Telapak Setan Jilid 17 : Ngo Gak sin-kun tiba

Jilid 17 : Ngo Gak sin-kun tiba

DENGAN pandangan tajam Gak in Ling menyapu sekejap sekeliling tempat itu, dia merasa puncak tebing itu merupakan tanah datar yang luasnya mencapai beberapa li, di situ kecuali tumbuh semak belukar tiada pepohonan yang tumbuh, sehingga keadaannya nampak tenang dan menyedihkan-

Dengan langkah cepat Gak In Ling bergerak menuju kearah mana burung hong tersebut rontok kebumi, ketika tiba d itepi jurang dan melongok kebawah maka terlihatlah dibawah tebing merupakan sebidang tanah lembah yang berbentuk bulat, empat penjuru sekelilingnya tidak nampak ada jalan keluar, rumput hijau tumbuh dengan suburnya bagaikan permadani, diatas rumput menggeletak beberapa sosok kerangka putih beberapa ekor kelabang berwarna emas berseliweran diantara kerangka manusia tersebut sehingga keadaannya nampak sangat menakutkan-

Sekeliling tanah berumput yang berbatasan dengan kaki tebing terdapat banyak sekali gua-gua kecil, Ular beracun dan kelabang emas bergerak kesana kemari dengan amat bebas,

rupanya gua-gua kecil tersebut merupakan tempat ular berbisa dan kelabang emas itu menghuni.

Di hadapan Gak In Ling, dibawah kaki tebing terdapat sebuah gua batu yang sangat besar, dua buah pintu besar tertutup rapat, dan satu hal yang aneh ternyata makhluk-makhluk berbisa itu tak seekorpun yang berani mendekati daerah gua tersebut sejauh tiga tombak.

Setelah memandang keadaan disekitar situ beberapa saat lamanya, Gak In Ling segera berpikir.

"Jangan-jangan para jago dari perguruan Pit-Tiong bersembunyi didalam gua tersebut?"

Mendadak terdengar suara teguran merdu berkumandang datang.

"Apakah engkau telah melihat orang-orang dari perkumpulan Thian-hong pang ?"

Gak In Ling menjadi terperanjat ketika mendengar teguran itu, dia segera sadar dari lamunannya dan berpaling.

Kurang lebih satu tombak dihadapan tubuhnya berdirilah Gadis suci dari Nirwana yang mengenakan pakaian putih, satu ingatan segera berkelebat dalam benaknya, ia berpikir. "Sejak kapan dia naik kemari ? Jangan-jangan orang tersebut mati ditangannya ?" Berpikir sampai disini ia segera menjawab dengan hambar. "Belum pernah kujumpai dirinya " setelah berhenti sebentar, ujarnya lagi.

"Apakah orang-orang itu mati dibunuh oleh Leng cu ?" Seraya berkata ia tunjuk kearah mayat-mayat yang bergelimpangan diatas tanah.

"Hmm Kenapa aku mesti membunuh orang-orang itu ?" Gak In Ling mengerutkan dahinya.

"ooohh.. Kalau begitu dugaanku tidak benar ?" sahutnya.

"Hmm Kenapa engkau harus menduga diriku ?" Kali ini suaranya tidak sedingin dan seketus tadi lagi.

"Tidak mengapa, karena aku belum sempat melihat kehadiran Thian-hong pangcu disini, maka aku menaruh curiga bahwa orang-orang itu mati dibunuh oleh Leng cu."

"Meskipun orang-orang itu bukan dibunuh olehku, aku percaya juga bukan hasil karya dari Thian-hong pangcu."

Tiba-tiba terdengar serentetan suara merdu menyambung:

"Sedikitpun tidak salah, orang-orang itu memang bukan mati ditanganku "

Bersama dengan ucapan tadi, kurang lebih lima tombak dari hadapan mereka lambat-lambat muncullah Thian-hong pangcu berikut anak buahnya. Gadis suci dari Nirwana segera merasakan hatinya bergerai pikirnya.

"Kali ini aku bakal menderita rugi kalau sampai bentrok. orang-orangku belum tiba disini."

Sementara itu Thian-hong pangcu telah menegur sambil tertawa dingin. "Apakah Leng cu seorang diri ?"

"IHeeeehh heeeehh.... heeeeh bagi diri pangcu, inilah suatu kesempatan yang-sangat baik." Thian-hong pangcu tertawa dingin-

"Meskipun Siau-moay menyadari bahwa kepandaian silatku masih bukan tandingan dari Leng cu, akan tetapi persoalan diantara kita berdua rasanya tak perlu dicampuri oleh pihak ketiga."

"Hmm Kalau begitu akulah yang menarik keuntungan dalam peristiwa ini." seru gadis suci dari Nirwana sambil melangkah maju kedepan. Gak In Ling yang menyaksikan kejadian itu menjadi amat gelisah, diam-diam serunya di dalam hati.

"Bagus sekali Setelah kalian saling bertemu muka, kecuali berkelahi rasanya lucu persoalan lain yang kalian pikirkan lagi."

Pemuda itu tak tahu apa yang mesti dikatakan pada saat ini, sebab menurut pengalaman yang diperolehnya pada kejadian lampau, ia tahu bilamana dia menasehati salah satu pihak diantara mereka, maka pihak lain pasti akan merasa tidak setuju.

Pada saat yang amat kritis itulah, tiba-tiba dari puncak tebing seberang bergema datang suara gelak tertawa seseorang, disusul seorang berseru lantang.

"Haaaahh haaaaahh haaaaaah bukankah kedatangan kalian berdua mengandung maksud serta tujuan yang sama ? Kini bencana besar belum berhasil dilenyapkan, apa sebabnya karena satu urusan sepele kalian berdua harus bertempur sendiri ? Apakah tindakan kalian itu tidak keliru besar ?"

Gak In Ling segera alihkan sorot matanya kearah mana berasalnya suara itu, tampaklah seorang kakek tua berambut putih berbaju biru dan berusia diantara sembilan puluh tahunan berdiri kekar dihadapannya, orang itu memiliki perawakan badan yang tinggi besar dan kekar berotot alisnya panjang matanya besar, mukanya merah seperti bayi dengan sepasang mata memancarkan cahaya tajam, dibalik kegagahan terselip pula keagungan-

Dibelakang tubuh orang itu berdirilah pria wanita yang berjumlah dua tiga puluh orang lebih, semuanya memiliki sorot mata yaag tajam dan jelas merupakan jago-jago berkepandaian tinggi.

"Sungguh keren dan gagah orang itu," dalam hati diam-diam Gak In Ling memuji.

Gadis suci dari Nirwana serta Thian-hong pangcu berdua setelah melihat siapa yang muncul, hawa amarah yang semula berkobar dalam dada mereka seketika lenyap tak berbekas, katanya hampir berbareng.

"ooooh... rupanya Ngo- gak Sin- kun Sungguh tak nyana disebabkan persoalan ini, engkau harus melakukan perjalanan sendiri."

Cukup didengar dari nada ucapan tersebut, dapat diketahui bahwa kedudukan orang ini dalam dunia persilatan sangat tinggi, sebab bagaimanapun juga kedua orang gadis itupun merupakan pemimpin dua persilatan-

Lain halnya dengan Gak In Ling, ketika mendengar orang itu bukan lain adalah Ngo-gak sin- kun, jantungnya seakan-akan dihantam oleh martil yang beratnya mencapai seribu kati, tanpa terasa dengan wajah berubah hebat ia mundur dua langkah kebelakang. Terdengar Ngo-gak Sin- kun sambil tertawa telah berkata.

"Aku sebagai salah seorang umat persilatan ikut bertanggung jawab atas mati hidupnya di- dunia kita ini. Walaupun aku sudah lanjut usia namun sebagai umat persilatan sudah sepantasnya kalau menyumbangkan sedikit pikiran demi generasi yang akan datang."

sementara berbicara sampai disitU, bersama-sama anak buahnya ia telah tiba di hadapan semua orang.

Sementara itu dipihak lain muncul pula para jago dari perkumpulan Nirwana. Thian-hong pangcu segera tertawa merdu dan bertanya. "sin-kun, bagaimana rencanamu ?"

"Dewi burung Hong telah kena dihantam oleh Leng cu sehingga terjatuh kedalam jurang, entah dia sudah mati atau belum ?" Ujar Ngo-gak sin-kun.

Merah jengah selembar wajah Gadis suci dari Nirwana mendengar ucapan tersebut, buru-buru jawabnya .

"Aku lihat dia hanya melayang turun kedasar lembah, agaknya berhenti diatas sebuah batu karang yang menonjol keluar."

Wajah Ngo-gak Sin-kun berubah menjadi amat serius, dia berkata.

"Perempuan ini tak dapat dibiarkan hidup dikolong langit, kalau tidak maka dunia persilatan mulai sekarang akan sukar menjadi tenang dan tentram, persoalan yang paling mendesak dewasa ini adalah bagaimana caranya membinasakan perempuan tersebut."

Gadis suci dari Nirwana serta Thian hong pangcu merasa perkataan itu sedikipun tidak salah, kalau sampai menunggu Dewi burung Hong berhasil menyembuhkan sakitnya maka sulitlah bagi mereka untuk turun tangan-

Dalam pada itu Perempuan naga peramal sakti telah menghampiri ketuanya, setelah memandang sekejap kearah Ngo-gak Sin-kun dia bertanya. "Apakah Sin-kun ada maksud untuk mengutus orang pergi kesana ?"

"Aku memang mempunyai maksud untuk berbuat begitu, akan tetapi aku khawatir sebelum orang itu tiba ditempat tujuan, terlebih dahulu sudah menderita luka di tangannya."

"Karena itu kita harus mengutus seorang yang tak mungkin dibunuh olehnya, bukan begitu ?" Sambung Perempuan naga peramal sakti sambil tertawa.

Mendengar perkataan itu baik Gadis suci dari Nirwana maupun Thian-hong pangcu sama-sama merasa amat terperanjat, empat buah mata yang jeli tanpa sadar bersama-sama dialihkan ke atas wajah Gak In Ling, tetapi ketika sorot mata mereka membentur dengan sinar mata pemuda tersebut, hati mereka berdua segera tercekat dan membathin.

"oooh Betapa dinginnya sorot mata orang itu, baru pertama kali ini kujumpai sorot mata orang sedingin itu."

Ngo-gak sin-kun tidak tahu seluk-beluknya persoalan, mendengar ucapan itu ia tertegun dan segera alihkan sorot matanya kearah para jago yang berada dibelakang tubuhnya, ia mengira orang yang dimaksudkan oleh Perempuan naga peramal sakti berada diantara kedua sampai ketiga puluh orang jago tersebut..."

Para jago sendiri diam-diampun merasa terkesiap. tapi dihadapan Ngo-gak sin-kun mereka tak ingin menunjukan perasaan tersebut.

Sesudah memandang beberapa saat "wajah" para jagonya dan tidak berhasil menemukan orang yang dicari, akhirnya Ngo-gak Sin-kun alihkan kembali sinar matanya kearah Perempuan naga peramal sakti dan bertanya.

"Bolehkah aku tahu siapakah yang dimaksudkan oleh Perempuan naga ?"

Perempuan naga peramal sakti alihkan sinar matanya keatas wajah Gak In Ling, kemudian bertanya. "Apakah saudara bersedia pergi kesana ?"

Gadis suci dari Nirwana serta Thian-hong pangcu terperanjat, Leng cu, dari perkumpulan Nirwana itu segera membentak dengan gusar.

"Apakah engkau tidak merasa bahwa setiap tindakkan mu tiada kemungkinan untuk berbuat salah ?"

Jelas dari nada suara itu, betapa tidak puasnya gadis cantik ini terhadap usul dari juru pikirnya.

Tentu saja Perempuan naga peramal sakti dapat meresapi pula perasaan hatinya dari Leng cu nya. akan tetapi dalam keadaan begini dia tak mau memperdulikan persoalan tetek- bengek tersebut, karena menurut pendapatnya satu hari Dewi burung Hong tidak mati, maka penghalang bagi kemajuan perkumpulan Nirwana pun sehari tak dapat dikembangkan,

lagi pula kepergian Gak In Ling kali ini sembilan puluh persen belum tentu akan mati di tangan Dewi burung Hong.

Karena itu setelah memberi hormat kepada ketuanya, Perempuan naga peramal sakti berkata.

"Leng cu, harap engkau suka memaafkan keputusan hamba ini, sebab demi keselamatan dan keamanan umat persilatan, terpaksa kita harus menempuh jalan ini."

Gadis suci dari Nirwana melengos kearah lain, kemudian dengan suara berat. "Kalau memang begitu, terserah atas keputusanmu "

Bicara sampai disitu tak tahan titik air mata berlinang membasahi pipinya.

Dalam pada itu dengan wajah dingin menyeramkan Gak In Ling telah maju selangkah kede pan, sambil menatap wajah Ngo-gak Sin-kun dengan pandangan menyeramkan serunya.

"Walaupun aku tidak tahu apakah Dewi burung hong bakal membinasakan diriku atau tidak- akan tetapi demi keselamatan para saudara dari dunia persilatan, setelah aku ditunjuk oleh perempuan naga maka akupun bersedia untuk pergi menempuh bahaya, hanya saja sebelum itu..."

Melihat penampilan pemuda itu, dalam hati para jago segera muncul suatu pendapat yang sama.

"ooooh tak nyana orang ini dengan tampangnya yang begitu jelek. ternyata memiliki hati yang mulia..."

Ngo-gak sin-kun sendiri setelah melihat Gak In Ling dia nampak tertegun, lalu berpikir.

"Dewi burung hong adalah seorang jagoan perempuan yang tidak takut langit tidak takut bumi, siapapun berani dibunuh olehnya, kenapa terhadap pemuda bertampang jelek ini dia malah pilih kasih dan mengampuni jiwanya? Jangan-jangan antara dia dengan Perempuan naga peramal sakti

mempunyai ganjalan sakit hati, sehingga perempuan ini hendak menggunakan kesempatan tersebut untuk melenyapkan dirinya dari muka bumi. ?"

Kakek tua ini memang mempunya ketajaman otak yang luar biasa, kadang kala jalan pikirannya bisa berbelok kejala n pemikiran yang berbeda dengan orang lain, ia segera bertanya.

"cuma saja kenapa ??"

Sementara itu Gak In Ling sudah berada lima depa dihadapan Ngo-gak sin-kun, mendengar pertanyaan itu sambil menggertak gigi dia tertawa seram.

"Heeeehh heeeehh heeseehh cuma saja Yap Thing Ling, aku hendak ajak dirimu untuk berduel lebih dahulu "

Para jago berseru tertahan karena kaget, siapapun tak pernah menyangka kalau semuda yang tidak dikenal namanya itu ternyata berani menyebut nama aslinya Ngo-gak Sin-kun secara langsung dan kasar, lebih-lebih tak menyangka kalau ia berani menantang Ngo-gak Sin-kun untuk melakukan pertarungan satu lawan satu.

Iman Ngo-gak Sin-kun ternyata cukup tebal, ia tidak menjadi gusar mendengar tantangan tersebut, sambil tertawa hambar setelah tanyanya. "orang muda, aku sama sekali tidak kenal siapakah engkau ?"

Dengan cepat Gak In Ling melepaskan topeng setan yang dikenakan olehnya, kemudian menengadah dan tertawa seram.

"Haaaahh haaaaahh........ haaaaahh Yap Thian Ling, coba lihatlah aku mirip siapa ?"

Sekali lagi para jago berseru tertahan, mungkin perbedaan paras muka Gak In Ling setelah melepaskan topeng setannya itulah yang membuat mereka tercengang sehingga berseru keras.

Gadis suci dari Nirwana, Thian-hong pang cu maupun Perempuan haga peramal sakti segera merasakan bahwa peristiwa itu pastilah luar biasa sebab bila mana keadaan tidak terlalu memaksa tak mungkin Gak in Ling menjumpai orang dengan wajah aslinya.

Air muka Ngo-gak Sin-kun Yap Thian Ling mula-mula terkejut, tetapi sepintas kemudian sudah lenyap tak berbekas, ia segera tertawa hambar dan berkata. "Engkau mirip sekali dengan Gak cing Hong "

"Dia adalah mendiang ayahku, dan engkaulah yang telah membinasakan dirinya." teriak Gak In Ling sambil tertawa dingin.

"Hmm Sudah hampir tujuh puluh tahun lebih aku melakukan perjalanan dalam dunia persilatan, orang yang telah kubunuh tak terhitung jumlahnya, mungkin juga ayahmu memang menemui ajalnya ditanganku tetapi engkaupun harus tahu bahwa orang yang kubunuh selama hidupku adalah manusia-manusia durjana yang berdosa besar."

Pada saat ini sorot mata Gak In Ling telah berubah menjadi merah berapi, dengan penuh kebencian dia tertawa panjang, serunya.

"Haaaah haaaaahh haaaahh.... Yap Thian Leng, aku rasa dalam hati kecilmu engkau telah merasa karena persoalan apakah engkau telah membinasakan mendiang ayahku ??"

Terjeblos hati Ngo-gak Sin-kun Yap Thian Leng mendengar ucapan itu, buru-buru dia memperingatkan diri sendiri.

"Tenang-tenanglah dengan andalkan nama serta kedudukkanku sekarang, tak mungkin tuduhannya akan menggoncangkan posisiku saat ini." Berpikir sampat disini, dia lantas angkat kepala dan menjawab. "Aku sudah tak dapat mengingatnya kembali..."

Rasa benci yang berkobar dalam benak Gak In Ling tak terkendalikan lagi, ia membentak keras, "Serahkan nyawamu "

Dengan jurus Hiat-liu-biau-kan atau banjir darah setinggi tiang, laksana petir yang menyambar diangkasa pemuda itu menerjang kedepan dan menghajar dada Ngo-gak Sin-kun.

Baru saja Gak In Ling menggerakkan tubuhnya, dari belakang tubuh Ngo-gak sin-kun segera menggema pula beberapa bentakan nyaring empat lima sosok bayangan manusia dengan cepat meluncur kedepan sambil mendorong telapaknya kedepan, dengan begitu mereka telah membendung datangnya serangan atas diri Ngo-gak sin-kun sebelum pukulan itu mengenai sasarannya.

"Blaaamm " ditengah ledakan dahsyat yang menggeletar diseluruh angkasa, secara beruntun Gak In Ling mundur tiga langkah ke- belakang, hawa darah dalam dadanya bergolak keras, jelas tenaga gabungan dari kelima orang itu masih bukan tandingan dari pemuda kita.

Gak In Ling semakin naik pitam melihat usahanya dihalangi orang, sekali lagi dia membentak keras.

"Siapa menghindarkan dia hidup, siapa menghadang dia mati "

Untuk kedua kalinya ia menerjang maju kedepan, lima totokan dalam telapak mautnya segera dikembangkan... cahaya merah menyelimuti seluruh angkasa dan ditengah dengusan berat, tiga orang jago roboh terkapar keatas tanah dan tak berkutik lagi.

Robohnya ketiga orang itu segera membangkitkan kegusaran dari para jago yang berada di belakang tubuh Ngo-gak Siu-kun, bentakan nyaring menggema berulang kali, seketika itu juga belasan orang banyaknya telah mengepung pemuda itu rapat-rapat.

Dalam keadaan begini Gadis suci dari Nirwana serta Thian-hong pangcu merasa gelagapan dan gelisah sekali, tetapi dibawah pengaruh otak yang sadar mereka tak mampu untuk maju kedepan serta membantu pemuda pujaan hatinya itu.

Sementara dua orang gadis itu masih ragu-ragu dan sangsi, tiba-tiba terdengar Ngo-gak Iin-kun membentak keras. "Enyah kau dari sini "

Segulung hembusan angin puyuh meluncur kedepan, Gak In Ling segera mendengus berat dan tubuhnya benar-benar terpental sejauh satu tombak lebih dari tempat semula, namun isi perutnya tidak sampai terluka.

Pertempuran sengit ang menggetarkan hati pun untuk sementara berakhir sampai disitu saja.

Ngo-gak sin-kun tundukkan kepalanya memandang sekejap kearah tujuh delapan sosok tubuh yang terkapar diatas tanah dalam keadaan tak bernyawa itu, kemudian sambil menatap dingin wajah si anak muda itu serunya.

"orang muda. aku telah mengampuni jiwa mu untuk kali ini "

Sepasang mata Gak In Ling berubah menjadi merah membara, wajahnya menyeringai menyeramkan, sepasang telapaknya diayun dan siap menerjang maju lagi kedepan, Pada saat itulah, tiba-tiba terdenggar serentetan suara bisikan yang lirih bagaikan suara nyamuk bergema disisi telinganya.

"orang muda, sebelum racun penghancur hati yang mengeram dalam tubuhmu berhasil dilenyapkan, telapak mautpun tak bisa kau gunakan sehingga mencapai kehebatan yang luar biasa, engkau tak usah berpikir sempit dan lagijejak kejahatan yang dilakukan orang itu sehingga kini belum terbongkar, jika engkau membinasakan dirinya mata para jago dunia persilatan pasti akan mencari engkau untuk membalas dendam, bersabarlah dahulu. Apakah engkau tega membinasakan para jago persilatan yang tak tahu menahu itu

menjadi korban kebiadabannya ? orang muda. sabarkanlah hatimu "

Suara itu muncul dari suatu tempat yang sukar dirabah, seakan-akan datang dari empat arah delapan penjuru, membuat orang susah untuk menentukan letak yang sebenarnya.

Dengan hati berat dan sedih Gak In Ling menghela napas panjang, pikirnya didalam hati.

"Benar, aku harus bersabar tapi aku bisa menunggu berapa lama lagi ??"

Berpikir sampai disini perlahan-lahan dia putar badan dan berlalu, titik air mata jatuh berlinang membasahi pipinya.

Dengan pandangan kaku Thian-hong pangcu dan Gadis suci dari Nirwana memandang bayangan punggung Gak In Ling sehingga lenyap dibalik sebuah bata cadas, kedua orang itu ingin sekali menghibur hatinya, tetapi dengan kedudukan mereka pada saat ini membuat kedua orang gadis tersebut tak leluasa untuk memenuhi keinginan hatinya itu.

Suatu ketika akhirnya Perampuan naga peramal sakti yang buka suara lebih dahulu untuk memecahkan kesunyian-

"Mari kita cari tempat untuk beristirahat satu malam, besok kita harus memikirkan lagi persoalan besar "

Mendengar perkataan itu semua orang angkat kepala memandang cuaca, sedikitpun tidak salah sang surya telah tenggelam disebelah barat, dengan membawa perasaan hati yang berbeda, berpisahlah mereka untuk mencari tempat pemondokan untuk sementara.

Sang surya lenyap rembulan muncul di-awang-awang, satu hari telah berlalu tanpa terasa diatas tebing batu dimana Dewi burung Hong terjatuh tiba-tiba muncul seorang pemuda berbaju hitam, dia bukan lain adalah Gak In Ling jago muda kita.

Memandang tonjolan batu yang berada di bawah tebing sejauh seratus tombak dari tempat dia berada saat ini, Gak In Ling bergumam seorang diri.

"Kemungkian besar dia berada diatas batu cadas tersebut, bagaimana caraku untuk turun ke bawah sehingga tidak diketahui jejaknya oleh perempuan itu ?"

Mendadak dia merasakan jalan darah Pay-sim-hiat diatas punggungnya menjadi linu dan kaku, hatinya amat terperanjat tapi pada saat itu sudah tak mungkin lagi baginya untuk menghindarkan diri.

Terdengar serentetan suara teguran yang dingin menyeramkan berkumandang memecahkan kesunyian-

"Sekarang aku sudah teringat siapakah gerangan dirimu... engkau adalah Gak ln Ling" Gak In Ling tertawa dingin dengan penuh kebencian.

"Heeeeehh.... heeeeehh.heeeehh.... Yap Thian Leng, sejak semula aku sudah tahu bahwa engkau telah mengenali diriku "

Ternyata orang yang baru saja munculkan diri dibelakang si anak muda itu bukan lain adalah Ngo-gak Sin-kun malaikat suci dari lima .bukit Yap Thian Leng adanya.

"Sedikitpun tidak salah," jawab Malaikat suci dari lima Bukit sambil tertawa seram, "tetapi di tempat seperti itu, aku tak bisa mengatakannya secara terus terang.."

"Sekarang, asal engkau gunakan sedikit saja tenaga pukulanmu? maka- mulai detik ini engkau tak usah menguatirkan persoalan itu lagi.

Malaikat suci dari lima bukit -Yap Thian Leng tertawa ringan serunya:

"Aku tidak akan membinasakan dirimu." sahutnya, "karena ilmu pukulan penemb us hatiku dapat membunuh orang tanpa

meninggalkan bekas, cuma saja.... Heemm heeeemm...." Setelah berhenti sebentar, sambungnya lebih jauh.

"Dewi burung hong tidak takut dengan- langit tidak takut dengan bumi, siapapun juga berani dibunuh olehnya, karena itu aku ingin meminjam kekuatannya untuk melenyapkan bibit bencana bagi diriku?.. Gak In Ling Siasatku ini sangat bagus bukan ?"

Gak Ih Ling naik pitam dan merasa gusar sekali setelah mendengar perkataan itu, dia tarik napas panjang-panjang siap melancarkan serangan-

Mendadak terdengar Ngo-gak sin-kun malaikat suci dari lima bukit tertawa dingin dan berseru.

"Selamat tinggal bajingan cilik, sekarang turunlah kebawah.."

Telapaknya ditolak kedepan, tubuh Gak In Ling segera terdorong masuk kedalam jurang yang dalamnya seratus tombak lebih itu? ternyata didalam menolak tubuh pemuda tersebut, ia sama sekali tidak bermaksud untuk- melukainya lebih dahulu.

Memandang bayangan punggung Gak In Ling yang meluncur turun kedalam jurang dengan cepatnya itu, Malaikat suci dari lima bukit tertawa bangga dengan wajah menyeramkan, setelah memandang sekejap dasar tebing tersebut ia putar badan dan berlalu dari situ.

Tenaga tolakan yang dipancarkan Malaikat suci dari lima bukit besar sekali, walaupun Gak In Ling telah mengerahkan segenap kekuatannya untuk meringankan tabuh, namun ia gagal untuk menahan gerak luncur tubuhnya yang begitu cepat, dalam sekejap mata ia sudah terjungkal sejauh lima puluh tombak dari puncak tebing.

Dengan cepat sorot matanya menyapu sekejap sekeliling tempat itu, ia lihat diantara tebing dinding dan batu tonjolan

tersebut merupakan sebuah selokan yang cekung kedalam. ketika itu Dewi burung Hong indah sambil membopong burung Hong raksasanya sedang duduk bersandar di dinding gua, nampaknya santai dan rileks sekali.

Ketika melihat berkelebat datangnya sesosok bayangan manusia, dengan sorot mata memancarkan cahaya penuh nafsu membunuh perempuan itu menengadah keatas akan tetapi setelah mengetahui bahwa orang itu bukan lain adalah Gak In Ling, nafsu membunuh yang menyelimuti wajahnya seketika lenyap tak berbekas, ia tundukkan kepalanya kembali sambil membelai bulu burung Hong nya yang jinak.

"Bluuuumm ...." Benturan keras bergema memecahkan kesunyian, berhubung daya luncur tubuhnya terlalu keras, ketika tubuh Gak In Ling mencapai tanah ia segera mundur dua langkah kebelakang dengan sempoyongan, sebelum akhirnya berhasil berdiri tegak. Dewi burung Hong sama sekali tidak angkat kepalanya, dengan dingin ia berkata "Kurasa engkau pasti didorong orang sehingga jatuh terjungkal kemari " Gak In Ling tertawa dingin, sambil maju dua langkah kedepan sahutnya^

"Sekalipun tidak didorong orang, akupun akan turun juga kebawah." Dewi burung Hong merasakan hatinya menjadi hangat, ia tertawa dan bertanya: "Kenapa ?"

Sambil berkata dengan sepasang biji matanya yang mempersonakan hati ia menatap wajah Gak In Ling lembut.

Gak In Ling tidak berani saling beradu pandangan dengan perempuan itu segera serunya dengan nada dingin- . .

"Karena aku dengar engkau sudah menderita luka "

Bicara sampai disitu, diam-diam hawa murninya dihimpun kedalam sepasang telapak siap menghadapi segala kemungkinan yang tidak di-inginkan.

"Sungguhkah itu ?" seru Dewi burung Hong sambil tertawa merdu. Terperanjat hati Gak In Ling mendengar perkataan itu, pikirnya.

"Kecerdikan Perempuan ini luar biasa sekali dan melebihi siapapun, akal setannya banyak dan licin, mungkin aku tak bisa mengelabuhi dirinya..."

Meskipun dalam hati merasa takut, diluaran ia tetap berkata.

"Selamanya aku tak pernah bicara bohong "

Sambil berkata kembali dia maju dua langkah kedepan-

"Engkau pasti bukan pura-pura bersikap demikian karena takut aku membunuh engkau bukan ? Padahal aku tak nanti akan mencelakai dirimu."

Rupanya perkataan yang terakhir itu merupakan suara hatinya yang asli, membuat siapa pun yang mendengar segera merasakan hatinya bergetar. Gak In Ling merasa hatinya sakit, diam-diam ia keheranan dan berpikir.

"Gak In Ling ooh Gak In Ling... benarkah tindakanmu ini adalah tindakan seorang lelaki sejati ?"

Tetapi ada segulung kekuatan lain yang menggerakkan hatinya, memaksa dia, mau tak mau harus berbuat demikian, maka ia segera maju dua langkah kedepan dan berseru sambil tertawa dingin.

"Nona, sikapmu demikian itu bukankah sama artinya memandang rendah aku Gak In Ling ?"

Dewi burung Hong merasakan hatinya menjadi hangat, dia segera rentangkan sepasang lengannya sambil berseru: "cepat peluklah aku, aku terkena.."

Belum habis dia berkata, tiba-tiba terdengar Gak In Ling membentak keras.

"Sambutlah serangan ini " Bersamaan dengan bergemanya bentakan itu, dengan jurus Hiat-ya-seng-hong atau hujan darah angin amis dia hantam dada perempuan cantik baju merah itu.

Mimpipun Dewi burung Hong tak pernah menyangka kalau semua perkataan yang diucapkan Gak In Ling adalah perkataan palsu semua menyaksikan kejadian itu dia menjadi gelagapan, saking terkejutnya sehingga dia berseru tertahan-..

Sebenarnya dengan kepandaian silat yang di miliki Dewi burung Hong, meski pun peristiwa terjadi lebih mendadak-dan lebih cepatpun ia masih memiliki kekuatan untuk menghindarkan diri, akan tetapi pada saat itu perempuan tersebut benar-benar tiada berkekuatan lagi, karena ia sudah menderita keracunan hebat.

Gak In Ling sendiri ketika mendengar jeritan tertahan yang penuh mengandang rasa kaget dan berkesiap itu, hatinya merasa bergetar keras ingin pukulan yang dilancarkan keluarpun tanpa sadar telah membuyar separuh bagian. "Blaaaam " Benturan keras yang menggeletar diangkasa menggema memecahkan kesunyian dikuti terdengar Dewi burung Hong mendengus ringan, darah segar bagaikan pancuran mengalir keluar lewat bibirnya yang kecil dan menodai seluruh tubuhnya.

Dengan pandangan kaku Gak In Ling memandang ke arah lawannya, dalam hati ia merasa keheranan, pikirnya.

"Kenapa perempuan itu sama sekali tidak melancarkan serangan balasan ? Aneh benar?"

Tiba-tiba burung Hong raksasa yang berada didepan tubuh Dewi burung Hong berpekik nyaring, sepasang sayapnya direntangkan siap menerjang kemuka Gak In Ling, tetapi Dewi burung Hong dengan susah payah segera berteriak keras. "IHong-ji, lukamu belum sembuh. ..jangan pergi kesana "

Kemudian dengan pandangan dingin ia menatap wajah Gak In Ling, serunya ketus.

"Aku sudah menderita luka, tetapi sekarang tak akan segera menemui ajalnya, sepantasnya kalau engkau menambahi sebuah pukulan lagi kepadaku " Merah jengah selembar wajah Gak In Ling dengan tergagap dia berkata. "Semula aku mengira engkau pasti akan melakukan perlawanan, sungguh tak nyana..."

"Heeeehh heeeeehh. ....... heeeeehh sedikitpun tidak salah." sahut Dawi burung Hong sambil tertawa dingin. "Andaikata aku Dewi burung Hong tidak terluka akibat keracunan lebih dahulu, sekarang mungkin yang roboh terkapar di atas tanah bukan aku melainkan dirimu."

Gak in Ling semakin terperanjat.

"Jadi engkau sudah terluka lebih dahulu ?" serunya

"Apakah engkau anggap dirimu sudah luar biasa sekali ?" ejek Dewi burung Hong sambil tertawa sinis.

Gak In Ling tidak menjadi gusar, dengan pandangan kecewa dia angkat kepala memandang rembulan yang tergantung diawang- awang, kemudian berbisik dengan nada kecewa.

"Aku mengira diriku telah melakukan suatu pekerjaan besar yang mulia dan patut dihargai sungguh tak nyana sebenarnya aku adalah seorang manusia rendah yang tak tahu malu, ternyata aku telah membokong seorang perempuan lemah yang sudah menderita luka akibat keracunan-"

Ketika mendengar ucapan, Perempuan lemah, diatas wajah burung Hong yang pucat pias bagaikan mayat tiba-tiba terlintas hawa napsu membunuh yang sangat tebal, ia segera membentak nyaring.

"Gak In Ling, engkau anggap nonamu membutuhkan perasaan simpatik dan rasa kasihan darimu ?" Hmm Sayang

sekali pada saat ini aku tak dapat menghimpun tenaga dalamku lagi, kalau tidak aku aku akan segera menghancurkan lumatkan tubuhmu menjadi berkeping-keping."

Terhadap perkataan yang tak sedap didengar itu, Gak In Ling pura-pura berlagak tidak mendengar, ia tetap bergumam seorang diri.

"Kenapa aku harus memikirkan nasib dari orang-orang yang sama sekali tak pernah dikenal olehku ? Apakah keuntungan serta manfaat yang kuporoleh dengan perbuatanku itu ?"

Senyuman yang tidak tenang tersungging di ujung bibirnya, ia segera bergumam lebih jauh "Aku akan menolong dirinya, aku harus menyelamatkan jiwanya " Dengan langkah lebar ia segera berjalan menghampiri tubuh Dewi burung Hong yang menggeletak ditanah. Perempuan itu menjadi sangat gusar, ia segera membentak nyaring.

"Kau berani datang, kau berani..." Gak In Ling yang menyaksikan kejadian itu pura-pura tidak mendengar dan tetap berlagak pilon, ia berjongkok dihadapan perempuan itu dan menarik tangannya.

Pada saat ini Dewi burung Hong sangat membenci diri Gak In Ling, akan tetapi berhubung tenaga dalam yang dimilikinya telah buyar sehingga tak dapat mengerahkan tenaga untuk menghajar pemuda itu, maka saking mendongkolnya gadis itu membentak nyaring, ia peluk tubuh Gak In Ling erat-erat dan bahu sianak muda itu segera digigitnya kencang-kencang .

Dewi burung Hong dapat bersikap demikian hal ini disebabkan sifatnya yang keras kepala, menanti bahu Gak In Ling yang di gigit olehnya banar-benar robek dan darah panas mengalir ke luar dari mulut luka tersebut, secara tiba-tiba dia baru menjerit kaget dan melepaskan gigitannya, dalam keadaan begini pukulan yang ditujukan kepunggung pemuda itupun ikut berhenti.

Tiba-tiba terasalah segulung aliran hawa panas menembusi jalan darah Pat-sim-hiat nya dan menyusup kedalam badan lalu menerjang kearah urat-urat penting ditubuh lainnya, sekali demi sekali terus menerus menerjang kedalam berulang kali, perlahan-lahan hawa murni yang tersebar luas dalam tubuh Dewi burung hong pun dapat berkumpul kembali.

Meskipun Dewi burung adalah seorang gadis bersifat keras kepala, akan tetapi bagaimana pun juga dia masih-tetap merupakan seorang wanita, setelah berulang kali mendapat penghinaan dari Gak In Ling lalu disergap pula orang lain secara diam-diam, setelah hatinya dapat tenang kembali dara cantik itu tak dapat menahan air matanya lalu sambil jatuhkan diri kedalam dekapan Gak In Ling ia menangis tersedu-sedu.

Buru-buru Gak In Ling menghentikan penyaluran hawa murninya dan berkata dengan suara ringan-

"Nona, cepatlah atur hawa murnimu, aku akan membantu dirimu dari samping "

"Hmm Siapa yang sudi menerima bantuan mu," seru Dewi burung Hong dengan hati mendongkol. Tetapi ia tidak meninggalkan diri dari dekapan Gak In Ling, tubuhnya tetap bersandar dalam pelukan si anak muda itu.

Gak In Ling menghela napas panjang dengan suara berat, katanya.

"Aaaii Nona, bagaimanapun juga engkau harus memperkokoh perasaan hatimu, kalau tidak bukankah engkau tak dapat membalas dendam atas sakit hati yang kau terima hari ini?"

"Kalau mati ya sudahlah, kenapa engkau mesti ikut campur ?" seru Dewi burung Hong dengan hati terjelos.

"Baiklah " akhirnya dengan suara apa boleh buat Gak In Ling berseru," aku akan berusaha dengan sepenuh tenaga."

Habis berkata ia tarik napas panjang, kemudian salurkan segenap kekuatan hawa muminya kedalam tubuh Dewi burung Horg melewati jalan darah Pay-sim-hiat diatas punggungnya.

Meskipun diluaran Dewi burung Hong mengatakan tidak mau, tetapi ia takut kalau Gak In Ling benar kehilangan banyak tenaga, diam-diam hawa murninya segera dihimpun untuk mengobati luka dalam yang diderita olehnya.

Waktu berlalu dalam keheningan dan kesunyian, sepertanak nasi lewat tanpa terasa, keadaan dari Gak In Ling justru berlawanan dengan keadaan dari Dewi burung Hong.

Kalau wajah Gak In Ling dari merah padam berubah menjadi pucat pias, maka wajah gadis tersebut dari pucat pias berubah menjadi merah dadu.

Perlahan-lahan Dewi burung Hong membuka matanya yang jeli dan memandang sekejap ke arah Gak In Ling yang sedang duduk mengatur pernapasan dengan penuh perasaan kasihan, dengan manja dan lembut ia menyandarkan diri didalam pelukan Gak In Ling, tubuhnya sedikitpun tak berani bergerak seakan-akan seekor domba yang jinak. Akhirnya Gak In Ling membuka sepasang matanya, dengan suara berat ia berkata. "sekarang, bagaimana perasaan nona ?"

Dewi burung hing menempelkan wajahnya diatas bahu Gak In Ling, lalu menjawab dengan lembut.

"Luka dalamku telah sembuh, pundakmu pasti amat sakit bukan ?"

Sambil berkata dengan jari tangannya yang halus dia membersihkan noda darah yang mengotori pundak pemuda itu.

Gak In Ling tertawa tawa, ia menjawab. "Tidak apa-apa, racun apa sih yang telah bersarang ditubuhmu ?"

Air muka Dewi hong berubah hebat, dengan suara berat dia menjawab.

"Kelabang bersayap emas, mereka menerobos keluar lewat celah-celah batu cadas tersebut, pada saat itu aku sedang menyandar diatas situ" Sambil berkata ia tuding sebuah celah batu di belakang tubuhnya.

Gak ln Ling segera menyapu sekejap kearah belakang, dengan cepat hatinya merasa terperanjat, pada saat itu tampaklah diatas tanah bergerak seekor kelabang bersayap emas berkepala merah yang besar sekali, dengan kakinya yang berjumlah ratusan binatang itu sedang merayap menjauh.

Dengan perasaan tidak tenang Gak In Ling segera berseru. "Lalu... ba bagaimana baiknya ??"

"Apakah engkau mempunyai obat pemunah untuk menawarkan racun kelabang itu?" Perlahan-lahan Dewi burung hong memeluk anak muda itu erat-erat, kemudian menggeleng,

"Tidak ada, cuma selama berada disampingmu aku tidak akan merasa takut..."

"Tapi aku juga tidak memiliki obat untuk memunahkan racun tersebut ..." seru Gak In Ling dengan gelisah.

Tiba-tiba Dewi burung hong angkat kepala dan menatap wajah Gak ln Ling, serunya. "Aku tidak takut mati, karena..."

"Akhirnya kita akan dapatkan juga obat pemunah tersebut " Sambung sang pemuda dengan cepat.

Dewi burung hong tertawa merdu. "Kenapa engkau akan cari obat pemunah tersebut? cintakah engkau kepadaku?"

Mendadak serentetan suara teguran yang keras bagaikan guntur berkumandang keluar dari dalam gua.

"ciiitt Ciiitt melulu kalian sedang meributkan apa sih ??"

Ketika mendengar teguran tersebut, dua orang itu merasa terperanjat, mereka tak pernah mengira kalau didalam gua batu ternyata masih ada orang lain yang berdiam disitu.

Dengan cepat kedua pemuda-pemudi itu putar badan dan berpaling kearah mana berasalnya suara itu, tetapi dengan cepat mereka dibikin terperanjat, pikirnya.

"Aaaah Sungguh tak kusangka kalau dikolong langit terdapat seorang manusia yang begitu tinggi "

Tampaklah dari balik gua batu yang tingginya satu tombak, ketika itu tampaklah seorang manusia raksasa dengan badan dibongkokkan sedang berjalan keluar, karena orang itu sedang membungkukkan badan maka sukar untuk menilai seberapakah badannya yang sebenarnya.

Tampaklah orang itu berkaki telanjang, telapak kakinya mencapai dua tiga depa besarnya, pada pinggangnya terikat selapis kulit macan kumbang, kakinya besar seperti dahan pohon, sepasang tangannya yang terkulai kebawah panjang sekali sehingga hampir menyentuh tanah.

Kulit badan orang ini berwarna hijau tembaga, ototnya pada menonjol keluar semua, sekilas memandang dapat diketahui bahwa orang ini memiliki tenaga raksasa yang luar biasa dahsyatnya, akan tetapi yang aneh ternyata paras mukanya berwarna merah padam bagaikan darah, alis yang tebal berdiri lurus bagaikan kawat, matanya besar bagaikan lampu sorot dan memancarkan sinar tajam, hidung besar mulut lebar dengan rambut panjang terurai sepundak. potongan badannya bengis dan mengerikan sekali.

Perlahan-lahan Gak In Ling mendorong tubuh Dewi burung hong kesamping kemudian bangun berdiri, katanya. "Apakah engkau penjaga dari gua batu ini?"

"Sedikitpun tidak salah, mau apa kalian datang kemari ?" Teriak raksasa bermuka merah dengan suaranya yang keras

bagaikan guntur. Satu ingatan segera berkelebat lewat dalam benak Gak In Ling, tiba-tiba ujarnya sambil tertawa.

"Adikku terpagut kelabang bersayapmu, aku datang untuk mencari obat pemunahnya, mungkin dalam gua ini terdapat obat pemunahnya ?"

Dewi burung hong merasa amat girang ketika mendengar Gak In Ling membahasakan dirinya sebagai "adik," perasaan semacam ini belum pernah dialami oleh gembong iblis pembunuh manusia tak berkedip ini sebelumnya.

Raksasa bermuka merah itu tidak tahu kalau Gak In Ling sedang membohongi dirinya, ia segera berhenti berjalan dan melototkan sepasang matanya yang besar bulat-bulat, teriaknya.

"oooohh Jadi engkau juga tahu kalau di dalam gua ini terdapat seekor ular berjengger ?"

Gak In Ling tidak kenal apakah "ular berjengger" itu, tetapi dia tahu bahwa ular tersebut pasti dapat memunahkan racun keji dari kelabang bersayap emas, dalam hati segera pikirnya.

"orang ini tidak terlalu cerdik, apa salahnya kalau kupancing keterangannya lewat pembicaraan orang ini, mungkin saja dapat kuketahui benarkah ular berjengger itu dapat memunahkan racun keji atau tidak." Setelah ambil keputusan, ia segera berkata.

"Ular berjengger adalah benda yang paling mustajab untuk memunahkan pelbagai macam racun dikolong langit, tentu saja akupun mengetahui akan manfaat ular tersebut." Raksasa bermuka merah itu menjadi terperanjat sekali, serunya kemudian dengan cepat.

"Bajingan cilik, jadi engkau pun berhasrat untuk mendapatkan ular mustika tersebut ? dengan susah payah aku telah berjaga selama tiga tahun ditempat ini, dengan susah payah pula berhasil kutemukan pintu masuknya, sekarang

datang-datang engkau hendak cari keuntungan- Huuuh Tindakkanmu ini benar-benar terlalu memandang rendah aku Hiat-bin Kim-kong malaikat raksasa berwajah merah."

Habis berkata dengan wajah penuh kegusaran ia berjalan maju kearah depan-

Pada saat itu Dewi burung hong keracunan hebat dan tubuhnya tak dapat berkutik, melihat kejadian itu segera teriaknya. "Engkoh Ling, jangan biarkan dia keluar"

Panggilan "engko Ling" tersebut diutarakan begitu biasa dan luwes, sedikit pun tidak nampak seperti dipaksakan-

Rupanya Gak In Ling pun mempunyai jalan pikiran yang sama dengan gadis tersebut, dengan cepat ia membentak keras.

"Berhenti " Kalau engkau berani maju setindak lagi kedepan, jangan salahkan kalau aku tidak akan berlaku sungkan-sungkan lagi terhadap dirimu."

Sambil berkata hawa murni yang dimilikinya segera dihimpun kedalam telapak siap menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan-

Hiat-bin Kim-kong Malaikat raksasa berwajah merah sangat mengandalkan otot kawat tulang besi yang dimilikinya, dengan kekebalan tubuhnya pukulan dan bacokan senjata tak mempan bagi dirinya, tentu saja terhadap diri Gak in Ling ia tak pandang sebelah matapun. Mendengar ancaman ia segera tertawa lebar dan berkata.

"Haaaahh haaaaahh........ haaaahh., setan cilik, kalau engkau merasa punya kepandaian, silahkan saja coba menghantam tubuhku "

Dengan tanpa memperdulikan ancaman lawan, dengan langkah lebar dia berjalan keluar dari gua tersebut.

Gak In Ling yang menyaksikan kejadian itu menjadi gelisah sekali, ia segera membentak nyaring.

"Hmm Rupanya engkau cari mampus, lihat serangan "

Dengan jurus Tui-jong-wong-gwee atau mendorong jendela melihat rembulan, sebuah pukulan segera dilepaskan kedalam gua.

Angin pukulan dengan cepat menerobos masuk kedalam gua, berhubung gua itu terlindung oleh dinding yang kuat maka angin serangan menggumpal menjadi satu tanpa buyar, karena itulah kendatipun Gak In Ling hanya menggunakan tenaga murni sebesar enam bagian, namun daya penghancurnya benar-benar mengerikan hati.

Hiat-bin Kim-hong malaikat raksasa berwajah merah segera tertawa terbahak-bahak. "Haaaaahh, haaaahh haaaaahh aku sih tidak akan takut menghadapi pukulan itu."

Sambil berkata ia tetap melanjutkan langkahnya keluar dari gua tersebut, terhadap datangnya ancaman yang sangat hebat itu, orang tadi sedikitpun tidak menggubris atau menunjukkan tanda-tanda hendak melakukan perlawanan.

"Blaaaamm " Terdengar benturan keras yang memekikkan telinga menggeletar didalam gua tersebut, hancuran batu berhamburan di empat penjuru. Malaikat raksasa berwajah merah tertawa keras, ejeknya. "ooooh Seranganmu itu memang bertenaga juga."

Gak In Ling segera menengadah keatas, melihat apa yang terjadi, ia merasa amat terperanjat pikirnya.

"Dalam serangan yang kulancarkan barusan kendatipun tidak menggunakan tenaga yang penuh namun sedikit banyak mengandung kekuatan sebesar satu laksa kati, namun ia mampu menahan pukulanku dengan tubuhnya, bukan saja sama sekali tidak terluka bahkan cuma tergetar mundur dua langkah belaka kepandaian ampuh apakah yang dia miliki. ?"

Berpikir sampai disitu, ia tak berani bertindak gegabah, sambil membentak keras tubuhnya segera menerjang maju kedepan, sebuah pukulan yang maha dahsyatpun dilepaskan kearah tubuh raksasa itu.

"coba sambutlah seranganku ini lagi " Pemuda she Gak itu membentak keras.

Dengan jurus Hiat-yu Seng-hong hujan darah angin amis, pukulan maut tersebut dilepaskan ke muka.

Cahaya merah yang berlapis-lapis seketika mencapai keempat penjuru, tiada desingan tajam tiada hembusan angin puyuh, tapi terdapat selapis hawa tekanan tak berwujud yang menekan di dada lawannya.

"Bluuuumm " Dentuman keras bergeletar diudara, diikuti terdengarlah Hiat-bin Kim hong Malaikat raksasa berwajah merah berseru tertahan, ketika Gak In Ling angkat kepalanya memandang kedepan maka kali ini tampaklah olehnya bahwa malaikat raksasa berwajah merah terdorong mundur sejauh tujuh delapan depa ke- belakang, sepasang telapaknya yang besar seperti kipas mendekap dadanya kencang-kencang, jelas dalam pukulan tersebut dia telah menderita rasa sakit yang cukup parah.

Rasa terkejut yang dialami Gak In Ling kali inijauh lebih hebat dari keadaan semula, dengan hati terkesiap pikirnya.

"Bagaimana ini ? Kenapa pukulan telapak maut juga tak mampu untuk melukai dirinya?"

Malaikat raksasa berwajah merah melototkan sepasang matanya bulat-bulat, setelah mengawasi Gak In Ling beberapa saat lamanya, ia tak berani maju kedepan lebih jauh. Mendadak seperti sudah teringat akan sesuatu ujarnya.

"Gua ini terlalu rendah, gerak gerikku tidak leluasa kalau harus bertarung ditempai ini, tetapi asal aku tetap bertahan didalam gua bila kalian membutuhkan benda itu maka silahkan

saja masuk kedalam gua dan berkelahi lebih dahulu dengan aku."

Habis berkata tanpa menunggu jawaban lagi dia putar badan dan berjalan masuk kedalam gua, dalam sekejap mata bayangan tubuhnya telah lenyap dibalik tikungan-

Gak In Ling tak pernah menyangka kalau orang kasar seperti malaikat raksasa itu mempunyai kecerdikan untuk bertahan dalam gua tersebut, dengan perasaan apa boleh buat dia segera berpaling kearah Dewi burung hong dan berseru.

"Nona, agaknya terpaksa harus melakukan perjalanan sendiri untuk memasuki gua tersebut."

"Tidak Jangan memasuki gua tersebut."

Teriak Dewi burung hong dengan hati terperanjat, "aku... aku takut seorang diri berada disini "

Suatu kejadian yang aneh sekali, seorang perempuan iblis yang tidak takut langit tidak takut bumi, ternyata merasa takut untuk berada seorang diri di luar gua. Gak In Ling segera maju menghampiri gadis itu sambil berkata. "Kalau begitu, mari kita masuk bersama "

Merah padam selembar wajah Dewi burung hong karena jengah, ia tundukan kepalanya sambil berbisik. "Aku aku..."

Gak In Ling tahu bahwa gadis tersebut sudah tak dapat berjalan sendiri, ia maju kedepan dan memeluk sang dara tersebut kedalam rangkulannya, kemudian bertanya. "Bagaimana dengan burung hong ini ?"

Air muka Dewi burung hong berubah semakin merah karena jengah, dengan tersipuh-sipu ia benamkan kepalanya kedalam rangkulan pemuda she Gak itu, serunya dengan manja. "Dia akan mengikuti dibelakang kita "

Kemudian sambil berpaling kearah burung hong yang bertengger disampingnya, ia berseru.

"Hong-ji, mari ikut kami "

Gak In Ling tidak ragu-ragu lagi, sambil menggendong badan Dewi burung hong berjalanlah mereka memasuki gua, sedangkan burung hong itu benar-benar cerdik, ia pun mengikuti dibelakang tubuhnya.

Suasana dalam gua tersebutjauh lebih gelap dari keadaan diluar, meskipun ilmu silat yang dimiliki kedua orang itu amat sempurna, itupun tak dapat memandang benda yang berada lima tombak dihadapannya, terutama sekali Dewi burung hong yang sedang keracunan hebat dan tak dapat mengerahkan tenaganya, benda apapun tak dapat terlihat olehnya.

Sambil memeluk tubuh Gak In Ling kencang-kencang, ujarnya dengan perasaan tidak tenang.

"Aku tak dapat melihat apa-apa, kau kau tidak akan meninggalkan aku seorang diri bukan ?"

Gak In Ling merasakan suaranya agak gemetar, seakan-akan ia telah pulih kembali ifat kegadisannya, tak tahan sambil membelai rambut gadis itu sahutnya.

"Tidak. aku tak akan membiarkan engkau seorang diri, kalau tidak aku pun tak akan membawa serta engkau masuk kedalam gua"

Dewi burung hong menyandarkan kepalanya semakin rapat diatas dada Gak In Ling, ujarnya dengan lembut.

"Engko Ling, aku aku cinta padamu, sejak pertama kali berjumpa dengan engkau, aku selalu merasa tak mampu untuk menguasai diri sendiri, oleh sebab itulah kuhajar dirimu sampai terluka parah, diam-diam aku telah kembali lagi untuk menengok dirimu." Satu ingatan dengan cepat berkelebat dalam benak Gak In Ling. tanyanya. "Apakah engkau yang telah menyembuhkan luka dalamku ?"

"Benar, kemudian aku takut engkau merasa kedinginan dibukit Tiang-pekssan, maka kubawa engkau kesitu."

Gak In Ling menjadi sangat terharu mendengar perkataan tersebut, serunya tanpa sadar.

"Mengapa engkau bersikap begitu baik terhadap diriku ?"

Dengan lembut dan halus tangannya membelai punggung gadis tersebut.

"Dahulu aku sendiripun tak tahu mengapa dapat berbuat demikian," jawab Dewi burung hong dengan manja, "kemudian setelah aku salah melukai dirimu, kemudian menyembuhkan pula lukamu, aku baru menyadari bahwa aku sebenarnya amat menyintai dirimu." Dengan nada berat Gak In Ling menghela napas panjang. "Aaaaaii., Engkau telah salah mencintai orang, " bisiknya .

"Kenapa ? Engkau tidak menyintai diriku?" Seru gadis tersebut dengan hati kaget, tercengang dan sedih.

Gak In Ling berusaha keras untuk menekan perasaan hati sendiri, sahutnya dengan lirih.

"Tidak Lain kali engkau akan memahami dengan sendiri."

"Aku apa yang akan kupahami ?"

Dalam pada itu mereka berdua sudah hampir tiba disebelah tikungan, Gak In Ling segera menjawab.

"Aku hanya ada sisa waktu selama dua bulan saja untuk hidup dikolong langit."

Tiba-tiba pandangan mata mereka menjadi silau, dan tahu-tahu sampailah kedua orang itu didepan pintu sebuah ruang batu yang luar biasa besarnya.

Diatas dinding dalam ruangan tersebut tergantunglah dua biji mutiara sebesar telur bebek. begitu terang cahaya yang

memancar keluar membuat ruangan tersebut menjadi terang benderang bagaikan disiang hari saja.

Baru saja Gak In Ling melangkah masuk ke dalam ruangan tersebut, terdengarlah Malaikat raksasa bermuka merah berteriak keras.

"Waduuuuhh waduuuuhh........ rupanya engkau memang bernyali besar, berani betul datang kemari."

Dengan cepat Gak In Ling menyapu sekejap seluruh ruang batu tersebut, ia melihat Malaikat raksasa bermuka merah sedang duduk di atas sebuah batu besar yang berhadapan dengan pintu masuk, pada sudut kanan ruangan itu bertumpuklah pelbagai macam barang ya porak poranda tidak karuan, rupanya benda-benda itu baru saja disingkirkan Hiat-bin Kim-kong dari ruang tersebut agar tidak mengganggu gerakannya bila terjadi pertarungan

Perlahan-lahan Gak in Ling menurunkan tubuh Dewi burung hong ditepi pintu, baru saja dia akan bangkit berdiri, gadis itu telah menarik tangannya sambil berpesan.

"Engkoh Ling, orang ini mempunyai ilmu weduk yang kebal terhadap pukulan, engkau harus berhati-hati dalam menghadapi dirinya, aku rasa kalau engkau turun tangan terhadap bagian bawah ketiaknya, engkau pasti akan berhasil merobohkan orang itu." suaranya penuh perasaan kuatir dan tidak tenang.

"Aku tahu "Jawab Gak In Ling sambil mengangguk, ia putar badan dan segera maju ke depan-

Sementara itu Hiat-bin Kim-hong Malaikat raksasa berwajah merah telah bangkit berdiri, Gak in Ling dapat melihat tinggi badan orang ini mencapai satu tombak lebih lima enam depa, berdiri tegak dihadapannya persis seperti sebuah pagoda baja. Gak In Ling segera melangkah maju kedepan, serunya.

"Aku tidak sungguh-sungguh ingin mendapatkan Ular mustika tersebut, asal engkau punya obat pemunah dan dapat memunahkan racun kelabang sayap emas yang diderita adikku, aku segera akan berlalu tinggalkan tempat ini."

"Kecuali ular mustika itu, tiada benda lain yang dapat memunahkan racun tersebut," tukas Malaikat raksasa bermuka merah dengan cepat.

"Kalau begitu bagaimana kita bekerja sama untuk membinasakan ular mustika itu, kemudian engkau bagikan sedikit saja ular mustika tersebut buat kami ?" Malaikat raksasa bermuka merah gelengkan kepalanya.

"Aku sudah tiga tahun larrnnya menunggu disini, tujuannya tidak lain adalah untuk mendapatkan seekor ular yang utuh, sudah tentu aku tidak bersedia untuk membagikan ular itu buat kalian-"

Gak In Ling tidak ingin beradu kekuatan dengan manusia tersebut, sebab dia kuatir bila waktu berlarut terlalu lama maka racun keji yang mengeram dalam tubuh Dewi burung hong akan menyerang kedalam hatinya sehingga jiwa gadis itu tak tertolong lagi.

Akan tetapi sesudah Malaikat raksasa bermuka merah bersikeras menampik tawarannya, pemuda itupun dibuat kehabisan akal, dalam gugup nya dengan air muka berkenyit ia berseru.

"Kalau begitu, terpaksa kita harus adu kekuatan ?"

"Haaaaahh haaaaahh haaaahh . sedikitpun tidak salah," jawab malaikat raksasa bermuka merah sambil tertawa keras, "hanya ada satu jalan bagimu yakni beradu kekuatan untuk menentukan mati hidup, cuma saja kalau aku yang begini besar mesti menghantam dirimu sama keadaannya seperti orang dewasa menganiaya anak kecil, menurut pendapatku begini saja, bagaimana kalau engkau hantam diriku tiga kali sedang aku akan membalas satu kali saja ?"

Gak In Ling tertawa dingin-

"Heeeehh heeeeeehh heeeehh aku tak mau cari keuntungan tersebut, lebih baik kita andalkan kemampuan masing-masing saja..."

"Engkau tak akan mampu mengalahkan diri ku," seru malaikat raksasa bermuka merah sambil maju selangkah kedepan.

Gak In Ling takut waktu berlarut-larut lebih jauh, sambil tertawa dingin dia segera berseru.

"Ucapan semacam itu masih terlalu pagi untuk dibicarakan, sambut dahulu sebuah pukulanku ini "

Seraya berkata dengan jurus Hiat-yu Seng- hong atau hujan darah angin amis dia hantam dada raksasa tersebut.

Ketika berada dimulut gua tadi Malaikat raksasa berwajah merah sudah pernah merasakan kurugian besar karena pukulan maut Gak In Ling, sekarang sesudah menyaksikan datangnya serangan membawa cahaya merah, ia tak berani bertindak gegabah, buru-buru badannya berkelit kesamping iaiu melancarkan sebuah tendangan kilat kearah si anak muda itu.

Jangan dilihat perawakan tubuhnya yang tinggi besar dan ketoloi-toloian, ternyata ketika melancarkan serangan gerakan tubuhnya cepat sekali bagaikan sambaran kilat, tendangan yang di lancarkan itu hampir boleh dibilang dilakukan dalam waktu yang bersamaan-

Gak In Ling sendiripun mengetahui kecuali angin pukulannya bersarang dibalik pada sasarannya, tiada kegunaan besar yang dapat diperoleh dirinya, maka ketika melihat pemuda itu berkelit dari datangnya ancaman, buru-buru dia buyarkan serangan dan berganti gerakan, denganjurus Tiat hiat-tiang-shiat atau darah berceceran

ditembok besar secepat kilat ia bacok kaki Malaikat raksasa bermuka merah yang menyerang datang.

Mimpipun Malaikat raksasa tak pernah menyangka kalau Gak In Ling bisa merubah serangan ditengah jalan dengan begitu cepat, untuk berkelit sudah tak sempat lagi.. Blaaamm Telapak kakinya sudah termakan oleh pukulan tersebut dengan telak.

"Aduuuuhh " Malaikat raksasa itu menjerit kesakitan, dengan cepat badannya mundur tiga langkah kebelakang, namun kaki tersebut masih tetap utuh seperti sedia kala.

Gak In Ling sendiri, ketika serangannya berhasil menghajar kaki Malaikat raksasa bermuka merah, ia merasakan tangannya seakan-akan sedang menghantam sebuah baja yang sangat kuat telapaknya terasa panas, linu dan sakit sekali, hatinya menjadi terkesiap. pikirnya.

"Kepandaian yang dilatih orang ini pasti bukan ilmu weduk biasa yang kebal terhadap pukulan, sebab betapa sempurnanya seseorang berlatih ilmu weduk tak mungkin dia mampu untuk menahan pukulanku ini "

Malaikat raksasa berwajah merah sendiripun merasa luar biasa terperanjatnya, diam-diam ia berpikir.

"Usia bocah itu masih muda, kenapa setiap pukulan yang dilancarkan olehnya begitu berat dan mantap ?"

Diam-diam Gak In Ling menghimpun tenaganya, tiba-tiba sambil membentak keras tubuhnya melayang ketengah udara dan menyerang sepasang mata malaikat raksasa.

Tindakan ini dengan tepat mengancam tempat paling lemah dari Malaikat raksasa bermuka merah, membuat jago luar biasa itu cepat-cepat tundukkan kepalanya dengan ketakutan, dengan begitu ia sambut datangnya serangan tersebut sementara sepasang tangannya diangkat dan secara ngawur didorong kedepan.

Satu ingatan berkelebat dalam benak Gak In Ling, pikirnya.

"Aku tidak percaya kalau kepalamujauh lebih keras daripada kakimu "

Hawa murninya segera disalurkan kedalam telapak dan sekuat tenaga dihantamkan keatas kepala Malaikat raksasa.

Dalam pada itu sepasang telapak Malaikat raksasa bermuka merah yang didorong kemuka pun sudah berada didepan sasarannya.

"Blaaamm..." benturan keras menggeletar diangkasa diikuti dua kali benturan lain saling susul-menyusul.

Termakan oleh pukulan dari Gak In Ling yang sangat kuat itu, tubuh Malaikat raksasa bermuka merah tergeser mundur tujuh langkah kebelakang, punggungnya menumbuk diatas dinding batu sehingga menimbulkan benturan dahsyat, orang itu seketika merasakan kepalanya pening- dan pandangan matanya berkunang-kunang .

Gak In Ling sendiri pun terdorong sejauh empat lima tombak sehingga menumbuk diatas dinding batu setelah termakan dorongan dari Malaikat raksasa, ia rasakan darah dalam tubuhnya bergolak keras, punggungnya terasa sakit dan kaku.

-oo0dw0oo-