Tokoh Besar Bagian 08

Bagian 08

Umpama bumi anjlok dan langit bergoncang pun orang ini takkan bangun, ingin digendong pun dirinya tidak kuat. Maklumlah seorang yang sudah mabuk, badannya seolah-olah lebih berat dari bobot biasanya. Ingin rasanya Dian Susi tinggal pergi perduli keadaan orang lagi, sayang dia tidak tega, apa lagi Cin Ko adalah laki-laki pujaan hatinya, seorang Enghiong besar, seorang tokoh besar pula.

Dian Susi menunduk sambil menghela nafas, tiba-tiba dilihatnya sapu tangan merah yang terikat di leher Cin Ko. Sapu tangan merah, semerah cahaya matahari yang baru menyingsing. Tapi sapu tangan merah ini sekarang sudah berubah seperti kain gosok meja, di mana ada kotoran meja, kena keringat, kena arak dan kotor oleh isi perut yang dia tumpahkan sendiri. Sungguh Dian Susi tidak berani membayangkan, betapa besar pengaruh sapu tangan merah ini di pandangan setiap insan yang mengaguminya. "Betapapun, dia hanya mabuk karena terlalu banyak minum air kata-kata. Setiap orang bisa saja mabuk, jadi kesalahan sepele yang bisa diampuni," dengan menghela nafas Dian Susi berjongkok, dengan sapu tangannya segera dia menyeka keringat dan membersihkan kotoran di mulut dan muka Cin Ko.

*****

Fajar telah menyingsing.

Hari seperti mendadak terang tanah, waktu Dian Susi melihat secercah sinar mentari di ujung tembok di depan sana, baru dia sadar barusan dirinya tertidur tanpa terasa. Dia keheranan, cara bagaimana dirinya bisa tertidur di tempat ini.

Cin Ko dilihatnya masih rebah tengkurap dan mendengkur di pinggir selokan sana. Waktu dia bangkit berdiri, terasa lehernya linu dan pegal, sekuat tenaga dia coba geleng-geleng dan putar ke kanan kiri serta berpaling ke atas dan bawah supaya otot lehernya mengendor, waktu dia celingukan tiba-tiba dia dapati sesuatu yang ganjil, ternyata badannya tertutup selembar selimut tebal dari kain beludru. Semalam jelas dia tidak membawa selimut beludru ini, karena tatkala itu dia merasa teramat dingin, perut lapar lagi, dia duduk memeluk lutut di kaki tembok, hatinya sedang dirundung kepedihan dan kebingungan, entah bagaimana dirinya hendak melewatkan malam dingin yang pekat ini.

Mau tidak mau dalam keadaan serba kekurangan, dia teringat kepada si setan kepala besar, sekarang orang tentu sudah makan kenyang, tidur di ranjang yang empuk memeluk guling berselimut tebal, bukan mustahil di sebelahnya ada perempuan cantik genit dan montok seayu Thio Hou-ji yang menemaninya tidur. Itulah pikiran terakhir yang masih terbayang dalam ingatannya. Tahu-tahu dia sudah tenggelam dalam buaian mimpi.

"Darimana datangnya selimut beludru ini? Tidak mungkin selimut ini jatuh dari langit, mungkinkah tengah malam mendadak Cin Ko siuman dan mencari selimut ditutupkan ke atas badannya? Tapi kenyataan Cin Ko masih rebah di tanah yang basah, gaya tidurnya yang tengkurap pun tidak berubah.

Dengan menggigit bibir, Dian Susi menjublek setengah harian. Pikir punya pikir akhirnya dia berkesimpulan, orang yang mungkin membawa selimut dan menutupi badannya hanya satu orang saja. Tapi dia tidak percaya orang ini sudi berlaku begitu baik terhadapnya. Dia lebih condong untuk tidak mempercayainya.

Untunglah gang kecil tempat mereka berada sekarang terletak di deretan belakang rumah-rumah gubuk yang sepi, entah bagaimana semalam mereka bisa sampai di sini. Sekarang hari sudah terang, namun pintu belakang rumah-rumah itu masih tidak terbuka sehingga belum ada orang yang melihat keadaan mereka yang serba runyam. Lekas Dian Susi berkeputusan, betapapun dia harus berusaha menggugah Cin Ko bangun. Maka sekuat tenaga dia goyang-goyang badan orang.

Mendadak Cin Ko menjerit, akhirnya siuman sambil kucek-kucek mata, teriaknya dengan menggeleng-geleng kepala: "Mau apa kau? Kepalaku hampir pecah kau goyang-goyang."

"Lebih baik kalau batok kepalamu pecah," dengus Dian Susi, "kebetulan bisa mencuci bersih otakmu."

Baru sekarang Cin Ko melihat jelas dirinya, tiba-tiba tertawa, kata-nya: "Ternyata kau, bagaimana bisa berada di sini?"

"Karena aku bertemu dengan setan arak!" sahut Dian Susi dongkol. Cin Ko memegang kepala dan duduk berkeluh-kesah.

Melihat raut muka orang yang kusut dan getir, tak tahan Dian Susi bertanya: "Kau amat menderita?" "Menderita sekali, malah lebih menderita dari kena sakit berat." "Bagaimana kau bisa begini menderita?"

"Setiap kali minum arak dan mabuk, hari kedua aku pasti amat menderita." "Kalau sudah punya ciri demikian, kenapa masih bandel minum arak?" "Laki-laki minum arak, harus punya watak sebagai laki-laki."

"Memangnya watak laki-laki yang suka minum arak baru menunjukan laki-laki itu seorang Enghiong? Kukira itu hanya pertanda bahwa kau adalah setan arak."

"Perduli Enghiong atau setan arak, yang terang keduanya sama laki-laki, tentu lebih baik daripada banci."

"Orang banci pun takkan menderita seperti keadaanmu sekarang."

Cin Ko menggeleng-geleng, ujarnya: "Urusan laki-laki, lebih baik jangan dicampuri oleh perempuan." Lalu dia berbangkit, katanya sambil tepuk-tepuk pundak Dian Susi: "Hayo, ku traktir minum arak."

Terbelalak mata Dian Susi, serunya: "Kau masih ingin minum lagi?" "Tentu harus minum."

"Kau tidak takut menderita?"

"Menderita atau tidak lain persoalan, minum arak adalah persoalan lain pula. Hal ini kaum hawa seperti kau takkan bisa memahaminya," lalu dengan tertawa Cin Ko menambahkan: "Apalagi yang kuminum sekarang adalah arak yang menambah semangat, tentu tidak akan menderita lagi."

Bahwasanya Cin Ko tidak perduli apa ocehan Dian Susi lagi, setelah bersihkan kotoran badan secara ala kadarnya, serta membetulkan letak sapu tangan merah di lehernya, begitu berdiri tegak, kakinya lantas beranjak keluar dari gang sempit ini sambil membusungkan dada. Sapu tangan merah yang melambai tertiup angin di depan dadanya kembali kelihatan amat menyolok. Mau tidak mau Dian Susi harus mengakui, kain yang dia buat sapu tangan merah ini memang dari kualitas yang paling bagus.

Di ujung gang Cin Ko berhenti menunggu Dian Susi, setelah mereka berjajar, baru dia tersenyum, katanya: "Menurut pendapatmu bagaimana keadaanku sekarang?" Tak urung Dian Susi cekikikan geli, sahutnya: "Paling tidak, sudah tidak mirip seekor kucing yang mabuk," tak tahan dia bertanya: "Kemana kau hendak minum arak?"

"Sudah tentu warung arak terbesar di tempat ini." "Warung arak?"

"Saat ini yakin warung-warung arak sudah buka pintu."

"Kau membawa uang tidak?" tanya Dian Susi mengerut kening. "Tidak," jawaban Cin Ko cekak aos dan tegas.

t

Semakin bertaut alis Dian Susi. Tanyanya: "Tak punya uang dengan apa beli arak?"

"Aku minum arak memangnya perlu membeli sendiri?" "Cara bagaimana kau hendak beli arak?"

Cin Ko membusungkan dada, ujarnya: "Begitu aku masuk, banyak orang akan berebut mengundang aku minum arak."

"Tidak rikuh kau terima undangan orang minum arak secara gratis?"

"Kenapa harus rikuh? Bahwa mereka bisa mengundang aku sudah merupakan kebanggaan mereka, aku sudi meminum arak mereka terhitung memberi muka kepada mereka," lalu dengan tertawa dia menambahkan: "Menjadi seorang Enghiong yang kenamaan, sebetulnya memang banyak manfaat dan untungnya."

Dian Susi tertawa. Tiba-tiba terasa olehnya bahwa orang ini meski tidak seagung yang pernah dia bayangkan, tapi orang cukup jujur dan terus terang daripada yang dia bayangkan. Betapapun dia orang masih terlalu muda. Meski ada ciri atau cacatnya, tapi juga ada kebaikan dan kelebihannya.

Dian Susi tertawa, katanya: "Kalau orang melihat keadaan mabukmu semalam, kutanggung mereka tidak akan mentraktir kau minum lagi."

"Keadaanku seperti itu takkan terlihat orang, aku hanya memberi kesempatan orang melihat keroyalanku waktu berjudi, serta kekuatanku minum, bila aku hampir mabuk dan kalah main, keadaanku yang serba runyam itu pasti takkan kuperlihatkan kepada mereka," sambil menyengir dia melanjutkan: "Apa kau pun dengar aku pernah terbacok ratusan kali?"

Dian Susi manggut-manggut, sahutnya tertawa: "Entah berapa ratus kali aku mendengar kisahmu itu." "Pernah kau dengar, setelah aku terbacok luka parah, merambat di tanah, di tengah malam tiba- tiba terjaga bangun dan menjerit-jerit kesakitan sambil bergelintingan di tanah serta meraung- raung minta tolong?"

"Tidak pernah."

"Nah, itulah, tentu sekarang kau sudah tahu akan maksudku?"

Dian Susi memang paham. Jadi orang-orang Kangouw hanya bisa melihat dan mendengar kegagahan dan kejayaannya belaka, justru tidak terpikir oleh mereka di balik cahaya yang terang benderang itu, pasti ada juga lembaran gelap yang mengenaskan. Bukan saja Cin Ko demikian, pahlawan gagah sejak jaman dahulu kala pun demikian. Hal ini diibaratkan rakyat jelata hanya melihat keagungan dan kebesaran seorang jendral perang besar yang disanjung puji, tapi tak pernah terpikir oleh mereka di balik kemenangan dan kebesaran namanya itu, tulang belulang manusia berserakan dan bertumpukan di medan laga.

Dian Susi menghela nafas, ujarnya: "Tak nyana banyak sekali persoalan yang kau ketahui."

"Seorang yang sudah sekian tahun hidup kelana di Kangouw, sedikit banyak pasti berhasil mempelajari dan menambah perbendaharaan pengetahuan dan kenyataan."

Berkedip-kedip biji mata Dian Susi, katanya: "Tahukah kau bagaimana pandangan diriku terhadapmu kemarin malam?"

Cin Ko geleng-geleng.

"Kupandang kau sebagai laki-laki brutal, orang desa yang masih hijau." "Orang desa yang masih hijau?"

"Karena siapa Thio Cu-hong kau tidak mengetahui."

Mendadak ganti Cin Ko berkedip-kedip, katanya: "Kau kira aku betul-betul tidak tahu?" "Kau tahu?"

"Thio Cu-hong adalah Thio Liang, salah satu dari tiga orang gagah pada dinasti Han, di dalam buku sejarah ada dijelaskan perawakan dan tindak tanduk serta sifatnya mirip sekali orang sekolahan yang lemah lembut, tapi ambisinya setinggi langit, dengan mengandal pukulan palunya dalam peristiwa Pho-long-soa itu, namanya tercatat sampai ribuan tahun."

Saking kaget Dian Susi terkesima, tanyanya: "Kau benar-benar tahu? Kenapa kemarin kau berkata demikian?" "Aku memang sengaja."

"Sengaja? Kenapa kau sengaja mengoceh?"

"Karena aku tahu semua orang memuji sanjung kepadaku, karena aku adalah orang demikian, apapun tidak tahu, hanya tahu berkelahi adu jiwa, berjudi habis-habisan, minum sepuasnya."

"Kenapa mereka justru menyanjung manusia demikian?"

"Karena mereka sendiri tidak mampu melakukan," sahutnya dengan tersenyum: "Meski melakukan apapun, asal kau mengadu jiwa hasilnya tentu lebih gampang."

"Aku mengerti," ujar Dian Susi, "karena aku pernah melihat derita mu.”

"Sedikit pun tidak salah, kalau berani mengadu jiwa, kau harus bersiap menderita lebih dulu."

"Tapi kenapa kau tidak bertindak sebagai Enghiong yang berani mengadu jiwa? Bukankah orang akan lebih memujamu?"

"Cara itu justru tidak akan disanjung orang banyak." "Kenapa?"

"Karena terlalu banyak orang-orang seperti itu, paling tidak bukan hanya aku seorang." "O, jadi kalau demikian, orang tidak akan merasa heran dan kagum, benar tidak?"

"Benar, justru karena heran dan kagum, maka sekarang aku baru punya nama setenar ini, baru aku jadi seorang pahlawan besar yang selalu didambakan muda-mudi," seolah olah Cin Ko sendiri merasa bangga dan puas, maka dia menghela nafas, katanya: "Jikalau aku menjadi seorang lain, pasti orang-orang merasa kecewa terhadapku."

"Oleh karena itu, setelah mabuk kau mengakui, menjadi Enghiong bahwasanya tidak enak dan banyak resikonya."

"Benar."

"Tapi Enghiong banyak ragamnya, kenapa justru suka menjadi Enghiong yang satu ini?"

"Soalnya orang banyak yang menentukan aku sebagai Enghiong seperti itu, sekarang tak mungkin diubah lagi."

"Dan kau sendiri ingin tidak merubahnya?" "Tidak, aku tidak ingin merubahnya." "Kenapa?"

"Karena lambat laun aku sudah biasa, sampai ada kalanya aku sendiri pun merasa apa yang dipilih atas diriku memang sudah benar."

"Sebetulnya bagaimana?"

"Sebetulnya tulen atau palsu, aku sendiri pun tidak bisa membedakan." Lama Dian Susi terpekur, katanya kemudian: "Aku tidak mengerti." "Kau tidak perlu tahu, karena inilah kehidupan manusia."

Akhirnya Dian Susi manggut-manggut, ujarnya: "Sebelum aku melihatmu, mimpi pun tak pernah terpikir olehku bahwa kau adalah manusia demikian."

"Kau kira aku manusia macam apa?" "Coba kau terka?"

"Kukira kau anggap aku adalah tokoh besar yang luar biasa, aku akan mengundangmu minum arak."

*****

Bahwasanya Cin Ko bukan seorang tokoh besar, bukan malaikat, namun di dalam pandangan dan sanubari orang-orang Kangouw dia memang seorang Enghiong yang paling mendapat banyak sambutan. Perduli di manapun dia berada, orang banyak selalu menyambutnya, menyanjung memuji dan bersorak gembira.

Saat mana mereka tengah beranjak di sebuah jalan kecil yang sepi, pagar tembok di kedua sisi jalan amat tinggi, dahan-dahan pohon terjulur keluar dari balik tembok sebelah dalam, sinar matahari sampai terhalang karenanya.

Tiba-tiba Dian Susi tertawa, katanya: "Sungguh aku tak nyana begitu banyak orang berebutan mengundangmu minum."

Biji mata Cin Ko sudah bersinar, karena arak dalam perutnya sudah mulai bekerja, namun dia belum mabuk. Mengawasi daun-daun pohon di balik tembok, katanya kalem: "Tahukah kau kenapa mereka menyambutku begitu rupa?"

"Karena kau seorang Enghiong?"

"Itu hanya salah satu sebab, tapi bukan yang terpenting." "Yang penting apa?"

"Yang penting, mereka tahu aku tiada tekanan dan ancaman bagi mereka. Karena aku tidak lebih hanya seorang laki-laki kasar dan gegabah yang brutal, sering emosi dan tidak tahu diri, maka sedikit pun tiada sangkut paut dan tiada untung ruginya bagi usaha atau kerja mereka," tawanya kali ini amat memilukan, "mereka menyukai aku, menyambutku, ada kalanya mengelu-elukan aku seperti mereka menyambut seorang aktor yang kenamaan, maka diriku sendiri jelas takkan merugikan kepentingan dan bentrok dengan usaha mereka."

"Apa kau tidak terlalu rendah menilai dirimu sendiri?"

"Kenapa aku harus menilai rendah diriku sendiri, soal ini memang kenyataan, tapi ada juga segi- segi suksesku. Menurut apa yang kutahu, sejak jaman dahulu sampai sekarang para Enghiong yang kenamaan di Kangouw jarang ada yang mendapat sambutan begitu besar seperti diriku."

Dian Susi bertanya: "Apa kau tidak berpendapat sementara orang ada yang benar-benar menjadi pengagummu?"

"Sudah tentu ada, tapi mereka hanyalah anak-anak yang belum terhitung dewasa, umpamanya..." "Umpamanya aku?"

"Yang kumaksud adalah dulu, sekarang tentu kau lain." "Kenapa?"

"Karena kau sudah melihat kenyataan yang tak mungkin dilihat orang lain."

Dian Susi terpekur, katanya pelan-pelan: "Benar, aku memang sudah melihat beberapa ciri yang tak mungkin dilihat orang lain. Tapi beberapa kebaikan dan kelebihanmu juga tak mungkin dilihat orang lain."

"O, apa benar aku memilikinya?"

"Benar, malah kurasa kau lebih menyenangkan dan jenaka dari kebanyakan orang." Dian Susi cekikikan geli, sambungnya: "Tapi laki-laki seperti dirimu, hanya bisa menjadi teman baik, pasti bukan seorang suami yang baik."

"Apa dulu kau pingin menikah dengan aku?"

Merah muka Dian Susi, sahutnya menunduk malu-malu: "Memang, tapi dahulu." "Sekarang? Apa kau sudah merasa putus asa dan kecewa terhadapku?"

"Pasti bukan, hanya..." "Hanya kau merasa kurang puas?" "Juga bukan."

"Lalu kenapa?"

Dian Susi menghela nafas, katanya: "Mungkin karena dulu aku menilaimu terlalu tinggi, sekarang aku justru sudah menyelamimu teramat mendalam."

"Justru karena kau sudah memahami diriku, maka kau tidak sudi menikah dengan aku? Kenapa anak perempuan selalu suka kawin dengan laki-laki yang belum dia pahami?"

Dian Susi tidak menjawab, dia memang tidak tahu cara bagaimana harus menjawab. Bukan karena kecewa terhadap Cin Ko, karena Cin Ko memang seorang Enghiong sejati. Sekarang dia hanya merasa dirinya tak mungkin menikah dengan Cin Ko, karena apa yang dia saksikan Cin Ko bukanlah tokoh besar yang dia bayangkan di dalam khayalannya. Tiba-tiba terasa olehnya bahwa dirinya sekarang benar-benar sudah tumbuh dewasa.

Dian Susi mengawasinya, pelan-pelan dia menarik tangan Cin Ko, katanya dengan tawa dipaksakan: "Walau aku tak bisa menikah dengan kau, tapi untuk selamanya boleh aku menjadi kawanmu."

Cin Ko diam saja, ingin dia bicara, tapi suaranya seperti tersendat dalam kerongkongan.

"Kau... apakah kau merasa kecewa?" balas tanya Dian Susi. Menatapnya Cin Ko tiba-tiba tergelak-gelak, katanya: "Aku tidak kecewa, perempuan dalam dunia ini bisa jadi istriku, tapi seorang sahabat seperti kau yang benar-benar dapat memahami jiwaku, berapa banyak pula di dunia ini?"

Dian Susi tersenyum, dia balas menatap, tanyanya: "Tapi kenapa kau beri kesempatan kepadaku untuk memahamimu?"

"Mungkin lantaran nasibku memang jelek." "Atau mungkin juga lantaran nasibmu baik?"

Cin Ko tertawa besar, serunya: "Kelak laki-laki yang mempersunting dirimu, pasti nasibnya teramat baik."

Tertunduk kepala Dian Susi, pikirannya terbayang akan setan kepala besar itu. Di mana dia sekarang? Di mana pula Dian Sim? Waktu dia angkat kepala pula dia berkata: "Jalan ini kalau tak salah pernah kulalui."

Cin Ko manggut-manggut. "Bukankah di depan sana adalah sarang judi milik si Brewok? Jadi kau hendak ke sana pula?" "Aku ingin melihat Hwesio itu. Apa kau tidak merasa Hwesio itu aneh?"

"Ya, memang rada aneh, kukira kau bukan mau mencarinya. Mungkin tanganmu sudah gatal lagi."

"Umpama aku ingin main, dengan apa aku harus bertaruh? Pakai jari-jariku?" "Umpama kantong kosong, apa salahnya melihat orang lain main?"

"Kali ini kau salah."

"Lalu untuk apa kau ke sana? Apa benar hanya ingin melihat Hwesio itu?"

Tawa Cin Ko amat misterius, katanya kalem: "Benar, karena kudapati Hwesio yang satu ini jauh berbeda dan lebih menarik dari Hwesio yang lain."

Umumnya Hwesio membaca mantram di dalam kuil, setan judi berjudi di sarang judi. Perduli hal ini ada harganya, paling tidak merupakan kebiasaan dan selalu jamak.

Tapi kalau Hwesio membaca mantram di sarang judi, sebaliknya setan judi berjudi di dalam kuil, tentu hal ini bukan suatu kebiasaan, bukan saja brutal, malah aneh dan menarik perhatian.

Suatu yang aneh pasti ada sebab musababnya yang aneh pula, dan kejadian-kejadian aneh akhirnya menelurkan akibat yang aneh-aneh pula.

*****

"Kenapa kau selalu mengatakan sarang judi teramat dekat dengan neraka?"

"Karena orang yang sering berkecimpung di dalam sarang judi, gampang sekali terjeblos ke dalam neraka."

"Memang pernah aku dengar ada orang yang tenggelam dalam sarang judi, sampai istri pun dipertaruhkan."

"Ada kalanya jiwa sendiri pun dipertaruhkan."

"Kalau sarang judi ibarat neraka, lalu tempat apa yang dipandang dekat surga?" "Biara?"

"Benar, tapi antara biara dan sarang judi ada sedikit persamaannya?" "Tidak, hakikatnya kedua tempat ini tiada sangkut pautnya." "Apa kau tidak pernah perhatikan, bahwa sarang judi dan biara biasanya terletak di tempat sepi dan jauh dari keramaian lagi tersembunyi?"

"Benar, kalau sarang judi berada di tempat sepi dan tersembunyi, kenapa biara pun demikian? Toh orang-orang yang bersembahyang di biara tidak perlu malu dan tidak melanggar hukum?"

"Karena semakin jauh letak biara, semakin sepi dan belukar, semakin misterius. Rasa misterius biasanya juga merupakan daya tarik yang paling besar bagi umatnya untuk memujanya."

"Agaknya uraianmu memang benar, tapi bila Hwesio mendengarnya bisa mati jengkel." "Hwesio takkan mati karena jengkel."

"Kenapa?"

"Arak, ayu, harta dan marah semua adalah kosong, ini menurut ajaran Budha." "Benar, kalau marah itu kosong, Hwesio sudah tentu takkan bisa mati jengkel."

*****

Mereka memasuki gang sempit yang panjang itu, di ujung lorong sana letak dari sarang judi si Brewok.

Kebetulan mega mendung menutupi sinar niatahari, lapat-lapat guntur menggelegar di tengah- tengah mega mendung yang tebal dan pekat itu. Angin mulai menghembus kencang, cuaca berobah semakin buruk.

"Sebentar agaknya bakal hujan badai!" kata Dian Susi setelah mendongak. "Saat-saat hujan justru merupakan saat berjudi yang paling menyenangkan." "Kau sudah tahu kejelekan orang berjudi, kenapa justru kemari hendak main?" "Karena aku bukan manusia baik-baik, aku pun tidak pintar."

Dian Susi tertawa berseri, ujarnya: "Kau hanya seorang Enghiong."

"Orang baik yang pintar biasanya takkan bisa menjadi Enghiong," sampai di sini tiba-tiba dia tutup mulut, karena tiba-tiba dilihatnya di pekarangan sarang judi itu beitumpuk-tumpuk sesuatu yang menimbulkan keheranan orang, angin lesus yang bertiup kencang malah membuat tumpukan benda-benda hitam itu beterbangan memenuhi angkasa.

" Apakah itu?" tanya Dian Susi keheranan. Cin Ko menggeleng-geleng, langkahnya dipercepat. Pintu besar yang sudah keropos dari sarang judi berkeriat-keriut dihempas angin mengeluarkan suara benturan keras. Pintu besar ini ternyata terbuka dan tiada orang yang menjaga. Sarang judi yang biasanya terjaga keras dan seram ini bagaimana bisa terpentang lebar? Benda-benda hitam yang beterbangan laksana kabut hitam itu semakin tebal, Cin Ko melangkah maju serta meraihnya secomot. Lekas Dian Susi memburu maju serta bertanya: "Apakah itu?"

Cin Ko tidak menjawab, barang di tangannya langsung diangsurkan kepada Dian Susi, benda itu lemas hitam dan enteng seperti bulu, tapi bukan bulu.

"Lho, inikan rambut kepala manusia?" teriak Dian Susi kaget. "Ya, rambut kepala," Cin Ko mempertegas.

"Darimana datangnya rambut sebanyak ini?" "Entah Hwesio itu masih berada di dalam?"

"Kenapa kau berkukuh hendak mencari Hwesio itu?"

"Karena mungkin hanya dia yang bisa menjawab pertanyaanmu," sahut Cin Ko sambil maju mendorong pintu beranjak masuk.

Seketika dia menjublek. Dian Susi yang ikut masuk juga menjublek seketika. Siapapun yang masuk kemari pasti akan menjublek.

Hwesio memang berada di dalam rumah. Tapi bukan seorang Hwesio, namun seluruh orang di sarang judi ini semua adalah Hwesio.

*****

Kalau di biara berapa banyak kau melihat hwesio takkan menjadi heran, takkan menjublek. Tapi tempat ini adalah sarang judi. Semua perabot untuk main judi sudah lenyap tak berbekas, setan- setan judi itu pun sudah tiada, semua kini berganti jadi Hwesio.

Berpuluh-puluh Hwesio itu semua duduk semadi dengan kedua tangan terangkap di depan dada, selayang pandang kepala gundul melulu yang kelihatan. Kepala mereka gundul kelimis sampai bercahaya. Baru sekarang Dian Susi paham kenapa rambut sedemikian banyak berada dipekarangan. Namun tak habis herannya, kenapa begini banyak orang mendadak jadi Hwesio seluruhnya.

Sarang judi yang biasanya ramai kini sunyi senyap, suara mantram pun tak terdengar, maklum mereka semua Hwesio gadungan, tiadi satu pun yang bisa membaca mantram. Cin Ko sibuk menemukan Hwesio yang membaca mantram disini kemarin, pelan-pelan dia beranjak maju, dia cari satu persatu, mendadak dia berhenti di depan seorang Hwesio. Melihat mimik mukanya yang kaget, Dian Susi segera melangkah mendekat -mimik muka orang di kala melihat Hwesio yang satu ini, mirip seseorang yang mendadak melihat mayat hidup kembali.

Lapat-lapat Dian Susi seperti kenal akan raut muka si Hwesio. Sekian lama dia mengamat-amati, mendadak berteriak tertahan: "Hah, si Brewok?" Hwesio ini memang si Brewok.

Di sebelahnya adalah Hwesio yang bermuka kasar seperti permukaan pasir yang tertimpa hujan. "Tio-to ma-cu!" Laki-laki burik yang ahli ngobyek di sarang judi ini pun jadi Hwesio.

Lama Cin Ko memperhatikan si Brewok, lalu ia tepuk pundak orang, tanyanya: "Apa kau sakit?"

Baru sekarang si Brewok angkat kepala dan menjawab sambil merangkap tangan: "Sicu bicara dengan siapa?"

"Dengan kau si Brewok!"

"Omitohud, si Brewok sudah mati, Sicu mana bisa bicara dengan dia?" "Kau bukan si Brewok?"

"Siauceng Bing Kong."

Sekian saat Cin Ko melotot pula, katanya: "Bagaimana si Brewok bisa mendadak mati?" "Yang patut mati harus mati."

"Lalu yang tidak patut mati?"

"Lambat atau cepat dia pun akan mati," sahutnya tetap bersimpuh, mukanya tidak menunjukkan perubahan, siapapun yang berhadapan sama dia pasti takkan percaya laki-laki gundul ini adalah cukong sarang judi yang berkuasa di tempat ini. Kini tak ubahnya seorang Hwesio besar yang berilmu tinggi.

Berputar biji mata Dian Susi, tiba-tiba dia menyeletuk: "Si Brewok sudah mati, lalu bagaimana dengan bininya yang baru?"

Pertanyaan Dian Susi telak mengena lubuk hati si Brewok, kelihatan orang berusaha kendalikan hati, namun keringat dingin sudah gemerobyos di kepalanya.

Sekilas Dian Susi melirik kepada Cin Ko, katanya pula: "Menurut hematmu, kemana bini mudanya itu?"

"Kalau dia sudah mati, tentu bini mudanya kawin dengan orang lain." "Kawin dengan orang lain? Begitu cepat?"

"Yang harus kawin, cepat atau lambat kan harus kawin juga." "Menikah sama siapa?"

"Mungkin dengan seorang Tosu, atau seorang Siucay, bukankah di empat penjuru dunia semua adalah saudara? Apa bedanya kau dan aku?"

Belum habis dia bicara si gundul alias si Brewok mendadak menggerung keras, terus menubruk kepadanya. Sebagai cukong sarang judi, kiranya si Brewok memiliki kepandaian yang lumayan juga. Tampak ke sepuluh jarinya bagai cakar elang, seolah-olah sekali remas dia ingin cengkram hancur leher Cin Ko.

Baru saja Cin Ko melangkah mundur berkelit, dari tengah udara mendadak melayang turun sebuah bokhi mengetuk batok kepala si Brewok dengan keras. Walau batok kepalanya tidak sampai pecah, namun ketukan ini cukup membuat pandangan gelap kepala pusing tujuh keliling, tak kuasa berdiri badannya terhuyung mundur dan "bluk" duduk kembali di kasuran bundar tempatnya tadi.

"Omitohud. Siancay, siancay!" terdengar seorang Hwesio bersabda, pelan-pelan melangkah maju, tangannya menopang sebuah bokhi. Hwesio yang tulen akhirnya muncul. Pelan-pelan dia mendekat ke hadapan si Brewok, katanya menghela nafas: "Ayu itulah kosong, dan kosong itulah ayu, kalau kau tak bisa menjebol kekanganmu ini, mana bisa kau menjadi orang beribadah yang saleh?"

Bergetar sekujur badan si Brewok, katanya serak: "Memangnya aku tidak sudi jadi Hwesio, kaulah yang memaksa aku..." belum habis dia bicara "plok" batok kepalanya kembali diketuk sekali. Jari-jari si Hwesio agaknya lebih keras dari kayu. Kontan kepala gundul si Brewok benjol besar dan roboh terlentang.

"Siapa yang paksa kau jadi Hwesio?" desak si Hwesio tulen. "Ti... tiada orang yang memaksa."

"Kau ingin jadi Hwesio tidak?" "Ya, ya... aku ingin."

"Omitohud, sengsara tak berujung pangkal, berpaling kembali ke tepian, letakkan golok jagal, berdirilah menjadi murid Budha... Siancay, siancay..." kembali dia mulai membaca mantram.

Si Brewok merayap di lantai dan menangis sesambatan. Dian Susi melongo sekian lamanya, akhirnya dia berpaling ke arah Cin Ko, berkata dengan tawa getir: "Hwesio ini pandai mantram."

"Bukan saja pandai mantram, dia pun pandai mengetuk kepala orang." "Tutukannya lebih baik dari suara mantramnya."

"Kali ini dia tidak salah memilih tempat membaca mantram, Cuma salah tempat pada ketukan tangannya."

"Memangnya kepala siapa yang patut dia ketuk?" "Kepala gundulnya sendiri"

Hwesio tiba-tiba menghentikan mantramnya dan berpaling, katanya geleng-geleng: "Kiranya kau."

"Ya, ini aku."

"Untuk apa kau kemari pula?"

"Kalau bisa pergi, kenapa tidak boleh datang?" "Kalau sudah pergi, tidak pantas kemari lagi." "Siapa bilang?"

"Hwesio yang bilang."

"Dengan hak apa Hwesio bilang?"

"Hwesio bisa It-cay-tam, bisa mengetuk bolong batok kepala orang." "Agaknya Hwesio ini hendak mengusir aku."

"Kemarin kau mengusir Hwesio, sekarang ganti Hwesio yang mengusir kau, bukankah cukup adil?"

"Kalau aku pergi adakah orang yang memberi lima laksa tail kepada Hwesio?" "Tidak."

"Kalau demikian aku tidak mau pergi." "Kau tahu tempat apa ini?"

"Seperti sarang judi, tapi juga hampir mirip biara." "Kemarin sarang judi, sekarang menjadi biara."

"Kalau lonte pun boleh bersembahyang di biara, kenapa aku tidak boleh?" "Untuk apa kau kemari?"

"Tentunya mau main, setan judi memangnya kerjanya main, kalau tidak main sekujur badan jadi lemas dan malas."

"Biara bukan sarang judi."

"Hwesio boleh membaca mantram di sarang judi, kenapa setan judi tak boleh main di dalam biara?"

Hwesio itu melotot, akhirnya tertawa, katanya: "Semua yang hadir di sini Hwesio, siapa akan judi dengan kau?"

"Hwesio," sahut Cin Ko. "Hwesio tidak berjudi."

"Ji-lay-hudco saja berjudi, Hwesio kenapa tidak berjudi?"

Hwesio mengerutkan alis, "Apa Ji-lay-hudco berjudi? Judi dengan siapa?" "Dengan Ki-thian-tay-seng Sun Go-kong."

"Judi apa?"

"Sun Go-kong tidak mampu melompat keluar dari telapak tangannya”.

Hwesio tertawa kecut, "Umpama benar yang kau bilang, Hwesio tidak punya duit untuk judi." "Hwesio pintar minta sedekah, kapan saja bisa punya duit."

"Minta sedekah ke mana?"

"Menurut yang kutahu para Hwesio ini kemarin masih preman, bukan?" "Oya?"

"Terutama Kim-toa-hu-cu," ujar Cin Ko kalem. "Setelah dia menjadi Hwesio, segala harta bendanya jelas akan jadi milik Hwesio bukan?" lalu dengan tertawa ia menyambung, "kabarnya bila Hwesio minta sedekah, lebih garang dari rampok."

Hwesio masih melotot, wajahnya yang bundar mendadak menjadi kelam, suaranya dingin: "Kau pandai merebut uang?" "Tidak bisa."

"Pandai minta sedekah?" "Jelas tidak bisa."

"Dengan apa kau hendak bertaruh?" "Dengan badanku sendiri."

"Orang mana bisa dibuat taruhan?"

"Jikalau aku kalah, aku ikut kau jadi Hwesio. Kalau kau yang kalah, biara ini menjadi milikku, para Hwesio itu pun menjadi orang-orangku."

"Judi apa yang kau kehendaki?"

"Tadi kau pandai mengetuk batok kepala, lebih baik kita beradu mengetuk kepala." "Mengetuk kepala siapa?"

"Kau ketuk kepalaku, aku mengetuk kepalamu. Siapa lebih dulu mengetuk kepala, dialah yang menang."

"Batok kepala jangan disamakan bokhi, kepala bisa pecah." "Tahukah kau batok kepala macam apa yang gampang pecah?"

Hwesio gelak-gelak. Di tengah gelak tawanya, tiba-tiba bayangannya menghilang.

*****

Lantai sarang judi ini dibuat dari batu-batu petak, batu-batu petak itu tiba-tiba amblas ke bawah, maka si Hwesio anjlok ke bawah. Cepat sekali papan batu sudah menutup kembali pada tempatnya semula. Memangnya sarang judi ini serba rahasia letaknya, bahwa di dalamnya terdapat alat-alat rahasia tidak perlu dibuat heran. Hanya Dian Susi yang keheranan, setelah menjublek setengah harian, tiba-tiba dia tertawa, katanya: "Agaknya dia tidak ingin berjudi dengan kau."

Cin Ko tersenyum, ujarnya: "Agaknya dia tahu kepala yang gampang pecah adalah kepala gundul."

"Apa benar kau ingin mengetuk pecah kepala gundulnya?" "Hanya ingin membikinnya bocor sedikit saja." "Kenapa? Kelihatannya dia bukan orang jahat."

"Tapi tidak pantas dia paksa orang lain menjadi Hwesio."

"Kalau seluruh setan-setan judi di dunia ini semua jadi Hwesio, bukankah dunia ini bakal aman dan tentram?"

"Apakah Hwesio-hwesio di sini semuanya suka membuka perjudian?"

"Bukan mustahil mereka sendiri yang suka dan rela..." Belum ucapan Dian Susi berakhir, seluruh Hwesio dalam rumah serempak berteriak: "Kita tidak suka jadi Hwesio."

"Kita punya keluarga, hidup senang dan bahagia dengan anak bini, kenapa harus jadi Hwesio?"

Teriakan si Brewok paling keras: "Kami semua dipaksa dan diancam, mohon Cin Tayhiap menegakkan keadilan bagi kita semua."

Cin Ko menghela nafas, ujarnya: "Semula kukira kau ini laki-laki sejati, kenapa hanya dipaksa lantas menurut dan terima cukur gundul?"

"Karena jikalau kita tidak jadi Hwesio, dia hendak merenggut jiwa kita."

"Jumlah kalian ada tigapuluhan orang, masakah takut menghadapi dia seorang?"

Si Brewok meringis kecut, sahutnya: "Hwesio buntak itu terlalu galak, terlalu lihay bagi kita, apalagi masih ada Tosu dan Siucay yang bantu dia."

"Masakah kekuatan kalian bukan tandingannya?"

"Kalau kita kuat melawannya, masakah sekarang kita jadi Hwesio?"

Tak tahan Dian Susi menyeletuk: "Apa manfaatnya bila kalian menjadi Hwesio bagi dia?" "Sudah tentu ada manfaatnya."

"Manfaat apa?"

"Katanya menjadi Hwesio harus mematuhi empat kekosongan, begitu kita menjadi Hwesio, seluruh harta benda kita lantas menjadi miliknya."

"Kalau demikian, aku pun ingin mengetuk kepalanya," ujar Dian Susi penasaran.

"Tapi kepandaian silat ketiga orang ini teramat tinggi, terutama Hwesio yang satu ini, lihaynya bukan main."

"Tidak sedikit tokoh silat yang pernah kuhadapi lebih lihay dari dia," kata Cin Ko tertawa dingin. "Memangnya," kata si Brewok berseri, "kalau Tayhiap sudi menolong, kita akan mendapat jalan hidup."

Dengan kakinya Cin Ko menginjak petak-petak batu katanya: "Tempat apakah di bawah batu ini?"

"Aku sendiri kurang terang."

"Lho, bukankah kau menjadi cukong di sarang judi ini, kenapa tidak tahu seluk beluk rumah ini?"

Si Brewok menyengir, sahutnya: "Rumah ini semula bukan milikku." "Milik siapa?"

"Tidak tahu."

"Memangnya apa yang kau ketahui?"

"Jelasnya pemilik rumah ini sudah mati beberapa tahun yang lalu, seluruh keluarganya mati semua."

"Belakangan tiada orang yang menempati?"

"Ada sih ada, cuma siapapun yang menempati rumah ini, dalam tiga hari pasti pindah ke tempat lain."

"Kenapa?"

"Karena dalam rumah sering terjadi keributan, katanya ada setan." "Keributan karena setan?" teriak Dian Susi mendekap mulut.

"Gedung ini terkenal angker, maka dengan harga murah aku membelinya." "Selama kau di sini, apa benar sering ada setan?" tanya Dian Susi.

"Kadang kala mereka memang sering merasakan beberapa kejanggalan, tapi karena kita banyak orang, maka kita tidak hiraukan sama sekali."

"Kejanggalan apa saja yang pernah terjadi?"

"Sering terdengar berbagai suara aneh-aneh dari bawah tanah, sering pula terjadi sesuatu barang yang diletakkan di meja mendadak menghilang tanpa bekas."

Mengkirik Dian Susi dibuatnya, diam-diam matanya melirik ke arah Cin Ko. "Sekarang apa yang hendak kau katakan?" tanya Cin Ko.

"Asal tidak jadi Hwesio, apapun yang kau lakukan, kita akan menerima suka rela."

"Baik, kalian boleh pulang semuanya, setelah kucari tahu keadaan tempat ini baru kuputuskan."

Tampak si Brewok unjuk rasa takut dan serba susah, katanya: "Hwesio itu takkan membiarkan kita pergi dari sini."

Cin Ko tertawa dingin, jengeknya: "Tak usah takut, bila dia merintangi, akulah yang akan menghadapinya."

Si Brewok tertawa berseri, katanya: "Asal Cin Tayhiap sudi turun tangan, legalah hati kami."

Belum habis ucapannya, Hwesio-hwesio yang memenuhi sarang judi berebutan lari keluar. Ada yang berdesakan dari pintu, ada pula yang menerobos jendela, dalam waktu sekejap mereka sudah tak kelihatan bayangannya lagi. Tiada orang yang keluar mengejar atau merintangi mereka. Hwesio, Tosu dan Siucay tiada satu pun yang unjuk diri.

"Sekarang giliranmu untuk meninggalkan tempat ini," kata Cin Ko kepada Dian Susi. "Apa? Aku tidak mau." Meski pucat mukanya, tapi jawaban Dian Susi tegas. "Kita sudah

menjadi teman, umpama kau menuju ke neraka, aku pun akan selalu bersama kau." Belum habis bicara, badan Cin Ko tiba-tiba anjlok ke bawah. "Blang" cepat sekali papan batu itu menutup kembali.

Baru sekarang Dian Susi benar-benar kaget, dengan keras dia menginjak papan batu di bawahnya, tapi papan batu yang tebal dan berat ini tidak bergeming, celah-celahnya rapat, tiada yang tahu di mana letak alat rahasianya.

Kontan Dian Susi menjerit sekeras-kerasnya: "Cin Ko, di mana kau? Dengarkah kau suaraku?" Tiada reaksi. Dengan kertak gigi Dian Susi tiba-tiba menerjang ke arah pintu keluar.

Kebetulan di luar terjangkit angin badai, tepat di saat Dian Susi tiba di ambang pintu, segulung rambut yang beterbangan mendadak menggulung ke arah dirinya, seolah-olah mencocok dan mencekik lehernya. Serasa hampir terhenti nafasnya, serta merta dia jejakkan kaki jumpalitan mundur ke belakang, mundur kembali ke dalam rumah. "Blang" dengan keras dia tutup daun pintu lalu menahannya dengan punggungnya. Lama sekali baru dia menghela nafas lega.

Angin masih mengamuk diluar. Gedung besar yang kosong ini tinggal dia seorang saja. Baru sekarang benar disadari bahwa rumah gedung ini memang teramat besar dan luas, terasa betapa kecil dan kerdil dirinya. "Bruk" daun jendela terhempas keras ditiup angin, disusul guntur menggelegar, angin dan hujan terhempas masuk ke dalam rumah. Tak tertahan Dian Susi bergidik kedinginan, dengan membesarkan nyali dia berteriak keras: "Adakah orang dalam rumah ini? ...apakah penghuni rumah ini sudah mampus semua?"

Tetap tidak mendapat jawaban. Kembali Dian Susi bergidik seram.

"Apa benar penghuni rumah ini semua mati dan menjadi setan? Lalu di mana Tosu dan Siucay itu?" Di depan sana ada pintu, daun pintunya tertutup rapat, bukan mustahil mereka sembunyi di sana? Dengan kertak gigi Dian Susi terjang ke sana dengan segala tenaga dan kecepatannya. Untung pintu ini tidak terpalang dari bagian dalam. Dian Susi langsung menerobos masuk.

Di sini adalah sebuah ruang tamu ukuran kecil yang dipajang mewah, selintas pandang, orang akan merasa tentram dan nyaman di sini. Baru saja Dian Susi menghela nafas, sekonyong- konyong "Blum" daun pintu di belakangnya menutup sendiri. Keruan bukan kepalang kejutnya, dengan sekuat tenaga dia dorong pintu, namun tidak bergeming. Agaknya pintu sudah terkunci dari luar.

Merinding dan bergidik Dian Susi dibuatnya. Selangkah demi selangkah dia menyurut mundur sampai di pinggir meja, baru didapati tiga cangkir teh, setumpuk buku, serenteng tasbih dan sebatang kebutan di atas meja. Air tehnya terasa masih hangat. Agaknya Hwesio, Tosu, Siucay bertiga sebelum Cin Ko mengusirnya, mereka berada di ruang kecil ini. Lalu ke mana mereka sekarang?

Dian Susi tertawa dingin, jengeknya: "Aku tahu kalian di mana, jangan harap kalian bisa menakuti aku." Yang benar dia tidak tahu apa-apa, kata-katanya hanya untuk membesarkan hati belaka.

Hawa semakin panas, ruang ini teramat gelap. Lama sekali Dian Susi menjublek di tempatnya, akhirnya baru dia celingukan ke sekelilingnya. Didapatinya di sebelah kiri sana terdapat sebuah pintu lain, di atas pintu tergantung kerai bambu.

Di seberang pintu berkerai ini adalah dinding tinggi, di mana terdapat beberapa gambar lukisan dari buah tangan seorang ahli. Di setiap pinggir lukisan terdapat dua baris syair timpalan. Belum lagi Dian Susi sempat melihat jelas apa bunyi syair-syair itu, tiba-tiba didengarnya suara aneh di belakangnya, kedengarannya seperti suara kerai bambu tersingkap. Sigap sekali dia membalik badan, seketika dia menjerit tertahan.

Kerai bambu yang semula menjuntai turun, tiba-tiba tergulung naik pelan-pelan, maka terlihat daun pintu di balik kerai ini hanya setengah tertutup. Luar dalam pintu tak kelihatan ada bayangan orang, seolah-olah ada sebuah tangan setan yang tidak kelihatan, menggulung kerai itu. Betapapun besar nyali Dian Susi, tak urung berdiri bulu kuduknya, dengan kerahkan seluruh kekuatannya baru dia kuasa berteriak: "Siapa disitu? Keluar!"

Tiada orang keluar, malah bayangan setan pun tak kelihatan. Dengan mengepal jari-jarinya, mengertak gigi Dian Susi memberanikan diri melangkah maju, keringat dingin gemerobyos. Kedua kakinya terasa lemah tak bertenaga.

Lama rasanya baru dia mencapai pintu, di balik ruangan sebelah sana kiranya sebuah kamar tertutup, tiada jendela, maka keadaan di sana lebih gelap. Kamar ini kosong melompong, hanya terlihat seorang duduk semadi di tanah.

Seorang Hwesio.

*****

Hwesio ini bermuka bundar, alisnya panjang menutup mata, bokhi terletak di depannya, kira-kira Hwesio inilah yang pandai membaca mantram dan kejeblos jatuh ke bawah tadi.

Dian Susi menarik nafas, bagaimana juga akhirnya dia menemukan seorang hidup. Segera dia bersuara: "Hai, bagaimana kau berada di sini? Mana Cin Ko?"

Hwesio tidak menjawab, tidak bergeming sedikit pun, seperti tidak mendengar pertanyaannya. Suara Dian Susi lebih keras: "Hai, kenapa tidak bersuara?"

Hwesio tetap duduk tak bersuara, seolah-olah memang orang tuli.

"Jangan kau pura-pura bisu dan tuli, kalau tidak buka suara, kuketuk bocor kepalamu nanti." Hwesio itu tetap semadi, tak bersuara.

"Kau kira aku tidak berani?" Dian Susi jadi sengit. Segera dia memburu maju dan benar-benar mengetuk kepala gundul si Hwesio. Badan Hwesio bergoyang-goyang lalu roboh pelan-pelan.

Tanpa sadar Dian Susi ulur tangan menjambret jubahnya, katanya keras: "Kenapa kau, pura-pura mati."

Hwesio tidak bisa pura-pura mati. Karena Hwesio memang sudah mati.

*****

Semula raut muka Hwesio merah dan bercahaya, kini sudah berubah jadi pucat dan kaku. Dari atas kepalanya yang gundul pelan-pelan mengalir sejalur darah yang membasahi jidat terus hidung pipi dan mulut terus ke dagunya. Seketika bergetar badan Dian Susi, kaki tangannya menjadi dingin, tak sadar dia menyurut mundur. Karena dia mundur badan si Hwesio seketika tersungkur ke depan, mukanya mencium lantai.

Baru sekarang Dian Susi melihat jelas, tepat di tengah batok kepala si Hwesio terdapat sebuah lubang kecil, darah segar masih bercucuran dari lubang kecil ini. "Apakah aku yang mengetuk lubang kepalanya?" Jelas bukan, karena ketukan jarinya tidak berat, yang terang Hwesio ini sudah kaku, sudah lama mati. Lalu siapa yang membunuh Hwesio ini? Mungkinkah Cin Ko? Di mana dia sekarang?

Dian Susi berdiri menjublek, pikirannya melayang tanpa juntrungan, seolah-olah terjeblos ke dalam impian yang buruk. Seakan-akan dirinya berada di dalam sebuah kuburan besar, mimpi pun tak pernah terpikir dalam benaknya, bahwa dia bakal terkubur bersama Hwesio. Kini setan pun sudah tidak ditakuti, umpama benar ada setan pun akan disambut dengan senang hati.

Teringat akan setan, tak urung terbayang olehnya si setan kepala besar.

"Di mana dia? Apa masih menguntitku secara diam-diam? Diakah yang membawakan selimut? Selanjutnya apakah aku masih bisa bertemu dia? Kalau tahu nasibku begini, apakah dia sedih?" Demikian Dian Susi bertanya-tanya dalam hati.

*****

Dalam rumah makin panas, semakin gerah. Teringat oleh Dian Susi bubur buah teratai, kerongkongannya menjadi kering, sungguh hampir dia menjadi gila karena tak tahan lagi. Untunglah pada saat itu dia mendengar sebuah suara aneh pula. Suara itu kumandang dari bawah

tanah. Belum lagi dia sempat membedakan suara apa, tahu-tahu petak batu di depannya menjeplak ke atas, dan terbukalah sebuah lubang. Karena kejutnya bukan main, lekas dia melompat mepet tembok. Lekas sekali tampak kepala seorang menongol keluar dari dalam lubang besar itu, Cin Ko. Bukan kepalang kejut dan girang Dian Susi, seketika dia berjingkrak kegirangan.

Melihat dia Cin Ko juga kaget, melihat Hwesio yang rebah tak berkutik di lantai lebih terkejut lagi tak tertahan dia bertanya: "Kenapa kau benar-benar mengetuk bolong kepala si gundul ini?"

"Aku baru ingin tanya kau," seru Dian Susi, "umpama kau ingin mengetuk kepalanya, toh tidak perlu mencabut nyawanya."

"Siapa yang mengetuk bolong kepalanya? Bahwasanya di mana dia berada pun baru sekarang kutemukan di sini."

"Kalau kau tidak tahu, lalu siapa yang tahu?" "Kau. Bukankah sejak tadi kau bersama dia?" Keruan Dian Susi mencak-mencak, serunya: "Siapa bilang aku bersama dia, setelah dia kejeblos jatuh, bukankah kau pun ikut jatuh?"

"Tapi setiba di bawah, bayangannya pun aku tidak melihatnya." Dian Susi melengak, tanyanya: "Memangnya apa yang kau lihat?"

"Apapun tak kulihat, hakikatnya tiada apa-apa di bawah, umpama ada aku pun tak bisa melihatnya."

"Kenapa?"

"Karena di bawah tiada lentera, semuanya serba gelap, aku bukan kelelawar, mana bisa melihat barang di tempat gelap."

"Lalu bagaimana kau bisa temukan tempat ini?"

"Di bawah sana ada tangga batu, setengah harian aku meraba-raba, baru sampai di sini, begitu aku beranjak naik tangga, pagar batu itu lantas terbuka sendiri, kukira kaulah yang menolongku keluar dari atas sini."

Dian Susi tertawa kecut, katanya: "Aku tidak punya kemampuan setinggi itu." Tanya Cin Ko: "Cara bagaimana kau pun bisa berada di sini? Hwesio ini?" "Jangan kau main tebak, waktu aku sampai di sini, dia sudah begitu."

"Siapa yang membunuhnya?" "Setan yang tahu."

Mendengar setan, muka Cin Ko berubah, katanya tertawa getir: "Agaknya tempat ini memang ada setan, aku hanya heran, kenapa kau tetap berada di sini."

"Kau kira aku tidak ingin pergi?" "Kukira kau sedang menunggu aku."

Merah muka Dian Susi, katanya: "Darimana aku tahu kau menyusup ke tempat mana?" "Kalau tidak menunggu aku, kenapa kau belum pergi?"

"Karena aku tak mampu pergi." "Kenapa?" "Begitu aku masuk ke rumah ini, pintu luar lantas tertutup rapat." "Siapa yang menutup pintu?"

"Setan yang tahu," kali ini mukanya sendiri yang berubah pucat. "Kau... kau tak bisa mendorong pintu itu?"

"Terkunci dari luar, mana aku kuat mendorongnya?" "Mungkin kau tidak kerahkan tenaga."

"Kau kira aku benar-benar tidak becus? Kenapa tidak kau coba sendiri?"