Telapak Setan Jilid 22 : Lengcu ingin jadi gadis biasa, Pek Giok Jie

Jilid 22 : Lengcu ingin jadi gadis biasa, Pek Giok Jie

DALAM hati Gak In Ling menghela napas sedih, dengan serius jawabnya.

"Harap Lengcu suka memaafkan atas jawabanku yang tak tahu diri ini, soal benci, kecuali terhadap orang-orang yang menghancurkan keluargaku, aku tak pernah membenci kepada siapapun, karena itu selama aku masih hidup aku harus membunuh orang, membunuh sampai orang-orang itu lenyap semua dari muka bumi." Gadis suci dari Nirwana dengan hatinya lega ia angkat kepalanya dan tertawa,

wajahnya yang cantik kelihatan bertambah memikat hati.

Dengan termanggu-manggu Gak In Ling memandang senyumannya yang-polos dan manis-sementara dalam hati berpikir. "Mengapa ia tertawa dengan begitu manisnya."

"Aku dapat membantu dirimu untuk membunuh habis orang-orang itu." kata Gadis suci dari Nirwana sambil tertawa.

"Engkau"

"Benar" Dengan wajah bersungguh-sungguh Gadis suci dari Nirwana mengangguk, "asal engkau tidak membenci diriku, aku akan menyembuhkan penyakit yang kau derita, selama berapa hari ini engkau berpikir akupun ikut berpikir, aku adalah manusia.....engkau harus tahu, aku adalah manusia, aku tak mau hidup menuruti segala tata cara yang serba tetek bengek, aku punya hak untuk merasakan kebahagiaa hidup sebagai manusia, aku dapat meninggalkan segala sesuatu yang kumiliki."

"Mengapa ?" tanya sang pemuda keheranan.

"Karena kau "jawab Gadis suci dari Nirwana dengan wajah bersemu merah.

"Karena aku ?"

"Benar, karena engkau Sejak semula aku sudah tidak ingin menjabat sebagai Lengcu lagi, sekarang kau... kau dalam hatimu hanya dendam dan sakit hati, karena itu engkau tidak tahu kecuali dendam dan benci sebenarnya masih ada kesepian."

Gak In Ling merasa makin tidak tentram, ia bukan seorang pemuda tolol, iapun mempunyai dayapikir yang tajam dan cerdas. Dengan pandangan bersungguh ditatapnya wajah gadis itu dengan sekejap kemudian berkata. "Lengcu, engkau pasti bakal menyesal"

"Jangan panggil aku Lengcu, aku bernama Pek Giok Ji, engkau harus tahu bilamana seorang manusia hendak mengejar apa yang dipikirkan dan diharapkan dalam hati kecilnya. kendatipun harus mati karena itu, diapun merasa rela dan ikhlas."

Gak In Ling menjadi sangat terperanjat, serunya tanpa terasa. "Lengcu ooh tidak, nona Pek, kau..."

"Engkau tak usah banyak bicara lagi," kata Pek Giok Ji sambil gelengkan kepalanya, "aku sudah ambil buah pemunah racun tersebut."

Ia bangkit dan berjalan menuju keluar pintu. Memandang bayangan punggungnya yang berlalu dari ruangan, Gak In Ling duduk melongo, ia tak tahu harus merasa girang atau berduka. Pada saat itu, mendadak sesosok bayangan manusia berkelebat lewat dari depan pintu seorang gadis berpakaian ringkas melayang turun tepat dihadapan Pek Giok Ji, dengan napas tersengal-sengal serunya.

"Lapor Lengcu, celaka aduh celaka..."

"Ada apa ?" tanya Gadis suci dari Nirwana Pek Giok Ji dengan alis mata berkenyit.

Perempuan itu tarik napas panjang-panjang dan menjawab. "Barusan diatas bukit telah kedatangan dua orang musuh, Nenek seruling perak tongkat emas dan belasan murid penjaga pintu telah terluka semua ditangan mereka, sekarang Tiga tua pelindung gunung beserta Lan In Lojin dan Ciang-liong-sian sekalian sedang mengurung mereka berdua, namun posisi masih tetap tidak seimbang, oleh karena itu peramal sakti Cianpwee menitahkan teecu untuk melaporkan kejadian ini kepada Lengcu."

Gak In Ling yang mendengar laporan itu merasakan hatinya bergetar keras, pikirnya. Jago lihay dari manakah yang telah datang menyatroni bukit ini ? Kenapa sampai tiga jago pelindung bukit pun tidak mampu menahan serbuan mereka berdua ? Sebenarnya siapakah kedua orang ini ?"

Berpikir sampai disitu, tanpa terasa sorot matanya dialihkan keatas wajah Gadis suci dari Nirwana.

Napsu membunuh yang amat tebal menyelimuti wajah Gadis suci dari Nirwana yang tenang,jelas setelah mendengar anak buahnya banyak yang terluka, hawa amarahnya telah berkobar.

Dengan sorot mata berkilat segera tegurnya. "Macam apakah kedua orang itu ?"

"Yang seorang adalah gadis muda berparas cantik sedang yang lain adalah Nenek tua bermuka penuh keriput sehingga jeleknya seperti setan yang paling lihay adalah gadis tersebut, belum sampai dua gebrakan Cianpwee seruling perak sudah roboh terluka ditangannya."

Mendengar laporan itu Gadis suci dari Nirwana merasa semakin terperanjat, pikirnya lagi.

"Ilmu silat yang dimiliki orang ini kemungkinan besar tidak berada dibawah kepandaianku, aku harus segera pergi kesana." Berpikir sampai disitu ia lantas berpaling dan memandang sekejap kearah Gak In Ling, tampaklah pemuda itu berdiri kaku disitu seakan-akan sedang memikirkan satu persoalan sehingga tidak mengetahui apa yang sedang mereka bicarakan. Sesudah tertegun sejenak, gadis she Pek itu lantas bertanya kembali.

"Apakah mereka terangkan apa maksud kedatangannya ?"

"Mereka berkata hendak mencari Lengcu "

Gadis suci dari Nirwana tidak ragu-ragu lagi, ia berpaling kearah Gak In Ling dan berseru. "Tunggu saja disini, aku sebentar saja akan kembali"

Tidak menunggu jawaban dari si anak muda itu lagi, dia segera enjotkan badannya dan berlalu dari sana.

Gak In Ling sama sekali tidak mendengar apa yang diucapkan gadis tersebut, benaknya masih juga berputar memikirkan kejadian itu.

Suatu ketika, seakan-akan telah menyadari akan sesuatu ia bergumam seorang diri. "Pasti dia pasti dia, satu bulan sudah hampir lewat, ia pasti telah berhasil meyakinkan ilmu silatnya jauh lebih cepat dari waktu yang ditentukan, aku harus segera

pergi kesana, kalau tidak maka kedua belah pihak pasti sama sama akan menderita kerugian besar "

Ketika dilihatnya gadis pelapor tadi masih berada disitu, buru-buru serunya. "Nona, dapatkah aku minta tolong kepada mu untuk menghantar aku pergi ketempat kejadian itu ?"

Rupanya gadis itu merasa jauh lebih lega setelah menyaksikan Lengcunya berangkat kesitu, mendengar permintaan itu segera jawabnya. "Kalau memang begitu, mari kita segera berangkat "

"Bagaimana kalau aku minta tolong kepada nona untuk membantu diriku?" ujar pemuda itu lagi dengan muka berubah menjadi merah padam.

Gadis itu kelihatan tertegun, kemudian dengan wajah merah, tegurnya.

"Bukankah engkau adalah yang bernama Gak In Ling?"

"Sedikitpun tidak salah ?"

"Siapa yang tidak tahu kalau Gak ln Ling memiliki ilmu silat yang maha dahsyat, aku tidak berani unjuk kejelekan dihadapanmu."

Sekali lagi paras muka Gak In Ling berubah menjadi merah padam, katanya dengan tawa. "Dikolong langit siapa yang tidak tahu kalau Gak In Ling sudah mendekati saat ajalnya ?"

"Ooooh Jadi ilmu silatmu telah punah ?" seru gadis itu dengan wajah tertegun.

Gak In Ling mengangguk, sambil tertawa sahutnya.

"Kalau tidak begitu, aku tidak akan berani merepotkan diri nona."

Gadis itu melirik sekejap kearah Gak In Ling, sementafa dalam hati kecilnya berpikir.

"Paras muka pemuda ini memang luar biasa tampannya, tidak aneh kalau Lengcu begitu terpikat hatinya kepada dirinya, tetapi sikap orang ini terlalu angkuh dan tinggi hati, sekalipun sedang memohon bantuan orang lain namun perkataannya sama sekali tidak mengandung nada memohon, sea kau-akan orang lain pasti akan membantu dirinya."

Walaupun dalam hati berpikir demikian, mau tak mau tak urung juga dia ulurkan tangannya untuk menggandeng tangan Gak ln Ling, katanya. "Baiklah, aku akan unjuk kejelekan dihadapanmu." Sambil enjotkan badan ia meluncurkan kearah depan.

Ilmu silat yang dimiliki anak murid dibawah panji Yau-ti-leng rata-rata lihay semua.

walaupun gadis ini hanya seorang jago kelas tiga namun kecepatan gerak tubuhnya tidak bisa dibandingkan dengan jago-jago persilatan pada umumnya. Dalam sekejap mata mereka telah tiba didepan sebuah hutan lebat, tampaklah diatas tanah berbaris belasan orang jago perempuan dari panji Yau-ti-leng, sementara gadis suci dari Nirwana Pek Giok Ji sendiri sedang berdiri saling berhadapan dengan seorang dara cantik,

Ketika berada sepuluh tombak dari kalangan, Gak In Ling sudah dapat melihat jelas paras muka gadis itu, hatinya segera teejelos dan gumamnya seorang diri. "Ooohh rupanya benar-benar dia "

Gadis itu bukan lain adalah Hoa Yan Hun beserta Kui Bin Popo. Tatkala gadis she Hoa itu menyaksikan kemunculan Gak In Ling, dengan riang gembira ia segera berseru.

"Engko Ling, ternyata engkau benar-benaK berada disini "

Sementara itu Gak In Ling telah maju ke depan, setelah memandang sekejap kearah dara itu tegurnya.

"Adik Hun, mengapa tanpa sebab musabab engkau telah melukai begini banyak orang ?"

Hoa Yan Hun tertegun. "Aku telah mengetahui bahwa engkau berada disini, tetapi mereka tidak memperkenankan ku masuk kedalam " serunya. Sementara itu Kui Bin Popo yang berada disisinya telah berseru dengan nada dingin. "Gak In Ling, aku lihat gerak gerikmu di tempat ini bebas sekali ?"

"Benar, Popo"

"Jadi kalau begitu engkau rela datang kemari ?" tanya Kui Bin Popo lagi dengan sorot mata berkilat.

Gak In Ling takut, kalau mereka menaruh rasa salah paham, buru-buru ia mengangguk membenarkan. "Benar" sahutnya.

Paras muka Hoa Yan Hun berubah bebat dengan gusar ia lalu berteriak. "Kenapa eugkau tidak menunggu aku keluar dahulu baru datang kemari ?"

"Mungkin, ia sudah sama sekali melupakan dirimu," sambung Kui Bin Popi dari sisinya.

Kui Bin Popo bukanlah seorang manusia yang tidak mengerti urusan, akan tetapi dari gerak gerik Gak In Ling yang dibawa ketengah gelanggang oleh murid perempuan dibawah panji Yau-ti-leng, telah salah menganggap bahwa pemuda itu sudah lama sekali berdiam disana, atau dengan perkataan lain telah melupakan Hoa Yan Hun. Meskipun cantik dan manja, sebenarnya Hoa Yan Hun adalah seorang gadis yang berwatak berangasan, mendengar perkataan itu paras mukanya berubah hebat, sepasang matanya yang jeli menatap wajah pemuda itu tanpa berkedip serunya. "Sungguhkah itu ?"

"Enci Hoa." tegur Gadis suci dari Nirwana Pek Giok Ji dengan suara dingin, "jangan lupa bahwa tempat ini adalah daerah kekuasaan Siau-moay "

Hoa Yan Hun tertawa dingin. "IHeeeeh heeeeeh heeeehh.. engkau anggap dengan kekuatanmu sang gup untuk melindungi dirinya ?"

Gadis suci dari Nirwana segera maju dua langkah dan berdiri didepan Gak In Ling, sambil tertawa dingin serunya pula.

"Hmm Aku rasa engkau masih beium mampu untuk melukai dirinya..." dalam keadaan seperti ini Gak In Ling dibikin kebingungan setengah mati, ia tak tahu apa yang harus dilakukan dalam keadaan seperti ini, mimpipun tak pernah menyangka kalau Hoa Yan Hun yang masih polos dan hijau dapat berpikir sejauh ini, tentu saja pemuda itu tak tahu bahwa kehadiran Gadis suci dari Nirwana telah menimbulkan suatu perasaan tertentu dalam hati Hoa Yan Hun.

Ssmentara itu ketika dilihatnya Gadis suci dari Nirwana melindungi pemuda itu mati-matian sedang Gak In Ling sama sekali tidak menampik perlindungannya itu, dalam hati kecilnya Hoa Yan Hun merasa semakin percaya bahwa Gak In Ling telah melupakan dirinya, api cemburu berkobar dalam dadanya mengobarkan napsu membunuh dalam benaknya. Dengan pandangan dingin ia memandang sekejap kearah si anak muda itu, kemudian serunya.

"Gak In Ling, aku telah salah menilai dirimu "

"Adik Hun,jangan salah paham " seru pemuda itu sambil melangkah maju setindak kedepan.

"Salah paham" Ejek Hoa Yan Hun sambil tertawa dingin," Gak In Ling engkau masih ingin cari alasan ?"

Ciang-liong-sian yang berada disisi kalangan tak dapat menahan diri lagi, ia segera menimbrung.

"Sebenarnya setiap manusia mempunyai pilihannya sendiri-sendiri, bagaimanapun juga Leng cu ini jauh lebih bagus daripada engkau si budak liar."

Karena hampir saja jatuh kecudang di tangan gadis itu,jago tua ini ingin melampiaskan rasa mendongkolnya lewat ucapan yang tajam. Tapi ia lupa bahwa Gak In Ling pada saat itu berada kurang lebih lima depa dihadapan gadis tersebut.

Paras muka Hoa Yan Hun kembali berubah hebat, tegurnya ketus. "Gak In Ling, benarkah begitu ?"

Sianak muda itu menghela napas panjang. "Aaaii.... Adik Hun, engkau anggap mungkinkah aku bisa berubah sebanyak itu ?" Hoa Yan Hun tertawa terkekeh-kekeh, mendadak dia ayun tangan kanannya sambil berseru. "Mungkin saja kalau engkau telah berubah."

Segulung angin pukulan yang menyesakkan napas langsung meluncur kedepan menghajar dada pemuda itu.

Air muka Gadis suci dari Nirwana berubah menjadi dingin, tiba-tiba dia ayunkan telapaknya pula untuk menyambut datangnya serangan tersebut. Gak In Ling menggertak gigi kencang-kencang, ia lalu loncat maju kedepan menghadang diantara kedua orang gadis itu, di tengah kesunyian yang mencekam seluruh jagad berkumandanglah dua kali jeritan kaget. Kedua orang gadis itu sama sekali tidak menyangka kalau Gak In Ling bakal melakukan tindakan seperti itu.

Serangan yang dilancarkan Hoa Yan Hun tadi walaupun kelihatan ringan dan sederhana sekali, namun dalam kenyataan telah mempergunakan segenap kekuatan tubuh yang dimilikinya, karena dia tahu bahwa Gadis suci dari Nirwana pasti akan turun tangan dan tidak membiarkan pemuda itu terluka ditangannya. Gadis suci dari Nirwana sendiripun dapat menebak isi hati lawannya, tentu saja dalam serangannya tadi diapun telah mengerahkan segenap kekuatan yang dimiliki.

Sepintas lalu gerakan yang dilakukan kedua orang gadis itu sama-sama enteng dan ringannya, dalam kenyataan mereka berdua sama-sama merasa tegang sehingga sukar dilukiskan

dengan kata-kata, sebab kedua belah pihak sama-sama telah menyadari akan kemampuan yang dimiliki lawannya. Ikut sertanya Gak In Ling secara tiba-tiba tadi sama sekali berada diluar dugaan dua orang gadis itu, karena mimpipun mereka tak pernah mengira kalau Gak In Ling bisa menyambut datangnya ancaman tersebut dengan tubuhnya.

Tenaga dalam yang dimiliki dua orang gadis itu sama-sama telah mencapai pada puncak kesempurnaan, akan tetapi tenaga dalam dari Gak In Ling telah punah, gerak-geriknya lambat sekali, menanti tubuh nya menerjang kedepan, tenaga pukulan dari dua orang gadis tersebut telah dilepaskan. Di tengahjeritan kaget, terdengarlah Gak In Ling mendengus berat kemudian suasana dalam gelanggang pulih kembali dalam kesunyian dan keheningan, sorot mata semua orang sama-sama ditujukan keatas wajah Gak In Ling yang terkena pukulan.

Wajah pemuda she Gak yang pada dasar-nya sudah pucat, kini berubah menjadi hijau membesi, darah segar bagaikan air bah mengucur keluar tiada hentinya dari ujung bibir yang terkatub rapat, namun ia sama sekali tidak roboh keatas tanah. Mungkin hal ini dikarenakan dua orang gadis itu sempat menarik kembali sebagian besar tenaga dalamnya, kalau tidak dengan kedahsyatan tenaga pukulan dari dua orang itu, jangan dibilang Gak In Ling sudah tak bertenaga dalam lagi, sekalipun kemampuannya masih utuhpun beium tentu sanggup uutuk mempertahankan diri. Dengan sorot mata kaku dua orang gadis itu menatap wajah Gak In Ling tanpa berkedip, paras muka mereka berubah menjadi pucat, bibirnya terbuka lebar namun tak mampu mengucapkan sepatah katapun karena rasa terkejut yang kelewat batas.

Dengan sedih Gak In Ling menyapu sekejap sekeliling tempat itu, kemudian sambil menatap wajah Hoa Yan Hun katanya.

"Adik Hun, aku selamanya tak pernah melupakan dirimu "

"Gak In Ling," teriak Kui Bin Popo dengan sedih, "jangan berbicara lagi cepatlah kau duduk"

Ia lalu menghampiri si anak muda itu. Ciang-liong-sian yang menyaksikan tingkah laku nenek itu, segera membentak keras.

"Kui Bin Popo, apa yang hendak kau lakukan ?" Sambil berseru dengan cepat ia menghalang jalan pergi nenek tua bermuka setan itu.

Pada saat ini Kui Bin Popo merasa benci bercampur menyesal, ditambah lagi dengan wataknya yang aneh, tak sudi ia memberi penjelasan, melihat jalan perginya dihadang ia segera membentak penuh kegusaran.

"Engkau tak usah mencampuri urusanku, enyah kau dari sini"

Dengan gerakan kapak setan pekerjaan ajaib laksana sambaran petir ia bacok tubuh Ciang-liong-sian.

Sejak pertama kali tadi Ciang-liong-sian sudah mengenal akan kelihayan nenek tua itu, ia tak berani menyambut dengan keras lawan keras, tubuhnya berputar dan melayang mundur tiga depa kebelakang, dengan gerakan mendorong bukit membongkar neraka ia membalas melancarkan satu pukulan. Dengan pandangan tawa Gak In Ling menyapu sekejap pertarungan yang sedang berlangsung itu, kemudian sambil mengepos tenaga terakhir yang dimilikinya ia berseru keras. "Berhenti"

Meskipun suaranya tidak keras namun mempunyai daya pengaruh yang cukup membetot hati, dua orang ini yang sedang melangsungkan pertarungan ditengah kalangan tanpa sadar sama-sama menghentikan gerakan tangannya dan memandang kearah si anak muda itu dengan wajah termangu-mangu. Gak In Ling gelengkan kepalanya berulang kali, dengan sedih ia berkata.

"Aku tahu kalian berdua berbuat demikian demi kebaikanku, akan tetapi usaha kalian itu hanya akan menjadi sia-sia belaka, terhadap luka yang kuderita aku sudah mempunyai perhitungan sendiri, mungkin aku sudah tak dapat hidup lebih dari tiga jam lagi."

Mendengar perkataan tersebut, semua orang menjadi amat terperanjat, dahulu semua orang tidak merasa bahwa pemuda yang hidup sebatang kara ini mempunyai sesuatu arti yang penting, akan tetapi sekarang mereka merasa seakan-akan telah kehilangan pegangan, tanpa sadar rasa kuatir dan cemas terpancar keluar diatas wajahnya. Mendadak terdengar Hoa Yan Hun berseru merdu. "Engko Ling, engkau tak boleh..." Ia menubruk kedalam pelukan si anak muda itu dan mulai menangis tersedu-sedu.

Dengan halus Gak In Ling membelai rambutnya yang panjang kemudian berbisik lirih. "Adik Hun, janganlah bersedih hati, bukankah engkau telah berjanji akan memperdengarkan perjanjianku ?"

Suaranya begitu halus dan lembut, seakan-akan seorang kakak sedang menghibur adiknya.

Gadis suci dari Nirwana perlahan-lahan maju kedepan, sorot matanya yang memancarkan sinar kedengkian dan cemburu telah lenyap tak berbekas, sebagai gantinya linangan air mata membasahi kelopak matanya. Hoa Yan Hun menengadah ke atas dan kebetulan menyaksikan wajahnya yang basah oleh air mata, kali ini ia tidak mengumbar hawa amarahnya lagi, cuma dengan hambar berkata. "Engkau boleh membinasakan kami berdua, agar lenyaplah bibit bencana dikemudian hari."

"Kenapa aku harus berbuat begitu?" tanya Gadis suci dari Nirwana Pek Giok Ji sambil tertawa tawa.

"Sebab tenaga dalam yang kita miliki berada dalam keadaan seimbang, sedang aku mempunyai irama membetot sukma yang dapat menundukan dirimu "

"Aku sudah menduga sejak tadi, bahwa engkau adalah ketua perkumpulan rahasia dari Tibet."

Begitu ucapan tersebut diutarakan keluar, paras muka ssmua jago berubah hebat, tanpa sadar mereka maju kedepan dan mengurung Hoa Yan Hun rapat-rapat, nampaknya suatu penyerbuan secara massal akan dilancarkan.

Hoa Yan Hun menyapu sekejap kesekeliling tempat itu, lalu ujarnya dengan hambar. "Bagaimana pun juga engkau harus membinasakan diriku, sebab engkau adalah pemimpin mereka semua."

Gadis suci dari Nirwana Pek Giok Ji menyapu sekejap sekeliling tempat itu, untuk beberapa saat lamanya ia bungkam dalam seribu bahasa.

"Lengcu " Tiba - tiba Gak In Ling buka suara setelah menghela napas berat.

"Hmm, ada apa ?"

"Selama tiga hari ini aku tokh tak pernah memohon sesuatu kepada diri Lengcu bukan ?" Dengan kaku Gadis suci dari Nirwana mengangguk. "Benar, dan tak pernah sudi menerima budi kebaikanku." Gak In Ling menengadah dan menyapu sekejap sekeliling tempat itu, kemudian berkata. "Seandainya pada saat ini aku hendak memohon sesuatu kepada Lengcu, apakah Lengcu bersedia untuk menyanggupi ?"

Gadis suci dari Nirwana tertawa sedih. "Akhirnya engkau memohon juga kepadaku "

"Benar"

"Aku dapat mengabulkan permintaanmu itu, bahkan sekalipun engkau menghendaki kematianku!!"

"Kenapa ?" tanya Hoa Yan Hun tersentak kaget.

"Sebab apa yang kurasakan persis seperti apa yang kau rasakan saat ini." Tentu saja Hoa Yan Hun mengerti apa yang dimaksudkan oleh gadis tersebut, namun sorot mata kedengkian dan rasa cemburu telah lenyap dari balik mata nya, ia tertawa sedih dan menjawab.

"Sejak permulaan tadi aku sudah mengetahui akan hal ini, akan tetapi pada waktu itu pikiranku tidak terbuka seperti saat ini."

"Engkau tidak menyesal mengucapkan kata-kata seperti itu ?" Tiba-tiba Pek Giok Ji bertanya dengan hati bergetar keras,

Hoa Yao Hun menyapu sekejap kearah Gak In Ling lalu tertawa, sahutnya. "Tidak, selamanya tidak Sebab sekarang ia sedang memeluk diriku."

Sewaktu mengucapkan kata-kata ini, tiada perasaan main yang terlintas diatas wajah nya mungkin ia tidak merasa bahwa selain Gadis suci dari Nirwana masih ada banyak orang lainnya yang hadir disitu.

"Kalau begitu aku harus mengucapkan banyak terima kasih kepadamu " kata gadis she Pek sambil tertawa.

"Apakah engkau tidak merasa bahwa tindakanmu itu telah menurunkan derajatmu ?"

"Sekarang aku berbicara menurut keadaan diriku sebagai seorang manusia biasa."

"Tapi bagaimanapun juga tokh engkau telah merupakan Lengcu dari perkumpulan Yau-ti-leng"

"Seandainya dia mati." kata Pek Giok Ji sambil menuding kearah Gak ln Ling, "mungkin kedudukan Lengcu harus diganti dengan orang lain "

"Maksudmu, ia masih dapat diselamatkan jiwanya ?" seru Hoa Yan Hun secara tiba-tiba sesudah tertegun sebentar. Gadis suci dari Nirwana mengangguk,

"Sebagai ketua dari perkumpulan rahasia di Tibet, engkau pasti memiliki obat mujarab untuk menyembuhkan luka dalam yang diderita oleh nya, sedang racun yang berada dalam tubuhnya dapat pula kupunahkan, bukankah itu berarti bahwa jiwanya masih dapat ditolong?"

Hoa Yan Hun menjadi kegirangan setengah mati setelah mendengar perkataan itu, kembali serunya.

"Dari mana engkau bisa tahu kalau aku adalah ketua dari perkumpulan rahasia yang berada dari Tibet?"

"Karena engkau pernah mengatakan bahwa engkau dapat mempergunakan irama membetot sukma."

"Tapi orang yang bisa menggunakan ilmu tersebut tokh bukan cuma aku seorang?"

"Orang itu bukanlah ketua perkumpulan rahasia yang sebenarnya,jika dugaan Siau-moay tidak keliru, musuh yang paling utama hendak kau cari bukanlah diriku melainkan orang yang telah menyaru sebagai ketua perkumpulan rahasia dari itu, bukankah begitu?"

Hoa Yan Hun tidak menjawab pertanyaan tersebut, ia melirik sekejap kearah Gak In Ling lalu alihkan pokok pembicaraan kesoal lain, kata nya.

"Sekarang, terpaksa kita harus bekerja sama untuk menyelamatkan jiwanya "

"Mungkin enci Hoa merasa tidak puas dengan cara ini?*

"Tak ada yang perlu bagiku untuk merasa tidak puas, tokh dengan tenaga kita seorang, siapapun jangan harap dapat menyelamatkan jiwanya ?"

"Benar, dan sekarang bagaimana kalau aku membawa jalan bagimu ?" Hoa Yan Hun segera membopong tubuh Gak In Ling dan berjalan mengikuti dibelakang Pek Giok Ji, akan tetapi si anak muda itu segera meronta bangun, serunya.

"Adik Hun, lepaskan aku, biarlah aku berjalan seorang diri "

Terkejutlah hati Hoa Yan Hun mendengar perkataan itu, ia menyapu sekejap sekeliling tempat itu dan sekarang ia baru menyadari bahwa disekitar sana hadir banyak orang, dengan muka memerah buru-buru pemuda itu diturunkan dari bopongannya.

Dalam pada itu Perempuan naga peramal nakti telah mengejar kedepan, serunya. "Lengcu..."

Tidak sempat ia melanjutkan kata-kata nya. Gadis suci dari Nirwana telah keburu memotong lebih dahulu.

"Enci, aku mengerti akan maksudmu, para korban yang menggeletak ditempat ini pimpinlah untuk pengobatan dan perawatan, besok kumpulkan orang-orang kita, aku ada perkataan yang hendak kusampaikan kepadanya." Air muka Perempuan naga peramal sakti agak berubah, sesudah tertegun sebentar katanya.

"Lengcu, untuk mendirikan perkumpulan Yau-ti-leng bukanlah suatu pekerjaan yang gampang."

"Aku tahu, dan aku tiada maksud untuk membubarkan perkumpulan ini."

"Jika Lengcu pergi, maka perkumpulan ini niscaya akan bubar" kata Perempuan naga peramal sakti lagi dengan sedih.

Dengan hati sedih Gadis suci dari Nirwana gelengkan kepalanya berulang kali, katanya. "Aku adalah seorang manusia, bukannya dewa atau malaikat, maafkanlah aku"

Sesudah menghela napas sedih, ia berangkat menuju ke dalam lembah. Dalam kalangan hanya tertinggal keheningan

dan kesunyian yang mencekam seluruh jagad, mungkin mereka semua telah mendapatkan satu firasat yang tidak baik,

Mendadak terdengar Ciang-liong-sian berkata kepada Lan In Loojin dengan suara dingin. "Tua bangka, engkau mengatakan hanya Gak In Ling yang mampu menyelamatkan dunia persilatan dari ancaman bahaya, sekarang cobalah lihatlah.. Bukan saja ia tak mampu menguasahakan kedamaian, malahan Gadis suci dari Nirwana kena diseret untuk melepaskan diri dari tugas."

Lan In Loojin tertawa. "Jangan lupa ia telah berhasil menarik menjadi satu, dua orang tokoh silat berkepandaian sakti yang semula tak dapat hidup bersama, lagi pula Gadis suci dari Nirwana pun belum tentu sungguh-sungguh tinggaikan tempat itu, asal sebelum penyakit yang diderita Gak In Ling sembuh ia tidak mengumpulkan segenap orang-orangnya, urusan pasti akan beres."

Bicara sampai disitu berangkatlah ia tinggaikan tempat itu untuk mencari Perempuan naga peramal sakti guna merundingkan persoalan ini. Tiga hari telah berlalu tanpa terasa, dibawah perawatan yang seksama dari dua orang gadis tersebut, bukan saja Gak In Ling berhasil sembuh dari luka dalam yang dideritanya, bahkan racun yang mengidap dalam tubuhnya selama banyak tahun pun ikut lenyap tak berbekas.

Dua orang gadis yang semula tak dapat hidup berdampingan itu pun karena diri Gak In Ling berhasil menghilangkan rasa permusuhan mereka, bahkan kian hari hubungan mereka kian bertambah erat sehingga bagaikan saudara sekandung sendiri, Suatu hari dalam kamar baca yang selama ini dihuni oleh Gak In Ling, Hoa Yan Hun sedang bersandar dalam pelukan Pek Giok Ji, dengan suara yang-polos tiba-tiba ia bertanya.

"Cici, tegakah engkau tinggaikan tempat ini?"

"Adikku, maukah engkaujangan bicarakan tentang soal ini "jawab Pek Giok Ji dengan alis mata berkenyit.

Gak In Ling yang berdiri didepan jendela segera putar badan dan berkata dengan serius.

"Menurut pendapatku. lebih baik enci Pek Giok Ji tetap tinggal ditempat ini karena sekarang musuh yang harus kita hadapi terlalu banyak, seperti orang-orang dari Tibet, dan..."

Tiba - tiba ia membungkam.

Satu ingatan berkelebat lewat dalam benak Gadis suci dari Nirwana, ia menyambung.

"Dan Malaikat suci dari lima bukit bukan ?"

Perlahan-lahan Gak In Ling berpaling kearah lain, ujarnya dengan tawa. "Orang itu adalah musuh pribadiku sendiri "

"Dia menjadi musuhmu.. Apakah bukan berarti menjadi musuhku juga ?" seru Pek Giok Ji dengan mata menjadi merah. Kembali Gak In Ling menggelengkan kepalanya.

"Kalian sama sekali tidak tahu akan kejahatan yang pernah dilakukan olehnya, sikap kalian tak akan dipercaya orang lain, sebaliknya aku..."

Belum sempat ia menyelesaikan kata-katanya, mendadak dari pintu depan beljalan masuk Su-put-siang, telah menyapu sekejap ketiga orang itu, ujarnya kepada Pek Giok Ji.

"Lengcu, Malaikat suci dari lima bukit dengan membawa banyak orang telah datang menyambangi diri Lengcu."

Nafsu membunuh memancar keluar dari balik mata Pek Giok Ji, serunya dengan cepat.

"Pergilah lebih dahulu, aku akan segera datang "

Su-put-siang kembali memandang sekejap ke arah Lengcu nya. kemudian putar badan dan berlalu.

"Adik Ling, engkau ikut kesana atau tidak?" tanya gadis she Pek itu kemudian.

Gak In Ling tarik napas panjang untuk menekan pergolakan emosi dalam dadanya, lalu menjawab.

"Enci Pek. pergilah sendiri. Jangan katakan aku ada disini, aku rasa sekarang sudah tiba saatnya untuk membongkar kejahatannya, apa yang ia suruh engkau lakukan atau mengusulkan sesuatu lakukan saja seperti apa yang dia katakanakan tetapi setiap saat, engkau harus berhati-hati terhadap dirinya, jangan biarkan ia mendekati tubuhmu, aku serta adik Hun akan membantu secara diam-diam, setelah kejahatannya diketahui umum kita baru sikat dia dari muka bumi."

Sebenarnya Gadis suci dari Nirwana akan segera turun tangan untuk melenyapkan Yap Thian Leng si Malaikat suci dari lima bukit itu dari maka bumi, akan tetapi sesudah dipikir lebih jauh ia merasa seandainya jago tua itu dibunuh, maka para jago persilatan akan merasa tidak puas terhadap dirinya, bahkan anak buah sendiripun akan merasa tak puas, karena itulah setelah ada cara-cara yang lebih bagus, diapun menggunakan cara tersebut.

"Baiklah, akan kulakukan menurut caramu itu," ujarnya kemudian sambil mengangguk. Setelah berhenti sebentar, dengan suara rendah bisiknya.

"Mari, aku akan membawa kalian menuju kesuatu tempat yang sangat rahasia, dengarkanlah apa yang hendak ia katakan sehingga kalianpun bisa mempersiapkan diri lebih dahulu."

Tidak menanti jawaban dari Gak In Ling, ia berlalu lebih dahulu dari sana.

Gadis suci dari Nirwana membawa Gak In Ling serta Hoa Yan Hun memasuki sebuah kamar rahasia dibelakang ruang tengah tersebut, kemudian buru-buru ia pergi dari sana.

Antara ruang rahasia dengan ruang tengah dihalangi oleh sebuah horden yang terbuat dari bambu yang tergantung sehingga keatas lantai, di atasnya tergantung sebuah lukisan sehingga dari dalam bisa melihat keluar, sebaliknya dari luar tak dapat melihat kedalam. Gak In Ling menyapu sekejap keseluruh ruang tengah itu, tampakiah Malaikat suci dari lima bukit duduk dimeja tamu, dua tiga puluh orang pengikut berdiri ditengah ruangan dan suasana sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun.

Hoa Yan Hun segera menempelkan bibirnya kesisi telinga Gak In Ling, tanyanya. "Engko Ling, makhluk itukah yang bernama Malaikat suci dari lima bukit ?"

"Benar, memang itulah orang nya " Sementara itu Gadis suci dari Nirwana telah masuk kedalam ruang tengah, Malaikat suci dari lima bukit segera bangkit berdiri dan memberi hormat. "Aku siorang tua ingin menjumpai Lengcu "

Semua orang yang berada disisinyapun ikut memberi hormat dengan wajah serius.

Sedari kecil Hoa Yan Hun telah hidup di dalam gua bersama-sama Kui Bin Popo seorang, belum pernah ia menjumpai keadaan seperti ini menyaksikan hal tersebut ia segera menjulurkan lidahnya dan berbisik.

"Waahh enci Pek benar-benar hebat "

"Ssstt " Gak In Ling tarik tangannya dan memberi tanda kepadanya agar jangan berbicara.

Dalam pada itu, Gadis suci dari Nirwana telah balas memberi hormat, jawabnya. "Tidak berani, Sin-kun terlalu merendah "

"Aaaaii...." Malaikat suci dari Nirwana menghela napas panjang. "sungguh tak kusangka kali ini para jago kita dari daratan Tionggoan harus menelan kekalahan secara begini mengenaskan, andaikata aku tidak ditolong orang secara

kebetulan, mungkin tubuhku sudah harus dikubur didalam lembah Bau-ku-kok,"

"Akupun berhasil diselamatkan jiwanya oleh seorang jago persilatan yang maha sakti"

Mendengar perkataan itu paras muka Ngo gak Sin-kun berubah hebat, tiba-tiba ia bertanya.

"Apakah Lengcu mengetahui kabar berita tentang Gak In Ling?"

Dalam hati Gadis suci dari Nirwana tertawa dingin, sedang diluaran ia sengaja menghela napas panjang dan berkata. "Setelah tokoh sakti itu menyelamatkan, ia telah suruh aku berangkat ketebing Sau-ciu-gay untuk menyelamatkan jiwanya, tapi sayang kedatanganku agak terlambat dan ia sudah keburu terjatuh kedasar jurang."

Setelah berhenti sebentar, ia menengadah dan menambahkan. "Agaknya ia kurang begitu cocok dengan diri Sin-kun ?"

Dengan pura-pura ia memperlihatkan wajah sedih dan kasihan, Ngo-gak Sin-kun berkata. "Dahulu aku sering kali membunuh orang, kemungkinan besar pada dahulu kala ayahnya telah melakukan kesalahan dan berhasil diketahui diriku, ketika itu watakku berangasan sekali, mungkin karena tak tahan maka terikatlah dendam sakit hati ini."

"Aku dengar Sin-kun tidak membereskan sekalian dirinya," sela seorang kakek tua diantara pengikutnya secara tiba-tiba.

Ngo-gak Sin-kun mengangguk,

"Setelah membunuh ayahnya, aku tak tega untuk melukai pula putranya..."

"Melepaskan harimau pulang gunung tokh hanya meninggalkan bibit bencana dikemudian hari."

"Sekalipun Gak In Ling berlatih sepuluh tahun lagi, belum tentu ia bisa menandingkan Sin-kun," ujar Gadis suci dari Nirwana dengan wajah amat serius.

"Tidak, kemungkinan besar Gak In Ling mempunyai sesuatu penghadang didalam tubuhnya, kalau tidak aku benar-benar tak mampu untuk menandingi Telapak mautnya."

"Suatu penjelasan yang amat licik," pikir Gadis suci dari Nirwana dalam hatinya. Berpikir sampai disitu, ia lantas berkata.

"Kedatangan Sin-kun kemari entah ada rencana apa ?"

"Ingin minta pimpinan dari Lengcu "

"Sinkun tentu ada sesuatu rencana besar ?"

"Benar, aku berhasil menemukan sesuatu kesempatan baik,"

Satu ingatan berkelebat dalam benak Gadis suci dari Nirwana, pikirnya didalam hati. "Orang ini bicara amat tenang dan mantap, kalau dikatakan ada sesuatu rencana jahat semestinya sukar untuk membuat orang menjadi percaya, tetapi adik Ling telah berpesan kepadaku untuk berhati-hati, apa salahnya kalau kuperiksa jalan pikirannya ?"

Berpikir sanpai disitu, sambil tertawa segera tanyanya. "Entah rencana bagus apakah yang berhasil ditemukan oleh Yap Cianpwee ...."

"Sejak menderita kegagalan dalam usaha dibenteng Hui- in-cay tempo hari. pihak perkumpulan rahasia dari Tibet rupanya sudah menduga bahwa Lengcu pasti akan memimpin anak buahnya untuk melakukan pembalasan dendam, pokoknya ia hendak turun tangan terlebih dahulu, inti kekuatannya sudah dipindahkan kelembah cupu-cupu dibukit Tiang-pek-san ini."

"Lembah cupu-capu ?" sela Perempuan naga peramal sakti dari samping kalangan, ketua dari perkumpulan rahasia yang berasal dari Tibet amat licik dan banyak akalnya, masa ia menyebarkan kekuatannya perkumpulan didalam lembah mati yang hanya bisa bertahan dan tak dapat melakukan penyergapan itu ?"

"Tentang hal ini aku kurang begitu tahu tentang maksud tujuannya,"jawab Yap Thian Leng sambil gelengkan kepalanya. "tetapi aku yakin Lengcu menarik keuntungan yang lebih besar mengenai keadaan medan tempat ini, karena itu aku merasa inilah kesempatan yang baik bagi kita untuk turun tangan. "

"Bagaimana menurut pendapat Sinkun ?"

"Menurut pendapatku,"jawab Yap Thian Leng tanpa ragu-ragu, "meskipun pihak perkumpulan rahasia dari Tibet tidak begitu memahami keadaan dibukit Tiang-pek-san, akan tetapi setelah ia berani mempergunakan lembah buntu itu sebagai pangkalannya, jelas ia mempunyai maksud-maksud tertentu, siapa tahu kalau ini adalah siasat tentara semunya ?" Perempuan naga peramal sakti yang mendengar perkataan itu segera mengangguk, jawabnya.

"Yang semu adalah nyata, yang nyata adalah semu, perduli semu atau nyata tak mungkin dia benar-benar menghimpun kekuatannya dalam lembah buntu tersebut."

Gadis suci dari Nirwana Pek Giok Ji tidak memberi komentar lebih lanjut, ia bertanya kembali.

"Menurut pendapat Sinkun, tindakan macam apakah yang harus kita ambil untuk menghadapi situasi semacan ini?"

Diam-diam Malaikat suci dari lima bukit merasakan hatinya bergetar keras-keras, pikirnya dengan cepat.

"Selamanya nona ini cepat ambil keputusan dalam menghadapi setiap masalah yang sedang dihadapinya, kenapa

ini hari ia bertanya dan bertanya terus seperti hendak menyelidiki saja ? Aku harus lebih berhati-hati...." Berpikir sampai disitu, mendadak satu ingatan berkelebat dalam benaknya, ia segera menengadah dan berpaling kearah Perempuan naga peramal sakti, tanyanya. "Menurut pendapat perempuan naga peramal sakti, apa yang harus kita lakukan untuk mengatasi persoalan ini ?" Perempuan naga peramal sakti tidak tahu duduk perkara yang sebenarnya, setelah termenung dan berpikir beberapa saat lamanya ia lalu menjawab. "Menurut pendapat Siau-li, sebelum kenyataan tertera dengan nyata alangkah baiknya kalau kita kirim orang lebih dahulu untuk menjaga-jaga dimulut lembah cupu-cupu,jika orang-orang dari perkumpulan rahasia tersebut berani keluar maka ada satu kita bunuh satu, lama kelamaan niscaya kita akan tahu bagaimanakah kenyataannya."

Gadis suci dari Nirwana merasa amat girang setelah mendengar perkataan itu, pikirnya. "Kali ini akau kulihat bagaimana caramu untuk menghadapi usul tersebut ?"

Malaikat suci dari lima bukit sendiripun merasa kegirangan, namun perasaan tersebut tidak sampai diutarakan diluaran, sesudah termenung sebentar katanya. "Sahabat-sahabat persilatan yang datang bersama diriku telah kutempatkan dimulut lembab tersebut, urusan tak boleh ditunda-tunda lagi, bagaimana menurut pendapat Lengcu?"

Gadis suci dari Nirwana merasa sangat kecewa, ia tak habis mengerti setelah Malaikat suci dari lima bukit berpihak kepada perkumpulan rahasia dari Tibet, apa sebabnya ia tak memiliki rencana yang masak sebaliknya malahan mendengarkan keputusannya ?"

Tetapi ketika itu sorot mata Malaikat suci dari lima bukit serta parajago sedang ditujukan semua keatas wajahnya, membuat gadis itu tak dapat mengulurkan waktu lagi, jawabnya.

"Baiklah sekarang juga kita berangkat "

"Terhadap tempat ini apakah Lengcu telah melakukan sesuatu persiapan...?"

Maksud dari perkataan itu sudah jelas mengharapkan Pek Giok Ji lebih mementingkan garis depan daripada garis belakang.

Dalam hati kecilnya Pek Giok Ji tertawa dingin, sebentara diluaran sambil tertawa jawabnya.

"Sinkun tak usah kuatir, Siau-te tentu saja telah mengadakan persiapan." Malaikat suci dari lima bukit adalah manusia yang amat licik, mendengar perkataan itu buru-buru ia tertawa dan menjawab. "Aaahh . Aku telah berbuat lancang, kalau begitu biarlah aku berangkat lebih dahulu dan menantikan kehadiran Lengcu dimulut lembah."

Tidak menunggu jawaban dari gadis itu lagi, bersama anak buahnya ia berlalu lebih dahulu.

Gadis suci dari lima bukit tertawa dingin sepeninggalnya jago-jago persilatan itu ujarnya kepada Su Put Siang. "Pergilah siapkan sekelompok anak murid kita, tiga tua pelindung gunung tak usah ikut, empat pelindung hukum mengiringi kita."

Su Put Siang mendapat perintah dansegera berlalu, kepada Perempuan naga peramal sakti kembali tanyanya.

"Apakah cici bersedia untuk ikut serta ?"

"Bagaimana dengan Gak In Ling sekalian ?"

"Tentu saja mereka tak boleh turut serta"

"Apa yang hendak Lengcu lakukan terhadap mereka ?"

"Akan kuserahkan benda ini kepadanya" jawab Gadis suci dari Nirwana sambil ambil keluar sebuah tanda perintah kumala putih Pek-giok-leng.

Paras muka Perempuan naga peramal sakti berubah hebat, serunya tanpa sadar.

"Lengcu, tanda pengenal tersebut merupakan tanda paling berkuasa dalam perkumpulan kita.."

"Cici, keputusanku telah bulat," tukas Gadis suci dan Nirwana dengan muka serius,

"Dalam perjalanan kita kali ini, aku harap cici suka memperhatikan dengan seksama setiap perkataan dan gerak-gerik dan Yap Thian Leng, sebab keselamatan kita semua kemungkinan besar harus bergantung pada perhitungan cici yang tepat."

Terjelos hati Perempuan naga peramal sakti mendengar ucapan tersebut pikirnya.

"Cinta memang sesuatu yang menakutkan sekali, sungguh tak kusangka dengan kecerdasan dari Lengcu ternyata kali ini ia tak dapat merasakan akan siasat, pinjam golok membunuh orang dari Gak In Ling." Berpikir demikian buru-buru ia jawabnya.

"Hamba terima perintah " Perlahan-lahan ia mengundurkan diri dari ruangan tersebut. Sementra itu dalam ruang tengah hanya tinggal Gadis suci dari Nirwana beserta keempat orang dayangnya, gadis itu berjalan menuju ketepi dinding menggulung lukisan antik dan serunya. "Adik Ling, silahkan keluar "

Gak In Ling dan Hoa Yan Hun secara beruntun berjalan keluar, Gadis suci dari Nirwana segera serahkan tanda perintah ini kepada pemuda tersebut, pesannya. "Adik Ling, segala sesuatunya ditempat ini harap kau atur bersama adik Hun, aku segera akan berangkat."

"Cici, benarkah engkau mempercayai kami berdua ?" seru Hoa Yan Hun dengan alis melentik,

Gadis suci dari Nirwana tertawa. "Engkau adalah musuh besarku " katanya.

"Benar cici. karena itu..."

"Tapi tanda perintah-itu adalah benda yang..."

Hoa Yan Hun tak dapat menahan rasa harunya lagi, ia berseru dan menubruk kedalam pelukan gadis tersebut, teriaknya.

"Cici.... cici.. aku., aku pernah berhasrat membinasakan dirimu..."

"Aku tahu,"jawab Gadis suci dari Nirwana sambil membelai rambutnya yang halus, "adik Hun, aku tahu akan hal ini karena dahulu akupun pernah mampunyai jalan pikiran yang sama seperti dirimu, kita semua tahu, bukan aku yang dapat memahami dirimu juga bukan engkau yang dapat memahami diriku, melainkan kita pada saat yang bersamaan dapat saling mengalah lantaran seseorang." Berbicara sampai disitu dengan pandangan kosong dia melirik sekejap kearah Gak In Ling.

"Benar," ujar Hoa Yan Hun dengan tertawa, "cici semoga saja mulai saat ini kita tidak akan saling berpisah kembali."

"Adikku, semoga saja demikian, aku harus berangkat lebih dahulu," ia mendorong tubuh Hoa Yan Hun dan tanpa menanti jawaban diiringi keempat orang dayangnya segera berlalu dari situ.

Sepeninggal gadis tadi, Hoa Yan Hun berpaling kearah Gak In Ling sambil bertanya. "Engko Ling, apa yang harus kita lakukan?"

Sambil acungkan tanda perintah yang berada ditangannya pemuda itu menjawab. "Yap Thian Leng bajingan tua itu tidak tahu kalau aku masih hidup, lebih-lebih tidak tahu kalau kita berada disini, karena itu kita boleh memimpin anak buah dari Yau-ti-leng dan menyusul dari belakang."

"Kemungkinan besar Perempuan naga peramal sakti tidak percaya dengan kita, aku kuatir kalau ia membeberkan rencana tersebut kepada bajingan tua itu, kalau sampai begitu bukankah kita bakal celaka ?"

"Tidak mengapa, menanti bajingan tua itu mendapat kabar, kita sudah tiba disana cepat. Persoalan ini tak bisa ditunda lagi." Selesai berkata bersama dengan Hoa Yan Hun berangkatlah mereka tinggalkan ruangan tersebut.

Lembah cupu-cupu letaknya kurang lebih lima ratus li disebelah barat markas besar perkumpulan Yau-ti-leng, tempat itu dikelilingi bukit yang menjulang tinggi ke angkasa dan terjal, sepanjang tahun selalu dilapisi oleh salju yang tebal. Tempat itu berada diatas markas besar perkumpulan Yau-ti-leng, sekilas memandang dapat diketahui bahwa tempat itu merupakan tempat yang paling bagus untuk menyergap markas besar tersebut. Lembah cupu-cupu, sesuai dengan namanya berbentuk bagaikan cupu-cupu yaitu mulut kecil dengan lambung yang besar, mulut lembab merupakan tebing-tebing dilapisi salju tebal, setiap saat kemungkinan besar dapat terjadi longsor salju.

Ada satu tempat lain lagi yang tidak mendapat perhatian orang, yakni bukit-bukit yang mengitari lembah tersebut, bila salju digugurkan dari arah atas niscaya lembah tadi akan rata dengan tanah. Rombongan yang dipimpin Gadis suci dari Nirwana menerjang turun dari mulut bukit sebelah Timur, baru saja berbelok suatu tebing mendadak mereka temukan ada belasan orang sedang bertempur dengan serunya dimulut selat itu.

"Saudara-saudara sekalian jangan gugup, aku datang membantu " sambil berseru ia menerjang maju sehingga mencapai empat puluh tombak lebih. Para jago yang datang bersama-sama Yap Thian Leng semuanya merasa amat gusar dan sama-sama menerjang kedepan, semua jago ganas:

bagaikan harimau terluka, keadaaanya benar menyeramkan sekali.

Perempuan naga peramal sakti melirik sekejap kearah Gadis suci dari Nirwana kemudian tanyanya.

"Lengcu, mari kita maju bersama " Gadis suci dari Nirwana tertawa dingin, katanya. "Malaikat suci dari lima bukit luar biasa juga, sebelum tiba badannya suara bentakan telah dipancarkan lebih dahulu, bukankah itu sama halnya telah memberikan kesempatan yang sangat besar bagi musuhnya untuk melarikan diri ?"

Perempuan naga peramal sakti telah menaruh curiga kalau Pek Giok Ji terpengaruh olehnya, mendengar perkataan itu ia segara berkata. "Lengcu mungkin sudah menarah kesalahan paham"

Gadis suci dari Nirwana adalah yang cerdik, dari perubahan wajah orang ia sudah mengetahui apa yang dipikirkan lawannya, sambil tertawa tawa segera jawabnya.

"Perhitungan cici tersohor karena tepatnya, mungkin akulah yang sok pintar dan salah memahami orang lain, mari kita serang "

Sambil ulapkan tangannya, ia pimpin anak buahnya menerjang maju kearah depan.

Orang yang sedang melangsungkan pertarungam bukan lain adalah antara jago-jago dari perkumpulan rahasia dengan para jago yang ditugaskan Malaikat suci dari lima bukit untuk menjaga mulut lembah, pihak Tibet yang dipimpin oleh dua orang lama baju merah disertai empat lima orang jago kelas tiga.

Dari pihak para jago Tionggoan semula terdiri dari belasan orang, akan tetapi pada waktu itu ada empat orang yang terluka ditangan lhama baju merah itu apa lagi dengan

serangannya yang berat dan tak kenal ampun, para korbannya tak seorangpun berada dalam keadaan hidup.

Dalam pada itu Malaikat suci dari lima bukit telah menerjang kedepan, ditengah bentakan keras ia terjang seorang lhama baju merah yang bermata besar, berhidung singa, bentaknya dengan penuh kegusaran. "Sambutlah sebuah pukulanku" Rupanya lhama tersebut telah menyaksikan datangnya serbuan musuh dalam jumlah lebih besar, ia berseru dan melayang masuk kedalam lembah sejauh tiga tombak lebih, begitu tubuh nya mencapai tanah dengan jurus menampik tamu datang dari jauh, ia serang telapak baja orang she Yap tersebut sambil bisiknya.

"Yap Thian Leng, apakah gadis rupawan yang ada dibelakang adalah Gadis suci dari Nirwana ?"

Sambil putar telapak melancarkan serangan balasan, Malaikat suci dari lima bukit membenarkan.

"Tidak salah, memang dialah orang nya, sekarang kalian berdua harus segera mengundurkan diri dari sini"

Dari balik sorot mata lhama tersebut memancar keluar sinar kecabulan, ujarnya kembali.

"Aku ingin menjumpai dirinya lebih dahulu "

"Hal ini mana boleh jadi, rencana besar dari Tiongcu tak boleh di rusak dengan begitu saja" seru Ngo-gak Siw-kun dengan gelisah.

Sementara itu Su Put Siang telah menyambut kedatangan lhama yang lain, pertarungan berjalan amat seru dan tak kalah sengitnya dengan pertarungan tipu-tipuan dari Yap Thian Leng.

Rupanya lhama tersebut sudah terpikat hatinya oleh kecantikan wajah gadis itu, ia tak mau tahu apa artinya rencana besar, sambil membentak serunya.

"Huuuuhh. Engkau manusia macam apa, berani benar mencampuri urusan toaya mu ? Rupanya sudah ingin mati ?"

"Demi suksesnya besar dari Tiongcu kita engkau tidak sepantasnya kalau bertindak sesuka hatimu," kata Yap Thian Leng dengan penuh kegusaran, "kendatipun kedudukanku tidak memadahi engkau, tetapi engkau jangan mencoba untuk menakut-nakuti diri, kalau engkau hendak usiki gadis itu maka terlebih dahulu robohkan dulu aku." Lhama itu melirik sekejap kearah Gadis suci dari Nirwana, ketika melihat jaraknya hanya terpaut tujuh tombak daripada dirinya, diam-diam ia merasa amat girang, bentaknya dengan gusar.

"Yap Thian Leng, apa susahnya untuk merobohkan dirimu ? Sambutlah seranganku ini" Gerakan serangannya segera berubah, bagaikan hembusan angin puyuh ia serang lawannya habis-habisan.

Malaikat suci dari lima bukit menyadari bahwa dua orang-lhama yang ditugaskan datang kemari untuk memimpin rencana tersebut mempunyai kepandaian silat yang sangat tinggi dan jauh diatas kepandaian sendiri, melihat serangan tersebut dengan ketakutan ia loncat mundur dua tombak kebelakang untuk menghindarkan diri. Diam-diam Gadis suci dari Nirwana yang mengikuti jalannya pertarungan itu tertawa dingin, pikirnya. "Paham amat dirimu atas ilmu silat yang dimilikinya "

Baru saja ingatan tersebut berkelebat dalam benaknya, tiba-tiba bayangan merah berkelebat lewat, lhama yang gemuk besar itu bagaikan seekor burung raksasa tahu sudah menerjang datang dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.

Buru-buru Pek Giok Ji tarik kembali senyumannya, akan tetapi ia tidak menghindar, sorot matanya dengan tajam menatap datangnya serangan dari lhama baju merah itu tanpa berkedip.

Lhama baju merah ituamat sombong, melihat gadis itu tidak melawan, ia segera tertawa terbahak-bahak.

"Haaaahh haaaaahh.... haaaahh, orang cantik, engkau tak usah takut, aku tak akan melukai tubuhmu."

Sepasang Telapaknya yang besar bagaikan kipas dengan cepat telah menyambar ke-bawah dan tahu-tahu sudah berada kurang lebih tiga cun diatas bahu gadis itu. Saat yang amat kritis itulah, tiba-tiba terdengar Pak Giok Ji membentak keras. "Enyah kau dari sini "

Telapaknya berkelebat kemuka dan tahu-tahu sudah ditarik kembali.

"Blaaamm " Ditengah benturan keras, terdengarlah lhama tersebut menjerit ngeri, segulungan bayangan merah mencelat kebelakang dan kebetulan sekali jatuh terjungkal kurang lebih 2 depa dihadapan Malaikat suci dari lima bukit.

Yap Thian Leng yang menyaksikan kejadian itu menjadi amat terperanjat, pikirnya. "Kenapa begitu persis ia roboh dihadapannya? Apa yang harus kulakukan?" Untuk beberapa saat lamanya ia berdiri tertegun.

Lhama baju merah itupun bukan manusia sembarangan, tadi ia jatuh kecundang hanya didalam satu jurus belakang, sadarlah ia bahwa gadis itu merupakan musuh yang amat tangguh, pikirannya menjadi terang kembali dan tanpa memperdulikan akan luka dalam yang dideritanya, lhama tersebut tarik napas panjang kemudian dengan gerakan ikan lehi melenting, ia loncat jauh dua tombak lebih dari tempat semula, teriaknya. "Musuh amat tangguh, mundur "

Tanpa berpaling buru-buru ia putar badan dan kabur masuk kedalam lembah buntu itu.

Lhama lainnya sewaktu melihat rekannya kabur, ia tak berani berdiam lebih lama lagi disana. sambil menjerit buru-

buru badannya berputar dan kabur pula masuk kedalam lembah.

Sementara itu diantara empat orang jago kelas tiga yang ikut serta bersama lhama tadi, sekarang hanya tinggal tinggal satu orang, melihat pemimpinnya telah kabur, tanpa memperdulikan diri lagi buru-buru ia ikut kabur masuk ke dalam lembah.

Malaikat suci dari lima bukit segera sadar kembali apa yang telah terjadi, ia membentak keras dan maju kedepan, dengan jurus Lek-peng ngo-gi atau menghancur ratakan lima bukit ia hajar punggung orang itu

Jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang memecahkan kesunyian, orang itu mencelat sejauh empat tombak kedepan dan roboh binasa. Pek Giok Ji memburu kedepan, ujarnya sambil tertawa. "Ngo-gak Sin-kun, sungguh dahsyat tenaga pukulanmu itu "

Malaikat suci dari lima bukit tak berani menatap wajah gadis itu karena dalam hati ada setannya, sambil tertawa ia menjawab.

"Aaaahh... Mana... mana........ Lengcu terialu memuji, sayang sekali lhama itu berhasil melarikan diri."

"Andaikata pada waktu itu Ngo-gak Sin kun menambahi dengan sebuah pukulan lagi, niscaya bangsat gundul itu sudah pulang keakherat."

Dalam hati Malaikat suci dari lima bukit merasa amat terperanjat, namun perasaan tersebut tidak sampai diperlihatkan diluaran, ia sengaja menghela napas panjang dan berkata.

"Aaaaii pada waktu itu tidak sepantasnya kalau aku memikirkan banyak persoalan."

"Sin- kun hidup sebagai pendekar yang berhati suci, tentu saja engkau tidak ingin membokong orang dikala orang

sedang susah, sudahlah tak usah kita persoalkan hal itu lagi, yang penting sekarang adalah bagaimana caranya kita hadapi keadaan yang berada didepan mata."

Legalah hati Yap Thian Leng mendengar ucapan itu, katanya dengan cepat.

"Kecerdasan perempuan naga benar-benar melebihi orang lain, apa yang kupikirkan didalam hati ternyata berhasil kau tebak." Gadis suci dari Nirwana tertawa dingin.

"Haaaaahh haaaaahh haaaahh dibandingkan dengan perbuatan Sin kun menghajar seorang manusia kelas tiga dari belakang, bukankah perbuatan tersebut jauh lebih tidak berharga?"

Paras muka Malaikat suci dan lima bukit berubah hebat, diam-diam pikirnya.

"Ucapan ini tak mungkin tanpa sebab, jangan-jangan-.." berpikir sampai disitu ia segera menjawab.

"Aaaaii.... aku sendiripun tak tahu apa sebabnya bisa berbuat demikian."

Dengan perasaan tidak puas Perempuan naga peramal sakti melirik sekejap kearah Lengcu nya, sementara dalam hati gerutunya.

"Hanya disebabkan Gak in Ling seorang engkau telah melupakan masalah besar, bukankah tindakkan seperti ini jauh lebih tidak berharga ?"

Walaupun dalam hati merasa tidak puas, namun perasaan tersebut tidak sampai diutarakan keluar.

Dalampada itu Gadis suci dari Nirwana telah menyapu sekejap sekeliling tempat itu, kemudian ujarnya.

"Bukit salju disekeliling tempat ini sangat tinggi, andaikata longsor kebawah maka kita semua pasti akan terkubur ditempat ini, bagaimana menurut pendapat Sinkun ?"

Dalam hati Malaikat suci dari lima bukit tertawa dingin, pikirnya. "sekarang baru merasakan akan hal ini, apakah tidak terialu lambat ?" Berpikir demikian, sambil tertawa segera jawabnya.

"Keadaan disini memang demikian, pada mulanya aku tidak pernah berpikir sampai disitu..."

Dengan gerakan yang santai ia bergendong tangan dan perlahan-lahan bergeser kurang lebih satu tombak kearah mulut lembah. Gadis suci dari Nirwana kembali tertawa dingin, ujarnya.

"Perkataan dari Sinkun benar-benar sukar bikin hati orang menjadi percaya, dalam kolong langit siapa yang tidak tahu akan kecerdasan Sin kun melebihi orang lain dan selama hidup belum pernah tertipu oleh orang lain."

"Apakah Lengcu menaruh curiga terhadap diriku ?" tanya Yap Thian Leng dengan hati tercekat.

Melihat keadaan semakin tegang, buru-buru Perempuan naga peramal sakti melerai, katanya.

"Sin kun jangan salah paham "

Dengan perasaan tidak puas para jago yang datang bersama Malaikat suci dan lima bukit memandang kearah Pek Giok ji.

Kembali Gadis suci dari Nirwana tertawa- dingin, katanya.

-oo0dw0oo-