Tokoh Besar Bagian 03

Bagian 03

Tiba-tiba tersumbat tenggorokan Dian Susi. Baru sekarang dia insyaf, hanya ayah saja dalam dunia ini yang paling memperhatikan dirinya, kasih sayang kepadanya. Rasanya ingin dia menerjang keluar lari ke dalam pelukan ayahnya. Sayang sekali dia tidak punya kesempatan lagi.

Sekonyong-konyong terulur sebuah tangan dari belakangnya mendekap mulutnya. Jari-jari tangan ini amat besar dan kasar, begitu kuat dan besar pula tenaganya. Karena didekap, bukan saja tak bisa bersuara, bernafas pun Dian Susi amat susah. Sudah tentu orang yang mendekapnya

ini memiliki sepasang tangan. Sebelah tangan yang lain memeluk pinggang Dian Susi, sehingga berkutik pun dia tidak bisa. Terpaksa dia menyepak ke belakang dengan kakinya. Menyepak paha orang serasa seperti menyepak batu. Semakin kuat menyepak, semakin sakit kakinya.

Seperti menjinjing seekor anak ayam orang itu menjinjing badannya mundur ke belakang, ke dalam kegelapan. Terpaksa Dian Susi hanya mengawasi ayahnya pergi semakin jauh.

Waktu air matanya bercucuran, orang yang menjinjing badannya sudah putar badan berlari ke arah sana. Langkahnya begitu lebar, dalam sekejap sudah keluar dari lingkungan hutan kembang.

Di luar hutan pun gelap gulita. Tapi langkah orang ini tidak berhenti, dia terus berlari menyusuri kaki tembok, setelah belok kanan dan putar ke kiri tiga kali, tiba-tiba dia menerobos masuk ke dalam sebuah rumah batu. Bentuk rumah batu ini pun tinggi dan besar. Tapi isinya hanya sebuah ranjang, sebuah meja dan sebuah kursi. Besar ranjang itu amat mengejutkan, demikian pula mejanya luar biasa besar. Kursinya kira-kira satu lipat lebih besar dari meja biasa. Sementara mejanya lebih besar dari ranjang biasanya.

Setelah merapatkan pintu, orang ini langsung merebahkan Dian Susi ke atas ranjang. Baru sekarang Dian Susi sempat melihat muka orang ini. Hampir saja dia jatuh semaput lagi.

Orang ini lebih mirip lutung daripada manusia. Orang hutan yang disuruh memperkosa dirinya oleh Ong toanio itu.

Kalau bentuk mukanya mirip manusia, tapi selebar kulit mukanya tumbuh bulu yang tebal panjang, lebih mengerikan bila dia menyeringai tawa. Kini orang itu pun sedang tersenyum mengawasi Dian Susi.

Dian Susi meronta berusaha melompat hendak menjotos congornya, tapi luput. Lekas orang itu menggoyang tangan, katanya tertawa: "Kau tidak usah takut kepadaku, aku menolong kau." Suaranya tidak mirip omongan manusia.

"Kau... kau menolong aku?" tanya Dian Susi keheranan. Orang itu tertawa lagi, dari dalam bajunya dia merogoh keluar sesuatu benda. Yang dikeluarkan adalah segulung tali, tali yang dibuat merambat dan meloloskan diri oleh Dian Susi tadi.

"Jadi kau yang menaruh tali itu?"

"Kecuali aku siapa yang berani melakukannya." "Kenapa kau menolongku?"

"Karena kau amat mungil, aku amat menyukai kau."

Seketika meringkel badan Dian Susi, meringkel seperti trenggiling. Dilihatnya orang itu ulur tangan hendak meraba mukanya, kontan dia kerahkan seluruh tenaganya berteriak sekeras- kerasnya: "Pergi! Menggelindinglah yang jauh! Berani kau sentuh aku, aku mampus saja!"

Lekas orang itu menarik tangannya, tanyanya: "Kau takut kepadaku? Kenapa kau takut kepadaku?" Biji mata yang tersembunyi di belakang lebarnya bulu mengunjuk rasa derita yang tak terhingga.

Perasaan sorot matanya membuat dia kelihatan mirip manusia, tapi Dian Susi malah lebih takut, serasa hampir tumpah-tumpah lagi. Semakin orang baik terhadap dirinya, dia semakin muak.

Ingin rasanya bisa mati saja.

Berkata orang itu: "Tampangku memang amat jelek, tapi aku bukan orang jahat, dan lagi sedikit pun aku tidak bermaksud jelek terhadap kau, cuma aku ingin..."

"Kau ingin apa?" tanya Dian Susi dengan suara serak.

Tertunduk kepala orang itu, katanya dengan suara sumbang: "Tidak ingin apa-apa, asal bisa melihatmu, hatiku lantas senang." Sebetulnya orang mengira dia seekor binatang liar yang buas, kini dia berubah menjadi seekor binatang peliharaan yang harus dikasihani.

Dengan tajam Dian Susi mengawasinya, rasa takut dan muaknya menjadi berkurang, tiba-tiba bertanya dengan kedip-kedip mata: "Kau, siapa namamu?"

Seketika terunjuk rasa senang dari sorot mata orang ini, sahutnya: "Koko, aku bernama Koko." "Koko" terhitung nama apakah ini? Siapapun takkan menggunakan nama selucu ini. "Sebetulnya kau ini manusia bukan?"

Seketika terunjuk rasa gusar dan penasaran pada mimik mata Koko, sesaat kemudian dia menunduk lalu menjawab dengan rawan: "Sudah tentu aku ini manusia, manusia seperti dirimu, bahwa aku berubah seperti ini, adalah gara-gara perbuatan Ong toanio." Semakin lega hati Dian Susi, tanyanya pula: "Kenapa dia membuat kau begini rupa?"

Jari-jari Koko yang gede-gede itu tergenggam kencang sampai tulang-tulangnya berbunyi, lama sekali baru dia menjawab dengan suara tertelan dalam tenggorokan: "Darah, obat racun, darah... setiap hari dia mencekoki aku minum darah yang dicampur racun, dia sengaja membuatku menjadi binatang untuk menakuti orang." Kepalanya terangkat mengawasi Dian Susi, sorot matanya penuh iba dan mohon belas kasihan, katanya: "Tapi kenyataan aku masih seorang manusia... dia bisa merubah bentuk luarku, tapi tak bisa merubah hatiku."

"Kau membencinya tidak?"

Koko tidak menjawab, genggamannya malah semakin terkepal kencang, seolah-olah jarinya sedang mencekik leher Ong toanio.

"Kalau kau membencinya, kenapa tidak kau berdaya upaya untuk membunuhnya?" Badan Koko tiba-tiba mengkeret, badannya gemetar, kepalannya menjadi kendor. "Jadi kau jeri menghadapinya?"

Gemeretak gigi Koko, desisnya geram: "Dia bukan manusia... dia itu binatang benar-benar." "Kelihatannya kau amat jeri terhadapnya, kenapa kau berani tolong aku?"

"Karena... karena aku amat suka kepadamu."

"Kalau kau benar-benar baik terhadapku, pergilah kau bunuh dia." Koko menggeleng-geleng kepala, menggeleng sekerasnya.

"Umpama kau tidak berani membunuhnya, paling tidak kau biarkan aku pergi saja." "Tidak mungkin, kau seorang diri betapapun takkan bisa lolos."

"Agaknya kau ini manusia yang tidak becus, orang seperti ini siapa yang bakal suka kepadamu."

Merah muka Koko, katanya tiba-tiba dengan angkat kepala: "Tapi aku bisa bantu kau meloloskan diri."

"Apa benar?"

"Walau aku ini manusia tulen, tapi tidak mirip orang yang pandai berbohong." "Tapi aku tidak bisa meloloskan diri sendiri saja."

"Kenapa?" "Aku punya adik, aku tidak bisa meninggalkan dia di sini," berkedip-kedip mata Dian Susi, sambungnya: "Kalau kau bisa menolongnya, bukan mustahil aku bisa senang kepadamu."

Terpancar rasa gembira sorot mata Koko, katanya: "Orang macam apakah adikmu?"

"Seorang anak perempuan yang elok sekali, mulutnya kecil mungil, sering monyong, dia bernama Dian Sim."

"Baik sebentar aku pergi mencarinya... aku pasti dapat menolongnya," belum habis katanya dia sudah melangkah pergi, tiba di ambang pintu, tiba-tiba dia berpaling, katanya tergagap: "Kau... kau tidak akan pergi bukan?"

"Tidak, aku tunggu kau."

Tiba-tiba Koko memburu balik berlutut di depannya, setelah mencium kakinya, terus berlari keluar seperti orang kesenangan mendapatlotre.

Begitu orang pergi, Dian Susi menjadi lemas dan merasa jijik pada kakinya yang barusan dicium, ingin rasanya dia tabas kutung kakinya saja.

Sekonyong-konyong terdengar seorang tertawa dingin, katanya: "Tak nyana pilihan Dian toasiocia akhirnya jatuh pada manusia kera itu, sungguh harus dipuji atas ketajaman matamu."

Waktu Dian Susi angkat kepala, entah kapan dilihatnya Kek siansing tahu-tahu sudah duduk di atas jendela.

Merah muka Dian Susi, katanya keras: "Apa katamu?"

"Kukatakan dia amat menyukai kau, kau sendiri agaknya juga ada naksir sama dia, kalian memang pasangan yang setimpal."

Tiba-tiba Dian Susi berjingkrak bangun menyambar poci arak besar di atas meja terus ditimpukan sekuat tenaga.

Kek siansing tenang-tenang duduk di tempatnya tanpa bergerak, begitu poci terlempar dekat mukanya tiba-tiba dia meniup seenaknya. Aneh sekali poci yang meluncur kencang itu seperti tertahan sebentar dan tergantung di tengah udara lalu putar balik melayang pelan-pelan ke atas meja tepat di tempatnya tadi.

"Apa orang ini bisa main sulap?" dengan mendelong Dian Susi membatin. Kalau kepandaian ini dinamakan ilmu silat, bukan saja dirinya belum pernah melihat, mendengar pun belum pernah.

Tidak menunjukkan perasaan hatinya, muka Kek siansing tetap kaku dingin seperti benda beku, katanya: "Aku biasanya bantu menyempurnakan keinginan orang, aku pasti berusaha supaya Ong toanio menjodohkan kau sama dia," lalu dia menambahkan dengan suara tawar: "Tentu kau tahu, Ong toanio amat senang mendengar ucapanku."

Tak tertahan Dian Susi berteriak: "Kau tidak boleh berbuat demikian."

"Aku justru akan berbuat demikian, memangnya kau bisa merintangi keinginanku?"

Lemas lunglai serasa badan Dian Susi, dia tahu Kek siansing dapat melaksanakan apa yang dikatakan. Mendadak dia jadi nekad dengan keras dia tumbukkan kepala ke arah dinding batu. Lebih baik kepalanya pecah biar mampus saja.

Tapi kejadian sungguh amat aneh dan ajaib, ternyata kepalanya menumbuk sesuatu benda yang empuk, mungkinkah batu bisa menjadi lunak. Kebetulan jatuhnya celentang maka dia melihat, kiranya kepalanya barusan menumbuk perut Kek siansing. Kek siansing berdiri membelakangi dinding tanpa bergerak, katanya tanpa menunjukkan perasaan hatinya: "Umpama kau tidak sudi, kan tidak perlu kau mencari jalan pendek."

Dian Susi kertak gigi, air mata berlinang-linang.

"Kalau kau benar-benar tidak mau kawin dengan dia, aku sih punya cara." "Cara apa?"

"Bunuh dia!" "Membunuhnya?"

"Siapa yang akan paksa kau menikah dengan sesosok mayat?" "Aku... aku tak bisa membunuhnya."

"Sudah tentu kau bisa, karena dia menyukai kau, maka kau pasti dapat membunuhnya."

Tertunduk kepala Dian Susi memikirkan kata-kata orang, tiba-tiba dilihatnya jari-jari tangannya telah memegang sebilah golok, golok telanjang.

Warna golok ini amat aneh, ternyata merah dadu, mirip benar dengan warna pipi seorang gadis yang malu-malu.

"Inilah golok yang baik sekali, bukan saja dapat memutus rambut sekali tiup, sekali kena darah tenggorokan bakal tersumbat," lalu dengan suara kalem dia menambahkan, "Golok mempunyai nama, aku sering memanggilnya Wanita."

Sungguh nama golok yang aneh, tak tertahan Dian Susi bertanya: "Kenapa dinamakan Wanita." "Karena kecepatannya melebihi bibir perempuan, kejamnya melebihi hati perempuan, maka tepat sekali kalau kau bunuh laki-laki yang menyukai dirimu dengan golok ini."

Terulur tangan Dian Susi hendak menerima golok ini, tapi lekas dia menarik kembali.

"Sebentar dia sudah akan kembali, mau menikah sama dia atau membunuhnya terserah kepadamu sendiri, aku tidak akan memaksa..." akhir kata-katanya, suaranya kedengaran di tempat yang amatjauh.

Waktu Dian Susi angkat kepala, ternyata bayangan orang sudah lenyap laksana setan yang bisa menghilang entah ke mana.

Sekian lama dia terlongong, akhirnya didengarnya derap langkah mendatangi, tersipu-sipu dia raih golok itu terus disembunyikan di belakangnya.

Dilihatnya Koko berlari masuk. Kembali seorang diri saja, melihat Dian Susi masih menunggu, sungguh girangnya bukan main, katanya setelah bersoja gembira: "Ternyata kau tidak pergi, kau betul-betul menungguku."

Dian Susi tidak berani beradu pandang, tanyanya: "Mana Dian Sim?" "Aku tidak bisa temukan dia, karena..."

Dian Susi tidak memberi kesempatan orang bicara, tahu-tahu golok di tangannya menghujam ke dada orang, tepat menusuk ulu hatinya.

Koko tergentak melongo, mendadak dia berteriak kalap seperti kesetanan, kedua tangannya tiba- tiba menyambar leher Dian Susi serta dijinjingnya ke atas, suaranya menggerung penasaran: "Kenapa kau membunuhku?... Kesalahan apa yang kulakukan?"

Dian Susi tidak bisa menjawab, dia tidak bisa bergerak. Asal jari-jari Koko mencengkeram dengan sedikit tenaga, tulang lehernya pasti patah.

Saking ketakutan dia terkesima dan lunglai. Dia tahu jiwanya akan ikut melayang mengiringi kemangkatan jiwa orang. Tak tahunya, cengkraman tangan orang tiba-tiba menjadi kendor. Sorot matanya mengunjuk derita yang tak terperikan. Dengan menatap Dian Susi, mulutnya menggumam: "Kau memang pantas membunuhku, aku tidak salahkan kau... aku tidak salahkan kau..." Berulang kali dia ucapkan kata-kata ini, suaranya semakin pelan dan mendesis sampai tak terdengar lagi. Pelan-pelan matanya terpejam, pelan-pelan pula badannya tersungkur roboh. Tapi sebelum ajal tiba-tiba dia membuka mata pula, katanya dengan meronta: "Aku tidak menemukan temanmu, karena dia sudah melarikan diri... tapi kenyataan aku memang sudah mencarinya, aku pasti tidak menipu kau!" Setelah mengutarakan isi hatinya baru jiwanya melayang. Dian Susi berdiri menjublek laksana patung, tiba-tiba didapati sekujur pakaiannya basah kuyup. "Tang" golok di tangannya berkerontang jatuh di lantai batu.

"Tahukah kau, kalau mau dia bisa membunuhmu?" tiba-tiba didengarnya suara dingin itu berkata pula. Entah kapan Kek siansing tahu-tahu sudah berada di kamar batu ini.

"Aku tahu," sahut Dian Susi tanpa berpaling.

"Dia tidak membunuhmu karena dia mencintai kau, dan kau bisa membunuh dia karena dia mencintai kau. Dan itulah kesalahannya."

Apakah mencintai seseorang itu merupakan kesalahan?

Tak tertahan bercucuran air mata Dian Susi, sungguh tidak pernah terbayang olehnya, dirinya bakal menangis demi kematian seseorang yang seharusnya tidak patut dia tangisi.

Maka kupingnya mendengar suara Bwe-ci yang halus itu sedang membujuknya dengan lemah lembut: ”Pulanglah, tamu-tamu sudah pergi semua, Ong toanio sedang menunggumu, lekas pulang!"

Laksana badan dilecut cemeti Dian Susi tersentak mundur mendengar nama Ong toanio. "Aku tidak mau pulang!"

"Tidak pulang mana boleh? Memangnya kau minta digendong?" "Ampunilah diriku, biarlah aku pergi..."

"Kau tidak bisa pergi, setelah berada di sini, siapapun takkan diizinkan pergi."

Tiba-tiba Kek Siansing menyela lagi: "Kalau kau ingin pergi, aku punya cara untuk membantumu."

"Cara apa?" tanya Dian Susi girang.

"Asal kau berjanji kepadaku, kubantu kau pergi dari sini." "Berjanji apa?"

"Berjanji mau kawin dengan aku."

Bwe-ci cekikikan, katanya: "Kek siansing tentu hanya berkelakar saja." "Kau kira aku sedang berkelakar?" suara Kek siansing dingin. Rada dipaksakan tawa Bwe-ci, katanya: "Umpama Kek siansing mau mengabulkan permintanya, aku tidak akan membiarkan dia pergi."

"Kalau begitu terpaksa aku membunuhmu." .

Semakin getir tawa Bwe-ci, katanya: "Tapi Ong toanio..."

Kembali mendengar nama "Ong toanio", seketika Dian Susi kertak gigi: "Baik aku kabulkan permintaanmu," habis kata-katanya, dilihatnya Bwe-ci sudah tersungkur jatuh.

Bergidik Dian Susi dibuatnya, pelan-pelan dia berpaling. Bayangan Kek siansing sudah tidak kelihatan lagi. Tanpa hiraukan apa lagi dia menerjang keluar. Di depan sana ada sudut tembok, di sana ada sebuah pintu kecil yang terbuka. Dian Susi terus menerobos keluar. Apapun tidak dia perdulikan tanpa berpaling atau mengawasi keadaan sekelilingnya, dengan tancap gas dia lari sipat kuping.

*****

Malam sudah berlarut. Jagat raya gelap gulita. Apapun tak terlihat olehnya. Tanpa membedakan arah kakinya terus berayun dengan cepat. Akhirnya dia roboh lemas. Di mana dia roboh seakan- akan dia memeluk sebuah batu.

Terdengar seseorang berkata: "Apa kau baru datang? Aku sedang menunggumu di sini." Itulah suara Kek siansing. Entah kapan Kek siansing tengah duduk di atas batu nisan.

Hampir melengking suara Dian Susi: "Kau menunggu aku? Kenapa menungguku?" "Ada sepatah kata ingin kutanya kepadamu."

"Ta...tanya apa?"

"Kapan kau akan menikah dengan aku?"

"Siapa bilang aku hendak menikah denganmu?"

"Kau sendiri yang bilang, kau sudah mengabulkan permintaanku."

"Aku tidak pernah berkata demikian, aku tidak pernah mengabulkan..." sambil berteriak kembali dia ayun langkah lari terbirit-birit.

Ketakutan membangkitkan seluruh kekuatan fisiknya, sekaligus dia lari dalam jarak yang cukup jauh tanpa berani berpaling ke belakang. Tidak mendengar langkah, kiranya Kek siansing tidak mengejarnya. Akhirnya dia tidak tahan lagi tersungkur lemas. Kali ini dia jatuh di tanah miring, tanpa kuasa badannya menggelinding masuk ke dalam lubang yang cukup dalam. Entah lubang kelinci, liang rase atau sarang ular tidak diperdulikan lagi oleh Dian Susi. Perduli rase atau ular kini tidak ditakutinya lagi seperti dia berhadapan dengan Kek siansing. Boleh dikata orang yang satu ini lebih licin dan licik dari rase, lebih jahat dan berbisa dari ular.

Diam-diam Dian Susi berdoa kepada Thian Yang Maha Kuasa, semoga dirinya dilindungi, supaya Kek siansing tidak muncul lagi. Dia rela melakukan apapun tanpa pamrih sebagai imbalan.

Agaknya doanya dikabulkan, lama mengeram diri di dalam lubang itu, Kek siansing tidak kunjung kelihatan. Entah berapa lama telah berselang cuaca sudah mulai remang-remang, tabir malam sudah mulai tersingkap oleh secercah cahaya memutih di ufuk timur.

Dian Susi menghirup hawa pagi nan segar, seolah-olah dia baru saja siuman dari mimpi panjang yang aneh dan lucu, sepanjang hari dia ditipu orang, namun dia pun pernah menipu orang, dan orang baik yang mencintai dirinya malah ditipu dan terbunuh di tangannya! Baru sekarang dia benar-benar menyadari antara baik dan kejahatan, betapapun garis-garis perbedaan ini tidak bisa dibedakan hanya dengan lahiriahnya saja.

"Sebetulnya perbuatan apa yang telah kulakukan? Terhitung orang macam apa sebenarnya aku ini?" Terasa seperti disayat-sayat rasa sakit hati Dian Susi. Seolah-olah badannya dilecuti oleh cambuk yang tidak kelihatan.

"Apakah ini kehidupan manusia? Beginikah kehidupan manusia? Beginikah manusia harus menjalani hidupnya?" Dia curiga, dia tidak mengerti. Dia tidak mengerti kenapa kehidupan manusia terdapat begini keganjilan yang tidak adil, derita yang tidak seimbang.

*****

Fajar telah menyingsing.

Mendadak Dian Susi merasa dirinya sudah tumbuh dewasa. Perduli apapun yang dia lakukan, entah salah atau benar? Yang terang dia sudah menyelami harta dari kehidupan manusia yang sebenarnya. Umpama perbuatannya salah, patut dimaafkan, karena apa yang telah dilakukan hakikatnya tidak sengaja dan rela dia lakukan.

Mata Dian Susi terasa mengantuk sekali, sekuatnya dia hendak membuka mata, tapi rasa kantuk sungguh tak tertahankan lagi. Dia memang terlalu letih. Meski tahu dirinya tidak pantas tidur di tempat seperti ini, namun rasa kantuknya tak tertahan pula.

Di saat pikirannya remang-remang dan hampir pulas, seolah-olah dia mendengar ada orang sedang berteriak-teriak memanggil dirinya: "Toasiocia, Dian toasiocia..." Siapakah yang sedang memanggilnya? Suara itu seperti pernah dikenalnya. Dian Susi merangkak berdiri sambil membuka mata, lehernya terangkat melongok keluar. Suara panggilan itu semakin dekat.

Tampak empat orang berjajar mendatangi. Mereka adalah Thi Ke-po, Topak Lo-liok, Chi It-to dan Tio lotoa. Melihat keempat orang ini, seketika Dian Susi naik pitam.

Jikalau bukan gara-gara para kurcaci ini, masakah dirinya tertimpa malang dan mengalami derita ini? Untuk apa pula mereka mencari dirinya? Memangnya hendak menipu dirinya sekali lagi?

Segera dia melompat keluar, dengan bertolak pinggang dia deliki mata kepada mereka berempat.

Melihat dirinya muncul, keempat orang ini ternyata tidak melarikan diri, malah unjuk rasa girang, tersipu-sipu mereka menghampiri berebut memberi hormat.

"Untuk apa pula kalian mencari aku?" sentak Dian Susi mendelik.

Senyum Chi It-to kelihatan paling wajar, katanya dengan munduk-munduk: "Cayhe beramai mencari Dian toasiocia."

"Masih berani kalian mencari aku? Tidak kecil ya nyali kalian!"

Chi It-to tiba-tiba berlutut, katanya: "Siaujin tidak tahu asal-usul Toasiocia, sehingga berbuat salah, semoga Toasiocia suka memberi ampun." Tersipu-sipu tiga orang yang lain ikut berlutut.

Tio lotoa angsurkan dua buntalan dan diletakkan di atas tanah, katanya: "Buntalan yang ini berisi perhiasan Toasiocia, buntalan yang ini berisi uang tujuh ratus tail perak, semoga Toasiocia tidak mengusut perbuatan dosa kami, menerima kembali buntalan ini, Siaujin berempat pasti amat berterima kasih."

Sungguh tak nyana bila keempat manusia keparat ini mau bertobat dan mohon maaf minta ampun, Dian Susi malah rikuh dibuatnya selain merasa bangga, katanya dengan menarik muka: "Jadi kalian sudah tahu salah?"

Empat orang manggut-manggut bersama, sahutnya berbareng pula: "Siaujin tahu salah, Siaujin memang patut mampus..."

Lemas dan tidak tega hati Dian Susi, masa laki-laki segede ini berlutut kepada dirinya, baru saja dia hendak suruh mereka bangun. Tak nyana di waktu mereka mengatakan "mampus", jidat mereka tiba-tiba dihiasi sebuah lubang kecil. Darah segar seketika mengalir dari lubang kecil ini, mengalir membasahi muka mereka. Mata mereka mendelong lurus, mukanya seketika kaku kejang, ternyata tidak bernafas dan tidak meronta. Delapan biji mata sama mendelong mengawasi Dian Susi, pelan-pelan berbareng mereka terjengkang roboh.

Kembali Dian Susi berjingkat kaget, hakikatnya dia tidak tahu cara bagaimana lubang kecil di jidat orang bisa terjadi, yang terang roman muka keempat orang ini mendadak seperti muka setan.

Siapa yang membunuh mereka? Cara keji apa yang dia gunakan? Serta merta terbayang olehnya cara kematian Bwe-ci yang mirip ini, seketika kaki tangan menjadi dingin lemas.

Kek siansing!

Dian Susi menggembor sejadi-jadinya, dia berpaling. Tiada bayangan orang, begitu dia membalik lagi, tampak Kek siansing tengah berdiri di depan keempat mayat itu, memandangnya

dengan sorot dingin, jubah panjangnya yang terbuat dari kaci seolah-olah sedang berkabung bagi kematian korban-korbannya.

Serasa terbang arwah Dian Susi, teriaknya bertanya: "Kau... untuk apa kau kemari?" "Aku kemari mau tanya kepadamu."

"Tanya apa?"

"Kapan kau mau menikah dengan aku?"

Dian Susi jadi bingung sendiri, kenapa dirinya mengajukan pertanyaan yang bodoh ini. Karena dia sungguh terlalu takut, terlalu tegang, hakikatnya dia tidak kuasa kendalikan emosi dirinya.

"Keempat orang ini memang akulah yang suruh mereka kemari," kata Kek siansing. Dian Susi manggut-manggut sekuatnya. "Aku... aku tahu," sahutnya.

"Barang-barangmu sudah dikembalikan, kenapa tidak kau ambil?" "Aku tidak mau, apapun tidak mau!" teriaknya.

"Kau tidak mau, aku mau," kata Kek siansing sambil menjemput buntalan itu. "Anggaplah ini sebagian pesalin dari perkawinan kita yang akan datang."

Tanpa terasa Dian Susi angkat kepala mengawasinya. Baru pertama kali ini dia melihat tampang orang secara berhadapan, seketika sekujur badannya menjadi dingin seperti kecemplung ke sumur es. Tiba-tiba dia menjerit: "Aku tidak pernah mengabulkan permintaanmu... tidak pernah..." kembali dia putar badan terus sipat kuping. Entah darimana datangnya tenaga, sekaligus dia ngacir sejauhnya tanpa merasa letih, angin terasa menderu di pinggir telinganya. Waktu dia melirik ke belakang bayangan Kek siansing tidak kelihatan. Akhirnya dia tersungkur di pinggir jalan raya.

*****

Kabut tebal yang memutih laksana kapas mulai sirna tertingkah sinar matahari.

Suasana pagi masih hening lelap, sayup-sayup dari kejauhan di pengkolan jalan di depan sana kumandang suara kereta menggelinding semakin dekat, kadang terdengar ringkik kuda yang perlahan. Setelah semakin dekat didengarnya suara orang berdendang menyanyikan lagu-lagu gembala.

Seketika bangkit semangat Dian Susi, lekas dia merangkak bangun, maka dilihatnya sebuah kereta besar mendatangi memecah kabut tebal.

Kusir keretanya adalah seorang kakek tua yang sudah ubanan. Lega hati Dian Susi. Tentu kakek tua boleh dipercaya daripada anak muda.

"Loyacu," Dian Susi segera menyapa dari kejauhan, "bolehkah kau tolong aku? Pasti akan kuberi persen yang besar."

Si kakek berseru sambil menghentikan keretanya, dari atas sampai ke bawah dia amat-amati Dian Susi, lalu tanya dengan plegak-pleguk: "Entah nona mau ke mana?"

Seketika Dian Susi melongo, kemana dia hendak pergi? Mau pulang ke rumah? Begini rupa masakah pulang? Umpama ayah tidak memakinya, orang akan copot giginya saking geli mentertawakan keadaan dirinya.

Apakah pergi mencari Dian Sim? Ke mana hendak mencari? Apa benar dia bisa melarikan diri? Kalau tidak mau pulang, tak bisa menemukan Dian Sim, terpaksa pergi ke Kanglam saja.

Bukankah dirinya keluar rumah dengan tujuan ke Kanglam.

"Nona apakah kau kesamplok rampok?" tanya kakek tua keheranan.

Dian Susi manggut-manggut, orang yang mengganggunya entah berapa kali lipat lebih menakutkan dari rampok.

Si kakek geleng-geleng, katanya: "Nona sebesar ini tidak pantas kelayapan seorang diri di luar, jaman seperti ini orang jahat ada di mana-mana...ai," lalu dia menambahkan: "Lekas naik, kuusahakan mengantarmu pulang."

Tertunduk kepala Dian Susi, katanya plegak-pleguk: "Rumahku jauh sekali." "Jauh sekali, berapa jauh?" "Di Kanglam."

Sekilas si kakek melengong, katanya tertawa getir "Kanglam sejauh itu, wah bagaimana baiknya?"

"Ke manakah Loyacu hendak pergi?"

Tiba-tiba terbetik senyuman lebar pada muka keriput si kakek, katanya: "Aku punya famili, hari ini ada gawe mengawinkan putrinya, sekarang aku ke sana untuk hadir dalam pesta perkawinannya, maka aku sebetulnya tidak terima penumpang."

"Kalau begitu, ke mana Loyacu pergi, biarlah aku ikut dulu ke sana, setiba di sana aku segera turun," yang diinginkan meninggalkan tempat ini sejauh mungkin.

"Begitupun baik, nona seorang yang kesusahan, ongkos kereta ini boleh tidak usah bayar, setiba di tujuan aku bisa memberi sekedar sangu kepada nona."

Saking haru serasa tersumbat tenggorokan Dian Susi. Kiranya masih ada orang baik dalam dunia ini.

*****

Lama juga kereta ini menempuh perjalanan, kereta gunjang-ganjing di jalanan yang tidak rata, si kakek masih bernyanyi-nyanyi kecil.

Saking letih Dian Susi jatuh pulas dalam kereta, dalam mimpinya terbayang olehnya di masa dirinya masih kecil tidur di dalam keranjang goyang, bu inangnya sedang menina bobokan dirinya.

Entah berapa lama dia tenggelam dalam impian. Tiba-tiba Dian Susi terjaga bangun oleh suara petasan yang riuh, baru sekarang dia tahu ternyata kereta sudah berhenti. Dilihatnya si kakek sedang mengawasinya di luar kereta, katanya tertawa: "Sudah sampai rumah familiku, silahkan nona turun!"

Dengan kucek-kucek mata, Dian Susi melangkah turun.

Ternyata kereta ini berhenti di luar sebuah rumah gedung bertembok tinggi yang cukup besar, bagian depannya pekarangan luas, sekeliling rumah dipagari tanaman gandum yang tumbuh subur di ladang.

Luar dalam rumah besar ini ditempeli kertas-kertas merah besar pertanda hari girang adanya perkawinan, entah tua muda semua berpakaian serba baru, semuanya berseri girang. Tiba-tiba timbul rasa getir dalam relung hati Dian Susi, tiba-tiba terasa orang-orang itu semua amat riang dan gembira, bahagia lagi, daripada dirinya yang selalu tertimpa malang. Terutama mempelai perempuan tentu amat senang dan bahagia.

"Dan aku? Kapan aku akan mengalami hari bahagia seperti ini?" Demikian Dian Susi bertanya- tanya dalam hati, segera dia melompat turun dan berkata dengan menunduk: "Loyacu, soal sangu terus terang aku tidak berani terima, Loyacu sudah membawaku begini jauh, aku... aku sudah amat berterima kasih," kata-katanya tersendat di dalam mulut.

Simpatik sifat si kakek, katanya: "Nona kau hendak pergi ke mana?" "Aku punya tujuan tertentu, Loyacu tidak usah kuatir."

"Begini saja, nona kan tiada urusan penting, silahkan masuk dulu ikut pesta perkawinan ini."

Belum ucapan si kakek selesai, dari samping seseorang menyeletuk: "Benar, nona sudah berada di sini, kalau tidak mau minum sekadar arak kegirangan, berarti nona tidak memandang sederajat kami orang-orang desa."

Seorang yang lain ikut menimbrung dengan tawa: "Apalagi memang kita kekurangan tamu, dua meja masih belum penuh, kalau nona sudi memberi muka, kami akan menerima dengan senang hati, mari silahkan duduk di dalam."

Baru sekarang Dian Susi melihat dari dalam rumah berbondong-bondong keluar beberapa orang seperti menyambut dirinya, dua nyonya setengah umur yang berdandan amat menyolok dengan kedua tangan masing-masing penuh hiasan sudah maju menarik lengan Dian Susi.

Tanpa kuasa Dian Susi terus digelandang beramai-ramai oleh orang-orang desa itu masuk ke dalam. Kembali suara petasan berbunyi di luar dengan ramainya. Dua meja segi delapan yang besar sudah penuh makanan yang beraneka ragamnya, tiba-tiba timbul rasa hangat dan ria dalam relung hati Dian Susi, pengalaman getir dan derita yang dialami barusan sudah terlupakan sama sekali. Dirinya langsung digelandang duduk ke meja di sebelah kiri, kakek tua itu duduk di sebelahnya.

Meja ini hanya diduduki lima orang, agaknya tamu yang datang berpesta perkawinan ini memang tidak banyak, kecuali dirinya, satu sama lain agaknya adalah kawan-kawan karib. Semua memandang dirinya dengan pandangan takjub dan heran, sudah tentu lama kelamaan hatinya jadi risau, tanyanya berbisik kepada si kakek tua: "Kado aku tidak menyediakan, rasanya kurang enak."

Kakek tua tertawa, ujarnya: "Tidak perlu, tidak usah menyumbang segala." "Kenapa aku tidak perlu memberi kado?" "Pesta kawin ini diadakan secara mendadak, soalnya kedua mempelai laki dan perempuan sama- sama rada luar biasa."

"Apanya yang luar biasa? Sebetulnya pernah apa Loyacu dengan mereka?" "Sebentar mempelai laki-laki akan keluar, akan tahu sendiri."

"Mempelai laki-laki akan segera keluar, lalu mempelai perempuan?"

Tawa si kakek rada aneh, ujarnya: "Mempelai perempuannya sudah berada di dalam rumah ini."

"Di dalam rumah, di mana?" matanya mengerling ke sekelilingnya, kecuali dirinya dan si kakek, dalam rumah ini hanya ada tujuh delapan tamu. Dua nyonya yang menariknya tadi duduk di hadapannya sambil tersenyum-senyum. Diam-diam dia merasa geli, tanyanya berbisik: "Apakah yang duduk di depanku ini mempelainya?"

Si kakek menggeleng, sahutnya tertawa dengan lirih: "Masakah ada mempelai yang begitu buruk rupanya?"

"Kalau bukan dia lalu siapa?" dari ujung matanya dia melirik ke sekitarnya, kecuali dirinya dan kedua nyonya setengah umur dalam ruang pesta ini tiada perempuan muda yang lain. Keruan semakin heran hatinya, tanyanya: ”Dimanakah mempelai perempuan? Kenapa aku tidak melihatnya?"

"Waktunya kalau tiba, kau akan melihat sendiri, mempelai laki saja tidak gelisah, kenapa kau malah tak sabar?"

Merah muka Dian Susi, tanyanya pula: "Mempelai perempuannya cantik tidak?"

"Sudah tentu amat cantik," sahut si kakek tertawa penuh arti. "Malah yang tercantik di dalam rumah ini."

Merah muka Dian Susi, baru saja kepalanya tertunduk, maka dilihatnya sepasang kaki yang mengenakan sepatu tinggi serba biru melangkah dari dalam, di atas sepatu adalah seperangkat jubah besar warna merah tersulam naga dan burung hong yang menyolok.

Mempelai pria akhirnya keluar juga. Ingin Dian Susi angkat kepala memandang si mempelai pria, entah gagah, cakap, jelek atau tua mungkin muda? Tapi dia merasa rikuh dan malu.

Tak nyana mempelai pria begitu keluar langsung menghampiri dirinya, dan berhenti di hadapannya. Baru saja Dian Susi merasa heran, tiba-tiba didengarnya seluruh hadirin bertepuk tangan. Kembali Dian Susi melirik waktu mendengar pujian dari sana sini, tapi terang mempelai pria hanya seorang diri, kenapa dikatakan pasangan yang setimpal dan mempelai perempuan cantik rupawan segala. Tak tahan dia menarik ujung baju kakek di sebelahnya serta bertanya bisik-bisik: "Mana mempelai perempuannya?"

Kakek tua tertawa berseri, sahutnya: "Mempelai perempuannya adalah kau."

Baru saja Dian Susi merasa geli akan banyolan si kakek tua, tiba-tiba nalurinya merasakan sesuatu yang ganjil, banyolan seperti ini rada keterlaluan. Sementara semua hadirin tepuk tangan seraya memuji dan menggoda supaya upacara nikah lekas dilaksanakan. Kedua kaki mempelai pria seperti terpaku di atas tanah. Tak tahan akhirnya Dian Susi memberanikan diri angkat

kepala. Sekilas saja seketika sekujur badannya seperti kejang dan kaku, arwahnya serasa terbang meninggalkan raganya.

*****

Dandanan mempelai pria tak ubahnya dengan pengantin umumnya, pakaiannya serba baru kalau tidak mau dikatakan terlalu mewah bagi seorang pengantin di desa yang kecil ini. Tapi bentuk roman mukanya itu tanggung takkan ada bentuk roman muka seperti ini dalam dunia ini. Boleh dikata itu bukan bentuk muka manusia. Karena dia bukan lain adalah Kek siansing. Manusia dedemit yang paling ditakutinya. Jadi mempelai pria adalah Kek siansing!

Terasa oleh Dian Susi badannya seperti lunglai dan meloso ke bawah, duduk pun tidak tegak lagi, giginya berkerutukan, bukan kedinginan tapi lantaran takut dan ngeri. Ingin menangis air mata tidak keluar, ingin berteriak, tenggorokan seperti tersumbat.

Tenang-tenang saja Kek siansing mengawasinya, katanya kalem: "Sudah tiga kali aku bertanya, kapan kita akan kawin, kau tidak memberi jawaban, terpaksa aku sendiri yang memutuskan hari ini."

"Aku... aku tidak..." suaranya tenggelam dalam tenggorokan.

"Hari ini kita akan resmi menikah dengan suka sama suka dengan disaksikan oleh mak comblang."

"Benar," ujar si kakek, "akulah comblangnya."

"Mereka yang hadir menjadi saksi semuanya, siapa lagi yang akan menentang pernikahan resmi ini."

"Bluk!" tak kuasa Dian Susi kendalikan dirinya, akhirnya dia tersungkur jatuh dari kursinya.

Sekonyong-konyong didengarnya seseorang berkata: "Kalau tiada orang menentang pernikahan ini, aku sebaliknya perlu menyampaikan sepatah dua patah." Si pembicara adalah pemuda pendek tambun, bermuka bundar, sepasang matanya terlalu sipit, tulang pipinya tinggi dan lebar, jarak antara kedua alisnya mungkin satu lipat lebih lebar dari alis orang biasa. Kalau mulutnya sudah besar, kepalanya lebih besar lagi, maka bentuk keseluruhannya menjadi aneh dan lucu.

Tapi sikap dan kata-katanya amat tenang dan wajar. Dengan ongkang-ongkang kakinya yang pendek gemantung di atas kursi seorang diri tengah duduk di meja kursi sebelah kanan itu, tangan kanan memegangi cangkir arak, tangan kiri memegangi poci.

Cangkir araknya itu besar luar biasa, tapi sekali tenggak secangkir besar itu dia habiskan, lebih cepat dari orang lain minum secangkir kecil, entah berapa cangkir telah dia habiskan.

Anehnya orang setambun itu, namun tiada seorang pun hadirin yang tahu kapan dia datang dan tahu-tahu sudah bertengger di atas kursi, makan minum seorang diri. Sudah tentu kehadirannya menimbulkan kegemparan para hadirin.

Hanya Kek siansing sedikit pun tidak terpengaruh, katanya tawar: "Apa yang ingin kau kemukakan mengenai pernikahan ini?"

Pemuda tambun itu menghela nafas, katanya tawar: "Sebetulnya aku tidak ingin usil mulut, sayang mau tidak mau aku harus bicara."

"Apa yang ingin kau bicarakan?"

"Segala persiapan pernikahan sudah lengkap, hanya ada satu yang kau lupakan." "Hal apa yang kurang lengkap?"

"Kalau mempelai perempuannya betul dia, maka pengantin prianya tidak pantas kalau kau." "Kalau bukan aku memangnya siapa?"

Dengan mulut poci arak di tangannya si pemuda tambun menuding hidungnya, sahutnya: "Aku inilah."

*****

Pengantin prianya harus dia? Dian Susi yang sudah lunglai rebah di atas tanah lekas menekan kepala mendengar kata-kata ini.

Dilihatnya pemuda tambun itu tengah mengawasi dirinya, lapat-lapat terasa oleh Dian Susi seperti sudah kenal benar dengan muka pemuda yang bermuka lain dari yang lain.

Pelan-pelan pemuda tambun berdiri, katanya memperkenalkan diri: "Aku she Nyo, bernama Nyo Hoan." Kelihatannya pemuda ini tak ubahnya dengan manusia awam lainnya, cuma perawakannya pendek dan tambun. Tapi mendengar nama "Nyo Hoan" Dian Susi berjingkat dibuatnya, seketika teringat olehnya siapa sebenarnya orang ini. Kemarin malam baru saja dirinya melihat orang ini berada bersama ayah dan bapak pemuda ini di kediaman Ong toanio. Dia bukan lain adalah putra Nyo samya dari Toa-bing-hu, yaitu makhluk yang sering didengar Dian Susi dari pembicaraan orang lain.

Sungguh tidak pernah terbayang olehnya makhluk aneh ini mendadak muncul di sini.

Agaknya Kek siansing juga pandang pemuda tambun ini sebagai makhluk aneh, dengan dingin dia tatap muka orang cukup lama, tiba-tiba mukanya yang kaku itu tertawa. Baru pertama kali ini Dian Susi melihat dia tertawa. Terdengar orang berkata dengan tertawa: "Ternyata kau pun ingin jadi pengantin."

"Terus terang aku tidak ingin jadi pengantin, cuma terpaksa aku harus kemari."

"Harus kemari? Memangnya ada orang yang mengancammu dengan golok menyuruh kau kemari?"

Nyo Hoan menghela nafas, ujarnya: "Manusia mana yang mau berpeluk tangan mengawasi calon istrinya dipaksa kawin dengan orang lain?"

"Apakah dia istrimu?" tanya Kek siansing.

"Sekarang memang belum, tapi boleh dikata sebagai calon."

"Aku tidak perduli, yang terang dia sendiri yang berjanji kepadaku, katanya mau menikah dengan aku."

"Umpama dia sendiri mengabulkan permintaanmu juga tak berguna." "Kenapa tidak berguna?"

"Karena ayahnya sudah menjodohkan dia kepadaku, bukan saja ada perintah ayah bunda, kami pun menggunakan cara yang resmi dan telah meminangnya lebih dulu, itulah yang dinamakan perjodohan resmi, siapapun takkan bisa menggugatnya lagi."

Lama Kek siansing terpekur, katanya kemudian: "Kalau untuk menghalangi kau mengawini dia, agaknya hanya ada satu cara."

"Cara apapun tiada."

"Ada saja, orang mati tentunya tidak bisa kawin." Nyo Hoan tertawa. Dian Susi baru pertama kali ini melihat orang tertawa. Mendadak teringat olehnya supaya orang lekas lari saja, lebih cepat lebih baik, sekonyong-konyong dia merasa tidak tega bila melihat pemuda tambun yang lucu ini mati di tangan Kek siansing.

Dia sendiri sudah saksikan betapa lihay ilmu silat Kek siansing. Apalagi jidat pemuda tambun ini amat lebar, tentu lebih mudah menjadi sasaran serangan senjata rahasia Kek siansing yang hebat itu, sungguh tidak tega Dian Susi melihat jidat lebar orang berlubang mengeluarkan darah, jiwanya pun melayang seketika.

Untung Kek siansing tidak segera turun tangan, dia masih berdiri kaku di tempatnya. Sementara Nyo Hoan menuang secangkir arak, begitu isinya habis, cangkir itu lantas diataruh di atas jidatnya. Maka terdengar "ting" cangkir itu berbunyi nyaring.

Seketika berubah air muka Kek siansing.

Pelan-pelan Nyo Hoan turunkan cangkirnya, lalu diawasinya dengan seksama, pelan-pelan dia menggeleng-geleng kepala, katanya kemudian setelah menarik nafas: "Senjata rahasia yang jahat sekali, lihay sekali."

Dian Susi melongo dan tidak mengerti apa yang telah terjadi. Masakah tanpa menggerakkan kaki tangan, badan tidak bergeming Kek siansing mampu menyambitkan senjata rahasia?

Sebaliknya bocah gendut ini hanya angkat cangkir saja lantas berhasil menyambut serangan senjata rahasia orang? Dengan mata kepalanya sendiri dia saksikan senjata rahasia Kek siansing dalam waktu sekejap dapat menamatkan jiwa orang, namun kali ini gagal hanya kebentur sebuah cangkir arak belaka? Sungguh Dian Susi tidak habis mengerti bahwa bocah gendut ini ternyata membekal kepandaian silat begini tinggi. Tapi kenapa air muka Kek siansing berubah begitu hebat?

Terdengar Nyo Hoan berkata: "Melukai orang dengan senjata rahasia seperti ini, paling sedikit akan menguras air mani dan melemahkan sifat kelakianmu, kalau aku, takkan sudi menggunakannya."

Kembali Kek siansing terpekur lama, tanyanya tiba-tiba: "Dulu kau pernah melihat senjata rahasia semacam ini?"

Nyo Hoan menggeleng-geleng, sahutnya: "Baru pertama kali ini aku melihatnya." "Kau pula orang pertama yang mampu menyambut senjata rahasia macam ini."

"Setelah ada yang pertama, pasti ada yang kedua, ketiga dan seterusnya, oleh karena itu senjata rahasia macam ini tidak perlu dibuat bangga, kukira selanjutnya kau jangan menggunakannya lagi." Kembali Kek siansing berdiam diri, tiba-tiba bertanya: "Pernah apa kau dengan Song Cap-nio?"

Song Cap-nio adalah tokoh ahli senjata rahasia yang tiada bandingannya di seluruh kolong langit, bukan saja menyambut senjata rahasia, cara timpukan senjata rahasianya pun tiada bandingannya, terutama ahli membikin berbagai macam senjata rahasia, selama puluhan tahun belakangan tiada orang yang menandinginya.

Di dalam relung hati setiap insan persilatan Song Cap-nio adalah tokoh kosen kelas wahid yang tiada taranya, sering Dian Susi mendengar kebesaran namanya.

Ternyata Nyo Hoan menggeleng-geleng malah, ujarnya: "Baru pertama kali ini sejak aku dilahirkan mendengar nama orang ini."

"Kau belum pernah mendengar namanya, juga belum pernah melihat senjata rahasia ini?" "Jawaban tepat."

"Tapi kau bisa menyambut senjata rahasia ini."

"Kalau tidak bisa menyambut, bukankah jidatku sudah berlubang besar."

Kek siansing mengawasinya, tiba-tiba menghela nafas panjang, katanya: "Bolehkah kau memberitahu kepadaku, cara bagaimana kau menyambutnya?"

"Tidak bisa."

"Sudikah kau kembalikan senjata rahasia itu kepadaku?" "Tidak bisa."

Kembali Kek siansing menghela nafas, ujarnya: "Maukah kau membiarkan aku pergi?"

"Tidak bisa," jawab Nyo Hoan tetap tegas, tapi mendadak dia tertawa, sambungnya: "Tapi kalau kau mau merangkak keluar, aku sih tidak menghalangi."

Kek siansing tidak banyak mulut. Dia betul-betul merangkak keluar.

*****

Dian Susi melenggong. Siapapun yang berhadapan dengan Kek siansing pasti berpendapat orang ini lebih keras dari batu, lebih dingin dari es, boleh dikata dia bukan manusia hidup.

Tapi berhadapan dengan bocah gendut ini, bukan saja dia sekaligus menampilkan berbagai macam ekspresi mukanya, bukan saja tertawa, malah hampir saja menangis, lebih celaka lagi dia terima merangkak keluar dan ngacir tanpa melawan. Sungguh hebat bocah gendut ini. Sungguh Dian Susi tidak habis mengerti, di manakah letak kehebatan bocah gendut ini, hakikatnya tindak tanduknya tidak akan berbeda dengan seorang laki-laki pikun.

Sudah tentu mata semua hadirin melotot dan melongo selebarnya, dua butir telur pun bisa sekaligus dijejalkan ke dalam mulutnya.

Nyo Hoan mengisi cangkirnya pula, katanya tertawa: "Silahkan kalian duduk, ada waktu buat duduk kenapa harus berdiri? Hidangan toh sudah tersedia, hayolah gares saja, kenapa sungkan- sungkan?" Betul juga habis kata-katanya, tiada seorang hadirin yang tetap berdiri.

Tiba-tiba Dian Susi melompat berdiri, dengan langkah lebar langsung keluar. Melirik pun tidak kepada Nyo Hoan, tapi tiba-tiba didengarnya Nyo Hoan berkata: "Kek siansing pasti belum pergi jauh, sekarang mencarinya tentu masih sempat."

Kontan Dian Susi merasa kedua kakinya seperti terpaku di tanah, berpaling kepala dia pandang orang dengan mata melotot.

Sikap Nyo Hoan acuh tak acuh, katanya sambil angkat cangkir: ”Aku tidak senang minum sendirian, kenapa kalian tidak temani aku minum sepuasnya?"

Mendadak Dian Susi maju menghampiri, sentaknya: "Setan arak, kenapa tidak kau minum menggunakan poci saja?"

"Mulutku terlalu lebar, mulut poci ini sebaliknya amat kecil," seperti tidak sengaja matanya mengerling kepada Dian Susi, katanya tertawa: "Satu gede satu cilik, kalau dijodohkan ya kelihatannya ganjil."

Merah muka Dian Susi, semprotnya: "Jangan takabur, memangnya kau bangga telah membantu aku?"

"Kau mengaku bahwa aku telah bantu kau?" "Hmm. Pongah!"

"Kenapa kau tidak berterima kasih kepadaku?"

"Kau sendiri yang melakukan, kenapa aku harus berterima kasih?"

"Tidak salah, tidak salah, benar sekali, benar sekali, sebetulnya setelah perutku kenyang kerja apapun aku tidak bisa."

"Apapun yang terjadi jangan harap aku sudi menikah dengan kau!" "Kau benar-benar tidak mau kawin sama aku?" "Tidak."

"Benar-benar tidak?" "Tidak, ya tidak!"

"Mungkin tidak kau mengubah tekadmu?"

Lebih keras suara Dian Susi: "Sudah kukatakan tidak, mati pun tidak sudi."

Tiba-tiba Nyo Hoan berdiri dan menjura kepadanya dengan laku yang amat hormat, katanya: "Banyak terima kasih, banyak terima kasih, sungguh tak terhingga rasa senangku."

"Buat apa kau berterima kasih kepadaku?"

"Bukan saja aku ingin berterima kasih kepadamu, malah aku harus berterima kasih kepada langit dan bumi."

"Eh, apa kau sinting?"

"Sinting sih tidak, cuma aku ini rada curiga dan selalu was-was." "Curiga? Kenapa was-was?"

"Aku curiga dan was-was bila kau ingin kawin sama aku, maka selama ini hatiku jeri setengah mati."

"Apa aku ingin kawin dengan kau?" teriak Dian Susi bertolak pinggang, "kepalamu memang sudah sinting."

"Kepalaku tidak pusing, kini tidak perlu takut lagi, asal kau tidak kawin dengan aku, segala persoalan lain boleh dirundingkan."

"Tiada persoalan yang perlu kurundingkan dengan kau."

"Kalau Dian lopek memaksa kau kawin dengan aku bagaimana?" Sekilas Dian Susi berpikir, lalu sahutnya: "Aku tidak akan pulang." "Cepat atau lambat akhirnya toh harus pulang."

"Ya, setelah aku menikah dengan orang, baru aku mau pulang." "Akal yang bagus, sungguh amat menyenangkan," tiba-tiba dia mengerut kening, tanyanya: "Tapi kau hendak kawin dengan siapa?"

"Kau tidak perlu urus."

"Bukan aku mau ngurus, aku kuatir tiada orang yang mau kawin dengan kau."

"Aku tidak bisa kawin? Kau kira aku ini perawan yang tidak laku kawin? Kau kira aku ini kuntilanak?"

"Bukan, kau ini gadis cantik, tapi gadis pingitan yang punya tabiat kasar, siapa yang bisa mengendalikan kau."

"Kau tidak perlu kuatir bagi diriku, yang terang akan ada orang kuat bisa menundukkan aku."

"Orang yang dapat menundukkan kau, belum tentu kau bisa menghadapi dia, umpamanya Kek siansing itu..."

Seketika pucat muka Dian Susi mendengar nama Kek siansing.