Tokoh Besar Bagian 01

Bagian 01

Oleh: Gu long Disadur: Gan K.H. Tangan pemuda itu menggenggam gagang golok, benang sutra yang menghias gagang golok melambai ditiup angin.

Benang sutra merah. Semerah cahaya mentari yang baru keluar dari peraduannya.

Golok tajam mengkilap itu memancarkan cahaya kemilau ditingkah cahaya mentari, pemuda itu bercucuran keringat di bawah terik matahari. Keringat membasahi sekujur pakaian sutra hitam yang membelit tubuhnya.

Empat orang musuh mengepungnya, ia tahu betapa menakutkan keempat musuh yang mengepungnya, sudah beberapa kilas pikirannya untuk menjatuhkan senjata, menyerah tanpa perlawanan, menghentikan pertikaian. Tapi dia tidak berbuat demikian.

Karena dia pantang menghina, merendahkan arti benang sutra merah yang menghiasi gagang goloknya. Tidak boleh merendahkan lambang kebesaran orang yang mengikat benang sutra merah di gagang goloknya itu.

Ikatan benang sutra merah itu melambangkan perjuangan yang tidak kenal kalah, umpama harus mati sekalipun pantang menyerah.

Benang sutra merah mendukung keberanian pemegang golok untuk menghadapi tantangan, menghadapi musuh tanpa mengenal arti kalah. Maka ia mengayun golok disertai lolong panjang yang membakar amarahnya, menerjang ke depan.

Benang sutra merah menari-nari, timbul tenggelam, warnanya yang menyolok lebih cemerlang dibanding cahaya golok yang kemilau. Cepat sekali kupingnya mendengar suara golok menebas badan orang, tulang patah dan darah muncrat.

Orang di depannya itu roboh dengan bola mata melotot bundar, yang dipandang adalah bayangan benang sutra yang lebih menyolok dari warna merah darahnya sendiri.

Sampai ajal orang ini tidak sadar bahwa dirinya mati bukan oleh tabasan golok, bukan mati di tangan pemuda yang menyerangnya dengan ganas. Tapi mampus karena benang sutra merah yang mengagumkan, lambang keberanian yang memudarkan keberanian lawan mengadu jiwa di arena pertempuran.

*****

Gadis itu setengah rebah di kursi malas rotan, kerlingan matanya lebih lembut dibanding cahaya bintang yang bertaburan di angkasa.

Ia menarik tangannya, merasa berat melepasnya pergi.

Sapu tangan yang terikat di pergelangan tangannya melambai dihembus angin malam. Sapu tangan merah, semerah jantung pujaan hatinya.

Malam sudah larut, sudah saatnya ia berangkat. Sejak tadi mestinya ia sudah berangkat. Tapi ia bertahan di tempat. Sebab ia merasa dirinya tak boleh merendahkan arti yang luhur dari sapu tangan merah yang terikat di pergelangan tangan, sepanjang ia mengikat sapu tangan merah di tangannya, ia tanggung tiada seorang gadis pun yang memujanya dibuat kecewa. Sapu tangan sutra merah melambangkan keberanian, kejantanan, juga melambangkan rasa simpatik, gejolak hati yang menyala, ibarat bara yang berkobar.

Pelan-pelan akhirnya ia mendekat dan berbisik di pinggir telinganya. Bisikan yang mengasyikan, lebih menyentuh dibanding usapan angin sepoi di musim semi. Tapi matanya tetap melenggong mengawasi sapu tangan merah di pergelangan tangannya.

Entah kenapa perasaan yang sudah menyala bergejolak mendadak sirna, padam, lenyap seketika,

karena mendadak disadarinya yang ia puja yang menjadi tumpuan hati selama ini bukan si 'dia' tapi adalah lambang yang menjadi bayangan dari sapu tangan sutra merah itu sendiri.

Entah berapa banyak gadis remaja, dalam impian sekalipun selalu muncul bayangan si 'dia'. Siapa lagi kalau bukan Cin Ko.

*****

Setelah mandi menyisir rambut, ia merapikan kuku-kuku jarinya dengan pisau kecil, lalu mengenakan pakaian yang baru, sutra hitam plirit emas, hati-hati dan sangat rapi ia ikat selendang sutra merah di pinggangnya.

Bahwasanya ia tidak suka pakaian sutra warna hitam, tidak senang memakai selendang sutra warna merah, tapi ia dipaksa dan terpaksa mengenakan itu semua, karena menolak atau tidak mau mengenakan kesukaan publik, menandakan dirinya tiada keberanian, tidak simpatik terhadap harapan orang banyak.

Sejak peristiwa tragedi Hou-khiu, pabrik kain atau pertenunan di Kanglam dipaksa untuk mewarnai seluruh hasil produknya dengan warna merah menyala, sebab kalangan muda yang suka mengenakan hasil produk mereka menghendaki, sapu tangan, selendang atau ikat pinggang yang mereka pakai harus warna merah. Pemuda yang tidak mengenakan selendang, sapu tangan atau syal di badannya, dia tidak berani keluar rumah.

Sekarang pakaian serba merah bukan saja mode bagi kaum muda, tapi juga menjalar kepada kaum tua, laki atau perempuan, tanpa warna merah rasanya tidak ngetren, warna merah akan membuat mereka merasa dirinya lebih muda, kelihatan muda, yang pasti tidak ketinggalan jaman.

Bagi pemuda romantis, mereka mengikat benang sutra di pergelangan tangan, selendang sutra di pinggang.

Pemuda gagah dan pemberani menghias gagang golok, pedang atau senjata apapun yang digunakan dengan hiasan serba merah akan menambah wibawa dan membangkitkan keberanian mereka. Pemuda-pemuda kampungan malah mengikat sapu tangan merah di kepala.

Tapi belum pernah ada orang mengenakan syal, atau sapu tangan di lehernya, tidak ada orang yang berani.

Karena Cin Ko mengenakan hiasan syal merahnya di leher.

Siapa berani mengenakan syal atau sapu tangan di leher, umpama Cin Ko tidak perduli, orang lain akan menebas atau memotong syal atau sapu tangan merahmu, yang pasti leher pemakainya juga ikut terpenggal.

Siapapun boleh meniru Cin Ko, mengagungkan dan memujanya, tapi pantang melanggar kebesaran atau wibawanya. Umpama Cin Ko sedang menikmati suasana padang bulan di atas jembatan, orang lain yang ingin ikut menikmati suasana yang romantis itu pun harus menikmatinya di bawah jembatan.

Cin Ko adalah Cin Ko, selamanya hanya satu, besok tidak ada yang lain, kelak tiada, sepanjang jaman hanya ada satu.

Sejak tragedi Hou-khiu, Cin Ko adalah simbol kebesaran seorang pendekar, seorang gagah yang menjadi pujaan kaum muda, terutama kaum putri yang sedang mekar, cewek-cewek yang lagi kasmaran akan cinta.

***** Dan yang pasti Cin Ko adalah tokoh besar pujaan Dian Susi.

Dian Susi duduk menggelendot di atas kursi malas yang beralaskan kulit rase berbulu tebal dan halus. Hembusan angin membawa bau wangi bunga teratai, tangannya memegang sebuah mangkok putih mulus terbuat dari batu giok (jade), dalam mangkok masih tersisa sop biji teratai yang dimasak dengan salju.

Salju yang dikirim dari Kwan-gwa dengan kuda cepat sejauh delapan ratus li. Sebetulnya Kim- siu-san-ceng mempunyai simpanan salju di gudang bawah tanah, tapi Dian Susi lebih suka salju yang dikirim dari Kwan-gwa. Tiada alasan lain, hanya karena dia anggap salju Kwan-gwa lebih dingin dan rasanya sedap.

Jikalau Dian Susi bilang bulan itu persegi, tiada orang yang berani mengatakan bundar. Apapun yang disukai oleh nona Dian, perduli apapun yang ingin dia lakukan takkan ada orang berani menentang.

Bukan lantaran dia putri tunggal Dian Sek, Dian jiya yang dijuluki Tionggoan Bing Siang yang kenamaan, tapi karena dia seorang nona yang manis. Bukan saja perawakannya semampai dengan gerak-gerik gemulai, lemah lembut dan sopan santun, tutur katanya pun manis, terutama kalau tertawa manis sekali, begitu manisnya sampai tiada orang yang tidak suka atau tega menolak permintaannya.

Yang dibuat sayang oleh khalayak ramai adalah, jarang sekali mereka bisa melihat apa lagi berhadapan, berjumpa dengan nona Dian yang manis ini.

Tiap tahun di perayaan Cap-go-meh di waktu Dian jiya melepas kembang api, baru dia muncul sebentar di hadapan orang banyak, kecuali itu, sepanjang tahun ia mengeram diri di kamarnya, tidak pernah keluar pintu, siapapun jangan harap bisa melihat wajahnya yang molek.

Dian jiya dijuluki Tionggoan Bing Siang, sudah pasti bukan tokoh yang kikir, umpama sekali mengulap tangan dia harus merogoh kantong sebanyak seribu tail uang emas, dia tidak pernah mengerutkan kening, tapi sekali-kali tidak akan mengizinkan siapa saja mendekati putrinya.

Putri tunggal yang satu ini dipandang jauh lebih berharga dari segala harta benda yang dimilikinya.

*****

Sop biji teratai itu sudah tidak dingin lagi, Dian Susi menghirup seteguk, lalu dia angsurkan cawan kepada pelayannya Dian Sim. Dian Sim adalah pelayan pribadinya, juga teman pelipur lara yang setia, teman satu-satunya. Tanpa Dian Sim, entah betapa dia akan kesepian.

Saat mana Dian Sim sedang duduk di atas kursi kecil di depannya, kepala menunduk sedang menyulam. Dian Susi tiba-tiba merebut kain sulamannya itu, katanya dengan nada aleman: "Kenapa selalu tunduk kepala menyulam saja? Memangnya siapa yang sedang kau bikinkan sarung bantal untuk pesalin?"

Dian Sim tertawa, katanya sambil mengelus pinggangnya yang pegal: "Kalau tidak menyulam memang harus kerja apa?"

"Temani aku ngobrol."

"Setiap hari ngobrol, obrolan apa pula yang menarik?" "Coba kau bercerita saja."

Setiap hari sepanjang tahun Kim-siu-san-ceng didatangi tamu dari berbagai penjuru dunia yang tak terhitung banyaknya, dari mulut para tamu ini Dian Sim mendengar banyak cerita yang menegangkan, mengerikan dan mengasyikkan, lalu dia ceritakan pula kepada nona majikannya.

"Tamu-tamu yang datang beberapa hari ini semuanya telur busuk, tiada yang pintar bercerita, semuanya repot mengisi perut melulu, seperti orang kelaparan yang takut kehabisan hidangan."

"Kalau begitu, lekas kau ceritakan pertempuran di Hou-khiu itu sekali lagi." "Cerita yang itu aku sudah lupa."

"Sudah lupa? Cerita itu sudah tujuh delapan kali kau ceritakan, kenapa mendadak lupa?"

"Nah, kalau sudah kuceritakan delapan kali, tentunya kau sendiri belum lupa. Kenapa kau ingin mendengarnya lagi? Aku sendiri sudah bosan."

Merah muka Dian Susi, diraihnya sebatang jarum sambil berjingkrak hendak menjahit mulut budak kurang ajar ini.

Dian Sim cekikikan sambil berkelit, akhirnya dia mohon ampun, katanya: "Baiklah Siocia, baik, kau ingin dengar, biarlah kuceritakan. Asal Siocia senang hati, meski harus mengulang cerita seratus kali juga boleh."

Baru sekarang Dian Susi menghentikan tangannya, katanya sambil melotot: "Lekas ceritakan, kalau tidak biar kujahit mulut jahilmu." Dian Sim duduk pula di atas kursi kecil itu, menegakkan pinggang, sengaja batuk-batuk beberapa kali serta tarik suara, lalu mulai bercerita dengan kalem: "Pertempuran Hou-khiu merupakan peristiwa menggemparkan yang mengangkat nama Cin Ko Cin-siauhiap. Selama tujuh puluh tahun mendatang, belum pernah terjadi pertempuran sehebat ini di kalangan Kangouw. Tiada pertempuran lain yang lebih banyak mengalirkan darah daripada pertempuran di Hou-khiu itu."

Cerita ini memang sudah berulang kali dia kisahkan, maka seperti guru sekolah yang tengah menghafal pelajaran di hadapan murid-muridnya, sudah hafal di luar kepala, umpama tertidur dia pun bisa menceritakan dengan lengkap tanpa ada yang ketinggalan.

Tapi Dian Susi seolah-olah baru pertama kali ini mendengar kisah cerita ini, biji matanya memancarkan sinar terang.

Tutur Dian Sim: "Hari itu tanggal lima bulan lima, hari raya Toan-ngo, setiap tahun pada hari- hari ini, Kanglam Chit-hou (tujuh harimau dari Kanglam) berkumpul di Hou-khiu, Tujuh Harimau itu bukan binatang baik-baik, bukan saja mencaplok orang, sampai tulang-tulangnya pun dia telan seluruhnya."

"Kalau begitu, orang lain tentu amat takut kepada mereka?" sela Dian Susi.

"Sudah tentu jeri, malah takutnya bukan main. Meski banyak orang yang ingin jadi pahlawan pembunuh harimau, tahu bahwa hari itu mereka berada di Hou-khiu, tapi tiada seorang pun yang berani meluruk ke sana. Tapi suatu hari pada lima tahun yang lalu..."

"Hari itu kenapa?"

"Hari itu waktu Tujuh Harimau naik ke atas gunung, di tengah jalan bertemu seorang anak perempuan yang cantik jelita, begitu melihat gadis ayu, Tujuh Harimau seperti anjing kelaparan yang melihat sekerat daging, tanpa perduli tujuh kali tiga dua puluh satu, beramai-ramai mereka menggondolnya naik ke atas."

"Apakah mereka tidak tahu siapa gadis itu?"

"Waktu itu mereka tidak tahu bahwa gadis ayu ini adalah pujaan hati Cin Ko, umpama tahu, mereka pun tidak takut, siapapun tiada yang mereka takuti, karena selama ini tiada pernah orang mengganggu dan cari penyakit kepada mereka."

"Tapi kali ini mereka benar-benar kebentur batunya."

"Waktu itu Cin Ko belum ternama, siapapun tak mengira dia punya nyali sebesar itu. Waktu itu dia bilang hendak naik ke gunung menggebuk harimau, banyak orang kira dia cuma membual belaka, siapa tahu dia benar-benar meluruk ke atas gunung." "Dia pergi seorang diri?"

"Ya, seorang diri, dengan membekal senjata seorang diri dia naik ke Hou-khiu, walau dia berhasil melukai dua dari Tujuh Harimau itu, tapi dia sendiri juga tertusuk seratus delapan kali."

"Tertusuk golok sebanyak seratus delapan kali?"

"Ya, tepat seratus delapan kali, karena, menurut aturan para harimau itu, bila mereka menawan seseorang, tidak akan segera dibunuhnya, tapi ditusuk dulu seratus delapan kali, baru membiarkannya mati pelan-pelan."

Dian Susi menghela nafas, ujarnya: "Mungkin jarang ada orang di dunia ini yang kuat bertahan setelah tertusuk seratus delapan kali."

"Bukan saja jarang, boleh dikata malah tiada. Tapi Cin Ko dengan kertak gigi turun gunung, karena dia tidak mau mati, dia ingin menuntut balas."

"Masih berani menuntut balas?"

"Badannya seperti otot kawat tulang besi, nyalinya sekeras baja juga, semua orang kira setelah beruntung bisa lolos dan turun gunung, setiap kali mendengar orang membicarakan harimau akan ketakutan setengah mati," sampai di sini Dian Sim menghela nafas, tuturnya lebih lanjut: "Siapa tahu tahun kedua dia meluruk ke Hou-khiu pula, dia tantang Tujuh Harimau itu pula. Kali ini dia bikin empat di antara Tujuh Harimau itu terluka parah."

"Dia sendiri bagaimana?"

"Kembali dia tertusuk seratus delapan kali, kali ini para harimau itu menusuk lebih keras, tapi dia toh masih kuat bertahan, kabarnya menurut orang yang belakangan melihatnya, tiada sejengkal kulit daging di badannya yang utuh, darah yang mengalir cukup membuat batu-batu gunung menjadi merah seluruhnya."

"Kenapa harimau-harimau itu tidak membunuhnya saja?"

"Karena mereka menepati aturannya sendiri, kalau mereka sudah menusuk seratus delapan kali, maka tidak boleh lebih tidak boleh kurang, setiap tusukan harus sama-sama berat atau ringan, selamanya belum pernah terpikir oleh mereka setelah terluka seratus delapan kali tusukan masih kuat bertahan hidup, masih berani datang menuntut balas lagi."

"Tapi Cin Ko kuat bertahan tusukan dua ratus enam belas bacokan." "Dia kuat bertahan dari bacokan tiga ratus dua puluh empat golok." "Kenapa?" "Karena tahun ketiga dia meluruk datang pula, kembali terbacok seratus delapan kali. Cuma kali ini dia berhasil melukai lima di antara Tujuh Harimau itu."

"Menghadapi orang sekuat ini, memangnya mereka tidak jeri? Kenapa masih dibiarkan hidup?"

"Karena mereka sendiri serba susah, peristiwa ini sudah menggemparkan Kangouw, bukan sedikit orang-orang yang khusus datang ke Hou-khiu menonton keramaian."

"Oleh karena itu mereka tidak akan menusuk seratus tujuh kali untuk membinasakan Cin Ko, soalnya tusukan ke seratus delapan itu tidak boleh lebih keras dari tusukan pertama."

"Benar, orang-orang macam mereka, betapapun tidak sudi jual muka dan dibikin malu di hadapan sekian banyak kaum persilatan, kalau tidak siapa lagi yang takut terhadap mereka?"

"Tapi lima di antara mereka sudah terluka, kenapa orang lain tidak bereskan mereka sekalian untuk menghilangkan bencana?"

"Karena semua orang tahu, betapa derita siksa lahir batin Cin Ko, tiada orang tega membuatnya gagal dan kecewa setelah dia berkorban begitu rupa, semua mengharap dia berhasil membunuh Tujuh Harimau itu dengan tangannya sendiri. Dan lagi semua orang tahu, tusukan tiga ratus dua puluh empat itu merupakan tusukan terakhir." Sampai di sini biji mata Dian Sim sendiri bersinar terang, katanya lebih lanjut: "Oleh karena itu, begitu tusukan terakhir yang menentukan ini, ternyata Cin Ko belum ajal, seluruh penonton bersorak gegap gempita."

"Apakah Tujuh Harimau itu tidak tahu bila itu merupakan tusukan terakhir?"

"Tentu mereka cukup tahu, oleh karena itu tahun ketiga tidak sedikit orang-orang undangannya, itulah sebabnya orang banyak tidak turun tangan."

"Lalu tahun keempat?"

"Tahun keempat lebih banyak mereka mengundang bala bantuan, tapi kawan-kawan mereka sendiri pun dibikin kagum terhadap Cin Ko. Waktu Cin Ko turun tangan, tiada satu pun yang tampil membantu mereka. Setelah Cin Ko berhasil membunuh harimau yang terakhir seluruh pelosok Hou-khiu-san serasa hureg oleh tepuk tangan dan sorak sorai para penonton yang tidak terhitung banyaknya, konon suaranya terdengar sepuluh li jauhnya."

Dian Susi mendelong mengawasi asap dupa yang mengepul dari perabuan, seolah-olah asap dupa itu berubah menjadi seorang pada baju hitam yang mengenakan sapu tangan merah di lehernya sesuai apa yang pernah didengarnya menurut gambaran yang tersiar di luar.

"Sampai pada waktu itu," tutur Dian Sim, "barulah tersimpul senyuman manis di muka Cin Ko, tawa yang bangga, bangga akan kemenangan, namun amat getir dan berat juga, karena pujaan hatinya telah gugur, takkan melihat kemenangan gilang gemilang hari itu," sampai di sini Dian Sim menghela nafas, katanya pula: "Sejak hari itu, 'Manusia besi' Cin Ko tersiar luas di seluruh penjuru dunia."

"Sungguh tokoh besar yang luar biasa," kata Dian Susi gegetun.

"Orang seberani dia, laki-laki sedalam itu cinta kasihnya, sulit dicari keduanya dalam dunia ini."

Dian Susi tiba-tiba berjingkrak bangun, menangkap tangan Dian Sim sambil berkata: "Oleh karena itu aku harus kawin sama dia."

Raut mukanya bersemu merah, kelihatan begitu teguh, haru dan jelita.

Dian Sim seketika cekikikan, katanya: "Lagi-lagi mau kawin sama dia? Memangnya kau hendak kawin dengan berapa laki-laki?"

Lalu dengan bersungut menyambung: "Pertama kau bilang mau kawin dengan Gak Hoan-san, lalu kau mau kawin dengan Liu Hong-kut, sekarang bilang hendak kawin dengan Cin Ko, memangnya siapa yang hendak kau kawini?"

"Siapa lebih baik, kepadanya aku akan kawin."

"Kalau ketiganya sama-sama baik, punya kepintaran, ada kelebihannya masing-masing? Memangnya kau hendak kawin dengan tiga orang laki-laki?"

Tiba-tiba Dian Susi seperti tidak mendengar ocehannya, sekian lama dia melamun, tiba-tiba menarik tangannya pula, katanya berbisik: "Lekas kau ngeloyor keluar diam-diam, belikan aku beberapa perangkat pakaian laki-laki, mau tidak?"

Sekilas Dian Sim melenggong, tanyanya: "Siocia, untuk apa beli pakaian laki-laki?"

Kembali Dian Susi terpekur sekian lama, katanya pelan-pelan: "Kabarnya kalau perempuan mau keluar pintu harus menyaru jadi laki-laki supaya tidak digoda orang."

Terbelalak mata Dian Sim, tanyanya tidak percaya: "Siocia ingin keluar?"

Dian Susi manggut-manggut, katanya: "Aku ingin keluar, menyaksikan orang macam apa sebenarnya ketiga orang ini."

Dian Sim kebingungan, katanya tergagap: "Siocia, kau berkelakar bukan?" "Siapa berkelakar? Lekas belikan pakaian!"

Bukan saja tak bisa tertawa, Dian Sim hampir menangis malah, katanya bersungut: "Siocia yang baik, kau ampunilah aku, kalau Loya tahu, kedua kakiku pasti dihajar sampai buntung." "Kalau kau tidak dengar perintahku, biar sekarang kubuat buntung kedua kakimu." Demikian ancamnya, tiba-tiba dia tertawa serta mencubit pipi Dian Sim, tambahnya: "Apa lagi usiamu tidak kecil lagi, memangnya kau tidak suka keluar mencari suami yang baik?"

Tanpa hiraukan rasa malu Dian Sim berjingkrak senang, serunya sambil menarik lengan Siocianya: "Kau mau ajak aku?"

"Tak usah cerewet, lekas pergi, asal kau tidak banyak bicara Loya masa tahu. Setelah kami pulang membawa menantu yang setimpal, beliau pasti kegirangan."

Dian Susi sibuk merias diri di depan kaca, jubah hijau pupus, syal hijau pupus berkembang, badannya tegak semampai, melihat bayangan dirinya di dalam kaca dia merasa puas. Ingin dia menarik muka berpura-pura marah, tak tertahan malah tertawa terpingkal-pingkal, lalu terbayang olehnya sesuatu, tiba-tiba dia putar badan membuka kedua tangan, katanya menyeringai:

"Hayolah pujaanku, biar kupeluk kau dulu untuk kucium."

Dian Sim menjerit keras, bagai dikejar setan dia berlari sipat kuping.

Tapi dengan mudah Dian Susi menyandaknya, sekali raih dia peluk pinggang orang, katanya: "Kau tidak sudi ya?"

"Umpama mau berciuman juga tidak seperti tampangmu sekarang." "Lalu harus bagaimana?"

"Tampangmu yang garang dan main paksa begini tentu bikin anak perempuan kaget ketakutan," kata Dian Sim melerok, "sikapmu harus mesra, menarik tangan mengelus rambut serta merayunya dengan kata-kata manis, gerakkan dulu sanubari, supaya orang jatuh ke dalam pelukanmu sendiri."

Kembali Dian Susi terpingkal-pingkal memegang perut saking geli, katanya: "Kata-kata yang cabul bagi kaum perempuan, masakah laki-laki berani mengatakan?"

"Nah, kau memang bodoh, justru kata-kata yang cabul anak perempuan malah suka mendengarkan, semakin cabul semakin baik."

"Baik, sekarang ingin kutanya kau." "Tanya apa?"

"Mulutmu yang mungil kecil ini pernah dicium orang belum?" Dian Sim lari ke ranjang dan susupkan kepalanya ke dalam selimut," serunya sambil tutupi kedua telinganya: "Memalukan, ucapan yang memalukan masakah berani kau ucapkan." Muka Dian Susi sendiri juga merah, katanya sayu: "Orang lain yang sebaya aku, entah sudah berapa kali pernah melakukan adegan hot, memangnya kenapa kalau kukatakan?"

"Mendengar ucapanmu, orang lain takkan percaya bahwa kau ini gadis pingitan yang tidak pernah keluar pintu," kata Dian Sim menggeleng-geleng, "tapi memang salah Loya, kenapa sampai sekarang belum mencarikan jodoh? Kalau kau sudah kawin, tentu tidak banyak pikirkan adegan-adegan cabul seperti itu."

Dian Susi kipatkan tangannya, katanya menarik muka: "Setan cilik, tidak keruan ya kau bicara."

Melihat nonanya marah, dengan aleman Dian Sim maju menghampiri serta katanya unjuk tawa lucu: "Barusan aku dengar sebuah kabar, Siocia ingin dengar tidak?"

"Aku tidak mau dengar!"

"Sebetulnya kabar gembira dan berita hangat, tapi kalau Siocia tidak mau dengar, aku pun tak mau sembarang bicara."

"Tidak sembarang bicara apa?" sentak Dian Susi. "Mana keberanianmu?" "Memangnya orang yang jadi budak nyalinya kecil."

Dian Susi tidak tega dan kasihan, katanya memeluknya: "Hayo katakan, kalau tidak biar kucium bibirmu yang kecil ini."

Karena dipeluk Dian Sim sudah terpingkal-pingkal kehabisan nafas dan suara, katanya meratap: "Siocia yang baik, ampun, lepaskan, biar kukatakan, kukatakan..." Setelah nafasnya tenang, baru dia berkata bisik-bisik: "Kabarnya Loya ada maksud menjodohkan kau dengan putra sulung Nyo samya."

Seketika tegang hati Dian Susi, tanyanya: "Nyo samya yang mana?" "Sudah tentu Nyo samya dari Toa-bing-hu itu."

Dian Susi melenggong sekian lama, tiba-tiba berkata: "Lekas bereskan barang-barang, malam nanti kita berangkat."

"Buat apa tergesa-gesa?"

"Kabarnya putra sulung Nyo samya itu mahluk aneh, sejak kecil menetap di kelenteng Hwesio, hwesio-hwesio tua dalam kelenteng bilang dia dilahirkan oleh mahluk aneh dari langit, orang seperti itu masakah bisa kulayani?" "Biarlah aku saja yang membereskan barang-barang ini, pergilah kau menyewa kereta besar, suruh tunggu di belakang pintu kecil di taman belakang itu," demikian Dian Susi menambahkan.

"Buat apa menyewa kereta? Bukankah naik kuda lebih cepat?"

"Paling sedikit aku akan membawa enam tujuh peti besar, kalau tidak pakai kereta mana bisa kubawa?"

"Tujuh peti besar?" seru Dian Sim terkesima. "Siocia, barang-barang apa yang hendak kau bawa?"

"Banyak sekali, umpamanya, kotak perhiasan, kotak bahan-bahan kosmetik, baskom buat cuci muka, kaca, selimut, bantal guling, kau kan tahu selamanya aku tidak pernah pakai barang- barang orang lain, lebih baik kau bawa juga sumpit yang biasa kugunakan, serta mangkok cangkir dan handuknya, eh jangan lupa pedupaan, papan catur, kau bungkus jadi satu."

Dian Sim mendengarkan dengan mendelong, serunya: "Siocia, apa kau hendak membawa pesalin? Suami belum lagi kau dapat, pesalin sudah dibawa, apa tidak terlalu pagi?"

Barang apa saja yang ingin dibawanya, umpama kau menggunakan alasan apapun dia tetap anggap kentut.

Begitulah dengan membawa segala perabot dan keperluan pribadinya, Dian toasiocia beserta pelayannya Dian Sim menempuh perjalanannya. Inilah perjalanan pertama kali keluar pintu menuju ke tempat jauh selama hidupnya. Tujuan mereka adalah Kanglam.

Karena tiga tokoh pujaan hatinya semua berada di Kanglam. Tapi tempat macam apa sebenarnya Kanglam itu? Berapa jauh dari rumahnya? Sepanjang jalan bakal lewat tempat-tempat mana?

Bakal bertemu dengan orang-orang macam apa? Orang baik atau orang jahat? Apa pula yang akan dilakukan terhadap mereka? Mungkin mereka bakal ketemu bahaya? Apakah bisa tiba di Kanglam dengan selamat? Umpama benar mereka bisa tiba di Kanglam, apakah bisa menemukan tiga tokoh besar yang dipujanya itu? Lalu bagaimana sikap mereka terhadap dirinya?

Semua persoalan ini tidak pernah dipikirkan oleh Dian toasiocia. Seolah-olah asal dia naik kereta memejamkan mata, waktu dia membuka mata pula, dirinya sudah tiba di Kanglam dengan selamat. Ketiga tokoh besar yang dipujanya itu berdiri berjajar menyambut kedatangannya.

Dia kira berkecimpung di Kangouw seaman dan sebebas dia jalan-jalan di dalam taman kembang di rumahnya, dia kira orang-orang Kangouw seperti juga orang-orang yang berada di rumahnya, semua mematuhi segala permintaannya. Coba anda bayangkan, perempuan pingkan dengan pikiran jenaka seperti ini, tanpa pengalaman dan pengawal sedikit pun berkelana di Kangouw? Bukankah amat berbahaya? Jikalau benar bisa tiba di Kanglam dengan selamat, sungguh merupakan peristiwa aneh bin ajaib.

*****

Perasaan Dian Susi saat itu laksana burung kenari yang terkurung dalam kurungan selama puluhan tahun, kini lepas bebas, terbang ke mana dia suka, semakin jauh dia meninggalkan kurungan lebih baik.

Cuaca sudah gelap, putri malam mulai menongolkan kepala dari peraduannya, bertengger di tengah cakrawala.

"Coba kau lihat, betapa indahnya rembulan ini?" ujar Dian Susi. "Rembulan di Kanglam bukan mustahil lebih terang dan bundar dibanding disini."

"Apakah rembulan di Kanglam berbeda dengan rembulan di sini?" tanya Dian Sim.

"Ah, kau ini memang tidak tahu seni," omel Dian Susi sambil melerok, tiba-tiba dia berjingkrak bangun sambil mengerutkan kening, keluhnya: "Celaka, celaka dua belas."

Dian Sim menjadi tegang, tanyanya: "Apanya yang celaka?"

Merah muka Dian Susi, katanya berbisik di pinggir telinga: "Tadi aku minum terlalu banyak, sekarang kebelet sekali."

Geli dan tidak enak tertawa Dian Sim dibuatnya, katanya dengan menggigit bibir "Lalu bagaimana baiknya? Masakah di atas kereta..."

"Aku masih lupa juga, seharusnya kita bawa pispot."

Sungguh tidak tertahan lagi, Dian Sim ngakak meliuk pinggang.

"Apanya yang dibuat geli," omel Dian Susi, "memangnya kau tidak pernah kebelet?"

Sudah tentu Dian Sim pernah kebelet, dan rasanya memang sukar dibayangkan. Katanya berbisik: "Malam sudah gelap, di jalan tiada orang, terpaksa suruh kusir menghentikan kereta, boleh kau lepas hajat di dalam hutan..."

"Plak!" dengan ringan Dian Susi menampar mulutnya, sentaknya: "Setan cilik, kalau ada orang datang..."

"Tidak menjadi soal, aku boleh berjaga di luar." "Tidak mau, bagaimana juga tidak mau." "Kalau tidak mau, ya apa boleh buat, terpaksa kau tahan saja."

Karena menahan diri, muka Dian Susi sampai merah padam. Lebih baik kalau kau melupakan kebelet kencing atau mau buang air besar, kalau dipikir malah semakin mendesak.

Tak tertahan lagi, akhirnya Dian Susi berteriak: "Hai kusir kereta, hentikan keretamu!"

Dian Sim tertawa menutup mulut: "Agaknya ada kalanya Dian toasiocia mengubah tekadnya."

Dengan gemas Dian Susi melotot kepadanya, katanya: "Kebetulan aku ada pesan kepada kusir kereta."

"Ada pesan apa?"

Dian Susi geleng-geleng, gumamnya: "Betapapun memang masih kecil, kerjanya ceroboh tidak seteliti orang dewasa." Begitu kereta berhenti segera ia lompat turun, katanya keras: "Kusir, kemarilah, aku ada omongan."

Dengan malas-malasan kusir kereta lompat turun, seperti orang kurang tidur datang menghampiri, sikapnya acuh tak acuh seperti orang linglung.

Dian Susi merasa amat puas, sepak terjangnya kali ini amat dirahasiakan, sudah tentu lebih baik kalau kusir kereta ini seorang linglung atau pikun, karena orang linglung biasanya jarang membocorkan rahasia orang lain. Tapi dia masih belum lega, dia ingin tanya sendiri dan membuktikan. Karena Dian Susi memang gadis cerdik yang pandai menggunakan otak dan bekerja teliti dan cermat. Oleh karena itu dia bertanya: "Kau kenal kami tidak? Tahukah kau siapa kami?"

Kusir kereta mendelong, sahutnya: "Tidak kenal, tidak tahu." "Tahukah kau dari mana kami barusan masuk ke sini?" "Aku toh bukan orang pikun kenapa tidak tahu?"

Dian Susi jadi tegang, tanyanya menegas: "Kau tahu?" "Tentunya keluar dari pintu."

Dian Susi menghela nafas lega, tanyanya pula: "Tahukah kau dari pintu rumah siapa?" "Tidak tahu."

"Tahukah kau ke mana tujuan kami?" "Tidak tahu." Berputar biji mata Dian Susi, tanyanya pula: "Menurut pandanganmu, kami ini perempuan atau laki-laki?"

Kusir tertawa, menunjukan sebaris giginya yang kuning, katanya: "Kalau kalian perempuan, bukankah aku jadi babi betina?"

Dian Susi tertawa, dia amat puas dan senang, katanya: "Kita hendak jalan-jalan ke tempat sekitar ini, kau tunggu kami di sini, jangan pergi."

"Sewa kereta belum kalian bayar, gorok leherku juga aku tidak mau pergi."

"Benar, tinggal pergi tidak akan dibayar, kalau menunggu kau akan mendapat upah." Kusir kereta keluarkan pipa cangklong, terus duduk di tanah mengisap pipanya.

Sekarang Dian Susi lega benar-benar, seketika rasa kebeletnya tidak tertahan lagi. Dengan menarik Dian Sim mereka terus menyusup ke dalam hutan.

Dalam hutan tidak begitu gelap, tapi kenyataan bayangan setan pun tidak kelihatan. Kata Dian Sim lirih: "Di sini sajalah, tiada orang mengawasi kereta, jangan pergi terlalu jauh."

"Tidak, jangan di sini, kusir kereta itu seorang linglung, tidak usah dibuat kuatir." Setelah menemukan tempat yang paling gelap, baru Dian Susi berbisik: "Kau perhatikan, begitu ada orang datang, kau harus berteriak."

Dian Sim tidak bicara, dia cuma cekikikan dengan tertahan.

"Setan kecil, apa yang ditertawakan! Memangnya kau tidak pernah lihat orang kencing?" "Bukan soal kencing yang kutertawakan, memang di sini tiada orang tapi kalau ada ular..."

Seketika Dian Susi melompat berdiri dengan muka pucat, ingin dia cari apa-apa untuk menyumbat mulut pelayannya yang bawel ini. Begitulah dengan bersenda gurau mereka ribut setengah harian di dalam hutan tanpa memperhatikan suara ringkik kuda dan suara menggelindingnya roda kereta.

Setelah mereka keluar dari hutan dan tiba di jalan raya, seketika mereka berdiri melongo dan saling berpandangan. Kiranya kusir kereta bersama kereta tunggangan mereka yang berisi penuh bekal mereka telah lenyap tak berbekas.

Lama mereka menjublek di tempat, akhirnya Dian Sim menghela nafas, ujarnya: "Kita anggap dia sebagai orang linglung, sebaliknya dia justru anggap kita ini orang-orang pikun."

Dian Susi kertak gigi, mukanya pucat dan beringas gusar saking dongkol. "Bagaimana kita selanjutnya?" tanya Dian Sim.

"Apapun yang terjadi, aku tidak akan pulang," ujar Dian Susi tegas, tiba-tiba dia bertanya: "Kau bawa tidak kantong perhiasanku?"

Dian Sim manggut-manggut seraya menarik buntalan dari belakang punggungnya. Katanya menggumam: "Maklum anak kecil, kerjanya tidak seteliti orang besar."

*****

Fajar menyingsing.

Ayam jantan berkokok bersahutan, demikian juga perut mereka berkokok menagih makanan.

Untunglah tidak lama mereka berjalan di tengah pagi berkabut ini, di kejauhan sana terlihat sebuah tembok kota, semakin dekat lambat laun orang-orang desa yang mundar-mandir ke arah kota pun semakin banyak.

Di dalam kota tentu banyak rumah makan, di rumah makan sudah tentu terdapat orang-orang dari berbagai kalangan, sudah tentu tidak sedikit di antara mereka adalah bajingan dan penipu.

Mie daging yang mereka pesan berada di dalam sebuah mangkok raksasa, yang luar biasa adalah

mie buatan kota kecil ini lebarnya seperti pisau, kuahnya berminyak menguning, sekerat daging yang terhidang kira-kira ada setengah kati beratnya.

Makan minum di tempat seperti ini yang diutamakan adalah perut kenyang harga murah, perduli bagaimana rasanya, hakikatnya tiada orang yang memperdulikannya. Apalagi hidangan mie daging seperti itu, biasanya nona besar dari keluarga hartawan jangan menyentuhnya dengan sumpit, melirik pun segan, tapi luar biasa hari ini, mungkin karena kelaparan, mie daging sebanyak itu diganyangnya hampir habis separo, malah daging sebesar itu disikatnya sampai bersih.

Dian Sim tertawa sambil menarik lengannya, katanya: "Mangkok dan sumpit ini sudah biasa dipakai laki-laki busuk, kenapa kau pun berani memakainya?"

Dian Susi tercengang, katanya tertawa: "Aku sudah lupa, kiranya bila seorang perutnya berontak, persoalan apapun boleh dia lupakan."

Waktu dia meletakkan sumpitnya, baru dia sadar, seluruh hadirin dalam rumah makan sedang mengawasi mereka dengan pandangan mendelong, seolah-olah mereka ini dua makhluk aneh.

Diam-diam Dian Susi meraba mukanya, tanyanya berbisik:" Apa mukaku kotor?" "Tidak." "Kenapa orang-orang itu mengawasiku?"

Dian Sim tertawa, sahutnya: "Mereka sedang pikir-pikir untuk mencari menantu bagi putrinya." Sejak datang sebelah tangannya memegangi buntalannya itu, sampai pun waktu makan pegangan

tangannya tidak dilepaskan.

Dian Susi tiba-tiba sadar, katanya: "Lepaskan tanganmu, letakkan buntalanmu di atas meja." "Kenapa?"

"Berada di luar harus selalu ingat harta jangan dipamerkan dihadapan umum, dengan caramu memegangi kantong itu, orang akan tahu bila di dalam buntalan ini ada disimpan barang berharga, bukan mustahil akan menjadi perhatian mereka untuk mencurinya.

Kalau kau pura-pura tidak ambil perhatian, orang lain pun anggap biasa."

Dian Sim tertawa sambil menyeka mulutnya: "Tak kira Siocia seorang kawakan Kangouw." "Siapa itu Siocia?" sentak Dian Susi melotot.

"Ya, ya, Siauya."

Baru saja Dian Sim letakkan buntalannya di atas meja, maka dilihatnya seseorang beranjak menghampiri, sapanya sambil bersoja:

"Selamat pagi saudara-saudara."

Tampang orang ini tidak gagah, malah kepalanya menyerupai musang, bermata sipit seperti mata tikus, selintas pandang dapat diketahui pasti bukan laki-laki baik.

Sebetulnya Dian Susi tidak ingin perdulikan orang, tapi untuk menunjukkan sikap dirinya sebagai seorang berpengalaman di Kangouw, lekas dia berdiri membalas soja, sahutnya: "Selamat pagi."

Tanpa sungkan orang itu langsung duduk semeja, katanya: "Agaknya kalian baru pertama kali datang ke tempat ini?"

Dian Susi menjawab tawar: "Sudah beberapa kali, tempat mana saja dalam kota ini cukup kuketahui seluk beluknya."

"Kalau Heng-tai (saudara) sering keluyuran di luar, tentunya sudah kenal baik dengan Tio-lotoa Tio toako."

Dari nada bicaranya seolah-olah Tio toako adalah pentolan yang berkuasa di kota kecil ini. Jikalau tidak kenal orang seperti itu, pasti bukan kawakan Kangouw. "Kenal baik sih tidak," sahut Dian Susi, "cuma pernah beberapa kali makan bersama."

Orang itu lantas tertawa berseri, katanya: "Kalau begitu kita sama-sama orang sendiri. Cayhe Thi Ke-po, kenalan baik Tio lotoa." Tiba-tiba dia rendahkan suaranya menyambung: "Karena sesama orang sendiri, terpaksa aku bicara secara blak-blakan."

"Silahkan berkata," Dian Sim kalem-kalem saja.

"Tempat ini amat kalut, orang-orang jahat macam apapun ada, kalau buntalan kalian ini ada menyimpan barang berharga, lebih baik dijaga hati-hati."

Baru saja Dian Sim hendak meraih buntalannya, Dian Susi segera melotot kepadanya, katanya tawar: "Dalam buntalan ini cuma ada beberapa perangkat pakaian saja, tidak perlu diperhatikan."

Thi Ke-po tertawa-tawa, pelan-pelan dia berbangkit, katanya:

"Cayhe bermaksud baik, kalian..." sekonyong-konyong dia rain buntalan itu terus lari sipat kuping.

Dian Susi tertawa dingin, dari kepandaian lari orang, umpama dia biarkan orang lari lebih dulu sejauh lima puluh kaki, dia tetap dapat menyandaknya. Kiranya nona besar gadis pingitan ini bukan putri hartawan yang lemah dihembus angin.

Suatu ketika di lapangan latihan silat di Kim-sui san-ceng, dalam tiga lima gebrak beruntun dia pernah jatuhkan beberapa Piauthau yang datang dari kota raja.

Menurut pujian Piauthau yang dikalahkan itu, kepandaian silat Dian siocia, sudah boleh terhitung setaraf dengan jago kelas satu di Bulim, Giok Lan-hoa pendekar perempuan yang kenamaan di Kanglam pun belum tentu mengungkulinya.

Sayang sekali belum sempat gadis pingitan ini mendemontrasikan kepandaiannya, sebelum Thi Ke-po lari keluar pintu, tahu-tahu dicegat laki-laki besar kekar yang gagah dan kereng dengan muka codet bekas bacokan golok. Sekali ulur tangan beruntun dia persen beberapa kali gamparan keras ke muka Thi Ke-po, bentaknya dengan bengis: "Keparat yang tidak tahu malu, hayo lekas kembalikan barang-barang itu kepada pemiliknya."

Bukan saja tidak berani membalas, bercuit pun Thi Ke-po tidak berani, dengan mengelus pipinya yang bengap sambil menunduk dia putar balik mengembalikan buntalan itu.

Laki-laki besar itu pun maju menghampiri, katanya bersoja:" Aku she Tio, dia ini adalah anak buahku, beberapa hari ini sedang kantong kempes, sehingga berani melakukan perbuatan yang memalukan. Kalian hendak menghajar atau memaki dan menghukum dengan cara apapun, silahkan lakukan." Terasa oleh Dian Susi, bukan saja laki-laki ini punya keadilan, sikapnya pun jantan, katanya tertawa lebar: "Terima kasih akan bantuan kawan ini, barangku toh tidak hilang, anggap saja tiada kejadian apa-apa."

Maka melotot laki-laki itu kepada Thi Ke-po, bentaknya: "Kalau demikian, tidak lekas kau ucapkan terima kasih kepada budi luhur kedua Kongcu ini."

Dian Susi tiba-tiba menyela: "Saudara she Tio, apakah Tio toako adanya?" "Ya, memang aku adanya, maaf aku kurang hormat."

"Sudah lama mendengar nama besar Tio toako, silahkan duduk."

Tio lotoa ulapkan tangan, katanya: "Rekening masakan di meja ini hitung atas namaku."

"Ah, mana boleh, biar aku saja yang traktir," lekas Dian Susi berseru, lalu diraihnya buntalan itu serta merogoh uang untuk membayar rekening masakan, tapi yang dia rogoh adalah sekeping batu jade hijau pupus mainan hiasan kepala yang ditaburi berlian —memangnya apa yang tersimpan dalam buntalan ini tiada uang perak.

Mata Tio lotoa mendelong, tiba-tiba dia pun menekan suara, katanya: "Barang seperti ini tak boleh dikeluarkan untuk membayar, kalau saudara perlu memakai uang boleh aku ajak kau ke pegadaian, tanggung nilainya setimpal."

Tengah Dian Susi ragu-ragu, tiba-tiba dilihatnya seorang laki-laki pertengahan umur berjubah panjang menyoreng pedang melangkah masuk, langsung melotot kepada Tio lotoa, katanya kereng: "Topak Lo-liok (tua keenam si muka codet), kau sedang jual lagak memakai namaku main tipu lagi kepada orang?"

Tio lotoa di hadapan mereka tersipu-sipu berdiri, sahutnya sambil munduk-munduk: "Hamba tidak berani, Tio toaya, kau baik-baik saja..." belum habis kata-katanya, bagai dikejar setan dia ngacir pontang-panting.

Dian Susi melongo, belum lagi dia paham duduknya persoalan, laki-laki pertengahan umur yang menyoreng pedang sudah menghampiri dan bersoja, katanya: "Cayhe she Tio, bernama Lo-tat, berkat junjungan orang-orang dalam kota ini, sudi memanggilku Lo-toa, sebetulnya aku tidak setimpal dengan sebutan ini,"

Baru sekarang Dian Susi paham, kiranya laki-laki berpedang inilah Tio lotoa yang tulen, yang tadi hanyalah palsu belaka.

Berkata pula Tio lotoa: "Topak Lo-liok adalah penipu yang kenamaan dalam kota, sering meminjam namaku menipu orang-orang luar daerah, tentunya kalian hampir ditipunya barusan." Merah muka Dian Susi, katanya: "Tapi waktu buntalanku tadi direbut orang, memang dia yang memintanya kembali."

Tio lotoa tertawa, katanya: "Thi Ke-po sekongkol sama dia, sengaja bermain sandiwara supaya kalian percaya kepadanya, supaya leluasa turun tangan," sambil tertawa dia menambahkan: "Sebetulnya siapa-pun akan tahu, sorot mata kalian begini tajam, tentunya membekal kepandaian silat yang tidak lemah, dengan kepandaian Thi Ke-po berdua yang tidak becus itu, memangnya bisa lolos dari tangan kalian?"

Dian Susi menghela nafas, katanya: "Sekali peristiwa menambah satu pengalaman." Mau tidak mau hatinya jadi senang, tanyanya:

"Apa benar kau tahu aku bisa main silat?"

Tio lotoa tertawa, ujarnya: "Bukan saja pandai main silat, malah kosen lagi, cayhe ada maksud berkenalan dengan kawan-kawan setimpal, kalau tidak buat apa aku mencampuri tetek bengek ini."

Senang hati Dian Susi, katanya: "Silahkan duduk."

"Di sini terlalu gaduh," ujar Tio lotoa. "Bagaimana kalau kalian ikut aku pulang, ngobrol di rumahku saja?"

Tempat tinggal Tio lotoa terletak di dalam sebuah pekarangan besar yang banyak dihuni orang banyak dengan petak-petak kamar yang cukup sederhana, dua di antara kamar-kamar itu menjadi tempat tidur dan ruang tamu, perabotnya amat bersahaja, sehingga kelihatannya amat menyolok dengan pakaiannya yang begitu mewah.

Namun bagi Dian Susi bukan saja tidak merasa heran, malah dia anggap suatu keharusan dan jamak. Laki-laki sebatangkara macam Tio lotoa, umpama punya uang banyak, dia akan merogoh kantong dengan royal untuk berkenalan dengan orang-orang Kangouw umumnya, sudah tentu tidak akan menyimpan uang untuk keperluan hidupnya sendiri.

Berkata Tio lotoa: "Kalau kalian tiada keperluan penting, sukalah menetap di sini beberapa hari, biar kuundang teman-teman baikku di kota untuk diperkenalkan kepada kalian."

Dian Susi kegirangan, katanya: "Bagus sekali, Siau-te menempuh perjalanan memang ingin berkenalan dengan orang banyak."

"Cuma, apakah tidak terlalu merepotkan Tio toaya?" sela Dian Sim.

Dian Susi melotot, katanya: "Ah, berhadapan dengan Tio toako, tidak perlu sungkan segala." Tio lotoa bertepuk, serunya tertawa: "Betul, saudara memang laki-laki yang gagah dan berjiwa besar, memang harus demikian baru terhitung saudaraku."

Pujian ini sungguh membuat Dian Susi tertawa lebar, hati girang bukan main.

Kalau Tio lotoa si bajingan tengik sudah banyak pengalaman ini tidak tahu akan rahasia orang yang menyaru jadi laki-laki, siapa lagi yang akan tahu bila mereka berdua sebetulnya adalah cewek-cewek jelita?

Namun hal ini tidak disadarinya sama sekali, diam-diam Dian Susi malah merasa bangga akan penyamarannya yang berhasil mengelabui orang.

Berkata pula Tio lotoa: "Saudara, jikalau memerlukan apa-apa, boleh terus terang kepada Toako. Oh, ya, aku lupa mengambil uang untuk kalian pakai."

"Tidak usahlah," tukas Dian Susi, "aku masih punya perhiasan..." merah mukanya, segera dia menambahkan: "Perhiasan milik adikku, bisa ditukar dengan uang."

Berkata Tio lotoa dengan muka sungguh-sungguh: "Ah kenapa saudara begini sungkan. Biar sekarang aku cari uang sambil membeli arak, nanti kita boleh makan minum sepuasnya." Tanpa menunggu jawaban Dian Susi terus melangkah keluar, tapi tiba-tiba dia putar balik sambil keluarkan sebuah kunci membuka sebuah almari di samping ranjang, katanya: "Barang-barang berharga sebaiknya disimpan dalam almari saja. Betapapun kita harus berhati-hati."

Setelah mengunci buntalan perhiasan di dalam almari, kuncinya dia serahkan kepada Dian Susi, katanya pula: "Bekerja harus hati-hati, nah kuserahkan kunci ini kepadamu."

Dian Susi menjadi rikuh, dari samping Dian Sim ulur tangannya menerima kunci itu. Setelah Tio lotoa keluar dan tak kelihatan lagi, Dian Sim tak tahan lagi, katanya berbisik: "Kukira Tio lotoa yang ini pun bukan orang baik-baik, entah apa sebenarnya yang sedang dia lakukan?"

"Ah, kau memang terlalu banyak curiga, orang begitu baik menerima kita menginap di rumahnya, pergi cari uang lagi, kemana kau akan mencari orang sebaik ini."

"Tapi buntalan kita..."

"Bukankah terkunci di dalam almari? Kuncinya berada di tanganmu, apa pula yang kau kuatirkan?"

Dengan bersungut-sungut Dian Sim tidak bicara lagi.

Dian Susi tidak menghiraukan dirinya lagi, dengan menggendong tangan dia melangkah keluar ke pekarangan, baru sekarang dia melihat jelas keadaan pekarangan besar ini, kiranya dihuni oleh puluhan keluarga yang serba miskin, pakaian yang terjemur berderet di pojokan sana tiada satu pun yang baru dan terbuat dari bahan kain kualitas baik.

Puluhan keluarga itu mempunyai cara hidup yang berlainan dan tingkat hidup yang berlainan

pula, mata pencaharian mereka pun berbeda, ada keluarga akrobatik, ada tukang nyanyi yang cari sedekah dari rumah ke rumah, ada pula yang kerjanya menitik batu, anak-anak kecil yang beringus sedang bermain tanah liat. Seorang nyonya muda yang hamil besar tengah membuat api, kedua matanya sudah merah dan mencucurkan air mata kena asap api, dalam waktu dekat anaknya pasti akan lahir. Dia bekerja begitu rajin dan sang mertua masih ngomel panjang

pendek, katanya dia malas, tapi dia toh merogoh sapu tangan menyeka keringat dan air matanya yang bercucuran.

Terasa penuh diliputi kehangatan hidup dalam sanubari Dian Susi. Baru sekarang dia benar- benar merasakan kehidupan manusia yang nyata. Belum pernah dia berdekatan dengan kehidupan manusia.

"Kalau orang hanya terkurung di dalam pagar tembok, mengawasi mega pergi datang, melihat kembang mekar dan berguguran, umpama dia menikmati kesenangan hidup serba kecukupan, tak ubahnya hidup laksana burung kenari yang terkurung dalam sangkar."

Dian Susi menghela nafas, dia gegetun dan gemas kenapa tidak sejak dulu memberanikan diri keluar dari sangkar? Dia bertekad harus pegang kesempatan kali ini baik-baik, menikmati kehidupan masyarakat ramai yang nyata.