Tokoh Besar Bagian 06

Bagian 06

Terasa oleh Dian Susi tangan orang mencari kesempatan meraba dadanya, kelihatannya babu cilik ini tidak gila, baru saja Dian Susi merasa heran, Thio Hou-ji sudah menarik muka, semprotnya: "Untuk apa kau mondar-mandir?"

Rada pucat muka Siau-lan, katanya menunduk: "Aku... kuatir air teh nona Dian dingin, pikirku hendak menggantinya dengan yang panas."

"Siapa suruh kau banyak urusan, lekas keluar, tanpa diundang jangan masuk!" Lekas Siau-lan mengiakan. Dengan menunduk dia beranjak keluar, sebelum berlalu, dia mengerling sekali kepada Dian Susi, sorot matanya rada aneh.

Apakah dia punya rahasia yang hendak disampaikan kepada Dian Susi?

Sayang sedikit pun Dian Susi seperti tidak memikirkan hal ini, mengawasi pakaiannya yang basah, gugupnya setengah mati, masakah senggang dia memikirkan gerak-gerik orang yang ganjil ini. Apalagi bila babu cilik ini ada omongan, kenapa tidak disampaikan waktu mengantar pakaian tadi, tiada alasan menunggu sekarang baru mau menyampaikan kepada dirinya.

Dian Susi menggigit bibir, katanya tiba-tiba: "Aku... aku ingin ganti pakaian sebentar."

"Silahkan nona," ujar Cin Ko sambil berdiri, "Cayhe pun ingin pamitan, sepanjang jalan nona sudah letih, silahkan istirahat saja." Dia sudah lantas berlalu begitu saja.

Setelah bayangan orang menghilang di balik pintu, Thio Hou-ji membanting-banting kaki, katanya gelisah: "Dengan susah payah kucari kesempatan supaya kalian bertemu, kenapa kau biarkan bebek yang sudah dimasak terbang tanpa sayap?"

Merah selebar muka Dian Susi, katanya: "Aku... entah mengapa aku pun tidak tahu, begitu berhadapan, mulutku lantas kaku, tidak tahu apa yang harus kukatakan."

"Dalam keadaan seperti ini masa kau hendak menahannya? Melihat sikapmu yang mematung, orang sudah sebal dibuatnya, kalau tidak masakah ditinggal pergi begini saja."

"Lain kali... lain kali takkan begini lagi." "Lain kali? Tiada kesempatan lain kali lagi."

Dian Susi segera menarik tangannya, katanya memohon: "Tolonglah kau usahakan, bantu orang bantulah sampai cita-citanya terlaksana."

Sekilas Thio Hou-ji meliriknya, akhirnya dia tertawa cekikikan, katanya: "Ingin aku tanya, bagaimana kesanmu terhadapnya? Kau harus jujur dalam hal ini."

"Kesanku terhadapnya... sudah tentu baik sekali." "Baik bagaimana?"

"Dia begitu ternama, namun sedikit pun tidak congkak, sedikit pun tidak kasar, terhadapku malah sopan santun."

"Dan apa lagi?"

"Yang lain aku tidak bisa mengatakan, yang terang dia orang baik, pilihanku tidak meleset." "Jadi kau mau kawin dengan dia?"

Dian Susi gigit bibir dengan menunduk, dia ragu-ragu menjawab.

"Ini bukan urusanku, jikalau kau tidak bicara sejujurnya, aku tidak perduli lagi."

Dian Susi jadi gugup, katanya dengan malu-malu: "Apa artinya tidak menjawab, memangnya kau tidak tahu?"

Thio Hou-ji tertawa senang, katanya: "Kalau kau ingin kawin dengan dia, maka kau harus pegang kesempatan baik ini."

Akhirnya Dian Susi manggut-manggut.

"Kesempatan tidak banyak lagi, paling lama aku hanya bisa menahannya dua hari saja." "Dua hari? Dalam tempo sependek ini mana bisa jadi?"

"Dua hari berarti dua kali dua puluh empat jam, banyak urusan yang bisa diselesaikan dalam jangka sependek ini, kalau aku sendiri sih dua jam sudah cukup."

"Tapi sungguh aku bingung, apa yang harus kulakukan?"

Thio Hou-ji mencubit pipinya, katanya: "Gadis bodoh, ada kalanya urusan tanpa diajarkan kau bisa melakukannya sendiri, memangnya kau minta aku mengantarmu masuk ke kamar pengantin?" tawanya yang merdu seperti kelinting kumandang semakin jauh.

Pintu masih terbuka. Angin lalu menghembus, sehingga kain yang basah itu terasa dingin. Dian Susi berdiri menjublek, sekenanya dia menarik bajunya, tiba-tiba segulung kertas melayang jatuh dari lengan bajunya, namun sedikitpua dia tidak melihat dan menyadarinya. "Ada sesuatu urusan yang tak perlu diajarkan orang lain," terngiang kata-kata ini pada kupingnya, seketika merah panas selebar mukanya, dengan menggigit bibir lekas dia naik ke loteng.

Tiada seorang pun di bawah loteng, keadaan sunyi senyap. Siau-lan babu kecil itu melangkah datang pula, maksudnya hendak membereskan kamar tamu ini, melihat lipatan kertas di atas lantai, seketika berubah air mukanya, cepat ia memburu maju menjemputnya. Kertas itu masih terlipat baik, seperti belum terbuka, dengan memonyongkan mulut membanting kaki, agaknya

dia sudah hendak memburu kertas loteng, namun pada saat itu pula didengarnya jeritan dari atas loteng.

Ternyata Kek siansing yang disimpan sementara di bawah ranjang tadi kini sudah menghilang. Sebetulnya Dian Susi sudah melupakan orang ini, begitu berhadapan dengan Cin Ko, diri sendiri pun sudah terlupakan olehnya. Begitu kembali ke kamar dan duduk di atas ranjang, tiba-tiba dia berjingkat dan ingat bahwa di bawah ranjang ada manusia setan yang kaku tertutuk itu. Kek siansing memangnya jauh lebih menakutkan dari setan.

Waktu Thio Hou-ji memburu datang, badannya masih gemetar, mendadak dia peluk Thio Hou-ji serta pecah tangisnya menggerung-gerung, katanya sesenggukan: "Orang itu sudah pergi!"

Thio Hou-ji menepuk punggungnya, katanya halus: "Sudah pergi ya sudah, kau tidak perlu takut, ada aku di sini, apapun tak perlu kau takuti."

"Tapi aku tahu dia pasti akan datang lagi, kalau tahu aku di sini, dia pasti takkan melepas aku." "Siapakah dia sebenarnya? Kenapa selalu membuntutimu?"

"Aku sendiri tidak tahu kenapa dia selalu membuntuti aku? Aku tidak hutang, juga tidak bersalah terhadapnya, aku... hakikatnya aku tiada hubungan apa-apa dengannya."

"Tapi kau amat takut terhadapnya."

"Aku memang takut, dia bukan manusia..."

"Perduli dia manusia atau setan, kau tidak perlu takut," terdengar seseorang menimbrung. "Jika dia berani datang lagi, aku tidak akan melepasnya pergi." Ternyata Cin Ko pun ikut memburu tiba. Suaranya lembut penuh keyakinan, bukan saja tenang dan mantap, orang yang mendengar pun percaya dan yakin benar akan sumbarnya.

Thio Hou-ji justru tertawa dingin: "Kali ini seharusnya dia tidak pulang, jikalau aku yang tutuk Hiat-tonya, dia pasti takkan berkutik."

Cin Ko tertawa tawar, ujarnya: "Memang aku yang salah, karena tutukanku kurang berat, soalnya aku belum tahu siapa dia sebenarnya."

"Laki-laki yang menyusup ke kamar dan mengintip gadis yang salin pakaian memangnya bukan manusia baik-baik."

"Tapi aku..."

"Perduli apapun yang kau katakan," tukas Thio Hou-ji, "kau harus ikut bertanggung jawab akan kejadian ini, jikalau adik ini kelak mengalami sesuatu yang tidak diinginkan, aku harus minta tanggung jawabmu."

Cin Ko menghela napas, katanya dengan getir: "Lebih baik aku tak mencampuri urusan orang lain saja."

"Tapi sekarang kau sudah turut campur, maka kau harus menyelesaikan seluruhnya." "Apa yang harus kuselesaikan?" "Kukira kau sendiri sudah tahu."

"Kau minta aku melindungi nona Dian di sini?" "Agaknya kau sudah pintar," puji Thio Hou-ji tertawa.

Dian Susi yang menyembunyikan muka dalam pelukan orang, hampir ikut tertawa. Semula dia merasa permintaan Thio Hou-ji rada keterlaluan, baru sekarang dia mengerti akan maksud baik orang. Itu berarti hendak memberi kesempatan mereka berdua saling berdekatan.

Berkata pula Thio Hou-ji: "Bukan saja kau harus melindungi nona Dian, setiap saat setiap detik, siang malam kau harus menjaganya sampai kau berhasil meringkus orang itu."

"Jikalau orang itu tidak muncul lagi?"

"Maka kau pun harus melindunginya seumur hidup," ucapannya ini sebetulnya terlalu menonjol dan janggal, umpama kau seorang pikun, tentu juga sudah maklum ke mana juntrungan yang dikandung.

Bukan saja muka Dian Susi merah, muka Cin Ko juga bersemu merah. Tapi dia diam-diam saja, tidak menolak dan tidak memberi reaksi.

Senang dan serba susah serta malu Dian Susi dibuatnya, terpaksa dia menyembunyikan mukanya

di dada Thio Hou-ji. Tapi orang justru menariknya, katanya sambil menyeka air mata: "Sekarang legalah hatimu, adanya orang seperti dia melindungi keselamatanmu apapula yang kau takuti... nah cobalah tertawa manis?"

Ingin tertawa merasa rikuh, namun akhirnya Dian Susi tertawa juga. Thio Hou-ji segera bersorak, serunya: "Nah tertawa, sudah tertawa!"

Diam-diam Dian Susi mencubitnya, katanya berbisik: "Memalukan!"

Mendadak Thio Hou-ji putar badan, katanya: "Kalian duduk dan ngobrol di sini, aku mengundurkan diri dulu," sembari bicara langsung dia beranjak keluar.

Lekas Dian Susi menariknya, katanya gugup: "Kau hendak ke mana?" "Ada orang yang tidak ingin kehadiranku di sini, buat apa aku tetap di sini?"

Saking malu dan gugup, Dian Susi membanting-banting kaki, katanya: "Kau... jangan pergi!" "Kenapa tidak boleh pergi? Dia bisa melindungimu seumur hidup, aku sebaliknya tiada kemampuan, perlu aku cari orang lain untuk melindungiku," tiba-tiba dia kibaskan tangan Dian Susi terus berlari turun loteng.

Keruan Dian Susi bingung dan terlongong, duduk salah, berdiri pun salah, apapun yang dibuatnya terasa janggal, yang terang dia merasa jantungnya berdebar.

Di sana Cin Ko mengawasi dirinya dengan tersenyum. Melirik pun dia tidak berani akhirnya dia menunduk mengawasi jari-jarinya yang runcing dan halus. Rasanya Cin Ko pun sedang mengawasi tangannya itu, ingin rasanya menyembunyikan tangan, tapi ke manapun disembunyikan terasa kurang benar, tiba-tiba terasa jari-jari tangan Cin Ko sudah terulur maju dan tahu-tahu pula tangannya sudah dipegangnya.

Jantung Dian Susi berdebur semakin keras, badannya bergoncang, darah terasa merangsang naik

ke kepala, terasa Cin Ko tengah membisiki apa-apa di pinggir telinganya, suaranya lembut dan halus, sepatah kata pun tidak jelas. Ucapan Cin Ko kedengarannya semerdu orang bernyayi.

Lagu suaranya lantang berisi dan jauh, seolah-olah buaian lagu di dalam mimpi. Begitu asyik dia mendengar dengan terlongong, seperti orang mabuk saja keadaannya. Entah berapa lama kemudian, terasa jari-jari Cin Ko sudah merambat memegang pinggangnya, seluruh badannya sudah rebah dalam pelukan Cin Ko, terasakan pula dengus nafas orang yang hangat mulai memburu. Sudah tentu dengan nafasnya pun ikut tersengal, mulutnya entah mengigau apa.

Pendengaran Dian Susi semakin layap-layap dan tidak jelas lagi apa yang dibisikkan, cuma terasa dekapan tangan orang semakin kencang, tangan orang seolah-olah sudah berubah jadi tiga.

Badan Dian Susi mulai bergelinjang dan gemetar, ingin mendorongnya, justru tenaga tak kuasa dikerahkan, seluruh badannya seperti terombang-ambing naik mega.

Akhirnya dia menyadari badannya sudah dibopong Cin Ko, beranjak ke ranjang. Umpama segala urusan tidak diketahui, mau tidak mau sekarang dia menyadari bahwa gelagat tidak menguntungkan dirinya. Tapi bukankah adegan seperti ini selalu dia idam-idamkan dalam mimpi? "Tidak, tidak boleh demikian, jangan begitu." Di mana yang ganjil, tempat mana yang salah, dia sendiri tidak jelas. Cuma satu tekad dalam sanubarinya, dia harus mendorongnya, dia harus menolak. Tapi ingin menolak pun sudah terlambat.

Di dalam perasaannya, sang waktu seolah-olah sudah berhenti, seharusnya Cin Ko tetap berdiri di tempatnya. Tapi entah apa yang telah terjadi, tahu-tahu dia sadar bahwa dirinya sudah rebah di atas ranjang. Ranjang yang empuk, hangat dan harum, rebah di ranjang mirip rebah di gumpalan mega. Bukan saja tiada tenaga menolak, tiada waktu untuk menolak.

Hubungan laki dan perempuan memangnya teramat ganjil dan sukar diraba, jikalau kau tidak punya waktu persiapan untuk menolak, kelak baru kau akan menyadari hakikatnya kau memang tiada tempo untuk menolak. Karena keberanian dan keyakinan orang sudah terpupuk di dalam sanubarinya, umpama kau menolak, itu pun tak berguna. Detik-detik seperti ini, umpama dia tahu dirinya sudah tiada kuasa menolak. Dan saat inilah detik-detik paling senang dan gembira bagi laki-laki, detik-detik paling tegang bagi perempuan.

Saking tegang Dian Susi sampai merasa sekujur badannya dingin kaku. Untunglah pada saat gawat itu, suara ketukan pintu yang gencar berkumandang di luar. Terdengar Siau-lan berteriak di luar pintu: "Nona Dian, Cin siauya, kau mau sarapan tidak? Kebetulan aku baru masak bubur sarang burung."

Cin Ko berjingkrak dari atas ranjang, memburu ke sana menarik pintu, sentaknya keras: "Siapa sudi makan bubur setanmu. Pergi! Menggelindinglah pergi! Pergi yang jauh!" Suaranya garang mukanya beringas, tingkahnya kasar, tidak selembut tadi.

Siau-lan monyongkan mulut, dengan beringsut segera dia turun dari loteng. Baru saja Cin Ko hendak menutup pintu, tiba-tiba dia didorong terjerembab ke depan. Entah kapan Dian Susi memburu turun dari ranjang, dengan kerahkan seluruh kekuatannya dia dorong orang keluar pintu. "Blang" dengan keras dia tutup pintu dan dikunci dari dalam. Dian Susi bersandar di pintu, nafasnya tersengal-sengal, seluruh pakaiannya basah kuyup!

Sudah tentu Cin Ko kaget, dengan keras pintu dia gedor, teriaknya: "Apa sih yang kau lakukan? Kenapa kau dorong aku keluar? Lekas buka pintu."

Dian Susi kertak gigi, tidak perdulikan teriakkannya. Setelah sekian lama menggedor tanpa mendapat sahutan, Cin Ko menjadi kewalahan dan risih sendiri, katanya seorang diri: "Aneh, apa orang ini rada sinting?"

Dian Susi sendiri mulai curiga: "Apa aku ini sudah sinting?" Adegan yang sudah sekian lama diimpikan, orang yang menjadi pujaan hati, namun setelah semua idam-idamannya terlaksana, di saat orang sudah berada di sisinya, dia malah mendorongnya keluar.

Mendengar derap kaki Cin Ko turun dari loteng, walau hatinya rada lega, namun hatinya hambar dan kosong, seolah-olah kehilangan apa-apa. "Sekali dia pergi, mungkin kelak tidak akan kembali pula." Kalau mukanya pucat, sebaliknya biji matanya merah, ingin rasanya dia lampiaskan kepedihan hatinya dengan tangis sejadi-jadinya.

Pada saat itulah, langkah kaki berdentam di anak tangga. "Apakah dia kembali lagi?" Di saat jantungnya berdebar pula. Dengan seluruh kekuatan badannya dia menahan daun pintu, namun dia mengharap orang menendang daun pintu itu. Bahwasanya apa yang menjadi pemikirannya, dia sendiri pun tidak tahu. "Lekas buka pintu, inilah aku," itulah suara Thio Hou-ji. Lega hati Dian Susi, tapi tercampur rasa kecewa pula. Akhirnya pintu terbuka.

Dengan marah-marah Thio Hou-ji melangkah masuk, terus duduk di kursi dengan muka kereng menghijau gusar, katanya keras: "Kau ini bagaimana? Memangnya kau sinting?"

Dian Susi menggeleng-geleng, lalu manggut-manggut, duduk lalu berdiri pula.

Melihat tingkah lakunya yang aneh seperti hilang semangat, baru sikap Thio Hou-ji berubah, marahnya mereda, katanya menghela nafas: "Betapa susah payahku berusaha mencari kesempatan untuk pertemuan kalian ini, kau sebaliknya mengusirnya malah?"

Merah muka Dian Susi, katanya menunduk: "Aku... aku takut."

"Takut? Apanya yang dibuat takut? Memangnya dia hendak mencaplokmu?" Sampai di sini tak urung dia tertawa cekikikan, katanya lembut: "Sekarang kau bukan anak kecil lagi, takut apa? Setiap orang perduli laki perempuan bakal menikmati surga dunia seperti itu, kecuali seumur hidup kau tidak mau kawin."

"Tapi... tapi gerakannya yang kasar seperti serigala kelaparan, sungguh bikin siapapun takut!”

"O, jadi kau bukan takut, tapi lantaran dia bertindak kasar, mungkin terlalu gugup dan tak sabar lagi," Thio Hou-ji menghampiri lalu mengelus rambutnya. "Memang tidak boleh disalahkan kau, bagaimana juga kau nona segede ini masih perawan, setelah menanjak seusiaku, kau pasti akan tahu, semakin laki-laki gugup dan tak sabar, itu pertanda dia amat menyukai kau."

"Kalau benar-benar suka kepadaku, dia harus bersikap hormat kepadaku."

Thio Hou-ji tertawa terkial-kial, katanya: "Budak bodoh, dalam adegan semacam itu mana boleh kau katakan dia tidak menghormatimu? Jikalau berada di dalam ruangan besar di hadapan orang banyak, perbuatannya itu terang tidak benar, tapi di dalam kamar tidur dan dilakukan hanya kalian berduaan saja, maka kau harus menurut segala keinginan dan petunjuknya," dengan melirik segera dia menambahkan: "Kelak kau akan tahu, jikalau di dalam adegan ranjang kau sedikit menuruti kemauannya, segala persoalan dia akan menuruti kemauanmu. Jikalau perempuan ingin suaminya mendengar kata, pulang pergi hanya dalam soal inilah kuncinya."

Merah jengah muka Dian Susi, uraian seperti ini bukan saja belum pernah dengar, malah membayangkan pun tidak berani.

"Sekarang aku ingin tanya kepadamu, sebenarnya kau ada maksud tidak kepadanya?" "Bagaimana dia terhadapku?"

"Dia tidak perlu kau urus, aku hanya tanya kau, kau sudi tidak?" "Kalau aku mau, memangnya kenapa?" Dian Susi memberanikan diri.

"Asal kau manggut-manggut, biar aku yang memutuskan, malam ini juga kalian boleh kawin!" Dian Susi berjingkrak kaget: "Apa begitu cepat?"

"Besok dia akan pulang ke Kanglam, jikalau kau ingin ikut dia pulang, kau harus lekas kawin dengannya, setelah keduanya terikat sebagai suami istri, di perjalanan jauh lebih leluasa."

"Tapi... tapi aku perlu memikirkannya dengan seksama."

"Pikir apa lagi? Dia adalah enghiong, dan kau pun seorang pendekar perempuan, di dalam melakukan suatu keputusan harus tegas dan gamblang, kalau pikir-pikir saja, bebek yang sudah matang mungkin bisa terbang pergi." Thio Hou-ji melanjutkan dengan sikap sungguh-sungguh: "Inilah kesempatanmu yang paling sukar dicari, jikalau tidak kau pegang kencang kesempatan baik ini, untuk mencari laki-laki yang cocok, sepanjang jalan kau menabuh gembreng pun jangan harap bisa kau dapatkan."

"Tapi... jangan kau memaksaku demikian rupa!"

"Sampai sekarang kau masih mengatakan aku memaksamu, kelak bila orang sudah memanggilmu Cin hujin, kau akan berterima kasih kepadaku. Ketahuilah panggilan Cin hujin bukan sembarang kau dapatkan di pinggir jalan, entah berapa banyak gadis-gadis mekar yang mengidamkan panggilain ini."

Dian Susi memejamkan mata. Seolah-olah terbayang olehnya dirinya bersama Cin Ko dalam perjalanan ke Kanglam, seperti melihat rombongan orang banyak bertampik sorak menyambut kedatangan mereka. "Cin hujin memang cantik molek, memang pasangan yang setimpal dengan Cin Tayhiap. Hanya gadis secantik Cin hujin yang setimpal menjadi jodoh Cin Tayhiap."

Di antara sekian orang yang merubung di tengah jalan sudah tentu ada seorang yang berkepala besar, main sembunyi di belakang orang banyak memandang dirinya dengan rasa jelus dan cemburu. Maka dengan tersenyum lebar, dia akan berkata: "Bukankah kau bilang aku tidak laku kawin? Sekarang tentu kau tahu bahwa pandanganmu keliru?" malah dilihatnya pula mimik si kepala besar yang menyesal dan hampir saja menangis.

Didengarnya Thio Hou-ji sedang berkata: "Coba lihat, lekas ambil putusan, kalau tidak kau tidak akan jadi Cin hujin, orang lain akan merebutnya."

Dian Susi mendadak berkata lantang: "Hanya aku yang setimpal jadi Cin hujin, orang lain jangan harap!"

***** Pakaian pengantin serba merah dengan hiasan warna-warni. Wajah Dian Susi lebih merah, lebih menyala. Melihat wajahnya sendiri di dalam cermin, dalam hati dia memuji akan kecantikan diri sendiri. Thio Hou-ji berada di sampingnya, melihat orang merias dan mendandani pengantin.

Dian toasiocia yang cantik setelah dirias dan didandani memang lebih molek dan jelita.

Thio Hou-ji menghela nafas, ujarnya: "Sungguh pengantin yang cantik rupawan, entah darimana Cin Ko memperoleh rejeki sebesar ini. Jikalau Dian toaya mendengar kabar gembira ini, tanggung dia amat puas dan senang mendapatkan mantu segagah dia."

Sedap rasa hati Dian Susi, tanyanya: "Mana babu cilikmu Siau-lan itu?" "Sejak setengah hari ini, entah kemana dia berada."

"Dulu aku pun punya pelayan bernama Dian Sim, wajah dan perawakannya mirip benar dengan Siau-lan."

"O, kalau demikian biarlah Siau-lan selanjutnya melayanimu saja," kata Thio Hou-ji, lantas dia putar tubuh turun dari loteng. Begitu berada di luar pintu, mukanya seketika berubah bengis, langsung dia menuju ke rumpun kembang. Di tengah rumpun kembang sana, ada sesosok bayangan orang, agaknya sejak tadi dia sembunyi di sini, Thio Hou-ji langsung mendekati, tanyanya: "Mana Siau-lan?" Orang itu menyahut: "Kusuruh orang mengawasinya."

"Lebih baik kau sendiri yang menghadapinya, jangan beri kesempatan bertemu dengan Dian Susi, terutama jangan sampai mereka bicara."

Orang itu tertawa, ujarnya: "Jikalau kau tidak senang mendengar dia bicara, biar kubikin dia tidak bisa bersuara."

*****

Rentetan bunyi petasan yang nyaring menusuk pendengaran, menandakan suasana gembira. Setelah bunyi petasan berakhir. Sepasang mempelai lantas sembahyang kepada Thian dan bumi. Suara protokol amat nyaring, Dian Susi sebagai mempelai perempuan dibimbing keluar, dengan tanda sentuhan sikut pembimbingnya menyuruh dia berlutut.

Dian Susi tahu sekali dia berlutut, selanjutnya dirinya bukan lagi Dian toasiocia. Begitu dia berlutut dan bersembahyang, maka dia berubah jadi Cin hujin. Para pengiringnya jadi gelisah dan tak sabar lagi, akhirnya berbisik di telinganya: "Lekas berlutut!"

Dian Susi hanya mendengar suara tapi tidak melihat raut muka mereka. Kepalanya berkerudung kain sutra merah yang tersulam sepasang burung hong, pandangannya teraling, sedikit pun dia tidak bisa melihat apa yang terjadi di sekitarnya. "Menikah memangnya peristiwa umum yang terang gamblang, kenapa mempelai perempuan tidak boleh dipandang terang-terangan dan memandang orang?" tiba-tiba terbayang dalam benak Dian Susi peristiwa yang dialaminya di desa kecil tempo hari, seketika timbul rasa takut dan ngeri. Terbayang olehnya Kek siansing yang berjubah merah bersulam naga dan berdandan sebagai mempelai pria itu. "Pengantin perempuannya adalah kau!" Kalau hari itu dia bisa melihat sepasang kaki orang. Tapi sebaliknya sekarang apapun tidak dilihatnya, lalu siapa mempelai pria? Bukan mustahil berubah menjadi Kek siansing lagi?

Hadirin sudah mulai bisik-bisik, semua heran dan gelisah. Terutama pengiring pengantin semakin gugup, tak tahan dua orang berbareng menekan pundaknya. Tapi badan Dian Susi sekeras dan kaku seperti patung, mendadak dia berteriak. "Tunggu dulu."

Bahwa pengantin perempuan bersuara, keruan hadirin kaget dan geli, para pengiringnya sebaliknya kaget dan pucat, belum pernah terjadi peristiwa lucu dan menggelikan seperti ini. Untung Thio Hou-ji sudah memburu datang, katanya berbisik: "Sudah tiba saatnya, apa pula yang harus ditunggu?"

Dian Susi menggigit bibir, sahutnya: "Aku ingin melihatnya dulu." "Melihat siapa?"

"Dia."

Akhirnya Thio Hou-ji mengerti siapa yang dimaksud dengan 'dia', tak tahan dia tertawa geli, katanya: "Sekarang buat apa kau gugup, setelah masuk kamar pengantin, kau boleh memandangnya sepuasmu."

"Sekarang juga aku ingin melihatnya," Dian Susi mengukuhi permintaannya. Thio Hou-ji membanting kaki, katanya: "Kenapa harus melihatnya?"

"Sebelum jelas kepada siapa aku menikah, mana bisa hatiku lega kawin sama dia?" Apa yang dia ucapkan memangnya masuk akal.

Dongkol dan geli pula Thio Hou-ji, katanya: "Memangnya kau kuatir salah menikah dengan orang sembarangan?"

"Pendek kata aku harus melihatnya dulu."

Tak tahan Thio Hou-ji membanting kaki pula, katanya: "Pengantin perempuan berkukuh hendak melihat pengantin pria, memangnya siapa yang kuasa merintangi keinginannya?" Memangnya hal ini teramat jamak dan adil. Seluruh hadirin gempar dan tertawa riuh. Siapa yang tidak geli justru lucu malah. Mendadak Dian Susi rasakan pandangan matanya terbuka, kain sutra kerudung mukanya tiba-tiba dicopot orang. Tampak pengantin pria berdiri di hadapannya, sepasang matanya yang bersinar

mengandung rasa heran dan tidak mengerti, namun wajahnya nan ganteng masih menyimpulkan senyum gagah dan prihatin.

Tidak salah pengantin pria memang Cin Ko. Dian Susi menghembuskan nafas lega, mukanya jadi merah jengah, terasa perbuatannya rada keterlaluan.

"Bagaimana, sudah cukup belum?" goda Thio Hou-ji sambil mengerling tajam. Dian Susi manggut-manggut dengan menundukkan kepala.

"Sekarang boleh dimulai sembahyang!" Thio hou-ji seperti memberi perintah.

Kain sutra merah kembali menutup kepala dan muka Dian Susi, petasan brondong kembali berbunyi di luar pintu, suara protokol kembali kumandang: "Ke satu sembahyang kepada bumi dan langit..."

Akhirnya Dian Susi menyerah dan hampir berlutut. Jikalau dia berlutut, maka kesalahan besar sudah dia lakukan tanpa dia sadari. Sayang sekali, dia justru tidak tahu di mana letak kesalahannya. Pembaca tahu di mana letak kesalahannya?

Pernikahan bukan saja peristiwa menggembirakan juga suatu kejadian yang baik. Lalu siapa berani bilang pernikahan kali ini bukan kejadian baik?

Tepat di ambang pintu sudah disiapkan meja sembahyang, sepasang lilin besar sudah terpasang. Setelah kedua mempelai mulai beranjak hendak berlutut di hadapan bumi dan langit, baru Thio Hou-ji merasa lega benar-benar.

Pada saat itulah, pintu kecil di pojok sana, mendadak terbuka dan menerobos keluar seseorang, setangkas burung walet dia menyelinap maju dan menghadang di depan dua mempelai tangannya

membawa nampan, katanya dengan tersenyum: "Siocia, silahkan minum teh dulu."

Dalam saat genting yang menentukan bagi kedua mempelai, masih ada orang mengantar air teh untuk mempelai, sungguh bikin orang meringis geli.

Dian Susi kenal benar suara ini, dia singkap sedikit kain kurung mukanya, dilihatnya seraut wajah berseri dengan mata bundar mulut kecil mungil di hadapannya. Dian Susi sendiri susah membedakan dara cilik ini sebenarnya Dian Sim atau Siau-lan?

Sebaliknya raut muka Thio Hou-ji menjadi masam, alisnya bertaut, sorot matanya setajam golok melotot kepada dara cilik ini, seolah-olah sekali tendang ingin dia menyingkirkan orang dan membikinnya mati. Tapi dalam suasana gembira di hadapan sekian banyak tamu lagi, sudah tentu tidak bisa dia main tendang. Maka dengan kertak gigi, dia mendengus bengis: "Siapa suruh kau kemari? Lekas menggelinding pergi”.

Dara cilik ini malah cekikikan, sahutnya menggeleng: "Aku tidak boleh pergi." "Kenapa?"

"Karena seorang Cin kongcu suruh aku tetap tinggal di sini." "Cin kongcu? Cin kongcu yang mana?"

"Aku tidak mengenalnya, aku hanya tahu dia she Cin bernama Cin Ko."

Berubah muka Thio Hou-ji, sentaknya bengis: "Kau edan, Cin Ko terang berada di sini." "Aku tidak edan, memang benar ada seorang Cin kongcu, tapi bukan orang ini." Berubah rona muka mempelai laki-laki, selanya: "Di mana orangnya?"

Belum dara cilik itu menjawab, seseorang sudah bersuara: "Berada di sini," di tengah gelak tawanya, api lilin bergoyang-goyang seperti terhembus angin kencang, sehingga cahaya menjadi guram, dan api pun hampir padam. Namun setelah api lilin menyala normal, tampak di depan sepasang lilin besar itu berdiri seseorang. Seorang berkepala besar, berbadan tromok, dengan biji mata kecil panjang.

Nyo Hoan.

Hampir Dian Susi menjerit kaget. Sungguh tak pernah terpikir olehnya, cara bagaimana setan kepala besar ini bisa menemukan dirinya, lebih tidak diduganya bahwa orang hendak bikin onar menghalangi pernikahannya.

Melihat Nyo Hoan, sikap Thio Hou-ji seperti takut-takut dan segan, tidak semarah tadi, katanya dengan cengar-cengar dipaksakan: "Kiranya kau? Kenapa kau mengganggu hari baik orang lain?"

"Karena ini bukan urusan baik," sahut Nyo Hoan tawar.

Muka pengantin pria Cin Ko merah padam, selanya: "Siapa bilang bukan urusan baik?" "Aku yang mengatakan."

"Kau ini barang apa?"

"Seperti dirimu, aku bukan barang apa-apa." Dian Susi sudah buka mulut, namun dia urung bicara, sungguh tak pernah terpikir olehnya setan kepala besar ini ternyata berani kurang ajar di hadapan Cin Ko. Dan anehnya bukan merasa marah Dian Susi malah tertarik.

Cin Ko justru amat marah, semprotnya: "Kau tahu siapa aku?" "Tidak tahu," sahut Nyo Hoan kalem.

"Aku inilah Cin Ko." "Aneh kalau begitu." "Apanya yang aneh?"

"Karena aku ini pun Cin Ko."

Thio Hou-ji memaksa tawa, katanya: "Kelakar apa yang kau lakukan, silahkan duduk saja makan minum sepuasmu, mari kutemani kau."

Nyo Hoan menarik muka, katanya: "Siapa bilang aku berkelakar, kalau dia boleh bernama Cin Ko, kenapa aku tidak boleh bernama Cin Ko?" Tiba-tiba dia bertanya kepada dara cilik itu: "Siapa namamu?”

"Namaku Cin Ko," sahut si dara.

"Betul, kalau orang ini boleh bernama Cin Ko, setiap orang boleh juga bernama Cin Ko."

Semakin gelap raut muka Cin Ko, sebaliknya muka Thio Hou-ji semakin pucat, secara diam- diam kedua orang saling lirik memberi isyarat. Mendadak segulung asap tipis menyemprot keluar dari lengah baju Cin Ko menerjang ke muka Nyo Hoan.

Lekas dara cilik mendekap hidung mundur tujuh delapan kaki. Nyo Hoan sebaliknya tidak bergeming, seperti tidak merasakan apa-apa, cuma mulutnya saja yang meniup seperti orang bersiul. Segulung asap yang menyembur keras itu tiba-tiba berubah arah, putar balik menyembur ke muka Cin Ko sendiri malah.

Kontan Cin Ko berbangkis beberapa kali, air mata pun bercucuran. Lambat laun badannya meloso lemas dan tak berkutik lagi seperti cacing kepanasan.

Dengan tertawa Nyo Hoan bertanya kepada dara cilik: "Tahukah kau barang apa yang dia semprotkan tadi?"

"Obat wangi yang membius orang."

"Tahukah kau orang macam apa yang biasa menggunakan obat bius?" "Hanya manusia rendah hina dan cabul serta maling-maling kurcaci saja yang menggunakan obat bius untuk menjatuhkan korbannya."

"Tak nyana, kau pun begini luas pengetahuan."

"Tapi Cin Ko bukan maling kurcaci dan manusia cabul yang hina dina." "Dia memang bukan."

"Kalau demikian orang ini bukan Cin Ko." "Siapa bilang dia Cin Ko, dia itu anjing buduk." "Memangnya siapa kalau bukan Cin Ko?"

"Maling cabul yang hina dan rendah martabatnya." "Tapi maling cabul amat banyak."

"Dia adalah satu di antaranya yang paling kotor dan paling cabul, malah obat bius yang dia gunakan pun obat bius nomor sembilan yang paling rendah kualitasnya kecuali dia sendiri, siapapun jangan harap dapat dia bius."

"Betapapun cabul dan rendahnya seseorang, sedikitnya kan punya nama." "Orang cabul juga punya nama yang cabul pula."

"Siapa namanya?"

"Namanya dia ukir di dadanya, kau ingin melihatnya?" "Bikin mataku kotor tidak setelah melihat namanya?"

"Asal kau melirik sekilas saja," ujar Nyo Hoan tertawa. Mendadak dia robek baju di depan dada orang yang masih baru dan tersulam indah itu, maka kelihatan dada orang. Ternyata di kulit dada orang yang putih itu bertato seekor kupu kembang.

"Jadi orang ini bernama Hoa-ouw-tiap (kupu-kupu kembang)?”

"Benar, sejak dulu kala, orang yang menamakan dirinya Kupu-kupu Kembang dia bukan manusia baik-baik."

"Tak nyana apa yang kau ketahui ternyata jauh lebih banyak dan luas dari aku."

"Karena kepalaku jauh lebih besar, sudah tentu yang termuat di dalamnya juga lebih banyak." Selama ini Thio Hou-ji hanya pasang kuping diam saja, mukanya semakin pucat.

Dian Susi pun pasang kuping, wajahnya semakin merah, mendadak dia memburu maju terus layangkan kakinya menendang tepat perut Hoa-ouw-tiap. Sungguh bencinya bukan kepalang hampir gila rasanya. Hampir saja dirinya menjadi istri maling cabul yang rendah martabatnya, dengan kertak gigi Dian Susi melotot kepada Thio Hou-ji, katanya: "Kau... kau punya sakit hati apa terhadapku? Kenapa kau hendak mencelakakan aku?" saking marah air mata sampai bercucuran.

"Sungguh maaf," ujar Thio Hou-ji menyengir getir. "Tapi aku sendiri pun tertipu olehnya." Dia pun melangkah maju ikut menendang dada orang, katanya beringas: "Kau binatang ini, kau bikin aku malu saja." Seolah-olah dia lebih marah dan lebih penasaran, maka tendangannya lebih keras.

"Kau... apa benar kau pun tidak tahu?" tanya Dian Susi.

"Buat apa aku menjebloskan kau?" ujar Thio Hou-ji menghela nafas. "Aku kan tidak bermusuhan dengan kau."

Nyo Hoan mendadak menghela nafas, katanya: "Sungguh aku kagum kepadamu." Thio Hou-ji melengak, katanya: "Kagum apa tentang diriku?"

"Kau pandai main sandiwara."

Dara cilik berkedip-kedip, katanya: "Apa dikira dirinya masih bisa mengelabui kau?" Nyo Hoan tertawa, katanya tawar: "Tentunya dia tahu takkan bisa mengelabui aku." "Adakah orang dalam kolong langit yang bisa mengelabui kau?"

"Mungkin hanya satu orang saja yang bisa menipuku." "Siapa?"

"Aku sendiri."

*****

Seluruh hadirin jadi melongo dan berdiri menjublek. Mereka datang untuk makan dan minum perjamuan pernikahan, sekarang hidangan gagal mereka santap, malah melihat sebuah permainan

sandiwara yang tegang dan lucu.

Sekonyong-konyong Dian Susi melayangkan tangannya menampar muka Thio Hou-ji. Thio Hou-ji sedikit pun tidak bergerak, mukanya yang pucat seketika merah bengap. "Pukulan bagus," sorak si dara cilik, "pukul lagi lebih keras."

Nyo Hoan berkata: "Orang seperti dia kulit mukanya lebih tebal dari tembok, lebih keras kau menggamparnya, dia pun takkan merasa sakit."

"Lalu bagaimana kita harus menghukumnya?" "Tidak diapa-apakan."

"Tidak diapa-apakan?" dara cilik mengerut kening, "apa dilepas begini saja?" "Ya, biar dia pergi."

"Apakah tidak terlalu murah bagi dia?"

"Manusia seperti dia, sejak dilahirkan memang sudah kodrat tukang menipu orang, justru aneh jikalau dia tidak menipu orang lain, maka..."

"Maka kenapa?"

"Maka bila kau bertemu dengan orang macam ini, kau harus waspada dan hati-hati, lebih baik menyingkir saja, kalau tidak umpama benar kau tertipu olehnya memangnya pantas dan syukur."

Dian Susi berjingkrak, serunya: "Apa kau maksud aku yang pantas ditipu, malah-malah menyukurkan!"

"Benar!" sahut Nyo Hoan tegas.

Melotot biji mata Dian Susi, hampir meledak dadanya, saking marah dan gugup.

"Dia kan tidak paksa kau? Adakah dia mengancam dan menekan kau? Atau kau sendiri yang mau ikut dia kemari?"

Bungkam dan tak kuasa bersuara mulut Dian Susi saking marah, memangnya tiada omongan yang bisa dia ucapkan. Thio Hou-ji memang tidak memaksa dan mengancam dirinya.

Berkata Nyo Hoan: "Seseorang melakukan sesuatu bila tidak hati-hati, lebih baik jangan menyalahkan orang lain, apalagi mengomeli orang yang tidak tersangkut paut." Suaranya datar dan mantap. "Siapapun harus belajar lebih dulu mengoreksi diri sendiri, baru bisa mengoreksi orang lain, kalau tidak itu hanya menandakan dia adalah bocah cilik yang belum lagi tumbuh dewasa."

Dian Susi tiba-tiba memalingkan muka dan berlari pergi.

Nyo Hoan mengawasi dara cilik, dara cilik tertawa, terus lari memburunya. Thio Hou-ji malah mengawasi Nyo Hoan, katanya: "Kau sudah tahu akan persoalan ini?" "Hanya tahu sedikit saja, belum jelas seluruhnya."

"Tapi sudah lebih dari cukup." "Cukup."

"Apa pula yang akan kau tindak atas diriku?" "Coba kau katakan apa yang harus kulakukan?"

Thio Hou-ji menunduk, katanya: "Biang keladinya bukan aku." "Aku tahu bukan kau."

"Mana Kek siansing?"

"Lebih baik kau urus dirimu sendiri, baru urus orang lain."

Thio Hou-ji gigit bibir, katanya: "Kalau aku berjanji kepadamu, selanjutnya takkan menipu orang lagi, kau percaya tidak?"

"Aku percaya."

Tersenyum lebar Thio Hou-ji, katanya: "Kau memang orang baik, tapi juga manusia aneh."

*****

Sebetulnya Nyo Hoan bukan aneh, sedikit pun tidak aneh. Dia tidak lebih seperti orang awam umumnya, bisa saja. Satu hal yang tidak mirip orang lain ialah, bukan saja dia percaya kepada orang, dia pun percaya kepada diri sendiri.

Setiap menghadapi persoalan dan melaksanakan kerja selalu dia menggunakan caranya sendiri, tapi cara itu pun cara yang paling umum, cara biasa. Adil, tapi tidak pakai kekerasan dan tekanan. Terhadap siapapun tidak keterlaluan, tapi juga tidak akan memberi peluang. Dia suka menggunakan ajaran Nabi Khongcu, Tiong-yong atau tengah sempurna dan pengampunan, suka menggunakan sikap yang wajar dan jiwa yang besar untuk menghadapi kehidupan manusia.

*****

Dian Susi berlari keluar pekarangan dan memeluk sebatang pohon lalu menangis menggerung- gerung. Air mata bercucuran saking marah dan penasaran. "Babi gendut, setan kepala besar... aku benar-benar bertemu dengan setan kepala besar." Kalau tidak bertemu dengan setan kepala besar, bukankah sekarang dirinya sudah menjadi bini maling cabul? Lambat laun pikirannya tenang emosinya reda, baru terasa olehnya apa yang diucapkan Nyo Hoan tentang dirinya memang tepat dan benar.

Tiba-tiba sebuah tangan terulur mengangsurkan sebuah cangkir teh. "Siocia, minumlah teh ini untuk meredakan amarahmu."

Dara cilik itu tahu-tahu berada di sampingnya, tawanya manis dan nakal. Tak tahan Dian Susi bertanya: "Sebetulnya kau ini Siau-lan atau Dian Sim?" "Agaknya umpama aku menjadi abu, Siocia tetap mengenalku juga."

"Jadi kau adalah Dian Sim?"

"Siapa bilang aku bukan Dian Sim, siapa adalah an..."

Kontan Dian Susi mencubit pipinya, makinya tertawa: "Setan cilik, baru saja kenal setan kepala besar, kau sudah menirukan caranya bicara..."

"Ah, tidak apa, paling kelak aku bantu Siocia melipat selimut membetulkan ranjangnya."

Kontan Dian Susi menarik muka, katanya penasaran: "Kau jangan ngelindur, umpama laki-laki seluruh dunia ini mampus seluruhnya, aku pun takkan kawin sama dia." Tidak beri kesempatan Dian Sim bicara dia lantas bertanya: "Jadi sejak awal kau sudah tahu bahwa Cin Ko yang ini samaran orang lain?"

Dian Sim manggut-manggut.

Dian Susi kertak gigi, katanya: "Budak mampus, kau sudah tahu, kenapa tidak siang-siang memberitahu aku?"

"Aku tidak punya kesempatan."

"Pertama kali kau antar pakaian, kenapa tidak kau katakan?"

"Waktu itu aku tahu Kek siansing berada di dalam kamar, maka Siocia tanya aku ini Dian Sim atau Siau-lan, aku pun tidak berani menjawab."

Mendengar nama Kek siansing, Dian Susi bergidik seram.

"Belakangan aku sengaja menumpahkan air teh ke badan Siocia, maksudku berkesempatan menyusupkan lipatan kertas ke baju Siocia, siapa nyana kau malah membuangnya."

Dian Susi menghela nafas, sahutnya: "Waktu itu mana terpikir olehku. Sampai detik ini, aku masih tak habis mengerti, kenapa mereka berusaha menjebak diriku." "Sebetulnya mereka tidak ingin mencelakai kau, cuma ingin kau menjadi istri orang saja." "Kenapa mereka mengatur tipu daya begini rumit, lalu siapa biang keladinya?"

"Kek siansing."

Bergidik Dian Susi dibuatnya, katanya gemetar: "Jadi dia bersekongkol dengan Thio Hou-ji?" "Kau masih belum paham?"

"Jadi dia pun tidak tertutuk Hiat-tonya oleh Cin Ko palsu itu?"

"Yang terang mereka sengaja bersandiwara di hadapanmu, supaya kau lebih percaya kepada Cin Ko palsu itu," dengan menghela nafas Dian Sim menambahkan: "Sebetulnya umpama ada sepuluh Kupu-kupu Kembang, cukup dengan dua jarinya saja Kek siansing mampu memites mampus keseluruhannya dengan gampang."

"Memang orang itu amat menakutkan."

"Menurut apa yang kutahu, ilmu silatnya memang jauh lebih menakutkan dari tokoh manapun yang pernah kita jumpai." Sampai di sini Dian Sim cekikikan, "Tapi begitu dia melihat Nyo kongcu, mirip tikus berhadapan dengan kucing."

Dian Susi menarik muka, katanya dingin: "Darimana kau tahu?"

"Jikalau Nyo kongcu tidak datang tepat pada waktunya menolong aku, mungkin sekarang aku sudah tidak bisa bertemu dengan Siocia."

"Orang itu hendak membunuhmu?"

"Agaknya mereka sudah tahu hubunganku dengan Siocia." "Tapi cara bagaimana kau bisa sampai di sini?"

"Ong toanio membawaku kemari, dia menjual aku kepada Thio Hou-ji." "Jadi hari itu kau tidak melarikan diri?"

Dian Sim menggeleng-geleng. "Mana aku bisa lari dari cengkeramannya?"

Dian Susi tertawa geli, katanya: "Ong toanio bukan Ji-lay-hud, kenapa kau tak mampu lolos dari telapak tangannya? Bukankah kau Sun-go-kong ini biasanya serba pintar dan cerdik?"

Dian Sim memonyongkan mulut, katanya: "Soal apa yang bikin kau geli?" "Apa kau tidak bisa melihat, setan kepala besar itu mirip seseorang?" Dian Sim tertegun, "Mirip siapa? Orang yang kita kenal?"

"Sebetulnya kau mengenalnya, karena dia teman baik dengan Sun-go-kong." Dian Sim akhirnya mengerti, katanya cekikikan: "Maksudnya dia mirip Ti-pat-kay?" Dian Susi bertepuk tangan, katanya tertawa: "Mirip tidak menurut pendapatmu?" "Aku sih tidak tahu dalam hal apa dia mirip."

"Dia pandai makan, senang tidur, begitu berhadapan dengan perempuan cantik, matanya lantas memicing dan cengar-cengir seperti bau kentut, bukankah dia mirip Ti-pat-kay?"

Dian Sim menghela nafas, katanya: "Tapi kalau tiada Ti-pat-kay, kau dan aku mungkin sudah dikerjai orang."

Dian Susi merengut, "Kenapa kau selalu membela dia?" "Karena aku mengaguminya."

"Kalau begini, biarlah kau kuserahkan kepadanya, menjadi bininya. Mau tidak?" "Mau saja," sahutnya tegas dan lantang, tanpa pikir lagi.

"Kau mau?" Dian Susi melongo malah. "Kenapa tidak mau?"

"Kepalanya tiga lipat lebih besar dari orang biasa, memangnya kau tidak melihat?"

"Apa jeleknya kepala besar? Orang berkepala besar pasti lebih pintar." "Pinggangnya pun lebih besar dari gentong air."

"Tapi hatinya lebih lembut, dan cermat dibanding sebatang jarum, perduli persoalan apapun pasti dia pikirkan dengan seksama."

"Kau tidak merasa dia itu seorang buruk rupa?"

"Seorang laki-laki cukup asal dia pintar bekerja dan cekatan, umpama dia benar-benar jelek juga tidak menjadi soal, apalagi sebenarnya dia toh tidak jelek."

"Dia tidak jelek?" Dian Susi berjingkrak, "orang macam apa baru kau anggap jelek?" "Menurut hematku Kupu-kupu Kembang jauh lebih jelek, cita-cita seorang laki-laki pun dia tidak memilikinya." Dengan memejamkan mata, mulutnya mengoceh seperti orang mengigau

dalam mimpi: "Jika kau membayangkan secara cermat, kau akan merasa setiap jengkal badannya normal dan patut dipandang, terutama dikala dia tertawa, sungguh menawan hati."

"Baik, kalau kau menyukainya, kenapa tidak kau kawin dengannya?" "Sayang dia tidak menyukai aku, orang yang disukai adalah..."

"Orang yang kusukai adalah aku sendiri," seseorang menukas. Tahu-tahu Nyo Hoan sudah berdiri di hadapan mereka dengan berseri tawa, katanya pula: "Siapapun pasti menyukai dirinya sendiri." Dian Sim menunduk dengan muka merah, tak berani buka mulut lagi.

Nyo Hoan berbangkis sekali lalu katanya: "Marilah kita pergi." "Pergi?" Dian Susi melotot, "pergi begini saja?"

"Tidak begini memangnya harus bagaimana?" "Mana Thio Hou-ji?"

"Di dalam rumah."

"Kau melepasnya begini saja?"

"Memangnya apa yang harus kulakukan? Membunuhnya? Menghajar tiga ratus rangket?" "Kau... kau... sedikitnya melampiaskan kedongkolanku!"

"Apamu yang harus dilampiaskan? Dia pernah pukul kau?" "Tidak!"

"Pernah memakimu?" "Juga tidak."

"Setelah kau ikut dia kemari, apa pula yang dia ingin kau lakukan?" "Dia suruh aku mandi, suruh aku ganti pakaian, lalu... lalu..."

"Memberimu makan sampai kenyang, memperkenalkan seorang laki-laki pula, benar tidak?" "Benar sih benar, namun..."

"Namun kenapa? Tetap ingin melampiaskan dongkol?" "Sudah tentu." Dian Susi berjingkrak, serunya membanting kaki: "Kau... kau bantu aku? Atau membela dia?"

"Siapapun tidak kubela, aku hanya membela kebenaran."

"Kau kira aku tidak benar? Kalau dia? Kenapa dia menipu aku? Kenapa dia menipuku menikah dengan laki-laki itu?"

"Mungkin lantaran kau terlalu cantik, maka orang begitu kepincut dan ingin mempersunting kau, jika seperti aku, umpama kau berlutut minta orang mengawinimu, orang tetap tidak sudi."

Marah bukan kepalang Dian Susi, teriaknya: "Siapa bilang aku cantik, sedikit pun aku tidak cantik, memangnya kau tidak tahu bahwa mereka bersengkongkol?"

"Sejak kapan kau berubah begini rendah hati? Sukar didapat..." Nyo Hoan menggeliat, sambungnya: "Aku mau pergi, mau ikut tidak terserah kepadamu."

"Sudah tentu terserah aku, dengan hak apa kau urus aku?"

Nyo Hoan melangkah pergi, omelnya: "Jika ketemu Kek siansing, sebetulnya tidak perlu takut, paling dia hanya ingin mengawini kau, takkan menelanmu bulat-bulat."

Belum habis dia bicara Dian Susi sudah memburunya, katanya dengan nafas memburu: "Apa katamu? Kek siansing masih di sini?"

"Mana aku tahu dia masih di sini atau tidak? Dia di sini memang ada sangkut paut apa dengan aku?"

"Barusan kau masih melihatnya?" "Tidak salah."

"Kenapa tidak kau bekuk dia?"

"Kau sendiri pernah melihatnya beberapa kali, kenapa kau tidak menangkapnya?" "Karena aku tidak mampu menangkapnya."

"Aku pun demikian."

"Kau tidak mampu menangkapnya? Masa kepandaian silatmu tidak lebih unggul?"

"Yang terang kepandaianku tidak setinggi yang kau bayangkan, kenapa kau mengagulkan aku terlalu tinggi." "Kenapa begitu melihat kau lantas lari sipat kuping?"

"Mungkin aku adalah seorang Kuncu, seorang sosiawan sejati, sesat tak menang melawan lurus, masa kau tidak paham akan pengertian ini."

*****

Jagat gelap gulita hanya disinari bintang kelap-kelip, angin lalu menghembus membawa bau kembang yang harum.

Nyo Hoan jalan di depan, Dian Susi mengikuti di belakangnya. Meski setan kepala besar ini membosankan, betapapun lebih baik daripada Kek siansing. Dian Sim berjalan di samping mereka, kedua biji matanya yang besar ganti berganti mengerling ke sana kemari. 

Tiba-tiba Dian Susi memecah kesunyian: "Coba kau tanya dia kemana hendak pergi." Dian Sim mengedip mata, "Kenapa tidak kau tanya sendiri."

Dian Susi melotot, tapi tidak bersuara lagi.