Tokoh Besar Bagian 04

Bagian 04

"Sebetulnya belum tentu dia benar-benar ingin mengawini kau, mungkin dia mempunyai tujuan lain yang tersembunyi."

"Ada tujuan apa? Dia punya maksud-maksud apa?" tak tahan Dian Susi bertanya.

"Aku belum tahu dia punya maksud tujuan apa, mungkin setelah tujuannya tercapai kau bakal dicerai oleh dia. Saat mana kau baru berpaling mau kawin sama aku, bukankah mengenaskan."

Merah padam muka Dian Susi, semprotnya gusar: "Kau tak usah kuatir, umpama aku cukur rambut jadi Nikoh, betapapun takkan sudi menikah dengan kau."

"Tidak bisa tidak aku harus berkuatir, urusan dalam dunia ini siapa yang bisa menentukan, segala peristiwa mungkin saja terjadi."

"Kau kira kau ini orang apa? Laki-laki gagah ganteng? Dalam hal apa kau berani beranggapan aku sudi menikah dengan kau?"

"Aku ini laki-laki ganteng cakap atau babi buntung, bukan soal, yang terang setelah kau benar- benar menikah dengan orang lain, baru hatiku akan lega dan tentram."

"Baik, akan kuusahakan supaya aku menikah dengan cepat, akan kuberitahu kepadamu selekas aku kawin," serasa hampir gila saking jengkel, habis berkata dia terus melangkah keluar hendak tinggal pergi. Tak nyana Nyo Hoan tiba-tiba memanggilnya: "Eh, tunggu dulu." "Tunggu apa? Kau masih belum lega?"

”Memang masih kurang mantap, bagaimana kalau sebelum kawin kau sudah mati?" "Memangnya apa sangkut paut mati hidupku dengan kau?"

"Sudah tentu amat erat sangkut pautnya, resminya kau sudah menjadi keluarga Nyo kami, jikalau kau mengalami kesulitan, aku harus bantu menyelesaikan, jikalau kau mengalami cedera atau kematian, aku harus menuntut balas bagimu, bukankah amat berabe? Sejak kecil aku paling takut menghadapi kesulitan, cara bagaimana aku bisa lega?"

"Aku tidak akan mati," hampir meledak dada Dian Susi saking marah.

"Belum tentu, nona pingitan dengan watakmu ini, umpamanya harga dirimu sudah terjual tanpa kau sadari, apalagi..." Nyo Hoan menghela nafas, sambungnya: "Kau sendiri belum tahu kapan kau bakal menikah, sebaliknya sembarang waktu mungkin Dian lopek akan meringkusmu dan dibawa pulang, kalau hal ini sampai terjadi, bukankah kau, tetap akan menikah dengan aku?"

"Lalu apa kehendakmu baru kau akan merasa lega. Katakan!" "Memang aku punya akal untuk menghindari segala kemungkinan ini." "Akal apa?"

"Kepada siapa kau ingin menikah, segera kuantar kau ke sana, setelah kau kawin sama dia, maka tiada sangkut pautnya lagi dengan aku, maka legalah hatiku."

"Agaknya kerjamu amat teliti."

"Ah, terlalu dipuji, biasanya aku terlalu gegabah, tapi menghadapi persoalan seperti ini terpaksa harus hati-hati, salah mengawini bini bukan persoalan main-main."

Dian Susi hanya tertawa-tawa dingin, sungguh amarahnya sudah tak terkendali sampai tak bisa bicara lagi.

"Oleh karena itu, kepada siapa kau kendak kawin, lekaslah katakan, aku pasti mengantarmu ke sana."

Dian Susi menggigit bibir, sahutnya: "Aku ingin kawin dengan Cin Ko."

"Cingko (Pujaan Hati)?" berkerut alis Nyo Hoan: "Siapakah laki-laki pujaanmu, darimana aku bisa tahu?" Ingin rasanya Dian Susi menjewer kupingnya, katanya lantang: "Yang kumaksud adalah Cin Ko, pemuda gagah yang membunuh Tujuh Harimau di puncak Hou-khiu-san itu. Memangnya kau belum pernah dengar namanya?"

"Belum pernah dengar," Nyo Hoan geleng-geleng. "Gentong nasi, kecuali makan, apa yang kau ketahui?"

"Aku bisa minum arak," lalu ditenggaknya secangkir, sambungnya: "Baiklah, Cin Ko, ya Cin Ko, aku pasti bantu menemukan dia, tapi dia mau kawin sama kau tidak, bukan menjadi tanggung jawabku lho!"

"Urusanku sendiri, aku bisa menyelesaikan," ujar Dian Susi gusar.

"Aku boleh mengiringimu menemukan dia, tapi kita harus ada perjanjian." "Perjanjian apa?"

"Pertama, aku pasti tidak akan mempersunting kau, kau pun takkan kawin dengan aku." "Bagus sekali. Aku setuju."

"Kedua, sepanjang jalan, kau jalan sendiri aku pun tak terikat dengan kau, apapun yang kau lakukan aku tidak akan paksakan, kau pun jangan paksa aku."

"Boleh!"

"Ketiga, siapapun yang kau penujui kau boleh kawin sama dia, siapapun yang kucintai sembarang waktu aku boleh mempersunting dia. Kita siapapun tak boleh mencampuri urusan masing-masing."

"Baik sekali," pusing kepala Dian Susi karena marah, hanya kata-kata itu saja yang kuasa dia ucapkan. Seharusnya dialah yang mengajukan ketiga syarat ini, kini orang sudah mengemukakan lebih dulu.

*****

Entah kapan orang-orang yang hadir dalam perjamuan sudah bubar dan tak kelihatan bayangannya.

Tak tahan akhirnya Dian Susi bertanya: "Cara bagaimana kau datang kemari? Mana ayahku?" "Ada persoalan yang tidak ingin kuberitahu kepadamu, kau pun jangan paksa aku."

"Mana mereka?" "Sudah pergi."

"Kenapa kau biarkan mereka pergi?"

"Kek siansing pun kuberi kelonggaran, kenapa mereka tidak boleh pergi?" "Kenapa kau bebaskan Kek siansing?"

"Paling dia ingin mengawini kau, meski perbuatannya bodoh, bukan terhitung perbuatan jahat. Dan lagi, dia telah memberi minum gratis kepadaku."

"Tapi dia telah membunuh beberapa orang."

"Memangnya kau sendiri tidak pernah membunuh orang? Memang banyak orang yang pantas mampus."

"Baik, cepat atau lambat akan datang ketika aku akan mencari perhitungan dengannya," setelah menahan emosi, dia berseru lagi: "Bolehkah aku melihat senjata rahasia yang dia gunakan itu?"

"Tidak bisa." "Kenapa tidak bisa?"

"Tidak bisa ya tidak bisa, kita sudah berjanji, siapapun tidak boleh memaksa." "Baik," seru Dian Susi membanting kaki, "hayolah berangkat."

"Buat apa tergesa-gesa?"

"Aku tergesa apa? Sudah tentu aku ingin lekas kawin dengan orang."

"Kau ingin cepat, aku sebaliknya, kalau mau pergi silahkan jalan lebih dulu, yang terang jalan yang kita tempuh berlainan, yang terang aku tidak akan membiarkan kau dijual kepada orang."

Tiba-tiba Dian Susi raih sebuah poci terus dibantingnya hancur, tanpa berpaling dia melangkah keluar.

Nyo Hoan menggeleng-geleng, katanya menghela nafas: "Untung di sana masih ada sebuah tidak terlihat olehnya..."

Dian Susi tiba-tiba memburu ke sana dan "tang" poci yang satu itu pun dia banting berkeping- keping. Terhitung terlampias rasa gusarnya, waktu dia berpaling, dilihatnya Nyo Hoan sedang memeluk sebuah guci arak, katanya tertawa menyengir: "Pocinya boleh kau hancurkan semua, guci ini adalah milikku, mulut guci ini cocok dengan mulutku." Sepanjang jalan Dian Susi mengumpat caci, "Gendut mampus, setan arak, babi buntung..." akhirnya dia menjadi geli sendiri.

Tepat tengah hari.

Setelah rasa dongkol dan amarah Dian Susi hilang, baru Dian Susi betul-betul merasa badan penat, gerah, dahaga dan kotor. Setelah kepanasan di sepanjang jalan, perut lapar kerongkongan kering, baru dia menyadari bahwa ucapan si babi buntung tadi sedikit banyak memang masuk di akal. Kenapa tadi dia tidak makan minum dulu sepuasnya baru berangkat.

Kini dia hanya bisa mengawasi orang-orang berteduh di warung makan minum seenaknya tanpa berani mampir, soalnya kantongnya kempes, sepeser pun dia tidak punya uang untuk membeli, malu rasanya kalau minta atau meminjam uang untuk membeli.

Entah berapa jauh sudah jalan yang dia tempuh, tiba-tiba didengarnya suara kereta lari mendatangi, dari kejauhan sudah kelihatan seorang duduk bermalas-malasan di dalam kereta sambil mengayun pecut, matanya merem melek, ujung mulutnya menyungging senyum.

Ternyata setan arak gendut ini belum mabuk, baru sekarang dia menyusul naik kereta. Melihat keadaannya yang nyaman segar dan malas-malasan, sungguh bagai langit dan bumi bedanya dengan keadaan Dian Susi.

Sudah tentu Dian Susi amat gegetun, kereta ini tadi berada di muka pintu kenapa dia lupa menaikinya, kini terpaksa dia menunggu orang memanggil dirinya untuk naik ke atas kereta.

Nyo Hoan justru seperti hendak mempermainkan dia, kereta itu maju berhenti lalu berjalan lagi, di depan dan di belakangnya, tidak jauh membuntutinya terus.

"Hai," tak tertahan Dian Susi menyentaknya keras-keras. Nyo Hoan membuka mata, lalu dipejamkan lagi.

Terpaksa Dian Susi maju mendekati, teriaknya: "Hai, apa kau ini orang tuli?" Nyo Hoan menggeliat, katanya acuh tak acuh: "Kau bicara dengan siapa?" "Sudah tentu bicara dengan kau, memangnya aku ajak bicara dengan kuda?" "Namaku bukan 'hai', darimana aku tahu kau sedang bicara dengan aku?" "Hai, orang she Nyo!" seru Dian Susi kertak gigi.

Nyo Hoan malah pejamkan mata lagi.

"Kupanggil kau orang she Nyo, memangnya kau bukan she Nyo?" "Entah berapa banyak orang she Nyo, darimana aku tahu kau panggil orang siapa?"

"Emangnya di sini ada orang kedua yang she Nyo? Mungkinkah kuda ini she Nyo?" "Mungkin saja dia she Nyo, atau mungkin she Dian, kenapa tidak kau tanya dia?" Nyo Hoan

berbangkis sekali, lalu menyambung: "Kalau kau mau ajak aku bicara, nah panggillah Nyo toako kepadaku."

"Kenapa aku harus panggil Nyo toako?"

"Pertama, karena aku she Nyo, kedua, karena usiaku lebih tua, ketiga, karena aku ini laki-laki. Tentunya kau tidak panggil aku Nyo toaci," dengan malas-malasan dia tertawa, katanya: "Jikalau kau mau panggil aku Nyo toasiok, aku malah tidak berani terima." 

"Babi mampus, kau mirip siluman babi."

"Hanya babi yang ajak bicara dengan babi, kulihat kau tidak mirip babi."

Dian Susi kertak gigi, tiba-tiba dia putar badan tinggal pergi dengan jengkel. Sekonyong- konyong Nyo Hoan bersiul, tiba-tiba dia tarik tali kendali, kuda yang menarik kereta segera mencongklang ke depan, lewat dari sampingnya.

Jalan raya ini entah menembus kemana dan betapa panjang dan jauhnya, sehari pun takkan habis

dilalui. Sinar surya semakin terik. Kalau jalan kaki begini terus, mungkin sore nanti manusia bisa sekarat dibuatnya.

Karena gugup, kontan Dian Susi berteriak: "Nyo toathau, tunggu sebentar." Sengaja kata-kata 'toa' dia serukan lebih keras dan kata 'thau' lirih saja, maka kedengarannya seperti 'Nyo toako'.

Benar juga Nyo Hoan kena ditipunya, segera orang menghentikan kereta, tanyanya sambil berpaling dengan tertawa: "Dian siaumoay, ada urusan apa?"

Tak tertahan Dian Susi cekikikan geli dan senang, baru pertama kali ini dia berhasil mendapat keuntungan, maka tawanya amat riang. "Keretamu kosong, apakah aku boleh turut?"

"Sudah tentu boleh."

Tersipu-sipu Dian Susi naik ke atas, tiba-tiba kepalanya melongok keluar jendela kereta, katanya cekikikan: "Mungkin tadi kau tidak mendengar jelas. Aku tadi memanggilmu Nyo toathau, soalnya kepalamu memang tiga kali lipat lebih besar dari kepala orang umumnya." Sengaja dia menggoda supaya setan kepala besar ini marah.

Tak kira Nyo Hoan tidak marah, katanya dengan tertawa malah: "Kepala besar tandanya pandai, memangnya aku tahu aku ini pintar, tak usah kau memberi ingat kepadaku." "Blang" kontan Dian Susi tutup daun jendela kereta dengan muring-muring.

Nyo Hoan tergelak-gelak, "Tar" cambuk diayun kereta berjalan pula, serunya: "Kepala besar, tak usah takut hujan, orang punya payung aku punya kepala besar... kepala besar banyak manfaatnya, kelak kau akan tahu sendiri."

*****

Lewat lohor, matahari tidak seterik tadi, maka orang-orang yang lalu lalang di jalan raya semakin ramai, ada yang naik kereta, naik kuda, tua, muda...

Tiba-tiba Dian Susi lihat di antara sekian banyak orang-orang yang hilir mudik seorang pemuda menunggang kuda yang mengenakan ikat sapu tangan, sapu tangan merah terikat di lengannya. Yang terang orang ini bukan Cin Ko, tapi tentu dia datang dari Kanglam. 

Begitulah Dian Susi duduk bersandar di jendela melihat orang-orang yang hilir mudik. Begitu asyiknya dia membayangkan Cin Ko, sehingga semua urusan terlupakan, cuma perutnya yang tengah keroncongan ini yang berontak dan tak terlupakan.

Akhirnya tidak tertahan lagi Dian Susi melongok keluar, tanyanya: "Tahukah kau tempat apa di depan sana?"

"Tidak tahu, yang terang masih jauh sekali untuk ke Kanglam." "Aku hendak cari tempat untuk berhenti, aku... aku rada lapar." "Kau hendak makan apa?"

"Makan sekadarnya... sedikit saja tidak menjadi soal."

"Kalau tidak menjadi soal, kenapa makan?" ujarnya menghela nafas, lalu gumamnya: "Perempuan memang lebih pintar, seharian tidak makan juga tidak menjadi soal, kalau aku, mungkin sudah gila karena kelaparan."

Mendadak Dian Susi berjingkrak, serunya: "Aku pun sudah gila kelaparan." "Kalau begitu silahkan makan, cuma makan harus bayar, kau punya uang?" "Aku... aku..." sekian lama Dian Susi tergagap, "kau... kau punya uang?"

"Ada sedikit, tapi uang ini milikku, kau bukan biniku, tentu aku tidak bisa mengongkosi hidupmu."

"Siapa suruh kau mengongkosi hidupku?" "Kalau tidak, kau tidak punya uang, memangnya kau hendak ke Kanglam dengan perut kelaparan?"

"Aku... aku akan berusaha memperoleh uang."

"Baik sekali, dengan cara apa kau ingin mencari uang?"

Kembali Dian Susi melongo. Selama hidupnya belum pernah mencari uang, maka tak mungkin dia tahu cara untuk memperoleh uang. Maka dia bertanya: "Uangmu kau peroleh dari mana?"

"Sudah tentu kuperoleh dari hasil payah." "Hasil payah bagaimana?"

"Hasil payah banyak sekali caranya, umpamanya menjual silat, mengajar silat, menjadi Piausu, jadi jaga malam, memburu binatang, memetik obat, menjadi pelayan hotel, berdagang dan banyak lagi, pendeknya pekerjaan apapun pernah kulakukan," sampai di sini dia tertawa, sambungnya: "Kalau seseorang tidak mau kelaparan, dia harus kerja mencari uang, asal secara halal tiada pekerjaan yang memalukan. Entah kerja apa yang bisa kau lakukan?"

Dian Susi terkancing mulutnya. Sebagai gadis pingitan kerja apa yang bisa dia lakukan?

"Ada orang hanya bisa menghamburkan uang," demikian kata Nyo Hoan lebih lanjut. "Tidak bisa cari uang, umpama orang seperti ini mampus kelaparan, takkan ada orang yang kasihan padanya."

"Siapa suruh kau kasihan kepadaku?"

"Bagus, punya watak punya harga diri. Tapi sampai kapan kau kuat bertahan?" Dian Susi kertak gigi, hampir saja dia menangis.

"Aku malah dapat akal untuk kau memperoleh uang." "Akal apa?" tanya Dian Susi.

"Cobalah kau menjadi kusir keretaku, satu jam kubayar satu ketip." "Satu ketip?"

"Satu ketip kau kira sedikit? Kalau lain orang paling hanya kubayar lima sen." "Baik, seketip. Tapi... tapi..."

"Tapi kenapa?" "Biasanya aku tidak pernah jadi kusir."

"Tidak jadi soal, asal manusia siapapun pasti bisa jadi kusir. Hayolah pegang tali kendali ini."

*****

Akhirnya Dian Susi memperoleh uang dari jerih payahnya sendiri.

Seketip uang diperolehnya dengan imbalan yang tidak enteng, pinggang terasa linu, punggung pun serasa hampir bungkuk, terutama kedua tangannya seperti hendak copot, jari-jarinya pun hampir berdarah. Waktu terima uang seketip dari Nyo Hoan hampir saja dia mencucurkan air mata saking terharu. Bukan air mata penderitaan, adalah air mata kegirangan.

Mengawasi air matanya, bersinar biji mata Nyo Hoan, katanya tersenyum: "Sekarang kau sudah punya uang, silahkan mencari makan."

"Aku bisa cari sendiri, tak usah kau cerewet," dengan menggenggam seketip uangnya, serasa jauh lebih berharga dari sebutir mutiara.

*****

Kota ini tidak begitu besar. Dian Susi mencari sebuah warung makan yang terdekat, dengan membusung dada dia melangkah masuk. Meski hanya menggenggam seketip uang, tapi seolah seorang hartawan, seolah-olah belum pernah dia sekaya sekarang.

Dengan pandangan curiga dan ragu-ragu pelayan warung makan menghampiri, sapanya setelah menyuguh secangkir teh: "Nona hendak makan apa?"

"Warung kalian ada jual jamur wangi tidak?"

Di manapun hidangan jamur wangi hanya untuk hidangan orang berada yang tebal kantongnya.

Pelayan mengamatinya sekian lamanya, katanya: "Jamur wangi tentu ada, malah kami beli dari tempat jauh, cuma harganya terlalu mahal."

Dian Susi letakan uang peraknya ke atas meja, katanya: "Tidak menjadi soal, sediakan dulu jamur wangi dan panggang ayam."

Pelayan hanya melirik ke arah sekeping uangnya, katanya dingin: "Jamur wangi dan panggang ayam harganya total lima ketip, apa nona mau pesan?"

Dian Susi melongo, pelan-pelan dia ulur tangan menutup uang di atas meja, dengan telapak tangannya. Bahwasanya tidak pernah terpikir olehnya bahwa seketip uang perak berharga besar nilainya. "Tapi kami ada menyediakan makanan seharga satu ketip, seporsi sayur mayur dan seporsi kuah telur, nasi putih boleh makan sekenyangnya."

Terpaksa Dian Susi menahan air mata, katanya: "Baiklah, sediakan seadanya."

Tiba-tiba didengarnya seorang berseru: "Pelayan sediakan jamur wangi dan panggang ayam saos kepiting, bikin sekalian kembang sayur, ditambah kacang goreng." Entah kapan Nyo Hoan juga masuk kemari, malah menduduki meja di sebelahnya.

Dengan menggigit bibir Dian Susi diam saja, anggap tidak kenal dan tidak mendengar suaranya. Begitu hidangan siap dia tunduk kepala terus makan dengan lahapnya.

Tapi bau jamur wangi dan panggang ayam terlalu merangsang hidungnya. Akhirnya tak tahan dia ngomel: "Sudah segemuk babi, masih makan tanpa takaran, apa ingin disembelih pada tahun baru nanti?"

Nyo Hoan tetap tidak marah, katanya menyengir tawa: "Aku lebih pintar, lebih banyak uang, maka makan lebih banyak, kan adil, siapapun tidak boleh marah."

Meski kecil kota ini, warung makan ini ternyata cukup besar, malah disediakan pula tempat tersendiri sebagai ruangan VIP.

Dari ruangan VIP inilah tiba-tiba melangkah keluar seorang perempuan yang merias mukanya seperti golekan di atas panggung, dengan lenggang-lenggok menghampiri kasir, katanya: "Gu toaya suruh aku kemari mengambil sepuluh tail perak."

Si kasir segera unjuk tawa berseri, katanya: "Aku tahu, Gu toaya memang sudah ada pesan, nona yang datang hari ini, asal mau duduk, dia harus dipersen sepuluh tail." Lalu dia keluarkan sekerat perak seharga sepuluh tail diangsurkan, katanya pula dengan tetap berseri: "Nona-nona memang lebih gampang mengeruk uang."

Setelah menerima uang perempuan centil ini tiba-tiba berpaling, katanya berseri tawa: "Kalau kau rasa lebih mudah, kenapa tidak kau suruh bini dan putrimu cari uang di sini saja?"

Si Ciangkui tersentak kaget dengan muka berubah, seperti tenggorokannya tiba-tiba disumbat telur busuk yang menyesakkan nafasnya.

Di saat Dian Susi masih pasang kuping, Nyo Hoan tiba-tiba berkata: "Apa kau tidak merasa caranya mencari uang lebih gampang dari kerjamu?"

Satu jam jadi kusir kereta hanya memperoleh seketip uang perak, sebaliknya cukup hanya duduk-duduk saja dipersen sepuluh tail perak, sudah tentu suatu perbandingan besar yang teramat menyolok. Berkata Nyo Hoan lebih lanjut: "Kelihatannya mereka gampang memperoleh uang, karena mereka menjual kecantikan remaja dan harga diri, siapapun yang berani menjajakan semua ini, gampang saja memperoleh uang, hanya..." setelah menghela nafas dia meneruskan: "Meski gampang cara memperoleh uang seperti ini, tapi amat menekan batin dan merusak jiwa, hanya uang yang diperoleh dengan memeras keringat dari hasil kerjamu sendiri baru benar-benar menyenangkan hati."

Tak tertahan Dian Susi manggut-manggut, tiba-tiba terasa olehnya apa yang diuraikan ini amat benar dan masuk di akal. "Mungkin orang kepala besar jauh lebih banyak berpikir dari orang biasa."

Di dalam pandangan dan batin para pelayan rumah makan, mereka sering membedakan para tamu dalam dua kelas. Tamu seperti Dian Susi yang langsung memesan nasi dan lauk pauk jadi satu sudah tentu merupakan tamu kelas rendah. Bukan saja tidak perlu dilayani, tersenyum kepadanya pun tidak perlu.

Sebaliknya pengunjung seperti Nyo Hoan, bukan saja sekaligus memesan beberapa masakan, memesan arak yang mahal lagi. Sekali terlalu banyak menenggak air kata-kata maka uang tip yang bakal diterima para pelayan tentu cukup memuaskan, dan lagi seorang diri sang tamu terang takkan kuat menghabiskan beberapa macam masakan sebanyak itu, sisanya sudah tentu bakal jadi bagian mereka, untung kalau ada sisa arak lagi.

Dua orang yang berlainan tinggi rendahnya ini, justru kelihatannya sama-sama aneh, terang kedua orang ini kenal satu sama lain, namun justru menempati dua meja. Jelas satu sama lain saling bicara, namun mata mereka tiada yang melirik, seolah-olah mereka sedang pidato atau menggerundel dan ngoceh sendiri seperti orang gila. "Bukan mustahil mereka adalah pengantin baru yang sedang perang mulut," demikian batin para pelayan rumah makan itu.

Tiba-tiba terdengar suara kelinting yang ramai diselingi derap kaki ramai yang berlari mendatangi di jalan raya sana, tahu-tahu dua ekor keledai gemuk dengan bulunya yang

mengkilap berhenti diluar pintu, dua orang penunggangnya segera lompat turun terus melangkah masuk dengan membusungkan dada dan angkat kepala, ternyata kedua orang adalah dua orang anak kecil yang berusia sekitar tigabelasan, kedua keledai itu lebih gagah dari kuda, bulunya mulus dan coklat mengkilap, pelananya serba baru dengan tali kekang yang merah menyala.

Demikian pula pakaian kedua bocah ini teramat mewah, rambutmya dikepang di tengah dan tegak berdiri, matanya besar dan bersinar, tanpa tertawa pun kedua pipi mereka sudah menunjukkan lesung pipit yang menarik sekali.

Bocah sebelah kiri memegang cambuk, katanya melotot sambil menuding hidung pelayan: "Apa warung makan kalian yang terbesar dalam kota ini?" Pelayan munduk-munduk dengan tawa berseri, belum sempat bicara, Ciangkui sudah mendahului: "Warung makan dalam kota tiada yang lebih besar dari restoran kita, hidangan apapun yang ingin kau pesan, kita bisa menyiapkannya."

Bocah itu mengerut kening, berpaling berkata kepada temannya: "Memangnya aku sudah tahu kota ini amat rudin, restoran yang benar-benar genah pun tiada."

Bocah yang lain sedang mengamat-amati Dian Susi, sekenanya dia menjawab: "Kalau tiada yang lebih baik, biarlah seadanya saja."

Bocah yang membawa cambuk berkata pula: "Tempat sekotor ini, bagaimana nona bisa makan hidangannya?"

Bocah yang satu menimbrung juga: "Pesanlah kepada mereka, supaya bikin yang lebih bersih, kan menyenangkan."

Ciangkui segera menyela: "Ya, ya, ya, pasti kusuruh koki di dapur memperhatikan benar-benar, piring mangkok dan sumpit pakai yang baru."

Bocah pegang cambuk bertanya: "Berapa tarif restoran kalian untuk satu meja hidangan?" "Hidangan yang lebih baik semeja seharga lima tail..."

Belum habis dia bicara si bocah sudah mengerut kening, katanya: "Semeja lima tail mana bisa dimakan? Kau kira siapa kami? Memangnya kita orang desa yang tidak pernah makan di restoran?"

"Terserah pesanan tuan tamu, mau sepuluh tail atau dua puluh tail semeja, kita bisa menyiapkan sesuai permintaan," tersipu-sipu Ciangkui menerangkan lagi.

Baru bocah itu manggut-manggut, katanya: "Baiklah, siapkan satu meja hidangan seharga dua puluh tail perak," sembari bicara dia merogoh kantong dan melempar sekeping uang perak "klotak" di atas meja, serta menambahkan: "Nah itulah persekotnya, sebentar kita akan datang lagi."

Dua kali dia menatap Dian Susi, lalu pergi dengan menarik temannya, sambil jalan keduanya berbisik-bisik, tiba-tiba sama tertawa, lalu berpaling kepada Dian Susi, baru lompat naik ke pelana dan tinggal pergi.

Tiba-tiba terdengar seorang berseru memuji: "Keledai yang bagus, sejak aku masuk pedalaman, jarang kulihat binatang sebaik itu." Si pembicara adalah laki-laki brewok, dengan telanjang dada, tangannya memegang sebuah cawan arak beranjak keluar dari ruang kelas satu, mukanya kaku dan kasar. Seorang di sebelahnya segera berseri tawa, katanya: "Jikalau Gu toaya bilang bagus, tentu keledai itu memang jempolan." Raut muka orang ini bersemu hijau, biji matanya merah, usianya empat puluhan, namun badannya bungkuk, kalau tidak karena pembawaan sejak kecil, tentu kena penyakit kotor karena terlalu banyak main perempuan.

Di samping masih ada dua orang, seorang berbadan tinggi kurus, sebatang pedang hitam gelap tersoreng di pinggangnya, kedua biji matanya terbalik ke atas, ujung mulutnya selalu menyungging senyuman dingin, seolah-olah beranggapan tiada laki-laki lain dalam dunia ini yang lebih tampan dari dia.

Orang yang paling belakang usianya paling lanjut, banyak giginya sudah ompong, sisanya pun sudah menguning seperti besi karatan, keriput kulit mukanya takkan bisa rata meski diratakan dengan gosokan listrik, namun dia memakai jubah panjang hijau mulus, tangannya membawa sebatang kipas lipat, baru saja melangkah keluar "juh" kontan dia berludah dengan suara tidak kepalang tanggung, matanya kelap-kelip mengawasi Dian Susi.

Bagi Dian Susi tiada satu pun di antara orang-orang ini yang tidak membikin dirinya muak dan ingin muntah, maka kepala besar atau si babi gendut ini jauh lebih tampan dan bagus kalau dibanding orang-orang ini.

Habis menenggak secawan arak di tangannya, Gu toaya lantas berkata: "Dinilai dari kedua bocah ini, pasti nona majikan mereka mempunyai latar belakang yang luar biasa."

Laki-laki penyakitan bermuka hijau itu kembali unjuk seri tawa, katanya: "Betapapun luar biasanya dia, kalau dia sudah berada di sini, adalah pantas kalau harus bertandang dulu kepada Gu toaya."

Gu toaya menggeleng-geleng kepala, katanya sungguh-sungguh: "Cu-siu, kenapa kau bicara begini takabur, memangnya kau tidak takut ditertawakan oleh Bi Kong dan Ki kongcu?

Ketahuilah tidak sedikit tokoh-tokoh lihay di Kangouw, orang macamku ini memangnya terhitung apa?"

Kakek tua ompong yang cengar-cengir ini kiranya bernama Bi Kong, katanya sambil menggoyang kipas: "Ah, Gu-heng terlalu merendah, kalau Gu-mo-ong (raja iblis kerbau) yang tenar di luar perbatasan tidak terhitung apa-apa, aku Ouwyang Bi bukankah tidak berharga sepeser pun?"

Kelihatannya Gu toaya ingin bersikap acuh tak acuh, tapi tak urung dia tertawa, katanya: "Di luar perbatasan memang aku punya sedikit nama, tapi sejak masuk ke pedalaman, aku jadi orang desa

layaknya. Maka aku hanya berani tinggal di kota sekecil ini, tak berani berkeliaran di tempat- tempat besar, sudah tentu tak bisa disamakan dengan Bi Kong." Ouwyang Bi tertawa, ujarnya: "Gu-heng jangan lupa, kami justru datang dari tempat besar untuk menyambangi Gu-heng, yang diperlukan adalah kecocokan, perduli di tempat manapun bolehlah."

Gu toaya bergelak tawa. Dian Susi sebaliknya hampir saja muntah, namun serta dia teringat akan nama julukan Gu-mo-ong, tak tertahan dia tertawa geli dalam hati.

Habis puas tertawa Gu toaya berkata: "Bi Kong banyak pengalaman dan luas pengetahuan, apa kau sudah tahu asal-usul kedua bocah tadi?"

Ouwyang Bi gerakkan kipasnya, katanya setelah termenung sebentar: "Dilihat dari tingkah laku dan dandanan mereka, kalau bukan anak cucu dari keluarga bangsawan, pasti keturunan dari keluarga Bulim, umpama kata mereka dari kerabat kerajaan aku pun tidak perlu heran."

Gu toaya manggut-manggut, katanya: "Memangnya Bi Kong punya penglihatan tajam, menurut pendapatku yang bodoh, nona dari kedua bocah ini bukan mustahil adalah keluarga salah satu kerabat kerajaan dari kota raja, kebetulan ada hari baik maka pulang kampung untuk tilik keluarga."

Ki kongcu yang sejak tadi memegangi gagang pedang dan membalikkan dua biji matanya itu, tiba-tiba tertawa dingin: "Kali ini pandangan kalian kukira salah."

Bertaut alis Ouwyang Bi, katanya tertawa nyengir:" Agaknya Ki kongcu sudah tahu asal-usul nona yang bakal datang itu?"

"Em!" Ki kongcu hanya bersuara dalam tenggorokan. "Orang macam apa dia?" tanya Gu toaya.

"Dia bukan terhitung orang baik, tidak lebih hanya seorang lonte." Gu toaya melengak, "Lonte?"

"Apa kerja seorang lonte?" tanya Ki kongcu, "memangnya Gu-heng belum tahu?"

"Tapi lonte masakah punya perbawa begini besar? Mungkin Ki kongcu pun salah lihat!" "Pandanganku pasti tidak salah, bukan saja dia lonte, malah lonte kelas tinggi yang luar biasa." "Dalam hal apa dia luar biasa?" Gu toaya tertarik.

"Kalau laki-laki iseng biasanya mencari lonte, sebaliknya lonte ini memilih langganan, pekerjaan tidak memenuhi syarat jangan harap diservice di atas ranjang, pembayaran harus di muka, demikian pula kalau tempatnya tidak mewah dia pun tidak mau." Gu toaya tertawa terpingkal-pingkal, katanya: "Apakah tempat itunya ada tumbuh kembang?" "Bukan saja tempat itunya tiada kembang, malah gundul klimis sebatang rumput pun tiada." Semakin jadi gelak tawa Gu toaya saking geli, arak dalam cawannya sampai tumpah.

Sebaliknya sembari tertawa Ouwyang Bi pelirak-pelirik ke arah Dian Susi.

Dian Susi sebaliknya terheran-heran, sepatah kata pun tidak tahu apa maksud dari percakapan mereka, maka dia berketetapan dalam hati untuk bertanya kepada si kepala besar, "Lonte" itu apa kerjanya?

Terdengar Gu toaya berkata dengan tertawa: "Kalau dia bak umpama seekor harimau putih, tentunya bukan barang yang berkualitas baik, mengandal apa dia berani pasang harga setinggi itu?"

"Lantaran laki-laki umumnya bertulang malas dan miskin, maka semakin tinggi dia pasang gengsi, semakin banyak laki-laki yang ingin menjajal permainannya di atas ranjang."

Gu toaya manggut-manggut, katanya:" Agaknya dia memang sudah pandai meraba hati laki-laki, sampai pun hatiku pun sudah tergaet olehnya, biarlah nanti lihat keadaan, bila perlu ingin aku mencicipinya."

"Ya, teringat aku sekarang," seru Ouwyang Bi bertepuk tangan. "Bi Kong teringat apa?" tanya Gu toaya.

"Apakah yang dimaksud Ki kongcu adalah Thio Hou-ji?" "Benar, memang dia!"

"Thio Hou-ji? Dalam hal apa dia baik? Di mana kebaikannya?" Gu toaya bertanya.

"Kabarnya Thio Hou-ji adalah lonte ternama nomor satu di kalangan Kangouw, dia pun seorang lonte pendekar, bukan saja ilmu permainan di atas ranjang nomor wahid, kepandaian silatnya pun tidak lemah."

"Kalau demikian, tentunya Bi Kong pun sudah tertarik juga, entah malam nanti siapa di antara kita yang bakal diservice oleh Thio Hou-ji?" Gu toaya berkelakar.

Mereka saling pandang dan sama terbahak-bahak. Akhirnya mata Gu toaya melirik kepada Ki kongcu, katanya: "Jadi Ki kongcu sudah tahu tempat itunya tidak tumbuh rumput, memang kau sudah pernah merasakan servicenya?" Ki kongcu tertawa cengar-cengir saja. Katanya dingin: "Anehnya, Thio Hou-ji sudi datang ke tempat seperti ini, memangnya dia sudah tahu di sini ada Gu-heng langganan empuk yang paling royal?"

Gelak tawa Gu toaya menjadi tawa dingin, katanya: "Aku siap membayarnya lima ratus tail perak, tentu berlebihan buat dia bukan?"

Ki kongcu tetap cengar-cengir, sepatah kata pun dia tidak bicara. Sebaliknya laki-laki yang bernama Ci Siu sejak tadi bungkam, kini ganti dia yang ngoceh: "Umpama tempat itunya itu dibuat dari emas, rasanya cukup dibeli lima ratus tail perak, biar sekarang aku siapkan kamar pengantin bagi Gu toaya."

Gu toaya sebaliknya menggeleng-geleng, katanya tawar: "Nanti dulu, umpama dia mau menjual, aku belum tentu mau beli, betapapun lima ratus tail perak bukan hasil curian."

Ouwyang Bi tergelak-gelak, katanya: "Lekas kau siapkan, kalau ada mempelai perempuan, kenapa kuatir tiada mempelai laki-laki?"

Sungguh Dian Susi tidak sabar lagi, setelah tiga orang itu ke tempat duduknya, dia bertanya dengan bisik-bisik: "Lonte itu apa kerjanya? Apakah pengantin?"

Nyo Hoan menahan geli, sahutnya: "Ada kalanya memang demikian." "Pengantinnya siapa?"

"Pengantinnya orang banyak."

"Satu orang masa boleh jadi pengantin orang banyak?"

"Apa kau benar-benar tidak tahu?" tanya Nyo Hoan sambil mengamati orang dari kepala sampai ke kaki.

Seketika merengut muka Dian Susi, sahutnya: "Kalau aku tahu, buat apa tanya kau?"

"Sudah tentu boleh jadi pengantin orang banyak, karena setiap hari dia ganti pengantin laki-laki."

"Orang macam apa sebenarnya Thio Hou-ji itu? Apanya pula yang baik?" diam-diam Dian Susi termenung seorang diri, tanpa perdulikan kesibukan para pelayan dan semua penghuni restoran yang menyiapkan meja hidangan seharga dua puluh tail perak.

Mukanya menjadi lebih merah dibanding lombok, akhirnya dia paham apa artinya "Lonte" itu. Baru sekarang ia paham apa yang diperbincangkan orang-orang tadi. Setelah tahu malah berharap lebih baik tidak tahu, sungguh gemasnya bukan main kepada Nyo Hoan yang memberi penjelasan sejelas dan mendetail. Namun hatinya tertarik juga. Waktu berlalu dengan cepat, entah berapa lama kemudian, orang yang dinanti-nantikan akhirnya datang juga. Sebuah kereta yang ditarik empat ekor kuda berhenti di depan restoran. Orang- orang yang masuk ke tempat duduknya tadi beramai-ramai memburu keluar. Sementara Ciangkui dengan para pembantunya sudah membungkuk badan menunggu di luar pintu, meski badannya terbungkuk, namun ujung matanya mengerhng mencuri lihat ke atas. Memangnya laki-laki siapa yang tidak mata keranjang tiap kali melihat perempuan cantik.

Lama sekali baru pintu kereta terbuka, berselang lama kerai baru tersingkap dan dari dalam terjulur keluar sepasang kaki. Kaki yang mulus putih dan lencir, mengenakan sepatu sutra bersulam, ternyata tidak pakai kaos kaki. Melihat sepasang kaki ini, laki-laki mana yang tidak merasa terbang arwahnya.

Baru saja kedua kaki itu menyentuh tanah lantas ditarik kembali.

Orang-orang bergegas menggelar sebuah permadani warna merah di depan kereta sampai ke depan pintu, yang menjadi pengawal dan pengikut di kereta agaknya bukan dua orang saja, kalau tidak salah ada enam tujuh orang. Tapi mereka laki-laki atau perempuan? Bagaimana tampang dan mukanya? Siapapun tiada yang memperhatikan. Karena setiap sorot mata orang yang hadir tertuju ke arah kedua kaki itu.

Dua kaki itu akhirnya menyentuh tanah. Di samping dua kaki ini masih ada dua pasang kaki lainnya. Dua nona cilik yang cantik-cantik dan molek membimbing Thio Hou-ji turun kereta. Pelan-pelan beranjak masuk. Sebelah tangannya menekan dada, tangan yang lain memegang pundak salah seorang gadis cilik, kedua alisnya yang lentik bagai bulan sabit bertaut dalam, bibirnya yang tipis kecil dan mungil seperti delima merekah.

Thio Hou-ji ternyata baik sekali. Sebetulnya di tempat mana kebaikannya? Siapapun tiada yang jelas, yang terang orang ini pasti baik, tiada alasan mengatakan tidak baik, harus baik. Karena dia memang cantik sekali, demikian pula perawakannya langsing montok dan semampai, gerak- geriknya gemulai lembut.

Tapi dilihat dari kanan dipandang dari kiri, sebaliknya Dian Susi merasa orang ini bukannya manusia asli. Mukanya memang cantik tapi seperti gambar, gerak-geriknya memang gemulai, tapi lebih mirip pemain sandiwara yang lagi pentas di atas panggung. Anehnya laki-laki dalam restoran ini semua menjublek. Sampai si babi gendut itu pun memicingkan kedua matanya, kelihatannya dia begitu tergila-gila. Ingin rasanya Dian Susi mencukil keluar matanya itu.

Ternyata gaya jalan Thio Hou-ji luar biasa pula, seolah takut menginjak mati seekor semut, dari depan pintu sampai ke meja hidangan dia habiskan waktu selama setengah jam. Setelah duduk di kursinya baru hadirin menghela nafas lega, jantung yang kebat-kebit baru tentram. Sepasang mata Thio Hou-ji seolah-olah tumbuh di pucuk kepalanya, jangan kata melihat mereka, melirik pun tidak, seolah tiada orang lain dalam restoran ini. Baru saja dia duduk hidangan- hidangan yang masih panas dan lezat segera berdatangan memenuhi meja. Hidangan sebanyak itu hanya untuk dia sendiri.

Tapi dia hanya gunakan sepasang sumpit mengaduk-aduk satu persatu makanan-makanan itu, lalu sumpitnya diletakkan di meja, seolah-olah menemukan lalat dalam setiap hidangan itu.

Maka tanpa berkurang sedikit pun hidangan itu tetap tersaji di meja. Seperti kuatir makan hidangan yang ada lalat hijau.

Akhirnya dia hanya makan semangkok bubur dengan sedikit sayur asin. Sayur asin dibawa sendiri.

"Kalau tidak mau makan, kenapa memesan masakan sebanyak itu?" "Nona kita pesan masakan hanya untuk dipertontonkan kepada orang saja" Itulah gengsi. Laki-laki hampir gila dibuatnya.

Umumnya perempuan suka laki-laki yang punya pamor, sudah tentu laki-laki pun senang menggauli perempuan yang punya gengsi. "Bisa bergaul dengan perempuan yang punya gengsi setinggi ini, umpama hidupnya harus diperpendek pun takkan sia-sia."

Serasa gatal hati Gu toaya, tak tahan segera dia melangkah maju, dengan suaranya yang lembut dan gaya yang paling baik dia bersoja, katanya tertawa: "Apakah nona Thio?"

Kelopak mata Thio Hou-ji bergerak pun tidak, katanya tawar:

"Aku she Thio." "Aku she Gu."

"O, kiranya Gu toaya, silahkan duduk!" suaranya palsu, seperti orang bernyanyi.

Serasa terbang ke awang-awang sukma Gu toaya, baru saja hendak duduk. Tiba-tiba Thio Hou-ji bertanya: "Gu toaya, apa kau kenal aku?"

Gu toaya melengak, sahutnya menyengir: "Hari ini baru ada jodoh bertemu, namun belum terlambat juga."

"Kalau begitu, kau belum mengenalku." Terpaksa Gu toaya manggut-manggut. "Agaknya aku tidak pernah kenal kau." Sekali lagi Gu toaya manggut-manggut.

"Kalau kau tidak kenal aku, aku pun tidak kenal kau, mana boleh kau duduk di sini?" Merah muka Gu toaya, katanya dengan tertawa dipaksakan: "Kau yang suruh aku duduk?"

"Ah, sekedar basa-basi, apalagi..." tiba-tiba Thio Hou-ji tertawa, "bila kusuruh Gu toaya berlutut, apa Gu toaya mau berlutut?"

Seperti lombok selebar muka Gu toaya, namun ingin marah tidak bisa marah. Wanita secantik ini sedang tersenyum-senyum genit di hadapanmu, betapapun marah hatimu kau takkan kuasa mengumbar adat di hadapannya.

Melihat Gu toaya menjublek seperti kerbau yang melamun, sorot mata Ouwyang Bi sudah bercahaya terang, segera dia kebas-kebas kipas, dengan langkah lenggang kangkung dia beranjak

maju, tulang belulang dan bobot badannya yang memang ringan karena tinggal kulit pembungkus tulang serasa makin enteng saja.

Gu toaya menyongsong kedatangannya dengan melotot, ingin dia melihat apa yang hendak orang katakan. Ternyata sepatah kata pun Ouwyang Bi tidak bersuara, dari dalam saku dia keluarkan sekeping uang emas, diletakkan di atas meja di hadapan Thio Hou-ji. Agaknya tidak sia-sia

hidup Ouwyang Bi sampai berusia lima enam puluh tahun, dia mengerti di hadapan lonte seperti ini, bahwasanya tidak perlu banyak bicara. Dia sudah paham bicara menggunakan uang emas.

Uang emas memang bisa bicara, malah lebih menarik perhatian perempuan dari segala rayu mesra siapapun di dunia ini, terutama di hadapan lonte, hanya uang emas saja yang bicara baru dimengerti olehnya.

Dengan jarinya dia selentik uang emasnya itu, biji mata Thio Hou-ji lantas mengerling ke arahnya. Seketika Ouwyang Bi unjuk seri tawa senang, dia amat puas dengan caranya. Memang cara yang dipilih ini yang paling tepat. Tak nyana hanya sekali saja Thio Hou-ji mengerling kepadanya, lalu menengadahkan kepala.

Berkata Ouwyang Bi: "Apa yang diucapkan uang emas ini, apa nona Thio tidak mendengarnya?" "Apa katanya?" tanya Thio Hou-ji.

Sambil menggoyang kipas Ouwyang Bi menjelaskan: "Dia berkata, asal nona Thio manggut- manggut, dia suka menjadi milik nona Thio."

Berkedip-kedip mata Thio Hou-ji, katanya: "Apa benar dia bicara demikian? Kenapa aku tidak mendengarnya?" Ouwyang Bi melengak, katanya: "Mungkin perkataannya terlalu lirih." Kalau ada suara lebih keras dari uang emas, itu dari dua keping uang emas. Maka Ouwyang Bi keluarkan pula sekeping dan diselentik dengan jarinya, katanya tertawa: "Sekarang nona Thio sudah mendengar?"

"Tidak."

Bertaut alis Ouwyang Bi, kertak gigi lalu dia keluarkan pula dua keping uang emas lagi. Kalau sudah terlanjur merogoh kantong, apa salahnya kalau berlaku royal sekalian. Memang sikap dan tawanya teramat royal, katanya: "Sekarang tentu nona Thio sudah mendengarnya?"

Jawaban Thio Hou-ji tidak berubah: "Tidak!" Cekak aos dan tegas.

Mimik Ouwyang Bi seperti pantatnya ditusuk jarum, teriaknya tertahan: "Masih belum dengar? Suara empat keping uang emas, orang tuli pun bisa mendengarnya."

Thio Hou-ji tiba-tiba mengulapkan tangan, nona cilik yang berdiri di sebelah kanan segera keluarkan empat keping uang emas, ditaruh di atas meja. Keempat keping uang emas ini jauh lebih besar dari keempat keping uang emas milik Ouwyang Bi.

"Kau orang tuli bukan?" tanya Thio Hou-ji.

Ouwyang Bi menggeleng-geleng. Dia tidak tahu apa maksud pertanyaan Thio Hou-ji ini?

Berkata Thio Hou-ji tawar: "Kalau kau bukan tuli, kenapa kau tidak dengar apa yang diucapkan keempat keping uang emas ini?"

"Apa katanya?"

"Dia bilang, lekas kau menggelundung pergi, lebih jauh lebih baik, maka dia rela menjadi milikmu."

Mimik Ouwyang Bi lebih jelek, tidak mirip pantatnya tertusuk jarum tadi, seolah-olah ratusan jarum yang sekaligus menusuk ke mukanya, tiga ratus jarum menusuk pantat dan udelnya. Gu toaya mendadak terpingkal-pingkal, saking geli dia memeluk perut dan terbungkuk-bungkuk.

Dian Susi ikut geli dalam hati, terasa olehnya Thio Hou-ji cukup cerdik, malah seorang jenaka yang lucu dan menyenangkan.

Bila perempuan melihat perempuan lain menyiksa atau mempermainkan laki-laki, pasti merasa lucu dan tertarik. Sebaliknya bila melihat perempuan disiksa laki-laki, maka dia pun bisa marah setengah mati. Hal ini lain dengan laki-laki. Laki-laki melihat laki-laki lain dipermainkan perempuan, bukan

saja tidak merasa simpatik, atau ikut marah dan dongkol, dia malah merasa hatinya senang dan puas, mungkin bersorak riang juga. Demikian pula keadaan Gu toaya sekarang.

Dibanding Ouwyang Bi, Thio Hou-ji menaruh sedikit sungkan kepada dirinya, bukan mustahil malah menaruh hati kepada dirinya, hanya diri sendiri yang keliru menggunakan cara yang salah. Untunglah untuk menambal kesalahan sekarang masih belum terlambat. "Asal punya uang, kenapa takut takkan bisa menindih mampus perempuan macam demikian?"

Kembali sifat tuan besar Gu toaya terunjuk dengan membusung dada, katanya setelah batuk- batuk kering dua kali: "Orang seperti nona Thio, tentu uang sebanyak ini tidak terpandang oleh nona Thio."

Lalu dia tepuk dada sendiri, katanya menambahkan: "Berapa yang diminta nona Thio, silahkan buka suara, asal nona Thio mengangguk, berapapun akan kubayar."

Ternyata biji mata Thio Hou-ji mengerling kepadanya, dari atas sampai ke bawah dia mengamat- amati dengan seksama. Tulang Gu toaya serasa luluh oleh sorot mata orang, diam-diam dia sesali kebodohan sendiri kenapa sejak tadi tidak unjuk kecongkakan sendiri sebagai tuan besar, supaya perempuan ini tahu Gu toaya rela mengeluarkan uang, malah royal sekali.

Tiba-tiba Thio Hou-ji bertanya: "Kau ingin aku manggut-manggut, memangnya apa sih keinginanmu?" Perempuan ini memang pandai berpura-pura.

Gu toaya tertawa, katanya sambil melirik dengan tertawa: "Apa yang kuinginkan, masa belum paham?"

"Kau ingin aku temani kau tidur bukan?"

Gu toaya tertawa besar, katanya: "Nona Thio suka berterus terang."

Tiba-tiba Thio Hou-ji melambaikan tangan ke arah luar, katanya: "Tuntun Kim-hoa kemari." Kim-hoa adalah seekor anjing betina yang gemuk dan kekar.

Berkata Thio Hou-ji dengan lembut: "Berapa banyak yang Gu toaya inginkan, silahkan buka mulut saja, asal Gu toaya temani Kim-hoa tidur satu malam, berapa banyak yang kau minta pasti kubayar."

Ouwyang Bi mendadak terkial-kial, tawa lebih riang dan gembira dari Gu toaya tadi. Sebaliknya kulit muka Gu toaya dari hijau berubah merah padam, otot lehernya merongkol keluar.

Selama ini Ki kongcu berdiri di belakang sambil menggendong tangan, baru sekarang dia melangkah ke depan, katanya tawar: "Sebetulnya kalian tidak perlu marah, kalau nona Thio sudah melihat aku berada di sini, sudah tentu dia hanya menungguku saja." Dengan bergaya seperti peragawan, dia melambaikan tangan kepada, Thio Hou-ji, katanya: "Apa pula yang kau tunggu, kalau mau hayolah segera dimulai."

Tiba-tiba Thio Hou-ji tidak mau bicara. Di saat semua orang mengira Thio Hou-ji akan mengeluarkan perkataan kotor yang tak enak didengar, dia malah bungkam. Karena dia tahu, betapapun kotor dan jahat kata-katanya, tiada yang lebih galak daripada tidak bicara sama sekali. Dan cara bungkamnya ini justru bikin orang marah setengah mati, orang bisa-bisa mencak seperti gila.

Bukan saja selebar muka Ki kongcu merah padam, lehernya seperti melar dua kali lipat dari biasanya, sejak tadi dia unjuk gagah sebagai seorang pemuda ganteng, sikap dan mimiknya sudah tersapu habis.

Dan yang lebih menjengkelkan, walau Thio Hou-ji tidak bicara, tapi dia justru sudah tahu apa yang ingin dikatakan Thio Hou-ji. Akhirnya Ki kongcu berjingkrak gusar, dampratnya: "Apa pula yang ingin kau katakan. Lekas katakan!"

Thio Hou-ji justru tidak mau bersuara. Sebaliknya Kim-hoa malah yang menggonggong sekali sembari menerjang maju, di hadapannya ekornya bergoyang-goyang sambil meringis.

"Binatang!" bentak Ki kongcu gusar. "Minggir kau!" Kim-hoa malah menyalak semakin galak. "Minggir!'' kontan Ki kongcu angkat kakinya menendang. Kembali Kim-hoa menyalak sekali sambil mundur.

Sungguh tak tahan Gu toaya menahan geli, serunya: "Orang ini mendapatkan pasangannya." Seorang lain tiba-tiba menimbrung: "Kelihatannya memang cocok satu sama lain."

Sudah tentu semakin naik pitam Ki kongcu mendengar olok-olok ini, siapa yang bicara tidak diperhatikan lagi olehnya, "Sreng" segera dia cabut pedangnya, langsung menusuk.

Sekonyong-konyong sebatang sumpit melesat terbang dan telak memukul punggung tangannya. Begitu pedangnya jatuh berkerontangan, Kim-hoa segera menerjang maju menggigit telapak tangannya. Lukanya cukup berat.

Seperti orang yang baru mentas kecebur ke sungai, sekujur badan Ki kongcu kuyup oleh keringat dingin yang gemerobyos. Dia sudah melihat dari mana sumpit tadi disambitkan.