Telapak Setan Jilid 11 : Membawa Gak-In-ling ke puncak terpencil

Jilid 11 : Membawa Gak-In-ling ke puncak terpencil

GAK IN LING tertawa dingin

"Aku Gak In Ling "jawabnya tegas.

Dewi burung hong indah adalah seorang gadis yang angkuh dan tinggi hati, mendengar ucapan tersebut hawa amarahnya segera berkobar di dalam dada, napsu membunuh yang mengerikan pun tersorot keluar dari balik matanya, dengan nada dingin ia bertanya. "Apakah kau yakin sanggup menghadapi aku di dalam beberapa jurus ?"

"Ha. haa haa. belum pernah aku berpikir sampai kesitu." sahut Gak In Ling sambil tertawa terbahak-bahak. "tetapi aku sebagai salah seorang masyarakat dunia persilatan didaratan Tionggoan ini merasa berkewajiban untuk membela keadilan serta kebenaran, sekalipun harus mengorbankan selembar jiwaku, pengorbanan ini juga sangat berguna sekali."

Tiba-tiba dewi burung hong indah tertawa merdu sekali.

"coba lihatlah dahulu orang itu " serunya sambil menuding mayat Hiat-mo-ong yang terkapar diatas tanah, setelah itu ia melanjutkan-

"Jikalau engkau masih tetap keras kepala dan tak tahu diri, maka kemungkinan besar kematian yang akan kau alami jauh lebih mengerikan daripada dirinya."

Mendengar perkataan itu Gak In Ling segera alihkan sorot matanya kearah tubuh Hiat mo-ong yang menggeletak diatas tanah, sekujur badannya kontan merinding dan bulu kuduknya pada bangun berdiri, terlihatlah pada saat itu Hiat-mo-ong sedang berkelejat tiada hentinya di atas tanah, seluruh anggauta badannya gemetar keras dan berubah jadi hitam-pekat, sepasang matanya melotot keluar seakan-akan mau meloncat keluar dari dalam kelopok matanya, ditambah pula raut wajahnya yang memang jelek, keadaan nya pada saat itu boleh dibilang jauh lebih mengerikan daripada iblis bengis yang muncul dari neraka tingkat ke delapan belas.

Mulutnya yang besar megap-megap seakan-akan sedang berusaha menjerit sekeras-kerasnya, akan tetapi tak kedengaran sedikit suarapun yang berkumandang keluar, dari sini dapat dilihat betapa besarnya siksaan yang sedang diderita olehnya pada saat ini.

Gak In Ling alihkan kembali sinar matanya kearah dewi burung hong indah, ia lihat gadis itu masih tetap berdiri tenang ditempat semula seolah-olah sama sekali tak pernah terjadi sesuatu apapun, hal ini membuat hatinyajadi amat gusar sekali, pikirnya.

"Dikolong langit ternyata terdapat manusia yang kejam dan berhati telengas seperti dia... benar-benar luar biasa."

Berpikir sampai disini, tiba-tiba ia maju ke depan, telapaknya diayun ke depan mengirim satu pukulan dengan jurus Tiem-sak-seng-kim atau menutul batu berubah emas.

"Blaaam." di tengah benturan yang sangat keras serangan tersebut telah bersarang diatas dada Hiat-mo-ong membuat gembong iblis tua itu menemui ajalnya seketika itu juga.

Demikianlah seorang gembong iblis yang sudah banyak melakukan kejahatan harus merasakan dahulu suatu siksaan badan serta penderitaan yang luar biasa sebelum akhirnya harus binasa, mungkin inilah ganjaran bagi orang yang gemar melakukan kejahatan serta berhati bengis tak kenal prikemanusiaan-

Setelah berhasil membinasakan Hiat-mo-ong untuk beberapa saat lamanya Gak In Ling berdiri termangu-mangu ditempat itu.

Pada wakta itulah dewi burung hong indah berseru sambil tertawa merdu.

"Gak In Ling, apakah kau anggap sebelum tindakanmu itu aku tak menduga sampai kesana?"

Gak In Ling segera putar badannya kebelakang, ketika sorot matanya saling membentur dengan sepasang mata dewi burung hong indah, pemuda itu segera merasakan hatinya tercekat, karena dibalik sorot matanya yang indah penuh mengandung cahaya dingin yang tajam dan mengerikan.

Gak In Ling tarik napas panjang-panjang, sesudah berhasil menenangkan hatinya dengan wataknya yang angkuh dan tinggi hati, tentu saja ia tak mau tunduk dengan begitu saja. Ia tertawa tawa lalu berkata.

"Nona memiliki kecerdasan yang luar biasa tentu saja semua perbuatanku tak dapat mengelabui engkau." suaranya mendatar dan tenang sekali.

Melihat ketenangan lawannya, dewi burung hong indah berpikir juga dalam hatinya.

"orang ini terang-terangan mengetahui bahwa dia bukan tandinganku, akan tetapi sikap dan air mukanya sama sekali tidak memperlihatkan rasa jeri ataupun takut, keadaan seperti ini belum pernah kuduga sebelumnya."

Berpikir sampai disini, ia lantas tertawa dingin dan berkata dengan suara merdu.

"Hemm, sikapmu benar-benar tenang sekali. Tahukah engkau apa sebabnya nonamu walaupun sudah menduga akan tetapi sama sekali tidak menghalangi perbuatanmu itu?"

Dari sorot mata tajam yang memancar keluar dari balik mata dewi burung hong indah, Gak In Ling sudah dapat menyelami perasaan hatinya, dengan nada dingin ia segera menjawab.

"Apa salahnya kalau aku yang mewakili dirimu untuk menanggung dosa karena sudah membinasakan Hiat-mo-ong dari muka bumi?"

Sekali lagi dewi burung hong indah tertegun sesudah mendengar perkataan itu, tiba-tiba ia berkata.

"Gak In Ling, kau adalah satu satunya orang yang dapat menebak isi hatiku, kecerdasanmu ternyata sama sekali tidak berada dibawah kepandaian nonamu "

Mendadak dari balik sorot matanya yang indah terpancar keluar napsu membunuh yang amat tebal sekali, namun hanya didalam beberapa kejapan saja napsu membunuh yang amal tebal itu sudah lenyap tak berbekas.

"cuma," ujar Gak In Ling kembali dengan nada dingin, "meskipun aku telah mengetahui bahwa kepandaian silatku masih bukan tandinganmu, akan tetapi aku tidak akan menyerah dan mudah dibunuh dengan begitu saja, aku lihat terpaksa nona harus mengerahkan sedikit tenaga untuk turun tangan sendiri."

Dewi burung hong indah segera tertawa terkikik dengan nada yang amat sinis.

"Harus menggunakan tenaga untuk turun tangan ? Haa

haa...,. haa kalau menghadapi manusia seperti engkau aku

harus mengerahkan tenaga, apa gunanya aku berambisi untuk merajai kolong langit ? Mari, mari kalau kau mampu menangkan kaki dari nonamu ini... maka sejak hari ini nonamu tak akan mencari gara-gara dengan dirimu lagi"

Perkataan ini boleh dibilang mendekati tekebur dan omong besar, dia ingin melayani Gak In Ling yang berkepandaian tinggi dengan sepasang kakinya belaka, hal ini benar-benar suatu ucapan yang amat besar, sampai dimana kepandaian yang dia miliki ? Dan lagi siapa yang mau percaya dengan ucapannya itu? Karena Gak In Ling memiliki pukulan telapak maut yaag dianggap sebagai kepandaian ampuh di kolong langit.

Hawa amarah yang tak terkendalikan menghiasi seluruh wajah Gak In Ling, meskipun tindakan seperti itu merupakan suatu kesempatan yang paling baik baginya untuk meloloskan diri dari mara bahaya, akan tetapi ia merasa berat hati untuk menerima tawaran yang mendekati suatu penghinaan itu Dia merasa gengsinya diinjak-injak dan dipandang rendah sekali.

Dengan suara dingin Gak In Ling segera berkata.

"Aku lebih rela mati disepasang telapak tangan nona walaupun didalam dua-tiga gebrakan saja, daripada mencari untung di bawah sepasang kaki nona itu."

Kembali serentetan cahaya yang sangat aneh melintas diwajah dewi burung hong indah, pikirnya didalam hatL

"orang ini sudah berada ditepi lembah kematian, akan tetapi ia tak bersedia mencari keuntungan dengan cara yang tak benar, dari sini dapat dilihat bahwa jiwanya memang besar dan jujur,jarang sekali dikolong langit terdapat manusia semacam ini, mungkin didalam persilatan memang bukan keseluruhannya merupakan manusia-manusia licik yang berbahaya."

Berpikir rampai disini, tiba-tiba kaki kirinya menjejak permukaan tanah, sedangkan kaki kanannya laksana kilat menyapu kearah pinggang Gak Ing Ling, serunya.

"Tindakan ini merupakan kerelaan nonamu sendiri, sekalipun akhirnya aku sampai mati, tak akan kusesali kembali kematianku itu."

Kakinya menyambar ke depan dengan dahsyatnya, jurus serangan yang dipergunakan ternyata adalah gerakan Heng-sau-cian-kim atau menyapu rontok ribuan prajurit.

Sepasang alis berkerut, tubuhnya berputar cepat kesamping sejauh tiga depa, setelah menghindarkan diri dari datangnya ancaman tersebut belum sempat ia buka suara tiba-tiba ia dengar dewi burung hong indah telah berteriak keras. "Lihatlah jurus seranganku ini "

Air muka Gak In Ling yang semula telah mengendor segera berubah jadi tegang kembali sesudah mendengar seruan itu, ketika ia menengadah keatas maka terlihatlah tubuh dewi burung hong indah sudah melayang ditengah udara, sepasang ujung kakinya yang runcing telah berada lima cun diatas tenggorokannya.

Perubahan yang terjadi sangat mendadak ini benar-benar dilakukan dengan gerakan yang sangat cepat, Gak In Ling sama sekali tak sempat menyaksikan bagaimanakah caranya gadis itu membuyarkan serangan untuk berganti jurus, ia hanya merasa bahwa tubuhnya tahu-tahu sudah berada diudara.

Saking terkesiapnya keringat dingin dengan cepat mengucur keluar membasahi seluruh tubuh Gak In Ling, untung tenaga dalam yang dimilikinya amat sempurna, meskipun menghadapi mara bahaya namun gerakan tubuhnya sama sekali tidak kacau, tanpa berpikir panjang lagi dengan sekuat tenaga ia menjejakkan sepasang kakiaya keatas tanah, dengan gerakan pindah badan berganti tempat laksana kilat dia melayang mundur kebelakang sejauh satu tombak lebih.

Dibawah sorot cahaya sang surya tampaklah pada ujung sepatu dewi burung hong sudah terdapat ujung senjata kaitan pendek yang memancarkan cahaya berkilat, seandainya tendangan tersebut bersarang telak niscaya tenggorokannya sudah terhajar sampai muncul lubang besar.

Ada satu hal yang membuat Gak In Ling heran dan tak habis mengerti, ia tak tahu apa sebabnya dewi burung hong indah dengan kepandaian silatnya yang amat tinggi dan mampu membunuh orang tanpa berwujud, kenapa telah memasang senjata kaitan yang tajam pada ujung sepatunya?

Tentu saja kaitan pada ujung sepatunya ada kegunaannya, dan untuk mengetahui kegunaan tersebut pada lain bagian akan diceritakan tersendiri.

Setelah meloncat mundur beberapa tombak kebelakang, dengan cepat Gak In Ling berpikir didalam hati kecilnya.

"Tubuhnya masih berada diudara, mungkin ia tak sempat untuk mengejar diriku lagi." Baru saja dia akan buka suara, tiba-tiba dari tengah udara berkumandang kembali

Suara bentakan nyaring dari dewi burung hong indah, tampaklah ujung bajunya menari ditengah udara, dan tiba-tiba sepasang kakinya yang bersepatu merah bagaikan sepasang sayap yang mengebas keras dan tubuhnya sekali lagi meloncat setinggi lima depa keudara.

Kemudian sepasang lengannya dikebaskan bagaikan orang mendayung perahu, badannya laksana sambaran kilat kembali menerjang kearah Gak In Ling.

Semua gerakan itu walaupun panjang dilukiskan dalam kata-kata, namun dalam kenyataan nya berlangsung dalam sekejap mata, mungkin Gak In Ling sendiripun baru saja berdiri tegak ditanah.

Mimpipun Gak In Ling tak pernah menyangka bakal menjumpai kejadian yang sama sekali tidak terduga seperti ini, baru saja sorot matanya dialihkan ketengah udara, terlihatlah berpuluh-puluh buah cahaya merah telah menerjang datang dari delapan penjuru bagaikan turunnya hujan badai yang amat deras.

Ilmu siiat yang dimiliki dewi burung hong indah merupakan suatu aliran tersendiri, didalamnya tercakup pula suatu keanehan, kelincahan, kesadisan serta kehebatan.

Meskipun Gak In Ling memiliki kepandaian silat yang amat tinggi, namun berada dalam keadaan serta posisi yang amat terdesak seperti ini, kendatipun ia berkepandaian lihay namun tidak mampu juga baginya untuk meloloskan diri.

Demi keselamatan jiwanya Gak In Ling tak sempat untuk berpikir lebihjauh, bentaknya. "Terimalah seranganku ini"

Dengan gerakan Pat-hong-hong-yu atau hujan badai didelapan penjuru, ia lancarkan dua sapuan tajam kesekeliling tempat itu.

Dasar tenaga dalam yang dimiliki Gak In Ling amat sempurna, ditambah pula ia telah makan buah naga air, tanpa disadari kesempurnaan tenaga dalamnya telah bertambah maju satu tingkat, meskipun dalam serangannya itu dia hanya menggunakan tenaga sebesar tujuh bagian, akan tetapi deruan angin pukulan yang terpancar keluar benar-benar menggetarkan hati setiap orang.

Terdengar dewi burung hong indah yang berada ditengah udara tertawa merdu, lalu berseru.

"Haa haa haa akhirnya engkau turun tangan juga." bayangan kakinya mendadak lenyap tak berbekas, gerakannya begitu cepat sehingga semua gerakannya hampir boleh dibilang dilakukan hampir bersamaan waktunya.

Dalam hati Gak In Ling merasa amat menyesal setelah melepaskan serangannya tadi, setelah berhasil mendesak mundur dewi burung hong indah, ia tidak mendesak lebih jauh dengan melancarkan serangan lain sambil menarik diri tubuhnya meloncat mundur lima depa kebelakang.

Siapa tahu, baru saja badannya mundur ke belakang dewi burung hong indah segera melancarkan serangan kembali, kali ini serangannya jauh lebih dahsyat daripada serangan semula, terdengarlah deruan angin serangan mendesing amat memekakkan telinga.

Meskipun dalam keadaan seperti itu Gak In Ling tidak ingin turun tangan lagi, akan tetapi situasi yang sedang dihadapinya tidak mengijinkan dirinya untuk berbuat demikian, keinginan untuk mempertahankan hidup membuat dia mau tak mau harus melawan dengan sepenuh tenaga.

Suatu pertarungan sengit yang mendebarkan h atipun segera berlangsung ditempat itu.

Di pihak lain bayangan merah beterbangan bagaikan sekuntum bunga berwarna merah yang terhembus angin puyuh, bergerak kesana kemari tiada hentinya sementara titik-titik ujung kaki menerobos masuk kebalik angin pukulan melepaskan ancaman yang membahayakan jiwanya.

Untuk beberapa saat lamanya suasana tetap berlangsung dalam keadaan seimbang dan seru.

Waktu berlalu dengan cepatnya, dalam waktu singkat lima puluhan gebrakan sudah lewat tanpa terasa, walaupun sepintas lalu nampaknya menang kalah masih belum dapat ditentukan, tetapi bila dilihat dengan seksama maka tampaklah walaupun angin pukulan yang dilancarkan Gak In Ling amat dahsyat dan amat memekakkan tenaga, tapi ia selalu gagal untuk membelit ujung pakaian dari dewi burung hong indah, atau dengan perkataan lain angin pukulan dari sianak muda itu tak mampu menyuwil tubuh gadis itu apalagi menyarangkan pukulan dengan telak.

Sebaliknya ujung kaki dewi burung hong indah seringkali muncul pada suatu posisi yang sama sekali tak terduga oleh Gak In Ling, membuat ia tak mampu menduga lebih dahulu kearah manakah tendangan itu akan tiba, dengan sendirinya tanpa disadari situasi dalam pertarungan itu sepenuhnya beraba dibawah cengkeraman dara baju merah itu.

Tidak selang beberapa saat kemudian, kembali tiga puluh-gebrakan sudah lewat, saat itu sang surya telah condong kesebelah barat. Keringat sebesar kacang kedelai telah membasahi seluruh jidat anak muda itu, nampak jelas kalau pemuda itu sudah kepayahan-

Dewi burung hong indah sendiri sejak permulaan hingga detik itu selalu menggerakkan kakinya untuk melancarkan tendangan-tendangan kilat, semua gerakan dilakukan dengan luwes dan leluasa sedikitpun tidak nampak kepayahan-

Ditengah berlangsungnya pertempuran sengit itu, mendadak napsu membunuh memancar keluar dari balik mata Gak In Ling, dengan nada dingin ia segera membentak keras.

"Nona, aku harap kau suka menghentikan seranganmu sampai disini saja, janganlah memaksa aku Gak In Ling untuk menempuh jalan yang nekad " sambil berkata secara beruntun dia lepaskan kembali dua jurus pukulan-

Dewi burung hong indah yang berada diudara dengan gesit dan manis sekali berhasil menghindarkan diri dari serangan tersebut, kemudian diapun balas melancarkan dua buah serangan yang memaksa Gak In Ling terpaksa mundur tiga langkah kebelakang, katanya dengan suara merdu.

"Gak In Ling, rupanya kau masih mempunyai ilmu

simpanan yang belum sempat kau keluarkan, kenapa tidak

sekalian kau keluarkan pula. Ayo cepatlah dan tak usah

sungkan-sungkan"

"Asalkan nona melayani seranganku dengan sepasang telapak. maka akupun akan melakukan perlawanan dengan segenap tenaga pula. "jawab Gak in Ling dengan nada dingin.

Sambil tetap melancarkan serangannya, dewi burung hong indah tertawa merdu, ia berseru.

"Untuk melayani sepasang kaki nonamupun kau tak mampu untuk menghadapinya, apalagi kalau aku mempergunakan sepasang telapakku ?" Gak In Ling tertawa dingin-

"Akan tetapi aku merasa kalau menangpun kemenangan tersebut didapatkan dengan tidak cemerlang." serunya.

"Hee.. hehee kalau merasa tidak punya ilmu simpanan, yaa, sudahlah, apa sih gunanya menghantam muka sendiri sampai bengkak dan mengaku sebagai gemuk ?" ejek dewi burung hong indah sambil tertawa mengejek.

Beberapa patah kata itu dengan cepat mengobarkan hawa amarah dalam hati Gak In Ling meskipun ia berhati bajik dan tak ingin mencari keuntungan, tapi suka menang sendiri adalah sifatnya yang paling khas dari seorang pemuda, Gak In Ling yang masih muda belia tentu saja tidak dapat terhindar dari sifat itu.

Pada saat ucapan dewi burung hong indah baru saja selesai diutarakan keluar, tiba-tiba dengan sepasang alis mata berkernyit Gak In Ling membentak keras.

"Kalau memang begitu, akan kuperlihatkan keampuhanku " habis berkata ia segera melakukan gerakan, ditengah gerakan merah yang menyelimuti seluruh angkasa muncullah berpuluh puluh buah telapak merah yang dalam waktu singkat mengurung seluruh tubuh gadis muda baju merah itu.

Serangan yang dilancarkan Gak In Ling dalam keadaan gusar.ini benar-benar mengerikan sekali, begitu ia turun tangan ia segera mengeluarkan jurus Hiat-yu-seng-hong atau hujan darah angin amis, serta Hiat-liu-biau-kan atau darah mengalir menggenangi tiang.

Telapak maut adalah serangkaian ilmu sakti dalam kolong langit, meskipun dewi burung hong indah pernah mendengar nama kepandaian tersebut akan tetapi belum pernah menjumpainya, menyaksikan datangnya ancaman tersebut hatinya jadi amat terperanjat.

Tanpa sadar ia berteriak kaget. "Aaah telapak maut "

Walaupun penggunaan telapak maut oleh Gak In Ling secara tiba-tiba ini sangat mengejutkan hatinya, akan tetapi dewi burung hong indah sebagai seorang jago kawakan yang banyak pengalaman dan memiliki ilmu silat yang tinggi sama sekali tidak dibikin gugup olehnya.

Biji matanya yang indah menyapu sekejap kesekeliling tempat itu. Tiba-tiba satu senyuman tersungging diujung bibirnya, dalam hati ia segera berpikir. "Rupanya telapak mautnya itu belum berhasil dilatih hingga sempurna... "

Ingatan tersebut dalam sekejap mata telah berkelebat lewat, setelah mengetahui bahwa telapak maut yang dimiliki Gak In Ling belum mencapai kesempurnaan, timbullah kembali perasaan ingin menang dalam hatinya.

Telapak tangannya segera diayun kebelakang untuk menggerakkan badannya, bukan mundur malah dia menerkam maju kedepan dan menggunakan gerakan yang cepat bagaikan sambaran kilat menerjang kearah sianak muda itu, sepasang kakinya melancarkan serangan berbareng dengan memakai jurus Lian-pian-peng-hua atau kaki dan kancing maju bersama, arah yang dituju adalah dada pemuda itu.

Semua perubahan berlangsung dengan begitu cepatnya, sehingga membuat orang sama sekali tak ada waktu untuk berdiri ragu.

Ketika gadis itu menjerit kaget tadi, tanpa disadari Gak In Ling sudah merasa kasihan dan suatu kekuatan yang tak berwujud telah mengerem kekuatan serangannya, kendatipun pemuda she Gak itu berada dalam keadaan gusar akan tetapi sebagian tenaga kekuatannya telah ditarik kembali.

Ia telah melupakan bahwa pertaruhan yang sedang berlangsung adalah suatu pertarungan yang menentukan antara hidup dan mati, diapun lupa kalau gadis yang sedang dihadapinya pada saat ini adalah seorang iblis perempuan yang membunuh orang tanpa berkedip. ia semakin tak habis mengerti apa sebabnya secara tiba-tiba ia menarik kembali serangannya.

"Blaaam " ditengah benturan keras berkumandanglah suara dengusan berat, tubuh Gak In Ling yang tinggi kekar tahu-tahu sudah kena ditendang oleh dewi burung hong indah sehingga terpental sejauh dua tombak dari tempat semula dan roboh terkapar diatas permukaan salju.

Bunga-bunga salju segera beterbangan keempat penjuru ketika tertimpa oleh terjangan tubuhnya.

Dengan susah payah Gak In Ling menggeserkan badannya dan berusaha untuk bangkit berdiri, mendadak dadanya terasa tertekan oleh segulung kekuatan besar membuat badannya dipaksa untuk berbaring kembali diatas tanah.

Gak In Ling mengedipkan matanya yang berkunang-kunang, tampaklah tepat dihadapan tubuhnya berdirilah dewi burung hong indah dengan wajah yang dingin kaku, sepasang kakinya menginjak tepat diatas dada sianak muda itu.

Dewi burung hong indah sendiripun memandang Gak In Ling dengan pandangan dingin, tiba-tiba satu ingatan berkelebat dalam benak Gak In Ling. Mungkin air muka Gak In Ling yang pucat pias serta darah kental yang berlumuran diujung bibirnya telah membuat sebuah bekas luka yang lain dihati kecilnya.

Akan tetapi sekalipun perasaan hatinya terjadi pergolakan keras, akan tetapi wajahnya yang dingin kaku tetap seperti semula, sedikitpun tak mengalami perubahan barang sedikitpun juga, terdengar ia berkata dengan nada dingin.

"Gak In Ling, sudahkah kau pikirkan hukuman apa yang akan nonamu jatuhkan terhadap dirimu ?"

Gak In Ling tidak menjawab secara langsung, hanya dengan nada yang hambar ia berkata.

"Terlalu banyak persoalan yang harus kupikirkan, aku tidak pernah memikirkan persoalan itu "

"Apakah kau masih tidak puas dengan jalannya pertarungan ini?" Seakan-akan sedang mengejek Gak In Ling gelengkan kepala.

"Sekalipun dua jurus seranganku itu tidak kutarik kembali, akupun tak dapat menghindarkan diri dari kejadian semacam ini." sahutnya.

Sekali lagi dewi burung hong indah merasakan hatinya tergerak. ujarnya dengan suara lantang.

"Kau memang jujur sekali, sekarang coba katakanlah bagaimana pendapatmu tentang diriku."

"Aku hanya menguatirkan keselamatan umat persilatan yang ada dikolong langit, karena dalam dunia persilatan mulai detik ini telah bertambah lagi dengan seorang iblis perempuan yang brutal, sadis dan tidak memiliki rasa perikemanusiaan barang sedikitpun juga."

Airmuka dewi burung hong indah seketika itu juga berubah hebat, napsu membunuh yang amat tebal menyelimuti seluruh wajahnya, sambil tertawa dingin ia berseru. "Kau maksudkan iblis tersebut adalah aku?"

"Sedikitpun tidak salah "

"Hee hee.... hee. ..." dewi burung hong indah tertawa dengan seramnya, "tahukah engkau pada saat ini keselamatan jiwamu berada ditangan siapa ?" Perlahan-lahan Gak In Ling memejamkan matanya, lalu menjawab.

"Asal nona mengerahkan sedikit tenaga lagi pada kaki kananmu Utu, maka aku akan segera tinggalkan bumi ini untuk selama-lamanya "

Dewi burung hong indah sama sekali tidak menyangka kalau Gak In Ling memandang harnbar soal mati hidupnya, ia menjadi mendongkol sekali sehingga bentaknya. "Kau anggap nonamu tidak berani untuk melakukan hal seperti itu ?"

"Aku tahu dikolong langit tiada perbuatan yang tak berani engkau lakukan-"

Perlahan-lahan dewi burung hocg indah menarik kembali injakan kakinya pada dada sianak itu, seakan-akan sedang berbicara terhadap diri sendiri ia berguman.

"Dikolong langit tiada orang yang berani menantang aku dengan cara seperti ini, tapi mengapa aku tak dapat membinasakan dirinya ? Ah benar, dikolong langit memang tiada perbuatan yang tak berani kulakukan, tetapi kenapa aku tidak mampu untuk turun tangan ? Kenapa ? Kenapa hal ini bisa terjadi ?"

Kian lama suara bisikan itu kian bertambah lirih sehingga akhirnya Gak In Ling tak dapat mendengar apa yang sedang diucapkan oleh gadis baju merah itu.

Perlahan-lahan sianak muda itu membuka kembali matanya, dengan susah payah ia merangkak bangun lalu berdiri dengan langkah yang gontai.

"Kau ingin melarikan diri?" ejek dewi burung hong indah sambil tertawa dingin.

"sekarang sudah tiada kemungkinan semacam itu lagi bagi diriku "

"Lalu mau apa kau bangkit dari atas tanah" Gak In Ling tertawa dingin-

"Hee hee hee selama aku orang she Gak masih bisa bernapas, aku tak sudi untuk tunduk dihadapan orang lain, andaikata nona bersedia untuk turun tangan, sekaranglah waktunya bagimu untuk turun tangan "

Tiba-tiba sekilas cahaya yang aneh memancar keluar dari balik mata dewi burung hong indah yang jeli, sambil tertawa seram ujarnya.

"Aku akan suruh engkau secara perlahan-lahan mendekati kelubang kematian agar semua orang yang berada dikolong langit tahu, beginilah akibatnya jika seseorang berani menentang aku si dewi burung hong indah."

Belum habis gelak tertawanya berkumandang datang, sepasang kakinya telah menjejak tanah dan bayangan merah berkelebat lewat, tahu-tahu tubuhnya sudah berada dua puluh tombak tingginya ditengah udara.

Ketika berada ditengah udara sepasang lengannya kembali mendayung kebelakang, mengikuti bergemanya suara suitan panjang, badannya meluncur lima enam tombak lagi diudara.

Dari tempat kejauhan berkumandang datang suara pekikan burung hong, tidak selang beberapa saat kemudian dewi burung hong indah sudah melompat naik keatas punggung burung hong yang beraneka warna bulunya.

Dengan termangu-mangu Gak In Ling menyaksikan burung hong itu terbang membumbung tinggi keangkasa, tiba-tiba teriaknya keras. "Apakah kau mengira aku pasti akan mati?"

Dari tempat kejauhan berkumandang datang suara gelak tertawa dewi burung hong indah yang nyaring.

"Haahaa haa setelah aku dewi burung hong indah berani

mengatakannya keluar, tentu saja itu berarti bahwa aku sudah

melakukan sesuatu diatas badanmu, apakah kau kuatir tak

jadi mati ? cuma, engkau harus ingat bahwa rasanya sangat

luar biasa dan tak sedap dibadan- haa haa haa "

cepat amat gerak terbang burung hong itu, dalam sekejap mata bayangan itu sudah lenyap diujung langit.

Dengan mata kepala sendiri Gak In Ling pernah menyaksikan bagaimana perempuan itu menghukum mati Hiat-mo-ong dengan cara hanya memberikan sebuah totokan pada punggungnya, akan tetapi akibatnya ternyata luar biasa sekali dan cukup menyiksa orang itu sehingga sekarat.

Tentu saja sianak muda itupun mengetahui, setelah dara itu berani mengucapkan kata-kata semacam itu, hal itu berarti pula bahwa ancamannya bukanlah gertak sambal belaka.

Dengan termangu-mangu Gak Ia Ling memandang kearah mana bayangan tubuh dari dewi burung hong indah melenyapkan diri.

"Benar-benar seorang perempuan yang berbisa yang amat berbahaya sekali "

Angin dingin berhembus lewat mengibarkan ujung pakaian Gak In Ling yang berwarna hitam, sepintas memandang ke empat kejauhan yang terlihat hanyalah permukaan tanah yang putih berlapiskan salju, pemandangan seperti itu benar-benar mengenaskan sekali.

Gak In Ling segera menggerakkan kakinya dengan maksud untuk mencari suatu tempat yang tersembunyi untuk mengatur pernapasan-

Beberapa langkah ia baru berjalan, tiba-tiba dari sekeliling tubuhnya berkumandang datang suara bentakan yaog amat keras. "Gak in Ling, berhenti"

Terjelos perasaan Gak in Ling, tanpa terasa dia menghentikan langkah kakinya dan memandang sekeliling tempat itu.

Kurang lebih dua tombak disekeliling tempat itu berdirilah delapan orang pria kekar berkerudung kain merah, dari dandanan mereka tidak sulit untuk mengenali rombongan orang-orang itu sebagai para jago dari lembah pemutus sukma. Diam-diam Gak In Ling menghela napas panjang, pikirnya.

"Aaaaiii , baru saja meninggaikan sarang naga, sekarang

telah terjebak kembali dalam gua harimau. Nampaknya sulit bagi aku orang she Gak untuk meninggalkan gunung Tay-pek-san pada hari ini dalam keadaan selamat tanpa cidera." Ia segera tertawa dingin dan berseru.

"Sungguh kebetulan sekali saat kedatangan kalian semua "

Pria berkerudung merah yang berada dipaling depan segera berseru.

"Jangan-jangan kau masih mempunyai tenaga simpanan yang luar biasa."

Nada suaranya angkuh dan tekebur sekali.

Gak In Ling segera tertawa dingin.

"Hee hee hee...,. seandainya pada saat ini aku masih mempunyai tenaga simpanan, aku percaya kaliaa semua takkan berani datang kemari." serunya.

"Perkataanmu sedikitpun tidak salah, cuma sayang seribu kali sayang pada saat ini keadaanmu ibaratnya kambing yang akan disembelih, bicara omong- kosong apa gunanya ?"

Seorang pria berkerudung merah yang berada dibelakang punggung Gak in Ling segera berseru.

"cun-heng, saat ini bukan waktunya untuk bersilat lidah, jika masalah besar sampai terbengkalai bukan saja engkau tak dapat bertanggung jawab mungkin setiap orang yang hadir ditempat inipun sukar antuk melepaskan diri dari pertanggungan jawab." Nada ucapannya kasar dan sama sekali tak sungkan-sungkan.

"Perkataan ini sedikitpun tidak salah." sambung pria berkerudung merah yang lain-"mari kita cepat membawa pulang mayat dari keparat cilik ini pulang dan segera memberi laporan-"

Diikuti usul-usul lainnya saling berkumandang memecahkan kesunyian, akan tetapi pada garis besarnya menyetujui sikap tersebut.

Walaupun pria she cung itu merasa sangat tidak puas, akan tetapi perasaan tersebut tak berani diutarakan keluar, ia segera mendengus dingin.

"Hm Meskipun kokeu memerintahkan kita untuk membawa pulang mayatnya, tetapi hal itu dimaksudkan apabila keadaan terlalu mendesak atau terpaksa, sekarang kita sudah kehilangan seorang pemimpin yang mati dibunuh perempuan itu, sudah sepantasnya kalau kekosongan jabatan itu cepat-cepat diisi kembali, oleh karena itu menurut pendapat siaute lebih baik kita bawa pulang keparat ini dalam keadaan hidup, hidup, kalau kalian takut terjadi kerepotan, biarlah aku yang mempertanggungjawabkan seorang diri."

"Ah, siapa yang bilang kalau cara ini tak baik ? cung-henglah yang terlalu banyak curiga" kata orang yang berada dlbelakang punggung Gak in Ling itu.

Selesai berkata mendadak ia ayunkan ujung jarinya ke udara dan didalam waktu singkat jalan darah pay-sim-hiat serta jalan tidur dari Gak In Ling telah tertotok olehnya, kemudian membopong tubuh pemuda itu dalam rangkulannya.

Pria berkerudung merah yang lain segera membopong jenasah dari Hiat-mo-ong dan berangkatlah mereka menuju kearah sebelah timur. Tiba-tiba pria she cung itu berseru.

"Saudara-saudara sekalian, apakah kita harus berlaku secara terang-terangan dan tanpa tedeng aling-aling ?"

"Siapa yang kita takuti lagi?" seru tujuh orang lainnya dengan nada keheranan.

"Apakah kalian sudah melupakan apa yang barusan telah terjadi ?" kata pria she cung itu sambil melirik sekejap ketengah udara.

Mula-mula ketujuh orang temannya sama-sama berdiri tertegun dan serentak melirik sekejap kearah tengah udara, tiba-tiba salah seorang diantaranya tertawa terbahak-bahak dan berkata.

"Haa haa haa. cung-heng, engkau jadl orang terlalu tak bernyali, rupanya kau terlalu jerih untuk menghadapi kematian

it

Sejak merasa gusar dan mendongkol tadi hingga sekarang pria she cung itu belum ada kesempatan untuk melampiaskan kemendongkolannya itu, mendengar ucapan itu iapun segera melimpahkan semua kemarahannya kepada orang itu, serunya dengan gusar.

"orang she Lau, engkau mengatakan siapa yang takut mati

"Kenapa ?" jawab pria she Lau itu dengan marah pula. "Apakah kau ingin turun tangan melawan aku ?"

"Hm Kau anggap aku jeri terhadap dirimu ?" sambil berkata selangkah demi selangkah pria she cung itu berjalan maju kedepan.

Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara teguran yang amat merdu berkumandang datang.

"Eeei, rupanya kalian belum pergi ?"

Keadaan dari delapan orang pria berkerudung merah itu sudah ibarat burung yang tersambar panah, mendengar teguran yang amat merdu itu saking terperanjatnya sampai untuk beberapa saat lamanya mereka tak mampu mengucapkan sepatah katapun, enam belas buah sorot mata bersama-sama dialihkan kearah mana berasalnya suara tadi.

Padahal dalam kenyataan berpaling pada saat ini hanyalah suatu perbuatan yang tak ada gunanya, sebab gadis itu tahu-tahu sudah berjalan diantara sekeliling delapan orang itu.

Begitu mengetahui siapakah orang yang sedang dihadapinya, dengan perasaan terperanjat ke delapan orang pria berkerudung merah itu menjerit sekeras-kerasnya.

"Ah Dewi burung hong indah?" Sedikitpun tidak salah, orang itu bukan lain adalah dewi burung hong indah yang telah kembali setelah berlalu tadi, siapapun tak dapat menduga apa sebabnya gadis ini kembali lagi ? Dan apa pula yang hendak dilakukan olehnya

Dengan biji matanya yang jeli dewi burung hong indah melirik sekejap kearah Gak in Ling yang berada dalam bopongan seorang pria berkerudung merah itu, lalu katanya. "Lepaskan dia dari boponganmu dan baringkan diatas tanah Awas, perlahan sedikit "

Suaranya begitu merdu, manis didengar dan mempesonakan, sedikitpun tidak mengandung rasa gusar, sikapnya jauh berbeda kalau dibandingkan dengan sikapnya yang kasar dan keras terhadap Gak In Ling tadi.

Akan tetapi, kendatipun perkataan tersebut diutarakan dengan lembut dan merdu, justru dibalik kemanisan suaranya itulah terselip suatu kewibawaan serta kekerenan yang membuat orang sama sekali tak berani menentang terhadap perintahnya, membuat orang tanpa sadar tunduk dan menuruti perkataannya.

Pria berkerudung merah itu benar-benar menuruti perkataannya dan membaringkan tubuh Gak In Ling diatas tanah, sikapnya seakan-akan sedang yang kehilangan sukma.

Dewi burung hong indah melirik sekejap ke arah Gak In Ling yang berbaring diatas tanah, kemudian menengadah dan menyapu sekejap kesekeliling tempat itu, ujarnya sambil tertawa.

"Kalian sama-sama mengenakan kain kerudung merah diatas wajah, kalau dugaanku tidak keliru maka kedudukan kalian didalam lembah pemutus sukma pasti tak begitu penting bukan ? sekarang pemimpin kalian sudah mati, sedang kalianpun tidak akan berhasil mendapatkan Gak In Ling, sekalipun pulang akhirnya tokh kematian yang bakal kalian temukan, menurut pendapat nonamu lebih baik kalian berdelapan sama-sama menemui pemimpin kalian saja "

Ucapannya merdu, dan amat mempesonakan- Tetapi bagi pendengaran kedelapan orang manusia berkerudung merah itu, ucapan itu tidak ubahnya merupakan suatu perintah menuju ke maut, air muka beberapa orang itu seketika berubah jadi pucat pias bagaikan mayat.

Dewi burung hong indah memandang sekejap kearah orang-orang itu, lalu sambil tertawa ujarnya lagi.

"Tempo hari kalian semua adalah jago-jago lihay yang pemberani dan bernyali besar, kenapa sekarang menjadi lemah tak bertenaga dan menunjukkan perasaan tidak tenang, ada apa sih ?"

Pria she cung itu mengempos tenaga memberanikan diri, serunya dengan cepat.

"Kami sekalian boleh dibilang sama sekali tidak terikat oleh dendam sakit hati ataupun perselisihan apapun dengan diri nona, kenapa nona terlalu mendesak diri kami bahkan menjatuhkan hukuman mati pula terhadap kami, dengan alasan apa nona berbuat demikian ?"

Suaranya walaupun nyaring namun menunjukkan perasaan mohon balas kasihan-Dewi burung hong indah tertawa merdu, godanya

"Aduh kalian tokh laki-laki kekar yang pemberani, masa takut sama seorang perempuan lemah seperti aku ?"

Bagaikan balon yang kehabisan udara lalu kempes, pria she Lau itu berseru dengan suara yang masam.

"Kami sekalian telah menyadari bahwa kepandaian silat yang kami miliki masih bukan tandingan dari nona."

"Ah, masa kalian tidak akan melakukan perlawanan dan mudah dibunuh dengan begitu saja" kata dewi burung hong indah.

Pria she cung itu mundur dua langkah ke belakang, dengan ketakutan katanya lirih. "Apakah nona sudah bertekad untuk menjatuhkan hukuman mati terhadap kami sekalian "

"Dengarlah," kata dewi burung hong indah setelah berpikir sebentar, "sekarang juga kalian semua boleh berdiri pada posisi delapan penjuru, usahakanlah untuk mempergunakan seganap kemampuan yang kalian miliki untuk mencari jalan hidup sendiri-sendiri, jikalau diantara kalian ada yang berhasil melampaui jarak sejauh dua tombak dari tempat ini, maka dialah yang akan kuberi ampun selembar jiwanya dan akan kubiarkan berlalu dari sini dalam keadaan hidup,"

Begitu ucapan tersebut diucapkan keluar, di atas keputus-asaan yang dengan jelas tertera diwajah kedelapan orang manusia itu segera terlintas rasa girang yang bukan kepalang, jelas mereka masing-masing telah menganggap dirinya sebagai orang yang paling beruntung.

Dalam kenyataan memang demikianlah adanya, meskipun ilmu silat yang dimiliki dewi burung hong indah tinggi dan sukar dilukiskan dengan kata-kata, tetapi kalau dikatakan dalam jarak lingkaran dua tombak dia akan membinasakan delapan orang tokoh lihay dalam persilatan secara berbareng, pekerjaan ini boleh dibilang amat sulit sekali dan siapapun tak akan percaya kalau hal ini bakal berhasil.

Karena mengandalkan ilmu meringankan tubuh yang dimiliki kedelapan orang tokoh lihay tersebut, jarak dua tombak hanya diperlukan dalam dua tiga kali lompatan saja sudah dapat dilampaui, dan waktu dua tiga kali lompatan itu-pun relatip singkat sekali.

Tanpa sadar kedelapan orang itu bersama-sama mundur kearah belakang, tiba-tiba terdengar salah seorang diantara pria baju merah itu berseru. "Apakah nona maksudkan dengan menganndalkan kekuatanmu seorang ?"

"Sedikitpun tidak salah "jawab dewi burung hong indah sambil tertawa merdu tiada hentinya. "Disini tokh tiada orang lain kecuali aku." sesudah berhenti sebentar, ia menyambung lebih jauh.

"Bukan saja aku akan menggunakan kekuatanku seorang, lagipula tak akan kupergunakan senjata rahasia, tentang soal itu kalian boleh berlega hati dan tak usah kuatir."

Rasa girang yang melintas diatas wajah delapan orang pria itu bertambah tebal lagi, jelas mereka mengira kalau dewi burung hong indah memang ada maksud untuk melepaskan mereka pergi dalam keadaan hidup tanpa cidera.

Tetapi mereka telah melupakan sesuatu, lupa bahwa pertarungan tersebut merupakan suatu pertaruhan bagi nama baik dara tersebut.

Dewi burung hong indah memandang sekejap kearah delapan orang pria yang mundur terus kebelakang itu, serunya kembali.

"Untuk adilnya maka nonamu akan memberi komando, setelah aku memberi tanda nanti kalian boleh segera lari secepat-cepatnya, kalau di antara kalian ada yang berani bergerak lebih dahulu, jangan sesalkan kalau aku berlaku

kejam"

Sesudah ancaman tersebut diutarakan keluar delapan orang pria itu benar-benar tidak berani mundur lagi secara sembarangan-

"Aku akan menghitung sampai angka ketiga setelah kusebutkan angka ketiga maka kalian boleh segera melarikan diri." ujar dewi buruag hong indah sambil tertawa.

Setelah berhenti sebentar ia melanjutkan-

"Satu... " "Dua... "

Kedelapan orang pria baju merah itu segera mengerahkan segenap tenaga dalam yang dimilikinya kedalam sepasang kaki, yang dipikirkan mereka pada saat ini hanyalah lari secepat-cepatnya, siapa dapat berlari dengan cepat dialah yang akan la los dari ancaman bahaya maut itu.

Dewi burung hong indah sendiri tetap tersenyum dengan penuh kelincahan, sedikitpun tak tampak tanda-tanda kalau dia sedang menyalurkan hawa murninya untuk bersiap-sedia.

Ketegangan dan keseriusan menyelimuti seluruh angkasa disekeliling tempat itu, delapan orang pria baju merah itu seakan-akan dapat mendengar detak jantungnya sendiri, kengerian kematian menyelimuti seluruh angkasa. Mendadak dewi burung hong indah berseru keras. "Tiga "

Begitu angka ketiga diutarakan keluar, delapan orang pria baju merah itu bagaikan kesurupan setan, bagai sambaran kilat cepatnya segera melarikan diri menuju kearah delapan penjuru yang saling berlawanan.

Dis inilah letaknya kunci yang paling penting untuk menentukan mati hidup mereka, tentu saja semua orang telah mempergunakan segenap kekuatan tubuh yang dimiliki untuk berusaha meloloskan diri dari tempat itu, pada dasarnya tenaga dalam yang mereka miliki memang tidak lemah, setelah berlarian dengan sepenuh tenaga bisa dibayangkan betapa cepatnya gerakan tubuh mereka.

Tampaklah delapan orang pria itu bagaikan delapan buah jalur bayangan merah, bagaikan bayangan guntur yang membelah bumi disiang hari bolong segera melarikan diri menuju kearah delapan penjuru yang saling berbeda.

Air muka dewi burung hong indah sedikitpun tidak menunjukkan perasaan gugup dan gelisah, napsu membunuh yang sangat tebal menyelimuti seluruh wajahnya, tiba-tiba ia membentak nyaring. "Roboh kalian semua "

Bersamaan dengan menggemanya suara bentakan itu, ia putar badan pada poros yang sama sekali tidak berubah, jari tangannya melentik dan meluncurlah delapan buah desiran angin tajam yang secara terpisah mengancam tubuh kedelapan orang itu.

Tiba-tiba...

Delapan kali jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang memecahkan kesunyian yang menyelimuti sekeliling tempat itu, begitu seram suaranya membuat bulu kuduk orang pada bangun berdiri.

Mengikuti bergemanya delapan kali jeritan ngeri tersebut, hampir pada saat yang bersamaan kedelapan buah bayangan merah itu bersama-sama roboh terkapar diatas tanah, karena begitu cepatnya gerakan mereka untuk menerjang kedepan membuat tubuh yang sudah tak bernyawa itu tak mampu mempertahankan gerakannya lagi, diatas tanah seketika, itu juga muncullah delapan buah jalur panjang yang sangat dalam sekali. Dari sini dapat ditarik kesimpulan betapa besarnya tenaga terjangan tersebut.

Salju putih yang terdorong dengan cepat mengubur sebagian dari tubuh mereka, akan tetapi oraug-orang itu sudah tidak menunjukkan reaksi apa-apa lagi, jelas orang orang itu sudah putus nyawa.

Dengan pandangan yang sangat hambar dewi burung hong indah menyapu sekejap kesekeliling tempat itu, kemudian sambil bergumam seorang diri katanya^

"Aaaah masih untung kedelapan orang itu belum sampai melewati jarak sejauh dua tombak. kalau tidak. aku bisa berabe, mana aku mampu untuk menghidupkan mereka lagi?" Sambil berkata perlahan-lahan dia berjalan menuju kearah Gak In Ling.

Dari atas tubuh Gak In Ling memancar keluar hawa panas yang sangat tinggi membuat lapisan salju yang berada disekeliling tubuhnya jadi melumer, hal ini membuat sekujur badannya jadi basah kuyup oleh air, untung pada waktu itujalan darah tidurnya masih tertotok. kalau tidak pasti ia takkan kuat menahan diri.

Setelah memandang tubuh sianak muda itu beberapa saat lamanya, dewi burung hong indah mendadak bergumam kembali. "Kenapa aku kembali, tahukah engkau ?"

Sambil berkata ia segera berjongkok dan memeluk tubuh Gak In Ling dari atas permukaan salju.

Air muka dewi burung hong indah pada saat ini luar biasa sekali, seakan-akan ia memperlihatkan rasa sayang dan sedih, tetapi seakan-akan juga menunjukkan perasaan mendongkol bercampur gusar, sebentar di balik biji matanya yang jeli tampaklah murung sekali, seolah-olah ada sesuatu persoalan yang telah merisaukan hatinya.

Ia membopong tubuh Gak In Ling menuju kehadapan sebuah batu cadas yang amat besar, kemudian ayunkan telapaknya menyapu bersih lapisan salju yang berada diatas batu cadas tersebut, kemudian membaringkan tubuh Gak In Ling disana.

Dalam pada itu sang surya telah tenggelam disebelah barat, separuh cahayanya yang berwarna kemerah-merahan menongol sedikit dari balik bukit, menunjukkan seakan-akan ia merasa berat hati untuk meninggalkan dunia yang penuh kemaksiatan serta kejahatan ini. 

Dengan termangu-mangu dewi burung hong indah menatap wajah Gak In Ling tanpa berkedip. angin dingin berhembus lewat menggoyangkan ujung pakaiannya yang berwarna merah, dibawah sorot cahaya sang surya yang hampir tenggelam dengan dihiasi salju nan putih, gadis itu nampak begitu cantik, begitu mempesonakan hati orang, sayang Gak Ia Ling pada saat itu berada dalam keadaan tak sadar sehingga tak dapat menikmati keindahan tersebut.

Lama sekali dewi burung hong indah termenung dan berpikir keras, akhirnya ia bergumam dan menghibur diri sendiri.

"Ah, perduli amat Sejak kini dia menjadi sahabat atau lawanku, yang penting toh aku tak jeri terhadap dirinya, apa salahnya kalau kutolong dirinya sampai sadar ?"

Berpikir sampai disini sepasang telapaknya segera bekerja cepat menotok bebas jalan darah Pay-sim-hiat diatas tubuh sianak muda itu, baru saja telapak tangannya akan membebaskan jalan darah tidurnya, tiba-tiba satu ingatan kembali berkelebat dalam benaknya, taapa terasa ia berpikir lebih jauh.

"Seandainya kubebaskan jalan darah tidurnya, setelah sadar kembali mungkin dia tak akan bersedia menerima pengobatanku, aku lihat lebih baik jalan darah tidurnya jangan dibebaskan lebih dahulu."

Sifat gadis ini memang keras kepala dan tegas, perduli melakukan pekerjaan apapun juga selalu dilaksanakan apa yang telah diucapkan olehnya, dan semua perbuatan itu dilakukan dengan tanpa ragu-ragu. Setelah selesai mengambil keputusan dengan cepatnya pula dia turun tangan untuk menyembuhkan luka dari Gak In Ling.

Tampaklah dia melompat naik keatas permukaan batu itu lalu duduk bersila disamping tubuh Gak In Ling, telapak tangannya yang putih bersih ditempelkan diatas jalan darah Leng-tay-hiat diatas badan pemuda itu, perlahan-lahan hawa murninya disalurkan kedalam tubuh lawan untuk menyembuhkan luka dalamnya.

Sang surya telah lenyap dibalik bukit, senjapun menjelang tiba, pemandangan diatas bukit Tiang-pekssan yang dingin dan tertutup lapisan salju kelihatan bertambah indah di tempat itu.

Seorang gadis cantik baju merah menemani seorang pemuda tampan baju hitam duduk bersanding diatas sebuah batu cadas yang amat besar, keadaan mereka bagaikan sepasang Kim-tong-giok li bocah dewa-dewi dan kahyangan-

Kesunyian telah menyelimuti seluruh jagad, waktu sedetik demi sedetik berlalu dengan cepatnya, sang rembulan muncul diawan mendatangkan pemandangan yang semakin indah.

Perlahan-lahan dewi burung hong indah meloncat, turun dari atas batu cadas itu, setelah menyeka keringat yang membasahi jidatnya dia menengadah dan berkata.

"Akhirnya apa yang kuusahakan selama ini telah berhasil juga mencapai pada tujuan-Aai... waktu telah mendekati kentongan ketiga, mereka pasti telah datang ketempat tinggalku untuk mencari aku. Apa yang harus kulakukan sekarang ?"

Ia menengadah dan berpekik nyaring untuk memanggil datang burung hongnya itu, kemudian perlahan-lahan naik keatas punggung burung tersebut.

Tiba-tiba satu ingatan berkelebat dalam benaknya, tanpa terasa ia bergumam kembali.

"Apa salahnya kalau kubawa serta dirinya untuk pergi kesana pula?" sesudah berhenti sebentar, ia berpikir lebih jauh.

"Ah tidak boleh jadi, seandainya ilmu silat yang dimilikinya tiba-tiba menjadi amat tinggi, bukankah itu berarti telah menambah seorang musuh tangguh bagi diriku ?"

Berpikir sampai dlsini, tanpa terasa sepasang-biji matanya yang jeli berpaling kearah Gak In Ling.

Angin malam yang amat dingin berhembus lewat menggoncangkan ujung baju sianak muda itu dan menimbulkan suara desingan yang tajam, ditengah kegelapan malam yang mencekam seluruh jagad, membuat suasana terasa bertambah sedih. Kembali dewi burung hoag indah bergumam seorang diri. "Tempat ini pasti dingin sekali."

Sesudah berhenti sebentar, seakan-akan mentertawakan diri sendiri ia berpikir lebih jauh.

"Kenapa sih aku pada hari ini? Kenapa selalu memikirkan keselamatan orang lain?" Walaupun diluaran ia berkata demikian, akan tetapi sepasang kakinya telah bergerak meloncat turun dari atas punggung burung hong-nya dan berjalan kembali kearah batu cadas dimana Gak In Ling sedang berbaring.

Dewi burung hong indah segera membopong tubuh Gak In Ling dan kembali bergumam.

"Biarlah kubawa dirinya menuju kesana, tempat itu jauh lebih hangat daripada tempat ini, bagaimanapun juga pokoknya aku tak akan membawa dirinya keatas bukit itu, semuanya biarlah tergantung pada nasib."

Setelah meloncat naik keatas punggung burung hong, dia memberi komando dan burung hong itupun segera mementaogkan sayapnya untuk terbang keangkasa, dalam sekejap mata bayangan tubuhnya sudah lenyap dibalik kegelapan malam...

-ooOdwOoo-

Tempat itu merupakan sebuah bukit yang terjal dengan batu cadas berserakan dimana- mana dan pohon yang tumbuh dipermukaan tanah.

Sang surya telah muncul diufuk sebelah timur dan cahaya keemasan memancar ke seluruh penjuru, diangkasa terbanglah seekor burung rajawali yang amat besar, berputar kesana- kemari mengitari puncak tersebut.

Dari dalam sebuah gua yang berdinding batu perlahan-lahan berjalan keluar seorang pemuda berbaju hitam, ia menyapu sekejap sekeliling tempat itu, kemudian wajahnya nampak tertegun dan segera bergumam seorang diri.

"Aku telah berada dimana ?Jangan-jangan tempat ini adalah lembah pemutus sukma" Pemuda itu bukan lain adalah Gak In Ling.

Setelah memandang lagi sekeliling tempat itu dengan seksama, kembali Gak In Ling dengan gelengkan kepalanya ia berkata.

"Tidak tidak benar, tempat ini pastilah bukan lembah pemutus sukma. tapi. sebenar nya aku telah berada dimana ?"

Pada saat itulah tiba-tiba dari tengah udara berkumandang -datang suara teriakan-teriakan yang amat keras. "Tolong,. tolong tayhiap..Tolonglah aku"

Mendengar teriakan tersebut Gak In Ling segera menengadah keatas, ketika sorot matanya membentur dengan apa yang terlihat olehnya, hatinya kontan saja jadi tertegun.

Kurang lebih lima puluh tombak diatas kepalanya, pada sebuah dinding tebing yang curam dan licin bagaikan cermin tergantunglah sebuah keranjang, dalam keranjang tersebut duduklah seorang pria setengah baya yang memakai pakaian ringkas.

Dengan ketajaman matanya yang melebihi orang, Gak In Ling memperhatikan orang itu dengan lebih seksama lagi, terlihatlah olehnya orang itu bermata tikus beralis tipis, hidung betet bibir tebal dan potongannya memuakkan sekali, membuat kesan orang yang melihat wajahnya adalah buruk sekali.

Tetapi setelah memperhatikan pula keadaannya yang berada didalam bahaya hal ini membuat orang mau tak mau harus berusaha untuk menyelamatkan jiwanya.

Gak In Ling memperhatikan kearah tengah udara, ia saksikan beberapa ekor burung elang sedang beterbangan mengitari diatas batok kepala orang itu, dari keadaan burung elang itu tampaklah bahwa setiap saat mereka hendak menyerang mangsanya serta menghabiskan daging tubuhnya.

Menyaksikan kesemuanya itu, tanpa terasa Gak In Ling segera didalam hatinya.

"Dari keadaan serta dandanan orang itu, jelas dia memiliki serangkaian ilmu silat, tetapi... kenapa ia sama sekali tidak bergerak ?" berpikir demikian, diapun segera berpikir keras.

"Aku lihat engkau memiliki serangkaian ilmu silat yang cukup tangguh,jarak dan situ sampai puncak bukitpun paling tidak hanya dua puluh tombak belaka, apa salahnya kalau engkau mendekati naik keatas "

"Tali yang terikat disebelah atas sudah rusak dan menipis, jika aku bergerak sembarangan miscaya tali itu akan putus, kalau tayhiap tidak percaya silahkan periksalah keadaan disebelah bawah sana."

Mendengar perkataan itu Gak In Ling segera menengok ke bawah, bulu kuduknya kontan pada berdiri semua...

Pada dasar jurang yang dalamnya mencapai ratusan tombak. tampaklah keranjang bambu berserakan dimana-mana, tulang manusia pun bertumpuk-tumpuk dan paling sedikit mencapai ratusan buah banyaknya, ditinjau dari bambu-bambu yang berceceran diatas tanah dapat dibuktikan bahwa orang-orang itu kebanyakan terjatuh dari atas tebing.

"Siapakah orang yang telah melakukan kesemuanya ini ?" pikir Gak In Ling didalam hati kecilnya. "Perbuatan orang itu benar-benar amat keji dan brutal sekali" Berpikir sampai disini, dia lantas menengadah dan berseru.

"Baiklah, harap engkau suka menunggu sebentar lagi, aku akan segera naik keatas bukit untuk menolong jiwamu."

"Tayhiap. harap cepat-cepat kau tolong diriku" kembali orang itu berteriak dengan perasaan tak tenang, "kalau tidak maka aku pasti akan diterkam oleh burung-burung elang tersebut."

"Apakah engkau tak mampu untuk mengusir burung-burung elang lebih dahulu sehingga tidak mengusik dirimu ?" Dengan muka masam, orang itu berteriak.

"Mana aku berani bergerak ? Asal sedikit bergerak saja niscaya tubuhku akan terjatuh ke- dalam jurang dan hancur lebur, tayhiap Aku mohon kepadamu harap sedikit lebih cepat, bila kau dapat menyelamatkan selembar jiwaku maka didalam penirisan yang akan datang aku bersedia menjadi kerbau atau

kuda."

Dengan dahi berkerut Gak In Ling berpikir didalam hati kecilnya.

"orang ini benar-benar tidak berjiwa seorang kesatria, seandainya aku tidak memandang pada kedudukan sebagai sesama umat persilatan, segan aku untuk mengurusi dirimu "

Berpikir sampai disini, iapun segera berteriak. "Aku tidak membutuhkan kesemuanya itu, kau... "

Rupanya orang itu takut sekali kalau Gak In Ling berlalu dari sana tanpa menggubris dirinya lagi, dengan suara keras kembali sambungnya lebih jauh.

"Kalau begitu tayhiap menginginkan apa ? Uang emas ? Perak ? Katakan saja berapa jumlah yang kau inginkan, hamba pasti akan memberikan kepadamu sejumlah yang engkau minta,aku pasti tak akan mengingkari janji "

Mendengar perkataan itu Gak In Ling jadi naik pitam, dengan suara dingin segera ujarnya.

"sebenarnya engkau menginginkan hidup atau tidak ?"

"Ingin Ingin Ingin "jawab orang itu dengan amat cemas bercampur gelisah. "Tayhiap katakan saja apa yang kau inginkan, hamba pasti... "

"Kalau ingin hidup tutuplah mulut anjing- mu itu " bentak Gak In Ling dengan suara keras.

Menyaksikan Gak In Ling yang menjadi naik pitam, orang itu benar-benar tidak berani bersuara lagi, namun dalam hati kecilnya dengan perasaan mendongkol pikirnya.

"Hmm Keparat cilik, anak jadah kalau aku sudah ditolong naik keatas tebing nanti, pada saat itulah kau akan tahu sampai dimanakah kelihayan dari aku harimau mata tiga"

Gak In Ling berhasil menemukan sebuah jalan gunung kecil disisi gua tersebut dengan cepat ia meloncat turun kebawah dan bergerak menuju kedasar jurang tadi.

Dengan kepandaian silat yang dimilikinya pada saat ini, tidak sulit baginya untuk menuruni tebing yang curam itu, tidak selang beberapa saat kemudian Gak Ia Ling telah berada didasar jurang tadi.

Yang dipikirkan Gak In Ling pada saat ini adalah menyelamatkan jiwa orang yang tergantung dalam keranjang itu, setibanya didasarjurang ia segera mencari jalan kecil lainnya dan mendaki keatas puncak tebing sebelah depan, tangan dan kakinya segera berkerja cepat untuk mendaki terus keatas puncak tebing tadi.

Tebing itu merupakan suatu bukit yang berdiri sendiri, tingginya meskipun hanya dua ratus tombak akan tetapi berhubung dinding tebingnya licin bagaikan cermin, maka tatkala sianak muda Itu berhasil mencapai puncak tebing tadi, dua jam telah dilewatkan tanpa terasa.

Setelah berada diatas puncak tebing itu, pemandangan seketika berubah, hutan pohon song yang lebat tersebar dimana-maaa, begitu lebatnya pepohonan disana hingga membuat pemandangan nampak indah sekali.

Gak In Ling nampak tertegun, segera pikirnya didalam hati.

"Sungguh tak kusangka diatas tebing yang berdiri tersendiri ini terdapat pemandangan yang demikian indahnya."

Sambil berpikir diapun berjalan menuju ke-sisi sebelah kanan-

Setelah berjalan maju beberapa langkah ke-depan, dengan suara lantang ia segera berteriak.

"Hey, engkau berada dimana ?"

Suaranya menggema, diangkasa dan mendengung tiada hentinya, akan tetapi tiada jawaban yang kedengaran-

Gak In Ling tercengang bercampur heran, ia segera ulangi kembali teriakannya itu sampai beberapa kali, namun suasana tetap sunyi-sepi dan tak terdengar sedikit suara pun-

Pada saat itulah, tiba-tiba dari dalam hutan berkumandang datang suara orang berbatuk, diikuti bergemanya suara langkah kaki manusia, seorang penebang kayu yang sudah tua, berkepala botak dan berjenggot warna keperak-perakkan perlahan lahan muncul dari balik hutan

-oo0dw0oo-