Tiga Mutiara Mustika Jilid 05

Jilid 05

Djong-liong-nia.

Di tengah jalan ia tems berpikir, "Hong-ko kena dibekuk orang, sedang kedua Tosu yang berada di Tjui-hun-kiong itu kesemuanya adalah tokoh terkenal dari Khong-tong-pay, kalau hanya kedua orang ini saja aku masih sanggup melawannya, tetapi kini bertambah dengan dua orang jagoan pedang pula dari kerajaan, kalau tidak lekas aku lari niscaya kini aku pun akan diringkus mereka juga. dan kalau aku jatuh di tangan mereka, lebih celaka lagi bagi Hong-ko, karena tiada orang yang akan menolongnya."

Begitulah sambil berpikir, ia mencari daya upaya cara bagaimana harus mencari seorang pembantu untuk menolong Hong-ko dari tawanan musuh.

Tengah pikirannya melayang, tiba-tiba di atas bukit berkelebat bayangan orang. Fa jadi terkejut ia menyangka tentu itu adalah begundal dari imam di Tjui-hun-kiong yang sedang mengejar padanya, tetapi dalam sekejap itu bayangan tadi sudah lenyap. Lekas ia mempercepat langkahnya melintasi punggung bukit, namun ia merasa pula di belakangnya ada orang menguntit iagi.

Ketika ia menoleh, maka tertampaklah bayangan orang yang tinggi besar sudah berada di belakangnya dalam jarak tidak lebih dari sekali paseran panah, lapat-lapat ia seperti mengenali orang ini, bukan lain ialah orang yang tadi ia dan Hong-ko pergoki itu, maka lekas ia melolos pedangnya untuk menjaga diri bila perlu.

Melihat orang melolos senjata, tiba-tiba orang itu membuka suara, "Bun-tjetju tak usah sangsi, si pembesar anjing Kui Ping-boan tadi akulah yang membunuhnya, sebaliknya kawan- mulah yang menjadi tawanan mereka, karenanya aku sengaja menyusul ke sini buat omong-omong sedikit dengan Bun- tjetju!"

Walaupun orang sudah menjelaskan maksud kedatangannya, namun Bun Sui-le masih belum mau percaya seluruhnya, ia tetap pasang kuda-kuda dan dengan pedang terhunus ia menjaga segala kemungkinan.

"Ho-han (orang gagah) termasuk dari garis yang mana?

Mengapa bisa mengenal namaku?" kemudian ia balas bertanya sambil mengamat-amati orang di depannya ini.

Tertampak olehnya orang ini adalah seorang laki-laki bertubuh kekar tegap dan sudah setengah umur, alisnya tebal, matanya besar, mulutnya lebar dan di bawah j anggurnya tumbuh bre-wok yang pendek kaku, kelihatannya tergolong orang baik.

"Cukup apabila Tjetju percaya bahwa aku bukan begundal dari imam di Tjui hun-kiong, maka namaku pun tidak perlu lagi Tjetju tanyakan," terdengar laki-laki itu menjawab. "Kawanmu dari Go-bi-pay yang terjatuh di tangan mereka itu, apa kau tidak berpikir buat menolongnya?" Nampak orang rupanya tidak bermaksud jahat, baru Bun Sui-le berjalan mendekatinya.

"She apakah Djtnheng yang mulia? Mengapa kau membunuh Kui Ping-boan?" tanyanya kemudian dengan suara rendah. "'Jika Hengtay sudi angkat senjata membantu menolong kawanku she Teng itu, maka tentu aku akan sangat berterima kasih sekali dan tidak akan melupakannya."

Habis berkata ia lebih mendekat lagi untuk memberi hormat kepada orang di hadapannya.

"Tjayhe she Dian," lekas laki-laki itu menjawab sembari balas menghormat. "Pembesar anjing Kui Ping-boan itu adalah begundal dorna Nilan, dulu entah sudah berapa banyak orang- orang Bu-lim yang menjadi korban di tangannya, justru kaum budak yang suka berlagak melebihi tuannya ini, siapa saja boleh membunuhnya. Tjayhe tidak lebih hanya membasmi seorang musuh kawan Bu-lim saja. Soal menolong kawanmu itu, dapatkah Tjetju menceritakan asal-usulnya, apabila dia tergolong laki-laki sejati dari kalangan Kangouw, tak mungkin aku menolak sekalipun harus menghadapi bahaya!"

Atas ucapan orang yang cukup menarik itu, Bun Sui-le pun tidak ragu-ragu lagi. Ia lantas membeberkan asal-usul diri Hong-ko dan menceritakan pula cara bagaimana mereka berjumpa dengan para pentolan dari berbagai golongan di Soatang, akhirnya mereka terpaksa menuju ke Hoa-san buat mengintai gerak-gerik Tjhi Djin-ho.

"Kiranya kawanmu orang she Teng itu adalah anak murid Go-bi-pay, gurunya Bu-tun Todjin dengan aku pun kenal, maka sudah pasti harus menolongnya" dengan mengangguk laki-laki itu berkata. "Cuma tadi kau bilang ada seorang wanita yang disebut Ang-koh, dia ialah seorang 'Sian-koh' dari Pek- lian-kau, pengaruhnya cukup besar. Pembesar-pembesar negeri takut pada mereka yang bisa berilmu hitam, kini paling baik ialah kita merundingkan cara bagaimana menolong Teng- heng saja!" Mendengar kata-kata orang, ditambah tadi ia sendiri telah menyaksikan ilmu Ginkangnya ketika melintasi bukit. Bun Sui- le tahu bahwa orang di hadapannya ini pasti adalah seorang pendekar dari Kangouw maka ia tidak menaruh prasangka buruk lagi dan kemudian berjalan berendeng turun gunung.

Setelah melintasi Djong-liong-nia, tiba-tiba laki-laki ini membelok menuju ke Djian-djiok-tjeng, dari jauh tertampak di antara lembah gunung itu terdapat sebuah kuil kecil, ketika sudah dekat kiranya rumah biara ini adalah sebuah 'am-teng' atau rumah biara kaum Nikoh, dari papan nama yang tergantung di atas pintu tertampak tiga huruf 'Pek-lian-am'

Rumah biara kecil ini ternyata menyelip di suatu tempat yang tersembunyi sekali di pegunungan ini. ketika laki-laki she Dian itu berdehem sekali, kemudian tampak seorang Nikoh setengah umur keluar dari kuil itu.

"Boan-liong Tayhiap, angin apakah yang telah meniup kau kemari dan nona ini apakah datang bersama dengan Tayhiap?" tanya Nikoh itu dengan merangkap kedua tangannya demi melihat siapa tetamunya.

"Lik-dju Taysu." sahut laki-laki itu sembari balas menghormat. "Nona ini adalah Bun-tjetju dari Tay-san-kwan yang tersohor itu, karena kebetulan kunjunganku ke Tjui- hunkiong, maka telah bertemu dengannya di sana dan sengaja aku mengajaknya kemari."

Sementara itu Bun Sui-le pun maju memberi hormat pada si Nikoh.

Baru kini ia mengetahui bahwa lelaki she Dian ini tidak lain ialah Boan-liong Kiam-khek yang namanya menggetarkan daerah utara, dulunya ia adalah 'Tjiang-toh' (pengemudi - ketua) dari Djing-liong-pang, pantas ilmu silatnya begitu mengagumkan, makin menjadi legalah hati Bun Sui-le demi mengetahui siapakah laki-laki ini. "Taysu, kedua imam yang memakai pedang di Tjui- hunkiong itu apa bukan orang dari Khong-tong-pay?" tanya Boan-liong Kiam-khek setelah mereka dipersilakan masuk ke ruangan tamu.

"Apa Tayhiap maksudkan Htau-thian dan Hian-ang berdua?" sahut Liok-dju. "Sudah setengah tahun mereka datang di Hoa-san, cuma di belakang istana Tjui-hun-kiong itu masih terdapat pula Tji-hun Tjindjin sebagai imam tua penguasa istana. Ia adalah tokoh tingkat atas Bu-tong-pay, usianya kini sudah lebih dari delepan puluh tahun, biasanya ia tidak suka dengan urusan di luar, kali ini Tjhi Djin-ho datang ke sini buat menengok Hian-thian Totiang, aku kira Tji-hun Loto tentu tidak merasa senang."

"Hm, kalau Taysu tidak bilang, aku hampir saja lupa bahwa di dalam istana itu masih terdapat Tji-hun Tjindjin yang sedang tirakat," Boan-liong Kiam-khek menjengek dan kemudian melanjutkan pula. "Dia adalah saudara seperguruan Tji-yang Tjindjin, dengan mata kepala sendiri ia bisa antapi Hian-thian dan kawan-kawan bersekongkol dengan kawanan cakar alap-alap dan menganggapnya seperti tidak tahu?"

"Tayhiap mungkin tidak tahu bahwa sejak imam-imam Khong-tong-pay itu sampai di Tjui-hun-kiong, mereka berkomplot dengan imam-imam muda dan menduduki Tjui- hun-kiong, Tji-hun yang memangnya tidak suka mengurus hal tetek-bengek, dengan sendirinya ini tidak mempedulikan mereka juga."

Mendengar keterangan itu, Boan-liong mengangguk- angguk dan tidak bertanya lebih jauh.

Malam itu juga, di Kim-sok-kwan terlihat ada bayangan orang yang melayang cepat menuju ke Tjui-hun-kiong.

Ilmu entengi tubuh orang ini ternyata gesit dan cepat sekali, ia mengenjot naik turun ke depan, kadang-kadang ia berpaling juga ke belakang untuk melihat apakah dirinya dikuntit orang atau tidak.

Bayangan orang ini tidak lain ialah Giok-bin-yao-hou Bun Sui-le, setelah ia mendapatkan akal yang diajarkan Boan-liong Kiam-khek padanya, kembali ia pergi mengintai lagi ke Tjui- hun-kiong malam-malam.

Tatkala itu di istana Tjui-hun-kiong hanya tinggal beberapa orang imam untuk menjaga penjara di bawah tanah, sedang Hian-thian, Hian-ang dan para jagoan dari kerajaan, Njo Djun serta Li Ngo, pada sore hari itu sudah mengantar jenazah Lim- tjing-tjongping Kui Ping-boan turun gunung.

Beberapa imam yang masih tinggal ini, meski imam dari Khong-tong-pay juga, tetapi kepandaian mereka jauh di bawah Hian-thian dan Hian-ang.

Sementara itu Hong-ko oleh mereka dipenjarakan dalam penjara di bawah tanah yang tertutup oleh dua lapis pintu besi, kaki tangannya pun digembok di atas pembaringan batu.

Setelah sampai di Tjui-hun-kiong, Bun Sui-le mengitar menuju ke belakang istana itu

Di sebelah belakang ternyata masih ada dua istana >ang disebut 'Hwe-sian-kiong', di samping terdapat pula sebuah panggung balu setinggi tujuh atau delapan tombak, yakni panggung buat ibadat para imam.

Di bagian belakang sunyi senyap tak nampak satu bayangan pun, di dalam Hwe-sian-kiong sedikitpun tidak nampak ada sinar api.

Ketika dari atas serambi depan Bun Sui-le tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan, ia balik melompat ke serambi

bagian belakang. Di serambi belakang ia melihat sebuah pintu bundar yang menembus ke suatu ruangan rumah lain yang berpagar bambu dan banyak pohon-pohon tua, rada mirip seperti tempat tirakat kaum imam.

Dengan enteng sekali dari atas ia melayang turun terus mendekam ke depan rumah itu, tanpa menerbitkan suara sedikitpun. Ia lihat pada dinding rumah itu terdapat sebuah pintu berbentuk setengah lingkaran, di samping rumah terdapat pula sebuah lubang angin yang dipalang terbuat dari batu bata, dari sini ia memandang ke dalam, namun keadaan di dalamnya gelap gulita.

Ketika secara berindap-indap ia mendekati lubang angin itu dan menegasi lagi ke dalam dengan matanya yang sanggup melihat dalam keadaan gelap, barulah tertampak olehnya bahwa di dalam kamar membujur sebuah pembaringan dan di atasnya duduk seorang imam tua, selain itu terdapat juga sebuah kendi dan gayung yang terletak di sampingnya.

Roman imam tua ini sebagian tertutup oleh kumis dan jenggotnya yang lebat. Hanya sepasang matanya yang bersinar tajam berkelap-kelip di tempat gelap.

Waktu ia memeriksa keadaan dalam kamar itu, ternyata di lantai penuh terserak daun kering, mungkin masuk dari luar karena tertiup angin, sedang di pojok pembaringan penuh dengan jala laba-laba, dimana-mana banyak terdapat kotoran burung dan kelelawar, nampaknya seperti sudah lama tidak ditinggali manusia, agaknya imam tua ini sudah lama sekali tidak meninggalkan dipan semadinya itu.

Diam-diam Bun Sui-le hanya mengintip saja ke dalam dan tidak berani ia sembarangan masuk. Sementara itu imam tua itu masih memejamkan kedua matanya, keadaan dalam rumah sunyi senyap.

"Silakan masuk saja!" tiba-tiba terdengar ada suara perkataan orang di tepi telinganya. "Pin-to sudah lama tidak mencampuri urusan luar, buat apa tongal-tongol di luar saja, kalau kau orang yang dikirim Hian-thian, maka bolehlah kau lekas enyah!"

Suara itu menggema di tepi telinganya begitu terang dan tegas. Bun Sui-le terkejut, ia menoleh namun satu bayangan pun tak nampak.

Waktu ia memandang lagi ke dalam rumah, imam tua itu masih tetap sedikit menunduk dan sedang semadi, mulutnya pun tidak nampak pernah bergerak.

Bun Sui-le mengerti itu adalah 'Toan-im-djip-bit', yakni semacam ilmu Lwekang luar biasa yang bisa mengirim suara dari jarak jauh, maka tahulah dia, imam tua ini tentu luar biasa.

Maka tak berani ia ayal lagi, segera ia menjawab dari luar dengan suara pelahan.

"Aku she Bun mendapat petunjuk Boan-liong Tayhiap, ada sedikit kepentingan hendak menemui Tjindjin!"

"Lekas masuk! Di luar bukan tempat untuk beromong- omong!" terdengar pula di tepi telinganya ada suara jawaban.

Tanpa ragu-ragu lagi lantas Bun Sui-le menuju ke pintu, ia mendorong pintu yang setengah tertutup itu dan masuk ke dalam.

"Siaulutju (wanita kecil) Bun Sui-le memberi hormat!" katanya kemudian setelah menyembah di depan imam itu.

Namun, segera ia merasakan tenaga angin yang cukup besar keluar dari tangan imam tua yang sedikit digeraki, maka tanpa tertahan ia telah diangkat berdiri.

"Tjindjin sudilah mendengarkan," ia menutur lagi sembari berdiri di samping dengan kedua tangan lurus ke bawah. "Siaulutju mendapat petunjuk dari Boan-liong Tayhiap ke sini, untuk memohon Tjindjin suka memberi bantuan agar suka menolong seorang kawan dari Go-bi-pay yang kini tertawan di penjara bawah tanah, budi mana pasti tidak akan aku lupakan."

"Sudah belasan tahun ini Pin-to tidak pernah meninggalkan gunung ini, apa Boan-liong tidak mengetahui bahwa selamanya aku tidak suka ikut campur urusan orang lain?" sahut Tji-hun Tjindjin dengan agak kurang senang. "Apa yang Hian-thian perbuat dalam istana ini, Pin-to pun tidak mendengar dan tidak mengurus, semalam kiranya ada orang yang membikin ribut, dan tentunya adalah perbuatan Boan- liong, harap nona suka kembali dan memberitahukan padanya bahwa urusan ini Pin-to tidak bisa ikut campur tangan."

Mendengar kata orang, Bun Sui-le menjadi gugup hingga dari wajahnya tertampak penuh rasa kecewa, terpaksa ia coba membujuk dengan menceritakan cara bagaimana Hong-ko datang ikut bersama dia dan tertawan oleh Hian-thian semalam, apabila tetap tak bisa menolongnya, maka dirinya lebih suka mati daripada kembali dengan tangan kosong.

Seterusnya ia memohon dengan sangat dan membujuk sebisanya sampai akhirnya ia meneteskan air mata.

Melihat kesungguhan orang, agaknya imam tua itu tergerak hatinya.

"Pemuda she Teng itu pernah apa dengan kau?" tanyanya sambil memandang tajam.

Karena pertanyaan yang mendadak itu, dari sedih Bun Sui- le berubah menjadi jengah hingga wajahnya bersemu merah.

"Dia.....dia kawan seperjalananku!" jawabnya dengan

menggumam kemalu-maluan.

"Tampaknya kamu adalah sahabat baik, sebenarnya Pin-to tidak suka ikut campur, tetapi karena memandang padamu biarlah aku memberi saru jalan padamu," dengan tersenyum Tji-hun berujar. "Tapi sekembalimu boleh kau memberitahu kepada Boan-liong Kiam-khek bahwa sekali-kali jangan ia tumplekkan segala urusan padaku lagi!"

Habis berkata ia menyuruh Bun Sui-le ke dekatnya terus ia membisiki padanya bahwa di bawah panggung batu itu terdapat sebuah wajan besi yang sangat besar, apabila wajan itu diputar, maka dari undak-undakan batu panggung itu lantas terbuka sebuah jalan di bawah tanah, masuk dari jalan itu bisa menolong keluar Teng Hong-ko.

Lekas Giok-bin-yao-hou menghaturkan terima kasih atas petunjuk itu dan terus berbalik keluar dari kamar itu, begitu ia melangkah keluar, dengan segera pintu kamar ternyata sudah tertutup sendiri.

Tanpa ayal lagi segera ia menuju ke bawah panggung batu yang memang sudah ia lihat tadi, di sini sama sepinya tanpa seorang pun, betul juga ia nampak ada sebuah wajan yang besar.

Ketika tutup wajan itu ia rangkul terus diputar, segera juga terdengar suara yang berkeretek. di samping undakan batu di antara semak-semak, ternyata lantas tertampak sebuah lubang gua yang cukup untuk dimasuki oleh satu orang.

Dengan menghadapi bahaya ia melangkah masuk ke dalam, kakinya menyentuh pada undak-undakan batu terus berturut- turut hingga belasan undakan, akhirnya, sampailah jalanan di bawah tanah.

Dengan kepandaiannya memandang di tempat gelap, ia menyusur menuju ke depan menuruti jalan bawah tanah yang berliku-liku itu, tidak lama kemudian sampailah dia pada akhir jalanan itu yang terhalang oleh selapis pintu besi.

Ia mencoba meraba-raba dalam kegelapan, ternyata pada sebelah pintu besi itu terdapat sebuah pegangan, ketika ia menarik, pintu itu terbuka dengan gampang, kiranya di belakang pintu itu rapat menempel dengan kamar yang bukan lain ialah kamar penjara di bawah tanah dari istana itu. Bukan main rasa girangnya, kini ia nampak Hong-ko tidur telentang di atas dipan batu, tangannya tergembok di atas dipan batu itu. Di dinding batu sana tergantung pelita minyak yang kelap-kelip mengeluarkan sinar remang-remang hingga menambah keseraman dalam kamar itu.

Seketika itu juga dirasakan darahnya mendidih, dengan sekali lompat ia sampai di depan Hong-ko, ia lihat pemuda itu dengan kesima sedang memandang padanya laksana sedang bermimpi.

"Hong-ko!" ia memanggil sembari mencabut pedangnya tenis memotong rantai dan gembok yang mengikat anggota badan pemuda itu.

Pedangnya ini adalah pusaka dari Thian-san, maka rantai besi yang cukup besar itu dengan gampang saja terpotong putus.

Karena kedua tangannya sudah bisa bergerak bebas, tanpa tertahan Hong-ko merangkul ke leher Bun Sui-le.

"Oh, Tjitji yang baik, apa aku sedang bermimpi?" katanya dengan terharu.

Hangat sekali rasa batin Bun Sui-le, saking terharunya hingga ia mengalirkan entah air mata kegirangan atau kekua- tiran.

"Mari lekas kita pergi!" katanya tiba-tiba tersadar.

Namun ia lupa kaki Hong-ko masih tergembok. Justru pada saat itu juga pintu goa batu itu tiba-tiba disurung terbuka dari luar, menyusul mana bayangan orang yang tinggi besar melompat masuk.

Sekilas dari sinar pelita yang remang-remang, Bun Sui-le dapat mengenali bahwa orang yang datang ini ialah 'Sip-tiat- hong' Ie Djan, di tubuhnya masih tetap mengenakan baju kain kasar dan dengan cepat ia mengangkat goloknya terus menga-dang di depan pintu.

"Perempuan keparat, hari ini kebentur pada tuanmu, kau sendirilah yang ingin menghadap Giam-lo-ong!" serunya berbareng goloknya terus membacok.

Lekas Bun Sui-le melompat mundur sambil menarik diri Hong-ko, akan tetapi segera terdengar Hong-ko menjerit, kiranya kedua kakinya yang masih terantai di dipan batu kena tertarik, maka ia jadi menjerit kesakitan.

Dengan cepat Bun Sui-le melepaskan tangannya, sudah itu ia memutar buat melindungi, sekalian lantas melolos pedangnya, senjatanya menempel golok lawan terus ia goncangkan pergi.

Karena tujuannya hendak melindungi diri Hong-ko, maka begitu tangkisannya berhasil, segera juga ia melompat berdiri di atas dipan batu dan beruntun memberi dua kali serangan kepada musuh.

Sementara itu Ie Djan pun menyambut serangan lawannya itu, berbareng sebelah tangannya pun memukul.

Tapi di tengah jalan Bun Sui-le merubah serangannya dengan membalikkan tubuh, ia menggunakan gerakan 'Gik- hong— tio-bang" atau memasang layar menolak angin, pedangnya ia tarik terus disurungkan ke depan lagi, ia menikam ke arah dada le Djan.

Justru saat itu juga Ie Djan lagi menggunakan tipu Kim-na- djiu yang lihai hendak mencekal, lekas Bun Sui-le mengangkat pundak, terus saling susul dengan kedua kakinya ia menendang memakai gerakan 'Lian-hian-wan-yang-rui'.

Dengan sehatnya Giok bin yao hou membalikkan tubuh menangkis serangan golok lawan.

Karena itu mendadak le Djan merasa ada angin tajam menyambar ke mukanya, dengan cepat segera ia menarik tangannya yang dipukulkan tadi terus melompat ke belakang, sehingga kedua kaitan tajam yang terpasang di ujung sepatu Bun Sui-le menyambar lewat di depan mukanya, hampir saja ia terkena, karena itu ia menjadi terkejut atas kelihaian orang.

Dalam pada itu Bun Sui-le menyerang pula dengan pedangnya, sinar tajam berkelebat, hingga le Djan terdesak mundur sampai di dekat pintu penjara itu, sementara itu kedua kaki wanita yang lihai ini masih beterbangan menendang juga dan merangsek dengan hebatnya.

Karena ruangan penjara yang sempit, le Djan tidak sempat mengeluarkan kepandaiannya 'Tjiam-ie-sip-pat-tiat', akhirnya terpaksa ia harus mundur sampai di luar pintu, di sini ia mencoba bertahan dengan goloknya atas serangan-serangan lawan yang cukup ganas. 

Tidak ia duga, secara mati-matian Giok-bin-yao-hou merangsek, tujuannya tidak lain ialah hendak mendesak supaya ia mundur keluar pintu, dengan begitu menyusul pula kedua kakinya ia tendangkan secara susul-menyusul, dan pada kesempatan yang hanya sekejap saja itu, selagi lawannya berkelit, tanpa ayal segera ia gabrukkan pintu penjara dan ditutup rapat terus ia pantek sekalian dengan palang pintu, dengan demikian terhalanglah le Djan di luar.

Kemudian dengan cepat sekali Bun Sui-le membaliki tubuhnya mendekati Hong-ko lagi, ia menggerakkan pedangnya dengan cepat untuk memutuskan borgol yang masih terpasang di kaki pemuda itu, kemudian ia kempit Hong-ko terus dibawa lari kembali melalui jalan lorong di bawah tanah tadi.

Sementara itu terdengar di luar penjara itu suara keras benda yang ditumbuk dan didobrak, ia mengerti tentu le Djan yang lagi berusaha mendobrak pintu besi. Tak berani ia tinggal lebih lama lagi, laksana terbang segera ia kabur secepatnya. "Ie Djan tentu tidak sendirian, kalau kabur melalui luar istana pasti akan dicegat oleh mereka," begitu ia berpikir di tengah jalan.

Ketika ia sedang berpikir, sementara itu ia sudah sampai di akhir lorong bawah tanah itu, ia meletakkan Hong-ko, lalu memutar pula wajan besar tadi dari dalam, segera juga mulut jalan lorong terbuka lagi dengan mengeluarkan suara berkeretek dan kemudian menutup pula dengan sendirinya.

Meski terasa rada letih, namun Hong-ko masih sanggup berjalan. Bun Sui-le menarik tangannya terus menuju ke gunung di belakang Tjui-hun-kiong.

Tetapi baru saja mereka hendak melangkah lebih jauh, tiba-tiba tertampak dari atas gunung sana ada dua bayangan

orang sedang berlari mendatangi secepat terbang dan gerakan tubuhnya gesit sekali.

Bun Sui-le mengerti pasti kaum cakar alap-alap lagi yang menguntit mereka, terpaksa ia mengajak Hong-ko untuk mengumpet lagi menuju ke istana bagian belakang.

Setelah mereka melewati pintu bundar, terlihat kamar Tji- hun Tjindjin yang sunyi sepi itu pintunya terpentang lebar, Bun Sui-le menjadi girang sekali, tanpa berpikir lagi segera ia menarik Hong-ko terus masuk ke dalam kamar itu.

Ketika kemudian ia memandang ke dipan tempat bersemadi imam tua itu, kiranya tempat itu sudah kosong tanpa ada ba- angan orang, diam-diam ia menjadi rada kuatir.

Sementara itu ia mendengar ada suara orang melompat turun ke bawah, keadaan sudah kepepet, tanpa pikir lagi segera ia menarik Hong-ko terus menyelusup masuk ke kolong dipan dan dengan menahan napas mereka menantikan apa yang bakal terjadi. Bun Sui-le mencoba menempelkan kupingnya ke lantai, ia mendengar di luar kamar itu sepertinya ada suara tindakan dua orang yang berjalan kian kemari.

"Tji-hun Totiang apakah berada di dalam?" begitulah kemudian terdengar ada suara orang bertanya.

Suara pertanyaan itu diulangi lagi, namun tetap tiada jawaban.

Diam-diam Bun Sui-le menjadi heran, bukankah terang sekali bahwa tadi ketika mereka masuk ke kamar, pintu kamar masih terpentang lebar dan mengapa kini bisa tertutup rapat hingga orang perlu bertanya?

Karena pertanyaannya berulang kali tanpa jawaban, menyusul lantas terdengar ada suara pintu yang didorong.

Akan tetapi belum sampai pintu terbuka, mendadak di luar ada suara sahutan yang agak tertekan, "Pin-to ada di sini, Dji- wi datang kemari hendak mencari siapa?"

Suara itu bukan lain ialah suara Tji-hun Tjindjin.

Karena sahutan itu, rupanya kedua orang yang datang ini menjadi kaget.

"Haya, kiranya Totiang tidak ada di dalam!" terdengar mereka bersuara dengan rada terperanjat. "Kami adalah orang dari markas Tjongtin hendak menggiring seorang tawanan turun gunung, di luar sana masih ada pula pasukan tentara yang datang bersama kami, tadi justru ada dua bayangan orang berkelebat dan begitu melihat kedatangan kami lantas menyembunyikan diri, maka kami bermaksud mencarinya."

"Hm, kamu sungguh tidak punya aturan sama sekali," terdengar Tji-hun Tjindjin mengomel, rupanya ia agak kurang senang. "Aku yang berada di atas panggung batu tidak nampak ada bayangan seorang pun, tetapi kamu ternyata berani usil ke istana bagian belakang ini, bukankah kamu tahu bahwa aku biasanya tidak suka ikut campur urusan luar tetapi ternyata kamu masih berani mengacau ke sini!"

Karena dampratan itu, kedua orang tadi menjadi bungkam dan tak berani menyahut.

"Baiklah kita pergi saja, boleh kita menemui dulu Sip-tiat- hong buat bertanya padanya," terdengar seorang di antara mereka berkata.

Habis mana lantas terdengar suara tindakan yang ramai dan cepat menuju ke bagian depan.

Mendengar orang-orang di luar itu sudah berlalu, Giok-bin- yao-hou dan Hong-ko yang bersembunyi di kolong dipan barulah merasa lega.

Dalam pada itu tiba-tiba di dalam kamar terlihat ada bayangan orang berkelebat lagi, ketika mereka memandang dengan rasa terkejut, kiranya tidak lain ialah Tji-hun Tjindjin yang telah berdiri di depan tempat persembunyian mereka.

"Marilah, silakan kalian keluar!" begitulah terdengar semacam suara yang lemah-lembut berkata.

Tanpa sangsi lagi, segera juga Bun Sui-le bersama Hong-ko merangkak keluar dari kolong dipan terus menjura memberi hormat kepada Tji-hun sebagai tanda terima kasih.

"Tadi karena terpaksa, kami telah masuk ke kamar Totiang tanpa permisi, harap suka dimaafkan!" kata Giok-bin-yao-hou pula.

"Keonaran yang Boan-liong terbitkan sudah terlalu besar, lekas kamu kembali memberitahukan padanya supaya cepat meninggalkan Hoa-san dan jangan tinggal lebih lama lagi hingga urusan menjadi semakin runyam," ujar Tji-hun Tjindjin.

Kedua orang itu berulang-ulang menyatakan baik, kemudian mereka lantas hendak berlalu, namun Tji-hun keburu mencegah. "Di luar sudah dijaga oleh pasukan tentara," kata imam tua itu. "Kalian boleh melalui jalanan kecil di belakang gunung saja, setelah keluar dari 'Lo-kun-le-kau', Pek-lian-am tentu sudah dalam jangkauan pandangan kalian!"

Kembali Bun Sui-le menghaturkan terima kasihnya atas petunjuk itu, kemudian mereka berpamitan pada imam tua itu terus menuju ke bagian belakang istana.

Setelah melintasi pagar tembok belakang Tjui-hun-kiong, mereka nampak sebuah gerujukan air kecil mengalir ke suatu sungai kecil, di tepi sungai itu batu gunung berserakan hingga merupakan suatu tempat persembunyian yang baik sekali.

Dengan menyusur tepi sungai itu, mereka meninggalkan Tjui-hun-kiong yang berbahaya, dari jauh mereka masih nampak bagian luar istana itu terdapat banyak bayangan orang dan berkumandang pula suara kuda yang mendengking ramai, mereka mengerti tentu 'Sip-tiat-hong' Ie Djan yang kembali dengan membawa pasukan tentara, cuma kedua orang tadi yang mengaku dari markas Tjongtin entah manusia macam apa?

Begitulah, tidak lama kemudian mereka sudah sampai di 'Lo-kun-le-kau', dekat dengan Djong-liong-nia.

Tengah mereka berdua berjalan, tiba-tiba Bun Sui-le mendengar di balik gunung sana mendesir datang suara keresekan seperti rumput yang tersambar sesuatu benda, lekas ia menarik Hong-ko terus mendekam mengumpet di semak-semak yang lebat.

Sekejap kemudian, mendadak sesosok bayangan orang melayang lewat dengan kain bajunya melambai tertiup angin.

Hong-ko yang bermata cukup jeli, dalam sekelebatan itu ia dapat menampak orang itu adalah seorang wanita, sekilas ia mengenali orang itu bukan lain ialah Ang-koh yang pernah ia jumpai di Soatang. Diam-diam ia menjawil Bun Sui-le yang tentunya juga sudah kenal siapa adanya orang itu. Dalam pada itu, dengan cepat sekali bayangan tadi melayang menuju ke Tjui-hun- kiong dan tak lama kemudian menghilang dalam kegelapan.

"Mengapa ia datang ke sini juga?" ujar Bun Sui-le dengan heran.

"Mungkin kau lupa bahwa dia juga termasuk anak murid dari Khong-tong-pay!" sahut Hong-ko dengan pelahan.

Dengan jawaban Hong-ko itu, barulah Bun Sui-le sadar, lalu ia mengangguk-angguk.

"Baiklah kita lekas kembali ke Pek-lian-am dulu buat menemui Boan-liong Tayhiap!" katanya kemudian.

Kali ini yang menunjukkan jalan agar Bun Sui-le pergi memohon pertolongan kepada Tji-hun Tjindjin buat melepaskan diri Hong-ko dari tawanan, memang bukan lain ialah Boan-liong, melihat mereka betul-betul telah kembali dengan selamat, dengan sendirinya ia ikut bergirang.

Kemudian Hong-ko menyatakan terima kasihnya atas bantuan orang, ia menyebut Boan-liong sebagai Lotjianpwe atau kaum angkatan tua.

Bun Sui-le pun lantas menceritakan pengalamannya tadi ketika berada di Tjui-hun-kiong.

"Kedatanganku kali ini memang untuk memenuhi janji dengan Hian-hong Totiang, sebenarnya tiada niatanku untuk campur tangan soal Tjhi Djin-ho itu, siapa sangka justru Kui Ping-boan, si pembesar anjing celaka ini telah terbentur dalam tanganku," tutur Boan-liong. "Tetapi kalau Tji-hun Tjindjin kini meminta aku harus meninggalkan tempat ini, maka boleh tak usah aku menunggu lagi!"

"Dian-tayhiap apa kau tak perlu menunggu Hian-hong lagi?" tanya ketua pengurus rumah biara itu. "Sudah lewat temponya belum juga datang, biarlah aku pergi saja!" ujar Boan-liong.

"Tetapi kini Ang-koh pun sudah sampai di Tjui-hun-kiong, apakah Tayhiap tidak sabar menunggu lagi, mungkin tak lama Hian-hong pun pasti akan datang juga!" kata Bun Sui-le.

"Begitupun baik," sahut Boan-liong mengangguk. "Memang sudah lama aku mendengar bahwa di dalam Pek-lian-kau ada seorang pemimpin wanita yang dipanggil sebagai Ang-koh dan pernah diaku sebagai anak murid Khong-tong-san, aku ingin melihatnya juga macam apakah orang itu?"

Begitulah maka untuk sementara mereka tetap tinggal di Pek-lian-am, tiap hari Boan-liong Tayhiap tentu keluar buat mencari kabar kedatangan Hian-hong, ia berpesan agar Bun Sui-le berdua jangan mengunjuk muka dulu.

Dalam pergaulan paling belakang ini, persahabatan di antara Hong-ko dan Bun Sui-le ternyata makin rapat, ditambah pula Bun Sui-le melepaskan dirinya dari bahaya maut tanpa memikirkan resiko sendiri, hal ini sudah tentu banyak menambali kekalnya hubungan mereka

Meski Hong-ko masih belum lupa akan kawan kecilnya, Pek Eng-dji, kawan di masa anak-anak mereka dan bahkan telah dipertunangkan oleh kedua orang tua mereka, namun setelah berpisah belasan tahun, lagi pula waktu perkenalan mereka masih masa anak-anak, hakekatnya belumlah berarti bahwa ada tertanam sesuatu bibit asmara di antara mereka

Lain halnya hubungannya dengan Bun Sui-le yang siang dan malam selalu berdekatan dan dalam usia mereka yang sudah menginjak remaja sudah tentu berbeda sekali keadaannya, maka diam-diam mengutarakan perasaan mereka dan terjalinlah kedua hati mereka.

Selang dua hari kemudian, setelah kembali Boan-liong mengatakan pada mereka berdua, "Aku mendapat kabar bahwa Hian-hong Totiang sudah sampai di Tjui-hun-kiong, wanita yang dipanggil Ang-koh itu ternyata betul adalah putri Pek Ting-djoan, Kun-su dari Pek-lian-kau, kedatangannya ke Hoa-san kali ini, katanya hendak mencari sesuatu benda yang telah hilang dari agama mereka. Yang aneh ialah para imam dari Khong-tong-san, Hian-thian, Hiang-ang dan Hian-hong serta kawan-kawan ternyata sudah lama bersekongkol dengan Pek-lian-kau, terhadap Ang-koh mereka ternyata cukup segan dan hormat."

Besok paginya Hong-ko menghilang, semua orang menyangka tentu ia sedang jalan-jalan keluar, tak tahunya sampai lohor ternyata pemuda ini masih belum pulang juga, keruan saja Bun Sui-le menjadi kuatir.

Kiranya secara diam-diam Hong-ko pergi mengintai pula ke Tjui-hun-kiong, ia ingin mengetahui lebih jelas apakah yang dianggil Ang-koh apa betul-betul adalah Pek Eng-dji yang menjadi kawannya semasa anak-anak. Apabila betul, maka ia ingin menghilangkan kesalah-pahaman ketika ia melukai tangannya dengan pelor besi dahulu dan sekalian menasehati agar supaya Eng-dji suka melepaskan dirinya dari Pek-lian-kau dan jangan tersesat lebih jauh.

Setelah ia meninggalkan Lo-kun-le-kau, ia terus melanjutkan perjalanannya menuju ke Kim-so-kwan.

Tatkala itu adalah pagi hari, sepanjang jalan ia nampak banyak orang yang naik gunung hendak bersembahyang ke rumah-rumah biara itu. Hong-ko mencampurkan diri di antara orang-orang yang hendak bersujud ke Tjui-hun-kiong.

Selang tak lama, bersama dengan serombongan orang lainnya ia sudah sampai di Tjui-hun-kiong, dalam istana itu, kecuali beberapa imam dari Khong-tong-pay, selebihnya tiada yang kenal Hong-ko, mereka menyangka seperti tetamu biasa saja yang hendak bersujud, maka ia disongsong ke sebuah kamar tamu. Di sini ia disuguh air teh dan penganan sekedarnya. Ketika ia disodori buku derma, tanpa ragu-ragu segera Hong-ko menulis di atasnya, Liautang Hap-kongtju menyokong lima puluh tahil perak.

Imam yang melayaninya nampak ia begitu tangan terbuka, namanya pun serupa bangsa Boan, ia disangka salah satu Kong-tju dari tingkat atas, maka sudah tentu ia dilayani makin baik. dari sini kemudian ia dipersilakan ke sebuah kamar tetamu yang bersih, di sini ada satu baris kamar-kamar bagus yang khusus dipergunakan untuk melayani keluarga bangsawan dan hartawan.

Setelah selesai mengatur tetamunya, imani pelayan itu lantas mengundurkan diri.

Hong-ko melihat kamar tetangganya ada lelaki maupun perempuan, kesemuanya adalah keluarga dari kaum hartawan.

la lantas menutup pintu kamarnya dan mengeluyur keluar dari ruangan itu. kebetulan ia menemukan seorang imam cilik, tetapi ia disangka sebagai tetamu pelancongan biasa saja, maka dirinya tidak diperhatikan.

Setelah ia menembusi beberapa ruangan, ia sampai di bagian belakang dari rumah biara itu, ia mengenali sebuah loteng tinggi yang dipagari pagar tembok merah bukan lain adalah tempat pada malam itu ia bertempur dengan imam Khong-tong-pay.

Selagi ia berniat masuk melalui pintu bulan (pintu yang berbentuk bundar), tiba-tiba ia mendengar ada suara tindakan orang yang mendatangi ke jurusannya, maka lekas ia berlindung ke belakang gunung-gunungan.

Yang mendatangi ternyata adalah dua imam muda, sambil berjalan mereka sembari saling mengomel. "Bukankah tadi kau sudah disuruh melayaninya dengan hati-hati, ia mempunyai kedudukan sebagai Sian-koh, kalau kurang sempurna pelayananmu, Susiok tentu akan menghajar kita habis-habisan!" terdengar seorang di antaranya berkata.

"Ya sudahlah Suheng! Setelah sekarang aku mengetahui dia adalah Sian-koh yang tidak sembarangan, tentu aku tidak berani ayal lagi!" sahut yang lain.

Sambil berkata, tak lama mereka pun sudah pergi jauh.

Mendengar percakapan mereka, Hong-ko berpikir, "Kalau begitu Ang-koh tentu tinggal di atas loteng itu, tetapi dalam keadaan siang hari bolong, cara bagaimana aku bisa ke sana?"

Karena pikirannya hanya satu, yaitu bertujuan untuk melihat Ang-koh dari dekat, maka pada saat demikian ini Hong-ko lupa bahaya apa yang bakal ia hadapi, seketika itu ia sudah mengambil suatu keputusan.

Dalam pada itu ia mendengar ada suara orang yang mendatangi lagi, ia lihat tidak lain ialah imam muda tadi, tangannya menjinjing sebuah kotak berisi makanan.

Hong-ko menunggu setelah imam cilik ini sudah lewat, secara berindap-indap ia menguntit dari belakang, mendadak ia kelebatkan pisau belati ke muka imam itu terus secara cepat ditekankan ke tenggorokannya.

"Jangan berteriak!" gertaknya dengan suara tertahan. "Begitu bersuara, segera aku habisi nyawamu!"

Imam yang sekonyong-konyong nampak pisau belati yang mengkilap berkelebat di mukanya itu dan dibarengi dengan suara ancaman, ia menjadi kaget dan ketakutan hingga seketika itu ia tertegun tanpa berani berkutik.

Hong-ko menyeretnya ke belakang gunung-gunungan tadi terus dibekuk ke tanah, saking takutnya hingga imam itu tak bertenaga lagi, kedua kakinya lemas dan dengan sendirinya ia mendeprok ke bawah. Lebih dulu Hong-ko menyumbat mulut imam kecil itu dengan kain bajunya, sesudah itu ia meringkus pula kaki tangannya dan ditutup lagi matanya, kemudian baru ia menggusur imam itu ke suatu pojok terus mencopoti pakaian imam untuk dipakainya sendiri, setelah selesai, sambil menjinjing bakul yang berisi penganan tadi ia lantas menuju ke halaman loteng.

Dengan menyamar sebagai imam, ternyata ia bisa masuk dengan leluasa. Setelah sampai di atas loteng, ia lihat kain layar kuning melambai turun dan di lantai tergelar permadani merah tebal

Setelah itu ia mencoba berdehem, segera juga terdengar ada suara kaum wanita yang berseru, "Siapa?"

"Aku yang rendah mengantar makanan untuk Sian-koh," sahut Hong-ko dengan tekanan suara yang dibikin-bikin.

"Masuk!" terdengar pula suara dari dalam.

Maka dengan kepala menunduk masuklah Hong-ko ke dalam, ia sengaja menjinjing tinggi-tinggi bakul penganan yang ia bawa tadi, dengan begitu ia menutupi setengah mukanya agar tidak dikenali orang.

Ketika ia melirik, terlihat olehnya di sana duduk seorang wanita yang bukan lain ialah Ang-koh, tertampak rambutnya yang indah dengan bunga cempakanya masih tetap seperti apa yang pernah ia lihat dahulu, hanya pakaiannya yang berlainan, mukanya pun mirip dengan Pek Eng-dji yang kurus kering dan kulit kekuning-kuningan di masa dahulu, terang berbeda jauh sekali dengan keadaannya sekarang.

Sementara itu Ang-koh hanya melengos, sudah itu ia membalikkan kepalanya lagi, nyata ia sedang mencurahkan perhatiannya terhadap beberapa gelintir pelor besi yang ada di dalam tangannya. Dengan setengah membelakangi, Hong-ko menaruh bakul makanannya berbareng ia coba melirik mengintai, akan tetapi segera hatinya menjadi tergoncang dan berdebar-debar, ia tidak menduga bahwa apa yang ada dalam genggaman tangan Ang-koh ternyata adalah senjata rahasia miliknya, di antaranya dua gelintir yang kehitam-hitaman ialah senjata yang ia timpukkan padanya ketika berada di Soatang dahulu, sedang dua buah pelor baja lainnya adalah senjata yang ia arahkan pada Tjhi Djin-ho malam-malam, kini kesemuanya ternyata berada di tangan Ang-koh dan sedang diamat-amati apakah pemakai senjata rahasia itu sama orangnya, suatu tanda pula bahwa wanita ini masih belum lupa karena tangannya terluka di Soatang dahulu.

"Silakan Sian-koh bersantap pagi!" Hong-ko menyilakan sambil sedikit membungkuk setelah ia mengatur makanan yang ia bawa itu.

Terdengar Ang-koh menjawab dari tempat duduknya, namun ia tetap tidak berpaling.

Karena itu, dengan memberanikan diri Hong-ko lantas memandangnya secara terang-terangan dari depan, ia merasa air mukanya, dari hidung, mata, alis hingga mulut dan lainnya lagi iemua mirip sekali dengan Pek Eng-dji, ia teringat bahwa pada daun kuping sebelah kanan ada suatu tanda, ternyata tanda itu hingga kini masih tertampak juga.

"Banyak membikin lelah To-heng saja!" tiba-tiba Ang-koh berpaling dan berkata.

Sekilas itu, agaknya Ang-koh tertegun, sinar matanya yang tajam bertemu dengan pandangan Hong-ko.

Karena itu Hong-ko menjadi terkejut sekali, lekas ia menunduk sambil membungkuk lagi.

"Apa Sian-koh masih ada pesan lain?" tanyanya pura-pura. la tak berani mengangkat kepalanya lagi. "Di sini sudah selesai, terima kasih!" sahut Ang-koh.

Lekas Hong-ko membaliki tubuhnya terus hendak angkat kaki, tetapi baru saja beberapa langkah ia berjalan, tiba-tiba ia mendengar dari belakang Ang-koh memanggil lagi.

"Nanti dulu To-heng, gelarmu masih belum aku ketahui!" ujarnya.

Terpaksa Hong-ko harus membalik lagi, ia berpura-pura sedikit membungkukkan dan menjawab pertanyaan orang.

"Aku bergelar Hoat-tjin, Tosu pelayan tamu di sini, apa Sian-koh masih ada sesuatu keperluan?"

Setelah memandang padanya agaknya Ang-koh pun menunjukkan wajah yang heran, karena Hong-ko berhenti dan ber-balik menjawab, ia menjadi ragu-ragu.

"Hoat-tjin To-heng, baiklah, silakan kau pergi!" sahutnya pada akhirnya.

Seperti terlepas dari beban yang berat, lekas Hong-ko angkat kaki, ia turun dari tangga, tetapi dalam hatinya merasa sayang juga, sebenarnya ingin hatinya bisa lebih banyak memandang pada Ang-koh.

Di bawah loteng itu ada sebuah ruangan lain, ketika ia lewat di pintu samping, tiba-tiba dari depan menubruk datang seorang imam, karena itu mereka saling tumbuk.

Bagi orang yang memiliki ilmu silat yang tinggi, tidak peduli kapan dan dimana, begitu ada sesuatu yang menyentuh tubuhnya, dengan sendirinya pasti akan mengeluarlah semacam tenaga penolak.

Kini tanpa disengaja Hong-ko bertubrukan dengan imam tua yang datang secara mendadak itu, seketika ia mengeluarkan tenaga dalamnya buat menahan tubuhnya, namun karena ilmu silat imam itu jauh lebih tinggi dari Hong- ko, maka Hong-ko tergetar hingga sempoyongan beberapa tindak, lekas ia memakai langkah Hi-djiok-kue-ki atau burung kutilang berpindah cabang pohon, dengan begitu ia bisa menahan tubuhnya untuk berdiri tegak, dalam pada itu si imam tadi sudah masuk ke dalam ruangan.

Waktu Hong-ko menegasi, tiba-tiba ia mengeluh!

Kiranya imam ini memakai jubah pertapaan dan berjenggot cabang tiga yang serupa dengan Hian-thian dan Hian-ang, sinar matanya tajam.

Agar dirinya tidak lantas dikenali, lantas Hong-ko mendekam ke bawah dan berulang-ulang menjura memberi hormat.

"Harap Supek memaafkan, tadi secara tidak sengaja telah menabrak Supek, di sini Wanpwe memberi hormat!" katanya.

Akan tetapi imam itu ternyata tidak gampang diingusi, ia mengamat-amati padanya, sudah itu mendadak ia mengebut dengan lengan bajunya hingga seketika itu topi imam di atas kepala Hong-ko kabur copot oleh sambaran angin lengan bajunya.

"Besar sekali nyalimu, kiranya kaulah yang telah menyamar!" terdengar imam tua itu segera membentak.

Bukan main kejut Hong-ko demi mengetahui dirinya terbuka kedoknya, lekas ia menggelundung pergi ke samping.

Kiranya imam ini ialah Hian-hong, kali ini ia berjanji dengan Boan-liong Kiam-khek untuk bertemu di Hoa-san, kebetulan juga Ang-koh mendapat berita bahwa Giok-bin-yao-hou Bun Sui-le telah sampai di Hoa-san, oleh karena itu ia menyusul kemari, karena Hian-hong masih harus mampir ke markas Tjongtin di Limtjing untuk mencari sutenya, Hian-thian, maka berbalik ia datang lebih belakang.

Ketika itu imam tua ini sedang hendak menuju ke loteng di belakang istana itu untuk menemui Ang-koh, tiba-tiba ia mendengar suara riuh tindakan kaki yang tergesa-gesa sedang turun dari loteng, tindakan itu membawa gaya yang enteng, ia dapat membedakan orang yang datang ini pasti seorang ahli silat.

Waktu kemudian ia memandang, ia lihat yang turun adalah seorang imam muda, maka ia menjadi heran, maka sengaja ia menubruk padanya dan segera pula ia dapat menjajal bahwa imam muda ini agak mencurigakan.

Dalam pada itu, setelah Hong-ko menggelundungkan diri keluar istana tadi, sekonyong-konyong Kim-na-djiu yang lihai dari Hian-hong pun sudah memapaki padanya, ia berpikir hendak mencabut belatinya, namun sudah terlambat, terpaksa ia merogoh sekenanya beberapa biji pelor besinya terus ia sambit-kan ke arah imam tua itu.

Mendengar sambaran angin, Hian-hong mementang tangannya terus menyambut datangnya pelor.

"Bagus, kiranya yang biasa menyambit dengan pelor besi adalah kau, kali ini jangan harap kau bisa lolos," serunya dengan tertawanya.

Dalam pada itu, Hong-ko sudah sempat mencabut belatinya, segera ia melangkah maju dengan gerakan 'Moa- koh-tjin-yok' atau si nona menyuguh minuman, segera ia menikam.

Bagaimanapun, memang Hian-hong mempunyai kepandaian sudah jauh lebih masak daripada Hong-ko, dengan sedikit mengegos ke samping, berbareng lagi menuju ke muka si pemuda, karena itu pandangan matanya menjadi terhalang, sementara itu, si imam merangkap dua jarinya terus menotok dengan tipu 'Yap-te-tau-hoa' atau mencuri bunga dari bawah daun, secepat kilat ia menotok ke pundak Hong-ko.

Gerak tipu itu adalah ilmu totokan yang lihai dari Kim-na- djiu yang mempunyai 72 jurus gerakan, karena tidak sempat menghindar lagi, segera 'Hun-bun-hiat' di pundak Hong-ko terkena totokan Hian-hong hingga seketika ia roboh tersungkur tanpa bisa berkutik.

Saat itu juga, dari luar istana masuk pula dua orang yang bukan lain adalah jagoan-jagoan dari kerajaan pada malam itu, yakni Tui-hun-djiu' Njo Djun dan 'Siau-song-sin' Li Ngo.

Tatkala mereka nampak Hian-hong dapat menotok roboh seorang yang menyamar sebagai imam, segera mereka dapat mengenali sebagai bocah yang tempo hari kepergok bersama Giok-bin-yao-hou.

Maka lekas mereka berkatakan pada Hian-hong, "Totiang, orang ini ialah pembunuh Kui-taydjin, kita justru sedang mencari dia, kali ini betul-betul ia sendiri yang telah menghantar jiwanya."

Mendengar penuturan itu, diam-diam Hian-hong berpikir, "Kebetulan juga, dahulu ketika aku mengawal Pi-hwe-tju, mutiara mestika itu telah kena digondol lari oleh bocah ini di hutan Tjo, kini justru ia terjatuh di tanganku, maka boleh dikata aku yang lagi mujur, mana mungkin aku menyerahkan dia pada kalian berdua untuk digiring ke kotaraja buat menerima pahala?"

Begitulah segera Hian-hong mengatur tipunya, ia hendak merebut kembali mutiara mestika yang pernah digondol lari oleh Hong-ko dulu, maka ia tidak bersedia menyerahkan pemuda itu kepada Njo Djun dan Li Ngo berdua, tetapi ia kualir juga apabila Ang-koh melihat Hong-ko, pemuda ini bisa dipaksa menyerahkan mutiaranya itu.

"Tuan-tuan bayangkara tidak usah kuatir, orang ini menyamar sebagai imam dalam istana ini, Pin-to harus menyerahkan dia pada Hian-thian Sute untuk diperiksa buat mengetahui cara bagaimana ia bisa menyelundup masuk ke dalam dan apakah masih ada begundalnya, sudah itu baru diserahkan pada Dji-wi untuk digiring ke kotoraja dan dihukum, aku kira di tangan kami tak mungkin ia bisa lolos!"

Dengan perkataannya itu, Hian-hong secara samar-samar mengatakan bahwa dia yang menangkap, maka harus diperiksa dahulu baru bisa diserahkan pada mereka.

Njo Djun dan Li Ngo cukup kenal kepandaian Hian-hong, maka mereka lantas menjawab baik. Begitulah lantas, Hian- hong meringkus kaki tangan Hong-ko terus ia seret sendiri dan digusur ke dalam penjara, sudah itu baru ia naik ke loteng lagi buat menemui Ang-koh.

Melihat kedatangan Hian-hong, lekas Ang-koh menyambut padanya, kedua bayangkara itupun setelah bertemu, mereka pun berdiri di samping.

"Kabarnya Totiang tadi telah menangkap seorang yang menyamar sebagai Tosu yang menjadi begundal Giok-bin-yao- hou, entah orang ini bernama siapa dan kini berada dimana?" tanya Ang-koh.

Teng Hong-ko yang belum lama merantau, tidak terkenal di kalangan Kangouw, ia hanya dikenal sebagai seorang bocah yang pernah merampas mutiara mestika di hutan Tjo dahulu, belakangan setelah mengintai ke Tjui-hun-kiong malam- malam bersama Giok-bin-yao-hou dan dengan pelor besinya telah melukai Tjhi Djin-ho, kesemuanya itu adalah perbuatannya seorang.

'Sian-koh, Pin-to sudah mengurung penjahat cilik itu dalam panjara bawah tanah," begitu sahut Hian-hong atas pertanyaan orang tadi. "Dulu orang yang merampas kereta di hutan Tjo tidak lain adalah dia ini, sayang ketika itu Pin-to datang terlambat hingga ia keburu bisa melarikan kereta, hanya dari Ie Djan didapat keterangan bahwa oleh kawan- kawannya ia diteriaki sebagai 'Siau Kim-kong'. Beberapa hari yang lalu bersama perempuan terkutuk Bun Sui-le datang ke sini lagi, kedua Si-we-ya (tuan bayangkara) ini malam itu telah bergebrak dengan mereka, tentu mereka mengetahui asal- usulnya!"

Karena diri mereka disinggung, seketika Li Ngo menjadi tergagap.

"Tjayhe pun tidak mengetahui siapa nama jahanam ini," sahutnya pada akhirnya. "Hanya diketahui bahwa dia adalah anak murid dari Go-bi-pay, dan kali ini ikut Giok-bin-yao-hou ke sini untuk membunuh Kui-taydjin."

Mendapat penuturan itu, tiba-tiba Ang-koh menjadi teringat pada waktu malam-malam ia mengintai ke Mo-dji-tje di Soatang dahulu, ia melihat seorang pemuda yang mirip dengan Teng Hong-ko, orang yang menyamar sebagai imam hari ini, kalau ia membayangkan pun rada mirip juga.

Maka lantas ia berkata pada Njo Djun berdua, "Djiwi silakan mengaso saja, penjahat yang tertangkap itu baiklah besok boleh Djiwi giring kembali ke ibukota."

Setelah itu Njo Djun dan Li Ngo mengundurkan diri.

"Kedatangan Totiang kali ini, siapakah yang hendak ditemui?" tanya Ang-koh pada Hian-hong setelah tinggal mereka berdua.

Maka berceritalah Hian-hong mengenai perjanjiannya bertemu dengan Boan-liong Kiam-khek.

"Boan-liong sendiri asalnya juga anak murid dari Khong- tong-pay, hanya belakangan ia masuk ke dalam Djing-Iiong- hwe," Hian-hong menambahkan lagi.

"Sungguh aku tidak mengerti mengapa Tjiangkau begitu jeri padanya, kalau ia betul-betul berani berlawanan dengan Pek-lian-kau, tatkala itu ia bisa memohon ketujuh Tjindjin dari tujuh gua Khong-tong untuk meringkusnya dan dihukum, bukankah itu lebih baik?" ujar Ang-koh. Tjiangkau atau pejabat agama yang Ang-koh sebut tadi adalah 'Thong-thian-kiu-tju' dari Pek-lian-kau, waktu itu imam- imam dari Khong-tong-pay sudah bersekongkol dengan Pek- lian-kau.

Dalam pada itu tiba-tiba Hian-hong teringat sesuatu. "Sebelum aku menuju ke Hoa-san sini," katanya pada Ang-

koh. "Diam-diam Tjiangkau memberitahu padaku bahwa ia orang tua dalam waktu singkat ini akan menyambangi para Tjindjin di Khong-tong-san, kalau Sian-koh keburu datang, dalam sebulan pun diminta menemuinya di sana!"

"Kebetulan sekali kedatangan Tjiangkau, aku justru hendak melaporkan tentang kehilangan Thian-hu itu," sahut Ang-koh dengan girang.

Begitulah setelah mereka berdua mengobrol lagi, cuaca sudah mulai gelap, dengan alasan masih ada urusan lain, lantas Hian-hong memohon diri dan kemudian turun dari atas loteng.

Kembali mengenai diri Teng Hong-ko, setelah pemuda ini kena dibekuk oleh Hian-hong, ia dikurung pula ke dalam penjara, jalan darahnya yang tadinya tertotok, kini sudah lancar kembali, ketika membuka matanya, ia lihat kedua kakinya sudah dirantai orang.

Penjara ini adalah tempat yang sama seperti tempo hari ia dikurung, sejak Giok-bin-yao-hou berhasil menolong dirinya, karena takut peristiwa itu terulang pula, kali ini khusus dikirim dua orang penjaga untuk menjaga di luar pintu penjara, penjaga-penjaga ini adalah bawahan Tui-hun-djiu Njo Djun, mereka diperintahkan begitu ada orang hendak merampas tawanan, boleh seketika membereskan jiwa Hong-ko.

Dalam pada itu terdengar di luar kamar penjara ada suara percakapan orang yang pelahan, menyusul mana pintu jeruji besi dari kamar penjara itu dibuka oleh penjaga, kemudian ada pula orang yang masuk ke dalam dan pintu penjara pun ditutup kembali.

Waktu Hong-ko mencoba memandang, ia lihat yang masuk ini adalah seorang kacung, kepalanya memakai ikat kain, pakaiannya ringkas, usianya masih di bawah dua puluhan, tampaknya ia seorang pekerja di dalam kuil itu.

Di dalam kamar penjara terlalu gelap karena api lentera yang remang-remang, sedang ikat kepala kacung itu diikat hingga hampir menutupi mukanya, oleh karenanya tak begitu jelas untuk melihat mukanya. Hanya terlihat kacung ini menjinjing sebuah bakul barang, setelah sampai di depan Hong-ko lantas ia meletakkan bakulnya, sudah itu dengan membelakangi sinar lentera dengan mata tanpa berkedip terus saja ia mengamat-amati Hong-ko.

Nampak kelakuan orang itu, Hong-ko pun tidak ambil pusing. Tak ia duga mendadak kacung itu malah membuka suara lebih dahulu.

"Apakah kau ini saudara Siau Kim-kong? Laparkah perutmu?" tanyanya, suaranya halus lembut tetapi rada lemah.

Mengetahui orang tidak mengandung maksud jahat, maka Hong-ko pun lantas mengangguk-anggukkan kepalanya sebagai jawaban.

Maka kacung itu lantas mengeluarkan beberapa macam penganan dan seceret wedang.

"Saudara, inilah barang-barang yang ingin aku berikan padamu," katanya kemudian sambil menaruh barang-barang tadi ke lantai. Kemudian ia menyambung, "Tadi mendengar logat suaramu, tampaknya kau seperti berasal dari daerah selatan Kang-say, kalau begitu mungkin kita adalah sekampung halaman!" Mendengar itu Hong-ko jadi tercengang sejenak, ia tidak menduga cara bagaimana bisa bertemu dengan orang sekampungnya.

"Saudara juga orang dari daerah selatan Kangsay?" tanyanya kurang percaya. Ia berkata dalam logat kampung halamannya di daerah sekitar Bwe-kang.

"Ya, bahkan aku adalah orang dari Tjiok-ge-tjun, entah saudara asal dari kampung mana?" sahut kacung itu.

Diam-diam Hong-ko menjadi terkejut mendengar suara perkataan orang ternyata sama logatnya dengan dia sendiri, lekas ia mencoba memandang orang lebih terang, namun kacung itu menunduk ke bawah buat menuangkan minumannya.

Mendadak Hong-ko mencium pula bau wangi, hatinya jadi bertambah tidak mengerti, namun ia tidak berani menerangkan bahwa dirinya pun berasal dari kampung Tjiok- ge-tjun.

"Banyak terima kasih atas pelayanan saudara ini," sahutnya kemudian. "Aku adalah orang dari Tiang-sing-si, sejak kecil sudah merantau di Kangouw, hari ini aku tertangkap oleh Hian-hong, aku kira maksud baik saudara hanya akan sia-sia saja."

Seketika kacung itu ternyata tidak menjawab, ia hanya mengangsurkan makanan ke tangan Hong-ko. Pemuda ini pun tidak menolak, lantas ia makan seadanya.

"Kau tidak seharusnya bersama Giok-bin-yao-hou ke sini buat mencari setori pada Toaya kami, kalau kau mau menerangkan asal-usulmu, mungkin aku masih bisa mencarikan orang buat menolongmu," kacung itu berkata lagi.

"Siapa yang mampu menolong aku keluar dari sini?" ujar Hong-ko sambil menghela napas. "Hian-hong menangkap aku sebagai seorang tawanan kerajaan, kecuali kalau saudara suka membantu mengirimkan kabar keluar bagiku!"

"Kau ingin aku mengirimkan kabar kemana?" tanya kacung itu mendadak. "Kalau aku bisa melaksanakan, pasti akan aku lakukan."

Akan tetapi Hong-ko masih ragu-ragu, ia tidak lantas memberitahukan.

"Sudah terlalu lama aku berada di sini, lekas kau katakan!" sementara kacung itu mendesak pula.

Sejenak itu Hong-ko menjadi bingung dan ragu-ragu, dari mulurnya ia hanya mengatakan "Pek-lian-am" tiga suku kata saja, tetapi mendadak ia sadar bahwa kacung ini agak mencurigakan, maka tidak ia teruskan perkataannya.

Namun si kacung pun tidak bertanya lebih lanjut. "Sudahlah, aku harus pergi dari sini, makanan ini

kutinggalkan untukmu saja," katanya, terus saja ia menjemput bakulnya dan hendak pergi.

"Tadi aku lupa bertanya padamu," tiba-tiba ia menoleh pula sebelum pergi. "Di Tjiok-ge-tjun ada seorang guru silat bernama Teng Ling, apakah saudara kenal dia?"

Terperanjat sekali Teng Hong-ko tatkala mendadak mendengar orang menyebut nama ayahnya, meski kedua kakinya terbelenggu, namun tubuhnya masih bisa bergerak, maka segera ia mencoba melompat naik, tiba-tiba dengan tipu 'Pek-ho-liang-sia' atau bangau putih mengunjuk sayap, tangan kirinya menyambar ke atas kepala orang dengan cepat, ia bermaksud menyingkap ikat kepalanya.

Gerak tubuh Hong-ko cukup cepat, tak ia duga cara kacung itu berkelit jauh lebih cepat lagi, dengan sedikit berjongkok, dengan gampang saja ia menghindarkan serangan pemuda itu. "Siapa kau?" bentak Hong-ko.

Berbareng itu ia maju selangkah meski kakinya terantai, sesudah itu dari samping ia mengirim pukulan pula dengan sebelah telapak tangannya, dengan tipu serangannya yang mengandung cara Kim-na-djiu atau cara mencekal dan menawan ini, ia menyambret dada kacung itu dengan gaya 'Hun-tiong-dju-goat' atau menyangga rembulan di antara awang-awang.

Namun kacung itu keburu mengegos ke samping, menyusul kemudian dengan baku! yang ia pegang terus saja diayunkan ke muka Hong-ko untuk menghalau serangannya, kemudian dengan cepat ia melompat ke dekat pintu kamar penjara.

"Dasar manusia tak berbudi!" dampratnya kemudian sambil mendorong pintu penjara, terus saja ia melompat keluar.

Menyaksikan orang sudah pergi, baru Hong-ko sadar bahwa tentu yang menyamar sebagai kacung ini ialah Ang- koh, kalau melihat gerak tangannya tadi, terang ia bukan seorang kacung biasa saja. Tampaknya Ang-koh ini pasti adalah Pek Eng-dji adanya, hal ini sudah tidak usah diragukan lagi.

Begitulah, dalam lamunannya tanpa terasa ia sudah tertidur.

Keadaan mana entah sudah lewat berapa lama lagi, ketika dalam tidurnya yang layap-layap itu, mendadak ia merasa seperti ada orang sedang menggoyang-goyang padanya, waktu ia membuka matanya, tertampaklah kacung tadi sedang mendekam di sampingnya.

Hong-ko menjadi gusar, tiba-tiba kakinya mendupak sambil menggertak, "Enyahlah kau!"

Akan tetapi belum sampai kakinya mengenai orang, cepat sekali dengan gerakan 'Ho-ping-kiu-li' atau merebah di tanah es mengharapkan ikan mas, orang itu berkelit pergi, berbareng tangan kanannya terus diulur maju lagi, segera ia sudah berhasil mencekal kaki Hong-ko, sedang sebelah tangannya yang lain ia mendekap mulut orang pula.

"Sssst, apa kau sudah gila? Akulah yang ada di sini!" seru orang itu dengan suara tertahan.

Ketika Hong-ko menegasi, ternyata orang yang berhadapan dengan dia kini ialah Boan-liong Kiam-khek, karena itu ia menjadi terperanjat. Ia mengucek matanya, mengira dirinya masih dalam alam mimpi, dalam pada itu Boan-liong sudah menarik dirinya bangun, barulah ia mengetahui pula bahwa belenggu kakinya sudah sejak tadi terlepas.

"Bagaimana Tayhiap bisa mengetahui aku berada di sini?" tanya Hong-ko dengan cepat.

Boan-liong tidak lantas menjawab, sebaliknya ia menarik Hong-ko dan terus diajak berangkat.

"Mari lekas kita pergi!" desaknya.

Kembali Hong-ko bertanya dimana adanya Bun Sui-le. Dengan menarik dirinya, Boan-liong membawanya kabur melalui jalanan di bawah tanah rahasia itu dan berbareng di tengah jalan ia memberitahukan pengalamannya bagaimana bisa masuk ke dalam penjara rahasia tersebut.

Kiranya sesudah Hong-ko berangkat, hal mana sangat me- nguatirkan Giok-bin-yao-hou Bun Sui-le.

Setelah menunggu sepanjang hari Hong-ko masih tetap belum kembali juga, kemudian Boan-liong pun pergi keluar buat mencari berita, maka ia lebih-lebih merasa kualir dan gugup, akhirnya seorang diri ia meninggalkan Pek-lian-am juga.

Sampai malam harinya, ketika Boang-liong kembali ke kuil itu dan tidak menemukan Bun Sui-le, maka tahulah dia, pasti gadis itu telah pergi lagi ke Tjui-hun-kiong buat berusaha menolong Teng Hong-ko. "Dengan Hian-hong bertiga saja Giok-bin-yao-hou bukan tandingan mereka, apalagi kini ditambah seorang Ang-koh, ke- pergiannya kini pasti banyak bahayanya daripada selamatnya!" begitu ia berpikir.

Karena itu, segera juga ia berangkat malam-malam sampai di Tjui-hun-kiong, lebih dulu ia pergi menghadap Tji-hun Tjin- djin, imam tua ini menganggap orang terlalu suka ikut campur urusan lain, namun belakangan ia tidak tahan juga oleh permohonan Boan-liong yang sungguh-sungguh itu, akhirnya ia memberitahu juga jalanan rahasia di bawah tanah yang menuju ke kamar penjara itu.

Sesudah Boan-liong masuk ke dalam jalan di bawah tanah, pada suatu ruangan ia lihat ada seperangkat pakaian dan ikat kepala serta sebuah bakul makanan, ia menduga tentu tinggalan petugas pengantar makanan, maka lantas ia menukar pakaiannya dengan pakaian yang sudah tersedia itu dan menyamar sebagai seorang kacung, waktu berhadapan dengan penjaga, ia dikira Ang-koh yang datang kembali, maka tanpa susah-susah lagi segera penjaga membukakan pintu, tetapi pada kesempatan itu juga Boan-liong menotok roboh kedua penjaga itu dan dengan leluasa ia bisa masuk ke dalam buat menolong Hong-ko.

Begitulah, sesudah Hong-ko mendapat tahu bahwa karena hendak menolong dirinya maka tanpa menghiraukan bahaya, seorang diri Bun Sui-le berkunjung ke Tjui-hun-kiong lagi dan belum diketahui bagaimana keadaannya, segera hatinya menjadi kuatir dan tidak tenteram.

Sementara itu mereka sudah sampai di luar, Boan-liong berniat membawa Hong-ko terus hendak berangkat kembali, namun pemuda ini ternyata menolak.

"Tidak, aku tidak bisa pergi begitu saja!" ujarnya. "Dengan tidak memikirkan bahaya aku datang

menolongmu, sebentar lagi Hian-hong dan kawan-kawan pasti akan mengejar kemari, apakah kau ingin jatuh ke tangan mereka pula?" sahut Boan-liong mendongkol.

"Aku bersedia tertangkap pula oleh imam tua Hian-hong itu daripada aku harus membiarkan Bun-tjetju jatuh ke dalam mulut macan!" kata Hong-ko lagi berkeras.

"Kita belum tahu dengan pasti apakah dia telah datang ke Thui-hun-kiong lagi, lebih baik kita kembali dahulu untuk memikirkan cara yang paling baik!" ujar Boan-liong pula.

"Tidak," sahut Hong-ko tetap keras kepala. "Bun-tjetju tentu telah datang ke sini lagi, ia tidak berhasil menolong aku tentu banyak kemungkinan sudah jatuh di tangan Hian-hong."

Karena tak berdaya menginsyafkan pemuda ini, terpaksa Boan-liong menuruti keinginannya, berbareng mereka melompat naik ke atas istana rumah biara itu, mereka lihat gedung-gedung kompleks Tjui-hun-kiong itu berderet-deret penuh dengan ruangan dan kamar, tetapi tiba-tiba mereka mendengar ada suara gemerincing beradunya senjata tajam yang berkumandang dari jauh.

Mendengar suara itu Boan-liong mengerti tentu ada orang sedang bertempur, dari suara getaran senjata yang berkumandang itu, dapat ia duga yang sedang bertarung itu pasti tergolong ahli semua, maka mereka berdua lantas menuju ke tempat datangnya suara tadi.

Bercerita tentang Ang-koh, sesudah gadis ini menyaru sebagai kacung dalam rumah biara itu untuk memeriksa tawanan dalam kamar tahanan, ia mengetahui bahwa tawanan itu memang bukan lain ialah Teng Hong-ko.

Dengan perasaan bimbang dan penuh kemasgulan kemudian ia kembali ke kamarnya.

Di luar dugaannya, begitu ia menyingkap kerai untuk masuk ke kamar, tiba-tiba ada bayangan orang berkelebat, segera ia dipapaki dengan sinar pedang yang menuju ke mukanya.

Kepandaian Ang-koh memang tidak lemah, ketika mendadak nampak pedang musuh menyerang padanya, segera juga ia merobohkan diri ke belakang dan dengan sekali berjumpalitan berbareng ia melolos keluar juga pedangnya.

Kemudian setelah ia mengetahui bahwa yang menyerang mendadak padanya itu bukan lain ialah Giok-bin-yao-hou Bun Sui-le, keruan saja ia menjadi murka.

Sementara itu setelah tusukannya tadi luput, segera Giok- bin-yao-hou mundur ke belakang.

"Perempuan siluman, perempuan tak tahu malu, lekas kau katakan, dimana kau sembunyikan suamiku Teng Hong-ko?" dampratnya kemudian dengan menuding Ang-koh.

Dengan kata-katanya ini memang Bun Sui-le telah membikin gusar Ang-koh, memangnya ia sudah mengetahui dari cerita Hong-ko bahwa Pek Eng-dji sejak kecil sudah dipertunangkan dengannya, oleh sebab itu sengaja di hadapan Ang-koh ia menyebut Hong-ko sebagai suaminya, dengan begitu ia ingin mengetahui reaksi Ang-koh, apakah gadis ini Pek Eng-dji adanya.

Pancingannya ini ternyata berhasil, karena mendadak Ang- koh makin murka hingga matanya mendelik dan alisnya berdiri.

"Perempuan jahanam tak punya muka, siapa yang menyembunyikan gendakmu, nonamu hanya menangkap seorang penjahat cilik bernama Siau Kim-kong, kalau kau mampu boleh kau membawanya pergi!" gertaknya sengit.

Namun Giok-bin-yao-hou pun tidak banyak bicara lagi, dengan sekali bergerak, pedangnya segera menyerang lagi.

"Lihat senjata, perempuan siluman!" bentaknya juga. Dengan cepat Ang-koh melompat ke atas dengan gaya 'Wan-kau-siang-djiu' atau kera memanjat ke atas pohon, ia menghindarkan babatan itu dengan tipu 'Ya-tjhe-tam-hay' atau setan dayang meronda ke laut, ia menangkis senjata orang pula.

Namun Bun Sui-le sudah merubah serangannya pula, secara bertubi-tubi ia menghujani lawannya dengan berbagai tipu serangan, tetapi Ang-koh tidak mengunjuk kelemahan, apalagi yang dia latih adalah Bu-kek-kiam-hoat yang terkenal, ia menjaga dirinya begitu rapat dan tiap-tiap gerak tipunya aneh tetapi hebat.

Karena berada di goa macan, lagi pula ingin bisa lekas memperoleh kemenangan, maka berulang-ulang Giok-bin-yao- hou mengeluarkan tipu-tipu serangan yang berbahaya dan membawa resiko, karenanya ciri-ciri dan kelemahannya ini dapat dipahami oleh Ang-koh yang melayaninya dengan penuh semangat tetapi tenang.

Begitulah mereka bertarung dengan sengit, sesudah bergebrak hingga beberapa puluh jurus, ternyata masih belum nampak siapa yang bakal menjadi pecundang.

Lama kelamaan Ang-koh menjadi tidak sabar lagi, tiba-tiba ia merubah ilmu pedangnya, ia mengeluarkan ajaran perguruannya yang paling hebat.

"Perempuan rendah, hari inilah tibalah ajalmu!" bentaknya sengit.

Menyusul mana ia merubah serangan dengan gerak cepat terus membacok.

Bun Sui-le yang memangnya sudah rada gugup karena sudah begitu lama masih belum sanggup mengatasi lawannya, kini kena dibikin marah oleh dampratan itu pula, segera ia melompat naik berbareng itu dari atas senjatanya terus menikam ke bawah, karena itu kedua senjata beradu dan sama-sama tergoncang pergi. Sesudah itu kembali Bun Sui-le merangsek lagi, beruntun ia menyerang dua kali dengan tipu 'Giok-li-tjwan-tjiam' atau si gadis ayu menisik jarum, terus dengan gerak tipu 'Liong-ting- ti-tju' atau mengambil mutiara di atas kepala naga, ia mendesak Ang-koh hingga terpaksa gadis ini harus main mundur terus.

Karena nafsunya untuk memperoleh kemenangan dengan cepat, kembali Bun Sui-le merangsek maju lagi dengan gaya "Thio-hui-tui-tjo' atau Thio Hui mengejar Tjo Tjho, serangan ketiganya segera menyusul lagi.

Tidak ia duga bahwa Ang-koh tadi sengaja mengalah dua serangan padanya, maksudnya tidak lain ialah sebagai pancingan belaka, ia sengaja memancing Bun Sui-le masuk ke suatu pojok yang tidak menguntungkan, setelah itu pada waktu tusukan ketiga Bun Sui-le tiba, segera ia sedikit berjongkok dan meng-kerutkan tubuh, menyusul mana dengan gerak tubuh yang bagus dan secepat kilat, tiba-tiba sinar pedangnya berkelebat.

Tipu serangannya ini begitu cepat, lagi di luar perhitungan Bun Sui-le, karena sedikit terlambat saja, seketika itu juga sebelah tangannya sudah terkurung oleh senjata Ang-koh hingga mengucurkan darah, dengan sekali jeritan ngeri, segera ia jatuh terguling.

Pada saat lengan Bun Sui-le hampir terkurung tadi, tiba- tiba di luar ruangan itu ada bayangan orang berkelebat, bayangan yang tinggi besar itu secepat kilat menerobos masuk melalui jendela dan terus memburu ke samping Ang- koh dengan maksud hendak menangkis serangannya tadi.

Tak tersangka gerak serangan Ang-koh tadi begitu cepat, maka pada waktu pedang orang itu diangkat hendak menangkis, tahu-tahu sebelah tangan Giok-bin-yao-hou sudah terkutung putus lebih dulu. Menampak ada orang secara mendadak hendak menghalau serangannya tadi, lekas Ang-koh mundur ke belakang, waktu ia menegasi, ternyata yang datang sekonyong-konyong ini bukan lain ialah Hong-ko.

Sementara itu terlihat Hong-ko melompat maju untuk me- mayang Giok-bin-yao-hou yang tampak sudah sempoyongan.

"Kenapakah kau?" teriak pemuda itu.

Menyaksikan kerapatan hubungan kedua orang itu, mendadak timbul juga rasa cemburu Ang-koh, ia menjadi kalap, ia menubruk maju lagi terus membabat dengan pedangnya.

Namun Hong-ko keburu mengegos ke samping sambil melindungi diri Giok-bin-yao-hou, sedang pedangnya terus diangkat untuk menangkis, begitu kuat tenaganya hingga Ang- koh tergetar mundur.

"Eng-dji, tidak nyana kau telah berubah hingga seperti ini, kalau kau mendesak aku lagi, jangan kau salahkan aku tak berbudi!" damprat Hong-ko kepada Ang-koh dengan muka muram, tetapi sinar matanya bengis.

Teng Hong-ko adalah anak murid dari Go-bi-pay, walau Lwekangnya belum setara Hian-hong dan kawan-kawan, tetapi kiam-hoatnya pun bukan kaum lemah lagi.

Karena gertakan orang tadi, sekejap itu Ang-koh menjadi jeri dan roman mukanya pun kemerah-merahan.

Sudah belasan tahun gadis ini berkecimpung di dalam Pek- lian-kau atau perkumpulan agama Teratai Putih ini. Karena hubungannya itu, lambat-laun wataknya sudah banyak berubah dan lupa akan asal-usul dirinya, suka duka di masa anak-anak pun sudah ia lupakan.

Tetapi kini setelah kena digertak oleh Hong-ko tadi, tiba- tiba ia seperti dikemplang sekali, dalam hati kecilnya segera timbul sedikit kenangannya pada masa dulu. Sebenarnya ia mencintai Hong-ko semenjak ia kenal apa artinya asmara itu, dalam beberapa tahun ini karena kabar beritanya terputus, sedang di dalam Pek-lian-kau kedudukannya makin hari makin menanjak juga, maka tiada kesempatan buat dia untuk memikirkan perkara hubungan pemuda-pemudi. Ditambah lagi ikatan peraturan da-iam Pek-lian-kau yang terlalu keras, umumnya bagi golongan pemimpin, soal perjodohan mereka harus diputuskan juga oleh ketua agama mereka dan tidak boleh sembarangan mengikat diri dengan orang di luar perkumpulan agama, kalau peraturan ini dilanggar bisa dihukum mati.