Telapak Setan Jilid 15 : Gak In Ling palsu terungkap

Jilid 15 : Gak In Ling palsu terungkap

GAK IN LING tertawa dingin, serunya: "Aku masih belum mengetahui siapakah namamu ??"

"Heeehh.... haeehh... heeehh aku Gak In Ling "jawab

pria berkerudung hitam itu.

Nafsu membunuh yang sangat tebal memancar keluar dari balik mata pemuda tersebut, dengan nada menyeramkan ia berkata:

"Saudara, kalau sekarang engkau tidak sebutkan lagi siapa nama aslimu, aku takut setelah ini tiada kesempatan lagi bagimana untuk berbuat demikian "

Mungkin perkataan dari Gak In Ling terlalu menyeramkan dan mengerikan, membuat pria berkerudung hitam itu tanpa sadar mundur dua langkah ke belakang, semua gerak geriknya dilakukan tanpa sadar dan tak terkendalikan lagi.

Pria berkerudung hitam itu mundur dua langkah kebelakang, tiba-tiba dia ayunkan sepasang telapaknya kedepannya sambil berseru. "Bocah keparat, coba lihatlah sepasang telapakku ini."

"Hmm Tak usah, dilihat lagi." jawab Gak In Ling sambil tertawa dingin, sambil berkata selangkah demi selangkah ia maju mendekati pria berkerudung hitam itu.

Mengikuti melangkah majunya Gak In Ling tanpa sadar selangkah demi selangkah pria berkerudung hitam itu mundur kebelakang, otot-otot hijau diatas keningnya pada menonjol keluar dengan amat nyata karena tegang dan takutnya. Tiba-tiba pria berkerudung hitam itu membentak keras:

"Keparat setan, rupanya engkau kepingin mampus " Tubuhnya loncat maju kedepan dengan gerak Thian-wong-lo-ciok atau jaring langit menjala burung gereja ia terjang keatas kepala Gak In Ling, tampaklah selapis cahaya merah yang amat menyilaukan mata di iringi desiran angin tajam yang menggidikkan hati langsung menerjang kearah dada pemuda itu, serangannya sangat kuat dan mengejutkan-

Gak In Ling sama sekali tidak menghindar juga tidak melancarkan serangan balasan, hanya dengan dingin ia berkata.

"Aku rasa telapak maut tidak memiliki tenaga pukulan yang begitu besarnya "

Baru saja Gak In Leng menyelesaikan kata-katanya, sepasang telapak pria baju hitam itu sudah mencapai setengah cun diatas batok kepalanya, menyaksikan kejadian tersebut, baik Gadis suci dari Nirwana maupun Thian-hong pangcu sama-sama maju selangkah kedepan tanpa sadar.

Akan tetapi pada saat yang bersamaan pula, terdengarlah Gak In Leng membentak nyaring.

"Turun kamu dari sini "

Tangan kanannya diayun keatas, secara lamat-lamat tampaklah serentetan cahaya merah berkelebat lewat.

"Aaah Telapak... "jerit pria berkerudung hitam yang berada di udara dengan terperanjat.

Sebelum ia sempat menyelesaikan kata-katanya, jalan darah bisu diatas tubuhnya tahu-tahu sudah ditotok.

Perubahan tersebut berlangsung begitu cepat dan mendadak. hampir boleh dibilang para jago yang hadir disekitarnya kalang kabut kecuali Gadis suci dari Nirwana serta Thian-hong pangcu boleh dibilang tak sempat melihat jelas bagaimanakah caranya Gak In Ling mencengkeram urat nadi pada pergelangan tangan pria berkerudung hitam itu.

Dengan pandangan yang sangat dingin Gak In Ling menyapu sekejap kearah pria baju hitam yang berdiri ketakutan itu, kemudian tegurnya. "Sahabat, engkau telah mendapat perintah siapa ?"

Sambil berkata ia tepuk bebas jalan darah bisunya yang ditotok. kemudian tangan kanannya, diayunkan melepaskan kain cadar hitam yang menutupi wajah pria tersebut.

"Aaah dia bukan Gak in Ling "jeritan kaget berkumandang memenuhi seluruh gelanggang.

Paras muka Gadis suci dari Nirwana yang bersemu merah, mengikuti teruan tertahan lantaran kagetnya itu seketika berubah menjadi pucat pias bagaikan mayat, terdengar dara itu hatinya hancur bergumam seorang diri.

"Gak In Ling... Gak In Ling diantara kita mengapa selalu terjadi kasalah-pahaman yang demikian banyaknya ?? Aku... dimanakah aku bisa bertemu lagi dengan dirimu ?"

Mengikuti bisikannya yang memilukan hati, dua titik air mata jatuh berlinang membasahi wajahnya yang cantik.

Perempuan naga peramal sakti segera memayang tubuh Leng-cu nya, dengan suara lirih ia berbisik:

"Leng-cu, engkau tak usah bersedih hati mungkin Gak in

Leng belum mati kalau engkau tidak percaya, sebentar lagi

dengarkanlah penyelidikanku terhadap pemuda baju hitam itu, maka duduknya perkara dengan cepat akan jadi jelas."

"Sekalipun tidak mati, mungkin diapun tak akan memperdulikan diriku lagi." kata Gadis suci dari Nirwana dengan sedih.

"Penyakit yang ia derita toh hanya Leng-cu seorang yang bisa menyembuhkan " bisik perempuan naga peramal sakti. Gadis suci dari Nirwana menggeleng.

"Dia pasti amat membenci diriku, sekalipun kuberikan kepadanya belum tentu ia bersedia untuk menerimanya."

Mendengar perkataan itu perempuan naga peramal sakti segera tertawa.

"Tak usah kuatir Leng-cu, selama aku masih dapat bernapas tak nanti akan kusuruh Leng-cu merasa kecewa."

Pada saat ini Gadis suci dari Nirwana sudah kehilangan pegangan dan pikirannya terasa kalut sekali, mendengar jaminan yang diberikan kepadanya itu, dengan perasaan amat berterima-kasih ditatapnya perempuan itu kemudian berkata: "cici, bagaimana caranya kubalas budi kebaikanmu itu ??"

Sambil berkata digenggamnya tangan perempuan naga peramal sakti erat-erat, gerak-geriknya begitu polos dan bersungguh-sungguh.

Mendadak dari tengah gelanggang berkumandang suara bentakan dari manusia bertato sembilan naga yang amat keras.

"Bajingan sialan, ku bacok engkau sampai mampus " Sambil berkata toya bajanya di-ayun kedepan dan langsung membacok keatas batok kepala pria baju hitam itu.

Gak In Ling menengadah keatas dan memandang sekejap kearah manusia bertato sembilan naga, ia temukan kelopak mata orang telah berubah menjadi merah membara, otot-otot hijau pada keningnya pada menonjol keluar, keadaannya menyeramkan sekali.

Sebetulnya ia bisa menghindarkan pria baju hitam itu dari bahaya maut, namun ia tidak berbuat demikian, menanti toya baja milik manasia bertato sembilan naga sudah mencapai satu cun diatas kepala pria baju hitam itu, dia baru lepaskan Cekalannya dan loncat mundur sejauh beberapa tombak dari tempat semula.

"Blaaamm." ditangah benturan nyaring yang memekakkan telinga, tampaklah batok kepala manusia baju hitam itu terhantam sehingga hancur berantakan dan berserakan diatas tanah, darah segar muncrat keempat penjuru membasahi seluruh wajah dan badan manusia bertato sembilan naga..

Meskipun pria itu sudah menemuhi ajalnya, namun sepasang telapak tangannya masih tetap berwarna merah, rupanya dia memang sengaja mencat telapaknya dengan warna merah agar orang lain mengira bahwa dia memiliki ilmu telapak maut yang amat dahsyat itu.

Setelah berhasil memukul hancur batok kepala pria baju hitam itu, rupanya manusia bertato sembilan naga masih belum puas, toya bajanya diayunkan berulang kali menghantam mayat pria tersebut sehingga hancur lebur bagaikan perkedel, sesudah hawa dongkolnya terlampiaskan semua dia duduk diatas tanah dan menangis terseduh-seduh, suaranya keras bagaikan guntur sehingga menggetarkan seluruh bukit.

Walaupun Manusia bertato sembilan naga adalah seorang manusia kasar yang tak punya otak, tapi kesetia kawanannya amat terpuji dan lagi hatinya juga serta suka blak-blakkan.

Kini ia teringat kembali peristiwa sewaktu untuk pertama kalinya berkenalan dengan Gak In Ling, bagaimana pemuda

itu menyempurnakan ilmu silatnya dan bagaimana pula

sikap sang pemuda tersebut terhadap dirinya, meskipun ia bodoh namun perasaan persahabatan yang sudah terikat antara mereka berdua masih dapat diresapi.

Air matanya bagaikan sumber mata air mengalir keluar tiada hentinya, seduh-sedan nya yang nyaringnya dan keras kini sudah mulai serak dan parau.

Mula pertama kendatipun Gak In Ling merasa tidak puas karena tindak tanduknya yang gegabah, berangasan serta tidak membedakan mana yang benar dan mana yang salah, akan tetapi setelah menyaksikan ia menangis dengan begitu sedih nya, pemuda itu malahan merasa tidak tega.

Setelah menghela napas berat tegurnya.

"Heng tay, karena urusan apa engkau menangis dengan begitu sedihnya ??" Sambil menangis tersedu-sedu. Manusia bertato sembilan naga berkata.

"Terbayang olehku saudara Gak adalah seorang manusia yang jujur dan bersemangat jantan mana mungkin ia dapat melakukan perbuatan terkutuk semacam itu, tapi aku manusia bertato sembilan naga ternyata bodoh dan goblok, sama sekali tidak berkemampuan untuk menentukan mana yang salah dan mana yang benar, dalam gusarku telah kuhajar dia sehingga tercebur kedalam sungai oooh saudara Gak saudara Gak.

engkau tak akan menyangka bukan bahwa aku manusia bertato sembilan naga dapat membinasakan dirimu... "

Makin berkata ia merasa semakin bersedih sehingga akhirnya rambutnya ditarik-tarik dengan keras untuk menghukum diri sendiri.

Dengan sedih Gak In Ling menghela napas panjang, pikirnya di dalam hati kecilnya. "Aaaai Sudahlah, kumaafkan dirimu." berpikir sampai disitu. dia lantas berkata.

"Mungkinkah ilmu silat yang dimiliki saudara Gak mu itu jauh tidak memadahi kepandaian silat yang kau milikki ?"

"Ilmu silat yang dimiliki saudara Gak itu jauh diatas kepandaian yang dimiliki aku manusia bertato sembilan naga." sahut manusia kasar itu sambil menangis. Gak In Ling sengaja berpura-pura terkejut serunya dengan nada tercengang.

"Lalu secara bagaimana ia bisa dihajar sampai tercebur kedalam sungai ?? Aah mungkin pada waktu itu dia sudah menderita luka dalam yang cukup parah, setelah kau hajar dirinya sampai tercebur kedalam sungai, sembilan puluh persen jiwa nya tak tertolong lagi."

Perempuan naga peramal sakti yang mendengar perkataan itu, perasaan hatinya agak bergerak sambil tersenyum segera pikirnya.

"Gak In Ling, tak kusangka ternyata engkau memiliki perasaan hati yang ramah dan budiman-"

Manusia bertato sembilan naga tak dapat berpikir sampai ke situ, mendengar perkataan itu ia segera berteriak keras.

"Saudara Gak pasti tak pernah menyangka kalau aku yang mempunyai hubungan persahabatan yang demikian erat dengan dirinya pun tidak percaya terhadap pendiriannya, dalam putus-asa dan kecewanya tentu ia tak sudi melakukan perlawanan-"

Tak kalah Gadis suci dari Nirwana mendangar ucapan tersebut, hatinya segera merasa amat sakit bagaikan ditusuk dengan beribu-ribu batang jarum perak. air matanya bagaikan hujan gerimis mengucur keluar tiada hentinya...

Dalam pada itu Gak In Ling telah tertawa hambar dan berkata.

"Manusia yang telah mati tak dapat hidup kembali, asal dalam hati kecil Heng-tay sudah timbul perasaan menyesal dan sukma saudara Gak mu didalam baka dapat mengetahui akan hal ini, dia pasti bisa memaafkan kesalahanmu itu, sudahlah jangan menangis lagi." suaranya begitu lembut dan hangat.

Perasaan hati Manusia bertato sembilan naga segera bergerak, tiba-tiba ia menyeka air mata yang membasahi matanya dan berhenti menangis. "Benarkah ia dapat memaafkan kesalahanku itu ??" serunya. Dalam hati kembali Gak In Ling menghela napas panjang.

"Aaai kalau bukan aku yang memaafkan dirimu, siapa lagi yang bisa memaafkan dirimu ?" Berpikir sampai disitu, perlahan-lahan dia angkat wajahnya dan berkata dengan berat.

"Ketulusan hati akan mengharukan Thian, asal dalam hatimu terdapat seorang manusia seperti saudara Gak mu itu, dan mengetahui bahwa dia bukanlah seorang manusia jahat seperti yang kau bayangkan, bukankah dia masih tetap sebagai sahabat karibmu ? kalau memang begitu, berjumpa atau tidak apa pentingnya ?"

Dia mungkin tak dapat mengendalikan perasaan sedih yang berkecamuk dalam benaknya oleh karena itu ucapannya membawa nada yang memilukan hati bagi siapa pun yang mendengar-kan.

Gadis suci dari Nirwana angkat kepalanya dan alihkan matanya yang penuh dengan airmata itu keatas wajah Gak In

Ling yang jelek bagaikan setan, dia dalam hati kecilnya timbul suatu pengharapan yang sangat aneh dan tidak dimengerti olehnya, dia berharap pemuda bertampang jelek seperti setan itu dapat menghibur pula dirinya, seperti dia menghibur hati Manusia bertato sembilan naga.

Agaknya Manusia bertato sembilan naga tak berhasil memahami maksud yang sebenarnya dari ucapan Gak In Ling itu, dengan kebingungan ia berseru. "Aku masih tak habis mengerti "

Padahal ia sama sekali tidak mengerti, hanya saja malu untuk mengutarakannya keluar.

"Heng-tay." kata Gak In Ling lagi dengan hambar," Asal engkau masih ingat apa yang diharapkan saudara Gak kepadamu untuk kau kerjakan, lakukan saja menurut maksud hatinya... bukankah kesemuanya akan beres ?"

Perasaan hati Manusia bertato sembilan naga segera tergerak. serunya tanpa sadar.

"Aaaah sedikitpun tidak salah, dia mengharapkan aku melakukan sesuatu pekerjaan, Eeei.. Agakaya ia tak pernah berkata demikian- Aaaai Sekarang aku teringat sudah... "

Dengan sorot mata yang sangat aneh dan sepasang mata terbelalak lebar, ia menyeka air mata yang membasahi pipinya, kemudian menyambar toya bajanya dan loncat bangun, katanya.

"Saudara Gak ku mempunyai banyak orang musuh besar yang berdiam dilembah pemutus sukma aku harus pergi kesana... "

Apa yang dipikirkan segera dilaksanakan, setelah merangkul toya bajanya dengan langkah lebar ia segera menuruni bukit tersebut.

Perasaan hati Gak In Ling bergerak. buru-buru susulnya sambil membentak keras.

"Saudara aku rasa saudara Gak mu itu tentu tidak suruh

engkau mewakili dirinya untuk pergi asal balas dendam

bukan?"

Ketika mendengar teriakan tersebut, dari balik mata Perempuan naga peramal sakti memancar keluar serentetan sinar mata yang sangat aneh, dan ia melirik sekejap kearah Gadis suci dari Nirwana.

Sementara itu Manusia bertato sembilan naga sama sekali tidak menghentikan langkah kakinya, sambil melanjutkan perjalanannya ia berseru.

"Meskipun dia tak pernah berkata demikian akan tetapi setelah kuketahui harus kulakukan juga pekerjaan ini "

Habis berkata ia teruskan langkahnya keluar dari bukit tadi. Gak In Ling jadi amat gelisah, buru-buru serunya lagi.

"Engkau bukan tandingan dari orang-orang yang menghuni dilembah pemutus sukma"

"Mati binasa demi saudara Gaksku, sekalipun berkorban juga bukan persoalan bagiku." teriak Manusia bertato sembilan naga^

Ucapan tersebut amat tegas dan serius, ketika menyelesaikan kata-kata tersebut bayangan tubuhnya dan ikut lenyap dari pandangan-

Gak In Ling menghela napas panjang ia menyapu sekejap sekeliling tempat itu ketika sorot matanya menyapu wajah Gadis suci dari Nirwana serta Thian-hong pangcu nampak jelas hati-nya merasa tak tega, tapi ingatan tersebut hanya sebentar saja berkelebat dalam benaknya untuk kemudian lenyap tak berbekas.

Gak In Ling angkat kepala periksa cuaca, kemudian putar badan dan berjalan menuju kearah mana manusia bertato sembilan naga melenyapkan diri. tak sepatah katapun yang dia ucapkan terhadap orang-orang disekeliling sana. Tiba-tiba Perampuan saga peramal sakti berseru keras. "Gak In Ling "

Mendengar teriakan itu Gak In Ling hentikan langkahnya dan putar badan, baru saja dia akan buka suara mendadak teringat olehnya bahwa dandanannya pada saat ini bukanlah Gak In Ling, dalam hati kecilnya dia segera berseru.

"Aduh celaka, aku lupa kalau perempuan naga peramal sakti adalah seorang manusia yang cerdas dengan akal setan yang banyak."

Sementara itu baik Thian-hong pangcu maupun Gadis suci dari Nirwana sedang menatap wajahnya dengan pandangan tajam, dibalik sorot mata mereka terselip harapan, sangsi serta tanda tanya besar.

Dalam gelisahnya timbullah satu akal cerdik dalam benak pemuda itu, cepat-cepat dia ber kata.

"Gak In Ling sudah terkubur di dalam sungai, nona sedang memanggil siapa...?"

Habis berkata tanpa menanti jawaban lagi dengan langkah lebar segera berlalu dari sana.

Sebenarnya Perempuan naga peramal sakti akan membongkar rahasia pemuda tersebut saat itu juga, akan tetapi setelah dipikir sebentar dan merasa tindakan tersebut malahan justru tidak menguntungkan posisi Leng-cu nya maka ketika kata-kata tersebut sudah meluncur di ujung bibirnya segera ditelan kembali kedalam perut, dengan pandangan termangu- mangu dipandangnya bayangan punggung Gak In Ling sehingga lenyap dari pandangan-

Pada saat itu perasaan hati Gadis suci dari Nirwana boleh dibilang putus asa dan kecewa dengan sedih ia memandang awan yang bergerak diangkasa lalu berbisik lirih. "Mari kita pulang saja "

Perempuan naga peramal sakti nampak tertegun, serunya.

"Leng-cu, bukankah engkau hendak pergi mencari Tiong-cu dari perguruan Pit-tiong yang berasal dari Tibet ??"

"Itu urusan Leng-cu " tukas Gadis suci dari Nirwana dengan cepat.

"Leng-cu ? Bukankah engkau adalah Leng-cu ?" Gadis suci dari Nirwana tertawa sedih, jawabnya.

"Aku lebih senang hidup sebatang- kara tanpa pengiring, dari pada harus hidup terkekang sebagai boneka yang dipuja serta disanjung-sanjung setiap orang, aku adalah manusia, aku ingin merasakan pula kebahagian hidup sebagai seorang manusia yang wajar, karena kedudukan Leng-cu aku harus kehilangan apa yang kuinginkan-.. aku tak akan bersedia menduduki jabatan itu lagi."

Perlahan-lahan Thian-hong pangcu tundukkan kepalanya rendah-rendah, mungkin dia mempunyai perasaan yang sama.

Rupanya sejak permulaan Perempuan naga peramal sakti sudah dapat menduga apa yang sedang dipikirkan Gadis suci dari Nirwana pada saat itu, sengaja ia mengajukan pertanyaan tersebut tujuannya tidak lain adalah agar gadis suci dari Nirwana bisa lebih terang menjelaskan isi hati nya, daripada dikemudian hari dia menyangkal. Sambil menatap wajah gadis itu. ujarnya dengan wajah serius. "Leng-cu. apakah engkau mengira Gak In Ling benar-benar sudah mati... ?"

Sekilas cahaya aneh memancar keluar dari balik mata Gadis suci dari Nirwana yang jeli, akan tetapi sebentar saja sudah lenyap kembali dari pandangan, ia menghela napas sedih sambil berkata.

"Tak usah kau ungkap tentang dirinya lagi aku merasa

kesal."

Perempuan naga peramal sakti sama sekali tidak berhenti sampai disitu saja, ia berkata kembali.

"Apabila dugaanku tidak keliru, bukan saja Gak In Ling belum mati bahkan ilmu telapak mautnya telah berhasil dikuasai sepenuhnya."

Ucapan tersebut bagi pendengaran Gadis suci dari Nirwana serta Thian-hong pangcu benar-benar merupakan suatu berita yang menggetarkan hati karena itu setelah selesai mendengar perkataan tersebut empat buah pandangan mata yang jeli tanpa sadar bersama-sama dialihkan ke atas wajah perempuan naga peramal sakti. Perempuan cerdik tersebut tertawa, ujarnya kemudian-

"Barusan Leng-cu telah bertemu dengan dirinya "

"Barusan ?" teriak Gadis suci dari Nirwana dengan hati tertegun.

"Benar " Perempuan naga peramal sakti mengangguk serius, "pemuda baju hitam bermuka setan yang barusan munculkan diri itu, kecuali paras mukanya yang amat jelek dan menyeramkan seperti setan, bagian lain tak satupnn yang berbeda dengan Gak In Ling, terutama sekali ilmu pukulan yang dipergunakannya juga merupakan ilmu telapak maut "

Gadis suci dari Nirwana serta Thiau-hong pangcu segera termenung dan berpikir beberapa saat lamanya, dengan cepat mereka merasa bahwa orang itu memang sangat mirip dengan Gak In Ling, tetapi mereka tak habis mengerti kalau memang orang itu adalan Gak In Ling, mengapa pemuda itu tidak muculkan diri dengan paras muka aslinya ?

Walaupun Gadis suci dani Nirwana serta Thian-hong pangcu adalah perempuan-perempuan ampuh yang berotak cerdik, namun setelah menjumpai keadaan seperti itu tak urung dibikin kebingungan juga .

Sesudah termenung sebentar, terdengar Gadis suci dari Nirwana bertanya dengan nada tidak mengerti.

"Kenapa ia tidak menjumpai kita dengan paras muka aslinya ?" Perempuan naga peramal sakti menghela napas berat, sahutnya.

"Leng-cu, berulang kali engkau telah mencelakai dirinya, sebagai seorang pemuda yang berwatak angkuh dan tinggi hati ditambah pula penindasan oleh keadaan selama beberapa waktu belakangan ini membuat perasaan hatinya menjadi dingin dan kaku, rasa percayanya terhadap orang lain jadi

lenyap tak berbekas menurut pengamatanku, tempo hari

ketika ia terhantam sehingga tercebur dalam sungai, bukannya ia tak berhasrat melakukan perlawanan melainkan karena hatinya putus asa dan kecewa sebab sampai manusia bertato sembilan naga yang selalu setia kepadanya pun tidak mempercayai dirinya lagi."

Perempuan ini memang beuar-benar memiliki kecerdikan yang luar biasa, tidakkah aneh kalau ia sebagai seorang perempuan lemah yang tak bertenaga dan tidak mempunyai kemampuan untuk membunuh seekor ayam pun namun memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam perkumpulan Nirwana.

"Tapi. tapi aku tidak sengaja berbuat demikian-" kata

Gadis suci dari Nirwana dengan sedih, berbicara sampai disitu tak tahan lagi air matanya jatuh berlinang.

"Leng-cu, dia tak akan mengetahui sebanyak itu, mulai sekarang asalkan engkau dapat memimpin anak muridmu secara baik-baik dan bertujuan melenyapkan kaum durjana dari muka bumi, aku percaya Gak In Ling secara otomatis pasti akan datang sendiri untuk bekerja sama dengan kita, karena diapun memiliki hati yang bijaksana dan welas kasih namun tidak diketahui oleh siapa pun."

"Jadi menurut engkau dia benar-benar belum mati ?"

Dengan penuh kepercayaan pada diri sendiri Perempuan naga peramal sakti mengangguk.

"Benar" jawab nya tersenyum, "dan aku percaya sebentar lagi manusia bertato sembilan naga pun akan balik lagi kemari."

"Masa dia akan kembali kemari ?" seru gadis suci dari Nirwana keheranan-

"Benar, karena Gak In Ling yang suruh dia kembali kemari "

Pada saat itu sebenarnya Thian-hong pang cu sudah bersiap-siap meninggalkan tempat itu dengan membawa serta anak buahnya, tetapi setelah mendengar perkataan itu dia segera berhenti, karena dia ingin membuktikan apakah Manusia bertato sembilan naga benar-benar akan kembali kesitu, sebab dari kembali atau tidaknya manusia kasar itu dapat dibuktikan pula apakah Gak In Ling benar-benar masih hidup dikolong langit ataukah sudah mati.

Dia, Thian-hong pangcu meskipun diluaran selalu bersikap tenang padahal gelora cinta dalam hati kecilnya tidak kalah dengan keadaan dari Gadis suci dari Nirwana, sebab pengertiannya terhadap Gak In Ling jauh lebih mendalam satu tingkat jika dibandingkan dengan Gadis suci tersebut.

Pada saat itulah dari tempat kejauhan berkurnandangan datang suara teriakan parau dari Manusia bertato sembilan

naga.

"Aaaih Leng-cu. kiranya kalian belum pergi aku mengira tak dapat menemukan kalian lagi... "

Suaranya begitu riang gembira, dia mungkin selamanya

tak akan mengetahui bagaimana caranya antuk mengendalikan perasaan girang sedih, gusar atau gembira.

Ketika Gadis suci dari Nirwana serta Thian hong pangcu mendengar suara teriakan dari Manusia bertato sembilan naga, seakan-akan berjumpa dengan Gak In Ling sendiri, diatas wajah muka mereka seketika tersungginglah senyuman penuh kegirangan, perasaan hatipun terasa terhibur sekalipun mereka pandai menguasai diri namun sekarang pengendalian terhadap diri sendiri sudah tak terkontrol lagi. Buru-buru Perempuan naga peramal sakti terharu.

"Sebentar lagi kalian tak usah menanyakan kepadanya apakah telah berjumpa dengan Gak In Ling atau tidak. kalau dia mengatakan kearah timur maka kita harus kearah barat, dengan demikian kita tak akan kehilangan jejaknya lagi."

Perkataan itu diutarkan dengan suara keras agaknya sengaja diperdengarkan kepada Thian- hong pangcu.

Sementara itu Manusia bertato sembilan naga telah tiba dihadapan mereka. Sambil tertawa Perempuan naga peramal sakti segera menegur. "Apakah engkau tidak jadi pergi ke lembah pemutus sukma ?"

Hampir boleh dibilang tanpa dipikir lagi Manusia bertato sembilan naga segera menjawab.

"Dengan kekuatanku seorang tak mungkin bisa menangkan mereka yang berjumlah banyak, maka dari itu aku akan menunggu beberapa waktu lagi baru pergi kesitu."

Lelaki kasar ini tidak bisa bicara bohong, karena itu setelah perkataan tersebut diutarakan keluar nampaklah banyak kelemahan dibalik ucapannya tersebut. Dalam hati Perempuan naga peramal sakti segera berpikir^

"Sepantasnya bagi Gak In Ling untuk memberitahukan kepada manusia tolol ini bagaimana harus berbicara."

Berpikir sampai disitu, sambil tertawa dia lantas tertawa.

"Siapa yang tahu gelagat dan bisa menyesuaikan diri dengan keadaan dialah seorang manusia yang cerdik, jalan pikiranmu itu memang tepat sekali. Sekarang kami hendak pergi ke-benteng Hui-in-cay untuk menyelidiki kekuatan yang sesungguhnya dari para jago yang diutus datang dari Tibet, apakah engkau akan ikut serta bersama kami ?"

Air muka manusia bertato sembilan naga berubah hebat, serunya. "Berapa lama yang engkau butuhkan ?"

Diam-diam perempuan naga peramal sakti merasa geli, namun diluaran dia segera menjawab:

"Sekarang kami masih belum ada rencana untuk sungguh-sungguh bentrok secara kekerasan dengan mereka, tentu saja kita segera pergi kesitu dan segera kembali pula?"

Rupanya Thian-hong pangcu mempunyai rencana lain dalam hati kecilnya, dia segera ulapkan tangannya kepada anak buahnya, dan kemudian kepada gadis suci dari Nirwana katanya.

"Siau-moay akan berangkat lebih dahulu, sampai jumpa lagi di lain kesempatan-"

Gadis suci dari Nirwana bukanlah lentera yang kehabisan minyak. ia segera tertawa dingin dan menjawab.

"Silahkan pangcu berlalu dari sini, setiap saat siau- moa menantikan petunjuk darimu."

Thian-hong pangcu tertawa dingin, dia segera putar badan dan berlalu bersama-sama anak buahnya.

Sementara itu manusia bertato sembilan naga setelah berpikir sebentar lalu berkata. "Baik Akupun ikut dengan kalian

it

Maka merekapun segera menyusun rencana kemudian dengan terbagi menjadi beberapa rombongan berangkatlah menuju kebenteng Hui-in-cay.

Perhitungan dari Perampuan naga peramal sakti ternyata sedikitpun tidak salah, setelah Gak In Ling berhasil menasehati Manusia bertato sembilan naga, ia segera berangkat menuju ke- benteng Hui-in-cay.

Ketika untuk pertama kalinya Gak In Ling berkunjung kesitu, hatinya memang merasa agak keder dan takut terhadap dinding tebing yang curam disekitar benteng tersebut, tapi sekarang setelah berkunjung untuk kedua kalinya ia sama sekali tak pandang sebelah matapun terhadap bukit terjal yang terbentang didepan mata itu.

Gak In Ling berputar satu lingkaran besar lebih dahulu untuk menghindari para jago, tidak selang beberapa saat kemudian ia sudah berada kurang lebih dua ratus tombak dari dinding tebing dimana benteng Hui-in-cay dibangun.

Tampaklah bukit bertebing yang cuma berdiri dengan angkernya diliputi kabut putih yang tebal, pepohonan yang hijau dan rindang tumbuh dengan amat subur disekeliling sana, pemandangan alam disekitar situ boleh dibilang indah menawan hati.

Gak In Ling berpaling dan memandang sekejap kearah tebing curam yang tingginya mencapai ratusan tombak itu, serta-merta ia segera menduga bahwa benteng tadi tentu dibangun diatas tebing yang curam itu, akan tetapi ketika ia tundukkan kepalanya dengan cepat pemuda itu berdiri tertegun.

Di bawah tebing tampaklah bangunan rumah berderet-dsret, rupanya ditempai itu merupakan sebuah perkampungan yang cukup luas.

Rupanya disitulah letak benteng Hui-in-cay yang dicari-carinya selama ini...

Nafsu membunuh dengan cepat menyelimuti seluruh wajah Gak In Ling, gumamnya seoran diri.

"Bagus Aku akan mulai dari sini, akan kubikin darah berceceran dimana- mana."

Tanpa ragu-ragu lagi dia segera mengepos tenaga dan melayang turun kebawah kemudian dengan gerakan yang cepat bagaikan sambaran petir menyerbu masuk kedalam perkampungan tersebut.

Jarak sejauh ratusan tombak hanya dilalui dalam waktu yang amat singkat, dengan enteng sekali Gak In Ling meloncat naik keatas sebuah dinding berbatu yang tingginya mencapai dua tombak kemudian melongok kearah dalam.

Tampaklah halaman tersebut mencapai beberapa puluh tombak luasnya, kompleks perumahan yang dibangun ditempat itu mencapai ratusan buah banyaknya, semuanya dibangun dengan batu cadas yang kuat dan kokoh sekali.

cuma bangunan-bangunan rumah batu itu sebagian besar berada didalam keadaan terkunci, agaknya sangatjarang ada orang yang berdiam di situ.

Pada arah sebelah depan merupakan sebuah ruang tamu yang tinggi besar dan dibangun dengan batu kali, bayangan manusia nampak berkelebat silih berganti, agaknya disitu sedang diadakan suatu perjamuan makan-

Tepat berhadapan dengan bangunan besar itu merupakan sebuah lapangan yang cukup luas, disekeliling lapangan adalah dinding pekarangan yang tinggi, setiap jarak sepuluh langkah tumbuhlah sebatang pohon siong yang amat besar, ditinjau dari besarnya dahan pohon yang bisa ditarik kesimpulan bahwa pohon siong tersebut telah di tanam sejak lima puluh tahun berselang.

Sementara Gak In Ling masih meneliti keadaan disekeliling tempat itu tiba-tiba dari bawah sebuah pohon siong disebelah depan sana berkumandang suara bisikan seorang dengan nada yang kecil tapi nyaring:

"Aku melihat perasaan hati Wan-cu pada hari ini kurang begitu bergembira, kemungkinan isterinya yang seperti kuntilanak itu kembali main serong dengan pria lain-... "

"Loo Sun, hati-hati kalau sampai didengar olehnya " suara lain yang jauh lebih kasar memperingatkan.

"Aaah Jaraknya begitu jauh, mana ia bisa dengar perkataanku?" sesudah berhenti sebentar rupanya secara tiba-tiba ia teringat akan sesuatu, segera ujarnya kembali.

"Hey, Loo Sun, aku dengar orang bilang, katanya Gak In Ling sudah mampus tercebur ke dalam sungai, apakah berita ini dapat dipercaya atau tidak..?"

"Tentu saja dapat dipercaya. Idee tersebut muncul dari otak Wan cu kita, delapan sampai sembilan puluh persen tak bakal salah lagi. Sekali waktu Wan cu buru-buru hendak mencari kembali saudara angkatnya yang sedang menyaru sebagai Gak in Ling, sungguh tak nyana bajingan itu rupanya adalah bajingan tengik setan kelaparan yang gemar main perempuan, setelah ada gadis ayu dia jadi segan pulang sehingga menggusarkan hati dua orang pangcu besar dari dunia persilatan dan menangkap dirinya, kemungkinan besar hari ini Wan cu sedang merisaukan peristiwa tersebut."

"Benar Engkau masih mengatakan semua perbuatan Wan cu kita delapan sampai sembilan puluh persen tak bakal salah ? bukankah persoalan ini merupakan kesalahannya yang pertama ?"

"Itulah yang dikatakan pepatah sebagai: Sepandai-pandainya tupai meloncat, tokh akhirnya pasti akan terjatuh juga. Dia tokh bukan seorang Malaikat, tentu saja ia tak dapat pula menduga apa yang bakal terjadi dikemudian hari ?"

"Hmm masih ada lagi persoalan tentang ibunya Gak In Ling di masa lampau?"

"Aaah itu tokh disebabkan perempuan tersebut tak tahu diri, ada rejeki dan kenikmatan tidak dicicipi sebaliknya hendak menjaga kesucian, kehormatan segala tetek bengek. Huuh menyebalkan- " "

"Sementara Wan cu kitapun harus memikirkan persoalan tersebut sampai disitu, kalau kita hantam dulu kemudian baru dirundingkan bukankah dikolong langit bakal menjadi aman dan tentram ?"

Ketika ditunggunya lama sekali namun tiada jawaban dari rekannya, orang itu segera berpaling.

"Heei... Loo Sun Aaah kemana dia pergi ?" serunya tertegun.

Ketika ia menengadah keatas maka tampaklah sepasang kaki rekannya sudah tinggalkan permukaan kurang lebih setengah depa dan ia berdiri disana dengan tenangnya tanpa bergerak.

Hal ini membuat hatinya menjadi amat terperanjat, pikirnya.

"Aaah sungguh tak kusangka Loo Sun bajingan ini ternyata telah mempelajari ilmu berjalan diangkasa "

Berpikir sampai di situ, ia segera berseru: "Hey, Loo Sun, sejak kapan engkau mempelajari ilmu berjalan diangkasa ? kenapa tidak kau ajarkan pula kepadaku ?"

Pada saat itulah tiba-tiba berkelebat lewat serentetan cahaya putih, disusul tengkuknya menjadi kencang, hal ini membuat hatinya amat terperanjat, ketika menengadah keatas tak sabar lagi orang itu menjerit: "Aduuuh mak. Loo Sun sudah menggantung diri "

Tiba-tiba dari atas kepala berkumandang suara teguran yang dingin menyeramkan-"Bajingan, coba periksalah sekelilingmu "

Suara itu mengandung nada berpengaruh yang sangat berwibawa, membuat orang tak berani untuk membangkang perintah tersebut.

Mendengar perkataan itu, orang tersebut segera menyapu sekejap kesekeliling tempat itu, jantung dan nyalinya kontan terasa pecah dan sukmanya terasa melayang tinggalkan raganya? tampaklah pada jarak tiap lima batang pohon siong tergantunglah dua orang, mereka bukan lain adalah enam belas orang rekannya yang ditugaskan untuk mengawal dan menjaga keamanan di tempat itu.

Dengan penuh ketakutan orang itu menengadah lagi keatas pohon, akan tetapi setelah sorot matanya membentur dengan orang yang berada diatas tak kuasa lagi bulu kuduk pada bangun berdiri, serunya.

"Aaa Kau kau kau manusia atau setan ? Kau kau.. , "

Tak usah ditanya lagi. orang yang berada diatas pohon bukan lain adalah Gak In Ling.

"Siau-ya mu bukan lain adalah setan pembetot sukma yang khusus datang kemari untuk membereskan nyawa kalian semua..." sahut Gak In Ling sambil tertawa seram.

"Yaaa setan ampunilah jiwa ku Hamba belum pernah menyalahi dirimu... ampunilah kami... "

"Tadi kalian bersama-sama sedang membicarakan suatu masalah yang tak berbeda, maka kalian semua harus mati."

"Per... persoalan apa ??"

"ibu Gak In Ling" jawab pemuda itu demgan sadis, habis berkata tangannya bergerak di tarik keatas.

"Ampun ampun-... Aaak "

"Gak In Ling menggantungkan tubuh orang itu diatas dahan pohon siong, setelah menyapu sekejam enam belas sosok mayat yang bergelantungan disekeliling sana, gumamnya seorang diri.

"Ini hari siau-ya akan mencuci seluruh benteng Hui-in-cay dengan darah segar "

Habis berkata ia segera loncat naik keatas atau ruangan besar itu. Ruangan itu luas sekali, pada dinding tembok tergantunglah lukisan-lukisan serta tulisan antik yang berharga dan indah, suasana nampak megah sekali, pada kedua belah sisi pintu gerbang berderetlah dua buah deretan rak senjata yang terbuat dari tembaga, perbagai senjata tombak dan golok terpancang di tempat itu.

Dikedua belah sisi rak senjata itu masing masing berdirilah dua orang pria yang berperawakan tinggi kekar, gayanya keren dan serius seakan- akan pengawal istana.

Dalampada itu ditengah ruangan besar berderetlah dua buah meja bulat di mana masing-masing duduklah empat orang, masakan yang lezat dihidangkan diatas meja, tapi jarang ada orang yang mencicipinya, entah apa yang sedang dipikirkan oleh mereka sehingga sama sekali tiada bernafsu untuk makan-

Pada meja yang paling dalam, tempat duduk menghadap pintu duduklah seorang kakek berambut putih yang memakai jubah warna hijau, pada saat itu seorang diri ia minum arak dengan cawan besar sehingga sebagian wajah tertutup oleh cawan itu dan membuat Gak In Ling yang berada diatas atap tak sempat melihat jelas paras mukanya.

Sementara itu seorang lelaki berdandan sebagai pelajar yang bermata kecil dan beralis tipis yang duduk disebelah kanan kakek baju hijau itu berkata dengan nada lirih. "Wan cu jangan minum lagi, aku lihat engkau sudah hampir mabok " Mendengar ucapan tersebut, kakek baju hijau itu segera menggebrak meja keras-keras.

Braaaak ...

Dia letakkan kembali cawannya diatas meja dan mencaci maki kalang kabut.

"Maknya... kurang ajar terbayang di mana terlampau betapa bahagia dan gembiranya kehidupan aku "Tiat-pay-ciau" ular berpunggung baja, sungguh tak nyana dimasa tuanya harus menanggung hangus hitam pantat orang, dari pagi sampai malam harus merasa takut dan berdebar-debar sehingga hidupku tidak tentram, maknya entah siapa yang telah berbuat celaka sehingga generasi sekarang yang musti membayar karmanya."

orang ini mempunyai alis mata yang tebal dengan sepasang mata bagaikan mata Ikan mas yang melotot keatas, hidung besar seperti hidung singa, mulutnya lebar dan wajah bengis, membuat siapapun yang melihat segera mempunyai kesan bahwa dia adalah seorang manusia yang ganas.

Pada saat itu, mungkin karena terlalu banyak minum arak. selembar wajahnya telah berubah menjadi merah padam membuat orang yang memandangnya merasa semakin muak.

Lelaki berdandan pelayan yang tak lulus ujian itu nampak mengenyitka n sepasang alis matanya yang tipis, kemudian dengan perasaan tak senang hati katanya. "Wan cu, kalau engkau berkata demikian maka ucapanmu itu keliru besar

sekali." "Braaak "

sekali lagi ular berpunggung baja menghantam meja keras-keras, membuat beberapa cawan arak bergelimpangan, teriaknya keras-keras.

"Bagian mana yang salah ? coba katakan ?" nampaknya hawa amarahnya telah memuncak.

Lelaki yang berdandan sebagai pelajar itu, walaupun menyebut ular berpunggung baja sebagai Wan cu, tetapi dalam kenyataan nampaknya tidak begitu menghormati dirinya, mendengar ucapan tersebut wajahnya menjadi berubah kaku, serunya dengan dingin.

"Tempo hari dalam peristiwa pembunuhan terhadap orang she Gak tersebut, bukankah rencana itu muncul dari pikiranmu sendiri Lalu siapakah yang akan kau salahkan ?"

"Sedikitpun tidak salah, pembunuhan itu memang muncul atas dasar kemauanku sendiri." seru Ular berpunggung baja sambil bangkit berdiri,

"akan tetapi kalau tak ada Ngo-gak sin-kun malaikat lima bukit serta Jit-jian-siu (kakek tujuh cacad), sekalipun aku bermaksud membinasakan dirinya pun belum tentu bisa kulakukan, lagi pula orang yang menarik keuntungan dari peristiwa tersebut bukanlah aku."

"Wan cu, darimana engkau bisa mengatakan kalau engkau tidak memperoleh keuntungan apa-apa ? coba bayangkanlah, diantara orang-orang yang ikut serta dalam peristiwa tersebut sehingga kini, masih ada beberapa banyak yang tetap hidup ?"

"Hm Benar, orang yang turut serta dalam peristiwa tersebut sebagian besar memang sudah mati ditangan Ngo-gak Sin-kun-Jit-jan-siu serta Buddha antik, akan tetapi itu toh berhubung mereka telah melakukan kesalahan sendiri, sehingga memberi kesempatan kepada mereka untuk melakukan pembasmian tersebut." seru Ular berpunggung baja sambil mendengus dingin-

"Heeeeh heeeeh. heeeh Wan cu benarkah jalan pikiranmu sendiri demikian sederhananya ?" ejek lelaki berdandan pelajar itu sambil tertawa dingin.

Ular berpunggung baja mengerutkan dahinya, kemudian dengan perasaan sangat mendongkol ia tertawa keras.

"Haaah.. haaaah haaaah Tok sim-Siu-su Pelajar

berhati racun Sing Hong, engkau anggap dikolong langit

hanya engkau seorang yang berotak encer serta dapat berpikir

?"

Mendengar teguran itu, Tok-sim Siu-su segera meloncat

bangun dari kursinya, kemudian sambil tertawa dingin

balasnya.

"Wan cu, aku harap engkaupun gunakan pula sedikit otakmu untuk berpikir, kalau tidak mungkin engkaupun akan turut menerima akibat seperti apa yang dialami beberapa orang.. "

Dari nada suaranya dapat didengar bahwa dia sama sekali tidak sungkan-sungkan dalam ucapannya tersebut.

Dari balik sepasang mata Ular berpunggung baja yang melotot keluar bagaikan mata ikan mas segera memancar keluar serentetan cahaya yang menggidikkan, nafsu membunuh menyelimuti seluruh wajahnya, sambil tertawa dingin serunya.

"Sim Hong, kalau engkau mengatakan yang lain maka belum tentu kebenarannya, akan tetapi kalau kau menduga siapa bakal mati siapa bakal hidup, sering kali ramalanmu tepat sekali, ini hari bagaimanapun juga engkau harus memberi keterangan yang sejelas-jelasnya kepadaku "

Berbicara sampai disitu sepasang matanya dengan memancarkan sorot cahaya yang bengis menatap wajah pelajar berhati racun itu tanpa berkedip.

Pelajar berhati racun Sim liong menyadari bahwa tenaga dalam yang dimilikinya masih belum mampu menandingi kehebatan dari Ular berpunggung baja, menyaksikan kejadian itu hatinya menjadi amat terperanjat, pikirnya.

"Aduh celaka, aku telah terlanjur berbicara sehingga menimbulkan kecuriganya.. sekarang bagaimana baiknya ?"

orang ini benar-benar amat licik dan banyak akal, sesudah berpikir sebentar sambil tertawa segera jawabnya.

"Wan cu apa yang kukatakan tidak lebih hanya suatu dugaan belaka, kalau memang kebetulan tepat dugaanku rasanya tiada sesuatu yang perlu kau herankan-"

Ular berpunggung baja menarik kursinya dan mundur dua langkah kebelakang, sesudah tertawa dingin kembali katanya.

"Sedikitpun tidak salah, memang tak perlu diherankan, akan tetapi yang paling mengherankan adalah bagaimana caranya engkau memberi kabar kepada kakek tujuh cacad "

Terkejutlah hati pelajar berhati rccun Sim Hong sesudah mendengar ucapan itu, buru-buru dia mendorong kursinya sehingga mundur tiga langkah kebelakang, serunya.

"Wan cu- engkau sudah mabok." Sementara itu keenam orang lainnya telah bangkit berdiri dan bersamaan waktunya sama-sama tinggalkan tempat duduk masing-masing dan dengan cepat mengepung ular berpunggung baja ditengah kalangan-

Ular berpanggung baja menyapu sekejap sekeliling ruangan itu kemudian dengan perasaan sedikitpun tidak gentar ia tertawa bahak- bahak.

"Haaah haaaah haaaah... kedatangan kalian berenam

bukanlah sedang menjalankan tugas untuk menangkap ular berpunggung baja... " ejeknya.

Habis berkata demikian tiba-tiba dia lepaskan jubah hijaunya, sementara itu sepasang tangannya bekerja cepat dan tahu-tahu dalam genggaman telah bertambah dengan dua buah senjata gada yang besarnya seperti kepalan-

Pelajar berhati racun itu Sim Hong dengan cepat mengundurkan diri kebelakang, sesudah berada dibawah lindungan keenam orang itu, nyalinya semakin besar, sambil tertawa dingin, serunya.

"Ular berpunggung baja, tidak seharusnya engkau mencari penyakit dengan menggabungkan diri dengan perguruan Pit-tiong dari Tibet, tindakanmu itulah yang telah mengundang bencana kematian bagimu pada hari ini."

"Haaaah... haaaah... haaaaah apakah kalian juga pernah

memikirkan soal mati hidup bagi kalian sendiri ?"

Pada saat itulah tiba-tiba dari arah halaman berkumandang datang suara teriakan keras yang penuh mengandung nada kaget dan ketakutan-

"Aaaah Wan cu, kenapa keenam belas orang pengawal telah mati tergantung semua?"

Ditengah suasana yang tegang dan kritis teriakan tersebut sangat mengejutkan hati semua orang, sekalipun ucapan itu berkumandang sangat jelas tetapi mereka masih merasa setengah percaya setengah tidak.

Sebab keenam belas orang pengawal halaman tersebut walaupun ilmu silatnya masih belum bisa terhitung jago kelas satu dalam dunia persilatan, tetapi mereka sudah cukup dikatakan merupakan Bu-su kelas dua atau tiga dalam sungai telaga, kalau dikatakan beberapa orang diantara mereka mati terbunuh orang kejadian itu bukanlah suatu peristiwa yang aneh, tetapi kalau dikatakan mereka mati tergantang semua diatas pohon tanpa menimbulkan sedikit suarapun, siapapun sulit untuk mempercayainya.

Ular berpunggung baja segera loncat masuk ke tengah hala man, ketika ia sudah menerima keadaan yang sebenarnya hatinya baru amat terperanjat sehingga untuk beberapa saat lamanya tak mampu mengucapkan sepatah katapun, bukan saja semua orang sudah mati tergantung bahkan tali yang menggantung mereka ternyata sama panjangnya, hal itu membuktikan kalau pekerjaan tersebut dilakukan oleh seseorang.

Orang yang berteriak tadi adalan seorang kacung kecil pada saat itu dia sudah ketakutan setengah mati dan menyembunyikan diri dibelakang ruangan setelah menjumpai mayat-mayat yang mati tergantung dengan mata melotot serta lidah menjulur keluar itu.

Setelah memeriksa beberapa saat lamanya, tiba-tiba satu ingatan berkelebat dalam benak Ular berpunggung baja, keringat dingin segera mengucur keluar tiada hentinya membasahi seluruh badan, arak yang barusan diminum pun telah mengalir keluar semua sebagai keringat, membuat kesadarannya jauh lebih kurang beberapa bagian dari keadaan semula.

Ketika Pelajar berhati racun Sim Hong menyaksikan kejadian itu, sambil tertawa dingin segera serunya.

"Apabila dugaanku tidak melesat, pastilah dia orang tua yang telah datang... "

Dalam hati Ular berpunggung baja merasa sangat takut, tapi diluaran ia berlagak tenang, sambil tertawa paksa katanya.

"Barusan aku memang sudah minum arak terlalu banyak, apabila aku sudah berlaku kurang hormat terhadap dia orangtua, semoga Sim Hong suka mengucapkan beberapa patah kata yang enak didengar dihadapan Jit-loo serta bersedia memaafkan diriku satu kali ini saja."

Agaknya dia mengira bahwa orang yang telah datang benar-benar adalah kakek tujuh cacad atau Jit jan-siu.

Pelajar berhati racun Sim Hong sendiri sebelum berjumpa dengan kakek tujuh cacad tidak berani pala bersikap terlalu kasar terhadap diri Ular berpunggung baja, mendengar perkataan itu dia segera tertawa dingin sambil berkata.

"Wan cu, buat apa engkau bersikap kasar lebih dahulu kemudian menghormat kemudian ? kalau ada persoalan ayo ikut aku dan katakan sendiri dihadapan Jit-loo."

Berbicara sampai disitu ia segera memberi tanda kepada keenam orang lainnya, kemudian putar badan siap tinggalkan tempat itu.

Pada saat itulah, tiba-tiba dari atas atap ruangan besar berkumandang datang suara teguran yang amat dingin bagaikan es. "Apakah kalian bertujuh akan berlalu dengan begitu saja ?"

Suaranya dingin, ketus dan membikin bulu kuduk orang pada bangun berdiri.

Tanpa sadar pelajar berhati racun sim Hong sekalian bertujuh merasakan hatinya bergidik dan bulu kuduknya pada bangun berdiri sesudah mendengar teguran tersebut, dengan cepat mereka putar badan dan menengadah keatas atap ruangan.

Tampaklah seorang pemuda bermuka setan, dan memakai baja warna hitam berdiri kaku diatas atap rumah, ujung bajunya berkibar terhembus angin, begitu gagah dan wibawanya orang itu membuat orang menjadi kagum dan tak berani memandang rendah.

Sementara itu Ular berpunggung baja menjadi lega hatinya setelah mengetahui bahwa orang yang barusan munculkan diri hanya seorang pemuda belaka, dengan suara dingin ia segera menghardik.

"Bangsat cilik bertampang jelek. siapa engkau ? apakah orang-orang itu mati ditang anmu?"

Pemuda baju hitam itu tentu saja bukan lain adalah Gak In Ling, ia tertawa seram.

"Heeehh heeeehh... heeeehh sedikitpun tidak salah, orang-orang itu memang mati ditanganku "

Tanpa terlihat gerakan apakah yang digunakan, tahu-tahu ia sudah berada diantara kedelapan orang itu.

Takkalah menyaksikan gerakan tubuh Gak In Ling yang begitu lihaynya, kedelapan orang itu dengan ketakutan segera mengundurkan diri sejauh tiga langkah kebelakang, sebab mereka hanya sempat melihat berkelebatnya bayangan hitam belaka.

Pelajar berhati racun Sim Hong melirik sekejap kearah enam orang yang berada disisinya, kemudian menegurnya dengan suara dingin.

"Bocah keparat, sebenarnya engkau siapakah? Ayo sebutkan siapa namamu ? sudah berapa lama datang kemari ?" Sekali lagi Gak In Ling tertawa seram.

"Heeeh heeeehh heeeehh aku sudah beberapa lamanya datang kemari, semua perkataan yang kalian bicarakan sudah kudengar semua. oleh karena itu aku telah menjatuhkan hukuman mati kepada kalian semua, terutama sekali terhadap Ular berpunggung baja ong Kiam Lian "

sesudah berhenti sebenar, dengan seram sambungnya lebih jauh.

"Sedangkan mengenai siapakah aku, aku rasa diriku sudah tidak terlalu asing lagi bagi kalian-"

Tiba-tiba ia melepaskan topengnya yang menutupi wajahnya, sambil membentak keras. "Kenalkah dengan aku ?"

"Aaah Gak In Ling " hampir bersamaan waktunya delapan orang itu sama-sama menjerit kaget.

Tak sadar mereka mundur satu langkah ke belakang dengan hati bergidik karena ngeri.

Bukan hanya mereka saja yang merasa terperanjat, pada saat itu dibalik rindang serta lebatnya daun pohon siong terdapat pula beberapa orang yang merasa terkejut bercampur girang sehingga hampir saja menjerit keras. Sementara itu Gak In Ling sudah tertawa dingin dan berseru.

"Bagaimana ?" kalian tentu tak pernah menyangka bukan?"

Pelajar berhati racun Sim Hong mengerutkan alis matanya yang tipis, diam-diam pikirnya.

"Tenaga dalam yang dimiliki orang ini amat sempurna dan sukar diduga dengan kata-kata, bahkan Hiat Mo ong bukan tandingannya, apabila keadaan tidak terlalu mendesak aku harus menghindarkan diri untuk saling bergerak satu lawan satu dengan dirinya."

Berpikir sampai disitu, dia lantas berkata "Kami tokh tiada

sangkut paut dan hubungan apa pun dengan dirimu kenapa

engkau mesti mencari gara-gara pula dengan diriku ?"

Sikapnya lembut dan halus membuat orang yang melihat tampangnya itu segera mengetahui bahwa dia pandai berlagak pilon.

"Heeeehh heeh heeeehh... " Gak In Ling tertawa

seram. "bukankah sudah kukatakan tadi apa yang kalian bicarakan barusan tatah kudengar semua. Sekarang waktu yang kumiliki terbatas sekali, kalau kalian bertujuh segan untuk turun tangan lebih baik cepatlah bunuh diri, aku orang she Gak enggan mencari banyak urusan-"

Walaupun perkataannya amat tenang dan datar, akan tetapi ucapan tersebut bagaikan suatu perintah kematian.

Pelajar berhati racun sim Hong mengerling sekejap kearah seoraag pria kekar yang berada di sisinya kemudian berkata. "Apakah engkau hendak memusuhi Jit-lo secara terbuka ?"

Mengungkap tentang Jit-jan-siu, kakek tujuh cacad, diatas paras muka Gak In Ling yang tampan segera terlintas hawa napsu membunuh yang sangat tebal, dengan sadis dia berseru.

"Sekarang, aku tidak menginginkan kalian bertujuh untuk melakukan bunuh diri lagi, karena akan kusuruh bajingan itu tujuh cacad menyaksikan sampai dimanakan kesadisan serta kebrutalan dari aku orang she Gak." seraya berkata perlahan-lahan ia melangkah maju mendekat ketujuh orang jagoan tersebut.

Semula maksud Pelajar berhati racun Sim Hong adalah hendak menggunakan nama besar dari Jit-jan-siu kakek tujuh cacad untuk menakut-nakuti Gak In Ling, sungguh tak nyana apa yang kemudian terjadi nyata jauh diluar dugaan nya bahkan telah memancing berkobarnya hawa napsu membunuh dalam dada sianak muda itu.

Setelah menyaksikan kehadiran Gak In Ling dengan wajah yang beringas seram, sadarlah Pelajar berhati racun Sim Hong bahwa persoalan yang dihadapinya pada saat ini terpaksa harus di selesaikan dengan kekerasan, kepada pria kekar yang berada disisinya dia segera berseru.

"Hek-heng, beri pelajaran kepada bajingan tengik yang tak tahu diri itu "

Pria kekar tersebut sudah amat lama bergaul dengan Pelajar berhati racun Sim Hong, setiap kali memberi hajaran kepada orang, dia selalu memperoleh keuntungan yang besar, dan kini tatkala dilihatnya Gak In Ling yang dihadapi tidak lebih hanya seorang pemuda ingusan, dalam anggapannya sekali menyerang tentu akan mendapatkan hasil yang diinginkan, mendengar perintah tersebut dia segera membentak keras. "Bocah keparat, sambutlah serangan maut dari toa-ya mu ini... "

Dengan jurus "Hui-poo-nau-tiau" atau pancaran maut diair terjun, ia tubruk Gak ln Ling dan melancarkan satu pukulan yang maha dahsyat.

Tenaga dalam yang dimiliki orang ini benar-benar luar biasa sekali, begitu serangan dilepaskan maka tampaklah bayangan telapak mematikan bagaikan bukit, deruan angin puyuh menyambar dengan hebatnya, serangan tersebut benar-benar menggetarkan hati orang.

Gak ln Ling sama sekali tidak menghindar ataupun berkelit, dia pun tidak segera melancarkan serangan untuk menyambut datangnya ancaman tersebut sambil tertawa dingin katanya.

"Heeeehh heeeehh heeehh engkau tak usah tekebur, yang mati lebih duluan adalah engkau "

Sementara pembicaraan masih berlangsung bayangan telapak dari pria tersebut tahu-tahu sudah berada kurang lebih tiga cun disamping badan Gak In Ling. Tiba-tiba pemuda itu membentak keras. "Roboh kamu "

Tampak bayangan hitam berkelebat, belum sampat ingatan berkelebat dalam benak para jago tahu-tahu cahaya darah memancar keempat penjuru diikuti jeritan ngeri yang menyayatkan hati bergema memecahkan kesunyian, pria itu roboh terkapar diatas tanah dalam keadaan tak bernyawa lagi.

Tujuh orang lainnya menyapu sekejap kearah pria yang terkapar diatas tanah, kemudian dengan bulu roma pada bangun berdiri mereka mundur beberapa langkah kebelakang.

Tampaklah sepasang lengan dan sepasang kaki pria tersebut telah tersayat putus oleh Gak In Ling dan tersebar diempat penjuru yang berbeda, sedangkan pria tadi dengan badan yang tak utuh terkapar diatas genangan darah dalam keadaan yang mengerikan-

Terhadap pemandangan yang mengerikan di hadapan mukanya, Gak In Ling bersikap seakan-akan tak pernah melihatnya, dengan dingin dia menyapu sekejap kearah keenam orang lainnya kemudian berkata.

"Inilah contoh yang paling tepat buat kalian semua "

Walaupun dihari-hari biasa keenam orang itu sering kali melakukan pembunuhan, akan tetapi setelah gilirannya tiba diatas tubuh mereka tanpa sadar timbullah perasaan sayang terhadap nyawa sendiri.

Dengan cepat Pelajar berhati racun Sim Heng putar otak berpikir keras, lalu berpikir.

"Nampaknya situasi yang kuhadapi pada saat ini jauh lebih banyak bahayanya daripada tidak- sekarang persoalan sudah jadi begini, rasanya aku pun tak usah memikirkan tentang soal hubungan lagi."

Setelah mengambil keputusan didalam hati sengaja dia mengerling sekejap kearah lima orang lainnya kemudian berkata.

"Gak In Ling, tindakanmu itu benar-benar hebat dan cukup membuat orang merasa kagum "

Menggunakan kesempatan dikala berbicara tangannya dengan cepat merogoh kedalam sakunya menggenggam segumpal jarum Tok-sim-ciam dan siap dilancarkan setiap saat. Dalam hati Gak In Ling tertawa dingin, pikirannya.

"Hmm akal setanmu itu hanya akan mendatangkan hasil

yang nihil belaka "

Meskipun didalam hati dia berpikir demikian, namun diluaran ini berpura-pura tidak tahu seraya tertawa dingin dia berseru. "Aku orang she Gak tidak berani... "

Belum habis pemuda itu menyelesaikan kata-katanya, mendadak terdengar Pelajar berhati racun Sim Hong membentak keras-"serbu "

Tangan kanannya diayunkan kedepan, segumpal jarum berwarna hijau bagaikan hujan gerimis segera menyebar keempat penjuru melingkupi daerah seluas dua tombak persegi dam mengurung Gak In Ling dibawah lapisan cahaya tersebut.

Lima orang lainnya sama sekali tak mengira kalau disaat yang kritis dan sangat berbahaya itu Pelajar berhati racun Sim Hong dapat menghianati mereka, mendengar suara tersebut mereka segera membentak keras dan sepenuh tenaga menerjang kearah Gak In Ling.

Pertarungan tersebut merupakan pertarungan yang menentukan antara hidup dan mati, tentu saja siapapun tak berani menyimpan kepandaian silatnya, dengan mengerahkan segenap kemampuan yang dimilikinya mereka berjuang kedepan.

Ketujuh orang itu dapat memperoleh perhatian dari Jit-jan-siu dan dipilih sebagai anak buahnya, tentu saja dalam hal tenaga dalam tidak terlalu lemah, karena itu serangan gabungan yang dilancarkan kelima orang itu boleh dibilang memiliki kekuatan maha dahsyat bagaikan membongkar langit menghancurkan bumi, mengerikan bagi siapa pun yang memandang.

Ketika menyaksikan kelima orang rekannya sudah termakan oleh siasatnya, Pelajar berhati racun Sim Hong tak berani bertindak ayal lagi, sepasang kakinya segera menjejak tanah dan meluncur mundur kearah belakang, rupanya dia hendak gunakan kesempatan dikala kelima orang itu sedang menghadang jalan pergi Gak In Ling dia akan melarikan diri terlebih dahulu...

Walaupun perhitungan serta rencananya itu amat matang dan lihay, tetapi sayang sekali ia terlalu memandang rendah diri dari Gak In Ling.

Si anak muda she Gak itu sendiri, kendatipun tidak pandang sebelah matapun terhadap kelima orang itu, namun diapun tak berani bertindak terlalu gegabah menghadapi serangan gabungan tersebut, terutama sekali setelah menyaksikan Pelajar berhati racun Sim Hong melarikan diri dari situ, hawa marah yang membakar dalam dadanya seketika berkobar, bentaknya dengan suara keras. "Kembali "

Sepasang telapaknya berputar lebih dahulu keatas batok kepala, kemudian didorong kearah depan dengan sepenuh tenaga.

Cahaya merah darah yang amat menyilaukan mata memancar ke empat penjuru sehingga mencakup seluas beberapa tombak. berbagai cahaya hijau terhenti ditengah udarasetelah membentur dengan cahaya merah tersebut, kemudian dengan kecepatan lebih tinggi meluncur balik ke arah belakang.

Kelima orang itu lebih-lebih tak pernah menyangka kalau Pelajar berhati racun Sim Hong melarikan diri setelah melancarkan jarum beracun Tok-sim-ciam, tatkala menyaksikan memancar baliknya segumpal cahaya hijau menuju kearah mereka, orang-orang itu menjadi panik dan terkejut segera berteriak keras. "cepat mundur kebelakang" Tapi sayang. peringatan tersebut terlalu lambat.

-oo0dw0oo-