Telapak Setan Jilid 18 : Musuh menjadi calon istri...

Jilid 18 : Musuh menjadi calon istri...

DALAM bentrokan kali ini, boleh dibilang kedua orang itu sama-sama seimbang dan tidak mendapatkan keuntungan apa-apa.

Malaikat raksasa bermuka merah gelengkan, kepalanya berulang knii, sambil menatap wajah Gak In Ling bentaknya keras-keras.

"Bangsat cilik, aku kuliti badanmu "

Sepuluh jari tangannya bagaikan cakar setan direntangkan lebar-lebar, dengan cepat tubuhnya menerkam kedepan dan menghajar tubuh Gak In Ling

satu ingatan dengan cepat berkelebat dalam benak si anak muda itu, ia sama sekali tidak berkelit maupun menghindarkan diri, tindakan nekad itu tentu saja mengejutkan hati Dewi burung hong teriaknya setengah menjerit. "Aaaah engkoLing..."

Malaikat raksasa bermuka merah memiliki perawakan badan yang tinggi dengan kaki yang panjang, sekali berkelebat ia sudah sudah tiba di hadapan Gak in Ling, kesepuluh jari tangannya laksana kilat ditusukkan ke arah dada si anak muda itu..

Tampaklah ujung jari lawan sudah menyentuh pakaian dibagian dada Gak in Ling, mendadak... pemuda itu membentak keras, tubuhnya berguling kesebelah kanan, kaki kanannya menginjak dinding tebing dan tubuhnya seperti anak panah yang terlepas dari busurnya segera meluncur kedepan-

Kraaaakk Sepuluh jari tangan Malaikat raksasa bermuka merah menancap semua diatas dinding batu, menggetarkan seluruh ruangan itu sehingga bergoncang keras, bisa dibayangkan betapa dahsyatnya serangan tersebut.

Dengan gesit Gak In Ling meloncat kebelakang punggung Malaikat raksasa bermuka merah, telapak tangannya diayun dan segera menghajar bawah ketiak raksasa tersebut.

"Plaaakk " Pukulan itu bersarang telak di bawah ketiak^ Malaikat raksasa bermuka merah menjerit kesakitan, rupanya bagian situ memang merupakan tempat yang agak lemah bagi dirinya.

Pertarungan antara malaikat raksasa bermuka merah dengan Gak In Ling berlangsung belum lama, akan tetapi orang itu sudah tiga kali menderita kerugian besar, kejadian ini segera mengobarkan sifat ganasnya, dia meraung penuh kegusaran, jeritnya. "Bangsat cilik Aku telan dirimu bulat-bulat "

Lengan raksasanya diayun, dan ia mulai melancarkan serangan secara bertubi-tubi kearah Gak In Ling.

Pemuda itu menjadi girang sekali melihat lawannya menyerang dengan menggunakan sepasang telapak, karena dengan demikian ia akan mendapat banyak kesempatan untuk menyerang kebawah ketiaknya.

Sekarang si anak muda itu sudah tahu, menyerang tubuh bagian lain dari Malaikat raksasa bermuka merah hanya membuang tenaga dengan percuma saja, karena itu ia merubah siasat bertempurnya dan melancarkan serangan dengan cara bergerilya.

Dalam waktu singkat tampaklah Malaikat raksasa bermuka merah bagaikan burung elang yang menerkam ayam kecil, sepanjang tangan raksasanya menyambar kian kemari dalam ruangan tersebut, sedangkan Gak in Ling pun ikut berputar kesana kemari mengikuti gerakan lawan-

Sambil berputar terus, sorot matanya yang tajam mengincar terus bawah ketiak Malaikat raksasa, bila ada kesempatan ia segera melancarkan serangan secepat kilat.

Rupanya bagian bawah ketiak benar-benar merupakan tempat berbahaya dari Malaikat raksasa, oleh karena itu dia selalu menjaga serta mempertahankannya secara ketat dan rapat, sedikitpun ia tak ingin menunjukkan kelemahan tersebut kepada lawannya.

Waktu berlalu dengan cepatnya, satu jam lewat tanpa terasa namun keadaan medan pertempuran masih tetap seperti sedia kala, sedikit pun tiada perubahan.

Keringat mulai mengucur keluar membasahi seluruh wajah Gak In Ling la tidak lelah hanya hatinya merasa gelisah, karena keadaan luka yang diderita Dewi burung hong tidak mengijinkan dirinya untuk mengulur waktu lebih jauh.

Untuk Malaikat raksasa bermuka merahpun sudah terbakar oleh emosi karena sekian lama belum berhasil juga untuk merobohkan lawannya, ia mulai menubruk, mencengkram dan mencakar dengan ngawur tanpa memperdulikan keadaan apa pun.

Tiba-tiba Malaikat raksasa bermuka merah angkat lengan kanannya dan mencengkram kearah muka Gak In Ling secepat kilat, bagian bawah ketiaknya segera terbuka lebar.

Inilah kesempatan yang sangat baik, tentu saja Gak In Ling tak mensia-siakan kesempatan itu dengan begitu saja, bentaknya. "Lihat serangan "

Dengan gerakan Tiang- hong-hui- liong atau angin deras, terbangkan naga, secepat kilat ia serang bagian bawah ketiak Malaikat raksasa bermuka merah segera pulih kembali, buru-buru ia gunakan jurus Kim-liong-tam-jiau atau naga emas unjuk cakar mencengkram tubuh pemuda, lawannya.

Dalam keadaan demikian, bilamana Gak In Ling tidak mundur maka sekalipun ia dapat merobohkan Malaikat raksasa bermuka merah namun dia sendiri pun pasti akan menderita luka.

Dengan cepat Gak In Ling memutar otak akhirnya ia mengambil keputusan, bentaknya. "Aku akan mengadu jiwa dengan dirimu "

Tangan kanannya sama sekali tidak membuyarkan serangan, sebaliknya malah makin menyongsong kedepan.

"Aaaah Engko Ling, jangan-.." terdengar Dewi burung hong menjerit kaget.

Tapi terlambat dua jeritan kesakitan bergema memecahkan kesunyian yang mencekam ruangan tersebut.

Ditengah jeritan tersebut bergema pula suara ledakan keras yang menggetarkan seluruh permukaan, menggoncangkan dinding gua tersebut.

Beberapa saat kemudian suasana pulih kembali dalam keheningan dan kesunyian, tidak terdengar dentuman keras lagi, tidak terdengar deruan nafas atau suara rintihan, suasana begitu sepi sehingga mendatangkan perasaan ngeri bagi siapapun.

Dewi burung hong sendiri sebagai seorang perempuan ampuh yang sudah berpengalaman dalam menghadapi mara bahaya, telah dibuat tertegun dan termangu-mangu oleh kejadian tersebut saking kagetnya, mungkin punahnya kepandaian silat yang dimilikinya itulah yang telah pulihkan pula sifat-sifat kewanitaannya.

Dia, dengan sepasang mata yang kaget, ngeri dan tidak tenang mengawasi sesosok bayangan manusia yang menggeletak diatas tanah, orang itu bukan lain adalah Gak In Ling pemuda pujaan hatinya.

Pada saat itu pemuda tersebut berada dalam keadaan yang mengenaskan, wajahnya pucat pasi, bibirnya hijau kebiru-biruan, darah segar mengucur keluar menodai tubuhnya.

Beberapa waktu kemudian, pemuda itu tarik napas panjang-panjang kemudian merangkak bangun dari atas tanah dengan gerakan yang sangat lambat seakan-akan seorang kakek tua yang sudah berusia sembilan puluh tahunan lebih.

Perbuatannya pertama setelah bangkit berdiri adalah memeriksa keadaan lawannya, senyum hambar tersinggung diujung bibirnya, kemenangan yang harus direbutkan olehnya pada saat ini harus dibayar sangat mahal.

Malaikat raksasa bermuka merah sudah kehilangan kebengisannya, ia roboh terkapar diatas tanah dengan badan yang lemas dan kuyu, ibaratnya seekor babi yang sudah mati, tangan kirinya menekan dibawah ketiak kanannya, jelas tempat itulah yang membuat ia roboh.

Mendadak terdengar suara teguran yang manis dan penuh perasaan kuatir bergema memecahkan kesunyian-

"Engkoh Ling, apakah engkau terluka ?" Gak In Ling tertegun, sekarang ia baru teringat bahwa ditempat itu masih ada pihak ketiga, tetapi ingatan lain dengan cepat berkelebat pula didalam benaknya, diam-diam ia berpikir.

"Apakah aku menderita luka atau tidak. masa engkau tak dapat melihatnya sendiri ? Bukankah itu berani sudah tahu pura-pura bertanya ? Kalau engkau masih mempunyai sedikit rasa persahabatan, sepantasnya kalau datang kemari untuk menengok diriku, jelas berhubung engkau sudah menderita luka maka engkau hendak menggunakan diriku untuk menyelamatkan jiwamu. "

Makin dipikir ia merasa jalan pikirannya itu masuk akal, dengan suara dingin segera jawabnya.

"Aku rasa tidak akan sampai mampus di-sini."

Habis berkata ia lantas duduk kembali diatas tanah.

Tertegun hati Dewi burung hong mendengar jawaban tersebut, segera pikirnya didalam hati.

"Rupanya dia marah kepadaku, tetapi kenapa ? Aaaaii mungkin dia masih belum tahu kalau aku sudah tak dapat bergerak lagi, tetapi bagaimana caranya kuterangkan persoalan ini ?"

Dengan wataknya yang keras kepala dan tinggi hati, sudah tentu gadis cantik ini tidak bersedia menunjukkan kelemahan di hadapan orang lain, kendatipun orang yang berada

dihadapannya adalah Gak In Ling, pemuda pujaan hatinya yang ia cintainya secara diam-diam.

Dengan sorot mata memancarkan cahaya penuh memohon, ia tatap wajah Gak In Ling, tanyanya.

"Engko Ling, apakah engkau membawa obat mujarab untuk menyembunkan luka dalammu ?"

"Aku tidak membawa obat mujarab untuk menyembuhkan luka dalam," sahut sang pemuda sambil tertawa dingin.

"Lalu bagaimana sekarang ??"

Gak In Ling menjadi semakin gusar, setelah tertegun sebentar pikirnya didalam hati. "Dugaanku ternyata sedikitpun tidak salah ia sedang menguatirkan diri sendiri." Berpikir sampai disitu, ia lantas tertawa dingin dan berseru..

"Aku rasa tidak selang beberapa saat kemudian, aku sudah dapat menangkapkan ular ber-jengger itu untuk memunahkan racun yang mengeram dalam tubuh nona "

Selesai berkata ia segera pejamkan matanya dan mulai mengatur pernapasan untuk menyembuhkan luka dalam yang diderita olehnya.

Dewi burung hong adalah seorang perempuan yang berotak cerdas, pendengaran perkataan tersebut sudah tentu ia dapat menangkap arti lain daripada kata-katanya itu, air mukanya kontan berubah hebat, dua titik air mata jatuh bercucuran membasahi pipinya, akan tetapi ia sama sekali tidak membenci Gak In Ling, bukankah begitu ? Ketika untuk pertama kali mereka bertemu muka. bukankah ia pernah bermaksud untuk membinasakan dirinya ? Meskipun tidak sungguhan terjadi, namun hanya hati kecilnya yang memahami apa yang sebetulnya telah terjadi.

Dia menghela napas sedih, lalu berkata dengan suara lembut.

"Engko Ling, dalam sakumu terdapat obat pemunah itu, maukah engkau datang kemari untuk mengambilnya ?"

"Terima kasih atas maksud baik nona, tak usah "jawab sang pemuda ketus.

Ia sudah merasakan pergolakan hawa darah dalam isi perutnya jauh lebih tenang dari keadaan semula, jelas pukulan yang dilancarkan Malaikat raksasa bermuka merah terhadap dirinya tidaklah terlalu berat.

Dewi burung hong kembali menghela napas panjang, dalam hati ia menjerit karena pedih.

"Sudah sudah sudahlah... perduli amat, bagaimanakah pandangannya kepadaku -untuk dikemudian hari, terpaksa aku harus berbuat begitu."

Setelah berpikir sebentar, ia lantas berseru dengan suara merdu. "Hong-ji, kemarilah"

Sementara itu Gak In Ling sedang pusatkan pikirannya untuk mengatur pernapasan, ketika secara tiba-tiba telinganya mendengar suara gesekan gemerisik yang memekikkan telinga menggema diangkasa, ia menjadi sangat terperanjat, pikirnya. "Jangan-jangan makhluk tersebut telah merambat keluar ?"

Dengan cepat ia tutup pernapasan dan membuka mata, ketika berpaling kearah mana berasal nya suara itu, hatinya segera merasa menyesal bercampur malu.

Tampaklah burung hong raksasa itu dengan paruhnya yang berwarna emas sedang menarik ujung baju Dewi burung hong dan menyeretnya kearah dia berada, dari hal tersebut dapat diketahui bahwa keempat anggota badan Dewi burung hong sudah kaku terserang racun dan tak bisa berkutik lagi.

Gak In Ling tidak memperdulikan apakah ia sedang mengatur pernapasan atau tidak lagi, ia loncat bangun dan lari menghampiri gadis tersebut, dengan sangat terharu

digenggamnya tangan Dewi burung hong lalu sambil menggoncangkan tubuhnya ia berseru.

"Kenapa engkau ? Racun telah menyerang keempat anggota badanmu ? Aaaaii dingin amat tanganmu."

Burung hong raksasa berbulu warna-warni itu melototkan sepasang matanya dan menatap tajam diri Gak In Ling, sepasang kakinya menekuk kedepan, rupanya asal pemuda itu menaruh maksud yang tidak menguntungkan bagi majikannya, maka dia akan segera melancarkan serangan-

Dewi burung hong tundukkan kepalanya rendah-rendah, dua baris air mata jatuh berlinang membasahi wajahnya, akan tetapi dia tidak mengakui juga tidak menyangkal, hanya dengan hati gelisah serunya.

"Dalam sakuku terdapat obat mujarab untuk menyembuhkan luka dalammu, cepat ambil dan makanlah "

"Tidak usah," jawab Gak In Ling dengan sorot mata berkilat," sekarang luka yang kuderita tidak terlalu parah, sedang engkau racun keji telah menyusup kedalam keempat anggota badanmu, aku tidak dapat menunda-nunda lagi."

Habis berkata ia genggam tangan Dewi burung hong yang dingin kencang-kencang, lalu berjalan meninggaikan tempat itu.

"Jangan pergi," seru Dewi burung hong dengan gelisah, "aku masih dapat bertahan beberapa saat lagi, lebih baik sembuhkan dahulu luka dalam yang kau derita "

Gak In Ling sana sekali tidak menggubris teriakan Dewi burung hong, sepasang matanya dengan tajam mengawasi sekeliling tempat itu, akan tetapi empat penjuru hanya ada dinding ruangan belaka sedikitpun tidak ada tanda-tanda lain, ini membuat hatinya menjadi sangat gelisah.

Tiba-tiba sinar mata Gak In Ling berhenti diatas tonjolan batu yang semula diduduki oleh Malaikat raksasa bermuka

merah, tampaklah batu itu ada separuh bagian tertanam didalam tanah, jelas bukan dipindahkan dari luar, sedangkan dalam gua tersebut hanya tonjolan batu itu saja yang ada hubungannya dengan gua batu itu, penemuan tersebut segera menggerakkan hatinya, ia bergumam seorang diri.

"Jangan-jangan kunci dari semua rahasia ini terletak diatas batu tonjolan itu ??"

Tanpa berpikir panjang lagi, ia segera berjalan mendekati tonjolan batu tadi.

Dewi burung yang menyaksikan kejadian itu menjadi amat terperanjat, segera teriaknya.

"Engkoh Ling, aku mohon kepadamu cepatlah telan obat penyembuh luka lebih dahulu sebelum membuka batu tonjolan itu "

Nada ucapannya penuh mengandung rasa ngeri, takut, sedih dan perasaan tidak tenang.

Mendengar teriakan itu, Gak In Ling semakin percaya bahwa apa yang diduganya semula sedikitpun tidak salah, ia segera tekan tonjolan batu itu dan tanpa berpaling serunya.

"Engkau tak usah takut, cepat salurkan hawa murni untuk melindungi jantung, jangan biarkan sari racun menyerang kedalam jantungmu."

Habis berkata ia coba memutar tonjolan batu itu kekanan, tetapi tidak berhasil memutarnya diikuti diapun berputar ke kiri namun tetap tidak bergeming barang sedikitpun juga.

Ketika Dewi burung bong menyaksikan Gak In Ling begitu menaruh perhatian terhadap dirinya, dalam hati gadis tersebut merasa girang dan terhibur, dengan suara manja segera pintanya.

"Asal engkau dapat menyembuhkan luka dalam yang kau derita, itu sudah lebih dari cukup, engkau tak usah mengkhawatirkan diriku, aku masih bisa bertahan agak lama."

"Bagus sekali " pikir Gak In Ling didalam hati," ternyata engkau si dayang cilik pandai juga membohongi orang ?" Segera serunya.

"Engkau tak usah mengkhawatirkan diriku lagi, buang waktu dengan percuma sama sekali tak ada gunanya."

Selesai berkata dengan sekuat tenaga ia tekan batu itu ke bawah.

Mendadak terdengar suara gemerincing yang amat nyaring berkumandang memecahkan kesunyian, batu itu perlahan-lahan tenggelam ke-bawah sedangkan dari atas dinding tembok pun berbunyi gemericit.

Mendengar suara tersebut, Gak In Ling menjadi sangat kegirangan, teriaknya dengan cepat.

"Haaaaahh,....... haaaaahh haaaahh kali ini aku berhasil menemukan rahasia tersebut"

Hawa murninya disalurkan kedalam lengan dan sekuat tenaga ditekan ke arah bawah.... Kraaakk Tonjolan batu itu tenggelam seluruhnya kebawah dan rata dengan permukaan tanah.

Tonjolan batu itu bukan lain adalah kunci yang mengendalikan buka tutupnya pintu rahasia, sesudah batu tonjolan tadi tenggelam kedasar tanah, suara gemericing yang menggema diangkasapun semakin nyaring, diikuti "Blaaamm " Dari atas dinding sebelah depan muncullah sebuah pintu gua yang lebarnya mencapai empat lima depa.

Bau amis dan lembab berhembus keluar dari dalam gua, begitu busuk baunya sehingga membikin perut orang menjadi mual dan ingin muntah rasanya.

Tanpa sadar Gak lu Ling mundur dua langkah ke belakang, ketika, ia memandang kearah depan maka terlihatlah gua tersebut gelap gulita, kedua belah samping dinding gua telah ditumbuhi lumut hijau, berjuta-juta ekor binatang kecil yang tak diketahui namanya merambat diseluruh dinding gua itu, dasar gua jauh lebih rendah daripada permukaan tanah sebelah depan, bahkan secara lapat-lapat seperti terlapis oleh air.

Lama sekali Gak In Ling mengawasi gua batu itu, hatinya merasa ragu-ragu dan sangsi, sekarang ia baru mengerti kenapa Malaikat raksasa bermuka merah sudah begitu lama berjaga-jaga didalam gua tersebut dan apa sebab selama ini tak berani masuk kedalam gua, rupanya suasana demikian memang gampang sekali mendapat sergapan sehingga terluka. Dalam hati Dewi burung hong merasa takut sekali, dengan suara memohon serunya. "Engkoh Ling, jangan pergi aku takut"

"Kalau aku tidak masuk kedalam, racun yang mengeram didalam tubuhmu akan disembuhkan dengan apa ?"

"Aku tak mau disembuhkan-" jawab Dewi burung hong tanpa berpikir panjang lagi," engkoh Ling, kemarilah, Maukah engkau peluk tubuhku? Aku rela mati dengan hati tenang dalam pelukanmu. "

Gak In Ling menghela napas panjang-panjang.

"Aaaaii dahulu, mungkin aku dapat berbuat demikian, dan sekarang aku tak bisa berbuat begitu "

"Kenapa??"

"Sebab engkau tidak jahat, hatimu sebenarnya tidak sesat dan engkaupun tidak kejam," jawab Gak In Ling sambil mempertimbangkan bagai mana caranya memasuki gua tersebut.

"Andaikata aku sesat dan jahat ?"

Pada waktu itu Gak In Ling sudah berhasil menemukan cara untuk memasuki gua tersebut, ia segera pejamkan matanya untuk menyesuaikan diri dengan kegelapan dan kemudian menjawab.

"Itu hanya pura-pura saja untuk diperlihatkan kepadaku, dalam kenyataan engkau bukanlah manusia seperti itu."

Tiba-tiba ia enjotkan badan dan meluncur masuk kedalam gua.

Dewi burung hong menjadi ketakutan setengah mati sehingga berseru tertahan, teriaknya.

"Oooohh " Thiaa yang maha kuasa, Thian yang maha agung, dahulu aku tidak percaya akan kekuasaan Mu, akan tetapi sekarang aku telah percaya, aku mohon kepadamu sudilah kiranya melindungi keselamatan engkoh Ling sehingga dapat keluar dari gua dalam keadaan selamat, walaupun aku harus mati akibat keracunan hatiku juga rela."

Mengikuti gumam suara doanya, dua baris air mata terjatuh berlinang membasahi pipinya yang pucat pias.

Mungkin, tindak tanduk Gak In Ling yang muncul karena dorongan setia kawan tersebut telah melelehkan hati gembong iblis ini.

Sementara itu Gak In Ling dengan gerakan yang cepat bagaikan sambaran kilat telah meluncur masuk kedalam gua, dengan cepat ia lepaskan topeng setan yang menutupi muka agar gerak geriknya lebih leluasa.

Baru saja dia membuka matanya, tiba-tiba tampaklah segumpal kabut berwarna merah telah muncul dihadapan mukanya, ia menjadi amat terperanjat, buru-buru pernapasannya ditutup dan badannya melayang mundur beberapa tombak kebelakang, kebetulan punggungnya menempel diatas dinding batu yang lembab, ketika sorot

matanya menyapu kesekeliling tempat itu, Gak In Ling menjadi amat terperanjat.

Tampaklah gua itu panjangnya tiga puluh tombak dengan lebar dua puluh tombak. empat penjuru dinding gua penuh ditumbuhi lumut hijau, atap gua pun sama keadaannya, berhubung lumut hijau tumbuh amat tebal maka dari celah-celah lumut hijau tadi terpancarlah serentetan cahaya yang lemah, mungkin dahulunya gua tersebut terang-benderang seperti halnya dengan suasana diluar gua.

Setelah memeriksa sekejap sekeliling tempat itu, dengan cepat Gak In Ling pusatkan kembali perhatiannya ke tengah gua, apa yang dilihatnya membuat pemuda itu menjerit tertahan karena terkesiap.

Terlihatlah seekor ular aneh bertubuh warna hijau keabu-abuan yang besar badannya seperti gentong air sedang angkat kepalanya menatap kearah dirinya, kepala ular aneh itu besar seperti guci arak bentuknya runcing bagaikan sekop. diatas ujung kepalanya tumbuh gumpalan daging berwarna merah darah seperti jengger ayam, jengger tersebut terbagi menjadi lima cabang yang masing-masing cabang berbentuk seperti gergaji pendek. ditinjau dari bentuknya yang tegang dan keras jelas bukan daging melainkan tulang.

Pada saat itu ular raksasa tersebut sedang membentangkan mulutnya lebar-lebar sehingga tampak dua buah taringnya yang putih dan keras lidah yang berwarna merah menjulur menyusup diantara taring yang tajam, panjangnya setengah depa dan kelihatan mengerikan sekali.

Seluruh badan ular aneh itu melingkar ke atas sebuah batu warna kuning berbentuk pembaringan yang lebarnya lima depa dengan panjang beberapa depa, tubuhnya yang melingkar bertumpuk-tumpuk menjadi lima enam lipatan, bersusun-susun begitu tinggi membuat orang sukar meuduga berapakah panjang badan ular tersebut.

Pembaringan berwarna kuning itu merupakan tempat yang paling aneh dalam gua tersebut, bukan saja sama sekali tidak tumbuh lumut hijau, bahkan tidak nampak pula tanda-tanda lembab, diatas batu pembaringan juga tidak nampak ular yang merambat disana.

Berhadapan muka dengan makhluk ganas seperti itu, Gak In Ling tidak berani bertindak gegabah, secara lapat-lapat dia hanya melihat diatas pembaringan batu itu agaknya terdapat sebuah kotak kayu serta sebilah pedang pendek yang antik dan tajam.

Mendadak Gak In Ling merasakan tangannya menjadi gatal sekali, satu ingatan berkelebat dalam benaknya, ia segera teringat bahwa diatas dinding terdapat banyak sekali binatang aneh, hatinya menjadi terperanjat dan buru-buru maju dua langka kedepan-

Tapi berhubung diatas tanahpun penuh tumbuh lumut hijau sehingga licin sekali, ketika badannya maju kedepan hampir saja tubuhnya jatah tertelungkup diatas tanah.

Menanti ia tundukkan kepalanya, maka tampaklah diatas tangannya telah penuh dirambati binatang-binatang kecil yang lunak dan gatal itu, meskipun makhluk-makhluk tersebul tidak menggigit orang, tapi dalam hati kecilnya segera timbul perasaan mual dan benci, buru-buru ia keb askan tangannya dengan harapan bisa melepaskan binatang tersebut.

Baru saja Gak In Ling mengebaskan lengannya, segumpal kabut merah yang tak berbau dan bersuara telah disemburkan dari mulut ular aneh tersebut, laksana sambaran anak panah langsung meluncur keatas wajah Gak In Ling.

Pemuda itu harus mengebaskan tangannya berulang kali sebelum berhasil melepaskan diri dari gangguan binatang kecil itu, pada saat itulah hidungnya secara tiba-tiba mencium bau amis dan busuk yang amat menusuk penciuman, ketika ia menengadah keatas bulu kuduk pada bangun berdiri karena

ngerinya, dengan cepat badannya meloncat mundur empat lima langkah kebelakang, tetapi sayang keadaan agak terlambat, ada beberapa bagian kabut merah itu yang kena terhisap olehnya.

Gak In Ling merasa kaget bercampur gusar diam-diam makinya.

"Binatang sialan, rupanya engkaupun pandai sekali melukai orang secara diam-diam."

Hawa murninya diam-diam diatur keseluruh badan, ketika isiperutnya tidak menunjukan tanda-tanda yang mencurigakan, semangatnya segera berkobar kembali, sambil meraung gusar teriaknya.

"Binatang terkutuk. lihatlan Siau-ya mu akanjagal engkau sampai mampus "

Dengan jurus Lip-pit-ngo-gak atau membumi ratakan lima bukit, dia babat batok kepal ular aneh itu.

Ular aneh itu mengandalkan sisik badannya yang keras bagaikan baja untuk melindung badan, tentu saja ia tidak pandang sebelah mati pun terhadap serangan yang dilancarkan kearahnya sambil tundukkan kepala ular aneh itu pentangkan mulutnya lebar-lebar, dengan taring tajamnya yang berwarna putih ia gigit telapak pemuda itu, gerakan tubuhnya cepat bagaikan sambaran kilat.

"Blaaaamm "^ getaran keras bergema diangkasa, percikan air memancarkan keempat penjuru, ditengah desingan puyuh berlapis-lapis binatang kecil yang merambat diatas dinding pada berjatuhan keatas permukaan air.

Ular aneh itu sendiri juga terpental badannya sampai terguling jauh sekali oleh sapuan angin puyuh yang dilepaskan Gak In Ling, entah karena sakit atau sebab lain ular aneh itu menjadi marah sekali.

Sambil berpekik aneh badannya meluncur kedepan tinggalkan pembaringan batu, kepalanya diangkat satu tombak tingginya dan menatap tajam kearah lawannya, akan tetapi binatang itu tak berani melancarkan serangan lagi, jelas pukulan yang dilepaskan Gak In Ling barusan telah menimbulkan perasaan was-was dalam hatinya.

Gak In Ling sendiri sama sekali tidak menyangka kalau pukulan yang dilancarkan olehnya sama sekali tak berhasil melukai binatang itu, dengan hati terperanjat pikirnya.

"Kekuatan dan kerasnya sisik ular aneh itu benar-benar mengejutkan hati, sedang dalam genggamanku sama sekali tidak terdapat senjata tajam untuk melakukan perlawanan, bagaimana baiknya ?"

Ketika ingatan tersebut berkelebat dalam benaknya, mendadak dia teringat bahwa diatas pembaringan terdapat sebilah pedang pendek yang nampaknya tajam sekali, hatinya menjadi sangat girang, pikirnya.

"Aku harus cepat mencari akal. sebelum racun mulai kambuh aku harus mendapatkan dahulu pedang pendek tersebut, kemungkinan besar pedang tersebut dapat melukai binatang itu."

Sesudah mengambil keputusan dalam hatinya, tangan kanannya segera diayunkan kedepan dengan jurus ci tee-cian-Ii atau tanah gersang seribu li, telapaknya langsung menghantam keatas kepala ular aneh tersebut, sementara hawa murninya diam-diam dihimpun kedalam kaki, sepasang matanya menatap tajam gerak-gerik binatang tersebut.

Sesudah menderita kerugian di tangan pemuda she Gak tersebut, kali ini ular aneh tersebut tak berani menggigit dengan mulutnya lagi, buru-buru kepalanya ditarik kebelakang Blaaam"

Ekornya yang besar menyapu kearah pinggang Gak In Ling.

Pemuda tersebut hanya mengawasi kepala ular itu, hampir saja pinggangnya kena tersapu, dalam gugupnya terpaksa ia loncat ke tengah udara untuk menghindarkan diri.

Ular raksasa itu benar-benar amat cerdik, melihat sapuan ekornya tidak berhasil mengena sasaran, ia segera membentuk barisan ular, kepalanya yang besar memagut kearah teng gorokkan lawannya secepat sambaran kilat, rupanya dia menyangka Gak In Ling yang sedang berada di udara tak mampu melancarkan serangan-

Ketika Gak In Ling melayang ketengah udara tadi, dia sama sekali tak pernah menyangka kalau makluk tersebut liciknya luar biasa, tetapi sebagai seorang pemuda yang belajar silat, membuat ia himpun tenaganya kedalam telapak di kala kakinya tak bertenaga, menyaksikan datangnya ancaman tersebut ia membentak keras. "Binatang sialan, engkau terlalu pandang rendah siau-ya mu "

Jari tangannya menyentil kedepan, lima buah jalur cahaya merah darah segera meluncur ke arah batok kepala ular aneh tersebut, bersamaan waktunya sepasang kakipun melancarkan tendangan kilat.

"Plaaakk Plaaaakk " Ditengah benturan nyaring diikuti menggemalah suara benturan dahsyat ”Blaaamm" Ular aneh tersebut berpekik kesakitan dan segera mengundurkan diri kebelakang.

Mengikuti tendangan tadi, Gak In Ling pun meloncat mundur dua puluh tombak ke belakang, ketika dia angkat kepala saking terperanjatnya sepasang mata terbelalak lebar dan mulutnya melongo, diam-diam pikirnya didalam hati.

"Hoeii........ kenapa sih ini ? Ternyata pukulan mautpun hanya mampu melukai sisiknya belaka."

Tampaklah darah segar menetes keluar dari atas kepala ular raksasa itu dan menodai permukaan air, lima lembar sisik besar sebesar mangkok berserakan diatas tanah.

Setelah menderita kerugian untuk kedua kali nya, rasa takut dan was- was ular itu terhadap Gak In Ling semakin besar, akan tetapi api kegusarannya telah berkobar, sepasang matanya yang aneh menatap wajah pemuda itu tanpa bercedip sementara mulutnya memperdengarkan desiran aneh.

Tujuan Gak In Ling adalah mendapatkan pedang pendek diatas pembaringan itu lebih dahulu kemudian baru mengandalkan senjata tersebut untuk menaklukkan sang ular, sepasang telapaknya segera diayunkan kembali melancarkan serangan dahsyat kearah ular aneh itu dengan jurus Tiang-hong-ban-li atau angin berhembus selaksa li.

Siapa tahu ular aneh tersebut hanya berpekik aneh kemudian susupkan kepalanya kebelakang dan malah mundur beberapa depa dari tempat semula, semburan kabut merah yang menyebar diudara seketika buyar dan lenyap tak berbekas sesudah termakan pukulan pemuda itu.

Gak In Ling tak menyangka kalau mahluk berbisa itu liciknya luar biasa dan sukar masuk perangkap. dalam hati pikirnya.

"Akan kulihat engkau bisa berlahan berapa lama lagi ?" Berpikir sampai disitu, secara beruntun dia lepaskan belasan buah serangan berantai.

Sungguh aneh sekali, ular aneh tersebut seakan-akan memiliki iman yang tebal, ternyata sama sekali tak sudi terpancing ataupun tinggalkan tempat kedudukannya, setiap kali Gak In Ling melancarkan sebuah serangan, diapun segera balas menyemburkan segumpal kabut merah membuat si anak muda itu tak berani bernapas.

Lama-kelamaan Gak In Ling menjadi semakin gelisah, karena ia tahu luka racun yang di-derita Dewi burung hong tak dapat ditunda lebih lama lagi, saking gelisahnya keringat dingin mulai mengalir keluar membasahi seluruh wajahnya.

Dengan berhentinya pemuda itu melancarkan serangan binatang-binatang kecil itupun mulai merambat keatas badannya.

Tiba-tiba satu ingatan berkelebat lewat dalam benak Gak In Ling, ia segera berseru. "Aaaahh Aku punya akal."

Sengaja pemuda itu maju kedepan dengan langkah gontai, lalu Bluuukk Badannya roboh terpakar diatas tanah dan seolah-olah tak dapat bangun lagi.

Meskipun ular aneh itu licik dan banyak akal, akan tetapi bagaimana juga ia tetap seekor binatang, melihat Gak In Ling roboh terkapar diatas tanah, dianggapnya korban sudah roboh karena keracunan, dengan cepat ia menerjang kebawah.

Sepasang mata Gak In Ling dengan tajam mengawasi terus batok kepala ular aneh tersebut melihat ia menyergap datang tubuhnya sama sekali tidak bergerak. ia hendak menunggu ular itu mendekat lebih jauh dia baru akan bertindak menyambar pedang dan menyerang ular aneh tadi.

Siapa tahu ketika ular aneh itu tiba pada jarak setengah tombak dihadapan Gak In Ling, ternyata binatang itu tak bisa maju lebih kedepan ketika pemuda itu menyapu sekejap kebelakang, tampaklah sebuah rantai sebesar jari tangan ternyata rantai tulang punggung ular aneh itu sehingga gerak maju ular aneh itu tidak bisa leluasa^

Ketika ular aneh itu melihat tubuhnya tidak berhasil mencapai mangsanya, nampak makhluk tersebut gelisah sekali, tubuhnya bergerak kian kemari meronta sekuat tenaga.

Menyaksikan hal itu kembali satu ingatan berkelebat lewat dalam benak Gak In Ling pula.

"Eeeeii bukankah ini adalah satu kesempatan yang baik ?"

Hawa murninya segera di himpun kedalam kakinya, dan perlahan-lahan ujung kakinya mengepal diatas tanah.

Kebetulan ketika itu Ular aneh tersebut sedang bergerak dari samping kanan, Gak In Lin tidak ragu-ragu lagi, ia membentak keras dan sepasang kakinya segera menjejak permukaan tanah, laksana anak panah yang terlepas dari busurnya ia meluncur ke arah pembaringan batu tersebut.

Ular aneh itu tidak menyangka akan ha ini, buru-buru ia putar badan dan meluncur kembali kearah pembaringan guna menghadang jalan pergi Gak In Ling, akan tetapi sayang keadaan agak terlambat.

Tatkalah Ular aneh itu meluncur kembali Gak In Ling telah meloncat naik keatas pembaringan batu dan merampas pedang pendek tersebut, lalu dicabut sekuat tenaga, akan tetapi dalam gugupnya lupa untuk memencet tombol pada pedang tadi.

Sementara pedang itu belum tercabut keluar kepala Ular aneh tadi telah meluncur kearah dadanya, pada waktu itulah Gak In Ling baru teringat bahwa dia sudah lupa memencet tombol.

Dengan cepat si anak muda itu mundur empat langkah kebelakang, tombol pedang ditekan dan-. criiiing sebilah pedang pendek yang memancarkan cahaya tajam tahu-tahu sudah tercabut keluar.

Kebetulan sekali pada waktu itu batok kepala Ular aneh tadi telah berada kurang lebih lima cun didepan dada Gak In Ling, dalam keadaan terdesak buru-buru pemuda itu menyingkir kekiri sambil membentak keras. "Kalau bukan engkau yang mampus, akulah yang binasa "

Menggunakan jurus membendung sungai mengeringkan telaga pedang pendeknya langsung membabat batok kepala ular aneh tersebut.

"Sreeeett ,. Braaaass " Darah segar memancar keempat penjuru, batok kepala Ular aneh itu mencelat keangkasa dan jatuh terbanting kurang lebih empat tombak dari kalangan.

Setelah kehilangan batok kepalanya, Ular aneh itu kehilangan daya pertahanannya, sang badan bergelindingan kian kemari menumbuk apa saja yang berada disisi tubuhnya, membuat permukaan air yang mengenangi permukaan tanah bermuncratan keempat penjuru dan berubah menjadi merah darah.

Diam-diam Gak In Ling menyeka keringat dingin yang membasahi tubuhnya sambil berbisik.

"Sungguh berbahaya sungguh berbahaya..."

Ketika sorot matanya beralih kesekitar tempat itu, maka dengan hati tercengang ia lalu berkata.

"Eeeeii aneh sekali, kenapa Ular-ular tersebut pada berjatuhan dari dinding gua?"

Ular kecil yang penuh diatas dinding gua seakan-akan berada diatas kuali yang panas pada bergulingan kian kemari, tidak selang beberapa saat kemudian telah berjatuhan kedalam air.

Setelah mengamati beberapa saat lamanya, tiba-tiba seakan-akan menyadari akan sesuatu dengan hati terkejut serunya.

"Aduuuuhh aku benar-benar sangat bodoh, hampir saja aku melupakan tugas yang penting."

Dengan pedang pendek ditangan ia segera lari menuju kearah batok kepala Ular aneh itu.

Pada saat itulah, mendadak dari mulut gua berkumandang suara seruan lirih yang lemah dari Dewi burung hong.

"Hong-ji, tariklah aku masuk lebih kedalam."

Gak In Ling berpaling dan hatinya segera terjeblos, disamping itu segulung aliran panas yang sangat aneh muncul dari pusarnya menerobos kearah bawah, tak kuasa lagi. ia menjerit kaget.

"Aaahh Kenapa engkau ?"

Tampaklah Dewi burung hong dengan wajah pucat pias bagaikan mayat sedang diseret masuk kedalam gua oleh burung hong nya, bintik bintik warna emas telah muncul disekujur badan, hal ini menunjukkan bahwa sari racun telah menyebar kesetiap bagian tubuh gadis itu.

Dengan pandangan lembut Dewi burung bong memandang sekejap kearah Gak In Ling, kemudian dengan susah payah ujarnya.

"Engko Ling, engkau tidak mengapa bukan? Aku.. aku ingin melihat wajahmu untuk terakhir kalinya "

Gak In Ling terperanjat dan segera memburu kedepan untuk memeluk tubuh Dewi burung hong kedalam rangkulannya, mungkin karena terpengaruh oleh emosi, pemuda tersebut telah melupakan perbedaan antara pria dan wanita ia membopong tubuh dara tersebut untuk kemudian dibaringkan diatas pembaringan batu itu.

Merah padam selembar wajah burung hong karena jengah, bisiknya dengan suara manja.

"Aku merasa amat mengkhawatirkan keselamatanmu sehingga tak tak dapat memusatkan pikiran untuk mengatur pernapasan, karena itulah sari racun telah menyebar keseluruh badanku."

Sambil berkata dengan manja ia membenamkan kepalanya diatas bahu pemuda itu.

Buru-buru Gak In Ling membaringkan tujuh Dewi burung hong diatas pembaringan batu, setelah menarik napas panjang untuk menekan napsu birahi aneh yang muncul dalam hatinya, ia cekal pedang pendeknya erat-erat dan menghampiri batok kepala Ular aneh itu.

"Ketika aku masuk kemari tadi bukankah telah berpesan kepadamu agar atur pernapasan baik-baik untuk melawan

racun yang mengeram dalam tubuhmu ?" omelnya sepanjang jalan, "kenapa sih engkau tidak bersedia mendengarkan perkataan ku ? Mengapa tidak kau bayangkan, apa sih gunanya menguatirkan diriku ?"

Sementara masih berbicara ia telah tiba di depan kepala Ular aneh itu dan mulai membelah kulitnya.

Terhadap omelan dari Gak In Ling tersebut, Dewi burung hong sama sekali tidak menjadi marah, sebaliknya dia malahan merasa hangat dan gembira karena omelan dari pemuda tersebut menunjukan bahwa ia menaruh perhatian khusus terhadap dirinya. "Engko bodoh," pikirnya didalam hati, "aku pun tahu atau hal itu, tapi apa gunanya ?"

Dalam pada itu Gak In Ling telah membelah batok kepala Ular aneh itu tapi tak berhasil menemukan pusaka yang bisa memunahkan racun tersebut, saking gelisahnya keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya, dalam hati pikirnya.

"Andaikata aku tidak berhasil menemukan benda itu, maka habislah sudah riwayatnya." Berpikir sampai disini, ia segera berseru.

"Nona tahukah engkau di manakah letak pusaka dari Ular aneh ini?"

"Kenapa ?Apakah dalam kantung racunnya tidak ada ?" seru Dewi burung hong dengan hati terperanjat.

"Aaah Dalam kantung racun ??" Dengan cepat pemuda itu bertindak memotong kantung racun dalam mulut ular tersebut. Dengan mengerahkan sisa tenaga yang dimilikinya Dewi burung hong berteriak:

"Jangan sekali kali kau sentuh cairan racun dengan tanganmu, cucilah mustika ular itu terlebih dahulu".

Setelah kantung racun itu terbelah, Gak In Ling segera menemukan sebuah bulatan bola sebesar telur ayam diantara cairan kental berwarna putih. Ia mengetahui bahwa benda

bulat telur itulah merupakan mustika ular, buru-buru dicukilnya benda itu kemudian dicuci kedalam air. Setelah itu baru dipegang ditangan-

Dari balik gumpalan bola itu memancar keluar hawa dingin yang aneh dan luar biasa, begitu dinginnya hingga merasuk ketulang sumsum. Keadaan amat mendesak. buru-buru Gak In ling maju ke samping pembaringan sambil bertanya: "Bagaimana cara mengggunakannya ?"

"cepatlah naik keatas " seru Dewi burung hong dengan suara amat gelisah. "Jangan sampai membiarkan air racun itu menempel ketubuhmu.."

Gak In Ling tidak tahu sampai dimanakah kelihayan dari racun yang dimiliki Ular aneh itu. Ia tak berani bertindak gegabah. Lagi pula ketika menyaksikan banyak binatang kecil dan ular memenuhi permukaan air membuat hatinya benar-benar merasa bergidik, karena itu tanpa berpikir panjang lagi ia segera loncat naik keatas pembaringan.

Sementara itu nafsu birahi yang sangat aneh berkobar dalam tubuh Gak In Ling makin nyata dengan keheranan pikirny a . "Apa sih yang telah terjadi ?"

Dewi burung hong rupanya juga merasakan akan perubahan sikap si anak muda itu, ia segera berpaling dan mengawasi muka Gak In Ling yang merah padam, dengan pengetahuannya ia tahu bahwa warna tersebut bukan warna asli dari mukanya, maka dengan hati terkejut tegurnya.

"Engko Ling, mengapa engkau ?" Gak In Ling merasa sangat malu, buru-buru ia tarik napas panjang untuk menekan nafsu birahi yang berkobar dalam dadanya itu kemudian tanyanya lirih.

"Bagaimana caranya untuk menyembuhkan luka racunmu itu ?"

"Harus....... harus..." seru Dewi burung hong tergagap. merah padam selembar wajahnya karena jengah.

Pada saat itu Gak Ing Ling menderita sekali sehingga sukar ditahan, menyaksikan hal itu dengan gusar segera bentaknya.

"Engkau kenapa sih ? Ayoh cepatjawab " Air muka Dewi burung hong berubah hebat, dua titik air mata jauh berlinang membasahi pipinya, dengan sedih ia menjawab. "Tempelkan mustika ular itu diatas mulut lukaku "

Gak In Ling mengetahui bahwa gadis itu berwatak keras hati, sekarang ia bisa menangis hal ini menbuktikan bahwa perkataan yang diutarakan barusan terlalu berlebihan, buru-buru serunya.

"Nona maafkanlah aku " Sesudah berhenti sebentar terusnya," di manakah letak mulut luka mu ?"

"Baiklah, akan kuberitahukan kepadamu." pikir Dewi burung hong sambil menghela napas, "siapa suruh aku berjumpa dengan pemuda seperti dirimu ?"

Setelah ambil keputusan, iapun menjawab "Lukaku berada diatas punggung " Perasaan hati Gak In Ling pada saat ini mendidih bagaikan minyak dalam kuali, mukanya merah padam dan ia tak berani memandang paras muka Dewi burung hong yang cantik, setelah mendengar penjelasan tersebut buru-buru gadis itu dibalikkan badannya dan punggungnya diperiksa.

Tampaklah diatas punggungnya muncul sebuah bisul sebesar telur ayam, akan tetapi berhubung bajunya berwarna merah maka sukar untuk membedakan mana darah dan mana pakaian-

Dengan cepat Gak In Ling membuat sebuah lubang kecil diatas bajunya, ketika melihat keadaan punggungnya ia berseru tertahan, rupanya kulit badan disekitar luka telah

berubah menjadi hitam pekat, bau busuk tersiar keluar memuakkan perut.

Gak In Ling membersihkan pedang pendeknya lalu membelah mulut luka itu, cairan hitam yang berbau busuk meleleh keluar membasahi pakaiannya.

Buru-buru Gak In Ling menempelkan mustika Ular itu pada mulut lukanya, sungguh aneh sekali, ketika mustika itu menempel pada kulit badan muka air berwarna hitam yang bercampur dengan darah itu segera dihisap oleh gumpalan bulat telur yang berwarna putih tadi.

Diam-diam Gak In Ling menghela napas panjang, namun nafsu birahi yang sangat aneh tadi kian lama berkobar makin hebat, andaikata pemuda itu tidak memiliki dasar iman yang tebal sehingga mengendalikan kesadaran otaknya, mungkin pada saat itu dia sudah tak mampu untuk menguasahi dirinya sendiri.

Waktu berlalu dengan cepatnya tanpa terasa akan tetapi Gak In Ling dalam keadaan seperti ini merasakan waktu terlalu lambat sekali, sedetik bagaikan puluhan tahun lamanya, biji mata yang jeli berubah menjadi merah darah, sepasang tangannya gemetar keras dan keringat sebesar kacang kedelai mengucur keluar tiada hentinya membasahi wajahnya yang tampan-

Akhirnya Dewi burung hong memperdengarkan rintihan lirih, lengan dapat bergerak kembali dan gadis itupun mulai mengatur pernapasan untuk mendesak keluar racun yang masih tersisa dalam tubuhnya.

Dalam pada itu mustika racun telah berubah warnanya menjadi hitam pekat, tidak selang beberapa saat kemudian darah yang mengalir ke luar dari mulut luka telah berubah menjadi merah, sedangkan kulit luar warna hitampun telah pulih kembali menjadi merah.

Gak In Ling menghembuskan napas panjang, dengan susah payah katanya. "Sudah sehatkah badanmu ?"

Meskipun Dewi burung hong tak dapat menyaksikan perubahan wajah Gak In Ling, akan tetapi ia tahu bahwa si anak muda itu sudah menderita luka dalam yang parah, ia menjerit kaget dan bangun duduk. sementara mustika ular itu terjatuh dari tangannya.

Dewi burung hong melihat wajah Gak In Ling berubah menjadi merah darah, dengan hati terperanjat serunya.

"Aaaahh Engko Ling. kenapa engkau ?" Gak In Ling merasa bahwa wajah gadis itu menjadi merah padam bagaikan api yang berkobar, suatu daya rangsangan yang tepat terpancar keluar dari wajahnya, hal ini membuat napsu birahi yang bergelora dalam dadanya makin memuncak.

Pemuda itu berusaha keras untuk memperingatkan diri sendiri, katanya didalam hati.

"Gak In Ling, kalau engkau tak dapat menguasai diri sendiri maka jika engkau tidak akan menjumpai bencana pembunuhan maka engkau akan merusak kesucian seorang gadis yang suci bersih, engkau ,. dapatkah engkau berbuat sekejam itu ? Tidak tidak dapat "

Kendatipun begitu, ia tak dapat menguasai diri sendiri, selangkah demi selangkah ia maju mendekati tubuh gadis tersebut.

Tenaga dalam yang dimiliki Dewi burung hong pada saat ini telah pulih kembali sebagian besar, ketika menyaksikan sorot mata Gak In Ling memancarkan sinar kebuasaan sinar yang sangat mengerikan, dengan cepat hawa murninya dihimpun kedalam telapak dan bersiap siaga menghadapi segala kemungkinan yang tidak di inginkan-

"Engko Ling "jeritnya dengan hati terperanjat, "kau apa yang hendak kau lakukan?"

Lebar pembaringan batu itu hanya satu tombak lebih sedikit, setelah mundur beberapa langkah kebelakang Dewi burung hong sudah terdesak sampai disudut dinding, ha ini membuat gadis tersebut menjadi sangat gelisah, dengan sorot mata memancarkan cahaya penuh napsu membunuh hardiknya keras-keras. "Gak In Ling, begitu rendahkah moralmu itu ?"

Suaranya keras bagaikau guntur yang membelah bumi disiang hari bolong, membuat telinga menjadi amat sakit.

Kesadaran otak Gak In Ling pulih kembali menjadi terang, satu ingatan berkelebat dalam benaknya dan buru-buru ia duduk bersila tanah, bisiknya dengan suara lirih. "Luka yang kau derita telah sembuh, cepatlah pergi dari sini ?"

Sementara masih berbicara, mendadak sorot matanya membentur dengan sebutir mutiara merah dan secarik kain kuning yang terletak disamping peti kayu, dengan cepat ia periksa kain itu yang ternyata tercantum beberapa patah kata di atasnya.

"Kabut merah Ular berjengger adalah racun yang paling kabut dikolong langit, sang korban apabila tidak mengadakan hubungan kelamin dengan lawan jenisnya maka ia akan mati karena kekeringan, aku tidak ingin mustika yang kumiliki ini terjatuh ketangan orang lain maka sengaja ku peringatkan, bila engkau mempunyai niat tersebut silahkan cabut keluar mutiara merah itu." Tertanda : Kiu-ci-mo."

Tiba-tiba terdengar Dewi burung hong menegur. "Bagaimana dengan engkau sendiri?"

Mendengar suara merdu yang penuh daya tarik itu, sekujur badan Gak In Liag gemetar keras, hampir saja ia tak mampu untuk menguasai dia sambil loncat bangun bentaknya keras-keras. "cepat pergi dari sini "

Sekujur badan Dewi burung hong bergetar keras, tiba-tiba ia berseru. "Aku justru tidak mau pergi, engkau mau apa ?"

Gak In Ling mengangkat wajahnya yang tampan dan memoinn dengan sangat.

"Nona, demi kebaikanmu sendiri.. aku memohon kepadamu, cepatlah pergi cepatlah tinggalkan tempat ini."

Semakin memandang Dewi burung hong semakin keheranan, seakan-akan ia telah memahami akan sesuatu, mendadak sekujur badannya gemetar keras, dengan penuh penderitaan katanya.

"Dikolong langit tiada racun yang tak dapat disembuhkan, dapatkan engkau bersabar diri ?"

"cepatlah pergi dari sini, aku jauh lebih mengerti daripada dirimu..."

"Mengapa engkau selalu saja mengusir diriku ?"

"cepat enyah dari sini " bentak Gak In Ling dengan penuh kegusaran-

Selama hidup Dewi burung hong sudah terbiasa dimanja dan disayang, sudah tentu ia tidak kuat kalau dibentak seperti itu hawa amarahnya memuncak dalam benaknya dan ia segera loncat keluar dari gua itu,, serunya lantang. "Hong-ji, kita pergi dari sini "

Kendatipun hawa amarah telah berkobar dalam benaknya, tak urung juga sinar matanya melirik sekejap kearah Gak In Ling yang sedang duduk terpekur dengan kepala tertunduk. Bagaimana pun juga gadis itu tetap merasa berat hati untuk tinggalkan tempat itu.

Tampak Gak In Ling mengambil pedang pendek tadi dan membacok peti kayu diatas pembaringan batu itu dengan sepenuh tenaga, dari dalam peti muncullah sebuah pakaian panjang dan besar yang berwarna hitam bercahaya. Dewi burung hong merasa amat kecewa, pikirnya.

"ooohh Engkau mengusir aku karena takut aku minta bagian benda mustika itu. Hmm Terlalu picik pikirannya."

Sebelum gadis itu sempat berlalu, tiba-tiba terdengarlah Gak In Ling berkata dengan nada dingin-

"Sekalipun aku orang she Gak harus mati keracunan ditempat ini, juga tak nanti akan kupenuhi harapanmu itu "

Kemudian ia menengadah keatas dan bergumam seorang diri.

"Ayah ibu harap kalian bersedia untuk memaafkan diriku, maafkanlah kalau aku tak dapat membalaskan dendam atas kematian kalian berdua...."

Setelah menghela napas panjang, tiba-tiba ia ayunkan pedang pendeknya dan menggorok ke-arah leher sendiri.

Dewi burung hong yang menyaksikan kejadian itu menjadi amat terperanjat, jeritnya. "Engko Ling, jangan-.."

Ia meloncat kedepan, dengan gerakan yang amat cepat sehingga sukar dilukiskan dengan kata kata gadis itu menubruk kearah Gak In Ling, jari tangannya menyentil kedepan-. traaaaang

Pedang pendek dalam genggaman si anak muda itu mencelat dari cekalannya dan rontok keatas tanah, mungkin karena terpengaruh oleh emosi dipeluknya pemuda itu erat-erat. Mula-mula dengan andalkan sedikit kesadaran-otaknya Gak In Ling masih dapat mempertahankan diri, akan tetapi sekarang setelah pedang pendeknya disampok hingga terjatuh dan lagi hidungnya mencium bau harum seorang gadis yang aneh, kesadaran otak yang masih mengendalikan moralnya pun ikut tersapu lenyap sehinnga tak berbekas.

"Adikku sayang...oooh! Adikku sayang..." bisiknya dengan suara gemetar.

Mendadak ia menubruk Dewi burung hong dan memeluk tubuhnya erat-erat. Dewi burung hong menjadi amat terperanjat, segera bentaknya:

"Hey tahan...Gak In Ling...tahan...dengarkan perkataanku ini...! Gak In Ling, jangan kau lakukan..."

Gak In Ling dapat mendengar semua jeritan itu, akan tetapi dalam keadaan demikian ia tak dapt mengendalikan dirinya lagi, sepasang lengannya bagaikan ular berbisa mulai berkeliaran meraba dan menggerayangi sekujue badan gadis itu, terutama pada bagian payudara dan lekukan lembah diantara kedua belah pahanya.

Dewi burung hong adalah seorang gadis perawan yang masih suci bersih, diperlakukan sedemikian

kasarnya oleh seorang pria muda, hatinya menjadi ketakutan setengah mati, sehingga keringat dingin mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya, ia tak tahu apa yang harus dilakukan pada saat ini, gadis itu hanya bisa membentak dan membentak tiada hentinya. 

Namun bentakannya itu sama sekali tak mendapat tanggapan bahkan penggerayangan dilakukan semakin menggila, mengikuti makin berkobarnya daya kerja racun tersebut dalam badan, gerak gerik Gak In Lingkian lama bertambah ketakutan.

Tiba-tiba nafsu membunuh melintas diatas wajahnya dan memancar keluar dari balik biji matanya yang jeli, hawa murni segera dihimpun ke dalam tangan kanan, lalu dengan nada menyeramkan bentaknya.

"Gak In Ling...kalau engkau tidak lepas tangan lagi, jangan salahkan kalau nonamu tidak akan mengingat hubungan kita di masa lalu"

(halaman 57-60 dirobek penerbit; kira-kira kisahnya terjadi hubungan intim tidak sengaja antara Burung hong indah dan pemuda ini)

"Engko Ling engko Ling kau... kenapa engkau ?"

Gak In Ling menggerakkan kelopak matanya dengan berat, namun hanya sebentar kemudian ia sudah pejamkan kembali matanya.

"Lepaskan aku " bisiknya dengan payah, "aku merasa lelah sekali "

Dewi burung hong sudah merasakan keadaan yang tidak beres, sekarang iapun mulai menyadari bahwa peristiwa yang barusan berlangsung bukan dilakukan oleh pemuda itu dalam keadaan sadar, jelas ia telah terkena sejenis racun yang amat ganas.

Setelah kehormatannya dan kesucian tubuhnya diserahkan kepada pemuda itu, tentu saja ia tak berani berayal setelah mengetahui bahwa pemuda itu keracunan.

Sambil mengepos tenaga ia salurkan hawa murninya mengelilingi badan satu kali, kemudian menempelkan telapaknya diatas jalan darah Pek-hui-hiat diatas badan pemuda she Gak tersebut.

Waktu berlalu dalam keheningan, Dewi burung hong masih tetap tidak merasakan akan pancaran air dingin yang masih menyembur keluar dengan dahsyatnya itu, mungkin gua itu sampai ambruknya ia juga tak akan merasakan-

Air muka Gak In Ling yang pucat pias kian lama kian berubah menjadi merah padam, dan akhirnya pulih kembali menjadi sedia kala, kendatipun begitu beberapa jam telah dilewatkan tanpa terasa.

Gak In Ling membuka matanya lalu menjerit kaget, dengan cepat tanjannya mendorong ke arah tubuh Dewi burung hong.

Tetapi ketika tangannya baru saja diangkat tiba-tiba dalam benaknya terlintas satu pikiran, dengan cepat ia tarik kembali tangannya sambil bergumam seorang diri. "Barusan barusan agaknya aku telah melakukan sesuatu perbuatan?"

Mendadak Gak In Ling menjerit kaget, ia cekal lengan Dewi burung hong kencang-kencang dan berseru.

"Nona, apa yang telah kulakukan barusan?" Sementara itu Dewi burung hong telah menarik kembali hawa murninya, sambil menyeka keringat yang membasahi wajah ia menjawab

"Kalau engkau sudah melihat keadaanku pada saat ini, semestinya engkau pun tahu apa yang telah terjadi "

Berbicara sampai disitu, merah padamlah selembar wajahnya karena jengah.

Sekarang Gak In Ling telah menyadari apa yang telah dilakukan atas diri gadis tersebut, dengan pandangan kaku di tatapnya wajah Dewi burung hong kemudian serunya dengan hati gugup.

"Selama hidup engkau tak akan mengampuni diriku, aku tahu, engkau pasti akan membenci diriku "

Dewi burung hong tundukkan kepalanya dengan wajah tersipu, bisiknya lirih.

"Asal engkau tidak menyia-nyiakan diriku, aku... aku bersedia mendampingi dirimu untuk selamanya "

"Benar, selamanya aku tak akan tinggalkan dirimu. Aaaaah... Hal ini tidak mungkin-"

Mendengar perkataan itu, air muka Dewi burung hong berubah hebat, napsu membunuh seketika menyelimuti wajahnya, dengan nada dingin serunya. "Kenapa tidak mungkin ??"

Gak In Ling menyapu sekejap kearah gadis itu dengan pandangan hambar, lalu menghela napas panjang.

"Aaaaii Lebih baik bunuhlah diriku."

Ucapan itu amat menyedihkan hati Dewi burung hong, dalam keadaan seperti ini ia tak tahu mesti menyesal ataukah benci, segera hardiknya. "cepat katakan Aku ingin tahu kenapa tidak mungkin ?"

-ooo0dw0ooo-