Tiga Mutiara Mustika Jilid 02

Jilid 02

Nampak siapa gerangan yang datang ini, dari merasa kuatir Hong-ko berubah menjadi girang. Ia mengenali lelaki ini ialah orang yang pernah ia jumpai beberapa hari berselang, malah Hoa-Iihiap bilang dia ini adalah suaminya, 'Pat-pi-long-kun' Yan Ie-lam. Selagi ia hendak memanggil, secepat angin lelaki itu sudah menyerempet lewat di sampingnya.

Seketika itu juga Hong-ko menahan kudanya dan berpaling, ia lihat Yan Ie-lam sedang memapaki kedua 'Eng-djiau' atau dua cakar alap-alap (maksudnya anjing penjilat musuh) yang sedang mengejar itu, sekali ia mengayun laksana segulungan sinar perak, dua golok cakar alap-alap itu terpental semua, saking ketakutannya kedua orang itu mendekam di atas kudanya terus lari ke depan untuk menyelamatkan jiwa mereka.

Sementara itu di antara suara derapan kuda yang ramai, Yan Ie-lam telah memutar kudanya pula dan mengejar menuju ke jurusan Hong-ko, kedua cakar alap-alap berbaju hitam itu mengayun tangannya membalik, beberapa bintik terang segera menyambar.

"Awas senjata rahasia!" seru Hong-ko memperingatkan.

Tetapi segera ia mendengar suara gemerincing nyaring, beberapa senjata piau yang ditimpukkan kedua laki-laki itu sudah disam-puk jatuh oleh Yan Ie-lam.

Sesaat itu, Yan Ie-lam terus memburu, secepat kilat ia menerjang ke tengah kedua musuh itu, ketika kemudian pedangnya bekerja lagi, maka kedua musuh itu sudah terguling berbareng, pundak mereka sudah terluka semua, dengan merintih kesakitan mereka terkulai di antara rumput alang-alang yang lebat.

Selagi Yan Ie-lam hendak menambahi pula masing-masing satu bacokan, tiba-tiba dari jauh terdengar ada suara bentakan yang ramai, sepasukan penunggang kuda dengan cepat sedang mengejar datang.

Agaknya Yan Ie-lam terkejut oleh kedatangan pasukan itu, dengan mengayunkan pecutnya segera ia meneriaki Hong-ko, "Saudara Teng, lekas lari ikut aku!"

Setelah itu mereka melarikan kuda secepat mungkin, tak lama kemudian mereka membelok ke sebuah jalanan kecil, di- mana terdapat hutan lebat, sebuah sungai menyusup lewat di antara hutan itu.

Yan Ie-lam membawa Hong-ko menyeberangi sungai di tempat yang cetek, setelah agak jauh dari tempat pertempuran tadi, baru ia berhenti dan turun dari kudanya.

"Kedatanganku agak telat, hingga saudara Teng hampir terjatuh ketangan musuh!” katanya kemudian pada Hong ko.

Lekas Hong-ko maju memberi hormat.

"Apakah tuan adalah Yan-tayhiap?" tanyanya. "Sudah lama kudengar nama Yan-tayhiap yang tersohor, terimalah hormatku ini, entah mengapa Yan-tayhiap juga bisa menyusul datang ke sini?"

"Kami sudah tahu saudara hari ini akan datang," jawab Yan le-lam sambil membalas hormat orang. "Cuma tidak menduga si jahanam Tam Ting-Siang ini bisa begini licin, ia telah mengirim bawahannya mempedayakan aku, dua anjing tadi bukan lain adalah Po-thau yang dikirim dari gubemuran, dan pasukan yang datang belakangan itu ialah bantuan untuk melindungi kedua anjing tadi." "Mereka tadi menghendaki aku meninggalkan senjata rahasia yang berada dalam peti, entah apa maksud tujuan mereka?" tanya Hong-ko.

"Saudara cilik, menurut penglihatanku tentu mereka mempunyai alasannya. Lebih baik dibicarakan kelak saja," sahut Yan Ie-lam.

Kemudian mereka mencemplak kuda masing-masing dan melanjutkan perjalanan, kini perjalanan mereka ditempuh di antara bukit-bukit, tidak lama kemudian mereka sudah sampai di suatu perkampungan, di luar pintu terlihat sudah menanti beberapa orang, di antaranya seorang wanita bukan lain ialah Hoa-Iihiap yang Hong-ko ketemukan malam-malam di rumah penginapan itu.

Sesudah Hong-ko dipersilakan masuk ke ruangan tengah, lalu para hadirin diperkenalkan kepadanya, ternyata kesemuanya adalah para pahlawan dari berbagai perkumpulan dan golongan, bahkan banyak yang jauh-jauh datang dari sekitar Siamsay dan Sutjwan. Hong-ko memberi hormat pada setiap orang yang diperkenalkan padanya, dan ia menceritakan kisah pengalamannya di perjalanan tadi.

Dalam pada itu, dari luar dilaporkan bahwa Si-siansing telah kembali. Menyusul mana dari luar masuk seorang dan lantas memberi hormat kepada para tamu yang ada di situ.

Hong-ko coba mengamati orang itu, ia beroman putih cakap, berjenggot pendek cabang tiga, pakai ikat kepala seperti cendekiawan, jubah longgar dengan lengan baju lebar, usianya baru lebih dari tiga puluhan tahun.

Orang ini bernama Si Liang, seorang Kiam-khek atau pendekar dari Tiang-kang-pang, gerombolan di sepanjang tepi sungai Tiang-kang atau Yang-tse, ia sebenarnya seorang imam dengan nama agama It-tun, ilmu silatnya tinggi dan banyak tipu akalnya, biasanya ia menganggap dirinya secerdik Tju-kat Liang atau Khong Beng, kali ini ia pun ikut berkumpul di Soatang untuk urusan perampasan Tjin-tju-goan itu.

Sesudah ia masuk tadi, lantas ia menutur, "Saudara- saudara sekalian, Tjhi Djin-ho memang cukup licin, kita siang malam tiada hentinya menguntit topi mestika itu, kini baru mendapat berita bahwa tiga mutiara mestika yang tak ternilai itu siang-siang sudah dicopot dari topinya dan diam-diam telah diangkut ke Soatang, pantas siang malam kita menanti, akhirnya tiada sesuatu hasil yang kita dapatkan."

Atas keterangan itu, seketika para pahlawan hanya bisa saling pandang saja.

"Apakah topi mestika itu pun diangkut kemari?" terdengar ada orang bertanya.

Oleh karena itu seketika tiada yang menjawab, pandangan semua orang hanya menatap pada si penanya tadi.

Si Liang ikut melihat penanya itu ialah Tju-kat Beng, pemimpin Liong-bun-pang di Soasay, tergolong tokoh nomor dua di antara orang-orang gagah di sekitar Sutjwan dan Siamsay.

"Tju-kat Totju," jawabnya kemudian. "Mungkin karena Tjhi Djin-ho sudah mengetahui bahwa para pahlawan dari segala penjuru sedang mengincar padanya, maka ia telah berhasil mengundang sahabat dari Khong-tong-pay tampil ke muka untuk bermusuhan dengan kita." 

Mendapat jawaban itu, semua orang jadi terkejut, karena Kiam-khek Khong-tong-pay pada kala itu sangat disegani oleh orang-orang Kangouw di barat-laut umumnya.

"Si Liang-heng, Khong-tong-san jauh-jauh berada di Kam- siok, apakah Tjhi Djin-ho bisa mengirim orang mengundang ke sana?" Yan le-Jam ikut bertanya. "Mungkin Yan-tayhiap belum mengetahui bahwa di dalam Khong-tong-pay itu ada beberapa tokoh, paling akhir ini ada yang telah bertapa di istana Tjhui-hun-kiong di atas Hoa-san," It-tun Ki-su Si Liang menerangkan. "Konon kabarnya Tjhi Djin- ho banyak kenal Tosu-tosu dari Tjhui-hun-kiong itu, dan karena itulah ia telah dihubungkan dengan tokoh-tokoh

Khong-tong-pay itu. Tjhi Djin-ho mengetahui bahwa sepanjang jalan ia sudah ditunggu oleh pahlawan-pahlawan dari segala penjuru, maka diam-diam ia telah melucuti ketiga butir mutiara mestika itu dan dikirim dahulu oleh bawahannya, sedang topi mutiara itu sementara masih dititipkan di Tjhui- hun-kiong. ia menunggu bila ketiga mutiara mestika itu sudah tiba dengan selamat di Soatang, baru ia sendiri berangkat kembali."

Di antara pahlawan-pahlawan itu, agaknya Hoa-lihiap sudah mulai mendongkol.

"Cara begitu Tjhi Djin-ho mengaturnya, justru kita menempuh yang sulit dan tidak yang gampang," katanya kemudian. "Cuma ketiga mestika itu entah cara bagaimana diangkutnya ke Soatang sini?"

"Itulah yang tak bisa kuketahui," sahut Si Liang. "Ada kemungkinan kini sudah sampai di Soatang dan mungkin pula masih di tengah jalan."

Walaupun Teng Hong-ko masih hijau dan baru unjuk muka di kalangan Kangouw, tetapi ia mempunyai otak tajam. Sejak siangnya ia dicegat dua orang alap-alap pemerintah di Pek- hoa-ho, dalam pikirannya lantas tiada hentinya berpikir dengan penuh pertanyaan. Mengapa menguber-uber peti yang tak berharga itu? Katanya kalau ia meninggalkan 'Sam-ling- tju-bo-piau* dan 'Thi-wan', ia boleh dibebaskan.

"Tjuwi-enghiong Tjianpwe," sekonyong-konyong ia berdiri dan angkat bicara, "Hari ini Siaute telah bentrok dengan bawahan Tam Ting-siang di perjalanan, mereka ternyata berkeras hendak merebut petiku ini, rupanya tindakan mereka ada hubungannya dengan soal Tjin-tju-goan itu."

Si Liang mengamati pemuda itu sejenak, kemudian ia bertanya, "Siapakah saudara muda ini?"

"Ya, aku telah lupa memperkenalkannya kepadamu, ia adalah saudara Teng Hong-ko yang kita sangka bawahan Tjhi Djin-ho yang mengirim barang pusaka itu, padahal di dalam petinya hanya contoh piau yang ia bawa untuk Giam- lothautju!" Hoa-lihiap mewakilkan Hong-ko menjawab.

Lalu mereka saling memberi hormat.

"Kita datang di Soatang sini, menurut aturan seharusnya menjumpai Giam Tje-tjwan sebagai tuan rumah di sini," ujar Si Liang, sesudah itu ia menoleh dan berkata pada Hong-ko, "Saudara Teng, bolehkah kami melihat barang dalam petimu itu?"

"Sudah tentu boleh!" sahut Hong-ko tanpa ragu-ragu.

Setelah ia mengambil petinya yang terbuat dari kayu cendana wangi itu, lalu ia membuka tutupnya dan terus diletakkan di atas meja.

"Eh, peti ini mirip sekali dengan peti penyimpan Tjin-tju- goan itu!" kata Si Liang begitu melihatnya, sambil ia menjemput 'Sam-ling-piau' dan 'Thi-wan' dengan tangannya, ia meneliti bolak-balik.

Pada akhirnya, sekonyong-konyong It-tun Ki-su Si Liang berseru kaget, karena mendadak ia mengenali senjata rahasia di tangannya itu adalah 'Sam-ling-tju-bo-piau" yang sangat lihai dari Go-bi-pay, di tengah piau itu kosong dan terpasang dengan pegas, di atas piau ada lubang rahasia dimana tersembunyi tiga buah piau kecil beracun sebesar paku, apabila musuh menyambut piau itu dan menjeplakkan alat rahasia yang terpasang, maka pegasnya bekerja dan piau kecil yang ada di dalam pipa piau luar itu segera menyambar keluar, begitu senjata rahasia menjeplak jangan harap musuh dapat menghindarinya.

Sebab itu senjata tersebut disebut 'Sam-ling-tju-bo-piau' atau piau induk beranak berbentuk segitiga.

"Yan-tayhiap," kata Si Liang kemudian. "Apakah kau masih ingat dulu kita membakar Siong-yang-koan di Hun-bong-san tanpa sengaja, sebabnya ialah karena hendak mencuri obat pemunah racun dari piau ini, oleh karenanya begitu berada di tanganku, aku menjadi kaget."

"Penglihatan Si-heng memang tidak salah, orang yang bisa membikin piau seperti ini, dewasa ini mungkin sudah tidak banyak lagi," sahut Yan Ie-lam. "Cuma maksud saudara Teng mengunjukkan barang ini ialah untuk mengetahui mengapa Tam Ting-siang bisa mengirim orang buat merampasnya, apakah barang ini ada hubungannya dengan Tjin-tju-goan?"

Si Liang tidak iekas menjawab, ia masih meneliti beberapa 'Sam-ling-piau' itu bolak-balik di bawah sinar lampu, sesudah itu ia mengambil 'Thi-wan* atau gotri besi dari dalam peti, kemudian ia letakkan di atas tutup peti agar tidak menggelundung jatuh.

Thi-wan, gotri atau peluru dari besi itu adalah semacam senjata rahasia juga dari Go-bi-pay yang terbuat dari baja, tiap-tiap butir sebesar buah kelengkeng, belasan peluru yang terletak di atas tutup peti itu berkelap-kelip terkena sinar lampu.

Si Liang mengambil dua butir dan diperiksa, lalu ia taruh kembali ke atas tutup peti dan pulang-pergi digelundungkan, namun scdikitpun tiada tanda-tanda yang mencurigakan.

Akhirnya ia lepaskan gebungan yang terbungkus dengan kain kuning, di dalamnya ada dua botol obat pemunah racun, selain itu hanya terdapat contoh pembuatan 'Sam-ling-piau' itu. Setelah semua orang memeriksanya juga dan tak terlihat sesuatu tanda-tanda, mereka lantas mengembalikan benda- benda itu ke dalam peti.

"Saudara Teng, baiklah kau simpan petimu itu, kami telah banyak mengganggu!" kata Yan Ie-lam akhirnya pada Hong- ko.

"Bagaimana bisa dikatakan mengganggu, hari ini kalau bukan Yan-tayhiap yang menolong, peti itu sudah lama jatuh di tangan alap-alap pembesar itu!" sahut Hong-ko dengan tertawa.

"Aku ada satu usul, entah saudara Teng suka melaksanakan tidak?" sementara terdengar Si Liang berkata pula dengan mengelus-elus jenggotnya.

"Ki-su ada kepentingan apa, asal Siaute bisa menjalankan, pasti tidak menampik," sahut Hong-ko.

"Urusan ini adalah bersangkutan dengan kepentingan bersama," Si Liang mulai menerangkan, "Aku pikir kali ini Tam Ting-siang secara diam-diam telah mengangkut ketiga mutiara itu ke Soatang, tentu ia sudah mengatur dengan baik sekali, jangan-jangan masih menggunakan tipu muslihat untuk menghindarkan incaran orang-orang Kangouw, hari ini ia mengirim cakar alap-alapnya buat mencegat peti saudara Teng. Hal ini mungkin erat hubungannya dengan perbuatannya itu, kita boieh juga menghadapinya dengan akal, dengan cara 'Kim-sian-toat-kak' (mengelabui seperti tonggeret emas bertukar kulit), kita bisa mencoba mereka."

Tertarik oleh usul Si Liang, para pahlawan lantas bertanya apakah akalnya itu.

"Kali ini barang yang saudara Teng bawa untuk Giam Tje- tjwan Lotjianpwe tidak lebih hanya beberapa buah senjata rahasia ini, tetapi Tam Ting-siang telah menaruh perhatian cukup besar, bahkan ia mengirim orang untuk mencegat di tengah jalan. Ini suatu tanda di dalamnya tentu ada sesuatu yang istimewa," Si Liang menerangkan. "Maka kita mengambil kesempatan ini untuk menukar senjata rahasia di dalam peti dan biar dibawa terus oleh saudara Teng, sedang beberapa orang di antara kita diam-diam menguntit, pertama kita boleh sekalian melihat tindakan apa dari cakar alap-alap nanti, kedua seandainya senjata rahasia itu tersembunyi sesuatu rahasia, juga tak akan merembet ke diri Giam-lotjianpwe, bagaimana pendapat kalian atas usul ini?"

Sudah tentu semua orang memuji akal baik itu dan menyatakan akur. Teng Hong-ko sendiri pun menyatakan sanggup melaksanakan tugas itu. Tetapi lantas ia teringat cara bagaimana mereka bisa mendapatkan barang yang serupa untuk menukarnya?

"Siaute masih agak ragu-ragu, ialah peluru baja itu masih gampang didapatkan, tetapi beberapa Sam-ling-piau itu darima-na bisa mendapatkannya? Lagipula bagaimana harus menjawab nanti di hadapan Giam Tje-tjwan Tjianpwe?" tanya Hong-ko mengutarakan pikirannya.

"Saudara Teng tak usah kuatir," sahut Hoa-lihiap dengan tertawa waktu mendengar pertanyaan Hong-ko, "Dulu waktu Yan-toako membakar Siong-yang-koan, ia pernah mencuri tiga buah Sam-ling-piau si imam tua she Kim yang serupa dengan ini dan kini masih tersimpan baik-baik. Sedang di hadapan Giam Tje-tjwan nanti, diam-diam kau boleh memberitahu padanya, tidak lama kita pasti mengembalikan yang asli padanya."

Mendapat janji itu, baru Teng Hong-ko merasa lega.

Dalam pada itu dari luar ruangan itu mendadak angin kencang mendesir, waktu Hoa-lihiap mendongak, segera ia berteriak, "Awas, ada mata-mata!"

Segera ia menarik diri Hong-ko terus mengumpet ke belakang rumah, sementara itu tertampak sesosok bayangan orang telah menerobos masuk dan segera ia memadamkan api lilin. Dalam kegelapan itu bayangan hitam telah melompat sampai di tengah ruangan, gerak tubuhnya begitu cepat laksana angin dan lantas menubruk ke tempat dimana Hong- ko tadi berduduk.

Saat itu Hoa-lihiap sudah menarik Hong-ko melompat ke pintu pojok, melihat di tangannya masih terkempit peti kayu wangi itu, maka segera ia mendorong Hong-ko masuk ke ruang samping dari pintu pojok itu, sedang ia sendiri segera melolos pedangnya dan menjaga di ambang pintu.

Begitu bayangan orang itu menubruk ke tengah, Yan le-lam dan beberapa jago lainnya sudah menarik senjata dan menjaga di ambang pintu.

Karena menubruk tempat kosong, bayangan orang itu telah mengangkat kursi di tempat itu dan terus dilemparkan. Di antara suara gedubrakan, kursi itu sudah hancur menjadi beberapa potong. Dengan menggunakan kesempatan ketika ribut menyambut kursi yang dilemparkan itu, bayangan hitam itu dengan sekali lompatan sudah menerobos keluar pintu lagi. Waktu para pahlawan maju memburu, segera mereka disambut dengan beberapa bintik sinar mengkilap.

"Awas, senjata rahasia!" seru Yan Ie-lam yang berjalan paling depan. Ia memutar pedangnya, di antara suara berdencing, senjata rahasia itu sudah kena disampuk jatuh, kiranya adalah beberapa buah 'kim-tji-yap-tju-piau,, senjata rahasia berupa mata uang.

Terganggu oleh serangan senjata rahasia itu, maka para pahlawan merandek, sedang bayangan hitam itu sudah melesat pergi keluar kampung, dengan sekali lompatan sejauh beberapa tombak, dalam sekejap saja musuh itu sudah menghilang di antara hutan belukar yang gelap gulita.

Sementara itu Si Liang meneriaki supaya menyalakan api lilin dan menyuruh semua orang jangan menginjak masuk ke dalam ruangan. Sudah tentu seruannya itu membikin bingung semua orang, entah apa yang dikehendaki. Dalam pada itu, saking mendongkolnya dipermainkan orang, secara membabi buta Liok Ing mencaci maki kalang-kabut.

"Hai, Lau Si, orang telah mengeluruk sampai di rumahmu, tetapi apa yang sedang kau utak-atik di sini!" serunya penasaran.

"Liok-lotoa, kau boleh lihat nanti, coba lihat ini apa!" sahut Si Liang.

Waktu sinar lilin menyala pula, maka di lantai ruangan entah sejak kapan sudah tersiram basah oleh air hingga tertampak ada bekas telapak kaki yang sangat kecil, rupanya bekas sepatu kaum wanita yang kecil.

Kiranya tadi waktu mendadak ada bayangan orang menubruk masuk Si Liang dengan segera telah menyiram secangkir air teh ke lantai.

"Hebat sekali, mana boleh jadi!" seru para pahlawan berbareng. "Kita orang-orang gagah dari kedua tepi Hong-ho, bisa membiarkan seorang budak perempuan menerobos pulang-pergi semaunya, hal ini kalau teruar di luaran, bagaimana jadinya nanti?"

"Percuma kita berang sendiri di sini," ujar Si Liang akhirnya, "Lebih baik kita mencari tahu siapakah gerangan yang datang tadi."

"Menurut penglihatanku, ia dapat datang dan pergi secepat angin, gerak tubuhnya sangat cepat, begitu masuk lantas hendak merebut peti saudara Teng. Kalau bukan cakar alap- alap dari pembesar negeri, tentu adalah begal tunggal yang berkeliaran di Soatang sini!" Hoa-Iihiap mengemukakan pendapatnya.

Menyusul semua orang lantas mengemukakan pendapatnya masing-masing, tetapi tiada seorang pun yang memastikan macam apakah orang yang datang tadi. "Nah, kini sudah makin kuat bukti bahwa peti yang saudara Teng bawa itu ada apa-apanya, hingga merupakan benda tujuan perebutan dari berbagai golongan," ujar Yan le-lam. "Baiknya kita mengaso saja, besok kita berangkatkan dia ke Tjelam dan kita menyusul di belakangnya juga menuju ke tempat Giam-lothaudji sana, coba kita lihat dulu terjadi sesuatu atau tidak, kemudian baru kita mempertimbangkan pula."

Lalu para pahlawan itu pada menyatakan setuju, tetapi kualir Hong-ko terganggu di tengah jalan, maka diputuskan suami isteri Yan Ie-lam mengantarkannya sebagian jalan.

Esok harinya, dengan menunggang seekor kuda putih, Hong-ko berangkat dengan punggung menggendong 'pedang perjalanan' dari Go-bi-pay itu, sedang peti kayu cendana menggeletak di punggung kudanya, senjata rahasia dalam peti sementara itu sudah ditukar. Suami isteri Yan Ie-lam pun mengiringnya berangkat.

Kala itu di daerah selatan Tjotjiu dan sekitarnya sebenarnya banyak penyamun yang berkeliaran, tetapi demi nampak ketiga orang di atas kuda begitu gagah, mana ada yang berani coba-coba mengganggunya.

Setelah Yan Ie-lam berdua mengantar Teng Hong-ko sampai di kota kabupaten, Ka-siang-koan, lantas ia berpesan pada Hong-ko, "Saudara Teng, selanjutnya di depan ialah Tjeling dan kalau terus lagi akan sampai di Tjelam, sepanjang jalan sudah merupakan jalanan ramai, baiknya kita berpisah di sini, kalau saudara sudah sampai di Tjelam, sampaikan salam kami pada Giam-loenghiong, dan kalau terjadi sesuatu urusan jangan kau takut."

Berulang-ulang Hong-ko menyatakan baik dan tak lupa ia menghaturkan terima kasih, sesudah itu ia pecut kudanya dan terus melanjutkan perjalanannya. Perjalanan telah berlangsung dua hari, kini Hong-ko sudah sampai di Thay-an, kalau maju lagi adalah jalanan yang harus melalui lereng gunung, meskipun termasuk jalan besar juga, tetapi kadang harus berpuluh li baru terdapat perhentian.

Hari itu, ketika ia mengendalikan kudanya, tiba-tiba di belakangnya menyusul derapan kuda yang riuh ramai, dari jauh sudah terdengar bentakan meminta jalan, waktu ia menoleh, maka tertampaklah dua lelaki dengan dandanan sebagai opas, seorang di antaranya menggendong kantong pos dinas, secepat kilat mereka telah menyerobot lewat.

Kala itu, awan mendung hitam tebal bergumpal-gumpal dan angin besar menderu-deru, debu beterbangan dan sinar kilat sambar-menyambar, tampaknya dengan segera akan turun hujan deras. Lekas Hong-ko pecut kuda mempercepat larinya agar bisa menyandak tempat perhentian di depan, sekadar untuk berteduh dari serangan hujan lebat. Tetapi baru setengah jalan, hujan deras sudah keburu turun dengan kilat menyambar dan halilintar mengguruh. Masih untung baginya sementara itu tempat perhentian sudah tertampak dari jauh. 

Waktu Hong-ko sampai di tempat itu, ia lihat di depan rumah pondokan di seberang sana tertampak di kandang kuda tertambat dua ekor kuda, bukan lain adalah kuda kedua opas tadi. Ia pun memasuki rumah penginapan itu dan memilih sebuah kamar buat bermalam. Sementara di kamar sebelah rupanya sudah ada tamu terlebih dulu dengan pintu kamar yang setengah tertutup, waktu Hong-ko melirik, kiranya yang tinggal di dalam adalah dua petugas yang ia ketemukan tadi, mereka sedang mencopot baju mereka buat digarang di atas api anglo agar kering.

Sampai malam hari, hujan ternyata masih belum reda, sehabis makan malam Hong-ko lantas rebah di kamarnya untuk mengaso. Lapat-lapat ia mendengar kedua petugas negeri atau opas di kamar sebelah itu seperti belum tidur dan sedang mengobrol sambil minum arak.

Secara iseng Hong-ko coba memasang telinga mendengarkan apa yang sedang dipercakapkan.

"Malam ini sudah terang tak mungkin berangkat, kita boleh minum sedikit puas dan tidur sedikit gasik, besok pagi-pagi kita lantas berangkat," terdengar seorang di antaranya berkata.

"Surat dinas itu masih belum kering, digarang di atas anglo jangan-jangan nanti malah hangus, sekali-kali jangan karena itu kita harus terima rangketan," sahut yang lain.

"Jangan kuatir, surat dinas apa sih begitu penting," ujar yang duluan tadi, "Hanya nota pengiriman barang saja, apa harus begitu terburu-buru, biarkan saja kering sendiri di atas meja."

"Losam, nyata kau belum tahu, waktu kita hendak berangkat, Ang-taydjin telah wanti-wanti berpesan padaku bahwa surat dinas ini ada sangkut-pautnya dengan urusan penting, sekali-kali jangan dihilangkan," kata pula yang lain.

"Sudahlah, dalam kamar ini hanya ada kau dan aku dua orang, tak usah kau merasa bimbang, baiklah kita mengaso si- angan," sahut orang yang dipanggil Losam.

Beberapa kata pembicaraan dua petugas ini ternyata menarik perhatian Teng Hong-ko. Sebentar kemudian, dari suara ke-rusekan di kamar sebelah, Hong-ko dapat menduga mereka sudah pulas dan keadaan telah sunyi senyap.

"Tadi mereka menyinggung soal pengiriman barang, jangan-jangan adalah barang yang Tam Ting-siang kehendaki itu? Dan dikatakan pula bahwa surat dinas ini sangat penting, apakah juga ada hubungannya dengan topi mestika itu?" tanya Hong-ko dalam hati. Tak lama kemudian suara menggeros telah terdengar berkumandang dari kamar sebelah, ia tahu kedua petugas itu tentu sudah terkena pengaruh beberapa cawan air kata-kata, tentu tidur mereka sedang pulas-pulasnya, segera timbul rasa ingin tahunya, ia hendak mencuri baca surat dinas yang disebut-sebut tadi. Lantas ia menukar pakaiannya dengan setelan hitam ringkas, pelahan-lahan ia membuka daun jendela kamarnya terus merayap keluar.

Di bawah jendela kamarnya itu ternyata adalah satu pelataran kosong, waktu ia melongok, ternyata daun jendela kamar sebelah hanya tertutup separoh, jaraknya sekitar lima atau enam kaki. sedang di tengah jarak itu terhalang oleh pagar bambu yang sengaja dibikin, mungkin untuk menjaga kalau ada pencuri.

Adanya pagar itu kebetulan juga buat Hong-ko, karena dapat dipergunakan sebagai tangga, ia merembet dari pinggir jendela dan terus merayap ke atas pagar itu, sedikitpun tanpa menerbitkan suara dan ia telah sampai di sebelah pagar sana, kemudian dengan sekali lompatan enteng ia telah menggelantung di belakang sebelah daun jendela yang tertutup itu, waktu ia mengintip, maka terlihat olehnya kedua orang itu terpulas laksana sudah mampus.

Dengan gerakan 'To-tiau-kim-kau', kait emas menggantung terbalik, kedua kakinya ia gantolkan pada jendela dan terus merayap masuk ke kamar, waktu tangannya diulur, dengan tepat bisa sampai di atas meja, sudah tentu dengan gampang saja surat dinas yang terletak di meja sudah berada di tangannya, kemudian dengan cepat ia kembali ke kamarnya sendiri.

Sesudah berada di kamar, Hong-ko membalik kursinya, dengan baju hitamnya ia tutup keempat kaki kursi itu hingga merupakan kerudung dan di tengahnya ia nyalakan api lilin, dengan begitu sinar lilin tidak tembus keluar kamar, baru sesudah itu ia mengeluarkan surat dinas yang ia colong, tutup surat itu masih basah, maka dengan tidak terlalu susah ia sudah bisa membukanya.

Tetapi lantas ia merasa kecewa, karena surat itu hanya surat dinas biasa saja sebagai nota pengantar pengiriman barang belaka >ang dikirim bawahan Tam Ting-siang dari Khay-hong.

"Surat dinas begini saja apakah perlu dikirim begitu cepat?" pikir Hong-ko. Tetapi tidak urung ia membaca terus surat itu.

Pada akhir surat itu tercantum jumlah kereta rangsum yang dikirim dan hari keberangkatannya. Ketika Hong-ko hendak menutup kembali surat itu. mendadak ia menjadi tertarik oleh sesuatu, ternyata di antaranya ada satu baris tulisan daftar barang-barang yang dikirim, di pinggir baris tulisan itu ada ditandai bundar-bundar merah dengan sangat mencolok.

Barang yang tercatat di baris tulisan itu ialah semangka Hami dari Lantju. jumlah seluruhnya termuat dalam sembilan kereta. Waktu Hong-ko meneliti tanggal sampainya di Soatang yang ditentukan, ternyata masih harus tujuh atau delapan hari lagi baru bisa sampai.

"Pengiriman barang begini penting, laginya tanggal sampainya masih jauh. tetapi diselipkan nota ini dalam surat dinas dan dikirimkan kepada Tam Ting-siang dengan tugas kilat?" begitulah pikir Hong-ko pula dengan tak mengerti.

Ia berpikir, dan tujuh tanda bundaran merah tadi kembali terkilas di pandangannya, ia tertarik. Ia menduga tentu ada rahasianya tanda-tanda ini, lantas ia ingat baik-baik hari yang tercantum dalam surat itu di sampulnya dan ditutup rapat baik-baik, ia padamkan api lilin pula dan mendekam di lantai untuk mendengarkan gerak-gerik di kamar sebelah, tetapi kedua petugas itu ternyata masih menggeros, dengan cepat ia melompat keluar pula dari jendela dan mengembalikan surat dinas itu ke tempat asalnya. Kemudian ia kembali ke kamarnya sendiri, ia menghela napas lega, ia rebah dan tertidur.

Besoknya pagi-pagi sekali, cuaca sudah terang dan dua petugas di kamar sebelah itu sudah tak tampak lagi, Hong-ko sendiri pun melanjutkan perjalanan ke Tjelam. Selanjurnya jalanan sudah merupakan jalan raya yang ramai, tiada dua hari kemudian, ia sudah sampai di Kak-thau-tjun, suatu kampung di timur kota yang ditujunya.

Waktu itu 'Pat-kik-im-yang-tjin' Giam Tje-tjwan sudah berusia lebih setengah abad, ia tergolong jago silat keluaran cabang lain dari Siau-lim-si, ciptaannya 'Pat-kik-im-yang-kiam' di daerah Soatang terpuji sebagai ilmu pedang yang tiada tandingannya. Giam Tje-tjwan berhati jujur dan berbudi luhur, suka membela ketidak-adilan dan membasmi golongan penindas serta berdiri di pihak kaum lemah, ia pun suka bergaul dengan sahabat-sahabat dari kalangan Kangouw, maka beberapa muridnya pun mewariskan semangatnya yang suka berbuat mulia itu. Sebaliknya orang-orang dari kalangan pembesar negeri walaupun agak sirik dan benci padanya, tetapi tidak sedikit pula dari pejabat-pejabat rendahan yang mendapatkan kebaikannya, oleh sebab itu Tjongpothau atau kepala polisi Tjhi Djin-ho biasanya tak berani mengganggu gugat padanya.

Sesudah memasuki kampung itu dan bertanya, segera Hong-ko menuju ke kediaman keluarga Giam dan setelah memberitahukan maksud kedatangannya, segera ia dipersilakan masuk ke ruang tamu.

Sesampainya di kamar tamu, maka ia sudah ditunggu oleh seorang laki-laki yang berperawakan gagah kekar, brewok dengan mata bersinar, Hong-ko dapat menduga tentu tidak salah orang ini ialah Giam Tje-tjwan, maka lekas ia maju memberi hormat. Giam Tje-tjwan membalas hormat orang dan sesudah mengetahui nama Hong-ko, ia mempersilakan tamunya duduk, lalu ia bertanya keadaan Bu-tun Todjin sambil ia menerima peti yang dikirimkan kepadanya.

Selagi Hong-ko hendak menceritakan pengalamannya bertemu dengan Yan Ie-lam dan kawan-kawan di Pek-hoa-ho dan barang dalam peti itu sengaja sudah ditukar, mendadak dari luar ada laporan bahwa dari gubernuran telah dikirim 'Siu- pi' Tjin-taydjin hendak bertemu (Siu-pi kira-kira setingkat dengan letnan sekarang).

Mendapat laporan itu, rupanya Giam Tje-tjwan agak heran, ia pandang Hong-ko sejenak dan sesudah itu baru ia perintahkan centeng membuka pintu tengah untuk menyambut kedatangan tamu pembesar negeri, supaya menanti sebentar di ruangan besar itu dan menyatakan tuan rumah selekasnya akan menemuinya setelah bertukar pakaian.

"Teng-hiantit apakah di tengah jalan kau telah berselisih paham dengan pejabat negeri?" tanya Giam Tje-tjwan dengan suara tertahan setelah centeng yang ia perintahkan itu berlalu.

Hong-ko mengerti bahwa urusan itu tak bisa dijelaskan dengan sepatah kata saja, tetapi kuatir pula menimbulkan kecurigaan Giam Tje-tjwan, maka kemudian ia menjawab, "Wanpwe ketika lewat di Pek-hoa-ho pernah bertemu pejabat hendak merampas petiku itu, belakangan berkat kedatangan seorang penolong barulah pejabat itu lari ketakutan."

Mata Giam Tje-tjwan mengerling, ia lantas tahu bahwa perkataannya itu tentu ada sebab musababnya, tetapi karena buru-buru harus menemui tamu, tak sempat ia bertanya lebih lanjut.

"Orang-orang dari pemerintahan jarang ke sini," katanya kemudian waktu hendak meninggalkan Hong-ko. "Tetapi kini tidak lebih dulu dan tidak lambat, begitu Hiantit datang, mereka pun lantas menyambangi aku, tentu ada apa-apanya yang dituju, tiada halangannya Hiantit coba mengintip di belakang pintu, coba dengarkan apa yang akan dibicarakan." Sudah tentu Hong-ko merasa tak tenteram, ia tidak nyana begitu datang sudah membawa kesukaran bagi Loenghiong itu.

Lalu ia ikut di belakang Giam Tje-tjwan menuju ke ruangan depan, ia mengintip dari luar jendela yang teraling oleh dedaunan bunga, ia lihat Giam Tje-tjwan sementara itu sedang menghadapi seorang perwira, di samping perwira itu berdiri dua pengiring berdandan sebagai 'Po-gwai' atau anggota polisi.

"Ya, betul Tjin-taydjin, ia adalah keponakanku, apakah di tengah jalan ia ada apa-apa yang menyinggung pejabat negeri?" terdengar Giam Tje-tjwan sedang bertanya jawab.

"Bukan, harap Giam-loenghiong tak usah sangsi," terdengar perwira itu menyahut. "Keponakanmu itu tidak menerbitkan sesuatu keonaran, melainkan karena Tam-taydjin mendengar katanya ia telah membawakan Loenghiong beberapa contoh senjata rahasia yang tunggal, maka aku telah diperintahkan datang ke sini buat pinjam lihat saja, apabila memang betul terdiri dari senjata rahasia yang bagus, biar orang-orang kami pun ikut menambah pengalaman."

Sudah tentu Hong-ko tahu bahwa apa yang perwira itu katakan hanya alasan belaka, yang betul ialah mereka menghendaki barang-barang dalam petinya itu.

"Tjin-taydjin." kembali terdengar Giam Tje-tjwan berkata pula. "Barang-barang yang dibawa orang she Teng itu hanya sedikit contoh am-gi (senjata gelap atau senjata rahasia) yang tak berharga, entah mengapa Sunbu Taydjin bisa menaruh perhatian begitu besar, dan darimana ia bisa mengetahui isi peti itu?"

Karena pertanyaan yang terakhir itu, Siu-pi she Tjin itu menjadi bungkam dan seketika tak mampu menjawab.

"Mengapa Loenghiong malah bertanya," katanya kemudian dengan tertawa buatan. "Asal-usul Sun-bu Tay-djin kami tentu sudah jelas, mata telinganya begitu tajam. Sampai kami yang menjadi bawahan pun sangat mengagumi, kali ini dugaannya pasti tidak meleset, oleh karena itu ia memerintahkan kami meminta pinjam ke sini."

"Oh, kiranya begitu," sahut Giam Tje-tjwan. "Tetapi harap Tjin-taydjin maklum bahwa orang she Teng itu baru datang hari ini dan barang itu aku pun hanya melihatnya sekejap di dalam peti, barang di dalamnya sedikitpun belum teraba, kalau Sun-bu Taydjin memang hendak pinjam, maka silakan Tjin-taydjin bawa saja."

Sesudah itu Giam Tje-tjwan memerintahkan orangnya pula membawa keluar peti kayu wangi yang Hong-ko bawa itu.

Tak lama kemudian peti itu sudah dihadapkan, melihat peti terbikin begitu mungil bagus, berulang-ulang Tjin Siu-pi memuji, menyusul itu lantas ia membuka dan memeriksanya, ternyata tidak salah di dalamnya terdapat beberapa 'Sam-ling- piau' dan belasan butir pelor besi, sedang segebung barang yang terbungkus kain kuning itu ia keluarkan dan diserahkan pada Giam Tje-tjwan.

"Bungkusan ini baiknya disimpan Loenghiong saja, sedang barang-barang lainnya tanggung besok dikembalikan tepat pada waktunya," kata si perwira.

Giam Tje-tjwan menyambut barang yang diangsurkan dan terus ia buka, di dalamnya ternyata adalah sepucuk surat dari Bu-tun Todjin, kecuali itu hanya segebung kertas resep cara pembuatan senjata rahasia itu dan dua botol obat bubuk.

"Tadi aku masih belum tahu barang apa sebenarnya yang terbungkus di dalam ini!" ujar Giam Tje-tjwan pada Tjin Siu-pi.

Tetapi seperti tidak memperhatikan perkataan itu, Tjin Siu- pi telah berbangkit dan berpamitan.

"Teng-hiantit, kau sudah mendengar semuanya bukan," kata Giam Tje-tjwan sesudah pembesar itu pergi. "Sepanjang jalan kau sudah diincar orang, beruntung dalam peti ini hanya benda-benda tak berharga ini, aku sendiri pun tidak merasa sayang, cuma agak menghalangi maksud baik gurumu saja!"

Teng Hong-ko tertawa getir, ia menjawab, tetapi tak berani berterus terang memberitahukan bahwa barang dalam peti sudah ditukar, karena hal itu tentu akan membikin gelisah Giam Tje-tjwan, namun dalam hati ia mengerti, tak lama lagi pasti akan terjadi sesuatu.

Dan dugaan Hong-ko memang tidak salah, malapetaka itu terjadi pada keesokan harinya.

Pagi-pagi hari kedua, beberapa murid Giam Tje-tjwan secara gugup telah melapor ke dalam, bahwa pasukan tentara telah memasuki kampung dan membikin penjagaan di beberapa jalan penting.

Sungguhpun paras muka Giam Tje-tjwan agak lain waktu mendapat laporan itu, namun sebisanya ia masih menghibur orang-orangnya bahwa kedatangan pasukan itu mungkin ada dinas tugas lain. Hanya Teng Hong-ko seorang yang berdebar- debar, ia mengerti sesudah Tam Ting-siang mengetahui bahwa barang itu palsu tentu akan membuat perhitungan dengan Giam Tje-tjwan. Untuk menjaga segala kemungkinan, maka ia telah menyiapkan senjata yang perlu di badannya.

Tak lama kemudian, suara riuh ramai telah terdengar di luar gedung, centeng telah melaporkan bahwa pasukan yang dipimpin Tjin Siu-pi telah mengepung rapat seluruh kampung. Lekas Giam Tje-tjwan keluar untuk memeriksa apa yang sebenarnya terjadi, namun Tjin Siu-pi sementara itu telah masuk dengan diikuti beberapa jagoan dari gubernuran.

Begitu nampak Giam Tje-tjwan, pembesar itu agaknya sudah tidak sehormat kemarin.

"Giam Tje-tjwan, Tam-taydjin cukup menghormati kau, sebaliknya kau berani menyerahkan barang yang sudah kau tukar!" serunya sembari duduk tanpa diundang. Dengan mata terbuka lebar, Giam Tje-tjwan tercengang, ia tidak mengerti cara bagaimana harus menjawab.

"Tjin-taydjin, apakah artinya semua itu?" sejenak kemudian baru ia bertanya.

"Hm, Giam Tje-tjwan jangan kau berlagak pilon dan coba main komidi," sahut sang perwira. "Peti yang aku bawa kemarin itu, barang di dalamnya sudah bukan barang asli lagi!"

"Tetapi aku yang rendah sungguh belum merubah sedikitpun barang-barang di dalam peti itu," Giam Tje-tjwan coba membela diri.

Tetapi mana pembesar negeri itu mau percaya, dengan sekali membentak, ia perintahkan pengiring yang datang bersamanya itu untuk menggeledah.

Laksana binatang liar, pengiring itu segera menyerbu ke dalam rumah dan mengobrak-abrik semua isi rumah, sampai daun jendela dan pintu pun hampir-hampir copot diperiksanya. Melihat kebuasan petugas-petugas itu, beberapa anak murid dan centeng Giam Tje-tjwan yang agak kuat menjadi gusar, dengan mata melotot melihat tingkah laku yang sewenang-wenang itu, hampir saja tak tertahan dan hendak melabrak mereka. Tetapi Giam Tje-tjwan sudah keburu mencegah mereka dan menyuruh mundur ke pelataran luar, dengan begitu para petugas dan prajurit itu bisa dengan leluasa membongkar semaunya. Namun sesudah ribut setengah harian ternyata masih belum menemukan sesuatu yang dicari.

"Orang yang membawa peti kemarin itu dimana?" tanya Tjin Siu-pi akhirnya dengan membentak.

Giam Tje-tjwan tertegun oleh pertanyaan itu, tetapi segera ia menjawab, "Tjin-taydjin urusan ini tak mungkin berhubungan dengan orang she Teng itu, ia pergi kemana, aku yang rendah pun tak mengetahui." Dalam pada itu, di pelataran rumah itu tiba-tiba terdengar bentakan yang ramai, dua Pothau yang kemarin datang bersama Tjin Siu-pi itu telah memburu ke ruang latihan dengan golok terhunus. Dengan terkejut Giam Tje-tjwan memandang, tetapi akhirnya tahulah ia bahwa Teng Hong-ko yang mencampurkan diri di antara para centeng rupanya telah dipergoki oleh kedua anggota polisi itu.

Sesaat itu, suasana segera ramai oleh suara beradunya senjata tajam, Teng Hong-ko telah melompat maju, dengan pedangnya ia memapaki golok lawan, secepat kilat dengan satu tipu 'Thian-su-hian-kan' atau Thian-su mempersembahkan surat, ia membikin kedua lawannya terpaksa harus mundur.

Beberapa begundal petugas negeri lainnya begitu melihat kawan mereka sudah bergebrak, mereka maju serentak dan mengepung Hong-ko di tengah. Tetapi Hong-ko tak gentar walaupun menghadapi lawan yang jauh lebih banyak, pedangnya diputar dengan cepat, dimana pedangnya sampai, di situ senjata musuh segera terpental.

Selagi pertarungan menjadi makin sengit, tiba-tiba terlihat ada bayangan orang berkelebat, seseorang telah menerobos masuk di antara senjata-senjata yang saling beterbangan, beberapa jagoan petugas mendadak merasa pergelangan tangan mereka kaku pegal, sementara itu Giam Tje-tjwan sudah menghadang mengalingi di depan Teng Hong-ko.

"Berhenti semua!" bentaknya.

Kiranya tadi ia telah mengunjukkan 'Im-yang-tjiu' yang lihai, ia telah menotok tangan seorang jagoan yang paling depan, sedang pedang Hong-ko pun kena teraup di tangannya.

"Jangan kamu coba membikin ribut di rumah Lohu!" ia melanjutkan bentakannya. "Seandainya ada perkara betapa besarnya pun, Lohu boleh memikul seluruhnya." Beberapa jagoan polisi yang mengetahui kelihaian Giam Tje-tjwan, maka seketika mereka tak berani coba bertindak sesukanya lagi. Hanya Tjin Siu-pi yang sementara itu telah mendekati.

"Giam-lodji, berani kau melawan!" katanya dengan tekanan suara berat sambil matanya melotot.

"Tjin-taydjin, perkenankan aku bertanya, kau diperintahkan datang buat menggeledah rumah atau menangkap orang?" tanya Giam Tje-tjwan, si 'Im-yang-pat-kik-tjiu' dengan berani.

Karena pertanyaan yang spontan dan beralasan itu, seketika Tjin Siu-pi bungkam, tetapi kemudian lantas ia menjawab sesudah berpikir sejenak.

"Tam-taydjin memerintahkan aku ke sini, menghendaki agar kau menyerahkan barang aslinya yang ada di dalam peti!"

"Aneh sekali perkataan Tjin-taydjin itu," sahut Giam Tje tjwan. "Berdasarkan apa memastikan bahwa barang di dalam peti itu sudah bukan yang asli lagi?"

Tjin Siu-pi menjadi gelagapan lagi oleh pertanyaan itu, karena tak mungkin ia menceritakan terus terang apa sebenarnya yang terjadi. Karena itu, dari malu ia berubah menjadi gusar.

"Giam Tje-tjwan, tak usah kau banyak membacot, baiknya kau dan bocah she Teng itu ikut kami, kemudian biar diputuskan sendiri oleh Tam Ting-siang!" ia membentak lagi. Sudah itu, tanpa berkata lagi segera ia memberi tanda, para begundalnya segera maju mengepung lagi mereka berdua, cuma sudah tak berani sembarangan menggerakkan tangan pula.

"Aku, Giam Tje-tjwan selamanya tidak pernah berbuat sesuatu kejahatan, andaikan harus ikut pergi dengan pembesar anjing ini pun tak takut, cuma entah orang muda she Teng telah melakukan perbuatan apa sewaktu di tengah jalan," pikir Giam Tje-tjwan.

Agaknya Hong-ko dapat menerka apa yang orang tua itu pikirkan, maka lantas ia maju dan berkata padanya, "Giam-lo- enghiong jangan kuatir, Siautit datang dari Go-bi tanpa berbuat sesuatu kejahatan, negara tentu ada peraturan hukumnya, apakah kita takut fitnahan pada orang baik-baik, biar Siautit ikut Lo-tjianpwe pergi bersama mereka, coba apakah mereka berani sewenang-wenang mencelakai orang."

Perkataannya begitu bersemangat dan berani, Tjin Siu-pi mau tak mau harus melirik, sedang Giam Tje-tjwan diam-diam memuji pemuda ini yang cukup tabah dan berani.

Akhirnya mereka berdua digiring keluar dari rumah dan meninggalkan kampung mereka. Dari kampung 'Kak-thau-tjun' ke kota Tjelam masih harus melalui perjalanan yang memakan tujuh atau delapan li, sepanjang jalan Tjin Siu-pi berlaku waspada untuk menjaga segala kemungkinan.

Ketika mereka sedang berjalan, dari depan sementara itu telah mendatangi dua orang laki-perempuan yang berdandan sebagai petani, yang lelaki menjunjung bakul bambu, sedang yang perempuan mengenakan caping dan memikul pikulan kayu yang dipalangkan.

Teng Hong-ko berjalan berendeng dengan Giam Tje-tjwan, begitu nampak kedua orang ini, segera ia menyenggol padanya dan memberi kedipan mata.

Dalam pada itu, beberapa petugas yang berjalan di depan sudah membentak meminta si wanita minggir, sambil goloknya yang besar diangkat tinggi-tinggi. Namun wanita itu agaknya acuh dan tak mendengar, ia masih terus maju dengan pikulan kayunya yang tetap malang melintang, sedang jarak di antara mereka sudah tinggal beberapa tombak saja.

Si lelaki yang berjalan di sebelah belakang tampak lekas maju ke depan, dengan kedua tangannya ia memegang kencang bakul bambu yang tersunggi di atas kepalanya, ia berkata pada petugas itu, "Tuan-tuan besar maafkan kami, isteriku itu kedua telinganya memang tuli!"

Di waktu ia berbicara itu, maka jarak antara mereka sudah semakin dekat, barulah petugas itu sempat menggertak pula, "Lekas enyah!"

Dan mereka mengangkat golok buat menakut-nakuti, sekonyong-konyong secepat kilat lelaki itu telah menumplekkan bakul bambu yang disunggi itu ke depan, ternyata isi di dalamnya adalah kapur gamping, dan justru waktu itu angin bertiup ke jurusan para petugas itu, keruan saja seketika berupa segumpalan awan putih yang mengabut, kapur gamping itu telah berhamburan di antara mata. mulut dan kepala para petugas yang berjalan di depan itu, hingga mereka kelabakan tak tahu jalan, saking gugupnya mereka menggelepar, hanya golok mereka saja yang diobat-abitkan sekenanya.

Dalam pada itu si wanita tadi sudah memutar pikulannya menerjang ke dalam barisan serdadu Boan, begitu hebat pikulannya bekerja hingga tanpa ampun lagi siapa saja yang mendekat kena dihantamnya. Sedang si lelaki dengan cepat pun sudah melolos pedangnya, ia melompat ke samping Hong-ko dan terus menariknya pergi. Beberapa jagoan coba menyusul, tetapi lelaki itu membalik dengan beberapa serangannya sudah membikin para jagoan itu tunggang- langgang.

Kedua lelaki-perempuan yang menyamar sebagai petani ini bukan lain ialah 'Pat-pi-long-kun' Yan le-lam dengan isterinya, Hoa Sian-bu, mereka diam-diam mengikuti Teng Hong-ko, waktu mengetahui hari ini Tjin Siu-pi mengerahkan pasukannya ke Giam-keh-tjeng, mereka lantas tahu tentu telah terjadi sesuatu, maka sengaja mereka menanti di tengah jalan untuk menolong bila perlu. Sementara itu Teng Hong-ko pun sudah melolos pedangnya yang memang sudah disiapkan itu, ia memanggil Giam Tje- tjwan dan berseru padanya, "Lotjianpwe, marilah ikut kami membobolkan kepungan!"

Tetapi Giam Tje-tjwan ternyata seperti tidak mendengar seman itu, bukannya ia maju, sebaliknya ia mundur dan bergabung dalam rombongan serdadu musuh. Beberapa jagoan yang tadi diterjang bubar oleh Yan Ie-lam sementara itu telah merubung maju lagi sambil membentak, "Tangkap penjahat!"

Yan Ie-lam dapat menduga Giam Tje-tjwan tentu tak mau bertaruh dengan keselamatan harta benda dan keluarganya, maka segera ia memberi tanda pada Hong-ko, sesudah itu pedang mereka bekerja dengan cepat untuk menerjang keluar dari kepungan.

"Giam-loenghiong, Wanpwe tidak berbuat sesuatu kejahatan, kini terpaksa kami harus pergi dahulu!" teriak Teng Hong-ko akhirnya.

Setelah itu bersama Yan le-lam segera mereka menerjang keluar, pedang mereka bekerja dengan kencang, dalam sekejap saja mereka sudah berhasil membobol kepungan, sedikit musuh yang mencoba mengejar telah dibikin kalang- kabut juga oleh balikan pikulan Hoa-lihiap yang terus menyerampang dan menyeruduk, tidak antara lama mereka bertiga sudah menghilang dari kejaran.

Sekonyong-konyong, secepat kilat lelaki itu me-numplekkan baku! bambu yang disungginya itu ke depan, ternyata di dalamnya berisi kapur Ramping.

Waktu Tjin Siu-pi dapat menenangkan kembali dirinya dan memeriksa pasukannya, ternyata sudah lebih dari separoh yang terluka atau binasa, masih beruntung Giam Tje-tjwan tidak ikut lolos. "Giam Tje-tjwan, begitu besar nyalimu, berani kau bersekongkol dengan kaum pengacau untuk membegal tawanan di sini!" Bentak Tjin Siu-pi saking gemasnya karena mengalami kerugian yang tak sedikit itu, ia pun menjadi gusar dengan mata melotot.

"Tjin-taydjin, hendaklah jangan asal memfitnah saja," jawab Giam Tje-tjwan yang tidak menyerah mentah-mentah. "Aku tidak kenal siapa orang yang datang tadi. kalau tidak, apakah aku bersedia terus tinggal di sini?"

Setelah ia berpikir sejenak, meruanglah masuk diakal apa yang diucapkan Giam Tje-tjwan itu. maka Tjin Siu-pi tak berani terlalu mendesak lagi.

"Meskipun kau tidak ikut kabur, tetapi pengacau itu telah merampas tawanan she Teng itu, tentu kau kenal mereka," kata Tjin Siu-pi lagi dengan lagu suara yang sudah berubah.

Kemudian ia perintahkan prajuritnya berangkat kembali ke Tjelam dengan menggiring Giam Tje-tjwan.

Sementara itu sesudah Pat-pi-long-kun berhasil menolong Teng Hong-ko, mereka bertiga dengan cepat sudah meninggalkan kampung yang terjadi huru-hara itu, waktu hari mulai gelap, mereka sudah menempuh tujuh atau delapan puluh li, ketika itu mereka sudah sampai di bawah lereng gunung Thay-san. Dalam malam yang remang-remang, akhirnya mereka tiba di suatu perkampungan yang besar, di pintu gerbang depan terlihat tertulis 'Mo-dji-tje' tiga huruf.

Ketika mereka masuk ke ruang tengah, maka Hong-ko lantas menampak para pahlawan yang pernah berkumpul di Pek-hoa-ho tempo hari, ada lima atau enam orang di antaranya juga hadir di sini, begitu melihat mereka datang, segera mereka bangkit berdiri menyambut.

Antara lain yang di situ ialah It-tun Ki-su Si Liang, Tju-kat Beng dari Liong-bun-pang, Liok Ing, To Dji-hay, Mo Djit, pemimpin Ang-hoa-hui Liu Ut dan masih ada pula seorang imam yang tidak mereka kenal.

"Dia adalah Gui Djing-si Totiang dari Djing-si-koan di Ong- ok-san," Si Liang memperkenalkan pada mereka bertiga sambil menunjuk si imam. "Hari ini justru ia datang kemari bersama Giok-bin-yao-hou Bun Sui-le dari Djit-hong-san, tetapi karena mendapat sesuatu kabar berita tentang mutiara mestika di tengah jalan, Bun-tjetju telah mengirim Gui-totiang memberitahukan ke sini dahulu."

Terhadap sahabat baru itu, suami isteri Yan le-lam dan Teng Hong-ko maju memberi salam perkenalan.

"Djing-si Totiang, Bun-tjetju entah telah mendapatkan kabar apa?" tanya Hoa-lihiap kepada kenalan barunya itu.

"Siauto bersama Bun-tjetju datang dari Liu-ho, pada waktu ia berada di Ya-yao-kang, ia telah mendapat kabar bahwa sebutir mutiara mestika secara diam-diam telah dikirim dari Khay-hong, yang mengawal ialah dua jagoan kelas berat dari Ko-yang-pay, masing-masing Ie Djan yang berjuluk 'Sip-tiat- hong' dan Tji Tjing-hian yang berjuluk 'Hoan-san-kau', walaupun Bun-tjetju tidak kenal kedua orang ini, tetapi sengaja ia hendak coba menguntit mereka."

"Oh, kiranya begitu!" kata Hoa-lihiap.

Setelah para pendekar bertanya tentang pengalaman mereka tadi, akhirnya Pat-pi-long-kun diam-diam menarik Si Liang menyingkir.

"Manusia macam apakah Gui Djing-si itu? Tingkah lakunya aku lihat agak sedikit mencurigakan!" tanyanya pada Si Liang.

"Aku pun belum pernah berjumpa dengan dia," sahut Si Liang. "Cuma kabarnya beberapa waktu yang lalu, ia adalah tokoh ternama dari kalangan Liok-lim di Kwangwa dan berkumpul bersama 'Tiat-pi-goan' Song Kiat, belakangan ia baru menjadi imam di Ong-ok-san, kedatangannya hari ini adalah karena kenal dengan Tju-kat Beng dan Mo Djit, mereka sama-sama adalah begal besar dari daerah Siamsay dan Sutjwan."

"Kini persoalannya makin lama makin ruwet, 'Sam Po Tju' belum ada satupun yang jatuh di tangan kita, tapi dari berbagai pihak sudah pada ikut mengincar, agaknya kelak tak dapat terhindar dari percekcokan," ujar Yan le-lam pula dengan menggeleng-geleng kepala.

Tengah mereka berbicara, tiba-tiba Hoa-lihiap pun menyusul datang.

"Apakah kamu sedang mempersoalkan si imam tua itu?" tanyanya menimbrung.

"Ya, Yan-toako menguatirkan maksud kedatangan Gui Djing-si yang mungkin tidak bersih!" sahut Si Liang.

"Memang aku pun sedang hendak memperingatkan kau," tutur Hoa-lihiap. "Melulu seorang Giok-bin-yao-hou saja kita sudah susah melayani, apabila kini ditambah dengan seorang Gui Djing-si, imam tua yang biasa berlaku tak bersih ini, jangan-jangan nanti nama baik kita ikut ternoda!"

Sungguhpun dalam hati sudah menaruh curiga, tetapi menurut kebiasaan kaum Liok-lim, siapa saja yang sudah ikut, tak mungkin ditolak lagi dan apa yang akan dilakukan harus dirundingkan bersama. Maka malam itu juga, di 'Mo-dji-tje' terjaga rapi, bahkan penyelidik disebar hingga jauh, sedang di ruangan besar markas mereka sedang berkumpul para pahlawan untuk mempelajari rahasia apa yang terdapat pada senjata rahasia dalam peti Teng Hong-ko itu.

"Apabila memang benda-benda ini tidak mengandung rahasia, si pembesar anjing Tam Ting-siang tentu tidak mungkin hanya dalam semalam saja telah mengetahui barang-barang dalam peti ini sudah ditukar orang!" Tju-kat Beng mengutarakan pendapatnya. "Memang betul apa yang Tju-kat-heng katakan," ujar Si Liang sependapat. "Menurut dugaan Siaute, saudara Teng di tengah jalan tentu sudah dikuntit oleh begundal Tjhi Djin-ho dan memperalat dirinya sebagai tameng mereka, sebabnya ialah karena ia membawa 'pedang perjalanan' dari Go-bi-pay, siapa saja dari kalangan Liok-lim yang melihatnya sudah pasti tidak mungkin mengganggunya."

"Perhitungan Si-toako memang tepat juga." ganti Yan le- lam yang bicara. "Tetapi pada waktu berada di Pek-hoa-ho, bukankah kita sendiri sudah memeriksa betul barang-barang dalam peti dan memang tak tertampak sesuatu tanda yang mencurigakan?"

Jika semua orang sedang mengutarakan pendapat masing- masing dengan ramai, adalah Gui Djing-si waktu itu sedang duduk di suatu sudut sambil mengelus-elus jenggotnya, sepasang matanya yang melambai ke bawah sedang mengincar 'Sam-ling-piau' dan pelor besi yang terserak di atas meja.

"Aku ada satu usul, entah bagaimana pendapat Tjuwi!" tiba-tiba ia berkata sesudah agak lama.

"Djing-si Totiang, kau yang sudah banyak berpengalaman dan berpandangan luas di kalangan Hek-to (golongan hitam), jika ada pendapat bagus, silakan katakan!" lekas Tju-kat Beng menyahut.

Imam tua itu berbangkit, ia mendekati meja dimana tergeletak senjata rahasia yang menjadi pokok persoalan, ia mengambil sebuah 'Sam-ling-piau* untuk diperiksa, sesudah itu baru ia berkata pula.

"Senjata rahasia dari Go-bi-pay ini terbikin dengan ketelitian yang luar biasa, tiap piau dan tiap butir pelor besi mempunyai bobot yang sama tanpa beda sedikitpun, di sini kini terdapat tiga buah Sam-ling-Piau dan dua belas biji pelor besi, kita boleh menyediakan alat timbangan dan menimbang tiap barang ini."

Mendengar usulnya itu, para benggolan yang hadir itu mau tak mau harus mengakui kecerdikan pikirannya.

"Memang bagus sekali pendapat itu," kata Si Liang memuji.

Kemudian ia perintahkan penjaga mengambil alat penimbang, Gui Djing-si sendiri mengukur timbangan tiap-tiap buah senjata piau itu, ternyata ketiga piau itu mempunyai bobot yang sama tanpa beda. Menyusul itu adalah peluru besi yang harus ditimbang, satu persatu ditimbang, sampai pada biji pelor ketujuh, tiba-tiba diketahui bahwa beratnya jauh lebih enteng dari yang lain.

"Peluru ini berperut kosong!" Gui Djing-si berseru girang tak tertahan. Keruan saja para benggolan itu seketika berkerumun maju ke pinggir meja, sementara itu Si Liang yang telah memeriksa dengan teliti di bawah sinar api lilin, akhirnya terbukti juga memang 'Thi-wan' atau peluru besi itu terdapat tanda satu garis kecil di tengah-tengahnya.

Hoa-lihiap tampil ke muka, ia menyambut peluru besi itu, dan ia menggelar saputangannya di atas meja. Kemudian terlihat ia menekan dan memutar peluru besi itu, maka sesaat kemudian tertampaklah selarik sinar putih menyilaukan pandangan orang, ternyata di dalam peluru besi itu menggelundung keluar sebutir mutiara sebesar biji buah kelengkeng yang bersinar gemerlapan tersorot oleh sinar lampu hingga menyilaukan mata.

Hoa-lihiap menjemputnya dan ditaruh kembali ke saputangannya, mutiara itu begitu licin mengkilap, makin dilihat makin menyenangkan, tidak salah kalau dikatakan mutiara mestika yang jarang diketemukan.

Saking kagumnya para benggolan itu, sampai seketika keadaan menjadi sepi, betul mereka terhitung benggolan di daerahnya masing-masing, harta benda dan emas berlian atau batu permata yang sudah mereka rampas pun tidak sedikit, tetapi sesungguhnya belum pernah mereka melihat mutiara secantik dan sebesar ini, saking takjubnya hingga lupa daratan menatapkan sinar mata mereka yang mengandung perasaan kagum dan serakah, sampai rahasia cara bagaimana pelor besi tadi bisa terbuka sudah tak mereka perhatikan lagi.

"Barang ini terbikin sedemikian rapinya, tempat sambungan ini dirapatkan dengan beralur-alur, kalau bukan orang dengan tenaga jari sudah terlatih, tentu susah untuk membukanya," kata Si Liang sembari menjemput kedua belah peluru besi tadi.

Sudah tentu para benggolan itu pun ikut memuji, karena pelor besi itu kecuali mempunyai berat yang tidak sama, soal besar kecilnya memang tiada perbedaan.

"Kalau begitu, saudara Teng di perjalanan tidak saja sudah dikuntit oleh cakar alap-alap, bahkan barang dalam peti ini pun sudah ditukar orang!" ujar Tju-kat Beng.

"Yang tertukar melulu hanya sebiji saja," dengan tertawa Yan le-lam berkata. "Aku dapat menduga tentu ini adalah akal bulus Tjhi Djin-ho, lebih dulu ia sudah mengetahui Teng-heng mempunyai 'pedang perjalanan' dari Go-bi-pay, maka ia telah memperalat dirinya sebagai orang pengantar mutiara, cuma sayang, setelitinya dia masih ada yang kelupaan juga, ia telah lupa bahwa peti kayu cendara itu mirip betul dengan peti yang berisi 'Tjin-tju-goan' itu, hingga sebab itu telah banyak menimbulkan perhatian orang Kangouw, berbareng itu ia pun menunjukkan kegelisahannya, hingga menimbulkan kecurigaan kita terhadap tingkah laku Tam Ting-siang."

Kiranya pada malam Teng Hong-ko hendak menggunakan kendaraan sungai pada permulaan perjalanannya di Hong-ho, malam itu angin keras dan ombak besar, tetapi pada saat yang demikian itu ada dua bayangan hitam yang menyelundup masuk ke kapal dimana ia menumpang, kedua tamu aneh ini adalah begundal Tjhi Djin-ho. Di luar tahu Hong-ko, mereka telah berhasil membuka petinya serta dapat menukar sebutir pelor besi yang lain dimana di dalamnya tersimpan mutiara mestika tadi. Tetapi akhirnya tak urung ternyata jatuh juga di tangan para benggolan itu.

Sudah tentu dengan hasil pertama mereka itu, mereka merayakan dengan meriah, dan Hoa-lihiap pun diangkat oleh mereka sebagai orang yang harus menyimpan baik-baik mutiara mestika itu, sambil menanti hingga ketiga-tiganya sudah sampai ditangan mereka semua, baru akan menetapkan cara pembagian rezekinya.

Sementara itu sudah diperoleh kata sepakat tentang hasil mereka, maka terdengarlah Gui Djing-si berkata pula sambil mengelus-elus jenggotnya yang pendeic, "Saudara-saudara sekalian, si jahanam Tjhi Djin-ho ini banyak tipu muslihatnya, mutiara ini belum tentu tulen, kita harus mencoba, diuji dahulu."

"Gui-totiang," ujar Tju-kat Beng. "Kalau melihat warna mutiara ini yang bersinar mengkilap, apakah mungkin barang itu tiruan!"

"Ya, seumpama bukan barang palsu toh kita harus mencobanya juga," sahut Gui Djing-si. "Seperti kita ketahui, mutiara yang bertabur di atas Tjin-tju-goan yang besar adalah tiga butir, masing-masing ialah 'Ting-hong-tju', 'Pi-hwe-tju' dan 'Gi-han-tju', kini baru mendapatkan satu di antara ketiganya, bukankah kita harus mencoba mutiara yang kita dapatkan ini termasuk yang manakah di antara ketiga mutiara itu?"

Atas keterangan itu, beberapa benggolan yang hadir lantas menyatakan akur dengan pikiran si imam tua.

"Dan cara bagaimana Totiang hendak mencobanya?" tanya Yan Ie-lam.

Ternyata Gui Djing-si memang orang cerdas, dalam sekejap saja ia sudah mendapatkan akal. "Itu tidak sulit," katanya kemudian, "Umpamakan saja kita anggap dia sebagai 'Pi-hwe-tju', kita nyalakan api pada satu gundukan, siapa yang berani membawa mutiara itu terus melompat masuk ke dalam api, dengan begitu bukankah segera akan bisa dibedakan?"

"Hendaklah Totiang jangan gegabah dengan permainan begitu," sahut Hoat-giam-ong Mo Djit dengan tertawa. "Apabila mutiara itu bukan 'Pi-hwe-tju', bukankah orang yang melompat masuk ke dalam gundukan api akan terbakar hangus?"

"Itu pun gampang, kalau tiada yang berani, serahkan saja tugas itu kepada aku si imam melarat ini," Gui Djing-si menambahkan pula.

Setelah usul Gui Djing-si diterima, lantas ia menetapkan pada esok hari hendak menyusun gundukan kayu kering untuk dibakar buat menguji mutiara mestika itu.

Malam itu Si Liang dan Yan-Ie-lam tinggal bersama satu kamar, ia berkata padanya, "Yan-toako, hari ini kalau bukan Gui-totiang yang mendapatkan akal, kita boleh jadi belum dapat menemukan tempat dimana mutiara itu disimpan!"

"Lambat atau cepat akhirnya akan ketahuan juga, dia hanya sedikit lebih licin dari kita, malah sekarang pun aku masih menaruh curiga padanya," sahut Yan Ie-lam.

"Pantas kau tidak pernah berpisah selangkah pun dari dia," dengan tertawa Si Liang berkata. "Cuma kalau dia berani sembrono di hadapan kita, begitu ia mencoba bertingkah, mungkin kepalanya sudah berpisah dengan tubuhnya!"

Besoknya, pagi-pagi sekali sudah tampak Gui Djing-si memimpin beberapa orang sedang menumpuk kayu bakar, ia telah menumpuk beberapa puluh batang kayu yang melintang hingga dekat dengan pintu gerbang benteng mereka, setelah itu ia menyiram pula dengan bahan-bahan yang mudah terbakar oleh api, sebangsa belerang dan lain-lain. Pada waktu dekat lohor, para pemimpin telah muncul semua di pelataran depan itu, tetapi ketika mereka melihat tumpukan kayu itu tertimbun begitu banyak dan panjang, mereka semua agak kurang mengerti.

Kemudian Si Liang memerintahkan mulai menyalakan api, karena sudah disiram dengan bahan-bahan pembakar, maka dalam sekejap saja api sudah menjalar ke seluruh gundukan kayu hingga seketika merupakan lautan api.

Sementara itu Hoa-lihiap sudah memegangi sebuah kotak kecil yang di dalamnya berisi mutiara mestika mereka.

"Hoa-lihiap, silakan serahkan mutiara itu pada Pin-to!" pinta Gui Djing-si sesudah tiba saatnya.

Akan tetapi Hoa Sian-bu tidak lantas menjawab, ia melirik sekejap pada suaminya.

"Nanti dulu!" tiba-tiba ia berkata. "Kita kirim beberapa orang melingkari gundukan api ini, agar bila terjadi sesuatu yang membahayakan Gui-totiang, kita bisa segera menolong."

Gui Djing-si mengerti dirinya dicurigai jangan-jangan begitu memegang mutiara segera ia kabur. Namun ia tetap berpura- pura tenang saja.

"Begitupun baik," sahutnya kemudian. "Aku sendiri tidak begitu yakin akan berhasil, jangan-jangan mutiara ini bukan Pi-hwe-tju bisa-bisa aku terbakar hidup-hidup!"

Sementara itu api sudah berkobar-kobar hingga menjulang tinggi.

Selagi Hoa-lihiap hendak memerintahkan orangnya berjaga- jaga melingkari gundukan api, mendadak terdengar pula Gui Djing-si berkata, "Api sedang berkobar dengan hebatnya, Hoa- lihiap coba keluarkan mutiara itu dan jalan mendekati gundukan api, kemudian menyebutnya, apabila betul mutiara itu adalah Pi-hwe-tju, maka api yang menjilat-jilat itupun akan berkurang." Karena perkataannya masuk akal juga, maka Hoa-lihiap membuka kotaknya dan menaruh mutiara itu di tengah tangannya mendekati api, tetapi baru saja ia membuka tangan dan hendak disebul, sekonyong-konyong ada sambaran angin yang san-tar terus menggulung hingga mutiara itu ikut bersama sambaran angin itu, menyusul mana terlihat Gui Djing-si meraup mutiara itu terus melompat menerobos masuk ke dalam gundukan api.

Perbuatan Gui Djing-si yang mendadak itu telah membikin Yan le-Iam dan kawan-kawan tercengang seketika, sehingga tak mampu berbuat banyak, sementara itu Gui Djing-si telah menggunakan kepandaiannya 'Kian-khun-siu-tju-hong' atau angin menyambar dari balik lengan baju, ia sanggup menyerobot benda itu sejauh beberapa kaki. Perbuatannya yang secepat kilat dan di luar dugaan para benggolan yang hadir, hanya beberapa orang saja yang bisa melihat ia menyerobot mutiara mestika.

Sementara itu Hoa-lihiap dengan pedang terhunus segera mengudak dengan menerjunkan diri ke dalam lautan api juga.

Keruan saja yang paling kaget rasanya ialah Yan le-lam, lekas ia melompat tinggi sambil sekali jumpalitan di atas, ia menyambar tubuh isterinya di antara api yang berkobar-kobar itu untuk kemudian terus mencelat keluar pula.

"Api begitu besar jangan kau gegabah!" dengan napas memburu ia mengomeli isterinya itu.

Saat mana api sedang menyala dengan hebatnya hingga seluruh markas mereka seakan-akan terkurung oleh lautan api dan asap.

Dengan tipu muslihat Gui Djing-si coba merebut Po-tju, sebenarnya ia sendiri pun belum yakin apakah Po-tju itu yang anti api atau bukan, maka dengan kehebatannya yang luar biasa. Ia dapat mengantongi mutiara mestika itu, walaupun sedikit jenggot dan rambut tidak urung terbakar hangus, namun tidak berarti baginya.

Setelah berhasil, maka segera ia meninggalkan Mo-dji-tje dan cepat angkat langkah seribu turun gunung.

Selagi ia berlari dengan cepatnya, mendadak ada bayangan orang berkelebat, menyusul mana dari pohon di depannya telah muncul seorang dengan gesit sekali, waktu ia menegasi, ternyata hanya seorang wanita dengan mukanya setengah tertutup dengan kain. Mengenakan pakaian ringkas warna gelap, di pinggangnya terikat angkin yang melambai-lambai tertiup angin.

Seketika Gui Djing-si tertegun oleh kemunculan wanita yang mendadak ini, ia membatin kedatangan wanita ini begini aneh, coba akan kulihat dahulu orang macam apakah dia ini.

Akan tetapi tanpa berbelit-belit si wanita itu telah menegurnya dengan terus terang, "Gui Djing-si lekas kau tinggalkan mutiara itu, jangan sampai nonamu turun tangan sendiri!"

Mendengar teguran orang, si imam tua ini semakin terkejut, melihat gelagatnya rupanya wanita ini adalah segolongan dengannya namun di antara tokoh-tokoh dalam kalangan Hek-to di Soatang selamanya belum pernah ia dengar ada terdapat seorang begal wanita muda.

"Oh, kiranya nona adalah orang sesama garis kita, sayang mutiara itu masih berada dalam tangan suami isteri Yan Ie- lam dan belum mau menyerahkannya," sahutnya dengan muka tertawa.

Tak tahunya wanita muda itu tidak gampang percaya, dengan alis menegak segera ia mendamprat, "Bohong kau! Melihat tubuhmu saja yang masih membawa bau hangus, terang Po-tju itu sudah terserobot lari olehmu, masih berani kau jual lagak di depan nonamu!" Habis berkata, sinar pedangnya berkelebat, dengan segera ia sudah hendak menerjang maju.

"Tahan dulu nona!" lekas Gui Djing-si berseru sambil mundur memberi hormat. "Tunggu dulu, Pin-to akan mengambilnya keluar."

Lalu ia merogoh ke dalam sakunya seakan-akan hendak mengambil sesuatu, namun bukan mutiara yang ia keluarkan, sebaliknya pada waktu tubuhnya menegak kembali, secara mendadak ia mengayunkan tangannya, menyusul terdengar suara gemerincing dengan membawa sinar gemerlapan, ada secomot benda mengkilap dengan cepat menyambar ke muka gadis tadi.

Senjata ini adalah senjata tunggal yang khusus dipelajari Gui Djing-si yang disebut 'Tui-hun-tjiam' atau jarum pemburu nyawa, ialah terdiri dari belasan jarum yang lembut, ujung jarum sudah direndam dengan air berbisa, begitu mengenai tubuh segera bisa terbinasa.

Tak terduga gadis itu dengan gampang saja telah enjot tubuhnya setinggi tujuh atau delapan kaki, dan lewatlah jarum pemburu nyawa itu dari bawah kakinya. Berbareng mana bayangan orang berkelebat pula, angin tajam telah menyambar ke muka si imam tua.

Rupanya Gui Djing-si mengetahui adanya sambaran angin Bu-kek-kiam dari Bu-tong-pay, begitu angin sampai pedangnya tentu menyusui tiba juga, rnaka lekas ia melompat pergi sambil menyampuk dengan angin pukulannya, dengan Lwekangnya yang cukup kuat ia pikir dapat menggoncang pergi pedang lawan.

Akan tetapi dalam sekejap itu, terasa juga olehnya angin mengiris lewat di atas kepalanya dan ikat rambutnya terurai, baru ia insyaf bahwa pedang si gadis sudah berhasil membabat topi imamnya hingga rambutnya ikut terbabat. Saking terperanjatnya ia melompat naik setinggi-tingginya dan dalam kesempatan itu ia melolos pedangnya sendiri yang terselip di punggungnya.

Sementara itu terdengar gadis itu tertawa terbahak-bahak.

"Gui Djing-si, tadi nonamu telah mengampuni jiwamu, apa betul kau masih hendak bertanding denganku, nah boleh kau lihat dalam tiga gebrak saja nonamu nanti akan mengambil jiwamu!" katanya menghina.

Begitu habis suaranya, pedangnya pun berbareng bergerak, ia menyabet Gui Djing-si dengan gerak tipu 'Hi-djin-bang' atau menangkap ikan menebar jala, pedangnya menangkis dari bawah, ia berniat menempel pedang lawan untuk menjajal tenaga dalamnya.

Tak ia duga, begitu pedang beradu, segera terdengar suara nyaring dan pedangnya hampir terlepas dari tangannya. Lekas ia menggeser langkah dan memutar badannya, ia tarik pedang ke depan dada dan tangan kirinya membantu tangan kanan yang menghunus pedang, ia putar senjatanya secepat kilat, beruntun ia membikin beberapa kali putaran.

Gerakannya ini cukup sebat dan lihai dengan mengandung banyak perubahan lainnya, apabila pedang lawan beradu lagi. maka tenaga senjatanya bisa mendadak terkumpul di tengah, terus menusuk ke tenggorokan lawan, kalau belum mengetahui cara menangkisnya, sering kali bisa diselomoti oleh tipunya ini.

Namun gadis itupun tidak gampang diakali, ia menarik pedangnya terus mengikuti gerak senjata si imam sehingga terlepas dan garis ancaman. Cara bagaimana ia bertindak melepaskan diri, Gui Djing-si tak bisa mengetahuinya, maka dalam kegugupannya ia hendak mengubah serangannya pula, tetapi sudah terlambat, tiba-tiba pergelangan tangannya sudah terasa pegal, urat nadinya sudah terpencet oleh tangan si gadis yang datangnya secepat kilat, seketika itu juga seluruh badannya terasa kaku kesemutan dan pedangnya pun terjatuh.

Dengan sekali bentak, maka tanpa berdaya si imam tua itu telah berlutut sambil berulang-ulang memohon, "Nona, ampuni jiwaku!"

"Masih tidak kau keluarkan mutiara itu, apakah kau minta batok kepalamu diberi lubang?" bentak si gadis pula sambil pedangnya menempel ke belakang kepala si imam.

Pada saat demikian ini, sudah tentu Gui Djing-si tak bisa main akal bulus lagi, selamatkan jiwanya paling penting, terpaksa ia merogoh saku dan menyerahkan Po-tju atau mutiara mes-tika yang baru saja ia dapat merampasnya itu.

Begitu mutiara itu sudah berada di tangannya, gadis itu segera mendupak sambil membentak pula, "Enyahlah kau!"

Imam itu terdupak hingga menggelundung jumpalitan pergi sejauh beberapa tombak.

Sudah itu, si gadis memeriksa mutiara yang berada di tangannya itu di bawah sorotan sinar matahari, kemudian dengan sekali suitan panjang, laksana segulungan bayangan hitam ia melayang pergi menghilang di antara hutan belukar.

Begitulah, sia-sia belaka usaha imam tua dari Ong-ok-san itu, barang diperolehnya dengan gampang, hilangnya pun mudah dan sekejap saja, dengan memandang bayangan belakang si gadis dalam matanya penuh mengandung api kegusaran, namun apa daya, kepandaiannya kalah dengan orang.

Ia merangkak bangkit, berulang-ulang ia menghela napas gegetun, rasa girang yang tadinya memuncak kini buyar seketika. Sementara itu karena takut disusul oleh para pemimpin gerombolan yang diingusi dirinya, lekas ia berangkat pulang ke Ong-ok-san laksana anjing buduk yang terusir. Sampai waktu magrib, ternyata belum beberapa puluh li yang ia tempuh, sedang rasanya ia sudah payah dan susah melangkah pula. Tiba-tiba ia lihat di bawah sebuah bukit ada sebuah bio atau rumah biara tua, di depan pintu tertampak ada seekor kuda putih yang tertambat di situ dengan pelana yang bagus bersulam, ia menjadi girang, pikirnya siapa yang menambat kuda di sini, justru aku bisa meminjamnya buat perjalananku.

Tanpa ia tegasi kuda itu pula, begitu membuka tali tambatan, segera ia mencemplak dan dilarikan dengan cepat. Akan tetapi di luar dugaannya baru beberapa langkah kudanya kabur sekonyong-konyong di belakangnya terdengar suara bentakan nyaring dan secepat angin telah ada orang yang memburunya.

Namun ia tidak menggubris, katanya dalam hati, "Kudamu sudah berada di tanganku, betapa cepat kau memburu, tak nanti kau bisa menyandak!"

Begitulah dengan sedikit mendekam di atas kuda itu, ia kabur secepat mungkin.

Tak ia duga tiada seberapa jauh kudanya dilarikan, mendadak ia sudah merasakan tubuhnya terapung, dari belakang terasa ada orang menjambretnya terus diangkat dan dibanting pergi. Ia terlempar menggelundung hingga kepalanya merasa pening karena terbanting. 

Apabila kemudian ia telah menenangkan semangatnya, baru ia membuka matanya, di antara senja yang remang- remang ia lihat di atas kuda putih tadi sudah bertambah seorang wanita cantik yang bukan lain ialah 'Giok-bin-yao-hou' Bun Sui-le.

Giok-bin-yao-hou atau si siluman rase bermuka ayu, Bun Sui-le ini memang adalah seorang gadis cantik molek sesuai julukan yang orang berikan padanya, usianya tidak lebih hanya 24-25 tahun, asal-usulnya tak diketahui orang, hanya melihat kiam-hoat yang dimilikinya itu terang adalah ahli waris dari Thian-san-pay.

Ia masih memiliki satu kepandaian lain, ialah dua kaitan di bawah sepatunya, kakinya yang kecil mungil, pada sepatunya terpasang kaitan tajam yang menyelip di bawah, apabila kakinya menendang, dimana tempat yang terkena segera akan tergurat seperti diiris pedang tajam, tidak sedikit jagoan dari Liok-lim yang kena diselomoti hingga rada jeri bila mendengar nama-nya.

Biasanya ia hanya makan yang besar dan tidak makan yang kecil, pembesar-pembesar korup dan hartawan-hartawan pemeras apabila bertemu dengannya pasti tidak diberi ampun lagi. Masih ada keistimewaannya lagi yang sangat menghebohkan kalangan Hek-to atau golongan gelap, ialah orang lain bila memperoleh rezeki, maka harus pula membagi padanya sepertiga bagian, kecuali kalau ia tidak meminta, sebaliknya tiada yang berani menolak.

Dengan peraturannya itu, semua orang Liok-lim sudah tentu tidak bisa menurut begitu saja, tetapi belakangan setelah dua pemimpin kelas satu dari Liok-lim di daerah Tjwan-siam (Su-tjwan dan Siamsay) kena dibinasakan dan dipotong-potong menjadi empat keping terus digantung di atas Kiam-kok, keruan saja seketika itu telah menggetarkan seluruh pemimpin kalangan Liok-lim dan sesudah itu tiada yang tak jeri bila berhadapan dengannya.

Gui Djing-si, si imam dari Ong-ok-san itu sudah lama kenal kelihaian Giok-bin-yao-hou, kali ini dengan sengaja ia mengajaknya ke Soatang, sepanjang jalan ia sudah menghasut agar merebut Po-tju itu, namun Bun Sui-le telah mendamprat dia sebagai pengecut dari kaum Liok-lim, maka Gui Djing-si tak berani coba-coba menyebutnya lagi, kemudian dengan sesuatu alasan, ia memisahkan diri dan mendahului ke Mo-dji-tje untuk menipu dengan akal bulusnya. Tak tersangka di tengah jaian hasil rampasannya kena direbut pula oleh si gadis bertopeng, kini ia hendak mencuri kuda, kembali kebentur pula dengan Bun Sui-le, keruan saja dengan rubuh gemetaran ia mendekam di tanah sambil memberi hormat dengan menundukkan kepala sampai menempel tanah tiada hentinya.

"Sui-kohnio, maafkan aku yang bermata anjing tak bisa mengenali kuda ini adalah milik Kohnio, aku telah berlari kebingungan hingga Kohnio datang masih belum tahu, sungguh harus dihukum!" ia meminta ampun.

Habis berkata, ia ketok-ketok batok kepala sendiri dengan keras.

Dengan melirik Bun Sui-le memandangnya sekejap, ia membiarkan imam celaka itu ketok-ketok kepalanya, sesudah cukup rupanya baru ia bertanya, "Kau tua bangka ini, mengapa begitu gugup berlari-lari?"

Celaka, apabila aku berterus terang mungkin jiwaku bisa lenyap seketika, begitu pikir Gui Djing-si, maka lantas ia menjawab dengan berdusta.

"Kohnio, orang telah menghinakan aku, mereka telah berhasil memperoleh sebutir Po-tju, karena takut kita minta bagian, aku telah diusirnya pergi," dengan rupa harus dikasihani ia menutur.

Akan tetapi dengan memandang lagaknya itu, Bun Sui-le sudah dapat mengetahui pasti ia sedang berbohong.

"Siapa yang menghinakan kau?" sengaja ia bertanya. "Siapa lagi kalau bukan Yan le-lam yang disebut Pat-pi-

long-kun itu, mereka suami isteri malah telah mengejar aku hendak mengambil jiwaku" sahut si imam tua dengan berlagak.

"Bohong!" tiba-tiba terdengar Giok-bin-yao-hou membentak nyaring. Entah sejak kapan ia telah melolos seutas pecut panjang, dengan sekali menyabet, cepat sekali imam tua itu sudah terlilit hingga terangkat ke atas dan diputar di angkasa.

Keruan saja Gui Djing-si berteriak ketakutan dan akhirnya jatuh pingsan

Apabila kemudian ia tersadar kembali, maka ia merasakan dirinya sudah rebah di bawah emperan bio kuno itu, sedang Giok-bin-yao-hou terlihat sedang menyalakan segundukan api dan lagi memanggang sekor kelinci, dengan pisau ia mengiris daging panggang itu terus dimasukkan ke mulurnya, bau wangi kelinci panggang itu membikin Gui Djing-si yang memangnya sudah haus dan lapar jadi mengiler.

Tetapi kemudian ia teringat, ia heran mengapa Giok-bin- yao-hou tidak membunuhnya?

Ia coba menggeraki tubuhnya, namun dengan segera satu sinar putih menyambar menuju padanya, ternyata Bun Sui-le telah menimpukkan pisau belati yang menyerempet lewat di atas mukanya dan terus menancap pada tiang emperan, hampir saja nyawanya melayang apabila terkena, saking terperanjatnya hingga imam tua celaka itu bermandi keringat dingin.

"Anjing keparat, berani kau coba mendustai aku." sementara terdengar Bun Sui-le mencaci maki. "Melihat jenggot kambingmu yang sudah terbakar, terang mutiara itu sudah kau rebut dan kaubawa kabur, kalau kau masih sayang jiwamu lekas mengaku terus-terang, jangan sampai nonamu turun tangan pula."

Baru kini Gui Djing-si mengerti bahwa Giok-bin-yao-hou tidak membunuhnya karena sudah mendakwa dia mencuri mutiara mestika, waktu ia memeriksa, tampak jubahnya sudah robek teriris, terang orang sudah menggeledah tubuhnya, la insyaf apabila tidak bicara apa yang terjadi sebenarnya, pasti banyak kegetiran yang harus dirasakannya pula. Terpaksa dengan suara terputus-putus ia menceritakan semua pengalamannya dari penemuan sebutir Po-tju di Mo-dji-tje, hingga akhirnya dirinya telah menggondolnya merat dengan akal bulus, tetapi kemudian di tengah jalan telah dirampas lagi oleh seorang gadis bertopeng.

"Dan siapa gadis bertopeng itu?" tanya Bun Sui-le sesudah mendengar penuturannya, melihat rupa imam celaka yang menyedihkan itu, ia tahu kali ini tentu tidak berani berbohong lagi.

"Di daerah Soatang sini, aku yang rendah tidak ingat ada kaum Liok-lim wanita yang berkepandaian seperti dia itu," sahut Gui Djing-si. "Usianya masih lebih muda dari Kohnio, yang dimainkannya ialah Bu-kek-kiam-hoat, tampaknya adalah anak murid terpuji dari Bu-tong-pay, kalau Kohnio hendak mengejarnya kiranya masih bisa memburu."

Sambil mendengarkan, Bun Sui-le sembari membatin juga. Imam tua ini pun memiliki kepandaian yang tidak rendah,

tetapi mengapa dalam dua tiga gebrakan sudah bisa dikalahkan, tampaknya gadis itu bukan main asal-usulnya

Memang sudah wataknya yang suka pukul yang keras dan menyerah pada yang lemah, seumpama Gui Djing-si tidak bilang, ia pun bemiat mengejar si gadis itu, pertama ia hendak melihat macam wanita apakah bisa berkepandaian tinggi, kedua ia hendak merebut kembali mutiara mestika itu, agar tidak memalukan kaum Liok-lim di daerah Tjwan-siam yang diingusi hanya oleh seorang gadis saja.

Ia membiarkan kuda putihnya yang bagus itu ditunggangi Gui Djing-si sedang ia sendiri dengan mengunjukkan kepandaiannya berlari cepat 'Tjhau-siang-hui' atau terbang di atas rumput, dengan kencang ia mengikut di belakang kuda Gui Djing-si menuju ke tempat terjadinya perampasan tadi.

Setelah sampai di hutan lebat yang mereka tuju, Giok-bin- yao-hou melepas kudanya di bawah pohon dengan mencoret satu bundaran dengan batu di tanah, ia tepuk-tepuk kudanya dan tanpa ditambat, kudanya itu ternyata sudah menurut sekali berdiam dalam bundaran dan tidak melanggar kalangan.

Kemudian mereka berdua terus menyelusup maju sampai di tengah bukit, keadaan sudah gelap, tetapi remang-remang mereka nampak di atas puncak bukit ada sinar api, dengan kepandaian mereka yang gesit dan cepat, tak lama mereka sudah mendaki sampai di atas, di bawah sebuah tebing puncak ternyata ada rumah gubuk dan sinar api tembus keluar dari rumah ini.

Kuatir kalau si imam tua ilmu entengi tubuhnya masih kurang sempurna, Bun Sui-le berpesan agar dia bersembunyi saja di belakang sebuah batu besar dan tidak peduli apa yang bakal terjadi, tak boleh ia sembarangan bergerak.