Telapak Setan Jilid 06 : Membebaskan Buddha Antik asli dari kurungan

Jilid 06 : Membebaskan Buddha Antik asli dari kurungan

MENGHINDARKAN diri, balas menyerang semua dilakukan pada saat yang bersamaan dan menggunakan kecepatan yang luar biasa sekali, bukan saja angin pukulan terasa menderu- deru bahkan amat menyilaukan mata, hal ini membuktikan bahwa tenaga dalam yang dimiliki orang ini sama sekali tidak berada dibawah Gak In Ling.

Si anak muda itu sendiri juga tak menyangka kalau tenaga dalam serta gerakan jurus yang dimiliki orang itu telah mencapai puncak kesempurnaan, karena bertindak gegabah dengan cepat ia terjerumus dalam posisi yang terdesak hebat.

Setelah berhasil merebut kedudukan diatas angin, semangat tempur Kongsun To berlipat ganda, jurus demi jurus dilancarkan tiada hentinya membuat orang lain tak mampu melancarkan serangan balasan-

Diatas kening Leng In poocu mulai dibasahi eleh keringat dingin, ia bukan menguatirkan keselamatan dari Gak In Ling, sebaliknya menguatirkan kekalahan sianak muda ini bisa mengakibatkan dirinya akan terkurung untuk selamanya ditempat itu atau bahkan menemui ajalnya ditangan Kongsun To.

Dalam waktu singkat, kedua orang itu sudah bertempur sebanyak puluhan jurus, dengan dilangsungkannya pertarungan ini maka peredaran darah dalam tubuh pemuda itu beredar semakin kencang, itu berarti kadar racun yang mengeram dalam tubuhnya ikut menyebar semakin cepat, ketika secara tiba-tiba pemuda itu merasakan perubahan didalam tubuhnya, ia merasa amat terperanjat, pikirnya.

"Kalau pertarungan ini dilangsungkan lebih jauh, mungkin aku benar- benar akan menderita kekalahan-"

Berpikir sampai disitu, ia segera membentak keras. "Tunggu sebentar " Sambil berseru dia loncat keluar dari gelanggang.

Kongsun To mengira Gak In Ling sudah menyadari bahwa dia bukan tandingannya dan minta berhenti, sebagai orang yang berakal licik dan pada dasarnya memang tiada bermaksud menghabisi nyawa Gak In Ling, dengan cepat ia tarik kembali serangannya dan loncat mundur sejauh tiga depa dari tempat semula, serunya dengan wajah mengejek. "Engkau jeri ?" Gak In Ling tertawa dingin-

"Karena aku merasa tak mampu membinasakan dirimu, maka aku suruh engkau berhenti bertempur "

Kong sun To berdiri tertegun setelah mendengar perkataan itu, ujarnya dengan bimbang.

"Perkataanmu itu kau ucapkan untuk siapa?" Jelas ia merasa tak mengerti dengan ucapan lawannya, sebab ditinjau dari situasi pertarungan yang dihadapinya, Gak In Ling terdesak dibawah angin-

"Tentu saja kuucapkan bagimu " sahut sang pemuda.

"Haahaa sekarang aku sudah paham, engkau tentu merasa takut menderita kekalahan ditanganku sehingga malu bertemu dengan orang- lain ?"

"Hmm, pikiran seperti itu masih terlalu pagi untuk diungkapkan-" sambil berkata sianak muda itu segera ayunkan telapak tangannya yang berwarna merah dan berseru sambil tertawa dingin. "coba engkau lihatlah ini"

Kongsun To menengadah ke atas, setelah mengetahui apa yang terlihat dengan ketakutan ia mundur selangkah ke belakang, airmukanya berubah hebat, lama sekali baru pulih kembali dalam ketenangan-

"Gak In Ling" katanya kemudian dengan suara menyeramkan- "Bila kita sampai berjumpa lagi dikemudian hari, mungkin akan kugunakan segenap kemampuan yang kumiliki untuk merebut kemenangan dari tanganmu "

"Hmm " Gak In Ling mendengus dingin. "Bila kita berjumpa lagi dikemudian hari, mungkin engkau tak akan punya waktu untuk menggunakan benda-benda racunmu itu." habis berkata ia segera berjalan menghampiri Leng In poocu, sementara Kongsun To sendiri tercekam dalam kebimbangan dan kebingungan-

Dua kali dentingan nyaring menggema diang kasadan dua batang rantai bajapun putus jadi dua bagian, Leng In poocu serta seorang kakek berjubah padri berambut panjang dan bermuka penuh tato segera bebas dari belenggu, diantara ketiga orang itu hanya kakek bercodet saja yang belum menyanggupi untuk menerima syarat apapun dari Gak in Ling.

Rambut yang panjang hampir menutupi wajah mereka, kecuali perbedaan pakaian yang dikenakan, hampir boleh dibilang tiada perbedaan lain yang terdapat diantara orang-orang itu.

Dengan pandangan yang tajam Leng In poocu menatap tajam wajah Gak In Liig kemudian berkata.

"Gak-heng, sekarang engkau boleh ajukan syarat yang kau kehendaki."

Gak In Ling memandang sekejap kearahnya dengan pandangan hambar, lalu menggeleng. "Aku tidak mempunyai permintaan apa-apa terhadap dirimu "

sahutnya dengan tenang. "Apakah engkau tidak merasa terlalu rugi?"

Sekali lagi Gak In Ling menggeleng setelah menyapu sekejap sekeliling ruangan itu. "Aku sama sekali tidak mempunyai jalan pikiran seperti itu." setelah berhenti sebentar, tiba-tiba tegurnya dengan suara dingin. "Buddha Antik berada dimana ?"

"Akulah Buddha Antik "jawab kakek berjubah padri dan wajah penuh codet itu sambil maju selangkah kedepan.

Mendengar jawaban itu Gak In Ling melengak, ditinjau dari sudut manapun juga ia tidak berhasil menemukan suatu persamaan apapun antara Buddha Antik yang berada dihadapannya saat ini dengan Budha Antik yang pernah dijumpainya belum lama berselang. Ia jadi sangsi dan tanyanya dengan ragu. ^

"Sebenarnya dalam dunia persilatan semua terdapat berapa orang Buddha Antik ?"

"Buddha Antik hanya aku seorang "jawab padri bermuka codet sambil menghela napas.

"Tidak. aku pernah berjumpa dengan Buddha Antik kedua," sahut Gak In Ling sambil gelengkan kepalanya, "bersediakah taysu memperlihatkan telapak tanganmu kepada aku ?"

Tiba-tiba satu ingatan berkelebat dalam benakpadri bercodot itu, pikirnya didalam hati.

"oraag yang dia temui mungkinkah dirinya." Ingatan tersebut hanya sebentar saja berkelebat dalam benaknya, ia segera maju kedepan dan secara sukarela memperlihatkan lengan kanannya kepada sia nak muda itu.

"Mungkin siau-sicu pernah menyaksikan raut wajahku pada masa yang lampau..." tanyanya dengan suara berat.

Gak In Ling menyapu sekejap lengan kanan Buddha Antik, kemudian dengan hati kecewa menggeleng

"Terima kasih taysu." katanya.

Buddha Antik tarik kembali lengan kanannya dan berkata lagi dengan suara berat.

"Raut wajahku sudah hampir lima belas tahun lamanya dirusak orang, mungkin selama lima belas tahun belakangan ini raut wajahku yang lampau telah melakukan banyak kejahatan dan perbuatan terkutuk... aaaaiii... "

Gak In Ling tidak menggubris padri bermuka codet lagi, dengan hati. kecewa ia berjalan kehadapan Kongsun To dan berkata. "Berikan obat pemunah bagianku itu "

Dengan gerakan yang cepat dan cekatan Nabi racun Kongsun To mengambil keluar sebutir pil berwarna hitam diantara botol-botol obatnya, siapapun tak sempat dari botol manakah dia mengambil obat tersebut, dari sini dapat dinilai betapa licik dan berhati- hatinya orang ini.

Tanpa ragu-ragu ataupun berpikir panjang Gak In Ling menelan obat itu kedalam perut.

Melihat sikap sang pemuda yang begitu gegabah, Kongsun To dengan wajah tercengang segera menegur.

"Apakah engkau tak takut aku main gila dengan dirimu ?" "sekalipun aku takut juga tak ada gunanya."

"Haa haa , perkataanmu memang benar, dan engkau memang pemuda yang amat

cerdik." seru Kongsun To sambil tertawa.

Pada saat itulah tiba tiba dari sisi kanan berkumandang datang suara langkah manusia yang lirih, baru saja Gak In Ling hendak berpaling, tiba-tiba Kongsun To berteriak keras.

"Roboh kalian semua, bangsat"

Tidak terlihat bagaimanakah ia menggerakkan tubuhnya, dari balik ruangan berkumandang dua kali dengusan berat.

Menanti Gak In Ling putar badan, maka terlihatlah dalam ruangan itu sudah bertambah dengan dua sosok mayat, disisinya tampak nasi dan sayur berserakan diatas tanah, rupanya kedua orang itu adalah petugas pengantar makanan dari lembah itu. Leng In poocu tertawa dingin.

"Kongsun-heng, cepat amat gerakan tubuhmu." ejeknya.

"IHee hee... terima kasih, terima kasih, sayang aku telah menumpahkan santapan enak kalian berdua." seru Kongsun To pula sambil tertawa dingin.

Gak In Ling segan mendengarkan cekcok dan ribut diantara manusia-manusia aneh itu, setelah menyapu sekejap kearah dua sosok mayat yang terkapar dilantai tanah, satu ingatan berkelebat dalam benaknya, kepada Nabi racun itu segera serunya. "Bagaimana dengan syarat-syarat yang

lain-"

"Hm jangan terburu napsu, aku tokh belum lolos dari kurungan," sambung kakek licik itu dengan cepat.

"Hm Engkau jangan lupa, bahwa pada saat ini engkau masih berada didaratan Tionggoan." setelah berhenti sejenak. dengan nada memerintah serunya kembali.

"Sekarang engkau harus memunahkan lebih dahulu racun yang mengeram dalam tubuh kedua orang gadis itu."

"Gak-heng" seru Leng In poocu sambil tertawa. "aku lihat engkau sangat menguatirkan sekali keselamatan mereka, hubungan persahabatan semacam ini sungguh jarang kutemui dikolong

langit."

Walaupun Gak In Ling dapat menangkap maksud dari ucapan Leng In poocu namun ia tidak membantah ataupun mengakui, hanya ujarnya sambil tertawa hambar.

"Setiap umat persilatan di kolong langit wajib menguatirkan keselamatan mereka, demikian pula dengan diriku."

Dari salah seorang korbannya yang terkapar mati diatas tanah, Kongsun To melepaskan jubah panjang yang dikenakan dan segera dipakai di badan, setelah itu ujarnya.

"Baiklah, mari sekarang juga kita berlalu dari sini " tanpa menanti yang lain lagi ia berjalan lebih dahulu menuju keluar.

Leng In poocu segera menyusul dibelakangnya, sedangkan Buddha Antik berada dipaling belakang.

Setelah berjalan beberapa langkah dan tidak melihat Gak In Ling mengikuti di belakang mereka, Buddha Antik segera menghentikan langkahnya dan berpaling. "Sicu, engkau tidak ikut keluar ?" tegurnya

"Tidak- aku ingin berhenti sebentar lagi di sini." sahut sang pemuda setelah melirik sekejap kearah gua bagian dalam.

Buddha Antik gelengkan kepalanya dan menarik napas panjang.

"Lembah Toan-hun-kok adalah sarang naga gua harimau, dengan tenaga gabungan Kongsun To, Leng In poocu serta aku, akhirnya kami masih tertawan juga oleh mereka, apalagi sicu hanya seorang diri. Siau-sicu, aku harap engkau suka bertindak hati-hati dan jangan menempuh bahaya dengan percuma."

Dengan penuh rasa terima kasih Gak In Ling tertawa jawabnya.

"Terima kasih atas perhatian dari taysu, harap taysu suka menasehati kedua orang nona itu cepat-cepat tinggalkan tempat ini, ingatkan mereka bahwa kepentingan umat persilatan jauh lebih penting dari urusan ditempat ini "

"Kalau engkau tidak pergi, masa mereka bersedia pergi dari sini?"

Gak In Ling tartawa tawa "Mungkin mereka berharap. agar aku bisa cepat-cepat mati."

"Aaaah Masa begitu ?" Gak In Ling tidak mengomentari ucapan itu lagi, ia putar badan dan menambahkan-

"Setelah bertemu dengan mereka, taysu akam mengerti dengan sendirinya, sekarang pikiranku sedang kalut dan kacau tak karuan, harap taysu segera tinggalkan tempat ini"

Buddha Antik mengiakan dengan nada berat, ia dapat ikut merasakan bahwa pemuda pemurung ini seolah-olah mempunyai rahasia hati yang tak dapat diberitahukan kepada orang lain akhirnya ia hanya bisa berpesan dengan nada berat.

"Siau-sicu, sebelum melakukan sesuatu tindakan terlebih dahulu pikirlah tiga kali." kemudian tanpa banyak bicara lagi diapun keluar dari ruangan itu.

Baru saja Buddha Antik menarik napas kebebasan, tiba-tiba bayangan manusia berkelebat di hadapan matanya dan serentetan suara yang merdu telah menyusup masuk kedalam telinganya. "Dimanakah Gak In Ling ?"

Suaranya begitu cemas, gelisah dan tidak tenang, dia bukan lain adalah Thian-hong pangcu.

Melihat dara cantik yang berada di hadapannya, Buddha Antik segera membathin dalam hatinya.

"omitohud Gadis ini benar-benar mempunyai kecantikan yang luar biasa sekali " Ia segera balik bertanya. "Kalian sudah menelan obat pemunah?" thian- hong pangcu mengangguk. "Sudah, dimana Gak In Ling ?" tanyanya gelisah. "Masih berada dalam ruangan "

"Kenapa tidak keluar ? Apa yang sedang dilakukan didalam sana ?" tanya perempuan berkerudung merah dengan cepat.

Melihat sikap serta tingkah laku dua orang gadis itu, Buddha Antik kembali berpikir didalam

hati.

"Jika kutinjau dari sikap mereka yang gelisah dan tidak tenang, sedikitpun tidak nampak kalau mereka mengharapkan pemuda itu cepat mati, tapi apa sebabnya pemuda itu berkata demikian?" berpikir sampai disitu segera ujarnya.

"Tempat ini tidak dapat didiami terlalu lama dia suruh aku menyampaikan kepada kalian berdua, katanya demi masa depan dan kesejahteraan umat persilatan lebih baik kalian berdua segera tinggalkan tempat ini"

Ucapan tersebut dengan cepat menimbulkan firasat jelek dalam hati kedua orang gadis itu, dengan perasaan tidak senang thian- hong pangcu segera bertanya.

"Tapi ia tidak akan menerjang masuk kelambung lembah Toan-hun-kok seorang diri, bukan?"

"Aaaiii semoga saja ia dapat merubah rencananya semula." sahut Buddha Antik sambil menghela napas panjang.

Mendengar jawaban tersebut, kedua orang gadis tersebut berseru tertahan, tiba-tiba Thian-hong pangcu berseru sambil menahan isak tangis.

"oh, Gak In Ling, Gak In Ling kau... kau tidak seharusnya pergi menempuh bahaya, kami

belum pernah kami membenci dirimu " sambil berseru ia segera menerjang masuk kedalam

ruangan, diikuti gadis berkerudung merah itu pun menyusul dari belakangnya.

Jeritan yang melengking dan menyayatkan hati itu segera menyayatkan hati Buddha Antik. Nabi racun Kongsun To serta Leng In poocu, dengan cepat mereka memburu kembali kedalam ruangan-

Ketika ketiga orang itu masuk kembali kedalam ruang batu yang mengurung mereka selama hampir lima belas tahun lamanya itu, yang ditemui hanyalah dua orang gadis yang berdiri menjublek dalam ruangan, mata mereka terbelalak dan sukma serasa telah melayang tinggalkan raganya.

Kedua orang itu bukan lain adalah gadis berkerudung merah serta Thian-hong pangcu, dari sikap mereka jelas terlihat bahwa kedua orang itu merasa sedih sekali.

Dengan pandangan yang tajam Leng Inpoo cu menyapu sekejap sekeliling tempat itu, ketika sorot matanya membentur pada pintu batu disebelah dalam ia segera berseru.

"Gak In Ling seorang diri telah menerobos masuk lembah Toan-hun-kok dan kini sudah berada dilambung bukit, tak ada gunanya kita berdiam terlalu lama ditempat ini "

"Benar "jawab Kongsun To sambil mendengus. "Terlalu lama berada disini, kemungkinan besar kita akan terkurung selama lima belas tahun lagi di dalam gua yang gelap ini."

Selamanya dia tidak akur dengan Leng In poocu, maka dalam pembicaraannya kata-katanya selalu mengandung nada sindiran yang tajam.

Leng In poocu bukan manusia sembarangan tentu saja ia tak sudi menerima kata-kata tersebut dengan begitu saja, serunya.

"Kong-heng, apakah engkau tidak merasa bahwa nyalimupun kecil sekali Tetapi tiap orang mempunyai pandangan yaag berbeda, aku tak berani menahan dirimu terlalu lama, jika Kongsun-heng ingin berlalu dari sini, nah silahkan"

Nabi racun Kongsun To jadi naik pitam, sorot matanya berubah jadi merah berapi, katanya kembali dengan dingin.

"Leng heng, engkau jangan melulu menuduh orang lain saja yang bernyali kecil, kalau mulut sudah terlanjur busuk. macam dirimu itulah keadaannya."

Buddha Antik yang berada disamping lapangan segera menyadari bahwa percekcokan itu bila dilanjutkan maka suatu pertarungan sengit tidak bisa dihindarkan lagi, mengingat diri mereka masih berada dalam sarang naga gua harimau, bila pertarungan benar-benar telah terjadi, itu berarti sama halnya dengan menggali Ling kabur buat diri sendiri. oleh sebab itu buru-buru ia menasehati.

"Kalaupun kalian berdua mempunyai pendapat yang saling berbeda, aku percaya bahwa pendapat itu tak akan lebih memalukan daripada peristiwa terkurungnya kita ditempat ini sejak lima belas tahun berselang, entah bagaimanakah pendapat kalian atas ucapanku itu ?"

Baik Kongsun To maupun Leng In poocu sama-sama merasakan hatinya terperanjat setelah mendengar perkataan itu, mereka saling bertukar pandangan sekejap lalu menjawab. "Perkataan taysu tepat sekali "

Buddha Antik tersenyum, sambil berpaling kearah Thian-hong pangcu ujarnya dengan suara berat.

"Pangcu, menurut pendapatku lebih baik kita tinggalkan saja tempat ini "

"Dari jalan yang manakah Gak In Ling masuk kedalam lambung lembah Toan-hun-kok ?" bukannya menjawab Thian-hong pangcu malah balik bertanya, suaranya penuh kepedihan dan entah sedari kapan airmata telah membasahi pipinya.

Satu ingatan berkelebat dalam benak Budha Antik, dengan wajah serius segera ujarnya.

"Gak sicu berulang kali menyatakan kepadaku, bahwa pangcu adalah seorang pemimpin umat persilatan didaratan Tionggoan, ia menganjurkan agar pangcu sagera tinggalkan tempat ini, perhatian yang dia berikan terhadap diri pangcu tidak berada dibawah perhatian pangcu atas dirinya, jikalau pangcu bersikeras untuk memasuki lambung lembah, bukankah itu berarti bahwa engkau menyia-nykkan maksud baik Gak sicu ?"

Senyum getir terlintas diatas wajah Thian-hong pangcu, sambil gelengkan, kepala ia menjawab.

"Ia bukan menguatirkan diriku, bukan menaruh perhatian kepadaku, tapi umat persilatan yang ada dikolong langit... "

"Hm tak kusangka bocah keparat itu masih mempunyai parasaan suci seperti itu " pikir Kongsun To didalam hati. Sebaliknya Leng In poocu berpikir lain-

"Hm, rupanya bocah she Gak itu adalah seorang pendekar yang berjiwa besar.. "

cuma pikiran semacam itu hanya sebentar saja berkelebat dalam benak mereka untuk kemudian lenyap tak berbekas, sebab mereka masing-masing mempunyai cara berpikir sendiri-sendiri.

"Apakah pangcu bersikeras akan memasuki lembah ini ?" tanya Buddha Antik kembali. "sedikitpun tidak salah, dimanakah pintunya ?"

"Aku sendiripun tak tahu ia lewat pintu yang mana" jawab padri bermuka codet itu sambil menggeleng, sambil menuding kearah dua sosok mayat yang menggeletak diatas tanah, dia melanjutkan-

"Mungkin sewaktu kedua orang ini masuk kedalam ruangan tadi, pintu masuknya telah terlihat olehnya."

"Kalau ada pintu, kita pasti akan berhasil untuk menemukannya." sela perempuan berkerudung merah secara tiba-tiba. "Silahkan kalian bertiga segera tinggalkan tempat ini "

Selesai berkata ia segera maju kedepan dan rupanya sedang mencari letak pintu masuk rahasia

itu.

"Li sicu berdua, bagaimanakah pendapat kalian tentang tenaga dalam yang kumiliki ?" tanya Buddha Antik secara tiba-tiba.

Thian-hong pangcu tertegun mendengar pertanyaan itu, setelah sangsi sejenak jawabnya. "Boleh dibilang jago paling lihay dalam dunia persilatan " Bhuddha Antik mengangguk. ujarnya kembali.

"Tetapi dengan tenaga gabungan kami bertiga, akhirnya tokh kami terkurung juga selama lima belas tahun dalam gua ini. Ilmusilat yang dimiliki majikan tempat ini luar biasa sekali dan tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata, oleh karena itu menurut dugaanku seandainya majikan tempat ini tidak berhasrat membunuh Gak In Ling keadaan mungkin mendingan, kalau ia bermaksud membinasakan dirinya, mungkin pada saat ini Gak sicu telah mendingin."

Meskipun tujuan dari ucapan itu hanya menakut-nakuti dua orang gadis tersebut, namun dalam kenyataan begitulah adanya.

Tapi sayang, bukan saja ucapan itu tidak mendatangkan hasil apapun, sebaliknya malah makin mempertebal niat kedua orang gadis itu untuk menemukan Gak In Ling.

"sekalipun dia sudah mati, kami harus menemukan jenazahnya." ujar Thian-hong pangcu

Selesai berkata ia berjalan menuju kearah yang berlawanan dari perempuan berkerudung merah itu, dan diatas dinding batu ia berusaha menemukan pintu rahasia tersebut.

Buddha Antik yang berusaha dengan sekuat tenaga untuk menghalangi niat kedua orang gadis tersebut masuk kedaiam lembah Toan-hun-kokpun mengalami kegagalan totai, setelah berdiri tertegun beberapa saat lamanya akhirnya ia cuma bisa menghela napas sambil gelengkan kepalanya berulang kali.

Leng In poocu memandang sekejap kearah dua orang gadis itu tiba-tiba ia berkata.

"Jikalau kailan mencari dengan cara begitu maka sampai hari geiappun belum tentu jalan masuk itu berhasil ditemukan, menurut pendapat ku lebih baik kailan masuk lewat mulut gua yang pernah kita lalui lima belas tahun yang lampau, sebab kemungkinan berhasiljauh lebih besar."

Dalam pada itu Thian-hong pangcu berdua memang sedang putus asa karena tidak berhasil menemukan suatu tanda yang menunjukkan disana ada pintu rahasia, mendengar ucapan tersebut mereka segera hentikan pekerjaannya dan bertanya. "Berapa jauh letaknya dari tempat

ini ?"

"Kita harus melewati bukit ini lebih dahulu, menurut perhitungan dari kekuatan langkah kita mungkin tidak sampai setengah jam kita bisa mencapai tempat itu." Buddha Antik yang ikut mendengar perkataan itujadi tertegun, pikirnya.

"Pada lima belas tahun yang lalu terang-terangan kami masuk lewat dari tempat ini, masa dibelakang gunung sanapun ada tempat masuk ?" Sebaliknya Kongsun To sambil tertawa dingin pikirnya.

"Aku orang she Kongsun tak pernah berpikir bahwa siasat mengelabui langit menyebrangi sungai ini bisa digunakan untuk menghadapi dua orang gadis cilik ini, dia memang licik"

Pada waktu itu Thian-hong pangcu berdua sedang bingung dan pikirannya kalut, mereka tak berpikir lebih jauh, setelah gagal menemukan jalan masuk maka harapannyapun digantungkan pada petunjuk dari Leng in poocu.

"Kalau begitu mari kita berangkat" serunya kemudian. Leng In poocu tertawa.

"Menolong orang bagaikan menolong api, mari kita berangkat sekarang juga " habis berkata ia berjalan lebih dahulu tinggalkan ruangan ini disusul dua orang gadis itu dan paling depan adalah Kengsun To.

Sedangkan Buddha Antik sendiri setelah berpikir sebentar tiba-tiba ia menyadari akan sesuatu, sambil mengangguk ia menghela napas panjang.

"Omitohud Mungkin perbuatan itu merupakan tindakan bajik pertama yang pernah dilakukan

Leng sicu selama hidupnya " iapun melangkah keluar dari ruangan itu dan menyusul rekan-rekan

lainnya.

OodwoO

Sekarang marilah kita kembali kepada Gak In ling, setelah Buddha Antik tinggalkan ruangan tersebut, ia segera masuk kelorong batu.

Gak In Ling adalah seorang pemuda cerdas. la bukannya tidak tahu kalau lembah Toan-hun kok sarang naga gua harimau, bila ia masuk kedalam seorang diri maka itu berarti menghantar kematian bagi diri sendiri.

Tetapi Buddha Antik adalah satu-satunya titik terang yang berhasil ia temukan sejak munculnya dalam dunia persilatan, lagipula dalam kehidupan yang terbatas, ia tak mau melepaskan titik terang yang berhasil diperolehnya itu dengan begitu saja, sebab untuk mencari titik terang ke dua bukanlah suatu pekerjaan yang gampang.

Maka tanpa berpikir panjang lalu dia mengambil keputusan untuk memasuki lembah Toan-hun kok yang merupakan sarang naga gua harimau itu untuk menemukan Buddha Antik, titik terang yang berhasil ia temukan untuk memecahkan rahasia yang memusingkan kepalanya itu.

Ketika Gak in Ling baru saja melangkah masuk kedalam lorong batu itu sejauh empat lima depa, tiba-tiba dari arah belakang berkumandang suara ledakan yang amat keras bagaikan ambruknya bukit karang.

Tanpa sadar Gak In Ling menghentikan langkahnya, dalam waktu singkat itulah sebuah pintu besar yang terbuat dari batu cadas telah menyumbat jalan mundur pada lorong rahasia itu.

Menyaksikan kesemuanya itu, Gak In Ling tertawa dingin.

"Sekalipun kalian menyumbat semuanya jalan mundurku juga tak apa, sebab sebelum lembah Toan-hun-kok berhasil kumusnahkan tak nanti aku orang she Gak tinggalkan tempat ini.

Dengan wajah yang teguh dan serius, ia me lanjutkan perjalanannya masuk kedalam gua.

Baru saja pemuda itu maju beberapa langkah kedepan, tiba-tiba disisi telinganya berkumandang datang suara teguran seseorang yang terasa amat dikenal olehnya.

"Gak In Ling, sudahkah engkau pertimbangkan akibat serta resiko yang bakal kau terima ?"

Tertegun hati Gak In Ling mendengar ucapan itu, pikirnya.

"Suara orang itu amat kukenal, seakan-akan aku pernah mendengarnya disuatu tempat tapi siapakah dia ?"

Untuk beberapa lamanya ia tak dapat menduga siapakah orang itu.

Dengan penuh perhatian Gak In Ling mengamat-amati asal suara yang muncul secara tiba-tiba itu, ia menemukan dinding lorong itu licin dan rata sekali, disana sini terdapat lubang-lubang kecil seperti sarang lebah, jelas suara tersebut berasal dari pancaran lewat lubang-lubang kecil tersebut.

"Suaramu amat kukenal," seru Gak In Ling kemudian, "aku ingin tahu engkau sahabatku atau musuhku ?"

"DidaLam dunia yang kejam dan brutal ini siapa yang kuat akan menindas yang lemah, tiada kawan atau lawan dalam keadaan seperti ini, lebih baik engkau tak usah berpikir yang bukan-bukan." jawab orang itu ketus. Gak In Ling kembali tertawa dingin-

"Hee... hee itu tokh menurut pandanganmu, sayang pendapatku berbeda sekali, bagiku

dikolong langit ini kalau bukan sahabat dia tentulah lawan"

"Haa haa baiklah, kalau engkau bersikeras dengan pandanganmu itu, biarlah aku turuti

kemauan mu itu, kemungkinan besar aku adalah musuhmu"

Habis berkata orang itu menghela napas panjang, suaranya lama sekali mengalun dalam ruangan tersebut.

Dari pembicaraan orang itu, Gak In Ling tahu bahwa banyak bicara tak ada gunanya, maka sambil tertawa seram serunya kembali.

"Dimanakah aku bisa bertemu dengan dirimu sehingga kita bisa langsungkan pertarungan yang menentukan mati hidup kita berdua ?"

"DidaLam lima li kabut dan awan, aku akan bertemu dengan dirimu "jawab orang itu hambar. Setelah berhenti sebentar ujarnya kembali.

"Sewaktu engkau melewati altar pesan terakhir, aku harap engkau bisa tinggalkan beberapa pesan terakhir ditempat itu, walaupun belum tentu bisa kulakukan pesan terakhirmu itu, tetapi di dalam lingkaran yang memungkinkan aku pasti akan berusaha untuk memenuhi keinginanmu itu" selesai berkata ia menghela napas lagi dengan suara berat, suara itu kian lama kian lirih dan akhirnya lenyap dari pendengaran-

Tercekat hati Gak In Ling mendengar perkataan itu, dari ucapan orang tadi ia tahu bahwa orang tersebut sama sekali tidak bermaksud menakut-nakuti dirinya, itu berarti perjalanannya lebih banyak bahaya daripada rejeki.

Dari balik mata Gak In Ling tiba-tiba memancar keluar cahaya yang menggidikan hati, pikirnya dengan gemas.

"Hmm Sekalipan aku orang she Gak ada pesan terakhir, juga tak akan kuutarakan sehingga kalian manusia-manusia laknat mengetahuinya."

Dengan dada yang dibusungkan dan langkah yang tegap. ia lanjutkan perjalanan menuju kedalam

Lorong batu yang gelap dan lembab penuh mengandung suasana yang mengerikan, untung perasaan danpikiran Gak In Ling pada saat ini sedang dibakar oleh kemarahan, dia hanya tahu membalas dendam dan tidak memperdulikan hal lainnya lagi, kalau tidak. kendatipun nyalinya besar, sedikit banyak bulu kuduknya akan bangun berdiri.

Lorong batu yang sempit seakan-akan tiada akhirnya, dengan kedepan tubuh Gak In Ling, sekalipun sudah melakukan perjalanan selama sepertanak nasi masih belum menemukan sedikit cahayapun, seperti juga ketika datang untuk pertama kalinya di tempat itu, ia sama sekail tak bisa menduga harus berjalan berapa lama lagi baru tiba ditempat tujuan ?

Tapi ada satu hal yang aneh, selama Gak In Ling melakukan perjalanannya kecuali suara manusia yang didengarnya tadi, ia tidak menemukan apa-apa lagi, diantaranya pada tikungan-tikungan yang sempit dan terjal di mana merupakan tempat yang strategis untuk memasang jebakan, diapun tidak menemukan gangguan apapun.

Mungkin hal ini disebabkan karena mereka tak memandang sebelah matapun terhadap Gak In Ling, mungkin juga karena mereka yakin bisa merebut kemenangan maka mereka tak ada perlunya untuk memasang jebakan disana.

Pokoknya, kesunyian serta keheningan seperti ini sama sekali tidak menguntungkan bagi Gak In Ling.

Kembali sianak muda itu membelok pada tiga buah tikungan, tiba-tiba pandangan matanya jadi silau, ia telah sampai didalam sebuah ruang kecil yang empat dindingnya bertaburkan ratna-mutu manikam yang beraneka warna, suasana jadi terang-benderang dan amat menyilaukan mata. Gak ln Ling tertawa dingin, pikirnya. "Hm, akhirnya sampai juga ditempai tujuan... "

Sementara ia berpikir, sorot matanya telah terbentur dengan sebuah meja batu yang kecil serta sebuah kursi batu kecil ditengah ruangan, di-atas meja terteralah kertas dan alat menulis, kecuali itu tiada apapun yang terlihat.

Gak In Ling segera mendekati meja batu itu, pada permukaan meja yang licin terukirlah beberapa huruf yang besar yang berwarna merah darah. "Tinggalkan pesan terakhir ditempat ini"

Tulisan tersebut seketika memancing rasa gusar dalam dada Gak In Ling, kakinya dengan cepat melancarkan sebuah tendangan kearab meja batu itu.

"Braaak " ditengah benturan yang sangat keras, meja batu itu seketika hancur berantakan, kertas dan alat tulispun tersebar diatas tanah.

Pada saat itulah, suara yang pernah didengar tadi kini muncul kembali dari balik dinding.

"Aaii... engkau terlalu tekebur dan sombong... "

Tertegun hati Gak in Ling setelah mendengar ucapan itu, segera pikirnya didalam hati. "oh

rupanya semua gerak-gerikku selalu berada daLam pengawasan orang ini."

Napsu membunuh seketika bangkit, sambil menatap tajam kearah mana berasalnya suara itu bentaknya keras.

"Sebenarnya jarak dari sini menuju ketempat pertemuan diantara kita berdua masih seberapa jauh ? Hmm Main gila dari balik dinding dan menakut-nakuti orang dengan omong besar, engkau anggap perbuatanmu itu bisa membikin aku orang she Gak jadi ketakutan?"

"Selama ini engkau belum pernah mempertimbangkan tindakanmu itu d engan pikiran serta hati yang tenang, apa salahnya kalau engkau pertimbangkan kembali tindakanmu ini?" ujar suara itu kembali. Gak In Ling tertawa dingin-

"Sebelum aku masuk kemari, jika tidak ku pertimbangkan lebih dahulu, tidak nanti akan ku lakukan tindakan seperti ini "

"Apakah engkau tidak merasa perlu untuk mempertimbangkan sekali lagi ?"

"omong kosong "

"Baiklah kalau begitu Lima puluh tombak disebelah depan sana merupakan Ngo-li-in-wu lima li kabut dan awan- Nah, kita berjumpa lagi disana." habis berkata terdengarlah suara "Krek" diikuti gemerincingnya ramai dan muncullah sebuah pintu rahasia diatas dinding ruangan itu.

Gak In Ling tarik napas panjang, selangkah demi selangkah dia berjalan masuk kedalam pintu rahasia tersebut.

Walaupun airmukanya tetap tenang dan sama sekali tidak memperlihatkan perubaban apapun, tetapi hati kecilnya merasa amat tegang, sebab pada saat ini musuh berada dalam gelap sedangkan dia terang, setiap saat mara bahaya bakal mengancam keselamatan jiwanya.

Baru saja GakIn Ling melangkah masuk ke dalam ruangan itu, pintu batu dibelakang tubuh nya secara otomatis telah menutup kembali.

Angin dingin berhembus lewat dari arah depan, kabut yang tipis mulai menyeiimut seluruh lorong, udara ditekelihng tempat itu lembab dan basah sekali.

"Mungkin tempat inilah yang dimaksudkan lima li kabut dan awan-" pikir sianak muda itu di dalam hati.

Ia percepat langkah kakinya dan menerjang maju kedepan.

Semakin kedalam ia berjalan, kabut yang menyelimuti sekitar tempat itu bertambah tebal, dari terang suasana jadi gelap. cahaya yang memancar masukpun terasa semakin lemah.

Gak In Ling mengerahkan segenap daya penglihatannya untuk mengamati suasana disekeliling tempat itu, tetapi pemandangan yang mampu tercapai olehnya hanya dalam lingkungan dua-tiga depa belaka, lebih dari itu yang terlihat hanyalah kabut putih.

Pada saat itu Gak In Ling telah masuk ke dalam sebuah lapangan, kabut yang menyelimuti tempat itu jauh lebih tebal dari tempat manapun, ketajaman matanya hanya mampu menangkap benda-benda yang berada pada jarak satu tombak belaka.

Perlahan-lahan Gak in Ling menghentikan langkahnya, dengan waspada dan sangat hati-hati dia awasi sekeliling tempat itu.

Mendadak dari arah belakang muncul suara yang amat lirih, begitu lirih suaranya seakan-akan seuntai daun yang rontok dari tangkainya.

Ketajaman pendengaran yang dimiliki Gak In Ling luar biasa sekali, apalagi setelah ia berada didalam sarang naga gua harimau, kewaspadaannya dipertingkat hingga mencapai tingkatnya, tentu saja suara yang lirih itu tak lolos dan pengawasannya.

Begitu suara lirih itu tertangkap oleh pendengarannya, laksana kilat Gak In Ling putar badannya, tapi apa yang dilihatnya seketika mencekatkan hati sianak muda itu, air mukanya berubah hebat.

Kurang lebih lima depa dihadapan Gak In Ling berdirilah seorang kakek berjubah kuning yang usianya antara lima puluh tahunan, cukup di tinjau dari sorot matanya yaag tajam dapat diketahui bahwa ilmu silat yang dimiliki orang jauh berada diatas kepandaian Hiat-mo-ong.

cuma bukan kehebatan ilmu silat yang dimiliki orang itu yang mengejutkan hatinya...

Gak In Ling tarik napas panjang-panjang dan berusaha menekan pikiran serta perasaannya yang bergolak keras, ia maju kedepan dan memberi hormat, katanya. "Keponakan menghunjuk hormat untuk ong supek."

"Hmm, bukankah engkau sudah katakan tadi, kalau bukan sahabat tentu lawan, aku bukan sahabatmu, dengan sendirinya merupakan musuh mu, sebutan supek tak berani kuterima lagi." kata kakek jubah kuning dengan dingin.

Rupanya orang ini bukan lain adalah manusia yang berada dalam lorong rahasia serta berulang kali memberi nasehat kepada sianak muda itu.

Merah jengah selembar wajah Gak In Ling setelah mendengar perkataan itu, ujarnya dengan lirih.

"Tadi keponakan masih belum tahu kalau orang itu adalah supek."

"Hm. Sekalipun sudah tahu juga sama saja keadaannya, karena bagaimanapun juga dalam kenyataan bukan sahabatmu "

"Tetapi. ... engkau juga bukan musuhku, bukan?" seru Gak In Ling tanpa terasa dengan hati terkejut.

Kakek jubah kuning itu segera tertawa dingin. "Bukan ?justru akulah musuhmu" jengeknya sinis.

Tanpa sadar Gak In Ling mundur selangkah kebelakang dengan hati terkesiap. sambil menatap kakek jubah kuning itu dengan wajah hijau membesi, serunya kembali. "Lalu di manakah ibuku dan enciku ?"

"Hee... hee... hee... mereka telah menjadi tawanan didalam lembah Toan-hun-kok ini" jawab kakek berjubah kuning kembali sambil tertawa dingin.

"Apa ?" ucapan tersebut bagaikan guntur yang membelah bumi ditengah hari bolong, begitu menggetarkan hati Gak In ling sehingga membuat pikirannya jadi kabur dan tak sadar, dia merasa otaknya kosong melompong, wajahnya yang semula merah padam kini berubah jadi pucat pias bagaikan mayat, keringat dingin mengucur keluar tiada hentinya.

Dalam hati kecil kakek berjubah kuning itu secara lapat-lapat timbul perasaan simpatik dan kasihan, tetapi ia tetap membungkam dalam seribu bahasa.

Kesunyian yang mengerikan mencekam seluruh ruangan itu, begitu sepinya sampai kedua belah pihak dapat mendengar detak jantungnya masing-masing. Airmuka Gak In Ling yang pucat pias bagaikan mayat mulai berubah jadi semu merah kembali, dari semu merah berubah jadi merah padam, dari balik sorot matanya yang dingin terpancarlah napsu membunuh serta rasa dendam yang amat tebal.

Dengan langkah yang berat ia maju kedepan menghampiri kakek jubah kuning itu, kemudian dengan suara yang mengerikan ia berkata.

"Keponakan berharap bisa mengetahui sebab-sebab kematian dari ayahku. Aku minta engkau suka mengatakannya kepadaku."

Sikap yang keren serius dan mengerikan itu menggetarkan hati kakek berjubah kuning, tanpa terasa dia mundur dua langkah kebelakang, jawabnya dengan ketus. "Darimana aku bisa tahu ?"

Gak in Ling tertawa dingin.

"Kalau memang begitu dari mana engkau bisa tahu untuk menggabungkan diri dengan pihak Toan-hun-kok ?"

"Darimana engkau bisa tahu kalau aku mengabdi kepada mereka?" seru kakek berjubah kuning dengan airmuka berubah hebat.

"Karena tenaga dalam yang engkau miliki masih belum berhak untuk memimpin segenap kekuatan yang ada didalam lembah ini."

Rupanya ucapan yang pedas dari Gak In Ling ini telah menyinggung perasaan halus kakek berjubah kuning itu, dari balik matanya yang melotot bulat segera memancarkan keluar serentetan cahaya yang amat tajam, dia tatap muka pemuda itu dengan tajam kemudian membentak nyaring.

"Itukah sifatmu terhadap seorang angkatan yang lebih tua daripada dirimu ?"

Sejak Gak In Ling mengetahui kalau ibu serta encinya telah ditawan didalam lembah Toan hun-kok, terhadap supeknya yang semula telah menyanggupi untuk menjaga serta merawat ibu dan encinya ini telah membenci hingga merasuk ketulang sumsum, dalam keadaan begini tentu saja ia tak pernah mengingat tentang hubungan antara angkatan tua dengan angkatan yang lebih muda lagi. Mendengar perkataan tersebut, ia segera menengadah dan tertawa keras, sambil mengertak gigi serunya.

"Angkatan tua ? Haa.. haaa haa.... menjual sahabat mencari pahala, mengingkari janji yang telah diucapkan sendiri, angkatan tua semacam ini buat apa mesti dihormati ? Hm, mengenalpun aku sudah muak dan malu sekali "

Entah dikarenakan ketukan Ling-sim nya atau terpengaruh oleh ucapan Gak In ling yang keras dan tajam, tanpa sadar kakek jubah kuning itu berseru.

"Orang yang membinasakan ayahmu, memaksa dirimu bukan cuma aku seorang.... kau jangan menuduh aku yang bukan-bukan-"

Rupanya dia hendak mencuci bersih semua dosa serta kesalahan yang ditimpakan kepadanya.

Mendengar perkataan itu sekali lagi Gak In Ling merasakan hatinya amat terperanjat, ia segera maju selangkah kedepan dan membentak dengan nada dingin. "Tua bangka sialan, engkau telah apakan ibu serta enciku ? Ayo jawab "

Suaranya keras bagaikan guntur yang membelah bumi disiang hari bolong, membuat orang merasakan hatinya bergetar keras.

Tercekat hati kakek berjubah kuning itu setelah mendengar bentakan tersebut, ia segera tersadar kembali dari lamunannya, dengan perasaan kaget pikirnya.

"Ini hari aku kenapa sih ? Kenapa perasaan dan pikiranku bisa goyah dan selalu merasa tak tenang ? Untung apa yang barusan kukatakan tidak terlalu banyak, kalau tidak akibat yang harus kutanggung benar-benar mengerikan sekali." Berpikir sampai disini, dengan muka serius ia segera tertawa dingin dan berkata.

"Hee hee hee kalau aku tidak mengatakannya keluar, apakah engkau punya keberanian

untuk menantang aku seorang tua untuk bertarung ?"

Gak In Ling maju dua langkah kedepan, serunya dengan nada yang menggidikkan hati.

"Bukan saja aku akan turun tangan untuk bertempur dengan dirimu, bahkan, akan ku binasakan pula engkau tua bangka berhati binatang yang terkutuk sehingga mayatmu terkapar diatas tanah dalam keadaan yang sangat mengerikan "

Sambil berkata dari balik matanya yang tajam terpancarlah napsu membunuh yang menggidikkan hati.

Setelah berulang kali dicaci maki oleh Gak In Ling dengan kata-kata yang pedas dan tidak sedap didengar, rasa iba dan menyesal yang semula sudah menyelimuti hati kakek jubah kuning itu, tanpa sadar telah lenyap tak berbekas bagaikan asap yang hilang diang kas a, pikirnya didalam hati.

"Kalau membabat rumput tidak sampai ke- akar- akarnya, angin musim semi berhembus lewat rumput itu akan tumbuh kembali, demi keamanan serta keselamatan diriku sendiri, aku harus mulai sekarang mengadakan persiapan-persiapan lebih dahulu."

Teringat akan ancaman jiwa yang mungkin akan menyelesaikan hidupnya, rencana untuk melenyapkan Gak in Ling dari muka bumipun semakin mencekam seluruh pikiran dan perasaannya.

Ia segera tertawa dingin dan berkata.

"Hee hee hee kalau engkau memang begitu tak tahu diri, janganlah kau salahkan kalau aku tak akan teringat akan hubungan kita di masa lalu lagi. Mari, mari.., silahkan kau segera turun tangan."

Sambil berkata diam-diam hawa murni yang dimilikinya segera dihimpun kedalam sepasang telapak tangan dan bersiap siaga menantikan datangnya serangan dari sianak muda itu.

Diam-diam Gak In Lingpun menilai keadaan yang sedang dihadapinya ketika itu, dia tahu kalau pada saat ini kakek baju kuning itu tidak berhasil dikuasai maka sulitlah baginya untuk menyelidiki jejak dari ibu serta encinya.

oleh karena itu setelah mendengar perkataan tersebut tanpa ragu-ragu lagi, dengan cepat ia enjotkan badannya meloncat kedepan, menggunakan jurus serangan "Lui-tiam-siang-ciau" atau guntur dan kilat menggeletar bersama, laksana petir yang menyambar membelah angkasa ia mengirim sebuah sodokan dahsyat kearak dada serta lambung kakek baju kuning itu, hardiknya.

"Hm, kalau begitu rasakanlah seranganku " Kepandaian silat yang dimiliki kakek jubah kuning itujauh berada diatas kepandaian silat dari ayah ibu Gak In Ling sendiri, tentu saja terhadap datangnya serangan dari sianak muda ini ia tidak pandang sebelah mata.

Tetapi apa yang terjadi kemudian ternyata benar-benar berada diluar dugaannya semula, tatkala dilihatnya serangan yang dilancarkan Gak In Ling cepat bagaikan petir yang menyambar diudara, kakek baju kuning itu tertegun bercampur kaget, pikirnya dengan perasaan terkesiap.

"Sungguh aneh, mengapa gerakan tubuhnya bisa begitu cepat dan dahsyat sehingga mengejutkan hati." sambil berpikir dengan cepat badannya menyusut mundur sejauh lima depa kebelakang, dengan suatu gerakan yang manis ia menghindarkan diri dari datangnya ancaman tersebut.

Kemudian secepat kilat melancarkan serangan balasan-

Gak In Ling sendiripun mengetahui dengan jelas sampai dimanakah taraf kepandaian silat yang dimiliki kakek baju kuning itu, akan tetapi ia tak menyangka dengan usia lawannya yang sudah begitu lanjut ternyata dalam beberapa tahun yang amat singkat berhasil mendapatkan kemajuan yang begitu mengejutkan hati, sehingga membuat sebuah serangannya yang semula diduga akan mendatangkan hasil ternyata mengenai sasaran kosong. Tanpa sadar gerakan tubuhnya jadi agak terlambat.

Tatkala kakek baju kuilog itu mengundurkan diri kebelakang tadi, secara diam-diam hawa murninya telah dihimpun semua kedalam sepasang telapaknya dan setiap saat siap dilancarkan kedepan, dengan melambatnya gerakan tubuh dari Gak In Ling itu justru secara kebetulan telah memberikan peluang yang amat bagus baginya untuk melepaskan serangan mautnya.

Terdengar kakek baju kuning itu membentak. "Bocah keparat Sambutlah pula sebuah seranganku ini "

Dengan menggunakan gerakan "Hong-kian-Cian-in" atau angin berhembus buyarkan awan, sekuat tenaga ia lancarkan sebuah pukulan dahsyat kearah sianak muda itu.

Gulungan angin pukulan yang menderu- deru bagaikan berhembusnya angin puyuh menyelimuti daerah seluas lima tombak disekeliling tempat itu, jelas kakek baju kuning itu ada maksud membinasakan lawannya didalam sebuah serangannya.

Meskipun Gak In Ling sendiri belum lama terjunkan diri kedalam dunia persilatan dan pengalamannya dalam menghadapi serangan lawan masih cetek. akan tetapi kecerdasan otaknya melebihi orang lain, ketika serangan pertamanya tadi gagal mengenai lawannya, ia telah menyadari kalau gelagat tidak menguntungkan bagi dirinya, dalam waktu yang amat singkat itulah suatu cara untuk mengatasi krisis tersebut berhasil ia dapatkan-

Baru saja angin pukulan kakek baju kuning yang amat dahsyat itu hampir mengenai tubuh-nya, mendadak Gak In Ling tertawa dingin, tubuhnya dengan cepat merendah kebawah, dengan gerakan "To-coan-seng-gi" atau bulan berputar lintang bergeser, badannya melayang kearah kanan dan dengan tepat sekali berhasil menghindarkan diri dari datangnya ancaman angin pukulan yang datang dari arah depan-

Diantara bergeletarnya telapak kanan, secepat kilat ia lancarkan sebuah serangan kembali dengan jurus "Keng-to-liat-an" atau ombak dahsyat retakkan pantai, dan dengan cepat menerobos kearah iga kanan kakek baju kuning itu.

Tindakan tersebut kembali mengejutkan hati kakek baju kuning itu sehingga tanpa sadar ia berseru tertahan, ia tak menduga kalau ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Gak In Ling jauh lebih lihay daripada dugaannya semula.

Berpikir sampai disini timbullah perasaan ingin menang sendiri dalam hati kakek tua baju kuning itu, terhadap datangnya ancaman dari sisi tubuhnya itu bukan saja ia tidak menghindar, sebaliknya malah menyongsong datangnya serangan tersebut dengan keras lawan keras.

"Bagus sekali datangnya seranganmu itu " bentaknya keras.

Bersamaan dengan bentakan itu serangan pertama dibuyarkan diganti dengan gerakan lain, tubuhnya berputar keSamping kiri. Dengan jurus "Lek-peng-ngo gi" atau membumi rata lima bukit, dengan suatu kekuatan yang luarbiasa bagaikan guntur yang membelah bumi disambutnya pukulan dari Gak In Ling itu dengan kekerasan-

Menyaksikan tindakan lawannya ini, napsu membunuh yang amat tebal dengan cepat menyelimuti seluruh wajah Gak In Ling, ia mendengus dingin dan angin pukulannya secara diam-diam ditambah pula dengan beberapa bagian hawa murninya.

Sementara itu kakek tua baju kuning itu jadi amat girang menyaksikan pemuda itu menyambut datangnya ancaman itu tanpa menghindar, pikirnya didalam hati.

"IHm, bangsat cilik yang tak tahu diri, cahaya kunang-kunang berani diadu dengan cahaya rembulan, rupanya engkau memang sudah bosan hidup dan ingin mencari jalan kematian buat diri sendiri."

Belum habis ingatan tersebut berkelebat dalam benaknya, mendadak ia merasakan datangnya daya tekanan tak berwujud yang amat berat dan menembusi pertahanan angin pukulan daya kikangnya dan langsung menerjang kearah dada.

Bersamaan itu pula angin pukulan yang dilepaskan olehnya seakan-akan terbentur diatas sebuah dinding baja tak terwujud yang amat kuat, sedikitpun ia tak berdaya untuk menembusinya

Dalam keadaan seperti ini kakek tua baju kuning itu baru menyadari babwa keadaannya sangat berbahaya dan gelagat kurang baik, untuk menghindarkan diri sudah tak sempat lagi, ia segera menjerit tertahan-"Aduh celaka "

Belum habis jeritan itu berkumandang dari mulutnya, angin pukulan yang ia lepaskan telah saling membentur dengan daya kekuatan tak terwujud yang dilancarkan oleh Gak In Ling.

"Blaaaam... " ledakan dahsyat seakan-akan gugurnya bukit karang tertimpa gempa segera menggoncangkan seluruh permukaan bumi disekeliling tempat itu, suara pantulan nyaring menggema tak hentinya sangat memekakkan telinga, bisa dibayangkan betapa dahsyatnya benturan yang baru saja berlangsung itu.

Ditengah kaburnya suasana karena pasir dan debu beterbangan memenuhi seluruh udara, tubuh kakek tua baju kuning itu secara berturut-turut mundur empat- lima langkah kebelakang dengan sempoyongan, sepasang lengannya jadi linu dan kaku sehingga dengan lemas terkulai ke bawah, hawa panas menekan dadanya membuat darah bergolak dengan kerasnya dan hawa murni terasa tersumbat, dengan sorot mata yang berkunang-kunang, ia berpaling kearah Gak In Ling.

Sianak muda itu masih tetap berdiri tegak ditempat semula, air mukanya merah berdarah diliputi napsu membunuh yang menakutkan sekali, pada saat itu dengan pandangan yang bengis dan menyeringai seram sedang menatap kearahnya tanpa berkedip.

Buru-buru kakek tua baju kuning itu alihkan sorot matanya kearah lain- Dalam hati kecilnya ia sudah mengaku kalah danjeri terhadap lawannya, akan tetapi berhubung gerak-geriknya selalu diawasi oleh orang lain, kakek tua itu tak berani menceritakan keadaan yang sebenarnya.

Terdengar Gak In Ling tertawa dingin dengan nada yang menyeramkan, kemudian berkata.

"ong Pek Siu Jika engkau adalah seorang manusia yang bisa melihat gelagat, maka sekarang juga sudah tidak sepantasnya bagimu untuk mencari penyakit buat diri sendiri "

Nada suara pemuda ini dingin, seram dan penuh kewibawaan, membuat orang yang mendengar jadi bergidik dan ngeri.

Rupanya orang yang bernama ong Pek siu ini bakan lain adalah sang Loo-ji dari Tay san sam-gi tiga setia kawan dari gunung Taysan yang nama besarnya sudah menggetarkan seluruh dataran Tionggoan sejak belasan tahun berselang.

Pertarungan baru berlangsung beberapa gebrakan saja, kendatipun ong Pek Siu sudah menyadari bahwa ia bukan tandingan dari Gak In Ling namun sebagai seorang jago yang punya nama besar dalam dunia persilatan tentu saja ia tak sudi untuk mengaku kalah dan takluk dengan begitu saja.

setelah tarik napas panjang dan tenteramkan perasaan hatinya yang goncang ia berkata.

"Gak In Ling, engkau jangan terburu napsu, sekarang dirimu masih berada di sarang naga gua harimau, kalau didalam dua-tiga jurus gebrakan engkau masih belum dapat mengalahkan aku, maka selembar jiwamu untuk selamanya akan terbenam dalam lembah ini " Gak in Ling tertawa dingin.

"Hee hee hee seandainya didalam satu gebrakan saja aku telah berhasil menguasai dirimu ?"

ia mengejek.

Mendengar perkataan tersebut mula-mula ong Pek Siu nampak tertegun, kemudian sambil menengadah keatas ia tertawa terbahak-bahak.

"Haa haa haa tentu saja aku akan menyerahkan diri kepadamu dan terserah engkau hendak berbuat apa atas diriku, akan tetapi, percayakah engkau bahwa kemampuanmu telah berhasil mencapai hingga tarap sedemikian tingginya ?"

Dalam hati kecilnya Gak In Ling sangat menguatirkan keselamatan ibunya, ia tidak ingin terlalu lama bersilat lidah di sana sehingga membuang waktu dengan percuma, sambil mendengus dingin perlahan-lahan telapak kanannya diangkat keatas sambil bentaknya. "ong Pek siu, kenalkah engkau dengan telapak tanganku ini ?"

ong Pek siu segera alihkan sinar matanya kearah mana yang ditujukan kepadanya, tetapi begitu melihat apa yang ditunjuk sianak muda itu kepada iya, dengan wajah pucat pias bagaikan mayat karena ketakutan secara beruntun ia mundur beberapa langkah kebelakang, serunya dengan suara tergagap.

"Te.. telapak maut ? Kau kau telah berhasil meyakinkan ilmu telapak maut ?"

Gak In Ling mendengus dingin, selangkah demi selangkah perlahan-lahan ia maju kedepan mendekati tubuh ong Pek siu.

Mengikuti semakin mendekatnya langkah Gak In Ling kearahnya, setindak demi setindak ong Pek Siu pun mengundurkan diri kebelakang.

Semula dia telah menghimpun segenap tenaga dalamnya untuk bersiap sedia menghadapi serangan dari Gak In Ling sambil mengulur waktu dan menunggu datangnya bala bantuan-

Tetapi sekarang setelah ia menyaksikan "Telapak maut" hatinya jadi bergidik dan pecah nyali, ia tahu dibawah serangan dahsyat dari telapak maut tak mungkin ia dapat meloloskan diri dalam keadaan hidup,.... atau dengan perkataan lain kesempatan jiwanya telah berada didalam cengkeraman lawan-

Kini yang terlintas didalam benaknya hanyalah bagaimana caranya untuk meloloskan diri dari tangan elmaut, ia sedang berusaha untuk menyelamatkan diri sebelum malaikat elmaut sempat datang untuk menjemput sukmanya pulang ke-aLam baka.

Waktu berlalu dalam keheningan dan kesepian yang mencengkam disekeliling tempat itu, dari balik kabut putih yang tebal sering kali terdengar dengusan napas ong Pek Siu yang berat serta memperdengarkan rintihan karena ngeri dan takutnya itu.

Tiba-tiba ong Pek siu yang sedang mundur kebelakang segera menghentikan tubuhnya, air mukanya seketika berubah hebat dan keringat dingin mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya, tak usah berpaling lagi ia telah mengetahui bahwa dirinya telah mengundurkan diri sehingga tiba ditepi jurang yang amat terjal.

Sedikitpun tidak salah dibelakang tubuhnya terbentang sebuah tebing yang curam dengan jurang yang menganga dibelakangnya, kabut putih yang amat tebal menyelimuti daerah sekeliling tempat itu membuat orang sulit untuk melihat jelas jurang tersebut, serta menentukan berapa dalamkah jurang itu.

Selangkah demi selangkah Gak In Ling maju mendekat, sekarang ong Pek Siu tak dapat mundur lagi kebelakang, perasaan hatinya mengikuti langkah kaki lawannya yang semakin mendekat terasa bergidik dan berdebar dengan kerasnya.

Pada saat tubuh Gak In Ling sudah berada kurang lebih tiga depa dihadapan ong Pek Siu itulah tiba-tiba sekilas bayangan terlintas dalam benak kakek tua baju kuning itu, dengan cepat ia membentak keras.

"Gak In Ling, kalau engkau ada maksud untuk membinasakan ibumu didalam lembah pemutus sukma ini, silahkan engkau maju mendekat satu langkah lagi kedepan "

Ancaman ini ternyata mendatangkan hasil yang amat manjur, mendengar ucapan tersebut tanpa sadar Gak In Ling menghentikan langkah kakinya.

ong Pek Siu tarik napas panjang-panjang, keringat dingin telah membasahi telapak tangannya, sambil berusaha keras untuk menenangkan hatinya ia mengejek. "Hm Kenapa? Kenapa engkau tidak lanjutkan seranganmu itu ?"

napsu membunuh yang semula menyelimuti seluruh wajah Gak In Ling, perlahan-lahan makin berkurang, sambil tertawa dingin serunya. "Hee hee hee engkau hendak menakut-nakuti aku ?"

Setelah hatinya berhasil ditenangkan, ong Pek Siu tertawa terbahak-bahak.

"Haa haa haa menakut-nakuti dirimu ? Kalau engkau menganggap ucapanku itu hanya gertak sambal belaka dan sengaja hanya untuk menakut-nakuti dirimu, kenapa tidak kau lanjukan seranganmu itu ?"

Dalam suara gelak tertawanya terdengar agak gemetar, sayang sekali pada waktu itu benak Gak In Ling sedang dipenuhi oleh persoalan lain, sehingga titik kelemahan itu sama sekali tak diperhatikan olehnya.

Setelah suasana hening untuk beberapa saat lamanya kembali Gak In Ling tertawa dingin sambil ujarnya.

"Sebelum engkau berhasil memaksa ibuku sehingga menemui ajalnya, setiap saat aku orang she Gak mampu untuk membinasakan dirimu" seketika itu juga Suatu ingatan kecil tiba-tiba berkelebat didalam benak ong Pek siu, sengaja ia melirik sekejap kearah belakang tubuhnya, lalu sambil tertawa dingin pula, ejeknya.

"Hee hee menurut anggapanmu, di-tempat ini hanya terdiri engkau dan aku dua orang belaka

?"

"Hm Setelah aku berani memasuki lembah pemutus sukma ini seorang diri, itu menandakan pula bahwa dalam hati kecilku sudah sama sekali tak pandang sebelah matapun terhadap kalian"

"IHaa haa engkau pandang sebelah mata terhadap kami atau tidak- itu urusanmu sendiri, yang menjadi persoalan sekarang adalah setelah kematianku maka ibumu pun segera akan ikut menghembuskan napasnya yang terakhir, selisih waktu diantara kami berdua tak akan berbeda dalam seperempat jam belaka."

Sekali lagi Gak In Ling merasakan hatinya terkesiap sehingga darah dalam tubuhnya terasa tersirap. apa yang diucapkan oleh ong Pek Siu barusan boleh dibilang dapat diterima dengan akal sehat, dan kemungkinan besar untuk terjadi peristiwa semacam ini pun ada, hal ini membuat orang lain jadi sulit untuk membedakan apakah ucapan itu merupakan suatu siasat licik dari lahirnya ataukah merupakan kenyataan-

Keadaan Gak In Ling pada saat ini benar-benar terdesak sekali, waktu baginya untuk putar otak sempit sekali dan untuk sesaat sulit baginya untuk menemukan jalan yang paling baik untuk mengatasi kesulitannya itu, hatinya jadi amat cemas bercampur gelisah sehingga keadaannya bagaikan semut yang berada diatas kuali panas.

Perlahan-lahan ong Pek Siu mulai menggeserkan kakinya kedepan, ujarnya dengan suara lantang.

"Gak In Ling, sekarang hanya ada dua jalan yang dapat kau pilih menurut seleramu sendiri "

"Dua jalan yang bagaimana ?" tanya Gak In Ling tanpa terasa, dalam kesulitannya

untuk memperoleh jalan pemecahan yang paling baik untuk mengatasi persoalan itu, ia ajukan

pertanyaan tanpa disadari. ong Pek Siu tertawa bangga.

"Haa haa haa sebenarnya gampang sekali jalan yang kuberikan kepadamu itu, cuma sayang

aku takut engkau tak akan menerimanya." Airmuka Gak In Ling berubah hebat, tegur nya dengan

nada ketus.

"Hm, rupanya engkau sengaja sedang mengulur waktu ?" ong Pek Siu tertawa ringan-

"Aku tak perlu mengulur waktu karena aku tahu bahwa engkau adalah seorang anak yang berbakti, tak mungkin engkau lakukan perbuatan secara gegabah." Menyaksikan kesemuanya itu dalam hati kecilnya Gak In Ling segera berpikir.

"Sungguh tak kusangka akhirnya aku Gak In Ling pun terjatuh kedalam cengkeramannya, apakah keturunan keluarga Gak harus berakhir sampai disini saja."

Berpikir sampai disini, rasa sedih dan murung dengan cepat menyelimuti seluruh wajah dan sorot matanya memancarkan napsu membunuh yang semua menyelimuti seluruh wajahnya. Terdengar ia menghela napas panjang dengan suara yang amat berat, kemudian berkata. "Kalau begitu cepatlah katakan kepadaku"

"Jalan pertama menerjang masuk kedalam lembah pemutus sukma ini dengan jalan kekerasan, cuma sebagai imbalan dari perbuatannya itu mungkin selembar jiwa ibumu akan ikut melayang tinggalkan raganya."

"Bagaimana dengan jalan yang kedua ?" tanya Gak In Ling dengan suara amat gelisah.

Sekilas cahaya keji berkelebat diatas wajah ong Pek Siu, sambil menyeringai seram jawabnya.

"Jalan yang kedua, bersama ibumu dikurung dalam sebuah gua yang lembab dan gelap."

Beberapa patah kata ini bagaikan beribu-ribu batang anak panah yang bersama-sama menembusi ulu hati Gak In Ling, mendatangkan siksaan bathin yang tak terkirakan hagi sianak muda itu, dengan cepat ia menyeka wajahnya yang merah padam dan bermandikan keringat,

sementara sang badan gemetar keras menahan emosi Lama lama sekali, akhirnya dengan suara gemetar Gak In Ling berseru keras. "Engkau... kau hatimu benar-benar kejam "

"Haa. ... haa haa aku bisa berbuat seperti ini karena demi engkau." jawab Ong Pek Siu dengan nada yang menyeramkan, senyum licik tersungging di ujung bibirnya.