Telapak Setan Jilid 24 : Betapa mendalamnya cinta Thian-hong pangcu

Jilid 24 : Betapa mendalamnya cinta Thian-hong pangcu

"INILAH untuk pertama kalinya, dan mungkin untuk terakhir kalinya" Periahan-lahan ia putar badan dan selangkah demi selangkah berjalan naik ke atas puncak, gerakan tubuhnya begitu payah sehingga memilukan hati siapapun juga memandang.

Sambil menatap bayangan punggung Gak In Ling yang mulai menghilang dari penglihatan, perempuan cantik itu bergumam seorang diri.

"Aku telah serahkan anak Siang kepadamu, mulai sekarang aku tak akan memerintahkan dirinya untuk menjagoi dunia persilatan lagi. Aaaai, anak perempuan bagaimanapun juga engkau tetap anak perempuan sudah sepantasnya kalau dia kembali pada pasangannya."

Baru saja perempuan cantik itu menyelesaikan kata-katanya, mendadak dan arah belakang berkumandang suara seorang yang begitu lembut. "Adik Hong, apakah engkau merasakan kerugian yang kau derita terlalu besar?"

Sikap dingin dan ketus seketika lenyap dari wajah perempuan cantik itu dengan sedih

"Engko Ling, kembali engkau menyindir diriku "

Perlahan-lahan ia putar badan, kurang lebih dua depa dihadapannya berdirilah seorang sastrawan berusia kira-kira setengah umur.

Jawabnya.

"Adik Hong engkau jangan salah paham." terdengar sasterawan itu berseru dengan hati kaget, "aku tidak maksud untuk menyindir dirimu."

"coba lihat tampangmu yang serius dan tegang...."

"Adik Hong, engkau benar-benar tidak salah paham ?"

"Kita adalah orang yang telah lanjut usia. Engkau anggap aku masih mengumbar watakku semasa muda ? Aaaaii Aku teringat dimasa lampau, hanya dikarenakan urusan keCil kita harus menyia-nyiakan waktu selama tiga puluh tahun dengan percuma, tiga puluh tahun bukan suatu saat yang pendek "

Titik air mata jatuh berlinang membasah pipinya, sambil jatuhkan diri kedalam pelukan sasterawan tersebut, bisiknya dengan setengah berbisik. "Engko Ling, engkau tak akan meninggalkan diriku lagi bukan ?"

Sasterawan burusia setengah umur itu tidak menjawab, ia merangkul perempuan cantik itu erat-erat, bibirnya dengan cepat menempel diatas bibir lawannya yang kecil mungil dan mencium dengan penuh kemesraan-

Perempuan cantik itu meronta sebentar tetapi segera berhenti dan membiarkan dirinya dicium, bahkan tangannya membalas merangkul sasterawan tersebut.

Inilah ciuman pertama bagi mereka, ciuman yang telah saling dinantikan oleh kedua belah pihak hampir tiga puluh tahun lamanya.

Kesalahpahaman yang terjadi antara seorang perempuan iblis pembunuh manusia dengan pendekar sejati pembela keadilan yang terjadi pada tiga puluh tahun berselang lenyap tak berbekas dalam ciuman tersebut.

Lama... lama sekali perempuan cantik itu baru saja melepaskan diri dari ciuman kekasihnya, sambil bersandar ditubuh sastrawan itu bisiknya dengan lembut. "Engko Ling, sejak kini kita akan pergi ke mana ?"

"Terserah pada kemauanmu "

"Tentu saja engkau yang harus menentukan "

"Engkau menurut ?"

"Kapan sih aku mengatakan kalau tidak menuruti perkataanmu ?"

Dengan penuh kasih sayang sastrawan itu membelai tubuh kekasihnya, lalu berkata.

"Persoalan dimasa lampau lebih baik usah di bicarakan lagi, sewaktu berada ditebing wan-ciu gay tempo hari bila aku tidak lari dengan cepat mungkin nyawaku sudah kabur dtujung telapakmu begitu masa dibilang penurut ?"

"Aku tokh tidak bermaksud untuk membinasakan dirimu ?"

"Sejak pelajaran yang kuterima tempo hari aku belum berani mempercayai seratus persen-"

Tiba-tiba perempuan cantik itu menghela napas sedih, katanya.

"Aaaaii mungkinkah engkau masih mengingat-ingat kejadian dimasa lampau ?" suaranya amat sedih.

Sastrawan berusia setengah umur itu menjadi amat terperanjat buru-buru jawabnya.

"Aaaaaaa, tidak. aku cuma bergurau saja "

Habis berkata kembali dia cium pipi perempuan cantik tersebut.

Perempuan cantik itu segera meronta-ronta dan melepaskan diri dari pelukannya, ia berseru manja.

"Hmm engkau jahat, aku tak mau " kelincahannya tidak kalah dengan seorang gadis berusia dua puluh tahunan-

"Sudah, sudahlah mari kita lihat bagaimana keadaan dari Gak In Ling." ia tarik tangan kekasihnya dan bergerak menuju ke dalam hutan.

"Engkau sangat menaruh perhatian terhadap dirinya " bisik perempuan cantik itu sambil bersandar dalam pelukan sastrawan itu,

"Benar, entah kenapa aku merasa punya jodoh dengan bocah itu, ketika aku melihat ia sedang menerima pukulan dari Ngo-gak Sin-kun dengan nekad sewaktu berada dibenteng Hul-in-cay tempo hari hampir saja aku akan mUnculkan diri untuk membantu dirinya "

"Kemudian apakah engkau telah munculkan diri ?"

"Tidak, aku hanya berkata kepadanya bahwa dalam tubuhnya mengidap sejenis racun, sebelum tenaga dalamnya pulih harus berpikir panjang, ternyata ia menurut sekali." Sambil berkata mereka sudah memasuki ke dalam hutan-

Sementara itu Gak In Ling sepeninggalnya dari tempat pertarungan melawan perempuan cantik itu, ia segera berangkat menuju keatas puncak bukit, apa yang dipikirkan olehnya pada saat ini hanyalah bagaimana secepatnya bertemu dengan Dewi burung hong, sebelum ajalnya tiba ia harus serahkan obat ci-liong-cu itu kepada gadis tersebut.

Dengan sempoyongan dan susah payah Gak In Ling mendaki keatas bukit, entah beberapa kali ia harus jatuh tersungkur keatas- tanah namun ia berjuang dan berusaha terus untuk mendaki keatas.

Setelah bersusah payah akhirnya ia berhasil keluar dari hutan siong dan tiba disebuah lapangan rumput yang luas.

Gak In Ling menghela napas panjang, memandang sang surya yang telah tenggelam dibalik bukit tanpa terasa ia bergumam seorang diri.

"Hanya beberapa li lagi, sangat dekat, entah beberapa lama aku harus menempuhnya ?"

Baru saja ia hendak meneruskan langkahnya tiba-tiba dariarah belakang berkumandang datang suara benturan keras.

"Hey keparat kecil, engkau hendak pergi kemana ?"

Dari hadapan mukanya loncat turun dua orang manusia aneh berdada bidang dan wajah penuh keriputan.

Gak In Ling tertegun, kemudian sambil tertawa tawa tegurnya.

"Apakah kalian berdua adalah anak murid dari Dewi burung hong ?"

"Katakan saja apa maksud dan tujuanmu datang kemari " tukas dua orang pria itu dengan ketus.

"Aku datang untuk berjUmpa dengan Siancu "

Pria sebelah kanan dengan pandangan sinis memperhatikan rambut Gak In Ling yang kusUt, paras mukanya yang pucat dan noda darah di ujung bibirnya, dengan perasaan tak percaya ia tertawa dingin dan berseru.

"Hmm Kenapa engkau tidak bercermin dahulu, dengan tampang semacam itu engkau hendak bertemu dengan pangcu kami."

"Pangcu ?" seru Gak In Ling tertegun, "sedari kapan ia telah menjadi pangcu ?"

Pria yang berada disamping kiri tertawa dingin, jawabnya.

"Bukankah engkau hendak bertemu dengan pangcu kami ? Ayo berangkat "

"Harap kalian berdua jalan didepan "

"Haaaaahh haaaaahh haaaahh tentu saja, bukan saja kami akan membawa jalan bahkan akan menggotong dirimu "

Dari nada ucapannya yang tidak bersahabat Gak ln Ling tahu bahwa mereka tidak bermaksud baik, sambil tertawa dingin segera ujarnya. "Aku tak berani merepotkan kalian untuk menggotong diriku," Sambil berseru ia lanjutkan perjalanannya kedepan-

Baru saja beberapa langkah ia maju, dari arah belakang berkumandang suara benturan keras.

"Roboh kamu "

Dua gulung angin pukulan yarg maha dahsyat dengan telak bersarang diatas jalan darah cian-keng-hiat dibahu oleh si anak muda itu membuat ia kehilangan daya pertahanan tubuhnya.

Pria yang ada disebelah kiri segera berseru kearah dalam hutan-

Dari dalam hutan muncul empat orang pria kekar berusia tiga puluh tahunan, tanpa banyak bicara mereka gotong Gak In Ling menuju keatas puncak.

Tidak selang beberapa saat kemudian sampailah mereka didepan sebuah gua batu, didepan gua berdiri pula dua orang gadis berkain Cadar melakukan penjagaan.

Empat orang pria kekar tadi segera meletakkan tubuh Gak In Ling diatas tanah, salah satu diantaranya memberi hormat dan berkata.

"Nona berdua harap memberi kabar kepada pangcu, bahwa kami berhaSil menawan seorang mata- mata."

"Kalian tunggu sebentar "

Tidak selang beberapa saat kemudian dari dalam gua berjalan keluar empat orang dayang cilik, diikuti Bwee Giok Siang dengan pa kaian berkabung...

"Di mana orangnya ?" terdengar gadis itu membentak.

"Inilah orangnya " Ke empat pria itu buru-buru menjatuhkan diri berlutut diatas tanah.

Dewi burung hong alihkan sorot matanya, iba-tiba ia menjerit kaget. "Aaaahh dia ?"

Untuk beberapa saat lamanya ia berdiri tertegun dan tak tahu apa yang harus dilakukan.

Terhadap perubahan sikap Dewi burung hong yang tiba-tiba ini, semua orang merasa amat terperanjat, siapapun tak tahu apa yang sebenarnya telah terjadi. Tiba-tiba Dewi burung hong berseru keras dengan nyaring.

"Oooohh , Engko Ling, siapa siapa yang telah-menghajar dirimu hingga jadi begini, siapa? Beritahukan kepadaku beritahu padaku."

Ia lari keluar dari gua, memeluk pemuda itu erat-erat dan membebaskan jalan darahnya yang tertotok.

Gak In Ling tarik napas panjang-panjang, dengan tawa ia menegur.

"Adik Siang, engkau tidak terluka ??"

"Tidak, aku tak pernah teriuka."

Gak In Ling merasa amat terharu ketika menyaksikan gadis itu memakai pakaian berkabung, ia belai rambut gadis itu dengan penuh kasih sayang, lalu berkata dengan suara berat.

"Kenapa engkau memakai pakaian semacam ini? Aaai. ..."

"Suhu mengatakan bahwa engkau telah mati," sahut dewi burung hong sambil menangis terisak. Gak In Ling gelengkan kepalanya, dengan sedih ia tertawa.

"Tempo dulu aku pura pura mati tapi sekarang mungkin aku akan mati sungguhan."

Sementara berbicara, darah mulai mengalir keluar dari bibirnya, darah kental yang bercampur dengan gumpalan hitam.

Dewi burung hong merasa amat gelisah. ia menyeka bibir pemuda itu dan menghibur.

"Tidak mungkin-.. selamanya tidak mungkin, tegakah engkau tinggalkan diriku ? oooohh engko Ling "

"Adik siang aku aku tidak ingin tinggalkan dirimu, se.... sebab, sebab engkau adalah isteriku."

Suaranya makin lama makin lirih dan lemah, akhirnya pemuda itu berhenti berbicara.

Bwee Giok siang menjadi amat gelisah sehingga kelabakan setengah mati, ia tak tahu apa yang mesti dilakukan kecuali menangis.

pada saat itulah serentetan suara bislkan yang nyaring berkumandang disisi telinga gadis itu.

"Anak siang, dalam tubuhnya terdapat dua biji pil ci-liong-cu, cepat berikan kepadanya, kalau terlambat jiwanya tak dapat diselamatkan."

Bwee Giok siang tidak ambil peduli suara itu berasal dari mana, ia bopong tubuh pemuda itu dan lari masuk kedalam gua.

Empat orang dayang serta para pria lainnya dibikin melongo dan tertegun, mereka tak tahu apa yang sebenarnya telah terjadi.

Dalam gua merupakan sebuah ruangan batu yang kecil tapi bersih dan penuh bau harum-haruman, luas ruangan hanya tujuh delapan tombak, disudut sebelah kanan terdapat sebuah pembaringan dengan kelambu dan seprei yang bersih dan disisi pembaringan terdapat sebuah meja batu yang tingginya tiga depa, pada saat itu seorang gadis cantik berbareng disamping meja tersebut dari napasnya yang teratur dapat diketahui bahwa ia sudah tertidur pulas ....

Pembaringan bergerak. perlahan-lahan Gak in Ling membuka matanya kembali, ia pegang pipinya dengan kaku dan bergumam seorang diri. "Jangan-jangan aku belum mati..."

Sorot matanya beralih kearah lain- ia melihat Dewi burung hong yang tertidur pulas, sekarang ia yakin bahwa dirinya masih hidup dikolong langit.

Ketika tangannya merogoh kedalam saku, botol berisi ci-liong-cu telah lenyap. menanti ia mengatur pernapasan terasa darah berjalan lancar bahkan tenaga dalamnya telah memperoleh kemajuan yang pesat.

Dengan perasaan berterima kasih ia melirik sekejap kearah Dewi burung hong, gumamnya. "Dia pasti lelah sekali "

Gak in Ling menyapu sekejap sekeliling ruangan itu, kecuali Dewi burung hong, ia tidak melihat orang lain, sadarlah pemuda itu bahwa selama ini dialah yang telah merawat dirinya.

Perlahan-lahan Gak in Ling merangkak bangun, setelah membereskan pakaiannya ia turun dan menyelimuti tubuh gadis itu dengan selimut.

Meskipun Bwee Giok Siang lelah sekali, namun sebagai gadis yang berkepandaian tinggi tentu saja ia akan merasa bila ada orang menyentuh tubuhnya, akan tetapi kali ini ia tidak memberikan reaksi apapun.

Pipinya yang merah nampak agak pucat, ini membuktikan betapa risaunya perasaan hati gadis itu selama ini.

Makin memandang Gak in Ling merasa makin cinta, ia tak tahan lagi ia membungkukkan badannya dan menciumi bibirnya yang kecil mungiL

Sejak Gak in Ling menyelimuti tubuhnya, Dewi burung hong telah mendusin dari tidurnya, akan tetapi ia tak berkutik sama

sekali karena ingin tahu apa yang hendak dilakukan oleh kekasihnya.

Tetapi sekarang ia tak kuat menahan diri lagi, sambil berseru lirih ia peluk tubuh pemuda itu dan menjulurkan lidahnya kedalam bibir Gak In Ling.

Waktu berialu ditengah kesunyian, kedua belah pihak dapat mendengar detak jantung lawannya, rasa rindu selama ini terbayar lunas oleh ciuman mesra tersebut.

Lama lama sekali akhirnya Gak In Ling melepaskan bibir gadis itu sambil berkata dengan suara lembut.

"Adik Siang, selama beberapa hari ini engkau pasti lelah sekali bukan ?"

"Berbaringlah disini." bisik gadis itu manja, "ada banyak persoalan yang hendak kukatakan kepadamu."

"Ini..?"

"Mereka tak akan masuk kemari, aku telah berpesan sebelum mendapat panggilan siapapun dilarang masuk."

Akan tetapi Gak In Ling masih tetap tak tenang, ujarnya. "Adik siang..."

Paras muka Dewi burung hong berubah hebat, dengan sedih ia berkata.

"Kita tokh sudah menjadi suami isteri, apa yang kau ragukan lagi ? Apakah engkau..."

Gak In Ling tahu bahwa gadis itu salah paham, buru-buru ia melepaskan sepatu dan berbaring disisinya.

"Adik Siang, jangan berpikir yang bukan- bukan..."

Dewi burung hong tertawa puas, ia menutupi tabuh pemuda itu dengan selimut dan bersandar dalam pelukan pemuda itu, katanya dengan manja.

"Engko Ling, setelah aku mendengar berita tentang kematianmu di tebing Wan-ciu-gay dari guruku, kemudian aku merasa harus melampiaskan dahulu rasa dendam dalam hatiku, maka.."

"Maka engkau hendak membalas dendam terhadap semua umat persilatan dikolong langit?"

"Tapi sekarang aku tak akan berbuat begitu."

Dengan penuh kasih sayang Gak In Ling memeluk gadis itu kedalam rangkulannya, ia berbisik lirih.

"Adik siang, engkau sangat penurut "

"Hmm Aku hanya akan mendengarkan saja, karena karena engkau adalah..."

"Aku adalah apamu ? Adik siang "

Merah padam selembar wajah Dewi burung hong.

"Engkau jahat... aku tak mau..."

"ooohh.... Aku tahu sekarang, bukankah engkau adalah isteriku"

Bwee Giok- Siang tertawa merdu, ia benamkan kepalanya dalam pelukan si anak muda itu, dan tidak berbicara lagi.

Gak In Ling pun mulai beroperasi menggerayangi sekujur tubuhnya, kemudian melepaskan pakaiannya satu demi satu sehingga akhirnya gadis itu berada dalam keadaan telanjang bulat.

Dewi burung hong tidak melawan, ia berdiam diri dan membiarkan kekasihnya berbuat sekehendak hatinya, ia hanya menanti dan menerima dengan penuh kasih sayang...

Dari kesunyian suasana berubah menjadi hangat dan akhirnya mencapai pada puncaknya..

Dari kehangatan pulih kembali dalam keheningan, waktu yang dibutuhkan tidaklah terlalu lama.

Dalam keletihan setelah melepaskan rasa rindu dan cinta dalam perpaduan kasih antara dua insan yang berbeda jenis, sepasang muda-mudi itu saling berpelukan dan terlelap dalam tidur yang nyenyak.

Entah betapa waktu sudah lewat mendadak suara berisik diluar ruangan membangunkan mereka dari tidurnya, Bwee Giok Siang segera membereskan rambutnya yang kusut dan ingin bangun, namun Gak in Ling segera menariknya kembali. Merah padam selembar wajah Dewi burung hong, serunya manja. "Kau... kenapa sih engkau tidak mau melepaskan diriku ?"

Gak In Ling mencium bibirnya dengan penuh kasih sayang, bisiknya. "Masa engkau akan mengenakan pakaian semacam itu lagi ?"

Ia melirik tumpukan pakaian berkabung yang tercerai berai diatas lantai, Dewi burung hong segera tertawa.

"Engko Ling, engkau suka aku memakai pakaian seperti apa?"

"Tentu saja yang berwarna merah menyala itu."

Dewi burung hong tertawa dan segera lari menuju kepeti pakaiannya, kemudian sambil berpaling kearah Gak In Ling serunya. "Kenapa sih lihatin tubuhku terus ? Ayo berpaling kesana " Gak In Ling tertawa dan segera berpaling.

Tidak selang beberapa saat kemudian, Bwee Giok Siang telah berjalan kembali serunya. "Ayo bangun, aku mau memberesi pembaringan ini dahulu."

Gak In Ling bangun dan berpakaian, sementara Dewi burung hong membenahi seprei yang kusut, lalu sambil menyuruh pemuda itu duduk tanya. "Engko Ling. sekarang kita akan pergi ke-mana ?"

"Orang-orang ini harus dibereskan dahulu"

"Bagaimana kalau suruh mereka kembali Lam-hay ?"

"Jangan, lebih baik kita basmi dahulu perguruan rahasia dari Tibet, mereka berjumlah banyak dan kitapun harus punya anak buah."

"Engkau tidak akan membalas dendam ?"

Paras muka Gak In Ling tiba-tiba berubah, riang gembiranya lenyap tak berbekas, deugan sedih jawabnya.

"Kalau dendam tak dibalas, aku bukan terhitung seorang manusia, tetapi musuh-musuh besarku sekarang bergabung semua kepada pihak Tibet, maka dari itu aku harus membasmi dahulu komplotan dari Tibet itu."

Dewi burung hong tahu bahwa ia salah bicara sehingga membuat pemuda itu menjadi sedih, tanpa berpikir panjang lagi ia segera berseru.

"Engko Ling, ayo berangkat, kita turun ke-bawah dan lepaskan Thian-hong pangcu Sekalian" Tidak menanti jawaban ia segera menarik tangan pemuda itu untuk diajak berlalu.

Baru saja mereka keluar dari ruangan, empat orang dayang segera menyongsong kedatangan mereka, sambil memberi hormat tanya mereka. "Pangcu akan pergi kemana?"

"Kalian tak usah ikut, aku hanya akan pergi sebentar saja "

Empat orang dayang itu memberi hormat itu segera mengundurkan diri, kedua orang itu pun melanjutkan perjalanan menuju ke-depan.

"oooohh rupanya majikan muda berada disini " Serentetan suara yang keras bagaikan gemuruhnya guntur bergema memecahkan kesunyian.

Dari suara teguran tersebut, Gak In Ling mengetahui siapakah yang telah datang, ia berpaling dan tampaklah Malaikat raksasa bermuka merah sedang menyusul datang.

"Kim-kong ?" kata Dewi burung hong sambil tertawa merdu, "kami akan turun tangan ke bukit, engkau ikut tidak ?"

Sementara itu Malaikat raksasa bermuka merah sudah tiba dihadapan Gak In Ling, sambil menarik tangan pemuda itu katanya.

"Makanya ketika berada didalam gua cecunguk itu, hampir saja meledak dadaku karena jengkelnya ?"

"Ayo kita sambil berjalan sambil bercerita," seru sang dara sambil tertawa. Berangkatlah ketiga orang tersebut menuruni bukit.

Sepanjang perjalanan Malaikat raksasa bermuka merah menceritakan semua kejadian ya dialaminya ketika berada dalam gua dekat benteng Hui-in-cay dari pancaran wajahnya bisa dibayangkan betapa dongkol dan gemasnya hati sang jago ini.

Ketika tiba dibawah tebing cui-wi-hong, tiba-tiba Malaikat raksasa bermuka merah berteriak.

"Eeeeii..... coba lihatlah, Hweesio dan bertiga orang itu nampaknya bukan berasal dari perkumpulan Thian hong pang ?"

Mendengar seruan tersebut Dewi burung hong dan Gak In Ling segera berpaling, akan tetapi karena tertutup oleh pepohonan mereka tidak berhasil melihat sesuatu.

Dewi burung hong tidak malu disebut sebagai seorang pendekar wanita, ia segera bertanya.

"Mereka telah pergi kemana ?"

"Gerak-gerik mereka sangat mencurigakan, agaknya sedang menuju kelembah Pek-cho-kok."

Dalam hati Dewi burung hong mendengus dingin, serunya kemudian-

"Kim kong, Cepat jongkok, mari kita lihat apa yang hendak mereka lakukan ?"

Malaikat raksasa bermuka merah sangat penurut, ia segera berjongkok dan menyembunyikan diri.

Dengan cepat tiga orang itu telah bersembunyi dibalik semak-semak belukar yang lebat, untuk menantikan kedatangan beberapa orang itu.

Tidak selang beberapa saat kemudian, di-tengah jalan muncullah empat orang manusia, tiga orang berjubah merah dan seorang hwesio, dilihat dari gerak-gerik mereka saat ini, seakan-akan sedang melewati tempat yang tak berpenghuni. Malaikat raksasa bermuka merah menjadi keheranan, bisiknya.

"Baru saja gerak-gerik mereka mencurigakan, mengapa sekarang malahan bersikap terbuka dan blak-blakan ? Sungguh aneh "

Begitu mengetahui siapakah hwesio itu, hawa amarah kontan berkobar dalam benak Gak In Ling, bahkan sekujur badannya kelihatan agak gemetar kerena menahan emosi.

Dewi burung hong yang berada disamping-nya dapat merasakan perubahan itu, dengan cemas ia segera menegur. "Engko Ling, kenapa engkau ??"

"Hweesio itu adalah Budha antik " bisik Gak In Ling dengan nada menyeramkan.

Ketika sorot mata Dewi burung hong membentur dengan pandangan matanya, ia merasa bergidik, pikirnya.

"Sungguh msnakutkan sorot matanya " Berpikir sebentar diapun bertanya. "Engko Ling, perlukah kita bekuk orang-orang itu ?"

"Kita coba melihat dahulu apa yang hendak mereka lakukan ?" jawab pemuda itu sambil menekan hawa amarah yaag berkobar dalam dadanya.

Kebetulan sekali dari bawah tebing telah berloncatan keluar lima orang jago dari Lam-hay sambil menghadang jalan pergi mereka serunya. "Kalian berempat harap berhenti "

"Kalian berlima tentu sengsara sekali..." ujar Buddha antik sambil tertawa hambar.

"Engkau datang darimana dan akan pergi kemana ?"

Dari sakunya buru-buru Buddha antik ambil keluar sebuah tanda pengenal yang terbuat dari emas, kemudian katanya.

"Kami mendapat perintah dari siancu untuk melakukan pemeriksaan dalam lembah Pek-cho tok."

orang yang berada disebelah tengah menerima tanda pengenal itu dan diperiksanya sebentar kemudian katanya.

"Silahkan lewat " Dewi burung hong mengikuti jalannya peristiwa itu segera mendengus dingin, gumamnya.

"Bagus bagus sekali ternyata kalian datang menghantar diri untuk masuk kedalam jebakan."

Memandang bayangan punggung empat orang yang menjauh, dengan keheranan Malaikat raksasa bermuka merah bertanya.

"Siancu, darimana mereka dapatkan tanda pengenal emas itu ?"

"Hmm Salah seorang murid kami yang sedang bertugas pasti telah menemui ajalnya di-tangan mereka."

Sambil menarik tangan Gak In Ling serunya lebih jauh. "Mari kita kejar mereka "

Dengan mengikuti sepanjang dinding batu, ketiga orang itu menyusul kedepan.

Buddha antik mimpipun tak pernah menyangka kalau pada saat itu secara kebetulan Jejaknya ketahuan oleh Dewi burung hong sekalian, sesudah masuk kedalam lembah ia menghembuskan napas lega dan berkata dengan bangga.

"Mula-mula aku khawatir kalau budak itu bakal mengganti tanda perintah ini dengan yang palsu, sungguh tak kusangka ternyata ia begitu toloL"

"Meskipun pos penjagaan ini berhasil dilewati, bagaimana dengan pos penjagaan berikutnya ?" seru seorang yang berbaju merah yang berada disebelah kanan.

"Tak usah khawatir, tiada manusia yang tak takut mati, sekalipun Thian-hong pangcu-tidak sudi tunduk kepala, aku rasa anak buahnya belum tentu bersedia untuk mati konyol ditempat ini."

"Tak usah kuatir " Hibur Buddha antik. "belakangan ini pikirannya kalut dan tak tenang karena terpikat oleh Gak In Ling bocah keparat itu, kecerdasannya tak dapat dihimpun menjadi satu, kita tokh berjumlah banyak sekali, kenapa mesti takut kepadanya ?"

"Jadi kalau begitu rencana kita ini pasti berhasil?" tanya seorang yang berbaju merah itu

"Kita harus pukul rontok kekuatan mereka satu demi satu, setelah dia rontok maka kita harus berusaha untuk memancing bentrokan langsung antara Dewi burung hong budak sialan itu dengan Gadis suci dari Nirwana, dalam keadaan demikian bukankah seluruh dunia persilatan bakal menjadi wilayah kekuatan dari tiongcu kita?"

Sementara itu mereka sudah keluar dari selat, tanpa terasa mereka membungkam dan meneruskan perjalanannya dengan langkah lebar.

"Engko Ling," bisik Dewi burung hong dengan suara lirih, "apakah engkau sudah mendengar apa yang mereka bicarakan ?"

"Mereka hanya omong kosong."

"Mereka mengatakan kalau punya mata-mata disitu, siapa bilang omong kosong...? Aku rasa apa yang mereka katakan pasti benar. Aaaaii engko Ling, aku adalah seorang perempuan maka aku dapat menyelami perasaan seorang wanita, kalau ia memikirkan dirimu maka aku yakin hal ini sudah tentu pasti benar." Gak In Ling menghela napas berat, katanya.

"Kalau begitu aku tidak akan pergi kesana, engkau tak usah membinasakan si keparat Buddha antik, lepaskan dia keluar dan biar aku yang menjagalnya disini."

"Engko Ling " ujar Dewi burung hong dengan serius. "meskipun aku tidak menginginkan gadis lain berada bersama disisimu, akan tetapi aku bukanlah seorang manusia yang tak pandai melihat gelagat, Jika engkau mengharapkan dunia persilatan menjadi tenang maka satu-satunya jalan adalah melenyapkan kami bertiga lebih dahulu kemudian baru membasmi perkumpulan rahasia dari Tibet, sebab kecuali engkau, kami bertiga tak mungkin bisa berada bersama-sama. Nah Mari kita berangkat."

"Baik, mari kita berangkat " jawab Gak In Ling dengan matanya memancarkan cahaya aneh.

Dewi burung hong merasakan hatinya bergetar keras, serunya tanpa sadar. ""Engko Ling, apa yang kau pikirkan?"

"Tidak ada apa-apa "

"Kalau engkau tinggalkan diriku lagi, aku tak akan membawa pasukan uatuk mengacau daratan tionggoan lagi, karena aku tak akan bisatak ada dirimu kecuali kalau aku mati saat ini juga "

"Adik Siang " seru Gak In Ling dengan hati bergemetar keras.

"Engko Ling, percayalah kepadaku, asal mereka mau mengerti tentang diriku, akupun dapat mengerti keadaan mereka."

Gak In Ling semakin tak tenang, tanpa sadar ia menghentikan langkah kakinya. Tiba-tiba Dewi burung hong tertawa merdu, ujarnya.

"Engkau tak usah ragu-ragu lagi, kalau sangsi lagi mungkin gadis cantik itu benar-benar akan tertimpa musibah yang tidak diinginkan, coba lihat begitu banyak orang yang berlarian menuju kemulut lembah."

Gak In Ling menengadah, ia benar-benar melihat banyak orang sedang berlarian menuju ke dalam lembah, dengan gelisah segera serunya. "Ayo berangkat, kita cepat lihat apa yang telah terjadi." Ia menarik tangan Dewi burung hong dan berlari menuju kedalam lembah.

Malaikat raksasa bermuka merah yang melihat kejadian itu segera bergumam seorang "Semoga saja mereka benar-benar berkhianat agar aku bisa membunuh beberapa orang diantaranya."

Dengan langkah lebar ia memburu kedepan.

Dalam beberapa loncatan Dewi burung hong telah berhasil menyusul kesisi Gak In Ling, sambil menarik tangannya ia berseru sambil tertawa.

"Bagus sekali, tadi masih mengatakan tidak mau bertemu dengan dia. sekarang saja larinya begitu cepat kau. Hmm Banyak akal busuk dalam perutmu."

Merah padam selembar wajah Gak In Ling, omelnya. "Adik Siang, engkau memang nakal sekali"

Bwee Giok Siang menjulurkan lidahnya dan memperlihatkan muka setan, lalu membungkam dalam seribu bahasa.

Sejak ia berhasil mendapatkan Gak In Ling, perasaan hatinya boleh dikata telah memperoleh kepuasan, kekosongan dikala kehilangan pemuda itu membuat ia dapat menyadari betapa sengsaranya perasaan orang lain yang tidak berhasil mendapatkannya, pikiran yang cupat berhasil dilemparkan, selama Gak In Ling masih mendampingi dirinya terus maka ia tidak akan mempersoalkan yang lain, karena menurut pendapatnya lebih baik ada daripada sama sekali tidak ada.

Tidak selang beberapa saat kemudian sampailah mereka berdua diluar lingkar kepungan yang dilakukan oleh anak buah perkumpulan Thian-hong-pang atas sebuah rumah kecil, Dewi burung menempelkan bibirnya di samping telinga Gak In Ling dan berbisik lirih. "Engko Ling Bagaimana caranya kita untuk kedalam ?"

Gak In Ling menowel pinggangnya dan memberi tanda agar dia jangan berbicara kemudian dengan langkah yang enteng ia mendekati ke samping seorang nenek tua itu lalu bisiknya lirih.

"Nenek. apa yang terjadi ditempat ini ?" Nenek tua itu berpaling, sesudah memperhatikan sekejap wajah Gak In Ling dan Dewi burung hong, dengan nada heran tegurnya. "Siapakah kalian ?"

Dewi burung hong adalah seorang gadis yang cerdik, ia tahu Jika asal usulnya diketahul maka mereka harus membuang banyak waktu untuk memberi penjelasan, bahkan malah akan merusak suasana, buru-buru sambil tertawa jawabnya. "Aku adalah adik Perempuan dari pangcu kalian, dia... dia adalah suamiku."

Berbicara sampai disini merah padam selembar wajahnya, dengan gemas ia melirik sekejap ke arah si anak muda itu. Gak In Ling menjadi melongo, pikirnya di dalam hati.

"Tokh bukan aku yang suruh engkau mengakui diriku sebagai suamimu, kenapa setelah mengaku sendiri lantas melotot kepadaku ? heran ?"

"Pangcu kami tidak punya adik perempuan, siapakah engkau ?" seru Nenek tua itu dengan sorot mata penuh curiga.

Dewi burung hong merasa jantungnya berdebar keras, namun diluar ia tetap bersikap lain, sambil tertawa merdu jawabnya. "Siapa bilang tidak ada, mungkin ia tak pernah mengungkapkan persoalan ini kepadamu. Bukankah dia she-In bernama Hong im?" Nenek tua itu tertegun, kembali pikirnya didalam hati.

"Nama asli dari pangcu kami hanya diketahul oleh beberapa orang tongcu dan kepala komandan, dari mana dia bisa tahu ?Jangan-jangan memang betul adalah adik pangcu?"

Berpikir sampai disini ia mulai percaya beberapa bagian, ia segera menengadah dan menjawab.

"Sedikitpun tidak salah, siapa nama nona?"

"Aku adalah yang bernama In Hong Siang" Sambil berkata gadis itu ambil keluar sebuah Giok-bei dan berkata.

"Pangcu kalian juga memiliki sebuah Giok-bei seperti ini, coba lihatlah Bukankah dialasnya terukir sebuah burung siang dan seekor burung hong ? Milik pangcu kalian terukir dengan huruf Im sesuai dengan nama akhirannya "

Gak In Ling yang mendengar perkataan itu diam-diam ia merasa geli, terhadap kecerdikan Dewi burung hong pun merasa kagum sekali, pikirnya.

Giok bei tersebut terang-terangan hanya ada sebuah miliknya itu dari mana muncul sebuah lagi ? Budak ini benar-benar banyak akalnya.

Nenek tua itu bukan orang yang selalu dekat dengan Thian-hong pangcu, tentu saja ia tak akan mengetahui sampai sedalam-dalamnya, ketika dilihatnya sikap Dewi burung hong tenang sekali, dianggapnya ucapan tersebut adalah benar, maka sambil memberi hormat katanya.

"Aku orang tua tidak tahu akan kedatangan nona, apabila kurang hormat harap sudi di maafkan, biarlah aku akan memberi kabar dahulu ke-dalam " Dalam hati Bwee Giok Siang merasa geli, pikirnya.

"Kalau engkau masuk untuk memberi khabar, bukankah rencanaku bakal gagal total?"

Berpikir sampai disini, buru-buru ujarnya.

"Kedatangan kami adalah untuk mengejar Hweesio tersebut, dia mempunyai tujuan yang tidak beres, sebentar lagi kalian akan mengetahui dengan sendirinya apa yang sudah terjadi, sekarang kepung sekitar tempat ini rapat-rapat, jangan biarkan seorangpun diantara mereka berhasil kabur dari tempat ini."

Selesai berkata dia menarik tangan Gak In Ling dan mengajak masuk kedalam lingkaran kepungan-

Nenek tua itu mempercayai seratus persen akan perkataannya, ia segera memerintahkan anak buahnya untuk memberi jalan.

Setelah masuk kedalam lingkaran kepungan kurang lebih sepuluh tombak di hadapan mereka tampak sebuah rumah kecil. Sambil tertawa Gak In Ling berkata. "Adik Siang, engkau benar-benar sangat hebat "

"Hmm Kesemuanya ini tidak lain hanya untuk kau si busuk. kalau dikemudian hari hubunganmu dengan dirinya sudah erat, jangan lupa akan jasa-jasaku pada hari ini."

Gak In Ling tidak menjawab, dia hanya menggenggam tangan gadis itu erat- erat, hubungan bathin membuat rasa

sedih yang mencekam dalam hati Bwee Giok Siang tersapu lenyap.

Dalam pada itu mereka berdua sudah berada kurang lebih lima tombak dari bangunan rumah kecil itu, dari balik ruangan terdengar seseorang sedang berkata dengan suara tajam.

"Pangcu, aku rasa lebih baik kita damai saja, dewasa ini mana bahaya mengancam dan empat penjuru, kitapun terkepung rapat oleh Dewi burung hong si keparat yang gemar membunuh orang, tidak mungkin ia bersedia untuk melepaskan kita dengan begitu saja "

"Terus terang saja kuberi tahu kepada nona." sambung Buddha antik dengan cepat, saat itu Gadis suci dari Nirwana telah terkena jebakan yang dipasang oleh Malaikat suci dari lima bukit, mungkin sekarang ia sudah mampus tertimbun longsoran-salju dalam lembah cupu-cupu, tiongcu sendiripun telah mengirim jago-jagonya untuk membasmi sarangnya, meskipun Dewi burung hong bisa bertahta untuk sementara waktu namun kekuasaan berada ditangan siapa, sekali memandang siapapun akan tahu, Jika pangcu bersedia untuk bekerja sama dengan pihak perguruan rahasia dari Tibet, maka setelah dunia persilatan terjatuh kepada kita, maka kita akan menikmati-nya bersama, bagaimana pendapatmu ?" Thian-hong pangcu segera tertawa dingin, jawabnya.

"Buddha antik, aku dengar engkau salah seorang pembunuh yang telah membinasakan ayah-nya Gak In Ling ?"

Sementara itu Dewi burung hong dan Gak In Ling telah berada diluar bangunan rumah itu, Bwee Giok Siang segera menarik tangan pemuda itu sambil berbisik lirih. "Engko Ling, coba lihat betapa mendalamnya rasa cinta dara itu kepadamu...."

Dalam hati kecilnya Gak In Ling sendiripun merasa sangat berterima kasih, sambil menghela napas panjang katanya.

"Antara aku dengan dirinya hanya bertemu beberapa kali saja."

"Aku sendiri baru berjumpa beberapa kali dengan dirimu ? Akan tetapi engkau Huuuh..Tahu-tahu sudah..."

Dengan muka merah jengah ia mencubit lengan Gak In Ling.

Dalam pada itu, Buddha antik yang berada dalam ruangan sedang tertawa seram dan berkata.

"Hutang piutang tersebut sudah dibuat sejak banyak tahun berselang, apa gunanya kita bicarakan persoalan itu ? Bukankah antara pangcu dengan Gak In Ling pun mempunyai perasaan dendam?"

"Antara cinta dan benci hanya terpisah oleh sebuah garis yang tipis " sahut Thian-hong pangcu dengan dingin.

"Apakah pangcu mencinta dirinya ?"

Dalam anggapan banyak orang, kendatipun Thian-hong pangcu benar-benar mencintai Gak In Ling, tak mungkin dia akan mengakuinya dalam keadaan seperti ini karena disitu hadir banyak sekali anak muridnya.

Tetapi apa yang kemudian terjadi sama sekali berada diluar dugaan siapapun juga , dengan Suara tawa Thian-hong pangcu menjawab. "sedikitpun tidak salah, nonamu memang mencintai dirinya "

Walaupun Dewi burung hong telah menduga sampai kesitu. akan tetapi sekarang setelah mendengar pengakuan dari Thian-hong pangcu sendiri tak urung hatinya merasa bergetar juga .

Suara jeritan kaget dan seruan tercengang berkUmandang memenuhi seluruh ruangan, diikuti seorang perempuan dengan suara yang serak dan berat rendah berseru.

"Pangcu, engkau tak boleh bergurau, engkau tokh mengetahui bahwa Gak In Ling telah mati diatas tebing Wan-ciu-gay ?"

"Gak In Ling mempunyai musuh tangguh dimana-mana," ujar Buddha antik pula, "bagaimanakah tingkah lakunya aku rasa tak usah diterangkanpun semua orang sudah tahu, nona sebagai seorang pangcu sudah sepantasnya kalau pandai melihat gelagat, aku rasa tidak berharga bagimu untuk mengambil tindakan yang sama sekali tidak menguntungkan itu," Thian-hong pangcu tertawa dalam.

"Aku berani menyatakan bahwa aku cinta kepadanya, itu berarti sampai matipun aku tak akan padam rasa cinta ku ini,justru karena ia telah mati maka aku ingin semua orang dikolong langit mengetahui bahwa aku mencintai dirinya agar semua orang yang mempunyai dendam dengan-dirinya tahu bahwa masih ada manusia yang mencintai dirinya, kematian Gak In Ling hanya mati dalam badan dan raganya, semangat serta rohnya masih tetap hidup dan mendampingi beberapa orang untuk melakukan pembalasan dendam baginya."

Gak In Ling yang mendengar ucapan tersebut merasa terharu sekali, dia ingin menerjang masuk kedalam ruangan dan memeluk tubuhnya.

Dewi burung hong yang ada disampingnya segera menarik pemuda itu dengan suara terisak. bisiknya.

"Engko Ling, jangan terburu napsu, mari kita dengarkan lebih jauh siapa saja yang tersangkut didalam penghianatan ini, setelah itu kita baru turun tangan dan sekalian membasmi para penghianatan dalam tubuh Thian-hong pangcu itu dari muka bumi."

Dalam pada itu Buddha antik telah tertawa terbahak-bahak dan berkata.

"Haaaaha... haaah.... haaaahh.... nona, aku rasa hanya engkau seorang yang hendak mewujudkan cita-cita semacam itu ?"

"Tidak, Pek Giok ji dan Bwee Giok Siang adalah dua orang diantaranya..." jawab Thian hong pangcu sambil tertawa dingin. Perempuan yang bernada lengking tadi kembali berkata.

"Kalau Bwe Giok Siang hendak membalas dendam bagi kematian Gak In Ling itu berarti ia satu tujuan dengan pangcu. heeehh heeeehh heeseeehh kenapa sekarang dia malahan mengepung nona ditempat itu ?" Thian-hong pangcu tertawa seram.

"Ia mengurung aku disini karena hendak melaksanakan perintah dari cian-pwe nya, sedang aku tak mau tunduk kepadanya karena perkumpulan Thian-hong pangcu, Jika aku In Hong Im melepaskan perkumpulan dan pergi menjumpai Bwee Giok Siang kemudian mengajak dirinya untuk bersama-sama membalaskan dendam bagi kematian Gak In Ling, aku percaya bukan saja dia akan menyetujui bahkan Pek Giok jiupUn akan menyetujuinya pula."

"Hmm Tindakanmu ini memang cukup mengejutkan hati," kata Buddha antik dengan nada kaget, "tapi sayang nona, tidak akan menjumpai kesempatan semacam ini."

"Buddha antik, hanya mengandalkan kalian berempat ?" ejek Thian-hong pangcu sambil tertawa dingin.

"Heeeeehh... heeeeeehh... heeeehh..... tidak. masih ada tiga orang pelindung hukum dan seorang tongcu dari perkumpulan nona "

Thian-hong pangcu nampak sangat terperanjat, sorot matanya menyapu sekejap kesekeliling tempat itu, kemudian dengan suara dalam seru-nya. "Sungguhkah perkataanmu itu ?"

"Pangcu, kami harap engkau suka melihat gelagat dan menyesuaikan diri dengan keadaan " seru empat orang anak buahnya hampir berbareng.

"Pangcu " kata Buddha antik kembali sambil tertawa bangga, "dalam ruangan kecil itu semuanya ada sembilan orang, akan tetapi sayang posisi kita adalah delapan lawan satu, pangcu pasti menyadari bukan sampai dimanakah kesempatan hidup yang kau miliki."

"Hmm Tidak aneh kalau kalian bersikeras untuk hanya membawa kalian belaka," seru Thian-hong pangcu dengan gemas, "bahkan membuat siasat dengan suruh Tiat Bin Popo menembusi kepungan untuk memberi kabar, rupanya kalian memang sudah mempunyai rencana untuk berkhianat, menyesal aku terlalu mempercayai diri kalian-" Buddha antik tertawa dingin.

"Andaikata arwah Gak In Ling benar-benar melindungi dirimu... heeeehh..., dia pasti akan tunjukkan diri untuk melindungi calon isterinya .." Ucapan itu penuh mengandung sindiran dan kecabulan yang amat rendah.

Baru saja ia menyelesaikan kata- katanya mendadak dari luar ruangan berkumandang dalang suara seruan seseorang dengan nada yang menyeramkan sehingga mendirikan bulu roma. "Budha antik, mungkin ini hari adalah perjumpaan kita untuk terakhir kalinya "

Budha antik mengenal sekali akan suara tersebut, sebab suara tersebut pernah didengarnya, ia kelabakan setengah mati, setiap hari mesti kabur dan menyembunyikan diri sehingga makan tak enak tidurpun tak tenang, sungguh tak nyana setelah hatinya sedang gembira.

Thian-hong pangcu sendiripun masih ingat dengan suara itu, karena suara tersebut meninggalkan kesan yangamat mendalam dan membuat ia menjadi murung dan sedih selama ini.

Hampir bersamaan waktunya dikala Budha antik putar badan dan dengan pandangan ketakutan, diapun angkat kepala dan memandang orang dihadapannya dengan sorot mata penuh rasa cinta.

Tetapi perasaan tersebut hanya berkelebat sebentar saja, karena dengan cepat ia sempat melihat kehadiran seorang gadis cantik berbaju merah dan orang itu dikenalnya sebagai Dewi burung hong atau Bwee Giok Siang.

Dengan pandangan dingin ia menyapu sekejap dua orang yang berada didepan pintu, kemudian ujarnya.

"Kedatangan kalian berdua sungguh tepat pada waktunya "

Dari sorot matanya yang dingin dan penuh permusuhan Gak In Ling tahu bahwa gadis itu menaruh perasaan salah paham, akan tetapi Ia tak dapat menerangkan sebab dari sorot matanya yang berapi-api telah dialihkan keatas wajah budha antik.

Budha antik sendiri adalah seorang manusia yang licik, meskipun hatinya merasa terperanjat namun tidak kehilangan daya pikirannya, laksana kilat ia tinjau situasi didepan matanya dan tertawa seram, katanya.

"Pangcu, enteng beratnya dengan nyata tertera didepan matanya, coba lihatlah engkau akan berpihak kemana ?"

Dewi burung hong segera tertawa dengan merdu, selanya.

"Budha antik, engkau tak usah buang pikiran dengan percuma dan engkaupun tak usah menghasut orang, tentu saja dia akan bekerja sama dengan siau-moay karena pada akhirnya dia tokh akan hidup berdampingan untuk selamanya dengan diriku, sedangkan kau ? Engkau adalah kaki anjing dari Tibet, seorang budak yang sedang melaksanakan perintah majikannya, suatu saat engkau pasti akan melepaskan dirinya, bukankah begitu?"

Dengaa perkataan itu gadis tersebut dengan jelas telah memberitahukan kepada Thian-hong pangcu bahwa ia bersedia mengalah, asal Thian hong pangcu mau bekerja sama maka selamanya mereka akan hidup secara damai.

Thian-hong pangcu bukanlah orang yang bodoh, dari sikap Dewi burung hong yang berada disamping Gak In Ling, tentu saja ia tahu bahwa orang lain telah mendahului dirinya selangkah lebih dahulu.

Tetapi dia pun merupakan seorang perempuan yang tinggi hati, ia tak sudi tundukkan kepala dengan begitu saja kepada Dewi burung hong, setelah termenung sebentar sambil tertawa dingin katanya.

"Selesai urusan disini, bagaimana kalau kita berdua kembali untuk menentukan siapa yang akan menang dan siapa yang kalah ?"

"Tentu saja, cuma kita tak mungkin bisa berduel dengan taruhan nyawa sebab kekuatan kita adalah seimbang, rasanya kalau mau adu kepandaian maka kita beradu dalam soal jurus serangan saja."

pada saat ini dalam hati kecil Thian-hong pangcu merasakan suatu kegembiraan yang sukar dilukiskan dengan kata- kata, sebenarnya kemunculannya Gak In Ling sudah cukup menggembirakan hatinya, dan sekarang menyaksikan Dewi burung hong yang selamanya tak sudi tundukkan kepala kepada Siapapun ternyata menawarkan hidup bersama kepadanya, Sebagai seorang yang cerdik tanpa berpikir panjang ia segera mengetahui apa yang terjadi. Dengan sorot mata memancarkan rasa kegembiraan tiba-tiba ia mengangguk dan menjawab. "Engkau telah melepaskan satu kesempatan baik untuk membinasakan diriku "

"Sekalipun engkau sendiri, rasanya juga akan berbuat seperti apa yang kulakukan sekarang."

"Apakah engkau tidak merasa bahwa perkataan itu berlebihan ?"

Bwee Giok Siang melirik sekejap kearah Gak In Ling, kemudian sambil tertawa katanya. "Hatimu belum tentu sedingin hatiku, sudah kukatakan sedari tadi, aku hanya selangkah lebih duluan daripada dirimu."

Paras muka Thian-hong pangcu seketika itu juga berubah menjadi merah padam, ia tahu bahwa apa yang diucapkan tadi telah kedengaran oleh mereka berdua, akan tetapi ia tidak gusar hanya perasaan hatinya menjadi hangat, tak sepatah katapun mampu diucapkan keluar.

Dewi burung hong tidak berhenti sampai di situ saja, sambil mencibirkan bibirnya yang kecil mungil sambungnya lebih jauh. "Kenapa engkau tidak berbicara lagi ?"

Sepasang biji mata Budha antik mulai berputar, ia menyadari akan situasi yang sedang di hadapinya pada saat ini. dalam keadaan seperti ini Thian-hong pangcu tak mungkin akan bekerja sama dengan pihaknya.

Thian-hong pangcu menengadah dan memperlihatkan pandangan mata yang dingin namun tiada rasa permusuhan, kemudian ujarnya.

"Mencuri dengar pembicaraan orang, apakah engkau tidak merasa kehilangan gengsimu?" Mendadak Dewi burung hong merogoh ke dalam sakunya lalu membentak nyaring.

"Aku harap kalian bertiga sedikitpun tidak tahu diri, terhadap pagar makan tanaman, musuh dalam selimut yang berkhianat untuk mencari pahala semacam kalian, tiada perkataan lain bagi aku Dewi burung hong kecuali mati "

Diantara bergetarnya telapak. tampaklah dalam genggamannya telah bertambah dengan tiga batang jarum beracun yang kecil dan lembut.

Thian-hong pangcu mengeluarkan telapaknya dari balik pakaiannya, dan berkata sambil tertawa.

"Terima kasih atas perhatianmu "

Perlahan-lahan ia maju kesamping Dewi burung hong dan menatap tajam tiga orang nenek tua berwajah keriput dan seorang nenek berambut putih, ujarnya lebih lanjut.

"Ini hari aku tak akan minta bantuan orang luar untuk menumpas kalian tiga orang pengkhianat yang menjual perguruan kepada orang lain-.. mari mari mari.,... kalian keluar semua "

Empat orang nenek itu menyadari betapa lihaynya ilmu silat yang dimiliki ketua mereka, ikan tetapi persoalan telah berkembang menjadi begitu, terpaksa sambil keras kan kepala mereka mengerling sekejap kearah Budha antik sekalian lalu berjalan keluar.

Dari balik mata Budha antik terpancar ke luar sorot mata tajam, ia segera menyusul dari arah belakang.

Gik ln Ling tertawa dingin, katanya, "Budha antik, lebih baik simpanlah tenaga mengurusi diri sendiri, urusan orang lain tak perlu kau campuri."

Suaranya penuh keseraman membuat orang menjadi bergidik rasanya.

Bwee Giok Siang diam-diam memutar badan dan mengawasi empat orang pengkhianat itu.

Diluar ruang, ketika ratusan anggota perkumpulan Thian-hong pang melihat ketuanya munculkan diri, semua orang segera memberi hormat sambil menyapa, suaranya gegap gempita dan menggetarkan udara.

Thian-hong pangcu tidak membalas hormat ia melirik sekejap kearah empat orang pengkhianat tersebut lalu ulapkan tangannya.

Suasana dalam kalangan seketika itu juga berubah menjadi sunyi senyap tak kedengaran sedikitpun, setelah menyapu sekejap sekeliling kalangan, gadis itu lalu berkata.

"Sejak perkumpulan Thian-hong pang didirikan dan turun temurun hingga sekarang ini dalam menghadapi setiap masalah yang menyangkut mati hidup perkumpulan kita, selalu diputuskan keputusan bersama dari semua anggota perkumpulan- Ini hari meskipun semua anggota perkumpulan kita tidak hadir disini akan tetapi masalah yang kita hadapi sekarang tidak dapat ditundukkan lagi, karena itu aku harap saudara-saudara sekalian bersedia mempertimbangkan dan memikirkan dengan hati tenang."

Belum pernah dua tiga ratus orang angggota perkumpulan Thian-hong pang yang hadir pada waktu itu belum pernah menyaksikan sikap menyeramkan dari pangcu yang dihari-hari biasa selalu ramah tamah, mereka saling berpandangan dengan penuh tanda tanya, tak seorangpun yang tahu sebenarnya apa yang telah terjadi.

Dewi burung hong yang menyaksikan kejadian itu diam-diam merasakan hatinya bergetar juga. pikirnya.

"Tindakan yang diambil orang ini jauh berbeda dengan diriku, kalau aku yang menghadapi kejadian seperti ini, sejak tadi keempat orang pengkhianat itu telah kubasmi dan kuhancurkan menjadi abu."

Terdengar Thian-hong pangcu melanjutkan kembali kata- katanya sesudah menyapu sekejap sekeliling tempat itu.

"Ini hari Perkumpulan kita sudah terjerumus dalam kepungan, aku mengakui akan kelemahanku sehingga membuat kalian terjerumus dalam mara bahaya, sekarang ada tiga orang pelindung hukum dan seorang Tongcu mengusulkan untuk bekerja sama dengan perguruan rahasia dari Tibet untuk kemudian merajai kolong langit, dalam bahaya inipun termasuk suatu cara yang bagus, karena itu aku

mohon kepada kalian semua uutuk menentukan pilihan" Dewi burung hong yang mendengar perkataan itu diam-diam merasa keheranan, pikirnya.

"Apa maksudnya mengucapkan kata- kata seperti itu? Bukankah kepungan oleh pihakku sudah bubar? Masih ada bahaya apa lagi?"

Suasana diliputi kesunyian beberapa saat kemudian terdengarlah nenek tua yang menghadang jalan pergi Gak In Ling berdua tadi berseru lantang. "Hamba akan mengikuti suara hati dari pangcu " Diikuti para jago lainpun mengutarakan maksud yang sama. Thian-hong pangcu tertawa tawa, ujarnya kembali.

"Pada saat ini semua orang berhak untuk menentukan pilihan, kalian tak akan terpengaruh oleh siapapun, aku sebagai seorang ketua hanya berharap bisa berada bersama perkumpulanku, akan tetapi keadaan kalian berbeda, kalian-.."

Belum habis ia berkata, nenek tua itu telah berseru kembali. "Hamba rela mendampingi pangcu. sampai matipun tak akan pergi."

"Kami bersedia mendampingi pangcu..."

"Kami sebagai anggota Thian-hong pang tak sudi berubah pikiran dikala perkumpulan menghadapi bahaya, hanya binatang yang berpikiran sedemikian..."

Teriakan yang gegap gempita berkumandang memenuhi seluruh angkasa, paras muka tiga orang pelindung hukum dan seorang tongcu itu mulai berubah, mereka tak menyangka kalau orang-orang yang dihari biasa berkedudukan jauh lebih rendah dari mereka, dalam menghadapi bahaya ternyata jauh lebih setia daripada mereka.

Thian-hong pangcu membentak keras untuk menghentikan hiruk pikuk yang memenuhi angkasa ujarnya lebih jauh.

"Baik Sekarang bagi siapa saja yang bersedia mengikuti diriku harap bergeser sebelah kanan, yang ingin bekerja sama dengan pihak perguruan rahasia dari Tibet harap bergeser kekiri "

Mendengar seruan itu semua orang segera bergeser kekanan, meskipun ada tiga lima orang yang tak dapat mengambil keputusan, akan tetapi setelah dilihatnya oleh semua orang bergeser kekanan mereka pun ikut kekanan-

Dengan sorot mata berkilat Thian-hong pang cu segera berpaling kearah empat orang pengkhianat itu, ujarnya.

"Bersekongkol dengan musuh, mengkhianati perkumpulan merupakan dosa yang tak terampuni, Jika para anggota- anggota perkumpulan condong pada jalan pikiran kalian mungkin aku masih bisa mempertimbangkan kembaii, akaa tetapi keadaan sudah tertera didepan mata, pilihan mereka jauh bertolak belakang dengan pendapat kalian, rasanya tuduhan berkhianat bukanlah tuduhan yang terlalu di buat-buat bukan ?"

Diatas wajah nenek tua barambat uban yang berwajah pucat terlintas rasa menyesal, tetapi hanya sebentar saja telah lenyap kembali, ia membantah.

"Berkhianat ? Apakah tuduhan itu bukan sengaja kau lontarkan untuk mempertahankan kekuasaan..."

Thian-hong pangcu tertawa dingin.

"Banyak bicara tak ada gunanya, ini hari aku akan punahkan ilmu silat yang kalian miliki, akan kusuruh kalian saksikan dengan mata kepala sendiri setelah aku turun dari jabatan akan kubunuh kalian, Jika kamu hendak melawan bersiap-siaplah mulai sekarang." 

Tanpa sadar ke-empat orang itu berpaling dan pemandang sekejap arah belakang akan tetapi ketika dilihatnya Dewi burung hong dan Gak In Ling berjaga didepan pintu, sadarlah

mereka bahwa untuk minta bantuan Budha antik sekalian jelas tidak mungkin, akan tetapi mereka tak habis mengerti, apa sebabnya tiga orang musuh yang saling bertentangan mendadak bisa bekerja sama.

Keempat orang itu saling berpandangan sekejap kemudian semua perhatian orang dipusatkan arah biji mata Thian-hong pangcu yang dingin.

Perlahan-lahan gadis itu maju mendekati ke empat orang itu, katanya dengan dingin. "Apa yang kalian berempat menantikan lagi ?"

pada anggota perkumpulan yang bergeser ke kanan sementara itu sudah membuat lingkar kepungan, mereka semua loloskan senjata dan siap bertempur, keadaan mereka seakan-akan sedang menghadapi musuh besar.

Sudah tentu keempat orang mengetahui bahwa mereka bukan tandingan ketuanya, apalagi menyaksikan sikap permusuhan dari semua jago, hati mereka semakin kederZ. Terdengar nenek tua berambut uban itu berseru. "Kami tak usah melakukan perlawanan"

"Mengapa ?"

"Musuh yang banyak sukar dihadapi " sahut seorang nenek bermuka kuning salah satu diantara tiga pelindung hukum. .

Thian-hong pangcu mengenyitkan alis matanya, dengan napsu membunuh menyelimuti seluruh wajahnya ia mendengus dingin, kepada semua anak buahnya ia berseru. "Aku harap kalian semua simpan kembali senjata tajam dan menyingkir agak kebelakang."

"Pangcu " seru nenek tua itu, "untuk menghadapi pengkhianat, setiap anggota memiliki kewajiban untuk membasminya, kami sebagai anggota perkumpulan Thian-hong pang walaupun menyadari bahwa ilmu silat yang kami

milik masih amat cetek. akan tetapi kami bukanlah manusia-manusia yang takut mati."

"Kalian anggap aku akan lepaskan mereka pergi? Ayo menyingkir kebelakang ?"

Tiga orang yang berani membangkang perintah pangcu mereka yang berhati ramah ini, meskipun dalam hati mereka merasa keberatan namun tak seorangpun yang berani membangka perintah.

Untuk kesekian kalinya Thian-hong pangcu putar badan, katanya.

"Apa yang hendak kalian perbuat katakan lagi "

Dengan kecewa nenek tua berambut uban itu gelengkan kepala nya.

"Kalau pangcu mau bunuh aku sekalian rasanya gampang sekali seperti membalikkan telapak tangan, kami sadar bahwa kekuatan kami belum memadahi untuk melakukan perlawanan, melawan berarti mencari penyakit sendiri, kalau pangcu telah ambil keputusan, silaukan turun tangan "

"Haaaahh haaaaahh haaaaahh sekarang, mengapa kalian berempat menjadi begitu sungkan ?" ejek Thian-hong pangcu sambil tertawa terbahak-bahak. "bukankah ketika berada didalam ruangan tadi, kalian berempat telah mengajukan tantangan untuk bertempur kepadaku.."

"Hmm, benar.... tadi kalian tentunya mengandalkan kehebatan dari Budha antik sekalian bukan ?"

-oo0dw0oo-