Telapak Setan Jilid 10 : Dewi burung hong indah

Jilid 10 : Dewi burung hong indah

BELUM jauh mereka melangkah masuk kedalam hutan itu, mendadak dari sekeliling tempat itu berkumandanglah suara bentakan-bentakan yang amat nyaring disusul munculnya beberapa orang gadis muda yang dengan cepatnya mengepung ketiga orang itu di dalam kalangan, setiap orang memancarkan sikap bermusuhan dan dilihat dari gerak-gerik gadis-gadis itu, rupanya setiap saat suatu pertempuran sengit bakal berlangsung.

Dengan pandangan tajam Gak In Ling menyapu sekejap kearah sekeliling tempat itu, kemudian sambil menghela napas panjang, pikirnya.

"Gadis-gadis muda yang berkumpul ditempat ini rata-rata masih muda belia dan berwajah cantik jelita, sekalipun tidak termasuk paling cantik dikolong langit akan tetapi termasuk manusia manusia pilihan, entah gadis suci dari Nirwana berhasil mengumpulkan gadis-gadis ini dari tempat mana saja?"

Sementara itu Lan In Lojin telah tertawa terbahak-bahak sambil berkata lantang.

"Nona-nona sekalian jangan salah paham, kedatangan kami bertiga ketempat ini bukan lain adalah untuk menyambangi Leng-cu kalian "

Mendengar perkataan tersebut, sorot mata para gadis itu bersama-sama dialihkan kearah seorang gadis muda baju hijau yang berusia paling tua diantara rombongan iru, rupanya mereka sedang menantikan keputusannya.

Perlahan-lahan gadis muda baju hijau itu maju kedepan, kemudian dengan suara dingin katanya.

"Untuk menyambangi Leng-cu kami harus melewati jalan yang bagaimana, apakah kalian bertiga sama sekali tidak

tahu?"

Mendengar perkataan itu Gak In Ling berdiri tertegun, pikirnya didalam hati.

"Masa untuk menyambangi Leng-cu mereka terdapat sebuah jalan khusus yang ditujukan kepada orang-orang luar yang sengaja datang kemari untuk bertemu dengan ketuanya ?" Tampaklah Lan In Lojin sambil tertawa telah berkata.

"Kami bertiga baru pertama kali ini datang berkunjung kemari, oleh karena itu tidak mengetahui jalan manakah yang harus ditempuh, harap nona suka memberi petunjuk."

"Mana tanda pengenalnya ?" tanya gadis baju hijau itu dengan sikap yang amat teliti. sekali lagi ketiga orang itu berdiri tertegun.

"Tanda pengenal ? Tanda pengenal apa ?" seru mereka hampir berbareng.

Air muka para gadis yang berada disana segera berubah bebat, terdengar gadis baju hijau itu berseru.

"Kalau kalian bertiga memang tidak memiliki tanda pengenal, untuk menjumpai Leng-cu kami tentu saja boleh, tetapi terpaksa pelayanan nya jauh berbeda."

Bersamaan dengan selesainya ucapan itu, badannya dengan suatu gerakkan yang aneh dan cepat bagaikan sambaran kilat berkelebat kedepan mencengkeram urat nadi pada pargelangan kanan Lan In Lojin dengan jurus "Sin-lekshu-ciau" atau tenaga sakti menundukkan naga.

Lan In Lojin sama sekali tidak menyangka kalau gadis itu segera melancarkan serangannya setelah mengatakan akan menyerang, sehingga membuat ia sama sekali tak ada kesempatan untuk berbicara, kejadian ini dengan cepatnya membangkitkan hawa gusar dalam hatinya.

Terdengar ia tertawa terbahak-bahak, sambil tetap berdiri tenang ditempat semula, serunya.

"Haa haa haa. .. nona, kau terlalu pandang rendah akan diriku."

Gelak tertawanya amat keras dan nyaring sehingga membubung tinggi keangkasa, membuat telinga jadi sakit seperti ditusuk jarum.

Dikala Lan In Lojin masih tertawa terbahak-bahak itulah, gadis baju hijau itu sudah mencengkeram pergelangan tangannya, biji mata yang jeli berkilat dan tiba-tiba ia mengirim sebuah totokan keatas jalan darah cian-cing-hiat diatas bahu kakek tua itu.

Pada saat itulah dari arah lima tombak di sebelah belakang, berkumandang datang suara bentakan yang amat nyaring.

"Lan-ji, jangan bertindak gegabah cepat mundur kebelakang "suara orang ini nyaring dan tajam, hal tersebut menunjukkan bahwa tenaga dalam yang dimilikinya amat sempurna.

Sungguh cepat reaksi dari gadis baju hijau itu, ketika mendengar peringatan tersebut tanpa berpikir panjang lagi ia segera buyarkan serangan daa meloncat mundur sejauh delapan depa dari tempat semula, kemudian dengan cepat berpaling kearah mana berasal nya suara tadi.

Kurang lebih lima tombak didalam hutan dari belakang sebuah pohon yang besar muncullah seorang nenek tua berambut putih, berwajah penuh keriput, bertongkat emas dan menyoren sebuah seruling perak diatas punggungnya.

Melihat kemunculan nenek tua itu. para gadis yang berada disana bersama-sama memberi hormat dengan sikap yang sangat hormat.

Sebaliknya Lan In Lojin serta ciang-liong-sian segera menunjukkan sikap yang amat kaget sekali, air muka mereka berdua berubah hebat, dengan nada tercengang serunya dengan keras.

"Aaah Engkau adalah Kim-ciang-sin-ti tongkat emas seruling sakti Leng Siang Ji " Perasaan hati Gak In Ling pun agak tergugah, pikirnya.

"Kalau ditinjau dari perubahan wajah kedua orang ini, jelas tenaga dalam yang dimiliki orang itu paling sedikit tidak berada dibawah mereka berdua, benarkah dibawah komando gadis suci dari Nirwana, ia telah berhasil mengumpulkan segenap jago lihay yang berada dikolong langit untuk sama-sama tunduk dibawah perintahnya ?"

Dalam pada itu nenek tua itu sendiripun agak tertegun ketika mengetahui siapakah dua orang yang sedang dihadapinya, sambil tertawa ia segera mengangguk dan berkata.

"Sungguh tak kusangka dua orang jago lihay yang sudah lama mengasingkan diri dari keramaian dunia, kini munculkan diri kembali di-dalam dunia persilatan, sungguh luar biasa

sekali."

"Akan tetapi kalau dibandingkan dengan dirimu, mungkin kemunculan kami masih terlambat satu tindak bukan ?" kata ciang-liong-sian sambil tertawa bergelak. Tongkat emas seruling sakti Leng Siang Ji tertawa.

"Bukan saja lebih lambat satu tindak daripada diriku, mungkin sudah ada tiga orang lain-nya yang berjalan lebih dahulu di depan kalian "

Satu ingatan berkelebat dalam benak Lan In Lojin, dengan nada terperanjat serunya. "Maksudmu ketiga orang itupun sudah datang kemari ?"

"Sedikitpun tidak salah, kemunculanku di-tempat ini pun atas undangan dari mereka bertiga."

Ciang-liong-sian dengan cepat menarik kembali senyuman diatas bibirnya, dengan keheranan ia berkata.

"Gadis suci dari Nirwana tokh masih berusia amat muda sekali, sungguh tak kusangka ternyata ia sanggup mengundang kalian semua untuk membantu dirinya, apa sih keistimewaannya sehingga kalian semua bersedia untuk melaksanakan perintahnya ?"

Air muka tongkat emas seruling sakti Leng Siang Ji berubah jadi serius, katanya dengan sungguh-sungguh.

"Meskipun usia Leng-cu masih amat muda, akan tetapi kecerdasannya jauh diatas orang biasa, kalau ingin kuceritakan maka kisahnya tidak ada habis-habisnya, asal kalian berdua bersedia untuk tinggal selama tiga hari dengan Leng-cu, maka aku tanggung kamu tak akan rela untuk meninggalkan gunung Tiang-pek-san dengan begitu saja."

Lan In Lojin sangat mengenal watak tongkat emas seruling sakti Leng Siang Ji, meskipun dia mengetahui bahwa nenek tua ini terkenal akan sifatnya yang aneh, ditambah pula ilmu silatnya amat lihay sehingga para jago baik dari kalangan lurus maupun dari kalangan sesat hampir semuanya jeri dan segan terhadap dirinya, akan tetapi selama hidup belum pernah berbicara bohong.

Maka mendengar perkataan itu, tanpa dia sadari lagi berseru. "Benarkah sudah terjadi peristiwa semacam itu ?"

"Sejak kapan sih aku pernah membohongi orang lain ?" seru Leng Siang Ji nenek tua bersenjata tongkat dan seruling itu dengan dahi berkerut kencang.

Untung Lan In Lojinlah yang mengucapkan kata-kata itu. Seandainya orang lain yang berkata demikian niscaya dia telah turun tangan untuk memberi pelajaran kepadanya. Rupanya Lan In Lojin mengetahui bahwa ia telah salah bicara, buru-buru katanya.

"Aah, aku telah salah berbicara, harapkan kaa memakluminya dan jangan sampai dipikirkan didalam hati."

Setelah orang berkata demikian, tentu saja Tongkat emas seruling sakti Leng Siang Ji tidak berkata apa-apa lagi, dengan air muka yang jauh lebih lunak ia bertanya.

"Bolehkah aku mengetahui dengan maksud serta tujuan apakah kalian bertiga datang keatas gunung Tai-pek-san ?"

"Kami ada urusan hendak berjumpa dengan Leng-cu kalian " sahut Lan In Lojin sambil tanpa sadar melirik sekejap kearah Gak In Ling yang berada disampingnya.

Dari dalam hati kecil Gak In Ling segera timbul suatu perasaan aneh yang sukar dilukiskan dangau kata-kata, menghadap orang yang tidak ingin dijumpainya lagi, bagi dirinya pekerjaan tersebut boleh dibilang merupakan suatu perbuatan yang amat menekan bathin.

Pemuda itu mulai menyesal, menyesal karena menerima tawaran itu, dia merasa tidak sepantasnya untuk menyanggupi permintaan dari Lan In Lojin untuk datang menemui gadis suci dari Nirwana yang sudah tak ingin ditemuinya lagi.

Terdengar tongkat emas seruling sakti Leng Siang Ji berkata dengan suara dingin.

"Dibalik hutan merupakan suatu daerah yang amat berbahaya sekali, setiap jengkal tanah mengandung hawa pembunuhan yang amat tebal, jika kalian bertiga ingin bertemu dengan Leng-cu kami, tidak sepantasnya kalau berjalan melewati tempat ini, memandang wajah kalian berdua sebagai sahabat lamaku, terimalah sebuah tanda pengenal ini sebagai pas jalan kalian untuk masuk kedalam markas,"

Habis berkata dari dalam sakunya dia mengambil keluar sebuah tanda pengenal Pek-Giokhu dan diserahkan ketangan Lan In Lojin, kemudian sambil menuding jalan yang berada disebelah kanan katanya.

"Kalian boleh mengikuti jalan yang ada di balik batu cadas putih itu untuk masuk kedalam, disana pasti akan muncul seseorang untuk memberi petunjuk jalan kepada kalian,"

Tidak sampai ketiga orang itu untuk berbicara. Nenek tua itu segera memberi tanda kepada beberapa orang gadis itu, dan di dalam waktu singkat bayangan tubuh mereka sudah lenyap dibalik hutan-

"Huh Tempat ini benar benar misterius sekali." gumam ciang-liong-sian seorang diri. Agaknya Lan In Lojin tidak ingin berdiam disitu terlalu lama, ia segera berseru. "Mari kita berangkat"

Habis berkata ia berangkat lebih dahulu menuju kearah mana yang ditunjukkan nenek tua tadi, sedangkan ciang-liong-sian serta Gak In Ling mengintil dibelakangnya.

Ketika mereka tiba dibelakang batu cadas putih, seseorang segera munculkan diri untuk menghadang jalan pergi ketiga orang itu, untung mereka membawa tanda pengenal sehingga sepanjang perjalanan walaupun harus melewati hampir tiga puluh buah pos penjagaan baik besar maupun keeil, akan tetapi semuanya dapat dilewati dengan lancar tanpa mengalami kesulitan barang sedikit-pun juga.

Ketika waktu menunjukkan hampir mendekati tengah hari, sampailah mereka didalam sebuah lembah yang berpemandangan sangat indah sekali.

Gak In Ling segera pentang matanya memandang kearah depan, tampaklah lembah itu luar biasa sekali, rumput yang hijau tumbuh dengan suburnya, pemandangan disana justeru merupakan kebalikan dari salju putih yang menyelimuti wilayah pegunungan Tiangpek-san yang lain-

Di tengah hijaunya rumput bunga bwee yang berwarna merah tumbuh dimana-mana, sebuah bangunan rumah yang megah dan mentereng muncul dari balik pohon bwee yang lebat, sehingga membuat pemandangan disana benar-benar kelihatan indah. Dalam hati Gak In Ling berpikir.

"Tempat ini benar-benar sangat indah bagaikan berada di-Nirwana, seandainya aku bisa hidup mengasingkan diri ditempat ini dan selamanya tidak mencari urusan keduniawian lagi, hal tersebut benar-benar merupakan suatu kejadian yang sangat mengesankan-"

Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara tertawa merdu berkumandang datang disusul berkumandangnya suara pembicaraan seseorang.

"Bilamana kedatangan siau-moay agak terlambat, aku harap kalian bertiga suka memaafkan "

Gak In Ling alihkan sorot matanya kearah orang itu, hatinya tertegun dan segera berpikir.

"Kenapa siperempuan naga peramal sakti sendiri yang menyambut kedatangan kami ?" Sementara itu Lan In Lojin telah berkata.

"Tidak berani tidak berani terus-terang saja kami katakan, adapun maksud serta tujuan kedatangan kami berdua adalah untuk menemani Gak In Ling."

"Leng-cu kami sejak pertama kali dulu sudah mengetahui kalau Gak In Ling telah menelan pil cui-sim-cu," tukas perempuan naga peramal sakti Ki Gick Peng sambil tertawa, "dan apa tujuan dari kedatangan kalian bertigapun telah diketahui pula olehnya, dengan demikian malahan sungguh kebetulan sekali, sebab Leng-cu kami masih terdapat beberapa buah persoalan yang hendak diruncingkan secara langsung dengan Gak In Ling sendiri, apakah kalian berdua... "

"Haa haa haa buat kami kemana sajapun bolehlah, kau tak usah terlalu menguatirkan kami berdua." sambung ciang-liong-sian dengan cepat. Perempuan naga peramal sakti tertawa.

"Leng-cu telah memerintahkan diriku untuk menyampaikan permintaan maaInya berhubung tak dapat menyambut sendiri kedatangan kalian bertiga." katanya.

Bicara sampai disana ia segera memberi tanda kepada dua orang dayang cilik yang berada dibelakangnya, kemudian kepada dua orang kakek tua tadi katanya. "Silahkan kalian berdua duduk beristirahat dalam ruang tamu "

Setelah kedua orang kakek itu berlalu mengikuti kedua orang dayang tadi, perempuan naga peramal saktipun berpaling kearah Gak In Ling sambil ujarnya. "Saudara Gak, silahkan mengikuti aku"

Habis berkata ia segera putar badan berjalan menuju kesebuah bangunan gedung berwarna putih.

Dengan perasaan kaku Gak In Ling mengikuti dibelakangnya, dalam waktu yang amat singkat itulah perasaan hatinya amat kacau, karena ia tak dapat menduga bagaimanakah sikap gadis suci dari Nirwana terhadap dirinya setelah saling berjumpa nanti ?

Tiba-tiba perempuan naga peramal sakti memperlambat langkah kakinya sehingga jalan bersanding dengan sianak muda itu, sambil berpaling ia bertanya.

"Saudara Gak. apakah kedatanganmu kali ini adalah diluar kehendakmu sendiri ?"

"Benar" jawab Gak In Ling setelah berpikir sebentar, senyum tawa tersungging dibibirnya.

"Tahukah engkau bila seseorang berada dalam keadaan uring-uringan, apa yang dapat dilakukan olehnya ?"

"Mungkin pendirian serta sikapnya terlalu menuruti pada emosi serta perasaan sendiri."

Perempuan naga peramal sakti tertawa lega, kembali ia bertanya.

"Menurut tanggapanmu patutkah kita mengalah kepada orang semacam ini?"

"Sudah sepantasnya kalau kita mengalah"

"Saudara Gak. kau cerdik sekali " puji perempuan naga peramal sakti Ki Giok Peng sambil tertawa.

Merah padam selembar wajah Gak In Ling mendengar ucapan itu, dengan nada kikuk serunya.

"Nona, kau terlalu memuji "

Sementara pembicaraan masih berlangsung, mereka telah tiba dibawah bangunan loteng itu, Gak In Ling segera menengadah keatas dan tampaklah pintu gerbang yang berwarna merah terpentang lebar-lebar. Disisi kiri- kanan piatu gerbang masing-masing berdiri dua orang gadis berbaju hijau, sikap mereka keren dan serius sekali.

Dengan dipimpin oleh perempuan naga peramal sakti yang berjalan didepan, mereka melewati sebuah penutup kain dan masuk kedalam ruang tengah yang amat luas.

Dengan hati tercekat Gak In Ling menyapu sekejap sekeliling ruangan itu, ia saksikan perlengkapan dalam ruangan itu indah sekali seperti istana kaisar, dibelakang sebuah meja duduklah seorang gadis muda baju putih yang berwajah amat cantik, orang itu bukan lain adalah gadis suci dari Nirwana.

Disamping kiri gadis suci dari Nirwana duduklah Su-put-siang, sedangkan kursi disebelah kanannya masih kosong, dibawah meja tadi berdirilah dayang-dayang cantik berbaju putih, wajah mereka semua amat keren dan serius seakan-akan sedang menghadapi suatu pengadilan.

Ketika menyaksikan Gak In Ling berjalan masuk kedalam ruangan, mula-mula gadis dari Nirwana menunjukkan wajah kegirangan, tapi hanya sebentar saja rasa girang itu sudah lenyap tak berbekas, sorot mata yang dingin dengan cepat dialihkan kearah lain dan pura-pura tidak melihat.

Perempuan naga peramal sakti Ki Giok Pengjadi tertegun menyaksikan hal itu, pikirnya dalam hati dengan perasaan tercengang. "Aaii... Leng-cu, kenapa sih ?"

Dan dengan cepat ia berseru deagan suara lantang. "Leng-cu, saudara Gak telah tiba."

"cici, silahkan kembali dan duduk kemari." kata gadis suci dari Nirwana dengan suara sabar.

Perempuan naga peramal sakti jadi amat gelisah, kembali ia berseru. "Leng-cu... "

"Silahkan duduk "

Diam-diam perempuan naga peramal sakti Ki Giok Peng menghela napas panjang, pikirnya. "Aah, kalau dilihat dari keadaannya, urusan pada hari ini bakal celaka...""

Berpikir sampai disini, terpaksa ia berjalan balik kekursi yang kosong itu dan duduk kembali disana.

Gak In Ling tarik napas panjang-panjang, dengan suara berat katanya.

"Gak In Ling menghunjuk hormat untuk Leng-cu " sambil berkata ia membungkuk badan dan memberi hormat.

Tiba-tiba gadis suci dari Nirwana tertawa dingin dan berkata.

"Aku orang tak berani menerima penghormatan besar dari engkau Gak In Ling "

Membalas hormatpun ternyata tidak dilakukan-

Berhadapan dengan orang yang begitu banyak, bukan saja gadis suci dari Nirwana tidak mempersilahkan tamunya untuk mengambil tempat duduk. malahan sikapnya begitu ketus dan dingin, jangan dibilang Gak In Ling adalah seorang pemuda yang berwatak tinggi hati, sekalipun seorang manusia yang berhati sabarpun tak akan tahan menghadapi pelayanan semacam ini.

Air muka Gak In Ling seketika berubah hebat, akan tetapi ia masih tetap menyabarkan diri dan menekan perasaan amarahnya didalam hati, sambil menghela napas panjang katanya. "Mungkin aku memang tidak pantas untuk menyambangi diri Leng-cu."

Sekujur hati gadis suci dari Nirwana gemetar keras, tetapi ia tak dapat membendung hawa gusar yang berkobar dalam hatinya, sambil tertawa dingin segera jawabnya.

"Hmm Mungkin memang begitulah keadaannya "

Tiba-tiba air muka Gak In Ling berubah semakin hebat, dengan cepat dia menengadah ke- atas dan berkata dengan hambar. "Mungkin tidak seharusnya aku berkunjung kemari... "

Suaranya datar dan hambar sekali, bahkan kedengaran nyata bahwa ia menunjukkan perasaan yang amat menyesal.

Jantung gadis suci dari Nirwana berdetak keras, tubuhnya agak gemetar, ia sendiripun tak tahu mengapa dia mengucapkan kata-kata semacam itu terhadap pemuda tersebut, tetapi kata-kata itu sudah terlanjur meluncur keluar dan tidak mungkin bisa ditarik kembali.

Sepasang biji mata yang jeli, perlahan-lahan dialihkan kewajah Gak In Ling, kemudian dengan suara yang jauh lebih lunak dia bertanya. "sebenarnya apa maksudmu datang kemari?"

Dalam hati kecilnya Gak In Ling tertawa dingin, pikirnya.

"Secara terang-terangan kau telah mengetahui maksud serta tujuan dari kedatanganku Gak In Ling, kenapa sih mesti banyak bertanya lagi" berpikir sampai disini ia menjadi mendongkol sekali, dengan suara hambar jawabnya.

"Aku pikir lebih baik tak usah kuutarakan lagi " sambil berkata tiba-tiba ia menggeser kakinya dan siap berlalu dari tempat itu.

Gadis suci dari Nirwana merasa amat terperanjat, Air mukanya berubah hebat.

"Hm Sekalipun tidak kau ucapkan, akupun sudah tahu apa maksud serta tujuan dari kedatanganmu kemari." katanya.

Perlahan-lahan Gak In Ling menarik kembali sinar matanya dan menyapu sekejap kearah gadis itu, kembali ia berkata dengan nada hambar.

"Leng-cu adalah seorang manusia yang amat cerdas dan pintar sekali dikolong langit, tentu saja maksud serta tujuan dari kedatanganku orang she Gak ketempat ini takkan lolos dari pandangan matamu, hal ini hanya bisa menyalahkan aku orang she Gak yang benar-benar tak tahu diri, serta melakukan perbuatan yang tak dapat dilakukan tapi secara nekad dilakukannya juga . "

Perempuan naga peramal sakti Ki Giok Peng yang menyaksikan gelagat semakin klan semakin tidak beres, buru-buru bangkit berdiri dan berkata dengan hati cemas.

"Saudara Gak. Leng-cu kami sama sekali tiada bermaksud lain, harap kau jangan salah paham."

Gak In Ling tertawa sinis. "Aku orang she Gak hanyalah seorang manusia yang tak jelas asal-usulnya serta berkeliaran dalam dunia persilatan tanpa tujuan, jangan kata tak berani menaruh kesalah paha man terhadap Leng-cu, sekalipun benar-benar telah terjadi kesalah pahaman, apa yang dapat kulakukan lagi ?" nada suaranya amat berat, seakan-akan memperlihatkan betapa dan risaunya perasaan hati sianak muda pada saat itu.

Dengan mata kepala sendiri gadis suci dari Nirwana dapat menyaksikan kematian dari enci Gak In Ling, maka dari itu mendengar beberapa patah kata yang amat menyedihkan tadi, tanpa disadari timbullah perasaan menyesal dalam hati kecilnya, rasa sesal tersebut susah dilukiskan dengan kata-kata terutama sekali setelah meresapi menderita serta sengsaranya hidup pemuda itu.

Dengan cepat gadis suci dari Nirwana bangkit berdiri, kemudian tegurnya dengan suara lantang.

"Gak In Ling, sebenarnya apa maksudmu mengutarakan kata-kata semacam itu ?"

"Apakah Leng-cu takut kalau sampai aku menaruh perasaan salah paham terhadap dirimu?" ejek si pemuda sambil tertawa tawa.

"Siapa yang takut"

Jawaban ini hanya merupakan suatu jawaban secara spontan saja, sebenarnya sama sekali tidak mengandung suatu maksud tertentu.

"Kalau memang begitu bagus sekali." sahut sang pemuda hambar.

Sesudah menanti sebentar, ia menambahkan "kalau memang begitu aku ingin mohon diri terlebih dahulu "

Habis memberi hormat kepada gadis suci dari Nirwana, ia putar badan dan siap berlalu dari sana.

"Saudara Gak " seru perempuan naga peramal sakti Ki Giok Peng dengan hati cemas. "Apakah perjalananmu menuju kegunung Tiang-pek-san yang begini jauhnya ini hanya merupakan suatu perjalanan yang sia-sia belaka ?"

Gak In Ling sama sekali tidak berpaling, mendengar perkataan itu dia menghentikan langkahnya dan berseru

dengan nada kebingungan. "Aku semestinya tidak pantas datang kemari "

"Apakah pihak Tiang-pek-san telah menghina dirimu ?" teriak gadis suci dari Nirwana dengan jengkel.

Dengan cepat Gak In Ling memutar badannya, hawa gusar seakan-akan hendak meledak dari dalam benaknya, akan tetapi ketika ia menyaksikan genangan air mata yang mengembang dalam kelopak mata gadis suci dari Nirwana, kata-kata pedas yang telah menempel diujung bibirnya itu tanpa terasa telah tertelan kembali kedalam perut.

Sebenarnya gadis itu memang berwajah amat cantik, kini berada dalam keadaan sedih dan murung, wajahnya kelihatan jauh bertambah menarik serta mempesonakan hati. Dengan sedih Gak In Ling menghela napas panjang, serunya.

"Aku tidak seharusnya menimbulkan kemarahan dari Leng-cu, anggap saja apa yang telah aku ucapkan barusan sebagai suatu impian yang jelek bagi diri Leng-cu, mungkin sejak ini hari kau tidak akan bertemu lagi dengan orang yang menimbulkan kemarahanmu itu."

Selesai berkata ia melanjutkan perjalanannya dan dengan langkah lebar ia menuju kepintu luar.

Gadis suci dari Nirwana tak dapat menahan pergolakan dalam hati kecilnya lagi, dengan suara gemetar serunya.

"Tunggu sebentar, aku akan mengambilkan bagimu" habis berkata buru-buru dia berjalan masuk kedalam ruang belakang.

Hati seorang gadis, mungkin untuk selamanya tak dapat diduga oleh orang lain-

Dengan sedih perempuan naga peramal sakti menghela napas panjang pula, diam-diam gumamnya seorang diri.

"Semoga Thian suka membantu umatNya, agar Gak In Ling yang keras hati dapat merubah perasaan hatinya... "

Mengikuti guman tsrsebut, titik air mata jatuh berlinang membasahi wajahnya.

Setelah mengambil keputusan didalam hatinya, tentu saja Gak In Ling tak mau berdiam lebih lama lagi ditempat itu, ia segera meloncat ke luar, dari ruang tengah dan laksana kilat melenyapkan dirinya ditengah pepohonan bunga bwee. Dari belakang tubuhnya terdengar suara perempuan naga peramal sakti berteriak keras.

"Gak In Ling, kau tidak sepantasnya mengambil keputusan tanpa berpikir panjang batalkanlah niatmu untuk pergi."

Akan tetapi Gak In Ling sama sekali tidak menggubris, dengan gerakan yeng lebih cepat ia berlalu dari tempat itu.

Tidak lama setelah Gak In Ling lenyapkan diri dibalik pepohonan bunga b wee, gadis suci Nirwana muncul dari ruang belakang sambil membawa sebuah kotak putih yang terbuat dari batu pualam, sorot matanya yang jeli dengan cepat menyapu sekejap dalam ruangan itu, tiba-tiba wajahnya berubah jadi pucat pasi bagaikan mayat, serunya dengan gemetar. "Kemana perginya orang itu?"

Suasana dalam ruangan itu sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun, siapapun diantara mereka tak mampu mengucapkan sepatah kata pun, karena kepergian dari Gak In Ling sedemikian cepatnya sehingga tak mungkin dapat dicegah kembali, kendatipun perempuan naga peramal sakti telah menduga sampai kesitu, akan tetapi ia tidak bisa ilmu silat, apa yang harus dilakukan olehnya?

Dengan perasaan hati yang kaku gadis suci dari Nirwana meletakkan kotak pualam itu di atas meja, lalu dengan putus asa tanyanya.

"cici, apakah dia telah pergi ?"

Dengan perasaan yang halus perempuan naga peramal sakti mencekal sepasang tangan gadis suci dari Nirwana yang gemetar keras, ujarnya dengan suara lirih. "Leng-cu, percayakah engkau dengan rencana serta siasatku ?"

Keadaan gadis suci dari Nirwana pada saat ini seakan-akan telah kehilangan pendirian serta kesadarannya, dengan kaku dia mengangguk.

Walaupun perempuan naga peramal sakti sendiri tidak mempunyai keyakinan untuk berhasil dengan rencananya, akan tetapi untuk menghibur hati Leng-cunya yang masih muda- belia itu, dia pun tak berani menunjukkan perasaan sangsi. Maka dengan nada yang seakan-akan yakin akan berhasil ia berkata.

"Kepergiannya pasti tak akan terlalu jauh, mari kita segera bergerak dan mungkin akan berhasil menyusul dirinya."

Bicara sampai disini ia berhenti sebentar kemudian dengan suara setengah berbisik ujarnya kembali kepada gadis suci dari Nirwana.

"Lain kali kalau engkau berjumpa lagi dengan dirinya, harap Leng- cu jangan bersikap begitu kasar terhadap dirinya, ketahuilah dibawah tekanan keadaan yang mengenaskan serta menyedihkan, dia telah kehilangan rasa percayanya pada diri sendiri, engkau harus bersikap agar dia tahu bahwa sebenarnya kau dengan bersungguh hati dan setulus hati sedang memperhatikan serta menguatirkan keselamatan jiwanya, hanya sikap yang hangat itulah yang akan mencairkan perasaan hatinya yang dingin serta telah membeku itu" Dengan air mata bercucuran gadis suci dari Nirwana mengangguk.

"Aku dapat berbuat demikian, pasti akan ku lakukan seperti apa yang kau katakan." jawabnya lirih.

Kali ini suaranya kedengaran begitu lembut, dan manja.

Diam-diam perempuan naga peramal sakti menghela napas panjang dan dalam hati kecilnya ia berpikir.

"Aaiii sejak jaman dahulu kala sampai sekarang cinta akan mendatangkan banyak kesengsaraan dan kesedihan, cinta memang benar-benar menakutkan " berpikir sampai disini ia segera berkata.

"Persoalan ini tak dapat ditunda-tunda lagi Leng-cu Kau harus segera berangkat"

"Baik, aku akan segera menyusul dirinya "jawab gadis suci dari Nirwana sambil mengangguk.

Dengan langkah yang cepat ia loncat turun dari mimbar dan berlalu dari ruangan itu.

"Leng-cu, aku ikut" teriak Su-put-siang dengan hati gelisah.

"Tidak- kau tak usah ikut" suara itu terpancar datang dari tempat kejauhan-

Su-put-siang tahu bahwa ilmu silat yang di milikinya masih selisih jauh kalau dibandingkan dengan Leng-cu nya, setelah menyadari bahwa dia telah ketinggalan jauh, terpaksa orang itu menghentikan gerakan tubuhnya.

—oooooo—

Mari sekarang kita ikuti diri Gak In Ling.

Setelah meninggalkan ruanjan tengah, ia tidak pergi mencari Lan In Lojin serta ciang- liong sian, sebaliknya dengan gerakan yang amat cepat dia bergerak menuju kemulut lembah.

Dengan gerakan ilmu meringankan tubuhnya yang sempurna, tidak selang beberapa saat kemudian tubuhnya sudah keluar dari jalan lembah tersebut.

Setelah berhasil menemukan jalan keluar, Gak In Ling langsung berlarian menuju kebawah gunung Tai-pek-san, berhubung sewaktu datang tadi semua penjaga dalam pos-pos penjagaan telah mengenal dirinya, maka ketika pemuda itu bergerak keluar tak seorangpun yang menghalangi jaLan perginya .

Sepanjang perjalanan Gak In Ling berlarian terus tiada hentinya, dalam waktu singkat ia sudah menempuh jarak sejauh empat puluh li lebih, karena perasaan hatinya tidak tenang, tentu saja arah tujuannya sama sekali tidak diperhatikan olehnya, menanti ia menyadari akan hal tersebut tubuhnya telah berada diatas sebuah puncak gunung yang menjulang tinggi keangkasa.

Terpaksa Gak in Ling menghentikan langkah kakinya dan menentukan arah kembali, pikirnya di dalam hati.

"Hiiii kenapa sih aku ini ? Kenapa untuk menentukan arah timur- barat saja tidak mampu ?"

Setelah berdiri termangu- mangu beberapa saat lamanya, dia pun mentukan arah yang sebenarnya dan bergerak menuju kearah timur.

Pada saat itulah tiba tiba dari tengah udara berkumandang datang suara pekikan burung hong yang amat keras dan memekakkan telinga, jika ditinjau dari jarak suara tadi, kurang-lebih burung hong itu berada pada ketinggian sepuluh tombak diatas angkasa.

Gak In Ling amat terperanjat, dengan cepat dia menghentikan langkah kakinya dan menengadah keatas, dimana sorot matanya memandang dan hatinya merasa amat terperanjat sekali.

Tampak kurang lebih delapan tombak diatas kepalanya terbanglah seekor burung hong yang amat besar bagaikan kereta kuda yang memiliki bulu beraneka warna.

Paruhnya tajam dan berwarna emas, mata nya merah berapi-api, sekilas memandang burung itu kelihatan mengerikan sekali, namun binatang tersebut sama tiada maksud untuk melakukan sergapan-

Gak In Ling pun merasa lega, perlahan-lahan dia mulai menuruni puncak bukit itu.

Mendadak dari tempat kejauhan berkumandang datang suara bentakan yaag merdu dan amat nyaring.

"Hei, berhenti " meskipun suaranya tidak begitu keras, akan tetapi mengandung daya kekuatan yang cukup menggetarkan hati manusia.

Mendengar bentakan itu Gak In Ling tertegun dan tanpa terasa ia menghentikan langkah kakinya, tetapi hanya sebentar saja ia berhenti kemudian meneruskan kembali perjalanannya menuruni bukit tersebut.

Siapa sangka baru saja sianak muda itu melanjutkan kembali langkahnya sejauh dua tindak. mendadak dari tengah udara berkelebat lewat sesosok bayangan merah dan tahu-tahu kurang lebih lima depa di hadapan Gak In Ling telah bertambah dengan seorang gadis muda yang amat cantik dan berbaju warna merah.

Gak In Ling merasa amat terperanjat, segera pikirnya didalam hati.

"Gerakan tubuh perempuan ini benar-benar cepat sukar dilukiskan dengan kata-kata, sehingga dengan ketajaman matakupun tak mampu melihat jelaS gerakan tubuhnya, mungkin tenaga dalam yang dimiliki orang ini tidak dibawah aku, kenapa sih semua jagoan yang kutemui pastilah seorang gadis muda yang berwajah cantik? Bahkan kepandaian mereka rata-rata berada diatas kepandaianku ? Aaai semoga saja dia datang bukan untuk memusuhi diriku."

Berpikir sampai disini, tanpa terasa lagi sorot matanya yang tajam dengan cepat menyapu sekejap keatas wajah gadis itu.

Gadis muda baju merah itu berusia antara delapan-sembilan belas tahun, matanya jeli dengan alis yang melentik, hidung mancung dengan bibir kecil- mungil, wajahnya bulat telur dan kecantikan wajahnya sama sekali tidak berada di bawah kecantikan gadis suci dari Nirwana, hanya dari balik matanya secara lapat-lapat memancarkan hawa napsu membunuh yang sangat tebal membuat orang merasa tak berani untuk mendekatinya.

Dengan pandangan dingin gadis muda baju merah itu memandang sekejap kearah Gak Ia Ling kemudian dengan suara dingin katanya.

"Bukankah engkau baru saja datang dari tempat tinggal gadis suci dari Nirwana ?"

"Sedikitpun tidak salah "jawab sang pemuda sambil alihkan sorot matanya kearah lain-

Napsu membunuh yang amat tebal melintas lewat diatas wajah gadis cantik baju merah itu, kembali ia bertanya.

"Apakah engkau adalah anak buah dibawah perintah gadis suci dari Nirwana?"

"Aku dengan nona tokh tidak saling mengenal satu sama lainnya, buat apa nona menanyai diriku dengan begitu jelas ?" Dara muda baju merah itu tertawa dingin.

"Buat apa ? Aku akan menyaksikan apakah kau sepantasnya diberi kematian atau lebih pantas dibiarkan hidup"

Gak In Ling adalah seorang psmuda angkuh yang tinggi hati, tentu saja ia tak tahan mendengar perkataan semacam itu, mendengar perkataan tersebut tak tahan lagi ia tertawa dingin dan mengejek.

"Maksud nona, apakah engkau telah menguasai soal mati hidupku ? Dan eng kaukah yang akan menentukan kematian atau kehidupan bagiku ?"

"Tentu saja" jawab dara baju merah itu tanpa pikir panjang lagi.

Perkataan itu diucapkan amat lancar dan leluasa, seakan-akan mati hidup Gak in Ling memang benar-benar sudah berada dibawah cengkeramannya.

Mendengar ucapan itu Gak In Ling jadi naik pitam, sambil tertawa dingin ia segera berseru.

"Kalau memang begitu silahkan engkau mencoba-coba."

"Jadi kau benar-benar tak mau berbicara?" ejek dara muda baju merah itu sambil tertawa dingin.

"Tentu saja tak mau bicara ?" jawab Gak In Ling ketus.

Dari balik sorot mata dara muda baju merah itu segera terpancarlah napsu membunuh yang sangat tebal, ia tertawa dingin dan mengejek.

"He he... he... jikalau nonamu ingin membinasakan dirimu, maka perbuatan ini dapat kulakukan dengan gampang sekali bagaikan-.. "

Belum habis ia berkata, tiba-tiba gadis itu putar badan dan membentak kearah sebuah batu cadas yang menonjol keluar kurang lebih dua puluh tombak dihadapannya.

"Kawanan tikus dari manakah yang bersembunyi ditempat itu, ayoh cepat menggelinding ke luar dari tempat itu "

Gak In Ling yang menyaksikan kejadian itu jadi amat terperanjat .sekali, pikirnya didalam hati.

"Jarak dari tempat ini sampai kearah batu cadas itu amat jauh sekali, dan lagi orang itu sama sekali tidak menimbulkan sedikit suarapun, ternyata ia berhasil menemukan jejaknya dengan jitu, dari sini bisa ditarik kesimpulan bahwa tenaga dalam yang dimilikinya benar-benar telah mencapai puncak kesempurnaan yang luar biasa "

Dikala Gak In Ling masih termenung dan memikirkan persoalan itu, mendadak dari balik batu berkumandang datang suara gelak tertawa yang amat keras, disusul seseorang menjawab.

"Ha ha ha bocah perempuan, sedari kapan sih engkau telah mengetahui tempat persembunyianku ?"

Dari belakang batu cadas itu muncullah seorang manusia aneh yang berwajah jelek sekali.

Begitu menyaksikan raut wajah orang itu, Gak In Ling merasa amat terperanjat, serunya tanpa sadar. "Hiat-mo-ong "

Sedikitpun tidak salah, orang yang baru saja munculkan diri itu bukan lain adalah IHiat-mo-ong raja iblis darah yang datang dari lembah pemutus sukma.

Dengan pandangan yang amat dingin Hiat-mo-ong menyapu sekejap kearah Gak In Ling, kemudian dengan langkah lebar berjalan maju ke depan, sikapnya amat tenang dan terbuka, jelas ia sama sekali tak pandang sebelah mata pun terhadap muda-mudi yang berada dihadapannyaitu.

"Ei, tua- bangka Benar-benar tidak lucu lagakmu itu" maki dara muda baju merah sambil tertawa.

Meskipun ia sedang memaki orang, akan tetapi nada suara yang meluncur keluar dari mulutnya kedengaran- begitu lunak. halus dan sedap di dengar.

Air muka Hiat-mo-ong seketika itu juga berubah hebat, dia menghentikan gerakan tubuhnya kurang lebih dua tombak dihadapan dara muda baju merah itu, kemudian dengan gusar bentak-nya.

"Bocah perempuan, tahukah kau apa yang akan kulakukan untuk menghukum dirimu ?"

"Hanya mengandalkan kekuatan kau seorang?"

"Haa ha haa " Hiat-mo-ong tertawa terbahak-bahak

"hanya andalkan aku seorang pun sudah lebih dari cukup, masih membutuhkan berapa orang lagi ?"

Berbicara sampat disini dengan pandangan yang tajam dia melirik sekejap kearah Gak In Ling, jelas dalam hati kecilnya dia mengira hanya Gak In Linglah satu-satunya musuh tangguh yang patut dia kuatirkan kelihayannya. Dara muda baju merah itu tertawa manis, kembali dia bertanya.

"Tahukah kau siapa aku ?"

"Aaah, benar " seru Hiat-mo-ong dengan lagak tengiknya. "Sebelum aku menjatuhkan hukuman mati atas dirimu, memang sudah sepantasnya kalau kau melaporkan dahulu siapakah namamu, sebab terhadap gadis cantik-jelita semacam kau untuk selama hidup aku tak akan dapat melupakannya kembali."

Tiba-tiba dari balik sorot mata dara muda baju merah itu terpancarlah serentetan cahaya tajam yang sangat kuat, membuat Gak In Ling menyaksikan kejadian itu jadi amat terkesiap. segera pikirnya didalam hati.

"jangan- jangan tenaga dalam yang dimiliki perempuan ini telah mencapai pada puncak kesempurnaan yang bisa digunakan dan ditarik menurut kehendak hatinya seneiri, tetapi hal ini mana mungkin dapat terjadi ?"

Terdengar suara tertawa dara muda baju merah itu kedengaran semakin manis, sama sekali ia baru berkata kembali.

"Angkatlah kepalamu dan lihatlah keangkasa, mungkin kau segera akan mengetahui siapakah aku "

Mendengar perkataan itu dengan cepat Hiat mo-ong menengadah keangkasa dan terlihatlah olehnya seekor burung hong yang amat besar sedang terbang menggilingi tempat itu,

wajahnya yang semula sombong dan tinggi hati mendadak terlintas rasa ngeri dan ketakutan yang bukan kepalang, dengan suara tertahan ia berseru. "Kau... cay-hong-sian-cu ?"

"Haa haa haa apakah tidak mirip?" tanya dara baju merah itu sambil tertawa bergelak.

Dalam benak Hiat mo-ong pada waktu yang amat singkat inilah segera teringat kembali akan beberapa patah kata yang ditinggalkan seorang iblis perempuan pada delapan puluh tahun berselang, perempuan iblis yang suka membunuh orang tanpa berkedip itu pernah berkata demikian-

"Seratus tahun kemudian, didalam dunia persilatan bakal muncul kembali seorang malaikat elmaut perempuan yang memiliki tenaga dalam yang lebih tinggi daripada diriku sendiri, aku harap kalian semua suka menantikan akan kehadiran orang itu."

Sejak ucapan tersebut tersiar kedalam dunia persilatan, maka orang itupun lenyap dari keramaian dunia. Bila dihitung kembali -sampai sekarang, bukankah tepat sudah hampir seratus tahun lamanya ?

Perlahan-lahan Hiat-mo-ong mundur tiga langkah kebelakang dengan sempoyongan. Serunyad engan perasaan tidak tenang .

"Kau kau datang untuk memenuhi janji yang-pernah tersiar dalam dunia persilatan tempo dulu ?"

Dara muda baju merah itu tertawa.

"Aaah Sungguh tak kusangka engkau masih teringat akan pesan terakhir dari guruku, memandang diatas hal ini aku akan memberikan suatu kematian yang utuh bagimu "

Perkataan tersebut diutarakan masih dengan nada yang merdu nyaring dan mempesonakan hati setiap orang yang mendengar, siapapun tak akan percaya bahwa perkataan itu ibaratnya perintah kematian yaag telah dijatuhkan oleh malaikat elmaut.

Mendengar perkataan itu rasa ngeri dan seram yang semula telah menghiasi wajah

Hiat-mo ong kini kian bertambah tebal, mendadak satu ingatan berkelebat dalam benaknya, dan harapan untuk hidup dikolong langitpun muncul kembali dalam hatinya. Hiat-mo-ong segera tertawa dingin dan berseru.

"Apakah nona mengira aku akan menyerah dan mudah dibunuh dengan demikian saja ?"

Menggunakan kesempatan ketika mengucapkan kata-kata tersebut, secara diam-diam hawa murni yang dimilikinya segera dihimpun kedalam sepasang telapaknya dan siap melancarkan serangan maut bilamana kesempatan baik telah tiba, cay-hong-sian-cu Dewi burung hong indah bukanlah seorang gadis yang bodoh dan bisa disergap orang dengan begitu gampang, menyaksikan tingkah laku dari musuhnya itu dalam hati ia tertawa dingin, namun diluaran wajahnya masih tetap tenang dan senyuman manis yang menggiurkan itupun masih tersungging dibibirnya, ia berkata.

"Aku memang ingin sekali mengunjungi lembah pemutus sukma, nonamu ingin sekali melihat apakah disana... "

Belum habis dewi burung hong indah menyelesaikan kata-katanya, mendadak terdengar Hiat-mo-ong membentak. "Sambutlah seranganku ini"

Bersamaan dengan bergemanya suara bentakan itu, angin pukulan yang maha dahsyat tahu-tahu sudah berada setengah depa diatas dada dewi burung hong indah.

Rupanya Hiat-mo-ong sudah mengambil keputusan untuk melakukan perlawanan yang gigih sebelum ajal menjelang tiba, didalam serangan yang dilancarkan keluar itu ia sudah menggunakan segenap tenaga dalam yang dimilikinya, bisa dibayangkan betapa dahsyatnya pukulan tersebut apalagi jika mengena pada sasarannya,

Angin pukulan menderu- deru bagaikan hembusan angin puyuh, pasir dan debu beterbangan memenuhi angkasa, begitu dahsyatnya membuat Gak In Ling yang berada disisi kalanganpun merasakan hatinya amat terperanjat.

Tiba-tiba satu ingatan aneh berkelebat lewat didalam benak dewi burung hong indah, rasa kaget terlintas diatas wajahnya dan wajahnya menunjukkan perubahan seakan-akan ia tak tahu apa yang harus, dilakukan olehnya pada waktu itu, sepasang biji matanya yang jeli secara diam-diam melirik sekejap kearah Gak In Ling.

Pemuda she Gak itu sama sekali tak menduga kalau gadis muda itu sengaja sedang berpura-pura untuk menilai perasaan hatinya, dia mengira dewi burung hong indah betul-betul sedang terancam oleh mara bahaya, meskipun terhadap gadis cantik ini dia tidak menaruh kesan yang baik, akan tetapi sebagai seorang pria sejati yang memiliki jiwa satria, ia tak ingin membiarkan orang lain terancam oleh bahaya sementara ia sendiri hanya berpeluk tangan belaka, tanpa disadari lagi tubuhnya segera maju satu langkah kedepan siap memberikan pertolongannya.

Tanpa alasan dewi burung hong indah merasakan hati kecilnya agak tergerak. suatu perasaan yang sangat aneh muncul dalam tubuhnya sesudah menyaksikan tingkah dari pemuda tersebut.

Dalam pada itu telapak tangan Hiat-mo-ong adah berada tiga cun diatas dada dewi burung hong indah, angin pukulan yang sangat tajam berhembus lewat menerbangkan batu, pasir dan rerumputan disekeliling tempat itu, tapi aneh sekali ternyata ujung baju yang dikenakan gadis muda baju merah itu sama sekali tidak berkibar barang sedikitpun jua.

Semua perubahan itu terjadi dalam waktu yang amat singkat, mati hidup pun terletak peda detik penentuan yang terakhir itu...

Pada saat itulah mendadak dewi burung hong indah tertawa merdu, serunya. "Engkau masih terpaut sangat jauh... "

Sambil berkata tubuhnya bergerak dengan suatu gerakan yang amat manis dan tahu-tahu ia sudah terlepas dari lingkaran bayangan telapak dari Hiat-mo-ong.

Meskipun Gak In Ling berada disisi kalangan dan bertindak sebagai penonton, akan tetapi kecuali menyaksikan berkelebatnya bayangan merah, ia tidak berhasil menyaksikan sesuatu apapun jua, hal ini membuat hatinya merasa amat terperanjat sekali. pikirnya. "Gerakan tubuh apakah yang telah dipergunakan olehnya ? Kenapa begitu cepatnya ?"

Tenaga dalam yang dimiliki Gak In Ling setingkat lebih tinggi daripada tenaga dalam yang dimiliki Hiat-mo-ong, sebagai seorang penonton yang menyaksikan jalannya pertarungan dari sisi kalanganpun ia tak berhasil melihat jelas gerakan tubuh apakah yang telah dipergunakan oleh dewi burung hong indah, apalagi Hiat-mo-ong sendiri sudah tentu tak usah dikatakan lagi.

Ketika Hiat-mo-ong menyaksikan serangannya sudah hampir mengenai pada sasarannya, dalam hati merasa amat girang, siapa tahu mendadak pandangan matanya menjadi kabur dan tahu2 serangannya telah mengena disasaran yang kosong

"Blaam "

Ditengah ledakan yang amat dahsyat, tanah di mana dewi burung hong indah semula berdiri telah terhantam keras sehingga muncul sebuah liang besar sedalam tiga depa, pasir dan debu beterbangan memenuhi angkasa, bisa dibayangkan betapa dahsyatnya angin pukulan yang dilepaskan itu.

Hiat-mo-ong memiliki pengalaman yang amat luas dalam menghadapi serangan musuh, ketika menyaksikan serangannya tidak mengenai sasaran malahan ia kehilangan jejak musuhnya, dalam hati segera ia menyadari bahwa gelagat titiak menguntungkan bagi dirinya.

Dalam keadaan begini ia tak berani bertindak gegabah lagi, dengan cepat tubuhnya dihentikan lalu miring kesamping, denganjurus "To-ta-kim-clong" atau memukul keras genta emas, dia kirim satu pukulan kearah belakang, serangan tersebut cepat dan sangat diluar dugaan-

Akan tetapi sayang sekali dewi burung hong indah jauh lebih cepat lagi daripadanya, kembali serangan yang dilancarkan Hiat-mo-ong ini mengenai pada sasaran yang kosong, paling mengenaskan lagi ternyata tak mampu melihat jelas gerakan tubuh dari musuhnya dan iapun tak tahu saat ini dewi burung hong indah berada dimana.

Dalam waktu yang amat singkat, Hiat-mo-ong segera menyadari bahwa tenaga dalamnya masih selisih jauh kalau dibandingkan dengan dewi burung hong indah, keringat dingin mengucur keluar tiada hentinya membasahi wajahnya yang pucat pias bagaikan mayat.

Pada saat itulah dari belakang punggung Hiat-mo-ong berkumandang datang suara teguran seseorang dengan suara yang amat merdu.

"Hey, asal ini hari engkau sanggup melihat jelas gerakan badan dari nonamu, maka akan aku ampuni selembar jiwamu..."

Ucapan yang disertai dengan gelak tertawa merdu itu muncul dari belakang tubuhnya, nada suaranya masih tetap tenang seperti biasa, membuat orang tak dapat meresapi apakah pada waktu itu sedang gusar atau tidak.

"Sebenarnya pada waktu itu Hiat-mo-ong sudah putus asa dan mengira jiwanya pasti akan melayang ditangan musuhnya, setelah mendengar perkataan itu, timbul kembali harapan untuk hidup dalam hati kecilnya, diam-diam ia berpikir.

"Meskipun tenaga dalam yang aku miliki masih selisih jauh kalau dibandingkan dengan dirimu, tetapi kalau untuk melihat badanmu saja tak sanggup, aku benar-benar tidak percaya."

Berpikir sampai disini dengan cepat dia putar badannya memandang kearah belakang, siapa tahu yang terlihat hanya tempat kosong, sementara bayangan tubuh gadis tersebut sudah lenyap dari pandangan-

Dengan cepat ia berputar pula kesamping, kebelakang putar-balik, hampir semua gerakan berputar telah dipergunakan olehnya dengan harapan bisa melihat jelas tubuh gadis itu, akan tetapi semua usahanya itu gagal total dan sama sekali tidak ada gunanya.

Kali ini Gak In Ling dapat melihat lebih jelas lagi, tampaklah tubuh dewi burung hong indah berdiri kurang lebih setengah depa dibelakang tubuh Hiat-mo-ong, tubuhnya begitu enteng dan ringan seakan-akan sesuatu benda yang lebih enteng daripada kapas yang diikat bersama dengan tubuh lawannya, kendatipun ia berputar dengan cara apapun juga gadis itu selalu ikut berputar dan seakan-akan sedikit pun tak mengeluarkan tenaga. Tanpa sadar Gak In Ling gelengkan kepalanya berulang kali, pikirnya d idalam hati.

"Ilmu silat yang dimilikinya entah sudah berhasil mencapai tarap yang bagaimana tingginya? Aaaiii..kelihatannya nasib diriku Gak In Lingpun tak akan jauh berbeda dengan Hiat-mo-

ong."

Demi keselamatan jiwanya mau tak mau Hiat-mo-ong harus berputar terus-menerus dengan harapan berhasil melihat tubuh musuhnya, tidak sampai sepertanak nasi kemudian seluruh tubuhnya sudah basah kuyup oleh keringat, tubuhnya terasa lelah sekali, dan napasnya tersengal-sengal.

Tiba-tiba dewi burung hong indah yang berada di belakang tubuhnya tertawa ringan dan berkata.

“Setelah berputar tiga kali lingkaran lagi dan bila engkau masih tetap belum bisa melihat tubuh nonamu, terpaksa engkau harus menyerahkan nyawamu”

Bulu kuduk di sekujur tubuh Hiat mo ong pada bangun berdiri setelah mendengar perkataan itu, dia segera mengerahkan kemampuannya untuk berputar sebanyak dua kali lingkaran, tiba-tiba dia berputar pada arah yang berlawanan, bersamaan dengan perputaran itu sepasang tangannya diayun kebelakang melancarkan sebuah pukulan dengan jurus Lui-tian-ciau-hou atau guntur dan halilintar bersatu padu.

Walau pun rencana ini sangat ganas dan keji akan tetapi saying sekali kepandaiannya masih bukan tandingan orang, bukan saja ia gagal untuk melihat jelas tubuh dewi burung hong indah, bahkan serangan terakhir yang dilancarkan pun sama sekali tidak mengenai pada sasarannya.

Melihat serangannya gagal mengenai sasaran, sadarlah Hiat mo ong bahwa kesempatan terakhir bagi dirinya untuk melanjutkan hidup sudah lewat, sepasang kakinya dengan sekuat tenaga menjejak keatas tanah dan tubuhnya segera melompat kedepan secepat kilat.

Tetapi saying sekali semuanya telah terlambat…baru saja sepasang kakinya meninggalkan permukaan tanah, mendadak ruas ketujuh pada tulang punggungnya jadi kaku dan seluruh tenaga dalam yang dimilikinya punah tak berbekas.

“Blaaaaamm…!” di tengah benturan yang amat keras, tubuhnya sudah terkapar di atas tanah.

Selesai membereskan Hiat-mo-ong, perlahan-lahan dewi burung hong indah berjalan ke hadapan Gak In Ling dan berhenti kurang lebih lima depa di hadapannya, dengan suara dingin ia menegur.

“Gak In Ling, bagaimana pendapatmu tentang ilmu silat yang kau miliki jika dibandingkan dengan kepandaiannya?”

“Eh, darimana kau bisa tahu akan namaku?” seru Gak In Ling dengan perasaan tertegun.

“Tentu saja aku sudah pernah berjumpa dengan dirimu, maka kuketahui namamu, apa sih yang kau herankan?” seru dewi burung hong indah dengan nada dingin.

Selama pembicaraan berlangsung dengan si anak muda itu, nada suaranya selalu dingin dan menyeramkan.

Gak In Ling berpikir sebentar, lalu berkata:

“Aku belum pernah berjumpa dengan dirimu!”

“Hmm..pada waktu itu kau sedang mengalami mara bahaya, untuk menyelamatkan jiwa sendiri pun tidak mampu, sekali pun nonamu berdiri disamping tubuhmu belum tentu kau dapat melihat aku, apalagi…”

Tiba-tiba satu ingatan berkelebat dalam benak Gak In Ling, dengan cepat ia berseru.

“Oooh..jadi kau adalah si burung hong dari luar lautan?”

“Hmmm…engkau memang cerdik.”

Sekarang Gak In Ling baru teringat akan beberapa patah kata dari Lan In Lojin, pada saat itu ia tak dapat mempercayainya kalau beberapa orang gadis mampu mengacaukan dunia persilatan sehingga terjadi badai besar di seluruh kolong langit, meskipun ia pernah bertemu dengan Thian-hong pangcu juga pernah bertemu dengan gadis suci dari Nirwana, dan mengetahui pula kalau ilmu silat yang dimiliki perempuan-perempuan itu sanggup digunakan untuk mengacaukan seluruh dunia persilatan, tetapi mereka semua mempunyai hati untuk menolong sesame manusia serta mencegah terjadinya kejahatan dalam dunia persilatan, tak mungkin gadis-gadis tersebut dapat melakukan perbuatan semacam itu, tapi sekarang setelah berjumpa dengan dewi burung hong indah yaitu dara muda baju merah itu, ia baru percaya kemungkinan terjadi badai dalam dunia persilatan amat besar sekali.

Perlahan-lahan Gak In Ling menengadah ke atas, ditatapnya wajah dewi burung hong indah dengan bersungguh hati, lalu ujarnya.

“Ilmu silat yang nona miliki sangat tinggi dan luar biasa sekali, di kolong langit sukar sekali untuk mencari tandingan dan dengan andalkan kemampuan yang nona miliki boleh dibilang seluruh jagad yang demikian luasnya ini sudah menjadi milik nona serta berada dibawah kekuasaan nona, tapi kenapa sih kau harus berkunjung ke daratan Tionggoan untuk mencari perbagai persoalan yang akan merepotkan nona sendiri?”

Di balik sepasang biji mata dewi burung hong indah yang jeli terlintas perasaan girang yang luar biasa, tapi perasaan tersebut sukar ditemukan oleh orang lain.

Terdengar ia tertawa dingin dan berseru.

“Huh! Apa sih yang kau ketahui?”

“Mungkin aku sama sekali tidak mengetahui tentang persoalan apapun, akan tetapi beberapa patah kataku ini kuucapkan dari hati sanubariku yang jujur.”

“kau amat jujur dan polos, saying sekali pengetahuan serta pengalamanmu masih terlalu sedikit, sehingga terhadap berita yang tersiar dalam dunia persilatanpun sama sekali tak tahu” ujar dewi burung hong indah sambil tertawa.

Inilah tertawa yang pertama kalinya diperlihatkan gadis itu terhadap Gak In Ling, seandainya pada saat ini Gak In Ling dapat berbicara dengan perasaan hati yang tenang dan tanpa dipengaruhi oleh emosi, maka ia akan melihat bahwa senyuman yang ditujukan kepadanya jauh berbeda sekali dengan senyuman yang ditujukan kepada Hiat-mo-ong tadi, hanya saying sekali Gak In Ling sama sekali tidak memperhatikan akan hal itu.

Terdengar si anak muda itu menghela napas dengan nada berat.

“Aaai..jadi kedatangan nona adalah untuk mewujudkan berita yang tersiar didalam dunia persilatan itu?”

“Sedikitpun tidak salah!”

“Lalu apa yang hendak nona lakukan?”

“Aku akan menunggu seseorang sehingga ia pun tiba di daratan Tionggoan, setelah itu nonamu baru akan turun tangan,” jawab dewi burung hong indah dengan wajah menyeramkan.

Gak In Ling amat terperanjat, serunya tanpa sadar.

“Menunggu seseorang? Siapa?”

“Hm, buat apa sih kau bertanya begitu banyak?” tegur sang dara dengan nada dingin.

Setelah berhenti sebentar ia melanjutkan.

“Dia dating dari wilayah Tibet dan selama berada di daratan Tionggoan markas besarnya berada di lembah pemutus sukma.”

Lembah pemutus sukma, begitu nama tersebut melintas dalam benaknya dengan cepat pula Gak In Ling dapat menduga manusia macam apakah orang yang dimaksudkan itu dan lebih menakutkan lagi ternyata dia datang bersama-sama dewi burung hong indah.

Pelbagai persoalan yang merisaukan hatinya seketika menyumbat seluruh benak Gak In Ling dia tak tahu apa sebabnya hatinya begitu menguatirkan bagi keselamatan dunia persilatan, dia hanya merasa munculnya satu tenaga dorongan yang membuat dia harus menyediakan tenaganya untuk berbakti bagi umat persilatan.

Kembali Gak In Ling menghela napas panjang, lalu berkata lagi.

“Nona, apakah kau pernah mendengar pepatah yang mengatakan di luar langit masih ada langit?”

“Di atas manusia masih ada manusia bukan?” sambung dewi burung hong indah dengan cepat, sesudah berhenti sebentar dengan nada dingin dan sinis ia menambahkan.

“Lalu siapakah yang kau maksudkan sebagai manusia di atas manusia, masih ada manusia itu?” Kau…Gak In Ling?”

Sepasang alis mata Gak In Ling kontan berkernyit sesudah mendengar perkataan itu, akan tetapi ia masih tetap menyabarkan diri dan berkata dengan suara hambar.

“Tentu saja yang itu bukanlah diriku, cuma…”

“Gak In Ling, apakah kau menganggap bahwa dirimu pantas untuk member nasehat kepadaku?” tukas dewi burung hong indah dengan nada ketus.

“Bukan aku yang sedang member nasehat kepadamu, tetapi kebenaran serta keadilan bagi seluruh dunia persilatanlah yang sedang memperingatkan dirimu.”

“Siapa yang mengatakan ucapan seperti itu?” seru dewi burung hong indah sambil tertawa dingin, sepasang alis matanya berkernyit.