Telapak Setan Jilid 23 : Kawanan jago sadar telah diperalat Yap Thian Leng

Jilid 23 : Kawanan jago sadar telah diperalat Yap Thian Leng

"BUKAN saja aku telah mencurigai dirimu, bahkan mengetahui pula bahwa engkau telah menggabungkan diri dengan perkumpulan rahasia dari Tibet "

"Mana buktinya ?" teriak Yap Thian Leng dengan paras muka berubah hebat.

"Gak In Ling sama sekali tidak mati, Sin kun harus tahu racun yang mengeram dalam tubuhnya hanya bisa disembuhkan oleh obat mujarab yang kumiliki, dan sekarang ia telah sembuh."

"Haaaahh... haaaaahh... haaahh... Lengcu tidak sepantasnya membiarkan orang itu berdiam disini "

"Mengapa ?"

Malaikut suci dari lima bukit mundur dua langkah kebelakang, sambil tertawa seram kembali serunya.

"Karena perbuatanmu itu. maka kalian harus berpisah untuk selama-lamanya."

Para jago yang mendengar perkataan itu sama-sama berdiri tertegun, mereka tidak mengerti apa yang dimaksudkan-

Sebaliknya Gadis suci dari Nirwana tertawa dingin, sahutnya. "Heeeehh heeeeehh hseeeeh aku rasa belum tentu demikian"

Malaikat suci dari lima bukit tertawa seram. sambil kabur masuk kedalam lembah ia memperdengarkan suara sultan nyaring yang amat memekikkan telinga.

Bersama dengan adanya berkumandang suara pekikan tersebut tiba-tiba dari atas tebing disekitar lembah tersebut berkumandang suara jeritan ngeri yang menyayatkan hati, dengan suara gemuruh yang amat dahsyat tumpukan salju diatas lembah cupu-cupu mendadak longsor kebawah dan menimbun permukaan tanah dibawahnya.

Siapapun diantara para jago yang hadir di situ tak pernah mengira kalau Malaikat suci dari lima bukit yang selalu dianggap sebagai pemimpin persilatan bisa menghianati para

jago dan bekerja sama dengan pihak Tibet untuk mencelakai mereka semua.

Gadis suci dari Nirwana sendiri kendatipun sudah memperoleh peringatan dari Gak In Ling akan tetapi dalam hatinya masih setengah percaya setengah tidak. selama ini ia bersikap tidak sungkan terhadap Yap Thian Leng hal ini dikarenakan ujud cintanya pada pemuda itu dan ia berharap bisa lenyapkan para jago tua tersebut agar bisa membalaskan dendam bagi kekasihnya.

Karena itu tatkala ia saksikan Yap Thian Leng memperlihatkan muka aslinya, rasa kaget yang tercekam dalam hatinya sukar dilukiskan dengan kata-kata, ia menjadi kelabakan dan tak tahu apa yang mesti dilakukan.

Suara gemuruh akibat longsornya salju menyadarkan para jago dari lamunan, semua orang tercekat hatinya dan berusaha mencari perlindungan yang dapat menyelamatkan nyawanya dari ancaman.

Disaat yang kritis dan tegang itulah, tiba-tiba dari atas tebing berkumandang datang suara seruan Gak In Ling yang lantang.

"Saudara-saudara sekalian tak usah gugup atau gelisah, semua cecunguk perkumpulan rahasia dari Tibet yang bersembunyi disekitar tempat ini telah berhasil dibasmi oleh anggota perkumpulan Yau-ti-leng, sekarang semua situasi dan keadaan telah berada ditangan kami. cukup kalian perketat penjagaan dimulut lembah saja dan membasmi setiap orang yang berusaha untuk melarikan diri dari situ."

Mendengar seruan tersebut para jago merasa terkejut dan alihkan sorot matanya ke atas, tampaklah seorang pemuda berbaju hitam dengan gagah dan angkernya berdiri diatas puncak tebing.

Diantara para jago yang hadir didalam lembah, terdengar seorang berseru lantang.

"Diantara anggota perkumpulan Yau-ti-leng tidak terdapat orang - orang pria pun, siapa engkau ?"

"Aku adalah Gak In Ling "

"Waaah....... Gak In Ling "jerit para jago dengan hati terperanjat.

Sementara itu bayangan pungung Gak In Ling telah lenyap dari pandangan, mungkin ia sedang memberi petunjuk kepada para jago dari perkumpulan Yau-ti-leng.

Dengan sedih Pek Giok ji menghela napas panjang, katanya.

"Sekarang, apakah kalian merasa bahwa ia adalah seorang manusia yang kejam dan sadis?"

Merah padam selembar wajah para jago sesudah mendengar ucapan tersebut, karena sebelum itu mereka pernah membenci pemuda itu dan mengira dia adalah seorang gembong iblis yang gemar membunuh orang. Diantara para jago muncul seseorang dan berkata.

"Lengcu. sekarang duduk perkara telah diketahui, dahulu para jago dari daratan tionggoan telah dipergunakan oleh Yap Thian Leng, tetapi dosa dan kesalahannya telah ketahuan, sekarang sudah tiba saatnya bagi kita untuk menebus dosa, mari kita jaga mulut lembah ini sebaik-baiknya."

Seruan itu mendapat sambutan yang meriah semua orang menggosok kepalan menyebarkan diri untuk menjaga mulut lembah tersebut.

"Aku harap kalian baik-baik menjaga disini." kata Pek Giok ji kemudian, "kalau ada yang muncul biarkan dulu, tunggu mereka semua telah keluar barulah kita sekali turun tangan dan membasmi habis semua."

Para jago mengiakan dan segera menyebarkan diri untuk membuat jebakan, sedangkan sisanya mengundurkan diri sejauh kurang lebih dua puluh tombak dan tempat semula.

Dalampada itu salju yang longsor didalam lembah cupu-cupu kian lama kian bertambah dahsyat, dan suasanapun makin mengerikan sekali.

Tiba-tiba dari balik lembah muncul belasan orang manusia baju merah, mereka semua bewajah kaget dan gugup, dengan paras muka pucat pias, mereka melarikan diri terbirit-birit untuk mencari selamat, namun diantara mereka tidak nampak beberapa orang lhama tersebut maupun Yap Thian Leng.

Dalam pada itu salju yang gugur dan longsor kebawah hampir menimbun seluruh lembah cupu-cupu, sehingga tersisalah sebuah jalur sempit yang amat panjang.

Tiba-tiba dari tengah udara berkelebat lewat sosok bayangan manusia, sekali berkelebat tubuhnya sudah berada dipuncak tebing diikuti jeritan-jeritan ngeri berkumandang memecahkan kesunyian, rupanya diatas jalur sempit itu tersembunyi pula para jago dari Tibet.

Bayangan hitam yang barusan berkelebat lewat itu bukan lain adalah Gak In Ling jago kita.

Setelah membereskan penyamun-penyamun tersebut, si anak muda itu duduk diatas sebuah batu besar, tampaklah Yap Thian Leng serta tiga orang lhama berhenti ditengah selat sempit.

Terdengar salah seorang lhama itu menggerutu.

"Huuuuhh semuanya ini gara-gara engkau yang tidak bisa bekerja dengan hati-hati, coba lihatlah rahasia kita ketahuan lawan dan seluruh rencana dari Tiongcu menemui kegagalan total, ketahuilah dosa ini tak mungkin bisa ditanggung orang lain-"

Bagaimanapun juga Malaikat suci dari lima bukit Yap Thian Leng termasuk juga seorang pemimpin persilatan karena keadaan yang memaksa ia harus takluk kepada perguruan rahasia dari Tibet, mendengar ucapan tersebut ia menjadi naik pitam dan segera berseru.

"Siapa suruh Tiongcu tak mau membinasakan Gak In Ling ?"

"Kurang ajar Engkau berani menista Tiongcu ?" bentak seorang lhama dengan wajah merah padam.

Yap Thian Leng merasa amat terperanjat, buru-buru sahutnya dengan suara lirih^

"Aku tidak mempunyai keberanian sebesar itu, meskipun rencana kita yang pertama mengalami kegagalan, asal kita tetap bertahan diri dan jangan keluar dari selat sempit ini sehingga memberi kesempatan bagi Tiongcu untuk menghancurkan markas besar perkumpulan Yau-ti leng, rasanya tindakan kita inipun merupakan sebuah pahala besar."

Gak In Ling yang mendengar perkataan itu menjadi amat terperanjat, segera pikirnya didalam hati.

"Untung aku hanya membawa Kui Bin Popo, adik Hun, Lan in Loojin serta ciang-liong san beberapa orang, dan tidak membawa serta tiga Tianglo dari perkumpulan Yau-ti-leng, kalau tidak siapakah yang akan menahan serangan mereka ?"

sementara otaknya masih berputar, beberapa jeritan ngeri berkumandang dari luar lembah, ada beberapa orang bandit yang berusaha melarikan diri telah berhasil dirobohkan.

Gak In Ling mendongak keatas, ia melihat Hoa Yan Hun dan Kui Bin Popo sekalian sedang menuju ke lembah depan, ia tahu pastilah mereka salah paham dan mengira orang-orang dalam lembah telah keluar semua. Gak In Ling tak berani berayal lagi, ia segera membentak keras. "Bajingan tua she Yap. lihat Siau-ya mu berada dimana ?"

Mendengar bentakan itu Malaikat suci dari lima bukit menjadi terperanjat ia menengadah...

Blaaamm.

Tiba-tiba segumpal besar salju longsor kearah bawah, dengan hati tercekat jeritnya . "cepat kabur "

Ketika ketiga orang lhama itu menjumpai Gak In Ling yang berada diatas puncak bukit, sadarlah sekarang bahwa suara jeritan yang terdengar tadi bukan berasal dari orang yang sedang melarikan diri, melainkan para muridnya yang ada diatas tebing telah mati dibunuh.

Sejak melihat munculnya Gak In Ling, mereka sudah tidak memiliki pendirian, apalagi mendengar jeritan dari Yap Thian Leng, tanpa banyak bicara lagi mereka kabur kemulut lembah.

Yap Thian Leng tidak malu disebut sebagal seorang pemimpin persilatan, menghadapi ancaman bahaya maut, hatinya sama sekali tidak kaCau, deagan cepat satu ingatan berkelebat dalam benaknya.

"Kalau empat orang mengundurkan diri melalui arah yang sama, jalan mundurnya tentu akan dipotong Gak In Ling danpada saat itu tiada jalan mundur lagi bagiku, lebih baik menggunakan kesempatan dikala mereka sedang lari kedepan, aku bersembunyi dahulu kemudian baru kabur lewat jalan belakang..."

Setelah mengambil keputusan ia segera lari kedepan, kemudian setengah jalan ia tempelkan badannya ditepi dinding lembah sehingga bayangan tubuhnya tidak terlihat oleh Gak In Ling.

Selama ini pemuda she Gak itu selalu memperhatikan gerak-gerik dari Yap Thian Leng, melihat ia kabur kedepan, disangkanya penjahat tersebut lari menuju kemulut lembah, dalam hati ia mendengus dingin dan segera mengejar kebawah.

Gerak tubuh Gak In Ling cepat bagaikan sambaran kilat, tidak selang berapa saat kemudian ia sudah tiba diatas puncak lembah tersebut, ketika menengok kebawah maka tampaklah Gadis suci dari Nirwana sekalian sedang bertarung seru melawan tiga orang lhama, sedangkan bayangan dari Yap Thian Leng sama sekali tidak kelihatan. Hatinya terperanjat, pikirnya. "Jangan-jangan bajingan tua itu belum keluar ?"

Mendadak satu ingatan berkelebat dalam benaknya, ia berpikir lebih jauh.

"Aduh celaka, aku telah terkena siasat suara timur berada dibarat dari bajingan tua itu.."

Makin dipikir ia merasa makin yakin, maka dengan ilmu menyampaikan suara ujarnya kepada Gadis suci dari Nirwana.

"Enci Pek. setelah urusan disini selesai, cepat- cepatlah kembali kelembah To-hoa-kok, pemimpin dari Tibet telah membawa anak buahnya menyerang kesana, adik Hun biar berada bersama engkau untuk memecahkan irama pembetot sukmanya sedang aku akan mengejar bajingan tua itu."

Tidak menunggu jawaban dari Gadis suci dari Nirwana lagi, ia putar badan dan segera berlalu dari situ.

Gadis suci dari Nirwana yang mendengar ucapan tersebut menjadi amat terperanjat, buru-buru ia mendongak keatas, maka terlihatlah bayangan tubuh pemuda itu berkelebat lewat dan lenyap dibalik tebing.

Dalam hati ia segera ambil keputusan, pikirnya.

"Sekembalinya kelembah To-hoa-kok dan berhasil memukul mundur Tiongcu dari Tibet, aku tak sudi menjadi Lengcu lagi, kalau tidak maka selamanya aku tak dapat mendampingi disisinya."

Untuk sementara waktu baiklah kita mengikuti perjalanan dari Gak In Ling, baru saja ia tiba didaratan lembah yang datar, maka terlihat kurang lebih lima puluh tombak

dihadapannya Yap Thian Leng bagaikan seekor anjing yang kena gebuk sedang melarikan diri terbirit-birit.

Diam-diam si anak muda itu mendengus dingin, langkah kakinya dipercepat dan laksana petir menyambar ia meluncur sejauh dua puluh tombak lebih kearah depan.

Yap Thian Leng yang berada didepan sudah mendaki kepuncak tebing, tempat itu merupakan salah satu pos-pos yang semula dipertahankan oleh para jago dari perguruan rahasia, kini mayat bergelimpangan dimana-mana dengan cairan darah yang telah kental mengotori permukaan bumi.

Ia memperlambat gerakan tubuhnya, dalam hati pikirnya.

"Sungguh tak kusangka Gak In Ling bocah keparat itu lihay sekali, hampir saja seluruh rencanaku mencapai sasaran yang kosong, bahkan jiwakupun nyaris mampus dilembah cupu-cupu."

Setelah berhenti sebentar, dengan bangga ia berpikir lebih jauh.

"Kendatipun kecerdasannya melebihi orang lain, ia tak akan menyangka kalau aku bisa kabur dari tempat tersebut. Haaahh.... haaahh... haaaah.... inilah yang dinamakan kalau takdir belum menghendaki kematianku, dimanapun merupakan jalan keluar."

Baru saja Malaikat suci dari lima bukit merasa bangga, mendadak dari arah belakang berkumandang datang suara bentakan yang amat keras. "Bajingan tua she Yap. serahkan nyawamu"

Suara itu muncul dari jarak kurang lebih dua puluh tombak dibelakang tubuhnya.

Mendengar seruan tersebut, Malaikat suci dari lima bukit menjadi amat terperanjat, ia berpaling, tatkala melihat hanya Gak In Ling seorang yang menyusul dirinya, ia agak lega, pikirnya.

"Bagaimanapun juga dia adalah panglima perang yang pernah kalah ditanganku, kenapa aku mesti takut kepadanya ? Biarlah kupancing dia untuk lebih jauh tinggalkan tempat ini, setelah itu baru turun tangan membasmi bibit bencana dikemudian hari." Berpikir sampai disini, ia tertawa dingin dan semakin cepat kabur kearah depan-

Dalam anggapan Yap Thian Leng, tenaga dalam yang dimiliki Gak In Ling masih kalah satu tingkat Jika dibandingkan dengan kepandaiannya, karena itu ia tak berani kabur secepatnya takut pemuda itu tak mampu menyusul sehingga melepaskan niatnya untuk menyusul.

Siapa tahu, belum jauh mereka kejar- mengejar, tiba-tiba terdengar Gak In Ling membentak keras.

"sekalipun engkau kabur keujung langitpun Siau-ya tidak akan melepaskan dirimu." Malaikat suci dari lima bukit yang mendengar seruan tersebut saking kagetnya hampir saja ia menjerit keras, sebab suara itu berasal kurang lebih lima tombak dibelakang tubuhnya, ia tak berani banyak bicara lagi, sambil mengepos tenaga sekuat tenaga ia kabur kearah depan.

Sepertanak nasi kemudian mereka sudah berada kurang lebih seratus li jauhnya dari tempat semula, dari permukaan salju kini mereka telah tiba ditengah sebuah bukit berumput.

Mendadak dari tengah udara menggema datang suara bentakan keras. "Bajingan tua she Yap. engkau hendak kabur kemana ?"

Walaupun hati Yap Thian Leng selalu tenang, namun sesudah mendengar bentakan itu tak urung ketakutan juga sehingga sukmanya terasa melayang tinggalkan raganya, tidak memperdulikan gengsinya lagi ia jatuhkan diri dan bergelinding sejauh satu tombak lebih dari tempat semula.

Menanti ia berdiri kembali, tampaklah Gak ln Ling dengan muka dingin telah berdiri kurang lebih dua tombak dihadapannya.

Hampir saja Yap Thian Leng tidak percaya dengan pandangan mata sendiri, karena pertama kali ia bermusuhan dengan seorang muda itu, lawannya begitu tak becus sehingga tak mampu menahan sebuah pukulannya, sedang sekarang ilmu meringankan tubuhnya membuktikan bahwa ia adalah jauh lebih lihay yang memiliki ilmu silat jauh diatas kepandaiannya.

Gak In Ling tertawa seram, katanya. "Hey orang she Yap. tempat ini tak ada seorang manusiapun, aku rasa inilah tempat yang cocok bagi kita untuk bikin perhitungan."

"Heeehh heeeeeh heeeeehh.... ilmu meringankan tubuh yang kau miliki hebat sekali."

"Apa sangkut pautnya dengan dirimu ?" jengek Gak In Ling tertawa dingin.

"Tentu saja besar sekali hubungannya, kalau engkau tak mampu menangkan aku maka engkau masih bisa kabur "

"Aku kuatir engkaulah justru yang akan kabur "

"Pukulan yang kau terima di benteng Hui-in-cay, anggaplah sebagai pelajaran yang setimpal bagimu."

"Tak usah banyak bicara, silahkan turun tangan-" sambil berseru pemuda itu maju selangkah kedepan-

"Aku rasa lebih baik engkau duluan yang turun tangan, kalau tidak dari mana aku bisa tahu berapa bagian tenaga dalamku yang sanggup kau terima .? Bila sampai salah perhitungan, bukankah aku bakal kehilangan seorang sahabat macam dirimu ?"

orang ini licik sekali, ia hendak membangkitkan hawa gusar dari pemuda itu sehingga konsentrasinya menjadi buyar.

Berhadapan dengan pembunuh ayahnya sejak semula hawa amarah dalam dada Gak In Ling sudah berkobar, sekarang dipanasi pula oleh ucapan yang tidak tak enak didengar, ia semakin marah.

"Keledai tua, sambutlah seranganku ini " bentaknya.

cahaya merah berkelebat lewat, dengan jurus hujan darah angin amis dia lancarkan sebuah pukulan kearah depan.

Girang hati Yap Thian Leng menyaksikan pemuda itu gusar, pikirnya.

"Biarlah kusambut dahulu pukulannya kemudian baru turun tangan secara tiba-tiba membinasakan dirinya, dari pada aku mesti selalu memikirkan tentang ancamannya. ..."

Berpikir sampai disitu, seluruh tenaga dalam yang dimilikinya segera dihimpun kedalam telapak, kemudian bentaknya. "Bocah keparat, rupanya kau sudah pingin mampus "

Dengan gerakan dorong bukit menguruk samudra, ia balas melancarkan satu pukulan kedepan-

Kedua orang itu sama-sama menggunakan segenap kekuatan yang dimilikinya, jarak diantara mereka pun dekat sekali, bisa dibayangkan betapa dahsyatnya benturan yang bakal terjadi.

"Blaaaaamm "

Ditengah benturan keras yang memekikan telinga, pasir dan debu beterbangan memenuhi seluruh angkasa, pusaran angin kencang menggulung sehingga ketinggian sepuluh tombak.

Ditengah berhembusan angin kencang, tubuh Yap Thian Leng terdorong mundur empat langkah kebelakang, dada terasa amat sesak. sepasang lengannya linu tak bertenaga

dan terkulai kebawah, hatinya merasa amat terperanjat, pikirnya.

"Mungkin bocah keparat itu telah menggunakan segenap tenaga kekuatannya yang dimiliki, akupun terdorong mundur empat langkah kebelakang, mungkin bangsat itu belum sempat bersuara, nyawanya sudah mencelat kembali keakhirat...."

Sambil berpikir sepasang matanya yang tajam memandang kearah depan, namun ditengah gulungan pasir ia tidak menemukan sesuatu.

Jago tua itu dapat berpendapat demikian karena dalam pertarungannya dibenteng Hui-in-cay tempo hari, hanya dalam satu pukulan saja ia berbasil menghantam Gak In Ling sehingga mencelat sangat jauh, kini dia sendiripun terdorong mundur empat langkah, tentu saja pemuda itu sudah mampus.

Ada satu hal telah dilupakan olehnya, Gak In Ling datang dari lembah To-hoa-kok dan disana terdapat obat yang dapat menyembuhkan racun dalam tubuhnya.

Segulung angin dingin berhembus lewat membuyarkan pasir dan debu, ketika ia mendongak kembali, bulu kuduknya pada bangun berdiri. "Tak mungkin-.. tak mungkin-.." bisiknya tanpa terasa.

Ternyata Gak In Ling sama sekali tidak terdorong mundur ke belakang, kendati hanya satu langkahpun.

Dengan wajah menyeramkan pemuda itu maju kedepan, serunya.

"Bajingan tua, kalaupunya kepandaian sambutlah kembali sebuah pukulanku "

Mengikuti langkah kakinya yang berat, selangkah demi selangkah Yap Thian Leng mulai mundur kebelakang, tanpa ia

sadari nyalinya telah pecah dan mukanya berubah menjadi pucat pias bagaikan mayat.

Yang satu maju yang lain mundur, waktu berlarut dalam keheningan dan kesepian, segulung hawa pembunuh yang tebal menyelimuti seluruh angkasa membuat suasana bertambah tegang.

Malaikat suci dari lima bukit mulai gemetar, ditengah kesunyian yang mencekam dan ditanah perbukitan yang jauh dari keramaian, kecuali mengandalkan kekuatan sendiri tiada yang bisa diandalkan lagi, sebab Jika ia kalah maka untuk laripun tak mampu.

Untuk beradu kepandaian iapun keder sebab ia mulai sadar bahwa kepandaian silatnya masih bukan tandingan si anak muda itu.

Satu reaksi yang muncul dengan sendirinya membuat jago tua itu tanpa sadar meloloskan pedang yang tersoren dipunggung, dengan senjata ditangan ia berusaha untuk mempertahankan keberaniannya .

Gak In Ling sendiri, ketika melihat musuhnya mencabut senjata, iapun segera merogoh sakunya dan ambil keluar pedang pendek miliknya, dengan sorot mata penuh nafsu membunuh ujarnya kepada Yap Thian Leng.

"Bajingan tua, ayolah turun tangan, ini hari Siau-ya mu ingin membinasakan dirimu secara perlahan-lahan."

Yap Thian Leng memperkencang genggamannya pada pedang pendek itu, dalam hati pikirnya.

"Dia menguasai ilmu telapak mautnya, ilmu pukulan sudah jelas merupakan kepandaian andalannya, kini Jika bertempur dengan pedang maka akulah yang bakal menarik keuntungan, apa lagi pedang yang ia pergunakan begitu pendek.." Keberanian muncul kembali dalam benaknya, ia segera membentak keras.

"Lihat serangan ". Dengan jurus bianglala mengitari sang surya ia tusuk dada pemuda she Gak itu.

cahaya perak berkilauan diangkasa, bagaikan seekor ular lincah dalam waktu singkat tahu-tahu sudah tiba didepan sasaran.

Gak ln Ling segera ayunkan pedang pendeknya membabat senjata lawan dengan jurus menguruk tanah membuat perbatasan, sementara tangan kirinya laksana kilat menghantam dada orang she Yap itu dengan jurus darah mengalir setinggi tiang.

Ditengah bayangan berwarna merah. Ular perak berkelejit kedepan membuat orang itu susah menarik pedangnya untuk melindungi badan, karena Jika pedangnya ditariknya niscaya tubuhnya akan termakan oleh pukulan dahsyat itu.

Mimpipun Yap Thian Leng tak menyangka kalau Gak In Ling bakal melancarkan serangan dengan menggunakan pedang serta telapaknya.

Lingkaran pengaruh angin pukulan amat luas. Yap Thian Leng tak berani menarik pedangnya untuk melindungi badan, terpaksa ia gunakan senjata tersebut untuk balas membabat pedang pendek lawan-

Criiiing

Dentingan nyaring bergema diangkasa, Yap Thian Leng merasakan tangannya menjadi ringan, ia merasa gelagat tidak menguntungkan, dalam gugupnya ia sempat melihat pedang bajanya telah terpapas sepanjang beberapa depa, dengan hati terkesiap pikirnya.

"Walaupun pedangku ini tidak termasuk pedang mustika, namun terbuat diri pada baja murni, kenapa ia mampu memapas kutung ? Jangan-jangan pedang pendek yang dia pergunakan adalah sebilah pedang mustika."

Setelah serangannya berhasil, semangat Gak -In Ling semakin berkobar, disaat musuhnya masih tertegun dengan ketakutan, tiba-tiba ia membentak keras. "Bajingan tua, sambutlah kembali sebuah seranganku "

pedangnya berputar lincah, dengan gerakan Rantai baja melintang disungai, bagaikan kilat ia sapu tengkuk musuhnya sementara telapak kiri melancarkan serangan dengan gerakan banjir darah mayat membukit.

Setelah pedangnya terpapas, semangat tempur Yap Thian Leng jauh berkurang, mendengar bentakan itu, ia makin gugup dan tak tahu apa yang harus dilakukan, dengan serta merta ia jejakkan kakinya keatas tanah dan loncat dua tombak kesamping kanan, pedang kutungnya berputar kencang dengan jurus pohon kuno mengakar ditanah, dalam pikirannya pemuda itu pasti akan mundur kebelakang.

Siapa tahu apa yang kemudian terjadi, sama sekali diluar dugaannya, ketika Gak In Ling menyaksikan musuhnya mundur, dengan jurus yang tak berubah ia menyusul kedepan, bahkan gerakan tubuhnya jauh lebih cepat daripada lawannya.

Yap Thian Leng ketakutan setengah mati sehingga terasa sukma melayang tinggalkan raganya, walaupun ia tahu bahwa pedangnya bakal kutung lagi Jika membentur senjata lawan, akan tetapi untuk menyelamatkan diri mau tak mau terpaksa harus berbuat demikian-

"Criiing Criiiiiing... " Dua kali dentingan nyaring, pedangnya kembali kutung menjadi dua bagian dan anehnya kutungan itu persis pada batas gagang pedangnya, jelas pemuda itu sengaja berbuat demikian-

Dengan penuh ketakutan Yap Thian teng terdiri menjublak diatas tanah, ia menjadi gugup tak tahu apa yang mesti dilakukan-Gak In Ling tertawa dingin, katanya.

"Bajingan tua, engkau tak menyangka kalau menjumpai keadaan seperti ini hari bukan ?" Perlahan-lahan dia masukan kembali pedangnya kedalam saku.

Paras muka Yap Thian Leng mulai berubah menjadi pucat kehijau-hijauan, mungkin rasa takut itu muncul menjelang kematiannya.

Dalam pada itu kurang lebih lima puluh tombak disamping mereka berdua tiba-tiba muncul seorang Nenek tua berambut putih, ketika sorot matanya yang tajam mengenali bahwa orang yang berada dihadapannya adalab Yap Thian Leng dengan kegirangan segera teriaknya. "oooohh rupanya Ngo-gak Sin-Sin-kun berada disini. sudah lama aku mencari dirimu..."

Yap Thian Leng merasa agak lega ketika mendengar seruan itu, ia segera berpaling akan tetapi sesudah tahu siapa yang datang, dengan perasaan kecewa pikirnya.

"Aaaahh Dia adalah Tiat Bin Popo, sekarang tenaga dalam yang dimiliki Gak In Ling telah memperoleh kemajuan pesat, mungkin dengan kerja sama kami berdua masih bukan tandingannya, juga apa yang harus kulakukan sekarang.. ..,? Aaaahh Ada akal...." Tiba-tiba dari balik matanya terpancar keluar sorot mata yang amat mengerikan.

Sementara itu Tiat Bin Popo telah berada kurang lebih dua puluh tombak dihadapan mereka.

Gak In Ling segera tertawa dingin, katanya. "Bajingan tua, bala bantuan telah datang.."

"Huuuhh Aku masih belum membutuhkan bantuannya, sambutlah seranganku ini "

Sambil berkata tangan kanannya diayun ke depan, gagang pedang dengan diiringi cahaya perak laksana kilat meluncur kearah dada Gak In Liag, sementara itu tubuhnya dengan cepat lari kearah Tiat Bin Popo.

Mimpipun Gak In Ling tak menyangka kalau ia bakal menggunakan kutungan pedang sebagai senjata rahasia, dalam gugupnya tak sempat dirinya untuk menghindarkan, ia segera membentak keras dan dengan gerakan hujan darah angin amis ia hajar gagang pedang tersebut.

pada saat yang bersamaan, kurang lebih sepuluh tombak dihadapannya tiba-tiba berkumandang pula suara benturan keras disusul seorang mendengus keras.

Gak In Ling terperanjat dan segera berpaling, tampaklah Tiat Bin Popo telah roboh terkapar diatas tanah, sedangkan Yap Thian Leng entah sudah kabur kemana.

Gak In Ling tertegun dan berdiri termangu-mangu, memandang tubuh Tiat Bin Popo yang terkapar diatas tanah, ia tak tahu apa yang mesti dilancarkan olehnya.

Tiat Bin Popo yang berada diatas tanah dengan susah payah berusaha merangkak bangun terdengar ia bergumam seorang diri.

"Yap Thian Leng, tidak seharusnya aku terialu mempercayai dirimu "

"Aku lihat luka yang kau derita tidak ringan ?" seru Gak In Ling sambil maju dua langkah kedepan-

Tiat Bin Popo cukup tangguh hatinya, mendengar pertanyaan tersebut ia tertawa dingin dan menjawab.

"Isi perut telah hancur, tiada kesempatan untuk hidup lebih jauh."

Gak In Ling merasa iba, ia maju menghampiri kedepan, Tiat Bin Popo yang tak tahu maksud pemuda itu dikiranya si anak muda itu hendak mencelakai jiwanya, dengan gusar ia membentak.

"Gak In Ling, apa yang hendak kau lakukan ?"

"Hendak menyelamatkan dirimu "

Tiat Bin Popo tertegun tiba-tiba ia tertawa bergelak.

"Haaaaahb haaaahh haaaah menolong aku ?n Haaaaahh........ haaaaaahh... haaaaaah banyak urusan yang kupercayai, namun hanya dalam urusan ini aku tak dapat mempercayainya. "

"Diantara kita berdua tokh tak pernah terikat hubungan musuh atau sakit hati."

"Dahulu memang tidak ada " jawab Tiat Bin Popo sambil tertawa dingin.

"sekarang juga tak ada "

"Engkau pasti belum melupakan peristiwa diluar benteng Hui-in-cay bukan?" ujar Tiat Bin popo dengan wajah bersungguh-sungguh.

"Lebih baik kita tak usah mengungkap kembali persoalan itu " Tiat Bin Popo tertawa dingin, kembali ujarnya.

"Kalau aku menjadi engkau, tanpa melakukan perbuatan cabul namun difitnah orang sebagi penjahat cabul maka sekalipun badan harus hancur, aku pasti akan membalas dendam sakit hati ini, dengan tabiatmu aku percaya engkau tak akan melepaskan diriku dengan begitu saja."

Gak In Ling tidak banyak bicara, ia merogoh kedalam sakunya dan ambil keluar sebuah botol kumala keCil, benda itu adalah hadiah dari Bwee Giok Siang Dewi burung hong kepadanya dikala ia terluka parah tempo hari, akan tetapi sehingga kini belum pernah dipergunakan olehnya.

Dengan pandangan tawa Gak In Ling melirik sekejap kearah Tiat Bin Popo, kemudian berkata.

"Ketika berada di lembah Ban-ku-kok, aku pernah menyelamatkan mereka..."

Paras muka Tiat Bin Popo berubah hebat, serunya tanpa terasa.

"ooohh...Jadi engkau yang memberi petunjuk jalan? kesalah pahaman itu..."

"Pakailah sendiri obat ini " ujar Gak In Ling sambil angsurkan botol kumala tersebut kepadanya.

Tiat Bin popo menerimanya obat itu.

"Kenapa engkau tidak gunakan tanganmu untuk berikan kepadaku ? Tidak takut aku gunakan terlalu banyak ?" Gak In Ling tertawa sedih.

"Isi botol itu hanya sebutir, aku takut tanganku sendirilah yang beracun."

"Haaaahh.- haaaahh haaaahh perduli tanganmu beracun atau tidak, perduli apa tujuan kau menolong pangcu kami, yang jelas engkau sudah menyelamatkan jiwanya, aku tahu bahwa aku pasti mati Jika dapat kumakan obat racunmU itu sehingga bisa lenyapkan rasa benci didalam hatimU, matipUn berharga.."

"Sambil berkata ia membUka tutup botol itu dan mengeluarkan obat tersebut dari tempatnya.

Tiba-tiba... Tiat Bin Popo nampak tertegun, tangannya yang kurus mulai gemetar keras, cahaya air mata mengembang dikelopak matanya terdengar ia bergumam seorang diri. "Pil mustika Ci-liong-cu.. Ci-Ilong-cu..."

Mendengar seruan itu Gak In Ling menjadi tertegun, ia lihat didalam genggaman Tiat Bin popo terdapat dua butir pil merah darah, dalam sekejap mata ia memahami apa yang sebenarnya telah terjadi.

Wajah Dewi burung hong yang cantik kembali tertera didepan mata, tak tahan ia bergumam seorang diri.

"Adik siang adik siang.. engkau hanya memikirkan diriku, kenapa engkau tidak pernah memikirkan dirimu sendiri ?"

Tiat Bin Popo masukkan kembali dua butir pil ci-hong-cu kedalam botol kumala itu dan menutupnya kembali, kemudian dikembalikan kepada Gak In Ling, katanya. "Gak siauhiap, terimalah kembali obat ini"

"Pil itu bukan racun." seru pemuda itu dengan pikiran kalut. Tiat Bin Popo tertawa sedih.

"Benar, aku tahu kalau obat itu adalah racun maka sedari tadi telah kutelan."

Dua titik air mata jatuh berlinang membasahi pipinya yang berkeriput, dengan perasaan minta maaf ia memandang kearah Gak In Ling lalu berkata. "Yang sudah lewat aku percaya engkau benar- benar tak akan mempersoalkan kembali.."

Ketika dilihatnya paras muka Nenek itu dari pucat telah berubah menjadi kehijau-hijauan, Gak In Ling merasa amat gelisah, serunya keras keras. "Aku dengan tulus ikhlas menghadiahkan obat ini kepadamu "

"Benar dan aku tahu," sahut Tiat Bin Popo sambil mengangguk, "akan tetapi obat itu adalah obat yang paling mujarab dikolong langit, banyak orang yang membutuhkan obat itu untuk melanjutkan hidup, apa gunanya obat mujarab yang begitu berharganya harus dibuang dengan sia-sia diatas tubuh seseorang yang hampir mampus?"

Gak In Ling menjadi amat gelisah, buru-buru serunya. "Mungkin luka dalam yang kau derita tidak begitu parah "

"Tidak, engkau keliru, menanti darah sudah mengusur keluar dari ujung bibirku itu berarti saat ajalku telah tiba, aku memahami sekali akan ilmu silat yang dimiliki Yap Thian Leng."

Berbicara sampai disitu. mendadak wajahnya berkerut kencang. Gak In Ling makin terperanjat, teriaknya keras-

keras. "Cepatlah telan obat itu cepatlah telan obat itu " Air muka Tiat Bin Popo semakin mengencang, katanya.

"Waktu sudah tidak banyak lagi Gak In Ling. Sekarang aku baru mengetahui bahwa engkau adalah seorang manusia berwajah dingin berhati hangat, walaupun memiliki telapak maut yang membunuh seseorang akan tetapi memiliki hati pendekar yang suci bersih dan gemar menolong orang, karena itu sebelum ajalku tiba ada satu persoalan aku hendak minta tolong kepadamu ?"

"Cobalah telan sebutir lagi," desak Gak in Ling. Tiat Bin Popo gelengkan kepalanya.

"Kalau begitu engkau telah mengabulkan permintaanku, cepatlah turun kebawah dan pergilah kelembah Pek-cho-kok, selamatkanlah jiwa pangcu kami, ia telah dikurung oleh orang-orang-nya Dewi burung hong."

"Apa ?" sero Gak In Ling dengan hati terperanjat.

Napas Tiat Bin Popo mulai tersengal-sengal jalannya kembali.

"Dewi burung hong berada diatas puncak pui-wi- hong dalam lembah Pek-cho-kok.jangan naik keatas puncak itu, semua kekuatan inti Thian hong-pang berada dalam lembah itu, aku... percaya engkau tak akan mengingat ingat akan dendam sakit hati dimasa lampau."

Bicara sampai disini, tiba-tiba darah kental mulai mengucur keluar membasahi ujung bibir-nya.

"Kau..." Gak In Ling makin terperanjat.

"orang muda, kau... kau menyanggupi permintaanku bukan?"

Gak In Ling tak dapat menahan rasa sedihnya lagi, dengan air muka bercucuran dia mengangguk.

"Benar... benar... aku pasti akan melakukannya "

Dengan hati lega tiat Bin Popo tertawa, ia sandarkan tubuhnya diatas sebuah batu besar, dengan susah payah ujarnya kembali.

"Dari sini menuju kelembah Pek-cho-kok hanya empat lima li, bergeraklah menuju ke Tenggara, orang muda, aku... pangcu kami ti... tidak salah memilih orang."

"Beristirahatlah lebih dahulu," bisik pemuda she Gak sambil berjongkok disisi tubuhnya.

Tiat Bin Popo menyusupkan botol porselin itu ketangan Gak In Ling dan menjawab.

"Benar, aku aku sudah sepantasnya ber... beristirahat, lagi... lagi pula. ber... beristirahat untuk selamanya, oooh orang muda, aaaku aku hen... hendak terus-tee.. terang beritahu kepadamupaa...pangcu kami se... seetiap....... hari seelalu meriiin...dii... dirimu..."

Tiba-tiba kepalanya terkulai dan nenek tua itu menghembuskan napasnya yang terakhir.

Selama hidupnya ia menderita kesepian, hatinya selalu diliputi kebencian terhadap semua kejahatan, sungguh tak nyana pada akhirnya bukan mati ditangan musuh besar, sebaliknya menemukan ajalnya ditangan seorang manusia durjana yang di anggap sebagai seorang pendekar sejati.

Dengan kaku Gak In Ling memperhatikan wajah mayat itu beberapa saat lamanya ia tidak menangis, hanya bergumam dengan air mata jatuh bercucuran-

"Setiap manusia paling akan melewati jalan ini, akan tetapi tidak sepantasnya kalau saat keberangkatannya ditentukan oleh orang lain, popo beristirahatlah dengan hati tenang, aku tak akan melepaskan dirinya dengan begitu saja.."

Gak In Ling mencari sebuah gua batu kecil dan meletakan jenazah Tiat Bin Popo di dalam gua tadi kemudian dengan batu besar menyumbat mulut gua tersebut, diluar diberi tanda

kemudian dia baru berangkat menuju kearah Tenggara. Lima enam li bukan suatu jarak yang terlalu jauh bagi Gak In Ling, tidak selang sepertanak nasi kemudian ia sudah mencapai tempat tersebut.

Tidak jauh berlarian, dari depan mata muncullah sebuah bukit tinggi yang berwarna hijau segar, sekelilingnya merupakan bukit bersusun-susun yang penuh ditumbuhi pohon siong.

Gak In Ling berlari menuju kedepan bukit tersebut sesudah berpikir sebentar pikirnya.

"Adik Siang rupanya adalah seorang manusia yang lain dimulut lain di hati, bukankan secara terang-terangan Ia telah menyanggupi permintaanku agar tidak melakukan penjajahan lagi terhadap wilayah persilatan didaratan tionggoan, sekarang mengapa ia kurung Thian Hong pangcu beserta para anak buahnya ditempat ini? Jika aku langsung menyerbu kedalam lembah, suatu pertempuran sengit pasti akan berkobar, sudahlah Lebih baik aku mendaki keatas cu-wi-hong lebih dahulu "

Sesudah ambil keputusan, Ia siap melanjutkan perjalanannya.

Mendadak dari arah belakang berkumandang datang suara seruan yang sangat menyeramkan. "Keparat cilik, ternyata engkau belum mampus "

Meskipun suaranya tidak begitu keras, namun Cukup menggetarkan hati siapapun yang mendengarnya .

Gak In Ling amat terperanjat, namun ia tidak memberikan sesuatu reaksi apapun juga , lama sekali perlahan-lahan Ia baruputar badan.

Kurang lebih dua tombak dihadapan-nya, berdirilah seorang perempuan Cantik berusia setengah umur dengan wajah ketus dan dingin. Begitu mengetahui siapakah yang berada

dihadapannya, sekali lagi si anak muda itu merasa terperanjat. "oooohh engkau ?" serunya.

Perempuan cantik berusia tengah umur itu tertawa dingin.

"Heeeeehh heeehh... heeeeehh... aku mengira engkau sudah mampus dibawah tebing Wan-ciu-gay."

Ternyata Perempuan cantik berusia setengah umur itu bukan lain adalah gurunya Dewi burung hong atau Bwee Giok Siang.

dalam hati Gak In Ling merasa amat gelisah, namun mau tak mau dia harus keraskan hati untuk menghadapi kenyataan didepan mata, dengan tawar ia menjawab.

"Sungguh beruntung Boanpwee tidak sampai mampus, bahkan racun keji yang mengidap dalam tubuhku juga berhasil dipunahkan."

"Engkau hendak pergi kemana ?" tegur Perempuan cantik itu dengan suara menyeramkan.

"Mencari murid cianpwee "

Mendengar jawaban tersebut, tiba-tiba dari balik mata Perempuan cantik itu memancar keluar sorot mata yang mengerikan, Ia segera membentak keras.

"Budak itu telah menghianati diriku dan sekarang aku sedang mendidik dirinya agar bertobat. Hmm Engkau hendak mengusik ketenangannya lagi ? Engkau anggap aku bisa dipermainkan dengan gampang ?"

Tertegun hati Gak In Ling mendengar ucapan tersebut, dengan gelisah serunya. "Bagaimana caranya cianpwee mendidik adik Siang ?"

"Aku mengatakan engkau telah mampus bahkan membawa dirinya pergi ketempat kejadian, untuk membuktikan kebenaran ucapanku, aku telah menangkap beberapa orang

murid perguruan rahasia dan menyuruh mereka menerangkan sendiri, setelah mendengar kesemuanya itu dia baru percaya."

"Kemudian cianpwee suruh dia membawa anak buahnya untuk menyusahkan kaum persilatan didaratan tionggoan- ?"

"Hmm Kenapa aku mesti banyak bicara ? Karena mencintai dirimu timbullah rasa bencinya terhadap umat persilatan didaratan Tionggoan, dia sendiri juga yang mengambil keputusan hendak bikin.keonaran diseluruh kolong langit."

"Lalu kenapa cianpwee mengatakan sedang mendidik dirinya ?"

"Karena ia telah berjanji sendiri kepadaku setelah bikin keonaran dalam dUnia persilatan dan menangkap pemimpin perguruan rahasia dari Tibet untuk bersembahyang dihadapan arwahmu, selanjutnya dia akan mengundurkan diri dari keramaian dunia dan menjadi pendeta."

"ooohh adik Siang," pikir Gak In Ling didalam hati dengan perasaan kasihan, "rasa cintamu terlalu mendalam..."

Berpikir sampai disini dia segera bertanya, "Perbuatannya ini tokh tak bisa dihitung Sebagai suatu penghianatan terhadap diri cianpwee"

"Siapa bilang bukan suatu penghianatan? Aku suruh dia menguasai seluruh kolong langit dan berganti dengan dandanan lama, akan tetapi ia tidak mau menuruti perkataanku."

"Berganti dengan dandanan lama ?" Dengan gemas perempuan cantik itu berseru.

"Sejak ia mendengar akan kematianmu, ia mengatakan bahwa dia telah menjadi isterimu, seharian penuh ia selalu berkabung, aku ogah dan muak melihat dandanannya itu, dan suruh dia ganti pakaian tetapi dia tidak mau menuruti perkataanku, bukankah ini termasuk suatu penghianatan ?"

Makin mendengar Gak In Ling merasa hatinya semakin sakit, dengan perasaan tidak tenang tanyanya.

"Bagaimana caranya cianpwee mendidik dirinya ?"

"Pertama kali aku mengurung dirinya, kemudian kupimpin sendiri suatu pengepungan atas Thian Hong pangcu beserta anak buahnya dalam lembah Pek-cho-kok. kunasehati dirinya Sedikit demi sedikit, akan tetapi ia tak sudi mendengarkan nasehatku. dalam gusarnya aku telah menghajar dirinya sehingga menderita luka parah."

"Luka parah ?" teriak Gak In Ling dengan paras muka berubah hebat.

"Tetapi aku tahu kalau dia mempunya obat ci-liong-cu, ia tidak bakal mampus karena lukanya itu."

Mendengar perkataan itu hampir saja Gak In Ling merasakan jantungnya berhenti berdetak, tanpa banyak bicara lagi dia segera putar badan dan lari menuju keatas puncak.

Siapa tahu baru saja ia putar badan, tahu-tahu perempuan cantik itu telah menghadang dihadapannya dengan sorot mata memancarkan napsu membunuh yang sangat tebal.

"Keparat cilik, engkau hendak pergi kemana ?" tegurnya.

"Menolong adik siang "

"Hmm Engkau masih belum berhak untuk berbuat demikian."

Gak In Ling merasakan hatinya sangat kalut, ia tidak mau ambil perduli apa yang bakal terjadi terhadap dirinya, kembali dia berseru.

"Murid cianpwee telah menghadiahkan obat ci-liong-cu tersebut kepadaku, maka dari itu...."

"Apa ? Dia telah berani menghadiahkan obat mustika itu kepada orang lain ? Hm Dasar memang ingin mampus "

Gak In Ling ambil keluar obat ci-liong-cu tersebut dari sakunya kemudian-diangsurkan kedepan, katanya.

"Boleh saja kalau engkau melarang aku naik ke atas puncak. asal cianpwee bersedia membawa obat ini untuk diberikan kepadanya. Perempuan cantik itu tertawa dingin.

"Ia telah menghadiahkan obat itu kepadamu, aku segan untuk merampasnya kembali dari tangan seorang angkatan muda, kalau engkau masih tahu diri cepat-cepatlah berlalu dari sini, kalau tidak jangan salahkan kalau aku hendak hajar mampus dirimu ditempat ini juga ."

Gak In Ling semakin gelisah, tak tahan lagi dia membentak keras.

"cianpwee, aku harap engkau jangan terlalu mendesak diriku sehingga kelewat batas"

Perempuan cantik itu tertegun, kemudian tertawa terbahak-bahak.

"Haaaaa...... haaaaaahh.. ..... haaaaahh... apakah kau hendak adu kepandaian dengan aku?"

"Aku menyadari bahwa ilmu silat yang kumiliki masih bukan tandingan cianpwee "

"Kalau tahu begitu, cepat enyahlah dari sini "

"Tidak Aku hendak menghantarkan obat ini untuk adik Siang."

"Engkau yakin dapat melaksanakan rencana mu itu ?"

Mendadak satu ingatan berkelebat dalam benaknya Gak In Ling. pikirnya didalam hati. "Ditinjau dari kemampuannya yang dimilikinya pada saat itu, meskipun pada saat ini segenap kekuatan tubuhku telah pulih, rasanya belum tentu mampu bergebrak sebanyak beberapa jurus dengan dirinya, apa salahnya kalau aku menipu dirinya kemudian menyusup dari dalam hutan dan menghantarkan obat ini buat adik Siang ?"

Setelah mengambil keputusan tiba-tiba katanya. "Terima kasih atas bantuan dari saudara itu."

Sambil berseru matanya menatap tajam tubuh di bagian belakang dari perempuan cantik itu.

Satu ingatan berkelebat dalam benak perempuan cantik itu, ia ganti berpikir.

"Bocah ini tersohor karena kecerdasannya melampaui orang lain, karena paras mukanya begitu tenang dan mantap ?"

Meskipun demikian, ia pura-pura tidak tahu dan berpaling kearah belakang.

Menyaksikan siasatnya termakan, Gak In Ling merasa amat kegirangan, ia tidak berani berayal lagi, kakinya menjejak tanah dan segera menyusup masuk kedalam hutan-

Siapa tahu baru saja ia tiba di tepi hutan, mendadak dari balik pepohonan berjalan keluar seorang perempuan, dan dia bukan lain adalah suhunya Dewi burung hong, ditinjau dari sikapnya yang begitu tenang,jelas perempuan itu sudah tiba berapa saat lamanya disana.

Terpaksa Gak In Ling menghentikan gerak tubuhnya, didalam hati ia berpikir.

"Dari sana sehingga tiba disini paling sedikit ada empat lima puluh tombak jauhnya, ternyata ia dapat tiba disini lebih dahulu tanpa sepengetahuan diriku, nampaknya tenaga dalam yang kumiliki masih selisih jauh kalau dibandingkan dengan dirinya."

"Gak In Ling, permainan setan apa lagi yang hendak kau perlihatkan dihadapanku?" ejek perempuan cantik itu dengan suara dingin.

"Aku tahu bahwa kepandaianku masih selisih jauh kalau dibandingkan dengan kepandaian yang cianpwee miliki..."

"Kalau begitu cepat enyah dari sini " Gak In Ling gelengkan kepalanya berulang kali.

"Sebelum bertemu dengan adik Siang, aku tidak akan berlalu dari sini." Sesudah berhenti sebentar, lanjutnya.

"Adik siang adalah satu-satunya murid cianpwee, apakah cianpwee hendak membiarkan dia mampus tanpa ditolong ?" Perempuan cantik itu tertawa dingin-

"Apakah engkau hendak menolong dirinya?" Dia balik bertanya.

"Sedikitpun tidak salah "

"Engkau mampu untuk melewati penghadangan dari diriku ?"

"Boanpwee rela berangkat kealam baka selangkah lebih dahuluan dari pada adik Siang." Perempuan cantik itu kembali tertawa dingin.

"Sebenarnya dia itu apamu ? Kenapa engkau bersedia berkorban dengan dirinya ?"

"Dia adalah isteri kesayanganku "

Mendengar jawaban tersebut, perempuan cantik itu mendadak menengadah keatas dan tertawa terbahak-bahak^

"Haaaaahh. haaaahh haaaaahh... bagus, bagus, aku akan mewujudkan atas keinginan kalian berdua."

Setelah berhenti sebentar, sambUngnya lebih jauh.

"Sekarang aku akan mengajukan dua jalan kepadamu, terserah engkau hendak pilih yang mana?"

"Sebelum aku berhasil bertemu dengan adik Siang, tidak nanti kuturuni bukit ini " seru Gak In Ling menegaskan.

"Jalan pertama lewatlah penghadangan dari diriku ini, mari kita bertempur secara adil dan masing-masing menggunakan

segenap kepandaian yang dimilikinya, sebelum salah seorang mampus pertarungan tak boleh dihentikan."

"Jalan yang kedua ?" tanya Gak In Ling sambil gelengkan kepalanya.

"Menyambut tigapuluh pukulanku dangan kekerasan " Mendengar usul itu Gak In Ling berpikir dengan hati sedih.

"Bila tiga puluh pukulan itu dilancarkan dengan sepenuh tenaga, bukankah nyawaku bakal melayang ?"

Beberapa saat lamanya ia termenung dan berpikir keras, tak sepatah kata pun sanggup diutarakan keluar.

Menyaksikan keadaan si anak muda itu, nafsu membunuh memancar keluar dari balik mata perempuan cantik tersebut, akan tetapi diluaran ia tertawa dan berkata.

"Andaikata engkau merasa tidak mampu untuk mempertahankan diri, sekarang masih ada kesempatan bagimu untuk mengundurkan diri."

Diam-diam Gak In Ling menggertak gigi keras- keras, dengan tegas jawabnya.

"Aku bersedia untuk menyambut tiga buah pukulan dari cianpwee dengan kekerasan."

"Engkau yakin bisa menerima pukulanku tanpa mampus ?" ejek perempuan cantik itu sambil tertawa dingin.

Gak In Ling gelengkan kepalanya berulang kali.

"Hal ini tidak mungkin terjadi, aku hanya berharap bisa mempertahankan hidupku selama setengah jam dan bertemu dengan adik Siang lebih dahulu untuk terakhir kalinya."

"Agar dia selalu terkenang akan dirimu ?"

"Tidak, akan kusuruh dirinya untuk mencari kekasih lain-"

"Sungguh tebal rasa cinta bocah ini, pilihan anak siang ternyata tidak keliru," pikir perempuan cantik itu dalam hati kecilnya dengan perasaan girang. Dengan suara ketus ia segera berseru. "Engkau telah mempersiapkan diri baik-baik."

"cianpwee silahkan turun tangan "

"Sambutlah seranganku ini " seru perempuan cantik itu sambil ayunkan telapaknya ke depan.

Segulung angin pukulan yang maha dahsyat dengan cepat menekan keatas dadanya. Sewaktu berada diatas tebing Wan-ciu-gay, si anak muda ini pernah merasakan kelihayan dari ilmu silat orang ini, ia tidak berani berayal lagi, seluruh perhatiannya dipusatkan kcdepan, dengan sepenuh tenaga dia balas lancarkan sebuah pukulan kedepan diikuti ia mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya untuk setiap saat berusaha mundur kebelakang dan mengurangi daya tekanan diatas dadanya.

"Ploookk " Ditengah benturan keras terdengar Gak In Ling mendengus berat.

Pasir dan debu beterbangan diangkasa, ditengah pusaran angin kencang tubuh Gak In Ling secara beruntun terdorong mundur sejauh lima enam langkah kebelakang namun akhirnya tak mampu menguasai diri dan roboh terjengkang diatas tanah, dadanya terasa sesak dan sepasang lengannya linu kaku sukar diangkat, ia sadar bahwa isi perutnya telah teriuka.

Perempuan cantik itu sendiri diam-diam merasa terperanjat juga setelah menyaksikan keadaan pemuda lawannya, dalam hati ia berpikir.

"Sungguh tak kusangka tenaga dalam yang dimiliki bocah ini luar biasa dahsyatnya, anak Siang sendiripun paling banter hanya begitu saja."

Gak In Ling dengan paksakan diri mengepos tenaga lalu loncat bangun dari atas tanah hawa murninya disalurkan mengeliling seluruh badan menggerakkan kembali lengannya yang kaku kemudian ia berjalan kembali ketempat semula.

"Berapa waktu yang kau butuhkan untuk beristirahat ?" ejek perempuan cantik itu dengan nada dingin. Gak In Ling tertawa tawa.

"Kalau beristirahat terlalu lama cianpwee pasti tak sudi untuk menantikannya, sebaliknya kalau beristirahat terlalu pendek tiada manfaatnya bagiku, lebih baik cianpwee lanjutkan kembali seranganmu, Boanpwee telah bersiap sedia untuk menyambutnya."

"Haaaaahh. haaaaahh..... haaaaah aku takut engkau tak mampu untuk menerima seranganku ini." seru perempuan itu lagi sambil tertawa dingin.

"Sekalipun mati aku tidak akan menyesal "

Tiba-tiba perempuan cantik itu menggertak gigi dan membentak keras. "Sambutlah kembali seranganku ini "

Sepasang telapaknya didorong berbareng kedepan, segulung daya tekanan yang menyesakkan napas bergulung kedepan menekan dada lawannya dalam serangan ini nampaknya ia telah mengerahkan segenap kekuatan yang dimilikinya.

Gak In Ling merasa amat terperanjat menyaksikan datangnya ancaman tersebut, ia kertak gigi dan menghimpun segenap kekuatan yang dimilikinya untuk menyambut datangnya ancaman tersebut.

"Blaaam.. " Benturan keras kembali bergema diangkasa, pasir dan debu yang beterbangan diangkasa nampak lebih berbahaya dan mengerikan dari pada keadaan pertama kali tadi, tiada suara dengusan berat yang terdengar hanya suara

tubuh yang roboh ketanah kemudian suasana pulih kembali dalam kesunyian.

Dengan wajah hambar perempuan cantik itu berdandan keraton memandang tubuh Gak In Ling yang roboh terkapar diatas tanah, pikirnya didalam hati.

"Sungguh tak disangka dalam keadaan terluka parah dia masih mempunyai kekuatan tenaga pukulan yang demikian dahsyatnya."

Gak In Ling meronta bangun dari atas tanah, dengan susah payah ia duduk dilantai, darah segar memancar keluar dari bibirnya, bisa dibayangkan betapa parahnya luka dalam yang dia derita.

Sambil menahan rasa kasihan didalam hatinya, perempuan cantik itu mengejek dengan suara dingin.

"Gak In Ling, berapa pukulan lagi yang mampu kau terima ?"

"Gak In Ling loncat bangun dari atas tanah sesudah mengepos tenaga ia maju beberapa langkah kedepan- jawabnya.

"cianpwee, perjanjian kita adalah tiga buah pukulan, kini tinggal sebuah pukulan lagi, kenapa cianpwee mengatakan masih ada beberapa buah pukulan lagi ?"

"Maksudku adalah setengah pukulan atau satu pukulan ? Aku rasa sebuah pukulanpun engkau sudah tak mampu untuk menyambutnya kembali."

"Kita tokh sudah berjanji masih ada sebuah pukulan lagi, akan aku sambut pukulan yang terakhir ini."

"Engkau yakin mampu untuk menerimanya pukulanku ?"

"Sudah boanpwe katakan, sekalipun aku harus mati diatas puncak cui-wi-hong, hatiku tak akan merasa menyesal, kenapa cianpwee mesti banyak bertanya lagi ?"

Perempuan cantik itu sama sekali tidak menjadi gusar, ia tertawa dan menjawab. "Gak In Ling, engkau benar-benar, sedikit tak tahu diri "

"Apa sih yang dimaksud tak tahu diri ?"

"Kalau engkau tahu diri maka sudah sepantasnya kalau menggunakan kesempatan yang ada untuk melarikan diri, aku tohk sudah mengatakan bahwa kedua biji obat ci-liong-cu tersebut kuhadiahkan padamu, meskipUn luka dalam yang kau derita pada saat ini sangat para namun masih gampang untuk menyembuhkannya kembali, Jika engkau bersikeras hendak naik keatas, aku takut engkau benar-benar akan berangkat keakhirat selangkah lebih dahulu dari anak Siang "

"Hmm cianpwee anggap aku adalah seorang manusia yang takut menghadapi kematian ?"

"Mati hidup memang tiada suatu yang perlu digembirakan atau ditakuti akan tetapi kematian ada yang berat bagaikan gunung Tay-san, ada pula yang ringan bagaikan kapas, kalau engkau mati dengan Cara begini aku rasa kematianmu itu ringan bagaikan kapas."

"Haaaahh haaaahh haaaaahh... ringan bagaikankan kapas ?" seru Gak In Ling sambil tertawa bergelak^ "aku rasa pendapat cianpwee keliru besar, sebagai suami isteri sudah sepantasnya kalau sehidup semati, sekarang aku harus menyaksikan sang isteri menghadapi kematian tanpa menolong, apa harganya aku hidup dikolong langit ?"

"Kalau engkau sama sekali tidak mencintai dirinya, bukankah engkau mati lantaran sepatah kata belaka ?"

"Justru kenyataannya merupakan kebalikan dari ucapanmu itu, aku sangat mencintai dirinya."

"Jadi engkau telah ambil keputusan untuk memilih jalan kematian ?" Gak In Ling tertawa angkuh.

"Silahkan cianpwee turun tangan, meskipun boanpwse tahu bahwa didalam serangan ini lebih banyak kematian daripada kehidupan bagiku, akan tetapi aku tak sudi bekerja kepalang tanggung, meskipun mati juga tak akan menyesaL"

Ia tarik napas panjang-panjang, sambil mengepos sisa tenaga yang dimilikinya, ia siap menantikan serangan terakhir dari perempuan cantik berdandan keraton itu.

Melihat keteguhan iman pemuda itu, dalam hati kecilnya perempuan cantik itu merasa sangat girang, pikirnya.

"Sungguh tak kusangka dikolong langit masih ada orang yang berwatak seperti ini, bagaimanapun juga anak Siang tidak salah memilih, baiklah. Dalam serangan yang terakhir ini aku akan melancarkan pukulan tangan kosong agar mereka Suami isteri dapat berjumpa muka "

Ingatan tersebut berkelebat lewat dalam sekejap mata, diluaran ia sengaja tertawa dingin dan berkata.

"Baiklah, aku akan mewujudkan apa yang kau inginkan, sambutlah seranganku ini " Telapaknya segera diayunkan kedepan, hanya kali ini dia cuma menggunakan empat bagian tenaga pukulan belaka.

Gak In Ling pejamkan matanya rapat-rapat sepasang telapaknya didorong kedepan untuk menerima datangnya pukulan tersebut.

"Blaaaamm... " Gak In Ling tak mampu mempertahankan diri lagi, tubuhnya tergetar mundur tujuh langkah kebelakang, darah segar memancar keluar dari mulutnya, tubuhnya gontai dan hampir saja roboh terjengkang keatas tanah.

Meskipun dalam serangannya ini perempuan cantik tersebut hanya menggunakan empat bagian tenaga dalam, akan tetapi bagi Gak In Ling yang terluka parah serangan tersebut boleh dikatakan cukup berat. Perempuan cantik itu

berpikir didalam hatinya. "Aaaahh.... terlalu berat seranganku kali ini "

Diluaran ia sama sekali tidak menampilkan perasaan hatinya itu, dengan dingin ia hanya berseru.

"Pergilah..."

"Terima kasih atas kebaikan hati cianpwee untuk mengampuni jiwaku " kata Gak In Ling setelah melirik sekejap kearah lawannya dengan pandangan kaku.

"Heeeehh....... heeeeehh , heeeehh.. sungguh tak kusangka engkau Gak In Ling dapat berterima kasih kepada orang lain "

-oo0dw0oo0