sekokoh gunung tanpa bergeming, jadi pantatnya tergantung di tengah udara. Sudah tentu semua hadirin mengkirik dan merinding, tiada orang berani tertawa lagi.

Lama sekali baru terdengar Hwesio tua kecil buka suara pula: "Di mana dia mati?"

Dengan jari tangannya Dian Susi menuding ke belakang pintu. Baru saja jarinya bergerak, dua Hwesio di belakang Hwesio tua tahu-tahu melambung ke atas terus melesat masuk ke sana.

Terdengar angin menderu keras, pakaian orang sampai tertiup melambai, puluhan hadirin yang dekat pintu seperti diterpa angin kencang, ada pula yang topinya hampir copot.

Dian Susi melirik ke arah Cin Ko. Rona muka Cin Ko kelihatan prihatin, sapu tangan merah di lehernya sudah basah oleh keringat.

Cepat sekali dua Hwesio gede pertengahan itu sudah beranjak keluar dari balik pintu sambil menggusur jenazah Hwesio bundar itu. Kelihatan kedua Hwesio ini sedang menahan emosi, namun sorot mata mereka jelas teramat marah dan berduka.

Sekilas saja Hwesio tua cilik melihatnya lalu pejamkan mata, merangkap tangan bersabda Budha memanjatkan doa.

Waktu dia membuka mata pula, mendadak terasa oleh Dian Susi sinar kilat yang cemerlang menyorot keluar dari biji matanya. Tahu-tahu Hwesio tua cilik sudah berada di depannya, tanyanya dengan suara tandas: "Siapakah nama Li-sicu?"

Dian Susi batuk-batuk dua kali, baru menjawab: "Aku she Dian, bernama Dian Susi." Tenang dan sewajarnya saja Hwesio tua membuka mata mengawasinya dua kali, tiba-tiba sorot matanya dia alihkan kepada Cin Ko, tanyanya: "Dan siapa Sicu ini?"

"Cayhe Cin Ko," sahut Cin Ko kalem.

Hwesio tua manggut-manggut, raut mukanya yang kuning seperti orang sakit tiba-tiba menunjukan otot-otot hijau yang merongkol keluar seperti cacing berontak. Tapi suaranya masih mantap dan kereng: "Baik, ilmu silat bagus, kepandaian lihay, memang tidak bernama kosong."

Tak tahan Dian Susi menyeletuk, serunya: "Hwesio ini bukan dia yang membunuh, jangan kau salah menuduh orang."

"Bukan dia yang membunuh, memangnya kau?" tanya Hwesio tua cilik. "Mana mungkin aku, waktu aku masuk ke sana, dia sudah mati." "Masuk ke mana?"

"Masuk ke dalam rumah sana."

"Waktu itu Cin sicu ini sudah berada di dalam rumah bukan?" "Tidak, dia masuk belakangan, baru saja masuk."

Si Brewok tiba-tiba menyeletuk: "Di sana adalah kamar tidurku, tiada jalan lain, jikalau Cin Tayhiap baru masuk, kenapa Cayhe beramai tiada yang melihatnya?"

"Dia bukan masuk dari sini," debat Dian Susi.

"Sicu ini tadi sudah menjelaskan secara gamblang," demikian ujar Hwesio tua cilik, "rumah itu tiada tembusan ke arah lain."

"Dia... dia muncul dari bawah tanah," seru Dian Susi. Dia tahu pembelaannya takkan dipercaya orang, maka segera dia menambahkan perjelasan: "Tadi siang waktu kita kemari, Hwesio ini belum mampus, di saat dia bicara dengan kami, mendadak terjeblos ke bawah."

"Lalu bagaimana selanjutnya?" tanya Hwesio tua cilik.

"Selanjutnya Cin Ko ikut terjeblos masuk ke bawah juga. Waktu itu dalam rumah sudah tiada orang lain, Hwesio-hwesio yang semula memenuhi rumah ini sudah pergi semua, maka aku lantas menyusul masuk mencari mereka, di dalam baru ketemu Hwesio ini yang sudah mati, waktu aku berusaha mundur dan keluar, pintu ternyata sudah terkunci dari luar," bercerita sampai di sini baru Dian Susi menyadari seluruh hadirin mengawasinya dengan mendelong. Setiap mimik muka mereka seperti ingin tertawa, namun tak bisa tertawa. Hanya Hwesio tua itu sedikit pun tidak menunjukan rasa geli, katanya kereng: "Nona kemari tadi siang?"

"Waktu itu kebetulan lohor, kalau tidak salah kira-kira satu setengah jam yang lalu." "Waktu itu dalam rumah ini ada orang?" tanya Hwesio tua cilik.

"Ada, banyak orang." "Adakah mereka-mereka ini?"

"Bukan, seluruhnya Hwesio yang memenuhi rumah ini, Si Brewok juga di antara mereka."

Tak tahan si Brewok tiba-tiba tertawa, ujarnya: "Selamanya Cayhe belum pernah jadi Hwesio, setiap hadirin bisa menjadi saksi."

"Adakah orang menjadi saksi akan pembelaan Li-sicu?" tanya Hwesio tua, "Lalu ke mana para Hwesio yang penghuni rumah ini?"

"Semua sudah... sudah pergi." "Ke mana?"

"Tidak tahu."

"Setelah mereka pergi, adakah lain orang di dalam rumah ini?"

"Tidak, satu pun tiada," belum habis jawabannya, matanya sudah melihat ada orang tak tahan geli tertawa sambil menutup mulut dengan tangan.

Berkilat biji mata Hwesio tua, katanya sambil menyapu pandang ke sekelilingnya: "Apakah kalian siang tadi berada di sini semua?"

Puluhan orang serempak menjawab berpadu: "Semua berada disini." "Kapan tuan-tuan datang kemari?"

"Tepat siang hari aku tiba di sini." "Kemarin malam aku sudah berada di sini."

"Kalian tidak pernah meninggalkan tempat ini?"

"Tidak, pasti tidak," orang-orang itu menjawab secara berlomba. Memangnya setan judi kalau sudah pegang kartu, umpama kau usir dia dengan mencambuknya, jangan harap kau bisa mengusirnya pergi. Saking marah dan naik pitam, serasa hampir gila Dian Susi dibuatnya, teriaknya: "Mereka membual seluruhnya. Tengah hari tadi, terang dalam rumah ini sudah kosong melompong orang- orang ini tiada satu pun yang ada di sini."

Hwesio tua mengawasinya, katanya dingin: "Tujuh delapan puluh Sicu yang hadir di sini semua membual memangnya hanya Li-sicu seorang yang tidak membual," demikian sindirnya.

"Kenapa aku harus membual?"

"Tahukah kau siapakah Hwesio yang meninggal ini?" "Tidak tahu, perduli siapa dia."

Sorot mata Hwesio tua cilik diliputi rasa gusar dan penasaran, katanya: "Gelarnya adalah Bu- bing (tanpa nama). Dia adalah Sute Lo-ceng."

Mendadak si Brewok berteriak kaget: "Hah, apakah dia Hwesio pendekar nomor satu dari kalangan agama yang dijuluki Hwesio Banyak Urusan dari Siau-lim yang bergelar Bu-bing Taysu?"

Hwesio tua cilik manggut-manggut, ujarnya: "Kalau jelas seorang Hwesio, buat apa dinamakan pendekar segala? Kalau memang sudah Bu-bing (tanpa nama), kenapa harus banyak urusan? Kalau dia tidak masuk neraka, siapa yang akan masuk neraka?"

"Lalu..." si Brewok mencelos, "Taysu kau..."

"Loceng Bu-sek, datang dari Siau-lim pula." Begitu Hwesio tua cilik ini menyebut nama

gelarnya, mendadak suasana menjadi sirap dan hening, tiada orang berani tertawa dan berkelakar lagi.

Perduli dia kaum persilatan atau bukan, siapapun pasti sudah cukup kenal akan ketenaran dua Hwesio pelindung biara Siau-lim-si. Sejak tadi Dian Susi merasa uring-uringan dan penasaran. Kini dia pun berdiri diam tak berkutik lagi. Karena terasa olehnya segulung hawa dingin yang mendadak mengalir di sekujur badannya, seolah-olah di malam gelap kakinya kejeblos ke dalam lubang salju yang dalam dan dingin.

Perduli tempat ini sarang judi atau biara. Perduli si Brewok atau si Plontos, semua ini tidak menjadi soal. Tapi jikalau sampai terjadi murid Siau-lim-pay terbunuh, membunuh Hwesio pendekar yang punya nama dan disegani di Kangouw, semua ini merupakan kejadian lain pula. Baru sekarang Dian Susi menyadari bahwa semua kejadian aneh-aneh yang dialami tadi tidak lain merupakan jebakan atau muslihat yang sudah direncanakan sebelumnya. Bukan saja muslihat ini amat menakutkan, malah terasa amat gawat dan genting. Dirinya dan Cin Ko sudah terjebak ke dalam muslihat yang sudah direncanakan lebih dulu ini, untuk membebaskan diri, jelas tidak mungkin dan sulit. Untuk pertama kali ini selama hidupnya benar-benar menyelami, difitnah orang adalah suatu hal yang amat menakutkan.

Semua orang menatapnya dengan berbagai perasaan, yang terang sorot mata mereka sekarang jauh berbeda dengan pandangan mereka tadi.

Kalau tadi semua anggap dirinya gadis edan yang ngoceh tak karuan, malah terasa lucu dan menggelikan. Tapi semua kini mengawasi dirinya, seakan-akan sedang mengawasi sesosok mayat yang sudah tak bernyawa lagi.

"Kenapa aku harus membual?"

"Sudah tentu mungkir, siapapun yang membunuh Bu-bing Taysu, pasti takkan mengaku terus terang."

Suara serak Dian Susi kedengarannya sember: "Dengan kalian aku tak bermusuhan apa-apa, kenapa kalian memfitnah dan mencelakai aku?"

Si Brewok memicing mata mengawasinya dingin, kakinya menyurut pelan-pelan. Orang-orang lain segera meneladani perbuatannya ikut menyurut mundur, seolah-olah badan Dian Susi dihinggapi penyakit menular, takut ketularan.

Dengan kalap Dian Susi memburu maju merenggut lengan baju seorang, bentaknya: "Aku tahu kau ini seorang jujur, kenapa tidak kau beritahu kepada mereka, bahwa tadi siang hakikatnya kau tidak berada di sini. Bahwasanya seorang pun tiada di sini." Selama hidup belum pernah dia minta-minta kepada orang lain, namun sorot mata dan mimik wajahnya menunjukkan belas kasihan.

Walau muka laki-laki itu pucat pasi, namun dia tetap berkukuh pendapat, sahutnya dingin: "Kalau tadi siang aku tidak di sini, cara bagaimana bisa kalah lima ratus tail perak?"

Merah biji mata Dian Susi, tak tahan lagi telapak tangannya melayang menggampar pipi orang. Orang itu hanya meraba-raba pipinya yang bengap kesakitan, bukan saja tidak marah dia pun tidak minta ampun.

Namun Hwesio tua tidak ambil perduli, dalam keadaan serba kritis ini, dia bersikap tenang dan menghitung tasbih serta membaca mantram mendoakan arwah Bu-bing Taysu mendapatkan tempat di sisi sang Budha. Memangnya dia tidak gugup atau gelisah, yang jelas dua orang tertuduh ini takkan mungkin melarikan diri. Kembali Dian Susi memburu ke depannya, teriaknya lantang: "Baiklah, kutanya kau sekali lagi, aku tak bermusuhan apa-apa dengan dia, siapakah namanya pun aku tidak tahu, dengan alasan apa aku harus membunuhnya?"

Lama sekali Bu-sek Taysu terpekur, akhirnya bicara pelan-pelan: "Kabarnya dia sudah masuk ke San Liu (aliran gunung)."

"Karena dia masuk San Liu, maka aku harus membunuhnya?" debat Dian Susi.

"Mungkin bukan hanya kalian saja yang ingin membunuhnya," ujar Bu-sek menghela nafas. "Begitu menjadi anggota San Liu, tak ubahnya masuk ke dalam neraka."

Kembali Dian Susi berjingkrak, serunya lantang: "Nah itulah kesalahanmu, apakah San Liu itu aku toh tidak tahu."

Bu-sek Taysu menarik muka, katanya: "Di depan Loceng, siapapun tak berani kurang ajar."

"Kau yang tidak tahu aturan atau aku yang kurang ajar? Umpama benar aku ingin membunuhnya, apa aku mampu melakukan?"

Sejak tadi Cin Ko berdiri di samping diam saja berpeluk tangan seperti sedang terlongong, kini mendadak dia menghela nafas serta menimbrung: "Takkan berguna."

"Apanya tidak berguna?" tanya Dian Susi. "Apapun yang kau katakan takkan berguna." "Tapi aku..."

"Kalau kau tidak mampu membunuhnya, aku toh cukup mampu." "Tapi kau tidak membunuhnya?"

"Kecuali kau, siapapun takkan bisa membuktikan bahwa aku tidak membunuh kepala gundul itu."

Dian Susi melenggong.

Mendadak Cin Ko terloroh-loroh dengan mendongak serunya: "Luka-luka pedang dan golok di badan Cin Ko, besar kecil tak kurang dari lima ratus banyaknya, terjebak sekali lagi dengan muslihat ini pun takkan menjadi soal buat diriku."

Kereng muka Bu-sek Taysu, katanya: "Sudah lama Loceng dengar Cin sicu memang seorang laki-laki sejati..." "Takkan salah," seru Cin Ko tetap terloroh-loroh, "jikalau kau berkukuh menuduh aku yang membunuh Sutemu, boleh kau anggap memang akulah yang membunuhnya."

"Baik, kalau begitu, silahkan sicu ikut pinceng pulang ke Siauw-lim-si."

"Hayo sekarang juga, jangan kata Siau-lim-si, umpama gunung golok atau wajan minyak mendidih, aku orang she Cin takkan mundur setapakpun."

Mendadak Dian Susi menarik lengan bajunya, serunya: "Kau... untuk apa kau ikut dia pulang ke Siau-lim-si?”

"Terserah apa yang mereka inginkan atas diriku." "Mereka toh ingin mencabut nyawamu."

"Tidak apa."

"Untuk menebus jiwamu kau berjuang mati-matian, memangnya begitu gampang kau diajak pergi tanpa tahu juntrungan persoalannya?"

Hwesio pertengahan umur yang bermuka kereng gagah itu tiba-tiba menyeletuk: "Nona jangan lupa, pembunuh orang harus dihukum mati pula, hal ini bukan saja sudah merupakan hukum Thian, juga merupakan undang-undang negara."

"Jangan lupa kau ini orang beribadah," debat Dian Susi, "kenapa buka mulut tutup mulut bicara soal membunuh orang, ajaran Budha pantang membunuh barang berjiwa, apakah gurumu tidak mengajarkan kepadamu tentang ajaran ini?"

Hweso pertengahan umur itu menarik muka, katanya dingin: "Lihay benar mulut nona cilik ini." "Salah matamu sendiri, masakah orang baik orang jahat tidak bisa kau bedakan?"

Merah padam muka Hwesio tengah umur, bentaknya bengis: "Mulut orang beribadah memang kurang tajam, tapi..."

"Tutup mulut!" mendadak Bu-sek Taysu menghardik: "Sudah sekian tahun kau belajar mengekang diri, kenapa masih cerewet dan adu mulut segala?"

Lekas Hwesio tengah umur merangkap kedua tangan sambil membungkuk serta menyurut mundur: "Tecu tahu bersalah."

Sampai pada babak sekarang, setiap hadirin mempunyai dua pendapat dan dua analisa. Bahwa Siau-lim-pay memang keras berdisplin, tapi orang sembarangan tidak boleh mengganggu atau merugikan mereka. Demikian pula Cin Ko ternyata memang seorang laki-laki keras, laki-laki jantan.

Tapi bagaimana akhir dari persoalan ini nanti? Tiada orang yang bisa meramalkan.

"Justru karena Loceng pantang membunuh, maka kali ini aku hanya membawa Cin sicu pulang saja."

"Untuk apa kau bawa dia pulang?" tanya Dian Susi.

"Diselesaikan atau bila perlu dihukum sesuai dengan undang-undang yang berlaku."

"Dia kan bukan murid Siau-lim kalian, dengan hak apa kau akan menghukumnya dengan undang-undang perguruanmu?"

"Yang dia bunuh adalah murid perguruan kita, maka perguruan kita punya hak untuk menghukumnya."

"Siapa lihat bahwa dia yang membunuh Hwesio Siau-lim-si kalian?" "Kenyataan sudah membuktikan, kenapa harus pakai saksi segala?"

"Apa arti bukti kenyataan? Siapa yang pernah lihat dia membunuh Hwesio Banyak Urusan ini, siapa pula yang bisa membuktikan bahwa benar dia yang turun tangan?"

"Waktu itu hanya kalian berdua saja yang punya kesempatan turun tangan." "Kenapa kau berpendapat demikian?"

"Hanya kalian saja yang berada bersama dia." "Waktu itu kau berada di mana?"

"Masih di tengah jalan."

"Kalau kau masih di perjalanan, darimana kau tahu siapa yang pernah masuk ke dalam rumah?"

Timbul amarah di muka Bu-sek Taysu, katanya: "Nona cilik kenapa main debat dan mencari alasan belaka?"

"Kaukah yang menuduh semena-mena atau aku yang banyak alasan?"

Gusar Bu-sek Taysu dibuatnya, dampratnya: "Nona cilik yang bermulut tajam, loceng memang tidak pandai bicara, namun tindakan menundukkan iblis masih mampu kulakukan." Agaknya dia lupa pernah melarang para muridnya bicara kasar. Dian Susi menyeringai dingin, jengeknya: "O, jadi hanya Hwesio tua saja yang boleh main tuduh dan fitnah, Hwesio cilik tidak boleh."

"Tutup mulutmu!" bentak Bu-sek Taysu. "Siapa berani kurang ajar lagi, jangan salahkan bila loceng turun tangan tak kenal kasihan.

"Kau ingin berkelahi? Bagus!" seru Dian Susi, lalu berpaling kepada Cin Ko, katanya menepuk pundak Cin Ko. "Dia ingin berkelahi, kau sudah dengar tidak?"

"Sudan dengar," sahut Cin Ko. "Kau takut tidak menghadapinya?"

"Memangnya aku hanya pandai main jotos, tak bisa perang mulut."

Dian Susi tepuk tangan kegirangan, serunya tertawa: "Nah begitu. Laki-laki jantan lebih rela dihajar pecah kepalanya daripada difitnah semena-mena. Hayolah siap tempur layani apa keinginannya."

"Aku menurut kemauanmu saja," ujar Cin Ko, belum habis perkataannya, tahu-tahu Cin Ko sudah menubruk maju, kepalannya menggenjot muka Hwesio pertengahan umur yang berdiri paling dekat. Serangannya sungguh cepat sekali, namun Hwesio tengah umur ini pun bukan lawan lemah, segera dia menekuk dengkul merendahkan badan dengan gaya orang duduk di

punggung kuda, berbareng tangan kiri terangkat naik menangkis, sementara kepalan kanan balas menghantam dari bawah ke atas.

Siau-lim-si kenamaan karena dari ilmu pukulannya yang menggetarkan dunia, cara menangkis balas menyerang sekaligus ini, adalah jurus-jurus yang paling lihay dari Hu-hou-lo-han-kun dari Siau lim-pay.

Tak nyana Cin Ko ternyata tidak berkelit dan tidak berusaha menangkis, dengan kekerasan dia mandah digenjot sekerasnya. "Blang" kepalan sebesar mangkok Hwesio tengah umur itu dengan telak mampir ke perutnya.

Semua hadirin menjerit kaget, siapapun takkan menyangka Cin Ko yang sudah terkenal dan dikagumi semua lapisan persilatan ternyata begini gampang dipukul orang. Lebih tak tersangka lagi, meski seluruh hadirin yang menyaksikan berteriak kaget, orang yang kena pukul sedikit pun tiada bersuara, seperti tidak terkena pukulan.

Begitu kepalannya mengenai perut Cin Ko, Hwesio tengah umur merasa tangannya seperti memukul sebuah batu besar, tangan sendiri yang sakit. Baru saja dia melengak keheranan. Dari samping belakang Bu-sek Taysu sudah menghardik: "Awas!" Belum hilang suara peringatannya, kepalan Hwesio pertengahan sudah dipegang oleh Cin Ko. Disusul kepalan Cin Ko balas menghajar perutnya. Ternyata Hwesio tengah umur tidak sekebal dirinya yang kuat dipukul perutnya, kontan dua tangannya memeluk perut dengan tersurut mundur sempoyongan, keringat dingin sebesar kacang berketes-ketes di atas kepalanya, berdiri tegak pun tak kuasa lagi.

Dian Susi menghela nafas lega, katanya tertawa: "Ilmu kepandaian apakah yang kau gunakan?" "Inilah yang dinamakan ilmu terima digebuk," sahut Cin Ko.

"Mandah digebuk juga termasuk ilmu kepandaian?"

"Nah kau memang belum mengerti, sebelum belajar memukul orang, belajarlah dulu mandah dihajar orang, bukan saja harus kuat dihajar kepalan, kau pun harus kuat dihajar senjata tajam." Memangnya Cin Ko kuat dibacok dan dilukai oleh golok, di badannya ada bekas luka bacokan sebanyak empat ratus tujuh puluh dua.

Dian Susi tertawa: "Benar, dia memukulmu sekali, kau pun balas menggenjotnya sekali, sayang dia tak sekuat kau yang kuat dihajar."

Cin Ko tertawa, ujarnya: "Akhirnya kau mengerti juga akan teori ini.”

Membesi hijau muka Bu-sek Taysu, pelan-pelan ia tampil ke muka, katanya tertawa dingin: "Bagus. Ingin Loceng menyaksikan, berapa banyak kau mampu terima hajaranku?"

"Kau pun ingin mencobanya?" tantang Cin Ko. "Silahkan."

"Baik," berbareng kepalannya segera melesat, gaya dan tipu serangan yang dipakai tetap seperti tadi. Bu-sek Taysu juga merendahkan badan seperti orang duduk di punggung kuda, tangan kiri terangkat menyampok miring, sementara kepalan kanan serentak balas memukul. Gaya dan serangannya mirip dengan apa yang dilakukan oleh Hwesio tengah umur tadi. Tapi bagi seorang ahli, cukup hanya mengulur tangan menggerakkan kaki, sudah dapat diketahui isi dan kehebatan serangannya, kalau tidak takut yang tidak mengenai kualitas barang, justru harus gentar menghadapi barang yang benar benar-benar tulen. Perawakan dan kepalan tangan Bu-sek Taysu memang jauh lebih kecil dibanding Hwesio tengah umur tadi, namun jurus pukulan ini penuh dilandasi kekuatan dalam yang hebat dengan seluruh himpunan semangatnya lagi, umpama balok besar pun bisa dipukulnya hancur berkeping-keping.

Tak nyana untuk kali ini Cin Ko tidak mandah dipukul lagi. Tiba-tiba badannya melejit naik ke atas, di tengah udara jumpalitan melejit lewat dari atas kepala Bu-sek Taysu, dua jari dirangkap menutuk Giok-sim-hiat di belakang batok kepala Bu-sek Taysu. Jurus ini bukan saja amat berbahaya, lihay, gesit dan tangkas, juga teramat cepat dan tepat, jauh berlainan dengan kepandaian mandah digebuk seperti tadi.

"Bagus!" Bu-sek Taysu menghardik. Mendadak dia mendongak mundur dengan gaya jembatan besi, seketika terdengar suara gemerincing riuh, ternyata biji-biji tasbihnya yang terbuat dari besi sudah terayun ke belakang menggulung pergelangan tangan Cin Ko.

Kedua kaki Cin Ko menendang ke belakang, badannya dengan enteng dan lincah tiba-tiba menggeser tiga kaki, begitu ujung kakinya menutul di pundak seseorang yang berdiri tak jauh di belakangnya, badannya lantas mumbul ke tengah udara. Tak nyana biji-biji tasbih Bu-sek Tasyu ikut melesat terbang dengan menderu keras bagai golok emas membelah udara. Betapapun cepat luncuran badan Cin Ko, takkan mampu secepat biji-biji tasbih yang mengejamya. Umpama benar dia betul-betul kuat dihajar, tapi bila biji-biji tasbih ini mengenai badannya perduli mengenai di mana saja asal di badannya, rasa sakitnya tentu bukan kepalang.

Dian Susi sudah tak tertahan menjerit kaget, tak nyana tepat pada saat itu terdengar "Brak", atap rumah tiba-tiba ambrol dan bolong besar. Sebuah tangan terulur masuk dari luar lubang, sekali raih dengan tepat dia tangkap rentengan biji tasbih itu.

"Siapa?" Bu-sek Taysu membentak gusar.

Di atas rumah seseorang berkakakan panjang, sahutnya: "Seorang yang mau mengetuk bolong batok kepalamu, terutama Hwesio-hwesio yang banyak urusan."

Dian Susi seketika berteriak: "Jangan lepaskan dia pergi, mungkin dialah orang yang membunuh Bu-bing Taysu."

Tak usah dia berkaok-kaok, Bu-sek Taysu tanggalkan jubahnya, dengan gerakan Burung Bangau Menjulang ke Langit, kakinya menjejak, badannya melesat naik bagai seekor bangau menerobos lubang besar itu. Tepat pada saat itu dari atas rumah beruntun melesat turun puluhan sinar bintik- bintik dingin yang berbunyi tang-ting riuh, seluruh lampu yang ada di dalam rumah seketika padam. Dalam kegelapan hadirin menjadi panik dan gaduh. Untung Dian Susi melihat jelas arah Cin Ko melompat turun, lekas dia memburu ke sana serta bersuara lirih: "Di mana kau?" Sebuah tangan terulur menggenggam tangannya.

Kata Dian Susi: "Tak perlu kita terlibat perkara yang tak keruan juntrungannya, hayolah pergi."

"Sekarang juga pergi, bukankah mereka semakin yakin akan tuduhannya bahwa aku pembunuhnya?"

"Kau tidak pergi mereka pun tetap menuduhmu sebagai pembunuh." "Baik, hayolah pergi saja." Pintu tetap terbuka, di luar sinar bintang masih kelihatan kelap-kelip, dengan menarik tangan Cin Ko, Dian Susi menerjang keluar.

Tahu-tahu dilihatnya seorang berdiri menghadang di tengah pintu, tangannya menenteng golok, selebar mukanya ditumbuhi cambang bauk lebat, bentaknya bengis: "Kalian ingin melarikan diri, hai kawan-kawan lekas tahan dia," sembari berteriak, goloknya terayun membacok Cin Ko.

Cin Ko tertawa dingin, mendadak dia malah menerjang maju memapak sambaran golok lawan yang berkilau tajam. Agaknya apapun ditakuti, cuma tidak takut golok. Betapapun cepatnya serangan golok tak pernah dia gentar menghadapinya. Keruan si Brewok sendiri yang keripuhan gugup, belum lagi goloknya sempat membacok, golok di tangannya tahu-tahu sudah dirampas Cin Ko.

Cepat sekali tahu-tahu sinar golok berkelebat, sinar golok menyambar lewat menyisir muka si Brewok. Tahu-tahu terasa oleh si Brewok mukanya menjadi silir dingin, saking kaget dan ketakutan serasa copot nyalinya, tanpa terasa tangan dia ulur meraba mukanya, ternyata bagian bawah dagunya licin halus. Serta dilihatnya benang hitam beterbangan di depan mukanya, baru dia sadar bahwa jenggotnya sudah tercukur kelimis.

Cepat sekali gerakan golok, ilmu golok yang lihay dan hebat. Saking ketakutan mata terbelalak, kaki pun lemas, kontan dia meloso jatuh terduduk.

Terdengar suara cekikikan tawa Dian Susi dari luar pintu, katanya: "Tadi kan sudah kukatakan Kim-toa-hu-cu sudah tidak punya brewok lagi."

Cin Ko berkakakan, serunya: "Selembar jenggot pun tiada lagi."

*****

Sekarang soal Jenggot atau Brewok sudah tiada persoalan. Namun bagaimana dengan Hwesio? Siapakah sebenarnya pembunuh Hwesio Banyak Urusan ini? Apakah orang yang mengulurkan tangan dari atap rumah tadi?

Kenapa dia bunuh Hwesio yang satu ini? Kenapa pula dia menolong Cin Ko? Siapa pula dia sebenarnya?

*****

Semua persoalan di atas tak gampang diselesaikan dalam waktu dekat. Bintang kelap-kelip di cakrawala nan membiru gelap. Akhirnya Dian Susi berhenti berlari, nafasnya tersengal-sengal. Di tempat itu dia takkan melihat Hwesio lagi, takkan melihat Brewok pula. Mengawasi muka Cin Ko tiba-tiba Dian Susi tertawa, katanya: "Untung kau tidak memelihara jenggot, nasibmu memang beruntung."

"Nasibku beruntung?" tanya Cin Ko tertawa kecut.

"Jikalau kau memelihara jenggot, aku pasti mencabutnya satu demi satu," dengan mengerut kening dia menambahkan: "Kau kenal tidak si Brewok gede itu?"

"Bukan saja tidak kenal, melihatnya pun belum pernah," sahut Cin Ko.

"Aku pun belum pernah melihatnya, diantara sekian banyak orang-orang yang pernah kulihat, paling punya jenggot setengah dari apa yang dimiliki oleh si Brewok itu."

Mengawasi golok di tangannya, Cin Ko tertawa, katanya: "Untung golok ini amat cepat bekerja, kalau tidak bukan soal gampang untuk mencukur kelimis seluruh brewoknya itu."

Dian Susi tertawa, umpaknya: "Tak nyana kecuali mandah dihajar, ilmu golokmu ternyata lihay juga."

"Seseorang bila pernah merasakan empat ratus tujuh puluh dua bacokan golok, bagaimanapun ilmu goloknya takkan rendah."

"Tapi Hwesio tua itu memang teramat lihay," ujar Dian Susi, "manusia kerdil yang tampangnya seperti kera itu, ternyata begitu hebat dan sukar dilayani."

"Ribuan Hwesio Siau-lim-si dari yang muda sampai yang lanjut usia, tiada satu pun yang enak dilayani, apalagi Hwesio yang ini adalah Hwesio pilihan yang paling sukar dilayani di antara sekian ribu Hwesio itu."

"Apakah benar dia tokoh nomor satu dari Siau-lim-pay?"

"Umpama bukan yang nomor satu, tingkatannya tentu bukan sembarangan." "Tak heran kau bukan tandingannya."

"Siapa bilang aku bukan tandingannya?" mata Cin Ko mendelik. "Yang nyata bila tadi tiada orang menolong, mungkin kau sudah..." "Itu tak masuk hitungan."

"Kenapa?" "Karena dia menggunakan senjata, sedang aku bertangan kosong, dalam permainan senjata aku sudah dirugikan lebih dulu."

"Yang dipakai kan hanya serenteng biji tasbih saja."

"Biji tasbih itu adalah senjatanya, orang beribadah yang keluyuran di luar, tentu tak sedap dipandang mata bila membekal senjata, umpama golok atau pedang, terutama Hwesio bangkotan yang punya gengsi dan kedudukan tinggi, maka dia menggunakan senjata yang tak menyerupai senjata."

"Bagaimana bila dia pun bertangan kosong? Kau mampu mengalahkan dia?" "Paling tidak aku takkan dikalahkan."

"Siau-lim-pay adalah aliran silat lurus yang paling murni, selama ratusan tahun tiada perguruan silat manapun yang pernah mengunggulinya, bahwa ilmu silatmu setanding dengan tokoh nomor satu Siau-lim-pay, bukankah kau sudah tiada tandingan di seluruh jagat?"

"Hehe, haha."

"Apa maksudnya hehe dan haha?"

"Maksudnya aku bukan tokoh yang nomor satu tiada tandingan di jagat ini."

"Lalu menurut pendapatmu, berapa jago silat dalam dunia ini yang berkepandaian lebih tinggi darimu?"

"Kabarnya Bik-lwe-to di laut timur, walikota dari Pui-cui-seng, betapa cepat dan tinggi permainan ilmu pedang mereka, tiada bandingannya di dunia ini."

"Apakah mereka boleh dipandang nomor satu?" "Tidak mungkin."

"Lalu siapa yang boleh dianggap nomor satu di seluruh jagat ini?"

"Siau-li si Pisau Terbang," di saat menyebut nama orang, rona mukanya menampilkan rasa hormat dan segan. Memangnya jago silat siapa yang tak merasa kagum bila menyebut atau mendengar nama si Pisau Terbang, mereka yang tidak mengaguminya sudah selamat tinggal seluruhnya.

Dian Susi sendiri pun tersirap kagum, katanya: "Apa yang kau maksud adalah Li Sin-hoan Li Tam-hoa?"

"Kecuali dia siapa lagi yang setimpal?" "Kabarnya sudah lama dia mengasingkan diri, apakah sekarang masih hidup?" "Sudah tentu masih hidup, orang seperti dia sepanjang masa akan hidup abadi."

Apa yang dikatakan Cin Ko memang tidak salah, ada sementara orang seolah-olah memang tidak pernah mati, karena sepanjang masa namanya terukir di sanubari orang lain.

"Kita tak usah menghitung orang-orang yang sudah mengasingkan diri, hitung saja yang sekarang masih bergerak di kalangan Kangouw."

"Kalau begitu tidak banyak jumlahnya," berpikir sebentar Cin Ko lantas melanjutkan: "Siau-lim Ciang-bun Bu-kin Taysu, lwekangnya yang tinggi, katanya tak bisa diukur."

"Kau pernah bergebrak melawan dia?" "Belum, aku tidak berani."

"Bagus, boleh hitung dia satu di antaranya."

"Masih ada Hwi-to-jin dari Bu-tong, Kok-to-jin ahli pedang dari Pek-san, Tay-bok-sin-liong... orang-orang itu lebih baik kalau aku tidak kesamplok dengan mereka."

"Hanya beberapa orang ini?"

"Kecuali itu, sedikitnya masih ada satu." "Siapa?"

"Orang yang menolongku tadi."

"Jangan kata tampangnya, bayangannya pun kau tidak melihatnya, darimana kau berani bilang tinggi rendah kepandaiannya?"

"Dia di atap rumah, sekali ulur tangan menembusi genteng, dan tepat menangkap tasbih Bu-sek, dengan pertunjukan ini, terang aku tak mampu melakukannya."

"Memang kepandaiannya itu teramat hebat." "Masih ada yang lebih hebat."

"Timpukannya yang memadamkan lampu itu?"

"Benar, kepandaian menimpuk senjata rahasia setinggi itu, boleh dikata jarang ada orang yang mampu melakukannya."

"Menurut pendapatmu, apakah pembunuh Bu-bing dia adanya?" "Aku hanya tahu Hwesio itu bukan aku yang membunuhnya."

"Orang-orang itu tak bermusuhan dengan kita, bertemu muka pun belum pernah, kenapa memfitnah kita?"

"Mungkin mereka hanya menggunakan akal menjatuhkan bencana kepada orang lain."

"Maksudmu mereka takut membunuh Bu-bing Hwesio, lalu menggunakan cara keji ini untuk mengalihkan perhatian pihak Siau-si kepada kita?"

"Kira-kira begitu maksudnya."

"Tapi siapa mereka itu, kenapa menginginkan kematian Bu-bing Hwesio?" "Tahukah kau apa arti Siau-lim-pay tiga huruf?"

"Aku tahu," sahut Dian Susi tegas. Memang dia harus tahu, selama ratusan tahun, di dalam pandangan dan pendengaran orang-orang Kangouw umumnya, nama Siau-lim-pay berarti aliran silat murni yang lurus. Maka bila kau seorang normal, siapapun takkan suka mempersulit diri untuk mengusik mereka.

"Kau tahu tingkat kedudukan Bu-bing Hwesio dalam Siau-lim-pay?” "Yang terang kedudukannya tidak rendah."

"Kenapa agaknya tidak rendah?"

"Kabarnya, kecuali Ciangbun Hong-tiang yang paling tinggi, di bawahnya adalah dua pelindung besar."

Cin Ko geleng-geleng, katanya: "Kalau dinilai serius, bukan lagi dua tapi ada empat pelindung besar."

"Sebenarnya dua besar atau empat besar?" tanya Dian Susi. "Kenyataannya ada dua besar dua kecil."

Dian Susi tertawa, ujarnya: "Tak kira jadi Hwesio juga punya pangkat segala, harus dibagi tingkat dan kelas segala."

"Maksud dari dua besar adalah usia kedua orang ini sudah cukup lanjut, latihan ilmu silat dan ajaran agamanya sudah mencapai tinggkat tertinggi, maka bila tidak terlalu terpaksa mereka tak mau mencampuri urusan duniawi."

"Lalu bagaimana dengan dua pelindung kecil?" "Usia kedua pelindung yang ini biasanya masih gagah dan baru menanjak pertengahan, mereka berdualah yang benar-benar diserahi tugas untuk mengurus segala persoalan dalam Siau-lim-pay, oleh karena itu bukan saja dua orang ini harus cerdik dan adil, ilmu silatnya pun harus tinggi."

"O, jadi dua pelindung kecil bukan berarti orangnya kecil."

"Bu-bing Hwesio semula memang salah satu pelindung Siau-lim-pay, yaitu Sute terkecil dari Bu- kin Taysu, Ciangbun Hong-tiang yang berkuasa sekarang."

"Sepintas lalu kelihatannya dia tidak punya wibawa sebesar itu."

"Selama ratusan tahun, hanya semacam orang saja yang berani membunuh pelindung Siau-lim." "Orang macam apa?"

"Orang gila."

"Jadi kau kira orang-orang itu semua gila?" "Orang gila harus dibagi dua macam pula." "Dua macam bagaimana?"

"Yaitu orang gila sendiri dan gila karena dipaksa dan tertekan oleh keadaan."

Berputar biji mata Dian Susi, katanya: "Kau kira mereka gila lantaran dipaksa oleh Bu-bing Hwesio?"

"Pasti tak salah."

”Kenapa Bu-bing Hwesio memaksa mereka?"

"Karena Hwesio yang satu ini suka mencampuri urusan orang.”

"Bahwa dia salah satu pelindung Siau-lim-si, kenapa masih suka urusan?” "Tadi kukatakan semula dia adalah pelindung Siau-lim-si."

"Semula, jadi sekarang bukan lagi?"

"Enam tujuh tahun yang lalu dia sudah bukan pelindung lagi." "Apa dia diusir dari perguruan?"

"Bukan, dia sendiri yang ingin pergi." "Betapa susahnya untuk merambat ke tingkat kedudukannya yang tinggi itu, kenapa ditinggal pergi begitu saja?"

"Soalnya Siau-lim-si terlalu dingin, sebaliknya hatinya bergelora dan mendidih panas." "Oleh karena itu dia lebih rela masuk ke neraka."

"Baru sekarang aku dapat menyelami arti dari perkataan ini," ujar Dian Susi. "Ada kalanya orang terjeblos ke neraka bukan lantaran dipaksa orang, tapi dia sendiri yang ingin turun ke bawah untuk menolong orang lain."

Cin Ko tersenyum lebar, ujarnya: "Kau bisa menyelami arti kata yang mendalam ini, itu berarti kau sudah menanjak dewasa."

Cemberut mulut Dian Susi, omelnya: "Memangnya aku kan sudah besar."

"Semula kau hanya gadis pingitan anak seorang hartawan besar, sekarang baru boleh dianggap orang dewasa."

Dian Susi tertunduk diam, memang pelan-pelan dia sudah mulai menyadari, pengalaman selama beberapa hari terakhir ini, betul-betul sudah menambah kedewasaan dirinya. Lama sekali dia terpekur, tiba-tiba dia bertanya: "Tadi Hwesio tua cilik itu mengatakan sepatah kata yang aneh, entah kau tahu tidak maksudnya?"

"Memangnya Hwseio sering bicara serba aneh." "Tapi kata-katanya itu istimewa."

"Kata apa yang dia ucapkan?"

"Dia mengatakan San Liu, apakah maksudnya?" Setelah mendengar kedua huruf ini memang sikap dan mimik muka Cin Ko rada berubah.

"Hwesio tua cilik itu bilang Bu-bing harus masuk neraka karena sudah bergabung dalam San Liu, kau dengar tidak? Lalu apa yang dimaksud dengan San Liu?"

Cin Ko manggut-manggut, lama dia terpekur akhirnya bersuara pelan-pelan: "San Liu adalah serombongan orang."

"Serombongan orang apa?"

"Serombongan kawan-kawan, mereka mempunyai hobby yang sama, maka bergabung menjadi satu, San Liu adalah simbol dari gabungan mereka."

"Apa saja hobby mereka?" "Masuk ke neraka."

"Masuk neraka menolong orang?" "Benar."

"Dalam pandangan mereka, sarang judi adalah neraka, mereka hendak menolong orang-orang yang sudah kejeblos ke neraka, maka sarang judi mereka robah menjadi biara."

"Yang terang biara bukan neraka, di sana takkan ada bara beracun yang dapat membakar hati orang sampai mati."

"Tapi perbuatannya itu pasti akan menimbultan kebencian cukong-cukong judi itu, maka mereka menginginkan jiwanya."

"Ya, kemungkinan begitu," ujar Cin Ko.

"Banyak urusan di Kangouw yang sering dan banyak kudengar, namun belum pernah aku mendengar adanya gabungan San Liu."

"Karena San Liu merupakan sindikat gelap yang rahasia."

"Sepak terjang mereka kan bukan melakukan perbuatan yang memalukan, kenapa harus bekerja sedemikian rahasia?"

"Setelah melaksanakan kerja baik, tetap tidak mau diketahui orang, nah itulah kerja yang benar- benar boleh dianggap baik."

"Tapi untuk melaksanakan kerja baik itu, tentunya tidak gampang." "Memangnya tidak gampang."

"Untuk berbuat baik, tentu harus berbuat salah terhadap banyak orang-orang jahat. Dan orang- orang jahat itu tentunya tidak gampang dihadapi."