Tiga Mutiara Mustika Jilid 03

Jilid 03

Kemudian ia sendiri dengan gerakan 'Tong-long-yao-poh' atau belalang melangkah lompat, ia memanjat sampai di atas tebing itu, sedang di bawah kakinya berada rumah gubuk itu. Menyusul mana ia menggunakan gerakan 'Pwe-pi-he-khe' atau menyandar pada dinding turun ke tebing, ia merembet pelahan turun ke wuwungan rumah, dengan sekali lompatan enteng ia sudah menancapkan kakinya di atas rumah tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.

Apabila kemudian ia menyingkap sedikit atap gubuk dari alang-alang dan mengintip ke dalam, maka tertampak olehnya di dalam rumah itu ada seorang gadis jelita yang sedang membolak-balik memeriksa sesuatu barang. Dimana sinar mata Bun Sui-le menatap, tepat yang ia lihat ialah sebutir barang yang bersinar mengkilap dan tak jelas benda apakah sebenarnya.

Pada saat itu juga, tiba-tiba terdengar suara seruan di dalam rumah, menyusul mana dengan cepat sinar api telah disirap.

Bun Sui-le cukup cerdik begitu ia melihat api dipadamkan di dalam rumah, secepat kilat ia sudah menggunakan gerakan 'Li-tjo-ling-yan' atau burung layang-layang meninggalkan sarang, tubuhnya melayang naik, menyusul itu dari bawah segera tertampak dua sinar hijau yang menyambar keluar melalui atap rumah itu dan lewat menyerempet di sampingnya.

Diam-diam Bun Sui-le bersyukur terlepas dari bahaya itu. tetapi tak ia duga, dalam sekelebatan itu bayangan orang pun sudah sampai, sekejap saja gadis di dalam rumah tadi pun sudah muncul di hadapannya.

"Perempuan liar darimanakah berani mengintip nonamu ini!" terdengar orang telah membentak dengan tertawa dingin.

Dengan sendirinya Bun Sui-le mundur selangkah untuk mengeluarkan senjatanya, kemudian ia mengawasi lawan yang dihadapinya ini.

Ternyata si gadis ini memakai baju dan celana singsat ringkas, sepatu kain yang tipis dan ikat pinggang berwarna merah jambu, senjata pedang terhunus di tangannya, ia berdiri dengan tegak, angkinnya melambai-lambai tertiup angin malam, Bun Sui-le terpesona oleh gadis di depannya ini.

Sementara si gadis itu pun sedang memandang padanya, namun segera ia mendahului membentak pula.

"He, apa yang kau pandang? Berani datang mengapa tak berani lantas bergebrak!"

Belum pernah Giok-bin-yao-hou dihinakan orang, kena dipancing oleh perkataan gadis itu, segera pedangnya lantas menusuk, dengan tipu 'Ping-niau-thio-ie' atau burung garuda pentang sayap, begitu pedang si gadis menangkis, dengan segera pedangnya ia sampuk terus dibarengi dengan melangkah maju, tangannya yang lain dengan gerak tipu 'Bok- ie-djiu' atau pukulan menubruk cepat, segera ia menjojoh ke bawah dada orang. Akan tetapi waktu melihat gerak serangan lawan, gadis itu ternyata tidak lantas menyambut tusukan orang, ia hanya sedikit berjongkok terus dengan cepat ia menggunakan tipu 'Djiu-hun-pi-pe' atau tangan menabuh pi-pe (alat musik mirip gitar), dengan ujung pedang mengarah ke atas, ia pentang tangannya yang lain melindungi dadanya, begitu pedang beradu segera tergon-cang pergi berbareng. Sementara itu Bun Sui-le pun urung melontarkan gerak tipu 'Bok-ie-djiu', kepalannya lekas ia tarik kembali.

Kiranya begitu ia melihat si gadis melontarkan tipu gerakan itu, segera ia mengetahui lawannya ini bukan lawan semba- rangan dan siang-siang sudah dapat menduga apa yang hendak ia lakukan.

Dalam pada itu, begitu ujung pedang tergetar, segera gadis itu melangkah maju pula dan beruntun menyerang dua kali dengan cepat, dengan mundur dua langkah barulah Bun Sui-le dapat menahan tusukan lawan itu, namun demi melihat sebelah bawah musuh tidak terjaga baik. segera ia menikam dengan satu gerakan pancingan, sampai di tengah jalan mendadak ia menekan pedangnya ke bawah terus dengan cepat sekali ia membabat ke kaki musuh.

Begitu serangan si gadis tadi tak berhasil dan mendadak ia melihat senjata orang berkelebat menyapu kakinya, secara gesit sekali ia enjot tubuhnya dan melompat naik dengan sedikit miring, sedang pedangnya pun berbareng membacok mengarah kepala Giok-bin-yao-hou.

Serangannya itu begitu cepat dan tiba-tiba laksana bintang jatuh dari atas langit, Giok-bin-yao-hou, si siluman rase bermuka ayu, yang sedang mengkerut tubuh dan menyerang, ia tak menduga pedang lawan bisa begitu cepat, maka buru- buru ia menarik senjatanya dan tubuhnya mengegos ke samping, dengan setengah merebah ia menyanggah dengan tangan kanan, terus ia barengi dengan gerak tipu 'Ho-ping- kiu-li' atau merebah di tanah es memohon ikan mas, pedangnya mengacung ke atas terus membentur senjata musuh yang sedang menikam dengan hebatnya itu.

Melihat lawannya masih setengah rebahan, gadis itu menekan pedangnya ke bawah hingga suara nyaring beradunya senjata terdengar keras, dalam sekejap itu Giok- bin-yao-hou menjadi murka, ia mengunjukkan tipu serangannya yang ganas dengan kakinya, pada kesempatan kedua senjata masih beradu, ia menggeser tubuh dan berbareng kedua kakinya menendang dengan cepat membawa dua titik sinar yang mengkilap yang bukan lain ialah kaitan tajam yang terselip di bawah sepatunya.

Namun pandangan mata si gadis ternyata cukup jeli, dengan mengangkat kedua bahunya ia berjumpalitan, kedua kaki yang bersenjata tajam dari Bun Sui-le itu menyerempet lewat di bawah sepatunya. Gerakan kedua pihak begitu cepat dan gesit sekali.

Kemudian gadis itu menancapkan kakinya kembali dan Giok-bin-yao-hou pun berbangkit berdiri pula, maka mereka berdua sudah berhadapan dalam jarak lebih setombak.

"Ha, kiranya kau adalah siluman wanita Bun Sui-le itu, nonamu tiada sedikit sangkut-paut dengan kau, kita boleh berbuat menurut tujuan masing-masing, mengapa kau datang mengintip gerak-gerikku?" tanya gadis itu dengan membentak dan pedang menuding.

Seketika Bun Sui-le tercengang demi mendengar orang mengenali dirinya.

"Bocah ini termasuk hebat juga, begitu nampak kaitan kedua kakiku, segera ia mengetahui asal-usulku," begitu ia membatin. "Tetapi aku pun hendak menjajalnya, coba dari aliran manakah dia ini?"

"Kau, si bocah ingusan, kalau sudah mengetahui nama besar Tjetjumu, seharusnya kau katakan terus-terang perbuatanmu, mungkin aku bisa mengampuni kau, anak murid dari Bu-tong-pay," sahutnya kemudian dengan pedang tergenggam.

"Ayo, begitu besar mulutmu," gadis itu mencemooh. "Kau ingin tahu diri nonamu, boleh kau tanya Tji-yang totiang di Bu-tong-san, kau minta aku menceritakan, sedikitnya kau harus menangkan pedangku ini lebih dulu."

"Budak busuk yang kurang ajar, kau kira dengan menonjolkan nama Tji-yang Todjin aku lantas menjadi kuncup?" bentak Bun Sui-le dengan gusar. "Terus terang saja kedatanganku ini melulu menghendaki mutiara yang telah kau rebut itu, hanya ada dua jalan boleh kau pilih, jiwa atau mutiara!"

Setelah itu ia mengayun pedangnya, ujung senjata mengarah ke depan, segera angin tajam menyambar ke muka si gadis.

Akan tetapi gadis itu tak gentar.

"Mutiara ada padaku, tetapi jangan kau harap!" sahurnya dengan tertawa dingin.

Habis itu dengan sekali seruan, senjatanya pun bergerak dan kembali terdengar pula berulang-ulang suara beradunya pedang, dalam sekejap dengan cepat sekali mereka telah saling serang dengan seluruh kemampuan yang ada pada mereka, pertempuran yang makin sengit memecah kesunyian malam.

Kedua orang itu makin bertarung makin hebat, yang seorang adalah tokoh Liok-lim tersohor dan yang lain memperoleh pelajaran kiam-hoat dari cabang persilatan ternama, keduanya setanding dan sama kuat, walaupun pertempuran sudah berjalan hampir satu jam, namun masih belum menunjukkan mana yang lebih unggul.

"Giok-bin-yao-hou, nonamu besok pagi-pagi masih ada janji, terpaksa aku tak bisa melayani kau terus, tetapi kalau kau ingin menentukan mana yang lebih kuat, besok malam boleh kau ke sini lagi!" tiba-tiba gadis itu berseru.

Kuatir kalau lawannya kabur, Bun Sui-le malah memperkencang serangan pedangnya.

"Tak mungkin kau coba mengingusi aku, kecuali kalau kau meninggalkan mutiara itu, baru jiwamu boleh aku ampuni!" sambutnya.

"Siapa hendak membohongi kau," kata si gadis dengan gusar. "Kalau begitu adalah kau sendiri yang mencari mampus, sebentar lagi tentu kau boleh tahu rasa."

Atas perkataan orang yang terakhir itu, Bun Sui-le menjadi ragu-ragu, pikirnya, "Jangan-jangan ia telah berjanji dengan orang pandai di sini? Dan kalau betul, ditambah lagi seorang lawan tangguh, bisa-bisa aku terjungkal di depannya."

Pada kesempatan ia lagi ragu-ragu, gadis itu telah mengayun tangannya, mendadak ia menimpukkan dua buah 'Liu-yap piau'.

Cepat Bun Sui-le mengegos berkelit, ia dapat menghindarkan sebuah senjata piau dan pedangnya menyampuk jatuh sebuah piau lainnya. Akan tetapi pada saat itu juga, dengan sekali enjotan kilat, gadis itu sudah melompat pergi hingga jauh.

Ia coba mengejar, namun tertampak gadis itu dengan cepat sekali, dengan beberapa kali naik turun melompat, dalam sekejap saja sudah berada sejauh beberapa tombak.

Pada saat itu juga, dari dalam hutan lebat di depan sana berkumandang suara gitar aneh hingga daun-daun pohon pada rontok.

Bun Sui-le jadi merandek, ia kuatir dalam hutan betul-betul bersembunyi orang pandai. Dan karena sedikit merandeknya itu, gadis itu sudah menerobos masuk ke dalam hutan dan menghilang. Karena tak bisa menangkan orang, Bun Sui-le berbalik jadi gemas terhadap Gui Djing-si, si imam celaka itu, dia sudah menempur setengah malaman, tetapi tidak tampak ia mengunjukkan diri untuk membantu.

Dalam keadaan mendongkol, ia berbalik kembali masuk ke dalam rumah gubuk, ia lihat di dalamnya hanya terdapat sebuah pembaringan dari bambu dan meja kecil dari kayu.

Dari dalam kantongnya ia mengeluarkan geretan api, ia nyalakan lilin yang ada di meja hingga dapat melihat jelas pada pembaringan bambu itu terdapat sebuah buntalan kecil, lekas ia mengambilnya dan diperiksa, dalam buntalan itu ternyata hanya terdapat dua potong baju wanita petani, dan masih ada pula secarik kain hitam penutup muka dengan dua lubang untuk mata.

Waktu ia memeriksa lagi, mendadak dari buntalan terjatuh sebuah benda, ia memungutnya dan dilihat, ternyata adalah sekeping besi, benda ini biasanya digunakan sebagai tanda bukti dalam perkumpulan dan gerombolan rahasia.

Giok-bin-you-hou girang sekali, dengan cepat ia masukkan ke dalam sakunya.

Ketika ia keluar dari rumah itu, tiba-tiba dilihatnya di belakang batu besar tadi menggeletak seseorang, ia menjadi terkejut.

Tetapi sesudah ia menegasi, baru ia ketahui adalah Gui Djing-si yang tertidur dengan bersandar pada batu itu, dari hidungnya masih terdengar suara gerosan.

Keruan ia makin mendongkol, ia angkat kakinya dan menyepak. Dalam kegugupannya kena tendangan, Gui Djing- si merangkak bangun dengan cepat.

"Aku si tua bangka ini sudah tidak berguna lagi, sebentar saja sudah tertidur, harap nona suka memaafkan!" katanya dengan kuatir. "Apakah budak tadi sudah nona bereskan?" Kiranya pada waktu ia melihat dari rumah gubuk itu melompat keluar seorang gadis yang bukan lain ialah gadis bertopeng yang ia ketemukan siang harinya, saking terkejutnya ditambah letihnya berlari seharian, semangatnya sudah tak tahan lagi hingga dalam keadaan tak sadar ia telah menggeros pulas.

Mendengar pertanyaannya tadi, Bun Sui-Je makin bertambah mangkel.

"Masih kau tanya! Mengapa tadi kau tak muncul membantu aku?" gertaknya dengan uring-uringan.

"Sui-kohnio, pedangku sudah hilang, kau telah berpesan juga tak boleh sembarangan bergerak, mana aku berani membantah perintahmu itu?" sahut Gui Djing-si dengan muka bersungut.

Giok-bin-yao-hou menjengek, tetapi ia pikir tiada gunanya mengomel padanya, maka segera ia membentak pula dan berbareng mereka turun gunung kembali, sampai pada hutan tadi, ternyata kuda putihnya masih tetap berada dalam lingkaran yang digariskan tadi.

"Dengan seekor binatang saja kau kalah, setidak-tidaknya binatang ini tak mempunyai hati busuk seperti kau," dengan mata melotot ia berkata pula pada Gui Djing-si. "Kalau kau masih ingin hidup, baiklah berjalan dengan menuntun kudaku ini."

Sudah tentu imam tua sial ini tidak berani membantah, dengan menarik tali kekang kuda, ia berjalan di depan, tetapi dalam hati diam-diam ia mencaci maki. Keadaannya yang menyedihkan itu membikin orang tertawa.

Kembali bercerita tentang para gagah perkasa di Mo-dji-tje, sesudah mereka diingusi dan mutiara mestika kena diserobot oleh Gui Djing-si, semula banyak yang berniat hendak mengejar, akan tetapi Si Liang mencegah. "Tjuwi tak perlu ribut," ujarnya. "Imam busuk ini sangat licin, kini hendak mengejarpun sudah terlambat, baiknya kita boleh lantas menyiarkan berita bahwa mutiara mestika sudah jatuh ke dalam tangannya itu, tak lama kemudian dengan sendirinya pasti ada orang pandai dan pejabat negeri yang akan membikin perhitungan dengannya."

Teng Hong-ko tidak mengerti oleh keterangannya itu. "Dengan cara begitu, bukankah Po-tju itu akan terjatuh

kembali ke dalam tangan cakar alap-alap pemerintah?" tanyanya.

"Memang begitulah tujuan kita," jawab Si Liang dengan tertawa. "Kita lebih baik merebutnya kembali dari pejabat pemerintah, daripada pergi menguber-uber jejak Gui Djing-si."

Begitulah sesudah urusan diatur baik, mereka masing- masing lantas menjalankan tugasnya sendiri.

Sesudah pada bubar, Teng Hong-ko lihat hanya tinggal Si Liang dan suami isteri Yan Ie-Lam saja yang masih tinggal di dalam markas.

Si Liang adalah seorang pemeluk agama, maka siang-siang ia sudah bersemedi di dalam kamarnya hingga tiada orang lain lagi di ruangan tengah.

Hong-ko teringat pada kejadian di rumah pondokan, dima- na ia telah mencuri baca surat dinas yang dikirimkan pada gubernur, di antaranya terdapat selembar nota pengiriman barang yang bertanda bundaran dengan tinta merah pada saru baris nama barang yang tertulis 'Semangka Hami dari Lantjiu', semangka itu termuat menjadi sembilan kereta dan waktunya jatuh besok pagi.

Karena merasa di antara tanda-tanda dalam surat dinas itu pasti ada terkandung rahasia tertentu, lantas Hong-ko menceritakan pengalamannya itu kepada Yan le-lam. "Saudara Teng, mengapa tidak kau katakan sejak dulu, hampir saja kita melepaskan 'jual-beli' yang baik itu begitu saja," kata Yan le-lam sesudah ia berpikir sejenak.

"Yan-tayhiap, barang dagangan apakah dalam kereta itu?" tanya Hong-ko yang masih belum paham.

"Kau baru saja mengunjuk diri di kalangan Kangouw dan masih plonco, mana bisa kau tahu banyak peraturan dalam Kangouw," dengan tertawa Yan le-lam menerangkan. "Kita menguntit sesuatu incaran barang pun ada istilah tertentu, ialah kesatu mendengar, kedua menguntit, ketiga mengintip, keempat membongkar dan kelima melihat gelagat, tanpa sengaja kau ini dapat membongkar tanda rahasia mereka, ini adalah barang yang harus kita incar, dan tentu pula ialah Po- tju kedua yang diam-diam hendak diangkut Tjhi Djin-ho ke Soatang sini."

Mendapat penerangan itu, Hong-ko menjadi girang tidak kepalang bercampur kaget.

"Yan-tayhiap, kalau begitu kita besok mencegat saja kereta itu, bukankah kita lantas akan berhasil?" tanyanya lagi.

"Mana bisa begitu gampang, saudara," sahut Hoa-lihiap dengan tertawa menimbrung. "Kita harus menyelidiki dulu kereta yang mana tempat disembunyikannya mutiara mestika itu, baru kita bisa turun tangan dengan tepat."

Meskipun Hong-ko masih hijau, namun otaknya memang cukup cerdas, dengan sedikit berpikir ia sudah dapat menerka.

"Aku terka pasti disembunyikan pada kereta ketujuh itu," ujarnya.

Suami isteri Yan Ie-lam mengangguk atas perkataannya.

Terkaanmu memang tidak salah," kata mereka. "Tujuh tanda bundaran merah itu menunjukkan bahwa Po-tju disembunyikan di atas kereta ketujuh, cuma Tjhi Djin-ho yang biasanya tidak pernah gegabah bertindak, menurut penglihatanku, kali ini diam-diam tentu ia telah mengirim pula pengawal yang pandai mengikuti rombongan kereta itu."

'Barangkali kamu orang tua telah lupa pula atas perkataan Gui Djing-si?" kata Hong-ko pula. "Ia mengatakan bahwa Giok-bin-yao-hou telah mendapat berita bahwa Tjhi Djing ho telah memberangkatkan pula sebutir mutiara mestika yang lain dari Khayhong dan yang mengawal ialah apa yang dikatakannya sebagai ahli dari Ko-yang-pay, bernama Ie Djan

berjuluk 'Sip-tiat-hong' dan Tji Tjing-hian yang berjuluk 'Hoan- san-kau', pengawalnya kali ini mungkin ialah kedua orang itu."

Setelah dirunding lagi lantas mereka memuhiskan berangkat malam itu juga, mereka menaksir kereta yang mengangkut tentu melalui jalan dan Tay-bing-hu dan Tong- tjiang terus ke Tjelam.

Yan Ie-lam berpesan pada Hong-ko agar jangan memberitahukan pada orang lain lagi, supaya tidak terbeber kabar itu hingga banyak menjadi incaran tokoh Kangouw cabang lain. Selain itu ia katakan pula pada Hong-ko, "Saudara Teng, di tengah jalan kita jangan saling sebut nama yang asli, kau sebut saja kami dengan Toako dan Enso saja, sedang kau yang baru mengunjukkan diri paling baik kalau berganti nama dengan sebuah julukan untuk menghindarkan perhatian dari pejabat pemerintah, seumpama terjadi sesuatu, namamu pun tidak diumumkan sebagai seorang buronan."

Begitulah setelah dirundingkan lagi, akhirnya Teng Hong-ko dipilihkan nama julukan 'Siau Kim-kong’.

Malam itu juga, dengan tiga ekor tunggangan segera mereka berangkat setelah melewati Tjelam. malam keduanya mereka menginap di Tong-tjiang dan besoknya pagi sekali mereka lantas berangkat pula.

Di depan tertampak sebuah hutan Tjo dengan lereng bukit yang naik turun di sana-sini, selajur jalan besar membujur di tengah, menembus hutan Tjo itu menuju ke depan. Waktu itu sang surya baru memancarkan sinarnya, kabut malam masih belum buyar, dalam jarak belasan tombak jauhnya masih belum dapat memandang jauh dengan jelas.

"Inilah suatu tempat yang bagus untuk kita turun tangan, cuma entah kaum pembesar celaka itu apakah sudah berangkat pagi-pagi begini?" ujar Yan Ie-lam.

"Di depan sana ialah Tong-poh, sebuah kota kecil, tadi malam tentu mereka bermalam di sana, menurut tafsiran, tidak sampai satu jam, tentu mereka sudah bisa sampai di sini," sahut Hoa-lihiap.

Maka mereka bertiga lantas turun dari kuda dan menyembunyikan diri ke dalam hutan Tjo itu.

Dengan pelahan Hong-ko mengenjot tubuhnya, ia memanjat ke atas sebatang pohon. Tempat ini kebetulan adalah dataran tinggi di atas bukit, oleh karena itu bila memandang jauh ke depan akan terlihat jalanan besar yang berliku-liku mengikuti naik turunnya bukit menjulur panjang. Di antara kabut yang remang-remang itu sudah tampak dari jauh ada serombongan bayangan orang yang muncul dari belakang bukit.

Hong-ko girang sekali, ia bersuit memberi tanda pada rekannya yang berada di bawah pohon, tidak ayal lagi Hoa- Iihiap segera menyusul meloncat naik juga ke pucuk pohon untuk mengintip apa yang dapat dilihat oleh Hong-ko.

Ketika itu pelahan-lahan iring-iringan kereta sudah semakin mendekat, oleh karena itu sudah dapat tertampak dengan jelas ada suatu barisan panjang lambat laun mendekati rimba Tjo itu.

Kiranya konvoi kereta ini memang tidak salah adalah kereta rangsum milik gubernur Soatang.

Seperti telah diceritakan di muka, tidak lama lagi Kaisar Khong-hi hendak bersujud ke Thay-san, mendapat kabar itu siang-siang Tam Ting-siang sudah menyediakan semua barang keperluan yang hendak disuguhkan pada maharajanya itu.

Pada kesempatan itu juga Tjhi Djin-ho diam-diam telah menyembunyikan sebutir mutiara mestika dari Tjin-tju-goan ke dalam kereta dan secara rahasia diangkut ke Soatang.

Sebagai Popio atau pengawal dari konvoi itu ialah dua orang jagoan cabang atas dari Bu-lim atau dunia persilatan, seorang bernama Ie Djan dan yang lain Tji Tjing-hian.

Ie Djan adalah jagoan ternama dari Ko-yang-pay yang sudah kawakan, ia pandai dalam ilmu Kim-na-djiu, yakni kepandaian cara mencekal dan menawan yang mempunyai tujuh puluh dua rupa gerakan. Sedangkan Tji Tjing-hian menggunakan toya yang disebut 'Dju-bwe-kun', toya buntut tikus, karena ujungnya yang lancip, ia mempunyai tenaga yang luar biasa, dengan sekali toyanya menyodok ia sanggup melubangi batang pohon sedalam beberapa senti.

Walaupun Ie Djan dan Tji Tjing-hian keduanya termasuk jago kawakan dari Ko-yang-pay, tetapi karena ingin kedudukan dan tamak oleh kemewahan, maka sudah lama bercita-cita memperoleh sedikit pangkat.

Kali ini setelah Tjhi Djin ho datang ke Hoa-san dan bertemu dengan pendekar golongan Khong-tong-pay yang tinggal di Tjhui-hun-kiong di atas gunung tersebut, kebetulan Ie Djan pun mengunjungi tempat itu. Rupanya memang bintangnya lagi terang juga, maka Tjhi Djin-ho segera meminta dia menjadi pengawal barang kiriman kepada Tam Ting-siang di Tjelam. Ie Djan tidak ragu-ragu lagi untuk menerima tugas itu, bahkan ia malah mengusulkan pula saudara seperguruannya 'Hwan-san-kau' atau ular pelintas gunung, Tji Tjing-hian untuk membantu mengawal pula. Tjhi Djin-ho memangnya sedang membutuhkan tenaga orang, maka sudah tentu ia menerima dengan segala senang hati.

Begitulah, kemudian Ie Djan dan Tji Tjing-hian mengikuti iring-iringan kereta rangsum dari gubernur Soatang itu dan secara berbondong-bondong berangkat menuju ke Tong- tjiang.

Kereta-kereta itu hanyalah kereta kecil yang ditarik oleh keledai, tetapi sembilan kereta yang harus Ie Djan kawal itu memuat semangka Hami, sebelum berangkat ia sudah dipesan oleh Tjhi Djin-ho agar memperhatikan kereta yang ketujuh.

Oleh sebab itu, sepanjang hari dalam perjalanan, Ie Djan senantiasa mendampingi kereta ketujuh itu, sedang Tji Tjing- hian ia suruh menjaga di depan.

Hari itu, tidak lama sesudah mereka berangkat, hutan Tjo sudah melintang di depan mereka, sedang di kedua sampingnya terdiri dari lereng-lereng bukit yang miring, hanya di samping gunung itu terdapat jalanan yang menuju ke utara.

Melihat sekitar tempat situ cukup berbahaya, diam-diam Ie Djan berkata pada saudara seperguruannya, "Laute. paling akhir ini kabarnya tidak sedikit sahabat-sahabat kalangan Liok- lim dari sekitar Tjwan-siam telah berkumpul secara beramai- ramai di Soatang sini, tindak-tanduk mereka agaknya seperti akan ada sesuatu perdagangan yang baik!"

Tji Tjing-hian adalah orang yang periang, oleh karena itu. ia tak terlalu menghiraukan apa yang dikatakan kawannya itu.

"Ada dagangan biar mereka yang mengerjakan" jawabnya. "Kita berdua hanya mengawal tidak lebih sembilan kereta semangka Hami ini, lagi pula Tjhi Djin-ho tiada sesuatu barang dagangan yang diserahkan pada kita, buat apa toako harus ber-kuatir!" "Rupanya Laute tidak tahu," kata le Djan pula. "Bahwa di antara sembilan kereta ini tersembunyikan benda yang jauh lebih berharga dari barang dagangan, meski tidak aku ketahui barang apakah sebenarnya, tetapi melihat cara Tjhi Djin-ho wanti-wanti berpesan padaku sebelum kita berangkat, kali ini bagaimanapun juga, harus kita selamatkan kereta nomor tujuh itu sampai Tje-lam, walaupun hanya sebuah semangka saja umpamanya, juga tak boleh dihilangkan!"

Tengah asyik mereka berbicara, sementara itu mereka sudah berhadapan dengan hutan Tjo, tiba-tiba terdengar satu suara teriakan, menyusul dari dalam hutan melompat keluar seorang laki-laki.

Orang ini berdandan sebagai pemain silat, pakaian seluruhnya berwarna kuning Jingga, tangannya mencekal sebatang pedang tajam, begitu melompat keluar segera ia menerjang ke dekat kereta yang memuat semangka itu.

Menampak peristiwa yang mendadak itu, kusir dari kereta yang di depan seketika menjadi kalang kabut, saking ketakutannya, hingga mereka meninggalkan kereta keledai terus angkat langkah seribu.

Melihat keadaan yang tiba-tiba itu, Tji Tjing-hian berniat mencegah, namun sudah terlambat.

Sementara itu beberapa prajurit yang ditugaskan untuk ikut mengawal, waktu mendengar ada ramai-ramai mereka segera memburu datang. Namun belum sampai beberapa abdi negara itu sempat menunaikan tugas mereka, si lelaki tadi tiba-tiba menerjang balik, pedangnya diayun dan diputar dengan cepat, dalam sekejap saja beberapa prajurit itu sudah ditusuk roboh.

Nampak gelagat jelek itu, Tji Tjing-hian masih berusaha menghindarkan pertarungan, segera ia maju ke depan.

"Dengarkanlah Hohan (orang gagah)!" serunya. "Apa yang dimuat kereta kami hanyalah barang-barang yang tak berharga, apabila kau menghendaki mungkin hanya akan membuang tenagamu saja!"

Sembari berkata sambil ia menyingkap kerai kereta, maka segera tertampaklah isi di dalamnya yang memang bukan lain penuh berisi semangka Hami dari Lantjiu.

Akan tetapi lelaki itu ternyata tidak gampang menerima begitu saja, dengan alisnya yang menegak tiba-tiba ia membentak, "Bagus perkataanmu! Nah, kalau memang barang yang tak berharga, baiklah boleh kautinggalkan sekereta saj^, lekas kau tinggalkan kereta nomor tujuh itu dan kamu boleh segera jalan terus!"

Mendengar ucapan itu, le Djan yang masih tetap menjaga di samping kereta ketujuh, ia segera tahu rahasianya sudah terbongkar oleh orang, maka diam-diam ia bersiap sedia.

Sementara itu Tji Tjing-hian pun insyaf keadaan sudah genting, pertarungan susah dielakkan pula, maka toyanya dengan segera sudah ia lorot dari samping kereta.

"Penjahat kurang ajar!" bentaknya dengan gusar. "Kereta ini adalah milik pemerintah, kau berani hendak membegalnya, terang kau sendiri yang mengantarkan jiwamu!"

Habis berkata, segera ia menerjang maju, dengan gaya serangan 'Pek-ljoa-tho-sin' atau ular putih melelet, toyanya terus ia sodokkan ke muka lelaki itu.

Dengan sedikit mengegos sambil tubuhnya sedikit berjongkok, lelaki itu mengelakkan sodokan toya lawan, menyusul itu pedangnya ia angkat terus menyampuk dan menindih ke bawah, namun segera ia dapat merasakan toya Tji Tjing-hian mempunyai tenaga yang tidak lemah, dengan cepat ia menarik kembali senjatanya sambil melompat ke samping, sudah itu pedangnya membalik, dengan tipu 'Tay- peng-tian-sit' atau burung garuda pentang sayap, ia menikam ke samping tubuh Tji Tjing-hian dengan cepat sekali. Lekas Tji Tjing-hian menggeser sebelah kakinya, berbareng itu toyanya ia sabetkan ke samping, dengan demikian terdengar suara beradunya benda keras, pedang lawan dapat ia pentalkan pergi.

Lelaki itu agaknya mengerti telah menemukan tandingan yang memiliki kepandaian toya yang tinggi, maka ia tak berani gegabah, beruntun dan susul-menyusul ia kencangkan senjatanya, ia menusuk, membacok, dan menikam secara bertubi-tubi, sinar pedangnya gemerlapan naik-turun. Akan tetapi Tji Tjing-hian tidak menjadi gugup oleh rangsekan lawan itu, toyanya diputar sedemikian rupa hingga seakan- akan seekor naga hidup yang melingkar di angkasa kian kemari, beberapa kali toyanya beradu pula dengan pedang musuh hingga menerbitkan suara nyaring yang gemerincing.

Dengan ilmu toyanya itu, ia menjaga rapat dirinya, ia mengelakkan setiap serangan senjata lawan. Namun bagi le Djan yang menyaksikan di samping, ia sudah merasa tak sabar.

Tetapi karena ia harus menjaga terus pada keretanya dan tidak ingin mengunjukkan diri. maka dengan seksama ia melihat Tji Tjing-hian sudah menempur musuh sedemikian rupa, namun ia tidak berdaya buat maju membantu.

Dalam pada itu tiba-tiba dari dalam hutan menyambar pula suara angin, berbareng itu meloncat keluar pula seorang.

Waktu ia menegasi, maka yang datang belakangan ini ternyata adalah seorang wanita yang berusia antara 24-25 tahun, kepalanya memakai ikat kain kembang, berbaju hijau dan bercelana hitam, dandanannya kencang sepan, parasnya cantik menarik, agaknya sudah pernah ia jumpai entah dimana, hanya seketika ia tidak ingat.

Begitu melompat, wanita itu sudah sampai di belakangnya Tji Tjing-hian, terus senjatanya hendak membacok ke belakang kepala orang dengan tipu 'Khing-hong-sau-tun' atau menyambut angin menyapu debu. Melihat serangan yang berbahaya itu, le Djan kuatir akan keselamatan kawannya itu, namun dugaannya ternyata meleset. Tji Tjing-hian yang sudah kawakan, ia cukup berpengalaman, waktu mendengar ada suara sambaran angin dari belakang, segera ia memegang toyanya tegak di depan dada. mendadak ia memutar cepat tubuhnya, dengan demikian segera terdengar suara nyaring, senjata-senjata lawan dari muka dan belakang semuanya telah dapat ia tangkis.

Nampak kejadian itu barulah le Djan menghela napas lega.

Sementara itu lelaki dan wanita itu masih terus mengerubuti Tji Tjing-hian dengan hebat. Lama kelamaan Tji Tjing-hian sudah tertampak kewalahan. Ia hanya mampu menangkis saja dan sudah tak sanggup balas menyerang.

Kedua orang yang tiba-tiba menyergap keluar dari hutan ini bukan lain ialah suami istri Yan le-lam.

Sebenarnya menurut rencana mereka bertiga, lebih dulu berniat menghantam roboh dulu salah seorang Popio atau pengawalnya, sesudah itu barulah mereka menyerbu keluar untuk merampas kereta.

Siapa tahu Tji Tjing-hian adalah ahli toya, seketika itu Yan le-lam ternyata tak bisa merobohkannya, akhirnya Hoa-lihiap pun menyergap keluar buat mengembut.

Sementara itu dalam hutan masih bersembunyi seorang.

Teng hong-ko, sudah lama ia memakai kedok kain hitam yang menutupi setengah mukanya, ia lihat iring-iringan kereta yang berhenti di tepi jalan itu, sudah banyak kusirnya yang kabur, hanya tinggal kereta nomor tujuh yang di sampingnya berdiri seorang lelaki berusia sekitar lima puluhan tahun, dengan kedua matanya tajam bersinar ia sedang mengamat-amati pertarungan sengit di antara Yan le-lam bertiga, apabila keadaan menunjukkan berbahaya, tangannya lantas tertampak merogoh ke dalam saku. Hong-ko tahu tentu orang ini ialah le Djan yang berjuluk 'Sip-tiat-hong" atau angin sepuluh kali menjatuhkan, karena ia mengetahui Tji Tjing-hian memakai toya, kini lelaki yang bertangan kosong ini tidak usah disangsikan lagi tentu ialah le Djan.

Dalam pada itu, di sebelah sana Tji Tjing-hian sedang bermandi keringat oleh rangsekan Hoa-lihiap, sedang Yan le- Iam mendadak mendekat ke arah tubuhnya, berbareng itu dengan gerak tipu 'Lok-hoa-tay-sau" atau bunga rontok menunggu disapu, dengan cepat sekali pedangnya menyabet kedua kaki Tji Tjing-hian.

Dalam sekejap itu tampaknya Tji Tjing-hian sudah tidak mungkin menghindarkan diri dari nasib terbuntung kedua kakinya, mendadak telah kedatangan seorang penolong, dua titik bersinar sekonyong-konyong sudah menyambar datang menuju ke arah muka Yan le-lam.

Mendengar berkesiurnya angin, Yan le-Iam mengerti ada senjata rahasia, maka segera ia menarik senjatanya terus melompat ke belakang, dan betul juga, dua senjata pisau kecil laksana kilat sudah menyambar lewat, karena halangan itu maka terluputlah Tji Tjing-hian dari malapetaka.

Laksana anak sapi yang baru dilahirkan yang tak kenal apa artinya takut, Hong-ko yang menyaksikan kejadian itu di tempat persembunyiannya, mendadak melayang keluar, dengan gerakan "Yan-tju-tjwan-liam" atau burung layang- layang menerobos kerai, ia mengunjukkan dirinya keluar hutan, berbareng itu 'Go-bi-djing-kong-kiam' miliknya secepat kilat terus ia bacokkan, dengan tipu 'Lik-bi-hoa-san' atau membelah Hoa-san sekuat tenaga, ia mengarah kepala Ie Djan.

Dengan kesehatannya yang luar biasa itu, tampaknya ia sudah akan berhasil, orang tua itu dengan segera bisa terbelah menjadi dua oleh pedangnya. Tak terduga, orang tua yang seperti tak mengetahui ada orang hendak membokong padanya itu, tiba-tiba mengibaskan lengan bajunya yang terbikin dari kain kasar belacu itu, dengan kibasan itu ujung pedang Hong-ko yang semestinya sudah hampir mengenai sasaran, tiba-tiba terpental pergi oleh satu kekuatan yang sangat besar, bahkan tubuhnya pun ikut tergetar pergi hingga beberapa tindak.

"Penjahat cilik berkedok, dengan diam-diam kau hendak menyergap, siapa suruh kau begitu tak tahu aturan!" dengan tertawa cekikikan Ie Djan mengejek.

Keruan saja Hong-ko menjadi murka. "Nanti kucabut jiwamu yang tua bangka ini!" bentaknya.

Berbareng itu ia melangkah maju lagi, kali ini ia memutar pedangnya dengan ilmu 'Go-bi-hing-liong-kiam-hoat' yang hebat sekali, angin senjatanya menyambar dan sinar pedangnya gemerlapan.

Akan tetapi Ie Djan pun tidak kalah hebatnya, tubuhnya melayang pergi datang dengan cepat sekali, beberapa kali Hong-ko membacok atau menikam, namun tetap mengenai tempat kosong saja.

Lambat laun Hong-ko menjadi tak sabar, tiba-tiba dengan tipu serangan 'Djong-liong-sing-thian' atau ular naga naik ke langit, senjatanya memapaki Ie Djan terus membabat.

Dalam sekejap itu tertampak Ie Djan sedikit berjongkok, kemudian tiba-tiba kain bajunya melibat pula, dengan sekali putaran cepat seperti kitiran, pedang Hong-ko ternyata sudah dikibas pergi bahkan orangnya pun hampir terjungkal jatuh.

Sementara itu Ie Djan tidak berhenti sampai di situ saja, ia melangkah maju menyusul sampai di depan Hong-ko, begitu bergerak dengan gerak tipu 'Hun-liong-tam-djiau' atau naga mengulur cakar dari awan, secepat kilat tangan kanannya terus me-rangsek ke atas pundak Hong-ko. Dalam pada itu Hong-ko masih belum sempat menancapkan kakinya ke bawah, maka susah untuk menghindarkan diri dari rangsekan yang ganas itu.

Selagi dalam keadaan terancam bahaya, beruntung tiba- tiba ada sambaran angin pedang yang sampai pada pihak lawan juga-

"Lihat pedang nyonyamu!" demikian terdengar satu suara gertakan nyaring.

Kiranya Hoa-lihiap yang menampak Hong-ko berada di bawah ancaman bahaya dari tangan 'Sip-tiat-hong', dengan cepat ia memburu maju buat menolongnya.

Mengerti dirinya dibokong, lekas le Djan mengurungkan serangannya, ia mengegos ke samping dan melangkah minggir, sesudah itu ia mengubah tipu serangan menjadi gerak 'Yap-te-tau-hoa' atau mencuri bunga dari bawah daun. Ia merangsek maju buat merebut senjata musuh.

Akan tetapi dalam sekejap itu, bayangan orang berkelebat dengan gerakan 'Hi-djiok-tiau-ki' atau burung kutilang melompat ke cabang pohon lain, dengan cepat sekali Hoa- lihiap sudah melayang sampai di samping tubuh Ie Djan lagi dan terus menikam dengan pedangnya.

Tidak ayal lagi segera Ie Djan membalikkan badan dan mengibaskan lengan bajunya sekuat tenaga.

Namun Hoa-lihiap pun tidak gampang diingusi, ia cukup sebat dan tahu gelagat, dengan kegesitannya ia menghindarkan sampukan lawan, lalu ia mencari kekosongan pihak lawan dan tiap kali lantas menyerang lagi.

Seketika itu di luar hutan Tjo terjadi pertempuran yang seru, di sebelah sana pedang Yan Ie lam pelahan-lahan sudah dapat menguasai toya Tji Tjing-hian.

Sedang di pihak sini, 'Sip-tiat-hong' Ie Djan meladeni musuhnya dengan tangan kosong, mulanya dengan kesehatannya ditambah dengan tujuh puluh dua gerak pukulan Kim-na-djiu yang lihai, ia gabungkan dengan Lwekang yang sempurna, di-mana kain bajunya menyabet dan menggulung, bila tersentuh pasti akan terlempar pergi.

Dengan sekuat tenaga Hoa-lihiap coba menempur lawannya, namun sedikitpun ternyata ia tidak lebih unggul, maka ia harus lebih waspada dan bertahan terus.

Semula Hong-ko berdua Hoa-lihiap mengerubuti Ie Djan, tapi setelah Hoa-lihiap mengedipi padanya, segera ia mengerti akan maksudnya, dengan cepat ia sudah melompat keluar dari kalangan pertempuran untuk mengamati kereta keledai ketujuh tadi.

Selagi keadaan masih belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir, tiba-tiba keledai yang menarik kereta telah berlarian ketakutan, menyusul mana dari atas bukit menerjang turun seorang wanita berkedok yang menutupi setengah mukanya, tangannya mencekal pecut panjang yang tiada hentinya diayun dan disabetkan. Roda-roda kereta di tepi jalan apabila kena libasan pecutnya segera kena dijungkir-balikkan hingga barang muatannya bersebaran.

Keruan saja keadaan yang kacau-balau ini membikin rombongan keledai menjadi ketakutan hingga kedua kupingnya berdiri tegak dan mendengking terus berlari sekenanya.

Walaupun demikian Hong-ko masih dapat melihat dengan jelas bahwa wanita yang menerjang datang ini walaupun tertutup separuh mukanya, namun dari perawakan dan parasnya yang menarik, terang adalah seorang gadis yang cantik.

Tertampak ia memakai baju hijau muda yang sepan, celana sempit model jengki dan sepatu kulit, di pinggangnya bahkan masih terselip pula sebatang pedang pendek. Pecut di tangannya yang panjang dimainkan sedemikian rupa laksana naga hidup, yang paling menakjubkan ialah begitu ujung perutnya melilit baik kereta maupun kuda dan manusia, pasti tidak ampun lagi segera terbanting pergi, maka keruan saja seperti terluang satu jalan kosong di tengah, ia terus menuju ke jurusan dimana Ie Djan berada.

Sementara itu Ie Djan sendiri lagi repot menghadapi Hoa- lihiap, mendadak ia lihat pecut panjang itu menyabet ke arahnya, lekas ia enjot tubuhnya terus meloncat naik ke atas. berbareng itu lengan bajunya ia kibaskan, ia sampuk pergi ujung pecut orang.

Tak terduga gadis itu sekonyong-konyong membaliki tangannya, pecutnya melingkar dan diulur, dengan gerakan 'Boan-long-kui-tong' atau ular naga kembali ke goa, tiba-tiba pecutnya menyabet pula ke bawah, ia mengarah kedua kaki lawan.

Lekas le Djan melompat menghindarkan bahaya pula, akan tetapi di samping itu Hoa-lihiap pun tidak mau tinggal diam, ia ambil kesempatan itu dengan tipu 'Ong-bo-hut-siu' atau Ong- bo mengibaskan lengan baju, ia menusuk dari samping.

Dalam keadaan demikian ini, mau tak mau le Djan rada kalang-kabut, terpaksa ia harus mengadu jiwa, bukannya ia mundur, sebaliknya ia melangkah maju, dengan tangan kanan mendadak meraup ke atas, ia memakai gerak tipu 'Sian-kok- tjin-yok' atau bidadari menyuguh minuman, segera ia hendak merebut senjata orang.

Untuk menghindarkan agar senjatanya tidak terjatuh ke dalam tangan musuh, dengan cepat Hoa-lihiap terus menarik pedangnya, namun gadis tadi sudah mendahuluinya, pecutnya sudah kembali menyabet pula, dengan demikian ancaman bahayanya telah tertolong. Dikeroyok secara begitu, kini le Djan didesak hingga terpaksa terus mundur, tak berani ia mencoba tersentuh oleh pecut lawan.

Kiranya le Djan yang telah melatih Lwekangnya selama beberapa puluh tahun, yang paling lihai ialah bajunya yang terbikin dari kain belacu kasar yang dipakainya itu, pada waktu badannya berputar cepat, dimana lengan atau ujung bajunya mengibas, maka sama seperti pisau yang mengiris tajam, bahkan tenaga dalamnya pun ikut terbawa keluar, begitu senjata musuh menempel kain bajunya, dengan segera juga bisa tergetar pergi, oleh karena itulah maka ia berjuluk 'Sip-tiat-hong' dan Lwekangnya 'Tjim-ie-sip-pat-tiat' atau menyenggol baju terjatuh delapan belas kali, yang sangat susah dilatih dalam dunia persilatan, bukan lain ialah kepandaiannya yang paling dikagumi orang. Suatu tanda juga bagaimana kekuatan yang ada pada kain bajunya tidak dapat dipandang enteng.

Dengan mengandalkan kepandaiannya itu, biasanya tidak pernah ia membawa senjata, ia hanya melayani musuh dengan tangan kosong bersama dengan kepandaiannya yang lain terdiri dari tujuh puluh dua pukulan Kim-na-djiu.

Cuma saja ilmu Lwekangnya 'Tjim-ie-sip-pat-tiat' ini masih ada cirinya juga, yaitu tidak takut pada benda keras, tetapi takut pada benda lemas, senjata golok atau pedang dan sebang-sanya begitu tersentuh oleh bajunya dengan segera bisa tergon-cang pergi, tetapi sebangsa pecut yang lemas dapat menggulung dan melibat, ditambah lagi kalau pemakainya golongan ahli, maka tak mungkin ia bisa mendapat keuntungan.

Kini dengan pecut si gadis tadi yang cukup lihai saja sudah membikin dirinya menjadi kerepotan, apalagi ditambah pula dengan seorang Hoa-lihiap, pedangnya yang tidak pernah kendor senantiasa mengurung padanya juga. Dengan demikian maka keadaan lantas banyak berlainan, kini ia harus bertahan dengan mati-matian dan pelahan-lahan sudah berada di pihak yang keteter.

Dalam pada itu Hong-ko sendiri yang tidak ikut bergebrak, ia lihat pada iringan kereta yang ada di depan. Binatang penariknya masih tetap berdiri di tempatnya, tiba-tiba pikirannya tergerak, dengan diam-diam ia melompat ke atas kereta nomor tujuh, segera ia tarik tali kendali sambil mulurnya menyentak, keruan saja keledai itu menjadi kaget dan segera kabur ke depan.

Melihat kejadian itu le Djan berusaha untuk mengejarnya, namun dengan beberapa kali tusukan, Hoa-lihiap membikinnya tak berdaya buat meloloskan diri.

Di sebelah sana Tji Tjing-hian pun bermaksud hendak mencegat, ia serampangkan toyanya kepada Yan Ie-lam, menyusul itu ia terus menjugil ke atas, dengan gerakan seperti orang berlari, ia tarik toyanya terus mengudak sampai di tepi kereta Hong-ko, ia mengangkat toyanya terus hendak mengemplang.

Tak ia duga, Hong-ko ternyata cukup tangkas, matanya tajam dan gerakannya cepat, mendadak ia berputar terus tangannya mengayun, secepat kilat ia membidikkan dua butir Thi-wan atau pelor besi.

Sama sekali Tji Tjing-hian tidak menyangka pemuda kita masih memiliki kemahiran itu, hendak berkelit saja sudah terlambat, di antara sambaran sinar yang mengkilap, segera terdengar jeritannya, toyanya terlempar jatuh dan tangannya sudah kena tertimpuk oleh pelor besi Hong-ko hingga patah tulang pergelangan tangannya.

Tanpa menoleh lagi, dengan mengemudikan kereta keledainya, Hong-ko melarikan kereta itu, bahkan ia mengayun pecut untuk mempercepat kaburnya, ia membelok ke simpang jalan sebelah selatan, di antara debu yang mengepul tebal, tidak berselang lama ia sudah menghilang.

Menyaksikan sendiri kaburnya Hong-ko dengan menggondol kereta kawalannya, tak tertahan lagi le Djan menjadi murka.

"Kamu sekalian penjahat ini, berani kamu membegal kereta milik Sun-bu Taydjin!" gertaknya kepada Hoa-lihiap.

Agaknya ia menjadi gusar dan membentak dengan menger- tak gigi, adalah tidak demikian dengan Tji Tjing-hian, ia kini telah angkat langkah seribu terbirit-birit, di belakangnya terlihat Yan le-lam sedang mengejarnya.

Kiranya sesudah tulang tangannya terpukul patah oleh pelor besi Hong-ko dan toyanya sudah terebut pula oleh Yan Ie-lam, maka tak sanggup ia bertempur terus, terpaksa ia kabur menyelamatkan jiwanya sendiri.

Melihat dirinya ditinggal begitu saja, mau tak mau le Djan menjadi gugup, masih mendingan kalau ia tetap tenang, tetapi karena kegugupannya itu, mendadak pecut si gadis berkedok tadi sudah mampir ke tubuhnya dan segera ia dilempar pergi. le Djan terhuyung-huyung sempoyongan, beruntung ia pernah berlatih Gwa-kang 'Djian-kin-tui' yakni kepandaian berkuda dengan kokoh kuat, maka tidak sampai terjungkal jatuh.

Selagi Hoa-lihiap hendak mempergunakan kesempatan itu untuk maju menikam padanya, tiba-tiba dari hutan meniup angin aneh yang santar hingga daun-daun pohon banyak tertiup rontok, dalam sekejap itu sekonyong-konyong di depan mereka muncul seorang imam tua yang memakai pakaian pertapa, ia berjenggot hitam yang bersilang tiga, kedua matanya tajam bercahaya. Sekali imam tua itu menggeraki kebut pertapanya, seketika itu juga pedang Hoa-lihiap sudah tergoncang dan terpental.

Melihat istrinya diserang, dengan menggunakan toya yang baru ia dapat merebut, Yan le-lam menubruk maju terus me- nyerampang ke bawah orang. Akan tetapi kembali imam tua itu mengayun kebutnya ke bawah, segera Yan le-lam merasakan cekalan tangannya kaku kesemutan dan toyanya tak bisa ia kuasai lagi dan terjatuh. Melihat imam tua itu sekaligus berhasil membikin tak berdaya kedua orang itu, gadis berkedok tadi pun tidak tinggal diam, ia berputar, pecutnya bekerja lagi, dengan cepat lagi kuat ia menyabet muka si imam tua.

Menghadapi serangan itu, si imam tua ternyata hanya tertawa saja, ia mengayun kebutnya memutar juga, dengan segera pecut panjang itu menempel pada kebutnya, hendak ditarik saja sudah tak bisa terlepas, ternyata imam tua itu telah mengunjukkan tenaga dalamnya melalui kebut hingga membikin pecut yang menempel itu terombang-ambing, sampai-sampai si gadis sendiri tak urung ikut tergoncang.

Lekas ia melolos pedang pendeknya yang terselip di pinggang, segera ia memotong pecutnya sendiri, berbareng itu ia melompat pergi, kemudian dengan mata tanpa berkedip ia memandang si imam dengan tercengang.

"Nona manis, kau tidak lebih hanya memiliki kepandaian setingkat cucu muridku, berani juga kau unjukkan di hadapan kau punya Toaya!" dengan tertawa imam tua itu menyapa.

Akan tetapi tanpa berkata-kata pula, mendadak dengan cepat gadis berkedok sudah mengenjot tubuhnya melayang pergi, dalam sekejap saja ia sudah sampai di atas bukit dan terus menghilang.

le Djan masih mencoba hendak mengudak, namun segera ia ditahan oleh si imam.

"Sudahlah tak usah mengejar," seru imam itu. "Ia adalah keluaran dari perguruan Pin-to, ia bukan lain ialah Giok-bin- yao hou, biarkanlah ia pergi!"

Karena keterangannya itu, bukan saja le Djan, bahkan Yan Ie-lam suami isteri pun ikut terkejut. Sedang mereka terkesima, sekonyong-konyong Ie Djan sudah menubruk maju lagi, ia mengulurkan jari tangannya hendak menjambret.

Dengan sebat Hoa-lihiap menyambut serangan itu, pedangnya berkelebat, dengan gerakan 'Tok-liong-djut-tong' atau naga garang keluar dari goa, secepat kilat ia memutar ke belakang le Djan terus membacok.

Mendengar adanya sambaran angin, le Djan insyaf adanya bahaya, tangannya membalik untuk meraup, segera ia meninggalkan Yan Ie-lam.

Dengan serangannya tadi memang Hoa-lihiap bertujuan untuk meringankan suaminya dari tekanan musuh, kini melihat Yan Ie-lam sudah terlolos, dengan segera ia berkelit menghindarkan raupan orang, berbareng itu senjatanya ia ubah pula, ia menusuk lagi ke sebelah bawah musuh. Dalam pada itu si imam tua tadi masih tetap berdiri di samping, ia hanya menonton dan tidak turun tangan membantu.

"Entah manusia macam apakah imam ini, asalkan Hong-ko berhasil, jalan satu-satunya paling baik ialah kabur saja!'" begitu pikir Yan Ie-lam.

Segera ia memberi tanda pada isterinya, kemudian mereka berbareng terus meloncat pergi hendak angkat kaki. Akan tetapi belum sampai mereka melangkah jauh, mendadak pula bayangan orang berkelebat, si imam tua tadi ternyata sudah menghadang di depan mereka. 

"Jangan kamu coba lari!" serunya.

Menyusul itu kebutnya disabetkan ke depan.

Yan Ie-lam berdua tak sanggup berdiri tegap di tempatnya, untuk menghindarkan kebutan yang lihai itu. mereka melayang pergi beberapa tindak, namun Tosu tua itu selangkah demi selangkah mendesak maju pula. Mereka mencoba lagi kabur dengan cepat, tetapi tidak dinyana, kembali imam itu mendahului pula mencegat di depan dengan kebutnya diayun-ayunkan.

"Lekas kalian menyerah saja!" terdengar pertapa itu membentak.

"Celaka kali ini!" pikir suami isteri Yan Ie-lam dalam hati.

Ketika keadaan sangat membahayakan mereka, tiba-tiba terdengar suara kelenengan kuda yang berkumandang menggema, dalam sekejap saja pendatang itu sudah muncul di depan mereka, di atas kuda ternyata menunggang seorang wanita muda yang berdandan ringkas, pakaiannya kuning Jingga dengan ikat pinggang merah, sepatunya tipis enteng, usianya ditaksir belum dua puluh tahun, parasnya cantik dan sikapnya gagah. Dengan sekali melompat, wanita itu turun dari kudanya

"Hian-hong Totiang, tahan dulu!" terdengar ia berseru. Mendengar namanya disebut, imam tua itu jadi merandek,

ia mengamati wanita muda itu.

"Apakah nona adalah Ang-koh dari Pek-lian-hwe?" tanyanya.

Gadis itu tidak menjawab, ia melirik pada Yan Ie-lam berdua, lalu matanya mengedip dengan maksud agar si imam itu tidak menyebut asal-usul dirinya. Rupanya Tosu tua itu mengerti, segera ia ubah lagunya.

"Ang-koh, ada keperluan apakah kedatanganmu ini?" tanyanya.

"Hian-hong Susiok, harap kau lepaskan kedua orang ini, sesudah itu baru kita bicarakan!" sahut si gadis dengan lemah lembut.

Akan tetapi Ie Djan malah tampil ke muka. "Kedua orang ini adalah perampok yang membegal kereta pemerintah, Sun-bu Taydjin pasti akan menangkapnya, harap nona jangan melepaskan mereka!" katanya.

Mendengar ucapannya itu, bukannya si gadis menurut, malah sebaliknya ia menjadi gusar, alisnya yang lentik menjadi berdiri "Siapa kau?" dampratnya sambil menuding Ie Djan. "Kau berani ikut campur urusan nonamu? Lekas enyah dari sini!"

Ie Djan tergolong tokoh yang ternama di kalangan persilatan, keruan saja ia tidak mandah digertak orang secara begitu, kontan tangannya segera memukul. Namun dalam sekejap itu, tangannya yang baru diulur mendadak terasa dibentur orang, ternyata Hian-hong Totiang yang melompat maju menyengkelit pukulannya ke samping.

"Ie-laudji jangan gusar dahulu," ujarnya cepat. "Nona ini bukan orang sembarangan, jangan kau bikin susah padanya."

Habis itu ia menarik orang ke dekatnya dan membisiki telinganya.

Semula dari muka Ie-Djan tertampak kegusaran, tetapi setelah dibisiki, seketika parasnya berubah, ia pandang gadis itu dengan sinar mata yang menunjukkan terkejut dan heran.

"Kini kereta nomor tujuh itu sudah kena dirampok orang," terdengar Hian-hong Totiang berkata pula kepada Ie Djan. "Sayang Pin-to masih ada keperluan lain, hari ini tak bisa membantu kau menyelidikinya, lebih baik kau terus menggiring iringan kereta ini kembali ke Tjelam, coba lihat bagaimana kemauan Tam-taydjin, sudah itu baru kita ambil tindakan lebih jauh!"

"Totiang hendak kemana?" Ie Djan bertanya.

"Pin-to ada perjanjian penting dengan Ang-koh, lewat beberapa hari lagi tentu aku akan memberi kabar padamu!" sahut si imam. Dengan mata memandang si imam, Ang-koh menyusup ke dalam rimba dengan ilmu mengentengkan tubuh yang lihai, baru setelah itu Ie Djan kembali memeriksa iringan keretanya.

Ia lihat Tji Tjing-hian lagi mendeprok duduk di tepi jalan, waktu ia memeriksanya, ternyata lukanya tidak begitu berat, hanya tulangnya saja yang patah terbidik pelor besi. ia membalut lukanya, habis itu segera ia mengumpulkan kusir dan binatang-binatang penariknya, kemudian iringan kereta melanjutkan pula perjalanan mereka.

Sementara itu, sesudah Hong-ko dapat melarikan kereta keledai nomor tujuh, dengan cepat ia kabur menuju ke jurusan selatan, setelah lewat setengah jalan, ternyata tiada yang mengejar, maka ia melambatkan perjalanannya. Di mukanya kini ada sungai kecil terlihat menghadang, ia menyusur mengikuti tepi sungai, ternyata di sekitarnya adalah hutan yang lebat.

Hong-ko menghentikan keretanya di tepi sungai, ia menyingkap kain minyak yang menutup isi muatan kereta dan diperiksanya, memang betul juga penuh terisi semangka sekira enam hingga tujuh puluh buah. Dengan cepat ia menggelar kain minyak di atas tanah rumput, ia membongkar semangka itu, semua ia taruh di atas kain minyak itu, dalam sekejap saja kereta itu sudah kosong.

Menyusul itu ia mencabut belatinya, ia tikam bokong keledai kereta itu. keruan saja binatang itu mendengking terus berlari kesakitan, Hong-ko menyusul dengan cepat di belakang kereta, ia tunggu setelah kereta itu tiba sampai di dataran tepi sungai yang agak tinggi, mendadak dengan cepat sekali ia mendorong kereta ke samping menuju ke sungai, karena tak bisa menguasai berat kereta, seketika itu juga keledai itu ikut tergelincir masuk ke dalam sungai. Waktu itu arus air sungai cukup deras, maka tanpa ampun lagi kereta itu hancur lebur dan binatang itu pun hanyut terbawa arus air. Hong-ko kembali ke tempatnya tadi, ia menyeret semangka yang terbungkus dengan kain minyak itu ke dalam hutan.

Pada suatu tempat yang lebat dengan rumput, Hong-ko membuka kain minyak, dengan teliti ia memeriksa semangka itu satu persatu, akan tetapi tiada sesuatu tanda rahasia yang dapat diketemukan.

Tetapi dasar memang dia termasuk anak cerdik, ia teringat pada waktu Gui Djing-si berhasil menggondol sebutir mutiara mestika, dan kabur di antara api yang berkobar, namun api itu ternyata tidak terpengaruh oleh mutiara yang ia gondol itu, maka dapat dipastikan bahwa mutiara yang direbutnya itu tentu bukan Pi-hwe-tju atau mutiara anti api.

Kini ketinggalan dua buah mutiara yang lain, di antaranya tentu adalah Pi-hwe-tju. Oleh sebab itu, segera ia mendapat akal untuk menjajalnya, ia mengumpulkan banyak batang kayu kering dalam hutan itu dan ditumpuk, sesudah itu ia mengeluarkan batu apinya dan terus dinyalakan.

Dalam sekejap saja api telah berkobar. Dengan berdiri di pinggir Hong-ko menggelundungkan semangka-semangka itu satu persatu ke dalam gundukan api. Dengan perbuatan itu sebenarnya harapannya pun hanya setengah bagian saja, karena di antaranya masih ada sebutir mutiara yang bukan mutiara anti api, oleh karena itu, ada kemungkinan ia akan kecewa.

Namun sesudah beberapa puluh buah semangka ia lemparkan ke gundukan api, sekonyong-konyong sebuah di antaranya setelah menggelundung sampai ke dalam api, gundukan api itu seperti kena ditiup angin santar, dalam sekejap mata api itu sirap seluruhnya, bahkan lelatu api saja lenyap.

Bukan main girang Hong-ko, dengan sekali lompat ia menyambar semangka itu terus dibawa lari masuk ke dalam hutan yang lebih jauh, sudah itu baru ia letakkan kembali buah semangka tadi, ia memeriksa dengan teliti, tiba-tiba ia menyentuh pada bongkolnya yang rasanya sekeras besi, waktu ia menegasi, ternyata adalah punggur buatan dari kayu. Tidak ayal lagi, segera ia mencabut belatinya dan membelah semangka itu, ia lihat pada punggurnya bergandengan dengan sebuah bumbung perak yang menancap masuk ke dalam daging semangka.

Bumbung perak itu panjangnya kira-kira dua senti dan terbikin bagus sekali, kalau diletakkan dalam tangan, maka segera terasa dalam bumbung ada sesuatu barang yang menggelundung dan berputar, ternyata bumbung itu dibikin secara sambungan dan bila diputar segera terbuka.

Waktu bumbung itu dibuka, maka pandangan mata Hong- ko seketika menjadi silau oleh pancaran sinar putih gemerlapan, di depan matanya ternyata adalah sebutir mutiara yang bundar bersih dan menarik, memang betul sebutir mutiara yang jarang terdapat di jagad ini.

Maka lekas ia memasukkan kembali mutiara itu ke dalam bumbungnya, dengan hati-hati ia menyimpannya di dalam saku. Selagi ia hendak pergi, tiba-tiba terdengar dari kejauhan suara tindakan orang mendatangi. Ia segera berjongkok dan menempelkan kupingnya ke tanah untuk mendengarkan, namun hanya suara tindakan seorang saja, ia menduga tentu bukan Yan le-lam suami isteri berdua yang telah kembali, lekas ia membikin kusut rumput yang telah ia injak-injak, kemudian ia memanjat ke atas pohon, ia menyembunyikan diri di antara dedaunan yang lebat untuk mengintip siapa gerangan yang datang. Di bawah pohon muncul seorang gadis berkedok yang sudah ia kenali, gadis ini bukan lain adalah gadis yang menggunakan pecut untuk menem-pur le Djan tadi.

Hong-ko heran bagaimana ia bisa datang menyusul. Melihat tindakannya tadi yang membantu Yan Ie-lam berdua melawan pihak musuh, apakah ia pun Liok-lim Enghiong dari tepi Hong- ho? Sementara itu si gadis ternyata tidak mengetahui bahwa di atas pohon bersembunyi seseorang, ia lewat begitu saja di bawahnya. Hong-ko menunggu setelah suara tindakan kakinya sudah pergi jauh barulah ia melompat turun. Ketika itu cuaca sudah sore, ia berjalan keluar dari hutan itu, ia mengenali tempat ini tidak jauh dari Yang-ko-koan, dengan menumpang kapal dari Un-ho (Terusan Besar), ia bisa kembali sampai di Mo-dji-tje.

Waktu itu adalah permulaan musim semi, kedua tepi terusan itu penuh melambai pohon Yang-liu yang tertiup angin. Menurut ceritera, waktu Kaisar Sui-yang-te menggali terusan besar ini, ia telah memerintahkan menanam rapat kedua tepi sungai dengan pohon Yang-liu dan menyuruh para Kiongli menyusur tepi terusan, sampai kini, kedua tepi terusan masih tetap tumbuh lebat pohon Yang-liu itu hingga banyak meringankan orang-orang yang berjalan di bawahnya dari terik sinar matahari.

Kapal yang Hong-ko rumpangi adalah sebuah perahu kecil yang hanya memuat dia seorang diri, setelah hari gelap, perahunya singgah pada suatu muara sungai yang berdekatan. Dalam pada itu di samping perahunya, terlihat sebuah kapal layar yang cukup besar dan bersusun sedang membuang sauh.

Hong-ko tidak memperhatikan kapal layar itu, ia menyembunyikan diri dalam ruangan perahunya sendiri dan dari jendela ia melihat pemandangan yang indah di luar.

Suasana malam sunyi senyap, kapal layar di sebelahnya itu sudah menyalakan lampu yang bersinar terang menyorot ke permukaan air yang bergoyang.

Tiba-tiba daun jendela dari ruangan bersusun kapal layar itu terbuka, seorang gadis muda menongolkan setengah mukanya, terlihat ia bermata jeli dan beralis lentik, parasnya cantik molek, di pinggir gelungannya tersunting setangkai bunga cempaka. Tetapi dari sinar matanya yang tajam tertampak mengandung kebengisan.

Sementara itu terlihat ia lagi memandang ke daratan, habis itu lantas ia menutup kembali daun jendelanya. Oleh pandangan sekilas itu, Hong-ko berdenyut hatinya, entah mengapa mendadak ia menjadi berdebar-debar, ternyata sepasang mata si gadis itu entah sudah pernah ia lihat, hanya seketika ia tidak ingat dimana?

Namun sebentar kemudian segera ia menertawai dirinya sendiri yang terlalu perasa, sedang paras muka orang saja belum jelas terlihat, bagaimana boleh jadi sudah pernah ia ketemukan. Ia berniat tidur, tetapi bagaimanapun ternyata tak bisa nyenyak, di pinggir telinganya seperti terdengar angin sepoi-sepoi mendesir di tepi sungai, mirip seperti desiran angin baju orang jalan malam.

Ketika Hong-ko mengintip, ia lihat di antara pohon Yang-liu itu berkelebat bayangan orang dengan cepat sekali sedang melayang turun ke ruangan kapal sebelah, sekilas terlihat juga yang datang itu ternyata adalah seorang imam, keruan saja seketika itu Hong-ko ternganga.

"Apakah mungkin orang ini hendak mencelakai wanita di kapal sebelah itu?" pikirnya dalam hati.

Karena keheranannya itu, ia melongok keluar untuk memandang ke ruangan kapal tetangganya, ia lihat dari jendela tetap memancar keluar sinar lampu masih seperti tadi, tiada tanda-tanda terjadi sesuatu yang mencurigakan.

"Aku hanya kebetulan lewat di sini saja, lebih baik tak usah mengurusi persoalan orang lain!" pikirnya.

Akan tetapi selagi ia berpikir, tiba-tiba kembali terdengar suara air yang meriuh seperti orang sedang mencipratkannya.

Waktu Hong-ko berpaling ke belakang perahunya, terlihat olehnya di atas sungai sedang meluncur datang sebuah perahu kecil secepat terbang, di atas perahu itu berdiri seorang.

Yang mengherankan ialah tiada sesuatu alat pengayuh pada dirinya, melainkan ia hanya mementang kedua tangannya dan mengibaskan lengan bajunya, dengan begitu sang perahu meluncur laju ke depan menuju ke kapal layar yang beruangan susun itu, dalam sekejap saja perahu itu sudah datang mendekat, yang berdiri di atasnya itu ternyata adalah seorang kakek, tertampak ia hanya sedikit mengenjot, segera sudah berada di atas kapal layar itu terus masuk ke dalam.

Sudah tentu peristiwa itu makin membikin Hong-ko ter- heran-heran, ia mengerti yang berada di dalam kapal layar sebelah itu pasti bukan manusia sembarangan, boleh jadi adalah tokoh dari kalangan Kangouw juga, mungkin berurusan sesuatu perdagangan hingga berkumpul di sini. Sebenarnya peristiwa yang belakangan ini tidak begitu menarik perhatiannya, yang paling menarik dan menggoncangkan pikirannya ialah si gadis dalam kapal itu. Tapi gadis itu hanya menonjolkan setengah mukanya, tetapi itu saja sudah cukup membikin goncang hatinya. Dari sinar mata si gadis itu mendadak membikin ia teringat pada kawan ciliknya di masa anak-anak, walaupun parasnya mungkin telah berubah, tetapi kejadian-kejadian pada masa anak-anak.

Satu persatu telah terbayang kembali, suara dan tertawa Pek Eng-dji sekejap itu telah terkenang dalam hati sanubarinya.

Hong-ko tak sanggup menahan perasaannya yang berdebar-debar itu, ia berbangkit dan berdandan ringkas, ia melihat tukang perahu sudah menggeros tidur di belakang, pedangnya ia selipkan di punggungnya dan terus melompat keluar dengan enteng. Segera ia menggelantungkan tubuhnya di kapal sebelah, ia merembet sampai di ruangan susun sebelah atas dan memandang ke dalam melalui sela-sela jendela.

Akan tetapi apa yang ia lihat segera membikin ia terkejut.

Yang berada di dalam kapal itu ternyata ada lima atau enam orang dan sedang berduduk mengitar, di tengah berduduk seorang yang bukan lain ialah gadis yang tadi melongok keluar jendela.

Di kedua samping gadis itu duduk seorang Tosu atau imam tua dan seorang kakek, yaitu orang yang tadi meluncur datang dengan perahu.

Seterusnya masih ada pula tiga orang, kesemuanya mengenakan baju yang berbelahan miring dan rambutnya diikat ke atas, dandanan mereka rada aneh.

"Sian-koh, apakah malam ini Hian-hong Totiang tidak datang?" sementara itu terdengar si imam tua bertanya.

"la bukan orang dari golongan agama kita, biarlah ia tak usah hadir, cuma hari ini ia telah membuang satu kesempatan baik begitu saja!" terdengar si gadis menyahut.

"Apa Sian-koh maksudkan ia tidak bersedia ikut membantu Tjin-tju (Tuhan) kita?" si kakek bertanya.

"Bukan," jawab si gadis menggeleng kepala. "Aku maksudkan apa yang disebut tentang 'Thian-hu' tadi. ialah sudah kena tercuri oleh Bun Sui-le, si siluman perempuan itu, hari ini Hian-hong Totiang berjumpa dengan siluman itu dan telah melepaskan dia begitu saja, sungguh sayang!"

"Sian-koh (nona dewi), mungkin Hian-hong Totiang tidak mengetahui akan kejadian itu, maka ia membiarkannya pergi begitu saja!" terdengar laki-laki lain menimbrung.

"Mungkin begitulah," angguk si gadis. "Tetapi kini ia berjanji hendak pergi menyusul siluman perempuan itu." Hong-ko yang menggantung di luar; mendengar tiap percakapan itu dengan jelas, keruan saja ia bermandi keringat dingin saking kagetnya.

la terkejut dan heran karena gadis yang disebut 'Sian-koh' itu, parasnya mirip sekali dengan kawan kecilnya, Pek Eng-dji, lagi pula logat kata-katanya pun seperti dari daerah selatan, tetapi bagaimana ia bisa dipanggil 'Sian-koh'? Apa mungkin ia sudah menjadi seorang pemimpin wanita dari sesuatu golongan agama?

Karena pikirannya itu, tanpa terasa ia menghela napas pc- lahan. Akan tetapi walaupun pelahan, namun segera ia sudah diketahui orang.

"Ada mata-mata!" terdengar orang berteriak, dan menyusul itu sinar lampu segera padam.

Namun Hong-ko pun cukup sebat, dengan cepat sekali ia meloncat kembali turun ke perahunya sendiri dengan gerakan "Ning-yan-kui-tjau' atau burung layang-layang kembali ke sarang, sudah itu segera pula ia menyulusup masuk ke ruangan perahu dan menarik selimutnya terus berpura-pura tidur.

Perbuatannya itu ia lakukan dengan gesit dan cepat, maka tidak menimbulkan suara sedikitpun.

Sementara itu ia mendengar di luar beberapa kali suara menyambar, ia mengetahui ada orang dari kapal sebelah itu juga mencelat keluar buat mengejar, tetapi kesemuanya menuju ke daratan.

Tiada antara lama, di depan perahunya seperti ada sedikit suara. Hong-ko berpura-pura menggeros, segera seperti ada orang yang melongok ke dalam perahunya melalui perahu ikan yang berada di samping lain, namun dalam sekejap saja sudah menghilang. Selang tak lama kemudian kapal di sebelah keadaannya sudah kembali sunyi senyap, dengan selamat Hong-ko menghindarkan bahaya itu, ia tertidur tanpa kuatir. Ketika kemudian ia dibangunkan oleh tukang perahu, cuaca ternyata sudah terang, waktu ia melongok lagi keluar, maka kapal tetangganya semalam itu kini sudah lenyap, entah menuju kemana.

Sejak itulah, dalam kalbu Hong-ko terukir sesosok bayangan yang susah untuk dilupakan, dan perahunya terus melanjutkan perjalanan menuju ke utara.

Beberapa hari kemudian, ia kembali sampai di Mo-dji-tje.

Waktu ia hampir sampai di pintu benteng mereka dahulu, tiba-tiba dari tepi jalan melompat keluar dua orang, ketika ia tegasi, ternyata bukan lain ialah Yan le-lam suami-isteri.

Mereka girang sekali bisa bertemu kembali dengan Hong-ko.

"Teng-hengte (saudara), lama sudah kami menantikanmu!" seru Yan-le-lam kegirangan. Habis berkata, ia menarik Hong- ko dan membelok masuk ke dalam rimba.

Atas perbuatan orang itu, Hong-ko menjadi terheran-heran. "Mengapa kita tidak kembali ke dalam benteng saja?"

tanyanya segera.

"Di sana sudah mengalami malapetaka, Liok Ing dan Mo Djit berdua sudah tewas, kami berdua menanti di sini perlunya adalah mencegat kau jangan sampai menuju ke sana!" Yan le- lam menerangkan.

Setelah Hong-ko bertanya lebih jelas, barulah diketahuinya bahwa sesudah hari itu Yan le-lam berdua kabur dari rimba Tjo, pernah juga mereka berusaha mencarinya ke tepi sungai, tetapi yang mereka lihat adalah kereta keledai yang sudah kecemplung ke dalam sungai, mereka mengerti Hong-ko tentu sudah berhasil menghilangkan semua jejak telapak itu. Mereka kembali ke Mo-dji-tje melalui jalan darat, tetapi begitu masuk kampung, mereka menjadi terkesima saking kagetnya. Ternyata di dalam markas mereka itu bergelimpangan beberapa mayat Liau-lo.

Ketika sampai di dalam pendopo tengah, 'Hoat-giam-ong' Mo Djit mati menggeletak di bawah undak-undakan, di hulu hatinya kena tertusuk hingga ususnya terburai keluar. Sedang Liok Ing roboh di belakang ruangan, ia seperti lagi hendak kabur, tapi mendadak telah kena ditusuk orang dari belakang hingga tembus. Di dalam markas pun diobrak-abrik hingga tak keruan.

Mereka tak berani berlama-lama tinggal di situ, cepat mereka menerobos keluar lagi melalui jalanan di belakang. Tetapi baru saja mereka melompat keluar, dari belakang bukit sudah dipapak oleh It-tun Ki-su Si Liang yang terus menarik mereka meninggalkan Mo-dji-tje, kemudian ia menceritakan apa yang telah terjadi.

Kiranya pada waktu sesudah Yan le-lam bertiga berangkat, hari kedua para benggolan sudah pada kembali semua terkecuali To Dji-hay seorang.

Sehabis dahar malam, Tju-kat Liang dan Liu Ut menceritakan kabar yang mereka peroleh bahwa di daerah Tong-tjiang kemarin telah terjadi peristiwa perampokan kereta pemerintah, maka mereka hendak keluar lagi untuk menyelidiki. Sementara itu Si Liang masih duduk di belakang markas mereka, tiba-tiba terdengar suara riuh rendah di sebelah depan, menyusul itu terdengar orang roboh dengan jeritan ngeri.

Si Liang mengetahui gelagat jelek, dengan cepat ia segera melayang naik ke atas atap rumah.

Ketika itu dari luar gerbang markas secara berbondong- bondong membanjir masuk segerombolan orang, kesemuanya terlihat memakai ikat kepala merah, menyusul itu sinar senjata berkelebat, para Liau-lo atau prajurit penjaga semua roboh bergelimpangan.

Dalam pada itu dari luar tiba-tiba melayang masuk lagi dua orang, dimana mereka sampai dan senjata bekerja, di situ segera terlihat kepala manusia menggelinding. Kedua orang ini ternyata adalah seorang imam tua dan seorang kakek.

Sementara itu yang masih tinggal di dalam markas ialah 'Hoat-giam-ong' Mo Djit, ia masih belum sadar dari mabuknya, saking kagetnya ia menyambar golok terus menerjang keluar.

Di pintu pojok, dengan berbareng melompat keluar 'Pek- bin-hou' Liok Ing, kedua golok mereka segera tertuju ke arah si kakek yang baru datang itu.

Mo Djit dengan tangkas dan kuat melontarkan beberapa kali bacokan, ia membikin pedang si kakek tergumpil.

Melihat kawannya terancam bahaya, imam tua tadi segera menubruk maju dari samping, dengan gerak tipu 'Eng-sau- djiau-dji' atau burung elang menyambar anak ayam, dengan kepandaian 'Kim-na-djiu' atau ilmu cara mencekal dan menangkap, sekaligus ia dapat menjambret tubuh Mo Djit, berbareng ia angkat terus dilemparkan ke bawah Tjim-tje, justru waktu itu dari luar sedang masuk seorang lelaki mengenakan baju belahan pinggir, tangannya bergerak dan senjatanya membabat, keruan seketika itu tubuh Mo Djit terbelah menjadi dua, dimulai dari pundaknya sampai ke bawah.

Si Liang yang menyaksikan kejadian ngeri itu dari atas atap, hampir saja menjerit kaget.

Menampak rekannya tewas di bawah senjata musuh, tentu saja 'Pek-bin-hou', si harimau bermuka putih, Liok Ing menjadi gugup, dengan sekuat tenaga ia coba menandingi kedua lawan yang tangguh itu. Saat itu si kakek lagi memainkan tipu 'Ou-tiap-tjio' atau ilmu pukulan model kupu-kupu, ia merangsek dengan hebat, sedang si imam tua pun tidak mau ketinggalan, pedangnya berulang-ulang membuat serangan berbahaya.

Lebih dulu Liok Ing kena sekali bacokan pada pundaknya, ia berniat kabur, dengan pura-pura menyerang segera ia menarik senjatanya terus berlari hendak kabur.

Akan tetapi sayang, baru saja ia berhasil menerobos ke ruangan belakang, secepat kilat si imam tua tadi tahu-tahu sudah mengejar sampai di belakangnya, menyusul itu pedangnya berbareng menusuk, maka Liok Ing yang tidak menyangka si imam tua itu bisa demikian sebarnya, segera kena ditusuk hingga tembus ke dada, ia menjerit ngeri dan terus menggelongsor.

Si Liang sendiri pernah menjadi anggota 'Ang-ting-kau' atau agama Teng (lentera) merah di Soatang, bahkan ia pernah menjabat sebagai wakil pemimpin, oleh karena itu terhadap tokoh-tokoh kalangan Hek-to, melulu mendengar kode percakapannya saja, sedikit banyak ia sudah bisa menaksir dari golongan rnana orang itu.

Kini nampak gerombolan yang datang ini bukan petugas negeri, tetapi dari dandanan mereka mirip dengan perkumpulan agama liar, ditambah mendengar pula kode yang mereka percakapkan, kesemuanya ternyata adalah bahasa rahasia dari 'Pek-lian-kau\ agama Teratai Putih yang bercokol di sepanjang tepi Tiangkang, tentu saja ia menjadi terperanjat.

"Kemurahan bagi siluman Giok-bin-yao-hou itu, ia tidak di sini, apa mungkin ia tidak ke sini, apa mungkin telah merat kembali ke utara Siamsay?" begitulah terdengar para berandal itu berkata setelah mereka coba menggeledah seluruh markas itu. Sesudah itu, dengan sekali suitan keras, api obor dinyalakan, segera gerombolan orang-orang itu meninggalkan Mo-dji-tje lagi.

Setelah musuh pergi, barulah Si Liang berani turun kembali, sementara itu di dalam rumah mayat-mayat sudah pada bergelimpangan, ia tak berani berlama-lama tinggal di situ, maka malam itu juga ia melarikan diri.

Begitulah setelah Yan le-lam mengisahkan apa yang telah dialami markas besar mereka, mau tak mau kejadian itu membikin Hong-ko menjadi bergidik.

"Dan kini kita harus menuju kemana?" lekas ia bertanya.

"Tak usah kau kuatir, kami sudah memberitahukan pada para pemimpin supaya berkumpul ke Pek-hoa-ho!" sahut Yan le-lam.

"Yan-toako, hari itu kau dan Enso berada di luar rimba, cara bagaimana kamu meloloskan diri juga?" terdengar Hong- ko bertanya lagi.

"Cerita itu agak panjang, maka belum bisa aku beritahukan padamu," sahut Yan Ie-lam. "Hari itu setelah kau berhasil melarikan kereta, belakangan muncul lagi seorang jagoan ternama dari Bu-lim yang juga jarang mengunjukkan diri, kami berdua semula menduga tak mungkin bisa melarikan diri, tak tahunya ternyata ada seorang penolong."

Bercerita sampai di sini ia berhenti sejenak.

"Siapakah gerangan orang yang begitu hebat sampai Toako begitu takut padanya?" tanya Hong-ko rada heran. Ia laksana anak sapi yang baru lahir, belum banyak mengetahui seluk- beluk rahasia Kangouw, maka pantaslah kalau ia bertanya.

"Kau belum lama berkelana di dunia Kangouw, sudah tentu kau tidak kenal siapa adanya Hian-hong Totiang," Yan Ie-lam menerangkan. "Ia bukan lain ialah Kiam-khek dari Khong- tong-pay, bersama Tji-yang Tjin-djin dari Bu-tong-pay, mereka berdua disebut dua ahli pedang pada zaman ini, kali ini ia pun sampai di Soatang, hal ini saja sudah mengherankan, siapa kira akhirnya masih ada pula yang membikin orang lebih heran lagi, ternyata dengan begitu saja ia telah membiarkan Giok- bin-yao-hou lolos, bahkan masih memberitahu pada Ie Djan bahwa ia tergolong seperguruannya."