Tokoh Besar Bagian 02

Bagian 02

Api sudah menyala, di atas tungku nasi sudah hampir matang. Hari sudah lohor, semua pekerjaan sementara dihentikan, suasana jadi ramai dengan suara mangkok piring.

Dian Sim ikut keluar, katanya: "Kenapa Tio lotoa belum datang juga? Mungkin sudah minggat." "Dia tidak menipu sepeser pun uang kita, kenapa harus minggat?"

Dengan jengkel Dian Sim lantas berlari masuk lagi ke dalam rumah.

Di saat Dian Susi mengawasi orang-orang di dalam pekarangan dengan hati kurang tentram, tiba- tiba Dian Sim memburu keluar dari dalam. "Celaka, celaka..." keadaannya seperti anjing yang terbakar api ekornya, sambil membanting-banting kaki.

"Ada apa bikin ribut, apa kau juga kebelet? Tuh, di sana ada WC." "Bukan... bukan... buntalan kita itu..." "Bukankah buntalan terkunci dalam almari?" "Tiada lagi, almari itu kosong."

"Bohong, aku sendiri yang taruh buntalan itu di dalam."

"Tapi sekarang sudah lenyap, barusan aku merasa kuatir, waktu almari kubuka..."

Dian Susi menjadi gugup, lekas dia lari ke dalam, memang almari sudah kosong, buntalan mereka sudah terbang tanpa sayap.

Kata Dian Sim: "Ternyata almari ini tembus kedinding yang berlubang, tentu Tio lotoa merogohnya dari luar dinding. Aku sudah duga dia bukan manusia baik-baik."

Dengan membanting kaki Dian Susi segera memburu keluar.

Semua orang sedang sibuk makan di dalam rumah, tinggal beberapa orang laki-laki yang menitik batu tadi sedang sibuk cuci muka di pinggir perigi.

"Mana Tio lotoa?" tanya Dian Susi begitu memburu dekat ke arah mereka. "Tahukah kalian di mana dia sekarang?"

Orang-orang itu saling pandang, kata salah seorang: "Siapa Tio lotoa? Kami tidak kenal dia?"

"Laki-laki yang tinggal di rumah sebelah sana itu, kalian kan tetangga, masakah tiada yang kenal?"

Orang itu menerangkan: "Sudah setengah bulan kamar itu kosong, tadi pagi baru ada orang datang, hanya membayar setengah bulan uang sewa, kami belum tahu siapa dia sebenarnya?"

Keruan Dian Susi dan Dian Sim melongo.

Tiba-tiba terdengar seseorang menyeletuk: "Barusan kudengar ada orang tanya Tio toako, siapa yang ada perlu sama dia?" Orang ini baru masuk dari luar, tangannya menjinjing cemeti, agaknya dia seorang kusir kereta.

"Akulah yang cari keterangannya," bergegas Dian Susi menyongsong maju, "kau kenal dia?" "Sudah tentu kenal, tiada orang kota yang tidak mengenalnya."

"Bisa kau bawa kami menemui dia?" tanya Dian Susi girang.

Orang itu mengamat-amati mereka berdua dengan seksama, tanyanya: "Kalian adalah..." "Kami adalah teman baiknya."

Orang itu tertawa, katanya: "Kalau teman Tio toaya, hayolah, naik keretaku, kuantar kalian ke tempatnya."

Kereta berkuda itu akhirnya berhenti di depan sebuah rumah yang hampir bobrok, kusir kereta segera berkata: "Tio toako sedang temani seorang tamu yang datang dari kabupaten, aku masih punya urusan, silahkan kalian masuk saja."

Tak sempat mengucap terima kasih Dian Susi segera menerjang masuk ke dalam rumah, dia kuatir Tio lotoa bakal merat lagi sebelum bertemu dirinya. Biasanya belum pernah gadis pingitan ini marah begitu rupa, dalam hati dia sudah menyumpah-nyumpah, begitu berhadapan dengan Tio lotoa dia hendak menghajarnya sampai setengah mati.

Memang di dalam rumah ada dua orang sedang berhadapan minum arak, seorang bermuka kuning pucat seperti habis sakit dan kurang darah, laki-laki yang di depannya sebaliknya bertubuh kereng bersemangat dengan daging dan otot-otot badannya menonjol, mukanya kuning terbakar panasnya matahari, berjambang bauk lebat lagi.

Begitu dekat Dian Susi lantas berteriak: "Tio lotoa di mana? Lekas suruh dia keluar temui aku." Laki-laki muka pucat kuning melirik ke arahnya, tanyanya: "Untuk apa kau cari Tio lotoa?" "Sudah tentu ada urusan, urusan yang amat penting."

Orang itu angkat cangkir menghabiskan araknya, katanya dingin: "Ada urusan apa boleh kau bicara dengan aku, aku inilah Tio lotoa."

"Kau ini Tio lotoa?" Dian Susi tercengang. "Bukan kau yang kucari."

Laki-laki brewok itu gelak tawa, katanya: "Tio lotoa hanya ada satu, dalam daerah delapan ratus li di daerah sekeliling sini tiada orang kedua. Agaknya saudara kebentur dengan Chi It-to."

"Siapa itu Chi It-to?"

"Yang kau cari bukankah laki-laki pertengahan umur berjubah panjang menyoreng pedang? Dandanannya mewah, usianya sekitar empat puluhan?"

"Ya benar, memang dia adanya."

"Nah, dia itulah Chi It-to. Harta miliknya hanya pakaian seperangkat itu saja yang peranti untuk menipu orang, maka orang memanggilnya Chi It-to." Demikian tutur laki-laki brewok. Tio lotoa menambahkan: "Pakaian Chi It-to hanya satu stel, tapi cara dia menipu orang dengan akal yang tak terhitung banyaknya, kukira kau tentu ditipunya bukan?"

"Dapatkah kalian bantu aku menemukan orang she Chi itu?" tanya Dian Susi.

"Orang itu selicin rase, sulit sekali menemukan dia. Apakah bekal dan sangumu habis ditipu olehnya?"

Merah muka Dian Susi terpaksa dia mengangguk.

"Baru pertama kali ini kalian datang ke kota ini?" tanya Tio lotoa. Terpaksa Dian Susi manggut-manggut pula.

"Terpaksa kalian tunggu di sini, tunggulah dengan sabar, dalam satu minggu, aku akan berusaha bantu menemukan dia."

"Merepotkan saja, sungguh kurang enak," kata Dian Susi dengan muka merah.

"Tidak perlu sungkan, peribahasa ada bilang, di rumah mengandal orang tua, di luar berkat teman-teman. Kalian sudi kemari mencari aku, sudah berarti memberi muka kepadaku."

Laki-laki brewok tiba-tiba mengawasinya dari kepala sampai ke kaki, katanya dengan tertawa: "Menurut hematku lebih baik kalau ajak dia ke tempat Ong toanio saja. Di sana semua perempuan, kan lebih leluasa."

Dian Susi menjublek, katanya: "Semua perempuan? Wah, mana bisa? Kami... kami..." "Memangnya kalian bukan perempuan?" kata laki-laki brewok tertawa besar.

Merah jengah muka Dian Susi, katanya getir seperti apa boleh buat: "Agaknya tajam benar pandangan kalian."

Tio lotoa tertawa geli, katanya: "Bukan pandangan kami yang tajam, tapi cara dandan seperti kalian, kalau orang tidak tahu kalian ini perempuan, orang itu pasti seorang buta."

Dian Susi melongo sekian lamanya, katanya: "Jadi orang she Chi itu juga sudah mengetahui penyamaranku ini?"

"Yang pasti Chi It-to bukan seorang buta."

Kembali terlongong sekian lamanya, tiba-tiba Dian Susi renggut topinya terus dibanting ke atas tanah, katanya tertawa dingin: "Perempuan ya perempuan, cepat atau lambat memang orang she Chi itu harus tahu, perempuan jangan dikira boleh dipermainkan." Sejak kini mereka kembali ke asalnya menjadi perempuan.

Oleh karena itu kesulitan yang mereka hadapi semakin banyak bertumpuk-tumpuk.

*****

Ong toanio sudah tentu adalah seorang perempuan.

Tapi perempuan ada banyak jenisnya, mungkin Ong toanio merupakan perempuan yang punya jenis paling istimewa. Keistimewaannya membuat orang yang melihat dan mengalaminya merasa dirinya berada dalam mimpi.

Rumah Ong toanio terletak di lorong panjang yang sepi dan tenang, pagar temboknya tinggi menutupi sinar matahari, sepucuk pohon flamboyan tumbuh subur dengan bunganya yang merah bertaburan.

Hari sudah keliwat lohor, tapi pintu besarnya yang bercat merah itu masih tertutup rapat, tiada terdengar suara orang di dalam pintu. Hanya melihat bentuk pintu besar ini, siapapun sudah maklum bahwa Ong toanio tentu bukan seorang perempuan sembarangan.

Dian Susi merasa di luar dugaan senangnya, tanyanya: "Apakah Ong toanio benar-benar mau menerima kami?"

"Tidak usah kuatir, Ong toanio adalah teman lamaku yang baik." "Dia... orang macam apa dia sebenarnya?"

"Sudah tentu martabatnya baik sekali, cuma tabiatnya rada aneh." "Bagaimana anehnya?"

"Asal kau menurut setiap petunjuk dan kehendaknya, apapun permintaanmu pasti akan dikabulkan, tinggal di sini kau akan merasa lebih senang seperti tinggal di rumah. Tapi kalau kau berani membuat onar dan membangkang kehendaknya, kau akan kasep setelah menyesal." Sikapnya sungguh-sungguh, seolah-olah hendak menakuti Dian Susi.

Tio lotoa mulai mengetuk pintu. Ketukannya cukup hati-hati tidak terlalu keras, maka cukup lama mereka menunggu baru terdengar suara orang mengomel: "Pagi-pagi sudah ribut kemari mau apa, kenapa tidak tunggu setelah hari menjadi gelap saja."

Tio lotoa segera unjuk seri tawa, katanya tertahan: "Aku inilah, Tio lotoa." Daun pintu segera terbuka sedikit. Seorang nona kecil yang masih riap-riapan rambutnya menongolkan kepalanya, baru saja matanya melotot belum sempat bicara, tersipu-sipu Tio lotoa maju mendekat dan berbisik dua tiga patah ke telinganya.

Berputar biji mata nona cilik ini, dengan memicing mata dari atas ke bawah dia awasi Dian Susi berdua, akhirnya manggut-manggut, katanya: "Baik masuklah dulu, ringankan langkahmu, nona- nona masih tidur. Kalau mereka sampai terjaga, awas Ong toanio bisa beset kulitmu."

Setelah berada di dalam, tak tertahan Dian Susi lantas berkata kepada Dian Sim dengan tertawa: "Agaknya nona-nona di sini lebih malas dari kau, matahari sudah setinggi ini, mereka masih

tidur nyenyak."

Bukan saja matanya tajam, pendengaran laki-laki brewok ternyata tajam juga, timbrungnya tertawa: "Itu pertanda Ong toanio amat sayang terhadap mereka, kalian bisa tinggal di sini, sungguh merupakan rejeki besar."

Dian Sim kedip-kedip mata, tanyanya: "Orang-orang apa saja yang tinggal di rumah Ong toanio?"

"Mereka adalah putri angkat Ong toanio, kemana pun putri-putri angkat Ong toanio berada, tiada orang yang berani mengganggu usik kepadanya," demikian tutur laki-laki brewok.

Saat mana Tio lotoa sudah beranjak keluar dengan muka berseri, katanya: "Ong toanio sudah mengabulkan, silahkan kalian masuk menemui beliau."

Seorang nyonya pertengahan bertubuh tinggi semampai berdiri di depan pintu, meski raut mukanya dihiasi senyum, tapi sepasang matanya yang mirip mata burung hong itu kelihatan kereng berwibawa, dengan tajam dia mengawasi Dian Susi beberapa kali, katanya: "Apakah kedua adik ini?"

"Ya, mereka inilah," Tio lotoa menjawab sambil membungkuk.

Perempuan cantik pertengahan ini manggut-manggut, katanya: "Memang cantik dan suci, tentu anak dari keluarga baik-baik, Toanio pasti akan menerimanya dengan senang hati."

Tio lotoa tertawa, katanya: "Kalau budak-budak liar yang sering kelayapan di luar, mana aku berani membawanya kemari."

"Baik, biar kubawa mereka masuk, tiada urusan kalian lagi, silahkan kembali."

Tawa Tio lotoa semakin riang, sahutnya tertawa munduk-munduk: "Baik, legalah hatiku." Dian Susi heran, tanyanya: "Kau tidak ikut masuk?" "Aku sudah sampaikan keadaan kalian kepada Ong toanio, kalian menetap saja di sini, begitu ada kabar beritanya segera kuberitahu kalian kemari," lalu dia ajak laki-laki brewok meninggalkan tempat itu.

Sebetulnya Dian Susi masih ingin bertanya, namun perempuan cantik itu sudah melambaikan tangan kepada mereka, sekilas Dian Susi berpikir, akhirnya dia tarik tangan Dian Sim melangkah masuk. Pintu segera tertutup.

Di belakang pintu adalah sebuah pekarangan besar, keadaan di sini serba elok dan tenang serta nyaman, setelah menyusuri serambi panjang yang belak-belok, mereka tiba di sebuah taman kembang yang amat luas, berbagai macam kembang bertaburan mekar bersama, kicauan burung saling bersahutan, angin menghembus sepoi-sepoi membawa harum kembang yang memabukkan, dibanding Kim-siau san-ceng, kebun kembang ini kelihatannya tidak kalah permai dan indahnya.

Di dalam taman kembang yang luas ini di sana-sini dibangun bangunan-bangunan mini berloteng, pagarnya bercat merah, dindingnya hijau, kerainya terdiri dari untaian manik-manik yang setengah tersingkap, pada loteng terdekat, kelihatan beberapa gadis-gadis ayu sedang menyisiri rambut menghadap keluar taman dengan sikap malas seperti melamun.

Gadis-gadis itu cantik-cantik, pakaiannya pun mewah dan mahal, cuma setiap orang kelihatan amat letih dan kehilangan semangat, seakan-akan beberapa hari kurang tidur.

Begitu melangkah ke taman kembang, tak urung terbayang oleh Dian Susi akan kehidupan sendiri waktu berada di rumah, tak tahan dia berkata: "Tempat ini serba bagus, cuma rasanya terlalu tenang dan sepi."

"Kau suka keramaian?"

"Kalau terlalu sepi, orang gampang melamun dan punya pikiran tidak genah, aku tidak suka melamun."

Perempuan setengah umur yang cantik ini memperkenalkan diri sebagai Bwe-ci, katanya tertawa: "Itu lebih baik, sekarang memang serba sepi dan tenang, tapi setelah malam tiba, ramainya bukan buatan. Perduli kau suka sepi atau senang ramai, di sini kau akan hidup dengan senang dan tentram."

Dian Susi melirik ke atas loteng, katanya: "Nona-nona itu sebaliknya seperti tidak suka keramaian."

"Mereka itu laksana kucing malam, sekarang kelihatan seperti acuh tak acuh, tidak punya semangat, tapi begitu malam tiba, mereka akan selincah naga segalak harimau, ada kalanya malah begitu ributnya sampai sukar dikuasai." Dian Susi tertawa, katanya: "Aku tidak takut keributan, kadang aku pun suka ribut, orang akan pusing kepalanya, kau tidak percaya boleh kau tanya dia."

Dian Sim segera menjawab dengan merengut: "Kenapa tanya aku? Yang terang apapun aku tidak tahu, apapun aku tidak mengerti."

Waktu itu mereka melewati sebuah jembatan kecil. Tak jauh dari jembatan ini, di belakang gunung batu, di atas sebuah loteng kecil mendadak berkumandang jeritan yang menyayatkan hati: "Aku tidak tahan lagi, sungguh tidak tahan lagi... aku tidak ingin hidup lagi, biar aku mati saja!" disusul menerobos keluar seorang anak perempuan yang menangis dengan rambut terurai awut-awutan dari atas loteng, pakaian sutra merah yang dipakainya sudah koyak.

Tiada orang yang menghiraukan jerit tangisnya, nona-nona yang duduk bersandar pagar dan jendela di loteng sebelah sana tiada satu pun yang tertarik atau menaruh perhatian akan kejadian di sini. Hanya Bwe-ci yang segera menyongsong maju, perlahan-lahan dia rangkul pinggang gadis cilik itu, serta membisiki entah apa di pinggir telinganya.

Semula gadis ini sudah mencak-mencak dan meronta-ronta dengan tangisnya yang keras, tapi mendadak seperti kucing yang jinak, kepala tertunduk, pelan-pelan melangkah naik kembali ke atas loteng. Senyum Bwe-ci tetap begitu mekar dan menggiurkan, seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu.

"Kenapa nona cilik itu?" tanya Dian Susi.

Bwe-ci menghela nafas, katanya: "Sebelum datang kemari, dia pernah mengalami pukulan hidup yang amat berat, oleh karena itu sering penyakit gilanya kumat, kita sudah biasa menghadapi kebinalannya."

"Pukulan hidup apakah yang pernah dialaminya dulu?" tanya Dian Susi lebih lanjut.

"Aku sendiri kurang terang, tidak tega aku bertanya kepadanya, supaya hatinya tidak bertambah duka, tapi kalau tidak salah dulu dia pernah dipelet laki-laki, akhirnya ditelantarkan sehingga hidupnya sengsara."

"Laki-laki memang bukan manusia baik."

"Memang sedikit jumlah laki-laki yang baik, asal kau selalu ingat akan hal ini, kelak kau pasti tidak akan dirugikan," ujar Bwe-ci.

Tatkala mana mereka sudah mengitari batu-batu gunung memasuki hutan kembang. Di tengah- tengah hutan kembang sana terdapat sebuah bangunan mentereng berloteng pula. "Ong toaci bertempat tinggal di sini, mungkin sekarang baru bangun, biar aku memberitahu kedatanganmu dulu." Menyiak kembang dia menerobos ke sana, gerak-geriknya begitu gemulai lembut laksana bidadari di antara kelompok kembang.

Sejak tadi Dian Sim diam saja, kini tiba-tiba membuka suara: "Siocia, kita pergi saja bagaimana?"

"Pergi. Kemana?"

"Ke mana saja boleh, asal jangan tinggal di tempat seperti ini." "Kenapa?"

"Entahlah aku punya firasat tempat ini bukan tempat tinggal yang aman." "Dalam hal apa kau rasakan kurang aman?"

"Segalanya serba ganjil, setiap penghuni di sini seperti kurang normal, kehidupan mereka pun amat janggal, sungguh aku tidak habis mengerti, tempat macam apa sebenarnya perkampungan serba perempuan ini."

Dian Susi malah tertawa, katanya menggeleng-geleng dengan tertawa: "Kau setan kecil ini ternyata memang banyak curiga, setelah tertipu sekali, memangnya kau anggap semua orang adalah penipu?" Kepalanya menengadah mengawasi loteng, katanya lebih lanjut: "Apa lagi, aku ingin melihat Ong toanio itu, kukira dia pasti perempuan yang luar biasa."

*****

Siapapun yang berhadapan dengan Ong toanio, pasti tidak akan menganggapnya sebagai penipu. Kalau orang bilang Bwe-ci adalah perempuan genit yang cantik rupawan, bila orang melihat Ong toanio, mungkin kata-kata pujian pun tak kuasa diucapkan.

Karena mungkin tiada uraian kata-kata seindah apapun yang bisa dibuat melukiskan kecantikannya, kalau mau dipaksakan paling hanya bisa memuji dengan istilah; kecantikan yang sempurna, begitu sempurna sampai tiada cacat sedikit pun.

Waktu Dian Susi dibawa masuk, Ong toanio sedang sarapan pagi. Umpamanya di saat sarapan kaum perempuan malu diliputi orang luar. Tapi lain dengan Ong toanio yang satu ini. Perduli apapun yang sedang dia lakukan, setiap gerak-geriknya kelihatan begitu indah, begitu sempurna tiada sesuatu yang kelihatan ganjil dan menyolok dipandang mata.

Ternyata takaran makannya cukup mengagetkan, karena dia cukup mengerti, seseorang bila ingin mempertahankan potongan badan dan kesehatan serta gairah hidupnya, maka dia harus menyerap makanan yang bergizi tinggi dan banyak mengandung vitamin, bak umpama sekuntum kembang yang sedang mekar, dia pun memerlukan air dan sinar matahari.

Banyak makan namun sedikit pun tidak mempengaruhi potongan badannya, setiap liku-liku badannya begitu jelas menonjol. Sejak pertama melihat perempuan ini Dian Susi tertarik seperti disedot sukmanya.

Agaknya Ong toanio pun juga tertarik kepada Dian Susi, katanya lembut dengan tersenyum: "Kau kemarilah, duduk di sampingku, biar kupandangmu dengan jelas."

Senyum dan sorot matanya seolah-olah mengandung daya sedot dari tenaga iblis yang mempengaruhi daya pikir orang sehingga apapun yang dikatakan harus dituruti dengan patuh. Perduli laki-laki atau perempuan takkan kuasa melawan kehendaknya.

Tanpa banyak bicara Dian Susi melangkah maju terus duduk di sebelahnya. Sorot mata Ong toanio tidak lepas dari dada Dian Susi yang membusung tinggi, seperti dia mengawasi hidangan di depannya yang menimbulkan selera, pelan-pelan dia angsurkan sisa setengah mangkok kuah kolesom bersarang burung kepadanya, katanya lembut: "Nah, sop sarang burung ini masih hangat, lekas kau habiskan!"

Selama hidup belum pernah Dian toasiocia menggunakan barang lain orang, jikalau sekarang dia disuruh makan sisa makanan orang lain, sungguh suatu kejadian luar biasa. Tapi kenyataannya dia habiskan sop sarang burung itu dengan menunduk kepala.

Dian Sim melongo kaget seperti disengat kala mengawasi majikannya, hampir dia tidak percaya akan pandangan matanya sendiri.

Semakin manis senyum Ong toanio, katanya: "Kau tidak merasa, sisa makananku kotor?" Dian Susi geleng-geleng.

"Asal kau tidak anggap kotor, semua barang-barangku boleh kau pakai, pakaianku boleh kau kenakan, apapun yang menjadi milikku, kau boleh dapat setengah bagian."

"Terima kasih," sahut Dian Susi tunduk.

Ong toanio tiba-tiba tertawa pula katanya: "Coba lihat, siapa namamu aku belum tahu, tapi sudah pandang kau sebagai temanku yang paling baik."

"Aku she Dian bernama Susi."

Sebenarnya dia sudah bertekad untuk tidak membeber namanya di hadapan orang, supaya ayahnya tidak bisa menemukan jejaknya, entah kenapa di hadapan Ong toanio, sepatah kata pun dia tidak kuasa berbohong. "Dian Susi... bukan saja orangnya manis namanya pun manis, memang kau adik yang manis sekali."

Merah muka Dian Susi.

"Adik cilik berapa usiamu tahun ini?” "Delapan belas."

"Nona berusia delapan belas bak umpama sekuntum bunga, tapi kembang apa dalam dunia ini yang bisa dibandingkan kau?" mendadak dia bertanya: "menurut pendapatmu, berapa usiaku sekarang?"

"Aku sulit mengatakan."

"Kau boleh menerka sembarangan."

Dian Susi mengerling, katanya: "Dua puluh... dua? Atau dua tiga?"

Ong toanio cekikikan senyaring kelinting, katanya: "Ternyata ucapanmu amat manis, tentunya aku pernah berusia dua puluhan tahun, sayang sekali saat itu sudah berselang dua puluh tahun yang lalu."

Terbelalak kaget mata Dian Susi, "Apa benar?... Aku tidak percaya."

"Kenapa aku menipu kau? Masakah aku tega menipumu?" pelan-pelan dia menghela nafas, sambungnya. "Tahun ini aku sudah empat puluh tiga, paling tidak boleh menjadi kakakmu yang tertua, kau sudi tidak menjadi adikku?"

Dian Susi manggut-manggut, dia suka. Tapi tiba-tiba dia menggeleng-geleng, katanya: "Tapi aku tidak percaya bila kau berusia empat puluh tiga, kukira takkan ada orang mau percaya."

"Orang lain mungkin tidak percaya, tapi aku sendiri terpaksa harus percaya. Aku bisa kelabui orang lain, tapi takkan mengelabui diriku sendiri."

Dian Susi tertunduk dengan menghela nafas. Baru pertama kali ini dia benar-benar meresapi betapa cepat usia berlalu, pertama kali dia merasakan duka cita dan merasa sayang dan betapa berharganya masa remaja itu.

"Adik cilik ini, dia pernah apa dengan kau?" tanya Ong toanio. "Yang terang dia dibesarkan bersamaku sejak kecil."

"Sekarang terpaksa aku harus merebut dirimu dan sampingnya... adik cilik, kau tidak marah bukan?" Dian Sim merengut dan memonyongkan mulut, diam saja tidak memberi jawaban.

Dian Susi melotot sekali kepadanya, katanya tertawa: "Dia memang masih bocah, bocah yang belum tahu apa-apa."

"Belum tahu apa-apa malah lebih baik. Hari ini kita harus bergaul dengan riang, tak perlu mengobrol panjang pendek... coba katakan betul tidak?"

Baru Dian Susi hendak menjawab, tiba-tiba dilihatnya mata Ong toanio tidak tertuju ke arah dirinya. Tepat pada saat itu pula didengarnya seseorang menjawab dingin di belakangnya: "Tidak benar!"

Jawaban cekak aos, tajam dan tegas, setajam pisau. Tapi suara ini terasa melengking, seolah- olah

bisa memekak pecah kuping orang, membelah jantung pendengarnya.

Tak tertahan Dian Susi berpaling. Baru sekarang dilihatnya di pojok ruangan sana duduk seseorang.

Seseorang yang tidak mirip manusia. Waktu dia duduk di sana, persis benar dengan sebuah meja, sebuah kursi, sebuah perabot rumah tangga, bukan saja tidak bergerak, juga tidak bersuara, siapapun takkan pernah menaruh perhatian terhadapnya. Tapi sekilas kau pernah melihatnya, kau tidak akan melupakan untuk selamanya.

Sekilas melirik Dian Susi lantas tak berani mengawasinya lagi. Waktu dia melihat orang itu, seperti melihat sebatang golok meski sudah karatan tapi masih cukup mampu untuk membunuh orang. Seolah-olah melihat sebongkah batu es yang sudah membeku ribuan tahun lamanya sehingga warnanya menjadi hitam.

Siapapun takkan pernah menduga orang ajaib seperti itu berada di dalam kamar Ong toanio. Lebih tidak menduga lagi manusia ajaib ini masih buka suara berbicara.

Karena jawaban orang itu, Ong toanio malah cekikikan, katanya: "Tidak benar? Kenapa tidak benar?"

Orang itu berkata dingin: "Karena bila kau benar-benar riang, apapun yang kau katakan kau harus tetap riang gembira."

"Memang masuk akal, apa yang diucapkan oleh Kek siansing selamanya masuk akal." "Tidak benar."

"Tidak benar? Kenapa tidak benar lagi?"

"Apa yang kuucapkan memang masuk akal, bukan seperti masuk akal." Tawa Ong toanio berdering senyaring kelinting, katanya: "Adik cilik, coba lihat bukankah Kek siansing ini amat lucu?"

Mulut Dian Susi terkancing, sementara sungut Dian Sim semakin guram, mulutnya semakin runcing cemberut. Bahwasanya mereka tidak bisa mengakui bahwa Kek siansing itu memang lucu.

Tapi lain pula pendapat Ong toanio, katanya tetap tertawa: "Waktu pertama kali kalian melihat orang ini, mungkin merasa dirinya menakutkan. Tapi bila kau sudah lama kumpul sama dia, lambat laun kau akan merasa dia orang amat menyenangkan."

Sebetulnya ingin Dian Susi mengutarakan pikiran hatinya: "Orang seaneh itu, siapa bisa bergaul dengan dia?" Umpama dia yang harus bergaul, jangan kata satu hari, satu jam pun rasanya tidak betah.

*****

Sang Surya sudah doyong ke barat, tapi bagi Ong toanio kehidupan yang semarak untuk hari ini baru akan dimulai.

Sementara Dian Susi merasa nasib mereka hari ini cukup baik. Setelah mengalami berbagai penipuan sehingga segala miliknya ludes, kini bertemu Tio lotoa dan Ong toanio, dua orang yang baik hati.

Sekonyong-konyong Dian Susi merasa badannya amat letih, baru sekarang dia ingat rasanya dirinya sudah lama belum tidur, tanpa disadarinya kedua biji matanya melirik ke arah tempat tidur Ong toanio yang lebar empuk dan nyaman itu...

Cuaca sudah gelap.

Sinar api sudah bercahaya di dalam rumah, suasana amat sunyi tak terdengar suara apapun. Dian

Susi hanya mendengar degup jantungnya sendiri yang teratur dan normal.

Terasa sekujur badannya lemas lunglai, malas untuk bergerak, tapi mulutnya kering, tak urung teringat olehnya sop biji teratai yang sering diminumnya di rumah.

Di mana Dian Sim? Entah kemana setan cilik itu? Setelah menghela nafas, pelan-pelan Dian Susi merangkak turun dari ranjang, sepatu yang dicopotnya tadi entah berada di mana, di samping ranjang telah disiapkan sepasang sandal kain yang ringan. Langsung dia menuju ke arah jendela lalu mendorongnya terbuka.

Sayup-sayup hembusan angin membawa alunan musik yang merdu. Taman kembang di luar jendela terang benderang, di mana dipasang lampion beraneka warna dan berbeda bentuknya. "Ternyata kalau malam di sini amat ramai, Ong toanio pasti seorang yang suka menjamu tamu- tamunya." Lalu terpikir pula olehnya: "Jikalau Cin Ko juga datang kemari, betapa baik dan menyenangkan!" Terbayang akan pemuda ganteng romantis yang suka mengenakan sapu tangan merah di lehernya, tiba-tiba terasa panas dan merah muka Dian Susi. Pikirannya terombang- ambing dibuai mabuknya asmara, sehingga tidak didengarnya langkah Ong toanio yang mendekat. Waktu dia mendengar suara merdu Ong toanio, orang tahu-tahu sudah berada di sampingnya, katanya sambil pegang pundaknya: "Apa yang kau pikirkan sampai melongo begitu rupa?"

" Aku sedang berpikir, Dian Sim setan kecil itu entah kemana, kenapa tidak kelihatan bayangannya?" Selamanya belum pernah dia berbohong, tapi kali ini entah kenapa tanpa disadarinya secara reflek dia menjawab sekenanya.

Ong toanio menarik tangannya menuju ke meja bundar kecil itu, katanya sambil berduduk: "Bagaimana tidurmu? Nyenyak bukan?"

"Tidurku seperti orok yang baru dilahirkan."

"Tentu perutmu sudah lapar, apa yang kau inginkan?"

"Makanan apapun tidak kuinginkan, aku hanya ingin..." berkerling matanya, katanya lebih lanjut: "Agaknya tidak sedikit tamu-tamumu yang datang malam ini."

"Tidak banyak, sekitar dua puluh orang."

"Setiap hari kau kedatangan tamu sebanyak itu?" "Kalau tamu tidak banyak, bagaimana aku hidup?"

Terbelalak mata Dian Susi, katanya: "Jadi tamu-tamu yang datang semua membawa kado?" "Mereka mau memberi, aku pun tidak enak menolak, benar tidak?"

"Darimana saja mereka datang?"

"Darimana saja, ada..." tiba-tiba dia memicing mata, sahutnya: "Malah hari ini aku kedatangan seorang tamu yang amat terkenal."

"Siapa dia?" tanya Dian Susi, biji matanya bersinar. "Apakah Cin Ko? Atau Liu Hong-kut?" "Kau kenal mereka?"

Tertunduk kepala Dian Susi, katanya gigit bibir: "Tidak kenal, cuma aku ingin bertemu dengan mereka, kabarnya mereka adalah tokoh besar yang luar biasa." Ongtoanio cekikikan, katanya sambil mencubit pipinya: "Betapapun hebatnya tokoh kosen itu, berhadapan dengan perempuan secantik dirimu, tanggung seketika menjadi laki-laki pikun. Asal kau selalu ingat akan ucapanku, kelak kau pasti hidup bahagia."

Tiba-tiba pintu diketuk dari luar. Ternyata seorang nona cilik membawa nampan menyediakan beberapa macam hidangan sayur mayur dan arak.

"Kenapa kita tidak makan di luar bersama para tamumu itu?" tanya Dian Susi. "Kau tidak merasa sebal atau jijik dengan para tamu itu?"

"Tidak banyak temanku, orang bilang lebih banyak teman lebih baik."

"Apa kau ingin kenal banyak orang untuk memilih calon suamimu?" goda Ong toanio dengan cekikikan, kembali dia mencubit pipi Dian Susi.

Pipi Dian Susi terasa hangat. Mendadak Ong toanio tempelkan pipinya ke pipi orang katanya cekikikan genit: "Setiap hari pasti ada teman yang datang kemari, berapa banyak teman yang ingin kau kenal semua ada di sini. Tapi malam ini, kau adalah milikku." Kulit mukanya ternyata begitu halus licin dan dingin segar.

Sebetulnya Dian Susi merasa risih, namun lekas sekali dia berpikir: "Ah, sama-sama perempuan, apasih halangannya?" Tapi entah kenapa, jantungnya tiba-tiba berdegup semakin keras.

Selamanya belum pernah ada orang bersikap begini intim, begitu mesra terhadap dirinya. Dian Sim yang dibesarkan sejak kecil belum pernah berbuat demikian.

"Di mana Dian Sim?" tiba-tiba Dian Susi bertanya. "Kenapa sampai sekarang tidak kelihatan bayangannya?"

"Dia masih mendengkur nyenyak," ujar Ong toanio, "kecuali kau, selamanya tiada orang yang tidur di dalam bilikku ini, apalagi tidur di atas ranjangku."

Hati merasa syur dan haru, tapi mukanya entah kenapa, terasa membara. "Lho apa kau merasa gerah? Biar kutanggalkan pakaian luarmu." "Tidak... tidak, tidak panas, benar-benar tidak panas."

"Tidak panas juga harus dicopot, kalau orang melihat kau mengenakan pakaian laki-laki, orang akan mengira aku menyimpan laki-laki liar di dalam kamar." Mulut bicara jari-jarinya sudah mulai meraih dan membuka kancing baju Dian Susi. Tangannya seperti seekor ular, merayap dari pinggang ke dadanya... Terpaksa Dian Susi harus memberi reaksi, sekujur badannya jadi merinding. Dengan nafas tersengal, tangannya mendorong sambil cekikikan geli, katanya: "Jangan kau copot bajuku, di sebelah dalam aku tidak pakai apa-apa."

Mimik tawa Ong toanio menjadi aneh, katanya: "Itu lebih baik? Masakah kau masih takut kepadaku?"

"Aku bukan takut, cuma..." kedua tangannya tiba-tiba mendorong ke dada Ong toanio, cekikikan tawanya seketika membeku, rona mukanya berubah hebat, seolah-olah jari-jarinya mendadak dipagut ular. Kontan dia berjingkrak dengan badan mengkirik ngeri, serunya gemetar sambil melotot kepada Ong toanio: "Kau... kau ini perempuan atau laki-laki?"

Ong toanio tertawa dengan memicing mata: "Bagaimana menurut pendapatmu?"

"Kau... kau... kau..." tak kuasa Dian Susi melontarkan kata-katanya. Karena dia bingung dan tidak tahu Ong toanio sebetulnya perempuan atau laki-laki? Yang terang siapapun yang berhadapan dengan Ong toanio, pasti tidak akan menganggapnya sebagai laki-laki. Orang pikun atau gila pun pasti akan memandangnya sebagai perempuan.

Akan tetapi dadanya... Dadanya bidang dan datar selicin kaca.

Semakin aneh tawa Ong toanio, katanya: "Tidak tahu tidak menjadi soal, yang terang besok pagi kau akan membuktikan sendiri."

Dian Susi menyurut mundur, katanya tergagap: "Aku tidak ingin tahu, aku hendak pergi saja." Begitu putar badan mendadak dia lari hendak menerjang kebelakang, tapi dibelakangnya tiada pintu. Waktu dia menerjang balik Ong toanio sudah menghadang di depannya, katanya: "Sekarang masa kau bisa pergi?"

Dian Susi menjadi gugup, teriaknya: "Kenapa tidak bisa? Aku toh tidak menjual diri kepadamu." "Siapa bilang kau tidak terjual kepadaku?”

"Siapa bilang aku sudah dijual kepadamu?"

"Aku yang bilang, karena aku sudah bayar tujuh ratus tail kepada Tio lotoa," katanya tertawa, "tujuh ratus tail bagimu terlalu murah, saying dia hanya berani memberi harga sekian saja.

Sebetulnya umpama dia minta tujuh ribu tail, aku tetap berani membayar untuk dirimu."

Saking gusar pucat muka Dian Susi, serunya: "Apa? Tio lotoa menjual diriku kepadamu?" "Dari ujung rambut ke ujung kakimu, semuanya dijual kepadaku." Bergetar sekujur badan Dian Susi saking murka, teriaknya: "Dia itu terhitung barang apa? Dengan hak apa dia berani menjual aku kepadamu?"

"Tanpa hak apa-apa, yang terang kau ini nona pikun yang tidak tahu diri. Begitu kau masuk ke kota ini, mereka sudah menguntit dan memperhatikan setiap gerak-gerikmu!"

"Mereka?"

"Mereka adalah Thi Ke-po, To-pak Lo-liok, Chi It-to, si brewok dan Tio lotoa." "Jadi mereka sekongkol dan sekomplotan?"

"Sedikit pun tidak salah, biang keladinya adalah Tio lotoa. Untung kau bertemu dengan aku, terhitung nasibmu yang mujur. Asal kau menurut dan dengar kataku, aku tidak akan menyia- nyiakan kau, malah boleh tidak usah menerima tamu."

"Menerima tamu? Apakah maksudnya menerima tamu?”. Amarahnya sudah meledak, tapi dia berusaha mengendalikan emosinya, karena masih banyak persoalan yang dirinya belum tahu.

"Memang nona pikun, masakah terima tamu kok tidak tahu. Tapi kelak pelan-pelan akan kuajarkan kepadamu, malam ini juga mulai kuajarkan kepadamu," pelan-pelan dia maju mendekat. Waktu berjalan tampak sesuatu menonjol dari bagian bawah bajunya.

Muka Dian Susi yang pucat seketika merah jengah, teriaknya:

"Kau... kau laki-laki."

"Ada kalanya laki-laki, tapi bisa juga berubah jadi perempuan, bisa berhadapan dengan manusia seperti diriku, boleh terhitung keberuntunganmu seumur hidup."

Dian Susi tiba-tiba menjerit keras. Berbareng dia menerjang maju sambil dorongkan kedua tangannya. Nona pingitan ini biasanya lemah lembut, tapi kalau sudah mengamuk segalak harimau kelaparan. Jari-jari tangannya yang runcing-runcing kecil dan mungil itu begitu terpelihara baik sekali, tapi sekarang kuku jarinya itu berubah laksana cakar harimau, sekali cengkram seolah-olah hendak bikin tenggorokan Ong toanio berlubang. Bukan saja serangannya ganas, cepat malah sejurus serangan ini mengandung perubahan rumit.

Jago-jago silat di dalam Kim-siu san-ceng cukup banyak, biasanya mereka mengagulkan bahwa ilmu silat Dian siocia sudah setaraf kelas satu. Jurus serangan ini merupakan kepandaian andalan yang paling dia banggakan. Tempo hari Piausu dari kota raja pernah dia robohkan dengan jurus serangan ini sehingga cukup lama baru kuasa merangkak bangun. Betapa bencinya terhadap Ong toanio manusia siluman ini, maka serangannya jauh lebih dahsyat dari biasanya, kalau Ong

toanio benar-benar tercengkram jarinya, mungkin takkan bangun untuk selamanya. *****

Ong toanio tidak roboh.

Sebaliknya Dian Susi sendiri yang terkapar lemas. Selama hidup belum pernah ia terpukul roboh. Maka dapatlah dibayangkan bagaimana perasaan hatinya saat itu. Tahu-tahu pergelangan tangan yang menyerang itu malah tercengkram oleh orang, kontan badannya hilang keseimbangan, tiba- tiba badannya seperti melayang di tengah udara. Disusul kupingnya mendengar suara bantingan badannya yang berdentam keras di lantai.

Selanjutnya tidak ingat apa-apa lagi. Entah berapa lama, waktu perasaannya pulih kembali, dilihatnya Ong toanio tengah berdiri mengawasi dirinya dengan tersenyum, senyum yang begitu simpatik, mesra dan berkata lembut: "Kau sakit tidak?"

Sudah tentu sakit. Baru sekarang Dian Susi merasa sekujur badannya linu kemeng, seolah-olah tulang-tulangnya retak dan copot, begitu sakitnya sampai mata berkunang-kunang, hampir tak tertahan air mata hendak bercucuran.

Ong toanio geleng-geleng, katanya: "Kepandaian silat seperti ini juga berani memukul orang, sungguh lucu sekali."

"Ilmu silatku tidak becus?"

Agaknya Ong toanio kaget, tanyanya: "Kau sendiri tidak tahu betapa memalukan ilmu silatmu?"

Sudah tentu Dian Susi tidak tahu. Tapi sekarang dia insyaf, bila orang mengagulkan ilmu silatnya setinggi langit, lantaran dia putri Dian toaya. Baru sekarang benar-benar dia sadari bahwa dirinya tidaklah begitu pintar seperti yang dia bayangkan sendiri. Ingin rasanya dia gampar kedua pipinya sendiri.

"Apa yang sedang kau lamunkan?" tanya Ong toanio. "Tahukah kau kalau mau sembarang waktu aku bisa memperkosa kau, masakah kau tidak takut?"

Badan Dian Susi mendadak mengkeret, "perkosa" kedengarannya sungguh menakutkan, amat tajam dan mengerikan. Sebesar ini belum pernah dia dengar kata-kata ini, memikirkan pun belum pernah. Seketika ngeri menjadi merinding, keringat dingin gemerobyos, tapi suhu badannya malah semakin membara. "Kau... kau... kau ingin memperkosa aku?"

"Aku sih tidak akan memperkosa kau," ujar Ong toanio tertawa. "Lalu... lalu apa yang akan kau lakukan atas diriku?"

"Aku ingin kau mau tunduk dan menuruti kemauanku dengan senang hati." "Aku pasti tidak mau!" teriak Dian Susi. "Mati pun tidak mau!"

"Kau kira gampang untuk mati? Kalau begitu pikiranmu salah sekali!"

Di atas meja ada sebuah kelinting kecil. Ong toanio mendadak jemput kelinting ini serta digoyang beberapa kali. Baru saja kumandang kelinting yang nyaring berbunyi, dua orang lantas melangkah masuk. Sebetulnya dua orang ini bukan terhitung manusia, seorang mirip anjing atau biruang, yang lain mirip orang hutan.

"Bagaimana menurut pendapatmu akan kedua orang ini?" tanya Ong toanio tersenyum. Dian Susi pejamkan mata, mengintip pun tidak berani melihatnya.

"Kalau kau tidak menurut kehendakku, biar kusuruh kedua orang ini memperkosa kau."

Dian Susi menjerit histeris. Kali ini dia kerahkan seluruh kekuatannya baru bisa mengeluarkan pekik yang ngeri. Tapi suaranya tiba-tiba putus di tengah jalan, tahu-tahu badannya meloso roboh lemas dan jatuh semaput.

Waktu siuman, Dian Susi tidak merasa nyaman dan gembira seperti pertama kali datang. Tempat di mana dia rebah, tidak harum, empuk, hangat, tapi suatu tempat yang busuk, dingin, dia rebah di atas batu yang keras. Begitu membuka mata yang didengaraya adalah isak tangis serta rintihan yang menyayat hati.

Di pojok dinding sana, meringkuk bayangan orang, di bawah penerangan sinar dian yang remang-remang kelihatan orang itu mengenakan jubah panjang warna merah yang sudah koyak- koyak, tampak kulit dagingnya yang melepuh dan matang biru bekas pukulan dan cambukan, banyak diantara luka-luka itu merembeskan darah segar.

Dian Susi amat berkesan melihat jubah merah ini, cepat sekali dia sudah teringat akan gadis cilik yang dibujuk balik oleh Bwe-ci itu. Ingin dia berdiri, baru sekarang dia insyaf, jangan kata

berdiri, rasa sakit pun sudah tidak terasakan lagi olehnya, sekujur badan seolah sudah linu kemeng dan mati rasa. Terpaksa dia meronta dan merambat ke sana dengan kedua tangannya.

Gadis cilik itu tiba-tiba angkat kepala mengawasinya dengan melotot, biji matanya merah membara dan liar, mirip seekor binatang liar yang hampir gila karena disiksa.

Dian Susi amat kaget, bukan karena mata orang yang buas, tapi adalah roman mukanya. Tadi siang dia lihat kulit muka gadis ini begitu halus cantik, tapi sekarang selebar mukanya penuh keriput, pipinya peot dagunya menceng, hidungnya melesak, dari ujung mata dan ujung bibirnya mengalir darah, roman mukanya mirip benar dengan sebuah semangka yang dibanting pecah. Saking ngeri dan jijik tak tertahan perutnya seperti berontak, akhirnya dia muntah-muntah. Yang keluar hanya air getir, air kecut.

Setelah Dian Susi berhenti muntah, gadis cilik itu baru bersuara: "Ong toanio suruh aku bertanya sepatah kata kepadamu."

"Dia suruh kau tanya... tanya apa?"

"Dia suruh aku tanya kau, inginkah kau berubah seperti diriku?"

Betapa mengerikan pertanyaan ini, Dian Susi tergagap: "Ba... bagaimana kau berubah begini rupa?"

"Karena aku tidak dengar petunjuk Ong toanio, kalau kau meneladani perbuatanku, kau pun akan menjadi seperti aku," suaranya dingin dan datar, seolah-olah sedang mengisahkan pengalaman orang lain.

Melihat keadaan orang, baru Dian Susi benar-benar tahu apa sebenarnya takut itu. Tiba-tiba dia rebah telungkup menangis tersedu-sedan. Boleh dikata dia sudah putus asa.

Gadis itu masih mengawasinya dengan dingin, katanya: "Apakah kau sudah mau menerima petunjuknya?"

"Aku tidak tahu... aku tidak tahu " suara Dian Susi serak, dengan keras dia menjambak

rambutnya sendiri.

"Tidak tahu itu berarti sudah menerima, kau memang harus tunduk kepada permintaannya," dia berpaling muka terus merebahkan diri di atas tanah, tak bergerak tidak bersuara lagi.

Mendadak Dian Susi menubruk maju, memeluk badan orang, tanyanya: "Kenapa kau tidak bicara lagi?"

"Apa yang perlu kukatakan sudah habis." "Kenapa tidak melarikan diri?"

"Aku tidak berdaya."

Dengan keras Dian Susi merenggut rambut orang, sentaknya keras: "Pasti ada daya, kenapa kau menunggu ajal di sini?"

Karena kepala terangkat gadis itu mengawasi Dian Susi, mukanya mengawasi Dian Susi, mukanya dihiasi secercah senyum manis yang aneh, katanya: "Kenapa aku tidak boleh menunggu ajal? Kalau aku bisa mati terhitung lebih bahagia daripada kau. Cepat atau lambat kau akan tahu, mati, bahwasanya bukan sesuatu yang amat menakutkan, yang menakutkan justru ingin mati sukar mau hidup pun tidak bisa."

Sungguh terpukul sanubari Dian Susi mendengar kata-kata ini, pelan-pelan dia lepaskan tangannya, dengan kertak gigi dia berdiri. Dia bersumpah untuk mempertahankan hidup, apapun yang dialami dia harus tetap hidup. Betapapun dia tidak sudi mati!

*****

Dinding kamar tahanan yang gelap dan serba hitam ini dibangun dari batu-batu besar yang ditumpuk. Tiada pintu, hanya ada sebuah jendela kecil lebar dua kaki, letak jendela empat lima tombak dari tanah. Dian Susi tahu dirinya takkan mampu loncat setinggi itu. Tapi dengan penuh tekad dia toh mencobanya. Dengan kerahkan seluruh tenaganya dia lompat ke atas. Berulang kali dia jatuh bangun. Terpaksa dia merayap.

Di antara batu dan batu ada sedikit celah, dengan kencang ujung jari kaki tangannya berpegang dan menginjak celah-celah batu merayap ke atas. Jari-jari tangannya sampai lecet berdarah.

Maklum ujung batu yang kasar dan runcing setajam pisau. Saking tak tertahan lagi sakitnya, akhirnya dia terperosok jatuh dan terbanting cukup keras.

Begitulah berulang kali dia berusaha dan selalu gagal, tapi dia tidak menangis lagi. Dia bertekad untuk mencobanya terus sampai jiwanya ajal.

Sekonyong-konyong dilihatnya seutas tali menjuntai turun dari atas lubang jendela. Agaknya ada orang hendak menolong dirinya. Siapa yang menolong? Untuk apa menolong?

Tanpa banyak pikir lagi, lekas dia goyang-goyang tubuh si gadis menyuruhnya melihat tali itu, tapi gadis cilik ini hanya melirik sebentar saja, katanya rawan "Aku tidak ingin pergi, aku rela mati di sini."

Dian Susi membanting kaki dengan gemas, tanpa perduli mati hidup orang, segera dia tarik tali itu dan berpegang kencang, pelan-pelan dia merambat naik. Perawakannya yang ramping kebetulan bisa keluar dari lubang jendela yang kecil itu.

Tidak terlihat bayangan orang di luar jendela, ujung tali yang lain terikat di sebuah pucuk pohon yang terletak di depan jendela. Pelan-pelan dan hati-hati Dian Susi merangkak keluar terus merayap ke atas pohon, dari sini dengan berpegang dahan pohon dia merosot turun.

Sekelilingnya gelap gulita, ke jurusan mana dia harus melarikan diri? Dia tidak tahu dan tidak bisa memilih arah.

Di sebelah depan ada hutan kembang, entah kembang apa tidak dia hiraukan, yang terang bau kembang amat harum, segera dia menyelinap ke dalam. Cepat sekali dia mendengar irama musik yang terbawa hembusan angin lalu. Harus mundur atau berputar melewati bangunan rumah di depan itu? Dian Susi menyembunyikan diri di belakang sepucuk pohon, di saat dia hendak bergerak, irama musik tiba- tiba berhenti, dua orang tampak melangkah keluar pelan-pelan dari dalam rumah.

Melihat dua orang ini, serasa hampir berhenti nafas Dian Susi. Yang di sebelah kiri adalah Ong toanio yang bersolek laksana kembang mekar. Yang di sebelah kanan berperawakan tinggi kekar, bersikap gagah dan kereng, dia bukan lain adalah si hartawan royal yang membuang uang untuk menerima tamu, yaitu Tionggoan Beng-siang Dian Pek-sek Dian-jiya.

Ong toanio pernah mengatakan dia kedatangan tamu agung yang tenar, kiranya yang dimaksud adalah orang ini.

Sungguh mimpi pun Dian Susi tidak pernah membayangkan dalam keadaan seperti dirinya di tempat ini pula melihat ayahnya. Sungguh saking girangnya hampir tak tertahan dia bersorak. Tapi suaranya tertelan lagi. Karena pada saat itu pula dia melihat dua orang lain beranjak keluar juga dan dalam rumah di belakang ayahnya.

Kedua orang ini satu tua yang lain muda. Yang tua bertubuh tromok pendek, mukanya bundar, rambutnya jarang, jenggotnya sedikit, pinggangnya menyoreng pedang, panjangnya hampir satu lipat melebihi kakinya, sehingga kelihatannya lucu.

Yang muda kelihatannya lebih pendek dari si tua, lebih tambun, oleh karena itu bentuk badannya lebih lucu dan menggelikan. Dian Susi kenal si tua tromok itu adalah teman baik ayahnya, yaitu Nyo samya dari Toa-bing-hu.

Lalu siapakah pemuda tambun itu? Apakah dia ini putra mestika Nyo samya yang bernama Nyo Hoan itu?

"Masakah ayah suruh aku kawin sama dia?" Maka dia bertekad tidak mau menemui ayahnya.

Terdengar Ong toanio berkata dengan tertawa: "Malam sudah selarut ini, kenapa Dian jiya harus pergi? Lebih baik menginap di sini saja."

"Tidak bisa, aku punya urusan penting, aku hendak mencari orang."

"Entah siapakah yang dicari Dian jiya? Mungkin aku bisa membantu... banyak orang pergi datang di sini, gampang mencari tahu."

Dian jiya tertawa, katanya: "Kau pasti tak bisa menemukan orang ini, dia pasti takkan datang ke tempatmu ini," tiba-tiba dia menghela nafas, sambungnya: "Sebetulnya aku sendiri tidak tahu ke mana aku harus mencari dia, tapi ke ujung langit pun, aku harus temukan dia." Sudah tentu yang hendak dia cari adalah putri tunggalnya.